Anda di halaman 1dari 38

ABORTUS

Definisi abortus
Menurut definisi WHO, abortus didefinisikan sebagai hilangnya janin atau embrio
dengan berat kurang dari 500 gram setara dengan sekitar 20-22 minggu kehamilan.
Abortus adalah berakhirnya suatu kehamilan sebelum janin mencapai berat 500 gram
atau usia kehamilan kurang dari 20 minggu atau janin belum mampu untuk hidup di luar
kandungan (Prawirohardjo,2008).
Definisi abortus adalah berakhirnya kehamilan melalui cara apapun sebelum janin
mampu bertahan hidup. Di Amerika Serikat, definisi ini terbatas pada terminasi kehamilan
sebelum 20 minggu didasarkan pada tanggal hari pertama haid normal terakhir. Definisi lain
yang sering digunakan adalah keluarnya janin neonatus yang beratnya kurang dari 500 gram
(Cunningham et al, 2005).
Kategori abortus
1. Abortus provokatus (indikasi abortus) adalah abortus yang disengaja baik dengan
memakai obat-obatan maupun dengan alat-alat.
a) Abortus medisinalis (abortus theurapeutica)

yaitu

abortus

berdasarkan

pertimbangan dokter untuk menyelamatkan ibu. Perlu mendapatkan persetujuan


minimal 3 dokter spesialis (spesialis kandungan dan kebidanan, spesialis penyakit
dalam, spesialis jiwa).
b) Abortus kriminalis yaitu abortus yang terjadi karena tindakan-tindakan yang tidak
legal atau tidak berdasarkan indikasi medis dan biasanya dilakukan secara
sembunyi-sembunyi oleh tenaga tradisional.
2. Abortus spontan
a) Abortus Iminens adalah peristiwa terjadinya perdarahan dari uterus pada
kehamilan sebelum 20 minggu, dimana hasil konsepsi masih dalam uterus, dan
tanpa adanya dilatasi serviks.
b) Abortus Insipiens ialah peristiwa perdarahan uterus pada kehamilan sebelum 20
minggu dengan adanya dilatasi servik uteri yang meningkat, tetapi hasil konsepsi
masih dalam uterus. (ada kram perut)
c) Abortus inkomplitus ialah pengeluaran sebagian hasil konsepsi pada kehamilan
sebelum 20 minggu dengan masih ada sisa tertinggal dalam uterus. (ada kram
perut)
1

d) Abortus Komplit (keguguran lengkap) yaitu semua hasil konsepsi sudah


dikeluarkan dari kavum uteri pada kehamilan kurang dari 20 minggu atau berat
janin kurang dari 500 gram.
e) Missed Abortion adalah kematian janin berusia sebelum 20 minggu, dan hasil
konsepsi masih tertahan dalam kandungan lebih dari 4 minggu.
f) Abortus habitualis adalah abortus spontan yang terjadi 3 kali atau lebih yang
berturut-turut.
g) Abortus Infeksiosus adalah abortus yang disertai infeksi pada genetalia
h) Abortus septik adalah abortus infeksius berat disertai penyebaran kuman atau
toksin kedalam peredaran darah atau peritonium.
Epidemiologi
Rata-rata terjadi 114 kasus aborsi per jam. Sebagian besar studi menyatakan kejadian
abortus antara 15-20% dari semua kehamilan. Kalau dikaji lebih jauh abortus sebenarnya bisa
mendekati 50%. Hal ini dikarenakan tingginya angka chemical pregnancy loss yang tidak bisa
diketahui pada 2-4 minggu setelah konsepsi.
WHO memperkirakan di seluruh dunia, dari 46 juta kelahiran pertahun terdapat 20 juta
kejadian abortus. Sekitar 13% jumlah dari total kematian ibu di seluruh dunia diakibatkan oleh
komplikasi abortus, 800 wanita diantaranya meninggal karena komplikasi abortus dan
sekurangnya 95% (19 dari setiap 20 abortus) di antaranya terjadi di negara berkembang. Di
Amerika Serikat angka kejadian abortus spontan berkisar antara 10-20% kehamilan. Di Rumah
Sakit Umum Daerah (RSUD) Banyumas Unit II Purwekerto, angka kejadian abortus pada tahun
2007 sebesar 23,7%, pada tahun 2008 meningkat menjadi 30,7%. Di Rumah Sakit dr. Hasan
Sadikin Bandung, prevalensi abortus tercatat sebesar 8-12%.
Jumlah keguguran yang terjadi diketahui akan menurun dengan meningkatnya usia
gestasional, dari 25% pada 5 hingga 6 minggu pertama kehamilan menjadi 2% selepas 14
minggu kehamilan. Berikut adalah tabel epidemiologi abortus pada awal kehamilan.
No.
1
2
3
4
5
6
7

Variabel
Jumlah keseluruhan abortus secara klinis
Sebelum 6 minggu
Di anatara 6 dan 9 minggu
Selepas 9 minggu
Selepas 14 minggu
Jumlah defek kromosom pada abortus
Jumlah abortus pada primigravida, usia di

Presentase
25-30
18
4
3
2
50-70
6-10

bawah 40
2

Jumlah abortus pada primigravida, usia di atas 30-40

9
10

40
Jumlah abortus yang berulang
1-2
Risiko berulangnya abortus selepas 3 kali 25-30
abortus

Patofisiologi
Kebanyakan abortus spontan terjadi segera setelah kematian janin yang kemudian diikuti
dengan perdarahan ke dalam desidua basalis, lalu terjadi perubahan-perubahan nekrotik pada
daerah implantasi, infiltrasi sel-sel peradangan akut, dan akhirnya perdarahan per vaginam. Buah
kehamilan terlepas seluruhnya atau sebagian yang diinterpretasikan sebagai benda asing dalam
rongga rahim. Hal ini menyebabkan kontraksi uterus dimulai, dan segera setelah itu terjadi
pendorongan benda asing itu keluar rongga rahim (ekspulsi). Perlu ditekankan bahwa pada
abortus spontan, kematian embrio biasanya terjadi paling lama dua minggu sebelum perdarahan.
Oleh karena itu, pengobatan untuk mempertahankan janin tidak layak dilakukan jika telah terjadi
perdarahan banyak karena abortus tidak dapat dihindari. Sebelum minggu ke-10, hasil konsepsi
biasanya dikeluarkan dengan lengkap. Hal ini disebabkan sebelum minggu ke-10 vili korialis
belum menanamkan diri dengan erat ke dalam desidua hingga telur mudah terlepas
keseluruhannya. Antara minggu ke-10 hingga minggu ke-12 korion tumbuh dengan cepat dan
hubungan vili korialis dengan desidua makin erat hingga mulai saat tersebut sering sisa-sisa
korion (plasenta) tertinggal kalau terjadi abortus. Pengeluaran hasil konsepsi didasarkan 4 cara:
a) Keluarnya kantong korion pada kehamilan yang sangat dini, meninggalkan sisa
desidua.
b) Kantong amnion dan isinya (fetus) didorong keluar, meninggalkan korion dan
desidua.
c) Pecahnya amnion terjadi dengan putusnya tali pusat dan pendorongan janin ke luar,
tetapi mempertahankan sisa amnion dan korion (hanya janin yang dikeluarkan).
d) Seluruh janin dan desidua yang melekat didorong keluar secara utuh. Kuretasi
diperlukan untuk membersihkan uterus dan mencegah perdarahan atau infeksi lebih
lanjut.
Gejala
1. Abortus Iminens
3

