Anda di halaman 1dari 19

STATUS PSIKIATRI

I.

IDENTITAS PASIEN

Nama
Jenis Kelamin
Umur
Tempat, Tanggal Lahir
Agama
Suku bangsa /warga Negara
Status Pernikahan
Pendidikan Terakhir
Pekerjaan
Alamat
Tanggal masuk RSJIK
Tempat / situasi wawancara
Riwayat perawatan di RS. Klender
II.

: Ny. C
: Perempuan
: 63 tahun
: Pekalongan, 12 Januari 1951
: Islam
: Jawa / Indonesia
: Menikah
: SD
: Wiraswasta
: Kp. Utan, Bekasi Selatan
: 19 November 2014
: Bangsal RSJI Klender
:-

RIWAYAT PSIKIATRI

Berdasarkan :
Autoanamnesis :
o Diambil pada tanggal
:
23 November 2014 (Pukul 15.00 WIB)
24 November 2014 (Pukul 10.00 WIB)
o Tempat : Bangsal RSJI Klender
Alloanamnesis :
o Diambil pada tanggal
:
24 November 2014 (Pukul 15.30 WIB)
o Tempat
: Restoran cepat saji daerah buaran.
Diperoleh data dari
: Anak Kandung pasien
Nama Inisial
: Tn. B
Pendidikan terakhir
: SMP (Sekolah Menengah

Pertama)
Diperoleh data dari
Nama Inisial
Pendidikan terakhir

: Suami ketiga pasien


: Tn. K
: SD (Sekolah Dasar)

A. Keluhan Utama
Menurut keterangan keluarga pasien, pasien dibawa ke RSJI
Klender karena pasien marah-marah dan melempar sendal kepada
1

tentangganya karena merasa akan dicelakai oleh tetangganya, sejak 6 jam


sebelum masuk rumah sakit.
B. Keluhan Tambahan
Pasien Merasa dikendalikan serta merasa curiga terhadap orang
disekitarnya sejak 8 bulan sebelum masuk ke RSJI Klender. 4 bulan
sebelum masuk ke RSJI Klender pasien ditemukan bicara sendiri, 1 bulan
sebelum masuk ke RSJI Klender pasien susah tidur dan lebih sering
tersinggung dan marah-marah,
C. Riwayat Gangguan Sekarang
Menurut keterangan suami ketiga pasien , sekitar 8 bulan yang
lalu pasien mulai bersikap aneh terhadapnya. Saat itu pasien merasa ada
yang menyemprotkan cabai ke wajahnya hingga dia merasa wajahnya
panas dan perih pada matanya. Disaat itu pasien curiga bahwa suami dan
anak kedua dari pernikahan yang kedua melakukannya tetapi menurut
pengakuan keluarga pasien tidak ada yang melakukan hal yang dimaksud
oleh pasien. Saat itu pasien sering marah-marah dan gelisah. Pasien juga
mengatakan

ada

yang

membisikkan

bahwa

suami

pasien

telah

berselingkuh dan menyuruh membunuh selingkuhan suami pasien tetapi


pasien tidak dapat melihat orang yang membisikan dan menyuruhnya serta
tidak mengetahui siapa selingkuhan yang dimaksudkan oleh bisikan
tersebut. Setelah itu anak dan suami pasien berinisiatif untuk mengobati
pasien dengan membawa pasien ke pengobatan alternative. Pasien sempat
tenang, dan suami pasien memutuskan untuk menitipkan pasien kepada
anak kedua dari pernikahan kedua pasien.
Sekitar 4 bulan yang lalu menurut keterangan keluarga pasien,
pasien kembali merasa gelisah dan mengeluh ada yang menyemprotkan
cabai kembali ke wajah pasien. Pasien juga kembali mengatakan bahwa
yang menyemprotkan cabai ke wajahnya adalah suami dan anaknya namun
lagi-lagi disangkal oleh keluarganya. Pasien curiga bahwa anak pasien,
suami pasien, dan tetangga pasien akan mencelakai bahkan akan
membunuh pasien, padahal menurut keterangan keluarga pasien, anak,
suami, dan tetangga pasien hanya diam dan tidak berbuat apa-apa kepada
2

