Anda di halaman 1dari 14

Ernst Cassirer

Dipublikasikan pertama kali pada hari Rabu, 30 Juni 2004; dengan perubahan mendasar pada hari
Jumat, 21 Januari 2011.
Ernst Cassirer memiliki tempat khusus dalam dunia filsafat abad keduapuluh. Karyanya
mendapatkan perhatian yang sebanding dengan permasalahan-permasalahan mendasar dan
epistemologis dalam filsafat matematika dan ilmu alam, estetika, filsafat sejarah, dan
permasalahan lain dalam ilmu budaya yang sedang marak. Melebihi filsuf Jerman lainnya sejak
Kant, Cassirer memiliki tujuan untuk mendevosikan perhatian filosofis yang setara pada
(matematika dan) ilmu alam (Naturwissenschaften) dan bidang humanistik (Geisteswissenschaften).
Dengan cara tersebut, Cassirer, melampaui filsuf abad keduapuluh lainnya, memegang peranan
penting bagi mediasi antara dua budaya konsep yang diperkenalkan oleh C.P. Snow. Beliau juga
memegang peran mediasi serupa, antara dua tradisi mayoritas dalam filsafat akademik abad
keduapuluh tradisi analitik dan kontinental yang memiliki perbedaan perspektif secara
radikal (dan seringkali saling mengosongkan) dalam memandang hubungan antara unsur ilmu
pengetahuan dan humanistik, sehingga menimbulkan jurang pemisah antara filsafat yang kemudian
dipraktikkan dalam dunia Anglo-Amerika di satu sisi, serta di sisi lain, filsafat yang dipraktikkan di
sebagian besar belahan dunia. Cassirer, sebaliknya, memiliki hubungan filosofis yang kaya, dengan
para pemuka dalam dua tradisi tersebut Moritz Schlick, penemu dan pembimbing spiritual
Lingkaran Vienna atas penganut empirisme logis, yang karya-karyanya dalam logika dan filsafat ilmu
pengetahuan memberikan pengaruh besar pada perkembangan filsafat di Amerika Serikat, dan
dengan Martin Heidegger, pencipta versi eksistensial-hermeneutik radikal dari fenomenologi
Husserlian yang secara cepat mendominasi benua Eropa.

1. Biografi

2. Karya Tulis Sejarah pada Masa Awal

3. Filsafat Matematika dan Ilmu Pengetahuan

4. Filosofi Bentuk Simbolik

5. Cassirer dan Filsafat Abad Keduapuluh

Daftar Pustaka

Alat Akademik

Sumber Internet Lainnya

Entri Terkait

1. Biografi

Cassirer dilahirkan pada tanggal 28 Juli 1874 di keluarga Yahudi yang makmur dan cosmopolitan, di
Breslau, Jerman (sekarang Wroclaw, Polandia). Sebagian keluarga tinggal di Berlin, termasuk
sepupu Cassirer, Bruno Cassirer, penerbit ternama, yang pada akhirnya menerbitkan sebagian besar
karya Cassirer. Cassirer memasuki University of berlin pada tahun 1892. Pada tahun 1894, ia
mengambil kursus Kant bersama dengan Georg Simmel, yang merekomendasikan tulisan Hermann
Cohen mengenai Kant secara khusus. Cohen, orang Yahudi pertama yang mendapatkan gelar
professor di Jerman, adalah pendiri Marburg School of neo-Kantianism, dikenal karena
menginterpretasikan metode transcendental Kant yang dimulai dengan fakta ilmu pengetahuan
yang disusul dengan diskusi mundur pada asumsi atau kondisi atas kemungkinan adanya fakta
tersebut. Kant kemudian dipandang sebagai epistemology (Erkenntniskritiker) atau metodolog ilmu
pengetahuan, dan bukan sebagai metafisikawan dalam tradisi idealisme Jerman paska Kantian.
Setelah mempelajari tulisan Cohen dari Simmel, Cassirer (pada saat itu berusia 19 tahun) lanjut
melahapnya, dimana pada suatu ketika ia memutuskan untuk belajar dengan Cohen di Marburg. Ia
menjalankan studi di Marburg dari 1896 hingga 1899, menyelesaikan tugas doktoralnya dengan
disertasi mengenai analisis Descartes terhadap pengetahuan matematis dan ilmu alam. Pada
akhirnya hal ini menjadi perlakuan atas filsafat Leibniz dan dasar keilmuannya, seperti yang
tertuang dalam bagian Pendahuluan dari karya pertama Cassirer yang dipublikasikan (Cassirer,
1902). Selama kepulangannya ke Berlin pada 1903, Cassirer mengembangkan tema ini lebih jauh
lagi saat melakukan interpretasi monumentalnya terhadap perkembangan filosofi dan ilmu
pengetahuan modern dari Renaissance melalui Kant (Cassirer, 1906, 1907a). Edisi pertama
tulisannya merupakan kualifikasinya di University of Berlin, dimana ia mengajar sebagai instruktur
atau Privatdozent dari tahun 1906 hingga 1919.
Pada tahun 1919, Cassirer akhirnya mendapat penawaran keprofesoran dari dua universitas baru di
Frankfurt dan Hamburg di bawah pengawasan Republik Weimar. Ia mengajar di Hamburg dari tahun
1919 hingga akhirnya beremigrasi dari Jerman pada tahun 1933. Di sepanjang tahun tersebut,
Cassirer menyelesaikan tiga edisi Philosophy of Symbolic Forms (Cassirer, 1923, 1925, 1929b), yang
memecahkan landasan baru yang fundamental melampaui neo-Kantianisme Marburg School dan
mengemukakan upaya orisinilnya untuk menyatukan model pemikiran keilmuan dan non-keilmuan
(bentuk simbolis) dalam sebuah pandangan filosofis tunggal. Tahun 1928, Cassier menawarkan
pertahanan bagi Weimar (Cassirer, 1929a) saat perayaan Universitas atas ulangtahun Republik yang
kesepuluh, dan di tahun 1929-1930 ia mengabdi sebagai rector Universitas, sebagai orang Yahudi
pertama yang menjabat kedudukan semacam ini di Jerman. Pada musim semi 1929, Cassirer
terlibat dalam debat yang tersohor dengan Martin Heidegger di Davos, Switzerland, dimana
Heidegger secara eksplisit mengambil neo-Kantianisme Cohen sebagai target filosofis dan
mempertahankan konsep barunya yang radikal mengenai analitik eksistensial dari Dasein dalam
rupa interpretasi parallel dari filosofi Kant (Heidegger, 1929). Cassirer mempertahankan
pemahamannya sendiri atas Kant dalam filsafat bentuk simbolis menentang kekukuhan Heidegger
atas keterbatasan manusia yang tak terhindarkan dengan menarik bagi kebenaran yang absah
secara objektif dan secara asli, penting, dan abadi, yang muncul dari pengalaman moral dan ilmu
pengetahuan alam matematis. Namun, terlepas dari ketidaksetujuan mereka yang mendalam,

