Anda di halaman 1dari 24

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA
2.1 KUNJUNGAN DENTAL
Banyak orang menghindari perawatan gigi termasuk anak-anak. Mereka merasa
takut terhadap kunjungan ke dokter gigi yang secara rutin akan menyakitkan. Para
dokter gigi harus menggunakan setiap kesempatan untuk membantu pasien atau
orang tua mengatasi masalah ini agar menciptakan perawatan gigi yang efektif. 2
Kunjungan pertama harus dilangsungkan sedemikian rupa sehingga menciptakan
pengalaman yang menyenangkan bagi anak dan harus bertujuan terutama sebagai
tahap pengenalan yaitu dokter gigi mengenali anak, dan anak mengenali dokter gigi
serta lingkungan dimana dia dirawat.
Tujuan kunjungan yang pertama adalah sebagai berikut:
1) Untuk menciptakan komunikasi yang baik antara dokter gigi, anak dan orang tua
2) Untuk mendapatkan keterangan yang penting (riwayat pasien)
3) Memeriksa anak dan untuk mendapatkan foto rontgen bila perlu
4) Melakukan prosedur perawatan sederhana
5) Untuk menjelaskan tujuan perawatan pada anak dan orang tua
Pada umumnya pasien merasa cemas pada kunjungan pertama ke dokter gigi
sehingga penataan kecemasan merupakan hal yang penting bagi seorang dokter gigi.
Pada pertemuan dengan anak dan orang tua, dokter gigi harus menciptakan
komunikasi yang bersahabat sekaligus mencari informasi mengenai riwayat pasien.

Idealnya, pertemuan ini tidak dilakukan di dalam ruang perawatan tetapi di ruangan
lain; jika dalam ruang perawatan, sebaiknya menyediakan kursi bagi anak bukan
mendudukkannya pada kursi perawatan gigi. Pendekatan ini memungkinkan dokter
gigi mengenali dan menghilangkan kecemasan anak sebelum anak berubah menjadi
tegang.
Orang tua sebaiknya menemani anak ke dokter gigi agar dapat menceritakan
riwayat lengkap, hal-hal terinci yang mungkin tidak dapat diperoleh dari anak. Anak
yang sangat muda dan takut biasanya memerlukan bantuan moral orang tua dalam
ruang perawatan, setidak-tidaknya pada kunjungan yang pertama. Pada kunjungan
berikutnya, dokter gigi harus memutuskan apakah orang tua perlu menemani anak
dalam perawatan atau menunggu saja di ruang tunggu. Beberapa dokter gigi tanpa
kecuali menuntut agar anak ditinggal sendiri, sedang yang lain lebih fleksibel dan
mendasarkan keputusan pada usia dan perilaku anak serta pada karakter orang tua. 1
Kunjungan ke dokter gigi bagi pasien anak merupakan hal yang penting
terutama kunjungan pertama. Bila kunjungan pertama sudah berhasil dengan baik
maka kunjungan berikutnya akan menjadi kunjungan yang menyenangkan bagi anak.
Kunjungan pertama ini sering disebut sebagai kunci keberhasilan perawatan dan
merupakan dasar yang nyata bagi dokter gigi. Untuk mencapai tujuan ini perawatan
harus dilangsungkan sedemikian rupa sehingga menjadi pengalaman yang
menyenangkan dan anak akan mengenali dokter gigi dan lingkungannya, 9

2.2 KECEMASAN DENTAL


2.2.1 Definisi Kecemasan Dental
Kecemasan (anxiety) menurut kamus Kedokteran Dorland adalah keadaan
emosional yang tidak menyenangkan, berupa respon-respon psikofisiologis yang
timbul sebagai antisipasi bahaya yang tidak nyata atau imajiner, tampaknya
disebabkan oleh konflik intrapsikis yang tidak disadari.10
Kecemasan dianggap sebagai keadaan atau kondisi afektif tidak menyenangkan,
ditandai dan sering ditutupi dengan kata, 'kegelisahan'. 11 Kecemasan adalah perasaan
tidak menyenangkan yang samar, disertai bayangan bahwa sesuatu yang tidak
diinginkan akan segera terjadi. Hal ini merupakan definisi subyektif berdasarkan
perasaan orang. Ahli psikologi lain lebih suka menggunakan definisi tingkah laku,
yaitu bahwa kecemasan dapat dilihat dari tindakan seseorang. Tindakan ini berupa
menghindari kunjungan ke dokter gigi atau enggan membolehkan dokter gigi
menggunakan peralatannya.12
Kecemasan dental menurut Klingberg dan Broberg adalah suatu keadaan tentang
keprihatinan bahwa sesuatu mengerikan akan terjadi yang dihubungkan dengan
perawatan gigi atau aspek tertentu dari perawatan gigi. 4 Kecemasan dental
merupakan keadaan yang sangat ekstrim dan banyak orang memiliki tingkat
kecemasan dental terutama jika mereka tidak pernah mengalami sebelumnya. 13
Menurut Kent dan Blinkhorn melaporkan bahwa kecemasan adalah perasaan
tidak menyenangkan jelas disertai dengan firasat bahwa sesuatu yang tidak
diinginkan akan terjadi. 2

