Anda di halaman 1dari 87

PERBEDAAN SKOR ACTIVITY DAILY LIVING (ADL) ANTARA

KEJADIAN STROKE PERTAMA DAN STROKE BERULANG PADA


PASIEN STROKE ISKEMIK TROMBOTIK
DI RSUD DR. M. HAULUSSY AMBON

SKRIPSI

Untuk Memenuhi Sebagian Syarat


Memperoleh Gelar Sarjana Kedokteran

RIOSTAMENIA P. SALAKA
NIM. 2010-83-029

FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS PATTIMURA
AMBON
2015

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yesus Kristus karena cinta
kasih-Nya penulis dapat menyelesaikan skripsi ini dengan judul Perbedaan Skor
Activity Daily Living (ADL) antara Stroke Pertama dan Stroke Berulang pada
Pasien Stroke Iskemik Trombotik di RSUD Dr. M. Haulussy Ambon dengan baik
sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar sarjana kedokteran di Fakultas
Kedokteran Universitas Pattimura Ambon. Dalam penyusunan skripsi ini telah
banyak pihak yang turut membantu sehingga dapat terlaksana dengan baik. Untuk
itu, penulis ingin menyampaikan terima kasih kepada:
1. Dr. dr. Bertha J. Que, Sp.S, M.Kes selaku pembimbing 1 dan dr. Parningotan
Yosi Silalahi, Sp.S selaku pembimbing 2 yang telah bersedia membimbing,
mengarahkan dan memberi nasehat kepada penulis untuk menyelesaikan
skripsi ini dengan baik.
2. dr. Laura B. S. Huwae, Sp.S., M.Kes selaku penguji 1 dan dr. Farah Ch.
Noya, MHPEd selaku penguji 2 yang telah bersedia memberikan masukan
guna perbaikan skripsi ini menjadi lebih baik.
3. Ibu Jeanny C. Wattimena, SKM. M.Epid. M.Bc Med, M.Phil, selaku
pembimbing statistik yang telah banyak membantu penulis dalam
menganalisis data dalam penulisan skripsi ini.
4. dr. Roberth Chandra, M.Kes selaku penasehat akademik penulis yang selalu
memberikan bimbingan dan arahan selama mengikuti perkuliahan dan
penyelesaian skripsi ini.
5. Prof. Dr. Th. Pentury, Msi selaku Rektor Universitas Pattimura dan dr. J.
Manuputty, MPH selaku Dekan Fakultas Kedokteran, DR. Maria Nindatu,
2

Dra., M.Kes selaku Pembantu Dekan 1, Prof. Dr. F. Leiwakabessy, M.Pd


selaku Pembantu Dekan 2, dr. Johan B. Bension, M.med.Ed selaku Pembantu
Dekan 3, dr. Farah Ch.Noya, MHPED selaku Ketua Program Studi yang turut
membantu dalam proses perkuliahan dan penyelesaian skripsi ini.
6. Para dosen dan seluruh jajaran staf Fakultas Kedokteran Universitas
Pattimura yang turut membantu proses penyelesaian skripsi ini.
7. Direktur RSUD dr. M.Haulussy Ambon, Kepala Ruangan Neurologi RSUD
dr. M.Haulussy Ambon beserta staf yang telah memberikan izin dan
kesempatan kepada penulis untuk melakukan penelitian dan membantu
memberikan informasi sebagai data pembuatan skripsi ini.
8. Kedua orangtua penulis, ayahanda Ir. Samuel Salaka, MP (Alm) dan ibunda
Pdt. Paulien R. Salhuteru, M.Div. Terimakasih atas doa, serta semangat yang
tiada henti-hentinya diberikan.
9. Oma tercinta Hendriete Salhuteru, tante isur dan seluruh anggota keluarga
yang tiada henti memberikan semangat kepada penulis.
10. Pak Sammy Amaheka yang selama ini meluangkan waktu memberikan
masukan, nasehat dan ikut berpartisipasi dalam membantu penyusunan skripsi
ini sehingga menjadi lebih baik.
11. Sahabat Piamater yang selalu bersama berjuang dan saling mendukung
selama 4 tahun ini di Fakultas Kedokteran Universitas Pattimura.
12. Mely, Stepy, Fey, Ela, K.Sekar K,Heidy, K.Amri, K.Zadrach dan seluruh
kerabat yang selalu mendoakan dan mendukung penulis sehingga skripsi ini
dapat diselesaikan tepat waktunya.
13. Seluruh pasien stroke yang bersedia meluangkan waktu dan bersedia
membantu penulis dalam penelitian ini.
14. Semua pihak yang tidak sempat penulis sebutkan satu persatu yang sangat
berperan penting dalam membantu penyelesaian skripsi ini.

Penulis menyadari sungguh bahwa skripsi ini masih jauh dari


kesempurnaan. Oleh karena itu penulis mengharapkan masukan baik kritik
maupun saran yang membangun untuk perkembangan penulisan di waktu yang
akan datang.
Akhir kata penulis ucapkan terimakasih dan semoga skripsi ini dapat
diterima dan bermanfaat bagi semua pihak.
Ambon, Mei 2015

Penulis

Perbedaan Skor Activity Daily Living (ADL) Antara Stroke Pertama Dan
Stroke Berulang Pada Pasien Stroke Iskemik Trombotik
Di RSUD Dr. M. Haulussy Ambon

ABSTRAK
Pasien stroke iskemik lebih beresiko mengalami stroke berulang dibanding
pasien stroke hemoragik. Stroke berulang sering dikaitkan dengan penurunan
kemampuan dalam melakukan aktivitas kehidupan sehari-hari. Penelitian ini
bertujuan untuk mengetahui perbedaan skor aktivitas kehidupan sehari-hari atau
Activity Daily Living (ADL) antara stroke pertama dan stroke berulang pada
pasien stroke iskemik trombotik di RSUD Dr. M. Haulussy Ambon. Metode yang
digunakan adalah observasional analitik dengan pendekatan cross sectional,
dimana data diolah menggunakan software SPSS v.21. Pengukuran tingkat Activity
Daily Living (ADL) menggunakan kuesioner Barthel Index (BI). Subjek dalam
penelitian ini berjumlah 40 pasien stroke iskemik trombotik yang terdiri dari 24

pasien stroke pertama dan 16 pasien stroke berulang. Hasil analisis menunjukan
Skor Activity Daily Living (ADL) pada stroke pertama lebih tinggi dari stroke
iskemik trombotik berulang (p = 0,014). Sehingga dapat disimpulkan terdapat
perbedaan skor ADL yang signifikan antara stroke pertama dan stroke berulang
pada stroke iskemik trombotik.

Kata Kunci : Skor Activity Daily Living (ADL), Iskemik Trombotik

Difference Of Activity Daily Living (ADL) Score Between First-Time Stroke


And Recurrent Stroke In Thrombotic Ischemic Stroke Patients
At Public Hospital Dr. M. Haulussy Ambon

ABSTRACT
Ischemic stroke patients have more risk of recurrent stroke than patients with
hemorrhagic stroke. Recurrent stroke often associated with a decrease in the
ability to perform activities of daily life. This study aimed to determine differences
in Activity Daily Living (ADL) scores between the first-time stroke and recurrent
stroke in patients with thrombotic ischemic stroke at Public Hospital Dr. M.
Haulussy Ambon. The method used analytical observation with cross sectional
approach and analyzed by SPSS version 21.0 software. Activity Daily Living
(ADL) score was assessed using Barthel Index (BI) questioner. Subjects on this
study was 40 thrombotic ischemic stroke patients which consist of 24 first stroke
and 16 recurrent stroke patients. The result of this analyze show ADL scores were
lower in the recurrent stroke than the first time thrombotic stroke (p=0.014). It

can be concluded that there was significantly difference of Activity Daily Living
(ADL) score between first-time stroke and recurrent stroke in thrombotic ischemic
stroke.

Keywords: Activity Daily Living (ADL) Score, Thrombotic Ischemic Stroke

DAFTAR ISI

Halaman
HALAMAN JUDUL........................................................................................ i
KATA PENGANTAR ii
ABSTRAK ....................................................................................................... v
ABSTRACT ..................................................................................................... vi
DAFTAR ISI ................................................................................................... vii
DAFTAR TABEL ............................................................................................ x
DAFTAR GAMBAR ....................................................................................... xii
DAFTAR LAMPIRAN..................................................................................... xiii

DAFTAR SINGKATAN................................................................................... xiv


BAB I PENDAHULUAN
1.1.
1.2.
1.3.
1.4.

Latar Belakang.............................................................................
Rumusan Masalah.......................................................................
Tujuan Penelitian.........................................................................
Manfaat Penelitian.......................................................................

1
4
4
5

BAB II TINJAUAN PUSTAKA


2.1......................................................................................................Strok
e
2.1.1. Definisi................................................................................. 6
2.1.2. Klasifikasi............................................................................. 6
2.1.3. Epidemiologi........................................................................ 8
2.2......................................................................................................Strok
e Iskemik
2.2.1. Definisi................................................................................. 9
2.2.2. Faktor Resiko....................................................................... 9
2.2.3. Patogenesis........................................................................... 14
2.2.4. Gejala Klinis......................................................................... 16
2.2.5. Dampak Stroke..................................................................... 17
2.3......................................................................................................Strok
e Berulang.................................................................................... 18
2.4......................................................................................................Activ
ity Daily Living (ADL)............................................................... 19
2.5......................................................................................................Hubu
ngan Stroke dengan Activity Daily Living (ADL)...................... 20
2.6......................................................................................................Indek
s Barthel....................................................................................... 21
2.7......................................................................................................Hipot
esis Penelitian.............................................................................. 23
2.8......................................................................................................Kera
ngka Teori.................................................................................... 23
BAB III METODOLOGI PENELITIAN

3.1......................................................................................................Desai
n Penelitian.................................................................................. 24
3.2......................................................................................................Temp
at dan Waktu Penelitian............................................................... 24
3.3......................................................................................................Popul
asi dan Sampel Penelitian............................................................ 24
3.4......................................................................................................Kera
ngka Konsep................................................................................ 27
3.5......................................................................................................Defin
isi Operasional............................................................................. 28
3.6......................................................................................................Instru
men Penelitian............................................................................. 29
3.7......................................................................................................Peng
umpulan Data............................................................................... 29
3.8......................................................................................................Peng
olahan dan Analisis Data............................................................. 30
3.9......................................................................................................Alur
Penelitian..................................................................................... 32
3.10....................................................................................................Etika
Penelitian..................................................................................... 32
3.11....................................................................................................Jadw
al Penelitian................................................................................. 33
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1.
4.2.

Deskripsi Lokasi Penelitian....................................................................... 34


Hasil Penelitian.......................................................................................... 35
4.2.1. Hasil Analisis Univariat .................................................. 35
4.2.2. Hasil Analisis Bivariat .................................................... 40
4.3......................................................................................................Pemb
ahasan.......................................................................................... 42
4.3.1. Pembahasan Analisis Univariat ...................................... 42
4.3.2. Pembahasan Analisis Bivariat ......................................... 46

BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN


5.1......................................................................................................Kesi
mpulan......................................................................................... 51
5.2......................................................................................................Saran
.....................................................................................................52
DAFTAR PUSTAKA........................................................................................ 53
LAMPIRAN

10

DAFTAR TABEL

Halaman
Tabel 2.1. Interpretasi Total Skor Indeks Barthel ............................................ 21
Tabel 3.1. Definisi Operasional........................................................................ 28
Tabel 3.2. Jadwal pelaksanaan penelitian......................................................... 33

11

DAFTAR GAMBAR

Halaman
Gambar 2.1. Prevalensi Stroke di Indonesia tahun 2007-2008........................ 8
Gambar 2.2. Efek Perfusi Otak yang Abnormal............................................... 15
Gambar 2.4. Kerangka Teori ............................................................................ 23
Gambar 3.1. Rumus analitik komparatif kategorik tidak berpasangan............. 25
Gambar 3.3. Bagan Kerangka Konsep ............................................................ 27
Gambar 3.4. Kerangka Alur Penelitian............................................................. 32

12

DAFTAR LAMPIRAN

Halaman
Lampiran 1. Surat Rekomendasi Persetujuan Etik........................................... 64
Lampiran 2. Lembaran permohonan menjadi responden................................. 65
Lampiran 2. Lembaran persetujuan responden................................................. 67
Lampiran 3. Kuesioner Indeks Barthel............................................................. 68
Lampiran 4. Data hasil penelitian..................................................................... 70
Lampiran 5. Hasil analisis data SPSS 21.0...................................................... 72

13

DAFTAR SINGKATAN

ADL

: Activity Daily Living

WHO

: World Health Organization

HIV

: Human Immunodeficiency Virus

AIDS

: Acquired Immune Deficiency Syndrome

PPOK

: Penyakit Paru Obstruktif Kronik

WSO

: World Stroke Organization

YASTROKI

: Yayasan Stroke Indonesia

RISKESDAS

: Riset Kesehatan Dasar

RSUD

: Rumah Sakit Umum Daerah

AHA

: American Heart Association

NHS

: Non-Haemorhagic Stroke

TIA

: Transient Ischemic Attack

LDL

: Low Density Lipoprotein

HDL

: High Density Lipoprotein

RIND

: Reversible Ischemic Neurologic Deficit

BI

: Barthel Index

BAB I
PENDAHULUAN

14

1.1.

Latar Belakang

Stroke merupakan masalah kesehatan utama di dunia, karena sebagian


besar penderita stroke mengalami kecacatan yang dapat mengganggu aktivitas
kehidupan sehari-hari atau Activity Daily Living (ADL).
Selain merupakan penyebab kecacatan nomor satu di dunia, stroke
merupakan penyebab demensia nomor dua, dan penyebab kematian nomor tiga
setelah penyakit jantung dan kanker.1,2 Menurut World Health Organization
(WHO)3 tahun 2007, diprediksikan empat penyebab utama kematian global pada
tahun 2030 ialah penyakit jantung iskemik, penyakit serebrovaskuler (stroke),
HIV/ AIDS dan penyakit paru obstruktif kronik (PPOK).
Berdasarkan data WHO4 tahun 2012, terdapat 15 juta orang di dunia yang
menderita

stroke

setiap

tahunnya. Menurut

Yayasan

Stroke

Indonesia

(YASTROKI)5 tahun 2012, angka kejadian stroke di Indonesia meningkat tajam.