Cassirer dan Heidegger mengecap hubungan filosofis yang bersahabat hingga emigrasi Cassirer pada
tahun 1933 (lihat Friedman, 2000).
Setelah emigrasi, Cassirer menghabiskan waktu dua tahun mengajar di Oxford dan kemudian enam
tahun di University of Gteborg di Swedia. Selama itu ia mengembangkan diskusi berkepanjangan
atas moralitas dan filsafat hukum sebagai studi terhadap filsuf hukum Swedia Axel Hgerstrm
(Cassirer, 1939, lihat Krois, 1987, Bab 4). Ia juga menyuarakan pernyataan utamanya tentang
hubungan antara ilmu pengetahuan alam dan ilmu budaya (Cassirer, 1942), yang memuat, selain
hal-hal lain, penolakan eksplisit terhadap fisikalisme dari Rudolf Carnap (lihat Friedman, 2000,
Bab 7). Cassirer, seperti halnya emigrant-emigran Jerman lain pada masa itu (termasuk Carnap)
kemudian menetap di Amerika Serikat. Ia mengajar di Yale dari tahun 1941 hingga 1944 dan di
Columbia pada tahun 1944-1945. Di sepanjang tahun tersebut, ia menghasilkan dua buku berbahasa
Inggris (Cassirer, 1944, 1946), dimana buku yang pertama, An Essay on Man, merupakan pengenalan
filsafat bentuk simbolis (perspektif filosofis khusus dari Cassirer) secara utuh, dan yang kedua, The
Myth of the State, memberikan penjelasan atas bangkitnya fasisme berdasarkan konsep Cassirer
mengenai pemikiran mistis. Dua orang filsuf penting Amerika dipengaruhi secara mendasar oleh
Cassirer selama tahun-tahun tersebut: Arthur Pap, yang mana karyanya functional a priori dalam
teori fisik (Pap, 1946) terbentuk di bawah bimbingan Cassirer di Yale, dan Susanne Langer, yang
memperkenalkan filsafat Cassirer tentang bentuk simbolis dalam lingkaran estetika dan literal (lihat
Langer, 1942). Pengaruh Amerika dari Cassirer merangkul kedua sisi kepribadian filosofisnya.
Seseorang hanya dapat berspekulasi atas pengaruh apakah yang mungkin diberikannya apabila hidup
Cassirer terhenti secara tiba-tiba oleh serangan jantung saat sedang berjalan kaki di jalanan kota
New York pada tanggal 13 April 1945.

2. Karya Tulis Sejarah pada Masa Awal


Seperti yang telah diindikasikan sebelumnya, tulisan pertama Cassirer memiliki kebesaran historis
dalam hal karakter termasuk diskusi mengenai filsafat Leibniz dalam konteks keilmuannya
(Cassirer, 1902) dan sejumlah besar karya dalam sejarah pemikiran modern dari jaman Renaissance
hingga Kant, Das Erkenntnisproblem in der Philosophie und Wissenschaft der neueren Zeit
(Cassirer, 1906, 1907a). Karya berikutnya, secara khusus, merupakan kontribusi magister dan
orisinil bagi sejarah filsafat dan sejarah ilmu pengetahuan. Adalah pekerjaan pertamanya, secara
faktual, untuk mengembangkan bacaan mendetail tentang revolusi ilmu pengetahuan sebagai suatu
keutuhan dalam konteks gagasan Platonik bahwa aplikasi menyeluruh dari matematika bagi alam
(disebut juga sebagai matematisasi alam) adalah pencapaian sentral dan menyeluruh atas revolusi
ini. Penceraham Cassirer secara eksplisit dilihat oleh sejarahwan intelektual yang berpengaruh,
seperti: E.A. Burtt, E.J. Dijksterhuis, dan Alexandre Koyr, yang mengembangkan tema ini di
kemudian hari pada abad tersebut, dalam pergerakan membangun bidang sejarah ilmu pengetahuan
yang kita kenal sekarang (lihat Burtt, 1925; Koyr, 1939; Dijksterhuis, 1959). Cassirer, dalam
bagiannya, secara simultan menyuarakan interpretasi atas sejarah filsafat modern sebagai
perkembangan dan kemenangan yang disebutnya idealisme filosofis modern. Tradisi ini

