Anda di halaman 1dari 21

PENGOLAHAN LIMBAH CAIR LABORATORIUM

DENGAN METODE AERASI

Shanti Dwi Mardika


Program Studi : D3-Teknik Kimia
ABSTRAK
Pengolahan

limbah

cair

domestik

akan

menghasilkan

dua

keuntungan, yakni mengatasi masalah pencemaran lingkungan, sekaligus


mempromosikan penggunaan limbah cair dari rumah tangga sebagai
sumber daya air bersih yang baru bagi masyarakat. Tujuan dari penelitian
ini adalah mendapatkan suatu sistem pengolahan limbah cair berskala
laboratorium yang dapat digunakan untuk mengolah limbah cair domestik
dan menghasilkan efluen yang dapat memenuhi persyaratan baku mutu
air yang layak untuk digunakan kembali. Sampel limbah cair dimasukkan
kedalam wadah ember plastik sebagai reaktor. Reaktor dibiarkan terbuka
dan dilengkapi dengan aerator. Setelah itu limbah cair yang keluar
(effluent) dari reaktor dialirkan menuju alat filtrasi atau penyaringan dan
terakhir dialirkan menuju bak untuk dilakukan analisis kadar BOD dan
COD. Perubahan kandungan COD dan BOD limbah cair rumah tangga
mengalami pengurangan setelah melalui proses pengolahan secara
aerobik selama 3 jam dilanjutkan dengan penyimpanan didalam incubator
selama 5 hari, dimana kandungan COD awal limbah adalah 4,4x 108 mg/L
dan setelah diolah adalah 5,0563 x 108 mg/L. Sedangkan untuk BOD awal
limbah adalah 21664 mgO2/l dan setelah diolah adalah 3332,8 mgO2/l.
Kata kunci: limbah cair domestik, aerobik, penggunaan ulang
ABSTRACT

Wastewater treatment will yield two benefits, resolve the problem of


environmental pollution caused by domestic waste, while promoting the
use of domestic wastewater as a new water resource for the community.
The purpose of this study is to get a wastewater treatment system in
laboratory scale that used to process domestic wastewater and produce
effluent that can meet the requirements of appropriate water quality
standards for reuse. Influent sample was taken then put into a plastic
bucket as the reactor. The reactor was left open and equipped with
aerator. Afterwards secretory liquid waste (effluent) of reactor conducted
to go to appliance of filtrasi screening or and conducted last to basin for
analyse rate of BOD and of COD. Change of content of COD and of BOD
natural household liquid waste of reduction after passing processing
process by aerobik during 3 hours continued depositoryly in incubator
during 5 day, where content of COD early waste is 4,4x 108 mg / L and
after processed

is 5,0563 x 108 mg / L. While for BOD early waste is

21664 mgO2 / l and after processed is 3332,8 mgO2 / l.


Keywords: domestic wastewater, aerobic, water reuse

BAB I
PENDAHULUAN
1.1

Latar Belakang
Salah satu sumber energi yang terpenting di dunia adalah air. Air

merupakan kebutuhan yang sangat vital bagi kehidupan manusia. Oleh


karena itu jika kebutuhan akan air belum tercukupi maka dapat
memberikan dampak yang besar terhadap kerawanan kesehatan
maupun sosial. Di dalam sel hidup, baik tumbuhan maupun hewan,
sebagian besar tersusun oleh air, seperti di dalam sel tumbuhan
terkandung lebih dari 75% atau di dalam sel hewan terkandung lebih
dari 67% (Manik, Ristiati, 2004). Dari jumlah 40 juta mil kubik air yang
berada di permukaan dan didalam tanah, ternyata tidak lebih dari 0,5%
(0,2 juta mil kubik) yang secara langsung dapat digunakan untuk
kepentingan manusia. Menurut departemen kesehatan (1994), di
Indonesia rata-rata keperluan air adalah 60 liter per kapita, meliputi :
30 liter untuk keperluan mandi, 15 liter untuk keperluan minum dan
sisanya untuk keperluan lainya.
Sejalan dengan kemajuan dan peningkatan taraf kehidupan, maka
jumlah penyediaan air selalu meningkat untuk setiap saat. Akibatnya
banyak kegiatan pengadaan sumber-sumber air yang berasal dari air
tanah. Padahal permasalahannya, air tanah sering mengandung zat
besi (Fe) cukup besar. Unsur Fe 2+ adalah unsur alam dari tanah dan
batuan. Keberadaan Fe di air biasanya berhubungan dengan pelarutan
batuan dan mineral, terutama oksida, sulfide, karbon dan silikat yang
mengandung logam logam tersebut konsentrasi Fe tinggi umumnya
terdapat pada air sumur dalam, dimana konsentrasi Fe dapat mencapai