Kecemasan merupakan faktor psikologis afektif yang mempengaruhi persepsi


rasa nyeri. Pada banyak kasus nyeri akut seperti pulpitis, kecemasan banyak
berhubungan dengan meningkatnya kejadian rasa nyeri yakni tidak hanya
menurunkan ambang rasa nyeri pasien tetapi juga pada kenyataannya mengakibatkan
persepsi yang seharusnya tidak nyeri menjadi nyeri, bahkan pada kondisi yang
berbeda, seorang pasien dapat menunjukkan reaksi yang berbeda meskipun
rangsangan sama. Kecemasan pasien memberikan efek negatif terhadap prosedur
perawatan yang akan dilakukan. Kecemasan dalam praktek dokter gigi merupakan
halangan yang sering mempengaruhi perilaku pasien dalam perawatan gigi. Telah
diketahui bahwa banyak pasien menjadi cemas sebelum dan sesudah perawatan.
Pasien yang menunggu perawatan pada umumnya cemas dan kecemasan dapat
meningkat oleh persepsi pasien tentang ruang praktik sebagai lingkungan yang
mengancam, tentang perawat, cahaya, bunyi, dan bahasa teknis yang asing bagi
pasien.5
Kecemasan dental digambarkan sebagai keadaan cemas yang terjadi pada
prosedur perawatan dental dan hal itu akan menimbulkan dugaan negatif yang sering
dihubungkan dengan pengalaman trauma dini, sikap negatif dari keluarga, dan
persepsi pada perawatan dental sebelumnya.6,14
Kecemasan merupakan fenomena psikologis yang sulit untuk diukur karena
pasien bisa saja menyembunyikan perasaan mereka terhadap perawatan dental, jarum
suntik dan perawatan lainnya. Kecemasan dental menduduki peringkat kedua yang
dapat menjadi kendala bagi dokter gigi dalam melakukan suatu tindakan dental. 12, 14

TABEL 2.1 Masalah yang Dapat Menjadi Kendala bagi Dokter Gigi dalam Urutan
Frekuensi
Urutan

Masalah

Peringkat
1
Hubungan dokter digi-pasien
2

Kecemasan pasien

Pencegahan

Perasaan pribadi dokter gigi

Harapan pasien yang tidak sesuai dengan kenyataannya

Manajemen praktik

7
8

Masalah tingkah laku anak


Konflik dengan orang tua tentang perawatan anak

Rasa sakit pasien

Sumber: Kent GG, Blinkhorn AS. Pengelolaan tingkah laku pasien pada praktik dokter gigi.
Jakarta : EGC;2005.hal.2

2.2.2 Etiologi Kecemasan Dental


Etiologi Kecemasan dental dapat dikelompokkan menjadi 3 besar yaitu: faktor
personal, faktor eksternal, dan faktor dental.
1) Faktor Personal
Faktor personal meliputi: usia, kecemasan secara umum, temperamen
(emosional). Usia anak dapat dihubungkan dengan kecemasan dental dan masalah
perilaku anak. Kecemasan dental serta masalah perilaku anak pada umumnya terjadi
pada anak-anak dalam merefleksikan pengaruh perkembangan psikologi anak dalam
kemampuannya menghadapi perawatan dental. Anak kecil akan merasa dan mengerti
situasi dental yang tentu akan berbeda dengan orang dewasa. Alasan utamanya yaitu