Bahkan saat ini, Indonesia merupakan negara dengan jumlah penderita stroke
terbesar di Asia. Prevalensi stroke di Indonesia menurut Riset Kesehatan Dasar
(RISKESDAS)6 tahun 2013, berdasarkan jawaban responden yang pernah
didiagnosis oleh tenaga kesehatan dan gejala sebesar 12,1 permil. Prevalensi
stroke berdasarkan diagnosis tenaga kesehatan tertinggi di Sulawesi Utara
(10,8), diikuti DI Yogyakarta (10,3), Bangka Belitung dan DKI Jakarta
masing-masing 9,7 per mil.
Pasien stroke beresiko mengalami serangan stroke berulang, infark
miokard, dan kematian.7 Dengan adanya serangan stroke berulang dapat

15

menurunkan kemampuan ADL penderita stroke.8 Di Amerika Serikat, sekitar


seperempat dari 800.000 pasien stroke setiap tahunnya mengalami stroke
berulang.9 Sementara berdasarkan data rekam medik bangsal RSUD dr. M.
Haulussy,10 pada tahun 2012 terdapat 28 pasien mengalami stroke berulang, dan
mengalami peningkatan pada tahun 2013 berjumlah 32 pasien, dan pada bulan
januari hingga september 2014 berjumlah 29 pasien.
Berdasarkan data Dinas Kesehatan Provinsi Maluku tahun 201111, tercatat
pasien stroke rawat inap berjumlah 313 pasien, dan rawat jalan berjumlah 464
pasien dengan jumlah pasien terbanyak pada usia 45-64 tahun. Berdasarkan data
rekam medik RSUD Haulussy Ambon tahun 2012 10, angka kejadian stroke
iskemik mencapai 309 pasien. Pada tahun 2013 tercatat pasien stroke rawat inap
berjumlah 240 pasien, dan rawat jalan berjumlah 204 pasien, dengan jumlah
pasien terbanyak pada usia 45-64 tahun.
Efisiensi penanganan stroke sering digambarkan melalui penilaian
fungsionalnya, yaitu aktivitas kehidupan sehari-hari atau Activity Daily Living
(ADL) yang harus dilakukan setiap orang untuk memungkinkan hidup mandiri.12
Diperkirakan 25-74% dari 50 juta penderita stroke di dunia membutuhkan
beberapa bantuan atau sepenuhnya bergantung pada perawat untuk melakukan
aktivitas sehari-hari.13 Menurut American Heart Association (AHA)14 tahun 2011,
sekitar 14% penderita stroke akan pulih total, dan antara 25-50% memerlukan
beberapa bantuan dalam ADL, dan sekitar setengahnya lagi masih bergantung
penuh dalam jangka panjang.

16

Penelitian oleh Rizqiyah Husain15 tahun 2014 tentang analisis gambaran


tingkat kemandirian activity daily living (ADL) pada pasien non-haemorhagic
stroke (NHS) berdasarkan skala barthel, ditemukan bahwa tingkat kemandirian
pasien stroke iskemik pertama berada pada tingkat ketergantungan ringan dimana
pasien mampu melakukan sebagian besar kegiatan namun sebagian kecil masih
memerlukan bantuan orang lain, sedangkan pada pasien stroke iskemik berulang
(37,5%) masih memerlukan bantuan total. Penelitian mengenai perbedaan kualitas
hidup antara pasien stroke serangan pertama dan berulang juga sudah pernah
dilakukan di Indonesia oleh Fitri Yani16 tahun 2010, dengan hasil didapatkan
kualitas hidup pada pasien stroke iskemik pertama lebih tinggi dari pasien stroke
iskemik berulang (p= 0,001), dan untuk penelitian oleh Sri Rahayu dkk17 tahun
2014 mengenai fungsi kognitif antara pasien stroke pertama dan berulang
didapatkan hasil fungsi kognitif pasien stroke pertama lebih tinggi dari pasien
stroke berulang (p=0,05).
Dengan adanya peningkatan resiko kecacatan pada pasien stroke, serta
pentingnya pengukuran skor Activitiy Daily Living (ADL) pada pasien stroke,
mendorong peneliti untuk melihat perbedaan skor Activity Daily Living (ADL)
antara kejadian serangan pertama dan stroke berulang pada pasien stroke iskemik
trombotik.

1.2.

Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan sebelumnya, maka

permasalahan dalam penelitian ini adalah apakah terdapat perbedaan skor Activity

17

Daily Living (ADL) yang signifikan antara kejadian stroke pertama dan stroke
berulang pada pasien stroke iskemik trombotik?

1.3. Tujuan Penelitian


1.3.1. Tujuan Umum
Mengetahui perbedaan skor Activity Daily Living (ADL) antara stroke
pertama dan stroke berulang pada pasien stroke iskemik trombotik di RSUD dr.
M. Haulussy Ambon pada bulan Januari tahun 2015 hingga bulan Mei tahun 2015.
1.3.2. Tujuan Khusus
a. Mengetahui skor Activity Daily Living (ADL) pada pasien stroke iskemik
trombotik pertama.
b. Mengetahui skor Activity Daily Living (ADL) pada pasien stroke iskemik
trombotik berulang.
c. Mengetahui perbedaan skor Activity Daily Living (ADL) antara pasien stroke
iskemik trombotik pertama dan berulang.

1.4. Manfaat Penelitian


1.4.1. Bagi Tenaga Kesehatan

18

Menambah informasi bagi tenaga kesehatan baik itu dokter, perawat dan
koass di ruang lingkup rumah sakit dalam mengetahui skor Activity Daily Living
(ADL) stroke pertama dan stroke berulang pada pasien stroke iskemik trombotik,
sehingga diharapkan tenaga kesehatan dapat menangani pasien stroke secara
efektif dengan pemantauan skor selama rehabilitasi.
1.4.2. Bagi Institusi
Sebagai tambahan referensi dalam menggambarkan status kesehatan
pasien stroke yakni aktivitas hidup sehari-hari dalam upaya meningkatkan kualitas
hidup pasien stroke iskemik trombotik serangan pertama dan serangan berulang,
serta sebagai acuan untuk penelitian serupa kedepan.
1.4.3. Bagi Peneliti
Menambah wawasan dan pengetahuan peneliti mengenai perbedaan skor
Activity Daily Living (ADL) antara stroke pertama dan stroke berulang pada
pasien stroke iskemik trombotik. Serta sebagai media penerapan ilmu selama
studi.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

19

2.1.

Stroke

2.1.1. Definisi
World Health Organization (WHO) yang dikutip Sacoo et.all18,
mendefinisikan stroke sebagai gangguan sistem saraf pusat fokal atau global yang
terjadi secara mendadak, berlangsung lebih dari 24 jam atau menyebabkan
kematian, tanpa penyebab lain selain gangguan pembuluh darah. Stroke
didefiniskan juga oleh Junaidi dalam Nastiti19, sebagai gangguan fungsional otak
fokal maupun global akut dengan gejala dan tanda sesuai bagian otak yang
terkena, yang sebelumnya tanpa peringatan, dan dapat sembuh sempurna, sembuh
dengan cacat, atau kematian, yang diakibatkan oleh gangguan aliran darah ke otak
karena perdarahan ataupun non perdarahan.
2.1.2. Klasifikasi
Berdasarkan penyebabnya stroke dibedakan menjadi stroke iskemik
(80%), stroke hemoragik atau perdarahan intraserebral (15%), dan perdarahan
subarakhnoid (5%).7,20
1. Stroke iskemik
Stroke iskemik dibedakan menjadi stroke emboli dan stroke trombosis.
Pada stroke trombosis didapati oklusi di tempat arteri cerebral yang bertrombus.
Pada stroke emboli, penyumbatan disebabkan oleh suatu embolus yang dapat
berasal dari arteri serebral, maupun ekstraserebral.20
2.

Stroke hemoragik

20

Stroke hemoragik dibedakan menjadi stroke perdarahan intraserebral yang


merupakan perdarahan primer yang berasal dari pembuluh darah dalam parenkim
otak, dan stroke perdarahan subarachnoid yang merupakan keadaan terdapatnya
darah dalam ruang subarakhnoid karena pecahnya pembuluh darah atau sekunder
karena perdarahan intraserebral.21,22
Menurut Yuniarsih23, stroke diklasifikasikan menjadi 4 berdasarkan
stadium/ pertimbangan waktu, yaitu:
1. Serangan iskemik sepintas/ TIA (Transient Ischemic Attack): gangguan
neurologis setempat yang terjadi selama beberapa menit sampai beberapa jam
saja. Gejala yang timbul akan hilang dengan spontan dan sempurna dalam
waktu kurang dari 24 jam.23
2. Defisit neurologis iskemik sepintas/ RIND (Reversible Ischemic Neurologic
Deficit): gejala neurologis yang akan menghilang antara 24 jam sampai
dengan 21 hari.23
3. Stroke progresif (Progressing stroke/ Stroke in evolution): Stroke yang terjadi
masih terus berkembang dimana gangguan neurologis terlihat semakin berat
dan bertambah buruk.23
4. Stroke komplit (Completed stroke): Gangguan neurologis yang timbul sudah
menetap atau permanen.23
2.1.3. Epidemiologi
Berdasarkan World Stroke Organization (WSO)4, 1 dari 6 orang menderita
stroke dan hampir setiap 6 detik seseorang meninggal karena stroke, yang berarti
setiap tahun hampir 6 juta orang di seluruh dunia meninggal karena stroke. Di

21

negara barat, sekitar 80 % dari stroke disebabkan oleh iskemik serebral fokal
akibat sumbatan arteri, dan 20 % disebabkan oleh perdarahan.2 Prevalensi stroke
di Indonesia menurut Riskesdas tahun 20136, berdasarkan diagnosis tenaga
kesehatan atau gejala sebesar 12,1 per mil.

Gambar 2.1. Prevalensi Stroke di Indonesia tahun 2007-2008.


Sumber: Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan KEMENKES RI.
Riset Kesehatan Dasar. 2013.6

Sebanyak 57,9% penyakit stroke telah terdiagnosis oleh tenaga kesehatan.


Prevalensi penyakit stroke terlihat meningkat seiring peningkatan umur
responden, tertinggi pada umur 75 tahun (43,1 dan 67,0), dan sama tinggi
pada laki-laki dan perempuan.6
2.2. Stroke iskemik
2.2.1. Definisi
Stroke iskemik didefinisikan sebagai hilangnya fungsi neurologis akibat
terhentinya sirkulasi darah otak secara mendadak.24 Stroke iskemik didefinisikan

22

juga sebagai gangguan neurologis episodik akibat infark serebral fokal, spinal,
atau infark retinal.18

2.2.2. Faktor Resiko


Faktor resiko stroke dibedakan menjadi faktor resiko yang dapat
dimodifikasi dan tidak dapat dimodifikasi 25
A. Faktor resiko yang dapat dimodifikasi:
1). Hipertensi
Hipertensi merupakan faktor resiko terbesar stroke karena memicu
timbulnya plak aterosklerosis pada pembuluh darah besar, oleh karena
tekanan yang tinggi dapat mendorong Low Density Lipoprotein (LDL)
kolesterol untuk lebih mudah masuk ke dalam lapisan intima pembuluh darah
dan menyebabkan penebalan pada dinding pembuluh darah sehingga
menyempitkan lumen serta menurunkan elastisitas arteri.19,25,26 Plak yang tidak
stabil akan mudah ruptur/ pecah dan terlepas. Plak yang terlepas
meningkatkan resiko tersumbatnya pembuluh darah otak yang lebih kecil. 27
Setidaknya empat dari lima pasien dengan hipertensi akan mengalami stroke
berulang.16 Penelitian meta-analisis lainnya menunjukkan bahwa menurunkan
tekanan darah dapat mengurangi risiko stroke sebesar 30% hingga 40%.28
2). Kolesterol
Tingginya

kadar

kolesterol

LDL dapat

memicu

terbentuknya

aterosklerosis yang merupakan penimbunan kolesterol dalam dinding

23

pembuluh darah arteri, dan yang akan meningkatkan penumpukkan plak.