lebih dari 10 mg/L. ( Kawamura, 2000). Adanya kandungan Fe dalam


air menyebabkan warna air tersebut berubah menjadi kuning-coklat
setelah beberapa saat kontak dengan udara. Di samping dapat
mengganggu kesehatan juga menimbulkan bau yang kurang enak
serta menyebabkan warna kuning pada diding bak serta bercak-bercak
kuning pada pakaian.
Untuk menanggulangi masalah tersebut, salah satu alternatif yang
dapat

dilakukan

dengan

cara

mengolah

air

tersebut

sehingga

didapatkan air dengan kualitas yang memenuhi syarat kesehatan. Oleh


karena itu, sangat perlu cara-cara pengolahan air minum terkait
dengan penghilangan konsentrasi Fe di dalam air salah satunya
dengan menggunakan metode aerasi.
Aerasi adalah satu pengolahan air dengan cara penambahan
oksigen kedalam air. Penambahan oksigen dilakuan sebagai salah satu
usaha pengambilan zat pencemar yang tergantung di dalam air,
sehinggang konsentrasi zat pencemar akan hilang atau bahkan dapat
dihilangkan sama sekali. Pada prakteknya terdapat dua cara untuk
menambahkan oksigen kedalam air yaitu dengan memasukkan udara
ke dalam air dan atau memaksa air ke atas untuk berkontak dengan
oksigen (Sugiharto, 1987).
Tujuan utama proses aerasi ialah agar O 2 di udara dapat bereaksi
dengan kation yang ada di dalam air olahan. Reaksi kation dan oksigen
menghasilkan oksidasi logam yang sukar larut dalam air sehingga
dapat mengendap. Manfaat yang didapat dari proses ini yaitu
menghilangnya rasa serta bau tidak enak, menghilangnya gas-gas
yang

tidak

dibutuhkan

(CO2,

methane,

hydrogen

sulfida),

meningkatnya derajat keasaman air (karena kadar CO2 dihilangkan),


serta

menambah

gas-gas

yang

diperlukan

ataupun

mendinginkan air. Selain itu dengan proses aerasi juga

untuk
dapat

menurunkan kadar besi (Fe) dan magnesium (Mg). Kation Fe 2+ atau

Mg2+ bila disemburkan ke udara akan membentuk oksida Fe 3O3 dan


MgO .

1.2

Tujuan Praktikum
Tujuan dari praktikum pengolahan limbah dengan metode aerasi ini

adalah agar mahasiswa dapat menentukan jumlah kadar oksigen (O 2)


yang ada di dalam air limbah baik sebelum maupun sesudah dilakukan
proses pengolahan limbah, dapat menganalisis COD di dalam air
limbah baik sebelum maupun sesudah dilakukan proses pengolahan
limbah, dapat mengatahui cara menentukan kadar oksigen terlarut
dalam air limbah baik sebelum maupun sesudah dilakukan proses
pengolahan limbah.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
1.

Pengertian Aerasi
Aerasi adalah penambahan oksigen ke dalam air sehingga

oksigen terlarut di dalam air semakin tinggi. Pada prinsipnya aersi


itu mencampurkan air dengan udara atau bahan lain sehingga air
yang beroksigen rendah kontak dengan oksigen atau udara. Aerasi
termasuk pengolahan secara fisika, karena lebih mengutamakan
unsur mekanisasi dari pada unsur biologi. Aerasi merupakan proses
pengolahan dimana air dibuat mengalami kontak erat dengan udara
dengan

tujuan

meningkatkan

kandungan

oksigen

dalam

air

tersebut. Dengan meningkatnya oksigen zat-zat mudah menguap


seperti hiddrogen sulfide dan metana yang mempengaruhi rasa dan
bau dapat dihilangkan. Kandungan karbondioksida dalam air akan
berkurang. Mineral yang larut seprti besi dan mangan akan