pasien. Menurut keterangan keluarga pasien, keluarga pasien pernah


memergoki bahwa pasien sedang berbicara sendiri sebanyak 1 kali.
Kemudian keluarganya kembali membawa pasien ke pengobatan alternatif
yang dianggap oleh keluarga pasien bahwa pengobatan alternatif dapat
membuat tenang kembali pasien, tetapi gejala pasien tidak kunjung
membaik setelah dibawa ke pengobatan alternatif.
Sekitar 1 bulan yang lalu, Pasien menjadi susah tidur karena
merasa semakin curiga kepada keluarga pasien dan tetangga pasien akan
mencelakai bahkan membunuh pasien, padahal lagi-lagi menurut keluarga
pasien, keluarga pasien dan tetangga pasien hanya diam dan tidak berbuat
apa-apa. Serta lebih sering mengalami kejadian yang seperti dulu yaitu
merasa diseprotkan cabai ke wajahnya serta pasien lebih sering marah dan
semakin mudah tersinggung. Pasien lebih sering menghabiskan waktu di
dalam kamar dan jarang bersosialisai dengan tetangga karena saat
dikonfirmasi kepada pasien, mengatakan curiga terhadap suami, anak
pasien, dan tetangga pasien.
Sekitar 6 jam sebelum masuk ke RSJI Klender perilaku pasien
semakin tidak terkendali hingga pasien sempat melemparkan sendal ke
tetangga pasien karena merasa kembali akan dicelakai oleh tetangganya

D. Riwayat Gangguan Dahulu


a. Psikiatrik
Pasien baru pertama kali dirawat di RSJI Klender dengan
keluhan marah-marah dan hampir mencelakai tetangganya.
b. Medik
Pasien tidak memiliki kelainan bawaan sejak lahir, tidak
pernah dirawat di rumah sakit karena suatu kondisi medis yang serius.
Tidak pernah mengalami kejang sejak kecil dan tidak pernah
mengalami trauma kepala.
c. Penggunaan Zat

Pasien tidak pernah memiliki riwayat penggunaaan ataupun


penyalahgunaan zat adiktif atau obat-obatan terlarang. Riwayat
merokok, konsumsi alkohol dan kopi disangkal
E. Riwayat Kehidupan Pribadi
a. Riwayat Prenatal dan Perinatal
Pasien lahir cukup bulan, Dengan proses persalinan normal dibantu
oleh dukun beranak, Tidak ada kelainan bawaan, Pasien merupakan anak
ke empat dari empat bersaudara yang diinginkan oleh orang tua pasien.
Selama ibu pasien mengandung tidak ada riwayat sakit atau trauma.
b. Masa Kanak-kanak dini (0-3 tahun)
Pasien diasuh oleh orang tuanya dan diberi ASI. Pasien tergolong
anak yang sehat. Pasien tidak pernah mengalami kejang dan trauma
kepala. Pasien tidak pernah mengalami kesulitan makan dan tidak ada
gangguan pada pola tidurnya.
Pasien tumbuh normal seperti anak usianya (belajar berdiri,
berjalan, berbicara dan mengontrol BAB dan BAK). Pasien cukup mudah
berinteraksi dan bersosialisasi dengan teman sebayanya. Pasien juga tidak
mempunyai ganguan perilaku seperti sering ketakutan maupun mimpi
buruk.
c. Masa Kanak-kanak pertengahan (3-11 tahun)
Perkembangan fisik pasien sama dengan anak sebayanya. Saat
pasien berumur 5 tahun, pasien bersekolah di taman kanak-kanak.
Setelah itu pasien meneruskan ke tingkat sekolah dasar, menurut pasien
ia bukan merupakan anak yang cukup berprestasi di kelas, namun ia
tidak pernah tinggal kelas.
Menurut pasien, pasien merupakan anak yang mudah bergaul,
memiliki banyak teman. Kedua orang tua pasien sangat menyayangi
pasien. Sejak pasien masuk sekolah taman kanak-kanak, pasien adalah
anak yang periang dan aktif. Setelah menyelesaikan pendidikan taman
kanak-kanak pasien melanjutkan pendidikan Sekolah Dasar (SD).
Ketika pasien duduk dibangku kelas 5 SD pasien berhenti sekolah

karena dijodohkan oleh orangtua pasien dengan calon suami yg


berumur 16 tahun.
Saat ditanyakan kepada pasien mengenai kehidupannya selama
usia ini, pasien mengungkapkan bahwa dirinya adalah anak yang saat
kecil sangat disayangi oleh kedua orang tuanya dan ketiga kakaknya,
semua keinginannya dituruti dan dikabulkan.
d. Masa pubertas dan remaja
Hubungan sosial
Masa pubertas dan remaja pasien mengungkapkan bahwa ia
tidak mempunyai kendala dalam berinteraksi dan bersosialisasi
dengan orang lain. Pasien bergaul dengan teman seusianya dan
hanya memiliki beberapa teman dekat. Pasien juga mempunyai

hubungan baik dengan sanak saudara yang seumur dengan pasien.


