Anda di halaman 1dari 119

STUDI PENGARUH LINGKUNGAN PENGENDAPAN TERHADAP

KUALITAS SULFUR, ABU DAN KALORI LAPISAN BATUBARA DAERAH


BINUNGAN KECAMATAN SAMBALIUNG KABUPATEN BERAU
KALIMANTAN TIMUR

SKRIPSI

Oleh
Galih Kurniawan
111990112

JURUSAN TEKNIK GEOLOGI


FAKULTAS TEKNOLOGI MINERAL
UNIVERSITAS PEMBANGUNAN NASIONAL VETERAN
YOGYAKARTA
2005
Jl. SWK 104 (Lingkar Utara) Condong Catur, Telp. (0274) 566733, 585188, Fax (0274) 566800, Yogyakarta 55281

ii

HALAMAN PENGESAHAN

STUDI PENGARUH LINGKUNGAN PENGENDAPAN TERHADAP


KUALITAS SULFUR, ABU DAN KALORI LAPISAN BATUBARA DAERAH
BINUNGAN KECAMATAN SAMBALIUNG KABUPATEN BERAU
KALIMANTAN TIMUR

SKRIPSI
Diajukan sebagai syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Strata 1

Oleh :
Galih Kurniawan
111990112

Yogyakarta,

April 2005

Menyetujui,
Pembimbing I

Pembimbing II

iii

SARI
Daerah penelitian berada di konsesi PT. Berau Coal. Secara administratif terletak di daerah
Binungan Kecamatan Sambaliung Kabupaten Berau Kalimantan Timur. Secara geografis
termasuk dalam Cekungan Tarakan sub-Cekungan Berau, Formasi Latih.
Geomorfologi daerah penelitian sangat dipengaruhi oleh struktur geologi yang ada dan proses
erosi dan pelapukan yang intensif. Bentukan asal daerah penelitian dibagi menjadi tiga yaitu
bentukan asal Struktural terdenudasi dengan sub satuan geomorfik Punggungan Tererosi (S1)
satuan bentukan asal Denudasional, dengan sub satuan geomorfik adalah Lembah Hasil Erosi
(D1) dan Perbukitan Tererosi (D2), dan satuan bentukan asal Fluvial dengan sub satuan
geomorfik Dataran Limpah Banjir (F1).
Stratigrafi daerah penelitian dari tua kemuda adalah satuan batupasir Latih dengan umur
Miosen Awal - Miosen Tengah yang diendapkan pada lingkungan transitional lower delta
plain. Di atasnya secara selaras diendapkan satuan batupasir kuarsa Latih pada kala Miosen
Tengah di lingkungan transitional lower delta plain. Kemudian di atasnya secara selaras
diendapkan satuan batulempung Latih pada kala Miosen Tengah pada lingkungan transitional
lower delta plain. Di atas satuan batulempung Latih diendapkan secara tidak selaras endapan
alluvial yang merupakan hasil sedimentasi dari Sungai Binungan.
Struktur geologi yang berkembang di daerah penelitian adalah Sinklin Binungan yang
memiliki arah umum sumbu lipatan bagian selatan adalah N 157 E/ 22 dan N 14 E/ 27,
arah umum sumbu lipatan N 176 E / 86 dan garis sumbu 8, N 178 E. Jenis lipatan adalah
Upright Horizontal Fold (Fluety, 1964), arah umum sumbulipatan bagian utara adalah adalah
N 151 E/ 14, kedudukan arah umum sayap lipatan baratdaya adalah N 350 E/ 73 dan N
170 E / 60 dan garis sumbu 6, N 168 E. Jenis lipatan adalah Steeply inclined Horizontal
Fold (Fluety, 1964) Sesar naik Binungan terletak di bagian barat daerah penelitian. Sesar ini
merupakan sesar yang diperkirakan berdasarkan data-data lapangan berupa kedudukan lapisan
batuan yang relatif besar, adanya zona hancuran dan kenampakan topografi yang curam
dengan punggungan yang memanjang.
Sejarah geologi daerah penelitian dimulai pada kala Miosen Awal dengan diendapkannya
satuan batupasir Latih. Kemudian secara selaras diendapkan satuan batupasir kuarsa Latih
pada kala Miosen Awal-Miosen Tengah. Kemudian diendapkan secara selaras satuan
batulempung Latih pada kala Miosen Tengah. Setalah pengendapan batulempung Latih terjadi
proses tektonik dengan arah gaya relatifbarat-daya timurlaut. Proses tektonik ini
menyebabkan terlipatnya seluruh satuan batuan yang ada di daerah penelitian dan membentuk
sinklin Binungan dan sesar naik Binungan. Sesar naik Binungan mengakibatkan satuan
batupasir Latih terangkat. Proses pelapukan dan erosi terus berlangsung hingga sekarang yang
mengakibatkan semua satuan batuan yang ada tersingkap dan membentuk endapan alluvial
disekitar sungai Binungan.
Total sulfur daerah penelitian berkisar antara 0,21 2,84 (%adb). Total sulfur dipengaruhi
oleh kehadiran plant remain, kehadiran pirit, dan lingkungan pengendapan. Kandungan abu di
daerah penelitian berkisar antara 3,17 - 37,34 (%adb). Kandungan abu dipengaruhi oleh
kehadiran parting dalam lapisan batubara. Nilai kalori di daerah penelitian berkisar antara
3.284,00 - 6.123,98 Kcal/kg. Nilai kalori sedikit dipengaruhi oleh kehadiran resin yang akan
meningkatkan nilai kalori. Selain itu, kadungan abu dalam batubara juga berpengaruh
terhadap nilai kalori dalam batubara. Semakin tinggi kandungan abu, maka nilai kalori akan
semakin rendah.

iv

KATA PENGANTAR
Syukur alhamdullillah atas berkat dan rahmat Allah SWT, penulis dapat
menyelesaikan laporan skripski ini, sebagai salah satu persyaratan untuk memperoleh
gelar sarjana Strata satu ( S 1 ) di Jurusan Teknik Geologi Fakultas Teknologi
Mineral Universitas Pembangunan Nasional Veteran.

Dalam penulisan laporan skripsi ini, penulis banyak mendapat bantuan baik
langsung maupun tidak langsung. Untuk itu penulis ingin mengucapkan rasa terima
kasih yang sebesar besarnya kepada :
1. Bapak Ir. Joko Soesilo, MT selaku Ketua Jurusan Teknik Geologi Fakultas
Teknologi Mineral Universitas Pembangunan Nasional Veteran.
2. Bapak Ir. Ediyanto MT dan Ir. Suprapto, MT selaku Pembimbing I dan
Pembimbing II, yang telah memberikan kritik dan saran sehingga laporan ini
dapat terselesaikan dengan baik.
3. Bapak Ir. Ahmad Subandrio, MT dan Ir. Basuki Rahmat selaku pembahas.
4. Bapak Ir. Jeffrey Mulyono selaku Presiden Direktur PT. Berau Coal. Ir.
Gatot Budi Kuncahyo selaku manager G&D, Ir. Triyoso,

Ir. Yoga

Suryanegara, Ir. Dadan Ramdan, dan Bapak Martadi selaku pembimbing


selama di PT. Berau Coal, serta seluruh karyawan dan staff PT. Berau Coal.
5. Keluarga tercinta, Bapak, Ibu, Wawan, Denok, dan Ana yang telah
memberikan bantuan dan semangat sehingga penulis dapat menyelesaikan
skripsi ini dengan baik.
6. Teman teman Geologi dari Unpad, Unhas, Trisakti, UGM, dan STTNAS
yang senantiasa membantu selama di lapangan, memberikan masukan, dan
kritik yang bermanfaat serta membantu penulis dalam membuat laporan baik
secara langsung maupun tidak langsung.
7. Semua angkatan 99 Geologi UPN yang telah memberi kritik dan saran serta
semangat dalam palaksanaan skripsi hingga selesai.

Akhir kata, penulis menyadari bahwa pembuatan laporan ini masih banyak
kekurangan, oleh karena itu penulis sangat mengharapkan adanya saran serta kritik
dari pembaca sebagai bekal penulis dimasa yang akan datang. Semoga apa yang saya
tulis ini kelak dapat bermanfaat bagi semua orang yang membacanya, Amien.

Yogyakarta, 2005

Penulis

vi

DAFTAR ISI

Halaman Judul ..............................................................................................


Halaman Pengesahan ....................................................................................
Sari ..................................................................................................................
Kata Pengantar ..............................................................................................
Daftar Isi ........................................................................................................
Daftar Gambar ..............................................................................................
Daftar Tabel ...................................................................................................
Daftar Foto .....................................................................................................
Pendahuluan ..........................................................................
BAB 1
1.1
Latar Belakang ........................................................................
1.2
Maksud dan Tujuan .................................................................
1.3
Manfaat Penelitian ..................................................................
1.4
Lokasi Penelitian .....................................................................
1.5
Rumusan Masalah ...................................................................
1.6
Hasil Penelitian .......................................................................
Metodologi .............................................................................
BAB 2
2.1
Ruang Lingkup ........................................................................
2.2
Perolehan Data ........................................................................
2.3
Pemilihan Jenis Data dan Pemrosesan Data ............................
2.4
Bahan dan Alat ........................................................................
Kajian Pustaka dan Landasan Teori ...................................
BAB 3
3.1
Kajian Pustaka .........................................................................
3.2
Landasan Teori ........................................................................
3.2.1
Parameter Kualitas Batubara ...................................................
3.2.2
Analisa Kimia Batubara ..........................................................
3.2.3
Karakteristik Fisik Lapisan Batubara ......................................
3.2.4
Analisa Lingkungan Pengendapan ..........................................
Geologi Daerah Penelitian ....................................................
BAB 4
4.1
Geologi Ragional ....................................................................
4.1.1
Fisiografi .................................................................................
4.1.2
Stratigrafi .................................................................................
4.1.3
Struktur Geologi ......................................................................
4.2
Geologi Daerah Penelitian ......................................................
4.2.1
Geomorfologi ..........................................................................
4.2.1.1 Punggungan Tererosi ...............................................................
4.2.1.2 Lembah Hasil Erosi .................................................................
4.2.1.3 Perbukitan Tererosi .................................................................
4.2.1.4 Dataran Aluvial .......................................................................
4.2.1.5 Pola Aliran dan Stadia Erosi ...................................................
4.2.2
Stratigrafi .................................................................................
4.2.2.1 Satuan batupasir Latih .............................................................
4.2.2.2 Satuan batupasir kuarsa Latih ................................................
4.2.2.3 Satuan batulempung Latih .......................................................
4.2.2.4 Endapan Aluvial

i
ii
iii
iv
vi
viii
ix
x
1
1
1
2
2
3
3
7
7
7
7
9
11
11
13
13
14
14
16
18
18
18
19
22
24
24
25
25
26
26
27
30
30
32
35
37

vii

4.2.3
4.2.3.1
4.2.3.2
4.2.4
5
5.1
5.1.1
5.1.2
5.2
5.2.1
5.2.2
5.3
5.3.1
5.3.2
5.4
5.4.1
5.4.2
5.5
5.5.1
5.5.2
5.6
5.6.1
5.6.2
5.7

Struktur Geologi ......................................................................


Sinklin Binungan .....................................................................
Sesar Naik Binungan ...............................................................
Sejarah Geologi .......................................................................
Hasil Penelitian dan Pembahasan ........................................
BAB
Lapisan Batubara Grup G ........................................................
Karakteristik dan Kualitas Lapisan Batubara Grup G .............
Lingkungan Pengendapan Lapisan Batubara Grup G .............
Lapisan Batubara Grup H ........................................................
Karakteristik dan Kualitas Lapisan Batubara Grup H .............
Lingkungan Pengendapan Lapisan Batubara Grup H .............
Lapisan Batubara J ..................................................................
Karakteristik dan Kualitas Lapisan Batubara J .......................
Lingkungan Pengendapan Lapisan Batubara J ........................
Lapisan Batubara Grup K ........................................................
Karakteristik dan Kualitas Lapisan Batubara Grup K .............
Lingkungan Pengendapan Lapisan Batubara Grup K .............
Lapisan Batubara Grup K1 ......................................................
Karakteristik dan Kualitas Lapisan Batubara Grup K1 ...........
Lingkungan Pengendapan Lapisan Batubara Grup K1 ...........
Lapisan Batubara Grup L ........................................................
Karakteristik dan Kualitas Lapisan Batubara Grup L .............
Lingkungan Pengendapan Lapisan Batubara Grup L .............
Hubungan Lingkungan Pengendapan Terhadap Kualitas
Lapisan Batubara .....................................................................
Kesimpulan ............................................................................
BAB 6
Daftar Pustaka .....................................................................................................
Lampiran
Analisa Petrografis Sayatan Batuan ........................................................
Data Kedudukan Batuan Dalam Analisa Stereografis
Analisa Stereografis Sinklin Binungan ...................................................
Data Survey Titik Bor
Data Analisa Kimia Batubara

40
40
41
41
43
45
45
46
53
53
58
59
59
64
64
64
68
72
72
73
74
74
80
82
86
89
91
91
96
97
99
101

viii

DAFTAR GAMBAR

Gambar
Gambar
Gambar
Gambar
Gambar

1.1
1.2
1.3
2.1
2.2

Gambar

3.1

Gambar

3.2

Gambar

4.1

Gambar

4.2

Gambar
Gambar
Gambar
Gambar
Gambar
Gambar
Gambar
Gambar
Gambar
Gambar
Gambar
Gambar
Gambar
Gambar
Gambar
Gambar
Gambar
Gambar
Gambar
Gambar
Gambar
Gambar
Gambar
Gambar
Gambar

4.3
4.4
4.5
4.6
5.1
5.2
5.3
5.4
5.5
5.6
5.7
5.8
5.9
5.10
5.11
5.12
5.13
5.14
5.15
5.16
5.17
5.18
5.19
5.20
5.21

Peta lokasi PT. Berau Coal ..........................................................


Peta konsesi PT. Berau Coal ........................................................
Peta Lokasi daerah Penelitian ......................................................
Skema korelasi lapisan batubara ..................................................
Diagram alir penelitian ................................................................
Peta geologi regional daerah penelitian (Situmorang dan
Burhan, 1995) ..............................................................................
Model lingkungan pengendapan batubara dari daerah pantai
sampai darat (Horne, 1978) .........................................................
Fisiografi Cekungan Tarakan Menurut Situmorang (1986) ........
Struktur regional cekungan Tarakan Situmorang dan Burhan
(1992) ...........................................................................................
Pola aliran sungai (Howard, 1967) ..............................................
Peta pola aliran daerah penelitian ................................................
Sekuen endapan transitional lower delta plain (Horne, 1978) ..
Profil lokasi pengamatan 63, 64, dan 65 .....................................
Peta distribusi titik bor daerah penelitian ....................................
Profil lokasi pengamatan 41, 42, 43, dan 44 ...............................
Profil lokasi pengamatan 51, 52, 53, dan 54 ...............................
Peta iso sulfur seam G dan GL ....................................................
Peta iso ash seam G dan GL .......................................................
Peta iso kalori seam G dan GL ....................................................
Peta iso sulfur seam H dan HL ....................................................
Peta iso ash seam H dan HL ........................................................
Peta iso kalori seam H dan HL ....................................................
Peta iso sulfur seam J ..................................................................
Peta iso ash seam J ......................................................................
Peta iso kalori seam J ..................................................................
Profil lokasi pengamatan 4, 5, 6, dan 7 .......................................
Profil lokasi pengamatan 67, 68, 69, dan 70 ...............................
Peta iso sulfur seam K dan KL ....................................................
Peta iso ash seam K dan KL ........................................................
Peta iso kalori seam K dan KL ....................................................
Profil lokasi pengamatan 2 ..........................................................
Peta iso sulfur seam L, LL, dan LLL ...........................................
Peta iso ash seam L, LL, dan LLL ..............................................
Peta iso kalori seam L, LL, dan LLL ...........................................

4
5
6
8
10
12
17
18
23
27
29
33
41
47
48
49
50
51
52
55
56
57
61
62
63
65
66
69
70
71
77
78
79
80

ix

DAFTAR TABEL

Tabel

4.1

Tabel
Tabel
Tabel
Tabel
Tabel
Tabel
Tabel
Tabel
Tabel
Tabel
Tabel
Tabel
Tabel
Tabel
Tabel

4.2
4.3
5.1
5.2
5.3
5.4
5.5
5.6
5.7
5.8
5.9
5.10
5.11
5.12
5.13

Kolom stratigrafi Sub Cekungan Berau (Situmorang dan


Burhan, 1995) ..........................................................................
Kolom stratigrafi daerah penelitian (penulis, 2004) ................
Klasifikasi Lipatan menurut Fluety, 1964 ...............................
Skema seam daerah penelitian ................................................
Karakteristik dan kualitas lapisan batubara grup G ................
Analisa lingkungan pengendapan lapisan batubara grup G ...
Karakteristik dan kualitas lapisan batubara grup H ................
Analisa lingkungan pengendapan lapisan batubara grup H ...
Karakteristik dan kualitas lapisan batubara J ..........................
Analisa lingkungan pengendapan lapisan batubara J .............
Karakteristik dan kualitas lapisan batubara grup K ................
Analisa lingkungan pengendapan lapisan batubara grup K ...
Karakteristik dan kualitas lapisan batubara grup K1 ..............
Analisa lingkungan pengendapan lapisan batubara grup K1 .
Karakteristik dan kualitas lapisan batubara grup L .................
Analisa lingkungan pengendapan lapisan batubara grup L ....

21
39
41
43
45
47
53
58
59
64
67
68
72
73
76
81

DAFTAR FOTO
Foto
Foto
Foto
Foto

1.1
4.1
4.2
4.3

Akses jalan di daerah penelitian ..................................................