teroksidasi mementuk endapan yang dapat dihilangkan dengan


sedimentasi dan filtrasi.
Proses aerasi merupakan peristiwa terlarutnya oksigen di
dalam air. Efektifitas dari aerasi tergantung dari seberapa luas dari
permukaan air yang bersinggungan langsung dengan udara. Fungsi
utama aerasi adalah melarutkan oksigen ke dalam air untuk
meningkatkan kadar oksigen terlarut dalam air dan melepaskan
kandungan gas-gas yang terlarut dalam air, serta membantu
pengadukan air. Aerasi dapat dipergunakan untuk menghilangkan
kandungan gas terlarut, oksidasi besi dan mangan dalam air,
mereduksi ammonia dalam air melalui proses nitrifikasi.
Proses aerasi sangat penting terutama pada pengolahan
limbah yang proses pengolahan biologinya memanfaatkan bakteri
aerob.

Bakteri

aerob

adalah

kelompok

bakteri

yang

mutlak

memerlukan oksigen bebas untuk proses metabolismenya. Dengan


tersedianya oksigen yang mencukupi selama proses biologi, maka
bakteri-bakteri tersebut dapat bekerja dengan optimal. Hal ini akan
bermanfaat dalam penurunan konsentrasi zat organik di dalam air
limbah. Selain diperlukan untuk proses metabolisme bakteri aerob,
kehadiran oksigen juga bermanfaat untuk proses oksidasi senyawasenyawa kimia di dalam air limbah serta untuk menghilangkan bau.
Aerasi dapat dilakukan secara alami, difusi, maupun mekanik.
Aerasi alami merupakan kontak antara air dan udara yang
terjadi karena pergerakan air secara alami. Beberapa metode yang
cukup populer digunakan untuk meningkatkan aerasi alami antara
lain menggunakan cascade aerator, waterfalls, maupun cone tray
aerator. Pada aerasi secara difusi, sejumlah udara dialirkan ke
dalam air limbah melalui diffuser. Udara yang masuk ke dalam air
limbah nantinya akan berbentuk gelembung-gelembung (bubbles).
Gelembung yang terbentuk dapat berupa gelembung halus (fine
bubbles) atau kasar (coarse bubbles). Hal ini tergantung dari
jenis diffuser yang digunakan. Sedangkan aerasi secara mekanik
atau dikenal juga dengan istilah mechanical agitation menggunakan

proses pengadukan dengan suatu alat sehingga memungkinkan


terjadinya kontak antara air dengan udara.

2. Pengertian BOD dan COD


BOD

atau

Biochemical

Oxygen

Demand

adalah

suatu

karakteristik yang menunjukkan jumlah oksigen terlarut yang


diperlukan oleh mikroorganisme (biasanya bakteri) untuk mengurai
atau mendekomposisi bahan organik dalam kondisi aerobik. Bahan
organik yang terdekomposisi dalam BOD adalah bahan organik yang
siap terdekomposisi (readily decomposable organic matter). BOD
dapat

diartikan

sebagai

suatu

ukuran

jumlah

oksigen

yang

digunakan oleh populasi mikroba yang terkandung dalam perairan


sebagai respon terhadap masuknya bahan organik yang dapat
diurai. Berdasarkan pengertian ini dapat dikatakan bahwa walaupun
nilai BOD menyatakan jumlah oksigen, tetapi untuk mudahnya
dapat juga diartikan sebagai gambaran jumlah bahan organik
mudah urai (biodegradable organics) yang ada di perairan.
Sedangkan COD atau Chemical Oxygen Demand adalah
jumlah oksigen yang diperlukan untuk mengurai seluruh bahan
organik yang terkandung dalam air.Hal ini karena bahan organik
yang ada sengaja diurai secara kimia dengan menggunakan
oksidator kuat kalium bikromat pada kondisi asam dan panas
dengan katalisator perak sulfat, sehingga segala macam bahan
organik, baik yang mudah urai maupun yang kompleks dan sulit
urai, akan teroksidasi. Dengan demikian, selisih nilai antara COD
dan BOD memberikan gambaran besarnya bahan organik yang sulit
diurai yang ada di perairan. Bisa saja nilai BOD sama dengan COD,
tetapi

BOD

tidak

bisa

lebih

besar

dari

COD.

Jadi

COD

menggambarkan jumlah total bahan organik yang ada.


3. Pengertian DO
Oksigen terlarut (dissolved oxygen, disingkat DO) atau sering
juga

disebut

dengan

kebutuhan

oksigen

(Oxygen

demand)

merupakan salah satu parameter penting dalam analisis kualitas air.