Perkembangan motorik dan kognitif
Pasien tidak pernah tinggal kelas selama masa pendidikannya.
Masalah emosi dan fisik
Pasien adalah orang yang pendiam dan tenang tidak sulit dalam

berteman. Pasien tidak memiliki masalah dalam pertumbuhannya.


Riwayat Psikoseksual
Pasien mengaku belum pernah pacaran sebelumnya. Pasien
mengatakan bahwa pertama kali menstruasi saat berusia 11 tahun.
Riwayat agama
Pasien beragama Islam dan tumbuh di lingkungan yang cukup
ramai.
e. Masa Dewasa
Riwayat pekerjaan
Pasien pernah berjualan rokok di depan kantor di daerah Jakarta
Pusat.
Aktivitas sosial
Pasien memiliki banyak teman dan bersosialisasi baik di
lingkungannya tetapi 1tahun belakangan ini pasien mulai jarang
bersosialisasi dengan lingkungannya.
Riwayat pernikahan
Pasien mengaku telah menikah sebanyak 3 kali. Pada pernikahan
pertama pada tahun 1962, pasien dikaruniai anak sebanyak 3 anak.

Dimana anak pertama laki-laki lahir pada tahun 1964 yang ditolong
oleh dukun beranak. Beberapa menit setelah dilahirkan anak pertama
pasien meninggal karena sakit yang tidak diketahui penyebabnya, Satu
tahun kemudian pasien dikaruniai anak kedua yang ditolong oleh dukun
beranak dengan keadaan sehat dan hidup sampai sekarang dengan jenis
kelamin laki-laki. Dua tahun berikutnya pasien dikaruniai anak ketiga
ketiga yang ditolong oleh dukun beranak dengan keadaan sehat dan
hidup sampai sekarang dengan jenis kelamin laki-laki. Setelah beberapa
tahun kemudian pasien diceraikan oleh suami pasien dengan dugaan
suami pasien berselingkuh dengan wanita lain. Setelah beberapa tahun
kemudian pasien menikah kembali dengan suami yang kedua, dan
dikaruniai anak sebanyak 3 anak. Dimana anak pertama dari suami
kedua pasien lahir dengan jenis kelamin laki-laki yang ditolong oleh
dukun beranak. Setelah 9 bulan kelahiran anak pertama dari suami yang
kedua, anak tersebut meninggal dunia karena penyakit yang tidak
diketahui sebabnya. Setelah beberapa tahun kemudian pasien dikaruniai
anak kedua dari suami kedua pasien dengan jenis kelamin laki-laki
yang ditolong oleh dukun beranak dengan keadaan sehat dan hidup
sampai sekarang. Setelah beberapa tahun kemudian pasien dikaruniai
anak ketiga dari suami kedua pasien dengan jenis kelamin perempuan
yang ditolong oleh dukun beranak dengan keadaan sehat dan hidup
sampai sekarang. Setelah beberapa tahun kemudian suami kedua pasien
meninggal dunia. Setelah beberapa tahun setelah meninggalnya suami
kedua pasien menikah kembali dengan suami ketiga namun sampai saat
ini pasien belum dikaruniai anak.
Riwayat pelanggaran hukum
Pasien tidak pernah terlibat kasus hukum, pasien juga tidak pernah
ditahan atau dipenjara.
f. Riwayat Keluarga
Pasien merupakan anak ke 4 dari 4 bersaudara. Ayah dan Ibu
pasien telah meninggal karena penyakit namun pasien lupa penyakit dan
kapan kejadian tersebut. Pasien mempunyai riwayat pernikahan
sebanyak 3 kali, dimana pada pernikahan pertama pasien dikaruniai anak
sebanyak 3 anak dan pada pernikahan kedua pasien dikaruniai anak
6

sebanyak 3 anak. Kedua mertua dari pasien dari pernikahan pertama


maupun pernikahan kedua telah meninggal.
Pasien menikah kembali beberapa tahun dengan pernikahan
ketiganya setelah suami kedua pasien meninggal. Jumlah anak dari
semua pernikahan pasien sebanyak 6 anak, 3 anak dari pernikahan yang
pertama dengan jenis kelamin laki-laki, namun pada anak pertama dari
pernikahan yang pertama meninggal karena penyakit yang tidak
diketahui penyebabnya. Pada pernikahan yang kedua dikaruniai 3 anak
dengan 2 orang berjenis kelamin laki-laki pada anak pertama dan kedua
dan 1 orang berjenis kelamin perempuan pada anak bungsu. Kini pasien
tinggal bersama cucu dari anak kedua pada pernikahan kedua pasien
Genogram

