Anda di halaman 1dari 22

Gejala, Penyebab, dan Penatalaksanaan Demam Tifoid

Nevy Olianovi (102013101)


Mahasiswi Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana
Jl. Arjuna Utara No. 6 Jakarta Barat 11510
Telephone: (021) 5694-2061, fax: (021) 563-1731
nevy.olianovi@yahoo.com

Abstrak
Demam tifoid merupakan suatu penyakit infeksi sistemik yang disebabkan oleh
Salmonella typhi yang masih dijumpai secara luas di berbagai negara berkembang yang
terutama terletak di daerah tropis dan subtropis. Penyakit ini juga merupakan masalah
kesehatan masyarakat yang penting karena penyebarannya berkaitan erat dengan urbanisasi,
kepadatan penduduk, kesehatan lingkungan, sumber air, dan sanitasi yang buruk serta standar
higiene industri pengolahan makanan yang masih rendah. Beberapa faktor penyebab demam
tifoid masih terus menjadi masalah kesehatan penting di negara berkembang meliputi pula
keterlambatan penegakan diagnosis. Penegakan diagnosis demam tifoid saat ini dilakukan
secara klinis dan melalui pemeriksaan laboratorium. Diagnosis demam tifoid secara klinis
seringkali tidak tepat karena tidak ditemukannya gejala klinis spesifik atau didapatkan gejala
yang sama pada beberapa penyakit lain, terutama pada minggu pertama sakit. Hal ini
menunjukkan perlunya pemeriksaan penunjang laboratorium untuk konfirmasi penegakan
diagnosis demam tifoid.
Kata kunci: demam tifoid, pemeriksaan, gejala, diagnosis
Abstract
Typhoid fever is a systemic infectious disease caused by Salmonella typhi are still
widely found in abundance in many developing countries are mainly located in the tropics
and subtropics. This disease is also an important public healt problem because of its spread
is closely related to urbanization, population density, environmental health, water resources,
and poor sanitation and hygiene standards of food processing industry is still low. Some of
factors that cause typhoid fever continues to be an important health problem in developing
countries including also delay diagnosis. Diagnosis of typhoid fever is currently done
clinically and by laboratory. Clinical diagnosis of typhoid fever is often not appropriate as
there was no specific clinical symptoms or obtained the same symptoms in several other
diseases, especially in the first week of illness. This case demonstrates the need for
laboratory investigations to confirm the diagnosis of typhoid fever.
Keywords: typhoid fever, examination, symptoms, diagnosis

PBL Blok 12 Universitas Kristen Krida Wacana

Pendahuluan
Demam merupakan suatu gejala dari beberapa penyakit. Namun tidak semua penyakit
menimbulkan demam. Demam biasanya disertai menggigil pada beberapa penyakit dan
kondisi tertentu. Dengan gejala demam saja, kita tidak bisa menentukan secara langsung
seseorang menderita penyakit tertentu, namun harus ada gejala penunjang lain atau dapat
dilakukan dengan pemeriksaan fisik dan penunjang.
Tujuan dari pembuatan makalah ini adalah untuk mengetahui apakah seseorang dengan
gejala demam yang terus menerus dan lebih tinggi menjelang sore hari, disertai pusing, nyeri
perut, mual, dan muntah, menderita penyakit demam tifoid ataukah ada penyakit lain yang
menyebabkan gejala seperti di atas serta penyebab penyakit, dan cara penangannya.
Anamnesis
Dokter sebagai petugas medis, dalam mengobati pasiennya wajib mengetahui apa yang
dikeluhkan oleh pasien hingga pasien datang kepada dokter. Untuk mengetahui apa yang
dikeluhkan pasien serta data-data pendukung yang diperlukan dari pasien, maka dokter
melakukan anamnesis. Anamnesis lebih baik dilakukan dalam suasana nyaman dan santai.
Anamnesis dapat dilakukan secara auto-anamnesis atau allo-anamnesis. Pada auto-anamnesis,
dokter dapat langsung bertanya kepada pasien. Sedangkan allo-anamnesis, dokter bertanya
pada keluarga terdekat ataupun orang terdekat yang mengetahui kondisi pasien.1,2
Anamnesis sendiri terdiri dari beberapa pertanyaan yang dapat mengarahkan kita untuk
dapat mendiagnosa penyakit apa yang diderita oleh pasien. Pertanyaan tersebut meliputi
identitas pasien, keluhan utama, riwayat penyakit sekarang, riwayat penyakit dahulu, riwayat
kesehatan keluarga, dan riwayat pribadi (meliputi keadaan sosial ekonomi, budaya,
kebiasaan, obat-obatan, lingkungan).1,2
Pada kasus skenario 3, hasil anamnesa adalah sebagai berikut:
Keluhan utama:
- Keluhan demam sejak 1 minggu yang lalu.
- Demam dirasakan sepanjang hari dan lebih tinggi menjelang sore hari.
Keluhan tambahan:
- Demam disertai pusing, nyeri perut, mual, dan muntah.
- Belum BAB sejak 4 hari yang lalu.
Selanjutnya, dokter mulai mengarahkan pertanyaan-pertanyaan. Beberapa pertanyaan
yang dapat dijadikan sebagai acuan untuk pasien tersebut, ialah:
1. Sejak kapan muncul demam?
PBL Blok 12 Universitas Kristen Krida Wacana

2. Bagaimana intensitas demamnya?


3. Demamnya saat kapan saja? Sepanjang hari dan lebih tinggi menjelang sore hari?
4. Adakah perdarahan seperti mimisan?
5. Adakah keluhan lain yang dirasakan?
6. Apakah sebelumnya ada kegiatan berpergian ke suatu tempat?
7. Apakah sebelumnya ada makan sembarangan?
8. Bagaimana sanitasi lingkungan di sekitar tempat tinggal? Apakah bersih atau tidak?
9. Riwayat penyakit dahulu?
10. Riwayat penyakit keluarga?
11. Riwayat pribadi?
Pemeriksaan Fisik
Pada pemeriksaan fisik yang dilakukan pada kasus skenario 3, didapati bahwa
kesadaran pasien adalah compos mentis, yaitu kesadaran normal, sadar sepenuhnya, dan
dapat menjawab semua pertanyaan tentang keadaan sekelilingnya.3
Kemudian selain tingkat kesadaran, pemeriksaan fisik menunjukkan suhu tubuh 37,80C,
nadi 90x per menit, tingkat respirasi (respiratory rate) 18x per menit, tekanan darah 120/80
mmHg, dan pada pemeriksaan abdomen ditemukan nyeri tekan di ulu hati dan ditemukan
adanya lidah tifoid.
Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan penunjang yang dilakukan pada skenario 3 adalah pemeriksaan
laboratorium dengan hasil Hb = 14 g/dl, Ht = 42%, leukosit = 4000/l, dan trombosit =
200.000/l. Pemeriksaan lainnya adalah Widal dengan titer S. typhi O = 1/320, S. typhi H =
1/320, dan S. paratyphi AO = 1/80.
Pemeriksaan penunjang di atas menunjukan pemeriksaan yang dilakukan untuk
diagnosis demam tifoid. Pemeriksaan laboratorium untuk membantu menegakkan diagnosis
demam tifoid dibagi dalam empat kelompok, yaitu:
1.