Vagina bercak atau perdarahan yang lebih berat umumnya terjadi selama kehamilan
awal dan dapat berlangsung selama beberapa hari atau minggu serta dapat
mempengaruhi satu dari empat atau lima wanita hamil. Secara keseluruhan, sekitar
setengah dari kehamilan ini akan berakhir dengan abortus.
Abortus iminens didiagnosa bila seseorang wanita hamil kurang daripada 20 minggu
mengeluarkan darah sedikit pada vagina. Perdarahan dapat berlanjut beberapa hari
atau dapat berulang, dapat pula disertai sedikit nyeri perut bawah atau nyeri
punggung bawah seperti saat menstruasi. Polip serviks, ulserasi vagina, karsinoma
serviks, kehamilan ektopik, dan kelainan trofoblast harus dibedakan dari abortus
iminens karena dapat memberikan perdarahan pada vagina. Pemeriksaan spekulum
dapat membedakan polip, ulserasi vagina atau karsinoma serviks, sedangkan kelainan
lain membutuhkan pemeriksaan ultrasonografi.
2. Abortus Insipiens
Abortus insipiens didiagnosis apabila pada wanita hamil ditemukan perdarahan
banyak, kadang-kadang keluar gumpalan darah yang disertai nyeri karena kontraksi
rahim kuat dan ditemukan adanya dilatasi serviks sehingga jari pemeriksa dapat
masuk dan ketuban dapat teraba. Kadang-kadang perdarahan dapat menyebabkan
kematian bagi ibu dan jaringan yang tertinggal dapat menyebabkan infeksi sehingga
evakuasi harus segera dilakukan. Janin biasanya sudah mati dan mempertahankan
kehamilan pada keadaan ini merupakan kontraindikasi.
3. Abortus Inkompletus atau Abortus Kompletus
Abortus inkompletus didiagnosis apabila sebagian dari hasil konsepsi telah lahir atau
teraba pada vagina, tetapi sebagian tertinggal (biasanya jaringan plasenta).
Perdarahan biasanya terus berlangsung, banyak, dan membahayakan ibu. Sering
serviks tetap terbuka karena masih ada benda di dalam rahim yang dianggap sebagai
benda

asing

(corpus

alienum).

Oleh

karena

itu,

uterus

akan

berusaha

mengeluarkannya dengan mengadakan kontraksi sehingga ibu merasakan nyeri,


namun tidak sehebat pada abortus insipiens. Jika hasil konsepsi lahir dengan lengkap,
maka disebut abortus kompletus. Pada keadaan ini kuretasi tidak perlu dilakukan.
Pada abortus kompletus, perdarahan segera berkurang setelah isi rahim dikeluarkan
dan selambat-lambatnya dalam 10 hari perdarahan berhenti sama sekali karena dalam
masa ini luka rahim telah sembuh dan epitelisasi telah selesai. Serviks juga dengan
4

segera menutup kembali. Kalau 10 hari setelah abortus masih ada perdarahan juga,
abortus inkompletus atau endometritis pasca abortus harus dipikirkan.
4. Abortus Tertunda (Missed abortion)
Abortus tertunda adalah keadaan dimana janin sudah mati, tetapi tetap berada dalam
rahim dan tidak dikeluarkan selama 2 bulan atau lebih. Pada abortus tertunda akan
dijumpai

amenorea,

yaitu

perdarahan

sedikit-sedikit

yang

berulang

pada

permulaannya, serta selama observasi fundus tidak bertambah tinggi, malahan tambah
rendah. Pada pemeriksaan dalam, serviks tertutup dan ada darah sedikit.
5. Abortus Habitualis (Recurrent abortion)
Anomali kromosom parental, gangguan trombofilik pada ibu hamil, dan kelainan
struktural uterus merupakan penyebab langsung pada abortus habitualis. Abortus
habitualis merupakan abortus yang terjadi tiga kali berturut-turut atau lebih. Etiologi
abortus ini adalah kelainan dari ovum atau spermatozoa, dimana sekiranya terjadi
pembuahan, hasilnya adalah patologis. Selain itu, disfungsi tiroid, kesalahan korpus
luteum dan kesalahan plasenta yaitu tidak sanggupnya plasenta menghasilkan
progesterone sesudah korpus luteum atrofis juga merupakan etiologi dari abortus
habitualis.
6. Abortus Septik (Septic abortion)
Abortus septik adalah keguguran disertai infeksi berat dengan penyebaran kuman atau
toksinnya ke dalam peredaran darah atau peritoneum. Hal ini sering ditemukan pada
abortus inkompletus atau abortus buatan, terutama yang kriminalis tanpa
memperhatikan syarat-syarat asepsis dan antisepsis. Antara bakteri yang dapat
menyebabkan abortus septik adalah seperti Escherichia coli, Enterobacter aerogenes,
Proteus vulgaris, Hemolytic streptococci dan Staphylococci.
Diagnosis
Menurut WHO (1994), setiap wanita pada usia reproduktif yang mengalami dua daripada
tiga gejala seperti di bawah harus dipikirkan kemungkinan terjadinya abortus:
a) Perdarahan pada vagina.
b) Nyeri pada abdomen bawah.
c) Riwayat amenorea.
5

Ultrasonografi penting dalam mengidentifikasi status kehamilan dan memastikan bahwa


suatu kehamilan adalah intrauterin. Apabila ultrasonografi transvaginal menunjukkan sebuah
rahim kosong dan tingkat serum hCG kuantitatif lebih besar dari 1.800 mIU per mL (1.800 IU
per L), kehamilan ektopik harus dipikirkan. Ketika ultrasonografi transabdominal dilakukan,
sebuah rahim kosong harus menimbulkan kecurigaan kehamilan ektopik jika kadar hCG
kuantitatif lebih besar dari 3.500 mIU per mL (3.500 IU per L). Rahim yang ditemukan kosong
pada pemeriksaan USG dapat mengindikasikan suatu abortus kompletus, tetapi diagnosis tidak
definitif sehingga kehamilan ektopik disingkirkan (Griebel et al., 2005; Puscheck, 2010).
Menurut Sastrawinata dan kawan-kawan (2005), diagnosa abortus menurut gambaran
klinis adalah seperti berikut:
i.

Abortus Iminens (Threatened abortion)


a. Anamnesis perdarahan sedikit dari jalan lahir dan nyeri perut tidak ada atau
ringan.
b. Pemeriksaan dalam fluksus/nifas ada (sedikit), ostium uteri tertutup, dan besar
uterus sesuai dengan umur kehamilan.
c. Pemeriksaan penunjang hasil USG.

ii.

Abortus Insipiens (Inevitable abortion)


a. Anamnesis perdarahan dari jalan lahir disertai nyeri / kontraksi rahim
b. Pemeriksaan dalam ostium terbuka, buah kehamilan masih dalam rahim, dan
ketuban utuh (mungkin menonjol).

iii.

Abortus Inkompletus
a. Anamnesis perdarahan dari jalan lahir (biasanya banyak), nyeri/kontraksi rahim
ada, dan bila perdarahan banyak dapat terjadi syok.
b. Pemeriksaan dalam ostium uteri terbuka (inkompletus), teraba sisa jaringan
buah kehamilan.
Abortus kompletus
a. Perdarahan sedikit
b. Ostium uteri interna sudah menutup, tidak ada sisa jaringan.

iv.

Abortus Tertunda (Missed abortion)


a. Anamnesis - perdarahan bisa ada atau tidak.
b. Pemeriksaan obstetri fundus uteri lebih kecil dari umur kehamilan dan bunyi

jantung janin tidak ada.


c. Pemeriksaan penunjang USG, laboratorium (Hb, trombosit, fibrinogen, waktu
perdarahan, waktu pembekuan dan waktu protrombin).
v.

Abortus Habitualis (Recurrent abortion)


a. Histerosalfingografi untuk mengetahui ada tidaknya mioma uterus submukosa
dan anomali kongenital.
b. BMR dan kadar yodium darah diukur untuk mengetahui apakah ada atau tidak
gangguan glandula thyroidea.

vi.