proses memahami dan motivasi untuk taat terhadap perawatan dental memerlukan
kesiapan anak itu sendiri. 8
Kesiapan anak mencakup kemungkinan bahwa secara bawaan orang cenderung
menjadi cemas terhadap perawatan gigi. Penelitian epidemiologi terhadap sumber
kecemasan menunjukkan bahwa ada situasi tertentu yang membuat orang cenderung
merasa cemas dibanding situasi lain. Sebenarnya manusia secara bawaan disiapkan
untuk cemas untuk menghindari objek yang akan menjadi ancaman bagi mereka.12
Temperamen ialah kualitas emosional personal bawaan yang cenderung stabil.
Temperamen juga dipercaya merupakan pengaruh genetik. Kecenderungan dari
temperamen ialah sifat pemalu yang ditemukan pada 10% populasi anak.
Dikarakteristikan dengan kecenderungan sulit beradaptasi dalam situasi baru. Hal ini
tampak jelas saat bertemu dengan orang asing. Kecenderungan temperamen adalah
emosi negatif seperti mengangis, takut, dan marah. Dua kecenderungan temperamen
yaitu sifat malu dan emosi negatif telah dihubungkan dengan rasa cemas terhadap
perawatan dental.8
Faktor personal lain seperti jenis kelamin juga turut berperan dalam tingkat
kecemasan dental yaitu anak perempuan cenderung memiliki tingkat kecemasan
dental yang lebih tinggi dibandingkan anak laki-laki. 4,14-16
Prevalensi kecemasan dental pada anak usia 11-14 tahun adalah 7,1% dengan
tingkat kecemasan tertinggi pada anak perempuan dan pada anak dengan tingkat
sosial yang rendah.15
2) Faktor Eksternal

10

Faktor eksternal terdiri dari: kecemasan orang tua, situasi sosial dalam keluarga,
latar belakang etnik keluarga, pola asuh orang tua, peran lingkungan sosial.
Prevalensi kecemasan dental dilaporkan berkisar antara 5-20% di berbagai negara.
Beberapa penelitian melaporkan bahwa kecemasan dental pada anak secara
signifikan dihubungkan dengan kecemasan orang tua.7, 8
Dalam beberapa tahun terakhir, telah menjadi kebiasaan untuk ibu, lebih sering
daripada ayah, untuk menemani anak ke dokter gigi. Untuk alasan ini, efek
kecemasan ibu pada kunjungan ke dokter gigi terhadap anak-anak telah memberi
cukup perhatian dalam literatur dalam kedokteran gigi. Sebagian besar penelitian
menunjukkan terdapat korelasi antara kecemasan ibu dan kooperatif anak pada
kunjungan pertama. Orang tua yang memiliki tingkat kecemasan yang tinggi
cenderung mempengaruhi perilaku anak-anak dan lebih mengarah pada perilaku
negatif. Dengan kata lain, orang tua yang cemas terhadap perawatan gigi cenderung
memiliki anak-anak yang cemas juga. 2,12,17
Anggota keluarga yang lain juga dapat mempengaruhi kecemasan anak misalnya
anggota keluarga yang cemas dijadikan contoh pada anak-anak yang belum pernah
ke dokter gigi yang konsekuensinya dapat mempengaruhi kunjungan ke dokter gigi.12
Pengalaman dental dari teman dan saudara (vicarious learning) juga dapat
menyebabkan kecemasan dental pada anak. Banyak orang yang belum mendapatkan
perawatan dental tetapi merasa cemas. Anak dapat belajar dari cerita teman seusianya
yang bermasalah pada giginya. Rasa takut untuk merasakan sakit secara umum
ditemukan pada anak sehingga sering menimbulkan kecemasan tersendiri pada
anak.8,17

