Anda di halaman 1dari 25

MAKALAH

PENGILANGAN MINYAK BUMI DAN NABATI

NAPTHA RERUN UNIT, PLAT FORMING I, NAPTHA HYDROTREATING


UNIT DAN PLAT FORMING II
PT. PERTAMINA UP II DUMAI

Kelompok : 5
Anggota : Irvaisal R Ritonga (0807135305)
Muhammad Iqbal (0807)
M.Wawan Juniansyah (0807121047)
Raissa Desriani (0807113425)
Felycia Licka Aditya (0707112295)

JURUSAN TEKNIK KIMIA


FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS RIAU
PEKANBARU
2008
KATA PENGANTAR

Alhamdulillah, puji syukur penulis beserta anggota kelompok ucapkan


kehadirat Allah SWT. yang telah melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya sehingga
makalah yang berjudul, “Naphtha Hidrotreater unit” telah dapat diselesaikan.Makalah
ini dibuat untuk melengkapi tugas Pengilangan Minyak Bumi dan Nabati, jurusan
Teknik Kimia, Fakultas Teknik, Universitas Riau, Tahun 2008.

Untuk bisa mewujudkan makalah ini, penulis beserta anggota kelompok


menemui berbagai kendala yang harus dilalui. Namun, berkat dorongan dan bantuan
baik moril maupun materil dari berbagai pihak, akhirnya makalah ini dapat juga
diselesaikan dengan baik.
Sehubungan dengan hal diatas, penulis beserta anggota kelompok ingin
menyampaikan rasa hormat dan terima kasih kepada:
1. Ibu Nirwana HZ., dosen mata kuliah Pengilangan Minyak Bumi dan Nabati,
Jurusan Teknik Kimia, Universitas Riau tahun 2008.
2. Rekan-rekan satu angkatan yang telah berbagi informasi dalam penyelesain
makalah ini.

Dalam penulisan makalah ini, penulis dan anggota telah berusaha semaksimal
mungkin untuk menghasilkan hasil yang terbaik. Namun penulis dan anggota
mengharapkan kritik dan saran guna penyempurnaan tulisan makalah ini. Penulis dan
anggota berharap semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi semua pihak dan
semoga ALLAH SWT senantiasa melimpahkan Rahmat dan Karunia-nya kepada kita
semua, Amin.

Pekanbaru, November 2008

Penulis
DAFTAR ISI

Kata Pengantar……………………………………………………………………. i
Daftar Isi…...…………………………………………………………………….....ii

BAB I. PENDAHULUAN.......................................................................................1
BAB II. ISI………………………………………………………...........................6
II.1 Dasar Pengertian Proses .............................................................................6
II.1.1 Reaksi Hidrogenasi..............................................................................6
II.1.2 Kecepatan Dan Panas Reaksi ..............................................................7
II.1.3 Naphta Rerun Unit...............................................................................7
II.2 Hydrobon Platforming Unit (PL 1)..............................................................8
II.3 Naptha Hydrotreating Unit (NHDT)............................................................8
II.4 Platforming II (PL II)...................................................................................8
BAB III. PENUTUP..............................................................................................19
3.1 Kesimpulan.................................................................................................19
3.2 Saran...........................................................................................................20

DAFTAR PUSTAKA............................................................................................21
LAMPIRAN……………………………………………………………………...22
BAB I
PENDAHULUAN

Kebutuhan akan energi akan terus meningkat sejalan dengan perkembangan


zaman. Oleh karena itu, bangsa Indonesia melalui UUD 45 telah mengamanatkan kepada
kita untuk mengatur, menggunakan dan memelihara kekayaan alam nasional tersebut
bagi kemakmuran rakyat. Dengan berdasarkan pada UU no. 8 tahun 1971 didirikanlah
perusahaan yang bertugas untuk mengelola minyak dan gas bumi Indonesia yaitu Preusan
Umum Pertambangan Minyak dan Gas Bumi Negara (PERTAMINA) yang sampai saat
ini merupakan sebuah BUMN pelaksana tunggal pengusahaan minyak dan gas bumi.
Pertamina UP II Dumai didirikan pada tahun 1977 dengan nama Kilang Puteri
Tujuh, yang terletak di Propinsi Riau yang berjarak kurang lebih 180 km dari Pekan Baru
yang merupakan ibukota Propinsi Riau. UP II Dumai merupakan salah satu kilang
pengolahan minyak bumi yang mengolah minyak mentah jenis Sumatera Light Crude
(SLC) 82,5 % DAN Duri Crude 17,5% yang disuplai oleh PT. Chevron Pacific Indonesia
dengan kapasitas pada unit primarynya di Crude Distilation Unit sebesar 130.000 barel
per hari. Kilang UP II Dumai dalam pengolahannya untuk menghasilkan produk-produk
yang diinginkan, dipakai proses Physical Separation, Blending Process, Conversion
Process, Treating Process, Solvent Extraction, Absorbsi, Cracking, Reforming, Alkilasi,
Isomerisasi dan Polimerisasi. Unit-unit proses utamanya yang menghasilkan produk-
produk seperti : premium, kerosine, JP-5, Avtur, ADO, LSWR (Light Sulphur Wax
Residue), Calcined Coke, Green Coke, Naphta dan LPG (Liquid Petroleum Gas). Untuk
memudahkan koordinasi dan operasi pengilangan maka Pertamina UP II Dumai membagi
menjadi 3 kompleks yaitu : HSC (Hydroskimming Complex), HCC (Hydrocracking
Complex), HOC (Heavy Oil Complex).
Pertamina UP II Dumai dapat mensuplai kebutuhan bahan bakar nasional sebesar
22-24 %. Dan dari desain serta konstruksinya Pertamina telah menggunakan teknologi
tinggi sehingga aspek keselamatan kerja karyawan dan peralatan produksi serta unit
pengolahan limbah telah memenuhi standarisasi Internasional dan telah menuju pada ISO
14001.
Dan pada proses pengolahan minyak bumi di Crude Distilation Unit Pertamina II
Dumai, pemakaian Heat Exchanger sangatlah berperan penting karena dengan adanya
heat exchanger 100 E-7 ABC/DEF yang dapat menurunkan suhu residu dan memanaskan
crude oil diharapkan suhu outlet pada fluida yang akan dikirim ke Heater 100 H-1
berkisar 230 °C, akan mengurangi beban Heater 100 H-1 serta akan mengaitkannya pada
pemakaian fuel Oil dan efisiensinya.
BAB II
ISI
II.1 DASAR PENGERTIAN PROSES
II.1.1 Reaksi Hydrogenasi
Reaksi hydrogenasi dalam Unit Naphta Hydrotreating ialah mengusir zat-zat
yang dapat mengganggu dalam proses selanjutnya. Dalam fraksi naphta terdapat
senyawa-senyawa yang apabila tidak dilengkapkan dapat mengganggu keaktifan katalis
Platforming yang secara ekonomis merugikan.Pada umumnya ”zat racun” yang perlu
diusir dalam fraksi naphta ialah belerang, nitrogen, oksigen, olefin, halida dan logam.