Sungai Binungan .........................................................................
Singkapan batupasir halus dengan nodul batulempung ..............
Singkapan batupasir sedang dengan sisipan batulempung ..........

3
28
31
34

BAB 1
PENDAHULUAN

1.1

Latar Belakang

Batubara merupakan salah satu sumber energi alternatif yang sangat potensial untuk
dikembangkan di Indonesia, karena Indonesia

salah satu negara yang memiliki

sumber daya batubara cukup banyak yang tersebar di Pulau Sumatera dan
Kalimantan.
Kegiatan eksplorasi mutlak dilakukan untuk mencari daerah yang potensial
mengandung batubara. Kegiatan ini meliputi eksplorasi di atas permukaan berupa
pemetaan topografi, pemetaan geologi dan struktur, dan eksplorasi di bawah
permukaan meliputi pemboran, elektronik logging, geolistrik, dan geomagnet.
Kegiatan eksplorasi juga bertujuan untuk mengetahui karakteristik lapisan batubara
yang ada disuatu daerah. Karakteristik batubara dapat meliputi geometri lapisan
batubara dan kualitas batubara. Dimana dengan diketahuinya karakteristik batubara di
daerah tersebut maka nilai ekonomis batubara dapat ditentukan.
Berdasarkan penjelasan di atas maka perlu dilakukan penelitian mengenai
karakteristik lapisan batubara pada daerah penelitian.

1.2

Maksud dan Tujuan

Maksud dilakukannya penelitian ini adalah untuk memenuhi salah satu persyaratan
akademik pada Jurusan Teknik Geologi, Universitas Pembangunan Nasional
Veteran Yogyakarta. Penelitian ini merupakan tugas akhir/skripsi untuk
mendapatkan gelar Sarjana (S1) pada bidang geologi.
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk:
1. Mengetahui kondisi geomorfologi dan geologi daerah penelitian.
2. Mengetahui karakteristik batubara daerah penelitian ditinjau dari segi kualitas.
3. Mengetahui pengaruh lingkungan pengendapan terhadap kualitas batubara
(kandungan sulfur, abu, dan nilai kalori) daerah penelitian.

1.3

Manfaat Penelitian

Manfaat dari penelitian ini adalah:


1. Secara keilmuan mengetahui pengaruh lingkungan pengendapan terhadap sebaran
kualitas lapisan batubara (kandungan sulfur, abu, dan nilai kalori) pada daerah
penelitian.
2. Secara ekonomi dapat menentukan lapisan batubara yang layak untuk ditambang.

1.4

Lokasi Penelitian

Lokasi penelitian terletak pada wilayah konsesi pertambangan PT. Berau Coal yang
secara administratif terletak pada daerah Binungan, Kecamatan Sambaliung,
Kabupaten Berau, Kalimantan Timur. Daerah penelitian terletak kurang lebih 45 km
sebelah barat daya ibu kota Kabupaten Berau, Tanjung Redeb. Secara geografis
terletak pada koordinat:
UTM
TITIK

1
2
3
4
5

GEOGRAFIS

EASTING

NORTHING

(m)

(m)

549,386.00
550,655.00
551,671.00
551,050.00
549,558.00

228,299.00
229,395.00
226,200.00
226,200.00
227,988.00

TITIK

LINTANG UTARA

BUJUR TIMUR
(Derajat)

1
2
3
4
5

(Menit)

(Detik)

26 '
27 '
27 '
27 '
26 '

39 "
20 "
53 "
33 "
44 "

117
117
117
117
117

(Derajat) (Menit)
2
2
2
2
2

3'
4'
2'
2'
3'

(Detik)
55 "
31 "
47 "
47 "
45 "

Luasan daerah penelitian 2.949.522 m2.


Daerah penelitian dapat dicapai dengan sarana transportasi sebagai berukut:
-

Dari Yogyakarta menggunakan pesawat udara selama kurang lebih 2 jam menuju
Bandar Udara Sepinggang, Balikpapan.

Dari Bandar udara Sepinggang dilanjutkan menggunakan pesawat udara selama


kurang lebih 1,5 jam menuju Bandar Udara Kalimaru, Tanjung Redeb.

Dari kota Tanjung Redeb menuju daerah penelitian dapat ditempuh menggunakan
speed boad selama kurang lebih 40 menit, dan apabila menggunakan kendaraan
darat ditempuh selama kurang lebih 60 menit.

1.5

Rumusan Masalah

Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah :


1. Bagaimana kondisi geografi dan geologi daerah penelitian ?
2. Bagaimana pengaruh lingkungan pengendapan terhadap kualitas sulfur, abu,
dan kalori batubara daerah penelitian ?

1.6

Hasil Penelitian

Hasil penelitian terdiri dari:


1. Kondisi geografi dan geologi daerah penelitian (dalam peta geomorfologi dan peta
geologi).
2. Pola sebaran kualitas batubara daerah penelitian yang meliputi kandungan sulfur,
kandungan abu, serta nilai kalori.
3. Hubungan lingkungan pengendapan terhadap kualitas (kandungan sulfur, abu, dan
nilai kalori) lapisan batubara.
Hasil penelitian disajikan dalam bentuk peta-peta, profil, kolom stratigrafi, serta tabeltabel.

Foto 1.1 Akses jalan di daerah penelitian yang masih berupa jalan tanah.

IN

Tarakan

IA

PT BARADINAMIKA

P T BERAU COAL

EAST

PT KALTIM PRIMA COAL

Samarinda

WEST
CENTRAL

PT TANITO HARUM
PT MULTI HARAPAN UTAMA Balikpapan
PT KIDECO

PT ADARO

PT KENDILO

Palangkaraya

SOUTH
PT ARUTMIN INDONESIA

Legend :

Banjarmasin
: Coal Mine Area

PT BAHARI CAKRAWALA SEBUKU

: Capital Province
: Town

Kotabaru

MAKASAR STRAIT

KALIMANTAN

Pontianak

JAVA SEA

Gambar 1.1 Peta lokasi PT. Berau Coal

5
510000E

525000E

540000E

555000E

570000E

585000E

600000E

Keterangan :

BERAU COAL

Batas Konsesi DU 424


Batas Potensi Batubara
Sungai & anak sungai

KAB.B U L U N G A N

Sambarata

260000N

260000N

KP Eksploitasi

KAB.B E R A U

Lati Area
ai
ng
Su
i
Lat

Birang Area

ai
Sung

Punan Area

245000N

Bira
ng

Makasang

Sungai Pura

Tepian Buah

M
Sungai Punang

Gn.Tabur

m
Sa

ng
ga
ng

Sungai Nukai

Tanjung Redeb

ai

Seg

ela

iK

.P
Tg

Kasai

Sungai Ulak

Merancang Hilir
Batubatu

at
ng
era

Gurimbang

245000N

Guntung

Sungai Berau

Bangun

Muara Kasai

Sukan

Lalawan

Sodang

Gurimbang Area

ga

Su
n

Su
ng

at

Merancang Hulu

n
ga

Su
n

ga
iS

ia

Teluk Bayur Area

bu

k
ra

Sambaliung

Rinding
Bedungun

Tanah Merah

ng
ua
al

m
Sa

n
ku
ba

Tempurung

ah

LA

Lunsuran Naga

iS
id
uu

ng

Parapatan Area
Su
n

ga

Sungai Inaran

ai Su
Sung

230000N

Muara Lunsuran Naga

Su
n

Labanan

230000N

SU

ga

iB

in

LA

un

ga

ES
I

Rantau Panjang

ut
lum

Block 1- 4

Suaran

Tumbit Melayu

Muara Pantai

Tumbit Dayak Meraang


Su
n

ga

iT

um
bit

Lokasi Daerah Penelitian

Long Lanuk
Binungan Area

215000N

215000N

Kelai Area
Nyapa Indah

SKALA 1 : 417.000

200000N

510000E

525000E

540000E

555000E

570000E

Gambar 1.2 Peta konsesi PT. Berau Coal

585000E

600000E

200000N
D: Tanj_Sofwan /con_bc.srf

UTM
236,000 N

TITIK

1
2
3
4
5

GEOGRAFIS

EASTING

NORTHING

(m)

(m)

549,386.00
550,655.00
551,671.00
551,050.00
549,558.00

TITIK

(Derajat)

228,299.00
229,395.00
226,200.00
226,200.00
227,988.00

1
2
3
4
5

LINTANG UTARA

Parapatan

BUJUR TIMUR
(Menit)

117
117
117
117
117

(Detik)

26 '
27 '
27 '
27 '
26 '

(Derajat) (Menit)

(Detik)

39 "
2
3'
20 "
2
4'
53 "
2
2'
33 " Rantau
2 Panjang
2'
44 "
2
3'

55 "
31 "
47 "
47 "
45 "

231,000 N

Binungan Blok 1 - 4
2
1
5

226,000 N

Pegat bukur

Inaran
SUNGAI KELAI

SU

Binungan Blok 5&6

I
GA
N

Meraang

A
AR
IN

Daerah Penelitian

221,000 N

Tumbit Melayu

Tumbit dayak

Binungan Blok 7

Scale 1 : 110.000

Long Lanuk
216,000 N

536,000 E

541,000 E

546,000 E

Gambar 1.3 Peta lokasi daerah penelitian

551,000 E

BAB 2
METODOLOGI
2.1

Ruang Lingkup

Untuk membatasi pokok bahasan penelitian, maka dibangun ruang lingkup penelitian,
yaitu:
1. Ruang lingkup wilayah, daerah yang diteliti adalah daerah wilayah konsesi
penambangan PT. Berau Coal..
2. Ruang lingkup analisis yaitu menganalisis pengaruh lingkungan pengendapan
terhadap kualitas (kandungan sulfur, abu, dan nilai kalori) lapisan batubara.

2.2

Perolehan Data

Sumber data yang digunakan dalam penelitian adalah :


a. Data primer
-

Jurus dan kemiringan lapisan batuan diperoleh dari pengamatan di lapangan

Data profil singkapan

Karakteristik fisik batubara

b. Data sekunder
-

Data peneliti terdahulu pada daerah penelitian

Data log bor

Data electric logging

Data analisa kimia (kandungan abu, total sulfur, dan nilai kalori)

Peta geologi lembar Tanjung Redeb skala 1:250.000 (Situmorang dan Burhan,
1995)

2.3

Peta topografi daerah Binungan blok 1-4 skala 1:5.000 dan 1:1.000

Pemilihan Jenis Data dan Pemrosesan Data

1. Data lingkungan pengendapan


Data profil didapat dari pengamatan langsung singkapan, dengan memperhatikan
aspek litologi, struktur sedimen, dan komposisinya sehingga didapat sifat fisik
batubara dan batuan pengapitnya. Data skunder berupa log bor, e-log, dan data
analisa kimia juga dipergunakan dalam analisa lingkungan pengendapan.

2. Korelasi lapisan batubara


Korelasi antara titik bor didasarkan atas data-data log bor, e-log, dan data kualitas.
Data log bor diidentifikasi litologi, lapisan pengapit, ketebalan dan kedalaman
lapisan batubara. Sedangkan dari data e-log dilakukan analisa terhadap kesamaan
bentuk kurva gamma ray dan density antara titik bor. Dan untuk kualitas
dilakukan identifikasi terhadap nilai kualitas batubara yang hampir sama antara
titik bor. Untuk lebih jelasnya mengenai tahapan korelasi lapisan batubara dapat
dilihat pada gambar 2.1

Data Pemboran
(Survey dan Log bor)

Analisa batuan
( Sifat fisik, jenis litologi
pengapit, ketebalan dan
kedalaman )

Data Geofisika
(Gamma, Density)

Evaluasi bentuk kurva


( Kesamaan bentuk
kurva, data kedalaman,
dan ketebalan, tahanan
jenis dan densitas
batuan )

EVALUASI DETAIL KORELASI

Gambar 2.1 Skema korelasi lapisan batubara

Data analisa
kualitas batubara

Karakteristik kualitas
yang hampir sama

3. Data kualitas lapisan batubara


Data karakteristik fisik batubara yang didapat dari data profil, yaitu warna, gores,
kilap, kekerasan, pecahan, retakan, cleat, parting, amber/resin, roof dan floor
dikombinasikan dengan data analisa proximate untuk mendapatkan kualitas
batubara. Untuk lapisan batubara tertentu dibuat peta iso sulfur, iso ash, dan nilai
kalori dengan menggunakan software Mincom.
Data-data lingkungan pengendapan, kualitas lapisan batubara dianalisa untuk
mengetahui hubungan ketiga faktor tersebut.

2.4
Bahan dan alat
Bahan yang dipergunakan, yaitu:
1. Data singkapan dan profil.
2. Data analisa kualitas batubara, berupa total sulfur, nilai kalori dan kandungan abu.
3. Data survey titik bor
4. Data log bor dan e-log
5. Peta topografi daerah penelitian skala 1:5000 dan 1 : 1000
6. HCl 0,1N.
Alat yang digunakan, yaitu:
1. Alat tulis
2. Alat ukur
3. Palu geologi
4. Kompas geologi
5. Kamera
6. Komputer
7. Software

10

Data Sekunder

Data Primer

Peta Geologi
- Sebaran Satuan Batuan
- Kedudukan Lapisan Batuan
- Struktur Geologi

Geologi Daerah Penelitian

Data Profil
- Litologi
- Struktur Sedimen
- Karakteristik Fisik
Batubara

Data Log Bor


- Litologi
- Struktur Sedimen
- Karakteristik Fisik
Batubara

Data E-Log
- Gamma Ray
- Density

Lingkungan Pengendapan

Data Analisa Kimia


- Kandungan Abu
- Total Sulfur
- Nilai Kalori

Geologi Regional
(Cekungan Tarakan,
Sub Cekungan Berau)
- Stratigrafi
- Fisiografi
- Struktur Geologi

Kualitas Batubara

PENGARUH LINGKUNGAN PENGENDAPAN TERHADAP KUALITAS


(TOTAL SULFUR, KANDUNGAN ABU, NILAI KALORI) LAPISAN BATUBARA

Gambar 2.2 Diagram alir Penelitian

11

BAB 3
KAJIAN PUSTAKA DAN LANDASAN TEORI

3.1

Kajian Pustaka

Situmorang dan Burhan (1995) melakukan pemetaan geologi yang menghasilkan peta
geologi permukaan lembar Tanjung Redeb dengan skala 1 : 250.000. Meliputi
Formasi Banggara, Formasi Sambakung, Formasi Tabalar, Batuan Terobosan, Batuan
Gunungapi Jelai, Formasi Birang, Formasi Latih, Formasi Tabul, Formasi Labanan,
Formasi Domaring, Formasi Sinjin, Formasi Sajau, Batugamping Terumbu dan
Endapan aluvial. Daerah penelitian termasuk dalam Formasi Latih ( gambar 3.1).
Mobill Oil dalam penelitian tahun 1985, membagi daerah penelitian menjadi dua
formasi yaitu Formasi Berau dengan ketebalan 1500 m yang terdiri atas konglomerat,
batupasir, batulumpur dan batubara, dan Formasi Steril dengan ketebalan < 2500 m
yang terdiri atas batupasir, batulanau, dan batugamping.
Menurut Rao & Glusloter (1973) dalam Ward (1984) dalam Coal Geology and Coal
Technology,

menerangkan

bahwa

mineral

sulfida

(pirit)

dalam

batubara

kemungkinanan hadir sebagai hasil reduksi bakteri dari air dalam gambut yang kaya
sulfat selama awal pembentukan.
Dalam Ward (1984) dalam Coal Geology and Coal Technology, menerangkan bahwa
kandungan sulfur organik dalam batubara merupakan bagian dari analisis kandungan
total sulfur yang dilakukan dalam analisis ultimat. Kandungan abu di dalam batubara
merupakan sisa kandungan inorganik yang tidak dapat terbakar ketika batubara
tersebut di bakar. Ini hadir sebagian besar pada kandungan mineral di dalam batubara,
setelah komponen-komponen seperti CO2 (dari karbonat), SO2 (dari sulfida) dan H2O
(dari lempung) ditinggalkan setelah pembakaran. Batubara dengan kandungan abu
tinggi pada umumnya kurang sesuai dalam pemanfaatannya dari pada batubara
dengan kandungan abu rendah.

12

Tomb
Tml

Tml
Kalam Panjang

Tmpl
Tml

Tml

Tml

G. TABUR
Tmpl
Sambaliung

Tps

AU
ER Qa
B
.

Qa

Qa
Teluk Bayur

Tmpd

TANJUNG REDEB

Tps

Qa

Tml

S.

