Anda di halaman 1dari 26

I.

PENDAHULUAN

I.1. Latar Belakang

Hampir semua kalangan masyarakat memanfaatkan buncis, mulai dari ibu rumah
tangga yang membutuhkan dalam jumlah sedikit sampai ke industri pengolahan
yang membutuhkan dalam jumlah besar dan continue.
Selain dikonsumsi di dalam negeri ternyata buncis juga telah diekspor. Negara-
negara yang sering mengimpor buncis dari Indonesia antara lain Singapura,
Hongkong, Australia, Malaysia, dan Inggris. Bentuk-bentuk yang diekspor
bermacam-macam, ada yang berbentuk polong segar, didinginkan atau dibekukan,
dan adapula yang berbentuk biji kering.
Mengingat buncis sangat dibutuhkan oleh masyarakat Indonesia dan masyarakat
luar negeri maka bisa dibayangkan banyaknya produksi buncis yang dibutuhkan.
Oleh karena itu, buncis dapat dikatakan merupakan komoditi yang mempunyai
masa depan cerah. Menurut informasi yang diperoleh dari LIPI diperkirakan
bahwa orang Indonesia membutuhkan kacang-kacangan 40 gr am/hari.
Untuk tetap mempertahankan eksistensinya maka buncis harus mempunyai
kualitas yang baik. Untuk mendapatkan kualitas yang baik maka proses
pembudidayaan sangat menentukan sekali. Cara yang dilakukan antara lain
melalui intensifikasi, yaitu dengan penerapan sapta usaha tani sedangkan dengan
ekstensifikasi yaitu dengan penambahan luas areal panen.
Pilihan lain untuk menaikkan produktivitas buncis adalah dengan jalan
diversifikasi. Diversifikasi merupakan suatu usaha menaikkan produksi dengan
memanfaatkan lahan-lahan kosong disekitar pertanaman sehingga akan dapat
diperoleh penganekaragaman hasil-hasil pertanian.

1
I.2. Tujuan

1. Agar mahasiswa dapat mengerti dan memahami apa saja yang dapat
dilakukan untuk budidaya tanaman buncis.
2. Agar mahasiswa dapat mengetahui dan mengaplikasikan cara budidaya
tanaman bunis.
3. Agar mahasiswa dapat mengetahui gambaran umum tentang budidaya
tanaman buncis.

2
II. TINJAUAN PUSTAKA

Kacang buncis (Phaseolus vulgaris .L.) berasal dari Amerika, sedangkan kacang
buncis tipe tegak (kidney-bean) atau kacang jago adalah tanaman asli lembah
Tahuaacan-Meksiko. Penyebarluasan tanaman buncis dari Amerika ke Eropa
dilakukan sejak abad 16. Dearah pusat penyebaran dimulai di Inggris (1594),
menyebar ke negara-negara Eropa, Afrika, sampai ke Indonesia.

Pembudidayaan tanaman buncis di Indonesia telah meluas ke berbagai daerah.


Tahun 1961-1967 luas areal penanaman buncis di Indonesia sekitar 3.200 hektar,
tahun 1969-1970 seluas 20.000 hektar dan tahun 1991 mencapai 79.254 hektar
dengan produksi 168.829 ton.

Daerah yang sejak lama menjadi sentra pertanaman buncis antara lain Kotabatu
(Bogor), Pengalengan dan Lembang (Bandung) dan Cipanas (Cianjur). Sedangkan
pusat terbesar pertanaman kacang ijo anatara lain daerah Garut (Jawa Barat).

Taksonomi tanaman buncis diklasifikasikan sebagai berikut:


Kingdom : Plant Kingdom
Divisio : Spermatophyta
Sub divisio : Angiosspermae
Kelas : Dicotyledonae
Sub kelas : Calyciflorae
Ordo : Rosales (Leguminales)
Famili : Leguminosae (Papilionaceae)
Sub famili : Papilionoideae
Genus : Phaseolus
Spesies : Phaseolus vulgaris L.

3
Kacang buncis dan kacang jogo mempunyai nama ilmiah sama yaitu Phaseolus
vulgaris L., yang berbeda adalah tipe pertumbuhan dan kebiasaan panennya.
Kacang buncis tumbuh merambat (pole beans) dan dipanen polong mudanya,
sedangkan kacang jogo (kacang merah) merupakan kacang buncis jenis tegak
(tidak merambat) umumnya dipanen polong tua atau bijinya saja, sehingga disebut
Bush bean. Nama umum kacang buncis di pasaran internasional disebut Snap
beans atau French beans, kacang jogo dinamakan Kidney beans.

Buncis sendiri mempunyai dua jenis yaitu buncis jenis tegak dan buncis jenis
melilit. Jenis buncis tegak batangnya tidak menjalar misalnya kacang merah
(kacang jago) yang bijinya berbintik-bintik merah dan kacang galing, bijinya
berwarna hitam kuning atau cokelat tua. Sedangkan buncis dengan jenis melilit
bijinya berwarna putih, hitam dan kuning. Buncis jenis ini banyak ditanan oleh
petani.

Peningkatan produksi buncis mempunyai arti penting dalam menunjang


peningkatan gizi masyarakat, sekaligus berdaya guna bagi usaha mempertahankan
kesuburan dan produktivitas tanah. Kacang buncis merupakan salah satu sumber
protein nabati yang murah dan mudah dikembangkan.

Kacang jogo/kacang merah yang dikonsumsi bijinya, mengandung protein 21-


27%, sehingga menu makanan yang terdiri atas campuran nasi dan kacang jogo
(90%+10%) merupakan komposisi makanan yang mencukupi karbohidrat dan
protein tubuh.