Reaksi Hydrogenasi yang terjadi sebagai berikut :


A. Reaksi Pengusiran Belerang (SULFUR-REMOVAL)
Didalam umpan unit Platforming yang menggunakan ”bimetallic catalyst”
kandungan belerangnya tidak diperbolehkan melebihi 0,5 ppm. Untuk menjaga
keaktifan katalis dan operasi secara optimal. Bila kandungan belerang makin rendah
reaksi pada katalis di Platforming sangat efektif. Oleh sebab itu dianjurkan kandungan
belerang dijaga lebih kecil dari 0,5 ppm. Secara umum kandungan belerang dijaga
mantap 0,2 ppm atau lebih rendah.
Pada umumnya reaksi hydrogenasi belerang terjadi sebagai berikut :
 Senyawa Mercaptan
 Senyawa Sulfida
 Senyawa Disulfida
 Senyawa Sulfida pada Siklis
 Senyawa Thiopenik.

B. Reaksi Pengusiran Nitrogen (DENITRIFIKASI)


Reaksi pengusiran nitrogen lebih sukar dibandingkan dengan pengusiran Sulfur
dalam Hydrotreating Naphta. Kecepatan reaksi denitrifikasi 1/5 dari desulfurisasi. Pada
Straight Run Naphta umumnya kandungan nitrogen lebih sedikit dibandingkan sulfur
meskipun demikian apabila katalis pada Platforming adalah bimetallic, pengusiran
nitrogen ini perlu mendapat perhatian karena jumlahnya dibatasi maksimum 0,5 ppm
bahkan dianjurkan kurang dari 0,5 ppm. Setiap senyawa nitrogen yang ikut dalam
reaktor platforming akan bereaksi membentuk amonium chlorida yang akan membentuk
deposit pada lintasan edaran gas atau pada Overhead Stabilizer. Oleh sebab itu proses
pengusiran nitrogen menjadi lebih penting terutama Unit Naphta Hydrotreating yang
mengolah Cracked Naphta. Pada umumnya Cracked Naphta lebih banyak mengandung
senyawa nitrogen dari pada Straight Run Naphta. Misalnya :
 Pyridine
 Quinoline
 Pyrrole
 Methylamine.

C. Reaksi Pengusiran Oksigen


Pada umumnya senyawa oksigen dalam senyawa organik mudah dihidrogenasi
membentuk air. Misalnya Phenol.

D. Olefin Saturation
Pada Straight Run Naphta umumnya mengandung olefin dalam jumlah yang
sangat kecil, bahkan kadang-kadang tidak ada, tetapi Cracked Naphta sangat banyak
olefin yang dikandung. Kecepatan reaksi penjenuhan olefin hampir sama dengan
desulfurisasi. Dalam pengolahan Cracked Naphta yang mengandung olefin sangat tinggi
perlu pertimbangan yang bijaksana, karena panas yang ditimbulkan sangat tinggi, perlu
pengamatan yang teliti.

E. Reaksi Pengusiran Halida


Reaksi pengusiran halida dengan hydrogen pada unit Naphta Hydrotreating
membentuk asam halida, yang kemudian akan larut ke dalam air pencuci yang
diinjeksikan atau bersama-sama ke overhead gas stripper. Reaksi pengusiran halida dari
senyawa organik halide lebih sukar jika dibandingkan dengan reaksi desulfurisasi. Pada
kondisi operasi yang biasa digunakan untuk pengusiran sulfur dan nitrogen, reaksi
pengusiran halida hanya mencapai hasil < 90 %. Sedangkan pada kondisi operasi yang
optimum maksimum mencapai hasil 90%. Hal tersebut bearti bahwa umpan Platforming
masih mengandung halida, oleh sebab itu dianjurkan untuk memeriksa kandungan halide
pada waktu tertentu, apabila kandungan halide cukup tinggi dalam umpan Platforming
(tidak memenuhi persyaratan), maka kondisi operasi harus dirubah. Perlu diketahui
bahwa menaikkan suhu operasi dengan tujuan meningkatkan reaksi pengusiran halide
sangat sukar dan hasilnya sangat korosip.