Kadar High Density Lipoprotein (HDL) yang rendah pula dapat
meningkatkan resiko stroke karena HDL membawa kolesterol dari arteri
kembali ke hati.29
3). Hiperglikemia
Keadaan hiperglikemia atau kadar gula darah yang tinggi dan
berlangsung kronis dapat mempercepat terjadinya aterosklerosis baik pada
pembuluh darah kecil maupun pembuluh darah besar termasuk pembuluh
darah yang mensuplai darah ke otak. Dengan kata lain, hiperglikemi dapat
menjadi faktor risiko untuk terjadinya stroke.19
4). Diabetes mellitus
Prevalensi pasien stroke iskemik dengan diabetes melitus sekitar 1533%.28 Diabetes akan meningkatkan resiko stroke dua kali lipat. Hal ini
disebabkan oleh penyakit metabolisme ini mengakibatkan terjadinya
kerusakan dinding arteri.27,30 Sehingga diabetes dapat meningkatkan
prevalensi aterosklerosis dan juga meningkatkan prevalensi faktor resiko lain
seperti hipertensi, obesitas dan hiperlipidemia.19 Diperkirakan bahwa diabetes
menyebabkan kira-kira 9% dari stroke berulang.28
5). Obesitas
Seseorang dengan berat badan berlebih memiliki risiko yang tinggi
untuk menderita stroke. Seseorang dengan obesitas memiliki risiko stroke 2,4

24

kali dibanding yang tidak obesitas, karena dapat memicu terjadinya


thrombosis, penyakit arteri koroner, dan meningkatkan risiko stroke.31
6). Penyakit Jantung
Denyut jantung yang tidak teratur dan tidak efisien dapat menurunkan
total curah jantung yang mengakibatkan aliran darah di otak berkurang
(iskemik). Selain itu juga dengan adanya penyakit atau kelainan pada jantung
dapat terjadi pelepasan embolus yang dapat menyumbat pembuluh darah
otak.19
7). Merokok
Berbagai penelitian menghubungkan kebiasaan merokok dengan
peningkatan risiko penyakit pembuluh darah (stroke).31 Seseorang

yang

merokok berisiko 2 kali lipat untuk menderita stroke, sedangkan perempuan


yang tinggal bersama suami yang merokok berisiko 1,28 kali.26 Hal ini
disebabkan karena karbonmonoksida (CO) dan nikotin dalam asap rokok
dapat merusak endotel pembuluh darah arteri dan meningkatkan tekanan
darah yang dapat mempercepat proses aterosklerosis. 29 Tar, CO, nikotin,
polonium, dan zat lainnya dapat menyebabkan peningkatan konsentrasi
fibrinogen,

hematokrit,

agregasi

platelet,

dan

menurunkan

aktifitas

fibrinolotik dan aliran darah serebral. Kondisi tersebut menyebakan


vasokontriksi, sehingga mempercepat terjadinya plak atherosklerosis. 32
8). Kelainan pembekuan darah
Sistem koagulasi dalam keadaan normal merupakan keseimbangan
antara pemeliharaan aliran darah di pembuluh darah dan perbaikan dari

25

gangguan integritas pembuluh darah. Namun banyak faktor yang dapat


mengganggu keseimbangan tersebut dan menghasilkan trombosis. Aktivasi
trombosis merupakan penyebab umum pada hampir kebanyakan stroke
iskemik.21
B. Faktor resiko yang tidak dapat dimodifikasi:
1). Usia
Peningakatan umur merupakan risiko tinggi terkena stroke, oleh karena
itu stroke digolongkan sebagai penyakit degeneratif. Berdasarkan teori risiko
terkena stroke meningkat sejak usia 45 tahun, 33 dan setelah berusia 55 tahun,
resiko stroke meningkat dua kali dalam setiap dekade kehidupan seseorang.34
2). Jenis kelamin
Laki-laki lebih rentan terkena stroke karena faktor kebiasaan seperti
merokok dan mengkonsumsi alkohol. 32 Stroke lebih mudah menyerang lakilaki pada kelompok usia muda, dibanding perempuan.25,34 Namun pada
kelompok usia tua prevalensi stroke pada perempuan cenderung lebih tinggi
dikarenakan perempuan mempunyai harapan hidup lebih lama dari laki-laki,
dan stroke pada perempuan lebih sering terjadi pada usia tua.34,35 yaitu 24%
lebih besar dari laki-laki.36 Hal ini karena pada usia tersebut wanita telah
mengalami

menapouse,

sehingga

terjadi

penurunan

estrogen

yang

menyebabkan peningkatan kolesterol, kemudian terbentuk emboli dan


trombus yang dapat menyebabkan stroke iskemik. 36 sehingga wanita yang

26

menggunakan pil kontrasepsi lebih beresiko terserang stroke dari yang tidak
menggunakan pil kontrasepsi.25,34
3). Ras
Orang Amerika Afrika beresiko dua kali lipat terserang stroke karena
mereka lebih mudah menderita tekanan darah tinggi, diabetes, dan obesitas.
Orang Hispanik dan Asia Pasifik juga memiliki resiko tinggi terkena stroke
dibanding orang Kaukasian.29,34
4). Riwayat keluarga
Seseorang dengan yang memiliki keluarga baik orang tua, kakek/ nenek
ata saudara dengan stroke atau serangan jantung pada usia muda sangat
berisiko.34 Para ahli kesehatan meyakini terdapat hubungan antar risiko stroke
dengan faktor keturunan, walaupun secara tidak langsung. Seseorang dengan
riwayat keluarga stroke lebih cenderung menderita diabetes dan hipertensi. 31
Diabetes melitus dan hipertensi diketahui dapat diturunkan secara genetik.
Namun, kedua faktor resiko tersebut masih dapat dikontrol dengan
menerapkan pola hidup yang sehat.22

2.2.3. Patogenesis
Patogenesis Stroke Secara Umum
Gangguan pasokan aliran darah otak dapat terjadi dimana saja di dalam
arteri yang membentuk sirkulus Willisi, yakni arteri karotis interna dan sistem
vertebrobasiler atau semua cabang-cabangnya. Secara umum, apabila aliran darah

27

ke otak terhenti selama 15 sampai 20 menit, akan terjadi infark jaringan. Proses
patologik yang mendasari dapat berupa, (1) keadaan pada pembuluh darah itu
sendiri, seperti aterosklerosis dan thrombosis, robeknya dinding pembuluh darah,
atau peradangan; (2) berkurangnya perfusi akibat gangguan status aliran darah,
misalnya syok hiperviskositas darah; (3) gangguan aliran darah akibat bekuan atau
embolus infeksi yang berasal dari jantung atau pembuluh ekstrakranium; atau (4)
ruptur vaskuler di dalam parenkim otak atau subarakhnoid.37
Patogenesis Stroke Iskemik Akibat Trombus
Stroke trombotik dapat dibagi menjadi stroke pada pembuluh darah besar
(termasuk sistem arteri karotis) dan pembuluh darah kecil (termasuk sirkulus
Wilisi dan sirkulus posterior).38 Tempat terjadinya trombosis yang paling sering
adalah titik percabangan arteri serebral, terutama pada daerah distribusi dari arteri
karotis interna.39 Penghentian lengkap aliran darah otak menyebabkan hilangnya
kesadaran dalam waktu 15-20 detik dan kerusakan otak ireversibel setelah 7-10
menit.40 Bila aliran darah jaringan otak berhenti, maka oksigen dan glukosa yang
diperlukan untuk pembentukan ATP akan menurun, dan akan terjadi penurunan
pompa Na+ K+ ATP-ase sehingga membran potensial akan menurun. 38 Penurunan
pompa Na+ K+ ATP-ase ini menyebabkan akumulasi Na+ dan Ca2+ sel serta
peningkatan konsentrasi K+ ekstraseluler. Hal ini menyebabkan permukaan sel
menjadi lebih negatif sehingga terjadi depolarisasi membran. Hal ini
menyebabkan akumulasi Cl- seluler, pembengkakan sel, dan kematian sel. Hal ini
juga memicu pelepasan glutathione-tamate, yang mempercepat kematian sel
melalui masuknya Na+ dan Ca2+.40 Saat awal depolarisasi membran sel masih

28

reversibel, tetapi bila menetap terjadi perubahan struktural yang menyebabkan


kematian jaringan otak. Keadaan ini terjadi segera apabila perfusi menurun
dibawah ambang batas kematian jaringan, yaitu bila aliran darah berkurang hingga
dibawah 10 ml/ 10 gram/ menit. Akibat kekurangan oksigen terjadi asidosis yang
menyebabkan ganguan fungsi enzim-enzim, karena tingginya ion H. Selanjutnya
asidosis menimbulkan edema serebral yang ditandai pembengkakan sel, terutama
jaringan glia, dan berakibat terhadap mikrosirkulasi.39 Oleh karena itu terjadi
peningkatan resistensi vaskuler dan kemudian penurunan dari tekanan perfusi
sehingga bila hal ini tidak dikoreksi, terjadi perluasan iskemik yang dapat
menyebabkan kematian sel.41

Gambar 2.2. Pengaruh Perfusi Otak yang Abnormal


Sumber: Silbernagl S, Lang F. Color atlas of pathophysiology.
New york: Thiema Stuttgart; 2000.40

2.2.4. Gejala klinis


Proses penyumbatan pembuluh darah otak mempunyai beberapa klinis
yang spesifik:

29

1. Timbul mendadak. Timbulnya gejala mendadak dan jarang didahului oleh gejala
pendahuluan (warning signs) seperti sakit kepala, mual, muntah, dan
sebagainya.42
2. Menunjukan gejala neurologis kontralateral terhadap pembuluh yang tersumbat.
Tampak sangat jelas pada penyakit pembuluh darah otak sistem karotis.42
3. Kesadaran menurun sampai koma jarang terjadi, kecuali pada perdarahan otak.42
Selain itu, oklusi arteri serebri dapat menyebabkan beberapa gejala,
diantaranya

hemiparesis

kontralateral

(gangguan

motoris),

hemianestesia

(gangguan sensoris), hemianopsia (gangguan pada separuh lapang pandang),


afasia atau disfasia, kelainan persepsi spasial, apraxia, apatis, bahkan koma.40
Penderita stroke iskemik emboli dan stroke hemoragik umumnya
menunjukan gambaran klinis yang lebih berat daripada stroke trombosis, karena
pada stroke emboli biasanya menimbulkan defisit neurologi mendadak dengan
efek maksimum sejak awitan penyakit, sementara pada stroke hemoragik dapat
dengan cepat menimbulkan gejala neurologik karena tekanan pada strukturstruktur saraf didalam tengkorak dan secara cepat menyebabkan kerusakan fungsi
otak dan kehilangan kesadaran,37 bahkan kematian yang cepat

dibandingkan

dengan perjalanan stroke iskemik yang bertahap. 33 Pada sebagian besar kasus
stroke iskemik dapat diperoleh informasi yang jelas mengenai lokasi lesi di bagian
otak. Akan tetapi, pada stroke hemoragik seringkali terjadi berbagai komplikasi
perdarahan otak yang menyebabkan gangguan fungsi otak juga terjadi di daerah
selain daerah yang terjadi perdarahan. Ini disebabkan oleh peningkatan tekanan
intra kranial, edema otak, kompresi jaringan otak dan pembuluh darah, dan

30

terdispersinya darah yang keluar ke berbagai arah. Oleh karena itu, gejala fokal
terlokalisasi biasanya terjadi pada stroke iskemik, sedangkan pada stroke
hemoragik gejala fokal tidak begitu jelas terlihat dan kurang memberikan prediksi
lokalisasi tertentu.19
Hal ini sesuai dengan hasil penelitian oleh Tino Rani, yang menyatakan
bahwa terdapat perbedaan aktifitas kehidupan fisik sehari-hari (Activity of Daily
living) antara penderita pasca stroke hemoragik dan non hemoragik, dimana
pasien pasca stroke jenis hemoragik mempunyai nilai lebih buruk dari pasien
pasca stroke jenis non hemoragik.43

2.2.5. Dampak Stroke


Dampak yang timbul akibat stroke meliputi gangguan secara fisik, dan
psikologis.8 Salah satu dampak fisik dari stroke ialah kecacatan/ keterbatasan
dengan kecacatan yang paling sering dirujuk ke rehabilitasi rawat inap adalah
ketidakmampuan berjalan dengan aman tanpa bantuan fisik. Enam bulan setelah
stroke, sekitar 65% pasien tidak dapat beraktifitas dengan kedua tangan seperti
biasanya.44 Penelitian Fathurrohman33 tahun 2011, menemukan kekuatan otot pada
bagian ektremitas pasien stroke rerata pada bagian tangan dan bagian kaki ini
menandakan adanya penurunan kekuatan otot pada penderita stroke sehingga
muncul hemiparesis atau kelumpuhan. Sedangkan gangguan psikologis yang
muncul yaitu perubahan mental, gangguan emosi, dan depresi 8
Kemungkinan perbaikan setelah stroke bervariasi berdasarakan sifat dan
keparahan defisit awal. Sekitar 35% penderita stroke serangan pertama

31

mengalami paralisis tungkai yang tak dapat berfungsi kembali, dan 20-25% dari
semua penderita tidak dapat berjalan tanpa bantuan fisik. Sekitar 20% pasien
memiliki gangguan ekspresi dan pemahaman bahasa setelah stroke dan harus
menerima terapi wicara. Hanya 25% pasien yang kembali pada tingkat
kemampuan aktivitas sehari-hari dan fungsi fisik yang sama dengan orang yang
bukan penderita stroke.44

2.3. Stroke berulang


Stroke berulang didefinisikan sebagai defisit neurologis baru yang sesuai
dengan definisi stroke iskemik/ hemoragik yang terjadi setelah periode stabilitas
neurologis yang jelas dan berlangsung lebih dari dari 24 jam dan tidak disebabkan
oleh edema, massa, sindrom pergeseran otak, atau transformasi hemoragik.45.46
Berdasarkan World Health Organization,47 untuk dapat didefinisikan sebagai
serangan stroke berulang, gejala-gejala baru stroke yang terjadi harus memenuhi
salah satu kriteria di bawah ini:
1) Jika kejadiannya terjadi pada daerah distribusi arterial yang sama, jarak
waktu dengan stroke yang sebelumnya terjadi harus 29 hari,47 atau
2) Jika kejadiannya terjadi pada daerah distribusi arterial yang jelas berbeda,
jarak waktu dengan stroke yang sebelumnya terjadi bisa 28 hari.47
Stroke berulang sering memiliki tingkat kematian dan kecacatan yang
lebih tinggi karena bagian otak yang sudah rusak oleh stroke pada serangan
pertama akan kembali mengalami kerusakan,33 dan pada stroke berulang akan

32

terjadi perdarahan yang lebih luas di otak sehingga kondisinya bisa lebih parah
dari serangan pertama. Riset menunjukkan, diantara orang-orang yang pernah
mengalami stroke, sekitar 40% diantaranya akan mengalami stroke berulang
dalam waktu lima tahun.33
Pasien stroke iskemik lebih beresiko untuk mengalami stroke berulang
dibanding pasien stroke hemoragik.16 Leoo dkk

48

melaporkan, dari 889 pasien

stroke berulang dengan usia rata-rata 77 tahun, 805 pasien (91%) diantaranya
merupakan stroke iskemik, dan 78 pasien (9%) merupakan stroke hemoragik
intarserebral dan 6 diantaranya (1%) dengan penyebab yang tidak diketahui.
Faktor resiko terbanyak ialah hipertensi (75%) dan hiperlipidemia (56%).