11

Faktor eksternal lainnya yaitu keadaan sosial. Kelompok anak dengan status
sosial ekonomi rendah memperlihatkan tingginya prevalensi kecemasan dental dan
masalah perilaku.8,15
3) Faktor Dental
Faktor dental terdiri dari: Rasa sakit dan lingkungan dental (pengalaman dental).
Anak yang cemas selama kunjungan dental berhubungan dengan pengalaman
traumatik atau prosedur dental yang tidak menyenangkan cenderung tidak kooperatif
dan begitupun sebaliknya, anak-anak yang memiliki pengalaman medis yang positif
lebih cenderung bersikap kooperatif dengan dokter gigi.2,8
Salah satu penyebab kecemasan dental dan masalah perilaku saat perawatan gigi
ialah rasa sakit yang ditimbulkan dari perawatan. Rasa sakit didefinisikan sebagai
pengalaman tidak menyenangkan yang disebabkan karena kerusakan jaringan atau
oleh ancaman kerusakan itu. Sensasi tidak harus disebabkan oleh kerusakan jaringan,
tetapi juga oleh kondisi stimuli seperti suara bur dan jarum. Hal ini disebabkan
karena secara normal rasa sakit menimbulkan reaksi fisiologi dan psikologi untuk
melindungi tubuh dari kerusakan jaringan, perilaku tidak kooperatif. Ini reaksi yang
wajar saat anak merasakan sakit atau ketidaknyamanan.8
Pemahaman anak terhadap rasa sakit sangat bervariasi tergantung kemampuan
kognitif, reaksi dan pemikiran anak terhadap stimuli yang bervariasi bergantung usia
dan kematangan. Faktor tambahan lain seperti perkembangan sosio-emosional,
keluarga dan situasi social, dukungan orang tua, hubungan dengan tim dental
mempengaruhi bagaimana anak menhadapi stress, rasa sakit, dan ketidaknyamanan.8

12

Anak-anak yang berkunjung tidak teratur dan menerima prosedur perawatan


selama waktu tertentu menunjukkan peningkatan kecemasan, sedangkan tingkat
kecemasan bagi mereka yang berkunjung secara teratur dan mengalami beberapa
prosedur perawatan invasif tidaklah berubah. Namun, anak-anak yang tidak pernah
menerima perawatan invasif, baik mereka berkunjung secara teratur atau tidak,
adalah menunjukkan kecemasan paling tinggi.12
2.2.3 Gejala-Gejala Kecemasan
Tanda fisiologis cemas mencakup denyut jantung bertambah cepat, perubahan
laju pernapasan, berkeringat, gemetar, lemas dan lelah; tanda psikologis meliputi
perasaan-perasaan akan ada bahaya, tidak berdaya, khawatir dan tegang serta mulut
kering.10
Suatu penelitian menunjukkan perubahan denyut jantung pada kondisi di ruang
praktik dengan menggunakan elektrode. Ketika dokter gigi berganti pakaian dengan
pakaian praktik, detak jantung anak-anak meningkat 10 detak per menit di atas
keadaan awal dan 12 detak per menit ketika unit kursi gigi dinaikkan. Ketika
pemeriksaan selesai, denyut jantung anak rata-rata menurun 3 detak permenit di
bawah keadaan awal.12

TABEL 2.2 Perubahan Denyut Jantung Rata-Rata dari Keadaan Awal Anak yang
Baru Pertama Kali Ke Dokter Gigi.
Aktivitas

Perubahan dalam denyut jantung

13

Dokter gigi memakai baju praktik


Pernyataan saya dokter gigi

(detak per menit)


+10
+15

Unit kursi gigi dinaikkan


Mengatur lampu
Memeriksa keadaan dalam mulut
Akhir pemeriksaan

+12
+10
-1
-3

Sumber: Kent G.G and Blinkhorn AS. Pengelolaan tingkah laku pasien pada praktik dokter gigi.
Jakarta : EGC;2005.hal.71

Menurut Daradjat, gejala-gejala kecemasan dapat dibagi menjadi dua, meliputi:18


1) Gejala kecemasan secara fisiologis, seperti: ujung-ujung jari terasa dingin,
pencernaan menjadi tidak teratur, detak jantung bertambah cepat, keringat
bercucuran, tidur tidak nyenyak, nafsu makan hilang dan sesak nafas.
2) Gejala kecemasan secara psikologis, seperti : adanya rasa takut, perasaan akan
ditimpa bahaya, tidak mampu memusatkan perhatian, tidak berdaya, rasa rendah
diri, hilangnya kepercayaan diri, da nmerasa tidak tenteram, perasaan waspada
akan adanya bahaya yang terjadi di masa depan.

Pendapat lain tentang gejala kecemasan juga diungkapkan oleh Nevid, dkk
adalah:19
1)

Gejala fisik, meliputi gelisah, anggota tubuh bergetar, banyak berkeringat,


gangguan sakit perut, sulit bernafas, mulut terasa kering, sulit bicara, kepala
pusing, jantung berdebar kencang, suara gemetar, lemas, sulit menelan, tubuh
panas dingin, sering buang air kecil.