F. Reaksi Pengusiran Logam


Kandungan metal dalam naphtha pada umumnya sangat kecil (dalam ppb).
Katalis naphtha hydroterating dirangcang dapat mengurangi kandungan logam sampai
sebesar 5 ppm minimum, pada kondisi operasi yang normal. Hampir semua logam-logam
yang terusir dari naphtha mengendap pada permukaan katalis. Apabila jmlah endapan
metal makin banyak maka dapat ditandai pada reaksi desulfurisasi akan menurun. Pada
analisa endapan logam pada katalis yang usang ternyata mengandung logam-logam ;
arsen, besi, kalsium, magnesium, phaspor, timbal, silikon, tembaga naterium. Reaksi
pengusiran logam dari umpan oleh katalis umumnya terjadi pada plugflow. Endapan besi
banyak menempel pada katalis yang ditempatkan pada beds yang paling atas berupa
senyawa pirit. Logam arsen merupakan logam yagn sangat meracuni keaktifan katalis
meskipun jumlahnya pada umumnya kecil (±1ppb) tetapi merupakan racun platina yang
jahat. Endapan arsenik sebanyak 3% berat atau lebih sangat mnghambat aktifititas
terhadap desulfurisasi. Kotaminasi dari timbal dapat disebabkan oleh umpan naphtha
yang berasal dari kapal atau reprocessing slop yang mengandung timbal. Natrium,
Kalsium, dan magnesium biasanya disebabkan, oleh kontaminasi air laut atau chemical
addictive yang digunakan. Penggunaan chemical corrosion inhibitor untuk overhead
fraksional kolom atau antidfoaming atau dipertimbangkan jumlah pospat atau silikon
yang mungkin ada.Reaksi pengusiran logam berjalan sangat baik pada suhu diatas 315
°(600°F), pada kondisi ini 2-3 %berat metal mengendap pada katalis, apabila jumlah
endapan tersebut mskin bertambah maka katalis cenderung menjadi jenuh secepatnya,
dan logam akan menghalang terjadinya reaksi lebih lanjut. Hal ini dapat menimbulkan
suatu aliran yang tidak merata, sehingga menimbulkan akibat beban katalis yang tidak
sama. Bahkan mungkin sebagian katalis akan menerima posisi yang lebih, sehingga
panas yang ditimbulkan akan lebih besar.

II.1.2 KECEPATAN DAN PANAS REAKSI.

Pada reaksi hydrogenasi naphtha terdapat 3 jenis reaksi yang dianggap besar,
sedangkan reaksi yang lainnya dapat diabaikan. Reaksi tersebut adalah Desulfurisasi,
penjenuhan oleh olefein dan Denitrifikasi.

Dari ketiga jenis reaksi tersebut kecpatan dan panas reaksinya sebagai berikut :

Reaksi perbandingan panas reaksi


Kecepatan reaksi KJ/Kg Feed
1. Desulfurisasi 100 8.1
2. penjenuhan Olefin 80 40.6
3. Denitrifikasi 20 0.8

Data-data tersebut menunjukan, bahwa Desulfurisasi memegang peranan utama dalam


hal kecepatan reaksi, sedangkan penjenuhan olefin penhasil panas reaksi yang tertinggi.

Tetapi harus dipahami apabila kandungan sulfur dalam umpan naphtha


bertambah, maka panas reaksinya pun, naik pula. Patut kiranya dipahami bahwa setiap
pwngolahan umpan, panas reaksi yang timbul harus diatur sedemikian sehingga seesuai
dengan panas yang hilang. Dengan demikian proses naphtha hydrotreating harus diatur
suhu reaktor atau keluar harus selalu tetap.
Konversi senyawa organic klorida maupun oksida hampir sama sukarnya dengan
denitrifikasi. Dengan demikian apabila diduga terdapat senyawa tersebut, mak kondisi
operasi harus diatur secara ketat sehingga tetap seimbang.
Berikut adalah data-data katalis type S-16 yang digunakan untuk hydrogenasi dalam unit
naphtha hydrotreating.

Sebutan S-16
Bahan Dasar Aluminium
Bentuk Extrudate
Ukuran 1/16 inchi
A B D (gm/ml) 0.795
Logam lain Ni, Mo
Regenerasi Innert gas
Warna Hijau muda

PENJELASAN TENTANG PERENCANAAN


Basis pengolahan

Kecepatan umpan = 67.1


LHSV (HR-1) =5
Tekanan separator = 52.7
Jumlah H2 = 200
Quench = Ya
Type Catalyst = S-16

Karakteristik umpan = Straight Run Naphtha (SRN)


Cracked naphtha
HC.unibon Naphtha

S.G = 0.725
IBP ( °C) = 64
50% = 88
EP (°C) = 152
S ppm. = 252
N ppm = 25
Bromine Number = 38.5

Naphta adalah produk hydrokarbon cair yang dihasilkan dari pengolahan minyak
bumi yang mempunyai sifat mudah menguap dan sangat mudah terbakar. Naphta
digunakan sebagai komponen pembuatan Mogas (Motor Gasoline), bahan pelarut
(solvent) dan sebagai bahan baku industri petrokimia. Naphta dihasilkan dari proses
distilasi minyak bumi dan hasil konversi (Reforming dan Cracking) produk minyak bumi
lainnya. Terdapat beberapa jenis produk naphta yang dibedakan berdasarkan density
(Specific Gravity) dan hasil analisa PONA (Parafin, Olefin, Naphtene dan Aromatic).