G
SE

AH

Sangkuang Tml
Tml

Rantau Panjang

Tml

Tml

Tomb

Tomb

Tml
Teot

Tml
Tomb

Tmpl

Tml
LS
Qa

BT

Endapan Aluvial

Tml

Tps

Tomb

Tmpd

Teot

Skala 1 : 250.000
Tmpl

Daerah Penelitian

Gambar 3.1 Peta geologi regional daerah peneliti (Situmorang dan Burhan, 1995)

13

3.2

Landasan Teori

3.2.1

Parameter Kualitas Batubara

Untuk menentukan klasifikasi dan spesifikasi batubara dibutuhkan beberapa


parameter kualitas batubara, antara lain :
1. Kandungan air
Kandungan air ini dibedakan atas :
a. Total moisture (kandungan air total)
Adalah banyak air yang terkandung dalam batubara sesuai kondisi lapangan,
baik yang terkait secara kimiawi maupun akibat pengaruh kondisi luar. Total
moisture sangat dipengeruhi olah faktor keadaan, sepetri iklim, ukuran butiran
dan faktor penambangan.
b. Free moisture (kandungan air bebas)
Merupakan air yang diserap pada permukaan batubara akibat pengaruh dari
luar.
c. Inherent moisture (kandungan air bawaan)
Merupakan kandungan air bawaan pada saat pembentukan batubara
2. Kandungan abu (ash)
Merupakan sisa-sisa zat anorganik yang terbentuk dalam batubara setelah dibakar.
Kandungan abu tersebut dapat dihasilkan dari pengotoran bawaan dalam proses
pembentukan batubara maupun pengotor yang berasal dari proses penambangan.
3. Zat terbang (volatile matter)
Zat tebang merupakan zat aktif yang menghasilkan energi/panas apabila batubara
tersebut dibakar. Umumnya terdiri dari gas-gas yang mudah terbakar seperti
Hidrogen, Karbonmonoksida (Co) dan Metan. Volatile matter sangat erat
kaitannya dengan rank dari batubara, makin tinggi kandungan volatile matter,
makin rendak klasnya. Dalam pembakaran batubara dengan zat terbang tinggi
akan mempercepat pembakaran karbon padatnya, sebaliknya zat terbang rendah
akan mempersulit proses pembakaran.Kadar zat terbang merupakan salah satu
parameter yang sangat penting dalam klasifikasi batubara.
4. Kandungan karbon tertambat (fixed carbon)

14

Merupakan karbon yang tertinggal setelah pendeterminasian zat terbang. Dengan


adanya pengeluaran zat terbang dan kandungan air, maka karbon tertambat akan
secara otomatis akan naik, sehingga semakin tinggi kandungan karbonnya, kelas
batubara makin baik.
5. Nilai Kalori (caloric Value)
Harga nilai kalori merupakan penjumlahan dari harga panas pembangaran unsurunsur pembentukan batubara. Gross caloric value merupakan nilai kalori yang
biasa dipakai sebagai laporan analisis. Net caloric value merupakan nilai kalor
yang benar-benar dimanfaatkan dalam proses pembakaran batubara.
6. Total sulfur
Yaitu kandungan sulfur yang terdapat dalam batubara, baik yang terikat/terbentuk
sebagai senyawa organik, pirit, maupun senyawa anorganik.

3.2.2

Analisis Kimia Batubara

Conto batubara yang akan dianalisis diambil dari hasil pemboran inti dengan system
play-by-play. Dimana interval conto disesuaikan dengan data analisa kimia yang telah
ada. Dasar analisis batubara yang dilakukan adalah pada kondisi air dry based (adb),
yaitu kondisi dimana batubara telah dikeringkan sehingga sesuai dengan kondisi
laboratorium dimana masih ada inherent moisture.
Pada penelitian ini data analisis kimia yang digunakan adalah:
1. Kandungan abu
2. Total sulfur
3. Nilai Kalori

3.2.3

Karakteristik Fisik Lapisan Batubara

Data karaktereristik fisik batubara diperoleh dari data profil yaitu pengamatan
langsung di lapangan dan pembacaan ulang data log bor yang ada. Adapun parameter
yang digunakan adalah:
1. Warna

15

Warna batubara bervariasi dari hitam mengkilap hingga coklat kusam. Secara
umum warna dapat digunakan sebagai langkah awal dalam penentuan rank
batubara. Warna batubara yang hitam mengkilap secara umum penyusunnya
terdiri dari vitrain (kaya akan maseral vitrinite yang berasal dari kayu dan serat
kayu) berupa bituminous antrasit (high rank) dan clarain (kaya akan maseal
vitrinite dan liptinite berasal dari spora, serbuk sari dan getah) berupa lignite (low
rank).
2. Pelapukan
Batubara high rank tidak mudah mengalami pelapukan, sedangkan batubara low
rank mudah mengalami pelapukan.
3. Gores
Batubara bituminous memiliki gores hitam kecoklatan sedangkan batubara lignit
memiliki gores berwarna coklat.
4. Kilap
Batubara high rank umumnya mengkilap sedangkan batubara low rank memiliki
kilap kusam.
5. Kekerasan
Secara umum batubara high rank tidak keras atau mudah pecah. Sedangkan
batubara low rank keras.
6. Pecahan
Batubara antrasit pecahannya concoidal sedangkan bituminous dan lignit memiliki
pecahan yang tidak teratur.
7. Pengotor atau parting
Berupa batupasir, batulempung, batulanau, di dalam lapisan batubara. Tebal
pengotor ini bervariasi mulai dari beberapa millimeter sampai beberapa
sentimeter.
8. Plant remain
Merupakan sisa tumbuhan/dedaunan yang tertinggal dan mengalami pembusukan,
biasanya terdapat di sekitar batubara ( di atas maupun di bawah lapisan batubara).
9. Pirit

16

Keterdapatan pirit dalam batubara dapat diamati secara langsung di lapangan,


dimana kandungan pirit ini merupakan bagian dari analisis total sulfur dalam
batubara.
10. Amber/resin
Amber berasal dari getah

yang sifatnya tahan terhadap pembusukan dan

merupakan material dalam batubara yang berwarna kuning, kuning keemasan,


coklat, merah kekuningan. Kehadiran amber berkaitan erat dengan nilai kalori
dikarenakan amber dapat menaikkan nilai kalori.

3.2.4

Analisa Lingkungan Pengendapan

Analisan lingkungan pengendapan menggunakan pendekatan yang dikemukakan oleh


Horne (1978), karena model lingkungan pengendapan yang dikemukakan oleh Horne
(1978) merupakan model yang membahas lingkungan pengandapan batubara, yang
sesuai dengan daerah penelitian dimana pada daerah penelitian juga diendapkan
batubara. Di dalam model pengendapan, Horne (1978) membagi lingkungan
pengendapan dari pantai sampai darat menjadi: barrier, back barrier, lower delta
plain, transitional lower delta plain, upper delta plain fluvial (Gambar 3.2), dan
juga membaginya lagi dalam beberapa sub lingkungan pengendapan, dengan
didukung data-data lapisan batuan yang berkembang di daerah tersebut.
Berdasarkan karakteristik lingkungan pengendapan batubara (Horne, 1978 dalam
Kuncoro, 2002), aplikasi model pengendapan batubara dapat dibagi atas:
1. Lingkungan back barrier: batubaranya tipis, pola sebarannya memanjang sejajar
sistem penghalang atau sejajar jurus perlapisan, bentuk lapisan melembar karena
dipengaruhi tidal channel setelah pengendapan atau bersamaan dengan proses
pengendapan dan kandungan sulfurnya tinggi.
2. Lingkungan lower delta plain: batubaranya tipis, pola sebarannya umumnya
sepanjang channel atau jurus pengendapan, bentuk lapisan ditandai oleh hadirnya
splitting oleh endapan crevase splay dan kandungan sulfurnya agak tinggi.
3. Lingkungan transitional lower delta plain: batubaranya tebal dapat lebih dari 10
m, tersebar meluas cenderung memanjang jurus pengendapan, tetapi kemenerusan
secara lateral sering terpotong channel, bentuk lapisan batubara ditandai splitting

17

akibat channel kontemporer dan washout oleh channel subsekuen dan kandungan
sulfurnya agak rendah.
4. Lingkungan upper delta plain fluvial: batubaranya tebal dapat mencapai lebih
dari 10 m, sebarannya meluas cenderung memanjang sejajar jurus pengendapan,
tetapi kemenerusan secara lateral sering terpotong channel, bentuk batubara
ditandai hadirnya splitting akibat channel kontemporer dan washout oleh channel
subsekuen dan kandungan sulfurnya rendah.

Gambar 3.2 Model lingkungan pengendapan batubara dari daerah pantai sampai darat
(Horne, 1978).

18

BAB 4
GEOLOGI DAERAH PENELITIAN

4.1

Geologi Regional

4.1.1

Fisiografi

Menurut Situmorang 1986, secara fisiografi cekungan Tarakan berupa depresi


berbentuk busur yang terbuka kearah timur ke arah selat Makasar/Laut Selawesi yang
meluas ke utara menuju Sabah dan berhenti pada zona subduksi di Tinggian
Samporna dan merupakan cekungan yang paling utara di Kalimatan Timur,
sedangkan batas selatannya adalah Punggungan Suikerbrood dan Tinggian
Mangkalihat yang memisahkan cekungan Tarakan dengan cekungan Kutai, dibagian
barat dibatasi oleh lapisan sedimen Pra-Tersier Tinggian Kuching (Gambar 4.1).

Gambar 4.1 Fisiografi Cekungan Tarakan Menurut Situmorang (1986)

19

4.1.2

Stratigrafi

Daerah penelitian terletak pada Cekungan Tarakan, Sub Cekungan Berau. Menurut
Situmorang dan Burhan (1995) Secara regional daerah Sub Cekungan Berau terdiri
dari batuan sedimen, batuan gunung api dan batuan beku dengan kisaran umur dari
PraTersier ( Kapur ) hingga Kuarter. Anak Cekungan Berau dari yang tua ke muda
terdiri dari Formasi Banggara ( Kbs ), Formasi Sambakung ( Tes ), Formasi Tabalar (
Teot ), Batuan Terobosan ( Tomi ), Batuan Gunungapi Jelai ( Tomj ), Formasi Birang
( Tomb ), Formasi Latih ( Tml ), Formasi Tabul ( Tmt ), Formasi Labanan ( Tmpl ),
Formasi Domaring ( Tmpd ), Formasi Sinjin ( Tps ), Formasi Sajau ( TQps ),
Batugamping Terumbu ( Ql ) dan Endapan aluvial ( Qa ).
Formasi Bangara ( Kbs ) : Perselingan batulempung malih, batulempung
terkersikkan, batulempung hitam bersisipan serpih dan laminasi tuff, mengandung
radiolaria, satuan batuan merupakan endapan flysh. Umurnya Kapur.
Formasi Sembakung ( Tes ) : Batulempung, batulanau, dan batupasir dibagian
bawah ; Batupasir kuarsa, batugamping pasiran, rijang dan tuf dibagian atas ;
mengandung fosil nummulites sp, Discocylclina sp, Operculina sp, Globigerina sp,
Reusela sp, Nodosaria sp, Planulina sp, Amphistegina sp dan Borelis sp ; Tebal
satuan batuan lebih dari 1000 m, diendapkan dalam lingkungan laut, berumur Eosen.
Formasi Tabalar ( Toet ) : Napal abu abu, batupasir, serpih, sisipan batugamping
dan konglomerat alas dibagian bawah, batugamping dolomite, kalkarenit dan sisipan
napal dibagian atas ; diendapkan dalam lingkungan fluviatil - laut dangkal; tebal
satuan mencapai 1000 m. Umurnya Eosen Oligosen .
Batuan Terobosan ( Tomi ) : Andesit, terdiri dari andesit vitrovir, andesit
terpropilitikan dan lava andesit piroksen.
Batuan Gunungapi Jelai ( Tomj ) : Breksi gunungapi, batupasir tufaan dan tuff,
bersisipan batubara, menunjukan lapisan bersusun dan silang siur diterobos retas
retas batuan beku bersusun andesit, tebal satuan antara 100 dan 200 meter. Umurnya
Oligosen Miocen.
Formasi Birang ( Tomb ) : Perselingan napal, batugamping dan tuff dibagian atas,
dan perselingan rijang, napal, konglomerat, batupasir kuarsa dan batugamping
dibagian bawah ; Tebal satuan batuan lebih dari 1100 m ;

20

mengandung fosil antara lain : Lepidocylina ephicides, Spiroclypeus sp, Miogypsina


sp, Margionopora vertebralis, Operculina sp, Globigerina tripartita, Globoquadrina
altispira,

Globorotalia

mayeri,

Globorotalia

peripheronda,

Globigerinoides

immaturus, Globigerinoides sacculifer, Pra Orbulina transitoria, Uvigerina sp,


Cassidulina sp. Kisaran Umur Oligosen Miosen.
Formasi Latih ( Tml ) : Batupasir kuarsa, batulempung, batulanau, dan batubara
dibagian atas; bersisipan serpih pasiran dan batugamping dibagian bawah. Lapisan
batubara ( 0,2 5,5 m ), berwarna hitam, coklat; tebal satuan batuan kurang lebih 800
m, diendapkan dalam lingkungan delta, estuarin dan laut dangkal; mengandung fosil
antara lain : Pra Orbulina glomerosa, Pra Orbulina transitioria; berumur Miosen
Awal Miosen Tengah.
Formasi Tabul ( Tmt ) : Terdiri dari batupasir, batulempung konglomerat dan
sisipan batubara ; mengandung Operculina sp, tebal satuan kurang lebih 1050 m.
Satuan batuan merupakan endapan regresif delta. Umurnya Miosen Akhir.
Formasi Labanan ( Tmpl ) : Perselingan konglomerat aneka bahan, batupasir,
batulanau, batulempung disisipi batugamping dan batubara. Lapisan batubara ( 0,2
1,5 m ) berwarna hitam, coklat. Tebal satuan lebih kurang 450 m, diendapkan dalam
lingkungan fluviatil. Umurnya Miosen Akhir Pliosen.
Formasi Domaring ( Tmpd ) : Batugamping terumbu, batugamping kapuran, napal
dan sisipan batubara muda ; diendapkan dalam lingkungan rawa litoral. Tebalnya
mencapai 1000 m, berumur Miosen Akhir Pliosen.
Formasi Sinjin ( Tps ) : Perselingan tuf, aglomerat, lapili, lava andesit piroksen, tuf
terkersikan, batulempung tufaan dan kaolin, mengandung lignit, kuarsa, feldsfar, dan
mineral hitam. Tebal satuan batuan lebih dari 500m.
Formasi Sajau ( TQps ) : Perselingan batulempung, batulanau, batupasir,
konglomerat, disisipi batubara, mengandung moluska, kuarsit dan mika ; menunjukan
struktur silang siur dan laminasi. Lapisan batubara ( 0,2 1 m ) berwarna hitam,
coklat. Tebal satuan batuan lebih kurang 775 m. Diendapkan dalam lingkungan
fluviatil dan delta.
Batugamping Terumbu ( Ql ) : Trumbu, koral dan breksi koral, berwarna putih
sampai kelabu, coklat, kristalin, berongga, mengandung koral, setempat terbreksikan,
diendapkan dalam lingkungan laut dangkal.

21

Endapan Aluvial ( Qa ) : Lumpur, lanau, pasir, kerikil, kerakal dan gambut berwarna
kelabu sampai kehitaman, tebalnya lebih dari 40 m.
Tabel 4.1 Kolom stratigrafi Sub Cekungan Berau (Situmorang dan Burhan, 1995)

HOLOSEN

PLISTOSEN

KUARTER

KALA

ENDAPAN
PERMUKAAN

BATUAN SEDIMEN

TENGAH

MIOSEN

GUNUNG API

TEROBOSAN

TQps

AWAL

Tps

AKHIR

Tmt

Tmpl

TENGAH

Tmpd

Tml

Tomi

AWAL

Tomb
OLIGOSEN
Teot
Tes

PALEOSEN

KAPUR

BATUAN

AKHIR

EOSEN

MESOZOIKUM

BATUAN

Ql

Qa

PLIOSEN

TERSIER

KENOZOIKUM

MASA ZAMAN

AKHIR

AWAL

Kbs

Tomj

22

4.1.3

Struktur Geologi

Situmorang dan Burhan, (1992) menyimpulkan bahwa di daerah ini termasuk ke


dalam Tanjung Redeb, yang struktur utamanya berupa lipatan, sesar normal, sesar
geser dan sesar naik yang mempunyai arah umum Barat LautTenggara dan Barat
DayaTimur Laut.
Di daerah ini diduga paling sedikit terjadi tiga kali kejadian tektonik. Tektonik yang
pertama terjadi pada Akhir Kapur atau lebih tua, gejala ini menyebabkan terjadinya
perlipatan dan pensesaran serta peralihan regional derajat rendah pada Formasi
Bangara yang berumur Kapur AkhirEocen Awal.
Tektonik kedua terjadi pada Akhir Eosen Awal atau sesudah terbentuknya Formasi
Sembakung yang berumur Eosen yang mengakibatkan formasi ini terlipat, tersesarkan
dan mengalami metamorfosa derajat rendah dan diikuti oleh terobosan batuan beku
Andesit berumur Oligosen awal. Bersamaan dengan pengendapan Formasi Birang
pada Miosen Awal juga diikuti oleh Formasi Latih di daerah Teluk Bayur dan
sekitarnya, selanjutnya pada Miosen Akhir sampai Awal Pliosen terbentuk Formasi
Labanan.
Sesudah pembentukan Formasi Labanan ini terjadi lagi kegiatan tektonik yang ketiga
sehingga terbentuk lipatan, sesar dan diikuti Terobosan Andesit yang mengalami
alterasi dan mineralisasi.

23

BERAU
SUB BASIN

Lokasi Penelitian

Gambar 4.2 Struktur regional cekungan Tarakan Situmorang dan Burhan (1992)

24

4.2

Geologi Daerah Penelitian

4.2.1

Geomorfologi

Kajian pembagian bentuklahan didaerah penelitian mengacu pada konsep yang


dikemukakan oleh van Zuidam (1983) yang telah membuat klasifikasi bentuklahan
berdasarkan aspek geomorfologi, meliputi :
1. Aspek morfologi, merupakan aspek yang mempelajari relef secara umum,
meliputi :
a. Morfografi : merupakan aspek-aspek yang bersifat pemerian suatu daerah
antara lain : lembah, bukit, punggungan, pegunungan, dll.
b. Morfometri : merupakan aspekaspek kuantitatif dari suatu daerah, seperti
kemiringan lereng, ketinggian, beda tinggi, bentuk lembah, tingkat erosi, atau
pola pengaliran.
2. Morfogenesa : yaitu studi mengenai proses geomorfologi yakni proses yang
mengakibatkan perubahan bentuklahan yang mencakup aspek :
a. Morfo-struktur aktif : berupa tenaga endogen dan struktur geologi seperti
sinklin, antiklin, dan sesar.
b. Morfo-struktur pasif : meliputi litologi dan berhubungan dengan pelapukan.
c. Morfo-dinamik : berupa tenaga eksogen yang berhubungan dengan tenaga
angin, air, gerak masa batuan, dan volkanisme.
Daerah penelitian didominasi oleh perbukitan dan sebagian kecil dataran dengan
ketinggian berkisar antara 5 130 meter di atas permukaan laut. Perkembangan
bentuklahan daerah Binungan dipengaruhi oleh beberapa faktor yang cukup dominan
antara lain struktur geologi, litologi penyusun yaitu batupasir, batulempung,
batulanau, dan batubara yang memiliki tingkat resistensi yang berbeda-beda, serta
tingginya tingkat erosi yang ada.
Berdasarkan aspek geomorfologi diatas, daerah penelitian dapat dibagi menjadi
menjadi tiga bentukan asal yaitu bentukan asal struktural terdenudasi dengan sub
satuan geomorfik adalah Punggungan Tererosi (S1), satuan bentukan asal
Denudasional, dengan sub satuan geomorfik adalah Lembah Hasil Erosi (D1) dan
Perbukitan Tererosi (D2), dan satuan bentukan asal Fluvial dengan sub satuan
geomorfik Dataran Aluvial (F1).