4
2.1. Pembibitan

2.1.1. Persyaratan Benih/Bibit

Apabila akan mengusahakan suatu usaha pertanaman, maka hal pertama yang
perlu dilakukan adalah pemilihan benih. Benih yang digunakan harus benar-benar
benih yang baik. Benih yang baik berasal dari pohon induk yang baik. Benih yang
baik harus mempunyai persyaratan tertentu yakni: mempunyai daya tumbuh
minimal 80-85%, bentuknya utuh, bernas, warna mengkilat, tidak bernoda coklat
terutama pada mata bijinya, bebas dari hama dan penyakit, seragam, tidak
tercampur dengan varietas lain, serta bersih dari kotoran. Benih yang baik
mempunyai daya tumbuh yang tinggi, dapat disimpan lama, tahan terhadap
serangan hama dan penyakit, tumbuhnya cepat dan merata, serta mampu
menghasilkan tanaman dewasa yang normal dan berproduksi tinggi.

2.1.2. Penyiapan Benih

Memilih benih yang baik agak sulit. Karena itu disarankan untuk membeli benih
yang bersertifikat. Benih ini telah diuji coba oleh balai pengujian benih, sehingga
dijamin kualitasnya. Benih bersertifikat telah banyak dijual ditoko-toko sarana
pertanian.
Benih buncis yang dibutuhkan dalam jumlah tertentu, tetapi kadang-kadang benih
yang dibeli jumlahnya melebihi yang dibutuhkan. Sehingga, masalahnya sekarang
adalah bagaimana menyimpan kelebihan benih itu. Cara menympannya dengan
memberi suhu 18-20 derajat C dengan kelembaban relatif 50-60 %. Kandungan
air benih juga sangat menentukan terhadap keawetan simpan benih. Kandungan
yang baik untuk menyimpan benih sekitar 14%. Bila persyaratan diatas terpenuhi
maka daya simpan benih buncis dapat mencapai 3 tahun.

5
2.2. Pengolahan Media Tanam

2.2.1. Media Tanam

Tanah yang cocok bagi tanaman buncis ternyata banyak terdapat di daerah yang
mempunyai iklim basah sampai kering dengan ketinggian yang bervariasi. Jenis
tanah yang cocok untuk tanaman buncis adalah andosol dan regosol karena
mempunyai drainase yang baik. Tanah andosol hanya terdapat di daerah
pegunungan yang mempunyai iklim sedang dengan curah hujan diatas 2500
mm/tahun, berwarna hitam, bahan organiknya tinggi, berstektur lempung hingga
debu, remah, gembur dan permeabilitasnya sedang. Tanah regosol berwarna
kelabu, coklat dan kuning, berstektur pasir sampai berbutir tunggal dan
permeabel.

Sifat-sifat tanah yang baik untuk buncis: gembur, remah, subur dan keasaman
(pH) 5,5-6. Sedangkan yang ditanam pada tanah pH < 5,5 akan terganggu
pertumbuhannya (pada pH rendah terjadi gangguan penyerapan unsur hara).
Beberapa unsur hara yang dapat menjadi racun bagi tanaman antara lain:
aluminium, besi dan mangan.

Tanaman buncis tumbuh baik di dataran tinggi, pada ketinggian 1000-1500 m dpl.
Walaupun demikian tidak menutup kemungkinan untuk ditanam pada daerah
dengan ketinggian antara 300-600 meter. Dewasa ini banyak dilakukan penelitian
mengenai penanaman buncis tegak di dataran rendah ketinggian: 200-300 m dpl.,
dan ternyata hasilnya memuaskan. Beberapa varietas buncis tipe tegak seperti
Monel, Richgreen, Spurt, FLO, Strike dan Farmers Early dapat ditanam di dataran
rendah pada ketinggian antara 200-300 m dpl.

2.2.2 Pengolahan Lahan

Pengolahan lahan adalah semua pekerjaan yang ditujukan pada tanah untuk
menciptakan media tanam yang ideal, sehingga tanaman dapat tumbuh dengan

6
baik. Pembersihan rumput-rumputan, penggemburan tanah, dan pembuatan parit-
parit drainase adalah termasuk pengolahan tanah.
Pembersihan rumput-rumputan (gulma) bermaksud agar tidak terjadi persaingan
makanan dengan tanaman pokoknya. Cara membersihkannya dapat secara
manual, yaitu dengan jalan mencabut gulma dengan tangan, cangkul, cetok atau
traktor (bila lahannya luas). Pemberantasan hama dapat dilakukan dengan
pestisida organik, yaitu dengan bantuan bakteri EM yang berasal dari pupuk cair
organik.

Setelah bersih dari gulma pekerjaan selanjutnya adalah membajak tanah. Tanah
dibajak dan dicangkul 1-2 kali sedalam 20-30 cm. Untuk tanah-tanah berat
pencangkulan dilakukan dua kali dengan jangka waktu 2-3 minggu, untuk tanah-
tanah ringan pencangkulan cukup dilakukan sekali saja.

Umumnya tanah di Indonesia bersifat asam (pH <7). Untuk menaikkan pH


tersebut diperlukan pengapuran, menggunakan batu kapur kalsit, gips, kadolomite,
atau batu kapur talk. Dosis untuk menaikan pH sebesar 0,1 sebesar 480 kg/ha.
Pemberian kapur sebaiknya dilakukan 2-3 minggu sebelum penanaman, dengan
cara sebagai berikut:
a) Tanah digemburkan dengan mencakulnya.
b) Kapur disebar merata.
c) Tanah dicangkul kembali agar kapur dapat bercampur dengan tanah secara
merata.