Keterangan :
: Pria

: Wanita

: Meninggal dunia

: Pasien

: Bercerai

: 1 rumah

g. Riwayat Sosial Sekarang


Pasien tinggal bersama cucu dari anak kedua dari pernikahan kedua
di daerah bekasi dengan padat penduduk. Pasien jarang keluar rumah
dan tidak memiliki hubungan yang baik dengan tetangganya. Jumlah

kamar di rumah sebanyak 2 kamar. Pasien saat ini tidak bekerja dan
kebutuhan sehari-hari pasien dipenuhi oleh anak kedua dari pernikahan
kedua pasien.
h. Mimpi, Khayalan dan Sistem Penilaian

Mimpi

: Pasien tidak bermimpi

Khayal

: Pasien tidak berkhayal

Sistem penilaian

: Cukup baik (Penilaian baik dan buruk)

III. STATUS MENTAL


A. Deskripsi Umum
1. Penampilan
Pasien seorang perempuan berusia 65 tahun taksiran dengan
tinggi 155 cm dan berat badan kurang lebih 55 kg. Postur tubuh pasien
terlihat kecil. Pasien memiliki kulit berwarna coklat, rambut panjang
tertata cukup rapi. Pasien berpenampilan tampak seperti usianya, saat
diwawancara pasien menggunakan pakaian kaos berwarna biru
dengan celana panjang berawana biru, kuku jari tangan dan kaki
terpotong rapi, pasien terlihat cukup bersih. Pasien tampak tenang.

2.

Aktivitas dan Prilaku Psikomotor


Selama wawancara pasien duduk bersebelahan dengan pemeriksa,
pasien duduk tenang di ruang tv bangsal wanita. Pasien namun tampak
lesu. Tidak dijumpai gerakan - gerakan aneh. Selama wawancara
pasien tampak tenang dan kooperatif saat menjawab semua pertanyaan
yang di ajukan oleh dokter muda.

3.

Pembicaraan

Volume

: Sedang

4.

Irama

: Teratur

Kelancaran

: Artikulasi cukup jelas

Kecepatan : Sedang

Sikap terhadap pemeriksa


Kooperatif, kontak mata sewajarnya, sesekali termenung beberapa
detik sebelum menjawab pertanyaan.

5.

6.

Afek dan Mood


a. Mood

: Hipotimia

b. Ekspresi afek

: Menyempit

c. Keserasian

: Tidak serasi

Gangguan persepsi
a. Auditorik

: Ada

b. Visual

: Tidak ada

c. Taktil

: Ada

d. Olfaktorius

: Tidak ada

e. Gustatorik

: Tidak ada

f. Ilusi

: Tidak ada

g. Derealisasi

: Tidak ada

h. Depersonalisasi

: Tidak ada

7.

Gangguan pikir
a. Proses / bentuk pikiran
i. Produktivitas
ii.

: Cukup ide

Kontuinitas

Blocking

: Tidak ada

Assosiasi longgar

: Tidak ada

Inkoherensi

: Tidak ada

Fligh of idea

: Tidak ada

Word salad

: Tidak ada

Neologisme

: Tidak ada

b. Isi pikir
1) Preokupasi

: Tidak ada

2) Gangguan isi pikir


Waham kebesaran : Tidak ada
Waham kejar

: Ada

Waham rujukan

: Tidak ada

Waham dikendalikan

: Tidak ada

Waham cemburu

: Tidak ada

Waham bizzare

: Tidak ada

10

Obsesif

: Tidak ada

Compulsif

: Tidak ada

Fobia

: Tidak ada

8. Fungsi Kognitif dan Sensorium


a. Kesadaran

: Compos Mentis

b. Orientasi

Waktu

: Baik (pasien dapat menyebutkan tanggal dan


tahun)

Tempat

: Baik (pasien mengetahui berada di rumah sakit,


daerah jakarta, dan negara indonesia)

Orang

Baik

(pasien

dapat

menyebutkan

nama

pemeriksa dan nama orang tuanya)


c.