Pemeriksaan darah perifer


Pada pemeriksaan darah perifer biasa ditemukan leukopenia, walaupun dapat pula
terjadi kadar leukosit normal atau leukosistosis. Leukositosis dapat terjadi walaupun
tanpa disertai infeksi sekunder. Selain itu pula dapat ditemukan anemia ringan dan
trombositopenia. Pada pemeriksaan hitung jenis leukosit dapat terjadi aneosinofilia
walaupun limfopenia. Laju endap darah pada demam tifoid dapat meningkat.3,4,5

PBL Blok 12 Universitas Kristen Krida Wacana

2. Pemeriksaan bakteriologis dengan isolasi dan biakan kuman


Diagnosis demam tifoid dapat ditegakkan bila ditemukan bakteri S.typhi dalam
biakan dari darah, urine, feses, sumsum tulang, cairan duodenum atau dari rose spots.
Berkaitan dengan patogenesis penyakit, maka bakteri akan lebih mudah ditemukan
dalam darah dan sumsum tulang pada awal penyakit, sedangkan pada stadium
berikutnya di dalam urine dan feses.3,4,5
Hasil biakan yang positif memastikan demam tifoid akan tetapi hasil negatif tidak
menyingkirkan demam tifoid, karena hasilnya tergantung pada beberapa faktor,
yaitu:3,4,5

jumlah darah yang diambil

perbandingan volume darah dari media empedu

waktu pengambilan darah


Volume 10-15 mL dianjurkan untuk dewasa, sedangkan pada anak kecil

dibutuhkan 2-4 mL. Sedangkan volume sumsum tulang yang dibutuhkan untuk kultur
hanya sekitar 0.5-1 mL. Bakteri dalam sumsum tulang ini juga lebih sedikit dipengaruhi
oleh antibiotika daripada bakteri dalam darah.3,4,5
3.

Uji serologis
Uji serologis digunakan untuk membantu menegakkan diagnosis demam tifoid
dengan mendeteksi antibodi spesifik terhadap komponen antigen S.typhi maupun
mendeteksi antigen itu sendiri. Volume darah yang diperlukan untuk uji serologis ini
adalah 1-3 mL yang diinokulasikan ke dalam tabung tanpa antikoagulan. Beberapa uji
serologis yang dapat digunakan pada demam tifoid ini meliputi:
a. Uji Widal
Uji Widal dilakukan untuk mendeteksi antibodi terhadap kuman S. typhi. Pada
uji Widal terjadi suatu reaksi aglutinasi antara antigen kuman S. typhi dengan
antibodi yang disebut aglutinin. Antigen yang digunakan pada uji Widal adalah
suspensi Salmonella yang sudah dimatikan dan diolah di laboratorium. Maksud uji
Widal adalah untuk menentukan adanya aglutinin dalam serum penderita tersangka
demam tifoid, yaitu aglutinin O (dari tubuh kuman), aglutinin H (flagela kuman) dan
aglutinin Vi (simpai kuman).3,4,5
Dari ketiga aglutinin tersebut, hanya aglutinin O dan H yang digunakan untuk
diagnosis demam tifoid. Semakin tinggi titernya, semakin besar kemungkinan
terinfeksi kuman ini.3,4,5

PBL Blok 12 Universitas Kristen Krida Wacana

Pembentukan aglutinin mulai terjadi pada akhir minggu pertama demam,


kemudian meningkat secara tepat dan mencapai puncak pada minggu keempat, dan
tetap tinggi selama beberapa minggu. Pada fase akut mula-mula timbul aglutinin O,
kemudian diikuti dengan aglutinin H. Pada orang yang telah sembuh aglutinin O
masih ditemukan setelah 4-6 bulan, sedangkan aglutinin H menetap lebih lama
antara 9-12 bulan. Oleh karena itu uji Widal bukan untuk menentukan kesembuhan
penyakit.3,4,5
Titer aglutinin O akan naik lebih dulu dan lebih cepat hilang daripada aglutinin
H atau Vi, karena pembentukannya T independent sehingga dapat merangsang
limposit B untuk mengekskresikan antibodi tanpa melalui limposit T. Titer aglutinin
O ini lebih bermanfaat dalam diagnosa dibandingkan titer aglutinin H. Bila bereaksi
dengan antigen spesifik akan terbentuk endapan seperti pasir. Titer aglutinin O 1/160
dinyatakan positif demam typhoid dengan catatan 8 bulan terakhir tidak mendapat
vaksinasi atau sembuh dari demam typhoid dan untuk yang tidak pernah terkena
1/80 merupakan positif.3,4,5
Titer aglutinin ini lebih lambat naik karena dalam pembentukan memerlukan
rangsangan limfosit T. Titer aglutinin 1/80 keatas mempunyai nilai diagnostik yang
baik dalam menentukan demam typhoid. Kenaikan titer aglutinin empat kali dalam
jangka 5-7 hari berguna untuk menentukan demam typhoid. Bila bereaksi dengan
antigen spesifik akan terbentuk endapan seperti kapas atau awan.3,4,5
Pemeriksaan serologik Widal (titer Aglutinin OD) sangat membantu dalam
diagnosis walaupun 1/3 penderita memperlihatkan titer yang tidak bermakna atau
tidak meningkat. Uji Widal bermanfaat bila dilakukan pemeriksaan serial tiap
minggu dengan kenaikan titer sebanyak 4 kali. Beberapa laporan yang ada tiap
daerah mempunyai nilai standar Widal tersendiri, tergantung endemisitas daerah
tersebut. Misalnya: Surabaya titer OD > 1/160, Yogyakarta titer OD > 1/160,
Manado titer OD > 1/80, Jakarta titer OD > 1/80, Ujung Pandang titer OD 1/320.3,4,5
Ada beberapa faktor yang mempengaruhi uji widal, yaitu:3,4,5
a.
Pengobatan dini dengan antibiotik
b.
Gangguan pembentukan antibodi
c.
Pemberian kortikosteroid
d.
Waktu pengambilan darah
e.
Daerah endemik atau non endemik
f.
Riwayat vaksinasi
g.
Reaksi anamnestik, yaitu peningkatan titer aglutinin pada infeksi bukan
demam tifoid akibat infeksi demam tifoid masa lalu atau vaksinasi

PBL Blok 12 Universitas Kristen Krida Wacana

h.