2.2.3. Pembuatan Bedengan

Selanjutnya untuk memudahkan pekerjaan pemeliharaan dibuat bedengan-


bedengan dengan ukuran panjang 5 meter, lebar 1 meter dan tinggi 20 cm. Jarak
antar bedengan 40-50 cm, selain sebagai jalan juga untuk saluran pembuangan air
(drainase). Untuk areal yang tidak begitu luas, mislnya tanah pekarangan, tidak
dibuat bedengan tetapi menggunakan guludan tanah selebar 20 cm, panjang 5
meter, tinggi 10-15 cm dan jarak antar guludan 70 cm.

7
Untuk meningkatkan kesuburan tanah dapat dilakukan dengan pemberian pupuk
kandang atau kompos sebanyak 15-20 kg/10 m2 atau kira-kira 3 kaleng penuh
bekas minyak tanah. Pemberian pupuk kandang dimaksudkan untuk memperbaiki
struktur tanah agar lebih gembur, airasi dan drainase lebih baik. Cara
menempatkan pupuk kandang maupun pupuk organik ialah dengan menaburkan
disepanjang larikan.
Saat pemberian pupuk dasar, dapat juga dilakukan pemberian pestisida organik
untuk nematoda. Nematoda Meloidogyne sp. sering menyerang buncis.

2.3. Teknik Penanaman

Air yang dibutuhkan buncis hanya secukupnya, sehingga saat menanam yang
paling baik yaitu saat peralihan. Hal ini sangat cocok untuk fase pertumbuhan
buncis, dan fase pengisian serta pemasakkan polong. Pada fase ini di khawatirkan
akan terjadi serangan penyakit bercak bila curah hujannya terlalu tinggi. Untuk
mengatasi curah hujan yang terlalu tinggi dapat dibuat saluran-saluran drainase,
ini kalau penanamannya dilakukan pada musim hujan. Sebaliknya, pada musim
kemarau perlu dilakukan penyiraman sesering mungkin terutama pada saat awal
perkecambahan.

Pada umumnya tanaman buncis tidak membutuhkan curah hujan yang khusus,
hanya ditanam di daerah dengan curah hujan 1.500-2.500 mm/tahun. Selain itu,
buncis memerlukan cahaya matahari yang banyak atau sekitar 400-800
feetcandles. Dengan diperlukan cahaya dalam jumlah banyak, berarti tanaman
buncis tidak memerlukan naungan.

Suhu udara ideal bagi pertumbuhan buncis adalah 20-25 derajat C. Pada suhu < 20
derajat C, proses fotosintesis terganggu, sehingga pertumbuhan terhambat, jumlah
polong menjadi sedikit. Pada suhu ³ 25 oC banyak polong hampa (sebab proses
pernafasan lebih besar dari pada proses fotosintesis), sehingga energi yang
dihasilkan lebih banyak untuk pernapasan dari pada untuk pengisian polong.
Kelembaban udara yang diperlukan tanaman buncis ± 55% (sedang). Perkiraan

8
dari kondisi tersebut dapat dilihat bila pertanaman sangat rimbun, dapat dipastikan
kelembapannya cukup tinggi. Suhu udara yang sangat tinggi akan menyebabkan
bunga menjadi gugur, buah pendek, dan bengkok. Hal ini akibat pembentukan
tepung kurang berdaya untuk proses pembuahan.

2.3.1. Penentuan Pola Tanam

Tanaman buncis ditanam dengan pola pagar atau barisan karena penanamannya
dilakukan pada bedengan atau guludan. Pada pola ini, jarak antar tanaman lebih
sempit daripada jarak antar barisan tanamannya. Dengan pola tanam barisan akan
mempermudah pekerjaan selanjutnya, seperti pemeliharaan, pengairan,
pemupukan, pembumbunan dan panen.

Buncis dikembangkan dengan biji. Karena tanaman ini tidak memerlukan


penyemaian, maka biji, maka biji lasung ditanan pada bedengan yang telah
dipersiapkan, dengan jarak tanam yang sesuai dengan jenisnya. Untuk jarak tanam
buncis tegak adalah 40 x 30 cm, sedangkan jarak tanam buncis melilit adalah 50 x
40 cm.

Untuk tanah datar atau tanah miring jarak tanaman yang biasa digunakan adalah
20 x 50 cm. Dan bila kesuburan tanahnya tinggi, maka sebaiknya menggunakan
jarak tanam yang lebih sempit lagi, yaitu 20 x 40 cm. Hal ini dimaksudkan untuk
menghindari tumbuhnya gulma, karena gulma akan lebih cepat tumbuh pada
tanah yang subur. Penentuan jarak tanam ini harus benar-benar diperhatikan
karena berhubungan dengan tersedianya air, hara dan cahaya matahari.

2.3.2. Pembuatan Lubang Tanam

Setelah menentukan jarak tanam, kemudian membuat lubang tanam dengan cara
ditugal. Agar lubang tanam itu lurus, sebelumnya dapat diberi tanda dengan ajir,
bambu, penggaris atau tali. Tempat yang diberi tanda tersebut juga ditugal.
Kedalaman tugal 4-6 cm untuk tanah-tanah yang remah dan gembur, sedangkan
untuk tanah liat dapat digunakan ukuran 2-4 cm. Hal ini disebabkan pada tanah

9
liat kandungan airnya cukup banyak, sehingga dikhawatirkan benih akan busuk
sebelum mampu berkecambah.