2) Gejala perilaku, meliputi perilaku menghindar, perilaku bergantung dan perilaku


terguncang.

14

3) Gejala kognitif, meliputi berpikir bahwa dunia akan runtuh, penuh kekhawatiran
akan sesuatu, berpikir bahwa semua akan lepas dari genggaman, memikirkan
hal-hal yang kecil, memikirkan sesuatu yang dirasa mengganggu secara terus
menerus, sulit berkonsentrasi atau fokus pada satu masalah.

2.2.4 Pengaruh Kecemasan terhadap Perawatan Dental


Kecemasan dental harus menjadi perhatian bagi profesi dokter gigi karena dapat
menyebabkan stress bagi dokter gigi. Salah satu sumber utama stres bagi para
praktisi gigi umum 'menghadapi pasien yang sulit'. Dokter gigi tidak ingin dianggap
sebagai orang yang menimbulkan kecemasan pada masyarakat umum.2
Secara umum, pasien yang cemas cenderung bersikap tidak kooperatif selama
kunjungan dental atau bahkan membatalkan janji dengan dokter gigi. Pasien yang
cemas cenderung untuk mencegah dan menolak perawatan atau bahkan membatalkan
janji dengan dokter. Sebagai tambahan, pasien dengan kecemasan dental sering
memiliki kesehatan mulut yang rendah daripada pasien yang tidak cemas. 7,20
Kecemasan dental dapat mempengaruhi status kesehatan gigi dari individu dan
hubungan antara pasien dan dokter gigi yang dapat menyebabkan kesalahan
diagnosis dan keterlambatan perawatan. Anak-anak usia sekolah mungkin
menunjukkan kecemasan mereka dengan mengeluh sakit perut atau dengan sering
meminta untuk pergi ke kamar kecil, sementara anak-anak yang lebih tua mungkin
mengeluh atau sakit kepala atau pusing dan mungkin tidak bisa diam atau gagap. 6,17

15

2.2.5 Pengukuran Kecemasan Dental


Kecemasan dental paling sering diukur dengan menggunakan kuesioner dan
skala rata-rata. Kuesioner dapat digunakan pada remaja dan orang dewasa sebab
dipengaruhi oleh keterbatasan vokabulari, pemahaman dan perkembangan anak.15
Beberapa alat ukur kecemasan dental pada anak yang sering digunakan yaitu:
1) Dental Anxiety Scale (DAS)
Dental Anxiety Scale (DAS) yang dipublikasikan oleh Corah untuk menilai
kecemsan dental merupakan prediksi yang dapat dipercaya, sah dan bermanfaat pada
pasien yang cemas terhadap perawatan dental.13
Partisipan menjawab 4 pertanyaan pilihan ganda dengan 5 pilihan jawaban.
Pertanyaan terdiri dari beberapa situasi atau prosedur yang ditemukan di klinik gigi.
Setiap pilihan jawaban memiliki skor A=1, B=2, C=3, D=4, E=5; dengan pilihan A
menunjukkan pasien tidak cemas dan pilihan E menunjukkan tingkat maksimum dari
kecemasan dental. Total skor dari Norman Corah Scale berkisar antara 4-20 dan ratarata kecemasan diklasifikasikan sebagai: 6,7
4-8 = tidak cemas
9-12 = sedang
13-14 = tinggi
15-20 = sangat cemas
Contoh Kuesioner DAS16
1. Jika besok Anda harus ke dokter gigi, bagaimana perasaanmu?
a. Saya akan mengharapkan saat tersebut karena ini adalah pengalaman yang
menyenangkan

16

b. Saya tidak peduli sama sekali


c. Saya akan sedikit merasa khawatir tentang hal itu
d. Saya takut hal tersebut tidak menyenangkan dan menimbulkan rasa sakit
e. Saya sangat takut memikirkan apa yang akan dikerjakan oleh dokter gigi.
2. Ketika Anda sedang menunggu giliran di ruang tunggu praktik dokter gigi,
bagaimana perasaan kamu?
a. Santai
b. Sedikit khawatir
c. Tegang
d. Cemas
e. Sangat cemas sehingga saya bermandi keringat atau bahkan hamper
merasakan sakit secara fisik
3. Ketika Anda berada di dental unit sambil menunggu dokter gigi mengambil
bor gigi untuk memulai bekerja di dalam mulut Anda, bagaimana
perasaanmu?
a.