Faktor teknik pemeriksaan laboratorium, akibat aglutinasi silang, dan strain

salmonella yang digunakan untuk suspensi antigen. Saat ini belum ada
kesamaan pendapat mengenai titer aglutinin yang bermakna diagnostik.
b. Uji TUBEX
Uji TUBEX merupakan uji semikuantitatif kolometrik yang cepat dan mudah
untuk dikerjakan. Uji ini mendeteksi antibody anti S. typhi O9 pada serum pasien,
dengan cara menghambat ikatan antara IgM anti-O9 yang terkonjungasi pada
partikel latex yang berwarna dengan lipopolisakarida S. typhi yang terkonjungasi
pada partikel magnetik latex. Hasil positif uji TUBEX ini menunjukkan terdapat
infeksi Salmonellae serogroup D walau tidak secara spesifik menunjuk pada S. typhi.
Infeksi oleh S. paratyphi akan memberikan hasil negatif.3,4,5
Secara imunologi antigen O9 bersifat imunodominan sehingga dapat
merangsang respon imun secara independen terhadap timus dan merangsang mitosis
sel B tanpan bantuan dari sel T. Karena sifat-sifat tersebut, respon terhadap anti-gen
O9 dapat dilakukan lebih dini, yaitu pada hari ke 4-5 untuk infeksi primer dan hari
ke 2-3 untuk infeksi sekunder. Perlu diketahui bahwa uji Tubex hanya dapat
mendeteksi IgM dan tidak dapat mendeteksi IgG sehingga tidak dapat dipergunakan
sebagai modalitas untuk mendeteksi infeksi lampau.3,4,5
Pemeriksaan ini dilakukan dengan menggunakan 3 macam komponen meliputi
tabung berbentuk V yang juga berfungsi untuk meningkatkan sensitivitas, reagen A
yang mengandung partikel magnetik yang diselubungi antigen S. typhi O9, reagen B
yang diselubungi dengan antibodi monoklonal spesifik untuk antigen O9. Untuk
melakukan prosedur pemeriksaan ini, satu tetes serum dicampurkan ke dalam tabung
dengan satu tetes reagen A. Setelah itu dua tetes reagen B ditambahkan ke dalam
tabung. Hal tersebut dilakukan pada kelima tabung lainnya. Tabung-tabung tersebut
kemudian diletakkan pada rak tabung yang mengandung magnet dan diputar selama
2 menit dengan kecepatan 250 rpm. Intepretasi hasil dilakukan berdasarkan larutan
campuran yang bervariasi dari kemerahan hingga kebiruan. Berdasarkan warna
tersebut ditentukan skor dimana kurang dari 2 maka intepretasinya adalah negatif.
Jika skor sama dengan 3 maka intepretasinya adalah borderline dimana harus
dilakukan pengujian lagi untuk memastikan hasilnya. Kemudian jika skor
menunjukkan lebih dari 4 maka intepretasinya adalah positif, yang jika
menunjukkan angka lebih dari 6, maka infeksi tifoid sudah sangat kuat.3,4,5
Konsep pemeriksaan ini dapat diterangkan sebagai berikut. Jika serum tidak
mengandung antibodi terhadap O9, reagen B bereaksi dengan reagen A. Ketika
PBL Blok 12 Universitas Kristen Krida Wacana

diletakkan pada daerah mengandung medan magnet, komponen magnet yang


dikandung reagen A akan tertarik pada magnet rak dan memberikan warna biru pada
larutan. Sebaliknya, bila serum mengandung antibodi terhadap O9, antIbodi pasien
akan berikatan dengan reagen A dan menyebabkan reagen B tidak tertarik pada
magnet rak dan memberikan warna biru pada larutan.3,4,5
c. Uji Typhidot
Uji typhidot dapat dilakukan untuk mendeteksi infeksi tifoid pada pasien,
untuk mendeteksi antibodi IgM dan IgG yang terdapat pada protein membran luar
Salmonella typhi. Hasil positif pada uji typhidot didapatkan 2-3 hari setelah infeksi
dan dapat mengidentifikasi secara spesifik antibodi IgM dan IgG terhadap antigen S.
typhi seberat 50 kD, yang terdapat pada strip nitroselulosa.3,4,5
Pada kasus reinfeksi, respon imun sekunder (IgG) teraktivasi secara berlebihan
sehingga IgM sulit terdeteksi. IgG dapat bertahan sampai 2 tahun hingga
pendeteksian IgG saja tidak dapat digunakan untuk membedakan antara infeksi akut
dengan kasus reinfeksi atau konvalesen pada kasus infeksi primer. Untuk mengatasi
masalah tersebut, uji ini kemudian dimodifikasi dengan menginaktivasi total IgG
pada sampel serum. Uji ini, yang dikenal dengan nama uji Typhidot-M
menunjukkan bahwa uji ini bahkan lebih sensitif dan lebih cepat.3,4,5
d.

Uji IgM Dipstick


Uji ini secara khusus mendeteksi antibodi IgM spesifik terhadap S. typhi pada
spesimen serum atau whole blood. Uji ini menggunakan strip yang mengandung
antigen lipopolisakarida (LPS) S. Typhoid dan anti IgM (sebagai kontrol), reagen
deteksi yang mengandung antibodi anti IgM yang dilekati dengan lateks pewarna,
cairan membasahi strip sebelum diinkubasi dengan reagen dan serum pasien, tabung
uji. Komponen perlengkapan ini stabil untuk disimpan selama 2 tahun pada suhu 425C di tempat kering tanpa paparan sinar matahari. Pemeriksaan dimulai dengan
inkubasi strip pada larutan campuran reagen deteksi dan serum, selama tiga jam
pada suhu kamar. Setelah inkubasi, strip dibilas dengan air mengalir dan
dikeringkan. Secara semi kuantitatif, diberikan penilaian terhadap garis uji dengan

membandingkannya dengan reference strip. Garis kontrol harus terwarna


dengan baik.3,4,5
e. Kultur Darah
Kultur darah merupakan salah satu dari sekian banyak tes yang dilakukan
untuk mengetahui adanya Salmonella typhi. Hasil biakan darah yang positif
PBL Blok 12 Universitas Kristen Krida Wacana

memastikan demam tifoid, akan tetapi hasil negatif tidak menyingkirkan demam
tifoid, karena mungkin disebabkan beberapa hal sebagai berikut:6,7
a. Telah mendapat terapi antibiotik. Bila pasien sebelum dilakukan kultur darah
telah mendapat antibiotik, pertumbuhan kuman dalam media biakan terhambat
dan hasil mungkin negatif.
b. Volume darah yang kurang (diperlukan kurang lebih 5cc darah). Bila darah
yang dibiakkan sedikit maka hasil negatif. Darah yang diambil sebaiknya
secara bedside langsung dimasukkan ke dalam media cair empedu untuk
pertumbuhan kuman.
c. Riwayat vaksinasi. Vaksinasi di masa lampau menimbulkan antibodi dalam
darah pasien. Antibodi (aglutinin) dapat menekan bakteremia hingga biakan
darah dapat negatif.
d. Saat pengambilan darah setelah minggu pertama, pada saat aglutinin semakin
meningkat.
f. ELISA (Enzyme-linked Immunosorbent Assay)
ELISA Salmonella typhi/paratyphi lgG dan lgM merupakan uji imunologik
yang lebih baru, yang dianggap lebih sensitif dan spesifik dibandingkan uji Widal
untuk mendeteksi Demam Tifoid/Paratifoid. Sebagai tes cepat (Rapid Test) hasilnya
juga dapat segera di ketahui. Diagnosis Demam Tifoid/Paratifoid dinyatakan bila
lgM positif menandakan infeksi akut dan jika lgG positif menandakan pernah
kontak/pernah terinfeksi/reinfeksi/daerah endemik.3,4,5
g. Kultur Empedu
Uji ini merupakan baku emas (gold standard) untuk pemeriksaan Demam
Tifoid/Paratifoid. Interpretasi hasil: jika hasil positif maka diagnosis pasti untuk
Demam Tifoid/Paratifoid. Sebalikanya jika hasil negatif, belum tentu bukan Demam
Tifoid/Paratifoid, karena hasil biakan negatif palsu dapat disebabkan oleh beberapa
faktor, yaitu antara lain jumlah darah terlalu sedikit (kurang dari 2mL), darah tidak
segera dimasukan ke dalam medial Gall (darah dibiarkan membeku dalam spuit
sehingga kuman terperangkap di dalam bekuan), saat pengambilan darah masih
dalam minggu pertama sakit, sudah mendapatkan terapi antibiotika, dan sudah
mendapat vaksinasi.3,4,5
4.