Daya ingat
1)

Daya ingat panjang

: Baik (pasien mampu mengingat

masa kecilnya)
2)

Daya ingat sedang

: Baik (pasien mampu mengingat

tanggal masuk ke RSJI - Klender)


3)

Daya ingat pendek

: Baik (pasien mampu mengingat 3

benda dan dapat mengulangnya kembali setelah 5 menit


diajak bicara)
4)

Daya ingat segera

: Baik (pasien dapat mengulang

angka yang baru saja disebutkan)

11

d.

Konsentrasi : Baik (pasien dapat menghitung 100 -7 dan


seterusnya)

e. Perhatian : Baik
f.

Kemampuan

visuospasial

Baik

(pasien

mampu

menggambarkan segi lima dan jam dinding yang terdapat


dibangsal)
g. Intelegensi dan Pengetahuan umum : Baik (pasien mengetahui nama
Presiden RI)
h.

Pemikiran Abstrak

Baik

(pasien

mampu

mengartikan

ungkapan tangan panjang)

9.

Daya nilai
a. Penilaian sosial

: Baik (pasien mampu mengenal dan bersosialisasi

dengan pasien lain)


b. Uji Daya Nilai

: Baik (pasien mengatakan bahwa mengambil hak

orang lain itu tidak baik)


10. Test Ability (RTA )

: Terganggu

11. Tilikan

: Derajat 1

12. Taraf dapat dipercaya

: Dapat dipercaya

B. STATUS FISIK
1.

Status Internus

Keadaan umum : Tampak sehat

Kesadaran

: Compos Mentis

12

2.

Tanda vital:
Tekanan Darah

: 130/80 mmHg

Suhu

: 36 oC

Nadi

: 87 kali/menit

Pernafasan

: 20 kali/menit

Status Neurologi

Gangguan rangsang Meningeal : (-)

Mata

Gerakan

: Baik ke segala arah

Bentuk Pupil

: Bulat isokor

Reflek cahaya

: +/+ (langsung, tidak langsung)

Motorik

Tonus

: Baik

Turgor

: Baik

Kekuatan

: Baik

Koordinasi

: Baik

Refleks

: Tidak dilakukan

C. IKHTISAR PENEMUAN BERMAKNA

13

Dari anamnesis ditemukan bahwa pasien tidak pernah berobat kedokter


dan tidak pernah meminum obat sejak 8 bulan yang lalu, Pasien ditemukan
susah tidur, gelisah dan berbicara sendiri, Pasien menjadi mudah tersinggung
serta menjadi sering marah-marah. Pasien mengaku pernah mendengar
bisikan-bisikan yang membuat pasien merasa dikendalikan serta pasien
sering merasa curiga terhadap suami ketiga, anak dan tetangganya yang akan
mencelakai bahkan membunuhnya. Serta pasien juga mengaku mencurigai
suami ketiga pasien tersebut berselingkuh. Pasien juga jarang keluar rumah.

Pada pemeriksaan didapatkan :


1. RTA

: Terganggu

2. Kesadaran

: Compos Mentis

3. Mood

: Hipotimia

4. Ekspresi Afek

: Menyempit

5. Gangguan pikir

: Cukup ide

6. Gangguan persepsi

: Riwayat halusinasi auditorik, halusinasi taktil dan

waham rujukan.
7. Tilikan

: Derajat 1

D. FORMULASI DIAGNOSIS
Pada pasien terdapat pola perilaku atau psikologis yang secara bermakna
dan khas berkaitan dengan suatu gejala yang menimbulkan gangguan
persepsi suara yang keliru (halusinasi auditorik dan halusinasi taktil).
Terdapat pula kepercayaan atau keyakinan yang keliru bahwa suami ketiga,
anak dan tetangga pasien selalu ingin mencelakai bahkan membunuh pasien (
waham kejar). Dengan demikian dapat disimpulkan pasien mengalami
gangguan jiwa.

14

E. Diagnosis AKSIS I

Pada anamnesis didapatkan pasien mudah tampak tenang dan kooperatif.


Pada pemeriksaan status mental didapatkan : Mood : hipotimia , Afek :
menyempit. Gangguan proses pikir : halusisnasi auditorik dan halusinasi
taktil, Dan miskin ide. Gangguan isi pikir : Waham kejar. Tilikan : Derajat 1,
Taraf dapat dipercaya : dapat dipercaya.