Nilai DO yang biasanya diukur dalam bentuk konsentrasi ini

menunjukan jumlah oksigen (O2) yang tersedia dalam suatu badan


air. Semakin besar nilai DO pada air, mengindikasikan air tersebut
memiliki kualitas yang bagus. Sebaliknya jika nilai DO rendah, dapat
diketahui bahwa air tersebut telah tercemar. Pengukuran DO juga
bertujuan melihat sejauh mana badan air mampu menampung biota
air seperti ikan dan mikroorganisme. Selain itu kemampuan air
untuk membersihkan pencemaran juga ditentukan oleh banyaknya
oksigen dalam air. Oleh sebab pengukuran parameter ini sangat
dianjurkan disamping parameter lain seperti kob dan kod.
Mekanisme di dalam air, oksigen memainkan peranan dalam
menguraikan komponen-komponen kimia menjadi komponen yang
lebih sederhana. Oksigen memiliki kemampuan untuk beroksida
dengan zat pencemar seperti komponen organik sehingga zat
pencemar tersebut tidak membahayakan. Oksigen juga diperlukan
oleh mikroorganisme, baik yang bersifat aerob serta anaerob, dalam
proses

metabolisme.

Dengan

mikroorganisme semakin

adanya

oksigen

giat dalam menguraikan

dalam

air,

kandungan

dalam air.
Untuk menghitung BOD dari air imbah, harus mengetahui nilai
DO terlebih dahulu. Untuk itu harus menggunakan rumus di bawah
ini:
OT = a x N x 8000
V-4
OT

: oksigen terlarut (mg O2/I)

: volume titran natrium tiosulfat (ml)

: normalitas larutan natrium tiosulfat (ek/I)

: volume botol Winkler (ml)

Kemudian nilai DO yang diperoleh, dapat digunakan untuk


menghitung nilai BOD dengan menggunakan rumus di bawah ini:
BOD 20
5 =

( X 0 X 5 )( B0 B 5 ) ( 1P )
P

X0

: OT sampel pada saat t = 0 hari ( mg O2/I )

X5

: OT sampel pada saat t = 5 hari ( mg O2/I )

B0

: OT blanko pada saat t = 0 (mg O2/I )

B5

: OT blanko pada saat t = 5 (mg O2/I )

: Derajat / faktor pengenceran

Sedangkan untuk menghitung nilai COD dari air limbah, harus


diketahui normalitas dari ferro ammonium sulfat dengan
menggunakan rumus dibawah ini:
Normalitas = ml K2Cr2O7 x 0,25
Fe(NH4)2(SO4)2
Sedangkan untuk menghitung nilai COD air limbah, dapat
menggunakan rumus berikut:
COD ( mg/ L )=

(ab)(N )(8000)
C
ml contoh

Keterangan :
a : ml Fe(NH4)2(SO4)2 untuk blanko
b : ml Fe(NH4)2(SO4)2 untuk contoh
c : factor pengenceran
N : normalitas Fe(NH4)(SO4)2

BAB III
METODE PRAKTIKUM

3.1

Alat dan Bahan


Peralatan yang digunakan dalam pengolahan aerobic antara

lain bak plastic yang digunakan untuk menampung limbah yang


telah diencerkan, aerator akuarium, selang plastic, pompa dan
compressor/diffuser. Selain itu peralatan yang digunakan pada
analisa BOD dengan metode titrasi winkler antara lain botol winkler
sebagai wadah yang digunakan untuk analisa baik sebelum
diinkubasi maupun setelah diinkubasi, pipet volume yang digunakan
dalam pengambilan reagen yang diperlukan dan labu ukur 1 liter
dan 500 ml yang digunakan untuk pengenceran. Sedangkan pada
analisa COD dengan metode titrasi diperlukan peralatan berupa
pipet, labu ukur, reflux, batu didih dan erlenmeyer asa yang
digunakan dalam proses reflux sebelum dianalisa. Dan juga
diperlukan inkubator yang digunakan untuk inkubasi sampel baik
untuk metode analisa BOD maupun COD selama masa inkubasi 5
hari.
Bahan yang digunakan dalam percobaan pengolahan aerobic
adalah limbah laboratorium dan juga biakan mikroba aerobic. Untuk
analisa BOD dengan metode titrasi winkler diperlukan bahan berupa
limbah laboratorium yang telah diencerkan sebanyak 200x dengan
penambahan reagen antara lain aquades, larutan buffer fosfat,
larutan