mengambil inspirasinya, menurut Cassirer, dari idealisme Platonik, dari sebuah apresiasi atas
struktur formal ideal yang dipelajari secara paradigmatik dalam matematika, dan tradisi ini
modern secara unik dalam mengenali tingkat kepentingan fundamental dari aplikasi sistemik
struktur-struktur semacam itu untuk diberikan tempat secara empiris dalam fisika matematis
modern sebuah proses yang progresif dan sintetis dimana model matematis alam secara
berkelanjutan disempurnakan dan dikoreksi tanpa batas. Bagi Cassirer, Galileo adalah, mengatasi
yang lainnya, bertentangan dengan logika formal Aristotelian-Scholastic yang steril dan induksi
empiris Aristotelian-Scholastic yang steril, yang pertama kali memahami struktur esensial dari
proses sintetis ini, dan perkembangan idealisme filosofis modern oleh para pemikir semacam
Descartes, Spinoza, Gassendi, Hobbes, Leibniz, dan Kant kemudian masuk dalam meningkatnya
pengungkapan dan elaborasi filosofis kesadaran diri.
Dalam buku Leibniz dan Das Erkenntnisproblem, kemudian, Cassirer menginterpretasikan
perkembangan pemikiran modern sebagai suatu keutuhan dari perspektif prinsip filosofis dasar neoKantianisme di Marburg: gagasan bahwa filsafat sebagai epistemologi (Erkenntniskritik) memiliki
pengungkapan dan elaborasi struktur ilmu pengetahuan alam matematis modern sebagai tugas
utamanya; pandangan bahwa, sebagai akibatnya, filsafat harus mengambil fakta ilmu
pengetahuan sebagai titik mula dan datum yang diberikan pada akhirnya; dan, yang paling
istimewa, yang disebut-sebut sebagai konsep genetis pengetahuan keilmuan sebagai proses
sintetik yang sedang berjalan, tidak pernah berakhir (lihat bawah). Dari sudut pandang
kontemporer, sejarah Cassirer mungkin tampak Whiggish dan berlagak, namun tak dapat
diingkari bahwa karyanya, bagaimanapun, luar biasa kaya, luar biasa gamblang, dan luar biasa
mencerahkan. Cassirer mengamati varietas menarik dari sumber tekstual (meliputi tokoh mayor dan
minor) secara seksama, dan, tanpa mengabaikan kecenderungan pertentangan antara tradisi skeptis
dan emipiris, ia mengembangkan sebuah gambaran yang tak terbantahkan atas evolusi idealisme
filosofis modern melalui Kant dimana, bahkan saat ini, memberikan bacaan yang sangat kuat dan
tajam.
Cassirer harus dimasukkan sebagai salah satu sejarahwan intelektual terhebat pada abad
keduapuluh dan sebagai salah satu penemu bidang ilmu ini karena pada akhirnya dipraktikkan
setelah tahun 1900. Ia melanjutkan kontribusinya terhadap sejarah intelektual secara luas melalui
karirnya (secara khusus, mungkin, dalam studi fundamentalnya terhadap Renaissance dan
Pencerahan (Cassirer, 1927a, 1932)), dan ia memiliki pengaruh besar terhadap sejarah intelektual
sepanjang abad. Terlepas dari sejarah ilmu pengetahuan (lihat atas), Cassirer juga mempengaruhi
sejarahwan intelektual secara lebih umum, termasuk, secara khusus, intelektual ternama dan
sejarahwan budaya Peter Gay dan sejarahwan seni yang terkenal Erwin Panofsky (lihat Gay, 1977);
Panofsky, 1939). Seperti dapat kita lihat di bawah, sejarah intelektual (dan belakangan, budaya)
merupakan bagian integral dari metodologi filosofis unik Cassirer, sehingga, dalam hal ini,
perbedaan standar antara karya kesejarahan dan sistematis dalam filsafat pada akhirnya
tampak artifisial.