Tabel spesifikasi Naphta


Analisa Satuan Medium Naphta Naphta
(UP III & UP V) (UP IV)
Specific gravity at 60/60 °F 0,7200 min 0,65-0,74
Colour Sybolt + 22 min +20 min
Lead Content Ppb 100 maks 100 maks
Sulphur Content Ppm 300 maks 800 maks
Exitent gum mg/100 ml 4 maks 4 maks
Reid Vapour Pressure Psi 6,0 maks 13,0 maks
PONA Analysis
Parafine % vol 20 min 65 min
Olefins % vol 1,0 maks 1,0 maks
Naphtenes + Aromatic % vol 35 min NA

Distilation
Initial Boiling Point % vol 45 min 25 min
Final Boiling Point % vol 180 maks 206 maks
Residue % vol 2 maks 1,5 maks

II.1.3 Naphta Rerun Unit (NRU)-102


Naphta Rerun Unit merupakan unit yang mengolah naphta dari CDU untuk
mendapatkan fraksi Light Naphta dan Heavy Naphta. Fungsi utama dari Naphta Rerun
Unit adalah memisahkan umpan naphta menjadi naphta berat dengan rentang titik didih
80-150 °C dan naphta ringan memiliki rentang titik didih 30-80 °C dengan kapasitas
9200 BPSD (60 m3 /jam).
Produknya adalah :
• Gas yang dimanfaatkan sebagai fuel gas atau dibuang ke flare
• Light naphta sebagai komponen blending atau pencampuran dengan heavy
naphta yang sudah ditreat,hasil dari pencampuran ini adalah premium yang
sudah siap dipasarkan.
• Heavy naphta yang kemudian sebagai umpan Hydrobon Platforming 1

ALIRAN PROSES :
SRN dari CDU dipompakan (P-1AB) ke Rerun Tower Unit (T-1), yang
sebelumnya dipanaskan di E-1. SRN yang masuk ke E-1 bertemperatur 28 °C dan keluar
dengan temperature 101°C. Pada NRU, SRN didistilasi untuk memisahkan fraksi ringan
dan fraksi berat naphta. Light Naphta keluar dengan temperature 80 °C sedangkan Heavy
Naphta 130°C. Heavy Naphta dipompakan (P-2AB) ke Heat Exchanger E-1 hingga
temperature 80 °C. Pertukaran panas terjadi antara SRN umpan dengan Heavy Naphta.
Heavy Naphta didinginkan di kondensor E-6 hingga 55 °C kemudian sebagian masuk ke
unit Platforming II dan sebagian lagi di refluks ke kolom T-1. Heavy Naphta refluks
dipompakan (P-3AB) ke Heater H-1 untuk dipanaskan hingga 140°C. Bahan baker pada
H-1 menggunakan Fuel gas dan fuel oil.
Light Naphta dari kolom T-1 didinginkan oleh kondensor E-2AB yang kemudian
ditampung di accumulator drum D-1. Gas yang tidak terkondensasi dialirkan ke D-5 dan
sisanya ke flare. Kondensat dengan temperature 42 °C dari D-1 dipompakan (P-4AB) ke
rerun stabilizer (T-2) dan sebagian kembali ke kolom T-1. Sebelum masuk ke T-2 umpan
dipanaskan hingga 77 °C. Produk atas T-2 dengan temperature 94 °C dikondensasikan di
E-4AB dan masuk ke stabilizer accumulator (D-2). Gas yang tidak dikondensasikan
dialirkan flare dan kondensat (T=32 °C) dipompakan kembali (P-5AB) ke T-2. Produk
bawah T-2 yaitu Light Naphta dengan temperature 130 °C didinginkan di E-3 yang
bertukar panas dengan umpan T-2 hingga 74 °C. Light naphta didinginkan mbali
sehingga menghasilkan produk dengan temperature 35 °C. Pemanas E-5 untuk
menjalankan proses diperoleh dari steam yang berasal dari Middle Pump Arround
(MPA) dari CDU.