2.3.3. Cara Penanaman

Tanaman buncis tidak memerlukan persemaian karena termasuk tanaman yang


sukar dipindahkan, sehingga benih buncis dapat langsung ditanam di lahan/kebun.
Tiap lubang tanam dapat diisi 2-3 butir benih. Setelah itu lubang tanam ditutup
dengan tanah.
Setelah 6 hari, biasanya biji-biji tersebut sudah berkecambah. Bagi tanaman
buncis yang melilit, sesudah mencapai tinggi 15 cm perlu ditancapkan batang
bambu (lanjaran) guna melilitkan diri. Tiap 4 batang lanjaran diikat menjadi satu,
dan di atas pengikatan ditaruh batang-batang yang letaknya mendatar, sehingga
diperoleh tempat melilit yang kokoh.

2.4. Pemeliharaan Tanaman Buncis

Ada banyak hal yang perlu diperhatikan dalam pemeliharaan tanaman buncis yang
meliputi pemupukan, pengairan, penggundulan, pemasangan turus, pemangkasan,
serta pengendalian hama dan penyakit. Berikut ini akan dijelaskan mengenai
pemeliharaan tanaman buncis.

2.4.1. Pemupukan

Tanaman buncis tidak boleh diberi pupuk yang terlalu banyak, karena tanaman
akan menjadi lebat daunnya, sedangkan buahnya menjadi sedikit. Tindakan
pemupukan pada tanaman buncis perlu dilakukan dengan alasan hara tanaman
yang disediakan oleh tanaman dalam jumlah terbatas. Sewaktu-waktu zat hara
dapat berkurang karena tercuci ke lapisan tanah yang lebih dalam, terbawa erosi
bersama larutan tanah, hilang melalui proses evaporasi (penguapan) dan diserap
oleh tanaman. Apabila keadaan tersebut dibiarkan terus menerus tanpa adanya

10
perbaikan, maka makin lama persediaan hara dalam tanah makin berkurang
sehingga tanaman tumbuhnya merana. Untuk mencukupi kebutuhan hara tersebut
perlu tambahan dari luar melalui pemupukan. Hal ini diharapkan dengan adanya
pemupukan dapat mengembalikan dan meningkatkan kandungan hara dalam
tanah, sehingga tanaman akan tumbuh subur dan produksinya akan melimpah.
Berikut ini zat-zat yang diperlukan tanaman yang berada di dalam tanah :
1. Nitrogen = N (zat lemas)
2. Phosphor =P
3. Kalium = K (zat kali)
Zat-zat yang diperlukan tanaman di dalam tanah ini lazimnya ditulis dengan
huruf N, P, K. Sumber zat N pada pupuk terutama terdapat pada ZA, ureum,
sendawa chili, pupuk hijau, pupuk kandang, kotoran burung dan lain sebagainya.
Sumber zat P terdapat pada DS, pupuk hijau, dan kotoran burung. Dan sumbe zat
K terdapat pada ZK, patent kali, abu kayu dan lain sebagainya.
Cara pemupukan :
1. pupuk dibenamkan didekat tanaman dengan jarak 5-10 cm dari tanaman
dan dalamnya sekitar 5-10 cm.
2. pemupukan terhadap tanah dilakukan dengan cara ditugal 10 cm dari
tanaman, kemudian tanah tugalan tersebut ditutup kembali. Hal ini dilakukan
pada saat umur tanaman telah mencapai 14-21hari setelah tanam. Pupuk yang
diberikan yaitu urea sebanyak 200kg/ha.

2.4.2. Pengairan

Air yang diberikan oleh alam kepada tanaman itu bervariasi ukurannya dan bisa
saja terjadi ketidaksesuaian kadar air yang dibutuhkan tanaman. Untuk itu
diperlukan sistem pengaturan air. Biasanya pengairan dilakukan bila penanaman
buncis dilakukan pada saat musim kemarau, yaitu pada umur 1-15 hari. Bila
penanaman buncis dilakukan pada saat musim hujan, maka yang diperlu
diperhatikan adalah masalah pembuangan airnya. Kelebihan dan pembuangan air
dapat di;akukan dengan dibuatkan saluran air melalui parit-parit yang terletak
antara bedengan atau guludan. Hal yang perlu diperhatikan adalah bahwa pada

11
saat penyiraman tanaman ini keadaan tanah tidak boleh dalam keadaan terlalu
kering atau terlalu basah. Untuk itu perlu diperhatikan mengenai pengairan pada
tanaman :
a) air yang digunakan untuk penyiraman sebaiknya
tidak mengandung bahan-bahan busuk yang dapat mengakibatkan kekurangan
zat asam di dalam tanah yang sangat merugikan bagi tanaman.
b) Penyiraman sebaiknya dilakukan tidak dengan
sembarangan karena hal ini dapat memadatkan tanah.
c) Penyiraman sebaiknya dilakukan secara
menyeluruh, artinya mengenai semua bagian tanaman.
d) Alat penyiram yang digunakan sebaiknya
menggunakan alat khusus misalnya gembor, dimana mulutnya bisa diganti
dengan lubang yang halus, sedang, dan kasar. Gembor bermulut halus untuk
menyiram tanaman yang masih kecil atau baru tumbuh sedangkan gembor
bermulut sedang atau besar digunakan untuk menyiram tanaman yang sudah
cukup dewasa.

2.4.3. Pengguludan

Pengguludan adalah membuat tanaman itu sedikit ditinggikan dari tanah dasarnya.
Peninggian guludan dapat dilakukan pada saat tanaman berumur kurang lebih 20
dan 40 hari yana sebaiknya dilakukan pada saat musim hujan. Tujuan dari
pengguludan adalah utnuk memperbanyak akar, menguatkan tumbuhnya, dan
memelihara struktur tanah.