3. Filsafat Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam


Telah disebutkan di atas bahwa karya historis awal Cassirer menginterpretasikan perkembangan
pemikiran modern sebagai sebuah keutuhan (merangkul filsafat dan ilmu pengetahuan sekaligus)
dari perspektif prinsip filosofis neo-Kantianisme Marburg, seperti yang awalnya diungkapkan dalam
Cohen (1871). Pada konsep genetis dalam pengetahuan keilmuan, secara khusus, aktivitas
pemikiran sintetik apriori aktivitas yang disebut Kant sebagai sintesis produktif dipahami
sebagai proses perkembangan sementara dan kesejarahan dimana objek ilmu pengetahuan secara
perlahan-lahan dan terus-menerus terjadi tanpa pernah melengkapi X menuju kondisi dimana
proses perkembangan menyatu. Bagi Cohen, proses ini dimodelkan dalam metode kalkulus desimal
tak hingga (keterkaitan ini, secara khusus, lihat Cohen, 1883). Diawali dengan gagasan urutan atau
fungsi kontinyu, maasalah kita adalah untuk melihat bagaimana sebuah urutan dapat diciptakan
secara apriori, langkah demi langkah. Konsep matematis diferensial menunjukkan bagaimana hal
tersebut dapat terjadi, karena dalam diferensial pada suatu titik dengan daerah kawan dari sebuah
fungsi yang diketahui mengindikasikan bahwa prosesnya dapat dilanjutkan hingga titik keberhasilan.
Diferensial menangkap aturan dalam subuah urutan secara utuh, kemudian menyatakan, pada titik
atau masa tertentu, bentuk umum urutan tersebut yang absah dari waktu ke waktu.
Karya sistematis Cassirer yang pertama, Substance and Function (Cassirer, 1910), mengambil
langkah filosofis esensial melampaui Cohen, secara eksplisit berikatan dengan perkembangan pada
akhir abad kesembilanbelas dalam pondasi matematika dan logika matematika yang meletakkan
pengaruh besar pada filsafat matematika dan ilmu alam pada abad keduapuluh. Cassirer
membukanya dengan membahas masalah formasi konsep, dan dengan mengkritisi, secara khusus,
karakteristik teori abstractionist dalam empirisme filosofis, sesuai dengan konsep umum
manakah yang diperoleh dengan mengangkat secara induktif dari fakta sensorik. Teori ini, bagi
Cassirer, merupakan artifak logika Aristotelian tradisional; dan gagasan pokoknya adalah bahwa
perkembangan dalam logika formal modern (teori matematis mengenai relasi) memungkinkan kita
untuk secara definitive menolak abstraksi semacam itu (dan juga empirisme filosofis) atas nama
konsepsi genetis pengetahuan. Secara khusus, konsepsi aksiomatis modern atas matematika, seperti
yang ditunjukkan secara khusus dalam karya Richard Dedekind tentang dasar aritmetika dan karya
David Hilbert dalam dasar geometri, telah menunjukkan bahwa matematika itu sendiri memiliki
makna formal yang murni dan ideal, benar-benar non-sensorik, dan non-intuitif. Matematika murni
mendeskripsikan sistem urutan abstrak yang kita sebut struktur relasi yang konsepnya tidak
dapat berakomodasi dalam empirisme filosofis abstraksionis atau induktivis. Cassier kemudian
menggunakan konsepsi formalis karakteristik matematika abad kesembilanbelas ini dalam
menciptakan versi baru dan lebih abstrak dari konsepsi genetis pengetahuan. Kita membayangkan
proses perkembangan yang dipertanyakan tersebut sebagai sekumpulan atau urutan struktur formal
abstrak (sistem urutan), yang dirinya sendiri ditata oleh relasi matematis abstrak untuk
memperkirakan inklusi balik-arah (misalnya, sebagai contoh,geometri non-Euclid yang baru
mengandung geometri lama dari Euclid sebagai kasus terbatas terdekati secara kontinyu). Dengan
cara ini, kita dapat menggambarkan seluruh struktur dalam urutan saling bertemu secara kontinyu

pada struktur akhir atau pembatas, sedemikian hingga seluruh struktur sebelumnya dalam urutan
tersebut mendekati kasus khusus atau pembatas dalam struktur akhir ini. Gagasan adanya titik
akhir dalam urutan hanyalah merupakan ideal regulative dalam pandangan Kantian hal ini hanya
secara progressive diperkirakan, namun tidak pernah terjadi secara aktual. Meskipun demikian,
gagasan tersebut tetap membangun bentuk serial umum apriori dari teorisasi matematis empiris,
dan, secara bersamaan, gagasan ini memberikan karakteristikbentuk objektivitasnya dalam
teorisasi ini.
In explicitly embracing late nineteenth-century work on the foundations of mathematics, Cassirer
comes into very close proximity with early twentieth-century analytic philosophy. Indeed, Cassirer
takes the modern mathematical logic implicit in the work of Dedekind and Hilbert, and explicit in
the work of Gottlob Frege and the early Bertrand Russell, as providing us with our primary tool for
moving beyond the empiricist abstractionism due ultimately to Aristotelian syllogistic. The modern
theory of the concept, accordingly, is based on the fundamental notions of function, series, and
order (relational structure) where these notions, from the point of view of pure mathematics and
pure logic, are entirely formal and abstract, having no intuitive relation, in particular, to either
space or time. Nevertheless, and here is where Cassirer diverges from most of the analytic
tradition, this modern theory of the concept only provides us with a genuine and complete
alternative to Aristotelian abstractionism and philosophical empiricism when it is embedded within
the genetic conception of knowledge. What is primary is the generative historical process by which
modern mathematical natural science successively develops or evolves, and pure mathematics and
pure logic only have philosophical significance as elements of or abstractions from this more
fundamental developmental process of productive synthesis aimed at the application of such
pure formal structures in empirical knowledge (see especially [Cassirer 1907b]).
Cassirer's next important contribution to scientific epistemology [Cassirer 1921] explores the
relationship between Einstein's general theory of relativity and the critical (Marburg neo-Kantian)
conception of knowledge. Cassirer argues that Einstein's theory in fact stands as a brilliant
confirmation of this conception. On the one hand, the increasing use of abstract mathematical
representations in Einstein's theory entirely supports the attack on Aristotelian abstractionism and
philosophical empiricism. On the other hand, however, Einstein's use of non-Euclidean geometry
presents no obstacle at all to our purified and generalized form of (neo-)Kantianism. For we no
longer require that any particular mathematical structure be fixed for all time, but only that the
historical-developmental sequence of such structures continuously converge. Einstein's theory
satisfies this requirement perfectly well, since the Euclidean geometry fundamental to Newtonian
physics is indeed contained in the more general geometry (of variable curvature) employed by
Einstein as an approximate special case (as the regions considered become infinitely small, for
example). Moritz Schlick published a review of Cassirer's book immediately after its first
appearance [Schlick 1921], taking the occasion to argue (what later became a prominent theme in
the philosophy of logical empiricism) that Einstein's theory of relativity provides us with a decisive
refutation of Kantianism in all of its forms. This review marked the beginnings of a respectful