Abortus Septik (Septic abortion)


a. Adanya abortus : amenore, perdarahan, keluar jaringan yang telah ditolong di luar
rumah sakit.
b. Pemeriksaan : kanalis servikalis terbuka, teraba jaringan, perdarahan dan
sebagainya.
c. Tanda-tanda infeksi alat genital : demam, nadi cepat, perdarahan, nyeri tekan dan
leukositosis.
d. Pada abortus septik : kelihatan sakit berat, panas tinggi, menggigil, nadi kecil dan
cepat, tekanan darah turun sampai syok.

Tatalaksana
Pada abortus insipiens dan abortus inkompletus, bila ada tanda-tanda syok maka diatasi
dulu dengan pemberian cairan dan transfuse darah. Kemudian, jaringan dikeluarkan secepat
mungkin dengan metode digital dan kuretase. Setelah itu, beri obat-obat uterotonika dan
antibiotika.
Pada keadaan abortus kompletus dimana seluruh hasil konsepsi dikeluarkan (desidua dan
fetus), sehingga rongga rahim kosong, terapi yang diberikan hanya uterotonika (agar uterus
berkontraksi sehingga perdarahan berhenti). Untuk abortus tertunda, obat diberi dengan maksud
agar terjadi his sehingga fetus dan desidua dapat dikeluarkan, kalau tidak berhasil, dilatasi dan
kuretase dilakukan.
Histerotomia anterior (pengangkatan rahim) juga dapat dilakukan dan pada penderita,
diberikan tonika dan antibiotika. Pengobatan pada kelainan endometrium pada abortus habitualis
lebih besar hasilnya jika dilakukan sebelum ada konsepsi daripada sesudahnya. Merokok dan

minum alkohol sebaiknya dikurangi atau dihentikan. Pada serviks inkompeten, terapinya adalah
operatif yaitu operasi Shirodkar atau McDonald.

Perhitungan usia kehamilan:


1. Terjainya ovulasi sulit dipastikan pada setiap orang
2. Ovulasi sebagian besar terjadi pada pertengahan siklus menstruasi, yaitu sekitar hari ke
3.
4.
5.
6.

12-14
Konsepsi merupakan proses yang kompleks sehingga kepastiaanya sulit ditetapkan
Terjadinya implantasi merupakan masalah yang sulit ditentukan kapan tepatnya.
Pengertian apakah hamil mulai dari saat fertilisasi atau mulai saat implantasi
Panjangnya siklus menstruasi pada wanita berbeda beda. Siklus menstruasi pendek sekiar

25 hari, normal sekitar 28 hari, pajang 35 hari


7. Yang pasti adalah umur korpus luteum hanya 8 hari sehingga variasinya terletak pada saat
fase proliferasi
Faktor tersebut diatas menjadi pertimbangan untuk menetapkan perkiraan persalinan
menurut tanggal menstruasi terakhir. Naegele telah memperkirakan umur kehamilan manusia
berkisar antara 280, 288, 298 hari. Rumus neagele hanya dapat digunakan untuk siklus
menstruasi 28 hari dimana ovulasi terjadi pada hari ke 14.
HPHT (hari pertama haid terakhir):
Tambahkan 7 pada hari HPHT
Kurangi 3 pada bulan
Tambah 1 pada tahun
Sedangkan untuk bulan yang tidak bisa dikurangi 3, misalnya Januari, Februari, dan Maret, maka
bulannya ditambah 9, tapi tahunnya tetap tidak ditambah atau dikurangi.
Contoh: Jika HPHT anda adalah 16 nov 2008, maka:
16 +7 =23
11-3 =8
8 +1=9

Jadi taksiran waktu kelahiran anda adalah tanggal 23 agustus 2009

Anatomi alat reproduksi wanita


ALAT GENETALIA EKSTERNA WANITA

1. Mons pubis

Mons pubis/veneris adalah bantalan berisi lemak yang terletak di permukaan

anterior simfisis pubis.


Pada perempuan setelah pubertas akan ditutupi oleh rambut kemaluan.

2. Labia mayora (bibir besar)

Terdiri atas bagian kanan dan kiri, lonjong mengecil kebawah, terisi oleh

jaringan lemak yang serupa pada mons pubis.


Kebawah dan kebelakang kedua labia mayora bertemu membentuk komisura

posterior.
Labia mayora analog dengan skrotum pada pria.
10

Lipatan kulitnya dilapisi oleh epitel berlapis gepeng dengan keratin


Pada wanita yang sudah matang secara seksual mempunyai kelenjar sebasea
dan kelinjar keringat apokrin

3. Labia Minora (bibir-bibir kecil)

Suatu lipatan tipis dari kulit sebelah dalam bibir besar.


Kedua labia minora bagian atas bertemu dan membentuk preputium

klitoridis, dan bagian bawah menyatu membentuk frenulum klitoridis.


Kebelakang kedua bibir kecil juga bersatu dan membentuk fossa
navikulare. Pada perempuan yang belum pernah melahirkan fossa navikulare
tampak utuh, cekung, pada perempuan yang sudah melahirkan kelihatan tebal

dan tidak rata.


Kulit labia minora mengandung banyak galndula sebasea dan juga saraf yang

menyebabkan bibir kecil sangat sensitive.


Jaringan ikatnya mengandung banyak pembuluh darah dan otot polos yang

menyebabkan bibir kecil dapat mengembang.


Dilapisi oleh epitell berlapis gepeng dan lapisan dermisnya mengandung
kelenjar sebasea

4. Klitoris

Klitoris merupakan organ erektil sebesar kacang ijo tertutup preputium


kliditoris dan terdiri dari:
-

Glans klitoridis. Terdiri dari jaringan yang dapat mngembang penuh


dengan urat saraf sehingga sangat sensitive.

Korpus klitoridis

Dua Krura yang mengantung klitoris ke os pubis.

Banyak mengandung serat saraf sensorik dan akhiran saraf (korpuskulum


Meissner, korpuskulum pacini)

5. Vestibulum

11

Berbentuk lonjong dengan ukuran panjang dari depan

kebelakang dan

dibatasi didepan oleh klitoris, kanan dan kiri oleh kedua bibir kecil, dan

dibelakang oleh perineum.


1 - 1,5 cm dibawah klitoris ditemukan orifisium uretra eksternum (lubang

kemih) berbentuk membujur 4-5mm.


Tidak jauh dari lubang kemih dikiri dan dikanan bawahnya dapat dilihat dua
ostia skene. Saluran skene (duktus parauretral) analog dgn prostat laki-laki.
Dikiri dan kanan bawah dekat fossa navikulare terdapat kelenjar bartholin,

dengan ukuran diameter <1cm, saat koitus mengeluarkan getah


6. Bulbus vestibuli
Dibawah selaput mukosa vestibulum, tidak jauh dari ossis pubis terdapat
bulbus vestibuli yaitu suatu kumpulan vena.
Panjangnya 3-4 cm, lebar 1-2 cm dan tebalnya 0,5 1 cm.
Embriologik sesuai dengan korpus kavernosus penis.
7. Introitus Vagina
Ditutupi oleh selaput dara (hymen).
Himen mempunyai bentuk yang berbeda beda dari semilunar hingga

berlubang atau besekat.


Hiatus himenalis (lubang selaput dara berukuran dari seujung jari, sampai bisa

dilalui oleh 2 jari.


Umumnya robek saat koitus dan robekan pada arah jam 5 atau 7 dan mencapai

dasar selaput dara.


8. Perineum
Terletak antara vulva dan anus.
Panjangnya rata rata 4 cm.
Jaringan yang mendukung perineum terutama ialah diafragma pelvis dan

diafragma urogenitalis
Diafragma pelvis terdiri atas otot levator ani dan otot koksigis posterior serta

fasia yang menutupi kedua otot tersebut.