2.4.4. Pemasangan Ajir (turus atau lanjaran)

Pelaksanaan pemasangan turus dapat dilakukan bersamaan dengan peninggian


guludan yang pertama. Untuk tanaman buncis yang merupakan tipe tanaman
merambat maka perlu diberikan turus atau rambatan supaya pertumbuhan lebih
baik. Biasanya turus atau lanjaran dibuat dari bambu dengan ukuran panjang 2 m
dan lebar 4 cm. Turus tersebut ditancapkan di dekat tanaman. Setiap dua batang

12
turus yang berhadapan diikat menjadi satu pada bagian ujungnya, sehingga akan
tampak lebih kokoh.

2.4.5. Pemangkasan

Pemangkasan dimaksudkan untuk memperbanyak ranting sehingga akan


diperoleh buah yang banyak. Pemangkasan dilakukan bila tanaman berumur dua
minggu dan
lima minggu. Pemangkasan jug dimaksudkan utuk mengurangi kelembaban di
dalam tanaman sehingga dapat menghambat perkembangan hama penyakit. Dan
pucuk-pucuk tanaman yang baru dipangkas juga dapat digunakan sebagai sayuran.

2.4.6. Penyulaman

Penyulaman adalah mengganti tanaman yang rusak, pertumubuhan yang kurang


baik dan bagi tanaman yang mati. Oleh karena itu penyulaman tanaman sayuran
hanya dilakukan pada saat tertentu, selambat-lambatnya seminggu sahabis
penanaman. Sejak benih buncis ditanam, maka 3-5 hari kemudian sudah tumbuh
ke permukaan tanah. Benih yang tidak tumbuh segera diganti (disulam) dengan
benih yang baru. Penyulaman ini jangan melebihi umur 15 hari setelah tanam,
karena akan menyulitkan pemeliharaan tanaman selanjutnya. Penyulaman
tanaman buncis hampir sama dengan tanaman kacang panjang. Penyulaman
dilakukan apabila yang perlu disulam sekitar 10-25 %. Namun apabila sudah
mencapai 40-50 % maka tanaman perlu diganti seluruhnya. Semua tanaman yang
hidup dikumpulkan menjadi satu. Kemudian tanahnya dikerjakan yang lebih baik
lagi.

13
2.4.7. Penyiangan

Rumput-rumput liar yang tumbuh disekitar tanaman pokok harus selalu disiangi
dan dibersihkan, antara lain :
1. Penyiangan biasanya dilakukan pada waktu tanaman berumur 2-3 minggu
setelah tanam atau tergantung keadaan pertumbuhan.
2. Cara menyianginya adalah dengan mencabut rumput-rumput liar (gulma)
ataupun membersihkannya dengan alat Bantu yang disebut kored atau parang.
Penyiangan harus dilakukan secara hati-hati agar tidak merusak perakaran
tanaman buncis.
3. Penyiangan dilakukan karena :
a) gulma dapat menghalangi tumbuhnya tanaman

b) gulma dapat menghisap atau merebut zat-zat


makanan yang diperlukan tanaman
c) ada rumput yang mempunyai penyakit yang
sama dengan tanaman yang diusahakan
d) ada jenis rumput yang menjadi sarang atau
tempat mencari makan serangga yang suka merusak tanaman
e) rumput mengambil cahaya dan CO2 yang
seharusnya bagi tanaman.

2.5. Penanganan Panen

2.5.1. Ciri dan Umur Panen

Pemanenan dapat dilakukan saat tanaman berumur 60 hari dan polong


memperlihatkan ciri-ciri sebagai berikut:
a) Warna polong agak muda dan suram.
b) Permukaan kulitnya agak kasar.
c) Biji dalam polong belum menonjol.
d) Bila polong dipatahkan akan menimbulkan bunyi letup.

14
2.5.2. Cara Panen

Dalam menentukan saat panen harus setepat mungkin sebab bila sampai terlambat
memetiknya beberapa hari saja maka polong bincis dapat terserang penyakit
bercak Cercospora. Penyakit tersebut sebenarnya hanya menyerang daun dan
bagian tanaman lainnya, tetapi karena saat pemetikan yang terlambat maka
penyakit tersebut berkembang sampai ke polong-polongnya.
Cara panen yang dilakukan biasanya dengan cara dipetik dengan tangan.
Penggunaan alat seperti pisau atau benda tajam yang lain sebaiknya dihindari
karena dapat menimbulkan luka pada polongnya. Kalau hal ini terjadi maka
cendawan atau bakteri dapat masuk kedalam jaringan, sehingga kualitas polong
menurun.

2.5.3. Periode Panen

Pelaksanaan panennya dapat dilakukan secara bertahap, yaitu setiap 2-3 hari
sekali. Hal ini dimaksudkan agar diperoleh polonh yang seragam dalam tingkat
kemasakkannya. Pemetikan dihentikan pada saat tanaman berumur lebih dari 80
hari, atau kira0kira sejumlah 7 kali panen.

Bila dalam pelaksanaan budidaya tanaman buncis sudah baik, artinya sudah sesuai
dengan ketentuan-ketentuan diatas maka produksi perhektar dapat mencapai 150
kuintal polong segar.