II.2 Hydrobon Platforming Unit (PL 1)


Hydrobon Platforming Unit terdiri dari 2 bagian, yaitu Hydrobon dan
Platforming. Hydrobon berfungsi untuk memurnikan Heavy Naphtha produk NRU dari
pengotor seperti senyawa nitrogen, belerang, oksigen, klor dan logam yang dapat
meracuni katalis di unit platforming dengan cara hidrogenasi dengan katalis UOP S-16
(NiO/MoO3/AL2O3) pada temperature 290 °C .
Platforming bertujuan untuk mengubah naphta oktan rendah (54) menjadi naphta
oktan tinggi melalui penataan ulang struktur molekul hidrokarbon menggunakan panas
dan katalis. Katalis yang digunakan adalah R-56, R-15 dan R-16 (Pt/ AL2O3) dengan
rasio H2/Hidrokarbon minimum 2,5. Reaksi utama yang terjadi adalah dehidrogenasi,
hydrocracking paraffin, isomerisasi dan dehidrosiklisasi paraffin. Katalis pengolahan
Hydrbon sebesar 6,2 MBSD. Hydrobon Platforming Unit ini memproduksi LPG yang
dikirim ke LPG Recovery Unit, Reformat (ON = 92) sebagai komponen campuran
premium, Offgas yang digunakan untuk fuel gas dan sisanya dibuang ke flare dan Gas H2
dengan kemunian 75 % digunakan sebagai recycle gas dalam proses.
1. Dehidrogenasi : C6H11CH3 → C6H5CH3 + H2
2. Hydrocracking paraffin : C8H8 + H2 → C5H12 +C3H8
3. Isomerisasi : C6H12 → C2H5-CH(CH3)-C2H5
4. Dehidroksiklisasi parafin : C7H16 → C7H14 + H2

ALIRAN PROSES :
Umpan heavy naphtha dari NRU dipompakan (P-1AB) ke heat exchanger E-1
hingga 234o C dan dipanaskan lagi di preheater H-1 hingga 444o. Produk dari R-1 yan
gbertemperatur 294o C didinginkan di E-1 hingga 135 oC. Sebelum masuk ke D-1,produk
ini didinginkan dialiri air untuk menghilangkan impurities di E-2AB hingga 42oC. Gas
yang tidak dikondensasikan di D-1 degunakn sebagai fuel gas, air di water boot dibuang
sour water stripper (SWS) dan destilat dialirkan sebagai umpan hydrobon stipper (T-1)
setelah sebelumnaya melewati E-3ABC oleh pompa P-1AB.

Produk atas T-1 didinginkan oleh E-4AB dari 101oC hingga 52oC kemudian
masuk ke D-2. gas dari D-2 digunakan sebagai fuel gas sedangakn kondensat
dikembalikan ke T-1 oleh pompa P-2AB. Produk bawah T-1 sebagian dikembalikan ke
kolom dengan pompa P-3AB dan dipanaskan oleh H-2. sebagian lagi produk T-1
didinginkan oleh E-3ABC untuk selanjutnya dialirkan ke pltformer reaktor (R-2).

Sebelum memasuki R-2, naphtha dipanaskan oleh E-5ABCD, E-11ABC dan


heater H-3 hinga temperatur 506oC secara berturut-turut, naphths direaksikan di R-2, R-3
dan R-4. sebelum masuk ke R-3 naphtha dipanaskan di H-4. reaksi di R-1 dan R-2
bersifat endotermik , sedangakan di R-4 bersifat eksotermik. Produk keluaran R-4
bertemperatur 422oC kemudian dialirkan ke bagian platformer stripper setelah
didinginkan di E-5ABCD dan E-6AB.

Di bagian stripper produk dari R-4 masuk ke D-5. Distilat dialirkan ke platformer
stripper oleh pompa P-30 dan mengalami pemanasan di E-7. di stripper ini terjadi
pemisahan naphtha menjadi gas dan reformat. Reformat dialirkan ke tangki penyimpanan
stelah sebelumnya dididnginkan di E-7 dan E-9 hingga temperatur 36oC, namun sebagian
direfluks ke T-2 melalui pompa P-8AB dan H-6 hingga 211oC. Gas dari T-2 mengalami
pemisahan di D-6 setelah didinginkan di E-16 menjadi fuel gas dan LPG. LPG sebagian
dirrefluks melalui pompa P-7AB Dan sebagian lagi dialirkan ke flatformer deathanizer
oelh pompa P-11AB.

Di platformer deathanizer T-3, LPG dikurangi kadar C 2 nya dengan bantuan


medium presure (MPS). Produk gas dari bagian atas T-3 didinginkan di E-14 dan
mengalami pemisahan antara fuel gas dan distilatnya yang dikembalikan ke T-3 oleh
pompa P-12 AB. Produk LPG dialirkan ke LPG tank setelah didigninkan di E-12 dan E-
15 hingga 39oC.
II.3 Naptha Hydrotreating Unit(NHDT)
Naphta Hydrotreating Unit merupakan unit yang mengolah heavy naphta dari HC
Unibon dan Delayed Cooker dengan prinsip hydrotreating sehingga menghasilkan naphta
yang memenuhi spesifikasi untuk diproses di Platformer/CCR.
Tujuan utama dari proses ini adalah untuk menurunkan kandungan Sulfur dan
Nitrogen dalam Naptha yang akan dipakai sebagai umpan pada unit Platforming sampai
masing-masing maksimum 0,5 ppm,agar tidak meracuni katalis bimetalnya.Umpan
naptha untuk unit berasal dari: Straight Run Naptha (SRN) dari CDU,Heavy naptha dari
HC Unibon serta Crack Naptha dari DCU dengan kapasitas 10100 BPSD (70,0 m3/jam)
dan menghasilkan produk naphta beratyang sudah treated artinya sudah bebas dari bahan-
bahan yang bisa merubah atau meracuni katalis. Unit ini beroperasi pada suhu 310-350
2
°C dengan tekanan reactor 52,0 kg/cm serta LHSV 5Hr-1 dan perbandingan antara
H2/umpan =200Nm3/ m3.
Feed setelah melewati feed surge drum (V-4) dicampur dengan gas hydrogen dan
dipanaskan dengan serangkaian alat penukar panas (E-1 A/B/C/D/E) kemudian
dipanaskan dalam dapur H-1 hingga suhunya 300 °C dan tekanan 36,6 kg/cm2. Di dalam
reactor dengan pemanasan yang cukup naphta akan dibersihkan dari racun/impurities
sehingga memenuhi persyaratan feed platformer. Hasil reaksi setelah keluar dari reactor
dikondensasikan dan didinginkan kemudian masuk drum pemisah untuk memisahkan
cairan dan gas.
Produk yang dihasilkan ini adalah :
• Gas, dimanfaatkan sebagai fuel gas
• Light Naphta, sebagai Low Octane Mogas component
• Heavy Naphta, sebagai umpan CCR-Platforming Unit.