Diafragma urogenitalis terletak eksternal dari diafragma pelvis yaitu di daerah
segitiga antara tuber isiadika dan simfisis pubis, terdiri dari muskulus
tranversus perinei profunda, otot konstriktor uretra, dan ditutupi fasia internal

dan ekternal.
Perineum mendapat pasokan darah dari arteri pudenda interna (cabang arteri
iliaka interna) dan cabang cabangnya.

12

Persarafan oleh nervus pudendus (cabang nervus sacralis kedua, ketiga dan

keempat) dan cabangnya.


Otot levator ani kiri dan kanan bertemu ditengah di antara anus dan vagina
yang diperkuat oleh tendon sentral perineum. Di tempat ini bertemu otot - otot
bulbokavernosus, muskulus tranversus perinei superfisialis dan sfingter ani
eksternal. Struktur ini membentuk perineal body.

ALAT GENETALIA INTERNA WANITA

1. Vagina

Setelah melewati intoitus vagina terdapat vagina yang merupakan penghubung

antara introitus vagina dan uterus.


Arahnya sejajar dengan arah dari pinggir atas simpfisis ke promontorium.
Bentuk vagina sebelah dalam berlipat lipat disebut rugae.
Ditengah tengahnya ada bagian yang lebih keras disebut kolomna rugarum.
Lipatan ini memungkinkan vagina melebar saat persalinan.
Epitel vagina terdiri dari epitel gepeng tidak bertanduk, dibawahnya terdapat
jaringan ikat yang mengandung pembuluh darah .

13

Pada

tersebut,sehingga dinding vagina terlihat kebiruan disebut LIVIDE.


Disebelah depan, dinding vagina berhubungan dengan uretra dan kandung

kehamilan

terdapat

hipervaskularisasi

lapisan

jaringan

kemih yang dipisahkan oleh septum vesikovaginalis, disebelah belakang,


antar dinding vagina bagian bawah dan rectum terdapat jaringan ikat disebut
septum rektovaginalis. Seperempat bagian atas dinding vagina belakang
terpisah dari rektum oleh kantung rektouterina yang biasa disebut kavum

dauglasi.
Dinding kanan dan kiri vagina berhubungan dengan muskulus levator ani.
Dipuncak vagina dipisahkna oleh serviks, terbentuk forniks anterior, posterior

dan lateralis kiri dan kanan.


Vagina mendapat darah dari arteri uterine (a. hipogastrika) yang melalui
cabanganya ke serviks dan vagina memberikan darah ke 1/3 atas vagina,
arteri vesikalis inferior melalui cabangnya memberikkan darah ke 1/3 tengah
vagina, arteri hemoroidalis mediana (a. hipogastrika) dan arteri pudendus

interna (a. iliaka interna) memberikan darah ke 1/3 bawah vagina.


Dinding vagina tersusun atas 3 lapisan :
- Tunika mukosa/lamina propria, terdiri dari epitel berlapis gepeng tanpa
lapisan tanduk dan jaringan ikat fibroelastis yang menyususn lamina
-

propria
Tunika muskularis, terdiri dari otot polos yang tersusun secara tidak
beraturan (lapisan dalam tipis berjalan sirkular dan bagian dalam tebal

berjlan memanjang) diselingi serat elastin.


Tunika adventisia terdiri dari jaringan ikat fibroelastis

2. Uterus

Berbentuk seperti avokado, atau buah pir.


Ukuranya sebesar telur ayam dan mempunyai rongga. Didindingnya terdiri

dari otot otot polos.


Ukuran panjang uterus 7-7,5cm, Lebar 5,25cm, Tebal 2,5cm, tebal dinding

1,25 cm.
Dalam keadaan fisiologis letaknya di anteversiofleksi (serviks ke depan dan
membentuk sudut dengan vagina, sedangkan korpus uteri ke depan dan
membentuk sudut dengan serviks uteri).
14

Uterus terdiri atas :


- Fundus uteri: Bagian uterus proksimal, disitu kedua tuba falopii masuk
-

uterus.
Korpus uteri Bagian uterus yg terbesar. Pada kehamilan bagian ini
mempunyai fungsi utama sebagai tempat janin berkembang. Rongga

dalam korpus uteri disebut kavum uteri.


Serviks uteri terdiri atas pars vaginalis servisis uteri yang disebut porsio,
pars supravaginalis servisis uteri yaitu bagian serviks yang berada diatas

vagina.
Secara histologic dari dalam ke luar uterus terdiri dari endometrium di korpus
uteri dan endoserviks di serviks uteri, otot otot polos, dan lapisan serosa

yaitu peritoneum viserale.


Endometrium melapisi seluruh kavum uteri

dan mempunyai arti penting

dalam siklus haid. Saat haid sebagian besar endometrium dilepaskan dan

kemudian tumbuh lagi dalam masa proliferasi.


Ligamentum-ligamentum yang mengfiksasi uterus :
- Ligamentum cardinale sinistra & dextra (Mackenrodt) fungsinya
-

mencegah supaya uterus tidak turun


Ligamentum Sakro Uterinum sinistra & dextra fungsinya menahan uterus

supaya tidak banyak bergerak


Ligamentum Rotundum (teres uteri) sinistra & dextra fungsinya menahan

uterus dalam antefleksi


Ligamentum Latum sinistra & dextra merupakan ligamentum yang

menutupi tuba (paling lebar)


Ligamentum infundibulo pelvikum (suspensorium ovarii) sinistra & dextra

fungsinya menahan tuba falopii berjalan


Ismus adalah bagian uterus antara serviks dan korpus uteri, diliputi oleh
peritoneum viserale yang mudah digeser atau digerakan adri dasarnya di
daerah plika vesikouterina. Ditempat ini biasanya dilakukan seksio sesarea

transperitonealis profunda.
Uterus diberi darah oleh arteri uterine kiri dan kanan yang terdiri dari ramus
asendens dan desendens, pembuluh darah ini berasal dari arteri iliaka interna
(a. hipogastrika), selain itu diberi darah juga oleh arteri ovarika kiri dan

kanan.
Dinding uterus terdiri dari :
15

Endometrium : dibatasi oleh epitel selapis torak yang mengandung sel


sekretoris dan sel bersilia. Pada endometrium terdapat stroma dengan
sel stelata dan banyak serat retikulin. Lapisan endometrium : lapisan
fungsional yang tebal yang mengelupas dan dibentuk kembali pada
siklus haid, lapisan basal yang mempunyai kelenjar endometrium yang
mempunyai sel basal yang bekerja sebagai sumber epitelisasi berulang
endometrium setelah lapisan fungsional lepas. Stratum fungsional
dibedakan atas stratum kompaktum dan stratum spongiosum. Stratum
kompaktum tdd stroma dan glandula uterina, stratum spongiosum
mengandung banyak kelanjar uterina dan pembuluh darah a. spiralis.

Stratum basal sifatnya tidak berubah banyak saat menstruasi.


Myometrium : lapisan tebal otot polos, menebal saat kehamilan karena
hipertrofi dan hyperplasia sel otot polos, saat persalinan mengalami
kontraksi kuat yang dicetuskan oleh oksitosin dan prostaglandin.
Myometrium terbagi 4 yaitu stratum submukosum, startum vaskulare,

stratum supravaskulare, dan startum subserosum.


Tunika adventisia atau perimetrium atau tunika serosa (tdd kolagen
dan elastin). Lapisan merupakan jaringan ikat yang lebih tipis dari
peritoneum diliputi selapis sel sel mesotel, pada bagian bawah dari
permukaan depan uterus selubung peritoneum itu tidak terdapat. Di
kiri dan kanan uterus perimetrium melanjutkan diri menjadi
ligamentum latum, dalam lapisan ini terdapat pembuluh darah limfa
dan ujung serat saraf.