2.4. Activity Daily Living (ADL)


Aktivitas kehidupan sehari-hari atau Activity Daily Living (ADL)
merupakan kegiatan yang tidak bisa lepas dari setiap orang. Kegiatan ini
merupakan rutinitas seseorang sejak bangun di pagi hari sampai tidur lagi di
malam hari, termasuk perawatan diri seperti makan, mandi, membersihkan diri,
berpakaian, kontrol buang air besar, kontrol kandung kemih, pengunaan kloset/
toilet, transfer kursi/ tempat tidur, berjalan, dan naik turun tangga. Kemampuan
melakukan ADL dapat digunakan sebagai ukuran yang sangat praktis dalam
berbagai gangguan seperti stroke, dan merupakan salah satu indikator penting
pada pemulihan pasien stroke.14,49
Penggunaan ADL semakin meningkat dalam mengukur disabilitas, karena
ADL merupakan kunci dalam upaya mengukur kualitas hidup dan status

33

fungsional.50 Karena itu ADL merupakan ukuran yang valid dan dapat diandalkan
dalam menunjukan tingkat pertimbangan rencana perawatan pasien.51 Activity
Daily Living (ADL) telah dipublikasikan dalam penelitian sosial kerja, dan sejak
2005 telah memiliki hak cipta untuk melindungi reliabilitas dan validitasnya.51

2.5. Hubungan Stroke dengan Activity Daily Living (ADL)


Pada umumnya penderita stroke akan menjadi bergantung pada bantuan
orang lain dalam menjalankan aktivitas kehidupannya sehari-hari (Ativities of
Daily Living/ ADL) seperti makan dan minum, mandi, berpakaian dan sebagainya.
Kemandirian seorang penderita stroke akan menjadi berkurang atau bahkan hilang
yang dapat berpengaruh terhadap kualitas hidupnya.52 Salah satu defisit yang
paling menonjol akibat stroke adalah kelalaian visuo-spasial, yang telah dikaitkan
dengan pemulihan yang lebih lambat dan gangguan motorik sensorik yang lemah
serta keterbatasan aktivitas hidup sehari-hari (ADL).53 Beberapa studi
epidemiologi prospektif di negara barat menemukan sekitar 60% dari semua
penderita stroke akan mandiri kembali dalam aktivitas hidup sehari-hari dalam 6
bulan setelah stroke.14 Menurut American Heart Association (AHA) yang dikutip
Kwakel,14 sekitar 14% penderita stroke mencapai pemulihan penuh ADL mereka,
antara 25% dan 50% memerlukan setidaknya beberapa bantuan dalam ADL, dan
sekitar setengahnya dengan ketergantungan jangka panjang yang berat.
Fungsi ADL pasien merupakan salah satu indikator yang penting pada
pemulihan pasien stroke. Skala ADL yang baik dan memenuhi kebutuhan praktis
dan penelitian memberikan informasi berharga bagi dokter dan peneliti. Dalam

34

mengidentifikasi kecacatan dan mengelola masalah yang terkait, baik dokter dan
peneliti perlu skala ilmiah dari kecacatan/ disabilitas tersebut. 49 Salah satu alat
yang digunakan untuk menilai tingkat kemandirian ADL dalam unit stroke adalah
Barthel Index (BI).14
2.6.

Indeks Barthel

Skor

Interpretasi

20
12 - 19
9 - 11
58
0-4

Mandiri
Ketergantungan Ringan
Ketergantungan Sedang
Ketergantungan Berat
Ketergantungan Total

Tabel 2.1. Interpretasi Total Skor Indeks Barthel


Sumber: Agung I. Uji Keandalan dan Kesahihan Indeks Activity of Daily Living Barthel
Untuk Mengukur Status Fungsional Dasar Pada Usia Lanjut Di RSCM. Jakarta:
FKUI. 2006.54

Indeks Barthel awalnya diperkenalkan dirumah sakit Baltimore yang


dikenal dengan "Maryland Disability Index" khusus untuk penyakit kronis, yang
selanjutnya dimodifikasi oleh Dr Florence I. Mahoney dan Dorothea W. Barthel,
yang menghasilkan "Indeks Kemandirian, yang berguna dalam menilai kemajuan
rehabilitasi pasien, yang dikenal dengan Barthel Index (BI).55 Indeks Barthel
mengukur kemandirian fungsional pasien dalam 10 aktivitas kehidupan dasar
sehari-hari yang dibagi menjadi kelompok yang berhubungan dengan perawatan
diri (makan, mandi, membersihkan diri/ berhias, berpakaian, kontrol buang air

35

besar, kontrol kandung kemih, pengunaan kloset), dan kelompok yang


berhubungan dengan mobilitas (perpindahan kursi/ tempat tidur, berjalan,dan naik
turun tangga). Masing-masingnya diberi skor 0, 1, 2, atau 3 dengan nilai
maksimum 20 poin.54
Indeks Barthel ini kemudian terkenal dikalangan rehabilitasi dan dikenal
luas sejak dipublikasi. Penggunaan BI menyebar dengan cepat, seperti sekarang
ini, bisa dibilang BI merupakan skala ADL yang paling banyak digunakkan dalam
rehabilitasi pasien stroke dan uji klinis, meskipun tidak dirancang untuk uji klinis
dan tidak spesifik untuk stroke.55,56

2.7. Hipotesis Penelitian


Hipotesis pada penelitian ini yaitu:
1. Hipotesis alternatif (Ha): Terdapat perbedaan skor Activity Daily Living
(ADL) yang signifikan antara stroke pertama dan stroke berulang pada stroke
pasien iskemik trombotik.
2. Hipotesis nol (H0): Tidak terdapat perbedaan skor Activity Daily Living
(ADL) yang signifikan antara stroke pertama dan stroke berulang pada pasien
stroke iskemik trombotik.

36

2.8. Kerangka Teori

Kematian neuron akibat stroke pertama


(Stroke Iskemik Trombotik)

Kematian neuron akibat stroke


sebelumnya ditambah akibat stroke
berulang (Stroke Iskemik Trombotik)

Perubahan fungsi fisik, motorik,


koordinasi, akibat stroke pertama

Perubahan fungsi fisik, motorik,


koordinasi, akibat stroke sebelumnya
ditambah akibat stroke berulang

Skor Activity Daliy Living (ADL)

Perbedaan

Skor Activity Daily Living (ADL)

Gambar 2.3. Kerangka teori

BAB III
METODOLOGI PENELITIAN

3.1. Desain Penelitian


Penelitian ini merupakan penelitian observational analitik dengan desain
atau pendekatan cross sectional, yaitu sebuah penelitian yang berusaha
mempelajari dinamika hubungan antara variabel bebas dan variabel terikat yang
diobservasi pada saat yang sama, artinya setiap subjek penelitian diobservasi
hanya satu kali saja dan dampaknya diukur menurut keadaan atau status pada saat
diobservasi.57

37

3.2. Tempat dan Waktu Penelitian


Penelitian ini akan dilaksanakan di Bangsal Saraf Rumah Sakit Umum
Daerah dr. M. Haulussy Ambon. Waktu penelitian dimulai pada tanggal 21
Janurari 2015 dan berakhir pada tanggal 8 Mei 2015.
3.3. Populasi dan Sampel Penelitian
3.3.1. Populasi
Populasi pada penelitian ini yaitu pasien stroke iskemik trombotik di
Bangsal Rumah Sakit Umum Daerah dr. M. Haulussy Ambon dari bulan
Januari 2015 hingga Mei 2015.
3.3.2. Sampel
Sampel penelitian ini yaitu sebagian populasi yang memenuhi kriteria
inklusi dan eksklusi.
a. Besar Sampel Minimal
Besar sampel minimal didapat dari rumus perhitungan jumlah sampel
mengikuti rumusan analitik komparatif kategorik tidak berpasangan.
Z 2PQ + Z P1Q1+P2Q2

n1 = n2 =
(P1-P2)

Gambar 3.1 Rumus analitik komparatif kategorik tidak berpasangan. 58


Keterangan :
n1 = n2 = jumlah sampel minimal stroke iskemik trombotik pertama dan berulang

38

Z = deviat baku alfa = 1,96


Z = derivat baku beta = 0,84
P2 = proporsi pada kelompok yang sudah diketahui nilainya, diperoleh dari penelitian
sebelumnya oleh Schiemanck SK et all, 2006 59 = 0,44
Q2 = 1- P2 = 0,56
P1 = proporsi pada kelompok yang nilainya merupakan judgement peneliti = 0,88
Q1 = 1-P1 = 0,12
P1-P2 = pelisih proporsi minimal yang dianggap bermakna= 0,44
P = proporsi total = (P1+P2/2) = 0,66
Q = 1-P = 0,34

Sehingga jumlah sampel minimal yang diperlukan dalam penelitian ini


adalah sebagai berikut:

1,96 2 x 0,66 x 0,34 + 0,84 (0,88 x 0,12) + (0,44 x 0,56)

n1 = n2 =
0,44
n1 = n2 =

1,96 0,45 + 0,84 0,36


0,44

2
n1 = n2 = 4,11
n1 = n2 = 17
n = 34 orang

b. Teknik Pengambilan Sampel


Sampel diambil dengan teknik consecutive sampling, yaitu pengambilan
sampel dengan cara setiap subyek yang datang secara berurutan dan
memenuhi kriteria pemilihan dimasukkan dalam penelitian sampai jumlah
subyek yang diperlukan terpenuhi.57

Kriteria Inklusi
1. Pasien yang didiagnosis sebagai stroke iskemik trombotik oleh Spesialis
Saraf, yang dibuktikan dengan CT-Scan kepala.
2. Usia 45-75 tahun.

39

3. Pasien

bersedia

mengikuti

penelitian

dan

dibuktikan

dengan

menandatangani informed concent.


Kriteria Eksklusi
1. Pasien stroke iskemik trombotik disertai stroke iskemik emboli dan atau
stroke perdarahan.
2. Pasien stroke iskemik trombotik yang disertai penyakit sistemik berat
(diabetes melitus, penyakit jantung dan paru berat).
3. Pasien dengan sesak napas.

3.4. Kerangka Konsep

Stroke pertama
Stroke Iskemik Trombotik

Stroke berulang Stroke Iskemik


Trombotik

Perbedaan
Skor Activity Daily
Living 3.2. Bagan
Skor Activity Daily Living
Gambar
kerangka konsep
(ADL)
(ADL)
Keterangan :

Variabel Independen
Variabel Dependen

40

3.5. Definisi Operasional


Tabel 3.1 Definisi Operasional
Variabel

Definisi
Operasional

Cara
pengukuran

Hasil Ukur

Skala
Pengukuran

Skor
Activity
Daily Living
(ADL)

Aktivitas kehidupan
sehari-hari: makan,
mandi, berhias,
berpakaian, kontrol anus,
kontrol kandung kemih,
pengunaan kakus/ WC,
perpindahan kursi/
tempat tidur, berjalan,
dan naik turun tangga.12

Kuesioner

Skor
dengan
bobot
masing-masing item 0, 1,
2, atau 3.

Ordinal

Stroke
Pertama dan
Berulang
Stroke
Iskemik
Trombotik

Stroke
Pertama: Serangan
stroke yang terjadi pada
seseorang yang belum
pernah mengalami
serangan stroke
sebelumnya.45,46

Stroke Berulang: Defisit


neurologis baru yang
sesuai dengan definisi
stroke yang terjadi
setelah periode stabilitas
neurologis yang jelas (>
28 hari) dan berlangsung

Interpretasi:
20:
Mandiri
12 - 19 :
Ketergantungan ringan
9 -11 :
Ketergantungan sedang
5-8:
Ketergantungan berat
0-4:
Ketergantungan total
Status
pasien 1. Stroke pertama, Stroke
(berdasarkan hasil
iskemik trombotik.
CT-scan
yang
2. stroke berulang, Stroke
menunjukkan
iskemik trombotik.
stroke
iskemik
trombotik stroke
pertama
atau
stroke berulang).

Nominal

41

lebih dari 24 jam.45,46

3.6.

Instrumen Penelitian
Alat yang digunakan untuk menilai tingkat kemandirian Activity Daily

Living (ADL) pada pasien stroke dalam penelitian ini adalah Barthel Index (BI).
Kuesioner skala BI mengukur kemampuan dalam ADL dasar melalui pengamatan
yang berisi 10 item, yang menilai kemampuan makan, mandi, membersihkan diri/
berhias, berpakaian, kontrol buang air besar, kontrol kandung kemih, penggunaan
kloset/ toilet, perpindahan kursi/ tempat tidur, berjalan,dan naik turun tangga,
yang diberi skor dengan bobot masing-masing (0, 1, 2, atau 3) dengan range dari
0 sampai 20. Kuesioner yang digunakan merupakan kuesioner berbahasa
indonesia yang sudah diuji validitas dan reliabilitasnya oleh peneliti sebelumnya. 54
BI merupakan alat ukur ADL yang paling banyak digunakkan dibanding skala
lainnya seperti Functional Independence Measure (FIM).60 BI merupakan
pengukuran ADL yang sudah valid; sensitif, dan kehandalannya penilaian BI
diterima.55 Instrumen ini mudah dijalankan, tidak perlu program pelatihan atau

42

sertifikat formal dan terbukti dapat diandalkan dan sama validnya bila
dibandingkan dengan bagian motorik dari Functional Independence Measure
(FIM) dan modified Rankin Scale (mRS).14
3.7.

Pengumpulan Data
Setelah memberi penjelasan peneliti akan meminta persetujuan (Informed

consent) pasien atau keluarga sebelum peneliti mendapatkan data status pasien
berupa stroke iskemik trombotik stroke pertama atau stroke berulang, dan sesuai
dengan kriteria inklusi dan ekslusi. Setelah itu peneliti akan memberi penjelasan
kepada subjek penelitian (pasien) atau keluarga pasien tentang pernyataan
kuesioner dan cara mengisi kuesioner Barthel Indeks.
3.8.