Santai

b.

Sedikit khawatir

c.

Tegang

d.

Cemas

e.

Sangat cemas sehingga saya bermandi keringat atau bahkan hamper


merasakan sakit secara fisik

17

4. Bayangkan Anda berada di dental unit untuk membersihkan gigi Anda. Saat
kamu menunggu dokter gigi atau perawat gigi mengambil peralatan yang
akan digunakan untuk pada gigi kamu. Apa yang anda rasakan?
a. Santai
b. Sedikit khawatir
c. Tegang
d. Cemas
e. Sangat cemas sehingga saya bermandi keringat atau bahkan hampir
merasakan sakit secara fisik
DAS sangat popular diantara alat ukur kecemasan dental lainnya. DAS
merupakan alat ukur yang sangat sederhana, mudah untuk dinilai, singkat, sah dan
dapat dipercaya untuk penilaian kuantitatif pada kunjungan dental yang dihubungkan
dengan kecemasan.17,21
2) Modified Child Dental Anxiety Scale (MCDAS)
Modified Child Dental Anxiety Scale (MCDAS) merupakan alat untuk menilai
kecemasan dental pada anak. Skala terdiri dari 8 pertanyaan dengan meminta anak
mengingat tentang prosedur perawatan gigi yang pernah dialami yaitu: 15
a.

berkunjung ke dokter gigi secara umum

b.

pemeriksaan gigi

c.

scaling dan polishing

d.

anestesi lokal

e.

restorasi gigi

f.

pencabutan gigi

18

g.

perawatan gigi dengan penggunaan sedasi inhalasi

h.

perawatan gigi dengan penggunaan anesetesi umum

3) Facial Image Scale (FIS)


Facial Image Scale (FIS) merupakan alat untuk mengukur kecemasan dental
pada anak dan terdiri dari deretan dari 5 gambar wajah dari sangat senang ke sangat
tidak senang (skor berkisar dari 1-5; 5 diindikasikan pada anak dengan kecemasan
paling tinggi). Studi validitas menunjukkan bahwa FIS cocok untuk mengukur
tingkat kecemasan dental pada anak. Anak diberi pertanyaan bagaimana perasaan
kamu sekarang? dan diminta untuk menyatakan jawabannya pada salah satu deretan
gambar wajah pada kertas. Alat ukur ini dipilih sebagai alat ukur dalam menilai
kecemasan dental pada anak karena didasarkan pada sifat gambar yang sederhana
dan mudah untuk dimengerti oleh anak-anak.22,23

Gambar 2.1. Facial Image Scale


Sumber: Raducanu AM, Feraru V, Hertieliu C, Anghelescu R. Assessment of the prevalence of
Dental fear and its causes among children and adolescents attending a departement of pediatric
dentistry in Bucharest. OHDMSSC. 2009; VIII(1):42-9.

4) The Modified Dental Anxiety Scale (MDAS)

19

Modified Dental Anxiety Scale merupakan alat ukur yang memiliki keabsahan
tinggi, dan dapat dipercaya, dengan sistem jawaban yang lebih sederhana dan lebih
konsisten. Modified Dental Anxiety Scale digunakan untuk mengukur kecemasan
dental pada studi tertentu.21
Selain itu, jawaban disederhanakan untuk menemukan angka dari tidak cemas ke
sangat cemas. MDAS terdiri dari 5 Pilihan ganda diantaranya:
1 = Jika kamu ke dokter gigi untuk perawatan besok, bagaimana perasaanmu?
2 = Jika kamu sedang duduk di ruang tunggu, bagaimana perasaanmu?
3 = Jika kamu mempunya gigi yang akan dibor, bagaimana perasaanmu?
4 = Jika kamu mempunyai gigi yang akan discalling dan dipolishing, bagaimana
perasaanmu?
5 = Jka kamu gusi kamu diberi anestesi lokal, bagaimana perasaanmu?
Angka dari setiap jawaban dari pertanyaan dijumlah untuk memberi nilai
estimasi dari suatu kecemasan dental.20
5) Venham Picture Test (VPT)
Venham Picture Test terdiri dari 8 kartu dengan dua tokoh disetiap kartu. Tokoh
pertama menunjukkan rasa cemas dan tokoh yang lainnya menunjukkan rasa tidak
cemas. Anak diminta untuk memilih salah satu tokoh pada setiap kartu. Jika anak
memilih Tokoh cemas maka diberi angka 1 dan jika anak memilih tokoh tidak cemas
maka diberi angka 0. (Skor minimum 0 dan maksimum 8).12