2.6. Penanganan Pascapanen

2.6.1. Sortasi

Sortasi meliputi kegiatan-kegiatan membuang atau memisahkan hasil berdasarkan


kualitas dan mengadakan klarifikasinya. Polong buncis yang cacat akibat serangan

15
hama dan penyakit, polong yang tua maupun polong yang patah akibat panen
yang kurang baik, semuanya kita pisahkan. Polong-polong yang demikian hanya
akan mengurangi nilai pasar dan nilai beli dari komoditi tersebut.
Proses sortasi ini biasanya dilakukan ditempat-tempat pengumpulan yang
diletakkan tidak jauh dari lahan pertanian. Tempat dilakukannya sortasi ini harus
cukup terlindung, supaya hasil yang baru dipanen tidak lekas menjadi layu.

2.6.2. Penyimpanan

Buncis termasuk sejenis sayuran yang tidak tahan disimpan lama dalam keadaan
segar, cepat rusak atau busuk sehingga disebut sebagai perishable food. Hal ini
terjadi karena setelah dipanen masih terjadi respirasi dan transpirasi sehingga
lama kelamaan komoditi ini mengalami kemunduran (deterioration). Dengan
kemunduran tersebut menyebabkan komoditi menjadi lebih peka terhadap
serangan jasad renik sehingga komoditi menjadi rendah mutunya dan akhirnya
membusuk.
Mengingat sifat buncis tersebut maka diperlukan penyimpanan khusus bila buncis
tidak langsung dikonsumsi. Cara penyimpanan yang biasa dilakukan adalah
sistem refrigarasi (pendinginan), dengan suhu 0-4,4 derajat C dan kelembaban 85-
90%. Pada keadaan yang demikian, maka umur kesegaran buncis bisa mencapai
2-4 minggu. Ruangan penyimpanan diusahakan agar udara segar dapat beredar
dan selalu berganti.
Yang menjadi masalah adalah, masih ada sebagian orang yang beranggapan
bahwa dengan suhu dan kelembaban yang lebih rendah lagi akan
menghasilkanumur kesegaran yang lebih lama pula. Padahal pendapat ini kurang
benar pula. Penyimpanan pada suhu yang lebih rendah dengan suhu yang
dianjurkan memberikan hasil yang sama, sedangkan kelembaban yang terlampau
rendah, akan menyebabkan komoditi menjadi cepat layu.

16
2.6.3. Pengepakkan/Pengemasan

Pada umumnya pengepakkan buncis dilakukan dengan menggunakan karung


goni. Untuk pengiriman jarak jauh ke luar negri lebih baik menggunakan peti
kayu, ukuran dan bentuknya sebaiknya seragam supaya kelihatan rapi. Hal yang
harus diperhatikan dalam membuat alat mengepak yaitu harus mempunyai lubang
angin untuk memungkinkan pergantian udara di dalam pengepak dan mudah
diangkut oleh satu orang.

Setelah dilakukan pengepakan, maka jangan lupa menuliskan nama pengusaha,


nama komoditi, serta keterangan lain yang dibutuhkan pada alat pengepak.
Kebiasan buruk berupa pemberian kode nama pemilik hendaknya dihilangkan,
sebab yang mengenal kode tersebut hanya perwakilan si pengusaha atau pedagang
itu sendiri.

Dengan pengepakan yang baik, banyak keuntungan yang diperoleh, antara lain
dalam pengangkutan, komoditi akan terlindung dari kerusakan fisik, mudah dalam
penghitungannya dan mudah dalam penyusunan baik di dalam alat pengangkut
maupun di dalam gudang penyimpanan.

Biasanya pengangkutan hasil panen dilakukan sesuai dengan tujuan pengirimnya.


Pengangkutan dengan volume kecil dan ditujukan kepedagang-pedagang setempat
dapat dilakukan dengan tenaga manusia, hewan atau kendaran bermotor.
Pengangkutan dalam jarak jauh dengan volume yang lebih besar dapat
menggunakan kapal, kereta api, atau pesawat terbang. Dalam memilih alat
pengangkutan ini, yang penting adalah kelancaran atau cepatnya sampai tujuan
dan dipilih yang biayanya murah. Selain itu alat tersebut harus bebas dari bau-
bauan karena dapat meresap ke dalam hasil yang diangkut.

Dalam menyusun karung maupun peti harus teratur, terutama yang menyangkut
letak dan tinggi susunan. Letak susunan karung hendaknya diberi antara sehingga

17
peredaran udara akan lebih leluasa. Tinggi susunan juga diperhatikan, jangan
sampai karung atau peti paling bawah rusak karena terkena beban yang terlalu
berat. Agar komoditi tidak cepat rusak maka sebaiknya didalam alat pengangkut
diberi pendingin terutama untuk angkutan jarak jauh.

Umumnya konsumen menghendaki buncis dalam keadaan segar, bersih, sehat dan
mempunyai ukuran yang sama. Untuk itu diperlukan pengepakan lagi sebelum
sampai kekonsumen. Pengepakan ini telah dilakukan oleh produsen yang
memasok buncis kepasar swalayan. Tiap pak mempunyai berat sekitar 1-1,5 kg
dan berisi buncis yang seragam ukurannya.