Pengolahan dan Analisis Data

3.8.1. Pemeriksaan
Data yang telah dikumpulkan diperiksa untuk mengecek kelengkapan data,
kesinambungan dan keseragaman data.
3.8.2. Pengkodean
Dilakukan untuk memudahkan dalam pengolahan data termasuk dalam pemberian
skor.
3.8.3. Entry data
Memasukkan data ke dalam program komputer untuk proses analisis data.
3.8.4. Analisis Data

43

Analisis data yang dilakukan dengan bantuan perangkat lunak komputer


Statistical Packages for Social Science (SPSS), dengan metode analisis univariat
dan analisis bivariat.
1. Analisis Univariat
Analisis ini bertujuan untuk memberikan gambaran karakteristik
responden dan variabel penelitian secara desktriptif. Karakteristik responden yang
akan disajikan melalui analisis univariat yaitu jenis kelamin, umur, dan serangan
stroke. Penyajian hasil analisis ini dilakukan dengan menggunakan tabel distribusi
frekuensi. Analisis ini juga akan memberikan gambaran skor ADL pada kelompok
stroke pertama dan stroke berulang yang akan disajikan dalam tabel distribusi
frekuensi.
2. Analisis Bivariat
Analisis bivariat dilakukan untuk menguji perbedaan proporsi skor ADL
antara stroke iskemik trombotik stroke pertama dan stroke berulang. Uji statistik
yang digunakan dalam analisis ini adalah uji chi-square.
Uji chi square memiliki syarat sebagai berikut57:
1. Jumlah subyek total > 40, tanpa melihat nilai expected, yaitu nilai yang
dihitung bila hipotesis 0 benar,57
2. Jumlah subyek antara 20 dan 40 dan semua nilai expected pada semua
sel > 5.57

44

Jika syarat ini tidak terpenuhi, maka uji alternatif yang akan digunakan
adalah uji Mann-whitney. Uji chi-square dan uji mann-whitney menghasilkan nilai
p yang akan dibandingkan dengan nilai yang umumnya dipakai dalam studi
klinis yaitu sebesar 5% ( = 0,05). 57 Bila nilai p sama dengan atau lebih besar dari
maka hipotesis penelitian ini ditolak. Bila nilai p lebih kecil dari nilai maka
penelitian ini dapat menyimpulkan bahwa ada perbedaan proporsi skor ADL yang
signifikan antara stroke iskemik trombotik stroke pertama dan stroke berulang.

3.9. Alur Penelitian


Berikut ini adalah alur jalannya penelitian yang akan dilaksanakan.
Pasien stroke iskemik di bangsal saraf
RSUD dr. M. Haulussy Ambon
Pasien yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi diambil sebagai sampel
Persetujuan mengisi informed concent

Pasien/ keluarga mengisi kuesioner


Barthel Index
Pengumpulan data

Analisis data

Pembuatan laporan

45

Penyajian hasil penelitian

Gambar 3.3. Kerangka alur penelitian

3.10. Etika Penelitian


Sebelum penelitian dilakukan, peneliti dimintakan ethical clearance dari
Komisi Etik Penelitian Kesehatan Fakultas Kedokteran Universitas Pattimura dan
RSUD dr. M. Haulussy Ambon. Persetujuan pasien atau keluarga diminta dalam
bentuk Informed concent tertulis setelah diberikan penjelasan tentang penelitian.

3.11.

Jadwal Kegiatan Penelitian

Tabel 3.2. Jadwal kegiatan penelitian


Kegiatan
7
Penyusunan proposal
Seminar proposal
Perbaikan proposal
Pengumpulan data
Pengolahan dan analisis
data
Ujian skripsi

Tahun 2014
Bulan
9
10
11

12

Tahun 2015
Bulan
1
2
3
4

46

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1.

Hasil Penelitian
Berikut ini merupakan hasil penelitian yang dilakukan di RSUD dr. M.

Haulussy Ambon selama 4 bulan untuk mengetahui perbedaan skor Activity


Daily Living (ADL) antara stroke pertama dan stroke berulang pada pasien stroke
iskemik trombotik di RSUD dr. M. Haulussy Ambon, dengan menggunakan
analisis univariat dan bivariat. Penelitian ini melibatkan 40 pasien stroke iskemik
trombotik, diantaranya 24 pasien stroke pertama (60%) dan 16 pasien stroke
berulang (40%) yang dirawat inap di ruang bangsal Saraf RSUD dr. M. Haulussy
Ambon.
4.1.1. Hasil Univariat
a) Subjek penelitian berdasarkan usia
Karakteristik pasien berdasarkan usia dapat dilihat pada tabel 4.1 dan
gambar 4.1.

47

Tabel 4.1. Pola distribusi karakteristik penderita stroke iskemik trombotik di RSUD dr.
M. Haulussy Ambon berdasarkan usia
Usia
36-45
46-55
56-65
66
Jumlah

Serangan Pertama
2 (8,33%)
14 (58,3%)
7 (29,2%)
1 (4,17%)
24 (100%)

Frekuensi (Persentasi)
Serangan Berulang
0 (0%)
6 (37,5%)
3 (18,8%)
7 (43,75%)
16 (100)

2
20
10
8
40

Total
(5%)
(50%)
(25%)
(20%)
(100%)

20
18
16
14
12

Serangan Pertama

10

Serangan Berulang

Total

6
4
2
0
36-45

46-55

56-65

66

Gambar. 4.1. Pola distribusi karakteristik penderita stroke iskemik trombotik di RSUD
dr. M. Haulussy Ambon berdasrkan usia.

Dari tabel 4.1 dan gambar 4.1 didapatkan bahwa karakteristik umur
pasien stroke iskemik trombotik selama penelitian tertinggi pada rentang
usia 46 55 tahun sebanyak 20 orang (50 %). Pada pasien stroke pertama
ditemukan juga lebih banyak pada usia 46-55 tahun yaitu sebanyak 14 orang
(58,3%), sedangkan pasien stroke berulang lebih banyak pada usia 66
tahun yaitu sebanyak 7 orang (43,75%).

48

b). Subjek penelitian berdasarkan jenis kelamin


Karakteristik pasien berdasarkan jenis kelamin dapat dilihat pada tabel
4.2 dan gambar 4.2

Tabel 4.2. Pola distribusi karakteristik penderita stroke iskemik trombotik di RSUD dr.
M. Haulussy Ambon berdasarkan jenis kelamin
Jenis Kelamin
Serangan
Pertama
Laki-laki
Perempuan
Total

Frekuensi (Presentasi)
Serangan
Berulang

13 (54,2%)
11 (45,8%)
24 (100%)

11 (68,7%)
5 (31,3%)
16 (100%)

Total
24 (60%)
16 (40%)
40 (100%)

25
20
15

Serangan Pertama
Serangan Berulang

10

Total

5
0
Laki-laki

Perempuan

Gambar 4.2. Pola distribusi karakteristik penderita stroke iskemik trombotik di RSUD
dr. M. Haulussy Ambon berdasarkan jenis kelamin

Dari tabel 4.2 dan gambar 4.2 didapatkan bahwa jumlah penderita
stroke terbanyak adalah pada pasien jenis kelamin laki-laki yaitu sebanyak
24 orang (60%), baik pada stroke pertama yaitu 13 orang (54,2%), maupun
pada stroke berulang yaitu sebanyak 11 orang (68,7%).

49

c) Distribusi pasien berdasarkan skor Activity Daily Living (ADL)


Distribusi pasien berdasarkan skor Activity Daily Living (ADL) pada
stroke pertama dapat dilihat pada tabel 4.3 dan gambar 4.3
Tabel 4.3. Distribusi pasien berdasarkan skor ADL pada pasien stroke pertama
Skor ADL

Jumlah
Frekuensi

20
(Mandiri)

12 19
(Ketergantungan Ringan)

33

13

29

25

24

100

9 11
(Ketergantungan Sedang)
58
(Ketergantungan Berat)
04
(Ketergantungan Total)
Total

Karakteristik pasien stroke pertama berdasarkan skor ADL


20 (Mandiri)

12 - 19 (Ketergantungan Ringan)

25%
9 - 11 (Ketergantungan Sedang)

533%
- 8 (Ketergantungan Berat)

0 - 4 (Ketergantungan Total)29%

13%

Gambar. 4.3 Diagram pie Distribusi pasien berdasarkan skor ADL pada
pasien stroke pertama
Distribusi pasien menurut skor Activity Daily Living (ADL) yang
diukur menggunakan Barthel Indeks (BI) pada pasien stroke pertama

50

sebanyak 25 orang adalah tertinggi pada kategori ketergantungan ringan


sebanyak 8 orang (33%).
Distribusi pasien berdasarkan skor Activity Daily Living (ADL) pada
stroke berulang dapat dilihat pada tabel 4.4 dan gambar 4.4
Tabel 4.4. Distribusi pasien berdasarkan skor ADL pada pasien stroke
berulang
Jumlah

Skor ADL
20
(Mandiri)
12 19
(Ketergantungan Ringan)
9 11
(Ketergantungan Sedang)
58
(Ketergantungan Berat)
04
(Ketergantungan Total)
Total

Frekuensi

12

25

10

63

16

100

Karakteristik pasien stroke berulang berdasarkan skor ADL


20 (Mandiri)

12 - 19 (Ketergantungan Ringan)
13%

9 - 11 (Ketergantungan Sedang)

5 - 8 (Ketergantungan Berat)
25%

63%
0 - 4 (Ketergantungan Total)

Gambar. 4.4. Diagram pie karakteristik subjek penelitian stroke berulang


berdasarkan skor ADL

51

Distribusi pasien menurut skor Activity Daily Living (ADL) yang


diukur menggunakan Barthel Indeks (BI) pada pasien stroke berulang
sebanyak 15 orang adalah tertinggi pada kategori ketergantungan berat
sebanyak 10 orang (63%).

4.2.2

Hasil analisis Bivariat


Analisis ini dilakukan untuk menguji perbedaan proporsi skor ADL
antara stroke iskemik trombotik pertama dan berulang. Uji statistik
yang digunakan dalam analisis ini adalah uji Mann-Whitney,
dikarenakan syarat uji Chi-square (nilai expected pada semua sel > 5)
yang tidak terpenuhi. Untuk distribusi pasien berdasarkan skor Activity
Daily Living (ADL) pada stroke berulang dapat dilihat pada tabel 4.5

dan gambar 4.5


Tabel 4.5 Distribusi pasien berdasarkan skor ADL pada stroke pertama dan berulang
Skor ADL
20
(Mandiri)
12 - 19
(Ketergantungan Ringan)
9 11
(Ketergantungan Sedang)
58
(Ketergantungan Berat)
04
(Ketergantungan Total)
Total

Serangan

Total

Pertama

Berulang

0 (0%)

0 (0%)

0 (0%)

8 (33%)

2 (12%)

10 (25%)

3 (13%)

0 (0%)

3 (7,5%)

7 (29%)

4 (25%)

11 (27,5%)

6 (25%)

10 (63%)

16 (40%)

24 (100%)

16 (100%)

40 (100%)

52

16
14
12
10
Serangan Pertama

Serangan Berulang

Series 3

4
2
0
20

12 -19

9 - 11

5-8

0-4

Gambar 4.5 Distribusi pasien berdasarkan skor ADL pada stroke pertama dan berulang

Berdasarkan tabel 4.5 dan gambar 4.5 dapat dilihat distribusi


pasien menurut skor Activity Daily Living (ADL) yang diukur
menggunakan Barthel Indeks (BI) pada pasien stroke pertama yang
berjumlah 24 orang adalah tertinggi pada kategori ketergantungan ringan
sebanyak 8 orang (33%), sementara pada pasien stroke berulang yang
berjumlah 16 orang adalah tertinggi pada kategori ketergantungan total
sebanyak 10 orang (63%).
Hasil uji analisis statistik perbedaan skor ADL antara stroke
iskemik trombotik pertama dan berulang dengan menggunakan uji
Mann-Whitney dapat dilihat pada tabel 4.6

Tabel 4.6. Hasil analisis bivariat perbedaan proporsi skor ADL antara stroke
iskemik trombotik pertama dan berulang.
Test Statisticsa

53

Skor_BI
Mann-Whitney U

108.000

Wilcoxon W

244.000

-2.445

Asymp. Sig. (2-tailed)

.014

Exact Sig. [2*(1-tailed Sig.)]

.020b

Dari hasil analisis statistik didapatkan angka signifikansi p =


0,014, yang menunjukan adanya perbedaan skor Activity Daily Living
(ADL) yang bermakna (p<0,05) antara kejadian stroke pertama pertama
dan stroke berulang pada stroke iskemik trombotik berulang.

4.2. Pembahasan
4.3.1. Analisis Univiariat
a). Usia
Berdasarkan hasil penelitian (pada tabel 4.1 dan gambar 4.1)
didapatkan karakteristik umur pasien stroke iskemik trombotik selama
penelitian tertinggi pada usia 46 55 tahun sebanyak 20 orang (50 %).
Hal ini sesuai dengan teori yang ada bahwa risiko stroke meningkat sejak
usia 45 tahun. Bila ditinjau dari segi usia terjadi perubahan dimana stroke
bukan hanya menyerang usia tua (> 55 tahun) tapi juga menyerang usia
muda yang masih produktif. Pergeseran usia stroke ke arah yang lebih
muda disebabkan adanya perubahan pola makan dan gaya hidup.

54

Golongan usia muda lebih suka mengkonsumsi makanan cepat saji (junk
food) yang tinggi kolesterol dan trigliserid, sehingga dari 10 orang 6
diantaranya mengalami obesitas. Akibatnya, pada umur produktif mereka
akan terkena berbagai penyakit pembuluh darah satu diantaranya stroke.33
Pada pasien stroke pertama ditemukan juga lebih banyak pada usia
46-55 tahun yaitu sebanyak 14 orang (58,3%), sedangkan pasien stroke
berulang lebih banyak pada usia lebih tua yaitu 66 tahun sebanyak 7
orang (43,75%). Hal ini sejalan dengan hasil penelitian Toni D et al61
yang menyatakan bahwa stroke berulang cenderung dialami pada
kelompok usia lebih tua dibandingkan stroke pertama.
b). Jenis kelamin
Berdasarkan hasil penelitian (pada tabel 4.2 dan gambar 4.2)
karakteristik penderita stroke iskemik trombotik berdasarkan jenis
kelamin menunjukan bahwa distribusi proporsi terbanyak adalah jenis
kelamin laki-laki sebanyak 24 orang (60%) dibanding perempuan
sebanyak 16 orang (40%).
Hasil ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Fitri Yani16
tahun 2010, bahwa stroke iskemik lebih banyak pada laki-laki (63,3%),
dan penelitian yang dilakukan oleh Dewi Ratnasari62 tahun 2010. (60%).
Hasil penelitian ini juga ditemukan stroke berulang lebih banyak pada
jenis kelamin laki-laki, hal ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan
oleh Toni D et al
laki-laki.

