Anda di halaman 1dari 6

PENATALAKSANAAN

Terapi Non Farmakologi :


a. Minum air putih dalam jumlah yang banyak agar urine yang keluar juga meningkat
(merangsang diuresis).
b. Buang air kecil sesuai kebutuhan untuk membilas mikroorganisme yang mungkin naik
ke uretra.
c. Menjaga dengan baik kebersihan sekitar organ intim dan saluran kencing agar bakteri
tidak mudah berkembang biak.
d. Diet rendah garam untuk membantu menurunkan tekanan darah.
e. Mengkonsumsi jus anggur atau cranberry untuk mencegah infeksi saluran kemih
berulang.
f. Mengkonsumsi makanan yang kaya akan zat besi, misalnya buah-buahan, daging
tanpa lemak dan kacang-kacangan.
g. Tidak menahan bila ingin berkemih.
Terapi Farmakologi
Prinsip umum penatalaksanaan ISK adalah :
a. Eradikasi bakteri penyebab dengan menggunakan antibiotik yang sesuai
b. Mengkoreksi kelainan anatomis yang merupakan faktor predisposisi
Tujuan penatalaksanaan ISK adalah mencegah dan menghilangkan gejala, mencegah
dan mengobati bakteriemia dan bakteriuria, mencegah dan mengurangi risiko kerusakan
ginjal yang mungkin timbul dengan pemberian obat-obatan yang sensitif, murah, aman
dengan efek samping yang minimal. Oleh karenan itu pola pengobatan ISK harus sesuai
dengan bentuk ISK, keadaan anatomi saluran kemih,

serta

faktor-faktor penyerta

lainnya. Bermacam cara pengobatan yang dilakukan

untuk berbagai bentuk yang

berbeda dari ISK, antara lain :


a. Pengobatan dosis tunggal
b. Pengobatan jangka pendek (10-14 hari)
c. Pengobatan jangka panjang (4-6 minggu)
d. Pengobatan profilaksis dosis rendah
e. Pengobatan supresif.
(Sukandar: 2006 )
A. Infeksi saluran kemih (ISK) bawah
Prinsip penatalaksanaan ISK bawah meliputi intake cairan yang banyak,
antibiotik yang adekuat, dan bila perlu terapi simtomatik untuk alkalinisasi urin :
a. Hampir 80% pasien akan memberikan respon setelah 48 jam dengan
antibiotika tunggal, seperti ampisilin 3 gram, trimetroprim 200 mg.

b. Bila infeksi menetap disertai kelainan urinalisis (leukosuria) diperlukan terapi


konvensional selama 5-10 hari. Pemeriksaan mikroskopis urin dan biakan urin
tidak diperlukan bila semua gejala hilang dan tanpa leukosuria.
(Sukandar: 2006 )
Bila pada pasien reinfeksi berulang (frequent re-infection) :
a. Disertai faktor predisposisi, terapi antimikroba yang intensif diikuti dengan
koreksi faktor resiko.
b. Tanpa faktor predisposisi, terapi yang dapat dilakukan adalah asupan cairan
yang banyak, cuci setelah melakukan senggama diikuti terapi antimikroba
dosis tunggal (misal trimentoprim 200 mg) Terapi antimikroba jangka lama
sampai 6 bulan
c. memerlukan antibiotika yang adekuat. Infeksi klamidia memberikan hasil
yang baik dengan tetrasiklin. Infeksi yang disebabkan mikroorganisme
anaerobik diperlukan antimikroba yang serasi (misal golongan kuinolon).
(Sukandar: 2006 )
Tabel : Antimikroba pada ISK bawah takberkomplikasi

B. Infeksi saluran kemih (ISK) atas


Pada umumnya pasien dengan pielonefritis akut memerlukan rawat inap
untuk memelihara status hidrasi dan terapi antibiotika parenteral paling sedikit 48
jam.
Tabel 5. Indikasi rawat inap pasien pielonefritis akut.

The Infection Disease Society of America menganjurkan satu dari tiga


alternatif terapi antibiotika intravena sebagai terapi awal selama 48-72 jam
sebelum diketahui mikroorganisme penyebabnya :
a. Flurokuinolon
b. Aminoglikosida dengan atau tanpa ampisilin
c. Sefalosporin berspektrum luas dengan atau tanpa aminoglikosida
(Sukandar: 2006 )
Tabel : Obat parental pada ISK atas akut berkomplikasi

C. Infeksi saluran kemih berulang


Untuk penanganan ISK berulang dapat dilihat pada gambar berikut

Gambar : Manajemen ISK berulang


Terapi

jangka

panjang

yang

dapat

diberikan

antara

lain

trimetroprim-

sulfametoksazol dosis rendah (40-200 mg) tiga kali seminggu setiap malam,
Flurokuinolon dosis rendah, nitrofurantoin makrokristal 100 mg tiap malam. Lama
pengobatan 6 bulan dan bila perlu dapat diperpanjang 1-2 tahun lagi (Sukandar: 2006 )

Penatalaksanaan ISK pada Bayi dan Anak Usia 2-24 Bulan


American Academy of Pediatrics (AAP) mempublikasikan panduan mengenai diagnosis
dan penatalaksanaan infeksi saluran kemih (ISK) pada bayi dan anak usia 2-24 bulan
dengan demam.
Beberapa hal yang penting adalah: Diagnosis infeksi saluran kemih ditegakkan dari
spesimen urin dengan piuria dan 50.000 koloni organisme uropatogen/mL atau lebih. Untuk
memfasilitasi diagnosis dan terapi ISK rekuren, sebaiknya dilakukan pemantauan setelah 714 hari terapi anti-mikroba.
Untuk mendiagnosis abnormalitas anatomi, dilakukan pemeriksaan USG pada ginjal dan
kandung kemih. Karena evidence dari 6 studi terbaru tidak mendukung penggunaan profi
laksis anti-mikroba untuk mencegah ISK rekuren dengan demam

pada bayi tanpa

vesicoureteral reflux (VUR) atau VUR grade 1-4, voiding cystourethrography (VCUG)
tidak direkomendasikan secara rutin setelah ISK yang pertama.
VCUG direkomendasikan bila USG ginjal dan kandung kemih menunjukkan adanya
hidronefrosis, jaringan parut, atau VUR high grade, atau obstruksi uropati atau keadaan
klinik yang atipikal atau kompleks. Bayi dan anak dengan ISK rekuren dan demam sebaiknya
dilakukan VCUG. ISK yang akut diberi terapi anti-mikroba untuk mengeliminasi infeksi,
mencegah komplikasi, dan mengurangi kemungkinan kerusakan ginjal. Anti-mikroba
diberikan selama 7-14 hari.

DAFTAR PUSTAKA
Sukandar E. 2006. Infeksi Saluran Kemih Pasien Dewasa. Dalam : Buku Ajar Ilmu Penyakit
Dalam Jilid I. Edisi IV. Jakarta : Pusat Penerbit IPD FK UI
AAP

issues

guideline

for

UTI

management

http://www.medscape.com/viewarticle/748775

in

children.

Available

from:

Urinary tract infection: clinical practice guideline for the diagnosis and management of the
initial UTI in febrile infants and children 2 to 24 months. Pediatrics 2011; 128(3):
595-610.