magnesium

sulfat,

larutan

kalsium

klorida,

larutan

feriklorida, air pengencer, larutan standar natrium tiosulfat 0,1 N,


larutan pereaksi alkali-iodida, mangan (II) sulfat dan amilum 1%.
Sedangkan pada analisa COD dengan metode titrasi diperlukan
limbah yang telah diencerkan sebanyak 10.000x dengan reagen
berupa larutan standar kalium dikromat 0,250 N, larutan perak
sulfat-asam sulfat, larutan standar fero ammonium sulfat 0,10 N,
larutan indicator feroin dan merkuri sulfat (bubuk atau kristal).
3.2

Prosedur Kerja
Pertama-tama menyiapkan alat-alat yang akan digunakan

dalam percobaan yang terdiri dari bak plastik besar, aerator


akuarium, pompa, dan kompresor beserta flowmeternya. Kemudian
memasukkan air limbah sebanyak 1 liter ke dalam bak plastik.

Kemudian tambahkan air biasa sebanyak 39 liter (diencerkan 40x),


lalu diaduk rata. Setelah tercampur rata, kompresor dan pompa
dinyalakan agar air limbah masuk ke dalam aerator akuarium.
Kemudian mengambil sampel air limbah dari bak berisi air limbah
untuk diukur BOD dan COD influen. Setelah itu menunggu sampai
proses aerasi selesai. Setelah proses selesai, sampel air limbah hasil
aerasi diambil untuk diukur BOD dan COD efluen dan mematikan
kompresor.
Untuk analisis BOD menggunakan metode titrasi secara
winkler. Hal pertama yang dilakukan adalah membuat air pengencer
yang terdiri dari 1 ml larutan buffer fosfat, 1 ml larutan magnesium
sulfat, 1 ml larutan kalsium klorida, 1 ml larutan feriklorida untuk
per

liter

air

mengencerkan

suling.
air

Air

limbah.

diencerkan sebanyak

pengencer
Untuk

ini

analisis

digunakan
BOD,

air

untuk
limbah

8.000 kali. Setelah diencerkan, sampel

dimasukkan ke dalam botol winkler hingga sebagian isi tumpah dan


tidak ada gelembung udara, lalu ditutup.
Pengecekan nilai DO dilakukan 2 kali, yaitu DO0 dan DO5.
Untuk pengecekan DO5, sampel yang sudah dimasukkan ke dalam
botol winkler dimasukkan ke dalam BOD inkubator selama 5 hari.
Sedangkan untuk DO0, sampel langsung dititrasi dengan cara
menambahkan 2 ml larutan mangan (II) sulfat di bawah permukaan
cairan ke dalam sampel yang sudah ditempatkan pada botol
winkler. Kemudian ditambahkan 2 ml larutan alkali-iodida dengan
pipet yang lain. Tutup dengan hati-hati agar tidak ada gelembung,
lalu kocok dengan membalik-balikkan botol beberapa kali sampai
bercampur homogen. Setelah homogen, biarkan gumpalan endapan
mengendap selama 10 menit. Bila proses pengendapan sudah
sempurna, maka bagian larutan yang jernih dikeluarkan dari botol
sebanyak setengah bagian dari tinggi botol dan dipindahkan ke
erlenmeyer 250 ml. Ditambahkan 2 ml H 2SO4 pekat ke dalam botol
winkler yang berisi sisa larutan jernih dan endapan. Memasukkan
H2SO4 tidaklah sembarangan. Cara memasukkannya adalah dengan
mengalirkannya melalui dinding bagian dalam dari leher botol,

kemudian botol segera ditutup kembali. Botol digoyang dengan hatihati sehingga semua endapan terlarut. Seluruh isi botol dituangkan
secara kuantitatif kedalam erlenmeyer yang berisi larutan jernih
tadi. Iodin yang dihasilkan dari kegiatan di atas kemudian dititrasi
dengan larutan tiosulfat 0,025 N sehingga timbul warna coklat
muda. Tambahkan juga indikator kanji sebanyak 1 2 ml. Nanti
akan timbul warna biru kehijauan. Setelah itu, titrasi dengan
tiosulfat sampai warna biru hilang untuk pertama kalinya. Jangan
lupa untuk melakukan hal yang sama tetapi menggunakan aquades
sebagai blanko.
Untuk analisis COD hal pertama yang dilakukan adalah
dengan melakukan standarisasi larutan ferro ammonium sulfat.
Standarisasi ini dilakukan dengan tujuan agar dapat mengetahui
berapa normalitas dari larutan ferro ammonium sulfat tersebut.
Pertama-tama