61

bahwa stroke berulang cenderung lebih banyak pada

55

Hal ini sesuai dengan teori yang ada bahwa tingginya angka
kejadian stroke pada laki-laki dipengaruhi oleh faktor gaya hidup yang
tidak sehat, seperti merokok, minuman beralkohol dan faktor stres atau
depresi. Selain itu hormon testoteron yang terdapat pada laki-laki dapat
meningkatkan LDL. Apabila LDL tinggi maka dapat meningkatkan kadar
kolesterol dalam darah yang menjadi faktor risiko penyakit degenaratif
seperti halnya stroke.63
Sedangkan pada perempuan terdapat hormon esterogen yang
berperan dalam mempertahankan kekebalan tubuh sampai menopaus dan
sebagai proteksi terhadap aterosklerosis. Hormon tersebut mampu
meningkatkan kadar kolesterol HDL yang menyebabkan vasodilatasi
arteri, penurunan kadar fibrinogen dan dapat menurunkan kadar
kolesterol LDL yang dapat menurunkan angka kejadian stroke. 63
c). Frekuensi Stroke
Distribusi pasien berdasarkan serangan stroke dari seluruh
responden menunjukan frekuensi tertinggi pada stroke pertama sebanyak
24 orang (60%) dibanding serangan berulang yaitu sebanyak 16 orang
(40%). Begitupun dengan penelitian yang dilakukan oleh Sri Rahayu
dkk17 tahun 2014, yang menunjukan bahwa presentase stroke lebih
banyak pada serangan pertama dibanding serangan berulang.
Insiden stroke di Indonesia semakin lama semakin menurun tetapi
prevalensi ratenya semakin meningkat. Ini menunjukkan bahwa jumlah
kasus stroke lama pertahun semakin meningkat, dengan demikian berarti

56

penderita cacat akibat stroke semakin banyak, sehingga fungsi


rehabilitasinya semakin penting.64
Menurut Kementerian Kesehatan Republik Indonesia 2008 dalam
Fadilla Nur Safitri65, rendahnya kesadaran akan faktor risiko stroke,
kurang dikenalinya gejala stroke, belum optimalnya pelayanan stroke dan
ketaatan terhadap program terapi untuk pencegahan stroke ulang yang
rendah merupakan permasalahan yang muncul pada pelayanan stroke di
Indonesia. Keempat hal tersebut berkontribusi terhadap peningkatan
kejadian stroke baru, tingginya angka kematian akibat stroke, dan
tingginya kejadian stroke ulang di Indonesia
Menurut Warlow et all dalam Faturohman33, Orang yang berisiko
terkena stroke seandainya sudah terkena stroke kemudian sembuh harus
diusahakan tidak terulang lagi. Banyak hasil studi menunjukan kejadian
stroke berulang berisiko tinggi untuk kematian. Lebih dari 90% pasien
akan mengalami stroke iskemik berulang, dan sekitar 60% pasien yang
mengalami stroke perdarahan akan kembali mengalami perdarahan.

4.3.2. Analisis Biviariat


Perbedaan skor Activity Daily Living (ADL) antara stroke pertama dan
stroke berulang

57

Berdasarkan hasil penelitian, pasien stroke iskemik trombotik


pertama lebih banyak berada pada kategori ketergantungan ringan
sebanyak 8 orang (33,33%), sementara pasien stroke berulang lebih
banyak pada kategori ketergantungan total sebanyak 10 orang (62,5%).
Secara statistik dapat disimpulkan bahwa ada perbedaan skor Activity
Daily Living (ADL) yang bermakna antara kejadian stroke pertama dan
stroke berulang, dimana skor pada stroke iskemik berulang lebih rendah
daripada skor stroke iskemik trombotik pertama (p<0,05). Hal ini sesuai
dengan penelitian oleh Siti Fadlulloh8 , yang menyatakan bahwa 31% dari
penderita stoke iskemik pertama berada pada kategori ketergantungan
ringan dalam memenuhi kebutuhan aktivitas sehari-hari. Hasil inipun
sejalan dengan penelitian oleh Rizqiyah Husain 15 tahun 2014, bahwa
terdapat perubahan peningkatan tingkat kemandirian pasien stroke
iskemik pertama dari hari ketiga, kelima, dan kesembilan yaitu berada
pada tingkat ketergantungan ringan dimana pasien mampu melakukan
sebagian besar kegiatan namun sebagian kecil masih memerlukan
bantuan orang lain, sedangkan pada pasien stroke iskemik berulang
(37,5%) masih memerlukan bantuan total.
Perbedaan ini berhubungan dengan patofisiologi terjadinya stroke
iskemik berulang. Menurut Harsono dalam Dewi Ratnasari 62 tahun 2010,
pada stroke iskemik didapatkan gangguan pasokan darah ke jaringan otak
yang disebabkan karena aliran darah berkurang atau berhenti (hipoksik
iskemik). Bila kerusakan cukup berat akan ada sel saraf yang mati atau

58

fungsinya menurun yang bersifat fokal. Pengendalian faktor resiko stroke


yang buruk, tidak taatnya pasien stroke pada pengobatan akan berakibat
berulangnya kembali serangan stroke. Serangan berulang yang terjadi
pada area vaskuler yang sama dengan serangan sebelumnya akan
memperburuk prognosis pasien stroke. Frekuensi serangan berulang pada
area vaskuler yang berbeda karena oklusi mendadak pada pembuluh
darah yang sebelumnya normal pada serangan pertama juga akan
menyebabkan manifestasi klinis stroke semakin memburuk.
Studi epidemiologi mengidentifikasi faktor resiko serangan
berulang yang paling banyak adalah hipertensi dan peningkatan gula
darah. Oleh karena itu, pengendalian faktor-faktor risiko ini diketahui
dapat mecegah terjadinya stroke berulang.66
Sebagian besar penderita stroke akan bergantung pada bantuan
orang lain dalam menjalankan aktivitas kehidupannya sehari-hari (ADL)
seperti makan dan minum, mandi, berpakaian dan sebagainya. 52 Hal ini
dikarenakan pemulihan kekuatan ekstremitas masih merupakan masalah
utama yang dihadapi oleh pasien stroke yang mengalami hemiparesis.
Sekitar 80% pasien mengalami hemiparesis akut di bagian ekstremitas
atas dan hanya sekitar sepertiga yang mengalami pemulihan fungsional
penuh.67
Ketergantungan ini dapat menyebabkan penderita menjadi depresi
karena adanya ketidakmampuan pasien dalam melakukan sesuatu yang
biasanya dikerjakan sebelum terkena stroke.32,

Murtutik

Hal ini terkadang

59

menyebabkan pasien menjadi merasa dirinya tidak berguna lagi karena


banyaknya keterbatasan dalam diri pasien tersebut.

32

Oleh karena itu,

penurunan fungsi motorik ini membutuhkan proses kesembuhan melalui


fisioterapi dengan tujuan memperbaiki fungsi motorik dan fungsi lain
yang terganggu sehingga diharapkan mampu melakukan aktivitas
kegiatan sehari-hari.68
Menurut American Heart Assocition dalam Atika68, durasi yang
dibutuhkan penderita stroke dalam mendapatkan fisioterapi tergantung
dari jenis dan berat ringan stroke yang diderita. Rata-rata penderita yang
dirawat inap di unit rehabilitasi stroke selama 16 hari, kemudian
dilanjutkan dengan rawat jalan selama beberapa minggu

Menurut

Mandic & Rancic 2011 dalam Fadluloh 8 program rehabilitasi yang


dijalani oleh penderita stroke berkontribusi terhadap peningkatan
kemampuan ADL. Setelah mengikuti program rehabilitasi selama tiga
bulan paska serangan stroke skor indeks barthel meningkat dan sekitar
57% penderita stroke telah berada pada kategori tidak ketergantungan
atau mandiri dalam pemenuhan ADL.
Dari hasil penelitian Wina Yulinda69tahun 2009, juga disimpulkan
bahwa ada perbedaan rerata nilai indeks barthel yang signifikan antara
awal penelitian dengan empat minggu setelah diterapi latihan. Beberapa
penelitian

didalamnya

juga

menunjukan

bahwa

terapi

latihan

berpengaruh dalam meningkatkan kemampuan fungsional penderita


stroke, khususnya jika dilakukan secara intensif dalam 6 bulan pertama.

60

Makin sering dilakukan terapi latihan, atau makin besar intensitas waktu
terapi latihan, semakin besar pula perbaikan kemampuan motorik
penderita stroke.69
Berdasarkan penelitian Nurmalasari tahun 2014, didapatkan
perbaikan fungsi ADL yang paling banyak adalah pada subjek penelitian
yang melakukan terapi latihan dengan durasi 2 jam/hari.70 Hal ini
menguatkan teori bahwa aktivitas jaringan saraf bersifat use-dependent,
semakin sering digunakan semakin kuat dan semakin meningkat jumlah
sinaps yang terbentuk 71
Kesuksesan dalam peningkatan kemampuan ADL dapat menunjang
peningkatan harga diri pada penderita stroke. Hasil penelitian Siti
Fadluloh8 menunjukkan bahwa setelah lama pemulihan 12 bulan
tingkat ketergantungan AKS sebagian besar (71%) telah berada pada
kategori ketergantungan ringan, minimal dan mandiri, dan kemampuan
ini disertai dengan tingkat harga diri tinggi pada sebagian besar penderita
stroke (51,6%).

Penelitian ini memiliki beberapa kelemahan, diantaranya :


1. Dari empat puluh responden yang ada, dua puluh diantaranya tidak di
lakukan pemeriksaan dengan CT.Scan dikarenakan CT.Scan yang

61

sedang diperbaiki. Sehingga duapuluh responden tersebut di diagnosis


Suspek stroke iskemik trombotik berdasarkan anamnesis dan
pemeriksaan fisik oleh dokter Spesialis Saraf.
2. Faktor-faktor yang mempengaruhi stroke berulang tidak semuanya
dikendalikan seperti hipertensi, kebiasaan merokok, konsumsi
alkohol, ras, pendidikan, dan pekerjaan.

BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN

5.1. Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian, analisis data dan pembahasan pada bab
sebelumnya maka dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut:
1. Karakteristik penderita stroke iskemik trombotik berdasarkan usia
terbanyak adalah pada kelompok usia 46 55 tahun sebesar 50%.

62

2. Karakteristik penderita stroke iskemik trombotik berdasarkan jenis


kelamin, baik itu stroke pertama maupun stroke berulang yang
terbanyak adalah laki-laki sebesar 60%
3. Pasien stroke iskemik trombotik pertama lebih banyak berada pada
kategori ketergantungan ringan sebesar 33,3% sementara pasien stroke
berulang lebih banyak pada kategori ketergantungan total sebesar
62,5%.
4. Terdapat perbedaan skor Activity Daily Living (ADL) yang bermakna
antara stroke iskemik trombotik pertama dan stroke iskemik trombotik
berulang, dimana skor ADL pada stroke iskemik berulang lebih rendah
daripada skor ADL stroke pertama.

5.2. Saran
1. Bagi pelayanan Kesehatan
a. Kepada pihak RSUD dr. M. Haulussy Ambon agar dapat
memberikan informasi dan edukasi yang lebih baik tentang bahaya
penyakit

stroke

khususnya

penderita

stroke

dalam

upaya

meningkatkan kesehatan masyarakat.


b. Kepada tenaga medis untuk selalu memberikan edukasi kepada
penderita stroke tentang bahaya stroke berulang yang dapat
mengurangi kemampuan penderita dalam melakukan aktivitas
kehidupan sehari-hari. Serta memberikan edukasi tentang faktor

63

resiko yang dapat menimbulkan stroke berulang. Sehingga


diharapkan masyarakat yang menderita stroke dapat mengendalikan
faktor resiko pencetus stroke berulang.
2. Bagi instituti pendidikan
a. Perlu dilakukan penelitian lanjutan dengan sampel yang lebih besar
agar penelitian ini dapat digeneralisasikan dengan baik.
b. Untuk penelitian selanjutnya diharapkan dapat dikendalikan lokasi
dan luas lesi infark serta ada tidaknya fisioterapi sebelumnya yang
dapat mempengaruhi skor Activity Daily Living pada pasien stroke
berulang.
c. Untuk penelitian selanjutnya dapat meneliti hubungan faktor resiko
stroke berulang dengan kejadian stroke berulang seperti hipertensi,
kebiasaan merokok, dan mengkonsumsi alkohol.
DAFTAR PUSTAKA

Fisher M, Norrving B. The international agenda for stroke. American Heart


Association (AHA), incorporating the International Stroke Society and World
Stroke Federation (WSO); 2011. Hal.3.

Kementrian Kesehatan Republik Indonesia. Pedoman pengendalian stroke;


2013. Hal.1.

World Health Organization. World health statistics. France: World Health


Organization (WHO); 2007.ReportNo.:ISBN 978-92-4-156340-6. Hal.12

World Stroke Organization. World stroke campaign. [internet]. 2012. [cited


2014 May 14].Available from:

64

http://www.world-stroke.org/advocacy/world-stroke-campaign
5

Yayasan Stroke Indonesia. Angka kejadian stroke meningkat tajam. [internet].


2012. [cited 2014 May 14].Available from:
http://www.yastroki.or.id/read.php?id=317

Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan. Riset kesehatan dasar 2013.


Jakarta: Kementerian Kesehatan Republik Indonesia; 2013. Hal.91

Davis SM, Donna GA. Clinical practice: secondary prevention after ischemic
stroke or transient ischemic attack. N Engl J Med; 2012;366:1914-22.
Hal.1914.

Fadlulloh SF. Hubungan tingkat ketergantungan dalam pemenuhan aktivitas


kehidupan sehari-hari (AKS) dengan harga diri penderita stroke di poliklinik
syaraf RSUD Prof. Dr. Margono Soekarjo Purwokerto. Purwokerto:
Universitas Jenderal Soedirman; 2014. Hal.58,71-2.

National Stroke Association. Preventing another stroke. [internet]. 2014.