philosophical exchange between the two, as noted above, and it was continued, in the context of
Cassirer's later work on the philosophy of symbolic forms, in [Cassirer 1927b] (see [Friedman 2000,
chap. 7]).
Cassirer's assimilation of Einstein's general theory of relativity marked a watershed in the
development of his thought. It not only gave him an opportunity, as we have just seen, to
reinterpret the Kantian theory of the a priori conditions of objective experience (especially as
involving space and time) in terms of Cassirer's own version of the genetic conception of
knowledge, but it also provided him with an impetus to generalize and extend the original Marburg
view in such a way that modern mathematical scientific knowledge in general is now seen as just
one possible symbolic form among other equally valid and legitimate such forms. Indeed,
[Cassirer 1921] first officially announces the project of a general philosophy of symbolic forms,
conceived, in this context, as a philosophical extension of the general postulate of relativity. Just
as, according to the general postulate of relativity, all possible reference frames and coordinate
systems are viewed as equally good representations of physical reality, and, as a totality, are
together interrelated and embraced by precisely this postulate, similarly the totality of symbolic
forms aesthetic, ethical, religious, scientific are here envisioned by Cassirer as standing in a
closely analogous relationship. So it is no wonder that, subsequent to taking up the professorship at
Hamburg in 1919, Cassirer devotes the rest of his career to this new philosophy of symbolic forms.
(Cassirer's work in the philosophy of natural science in particular also continued, notably in
[Cassirer 1936].)

4. Filsafat Bentuk Simbolis


At Hamburg Cassirer found a tremendous resource for the next stage in his philosophical
development the Library of the Cultural Sciences founded by Aby Warburg. Warburg was an
eminent art historian with a particular interest in ancient cult, ritual, myth, and magic as sources
of archetypal forms of emotional expression later manifested in Renaissance art, and the Library
therefore contained abundant materials both on artistic and cultural history and on ancient myth
and ritual. Cassirer's earliest works on the philosophy of symbolic forms appeared as studies and
lectures of the Warburg Library in the years 19221925, and the three-volume Philosophy of
Symbolic Forms itself appeared, as noted above, in 1923, 1925, and 1929 respectively. Just as the
genetic conception of knowledge is primarily oriented towards the fact of science and,
accordingly, takes the historical development of scientific knowledge as its ultimate given datum,
the philosophy of symbolic forms is oriented towards the much more general fact of culture and
thus takes the history of human culture as a whole as its ultimate given datum. The conception of
human beings as most fundamentally symbolic animals, interposing systems of signs or systems of
expression between themselves and the world, then becomes the guiding philosophical motif for
elucidating the corresponding conditions of possibility for the fact of culture in all of its richness
and diversity.

Characteristic of the philosophy of symbolic forms is a concern for the more primitive forms of
world-presentation underlying the higher and more sophisticated cultural forms a concern for
the ordinary perceptual awareness of the world expressed primarily in natural language, and,
above all, for the mythical view of the world lying at the most primitive level of all. For Cassirer,
these more primitive manifestations of symbolic meaning now have an independent status and
foundational role that is quite incompatible with both Marburg neo-Kantianism and Kant's original
philosophical conception. In particular, they lie at a deeper, autonomous level of spiritual life which
then gives rise to the more sophisticated forms by a dialectical developmental process. From
mythical thought, religion and art develop; from natural language, theoretical science develops. It
is precisely here that Cassirer appeals to romantic philosophical tendencies lying outside the
Kantian and neo-Kantian tradition, deploys an historical dialectic self-consciously derived from
Hegel, and comes to terms with the contemporary Lebensphilosophie of Wilhelm Dilthey, Henri
Bergson, Max Scheler, and Georg Simmel as well as with the closely related philosophy of Martin
Heidegger.
The most basic and primitive type of symbolic meaning is expressive meaning, the product of what
Cassirer calls the expressive function (Ausdrucksfunktion) of thought, which is concerned with the
experience of events in the world around us as charged with affective and emotional significance,
as desirable or hateful, comforting or threatening. It is this type of meaning that underlies mythical
consciousness, for Cassirer, and which explains its most distinctive feature, namely, its total
disregard for the distinction between appearance and reality. Since the mythical world does not
consist of stable and enduring substances that manifest themselves from various points of view and
on various occasions, but rather in a fleeting complex of events bound together by their affective
and emotional physiognomic characters, it also exemplifies its own particular type of causality
whereby each part literally contains the whole of which it is a part and can thereby exert all the
causal efficacy of the whole. Similarly, there is no essential difference in efficacy between the
living and the dead, between waking experiences and dreams, between the name of an object and
the object itself, and so on. The fundamental Kantian categories of space, time, substance (or
object), and causality thereby take on a distinctive configuration representing the formal a priori
structure, as it were, of mythical thought.
What Cassirer calls representative symbolic meaning, a product of the representative function
(Darstellungsfunktion) of thought, then has the task of precipitating out of the original mythical
flux of physiognomic characters a world of stable and enduring substances, distinguishable and
reidentifiable as such. Working together with the fundamentally pragmatic orientation towards the
world exhibited in the technical and instrumental use of tools and artifacts, it is in natural
language, according to Cassirer, that the representative function of thought is then most clearly
visible. For it is primarily through the medium of natural language that we construct the intuitive
world of ordinary sense perception on the basis of what Cassirer calls intuitive space and intuitive
time. The demonstrative particles (later articles) and tenses of natural language specify the
locations of perceived objects in relation to the changing spatio-temporal position of the speaker