Memenuhi kriteria umum diagnosis skizofrenia

Kriteria Diagnosis Skizofrenia

Hasil

1. Harus ada satu gejala berikut yang amat jelas:


a.Thought echo, Thought insertion or thought

Tidak ada

withdrawal, Thought broadcasting.


b.Delusion of control, Delusion of influence, Delusion
of pasivity, Delusional perseption.
c.Halusinasi auditorik
d.Waham - waham menetap jenis lain yang dianggap

Tidak ada
Ada
Ada

penduduk setempat dianggap tidak wajar atau


mustahil.

15

2.) Atau paling sedikit dua gejala dibawah ini yang

harus selalu ada secara jelas:


Halusinasi yang menetap dari panca indera apa

saja.
Arus pikir yang terputus atau mengalami sisipan

yang berakibat inkoherensi atau neologisme.


Perilaku katatonik
Gejala-gejala negatif.
3.) Adanya gejala-gejala khas tersebut diatas

Ada
Tidak Ada
Tidak Ada
Ada
Terpenuhi

berlangsung selama kurun waktu satu bulan atau


lebih.

Ada

4.) Harus ada suatu perubahan yang konsisten dan


bermakna dalam mutu keseluruhan dari beberapa
aspek perilaku pribadi.
Kriteria Diagnosis Skizofrenia Paranoid
Memenuhi kriteria umum diagnosis

Hasil
Terpenuhi

skizofrenia.
Sebagai tambahan
a) Halusinasi dan / atau waham
harus menonjol.
(1) Suara-suara halusinasi yang
mengancam

pasien

Ada

atau

memberi perintah pasien,


atau

halusinasi

auditorik

tanpa bentuk verbal berupa


bunyi

pluit

(whistling)

mendengung

(humming)

Ada

atau bunyi tawa (laughing)


(2) Halusinasi pembauan atau
pengecapan

rasa

atau

bersifat seksual, atau lainlain

perasaan

tubuh;

halusinasi visual mungkin


ada

namun

jarang
16

menonjol.
(3) Waham
dapat

Ada
berupa

hampir setiap jenis, tetapi


waham

dikendalikan

(delusion

of

dipengaruhi
influence)

control)

(delusion
atau

of

passivity

atau (delusion of passivity)


dan keyakinan dikejar-kejar
yang

beraneka

ragam

adalah yang paling khas.


b) Gangguan afektif, Dorongan
kehendak

dan

pembicaraan

Ada

disertai gejala katatonik secara


relative tidak nyata / tidak
menonjol.

AKSIS II

: Tidak ditemukan gangguan kepribadian

AKSIS III

: Tidak ditemukan gangguan pada kondisi medis umum

AKSIS IV

: Masalah dengan primary support group masalah


lingkungan sosial

AKSIS V

: GAF (Penilaian Fungsi secara Global )


Skala GAF 70-61 beberapa gejala ringan & menetap.
Disability ringan dalam fungsi, secara umum baik

F. EVALUASI MULTIAKSIS

17

Aksis I

: Skizofrenia paranoid

Aksis II

: Tidak ada diagnosis

Aksis III

: Tidak ada diagnosis

Aksis IV

: Primary support group disorder

Aksis V

: Skala GAF 70 - 61

G. DIAGNOSIS KERJA

: SKIZOFRENIA PARANOID

H. PROGNOSIS

Quo ad Vitam

: Dubia ad bonam

Quo ad Functionam

: Dubia ad bonam

Quo ad Sanationam

: Dubia ad malam

I. RENCANA TERAPI
1. Farmakoterapi

Anti psikotik : Risperidon 2 mg 2x1 tab

2. Psikoterapi
Suportif :

Mengingatkan pasien untuk rajin minum obat secara teratur dan


kontrol dengan rutin setelah pulang dari perawatan.

Mengisi waktu luangnya dengan kegiatan yang bermanfaat

Menghidupkan motivasi dalam diri pasien

Terapi Religius :

Memotivasi pasien untuk selalu taat beribadah


18

Terapi Keluarga :

Menjelaskan pada kelurga mengenai kondisi pasien yang sebenarnya,


agar keluarga dapat membantu dan mendukung rencana terapi.

Memotivasi keluarga pasien untuk memperlakukan pasien sebagai


bagian dari anggota keluarga.

Edukasi :

Keteraturan meminum obat dengan pantauan keluarga

Keluarga mengetahui tanda tanda kekambuhan

19