25

4.2.1.1 Punggungan Tererosi (S1)


Satuan geomorfik Punggungan Tererosi terletak di bagian barat daerah penelitian
dengan luasan kurang lebih 25% dari total luasan daerah penelitian.
Satuan geomorfik Punggungan Tererosi ini merupakan sayap bagian barat dari sinklin
Binungan yang memiliki beda tinggi berkisar antara 25 130 meter dari permukaan
air laut, bentuk punggungan memanjang relatif tenggara-baratlaut mengikuti arah
sumbu sinklin Binungan dikontrol oleh adanya sesar naik. Sub satuan geomorfik ini
memiliki lereng yang curam sampai sangat curam dengan kemiringan berkisar antara
30-95%.
Ciri litologi satuan geomorfik Punggungan Struktural ini didominasi oleh batupasir
dengan ukuran butir halus sampai sangat kasar dengan batulempung, dan batubara
sebagai sisipan.
Arah umum batuan yang ada sangat bervariasi berkisar antara N1400E-N3400E
dengan dip yang cukup besar bekisar antara 200-740.
Pelapukan dan erosi yang terjadi cukup intensif, hal ini dapat dibuktikan dengan tebal
lapisan soil akibat pelapukan fisik dan kimia antara dua sampai empat meter. Serta
erosi oleh sungai-sungai yang membentuk lembah yang dalam.

4.2.1.2 Lembah Hasil Erosi (D1)


Satuan geomorfik Lembah Hasil Erosi terletak di bagian tengah daerah penelitian
dengan luasan kurang lebih 15% dari total luasan daerah penelitian.
Satuan geomorfik Lembah Hasil Erosi memiliki beda tinggi antara 5-20 meter dari
permukaan air laut, dan memiliki lereng yang landai sampai miring dengan
kemiringan lereng berkisar antara 4-10%.
Ciri litologi yang ada yaitu batupasir sedang sampai halus, batulempung, batulanau
dan batubara. Arah umum lapisan yaitu N1400E-N1800E, dengan dip berkisar antara
50-200 pada bagian timur dan N3300E-N060E dengan dip antara 350-800 pada bagian
barat.
Pelapukan yang terjadi cukup intensif ditandai dengan tebalnya lapisan soil yang ada.
Sedangkan erosi kurang berkembang dikarenakan beda tinggi yang kecil sehingga
arus sungai yang ada kecil. Dibeberapa tempat pada satuan geomorfik ini ditemukan
rawa-rawa yang merupakan muara sungai-sungai kecil yang ada di sekitarnya.

26

4.2.1.3 Perbukitan Tererosi (D2)


Satuan geomorfik Perbukitan Tererosi terbagi menjadi dua yaitu yang terletak
dibagian utara dan dibagian selatan daerah penelitian. Luasan satuan geomorfik ini
kurang lebih 55% dari total luasan daerah penelitian.
Sataun geomorfik Perbukitan Sinklin memiliki beda tinggi berkisar antara 10-80
meter dari permukaan air laut, dan memiliki lereng curam menengah sampai sangat
curam dengan kemiringan lereng berkisar antara 16-75%. Arah umum perbukitan
pada satuan geomorfik ini yang terletak di bagian utara adalah utara-selatan dan
timurlaut- baratdaya yang tegak lurus dengan arah umum lapisan batuan. Sedangkan
pada bagian selatan memiliki arah umum perbukitan yaitu utara-selatan yang sejajar
dengan arah umum lapisan batuan
Ciri litologi yang ada pada satuan geomorfik ini didominasi oleh sedimen berbutir
halus yaitu batupasir halus, batulempung dan batulanau. Terdapat juga lapisan
batubara dan batupasir kasar. Arah umum lapisan batuan pada bagian utara berkisar
antara N780E-N1200E dengan dip bekisar antara 100-350, sedangkan pada bagian
selatan berkisar antara N1600E-N1850E dengan dip bekisar antara 140-560
Pelapukan dan erosi berlangsung cukup intensif yang tampak dari banyaknya sungai
sungai yang memotong perbukitan dan tebalnya soil akibat pelapukan yang terjadi.

4.2.1.4 Dataran Aluvial (F1)


Satuan geomorfik Dataran Aluvial terletak dibagian timur daerah penelitian, ditepi
Sungai Binungan dengan luasan sekitar 5%.
Satuan geomorfik ini memiliki beda tinggi antara 5-14 meter dari permukaan laut,
lereng yang rata sampai landai dengan kemiringan berkisar antara 0-5%.
Ciri litologi dari sataun geomorfik ini adalah berupa material lepas berukuran pasir
sampai lempung. Satuan geomorfik ini merupakan akumulasi dari materia-material
lepas hasil erosi pada bagian hulu dan tubuh sungai dan terendapkan pada kelokankelokan sungai.

27

4.2.1.5 Pola Aliran dan Stadia Erosi


Pengklasifikasian pola aliran di daerah penelitian didasarkan pada pola sungai secara
umum dan arah aliran sungai yang telah dikelompokkan olah Howard (1967).

Gambar 4.3 Pola aliran sungai (Howard, 1967)

Pola aliran sungai di daerah binungan secara umum adalah sub dendritik, dimana
cabang sungai mengalir berkelok-kelok yang membentuk seperti ranting pohon yang
bermuara di Sungai Binungan ( gambar 4.4).
Sungai yang berkembang di daerah telitian di dominasi oleh tipe sungai obsekuen
dimana aliran sungai mengalir berlawanan dengan arah kemiringan lapisan
Berdasarkan genesanya maka pola aliran sungai pada daerah penelitian dapat
diklasifikasikan menjadi sungai sub sekuen yaitu sungai yang mengalir searah dengan
jurus perlapisan, dan sungai obsekuen yaitu sungai yang mengalir berlawanan dengan
kemiringan lapisan.
Daerah penelitian termasuk dalam stadia erosi muda hingga dewasa, yang ditunjukkan
oleh aliran anak sungai yang menyesuaikan dengan bentuk lembah yang ada, masih
dipengaruhi oleh variasi litologi yang ada, dan sungai utama yaitu Sungai Binungan
menunjukkan stadia dewasa yang ditunjukkan dengan bentuk sungai yang bermeander
(foto 4.1)

28

Foto 4.1 Sungai Binungan yang menunjukkan stadia dewasa

29

Gambar 4.4 Peta pola aliran daerah penelitian

30

4.2.2

Stratigrafi

Berdasarkan penelitian yang dilakukan di lapangan, didapatkan batuan yang ada di


daerah penelitian meliputi batupasir, batulanau, batulempung, dan batubara.
Litologi yang terdapat di daerah penelitian termasuk dalam satuan litostratigraphi tak
resmi dari tua kemuda yaitu satuan batupasir Latih, satuan batupasir kuarsa Latih,
satuan batulempung Latih, dan endapan aluvial. Untuk penentuan umur sedapat
mungkin dilakukan dengan menggunakan analisa fosil foraminifera plankton. Namun
apabila tidak di temukannya fosil, maka penentuan umur mengacu pada peneliti
terdahulu. Sedangkan untuk penentuan lingkungan pengendapan didasarkan pada
aspek fisik, kimia, dan biologi dari singkapan yang ada ditambah dengan data
pemboran yang ada, dan membandingkan dengan sub lingkungan pengendapan dari
Horne (1978).

4.2.2.1 Satuan batupasir Latih


Penyebaran dan Ketebalan
Satuan batupasir Latih merupakan satuan batuan yang terendapkan paling awal,
penyebaran satuan ini berada di bagian barat daerah penelitian. Batas bagian barat
satuan ini berbatasan dengan batas daerah penelitian sedangkan bagian utara, timur
dan selatan daerah ini dibatasi dengan kontak struktur yaitu Sesar Naik Binungan.
Ketebalan satuan ini lebih besar dari 75 meter. Satuan ini menempati 10% dari total
luas keseluruhan daerah penelitian.

Litologi
Batupasir halus merupakan litologi yang dominan pada satuan ini dengan perselingan
batulanau dan batulempung. Batupasir memiliki warna abu-abu kecoklatan, struktur
sedimen massif, perlapisan, dan

coarsening up, ukuran butir pasir sedang-pasir

sangat halus, pemilahan baik, kemas tertutup, membundar, komposisi mineral kuarsa,
dibeberapa tempat terapat nodul oksida besi pada lapisan batupasir ( foto 4.2).Dari
hasil pengamatan petrografis, memiliki warna abu-abu kecoklatan, tekstur klastik,
ukuran butir 0,001-0,1 mm, kemas terbuka, bentuk butir menyudut tanggung-

31

membulat, komposisi mineral kuarsa (17%), mineral opak (16%), mineral lempung
(39%), lithic (28%), dengan nama lithic wacke (klasifikasi Gilbert, 1954)
Batulempung memiliki warna abu-abu kecoklatan, struktur sedimen massif, laminasi,
perlapisan. Batulempung pada satuan ini merupakan sisipan dengan ketebalan 0,1-1
meter.
Batulanau memiliki warna coklat muda, dengan struktur sedimen massif, perlapisan.
Batulanau pada satuan ini merupakan perselingan dengan batupasir dan sisipan
dengan ketebalan 0,2 6 meter. Berdasarkan pengamatan petrografis, memiliki warna
abu-abu kecoklatan, tekstur klastik, ukuran butir 0,01-0,04 mm, kemas terbuka,
bentuk butir menyudut tanggung-membulat, komposisi mineral kuarsa (14%), mineral
opak (8%), mineral lempung (66%), lithic (12%), dengan nama claystone (klasifikasi
Gilbert, 1954)

Foto 4.2 Singkapan batupasir halus dengan nodul oksida besi

Umur
Berdasarkan kesebandingan ciri litologi dengan peneliti terdahulu maka dapat
diinterpretasikan bahwa satuan batupasir ini termasuk dalam Formasi Latih bagian
bawah dengan umur Miosen Awal - Miosen Tengah (Situmorang & Burhan 1995).

32

Lingkungan Pengendapan
Bagian bawah satuan ini dijumpai batulanau yang semakin ke atas berangsur berubah
menjadi batupasir sedang. Pada beberapa tempat dijumpai batupasir dengan nodul
oksida besi dan adanya perulangan pengendapan batupasir dan batulempung.
Kehadiran nodul oksida besi tersebut menunjukkan bahwa pengendapan batuan
tersebut pernah terhenti dan muncul kepermukaan sehingga bereaksi dengan udara
luar membentuk nudul-nodul oksida besi. Hal ini mengindikasikan arus pasang surut
cukup berpengaruh pada pengendapan satuan ini. Selain itu kehadiran struktur
sediment coarsening up pada batupasir menunjukkan bahwa litologi ini terendapkan
pada chanel-chanel delta. Semen yang dominant pada satuan ini adalah silica dan
beberapa tempat terdapat semen oksida.
Berdasarkan aspek diatas, maka satuan ini dapat dimasukkan dalam lingkungan
pengendapan Transisional Lower Delta Plain (Horne 1978) ( gambar 4.5).

4.2.2.2 Satuan batupasir kuarsa Latih


Penyebaran dan Ketebalan
Satuan batupasir kuarsa Latih merupakan satuan yang terendapkan setelah satuan
Batupasir Latih. Satuan ini terletak pada bagian tengah daerah penelitian. Penyebaran
memanjang relatif baratlaut-tenggara dengan kemiringan lapisan relatif kearah
baratdaya. Ketebalan satuan batupasir kuarsa Latih dari hasil analisa adalah 445
meter. Satuan ini menempati 45% dari total luas keseluruhan daerah penelitian.

Litologi
Satuan batupasir kuarsa Laith tersusun oleh perselingan batupasir dengan
batulempung, batulanau, batulempung pasiran, dan batubara.

33

Gambar 4.5 Sekuen endapan transitional lower delta plain (Horne, 1978).

Batupasir pada umumnya berwarna coklat kemerahan tetapi di beberapa tempat


dijumpai juga yang berwarna abu-abu, ukuran butir pasir halus sampai pasir sedang,
pemilahan sedang, membulat baik-membulat, terdiri dari fragmen kuarsa dengan
semen silica. Dijumpai adanya sisipan batulempung, batulanau, dan batubara. Struktur
sedimen yang terdapat pada batupasir adalah massif, perlapisan, laminasi, cross
bedding, graded bedding, dan dibeberapa tempat terdapat struktur burrow. Dua
sample batupasir yang dilakukan analisa petrografi didapatkan hasil yang berbeda.

34

Pada analisa petrografi untuk sample dari lokasi pengamatan 39, didapatkan batupasir
dengan warna abu-abu kecoklatan, tekstur klastik, ukuran butir 0,05-0,25 mm, kemas
terbuka, bentuk butir menyudut tanggung-membulat tanggung, butiran terdiri dari
kuarsa (76%) dan mineral opak (16%) dengan rongga antar butir terisi mineral
lempung (8%), dengan nama lithic arenit (klasifikasi Gilbert, 1954). Pada analisa
petrografi untuk sample dari lokasi pengamatan 17, didapatkan batupasir dengan
coklat kehitaman, tekstur klastik, ukuran butir 0,02-0,15 mm, kemas terbuka, bentuk
butir menyudut tanggung-membulat, butiran terdiri dari kuarsa (56%), mineral opak
(4%), biotit (2%), lithic (20%) dengan rongga antar butir terisi mineral lempung
(18%), dengan nama lithic wake (klasifikasi Gilbert, 1954)
Batulempung pada umumnya berwarna abu-abu sampai abu-abu gelap. Struktur yang
ada yaitu massif, perlapisan, laminasi, dan burrow. Batulempung yang mengapit
batubara biasanya mengandung karbonan dengan struktur massif dan menyerpih.

Foto 4.3 Singkapan batupasir sedang dengan sisipan batulempung.

Batulanau berwarna coklat sampai abu-abu cerah dengan struktur sedimen yang
berkembang adalah massif, perlapisan, coarsening up dan burrow. Litologi ini
biasanya hadir sebagai sisipan pada batupasir dengan ketebalan 0,10-4 meter.
Batulempung pasiran, pada umumnya berwarna abu-abu kecoklatan, ukuran butir
pasir sangat halus, semen silica, berlapis antara 0,10-2,5 meter, struktur yang
berkembang umumnya massif dan laminasi.

35

Batubara, umumnya berwarna hitam, mengkilap, gores coklat sampai hitam, brittle,
pecahan sub concoidal-concoidal, dijumpai cleat baik itu cleat terbuka dan tertutup.
Ketebalan batubara bervariasi mulai dari 0,20 sampai 3.2 meter. Kontak batubara
dengan batuan yang lain ada yang tegas dan berangsur.

Umur
Berdasarkan kesebandingan ciri litologi dengan peneliti terdahulu maka dapat
diinterpretasikan bahwa satuan ini termasuk dalam Formasi Latih bagian tengah
dengan umur Miosen Tengah (Situmorang & Burhan 1995).

Lingkungan Pengendapan
Bagian bawah satuan ini dijumpai batupasir dengan perselingan batulanau. Kemudian
diikuti dengan pengendapan batupasir selang-seling dengan batulempung, batulanau,
dan batubara. Pada bagian atas satuan ini terendapkan batupasir dengan sisipan
batulempung dan batulanau. Terdapat struktur sediment berupa burrow, coarsening
up, perlapisan, perlapisan silangsiur dan laminasi. Pada satuan ini dijumpai beberapa
seam batubara dengan penyebaran yang luas. Berdasarkan data-data di atas, maka
dapat diinterpretasikan bahwa lingkungan pengendapan satuan ini adalah Transisional
Lower Delta Plain (Horne 1978) (gambar 4.5).

4.2.2.3 Satuan batulempung Latih


Penyebaran dan Ketebalan
Satuan batulempung Latih merupakan satuan yang terendapkan setelah satuan
batupasir kuarsa Latih. Penyebaran satuan ini berada di tengah daerah penelitian yaitu
sepanjang sumbu Sinklin Binungan menempati 40% dari total luasan daerah
penelitian. Ketebalan satuan ini 225 m .

36

Litologi
Satuan batulempung Latih tersusun oleh perselingan batulempung dengan batupasir,
batulanau, dan sisipan batubara (gambar 4.6).
Batulempung berwarna abu-abu cerah sampai abu-abu gelap dengan struktur sedimen
massif, perlapisan, laminasi, dan burrow. Dibeberapa tempat terutama para roof dan
floor batubara, batulempung banyak mengandung unsur karbonan. Berdasarkan
pengamatan petrografi didapatkan warna coklat kehitaman, didominasi oleh mineral
berukuran lempung dengan butiran berupa kuarsa (8%), mineral opak (4%), lithic
(9%), karbon (22%), dengan ukuran butir 0,01- 0,04 yang tertanam pada lempung
(57%).
Batupasir, pada umumnya berwarna abu-abu, dengan ukuran butir pasir sangat halus
sampai pasir sedang, pemilahan baik, membundar baik, komposisi kuarsa, semen
silika. Struktur sedimen yang ada yaitu massif, perlapisan, perlapisan silangsiur,
coarsening up, dan burrow.
Batulanau, berwarna abu-abu kecoklatan, dengan struktur sedimen perlapisan,
perlapisan silangsiur, laminasi, dengan ketebalan antara 0.10 sampai 2.5 meter.
Batubara, berwarna hitam, mengkilap, gores coklat sampai hitam, brittle, pecahan sub
concoidal-concoidal,. Ketebalan batubara bervariasi mulai dari 0,10 sampai 1,8 meter.
Kontak batubara dengan batuan yang lain tegas.