Pemeriksaan kuman secara molekuler


Metode lain untuk identifikasi bakteri S.typhi yang akurat adalah mendeteksi
DNA (asam nukleat) gen flagellin bakteri S.typhi dalam darah dengan teknik hibridisasi
asam nukleat atau amplifikasi DNA dengan cara polymerase chain reaction (PCR)
melalui identifikasi antigen Vi yang spesifik untuk S.typhi.3,4,5

PBL Blok 12 Universitas Kristen Krida Wacana

Kendala yang sering dihadapi pada penggunaan metode PCR ini meliputi risiko
kontaminasi yang menyebabkan hasil positif palsu yang terjadi bila prosedur teknis
tidak dilakukan secara cermat, adanya bahan-bahan dalam spesimen yang bisa
menghambat proses PCR (hemoglobin dan heparin dalam spesimen darah serta
bilirubin dan garam empedu dalam spesimen feses), biaya yang cukup tinggi dan teknis
yang relatif rumit. Usaha untuk melacak DNA dari spesimen klinis masih belum
memberikan hasil yang memuaskan sehingga saat ini penggunaannya masih terbatas
dalam laboratorium penelitian.3,4,5
Diagnosis Kerja
Diagnosis kerja merupakan diagnosis utama tentang penyakit yang diderita pasien
setelah melakukan anamnesis dan pemeriksaan terhadap pasien. Pada penegakan diagnosis,
penderita demam tifoid pada umumnya demam meningkat lalu menetap berangsur-berangsur.
Demam terus menerus dan biasanya tinggi pada sore hari. Kesadaran pasien biasanya sadar
sepenuhnya tetapi biasanya terlihat mengantuk. Lalu disertai dengan pusing, nyeri perut,
mual, dan muntah. Dimungkinkan terjadi pembesaran limfa dan hati sehingga menyebabkan
nyeri tekan di regio epigastrium. Pada pemeriksaan laboratorium dapat ditemukan anemia
karena pendarahan usus dan leukopenia akibat sitotoksik dengan demam yang disebabkan
oleh bakteri Salmonella typhi. Jika dilakukan tes widal maka hasil test jika hasilnya 1/200
maka orang tersebut menderita demam tifoid.8
Pada kasus diatas dapat disimpulkan bahwa pasien tersebut mengalami demam tifoid
karena panas sepanjang hari dan lebih tinggi menjelang sore hari. Pada tes titer widal
ditemukan bahwa hasilnya lebih dari 1/200 pada S.typhi O dan S.typhi H.
Diagnosis Banding
Diagnosis banding merupakan suatu diagnosis pembanding dengan gejala yang serupa
terhadap penyakit utama, yang didapatkan ketika melakukan anamnesis.9
Oleh karena itu, perlu adanya pemerikasaan fisik dan laboratorium untuk menegakkan
diagnosis utama. Dari gejala-gejala yang dialami pasien, ada beberapa penyakit yang menjadi
diagnosis pembanding, yaitu:
1. Demam berdarah dengue
Demam berdarah dengue merupakan penyakit infeksi yang disebabkan oleh virus
dengue. Virus ini mempunyai empat serotype yang dikenal dengan DEN-1, DEN-2,
PBL Blok 12 Universitas Kristen Krida Wacana

DEN-3, dan DEN-4, dan keempat serotype ini mempunyai gejala yang berbeda-beda
jika menyerang manusia. Demam berdarah dengue ditularkan dari 1 manusia ke
manusia lainnya dengan perantaraan/gigitan nyamuk. Nyamuk yang paling sering
menimbulkan demam berdarah yaitu nyamuk Aedes aegypti betina. Masa inkubasi
DBD dimulai dari gigitan nyamuk sampai timbul gejala berlangsung selama 2 minggu.
Darah penderita sudah mengandung virus 1-2 hari sebelum terserang demam. Biasanya
demam timbulnya tiba-tiba, tinggi, terus menerus berlangsung 5-7 hari, sakit kepala,
menggigil, dan disertai kemerahan pada wajah. Suhu tubuh biasanya mencapai 39C40C dan bersifat bifasik. Terdapat ruam kulit atau bercak-bercak merah pada wajah,
leher, dan dada, tampak bintik-bintik merah ketika diperiksa dengan uji torniquet,
terjadi pembesaran hati (hepatomegali), tekanan darah menurun sehingga menyebabkan
syok, terjadi penurunan trombosit di bawah 100.000/mm3 dan terjadi peningkatan
hematokrit diatas 20%, pada tingkat lanjut terjadi mimisan dari hidung dan gusi,
terjadinya melena (buang air dengana kotoran berupa lendir yang bercampur darah),
tampak bintik-bintik merah sebagai bentuk dari pecahnya pembuluh darah dan demam
yang dirasakan menyebabkan pegal dan sakit pada sendi.10
Pada skenario, demam yang terus menerus sesuai dengan gejala penyakit DBD,
karena pada DBD, demam akan terus menerus selama 5-7 hari, namun rasa menggigil,
dan keemerahan pada wajah yang dialami oleh penderita DBD, berbeda dengan
skenario. Selain itu, pada penderita DBD ditemukan ruam kulit atau bercak-bercak
merah pada wajah, leher, dan dada, tampak bintik-bintik merah ketika diperiksa dengan
uji torniquet.
2. Malaria
Malaria merupakan penyakit yang disebabkan oleh parasit plasmodium, dan
ditularkan lewat tusukan nyamuk Anopheles. Penyakit malaria diawali dengan gejala
yang tidak spefisik diantaranya lesu, sakit kepala, anoreksia, nousea, dan vomitus,
bahkan terjadi demam yang tidak teratur, kemudian diikuti gejala demam yang khas,
splenomegali, dan anemi yang dikenal dengan trias malaria. Gejala utama malaria yaitu
demam. Jenis demam pada malaria menurut ulangan demamnya ada 2 jenis utama yaitu
tertiana dan kurtana. Demam paroksismal tertiana yaitu demam yang berulang setiap 48
jam atau setiap hari ketiga, sedangkan demam paroksimal kuartaba yaitu demam yang
berulang setiap 72 jam atau setiap hari keempat. Serangan demam malaria terjadi
selama 2-12 jam. Dengan 3 stadium yaitu stadium mengigil, acme, dan sudoris. Dua
atau tiga hari kemudian terulang kembali serangan demam dengan stadium-stadium
yang sama.11
PBL Blok 12 Universitas Kristen Krida Wacana

10

Pada malaria gejala demamnya berbeda dengan gejala demam pada skenario.
Pada skenario, gejala demam berlangsung terus menerus secara bertahap (demam
enteric) dalam waktu lebih dari 5 hari sedangkan pada malaria demam hilang timbul.
Oleh karena itu, pasien pada skenario tidak menderita malaria.