Unit ini berfungsi untuk mempersiapkan umpan CCR-Platforming Unit dengan


menghilangkan kontaminan seperti sulfur, nitrogen, oksigen dan penjenuhan
olevin.Persaratan kandungan maksimum sulfur dan nitrogen dalam umpan adalah 0,5
ppm untuk mencegah terjadinya keracunan katalis.Katalis yang digunakan adalah katalis
Ketjen tipe 830 (CoMo/Al2O3).Tekana reaktor 52,7 atm dengan temperatur 340
-385oC.Reaksi yang terjadi
• Penghilangan Sulfur : RSH + H2 → RH + H2S
• Penghilangan Nitrogen : C5H5 +5H2 → C5H12 + NH3+
• Penghilangan Oksigen : C6H5OH + H2→C6H6 +H2O
• Penjenuhan Olefin : R=R + H2 → RH-RH
• Penghilangan Klorida : R-Cl + H2→ RH + HCl
Kapasitas : 67 m3/jam atau 10.800 BPSD
Feed : naphtha dari HC Unibon dan DCU
Produk :
- light naphta, dialirkan ke tangki penyimpanan
- heavy naptha, merupakan umpan bagi unit PL II
- Off gas

ALIRAN PORSES

Heavy naphtha, untreated naphtha dari tangki penyimpanan, dan crack naphtha
dari delayed cooker masuk ke V-4 hingga terjadi pemisahan antara gas, air dan
naphtha.Gs menuju ke fuel gs system air menuju ke SWS, dan naphtha dialirkan ke V-1
alir pompa P-1AB setelah melalui HE E-1ABCD dan heater H-1. bahan bakar pada H-1
merupakan campuran antara steam, fuel oil, pilot gas, dan fuel gas. Temperature naphtha
masuk P-1 adalah 300oC dan keluar dengan temperature 334oC. Di V-1 tejadi
pengilangan pengotor. Naphtha kemudian masuk ke V-5.

Sebelum masuk ke V-5, naphtha didinginkan berterut-turut oleh heat exchanger


E-1, E-2 (fan) dan heat exchanger E-3 (Air laut). Di dalam V-5, naphtha dipisahkan
menjadi air dan destilat, air menuju ke SWS treating. Tekanan di V-5 cukup besar yaitu
50kg/ cm2. tekanan tersebut diperoleh melalui high dan medium preassure steam setelah
melalui kompresor C-1AB. Treated naphtha yang keluaer dari V-5 diumpnkan kan ke
kolom stripper V-2 setelah terlebih dahulu dipanaskan di E-7 dan E-6. di kolom V-2,
naphtha dipisahkan dari gas-gas. Produk atas V-2 didingkan oleh fan E-8 dan pendingin
air laut E-9 kemudian masuk ke V-6 agar terjadi pemisahan antara off gas dan LPG
dengan air yang dibuang ke SWS 3AB. Sebagian produk bawah V-2 dikembaliakan ke
V-2 oleh pompa P-2AB setelah melewati heater H-2. sebagian lagi dialirkan ke bagian
splitter di E-6.

Di dalam naphtha slitter, terjadi pemisahan antara ligh naphtha, heavy naphtha
dan off gas. Produk atas V-3 merupakan ligh naphtha yang masih mengandung gas ringan
sehingga harus dipisahkan di naphtha splitter receiver V-7 setelah didinginkan oleh fan
E-10. gas dialirkan ke flare, sedangkan ligh naphtha dialirka ke tangki peyimpan dan unit
hydrogen oleh pompa P-5AB setelah didinginkan oleh air laut E-11. produk bawah heavy
naphtha sebagian direfluk oleh pompa P-4AB setelaha dilewatkan ke splitter reboiler
heater H-3 dan sebagian lagi didingkan di E-7 untuk selanjutkan

II.4 Platforming II (PL II)