20

Gambar 2.2. Venham Picture Test


Sumber: Sumber: Kent GG, Blinkhorn AS. Pengelolaan tingkah laku pasien pada praktik
dokter gigi. Jakarta : EGC;2005.hal.69

2.3 PERTUMBUHAN DAN PERKEMBANGAN ANAK USIA SEKOLAH (6-12


TAHUN)
Umur 6-12 tahun ditandai dengan peningkatan sikap tanggung jawab oleh anakanak. Kebutuhan untuk bertanggung jawab atas tugas-tugas pekerjaan rumah dan
rumah tangga cenderung terjadi selama ini. Selain itu, anak dapat mulai memikul
tanggung jawab lebih untuk kesehatan mulut tetapi keterlibatan orang tua masih
diperlukan sebagai pengawas aktif dalam menjaga perilaku kebersihan mulut anak.2

21

Pada usia ini, konsumsi bahan fluoride, seperti yang terkandung dalam pasta
gigi, atau pada gel dapat diaplikasikan karena anak sudah bisa meludah dengan baik.
Tentu saja penggunaan pasta gigi fluoride sangat penting, namun, gel fluoride dapat
disediakan untuk anak-anak beresiko untuk karies. Selain itu, penggunaan obat
kumur chlorhexidine diperkenalkan kepada anak yang berisiko terhadap penyakit
periodontal dan karies. 2
Pada kelompok usia ini, perhatian khusus terhadap kebersihan mulut sangat
diperlukan karena kelompok usia ini berisiko mengalami penyakit periodontal
maupun karies gigi. 2
Pertumbuhan dan perkembangan pada usia sekolah:24,25
1) Usia 6 Tahun
a. Fisik dan Motorik
-

Penambahan berat badan dan pertumbuhan berlanjut dengan lambat

Berat badan : 16-23,6 kg; tinggi:106,6-123,5 cm

Erupsi gigi M1 rahang atas dan rahang bawah, erupsi gigi insisivus
sentral rahang bawah

Peningkatan bertahap dalam ketangkasan

Usia aktivitas; aktivitas kontan

Sering kembali menggigit jari lebih menyadari tangan sebagai alat

Suka menggambar, menulis dan mewarnai

Penglihatan mencapai maturasi

b. Mental
-

Mengembangkan konsep angka

22

Menghitung uang logam

Mengetahui pagi atau malam

Mendefinisikan objek umum seperti garpu dan kursi dalam istilah


penggunaannya

Mematuhi tiga macam perintah sekaligus

Mengetahui tangan kanan dan tangan kiri

Mengatakan bagaimana yang cantik dan mana yang jelek dari segi
gambar wajah

Menggambarkan objek dalam gambar daripada menyebutkannya satu


persatu

Masuk kelas 1 SD

c. Personal-Sosial
-

Dapat berbagi dan bekerja sama dengan lebih baik

Mempunyai kebutuhan yang lebih besar untuk anak-anak seusianya

Akan curang untuk menang

Sering masuk dalam permainan kasar

Sering cemburu terhadap adik

Melakukan apa yang orang dewasa lakukan

Lebih mandiri, kemungkinan pengaruh sekolah

Mempunyai cara sendiri untuk melakukan sesuatu

Meningkatkan sosialiasi

2) Usia 7 Tahun
a. Fisik dan Motorik

23

Mulai tumbuh sedikitnya 5 cm setahun

Berat badan 17,7-30 kg; tinggi badan 111,8-129,7 cm

Erupsi gigi insisivus 1 sentral rahang atas dan gigi insisivus lateral
rahang bawah

Lebih waspada pada pendekatan penampilan baru

Mengulangi kineja untuk memahirkan

b. Mental
-

Memperhatikan bahwa bagian tertentu hilang dari gambar

Dapat meniru gambar permata

Ulangi tiga angka ke belakang

Mengulangi konsep waktu; membaca jam biasa atau jam tangan dengan
benar sampai seperempat jam terdekat; menggunakan jam untuk tujuan
yang praktis

Masuk kelas 2 SD

Lebih mekanis dalam membaca; sering tidak berhenti pada akhir kalimat.