Umur
Berdasarkan kesebandingan cirri litologi dengan peneliti terdahulu maka dapat
diinterpretasikan bahwa satuan batulempung ini termasuk dalam Formasi Latih bagian
atas dengan umur Miosen Tengah (Situmorang & Burhan 1995).

Lingkungan Pengendapan
Bagian bawah satuan ini dijumpai batulempung dengan perselingan batupasir dan
batubara. Kemudian diikuti dengan pengendapan batulempung sisipan batupasir dan
batulanau. Struktur sedimen yang dominan berkembang yaitu perlapisan, laminasi,
laminasi silangsiur, dan burrow. Pada satuan ini dijumpai beberapa seam batubara

37

dengan penyebaran yang luas. Berdasarkan aspek diatas, maka satuan ini dapat
dimasukkan dalam lingkungan pengendapan Transisional Lower Delta Plain (Horne
1978).

4.2.2.4 Endapan Aluvial


Terdapat di tepi Sungai Binungan, menempati 5% daerah telitian, terdiri dari
material lepas hasil sedimentasi dari Sungai Binungan berukuran lempung sampai
krikil. Pengendapan endapan alluvial ini masih berlangsung hingga saat ini sehingga
umur dari endapan ini adalah Holosen.

Crevasse Splay

Gambar 4.6 Profil singkapan Lp 63, 64, 65 skala 1 : 100


S w a m p

Transisional Lower Delta Plain

Crevasse Splay

Crevasse Splay

38

39

SIMBOL
LITOLOGI

TEBAL

Endapan
SATUAN
aluvial

FORMASI

HOLOSEN KALA

Tabel 4.2 Kolom stratigrafi daerah penelitian

PEMERIAN

Endapan aluvial, tersusun oleh material lepas berukuran


lempung sampai krikil yang berasal dari endapan Sungai
Binungan

LINGKUNGAN
PENGENDAPAN

Fluviatil

> 225 meter

Batupasir, abu-abu, pasir sangat halus - pasir sedang, str.sedimen


masif, perlapisan, graded bedding, dan burrow.
Batulanau, abu-abu kecoklatan, str.sedimen masif, perlapisan,
laminasimengandung unsur karbonan.

Batupasir, abu-abu - coklat kemerahan, pasir halus - pasir kasar,


komposisi kuarsa, str.sedimen masif, perlapisan, perlapisan
silang siur, graded bedding, burrow.

445 meter

B a t u pa s i r k u ar s a L a t i h

Satuan batupasir kuarsa Latih, terdiri dari batupasir kuarsa


dengan sisipan batulempung, batulempungpasiran, batulanau,
dan batubara.

Batulempung, abu-abu, str.sedimen masif, perlapisan, laminasi,


laminasi bergelombang, burrow, mengandung unsur karbonan,
plant remain.
Batulempung pasiran, abu-abu kecoklatan, str.sedimen masif,
perlapisan, laminasi.
Batulanau, abu-abu kecoklatan, str.sedimen masif, perlapisan,
laminas, burrow, imengandung unsur karbonan.

> 75 meter

Batupasir Latih

MIOSEN AWAL

Batubara, hitam - hitam kecoklatan, kusam - mengkilap, gores


coklat - hitam, melembar - sub-concoidal, cleat, ketebalan 0,09 3,20 meter.

Satuan batupasir Latih, terdiri dari batupasir dengan sisipan batulempung dan
batulanau.
Batupasir, abu-abu kecoklatan, pasir sangat halus - pasir sedang,str.sedimen masif,
perlapisan, laminasi, terdapat nodul batu lempung.
Batulempung , abu-abu kecoklatan, str.sedimen masif, perlapisan, laminasi.
Batulanau, abu-abu kecoklatan, str.sedimen masif, perlapisan, laminasi.

Transitional Lower Delta Plain

Batubara, hitam - hitam kecoklatan, kusam - mengkilap, gores


coklat - hitam, melembar - sub-concoidal, cleat, ketebalan 0,09 4,08 meter.

B at ul e m pu ng L at ih

Batulepung, abu-abu kehitaman, str. sedimen masif, perlapisan,


laminasi, dan burrow, mengandung unsur karbonan dan plant
remain.

I
L

MIOSEN TENGAH

Satuan batulempung Latih, terdiri dari batulempung dengan


perselingan batupasir, serta sisipan batulanau, serpih, dan batu
bara.

40

4.2.3

Struktur Geologi

Struktur geologi yang berkembang di daerah penelitian adalah struktur geologi yang
berarah relatif Tenggara-Baratlaut yaitu Sinklin Binungan dan Sesar Naik
Bingungan,.Tingginya tingkat pelapukan di daerah ini menjadi suatu kendala bagi
ditemukannya singkapan-singkapan segar yang dapat dijadikan sebagai indikasi
keberadaan suatu zona struktur.
Struktur geologi di daerah Binungan cukup berkembang, ini ditandai dengan pola
jurus dari batuan yang bagian selatan relatif berarah utara-selatan, namun di bagian
selatan pola jurus berangsur menjadi barat-timur (berada di luar daerah penelitian, dan
kemiringan batuan yang sangat bervariasi.

4.2.3.1 Sinklin Binungan


Terletak dibagian tengah daerah penelitian. Arah umum dari sumbu sinklin ini pada
bagian selatan relatif utara-selatan dan berbelok relatif ke tenggara-baratlaut pada
bagian utara dengan kemiringan sayap baratdaya berkisar antara 25-76 dan
kemiringan sayap timurlaut berkisar antara 7- 38. Dengan sumbu sinklin yang
relatif melengkung, maka analisa lipatan dilakukan sebanyak dua kali yaitu pada
bagian selatan dan bagian utara.
Analisa lipatan pada bagian selatan berdasarkan data-data hasil pengukuran
kedudukan bidang perlapisan pada sayap sinklin dengan metode stereografis
didapatkan kedudukan arah umum sayap lipatan timurlaut adalah N 157 E/ 22,
kedudukan arah umum sayap lipatan baratdaya adalah N 14 E/ 27, arah umum
sumbu lipatan adalah N 176 E / 86 dan garis sumbu 8, N 178 E. Berdasarkan
hasil analisa tersebut maka jenis lipatan adalah Upright Horizontal Fold, klasifikasi
menurut Fluety, 1964 (tabel 4.3).
Analisa lipatan pada bagian utara didapatkan kedudukan arah umum sayap lipatan
timurlaut adalah N 151 E/ 14, kedudukan arah umum sayap lipatan baratdaya adalah
N 350 E/ 73, arah umum sumbu lipatan adalah N 170 E / 60 dan garis sumbu 6,
N 168 E.

Berdasarkan hasil analisa tersebut maka jenis lipatan adalah Steeply

inclined Horizontal Fold, klasifikasi menurut Fluety, 1964.

41

Tabel 4.3 Klasifikasi Lipatan menurut Fluety, 1964

Angle

Term

Dip of Hinge Surface

Plunge of Hinge Line

Horizontal

Recumbent Fold

Horizontal Fold

1 - 10

Subhorizontal

Recumbent Fold

Horizontal Fold

10 - 30

Gentle

Gently Inclined Fold

Gently Plunging Fold

30 - 60

Moderate

Moderately Inclined Fold

Moderately Plunging Fold

60 - 80

Steep

Steeply Inclined Fold

Steeply Plunging Fold

80 - 89

Subvertical

Upright fold

Vertical Fold

90

vertical

Upright fold

Vertical Fold

4.2.3.2 Sesar Naik Binungan


Terletak disebelah barat daerah penelitian. Tingginya tingkat pelapukan dan tebalnya
soil yang terdapat di lapangan menyulitkan didapatkannya data-data kekar untuk
dilakukan analisa struktur.
Pada sesar ini daerah bagian barat daya relatif naik terhadap bagian timurlaut. Hal ini
didasarkan pada beberapa data penunjang yaitu :
1. Kedudukan dari bidang sesar yakni N 1730 E/420
2. Adanya kemiringan yang relatif besar dekat zona sesar antara 650-740.
3. Adanya zona hancuran, dimana kedudukan batuan sangat acak di dekat zona
sesar.
4. Kenampakan topografi berupa kontur yang rapat dan memanjang berupa
punggungan yang diinterpretasikan sebagai puncak antiklin yang kemudian patah.

4.2.4

Sejarah Geologi

Sejarah geologi daerah penelitian berawal diendapkannya satuan batupasir Latih


dengan litologi penyusun berupa batupasir dengan sisipan batulanau, dan batupasir.
Satuan batupasir Latih diendapkan pada lingkungan transisional lower delta plain,
pada kala Miosen Awal.
Di atas satuan batupasir Latih secara selaras diendapkan satuan batupasir kuarsa Latih
dengan litologi penyusun batupasir dengan sisipan batulanau, batulempung, dan
batubara. Satuan batupasir kuarsa Latih diendapkan pada lingkungan transisional
lower delta plain, pada kala Miosen Awal-Miosen Tengah.

42

Kemudian di atas satuan batupasir kuarsa Latih diendapkan secara selaras satuan
batulempung Latih dengan litologi penyusun berupa batulempung sisipan batupasir,
batulanau, dan batubara. Satuan batupasir lempung Latih diendapkan pada lingkungan
transisional lower delta plain, pada kala Miosen Tengah.
Setelah diendapkannya satuan batulempung Latih pada daerah penelitian terjadi
proses tektonik dengan tegasan relatif berarah timurlaut-baratdaya. Proses tektonik ini
menyebabkan seluruh sataun batuan yang ada mengalami perlipatan dan membentuk
sinklin Binungan. Akibat proses tektonik yang terus berkerja, pada bagian barat
daerah penelitian tersesarkan membentuk sesar naik Binungan. Sesar naik Binungan
menyebabkan satuan batupasir Latih terangkat kepermukaan.
Selama proses tektonik berlangsung hingga saat ini terjadi proses erosi dan pelapukan
yang mengakibatkan satuan batuan yang ada di daerah penelitian tersingkap dan
terbentuknya endapan alluvial yang ada di sekitar sungai Binungan.

43

BAB 5
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Berdasarkan data dari pengamatan langsung di lapangan serta data e-log dan log bor
sebanyak 73 titik bor yang tersebar dominan pada bagian timur daerah penelitian dan
memanjang ke utara-selatan (gambar 5.1), diketahui bahwa daerah penelitian
memiliki 11 seam utama dengan urutan dari tua ke muda yaitu seam D, E, E1, F, G,
H, J, K, K1, L, dan M. semua seam yang ada mengalami splitting (batubara dengan
parting 15 cm dikategorikan mengalami splitting) kecuali seam J (tabel 5.1). Karena
terbatasnya data yang ada maka penelitian ini hanya mengambil 6 seam dari 11 seam
yang ada yaitu seam G, H, J, K, K1, dan L.
Tabel 5.1 Skema seam daerah Penelitian
PARENT
SEAM

SECONDARY
SPLITTING SEAM

MU
ML
LU

L
LL

TERTIARY
SPLITTING
SEAM

QUARTENARY
SPLITTING
SEAM

LUU
LUL
LLU
LLL

K1U
K1

K1L

K1LU
K1LL

KU
KL

J
H

HU
HL
GU

GUU
GUL

GL
F

FU
FL

E1

E1U
E1L
EUU
EU

EUL

E
EL

ELU
ELL

DU
DL

EULU
EULL
ELUU
ELUL

44

Gambar 5.1 Peta distribusi titik bor daerah penelitian

45

5.1

Lapisan Batubara Grup G

5.1.1

Karakteristik dan Kualitas Lapisan Batubara Grup G

Berdasarkan pengamatan singkapan di lapangan (gambar 5.2 dan 5.3, lp 43 dan 53)
dan data-data log bor serta e-log didapatkan karakteristik fisik lapisan batubara grup
G, dan untuk kualitas yaitu total sulfur, kandungan abu dan nilai kalori didapat dari
data hasil analisa laboratorium. Karakteristik fisik dan kualitas dari lapisan batubara
ini terdapat pada tabel 5.2.
Tabel 5.2 Karakteristik dan kualitas lapisan batubara grup G
SEAM

PARAMETER

GU

GL

GUU

GUL

Hitam

Hitam

Hitam

Hitam

Hitam

Hitam

Hitam kecoklatan

Hitam

Hitam

Hitam

Sedang

Sedang

Sedang

Sedang

Mengkilap

Sub concoidal

Sub

Sub

Sub concoidal

Sub concoidal

melembar

concoidal

melembar

BERAT JENIS

Ringan

Agak berat

Ringan

Berat

Ringan

KEKERASAN

Agak keras

Agak keras

Agak keras

Keras

Agak keras

JARAK CLEAT (cm)

Tidak ada data

Tidak ada data

38

Tidak ada data

Tidak ada data

Setampat

Setempat

Setampat

Setampat

Setampat

Pirit

Setempat

Setempat pd cleat

Merata

Parting (cm)

WARNA
GORES

kecoklatan

KILAP
PECAHAN

Resin
PENGOTOR

kecoklatan

concoidal-

TOTAL SULFUR (% adb)

1,44

1,90

1,15

0,99

KANDUNGAN ABU (% adb)

8,97

7,08

16,16

4,60

NILAI KALORI (Kcal/kg)

5.030,75

5.967,19

5.150,09

5.981,73

Kehadiran pirit pada lapisan batubara GU dan GL berpengaruh sangat signifikan


terhadap nilai total sulfur yang ada. Dimana seam GU dan GL yang mengandung pirit
memiliki total sulfur yang cukup tinggi yaitu 1,44 (%adb) dan 1,90 (%adb) sedangkan
seam GUU dan GUL yang tidak mengandung pirit memliliki total sulfur yang lebih
rendah yaitu 1,15 (%adb) dan 0,99 (%adb). Sulfur dalam batubara dapat hadir sebagai
sulfur organik, sulfur sulfida (pirit), dan sulfur sulfat. Pirit banyak terlihat
berhamburan dan menempel pada batubara terutama pada cleat.
Berdasarkan peta iso sulfur lapisan batubara GL dan G yang dibuat (gambar 5.4),
menunjukkan pola sebaran sulfur seam GL yang semakin ke arah utara nilai dari
sulfur semakin tinggi dengan nilai tertinggi 2,18 (%adb) pada titik bor DD-03-12.

46

Tingginya kandungan abu dari seam GU dan GUU yakni 8,97 dan 16,16 (%adb)
membuat nilai kalori yang dimiliki kedua seam ini rendah yakni 5.030,75 (Kcal/kg)
untuk seam GU dan 5.150,09 (Kcal/kg) untuk seam GUU. Hal ini dikarenakan pada
saat pembakaran dalam analisis batubara, panas yang dikeluarkan habis untuk
membakar abu. Dan dari karakteristik fisik tampak bahwa seam GU dan GUU
memiliki kualitas yang tidak terlalu bagus. Kandungan abu dalam batubara dapat
dihasilkan dari pengotor bawaan (inherent impurities) maupun pengotor sebagai hasil
penambangan. Inherent imputities merupakan pengotor dalam batubara yang
berhubungan dengan tumbuhan asal pembentukan batubara.
Kehadiran resin yang setempat-setempat tidak terlalu berpengaruh terhadap nilai
kalori yang ada. Ini tampak pada GU dan GUU yang memiliki nilai kalori yang lebih
rendah dari GL dan GUL dimana keduanya memiliki resin yang setampat-setempat.
Berdasarkan peta iso kandungan abu (gambar 5.5) menunjukkan pola sebaran
kandungan abu seam GL yang semakin ke selatan semakin tinggi dengan nilai
tertinggi 8,05 (%adb) pada titik bor DD-03-09.
Berdasarkan ciri fisik yang dimiliki lapisan batubara grup G dengan warna hitam,
gores hitam-hitam kecoklatan, kilap dominant sedang menandakan bahwa grup G
memiliki kualitas sedang. Berdasarkan peta iso kalori yang dibuat (gambar 5.6), nilai
kalori seam GL semakin tinggi ke arah utara dengan nilai tertinggi sebesar 6.163,969
pada titik bor DD-03-22.
Pada peta kandungan abu dan nilai kalori tampak adanya hubungan antara nilai kalori
dengan kandungan abu dalam batubara. Dimana nilai kalori akan rendah bila
kandungan abu dalam batubara tinggi demikian pula sebaliknya.

5.1.2

Lingkungan Pengendapan Lapisan Batubara Grup G

Berdasarkan perolehan data di lapangan dan data log bor, dilakukan analisa
lingkungan pengendapan lapisan batubara grup G (tabel 5.3).
Terdapatnya struktur sedimen burrow dan laminasi bergelombang pada litologi
berbutir halus seperti pasir halus dan lanau di atas roof lapisan batubara GUU dan di
bawah floor GUL, mengindikasikan bahwa lingkungan pengendapan batuan ini telah
menuju ke daerah dengan kondisi arus pasang surut. Berdasarkan ciri tersebut, maka
litologi tersebut diendapkan pada sub-lingkungan interdistributary bay.