18
III. HASIL PENGAMATAN DAN PEMBAHASAN

3.1. Hasil Pengamatan

Minggu
Tanaman 1 2 3
A B A B C A B C
1 17 2 22 8 1 75 14 2
2 17 2 27 9 1 88 11 3
3 18 2 26 11 1 91 15 2
4 16 2 22 8 1 82 14 2
5 16 2 24 8 1 108 12 3
6 19 2 26 8 2 97 10 2
7 11 2 26 8 2 85 13 2
8 9 2 20 8 3 75,5 11 3
9 11 2 22 8 2 78,5 10 3
10 13 2 22 8 2 62,5 8 2

Minggu
Tanaman 4 5
A B C A B C
1 192 22 12 196 26 15
2 104 18 7 106 21 9

19
3 125 18 6 130 21 9
4 117 19 12 122 23 15
5 134 14 17 138 18 20
6 150 15 8 162 20 10
7 97 20 8 103 23 11
8 147 20 5 161 25 7
9 90 15 6 91 18 9
10 70 17 5 81 20 8

Minggu
Tanaman 6 7
A B C D E A B C D E
1 200 30 32 10 2 217 35 35 20 5
2 110 23 10 7 4 137 30 15 31 4
3 135 25 11 9 6 160 32 17 21 2
4 130 25 17 8 6 153 33 22 25 5
5 145 30 22 12 2 165 45 33 25 3
6 170 23 11 4 6 182 33 17 6 10
7 110 25 12 9 11 137 35 20 12 15
8 170 27 9 8 6 85 37 19 13 17
9 120 20 10 12 9 143 27 17 19 15
10 190 23 11 6 4 209 32 15 11 7

Minggu
Tanaman 8 9
A B C D E A B C D E
1 275 37 37 4 1 278 38 39 4 2
2 165 34 18 9 2 167 35 20 6 2
3 170 36 20 10 1 180 38 21 10 7
4 160 39 25 14 1 241 40 27 7 6
5 172 48 35 13 3 175 49 37 12 13
6 185 35 20 14 4 245 37 22 15 -
7 140 40 22 21 1 162 42 24 10 -
8 190 40 24 13 4 207 41 25 16 5
9 150 31 21 12 1 187 33 23 10 10
10 215 36 18 11 1 218 38 35 8 -

20
Minggu
Tanaman 10
A B C D E
1 278 34 39 - 8
2 169 34 20 2 1
3 180 36 21 1 3
4 241 38 27 2 7
5 175 45 37 2 6
6 245 36 22 7 1
7 162 40 24 - 3
8 207 38 25 3 5
9 187 31 23 3 -
10 216 30 35 1 4

KETERANGAN :
A. Tinggi Tanaman
B. Jumlah Daun
C. Jumlah Cabang
D. Jumlah Buah
E. Jumlah Bunga

3.2. Pembahasan

Pada proses budidaya buncis ada beberapa kendala yang dihadapi yaitu mencakup
pengolahan lahan, hama puenyakit,proses pemeliharaan serta penanganan panen
dan pasca panen . Dimana pengolahan lahan dimulai dari tekstur tanah yang tidak
sesuai dengan yang seharusnya yaitu andosol dan regosol.
Pada saat pembersihan areal atau lahan budidaya banyak terdapat gulma. Alat
yang digunakan seperti sabit sangat terbatas penggunaannya sehingga
menyulitkan dalam membersihkan lahan. Demikian juga penggemburan lahan tak
jauh berbeda serta alat yang digunakan juga terbatas, selain itu penggemburan
juga tidak intensif dalam pelaksanaannya.

Hama yang menyerang pada tanaman buncis yang kami budidayakan meliputi
kutu daun dan ulat penggerek polong. Menurut Titi Setianingsih,(2000) kutu daun
merupakan hama yang berwarna hijau daun sampai hitam atau cokelat. Sedangkan
yang kami temui dilapangan adalah yang berwarna hitam dan cokelat. Kutu ini

21
menghasilkan madu, maka sering dikerumuni semut seperti juga yang kami temui
di lapangan yaitu jenis semut merah. Hama ini menyerang pada minggu keempat.
Gejala serangan ulat tenggeret polong adalah bunga berubah warna dan rusak.
Pada buah tampak lubang kecil. Jika bagian disekitar itu dibuka terlihat ”borok” .
Kadang-kadang daun dan buah menempel. Hama ini menyebabkan produksi
buncis pada budidaya ini kurang baik. Hama ini menyerang tanaman buncis kami
pada minggu keenam. Sehingga panen yang dilakukan pada minggu ketujuh
adalah khusus untuk memanen polong yang terkena hama ini yaitu sebanyak 300
gram, berlanjut pada minggu kedelapan sebanyak 595 gram.
Untuk memberantas kedua hama ini kami menggunakan insektisida fastac.

Pada pemeliharaan tanaman buncis kendala yang dihadapi yaitu dalam


pemasangan ajir. Pemasangan ajir terlambat dilakukan yaitu pemasangan ajir
tersebut dilakukan pada buncis berumur 3 minggu, yang seharusnya dilakukan
adalah 20 hari setelah penanaman. Selain itu yang menjadi kendala lain adalah
pada saat dilakukannya penggantian ajir, yaitu pada minggu keempat. Hal ini
disebabkan karena ajir yang digunakan sebelumnya tidak sesuai dengan
ketentuan, dimana ajir yang baik berukuran 2 meter. Sehingga menyebabkan
tanaman mengalami stress ringan, yaitu ditunjukan dengan tanaman menjadi layu.
Namun proses stress pada tanaman buncis tersebut tidak berlangsung lama
dikarenakan tanamn dapat cepat beradaptasi dengan ajir yang baru.

Penyiraman pada tanaman buncis dilakukan apabila kita menanam pada musim
kemarau. Akan tetapi kami melakukan budidaya buncis pada musim pancaroba,
yaitu pergantian musim hujan ke musim kemarau. Sehingga tidak dilakukan
penyiraman secara rutin.