[cited 2014 Jun 15].Available from:
http://www.stroke.org/we-can-help/survivors/stroke-recovery/first-stepsrecovery/preventing-another-stroke

10 RSUD dr.M. Haulussy. Data rekam medik pasien stroke RSUD dr.M.
Haulussy Ambon Tahun 2011, 2012, 2013, dan 2014. Hal. 1,2,22-3.
11 Dinas Kesehatan Provinsi Maluku. Data pasien stroke di Maluku Tahun 2011.
12 MedicineNet. Definition of ADLs (Activities of Daily Living). [internet].
2012. [Cited2014]. Available From:
http://www.medicinenet.com/script/main/art.asp?articlekey=2152

65

13 Roche N. Effect of rehabilitation and botulinum toxin injection ongait in


chronic stroke patients: A randomized controlledstudy. J Rehabil Med; 2014.
Hal.1
14 Kwakkel G, Veerbeek JM, van der Wel BCH, van Wegen E, Kollen BJ.
Diagnostic accuracy of the barthel index for measuring activities of daily
living. Outcome after ischemic hemispheric stroke: does early poststroke
timing of assessment matter?;2011;42:342-346. Hal 342-3.
15 Husain RH. Analisis gambaran tingkat kemandirian Activity Daily Living
(ADL) pada pasien non-haemorhagic stroke (NHS) berdasarkan Skala Barthel
di RS Wahidin Sudirohusodo. UNHAS. 2013. Hal 1
16 Yani FIA. Perbedaan skor kualitas hidup terkait kesehatan antara pasien
stroke iskemik serangan pertama dan berulang [Skripsi]. Surakarta: Fakultas
Kedokteran Universitas Sebelas Maret; 2010. Hal 26-9,66.
17 Rahayu S, Utomo W, Utami S. Hubungan frekuensi stroke dengan fungsi
kognitif di RSUD Program Studi Ilmu Keperawatan. Universitas Riau; 2014.
Hal.1,3,4
18 Sacco RL. An updated definition of stroke for the 21st century: A statement
for healthcare professionals from the American Heart Association (AHA),
American Stroke Association (ASA). 2013;44:2064-2089; Hal 2066, 2072.
19 Nastiti D. Gambaran faktor risiko kejadian stroke pada pasien stroke rawat
inap di RS Krakatau Medika tahun 2011. Depok: FKM; 2012. Hal.7,10,
17,19,22,24.

66

20 Sidharta P. Neurologi klinis dalam praktek umum. Jakarta: Dian Rakyat;


2009. Hal. 261.
21 Junaidi I. Stroke waspadai ancaman: stroke akut. Yogyakarta: PenerbitAndi;
2011. Hal.15
22 Dewanto B, Suwono J, Riyanto B, Turuna Y. Panduan praktis diagnosis dan
tatalaksana penyakit saraf: Stroke. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC;
2007. Hal.24.
23 Yuniarsih W. Pengalaman caregiver keluarga dalam konteks asuhan
keperawatan pasien stroke tahap paska akut di RSUP Fatmawati.[Tesis].
Depok: FIK, Universitas Indonesia; 2009. Hal.14
24 Jauch EC. Ischemic Stroke. [internet]. 2014. [Cited2014]. Available From:
http://emedicine.medscape.com/article/1916852-overview
25 National Institute of Health. Who is at risk for a stroke?.[internet]. 2014.
[Cited2014]. Available From:
http://www.nhlbi.nih.gov/health/health-topics/topics/stroke/atrisk
26 Yenni. Hubungan dukungan keluarga dan karakteristik lansia dengan kejadian
stroke pada lansia hipertensi di wilayah kerja puskesmas perkotaan Bukit
Tinggi. [Tesis]. Depok: FIK, Universitas Indonesia; 2011. Hal.4,25,32.
27 Pinzon R, Asanti L. Awas stroke! pengertian, gejala, tindakan, perawatan dan
pencegahan: mengapa seseorang terkena stroke?. Yoygakarta: Penerbit Andi;
2010. Hal.8
28 Lambert M. Guidelines on prevention of recurrent. American Heart
Association; 2011. Hal. 993

67

29 American Stroke Association (ASA). Converging risk factors for stroke.


[internet]. 2014. [Cited2014]. Available From:
http://www.strokeassociation.org/STROKEORG/LifeAfterStroke/HealthyLivi
ngAfterStroke/UnderstandingRiskyConditions/Converging-Risk-Factors-forStroke_UCM_310319_Article.jsp .
30 Wahyu GG. Stroke hanya menyerang orangtua?. Yogyakarta: Benteng
Pustaka. 2009. Hal 24-5.
31 Sonatha B. Hubungan tingkat pengetahuan dengan sikap keluarga dalam
pemberian perawatan pasien pasca stroke. Jakarta: FIK, Universitas
Indonesia; 2012. Hal. 12-4.
32 Ratnasari P, Kristiyawati SP, Solechan A. Hubungan antara tingkat
ketergantungan Activity Daily Living dengan depresi pada pasien stroke di
RSUD Tugurejo Semarang. Ilmu Keperawatan STIKES Tugurejo Semarang.
Hal 4,5
33 Fatkhurrohman M. pengaruh latihan motor imagert terhadap kekuatan otot
ekstremitas pada pasien stroke dengan hemiparesis di rumah sakit umum
daerah kota Besi. [Tesis]. Depok: FIK Universitas Indonesia; 2011. Hal.15,
56-7, 59-60, 67
34 National Stroke Association (NSA). Uncontrollable risk factors. 2014. [Cited
2014]. Available From:
http://www.stroke.org/understand-stroke/preventing-stroke/uncontrollablerisk-factors
35 National Stroke Association (NSA). Women and stroke. 2014. [Cited 2015]
Available From:

68

http://www.stroke.org/understand-stroke/impact-stroke/women-and-stroke?
pagename=women
36 Appelros P, Stegmayr B, Terent A. Sex differences in stroke epidemiology, a
systematic review. AHA; 2009. Hal. 1087
37 Price S, Wilson L. Patofisiologi. Volume 1. Jakarta: Penerbit buku kedokteran
EGC; 2006. Hal. 111-2,1115,1119-20.
38 Wijaya AK. Patofisiologi stroke non-hemoragik akibat trombus. Denpasar:
Fakultas Kedokteran Universitas Udayana. Hal. 6
39 Trent MW, John T, Sung CT, Christopher GS, Sthepen MT. Pathophysiology,
treatment, animal and cellular models of human ischemic stroke.
molecularneurodegeneration; 2011. Hal. 6,11.
40 Silbernagl S, Lang F. Color atlas of pathophysiology. New York: Thiema
Stuttgart. 2000.Hal.360-1.
41 Maas MB, Safdieh JE. Ischemic Stroke: Pathophysiology and principles
oflocalization. neurology board review manual; 2009. Hal.1,2.
42 Kolegium Neurologi Indonesia (KNI). Buku acuan modul neurovaskuler.
2009. Perhimpunan Dokter Spesialis Saraf Indonesia (PERDOSSI); 2009.
Hal.14.
43 Rani T. Perbedaan aktifitas kehidupan fisik sehari-hari antara penderita stroke
hemoragik dan non hemoragik. Fakultas Kedokteran Universitas Sebelas
Maret. 2004. Hal.1
44 Dobkin BH. Rehabilitation after stroke. N Eng J Med; 2005;352:1677.
Hal.1677

69

45 Petty GW. Ischemic stroke subtype: A population-based study of functional


outcome, survival, and recurrence. American Heart Association (AHA).
2000.;31:1062-1068. Hal. 1063
46 Rabas PLK, Weber Margarete, Gefeller O, Neundoerfer B, Heuschmann PU.
Epidemiology of ischemic stroke subtypes according to TOAST criteria:
incidencerecurrence, and long-term survival in ischemic stroke subtypes: a
population-based study. American Stroke Association (ASA) 2001;32:27352740. Hal 2727.
47 World Health Organization. The WHO STEPwise approach to stroke
surveillance; 2006. Hal. 7.
48 Leoo T, Lindgren A, Petersson J, Von Arbin M. Risk factors and treatment at
recurrent stroke onset: Results from the recurrent stroke quality and
epidemiology (RESQUE) Study. 2008;25:254260.Hal. 254
49 Hsueh IP, Lee MMM, Hsieh CL. Psychometric characteristics of the barthel
activities of daily living index in stroke patients. 2001;100:526-32. Hal. 52630.
50 Al-Alkamil EA, Ajeel NAH. Functional ability of elderly people in basrah/
iraq. University of Basrah: journal of the bahrain medical society; 2004.
Hal.96.
51 Presmanes WS. Daily Living Activities (DLA) functional assessement.
beyond global assessment of functioning: ensuring valid scores and consistent
utilization for healthcare report cards; 2005. Hal.1
52 Hariandja JRO. Identifikasi kebutuhan akan sistem rehabilitasi berbasis
teknologi terjangkau untuk penderita stroke di Indonesia. Universitas Katolik

70

Parahyangan: Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat; 2013.


Hal.3.
53 Sugiarto A. Penilaian keseimbangan dengan aktivitas kehidupan sehari-hari
pada lansia di panti werdha pelkris elim semarang dengan menggunakan berg
balance scale dan indeks barthel. Semarang: UNDIP.2005. Hal. 5,8.
54 Agung I. Uji keandalan dan kesahihan indeks activity of daily living barthel
untuk mengukur status fungsional dasar pada usia lanjut di RSCM. Jakarta:
FKUI. 2006. Hal. 28,29,30.
55 Quinn TJ, Langhorne P, David J. Stott barthel index for stroke trials:
development, properties, and application. 2011;42:1146-1151. Hal. 1146-7,9.
56 Canadian Stroke Network. In depth review of BI. [internet]. 2014.
[Cited2014]. Available From:
http://strokengine.ca/assess/module_bi_indepth-en.html#section4
57 Sastroasmoro S, Ismael S. Dasar-dasar metodologi penelitian klinis. Edisi 4.
Jakarta: Sagung Seto.2011.Hal. 130,338-9.
58 Dahlan MS. Besar sampel dan cara pengambilan sampel, dalam penelitian
kedokteran dan kesehatan. Edisi 3. Jakarta: Salemba Medika. 2010. Hal. 46
59 Schiemanck SK, Kwakkel G, Post MWM, Kappelle LJ, Prevo AJH.
Predicting Long-Term Independency in Activities of Daily Living After
Middle Cerebral Artery Stroke. American Heart Association (AHA). 2006.
Hal.1052
60 Sangha H. A comparison of the barthel index and the functional independence
measure as outcome measures in stroke rehabilitation: patterns of disability

71

scale usage in clinical trials. National Center for Biotechnology Information.


2005. Hal.1
61 Toni D, Di Angelantonio E, Di Mascio MT, Vinisko R, Bath PM. Types of
stroke recurrence in patients with ischemic stroke: a substudy from the
PRoFESS trial. World Stroke Organization (WSO). 2013. Hal 873
62 Ratnasari D. Perbedaan skor fungsi kognitif stroke iskemik pertama dengan
iskemik berulang dengan lesi hemisfer kiri. FK, USM. 2010. Hal.28, 35-8
63 Rois S. Perbedaan tingkat spiritual pasien stroke serangan pertama dan
serangan berulang di RSUD Dr. Goeteng Taroenadibrata Purbalingga.
Universitas Jenderal Soedirman. Purwokerto. 2014. Hal 55
64 Hidayah DSN, Kadrianti E, Bahar HB. Perawatan dirumah oleh keluarga
pasca perawatan rumah sakit pada pasien stroke di RSKD provinsi Sulawesi
selatan. STIKES UNHAS. 2014. Hal. 2
65 Safitri FN, Agustina HR, Amrullah AA, Resiko stroke berulang dan
hubungannya dengan pengetahuan dan sikap keluarga. Fakultas Ilmu
Keparawatan Universitas Padjajaran.
66 Yamamato H, Bougousslavsky J. Mechanisms of second and further strokes. J
Neurol Neurosurg Psychiatry Department of Neurology, Centre Hospitalier
Universitaire Vaudois, Lausanne, Switzerland. 1998. Hal 771.
67 Beebe JA, Lang CF. Active range of motion predicts upper extremity function
3 months after stroke. AHA. 2009 Hal.1772
68 Atika N. Hubungan fisioterapi dengan peningkatan kemampuan fungsi
motorik pada pasien stroke iskemik di Rumah Sakit PKU Muhammadiyah
Surakarta. FK Universitas Muhammadiyah Surakarta. 2013. Hal. 3

72

69 Yulinda W. Pengaruh empat minggu terapi latihan pada kemampuan motorik


penderita stroke iskemia di RSUP H.Adam Malik Medan. FK USU. 2009.
Hal. 32, 38
70 Nurmalasari IA, Hasibuan RK. Gambaran perbaikan fungsi ADL (Activity
Daily Living) berdasarkan durasi latihan pada pasien pasca stroke iskemik
serangan pertama di Rumah Sakit Dr. Suyoto November-Desember Tahun
2014. Fakultas Kedokteran, Universitas Muhammadiyah Jakarta. 2014. Hal.ii
71 Bruno P. Motor recovery in stroke. [internet ]. 2007 [Cited 2015]. Available
from:
http://emedicine.medscape.com/article/324386-overview

73

LAMPIRAN

Lampiran 1. Surat Rekomendasi Persetujuan Etik

74

Lampiran 2. Lembaran Permohonan Menjadi Responden

KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN


UNIVERSITAS PATTIMURA
FAKULTAS PATTIMURA
Jln. Dr. Tamaela, Kampus PGSD Ambon. Telp/Fax : (0911) 344982;

E-mail: fkunpatti@yahoo.com
LEMBARAN PERMOHONAN MENJADI RESPONDEN
Judul Penelitian:
Perbedaan Skor Activity Daily Living (ADL) Antara Stroke Pertama Dan Stroke
Berulang Pada Pasien Stroke Iskemik Trombotik di RSUD dr. M. Haulussy
Ambon.
Peneliti:
Nama

: Riostamenia Pesahlia Salaka

Status

: Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Pattimura Ambon

Alamat

: Lateri, Ambon

Peneliti memohon kesediaan untuk berpartisipasi menjadi responden tersebut di


atas. Sebelumnya peneliti akan menjelaskan tentang penelitian tersebut sebagai
berikut:
Tujuan:
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan skor Activity Daily Living
(ADL) antara stroke pertama dan stroke berulang pada pasien stroke iskemik
trombotik di RSUD dr. M. Haulussy Ambon.