47

Tingginya kandungan sulfur yang terdapat pada lapisan batubara grup G


mengindikasikan bahwa lingkungan terbentuknya batubara ini mendapat pengaruh
dari air payau maupun air laut. Selain itu tingginya sulfur juga dipengaruhi oleh
kondisi roof dari batubara yang banyak mengandung sisa-sisa tumbuhan (plant
remain).
Splitting dalam batubara grup G terjadi akibat adanya suplay sedimen yang telah
melebihi akumulasi gambut, sehingga menyebabkan adanya gangguan pada batubara
tersebut yang dapat memisahkan batubara tersebut. Kondisi ini dipengaruhi langsung
oleh proses trasgresi dan regresi.
Berdasarkan asosiasi dari sub-lingkungan di atas, maka dengan menggunakan
pendekatan model lingkungan pengendapan dari Horne (1987), disimpulkan bahwa
lapisan batubara grup G termasuk dalam lingkungan pengendapan transitional lower
delta plain.
Tabel 5.3 Analisa lingkungan pengendapan lapisan batubara grup G

GU

GL

GUU

GUL

CIRI-CIRI LITOLOGI
Batupasir, abu-abu, ps.halus-ps.sedang
Batulanau, abu-abu,
Roof: batulempung karbonan, menyerpih, plant remain
Batubara
Floor: batulempung karbonan
Batupasir kuarsa ,abu-abu, ps.halus-ps.sedang
Batupasir, abu-abu, ps.halus-lanau,
Roof: batulempung karbonan, menyerpih, hitam, plant
remain
Batubara
Floor: batulempung karbonan, menyerpih hitam
Batulempung karbonan, abu-abu, plant remain
Batulempung karbonan, abu-abu, plant remain
Roof: batulempung karbonan, menyerpih
Batubara
Floor: batulempung karbonan, menyerpih
Batulanau, abu-abu
Batupasir kuarsa, abu-abu, ps.sedang-ps.sangat halus
Batupasir, ps.sangat halus-ps.halus
Batulempung, abu-abu, plant remain
Roof: batulempung karbonan, menyerpih hitam
Batubara
Floor: batulempung karbonan, menyerpih
Batulempung
Batulempung
Roof: batulempung karbonan, menyerpih
Batubara
Floor: batulempung karbonan, menyerpih
Batulempung, abu-abu
Batulempung, abu-abu, menyerpih, sisipan ps. sangat
halus-ps. halus

STRUKTUR
SEDIMEN

SUB LINGKUNGAN

LINGKU
NGAN
PENGEN
DAPAN

Crevasse splay
Swamp

Nodule

Crevasse splay
Crevasse splay

Swamp

Swamp

Crevasse splay
Burrow

Interdistributary
bay

Swamp

Swamp

Burrow,
laminasi
bergelombang

Interdistributary
bay

Transitional lower delta plain

SEAM

Crevasse Splay

Swamp

Crevasse Splay

Gambar 5.2 Profil lokasi pengamatan 41, 42, 43, dan 44


Swamp

Transisional Lower Delta Plain

Swamp

Swamp

Crevasse Splay

48

Crevasse
Splay

Swamp

Gambar 5.3 Profil lokasi pengamatan 51, 52, 53, dan 54


Swamp

Swamp

Transisional Lower Delta Plain

Crevasse Splay

Interdistri
butary bay

Swamp

49

50

DD-03-22
1.916

DD-03-12
2.180

DD-03-09
1.730

DD-03-14
1.730

DD-03-04
1.730

: Iso Sulfur, interval 0.02 (% adb)

JURUSAN TEKNIK GEOLOGI


FAKULTAS TEKNOLOGI MINERAL

BD-03-14 : Lokasi & Nomor Titik Bor


0.256

UNIVERSITAS PEMBANGUNAN NASIONAL VETERAN

Sulfur (% adb)

PETA ISO SULFUR SEAM GL


DAERAH BINUNGAN BLOK 3 & 4
KECAMATAN SAMBALIUNG KABUPATEN BERAU KALIMANTAN TIMUR

: Batas Topografi

SKALA
1 : 12.500

Gambar 5.4 Peta iso sulfur seam G dan GL

GALIH KURNIAWAN
111.990.112

51

DD-03-22
3.224

DD-03-12
6.827

DD-03-09
8.050

DD-03-14
8.050

DD-03-04
8.050

: Iso Ash, interval 0.1 (% adb)


BD-03-14 : Lokasi & Nomor Titik Bor
5.550

Ash (% adb)

JURUSAN TEKNIK GEOLOGI


FAKULTAS TEKNOLOGI MINERAL
UNIVERSITAS PEMBANGUNAN NASIONAL VETERAN

PETA ISO ASH SEAM GL


DAERAH BINUNGAN BLOK 3 & 4
KECAMATAN SAMBALIUNG KABUPATEN BERAU KALIMANTAN TIMUR

: Batas Topografi

Gambar 5.5 Peta iso ash seam G dan GL

SKALA
1 : 12.500

GALIH KURNIAWAN
111.990.112

52

DD-03-22
6163.969

DD-03-12
5902.521

DD-03-09
5966.000

DD-03-14
5966.000

DD-03-04
5966.000

: Iso Kalori, interval 10 (Kcal/Kg)


JURUSAN TEKNIK GEOLOGI
FAKULTAS TEKNOLOGI MINERAL

BD-03-14 : Lokasi & Nomor Titik Bor


5950

Kalori (Kcal/Kg)

UNIVERSITAS PEMBANGUNAN NASIONAL VETERAN

PETA ISO KALORI SEAM GL


DAERAH BINUNGAN BLOK 3 & 4
KECAMATAN SAMBALIUNG KABUPATEN BERAU KALIMANTAN TIMUR

: Batas Topografi

SKALA
1 : 12.500

Gambar 5.6 Peta nilai kalori seam G dan GL

GALIH KURNIAWAN
111.990.112

53

5.2

Lapisan Batubara Grup H

5.2.1

Karakteristik dan Kualitas Lapisan Batubara Grup H

Berdasarkan pengamatan singkapan di lapangan (gambar 5.2 dan 5.3, lp 42 dan 52)
dan data-data log bor serta e-log didapatkan karakteristik fisik lapisan batubara grup
H, dan untuk kualitas yaitu total sulfur, kandungan abu dan nilai kalori didapat dari
data hasil analisa laboratorium. Karakteristik fisik dan kualitas dari lapisan batubara
ini terdapat pada tabel 5.4.
Tabel 5.4 Karakteristik dan kualitas lapisan batubara grup H
SEAM

PARAMETER
WARNA
GORES

HU

HL

Hitam

Hitam

Hitam

Hitam

Hitam

Hitam

kecoklatan

kecoklatan

kecoklatan

KILAP

Mengkilap

Mengkilap

Sedang

PECAHAN

Sub concoidal

Sub concoidal

Sub concoidal

BERAT JENIS

Agak berat

Ringan

Ringan

KEKERASAN

Keras

Agak keras

Mudah pecah

JARAK CLEAT (cm)

Tidak ada data

2-7

48

Setampat

Setempat

Setempat pada

Resin
PENGOTOR

Pirit
Parting (cm)

cleat
-

TOTAL SULFUR (% adb)

2,84

0,72

1,15

KANDUNGAN ABU (% adb)

9,86

3,83

7,05

NILAI KALORI (Kkal/kg)

5.555,23

6.028.91

5.796,93

Sulfur yang tinggi pada seam H yang mencapai 2,84 (%adb), dipengaruhi oleh
adanya pirit pada batubara dan plant remain pada roof serta kehadiran parting dengan
ketebalan 3 cm. Plant remain merupakan sisa-sisa tumbuhan yang tidak ikut
membusuk dan merupakan sumber dari sulfur organik. Seam HL memiliki total sulfur
yang lebih tinggi (1,15 %adb) dari seam HU (0,72 %adb) walaupun tidak terdapat
pirit dalam dalam batubara. Hal ini mungkin dikarekanan seam HL mengandung
sulfur organik yang berasal dari plant remain pada lapisan floor seam HL. Dalam
peta iso sulfur lapisan batubara H dan HL yang dibuat (gambar 5.7), seam H
menunjukkan penyebaran sulfur yang seakin tinggi kearah tengah, sedangkan seam
HL nilai total sulfur semakin tinggi ke utara. Dimana untuk seam H kandungan sulfur

54

tertinggi mencapai 7, 71 (%adb) pada bor DD-03-12 sedangkan seam HL 2,18 (%adb)
pada bor DD-03-22.
Tingginya abu pada seam H dipengaruhi oleh adanya parting setebal 6 cm yang ikut
dalam analisa sehingga mempengaruhi nilai kandungan abu seam H, pada peta
kandungan abu (gambar 5.8) menunjukkan pola sebaran kandungan abu lapisan
batubara H yang semakin tinggi ke arah tengah dengan kandungan abu tertinggi
mencapai 15,00 (%adb) pada bor DD-03-12, sedangkan untuk seam HL semakin
tinggi ke arah utara dengan kandungan abu tertinggi mencapai 18,86 (%adb) DD-0322.
Penyebaran sulfur dan abu dari seam H dan HL menunjukkan pola yang sama yaitu
untuk seam H memiliki penyebaran sulfur dan abu yang semakin tinggi ke arah
tengah dengan nilai tertinggi pada bor DD-03-12 dan penyebaran abu yang semakin
tinggi ke utara dengan nilai tertinggi pada bor DD-03-22. Pola penyebaran yang sama
ini dapat terjadi karena kehadiran sulfur (sulfur organik dan pirit) dalam batubara
merupakan unsur pengotor yang dalam proses pembakaran batubara tidak habis
terbakar. Sehingga dapat menaikkan kandungan abu dalam batubara.
Nilai kalori seam H, HU, dan HL sangat dipengaruhi oleh kandungan abu yang
terdapat dalam batubara. Dimana semakin tinggi kandungan abu yang ada maka nilai
kalori dari batubara semakin rendah demikian juga apabila kandungan abu dalam
batubara rendah, maka nilai kalori dari batubara akan tinggi.
Berdasarkan peta iso kalori yang ada (gambar 5.9), nilai kalori lapisan batubara H
semakin tinggi ke arah utara dan selatan, untuk lapisan batubara HL ke arah selatan
nilai kalori semakin tinggi.

55

BD-03-40A
DD-03-22
1.422
2.180

DD-03-17
0.426
DD-03-12
7.710

DD-03-09
1.080

DD-03-08
2.555

DD-03-14
0.379

DD-03-04
0.307

JURUSAN TEKNIK GEOLOGI


FAKULTAS TEKNOLOGI MINERAL

: Iso Sulfur, interval 0.1 (% adb)


BD-03-14 : Lokasi & Nomor Titik Bor
0.550

Sulfur (% adb)
: Garis Splitting

: Batas Topografi

UNIVERSITAS PEMBANGUNAN NASIONAL VETERAN

PETA ISO SULFUR SEAM H, HL


DAERAH BINUNGAN BLOK 3 & 4
KECAMATAN SAMBALIUNG KABUPATEN BERAU KALIMANTAN TIMUR

SKALA
1 : 12.500

Gambar 5.7 Peta iso sulfur lapisan batubara H & HL

GALIH KURNIAWAN
111.990.112

56

BD-03-40A
DD-03-22
1.830
18.860

DD-03-17
4.227
DD-03-12
15.000

DD-03-09
4.310

DD-03-08
11.770

DD-03-14
6.616

DD-03-04
5.949

: Iso Ash, interval 0.2 (% adb)

JURUSAN TEKNIK GEOLOGI


FAKULTAS TEKNOLOGI MINERAL

BD-03-14 : Lokasi & Nomor Titik Bor


5.550

Ash (% adb)
: Garis Splitting

UNIVERSITAS PEMBANGUNAN NASIONAL VETERAN

PETA ISO ASH SEAM H, HL


DAERAH BINUNGAN BLOK 3 & 4
KECAMATAN SAMBALIUNG KABUPATEN BERAU KALIMANTAN TIMUR

: Batas Topografi

SKALA
1 : 12.500

Gambar 5.8 Peta iso ash lapisan batubara H & HL

GALIH KURNIAWAN
111.990.112

57

BD-03-40A
DD-03-22
6508.000
4997.000

DD-03-17
6148.306
DD-03-12
5199.000

DD-03-09
5926.000

DD-03-08
5405.154

DD-03-14
6.616

DD-03-04
5773.074

: Kalori, interval 20 Kcl/Kg

JURUSAN TEKNIK GEOLOGI


FAKULTAS TEKNOLOGI MINERAL

BD-03-14 : Lokasi & Nomor Titik Bor


5876

Kalori (Kcl/Kg)
: Garis Splitting

UNIVERSITAS PEMBANGUNAN NASIONAL VETERAN

PETA ISO KALORI SEAM H, HL


DAERAH BINUNGAN BLOK 3 & 4
KECAMATAN SAMBALIUNG KABUPATEN BERAU KALIMANTAN TIMUR

: Batas Topografi

SKALA
1 : 12.500

Gambar 5.9 Peta iso kalori lapisan batubara H & HL

GALIH KURNIAWAN
111.990.112

58

5.2.2

Lingkungan Pengendapan Lapisan Batubara Grup H

Berdasarkan perolehan data di lapangan dan data log bor, dilakukan analisa
lingkungan pengendapan lapisan batubara grup H (tabel 5.5).
Tabel 5.5 Analisa lingkungan pengendapan lapisan batubara grup H

CIRI-CIRI LITOLOGI
Batupasir kuarsa, abu-abu, ps.sangat halus-ps.sedang

HL

Burrow,
laminasi
bergelombang

Interdistributary
bay

Batulempung, abu-abu, menyerpih


Roof : batulempung, abu-abu, plant remain
Batubara
Floor : batulempung, abu-abu
Batupasir kuarsa, abu-abu, ps. sangat halus- ps.halus,
sisipan batulanau

HU

SUB LINGKUNGAN

Swamp
Burrow,
laminasi
bergelombang

Batulempung, abu-abu
Roof : Batulempung karbonan, hitam, fragmen batubara
Batubara
Floor : Batulempung karbonan, abu-abu, menyerpih
Batulempung karbonan, abu-abu
Batulempung karbonan, abu-abu,
Roof : Batulempung karbonan, abu-abu, menyerpih
Batubara
Floor : Batulempung karbonan, abu-abu, menyerpih
Batulempung karbonan, abu-abu, plant remain

Interdistributary
bay

Swamp

LINGKU
NGAN
PENGEN
DAPAN

Transitional lower delta plain

SEAM

STRUKTUR
SEDIMEN

Swamp

Terdapatnya struktur sedimen burrow dan laminasi bergelombang padan litologi


berbutir halus seperti pasir halus di atas roof lapisan batubara H dan di bawah floor
HL, mengindikasikan bahwa lingkungan pengendapan batuan ini telah menuju ke
daerah dengan pengaruh pasang surut yang dominan. Berdasarkan ciri tersebut, maka
litologi tersebut diendapkan pada sub-lingkungan interdistributary bay.
Diendapkannya seam H pada sub lingkungan interdistributary bay dengan adanya
pengaruh dari air payau maupun air laut, menyebabkan seam H memiliki kandungan
sulfur yang tinggi. Hal ini sesuai dengan pendapat Mansfield & Spackman (1968)
yang menyatakan bahwa batubara dibawah pengaruh air laut mempunyai kandunga
sulfur lebih tinggi disbanding yang ada di air tawar.
Secara umum lapisan batubara grup H diendapkan pada sub-lingkungan swamp.
Adanya batulempung karbonan yang memisahkan lapisan batubara HU dan HL
mengindikasikan pernah terjadi suplai material klastik ke rawa yang mengakibatkan
pembentukan batubara terhenti.

59

Berdasarkan asosiasi dari sub-lingkungan di atas, maka dengan menggunakan


pendekatan model lingkungan pengendapan dari Horne (1987), disimpulkan bahwa
lingkungan pengendapan lapisan batubara grup H adalah transitional lower delta
plain.

5.3

Lapisan Batubara J

5.3.1

Karakteristik dan Kualitas Lapisan Batubara J

Berdasarkan pengamatan singkapan di lapangan (gambar 5.2 dan 5.3, lp 41 dan 51)
dan data-data log bor serta e-log didapatkan karakteristik fisik lapisan batubara J, dan
untuk kualitas yaitu total sulfur, kandungan abu dan nilai kalori didapat dari data
hasil analisa laboratorium. Karakteristik fisik dan kualitas dari lapisan batubara ini
terdapat pada tabel 5.6.
Tabel 5.6 Karakteristik dan kualitas lapisan batubara J
SEAM

PARAMETER
WARNA

Hitam

GORES

Hitam kecoklatan

KILAP

Sedang
Sub

PECAHAN

concoidal-

melembar

BERAT JENIS

Agak berat

KEKERASAN

Keras
3-7

JARAK CLEAT (cm)

PENGOTOR

Resin

Pirit

Parting (cm)

TOTAL SULFUR (% adb)

0,97

KANDUNGAN ABU (% adb)

6,27

NILAI KALORI (Kkal/kg)

5.944,14

Kandungan sulfur komposit pada seam J relatif rendah yaitu sebesar 0,97 (%adb).
Peta iso sulfur (gambar 5.10) menunjukkan pola sebaran total sulfur lapisan batubara
J semakin tinggi ke selatan dengan nilai terendah 0,30 (%adb) pada bor DD-03-17 dan
tertinggi sebesar 1,93 (%adb) pada bor DD-03-12.
Kehadiran parting dengan tebal 3 cm berpengaruh terhadap kandungan abu yang ada
yakni 6,27 (%adb). Kandungan abu juga memperlihatkan pola sebaran yang sama

60

dengan pola sebaran total sulfur (gambar 5.11) yaitu semakin tinggi ke selatan dengan
nilai tertinggi sebesar 14,144 (%adb) pada titik bor DD-03-12.
Karakteristik fisik seam J dengan gores berwarna hitam kecoklatan, dengan pecahan
sub concoidal, berat jenis agak berat dan keras menandakan bahwa seam J memiliki
kualitas sedang. Hal ini didukung dengan hasil analisa nilai kalori dari seam J sebesar
5944,14 (%adb). Berdasarkan peta iso kalori (gambar 5.12) menunjukkan pola
sebaran nilai kalori yang semakin tinggi ke utara dengan nilai kalori terendah pada
titik bor DD-03-12 sebesar 5331,447 (Kcal/kg) dan tertinggi sebesar 6336,50 pada
titik bor BD-03-38.
Pola sebaran nilai kalori memiliki hubungan yang linear terhadap pola sebaran total
sulfur dan dan kandungan abu. Dimana apabila nilai total sulfur dan kandungan abu
tinggi, maka nilai kalori akan rendah, demikian pula sebaliknya. Hal ini
mengindikasikan bahwa kehadiran sulfur dan abu dalam batubara dapat mengurangi
kalori yang terbentuk pada saat batubara terbakar.