Tabel 1. Diagnosis banding demam


Sumber: www.ichrc.org/61-anak-dengan-demam
3. Chikungunya
Chikungunya adalah penyakit sejenis demam yang disebabkan alphavirus yang
disebarkan oleh gigitan nyamuk dari spesies Aedes aegypti. Gejala utama terkena
penyakit chikungunya adalah tiba-tiba tubuh terasa demam diikuti dengan linu di
persendian. Bahkan karena salah satu gejala yang khas adalah timbulnya rasa pegalpegal, ngilu, juga timbul rasa sakit pada tulang-tulang. Ada yang menyebutnya sebagai
demam tulang atau flu tulang. Gejala-gejalanya memang mirip dengan infeksi virus
dengue dengan sedikit perbedaan pada hal-hal tertentu.
Virus ini dipindahkan dari satu penderita ke penderita lain melalui nyamuk, antara
lain Aedes aegypti. Virus yang ditularkan oleh nyamuk Aedes aegypti ini akan
berkembang biak di dalam tubuh manusia. Virus menyerang semua lapisan usia, baik
anak-anak maupun dewasa di daerah endemis. Secara mendadak penderita akan
mengalami demam tinggi selama lima hari, sehingga dikenal pula istilah demam lima

PBL Blok 12 Universitas Kristen Krida Wacana

11

hari. Pada anak kecil dimulai dengan demam mendadak, kulit kemerahan. Ruam-ruam
merah itu muncul setelah 3-5 hari. Mata biasanya merah disertai tanda-tanda seperti flu.
Sering dijumpai anak kejang demam. Pada anak yang lebih besar, demam
biasanya diikuti rasa sakit pada otot dan sendi, serta terjadi pembesaran kelenjar getah
bening. Pada orang dewasa, gejala nyeri sendi dan otot sangat dominan dan sampai
menimbulkan kelumpuhan sementara karena rasa sakit bila berjalan. Kadang-kadang
timbul rasa mual sampai muntah. Pada umumnya demam pada anak hanya berlangsung
selama tiga hari dengan tanpa atau sedikit sekali dijumpai perdarahan maupun syok.
Bedanya dengan demam berdarah dengue, pada chikungunya tidak terdapat perdarahan
hebat, renjatan (shock) maupun kematian.3
4. Leptospirosis
Leptospirosis adalah suatu penyakit zoonis yang disebabkan leptospira. Manusia
dapat terinfeksi melalui kontak dengan leptospira secara insidental. Masa inkubasi 2-26
hari, biasanya 7-13 hari dan rata-rata 10 hari. Gejala klinisnya sering demam,
menggigil, mual, muntah, nyeri abdomen terkadang diare. Keluhan pasien biasanya
demam yang muncul mendadak, sakit kepala, nyeri otot, mata merah, dan mual atau
muntah. Pada pemeriksaan laboratorium leukositosis normal dan kadang turun sedikit.
Leptospirosis memiliki 2 fase, yaitu fase leptospiraemia dan fase imun.3
Pada leptospirosis gejala demamnya hampir sama dengan gejala demam pada
skenario. Pada skenario, gejala demam berlangsung terus-menerus secara bertahap
(demam enteric) dalam waktu lebih dari 5 hari yang membedakan adalah diare pada
leptospirosis. Sedangkan pada demam tifoir menyebabkan tidak BAB. Selain itu pada
leptospirosis menyebabkan mata merah.
5. Infeksi Saluran Kemih (ISK)
Infeksi saluran kemih merupakan salah satu penyakit infeksi yang sering
ditemukan. Infeksi saluran kemih tergantung pada beberapa faktor seperti usia, jenis
kelamin, dan lain-lain. Salah satu gejala umum dari infeksi saluran kemih adalah
sensasi terbakar ketika buang air kecil. Akibatnya tidak nyaman, wanita bahkan
menghindari aktivitas buang air kecil yang akhirnya justru berujung pada infeksi
kandung kemih. Merasa lelah, letih, dan lesu tanpa sebab juga termasuk gejala dari
infeksi saluran kemih. Kelelahan terkadang disertai dengan nyeri otot dan gemetar.
Warna urin juga berbeda dengan warna normal dan juga terkadang didapati darah pada
urin. Demam adalah respon alami dari sitem imun untuk mencegah infeksi yang
menyerang tubuh. Jadi ketika terkena infeksi saluran kemih, terkadang juga mnederita
demam yang disertai dengan menggigil dan keringat dingin.3
PBL Blok 12 Universitas Kristen Krida Wacana

12

Pada infeksi saluran kemih, demam bukanlah gejala utama melainkan lebih
kepada buang air kecil yang terus menerus dan juga warna urin yang keluar. Demam
pada infeksi saluran kemih hanyalah respon imun terhadap infeksi tersebut sedangkan
pada skenario demam merupakan gejala yang khusus. Dapat disimpulkan bahwa
keluhan pasien pada skenario bukan karena infeksi saluran kemih.
6. Pankreatitis
Seseorang yang tiba-tiba mengalami nyeri epigastrium dan muntah-muntah
sesudah minum alkohol yang berlebihan. Keluhan yang mencolok adalah rasa nyeri
yang timbul tiba-tiba, kebanyakn intens kemudian terus menerus dan makin lama
makin bertambah. Kebanyakan rasa nyeri terletak di epigastrium, kadang-kadang agak
ke kiri atau agak ke kanan. Rasa nyeri ini dapat menjalar ke punggung, kadang-kadang
nyeri menyebar diperut dan menjalar ke abdomen bagian bawah. Selain rasa nyeri
sebagian kasus didapatkan gejala mual dan muntah serta demam. Pada pemeriksaan
fisik ditemukan nyeri tekan perut bagian atas.3
Pada pankreatitis demam tidak terlalu ditekankan adalah rasa nyeri pada regio
epigastrium. Demam hanya terkadang, berbeda dengan skenario dimana pasien demam
berkepanjangan.
7. Influenza
Influenza merupakan penyakit yang memiliki gejala demam sama seperti demam
tifoid, namun pada influenza disertai gejala lain seperti pilek dan batuk.7
8.
Campak
Pada campak tampak jelas adanya konjungtivitis, yang tidak dapat ditemukan
pada demam tifoid.7
Etiologi
Demam tifoid disebabkan oleh Salmonella thypi. Infeksi berasal dari penderita atau
seseorang yang secara klinik tampak sehat tetapi yang mengandung kuman yang keluar
bersama fesesnya atau bersama kemih (carrier). Kuman-kuman ini mengkontaminasi
makanan, minuman, dan tangan. Lalat merupakan penyebar kuman typhus yang penting,
karena dari tempat kotor ia dapat mengotori makanan. Infeksi selalu terjadi pada saluran
pencernaan. Porte dentree ialah jaringan limfoid usus halus. Dari usus, kuman-kuman
menuju ke kelenjar getah bening mesenterium, disini mereka berpoliferasi lalu menuju ke
ductus thoracicus dan masuk ke dalam peredaran darah. Banyak kuman musnah,
endotoksinnya keluar dan menyebabkan gejala-gejala penyakit.12
Gejala Klinis

PBL Blok 12 Universitas Kristen Krida Wacana

13

Masa inkubasi demam tifoid berlangsung antara 10-14 hari. Gejala-gejala klinis yang
timbul sangat bervariasi dari ringan sampai dengan berat, dari asimtomatik hingga gambaran
penyakit yang khas disertai komplikasi hingga kematian.12
Pada minggu pertama gejala klinis penyakit ini ditemukan keluhan dan gejala serupa
dengan penyakit infeksi akut pada umumnya yaitu, demam, pusing, nyeri otot, anoreksia,
mual, muntah, obstipasi atau diare, perasaan tidak enak di perut, batuk, dan epistaksis. Pada
pemeriksaan fisik hanya didapatkan suhu badan meningkat. Sifat demam adalah meningkat
perlahan-lahan dan terutama pada sore hari.12
Dalam minggu kedua gejala menjadi lebih jelas berupa demam, brakikardia relatif
(peningkatan suhu 1C tidak diikuti denyut nadi 8 kali per menit), lidah yang berselaput
(kotor di tengah, tepi, dan ujung merah serta tremor), hepatomegali, splenomegali,
meteroismus, gangguan mental berupa somnolen, stupor, koma, delirium, psikosis. Roseolae
jarang ditemukan di Indonesia.12
Berikut merupakan gejala klinis demam tifoid secara singkat:13

Demam lebih dari seminggu. Siang hari biasanya terlihat segar namun menjelang
malamnya demam tinggi. (39 sampai 40C)

Lidah kotor. Bagian tengah berwarna putih dan pinggirnya merah. Biasanya anak
akan merasa lidahnya pahit.