75

Disetujui oleh Komite Etik FK Unpatti


No. 79/FK-KOM.ETIK/III/2015
Tgl. 15/03//2015

Prosedur:
Pasien diharapkan mengisi sejumlah daftar isian (kuesioner) yang nantinya akan
dikumpulkan dan dianalisa oleh peneliti. Kuesioner terdiri atas sepuluh jenis
aktivitas kehidupan sehari-hari yaitu kemampuan makan, mandi, berhias,
berpakaian, kontrol anus, kontrol kandung kemih, penggunaan toilet/ kloset,
perpindahan kursi/ tempat tidur, berjalan, dan naik turun tangga. Adapun cara
mengisi kuesioner ini adalah dengan memberikan nilai pada kolom yang pasien
anggap paling sesuai dengan kondisi pasien alami. Bila kondisi pasien yang tidak
memungkinkan untuk mengisi kuesioner (gangguan kognitif dan keadaan sejenis),
maka dapat diwakilkan oleh pendamping atau keluarga yang mengetahui
kemampuan aktivitas responden.

Manfaat bagi subjek penelitian:


Manfaat penelitian ini adalah dapat menambah informasi bagi tenaga kesehatan
baik itu dokter, perawat dan koass di ruang lingkup rumah sakit dalam mengetahui
skor Activity Daily Living (ADL) stroke pertama dan stroke berulang pada pasien
stroke iskemik trombotik, sehingga diharapkan tenaga kesehatan dapat menangani
pasien stroke secara efektif dengan pemantauan skor selama rehabilitasi.
Segala informasi yang diperoleh selama penelitian ini dijamin kerahasiaannya dan
tidak ada sedikitpun biaya yang akan memberatkan pasien. Demikian informasi
ini peneliti sampaikan. Atas bantuan dan partisipasinya peneliti ucapkan terima
kasih.
Ambon,
Peneliti
Riostamenia P. Salaka

76

Disetujui oleh Komite Etik FK Unpatti


No. 79/FK-KOM.ETIK/III/2015
Tgl. 15/03//2015

Lampiran 2. Lembaran Persetujuan Responden


KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN
UNIVERSITAS PATTIMURA
FAKULTAS PATTIMURA
Jln. Dr. Tamaela, Kampus PGSD Ambon. Telp/Fax : (0911) 344982;

E-mail: fkunpatti@yahoo.com
LEMBARAN PERSETUJUAN RESPONDEN
Judul Penelitian :
Perbedaan Skor Activity Daily Living (ADL) Antara Stroke Pertama Dan Stroke
Berulang Pada Pasien Stroke Iskemik Trombotik di RSUD dr. M. Haulussy
Ambon.
Peneliti:
Nama

: Riostamenia Pesahlia Salaka

Status

: Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Pattimura Ambon

Alamat

: Lateri, Ambon

Responden
Nama

Alamat

Saya (responden) telah memahami tujuan, manfaat, prosedur dan penjaminan


kerahasiaan identitas saya dalam penelitian ini. Oleh karena itu, tanpa ada paksaan
dari pihak lain saya bersedia secara sukarela untuk menjadi responden dalam
penelitian ini, serta mengikuti semua proses yang dibutuhkan menjadi responden
dalam penelitian ini.
Ambon
Tanda tangan peneliti

Tanda tangan responden

Riostamenia P. Salaka

...

77

Disetujui oleh Komite Etik FK Unpatti


No. 79/FK-KOM.ETIK/III/2015
Tgl. 15/03//2015

Lampiran 3. Kuesioner Indeks Barthel


KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN
UNIVERSITAS PATTIMURA
FAKULTAS PATTIMURA
Jln. Dr. Tamaela, Kampus PGSD Ambon. Telp/Fax : (0911) 344982;
E-mail: fkunpatti@yahoo.com
KUESIONER INDEKS BARTHEL
Kode

Tanggal wawancara

:
Tanggal

Nama

Umur

Jenis kelamin

Bulan

Tahun

tahun
laki-laki

perempuan

Stroke Serangan ke- :

Aktivitas

Skor

Mengendalikan rangsang buang air besar


0 = tidak terkendali/ tidak teratur (membutuhkan pencahar)
1 = kadangkala tidak terkendali
2 = terkendali teratur

_____

Mengendalikan rangsang berkemih (buang air kecil)


0 = tidak terkendali atau menggunakan kateter
1 = kadangkala tidak terkendali (maksimal 1 kali/ 24 jam)
2 = terkendali teratur

_____

Membersihkan diri (sikat gigi, sisir rambut, bercukur, cuci muka)


0 = membutuhkan orang lain
1 = tergantung pertolongan orang lain

78

_____

Disetujui oleh Komite Etik FK Unpatti


No. 79/FK-KOM.ETIK/III/2015
Tgl. 15/03//2015

Penggunaan jamban/toilet, masuk dan keluar WC


(melepas, memakai celana, membersihkan/menyeka, menyiram)
0 = tergantung pertolongan orang lain
1 = perlu bantuan pada beberapa aktivitas, tetapi bisa
melakukan sendiri beberapa aktivitas yang lain
2 = mandiri

_____

Makan
0 = Tidak mampu
1 = perlu dibantu memotong makanan
2 = mandiri

_____

Berpindah posisi dari tempat tidur ke kursi dan sebaliknya


0 = tidak mampu
1 = perlu banyak bantuan orang untuk bisa duduk (2 orang)
2 = perlu sedikit bantuan saja
3 = mandiri

_____

Mobilitas/ berjalan
0 = tidak mampu (imobil)
1 = bisa pindah/ mobilitas dengan kursi roda
2 = berjalan dengan bantuan 1 orang
3 = mandiri

_____

Memakai baju (berpakaian)


0 = tergantung bantuan orang lain
1 = sebagian dibantu orang lain (misal mengancing baju, resleting)
2 = mandiri

_____

Naik turun tangga


0 = tidak mampu
1 = butuh bantuan orang lain
2 = mandiri

_____

Mandi
0 = tergantung orang lain
1 = mandiri

_____

TOTAL SKOR (0-20) =

79

Disetujui oleh Komite Etik FK Unpatti


No. 79/FK-KOM.ETIK/III/2015
Tgl. 15/03//2015

Lampiran 4.
Data Hasil Penelitian Perbedaan Skor Activity Daily Living (ADL)
antara kejadian stroke pertama dan stroke berulang pada stroke iskemik
trombotik di RSUD Dr. M. Haulussy Ambon

NO.

INISIAL

JENIS KELAMIN

UMUR

SERANGAN

1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27
28
29
30
31

HD
ET
AJ
MD
JA
CL
DP
KH
UW
TJ
TP
BB
DT
CR
AN
LB
KH
FK
YB
WP
MS
LS
SR
BB
PL
HK
BB
YM
AL
AR
MM

PEREMPUAN
PEREMPUAN
LAKI-LAKI
LAKI-LAKI
LAKI-LAKI
PEREMPUAN
LAKI-LAKI
LAKI-LAKI
LAKI-LAKI
LAKI-LAKI
PEREMPUAN
PEREMPUAN
LAKI-LAKI
LAKI-LAKI
LAKI-LAKI
LAKI-LAKI
LAKI-LAKI
LAKI-LAKI
LAKI-LAKI
PEREMPUAN
LAKI-LAKI
LAKI-LAKI
LAKI-LAKI
PEREMPUAN
LAKI-LAKI
LAKI-LAKI
PEREMPUAN
PEREMPUAN
LAKI-LAKI
PEREMPUAN
PEREMPUAN

50
52
56
66
62
51
46
45
73
66
51
55
54
56
52
45
56
60
65
55
53
59
52
51
51
56
63
75
66
54
54

PERTAMA
PERTAMA
PERTAMA
BERULANG
BERULANG
PERTAMA
BERULANG
PERTAMA
BERULANG
BERULANG
PERTAMA
PERTAMA
PERTAMA
PERTAMA
BERULANG
PERTAMA
BERULANG
BERULANG
PERTAMA
PERTAMA
PERTAMA
PERTAMA
BERULANG
BERULANG
PERTAMA
PERTAMA
BERULANG
PERTAMA
BERULANG
PERTAMA
BERULANG

80

SKOR
BI
5
15
18
7
8
3
2
4
15
5
5
3
19
19
2
5
12
0
6
8
8
1
0
8
15
9
0
9
4
15
2

INTERPRETASI
4
2
2
4
4
5
5
5
2
4
4
5
2
2
5
4
2
5
4
4
4
5
5
4
2
3
5
3
5
2
5

NO.

INISIAL

32
33

RM
DS

34
35
36

MK
ML
AA

37
38

IO
BO

39

MU

40

RS

JENIS
KELAMIN
PEREMPUA
N
LAKI-LAKI
PEREMPUA
N
LAKI-LAKI
LAKI-LAKI
PEREMPUA
N
LAKI-LAKI
PEREMPUA
N
PEREMPUA
N

UMU
R

SERANGAN

SKOR
BI

49
49

PERTAMA
PERTAMA

4
2

49
60
54

BERULANG
PERTAMA
PERTAMA

4
9
12

68
58

BERULANG
PERTAMA

2
7

68

BERULANG

53

PERTAMA

12

INTERPRETAS
I
5
5
5
3
2
5
4
5
2

Keterangan :
Interpretasi :
(1) : Mandiri
(2) : Ketergantungan ringan
(3) : Ketergantungan sedang
(4) : Ketergantungan berat
(5) : Ketergantungan total

81

Lampiran 5. Hasil analisis dengan SPSS

Frequencies

[DataSet1]
G:\UNPATTI\SKRIPSI\SKRIPSI
DATA_1.sav

LIA

SALAKA\ANALISIS

Statistics
JENIS

UMUR

SERANGAN

SKOR BI

Skor_BI

KELAMIN
N

Valid
Missing

40

40

40

40

40

Frequency Table
JENIS KELAMIN
Frequency

Percent

Valid Percent

Cumulative
Percent

Valid

Laki-laki

24

60.0

60.0

60.0

Perempuan

16

40.0

40.0

100.0

Total

40

100.0

100.0

UMUR

82

USIA
Frequency

Valid

Percent

Valid Percent

Cumulative Percent

45.0

5.0

5.0

5.0

46.0

2.5

2.5

7.5

49.0

7.5

7.5

15.0

50.0

2.5

2.5

17.5

51.0

7.5

7.5

25.0

52.0

7.5

7.5

32.5

53.0

5.0

5.0

37.5

54.0

12.5

12.5

50.0

55.0

5.0

5.0

55.0

56.0

7.5

7.5

62.5

58.0

2.5

2.5

65.0

59.0

2.5

2.5

67.5

60.0

5.0

5.0

72.5

62.0

2.5

2.5

75.0

63.0

2.5

2.5

77.5

65.0

5.0

5.0

82.5

66.0

5.0

5.0

87.5

68.0

5.0

5.0

92.5

73.0

2.5

2.5

95.0

75.0

2.5

2.5

97.5

80.0

2.5

2.5

100.0

Total

40

100.0

100.0

SERANGAN
Frequency

Percent

Valid Percent

Cumulative
Percent

Valid

Serangan Pertama

24

60.0

60.0

60.0

Serangan Berulang

16

40.0

40.0

100.0

Total

40

100.0

100.0

SKOR BI

83

Frequency

Percent

Valid Percent

Cumulative
Percent

Valid

.0

7.5

7.5

7.5

1.0

2.5

2.5

10.0

2.0

15.0

15.0

25.0

3.0

5.0

5.0

30.0

4.0

10.0

10.0

40.0

5.0

10.0

10.0

50.0

6.0

2.5

2.5

52.5

7.0

5.0

5.0

57.5

8.0

10.0

10.0

67.5

9.0

7.5

7.5

75.0

12.0

7.5

7.5

82.5

15.0

10.0

10.0

92.5

18.0

2.5

2.5

95.0

19.0

5.0

5.0

100.0

Total

40

100.0

100.0

Skor_BI
Frequency

Percent

Valid Percent

Cumulative
Percent

Ketergantungan
Total
Ketergantungan
Berat
Valid

Ketergantungan
sedang
Ketergantungan
Ringan
Total

16

40.0

40.0

40.0

11

27.5

27.5

67.5

7.5

7.5

75.0

10

25.0

25.0

100.0

40

100.0

100.0

84

CROSSTABS
/TABLES=SERANGAN BY Skor_BI
/FORMAT=AVALUE TABLES
/STATISTICS=CHISQ
/CELLS=COUNT ROW
/COUNT ROUND CELL.

Crosstabs
[DataSet1] G:\UNPATTI\SKRIPSI\SKRIPSI LIA SALAKA\ANALISIS DATA_1.sav

Case Processing Summary


Cases
Valid
N
SERANGAN * Skor_BI

Missing

Percent
40

100.0%

Total

Percent
0

0.0%

85

Percent
40

100.0%

Count
Serangan
%
within
Pertama
SERANGAN
SERANGAN
Count
Serangan
%
within
Berulang
SERANGAN
Count
Total
%
within
SERANGAN

SERANGAN * Skor_BI Crosstabulation


Skor_BI
Ketergantungan
Ketergantungan
Ketergantungan
Total
Berat
sedang
6
7
3
25.0%

29.2%

12.5%

33.3%

10

62.5%

25.0%

0.0%

12.5%

16

11

10

40.0%

27.5%

7.5%

25.0%

Chi-Square Tests
Value

df

Asymp. Sig. (2sided)

.069

Likelihood Ratio

8.242

.041

Linear-by-Linear Association

5.445

.020

Pearson Chi-Square

N of Valid Cases

7.102

Total
Ketergantungan
Ringan
8

40

a. 4 cells (50.0%) have expected count less than 5. The minimum


expected count is 1.20.

86

24
100.0
%
16
100.0
%
40
100.0
%

NPAR TESTS
/M-W= Skor_BI BY SERANGAN(1 2)
/MISSING ANALYSIS.

NPar Tests

[DataSet1] G:\UNPATTI\SKRIPSI\SKRIPSI LIA SALAKA\ANALISIS DATA_1.sav

Mann-Whitney Test
Ranks
SERANGAN
Skor_BI

Mean Rank

Sum of Ranks

Serangan Pertama

24

24.00

576.00

Serangan Berulang

16

15.25

244.00

Total

40

Test Statisticsa
Skor_BI
Mann-Whitney U

108.000

Wilcoxon W

244.000

Z
Asymp. Sig. (2-tailed)
Exact Sig. [2*(1-tailed Sig.)]

-2.445
.014
.020b

a. Grouping Variable: SERANGAN


b. Not corrected for ties.

87