Platforming II mengubah treate naphtha dari NHDT menjadi high grade motor
fuel dengan angka oktan tinggi. Reaksi yang terjadi di unit in sama dengan ynag terjadi di
unit platforming 1. Platforming II tersebut terdiri dari tiga buah reactor yang tersusun
secara seri vertical dengan temperature operasi 5400C, tekanan 9 kg/cm2 dan rasio
minimum H2 per hydrocarbon 2,5. katalis yang digunakan adalah bimetalik UOP R-32
(Pt-Rh/Al2O3).
Reaksi yang terjadi adalah :
1. Dehidrogenasi : C6H11CH3→ C6H5CH3 + H2
2. Hydrocracking paraffin : C8H8 + H2 → C5H12 +C3H8
3. Isomerisasi : C6H12 → C2H5-CH(CH3)-C2H5
4. Dehidroksiklisasi parafin : C7H16 → C7H14 + H2
Kapasitas : 8,95 MDSD
Umpan : heavy naphtha dari NHDT
Produk :
Refornate, dengan angkan oktan 94
LPG, yang dikirim ke LPG recovery unit
Off gas, yang digunakan sebagai fuel gas sistem
Gas H2 dengan purity kurang lebih 85%, yang di kirim ke H2 plant dan unit
DHDT.
ALIRAN PROSES :
Hydrotreater Naptha dari NHDT masuk ke reaktor V-1 setelah dipanaskan di H-1
(platformer charge heater) hingga 517o. Keluarn V-1 dipanaskan di H-2 dari 493o C
hingga 515o C lalu masuk ke reaktor V-2. Keluaran V-2 dipanaskan di H-3dari 454oC
hingga 516o C kemudaian masuk ke reaktor V-3. Keluaran V-3 didinginkan di E-1
kemudian dialirkan ke LP Separator (V-4). Reaksi yang berlangsung secara endotermik.
Perbandingan jumlah katalis di V-1 : V-2 : V-3 adalah 2:3:5.Reaksi di V-1 adalah
dehidrogenasiyang berlangsung sangat cepat., reaksi di V-2 adalah isomerasi,
hydrocracking dan dehidrosiklisasi, sedangkan di V-3 merupakan reaksi lanjutan atau
penyempurnaan umpan yang belum bereaksi.
Tekanan di LP Separator adalah 8,2 kg/cm2 dan di HP Separator adalah 22
kg/cm2 .Sebagian produk atas V-4 dialirkan ke recycle kompresesor C-1,selanjutnya
kembali ke reaktor .Sebagian lagi dimasukkan ke Net Gas Booster Kompresor (C-2B)
dan masuk ke HP Separator .C1 merupakan Compresor sentrifugal,sedangkan C2 adalah
Compresor Toraks.Tekana yang dihasilkan C1 cenderung konstan ,sedangakan toraks
bias berubah-ubah bahkan melebihi spesifikasi rasio kompresinya.Di HP Separaotor
terjadi pemisahan antara gas dan reformat.Gas dialirkan ke H2 Plan,DHDT,NHDT dan
Hydrobon,sedangkan reformat dialirkan ke V-6 karena belum stabil.
Dari V-5 Reformat di pompakan oleh P-3AB melalui HE E-5 kemudian masuk ke
debutanizer V-6.Di debutanizer reformat mengalami pengurangan kadar butan.Kondisi
operasi di V-6 adalah 17,5 kg/cm2 dengan temperatur 150 oC.Gas dari V-6 di dinginkan
di fan E-6AB dan pendingin air laut E-7 lalu masuk ke V-7.Uap dan gas dari V-7
dialirkan ke Amine LPG recovery sedangkan cairan C4 sebagian di refluks ke V-6
merupakan platformat yang sebagian di refluks oleh P-3AB setelah itu melalui pemanas
H-4dan sebagian lagi dijadikan produk platformat setelah didinginkan di E-5 ,fan E-8 dan
HE air laut E-9.

BAB III
PENUTUP
III.1 Kesimpulan

1. Naphtha merupakan salah satu fraksi gas minyak bumi yang dalam proses
penambangannya dilakukan kondensasi. Umumnya ada dua macam naphtha
antara lain naphtha ringan (light naphtha, umumnya berkisar antara C5 - C8),
naphtha berat (heavy naphtha, umumnya berkisar antara C8 - C13).

2. Pada Naphtha Rerun Unit (NRU)/Unit 102 berguna untuk memisahkan


fraksi ringan dari Straight Run Naphtha pada Topping Unit menjadi Light
Naphtha dan Heavy Naphtha serta gas untuk bahan bakar kilang (Fuel gas).

3. Light Naphtha disebut juga dengan istilah Low Octan Mogas Component
(LOMC) yang tidak mengandung olefin/banyak mengandung paraffin.

4. Heavy Naphtha digunakan sebagai umpan Hydrobon Platforming Unit.

5. Pada unit NRU Naphtha ditarik dari tangki dengan pompa NR P-1 dan di
alirkan ke Heat Exchanger(HE) ke tower T-1. Bottom produk dipompa
dengan pompa P-2 kembali ke HE dan kemudiaan dilanjutkan ke cooler
sehingga diperoleh hasil Heavy Naphtha.

6. Sebagian dari Bottom produk di kembalikan ke kolom yang sebelumnya


masuk di Boiler. Dari atas kolom, gas dimasukkan ke kondensor dan
cairannya ditampung dalam Drum D-1 kemudian dipompakan kembali ke atas
kolom dan sebagian didinginkan pada satu cooler dan hasilnya berupa Light
Naphtha.