Mual berat sampai muntah. Bakteri Salmonella typhi berkembang biak di hati dan
limpa. Akibatnya terjadi pembengkakan dan akhirnya menekan lambung sehingga
terjadi rasa mual. Dikarenakan mual yang berlebihan, akhirnya makanan tak bisa masuk
secara sempurna dan biasanya keluar lagi lewat mulut.

Diare atau bisa terjadi konstipasi. Sifat bakteri yang menyerang saluran cerna
menyebabkan gangguan penyerapan cairan yang akhirnya terjadi diare, namun dalam
beberapa kasus justru terjadi konstipasi (sulit buang air besar).

Lemas, pusing, dan sakit perut. Demam yang tinggi menimbulkan rasa lemas, pusing.
Terjadinya pembengkakan hati dan limpa menimbulkan rasa sakit di perut.

Pingsan, tak sadarkan diri. Penderita umumnya lebih merasakan nyaman dengan
berbaring tanpa banyak pergerakan, namun dengan kondisi yang parah seringkali
terjadi gangguan kesadaran.

Pada kasus tertentu muncul penyebaran vlek merah muda ("rose spots") Pada sekitar
10% penderita timbul sekelompok bintik-bintik kecil berwarna merah muda di dada dan
perut pada minggu kedua dan berlangsung selama 2-5 hari.

PBL Blok 12 Universitas Kristen Krida Wacana

14

Patofisiologi
Penularan terjadi melalui saluran cerna dengan tertelannya Salmonella, kemudian
bakteri berkolonisasi dan menembus epitel dan menginfeksi folikel limfoid di usus halus
(Peyeri Patches). Patogenesitas bergantung pada faktor jumlah kuman, keasaman lambung
dan virulensi dengan menyebarnya kuman melalui duktus torasikus ke sirkulasi sistemik.
Infeksi sistemik dapat melibatkan berbagai organ, termasuk hati, limpa, sumsum tulang,
kandung empedu, paru, susunan saraf pusat, dan berbagai organ lain.3
Masuknya kuman Salmonella typhi dan Salmonella paratyphi ke dalam tubuh manusia
terjadi melalui makanan yang terkontaminasi kuman. Sebagian kuman dimusnahkan dalam
lambung, sebagian lolos ke dalam usus dan selanjutnya berkembang biak. Bila respon
imunitas humoral mukosa (IgA) usus kurang baik maka kuman akan menembus sel epitel
(terutama sel-M) dan selanjutnya ke lamina propria. Di lamina propia kuman berkembang
biak dan di fagosit oleh sel-sel fagosit terutama oleh makrofag. Kuman dapat hidup dan
berkembang biak di dalam makrofag dan selanjutnya dibawa ke plak Peyeri ileum distal dan
kemudian ke kelenjar getah bening mesenterika. Selanjutnya melalui duktus torasikus kuman
yang terdapat di dalam makrofag ini masuk ke dalam sirkulasi darah (mengakibatkan
bakteremia pertama yang asimtomatik) dan menyebar ke seluruh organ retikuloendotelial
tubuh terutama hati dan limpa. Di organ-organ ini kuman meninggalkan sel-sel fagosit dan
kemudian berkembang biak di luar sel atau ruang sinusoid dan selanjutnya masuk ke dalam
sirkulasi darah lagi mengakibatkan bakteremia yang kedua kalinya dengan disertai tandatanda dan gejala penyakit infeksi sistemik.3
Di dalam hati, kuman masuk ke dalam kandung empedu, berkembang biak, dan
bersama cairan empedu diekskresikan secara intermiten kedalam lumen usus. Sebagian
kuman dikeluarkan melalui feses dan sebagian masuk lagi kedalam sirkulasi setelah
menembus usus. Proses yang sama terulang kembali, berhubung makrofag telah teraktivasi
dan hiperaktif maka saat fagositosis kuman Salmonella terjadi pelepasan beberapa mediator
inflamasi yang selanjutnya akan menimbulkan gejala reaksi inflamasi sistemik seperti
demam, malaise, mialgia, sakit kepala, sakit perut, instabilitas vaskular, gangguan mental,
dan koagulasi.3
Di dalam plak peyeri makrofag hiperaktif menimbulkan reaksi hiperplasia jaringan (S.
typhi intramakrofag menginduksi reaksi hipersensitivitas tipe lambat, hiperplasia jaringan
dan nekrosis organ). Perdarahan saluran cerna dapat terjadi akibat erosi pembuluh darah
sekitar plak peyeri yang sedang mengalami nekrosis dan hiperplasia akibat akumulasi sel-sel
PBL Blok 12 Universitas Kristen Krida Wacana

15

mononuklear di dinding usus. Proses patologis jaringan limfoid ini dapat berkembang hingga
ke lapisan otot, serosa usus, dan dapat mengakibatkan perforasi.3
Endotoksin dapat menempel di reseptor sel endotel kapiler dengan akibat timbulnya
komplikasi seperti gangguan neropsikiatrik, kardiovaskular, pernapasan, dan gangguan organ
lainnya.3
S.typhi masuk ke tubuh manusia melalui makanan dan air yang tercemar. Sebagai
kuman dimusnahkan oleh asam lambung dan sebagian lagi masuk ke usus halus dan
mencapai jaringan limfoid plak peyeri di ileum terminalis yang hipertrofi. Bila terjadi
komplikasi perdarahan dan perforasi intestinal, kuman menembus lamina propria, masuk ke
aliran limfe mencapai kelenjar limfe mesenterial, dan masuk ke sirkulasi darah melalui
duktus torasikus. S.typhi bersarang di plak peyeri, limfa, hati, dan bagian-bagian lain sistem
retikuloendotelial. Endotoksin S.typhi berperan dalam proses inflamasi lokal pada jaringan
tempat kuman tersebut berkembang biak. S.typhi dan endotoksinya merangsang sinesis dan
pelepasan zat pirogen dan leukosit pada jaringan yang meradang, sehingga terjadi demam.3
Faktor virulensi merupakan kemampuan bakteri menyebabkan penyakit (mekanisme
patogenesis), terdidi dari banyak faktor. Adhesin yang merupakan protein yang menentukan
perlekatan ke sel mukosa, sebagai tahap penting dalam kolonisasi. Kapsul terdiri dari
polisakarida yang menghambat fagositosis (tidak dapat dicerna oleh sel fagosit). Toksik
terdiri dari endotoksin (yang merupakan komponen integral dinding sel bakteri gram negatif)
dan eksotosin (yang disekresi oleh bakteri dan mungkin bertanggung jawab atas manifestasi
utama infeksi yaitu enterotoksin, neurotoksin).3
Epidemiologi
Demam tifoid dan paratifoid endemik di Indonesia. Penyakit ini jarang ditemukan
secara epidemik, lebih bersifat sporadis, terpencar-pencar di suatu daerah, dan jarang terjadi
lebih dari satu kasus pada orang-orang serumah.14
Di Indonesia demam tifoid dapat ditemukan sepanjang tahun dan insidens tertinggi
pada daerah endemik terjadi pada anak-anak. Terdapat dua sumber penularan S.typhi, yaitu
pasien dengan demam tifoid dan yang lebih sering, karier. Di daerah endemik, transmisi
terjadi melalui air yang tercemar S.typhi, sedangkan makanan yang tercemar oleh karier
merupakan sumber penularan tersering di daerah nonendemik.14
Penatalaksanaan
Sampai saat ini masih dianut trilogi penatalaksanaan demam tifoid, yaitu:
PBL Blok 12 Universitas Kristen Krida Wacana

16

1.