3. Tuba Falopii

Terdiri atas :
- Pars interstisialis yaitu bagian yang terdapat di dinding uterus,
- Pars ismika yaitu bagian medial tuba yang sempit,
- Pars ampullaris yaitu bagian yang berbentuk saluran agak lebar
-

tempat konsepsi terjadi,


Infundibulum yaitu bagian ujung tuba yang terbuka kea rah abdomen
dan mempunyai fimbria. Fimbria berfungsi untuk menangkap telur

dan menyalurkannya ke dalam tuba.


Dinding nya terdiri dari :
16

Tunika mukosa: epitel selapis torak dan terdiri atas sel paku dan sel

bersilia
Tunika muskularis: otot polos lapis sirkular di sebelah dalam dan lapis

memanjang si sebelah luar


Tunika serosa: epitel selapis gepeng

4. ovarium

Perempuan mempunyai 2 indung telur kanan dan kiri.


Mesovarium mengantung ovarium di bagian belakang ligamentum latum kiri

dan kanan.
Panjangnya kira kira 4 cm, lebar dan tebal kira kira 1,5 cm.
Struktur ovarium terdiri atas korteks yaitu bagian luar yang berisi stroma dan
folikel primordial dan medulla bagian dalam yang berisi stroma, pembuluh

darah, serabut saraf, dan otot polos.


Diperkirakan pada perempuan terdapat kira - kira 100.000 folikel primer.
Tiap bulan satu folikel akan keluar, kadang dua folikel yang dalam

perkembanganya akan menjadi folikel de graaf.


Folikel de graaf yang matang terdiri dari ovum, stratum granulosum, teka

interna, teka eksterna.


Pada perempuan tidak hamil uterus mempunyai berat 70 gram dan kapasitas

10 ml atau kurang.
Selama kehamilan, uterus akan berubah menjadi suatu organ yang mampu
menampung janin, plasenta, dan cairan amnion rata-rata pada akhir kehamilan
volume totalnya mencapai 5 liter bahkan dapat mencapai 20 liter atau lebih

dengan berat rata-rata 1100 gram.


Dilapisi epitel selapis kubis yang disebut epitel germinatum
Dibagi menjadi korteks dan medulla

Perubahan anatomis pada ginekologik kurang dari 20 minggu


1. Sistem reproduksi
a) Vagina dan vulva
Sampai minggu ke-8 terjadi hipervaskularisasi mengakibatkan vagina dan
vulva tampak lebih merah, agak kebiruan (livide) tanda ini disebut tanda
Chadwick. Warna portio pun tampak livide. Keasaman vulva dan vagina
17

berubah dari 4 menjadi 6,5. Karena hormon estrogen dan progesteron terus
meningkat dan terjadi hipervaskularisasi mengakibatkan pembuluh-pembuluh
darah alat genetalia membesar. Peningkatan sensivitas dapat meningkatkan
keinginan

dan

bangkitan

seksual,

khususnya

selama

trimester

kedua kehamilan.
b) Serviks uteri
Pada kehamilan juga mengalami perubahan karena hormone estrogen. Akibat
kadar estrogen meningkat dan dengan adanya hipervaskularisasi serta
meningkatnya suplai darah, maka konsistensi serviks menjadi lunak
(disebut tanda Goodell) dan akan mengeluarkan sekresi lebih banyak.
Selama minggu-minggu awal kehamilan, peningkatan aliran darah uterus dan
limfe mengakibatkan oedema (akibat hipervaskularisasi pembuluh darah) dan
kongesti panggul. Akibatnya uterus, serviks dan ithmus melunak secara
progresif dan serviks menjadi kebiruan (tanda Chadwick), tanda kemungkinan
hamil).
c) Uterus
Membesar pada bulanbulan pertama dibawah pengaruh estrogen dan
progesteron. Pembesaran disebabkan adanya (1) peningkatan vaskularisasi
dan dilatasi pembuluh darah (2) hyperplasia (produksi serabut otot dan
jaringan fibroelastis baru) dan hipertropi (pembesaran serabut otot dan
jaringan fibroelastis yang sudah ada) dan (3) perkembangan desidua. Selain
bertambah besar, uterus juga mengalami perubahan berat, bentuk, dan posisi.
Dinding dinding otot menjadi kuat dan elastis, fundus pada serviks
mudah fleksi disebut tanda Mc Donald. Pada kehamilan 8 minggu uterus
membesar sebesar telur bebek dan pada kehamilan 12 minggu kira-kira
sebesar telur angsa. Hipertropi ishmus pada triwulan pertama membuat
ithmus menjadi panjang dan lebih lunak yang disebut tanda Hegar.
Pada kehamilan 16 minggu cavum uteri diisi oleh ruang amnion yang terisi
janin dan ithmus menjadi bagian korpus uteri. Bentuk uterus menjadi bulat
dan berangsur-angsur berbentuk lonjong seperti telur, ukurannya kira- kira
sebesar kepala bayi atau tinju orang dewasa. Pada saat ini uterus mulai
memasuki rongga peritoneum. Pada kehamilan 16 minggu fundus uteri kira-

18

kira terletak diantara jarak pusat ke symphisis. Sedangkan pada 20 minggu:


fundus uteri kira-kira terletak dipinggir bawah pusat.
d) Ovarium
Pada permulaan kehamilan masih terdapat korpus luteum graviditatum,
korpus luteum graviditatis berdiameter kira kira

3 cm, kemudian dia

mengecil setelah plasenta terbentuk. Korpus luteum ini mengeluarkan


hormone estrogen dan progesterone. Pada usia kehamilan 16 minggu, plasenta
mulai terbentuk dan menggantikan fungsi korpus luteum graviditatum.
e) Payudara/mamae
Mamae akan membesar dan tegang akibat hormone somatomamotropin,
estrogen dan progesterone akan tetapi belum mengeluarkan ASI. Pengaruh
progesterone dan somatomamotropin terbentuk lemak disekitar alveolusalveolus, sehingga mammae menjadi lebih besar. Papilla mammae membesar
lebih tegang dan tambah lebih hitam, seperti seluruh areola mammae karena
hiperpigmentasi. Hipertropi kelenjar sebasea (lemak) yang muncul di
areola primer dan disebut tuberkel Montgomery. Perubahan payudara ini
adalah kemugkinan hamil. Pada kehamilan 12 minggu keatas dari puting susu
dapat keluar cairan berwarna putih agak jernih disebut Colustrom. Colustrom
ini berasal dari asinus (kelenjar) yang mulai bersekresi. Selama trimester
kedua, pertubuhan kelenjar mammae membuat ukuran payudara meningkat
secara progresif. Walaupun perkembangan kelenjar mammae secara
fungsional lengkap pada pertengahan masa hamil, tetapi laktasi terlambat
sampai kadar estrogen menurun, yakni setelah janin dan plasenta lahir.
2. System endokrin
Tes HCG positif dan kadar HCG meningkat cepat menjadi 2 kali lipat setiap 48 jam
sampai kehamilan 6

minggu.