(relative to a here-and-now), and a unified spatio-temporal order thus arises in which each
designated object has a determinate relation to the speaker, his/her point of view, and his/her
potential range of pragmatic activities. We are now able to distinguish the enduring thingsubstance, on the one side, from its variable manifestations from different points of view and on
different occasions, on the other, and we thereby arrive at a new fundamental distinction between
appearance and reality. This distinction is then expressed in its most developed form, for Cassirer,
in the linguistic notion of propositional truth and thus in the propositional copula. Here the Kantian
categories of space, time, substance, and causality take on a distinctively intuitive or
presentational configuration.
The distinction between appearance and reality, as expressed in the propositional copula, then
leads dialectically to a new task of thought, the task of theoretical science, of systematic inquiry
into the realm of truths. Here we encounter the third and final function of symbolic meaning, the
significative function (Bedeutungsfunktion), which is exhibited most clearly, according to Cassirer,
in the pure category of relation. For it is precisely here, in the scientific view of the world, that
the pure relational concepts characteristic of modern mathematics, logic, and mathematical
physics are finally freed from the bounds of sensible intuition. For example, mathematical space
and time arise from intuitive space and time when we abstract from all demonstrative relation to a
here-and-now and consider instead the single system of relations in which all possible here-andnow-points are embedded; the mathematical system of the natural numbers arises when we
abstract from all concrete applications of counting and consider instead the single potentially
infinite progression wherein all possible applications of counting are comprehended; and so on. The
eventual result is the world of modern mathematical physics described in Cassirer's earlier
scientific works a pure system of formal relations where, in particular, the intuitive concept of
substantial thing has finally been replaced by the relational-functional concept of universal law. So
it is here, and only here, that the generalized and purified form of (neo-)Kantianism distinctive of
the Marburg School gives an accurate characterization of human thought. This characterization is
now seen as a one-sided abstraction from a much more comprehensive dialectical process which
can no longer be adequately understood without paying equal attention to its more concrete and
intuitive symbolic manifestations; and it is in precisely this way, in the end, that the Marburg fact
of science is now firmly embedded within the much more general fact of culture as a whole.
(The final volume of The Philosophy of Symbolic Forms, The Phenomenology of Knowledge [1929b],
articulates this embedding most explicitly, where the significative function of symbolic meaning is
depicted as dialectically evolving in just the sense of Hegel's Phenomenology of Spirit from the
expressive and representative functions.)

5. Cassirer and Twentieth-Century Philosophy


As noted above, in the same year (1929) that the final volume of The Philosophy of Symbolic Forms
appeared, Cassirer took part in an historically significant encounter with Martin Heidegger in Davos
where, in particular, Cassirer challenged Heidegger's radical finitism by reference to the

presumed necessary (and eternal) universal validity found in both the mathematical sciences and
human moral or practical experience. Heidegger had already distanced his own existential analytic
of Dasein from Cassirer's analysis of mythical thought in Being and Time (see [Heidegger 1927,
10, 11]), and he had then published a respectful but critical review of Cassirer's volume on mythical
thought [Heidegger 1928]. Cassirer, for his part, added five footnotes on Being and Time before
publication of his final volume in 1929, and he then published a similarly respectful but critical
review of [Heidegger 1929] alluding to the Davos disputation at the end [Cassirer 1931]. Unlike in
his remarks at the Davos disputation itself, Cassirer here places his primary emphasis on the
practical and aesthetic dimensions of Kant's thought, as expressed in the Critique of Practical
Reason and the Critique of Judgement. His main point is that, whereas the transcendental analytic
of the Critique of Pure Reason may indeed be written from the point of view of human temporality
or finitude, the rest of the Kantian system embeds this particular theory of human cognition within
a much wider conception of the intelligible substrate of humanity. Cassirer's remarks here thus
mirror his own attempt to embed the Marburg genetic conception of mathematical-scientific
knowledge within a much wider theory of the development of human culture as a whole, and
thereby reflect, as indicated at the beginning, his distinctive mediating role between the
Naturwissenschaften and the Geisteswissenschaften and thus between the analytic and
continental philosophical traditions.
The Logic of the Cultural Sciences [Cassirer 1942] presents Cassirer's most developed and
systematic articulation of how it is possible to achieve objective and universal validity in both the
domain of the natural and mathematical sciences and the domain of practical, cultural, moral, and
aesthetic phenomenon. Cassirer argues, in the first place, that an ungrounded prejudice privileging
thing

perception

[Dingwahrnehmen]

based

on

the

representative

function

(Darstellungsfunktion) of thought over expressive perception [Ausdruckswahrnehmen] is a