mengencerkan

10

ml

larutan

standar

kalium

dikromat dengan aquades sampai 100 ml. Kemudian tambahkan 30


ml H2SO4 dan didinginkan. Setelah dingin, titrasi dengan larutan
ferroamonium

sulfat

dengan

menggunakan

indikator

ferroin

sebanyak 2-3 tetes. Nanti perubahan warna yang terjadi adalah dari
larutan berwarna biru hijau menjadi merah coklat.
Selanjutnya adalah melakukan analisis COD. Langkah pertama
yang dilakukan adalah menambahkan 0,4 gr HgSO 4 ke dalam
erlenmeyer 250 ml. Kemudian tambahkan 20 ml contoh air yang
sudah diencerkan sedemikian rupa. Untuk analisis COD ini, air
limbah diencerkan sebanyak 400.000 kali. Kemudian dilarutkan
hingga homogen. Setelah itu, tambahkan 10 ml larutan standar
kalium dikromat dan tambahkan pula dengan hati-hati 30 ml asam
sulfat pekat yang mengandung Ag 2SO4. Untuk penambahan asam
sulfat pekat yang sudah mengandung Ag2SO4, usahakan untuk
melakukannya di lemari asam. Setelah itu, campur dengan baik dan
hati-hati agar tidak terjadi pemanasan setempat, karena kalau tidak
larut dapat menyembur keluar erlenmeyer dan dapat melemparkan
pendingin. Kemudian refluks selama 2 jam. Bilas kondensor dengan
25-50 ml aquades, tambahkan air bilasan ke campuran hasil refluks.

Kemudian

tambahkan

kelebihan

dikromat

2-3

tetes

dengan

indikator

menggunakan

ferroin

dan

larutan

titrasi
standar

ferroamonium sulfat. Perubahan warna yang terjadi dari biru hijau


menjadi merah coklat. Jangan lupa untuk melakukan hal sama untuk
blanko, tetapi contoh diganti dengan aquades.

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1

Hasil

Analisis COD
1. Standarisasi larutan ferro ammonium sulfat
Bahan :
10 ml larutan standar kalium dikromat (diencerkan dengan

aquades sampai 100 ml)


30 ml H2SO4
Indikator Ferroin 2-3 tetes

Hasil : Fe(NH4)2(SO4)2 36,1 ml


Normalitas = ml K2Cr2O7 x 0,25
Fe(NH4)2(SO4)2
= 10 ml x 0,25
36,1 ml
= 0,069
2. Pengukuran COD
Bahan :

0,43 gr HgSO4 untuk influent , 0,47 untuk blanko , 0,46

untuk effluent
20 ml larutan contoh ( limbah dan blanko )
30 ml H2SO4 yang mengandung AgSO4
Indikator ferroin 2-3 tetes
1. Influen
(ab)(N )(8000)
COD ( mg/ L )=
C
ml contoh

( 65,524,8 ) ( 0,069 ) ( 8000 )


400.000
20
8

4,4 10

2. Efluen
COD ( mg/ L )=

(ab)(N )(8000)
C
ml contoh

( 65,519,7 ) ( 0,069 ) ( 8000 )


400.000
20
5,0563 108

Analisis BOD
a. Perhitungan BOD (0 hari)
Blanko
a . N .8000
OT =
V 4

1 0,025 8000
1004

200
96

2,0833

mg O2/L

Influen
OT =

1,6 0,025 8000


1004

320
96

3,3333

a . N .8000
V 4

mg O2/L

Efluen
OT =

a . N .8000
V 4

1,4 0,025 8000


1004

280
96

2,9166

mg O2/L

b. Perhitungan BOD (5 hari)


Blanko
a . N .8000
OT =
V 4

1 0,025 8000
1004

200
96

2,0833

mg O2/L

Influen
OT =

a . N .8000
V 4

0,625

0,3 0,025 8000


1004

60
96
mg O2/L

Efluen
OT =

2,5

a . N .8000
V 4

1,2 0,025 8000


1004

240
96

mg O2/L

Influen
BOD 20
5 =

( X 0 X 5 )( B0 B 5 ) ( 1P )
P

21664

( 3,3330,625 ) (2,08332,0833 ) [ 1( 1,25 104 ) ]