Perubahan-perubahan

hormonal

selama kehamilan terutama akibat produksi estrogen dan progesterone plasenta dan
juga hormon-hormon yang dikeluarkan oleh janin.
3. Sistem kekebalan
Peningkatan PH sekresi vagina wanita hamil membuat wanita tersebut lebih rentan
terhadap infeksi vagina. Sistem pertahanan tubuh ibu selama kehamilan akan tetap
utuh, kadar immunoglobulin dalam kehamilan tidak berubah.
4. Sistem perkemihan

19

Pada bulan-bulan pertama kehamilan kandung kencing tertekan sehingga sering


timbul kencing. Keadaan ini hilang dengan tuanya kehamilan bila uterus gravidus
keluar dari rongga panggul. Pada kehamilan normal, fungsi ginjal cukup banyak
berubah. Ginjal pada saat kehamilan sedikit bertambah besar, panjangnya
bertambah 1-1,5 cm, volume renal meningkat 60 ml dari 10 ml pada wanita
yang tidak hamil. Pada trimester kedua, kandung kencing tertekan oleh uterus yang
mulai membesar mulai berkurang, karena uterus sudah mulai keluar dari uterus.
Kandung kemih tertarik keatas dan keluar dari panggul sejati kearah abdomen. Uretra
memanjang sampai 7,5 cm karena kandung kemih bergeser kearah atas. Kongesti
panggul pada masa hamil ditunjukkan oleh hiperemia kandung kemih dan uretra.
Peningkatan vaskularisasi ini membuat mukosa kandung kemih menjadi mudah luka
dan berdarah. Tonus kandung kemih dapat menurun. Hal ini memungkinkan histensi
kandung kemih sampai sekitar 1500 ml. Pada saat yang sama, pembesaran uterus
menekan kandung kemih, menimbulkan rasa ingin berkemih walaupun kandung
kemih hanya berisi sedikit urine.
5. Sistem pencernaan
Perubahan rasa tidak enak di ulu hati disebabkan karena perubahan posisi lambung
dan aliran asam lambung ke esophagus bagian bawah. Produksi asam lambung
menurun. Sering terjadi nausea dan muntah karena pengaruh HCG, tonus otot-otot
traktus digestivus juga berkurang. Saliva atau pengeluaran air liur berlebihan dari
biasa. Pada beberapa wanita ditemukan adanya (ngidam makanan) yang mungkin
berkaitan dengan persepsi individu wanita tersebut mengenai apa yang bisa
mengurangi rasa mual.
6. Sistem kardiovaskuler
Selama kehamilan dan masa nifas terjadi perubahan-perubahan luar biasa pada
jantung dan sirkulasi perubahan terpenting pada fungsi jantung terjadi pada delapan
minggu

pertama kehamilan.

Curah

jantung

meningkat

sedini

minggu

kelima kehamilan dan peningkatan awal ini merupakan fungsi dari penurunan
resistensi vascular sistemik serta peningkatan frekuensi denyut jantung. Antara
minggu ke 10 sampai 20, peningkatan nyata pada volume plasma terjadi sedemikian
sehingga

meningkatkan

preload.

Kinerja

ventrikel

selama

masa kehamilan dipengaruhi oleh penurunan resistensi vascular sistemik dan

20

perubahan aliran darah arteri pulsatil. Kapasitas vascular meningkat, sebagian


disebabkan oleh peningkatan komplians (meregang) vascular.
7. Sistem musculoskeletal
Pada trimester pertama tidak banyak perubahan pada musuloskeletal. Akibat
peningkatan kadar hormone estrogen dan progesterone, terjadi relaksasi dari
jaringan ikat, kartilago dan ligament juga meningkatkan jumlah cairan
synovial. Bersamaan dua keadaan tersebut meningkatkan fleksibilitas dan mobilitas
persendian. Keseimbangan kadar kalsium selama kehamilan biasanya normal apabila
asupan nutrisinya khususnya produk terpenuhi. Tulang dan gigi biasanya tidak
berubah pada kehamilan yang normal. Selama trimester kedua mobilitas persendian
akan berkurang terutama pada daerah siku dan pergelangan tangan dengan
meningkatnya retensi cairan pada jaringan konektif atau jaringan yang berhubungan
disekitarnya.
8. Sistem integument (kulit, rambut, kuku)
Pada bulan-bulan terakhir kehamilan, umumnya muncul garis-garis kemerahan yang
sedikit mencekung pada kulit abdomen dan kadangkala pada kulit payudara dan paha
pada sekitar separuh semua wanita hamil. Pada wanita multipara, selain striae
kemerahan dari kehamilan yang sekarang, sering terlihat garis-garis keperakan
mengkilat yang menunjukkan sikatriks striae kehamilan sebelumnya.
Pada banyak wanita, garis tengah kulit abdomen menjadi sangat terpigmentasi,
berwarna hitam kecoklatan membentuk linea nigra. Kadangkala bercak-bercak
kecoklatan irregular dengan berbagai ukuran terlihat di wajah dan leher
sehingga membentuk kloasma atau melasma gravidarum (topeng kehamilan).
Angioma, yang juga disebut spider naevi, timbul pada sekitar dua per tiga wanita
kulit putih dan kira-kira 10 % wanita Amerika keturunan Afrika selama kehamilan.
Angioma ini berupa bintik-bintik penonjolan kecil dan merah pada kulit,
terutama sering terdapat pada wajah, leher, dada atas dan lengan, dengan jarijari yang bercabang keluar dari badan sentralnya. Kondisi ini sering disebut
sebagai nevus, angioma atau telangiektasis. Eritema palmaris juga ditemukan
pada kehamilan pada sekitar dua per tiga wanita kulit putih dan sepertiga
wanita kulit hitam. Kedua kondisi ini sering terjadi bersamaan tetapi tanpa makna
klinis,

dan

menghilang

pada

sebagian

besar

wanita

segera

setelah

21

terminasi kehamilan.

Keduanya

kemungkinan

besar

merupakan

akibat

hiperestrogenemia kehamilan.
9. Sistem metabolisme
Pada wanita hamil basal metabolic rate (BMR) meninggi. BMR meningkat sehingga
15-20% yang umumnya terjadi pada triwulan terakhir. Kalori yang dibutuhkan untuk
itu

diperoleh

terutama

dari

pembakaran

hidrat

arang,

khususnya

sesudah kehamilan 20 minggu ke atas. Akan tetapi bila dibutuhkan dipakailah lemak
ibu untuk mendapatkan kalori dalam pekerjaan sehari-hari. Dalam keadaan biasa
wanita cukup hemat dalam pemakaian tenaga.
10. Sistem Pernapasan
Adaptasi ventilasi dan structural selama masa hamil bertujuan menyediakan
kebutuhan ibu dan janin. Kebutuhan oksigen ibu meningkat sebagai respon terhadap
percepatan laju metabolic dan peningkatan kebutuhan oksigen jaringan uterus dan
payudara. Janin membutuhkan oksigen dan suatu cara untuk membuang
karbondioksida. Peningkatan kadar estrogen menyebabkan ligamentum pada
kerangka iga berelaksasi sehingga ekspansi rongga dada meningkat.
11. Sistem persyarafan
Wanita hamil sering melaporkan adanya masalah pemusatan perhatian konsentrasi
dan memori selama kehamilan dan masa nifas awal. Namun, penelitian yang
sistematis tentang memori pada kehamilan tidak terbatas dan seringkali bersifat
anekdot. Keenan dkk. (1998) secara longitudinal meneliti tentang memori pada
wanita hamil dengan kelompok control yang setara. Mereka menemukan adanya
penurunan memori terkait kehamilan yang terbatas pada trimester ketiga.
Penurunan ini disebabkan oleh depresi, kecemasan, kurang tidur atau perubahan fisik
lain yang dikaitkan dengan kehamilan. Penurunan memori yang diketahui hanyalah
sementara dan cepat pulih setelah kelahiran.
Mulai sedini sejak usia gestasi 12 minggu, dan terus berlanjut hingga 2 bulan pertama
pascapartum, wanita mengalami kesulitan untul mulai tidur, sering terbangun, jam
tidur malam yang lebih sedikit serta efisiensi tidur yang berkurang. Ganguan tidur
terbesar terjadi pascapartum dan dapat menimbulkan kemurungan pascapartum