Istirahat dan perawatan


Dengan tirah baring dan perawatan bertujuan untuk mencegah komplikasi. Tirah
baring dengan perawatan sepenuhnya ditempat seperti makan, minum, buang air kecil,
dan buang air besar akan membantu dan mempercepat masa penyembuhan. Dalam
perawatan perlu dijaga kebersihan tempat tidur, pakaian, dan perklengkapan pakaian
yang di pakai.14

2.

Diet dan terapi penunjang (simtomatik dan suportif)


Pertama pasien diet bubur saring, kemudian bubur kasar, dan akhirnya nasi sesuai
tingkat kesembuhan pasien. Syarat makanan:14

Makanan yang cukup cairan, kalori, vitamin & protein.

Tidak mengandung banyak serat.

Tidak merangsang dan tidak menimbulkan banyak gas.

Makanan lunak diberikan selama istirahat.


Juga diperlukan pemberian vitamin dan mineral yang cukup untuk mendukung

keadaan umum pasien.14


3.

Pemberian antimikroba
Dengan pemberian obat-obatan antimikroba bertujuan untuk menghentikan dan
mencegah penyebaran kuman. Obat-obat anti mikroba yang sering digunakan untuk
mengobati demam tifoid adalah:3

Kloramfenikol merupakan obat pilihan utama pada pasien demam tifoid. Dosis untuk
orang dewasa adalah 4 kali 500 mg perhari oral atau intravena, sampai 7 hari bebas
demam. Penyuntikan kloramfenikol suksinat intramuskuler tidak dianjurkan karena
hidrolisis ester ini tidak dapat diramalkan dan tempat suntikan terasa nyeri. Dengan
kloramfenikol, demam pada demam tifoid dapat turun rata-rata 5 hari.

Tiamfenikol. Dosis dan efektivitas tiamfenikol pada demam tifoid sama dengan
kloramfenikol. Komplikasi hematologis seperti kemungkinan terjadinya anemia
aplastik pada penggunaan tiamfenikol lebih jarang daripada kloramfenikol. Dengan
penggunaan tiamfenikol demam pada demam tifoid dapat turun rata-rata 5-6 hari.
Kotrimoksazol (Kombinasi Trimetoprim dan Sulfametoksazol). Efektivitas
kotrimoksazol kurang lebih sama dengan kloramfenikol. Dosis untuk orang dewasa,
2 kali 2 tablet sehari, diberikan sampai 7 hari bebas demam (1 tablet mengandung 80
mg trimetoprim dan 400 mg sulfametoksazol). Dengan kotrimoksazol, demam ratarata turun setelah 5-6 hari.
PBL Blok 12 Universitas Kristen Krida Wacana

17

Ampisilin dan Amoksilin. Dalam hal kemampuan menurunkan demam, efektivitas


ampisilin dan amoksilin lebih kecil dibandingkan dengan kloramfenikol. Indikasi
mutlak penggunannnya adalah pasien demam tifoid dengan leukopenia. Dosis yang
dianjurkan berkisar antara 75-150 mg/kgBB sehari, digunakan sampai 7 hari bebas
demam.

Sefalosporin generasi ketiga. Beberapa uji klinis menunjukkan bahwa sefalosporin


generasi ketiga antara lain sefoperazon, seftriakson, dan sefotaksim efektif untuk
demam tifoid. Dosis yang dianjurkan adalah antara 3-4 gram dalam dekstrosa 100 cc
diberikan selama setengah jam per infuse sekali sehari, diberikan selama 3 sampai 5
hari.
Fluorokinolon. Terdiri atas norfloksasin, siproflosaksin, oflosaksin, peflosaksin, dan
fleroksasin.
Azitromisin. Penelitian menunjukkan bahwa penggunaan azitromisin mengurangi
kemungkinan kegagalan klinis, durasi rawat inap, dan mengurangi angka relaps.
Azitromisin mampu menghasilkan konsentrasi dalam jaringan yang tinggi walaupun
konsentrasi dalam darah cenderung rendah. Antibiotika akan terkonsentrasi dalam
sel sehingga ideal untuk digunakan dalam pengobatan infeksi S.typhi yang
merupakan kuman intraselular. Keuntungan lain adalah azitromisin tersedia dalam
bentuk sediaan oral maupun suntikan intravena.
Pada wanita hamil, tidak dianjurkan pemberian kloramfenikol, terutama pada
trimester pertama karena dikhawatirkan dapat terjadi partus prematus, kematian fetus
intrauterine, dan grey syndrome pada neonates. Tiamfenikol juga tidak dianjurkan
karena kemungkinan efek teratogenik yang belum dapat disingkirkan, terutama pada
trimester pertama. Demikian juga obat golongan fluorokuinon dan kotrimoksazol tidak
boleh diberikan pada wanita hamil. Obat yang dianjurkan adalah ampisilin, amoksilin,
dan seftriakson.3
Komplikasi
Komplikasi yang sering dijumpai pada penderita penyakit demam tifoid adalah
perdarahan usus karena perforasi, kolesistitis, dan hepatitis dan ensefalopati.13
1. Komplikasi Intestinal
Perdarahan intestinal
Pada plak peyeri yang terinfeksi dapat menimbulkan luka pada usus. Bila
luka menembus lumen usus dan mengenai pembuluh darah maka terjadi
PBL Blok 12 Universitas Kristen Krida Wacana

18

perdarahan. Selanjutnya bila luka menembus dinding usus maka perforasi dapat
terjadi. Selain karena faktor luka, perdarahan juga dapat terjadi karena gangguan
koagulasi darah atau gabungan kedua faktor.13

Perforasi usus
Biasanya timbul pada minggu ketiga namun dapat pula terjadi pada minggu
pertama. Tanda-tanda perforasi lainnya adalah bising usus yang melemah, nadi
cepat, tekanan darah turun, dan bahkan dapat syok.13

Ileus paralitik

2. Komplikasi Eksta-Intestinal

Komplikasi Kardiovaskular: kegagalan sirkulasi perifer, miokarditis, thrombosis,


dan thromboflebitis.13

Komplikasi Hematologi: trombositopenia, hipofibrino-genemia, peningkatan


prothrombin time, peningkatan partia thrombopastin time, peningkatan fibrin
degradation products sampai koagulasi intravaskuler diseminata dapat ditemukan
pada kebanyakan pasien demam tifoid. Trombositopenia saja sering dijumpai, hal
ini mungkin terjadi karena menurunnya produksi trombosit di sumsum tulang
selama proses infeksi atau menigkatnya destruksi trombosit di sistem
retikuloendotelial.13