1,25 104
2,7080
4
1,25 10
mg O2/L

Efluen
20

BOD 5 =

( X 0 X 5 )( B0 B 5 ) ( 1P )
P

4.2

( 2,91662,5 ) ( 2,08332,0833 ) [ 1( 1,25 104 ) ]


1,25 104

0,41660
1,25 104

3332,8

mg O2/L

Pembahasan

Pada percobaan kali dilakukan praktikum pengolahan limbah


dengan mnggunakan metode aerasi. Aerasi yang dilakukan adalah
aerasi secara difusi. Aerasi secara difusi merupakan metode
pengolahan limbah dengan cara memasukkan sejumlah udara
dialirkan ke dalam air limbah melalui diffuser. Udara yang masuk ke
dalam air limbah nantinya akan berbentuk gelembung-gelembung
(bubbles). Bahan yang digunakan dalam praktikum ini adalah air
limbah dari laboratorium kimia dasar.
Hal pertama yang dilakukan adalah mengecek flowrate air
limbah yang masuk ke dalam aerasi akuarium. Flowrate yang
diperoleh sebesar 550 ml/menit. Kemudian mengencerkan air
limbah sebanyak 40x. Air limbah diencerkan dengan menggunakan
air kran biasa. Setelah itu mengecek BOD dan COD air limbah
sebelum masuk ke dalam aerasi akuarium. Untuk pengecekan BOD
diencerkan sebanyak 8000x dan untuk pengecekan COD, air limbh
diencerkan sebanyak 400.000x.
Prinsip pengukuran BOD pada dasarnya cukup sederhana,
yaitu mengukur kandungan oksigen terlarut awal (DO 0) dari sampel
segera

setelah

pengambilan

contoh,

kemudian

mengukur

kandungan oksigen terlarut pada sampel yang telah diinkubasi


selama 5 hari pada kondisi gelap dan suhu tetap (20 oC) yang sering
disebut dengan DO5. Selisih DO0 dan DO5 (DO0 - DO5) merupakan
nilai BOD yang dinyatakan dalam miligram oksigen per liter (mg
O2/L). Kali ini, pengukuran oksigen dilakukan dengan cara titrasi
(metode Winkler. Pada prinsipnya dalam kondisi gelap, agar tidak
terjadi proses fotosintesis yang menghasilkan oksigen, dan dalam
suhu yang tetap selama lima hari, diharapkan hanya terjadi proses
dekomposisi oleh mikroorganime, sehingga yang terjadi hanyalah
penggunaan oksigen, dan oksigen tersisa dianggap sebagai DO 5.
Yang harus diperhatikan dalam hal ini adalah mengupayakan agar
masih ada oksigen tersisa pada pengamatan hari kelima sehingga
DO5 tidak nol. Bila DO5 nol maka nilai BOD tidak dapat ditentukan.
Sebelum dilakukan pengecekan nilai DO 0 dan DO5 harus dilakukan
pengenceran

terlebih

dahulu.

Pengenceran

dan/atau

aerasi

diperlukan agar masih cukup tersisa oksigen pada hari kelima.


Karena melibatkan mikroorganisme (bakteri) sebagai pengurai
bahan organik, maka analisis BOD memang cukup memerlukan
waktu.
Lima

hari

inkubasi

adalah

kesepakatan

umum

dalam

penentuan BOD. Temperatur 20oC dalam inkubasi juga merupakan


temperatur

standard.

Temperatur

20oC

adalah

nilai

rata-rata

temperatur sungai beraliran lambat di daerah beriklim sedang.


Untuk daerah tropik seperti Indonesia, bisa jadi temperatur inkubasi
ini tidaklah tepat. Temperatur perairan tropik umumnya berkisar
antara 2530C, dengan temperatur inkubasi yang relatif lebih
rendah bisa jadi aktivitas bakteri pengurai juga lebih rendah dan
tidak optimal sebagaimana yang diharapkan. Hal ini merupakan
salah satu kelemahan lain BOD selain waktu penentuan yang lama
tersebut.
Jika dilihat pada hasil percobaan, nilai BOD sebelum dilakukan
proses aerasi adalah sebesar

21664

mg O2/L. Nilai BOD sesudah

dilakukan proses aerasi adalah sebesar

3332,8

mg O2/L. Hal ini

dapat terjadi karena pada saat penentuan nilai DO 5 hanya terjadi


proses dekomposisi oleh mikroorganime yang terjadi di dalam
inkubator, sehingga yang terjadi hanyalah penggunaan oksigen
saja.
Kemudian yang dilakukan adalah penentuan angka COD.
Metode

pengukuran

COD

sedikit

lebih

kompleks,

karena

menggunakan peralatan khusus reflux, penggunaan asam pekat,


pemanasan,

dan

titrasi.