22

(postpartum blues) dan/atau depresi. Dalam tidur posisi terlentang saturasi O2 lebih
rendah.
12. Kenaikan berat badan
Pertambahan berat badan selama kehamilan sebagian besar diakibatkan oleh uterus
dan isinya payudara, dan peningkatan volume darah serta cairan ekstraseluler
ekstravaskular. Sebagian kecil pertambahan berat badan terebut diakibatkan
oleh perubahan metabolic yang menyebabkan pertambahan air selular dan
penumpukan lemak dan protein baru, yang disebut cadangan ibu. Kenaikan berat
badan trimester I lebih kurang 1 2 kg. Kenaikan berat badan ini hampir seluruhnya
merupakan kenaikan berat badan ibu. Berat badan dilihat dari Quatelet atau body mass
index (Indek Masa Tubuh = IMT). Ibu hamil dengan berat badan dibawah normal
sering dihubungkan dengan abnormalitas kehamilan, berat badan lahir rendah.
Sedangkan berat badan overweight meningkatkan resiko atau komplikasi
dalam kehamilan seperti

hipertensi,

janin

besar

sehingga

terjadi

kesulitan

dalam persalinan.
Perubahan uterus

Pembesaran uterus meliputi peregangan dan penebalan sel sel otot, sementara produksi
miosit baru sangat terbatas, bersamaan dengan itu terjadi akumulasi jaringan ikat dan

23

elastic terutama pada lapisan otot luar, kerjasama ini meningkatkan kekuatan dinding

uterus
Daerah korpus pada bulan bulan awal akan menebal, tapi pada akhir kehamilan

ketebalan hanya sekitar 1,5 cm


Pada awal kehamilan penebalan oleh karena stimulasi estrogen dan progesterone
Setelah kehamilan 12 minggu lebih penambahan ukuran oleh karena hasil konsepsi dan

daerah fundus dan korpus akan membulat dan akan menjadi bentuk sferis
Istmus uteri pada minggu pertama mengadakan hipertrofi seperti korpus uteri yang

mengakibatkan istmus menjadi lebih panjang dan lunak yang dikenal dengan tanda hegar
Pada saat pertumbuhan uterus akan berotasi ke arah kanan, deskrorotasi ini disebabkan

oleh adanya rektosigmoid di daerah kiri pelvis


Pada akhir kehamilan otot otot uterus bagian atas akan berkontraksi sehingga segmen
bawah uterus akan melebar dan menipis

Oogenesis

Selama bagian terakhir kehidupan janin, oogonia memulai meiotic pertama, tapi

tidak tuntas
Oosit primer hasil meiotic pertama mengandung 46 kromosom
Oosit primer tetap dalam keaadan meiotic arrest sampai sel ini dipersiapkan untuk
ovulasi
24

Sebelum lahir oosit primer dikelilingi oleh sel granulosa


Sel granulosa dan oosit akan membentuk folikel primer
Oosit yang tidak terbentuk folikel akan mengalami apoptosis
Saat gestasi jumlahnya 6 7 juta folikel
Saat lahir hanya 2 juta folikel primer
Folikel ditakdirkan untuk mengalami salah satu nasib yaitu atresia atau matang
Dari 2 juta folikel hanya sisa 400 folikel yang matang
Dari pubertas sampai menopause folikel berkembang menjadi folikel sekunder
Sebelum ovulasi, oosit primer yang nukleusnya mengalami meiotic arrest

menyelesaikan pembelahan meiotic pertamanya.


Proses meiotic pertama menghasilkan 2 sel anak yang setiap sel mengandung 23

kromosom ganda
Tapi hampir semua sitoplasma hanya ada di salah satu sel anak saja, yang

sekarang dinamai oosit sekunder dan ditakdirkan untuk menjadi ovum


Kromosom sel anak yang sitoplasmanya sedikit membentuk badan polar pertama

yang akan mengalami degenera


si
Masuknya sperma ke oosit sekunder memicu pembelahan meiotic kedua
Oosit sekunder yang tidak dibuahi tidak akan menyelesaikan pembelahannya
Selama meiotic kedua separuh set kromosom bersama dengan sedikit sitoplasma

dikeluarkan sebagai badan polar kedua


Separuh set lainnya (23 kromosom) tetap tinggal dan dinamai ovum matang
23 kromosom ibu dan 23 kromosom ayah akan menuntaskan pembuahan

Pembentukan folikel, ovulasi, serta pembentukan dan degenerasi korpus luteum

25

Setelah pubertas, ovarium mengalami 2 fase yaitu fase folikular dan fase luteal
Setiap saat selama siklus, saat lingkungan hormone tepat, sebagian folikel primer

mulai berkembang
Folikel lain yang tidak mendapat hormone akan mengalami atresia
Selama pembentukan folikel, seiring dengan pembentukan dan penyimpanan oleh

oosit primer terjadi perubahan pada sel yang mengelilingi oosit


Pertama lapisan sel granulosa pada sel folikel berpoliferasi untuk membentuk

beberapa lapisan yang mengelilingi oosit


Sel granulosa mengeluarkan kulit kental yang membungkus oosit dan
memisahkannya dari sel granulosa sekitar. Membrane penyekat ini disebut zona

pelusida.
Pada saat yang sama ketika oosit sedang membesar dan sel granulosa sedang
poliferasi, sel jaringan ikat ovarium khusus yang berkontak dengan sel granulosa,

berpoliferasi dan berdeferensiasi membentuk suatu lapisan luar sel teka.


Sel teka dan sel granulosa dinamai sel folikel yang berfungsi untuk menghasilkan
estrogen

26

Lingkungan hormone pada fase folikular mendorong terjadinya pembesaran dan


pengembangan kemampuan sekresi sel folikel, mengubah folikel primer menjadi

folikel sekunder/folikel antrum yang mampu mengeluarkan estrogen


Selama tahap perkembangan folikel, terbentuk suatu rongga yang berisi cairan,

antrum, di bagian tengah sel granulosa


Estrogen disekresi ke dalam darah untuk disebar ke seluruh tubuh dan terkumpul

di cairan antrum
Oosit mencapai ukuran penuh saat antrum mulai terbentuk
Perubahan ke folikel antrum ini memicu pertumbuhan folikel yang cepat
Seiring dengan pertumbuhan folikel, produksi estrogen juga meningkat
Salah satu folikel tumbuh lebih cepat dan berkembang menjadi folikel matang
(preovulasi, tersier atau graaf) dalam waktu 14 hari setelah dimulainya

pembentukan folikel
Folikel matang yang telah sangat besar menonjol dari permukaan ovarium
sehingga muncul daerah tipis pada folikel kemudian pecah dan membebaskan

oosit saat ovulasi


Oosit sekunder/ovum yang masih dikelilingi zona pelusida dan sel granulosa yang
kini disebut korona radiate tersapu ke luar folikel ke dalam rongga abdomen oleh

cairan antrum yang bocor


Ovum yang dibebaskan ini cepat tertarik ke dalam tuba uterine tempat fertilisasi
Folikel yang gagal berkembang dan berovulasi akan mengalami degenerasi
Folikel yang pecah yang tertinggal dalam ovarium segera mengalami perubahan
Sel folikel lama mengalami perubahan membentuk korpus luteum. Suatu proses
yang dinamai luteinisasi yang menghasilkan hormone steroid (mengeluarkan

bnyak progesterone dan sedikit estrogen ke darah)


Sekeresi estrogen pada fase luteal berfungsi untuk mempersiapkan uterus untuk

implantasi ovum yang dibuahi


Jika ovum tidak dibuahi maka korpus luteum akan berdegenerasi dalam waktu 14

hari setelah peebentukannya


Sel luteal berdegenerasi dan difagositosis, vaskularisasi kurang, jaringan ikat
segera masuk untuk membentuk masa jaringan fibrosa yang dikenal sebagai

korpus albikans
Ketika degenerasi korpus luteum selesei, menandakan dimulainya fase folikular
baru.