primary motivation for the widespread idea that the natural sciences have a more secure evidential
base than do the cultural sciences (and it is here, in particular, that he presents his criticism of
Rudolf Carnap's physicalism alluded to above). In reality, however, neither form of perception can
be reduced to the other both are what Cassirer calls primary phenomena [ Urphnomene].
Thus, whereas the natural sciences take their evidential base from the sphere of thing perception,
the cultural sciences take theirs from the sphere of expressive perception, and, more specifically,
from the fundamental experience of other human beings as fellow selves sharing a common
intersubjective world of cultural meanings. In the second place, moreover, whereas
intersubjective or objective validity in the natural sciences rests ultimately on universal laws of
nature ranging over all (physical) places and times, an analogous type of intersubjective or
objective validity arises in the cultural sciences quite independent of such universal laws. In
particular, although every cultural object (a text, a work of art, a monument, and so on) has its
own individual place in (historical) time and (geographical-cultural) space, it nevertheless has a
trans-historical and trans-local cultural meaning that emerges precisely as it is continually and
successively interpreted and reinterpreted at other such times and places. The truly universal
cultural meaning of such an object only emerges asymptotically, as it were, as the never to be fully

completed limit of such a sequence. In the end, it is only such a never to be fully completed
process of historical-philosophical interpretation of symbolic meanings that confers objectivity on
both the Naturwissenschaften and the Geisteswissenschaften and thereby reunites the two
distinct sides of Kant's original synthesis

DAFTAR PUSTAKA
Karya-karya yang terpilih oleh Cassirer:
(Daftar pustaka yang lebih lengkap dapat ditemukan dalam [Schilpp 1949], [Krois 1987]; sebagian
besar tulisan Jerman oleh Cassirer dicetak ulang oleh Wissenschaftliche Buchgesellschaft,
Darmstadt.)

(1902) Leibniz System in seinen wissenschaftlichen Grundlagen. Marburg: Elwert.

(1906) Das Erkenntnisproblem in der Philosophie und Wissenschaft der neueren Zeit. Erster
Band. Berlin: Bruno Cassirer.

(1907a) Das Erkenntnisproblem in der Philosophie und Wissenschaft der neueren Zeit. Zweiter
Band. Berlin: Bruno Cassirer.

(1907b) Kant und die moderne Mathematik. Kant-Studien 12, 1-40.

(1910) Substanzbegriff und Funktionsbegriff: Untersuchungen ber die Grundfragen der


Erkenntniskritik. Berlin: Bruno Cassirer. Translated as Substance and Function. Chicago: Open
Court, 1923.

(1921) Zur Einsteinschen Relativittstheorie. Erkenntnistheoretische Betrachtungen. Berlin:


Bruno Cassirer. Translated as Einstein's Theory of Relativity. Chicago: Open Court, 1923.

(1923) Philosophie der symbolischen Formen. Erster Teil: Die Sprache. Berlin: Bruno Cassirer.
Translated as The Philosophy of Symbolic Forms. Volume One: Language. New Haven: Yale
University Press, 1955.

(1925a) Philosophie der symbolischen Formen. Zweiter Teil: Das mythische Denken. Berlin:
Bruno Cassirer. Translated as The Philosophy of Symbolic Forms. Volume Two: Mythical
Thought. New Haven: Yale University Press, 1955.

(1925b) Sprache und Mythos: Ein Beitrag zum Problem der Gtternamen. Leipzig: Teubner.
Translated as Language and Myth. New York: Harper, 1946.

(1927a) Individuum und Kosmos in der Philosophie der Renaissance. Leipzig: Teubner.
Translated as The Individual and the Cosmos in Renaissance Philosophy. New York: Harper,
1964.

(1927b) Erkenntnistheorie nebst den Grenzfragen der Logik und Denkpsychologie. Jahrbcher
der Philosophie 3, 3192.

(1929a) Die Idee der republikanischen Verfassung. Hamburg: Friedrichsen.

(1929b) Philosophie der symbolischen Formen. Dritter Teil: Phnomenologie der Erkenntnis.
Berlin: Bruno Cassirer. Translated as The Philosophy of Symbolic Forms. Volume Three: The
Phenomenology of Knowledge. New Haven: Yale University Press, 1957.

(1931) Kant und das Problem der Metaphysik. Bemerkungen zu Martin Heideggers
Kantinterpretation. Kant-Studien 36, 116. Translated as Kant and the Problem of
Metaphysics. In M. Gram, ed. Kant: Disputed Questions. Chicago: Quadrangle, 1967.

(1932) Die Philosophie der Aufklrung. Tbinen: Morh. Translated as The Philosophy of the
Enlightenment. Princeton: Princeton University Press, 1951.

(1936) Determinismus und Indeterminismus in der modernen Physik. Gteborg: Gteborgs


Hgskolas rsskrift 42. Translated as Determinism and Indeterminism in Modern Physics. New
Haven: Yale University Press, 1956.

(1939) Axel Hgerstrm: Eine Studie zur Schwedischen Philosophie der Gegenwart. Gteborg:
Gteborgs Hgskolas rsskrift 45.

(1942) Zur Logik der Kulturwissenschaften. Gteborg: Gteborgs Hgskolas rsskrift 47.
Translated as The Logic of the Humanities. New Haven: Yale University Press, 1961.

(1944) An Essay on Man. New Haven: Yale University Press.

(1946) The Myth of the State. New Haven: Yale University Press.