Komplikasi paru: pneumonia, empiema, pleuritis

Komplikasi Hepar dan Kandung Empedu: hepatitis dan kolelitiasis

Komplikasi Ginjal: glomerulonefritis, pielonefritis, dan perinefritis

Komplikasi Tulang: spondilitis dan arthritis

Komplikasi Neuropsikiatrik
Manifestasi neuropsikiatrik dapat berupa delirium dengan atau tanpa
kejang, semi-koma, atau koma, parkinson rigidity/transient parkinsonism,
sindrom

otak

akut,

mioklonus

generalisata,

meningismus,

skizofrenia,

sitotoksikmania akut, hipomania, ensefalomielitis, menigitis, polineuritis perifer,


sindrom Guillain Barre, dan psikosis.13
Prognosis
Umumnya prognosis tifus abdominalis pada anak, asal penderita cepat berobat,
mortalitas pada penderita yang dirawat ialah 6%.3
PBL Blok 12 Universitas Kristen Krida Wacana

19

Prognosis menjadi kurang baik atau buruk bila terdapat gejala klinis yang sangat berat,
seperti:3
1. Panas tinggi (hiperpireksia) atau febris kontinyu.
2. Kesadaran menurun sekali yaitu sopor, komas atau delirium
3. Terdapat komplikasi yang berat, misalnya dehidrasi dan asidosis, peritonitis,
bronkopneumonia dan lain-lain.
4. Keadaan gizi penderita yang buruk (malnutrisi energi protein).
Prognosis demam tifoid tergantung dari umur, keadaan umum, derajat kekebalan tubuh,
jumlah dan virulensi Salmonella, serta cepat dan tepatnya pengobatan. Angka kematian pada
anak-anak 2.6%, dan pada orang dewasa 7.4%, rata-rata 5.7%.3
Pencegahan
Pencegahan penyakit demam Tifoid bisa dilakukan dengan cara:15
1. Usaha terhadap lingkungan hidup

Perbaikan higiene dan sanitasi lingkungan serta penyuluhan kesehatan

Penyediaan air minum dan makanan yang memenuhi syarat

Pembuangan kotoran manusia yang higienis

Pemberantasan lalat

Pengawasan terhadap rumah makan dan penjual makanan

2. Usaha terhadap manusia

Imunisasi vaksin oral dan vaksin suntikan

Menemukan dan mengawasi karier tifoid

Pendidikan kesehatan terhadap masyarakat

Saat ini pencegahan terhadap kuman Salmonella sudah bisa dilakukan dengan vaksinasi
bernama chotipa (cholera-tifoid-paratifoid) atau tipa (tifoid-paratifoid). Untuk anak usia 2
tahun yang masih rentan, bisa juga divaksinasi.15
Vaksin tifus per-oral (ditelan) memberikan perlindungan sebesar 70%. Vaksin ini hanya
diberikan kepada orang-orang yang telah terpapar oleh bakteri Salmonella typhi dan orangorang yang memiliki resiko tinggi (termasuk petugas laboratorium dan para pelancong).15
Ada tiga macam vaksin tifoid, yaitu:15

Vaksin sel bakteri Salmonella typhi utuh, tetapi tidak lagi digunakan karena
toksisitasnya tinggi

Ty21a: vaksin bakteri hidup yang dilemahkan dan diberikan secara oral.

PBL Blok 12 Universitas Kristen Krida Wacana

20

ViCPS (Virulence polysaccharide antigen) yang berasal dari kapsul bakteri tersebut
yang diawetkan dalam phenol dan diberikan melalui injeksi intramuskular atau
subkutan dalam.
Keadaan karier kronis dapat dibedakan dari infeksi dini melalui respon serologis

terhadap Vipolysaccharide, karena umumnya karier mempunyai titer antibodi yang sangat
tinggi terhadap antigen tersebut.15
Kesimpulan
Demam tifoid merupakan penyakit yang disebabkan kuman Salmonella typhi dan
ditularkan melalui lalat yang terdapat pada makanan dan minuman yang kemudian
terkontaminasi dengan kuman Salmonella typhi. Gejala yang khas dari demam tifoid adalah
demam yang terus menerus dan lebih tinggi menjelang sore hari. Gejala-gejala klinis
penyakit demam tifoid terliha pada pasien pada skenario yang menderita demam yang terus
menerus dan lebih tinggi menjelang sore hari, disertai pusing, nyeri perut, mual, dan muntah.
Dengan demikian pasien pada skenario menderita demam tifoid.
Daftar Pustaka
1. Davey P. At a glance medicine. Jakarta: Erlangga. 2005. h. 5.
2. Alan R. Tumbelaka. Diagnosis dan tata laksana demam tifoid. Dalam pediatrics
update. Jakarta; Ikatan Dokter Anak Indonesia. 2003. h. 37-46
3. Sudoyo AW, Setiyohadi B, Alwi I, Simadibrata M, Setiati S. Buku ajar ilmu penyakit
dalam jilid 3. Edisi 5. Jakarta: Interna Publishing; 2009. h. 1008, 2797-806, 2807-11.
4. Kresno SB. Imunologi: diagnosis dan prosedur laboratorium. Edisi 4. Jakarta: Balai
Penerbit FKUI; 2001. h. 405-36.
5. Brooks GF, Butel JS, Morse SA. Mikrobiologi kedokteran 2. Edisi 22. Jakarta:
Salemba Medika; 2005. h. 276-309.
6. Gunawan SG, Nafrialdi RS, Elysabeth. Farmakologi dan terapi. Edisi 5. Jakarta:
departemen farmakologi dan terapeutik FKUI. 2009.
7. Widodo D. Demam tifoid. Dalam buku ajar ilmu kesehatan anak infeksi dan penyakit
tropis. Jakarta; Bagian Ilmu Kesehatan Anak FKUI: 2002. h. 367-375.
8. Staf Pengajar FK UI. Buku ajar patologi. Jakarta: FK UI. 2011. h. 67-68.
9. Asdie AH. Prinsip-prinsip ilmu penyakit dalam. Edisi ke-13. Jakarta: EGC; 2012. h.
977-89
10. Bherman, Kliegman, Arvin. Ilmu kesehatan anak. Edisi ke-15. Jakarta: EGC; 2000. h.
970-4, 1115-30.
11. Natadisastra D, Agoes R. Parasitologi kedokteran. Jakarta: EGC; 2009. h. 209-27.
PBL Blok 12 Universitas Kristen Krida Wacana

21

12. Setyawan S. Penyakit infeksi dalam: patologi. Jakarta: Fakultas Kedokteran


Universitas Indonesia. h. 67-8.
13. Mansjoer A. Kapita selekta kedokteran. Demam tifoid. Jakarta; FKUI. 2000. h. 422-5,
428-9.
14. Noer, S. Buku ajar ilmu penyakit dalam jilid I. Edisi ke-3. Jakarta; FKUI. 2004. h.
407-9, 417, 435-6.
15. Pawitro UE, Noorvitry M, Darmowandowo W, Soegijanto S. Demam tifoid. Dalam
ilmu penyakit anak: diagnosa dan penatalaksanaan. Edisi 1. Jakarta: Salemba Medika.
2002. h. 23.

PBL Blok 12 Universitas Kristen Krida Wacana

22

Anda mungkin juga menyukai