Pemupukan pada tanaman buncis kami menggunakan pupuk UREA, KCL, dan
Sp-36. pupuk ini diberikan secara bersamaan pada penanaman biji buncis. Dengan
dosis UREA 50 kg/ha, KCL 100kg/ha, dan Sp-36 100kg/ha. Dengan rincian per
meter persegi pada luas lahan budidaya 3 x 2 m, UREA 30 gram/m, KCL dan Sp-
36 yaitu 60 gram/m. Dalam pemberian pupuk tidak ada kendala.

22
Untuk kegiatan pemangkasan dilakukan bila tanaman berumur 2 minggu dan 5
minggu. Tujuan pemangkasan yaitu memperbanyak ranting sehingga memperoleh
buah yang banyak. Pada kenyataannya kami tidak melakukan pemangkasan.
Sehingga hasil panen buncis yang kami peroleh sedikit.

Pada budidaya tanamn buncis ini pun tidak dilakukan penyulaman, hal ini
menunjukan keberhasilan budidaya tanaman buncis yang kami lakukan. Ini di
tunjukan dengan tidak adanya tanaman buncis yang mati.

Selain kendala teknis diatas kami juga mengalami kaendala lain yaitu, kenakalan
seseorang yang tidak bertanggung jawab yang merusak tanaman kami dengan
mencabutnya.

Oleh karena adanya kendala-kendala diatas maka berpengaruh pula terhadap


proses panen dan pasca panen.
Untuk proses panen sendiri pada umumnya dilakukan dengan cara pemetikan.
Pemetikan buncis dilakukan pada saat tanaman berumur 60 hari. Dimana polong
sudah berwarna agak hijau muda dan suram,permukaan kulit agak kasar, biji
dalam polong belum menonjol, polongnya belum berserat, dan bila polong polong
dipatahkan akan menimbulkan bunyi letup. Dalam menentukan saat panen
harusnya dilakukan setepat mungkin, jika sampai terlambat memetiknya maka
polong buncis akan terserang penyakit bercak cercospora. Pelaksanaan panen
buncis sebaiknya dilakukan secara bertahap yaitu setiap tiga hari sekali, agar di
peroleh polong yang seragam dalam tingkat kemasakannya. Namun hal ini urung
kami lakukan disebabkan intensitas kelahan yang hanya satu minggu sekali.
Selain itu menurut teori pemetiekn dihentikan pada saat tanaman buncis berumur
lebih dari 80 hari atau kira-kira tujuh kali panen, hal ini juga tidak kami lakukan.

Dari budidaya yang telah dilakukan dilahan pada pemetikan buah


pertama,dilakukan pada minggu ke tujuh atau saat tanamn berumur 49 hari. Hal
ini di lakukan karena plolng buncis telah terserang hama penggerek buah,

23
sehingga dilakukan panen lebih awal untuk mengurangi resiko gagal panen
berikutnya.
Pemetikan yang dilakukan pada panen pertama sebanyak 300 gram. Pemanaenan
dilakukan hanya seminggu sekali, sehingga tingkat kemasakan polong buncis
tidak seragam.
Pada panen yang kedua tanaman buncis masih terserang hama. Sehingga
diperoleh hasil panen yang terserang hama sebanyak 595 gram, dan polong yang
sehat sebanyak 770 gram.
Pada panen ketiga polong buncis yang sehat sebanyak 268 gram,untuk polong
yang akan dijadikan bibit namun belum kering sebanyak 38,3 gram sedangkan
untuk polong kering dan telah dikupas sebanyak 38,1 gram.
Pada panen keempat terjadi penurunan hasil panen yaitu hanya diperoleh 100,5
gram. Dan itu termasuk polong yang akan dijadikan bakal benih. Shingga hasil
panen seluruhnya sebanyak 2175,2 gram dengan rincian polong yang terserang
hama 895 gram dan di persiapkan untukbenih 176,9 gram serta polong yang sehat
sebanyak 1103,3 gram ini dikonsumsi.
Pada umumnya pasca panen dilakukan meliputi sortasi yaitu kegiatan-kegiatan
membuang dan memisahkan hasil berdasarkan kualitas dan klasifikasinya. Polong
buncis yang sakit akibat serangan hama, plong yang tua maupun patah akibat
proses panen yang kurang tepat semuanya dipisahkan sehingga akan mengurangi
nilai pasar dan nilai beli dari tanaman buncis tersebut. Pada budidaya yang telah
kami lakukan hanya melakukan sortasi dengan memisahkan hasil panen yang
rusak akibat terserang hama dan yang berkualitas baik serta bahan bakal benih.

24
VI. KESIMPULAN

Berdasarkan hasil pengamatan dan pembahasan didapat kesimpulan sebagai


berikut :

a) Buncis ( Phaseolus vulgaris .L.) merupakan buncis sayuran yang


mengandung protein,vitamin dan mineral yang penting seingga harus
dibudidayakan dengan cara yang baik dan benar, tanaman buncis ini baik
tumbuh pada suhu optimum 250 C - 300 C, pada ph tanah 6,0 – 6,5 .
b) Kendala yang dihadapi pada proses budidaya buncis meliputi kendala
teknis dan non teknis
c) Produktifitas panen buncis yang sedikit, hal ini disebabkan karena hama
penyakit yang menyerang serta waktu panen yang tidak tepat serta tidak

25
dilakukan pemeliharaan dengan semestinya terutama pada metode
pemangkasan
d) Jumlah daun dan cabang yang lebih banyak pada tananam buncis yang
dibudidayakan dibandingkan dengan jumlah bunga serta buah yang relaif
sedikit, inin menunjukan fase pertumbuhan vegetatif lebih dominan dari
pada fase generatif.

26