7. Naphtha Hydrotreating Unit (NHDT) berfungsi untuk menghilangkan


impurities seperti sulfur, oksigen dan nitrogen serta menjenuhkan olefin yang
terdapat dalam Stabilezer Naphtha dari Delayed Coker dan Naphtha
Hydrocricker dengan bantuan katalis S-16

III.2 Saran

1. Perawatan alat seperti Naphtha Splitter dan Naphtha Treater perlu


diperhatikan untuk mendapatkan hasil yang optimal.
2. Untuk mencegah keracunan katalis pada Naphtha Hydrotreating Unit
kandungan sulfur dan nitrogen maksimal dalam platformer masing-masing adalah 0,5
ppm.

DAFTAR PUSTAKA

Davit, ”Refinery and Processing Capasity and Demand”, Whikehart. 2007.


Nazwir. 2004. Evaluasi Kinerja Heater HCC Unibon Unit 212 H-3. Pekanbaru :
Universitas Riau.
Nevado, ”Temperature Optimization of a Naphtha Splitter Unit”, Antonio,2008.

Nur Adha, Erdha. 2004. . Evaluasi Kinerja Heater H 1 Unit 100 CDU . Pekanbaru :
Universitas Riau.
Budhiarto, ” Buku Pintar Migas Indonesia ”, Adhi, Hal 2 dan 3, 2008.

http://raz2305ans.multiply.com/journal/item/4
http://www.wipo.int/pctdb/en/wo.jsp?
wo=2001074975&IA=WO2001074975&DISPLAY=DESC
Lampiran

FG
FLARE E-4
E-2

D-1 D-2
STAB
ACCUMULATOR ACCUMULATOR

RERUN
TOWER

T-1
E-3 RERUN
T-2 STABILIZER
E-1
REBOILER

E-7
H-1
CHARGE

E-6
E-5

MPA
HEAVY NAPHTHA LIGHT NAPHTHA FROM MPA TOCDU
CDU
NAPHTHA RERUNUNIT
UNIT 102
rs /pe -enj .bang

Gambar A.1. Diagram Alir Proses Naphta Rerun Unit


HIDROBON HYDR . HYDRSTRIPPER PLATF . PLATF . STAB . OH
REACTOR HPS STRIPPER RECEIVER HEATERS REACTORS HPS STABILIZER RECEIVER

H2 Plant
E-8
E-4
FLARE
FG FG

D-6
E-2
D-2

R-1
D-5
RERUN
STABILIZER
D-1
T-1 R-2 R-3 R-4 T-2
H-3 H-4

E-11 STAB .
REBOILER

H-1 E-1 E-3 ABC


H-6
HIDROBON H-2
E-7
HEATER
HYDROBON
STRIPPER PLATF .
HEAVY REBOILER E-6 COMP .
PLATFORMATE
NAPHTHA E-5
E-9
C-1
EXISTINGPLATFORMING
UNIT -301
r.sutontros /pe -enj .bang

Gambar A.2. Diagram Alir Proses Platforming Unit I


FEED SURGE HYDROTREATING RECYCLE &MAKE UP COMPRESSOR NAPHTHA NAPHTHA SPLITTER
DRUM HEATER REACTOR COMPRESSOR SUCT . DRUM STRIPPER SPLITTER OH RECEIVER

H2 MAKE UP
AMINE LPG
FUEL GAS from Platf . Unit
E-10

V-6 V-7

V-9 LIGHT
SWS NAPHTHA
Grav 84.9/.654
MW 79.9
V-4 K 12.8
V-3 RON Clear 58,

V-1
SWS

V-8
V-5
V-2
C-1
H-1 A/B

SWS
E-5
H-2 H-3

CHARGE
STRIP . NAPH .SPLIT
NAPHTHA E-1,2,3 REBOILER
REBOILER
FROM COKER E-7
& UNIBONS HYDROTREATED NAPHTHA
Prod . Requirement
Feed Stock Properties Desgn Basis S 0.5ppm max ; N 0.5ppm max
Grav 63.7/.725 EP 204 C max ; Pb 20ppb max
BR 64-152 C CATALYST : S-16 (Ni -Mo in Alumina As 1ppb max ; F+Cl 1ppb max
S 252 ppm Extruded Form , 1/16 inch -size Cu + Heavy Metals 25ppb max
N 25 ppm
Br .No . 38.5 0.795 g/cc ABD NAPHTHA HYDROTREATING
UNIT -200
rs/pe -enj .bang

Gambar A.3. Diagram Alir Proses Naphta Hydro Treating Unit


REGENERATED Organic Chloride CM -3
CATALYST
LIFT GAS
DUST COLLECTOR BLOWER
DISENGAGING
Nitrogen HOPPER

REGEN COOLER
REGEN BLOWER
TOWER

PLATF . CHLOR . H-3 CM -2


REACTORS BLOWER REGEN HEATER REGEN BLOWER
H-1
CM -1 Chlorination
AIR HEATER OXYGEN
Heater CONTROL
FLOWCONTROL
SELECTOR
HOPPER

SURGE
Vent HOPPER

Nitrogen Air

Vent CAT . COALESCER


COLLECTOR
LOCK
HOPPER
No .2
LOCK Hydrogen Rich Gas
HOPPER from Booster
No .1 Compressor

LIFT ENGAGERS
No .1 No .2

Recycle Nitrogen
Gas
CONTINOUS CATALYST REGENERATION
UNIT 310
rs/pe -enj .bang

Gambar A.4. Diagram Alir Proses Continuous Catalitic Regeneration-Platforming II / CCR-PLII