Peralatan

reflux

diperlukan

untuk

menghindari berkurangnya air sampel karena pemanasan. Pada


prinsipnya pengukuran COD adalah penambahan sejumlah tertentu
kalium bikromat (K2Cr2O7) sebagai oksidator pada sampel (dengan
volume diketahui) yang telah ditambahkan asam pekat dan katalis
perak

sulfat,

kemudian

dipanaskan

selama

beberapa

waktu.

Selanjutnya, kelebihan kalium bikromat dititrasi. Dengan demikian

kalium bikromat yang terpakai untuk oksidasi bahan organik dalam


sampel dapat dihitung dan nilai COD dapat ditentukan.
Jika dilihat pada hasil percobaan, nilai COD sebelum dilakukan
proses aerasi adalah sebesar

4,4 108 . Sedangkan nilai COD

8
sesudah dilakukan proses aerasi adalah sebesar 5,0563 10 . Hal ini

dapat terjadi karena senyawa kompleks anorganik yang ada di


dalam air limbah dapat teroksidasi juga ikut dalam reaksi, sehingga
menyebabkan nilai COD mungkin sedikit over estimate untuk
gambaran kandungan bahan organik.
Bilamana nilai BOD baru dapat diketahui setelah waktu
inkubasi lima hari, maka nilai COD dapat segera diketahui setelah
satu atau dua jam. Walaupun jumlah total bahan organik dapat
diketahui melalui COD dengan waktu penentuan yang lebih cepat,
nilai BOD masih tetap diperlukan. Dengan mengetahui nilai BOD,
akan diketahui proporsi jumlah bahan organik yang mudah terurai
(biodegradable), dan ini akan memberikan gambaran jumlah
oksigen yang akan terpakai untuk dekomposisi di perairan dalam
sepekan (lima hari) mendatang. Lalu dengan memperbandingkan
nilai BOD terhadap COD juga akan diketahui seberapa besar jumlah
bahan-bahan organik yang lebih persisten yang ada di perairan.

BAB V
PENUTUP
5.1 Kesimpulan
Kesimpulan dari percobaan ini adalah:
Aerasi adalah penambahan oksigen ke dalam air sehingga
oksigen terlarut di dalam air semakin tinggi.

Pada percobaan pengolahan limbah metode aerasi ini kadar


COD awal dan COD akhir mengalami kenaikan yang dapat
disebabkan karena senyawa kompleks anorganik yang ada di
dalam air limbah dapat teroksidasi juga ikut dalam reaksi.
Untuk kadar BOD awal dan akhir setelah inkubasi mengalami
penurunan, dikarenakan kadar oksigen terlarut yang ada pada
metode aerasi dapat mengurangi kandungan logam dan CO 2
bebas yang terdapat dalam limbah.

BAB VI
DAFTAR PUSTAKA

Manik, Ristiati. 2004. Analisis Kualitas Bakteri Koliform Pada Depo


Air Minum Isi Ulang Di kota Singaraja Bali. Jurnal Ekologi Kesehatan
Vol 3 No1., diterbitkan Apri;l 2004;64-73.

Sugiharto (1987), Dasar Dasar Pengolahan Air Limbah, Cetakan

Pertama, UI Press, Jakarta.


Kawamura, S. 2000. Integrated

Design

Of

Water

Treatment

Facilities, John Wiley & Sons Inc, New York, Chichester, Brisbane,

Toronto, Singapura.
Anonim. 2011. Pengolahan Limbah Industri.
https://himka1polban.wordpress.com/laporan/pengolahan-limbah-

industri/laporan-aerasi/ [3 Mei 2015]


Wahyu, Ratna Ningtyas. 2014. Laporan Praktikum Aerasi.
https://duniakesehatanmasyarakat.wordpress.com/2014/04/12/lapor

an-praktikum-aerasi/ [3 Mei 2015]


Purnamawati, Luky. 2012. BOD dan COD.
http://lukypurnama.blogspot.com/2012/10/bod-dan-cod.html [4 Mei
2015]