Meloncati kata seperti ia, sebuah.

c. Personal-sosial
-

Menjadi anggota sejati kelompok keluarga

Mangambil bagian dalam kelompok bermain

Anak laki-laki lebih suka bermain dengan anak laki-laki dan anak
perempuan lebih suka bermain dengan anak perempuan

Banyak mengabiskan waktu sendiri; tidak memerlukan banyak teman

24

3) Usia 8-9 Tahun


a. Fisik dan Motorik
-

Melanjutkan pertumbuhan 5 cm dalam 1 tahun

Berat badan; 19,6-39,6 kg; tinggi badan 117-141,8 cm

Erupsi gigi insisivus lateral rahang atas dan rahang bawah

Aliran gerak: sering, lemah lembut dan tenang

Selalu terburu-buru; melompat, berlari, meloncat

Peningkatan kehalusan dan kecepatan dalam control motorik halus;


menggunakan tulisan sambung

Berpakaian lengkap sendiri

Suka melakukan sesuatu secara berlebihan, sukar diam setelah istirahat

Lebih lentur; tulang tumbuh lebih cepat daripada ligamen

b. Mental
-

Memberi kemiripan dan perbedaan antaraa dua hal dari memori

Menghitung mundur dari 20-1; memahami konsep kebalikan

Mengulang hari dalam seminggu dan bulan berurutan; mengetahui


tanggal

Menggambarkan objek umum dengan mendetail, tidak semata-mata


penggunaannya

Membuat perubahan lebih dari seperempatnya

Masuk kelas 3 dan 4

25

Lebih banyak membaca; berencana untuk mudah terbangun hanya untuk


membaca

Membaca buku klasik, tetapi juga menyukai komik

Lebih menyadari waktu; dapat dipercaya untuk pergi ke sekolah tepat


waktu

Dapat menangkap konsep ruang, penyebab dan efek, menggabungkan


puzzle

Mengklasifikasikan objek lebih dari satu kualitas; mempunyai koleksi

Menghasilkan gambar atau lukisan sederhana

c. Personal-sosial
-

Lebih senang berada di rumah

Menyukai sistem penghargaan

Mendramatisir keadaan

Lebih dapat bersosialisasi

Lebih sopaan

Tertarik pada hubungan laki-perempuan tetapi tidak terikat

Pergi ke rumah dan masyarakat dengan bebas, sendiri, atau dengan teman

Menyukai kompetisi dan permainan

Menunjukkan kesukaan dalam berteman dan berkelompok

Bermain paling banyak dalam kelompok dengan jenis kelamin yang


sama tetapi mulai bercampur

Mengembangkan kerendahan hati

Membandingkan diri sendiri dengan orang lain

26

Menikmati kelompok olahraga

4) Usia 10-12 Tahun


a. Fisik dan Motorik
-

Anak laki-laki : tumbuh lambat dalam tinggi dan penambahan berat


badan cepat; dapat menjadi kegemukan dari periode ini

Berat badan ; 24,3 58 kg; tinggi badan 127,5 162, 3 cm

Erupsi gigi premolar 1 rahang atas dan Rahang bawah, gigi premolar 2
rahang atas dan tahang bawah serta gigi caninus rahang bawah

Postur tubuh lebih serupa dengan orang dewasa; akan mengalami


lordosis.

Anak perempuan: perubahan daerah pubis mulai tampak; garis tubuh


menghalus dan menonjol.

b. Mental
-

Menulis cerita singkat

Masuk kelas 5 dan 6

Menuliskan surat pendek biasa kepada teman atau dengan inisiatif sendiri

Menggunakan telepon untuk tujuan praktis

Berespon terhadap majalah, radio, atau iklan lain

27

Membaca untuk mendapatkan informasi praktis atau kenikmatan sendiri


- buku cerita atau buku perpustakaan tentang pertualangan atau
romantika atau cerita binatang

c. Personal-sosial
-

Menyukai teman-teman

Memilih teman dengan lebih selektif; dapat mempunyai sahabat

Menyukai percakapan

Mengembangkan minat awal terhadap lawan jenis

Lebih diplomatik

Menyukai keluarga; keluarga benar-benar punya makna

Menyukai ibu dan ingin menyenangkannya dengan berbagai cara

Menunjukkan kasih saying

Juga menyukai ayah; ia dicintai dan diidolakan

Menghormati orang tua

Mencintai teman; bicara tentang mereka secara terus-menerus

28