61

DD-03-22
0.97 BD-03-38

DD-03-18
1.24

BD-03-37
0.89
BD-03-36 1.00
0.63
BD-03-39

DD-03-15

0.64

0.70

DD-03-17
0.30
DD-03-12
1.93

DD-03-11
1.00

DD-03-09
1.66

: Iso Sulfur, interval 0.05 (% adb)

JURUSAN TEKNIK GEOLOGI


FAKULTAS TEKNOLOGI MINERAL

BD-03-14 : Lokasi & Nomor Titik Bor


0.55

UNIVERSITAS PEMBANGUNAN NASIONAL VETERAN

Sulfur (% adb)

PETA ISO SULFUR SEAM J


: Garis Pinchout

DAERAH BINUNGAN BLOK 3 & 4


KECAMATAN SAMBALIUNG KABUPATEN BERAU KALIMANTAN TIMUR

: Batas Topografi

SKALA
1 : 12.500

Gambar 5.10 Peta iso sulfur lapisan batubara J

GALIH KURNIAWAN
111.990.112

62

DD-03-22
DD-03-18
5.249

3.858BD-03-38
BD-03-37
3.036
BD-03-36 2.572
3.090
BD-03-39

DD-03-15

2.910

2.086

DD-03-17
7.643
DD-03-12
14.144

DD-03-11
6.945

DD-03-09
5.223

: Iso Ash, interval 0.5 (% adb)

JURUSAN TEKNIK GEOLOGI


FAKULTAS TEKNOLOGI MINERAL

BD-03-14 : Lokasi & Nomor Titik Bor


5.550

UNIVERSITAS PEMBANGUNAN NASIONAL VETERAN

Ash (% adb)

PETA ISO ASH SEAM J


: Garis Pinchout

DAERAH BINUNGAN BLOK 3 & 4


KECAMATAN SAMBALIUNG KABUPATEN BERAU KALIMANTAN TIMUR

: Batas Topografi

SKALA
1 : 12.500

Gambar 5.11 Peta iso ash lapisan batubara J

GALIH KURNIAWAN
111.990.112

63

DD-03-22
DD-03-18

BD-03-386172.926

BD-03-37
6336.500
6089.878
6307.305
BD-03-36
6215.001
BD-03-39
DD-03-15

6286.259

6222.304

DD-03-17
5888.219
DD-03-12
5331.447

DD-03-11
5861.111

DD-03-09
5936.215

: Iso Kalori, interval 20 (Kcal/Kg)

JURUSAN TEKNIK GEOLOGI


FAKULTAS TEKNOLOGI MINERAL

BD-03-14 : Lokasi & Nomor Titik Bor


6050

UNIVERSITAS PEMBANGUNAN NASIONAL VETERAN

Kalori Kcal/Kg

PETA ISO KALORI SEAM J

: Garis Pinchout

DAERAH BINUNGAN BLOK 3 & 4


KECAMATAN SAMBALIUNG KABUPATEN BERAU KALIMANTAN TIMUR

: Batas Topografi

SKALA
1 : 12.500

Gambar 5.12 Peta iso kalori lapisan batubara J

GALIH KURNIAWAN
111.990.112

64

5.3.2

Lingkungan Pengendapan Lapisan Batubara J

Berdasarkan perolehan data di lapangan dan data log bor, dilakukan analisa
lingkungan pengendapan lapisan batubara J (tabel 5.7).
Tabel 5.7 Analisa lingkungan pengendapan lapisan batubara J

CIRI-CIRI LITOLOGI
Batupasir kuarsa, abu-abu, ps. halus-ps.kasar

Roof : batulempung, abu-abu, sisa tumbuhan


Batubara
Floor : batusepih karbonan, abu-abu
Batulempung karbonan, abu-abu
Batupasir kuarsa, abu-abu, ps.sangat halus-ps.halus
perselingan batulempung

SUB LINGKUNGAN

laminasi
silang siur

Crevasse splay
Swamp

Burrow

Interdistributary
bay

LINGKU
NGAN
PENGEN
DAPAN
Transitional lower
delta plain

SEAM

STRUKTUR
SEDIMEN

Adanya litologi berbutir halus pada lapisan batuan dibawah floor seam J dan adanya
struktur burrow pada batulempung mengindikasikan litologi ini diendapkan pada
daerah yang relatif tenang. Berdasarkan ciri tersebut, maka litologi tersebut
diendapkan pada sub-lingkungan interdistributary bay.
Litologi batupasir kuarsa dengan struktur laminasi silang siur di atas roof menandakan
bahwa litologi ini terendapkan pada lingkungan yang terpengaruh oleh arus dengan
arah yang berlainan. Berdasarkan ciri tersebut, maka litologi tersebut diendapkan pada
sub-lingkungan crevasse splay.
Berdasarkan asosiasi dari sub-lingkungan di atas, maka dengan menggunakan
pendekatan model lingkungan pengendapan dari Horne (1987), disimpulkan bahwa
lapisan batubara J termasuk dalam lingkungan pengendapan transitional lower delta
plain.

5.4

Lapisan Batubara Grup K

5.4.1

Karakteristik dan Kualitas Lapisan Batubara Grup K

Berdasarkan pengamatan singkapan di lapangan (gambar 5.13 lp 7 dan gambar 5.14


lp 69 dan 70) dan data-data log bor serta e-log didapatkan karakteristik fisik lapisan
batubara grup K, dan untuk kualitas yaitu total sulfur, kandungan abu dan nilai kalori
didapat dari data hasil analisa laboratorium. Karakteristik fisik dan kualitas dari
lapisan batubara ini terdapat pada tabel 5.8.

Crevasse Splay

Swamp

Crevasse Splay

Gambar 5.13 Profil lp 4, 5, 6, 7


S w a m p

Transisional Lower Delta Plain

Swamp

Crevasse Splay

65

Crevasse Splay

S w a m p

Gambar 5.14 Profil 67, 68, 69, 70


Crevasse Splay

Swamp

Transisional Lower Delta Plain

S w a m p

S w a m p

66

67

Tabel 5.8 Karakteristik dan kualitas lapisan batubara grup K


SEAM

PARAMETER

KU

KL

WARNA

Hitam

Hitam

Hitam

GORES

Hitam

Hitam

Hitam

KILAP

Sedang

Mengkilap

Mengkilap

PECAHAN

Sub concoidal

Sub concoidal

Sub concoidal

BERAT JENIS

Agak berat

Ringan

Ringan

KEKERASAN

Agak keras

Mudah pecah

Agak keras

JARAK CLEAT (cm)

Tidak ada data

4-8

38

Resin

Setempat

Setempat

Setampat

Pirit

Setempat

Setempat

Setempat

Parting (cm)

12

13

12

PENGOTOR

TOTAL SULFUR (% adb)

0,21

0,23

0,25

KANDUNGAN ABU (% adb)

3,17

5,08

5,70

NILAI KALORI (Kkal/kg)

6.031,46

6.040,69

6.014,78

Pirit dan resin hadir pada semua lapisan batubara walaupun setempat-setempat. Peta
iso sulfur lapisan batubara K dan KL (gambar 5.15), menunjukkan pola sebaran sulfur
lapisan batubara KL yang semakin tinggi ke selatan dan utara dengan nilai tertinggi
sebesar 0,448 (%adb) pada titik bor BD-03-53, sedangkan lapisan batubara K
menunjukkan pola sebaran cenderung seragam dengan nilai komposit sebesar 0,21
(%adb),
Sedangkan untuk kandungan abu (gambar 5.16) menunjukkan pola sebaran
kandungan abu lapisan batubara KL yang semakin tinggi ke utara dan selatan, namun
pada titik bor BD-03-32 yang berada ditengah didapatkan kandungan abu yang cukup
tinggi yakni 9,123 (%adb), sedangkan untuk seam K nilai kandungan abu semakin
tinggi ke arah utara dengan nilai komposit tertinggi 6,812 (%adb) pada titik bor DD03-18.
Karakteristik fisik batubara grup K berupa warna hitam, gores hitam, kilap sedangmengkilap, pecahan sub concoidal, berat jenis ringan-agak berat menunjukkan bahwa
batubara grup K memiliki kualitas yang cukup baik. Hal ini sesuai dengan nilai kalori
dari batubara grup K yang lebih besar dari 6000 (Kkal/kg). Berdasarkan peta iso
kalori yang dibuat (gambar 5.17), nilai kalori lapisan batubara K semakin tinggi ke
arah selatan dengan nilai tertinggi sebesar 6197,749 (Kkal/kg) pada bor DD-03-10

68

dan untuk lapisan batubara KL ke arah utara nilai kalori semakin tinggi dengan nilai
tertinggi sebesar 6213,338 (Kkal/kg) pada bor DD-03-17.

5.4.2

Lingkungan Pengendapan Lapisan Batubara Grup K

Berdasarkan perolehan data di lapangan dan data log bor, dilakukan analisa
lingkungan pengendapan lapisan batubara grup K (tabel 5.9).
Tabel 5.9 Analisa lingkungan pengendapan lapisan batubara grup K

CIRI-CIRI LITOLOGI
Batupasir kuarsa, abu-abu, ps.halus-ps.sedang
Batulempung, abu-abu
Roof : batulempung karbonan, abu-abu, menyerpih
Batubara
Floor : batulempung karbonan, abu-abu, menyerpih
Batupasir kuarsa, abu-abu, ps. sangat halus- ps.sedang

KU

KL

Batupasir kuarsa, abu-abu, ps.halus-ps.sedang


Batulempung, abu-abu
Roof : batulempung karbonan, hitam, fragmen batubara
Batubara
Floor : batulempung karbonan, abu-abu, menyerpih
Batulempung karbonan, abu-abu
Batulempung karbonan, abu-abu
Roof : batulempung karbonan, abu-abu
Batubara
Floor : batulempung karbonan, abu-abu
Batupasir kuarsa, abu-abu, ps sangat halus- ps.sedang

SUB LINGKUNGAN

LINGKU
NGAN
PENGEN
DAPAN

Crevasse splay
Swamp
Coarsening
upward

Crevasse splay
Crevasse splay

Swamp

Transitional lower delta plain

SEAM

STRUKTUR
SEDIMEN

Swamp
Crevasse splay

Adanya struktur sedimen pengkasaran ke atas pada batupasir kuarsa di bawah lapisan
batubara K menandakan semakin meningkatnya energi yang mentransport material
sehingga material dengan ukuran butir lebih besar terdapat pada bagian atas. Ini
menunjukkan lingkungan yang terpengaruhi oleh arus yang kuat. Berdasarkan ciri
tersebut, maka litologi tersebut diendapkan pada sub-lingkungan crevasse splay.
Hadirnya beberapa parting pada lapisan batubara K, KU, dan KL menunjukkan
lingkungan pembetukan batubara terganggu oleh suplay material klastik hasil
limpahan banjir yang terjadi pada saat itu.
Berdasarkan asosiasi dari sub-lingkungan di atas, maka dengan menggunakan
pendekatan model lingkungan pengendapan dari Horne (1987), disimpulkan bahwa
lingkungan pengendapan lapisan batubara grup K adalah transitional lower delta
plain.

69

: Iso Sulfur, interval 0.01 % (adb)

JURUSAN TEKNIK GEOLOGI


FAKULTAS TEKNOLOGI MINERAL

BD-03-14 : Lokasi & Nomor Titik Bor


0.54

Sulfur (% adb)
: Garis Splitting

UNIVERSITAS PEMBANGUNAN NASIONAL VETERAN

PETA ISO SULFUR SEAM K, KL


DAERAH BINUNGAN BLOK 3 & 4
KECAMATAN SAMBALIUNG KABUPATEN BERAU KALIMANTAN TIMUR

: Batas Topografi

SKALA
1 : 12.500

Gambar 5.15 Peta iso sulfur lapisan batubara grup K

GALIH KURNIAWAN
111.990.112

70

: Iso Ash, interval 0.1 (% adb)

JURUSAN TEKNIK GEOLOGI


FAKULTAS TEKNOLOGI MINERAL

BD-03-14 : Lokasi & Nomor Titik Bor


5.550

UNIVERSITAS PEMBANGUNAN NASIONAL VETERAN

Ash (% adb)
: Garis Splitting

PETA ISO ASH SEAM K, KL


DAERAH BINUNGAN BLOK 3 & 4
KECAMATAN SAMBALIUNG KABUPATEN BERAU KALIMANTAN TIMUR

: Batas Topografi

SKALA
1 : 12.500

Gambar 5.16 Peta iso ash lapisan batubara grup K

GALIH KURNIAWAN
111.990.112

71

: Iso Kalori, interval 20 (KKal/Kg)


BD-03-14: Lokasi & Nomor Titik Bor
6550

Kalori (Kkal/Kg)
: Garis Splitting

JURUSAN TEKNIK GEOLOGI


FAKULTAS TEKNOLOGI MINERAL
UNIVERSITAS PEMBANGUNAN NASIONAL VETERAN

PETA ISO KALORI SEAM K, KL


DAERAH BINUNGAN BLOK 3 & 4
KECAMATAN SAMBALIUNG KABUPATEN BERAU KALIMANTAN TIMUR

: Batas Topografi

SKALA
1 : 12.500

Gambar 5.17 Peta iso kalori lapisan batubara grup K

GALIH KURNIAWAN
111.990.112

72

5.5

Lapisan Batubara Grup K1

5.5.1

Karakteristik dan Kualitas Lapisan Batubara Grup K1

Berdasarkan pengamatan singkapan di lapangan (gambar 5.13 lp 6 dan gambar 5.14


lp 68) dan data-data log bor serta e-log didapatkan karakteristik fisik lapisan batubara
grup K1, dan untuk kualitas yaitu total sulfur, kandungan abu dan nilai kalori didapat
dari data hasil analisa laboratorium. Karakteristik fisik dan kualitas dari lapisan
batubara ini terdapat pada tabel 5.10.
Tabel 5.10 Karakteristik lapisan batubara grup K1
SEAM

K1

PARAMETER
WARNA
GORES
KILAP
PECAHAN

K1U

K1L

K1LU

K1LL

Hitam

Hitam

Hitam

Hitam

Hitam

Hitam

Hitam

Hitam

Hitam

Hitam

kecoklatan

kecoklatan

kecoklatan

kecoklatan

kecoklatan

Mengkilap

sedang

Sedang

Sedang

Sedang

Sub concoidal

Sub concoidal-

Melembar

Melembar

Melembar

Berat

Berat

melembar

BERAT JENIS

Agak berat

Agak berat

Agak berat

KEKERASAN

Agak keras

Agak keras

Keras

Agak keras

Agak keras

JARAK CLEAT (cm)

Tidak ada data

Tidak ada data

48

Tidak ada data

Tidak ada data

Setempat

Setempat

Setampat

Setampat

Pirit

Setempat

Setempat

Setempat

Setempat

Parting (cm)

Resin
PENGOTOR

TOTAL SULFUR (% adb)

0,27

0,42

0,41

0,38

KANDUNGAN ABU (% adb)

4,61

13,09

30,51

37,34

NILAI KALORI (Kkal/kg)

5.937,46

5..380,75

4.000,33

3..284,00

Pirit hadir pada semua lapisan batubara walaupun setempat-setempat kecuali pada
lapisan batubara K1L. kehadiran pirit yang hanya setempat-setempat tidak
berpengaruh terhadap total sulfur yang ada. Hal ini tampak dari total sulfur dari
masing-masing seam yang relatif kecil walaupun terdapat pirit dalam batubara
Kandungan abu yang cukup tinggi pada seam K1U (13,09 %adb), K1L (30,51 %adb),
dan K1LU (37,34 %adb) dipengaruhi oleh kehadiran parting pada masing-masing
seam tersebut. Dimana parting ini ikut dalam analisa kimia.
Berdasarkan karakteristik fisik batubara grup K1 yaitu warna hitam, gores hitam
kecoklatan, kilap dominant sedang, pecahan dominant melembar, berat jenis beratagak berat, dan kekerasan keras-agak keras, menunjukkan bahwa batubara grup K1

73

memiliki kualitas yang tidak bagus dengan nilai kalori antara 3284 (Kkal/kg)
5988,92 (Kkal/kg). Kandungan abu yang sangat tinggi berpengaruh terhadap
rendahnya nilai kalori yang ada. ini dikarenakan pada saat pembakaran dalam analisis
batubara, panas yang dikeluarkan habis untuk membakar abu.