Catatan: Tulisan Cassirer yang tidak diterbitkan saat ini dapat ditemukan dalam edisi-edisi yang
disunting oleh J. Krois and E. Schwemmer, Nachgelassene Manuskripte und Texte. Hamburg: Meiner.
Pustaka Sekunder dan Relevan

Aubenque, P., L. Ferry, E. Rudolf, J.-F. Courtine, F. Capeillires (1992) Philosophie und Politik:
Die Davoser Disputation zwischen Ernst Cassirer und Martin Heidegger in der Retrospektive.
Internationale Zeitschrift fr Philosophie, 2: 290312.

Burtt, E. (1925) The Metaphysical Foundations of Modern Physical Science. London: Paul,
Trench, Trubner.

Cassirer, T. (1981) Mein Leben mit Ernst Cassirer. Hildesheim: Gerstenberg.

Cohen, H. (1871) Kants Theorie der Erfahrung. Berlin: Dmmler.

Cohen, H. (1883) Das Princip der Infinitesimal-Methode und seine Geschichte: ein Kapitel zur
Grundlegung der Ekenntnikritik. Berlin: Dmmler.

Dijksterhuis, E. (1959) De Mechanisering van get Wereldbeeld. Amsterdam: Uitgeverif


Meulenhoff. Translated as The Mechanization of the World Picture. Oxford: Oxford University
Press, 1961.

Friedman, M. (2000) A Parting of the Ways: Carnap, Cassirer, and Heidegger. Chicago: Open
Court.

Gay, P. (1977) The Enlightenment: An Interpretation, 2 vols. New York: Norton.

Gordon, P. (2010) Continental Divide: Heidegger, Cassirer, Davos. Cambridge, Mass.: Harvard
University Press.

Heidegger, M. (1927) Sein und Zeit. Tbingen: Max Niemeyer. Translated as Being and Time.
New York: Harper, 1962.

Heidegger, M. (1928) Ernst Cassirer: Philosophie der symbolischen Formen. 2. Teil: Das
mythische Denken. Deutsche Literaturzeitung, 21: 10001012. Translated as Book Review of
Ernst Cassirer's Mythical Thought. In The Piety of Thinking. Bloomington: Indiana University
Press, 1976.

Heidegger, M. (1929) Kant und das Problem der Metaphysik. Bonn: Friedrich Cohen. Translated
(together with a protocol of the Davos disputation with Cassirer) as Kant and the Problem of
Metaphysics. Bloomington: Indiana University Press: 1990.

Ihmig, K.-N. (2001) Grundzge einer Philosophie der Wissenschaften bei Ernst Cassirer.
Darmstadt: Wissenschaftliche Buchgesellschaft.

Kaegi, D. and E. Rudolph, eds. (2000)70 Jahre Davoser Disputation. Hamburg: Meiner.

Knoppe, T. (1992) Die theoretische Philosophie Ernst Cassirers: Zu den Grundlagen


transzendentaler Wissenschafts- und Kulturtheorie. Hamburg: Meiner.

Koyr, A. (1939) Etudes galilennes. 3 vols. Paris: Hermann. Translated as Galileo Studies.
Atlantic Highlands, NJ: Humanities Press, 1978.

Krois, J. (1987) Cassirer: Symbolic Forms and History. New Haven: Yale University Press.

Langer, S. (1942) Philosophy in a New Key: A Study in the Symbolism of Reason, Rite and Art.
Cambridge, Mass.: Harvard University Press.

Paetzold, H. (1995) Ernst Cassirer Von Marburg nach New York: eine philosophische
Biographie. Darmstadt: Wissenschaftliche Buchgesellschaft.

Panofsky, E. (1939) Studies in Iconology: Humanistic Themes in the Art of the Renaissance. New
York: Oxford University Press.

Pap, A. (1946) The A Priori in Physical Theory. New York: King's Cross Press.

Renz, U. (2002) Die Rationalitt der Kultur: Zur Kulturphilosophie und ihrer transzendentalen
Begrndung bei Cohen, Natorp und Cassirer. Hamburg: Meiner.

Schilpp, P., ed. (1949) The Philosophy of Ernst Cassirer. La Salle: Open Court.

Schlick, M. (1921) Kritizistische oder empiristische Deutung der neuen Physik? Kant-Studien,
26: 96-111. Translated as Critical or Empiricist Interpretation of Modern Physics? In H. Mulder
and B. van de Velde-Schlick, eds. Moritz Schlick: Philosophical Papers. Vol. 2. Dordrecht:
Reidel, 1979.

Schwemmer, O. (1997) Ernst Cassirer. Ein Philosoph der europischen Moderne. Berlin:
Akademie.

Alat Akademik
How to cite this entry.
Preview the PDF version of this entry at the Friends of the SEP Society.
Look up this entry topic at the Indiana Philosophy Ontology Project (InPhO).
Enhanced bibliography for this entry at PhilPapers, with links to its database.
Sumber Internet Lainnya

Ernst-Cassirer-Nachlassedition, Edition of Cassirer's Nachlass at Humboldt University

Review of S. Langer's translation of Cassirer's Language and Myth, by W. Sellars, published


in Philosophy and Phenomenological Research, 9 (1948).

Ernst-Cassirer Arbeitsstelle

Helmut Zenz's collection: Ernst Cassirer im Internet

Sumber : http://plato.stanford.edu/entries/cassirer/ diunduh pada tanggal 11 April 2013 pk. 16.27.