27

Jika terjadi pembuahan dan implantasi, korpus luteum tumbuh serta meningkatkan

produksi progesterone dan estrogen


Struktur ovarium ini menetap sampai kehamilan berakhir
Struktur ini meghasilkan hormone hormone untuk mempertahankan kehamilan
sampai plasenta terbentuk dan mengambil alih fungsinya

Siklus ovarium dan uterus

Fase folikular folikel ovarium mengeluarkan estrogen dibawah pengaruh FSH, LH dan
estrogen

28

Peningkatan estrogen menghambat sekresi FSH dan LH dan menyebabkan endometrium

menebal (proliferasi uterus)


Perbedaan kepekaan sel penghasil FSH dan LH menyebabkan penurunan kadar FSH dan
LH berbeda. Selain oleh estrogen, FSH juga ditekan oleh inhibin yang dihasilkan oleh sel

folikel
Penurunan FSH menyebabkan atresia semua folikel yang sedang berkembang dan

menyisakan satu folikel yang paling matang


Saat estrogen mencapai puncaknya, kadar tinggi ini memicu lonjatan sekresi LH di

pertengahan siklus, lonjatan LH menyebabkan ovulasi folikel matang


Sekresi estrogen merosot saat folikel mengalami kematian saat ovulasi
Sel folikel lama membentuk korpus luteum yang mengasilkan progesterone dan estrogen

selama fase luteal paruh terakhir siklus ovarium


Progesteron menghambat FSH dan LH yang terus menurun sepanjang fase luteal dan juga
progesterone meminimalkan perubahan vaskularisasi dan sekretorik pada endometrium
yang telah dipersiapkan oleh estrogen untuk menghasilkan lingkungan yang sesuai untuk

implantasi ( fase sekretorik/ progestasional uterus)


Korpus luteum berdegenerasi bila dalam waktu 14 hari tidak dibuahi
Kadar progesterone dan estrogen menurun tajam ketika korpus luteum berdegenerasi

sehingga pengaruh inhibitor FSH dan LH lenyap


FSH dan LH mulai meningkat dan perkembangan kembali dimulai seiiring masuknya

fase folikular
Karena terhentinya pengaruh estrogen dan progestreon lapisan endometrium yang banyak
mengandung pembuluh darah dan kaya nutrisi terlepas (fase haid)

Fertilisasi

29

Pertemuan gamet pria dan wanita, terjadi di ampula tuba uterine


Ketika dibebaskan saat ovulasi, ovum diambil oleh tuba uterine
Didalam tuba uterine ovum didorong oleh kontraksi peristaltic dan gerakan silia ampula
(fimbria)

30

Fertilisasi

Sperma berjalan melewati kanalis servikalis lalu ke uterus dan kemudian sampai ke sel

telur di 1/3 atas tuba uterine


Untuk membuahi ovum, sperma harus menembus korona radiate dan zona pelusida
Enzim akrosom yang terpajan ketika membrane akrosom pecah setelah berkontak dengan

harus

terjadi

dalam

waktu

24

jam

setelah

ovulasi

korona radiate memungkinkan sperma membuat saluran menembus sawar protektif ini
dan menembus zona pelusida dengan berikatan dengan resptor spesifik di permukaan

zona pelusida
Fertilin sperma berikatan dengan integrin sel telur
Sperma yang sampai pertama kali akan menyebabkan perubahan kimia di membrane
yang mengelilingi ovumsehingga tidak bias lagi ditembus sperma lain

31

Setelah 3 4 jam setelah pembuahan zigot tetap berada di ampula karena penyempitan

dan mengalami pembelahan sel mitotic untuk membentuk morula


Sekitar 3 4 hari setelah ovulasi, progesterone diproduksi dalam jumlah memadai untuk

melemaskan kontraksi tuba uterine sehingga morula bisa terdorong ke dalam uterus
Setelah turun ke uterus, morula mengapung bebas selama 3 4 hari
Setelah 6-7 hari pasca ovulasi lapisan dalam uterus menyiapkan tempat implantasi
dibawah pengaruh progesterone fase luteal. Selama fase ini uterus dalam fase sekretorik/

progestasional, menyimpan glikogen dan mengalami peningkatan vaskularisasi


Saat endometrium siap menerima implantasi morula turun ke uterus dan terus
berpoliferasi dan berdeferensiasi menjadi blastokista yang dapat melakukan implantasi.
Blastokista adalah bola berongga berisi cairan dengan suatu masa padat sel sel
berkelompok di satu sisi, masa padat ini dikenal dengan massa sel dalam akan
berkembang menjadi mudigah sedangkan blastokista sisanya yaitu lapisan tipis bagian

luar, trofoblas melaksanakan implantasi dan berkembang menjadi plasenta


Sejak trofoblas terbentuk, produksi human chorionic gonadotropin (hCG) dimulai

32

Setelah blastokisata siap implantasi permukaanya menjadi


lengket dan endometrium siap menerima mudigah. Implantasi
dimulai ketika sel tropoblastik mengeluarkan enzim pencerna
protein untuk membuat jalan /lubang di endometrium untuk
blastokista. Dinding trofoblas yang masuk endometrium akan
luruh, membentuk sinsitium multinukleus yang akhirnya

menjadi plasenta
Sebagai respon pembawa pesan kimia yg dibebaskan oleh
blastokista, sel endometrium mengeluarkan prostaglandin yang
secara local meningkatkan vaskularisasi, menimbulkan edema,
dan meningkatkan simpanan makanan. Perubahan ini di tempat

implantasi disebut desidua.


Kedalam desidua inilah blastokista terbenam, sel trofoblas terus
mencerna sel desidua dan menghasilkan energy sampai plasenta
terbentuk

Plasenta

Sel sinsitiotrofoblas adalah sel berukuran besar dan multinuklear yang berkembang dari
lapisan sitotrofoblas. Sel ini aktif mengeluarkan hormon plasenta dan mentrasfer zat
makanan dari ibu ke janin.
Sekelompok sel sitotrofoblas memiliki sifat invasif , melewati stroma endometrium untuk
mencapai pembuluh darah ibu, termasuk arteri spiralis endometrium.

33

53

34

35

Sirkulasi darah janin

Sirkulasi darah janin dalam rahim tidak sama dengan sirkulasi darah pada bayi dan anak.
Dalam rahim, paru-paru tidak berfungsi sebagai alat pernafasan, pertukaran gas dilakukan
oleh plasenta. Pembentukan pembuluh darah dan sel darah dimulai minggu ke tiga dan
bertujuan menyuplai embrio dengan oksigen dan nutrien dari ibu.

Darah mengalir dari plasenta ke janin melalui vena umbilikalis yang terdapat dalam tali
pusat. Jumlah darah yang mengalir melalui tali pusat sekitar 125 ml/kg/Bb per menit atau
sekitar 500 ml per menit.

36

Melalui vena umbilikalis

dan duktus venosus, darah mengalir

ke

dalam vena cava

inferior, bercampur darah yang kembali dari bagian bawah tubuh, masuk atrium kanan di
mana aliran darah dari vena cafa inferior lewat melalui foramen ovale ke atrium kiri,
kemudian ke ventrikel kiri melalui arkus aorta, darah dialirkan ke seluruh tubuh.

Darah yang mengandung karbondioksida dari tubuh bagian atas, memasuki ventrikel
kanan

melalui vena cava

superior.

Kemudian

melalui arteri pulmonalis

besar

meninggalkan ventrikel kanan menuju aorta melewati duktus arteriosus. Darah ini
kembali ke plasenta melaui aorta, arteri iliaka interna dan arteri umbilikalis untuk
mengadakan pertukaran gas selanjutnya.

Foramen ovale dan duktus arteriosus berfungsi sebagai saluran/jalan pintas yang
memungkinkan sebagian besar dari cardiac output yang sudah terkombinasi kembali
ke plasenta tanpa melaluiparu-paru.

Perkembangan janin

37

38