5.5.2 Lingkungan Pengendapan Lapisan Batubara Grup K1


Berdasarkan perolehan data di lapangan dan data log bor, dilakukan analisa
lingkungan pengendapan lapisan batubara grup K1 (tabel 5.11).
Tabel 5.11 Analisa lingkungan pengendapan lapisan batubara grup K1

CIRI-CIRI LITOLOGI
Batupasir, abu-abu, ps.halus- ps.kasar

K1

K1U

K1L

K1LU

K1LL

Batulempung karbonan, abu-abu


Roof : batulempung karbonan, abu-abu, menyerpih
Batubara
Floor batulempung karbonan, abu-abu
Batupasir, abu-abu, ps. sangat halus- ps.sedang
Batulempung karbonan, abu-abu
Roof : batulempung karbonan, abu-abu, menyerpih
Batubara
Floor : batulempung karbonan, abu-abu, menyerpih
Roof : batulempung karbonan, abu-abu, menyerpih
Batubara
Floor : batulanau, abu-abu
Batupasir kuarsa, abu-abu, ps sangat halus- ps.sedang
Roof : batulempung karbonan, abu-abu, menyerpih
Batubara
Floor : batulempung karbonan, abu-abu, menyerpih
Roof : batulempung karbonan, abu-abu, menyerpih
Batubara
Floor : batulempung karbonan, abu-abu, menyerpih
Batulempung karbonan, abu-abu
Batupasir, abu-abu, ps.halus-ps.kasar

SUB LINGKUNGAN

Coarsening
upward

Crevasse splay

LINGKU
NGAN
PENGEN
DAPAN

Swamp

Crevasse splay
Swamp

Swamp
Crevasse splay

Transitional lower delta plain

SEAM

STRUKTUR
SEDIMEN

Swamp

Swamp
Crevasse splay

Adanya batupasir di atas roof seam K1 dengan struktur sedimen coarsening upward
mengindikasikan bahwa arus yang ada pada saat itu semakin kuat yang dapat
mentransport material yang lebih besar pada bagian atas. Kondisi ini mencerminkan
sub lingkungan pengendapan crevasse splay. Adanya batupasir di bawah lapisan
batubara K1, K1L dan K1LL menandakan bahwa dasar dari pengendapan lapisan
batubara grup K1 adalah sama yaitu batupasir dengan lingkungan pengendapan

74

crevasse splay, sedangkan lapisan batubara grup K1 sendiri terendapkan pada sublingkungan swamp.
Berdasarkan asosiasi sub-lingkungan di atas, maka dengan menggunakan pendekatan
model lingkungan pengendapan dari Horne (1987), disimpulkan bahwa lingkungan
pengendapan lapisan batubara grup K1 adalah transitional lower delta plain.

5.6

Lapisan Batubara Grup L

5.6.1

Karakteristik dan Kualitas Lapisan Batubara Grup L

Berdasarkan pengamatan singkapan di lapangan (gambar 5.13 lp 5, gambar 5.14 lp


67, dan gambar 5.18) dan data-data log bor serta e-log didapatkan karakteristik fisik
lapisan batubara grup L, dan untuk kualitas yaitu total sulfur, kandungan abu dan nilai
kalori didapat dari data hasil analisa laboratorium. Karakteristik fisik dan kualitas
lapisan batubara ini terdapat pada tabel 5.12.
Pirit hadir pada semua lapisan batubara walaupun setempat-setempat kecuali pada
lapisan batubara LU. Kehadiran pirit ini sedikit berpengaruh terhadap total sulfur
yang ada. Pada peta iso sulfur lapisan batubara L, LL dan LLL yang dibuat (gambar
5.19), lapisan batubara L menunjukkan pola sebaran sulfur yang semakin tinggi ke
utara dengan nilai tertinggi 1,02 (%adb) pada titik bor BD-03-55 dan LL
menunjukkan pola sebaran sulfur yang semakin tinggi ke selatan dengan nilai
tertinggi 1,641 (%adb) pada titik bor DD-03-10,
Kehadiran parting pada seam L menyebabkan kadungan abu pada batubara L cukup
tinggi yaitu 8,17 (%adb). Berdasarkan peta iso kandungan abu (gambar 5.20)
menunjukkan pola sebaran kandungan abu lapisan batubara L yang semakin tinggi ke
selatan dengan nilai tertinggi 9,173 (%adb) pada titik bor DD-03-01 dan untuk seam
LL semakin tinggi ke arah tengah dengan nilai tertinggi 7,241 (%adb) pada titik bor
DD-03-10.
Berbasarkan karakteristik fisik dari batubara grup L yakni warna hitam, gores hitamhitam kecoklatan, kilap sedang-mengkilap, pecahan sub concoidal-melembar, berat
jenis berat-agak berat, dan kekerasan agak keras-mudah pecah, menunjukkan bahwa
batubara grup L memiliki kualitas sedang. Hal ini juga tampak pada nilai kalori yang
ada berkisar antara 5683,40 (Kkal/kg)-6146,66 (Kkal/kg).Berdasarkan peta iso kalori
yang dibuat (gambar 5.21), nilai kalori seam L dan LL semakin tinggi ke utara.

75

Dengan nilai kalori tertinggi sebesar 5812,55 (Kkal/kg) pada bor BD-03-55 untuk
seam L dan 7307,50 (Kkal/kg) pada bor DD-03-13.

76

Tabel 5.12 Karakteristik lapisan batubara grup L


SEAM

PARAMETER
WARNA
GORES
KILAP
PECAHAN

LU

LL

LUU

LUL

Hitam

Hitam

Hitam

Hitam

Hitam

Hitam

Hitam

Hitam

Hitam

Hitam

kecoklatan

kecoklatan

Sedang

Sedang

Mengkilap

Mengkilap

Sub concoidal

Sub concoidal-

Sub concoidal

Sub concoidal

LLU

LLL

Hitam

Hitam

Hitam

Hitam

kecoklatan

melembar

Sedang

Sedang

Mengkilap

Sub concoidal -

Melembar

Sub concoidal

Melembar

BERAT JENIS

Agak berat

Berat

Agak berat

Agak berat

Agak berat

Berat

Agak berat

KEKERASAN

Keras

Agak keras

Mudah pecah

Agak keras

Keras

Keras

Mudah pecah

JARAK CLEAT (cm)

Tidak ada data

4-7 cm

48

Tidak ada data

Tidak ada data

Tidak ada data

Tidak ada data

PENGOTOR

Resin

Setempat

Setempat

Setampat

Setampat

Setampat

Pirit

Setempat

Setempat

Setempat

Setempat

Setempat

Melimpah

Parting (cm)

4 cm

5 cm

TOTAL SULFUR (% adb)

0,79

1,92

1,23

1,58

1,73

1,89

1,54

KANDUNGAN ABU (% adb)

8,17

6,25

4,87

2,13

4,37

5,21

2,36

NILAI KALORI (Kkal/kg)

5.723,49

5.610,29

6.146,66

6.040,43

5.974,67

5.683,40

6.123,98

77

Gambar 5.18 Profil lokasi pengamatan 2

Tr a n si s io n a l L o w e r D e l ta P la i n

Crevasse Splay

Batubara, hitam, gores hitam kecoklatan, mengkilap kusam,


pecahan sub-concoidal-melembar,berat, keras, jarak
cleat 4-8 cm ( seam LU).

78

BD-03-55
1.020

DD-03-13
0.500

DD-03-10
1.641

BD-03-59
1.399
BD-03-65
1.624
BD-03-64
BD-03-04
BD-03-03
1.059
1.590
1.570
DD-03-07
1.464

BD-03-02
1.511

DD-03-01
0.510

: Iso Sulfur, interval 0.02 % (adb)

JURUSAN TEKNIK GEOLOGI


FAKULTAS TEKNOLOGI MINERAL

BD-03-14 : Lokasi & Nomor Titik Bor


0.814

UNIVERSITAS PEMBANGUNAN NASIONAL VETERAN

Sulfur ( % adb)
: Garis Splitting

PETA ISO SULFUR SEAM L, LL, LLL


DAERAH BINUNGAN BLOK 3 & 4
KECAMATAN SAMBALIUNG KABUPATEN BERAU KALIMANTAN TIMUR

: Batas Topografi

SKALA
1 : 12.500

Gambar 5.19 Peta iso sulfur seam L, LL dan LLL

GALIH KURNIAWAN
111.990.112

79

BD-03-55
7.445

DD-03-13
2.600

DD-03-10
7.241

BD-03-59
3.648
BD-03-65
2.359
BD-03-04
BD-03-64
BD-03-03
6.730
2.864
2.373
DD-03-07
2.348 BD-03-02
2.357

DD-03-01
9.173

Gambar 5.20 Peta iso ash seam L, LL dan LLL

80

BD-03-55
5812.655

DD-03-13
7307.500

DD-03-10
5670.382

BD-03-59
6009.720
BD-03-65
6069.474
BD-03-64
BD-03-04
BD-03-03
6017.243
5285.000
6160.250
DD-03-07
BD-03-02
6104.675
6210.279

DD-03-01
5600.448

: Iso Kalori, interval 25 (KKal/Kg)

JURUSAN TEKNIK GEOLOGI


FAKULTAS TEKNOLOGI MINERAL

BD-03-14 : Lokasi & Nomor Titik Bor


6550

Kalori (Kkal/Kg)
: Garis Splitting

UNIVERSITAS PEMBANGUNAN NASIONAL VETERAN

PETA ISO KALORI SEAM L, LL, LLL


DAERAH BINUNGAN BLOK 3 & 4
KECAMATAN SAMBALIUNG KABUPATEN BERAU KALIMANTAN TIMUR

: Batas Topografi

SKALA
1 : 12.500

Gambar 5.21 Peta nilai kalori seam L, LL dan LLL

GALIH KURNIAWAN
111.990.112

81

5.6.2

Lingkungan Pengendapan Lapisan Batubara Grup L

Berdasarkan perolehan data di lapangan dan data log bor, dilakukan analisa lingkungan
pengendapan lapisan batubara grup L (tabel 5.13).
Tabel 5.13 Analisa lingkungan pengendapan lapisan batubara grup L

LU

LL

LUU

LUL

LLU

LLL

CIRI-CIRI LITOLOGI
Batupasir, abu-abu, ps.halus- ps.sedang
Roof : batulempung karbonan, abu-abu
Batubara
Floor : batulempung karbonan, abu-abu, menyerpih
Batulempung, abu-abu
Batupasir, abu-abu, ps. sangat halus- ps.sedang
Batulempung, abu-abu, plant remain
Roof : batulempung karbonan, abu-abu
Batubara
Floor : batulempung karbonan, abu-abu, plant remain
Roof : batulempung karbonan, abu-abu, plant remain
Batubara
Floor : batulempung karbonan, abu-abu, menyerpih
Batulempung, abu-abu
Batupasir, abu-abu, ps sangat halus- ps.sedang
Batupasir, abu-abu, ps.halus-ps.sedang
Roof : batulempung karbonan, abu-abu, plant remain
Batubara
Floor : batulempung karbonan, abu-abu, menyerpih
Batulempung karbonan, abu-abu
Batulempung karbonan, abu-abu
Roof : batulempung karbonan, abu-abu, plant remain
Batubara
Floor : batulempung karbonan, abu-abu, plant remain
Roof : batulempung karbonan, abu-abu, plant remain
Batubara
Floor : batulempung karbonan, abu-abu, plant remain
Roof : batulempung karbonan, abu-abu, plant remain
Batubara
Floor : batulempung karbonan, abu-abu, menyerpih
Batulempung, abu-abu
Batupasir, abu-abu, ps.halus-ps.sedang

SUB LINGKUNGAN

LINGKU
NGAN
PENGEN
DAPAN

Crevasse splay
Swamp
Crevasse splay
Swamp

Swamp
Crevasse splay
Crevasse splay
Swamp

Transitional lower delta plain

SEAM

STRUKTUR
SEDIMEN

Swamp

Swamp

Swamp
Crevasse splay

Adanya batupasir di bawah lapisan batubara L, LL dan LLL menandakan bahwa dasar
dari pengendapan lapisan batubara grup L adalah sama yaitu batupasir dengan
lingkungan pengendapan crevasse splay, demikian juga dengan litologi di atas lapisan
batubara L, LU, dan LUU yang berupa batupasir. Sedangkan lapisan batubara grup L
sendiri terendapkan pada sub-lingkungan swamp.

82

Tingginya kandungan sulfur pada lapisan batubara grup L mengindikasikan bahwa


lingkungan pengendapan dari batubara ini kemungkinan dipengaruhi oleh kondisi marin
pada saat terjadi transgresi.
Banyaknya splitting yang terjadi pada seam L menunjukkan bahwa lingkungan
pengendapan seam ini sangat mobile. Dimana pengendapan sedimen non batubara terjadi
berulangkali.
Berdasarkan asosiasi sub-lingkungan di atas, maka dengan menggunakan pendekatan
model lingkungan pengendapan dari Horne (1987), disimpulkan bahwa lingkungan
pengendapan lapisan batubara grup L adalah transitional lower delta plain.

5.7

Hubungan Lingkungan Pengendapan Terhadap Kualitas Lapisan Batubara

Berdasarkan penjabaran kualitas masing-masing lapisan batubara yang ada, baik itu total
sulfur, kandungan abu dan nilai kalori sangat bervariasi. Karakteristik fisik lapisan
batubara dapat digunakan sebagai identifikasi awal terhadap kualitas yang ada.

Total sulfur
Kehadiran pirit dalam bentuk euhedral dengan massa berbutir kasar yang menggantikan
material asli tanaman, berupa massa lembaran yang mengisi cleat berpengaruh terhadap
total sulfur yang ada (Caruccio et al,1977 (dalam Horne, 1978)). Dimana pada beberapa
lapisan batubara di daerah penelitian terdapat pirit yang mengisi cleat yang pada hasil
analisa sulfur menunjukan kenaikan nilai total sulfur. Kondisi ini tampak pada seam GU
dan GL dimana seam GU mengandung pirit pada cleat dan seam GL mengandung pirit
yang tersebar merata, seam GU memiliki total sulfur sebesar 1,44 (%adb) dan seam GL
memiliki total sulfur sebesar 1,90 (%adb).
Selain itu, kehadiran plant remain pada litologi di atas lapisan batubara juga berpengaruh
terhadap kehadiran sulfur organik dimana sulfur pada tumbuhan/daun tidak ikut
membusuk dan tersisa pada saat pembentukan batubara. Kondisi ini tampak pada lapisan
batubara grup L dimana sebagian besar roof dan floor dari lapisan batubara grup L

83

mengandung plant remain dan memiliki kandungan sulfur yang tinggi ( lebih besar dari 1
%adb).
Lingkungan pengendapan juga berpengaruh terhadap total sulfur pada lapisan batubara.
Lingkungan pengendapan transisional lower delta plain merupakan daerah transisi antara
lingkungan fluvial dan marin dimana terdapat pengaruh dari air payau dan air laut. Hasil
penelitian yang dilakukan oleh Mansfield & Spackman (1968) memperlihatkan bahwa
batubara dibawah pengaruh air laut mempuyai kandungan sulfur lebih tinggi dibanding
yang ada di air tawar. Selain itu, Glaukoter & Hopkins (1970) berpendapat bahwa daerah
dimana endapan crevase splay pada roof batubara berkembang, kandungan sulfurnya
sangat sedikit dibandingkan dengan kandungan sulfur pada daerah yang jauh dari crevase
splay. Hal ini dikarenakan sedimen klastik yang ada melindungi gambut dari air laut yang
kaya akan unsur sulfat yang pada saat proses transgresi terjadi. Kedua hal ini sesuai
dengan kondisi pada daerah penelitian dimana lapisan batubara grup G dan H yang
diendapkan pada sub lingkungan swamp pada kondisi pasang surut dengan roof yang
diendapkan pada sub lingkungan interdistributary bay memiliki nilai total sulfur yang
tinggi. Sedangkan lapisan batubara J, grup K, dan K1yang memiliki roof yang
diendapkan pada sub lingkungan crevase splay memiliki nilai total sulfur yang rendah.

Kandungan abu
Kehadiran parting pada lapisan batubara sangat berpengaruh terhadap nilai kandungan
abu yang terdapat pada lapisan batubara tersebut. Hal ini tampak pada lapisan batubara
grup K1 yang terdapat parting dengan ketebalan 5 8 cm memiliki kandungan abu yang
cukup tinggi yakni antara 13,09 37,34 (%adb).
Selain itu kandungan abu terdapat sebagian besar pada kandungan mineral didalam
batubara, setelah komponen-komponen seperti CO2 (dari karbonat), SO2 (dari sulfida)
dan H2O (dari lempung) ditinggalkan (Ward, 1984).
Kehadiran sulfur berupa sulfur sulfide (pirit) pada batubara dapat meningkatkan
kandungan abu. Hal dikarenakan pirit yang ada pada saat pembakaran batubara tidak
habis terbakar namun masih menyisakan sisa berupa abu. Hal ini tampak pada seam GU

84

dan GUL. Dimana seam GU yang mengandung pirit pada cleat memiliki kandungan abu
8,97 (%adb) sedangkan seam GUL yang tidak mengendung pirit memiliki kandungan abu
4,60 (%adb).
Berdasarkan penjabaran diatas tampak bahwa lingkungan pengendapan yang relatif dekat
dengan daerah laut yang ditandai memiliki total sulfur yang tinggi, memiliki kandungan
abu yang tinggi.

Nilai kalori
Kehadiran resin/amber pada batubara dapat meningkatkan nilai kalori. Resin merupakan
matrial dalam batubara berwarna kuning keemasan-coklat, dengan sifat yang mudah
terbakar dan tahan terhadap pembusukan. Namun berdasarkan data yang diperoleh,
kehadiran resin yang hanya setempat-setempat pada batubara tidak terlalu berpengaruh
terhadap nilai kalori yang ada.
Pengaruh lingkungan pengendapan terhadap nilai kalori sangat terkait dengan kandungan
abu. Kandungan abu pada batubara sangat berpengaruh terhadap nilai kalori yang ada,
seperti yang ada pada lapisan batubara grup K1. Dimana seam K1 dengan kandungan abu
sebesar 3,76 (%adb) memiliki nilai kalori sebesar 5.998,92 (Kcal/kg). sedangkan seam
K1LU dengan kandungan abu yang lebih tinggi yakni 37,34 (%adb) memiliki nilai kalori
yang lebih rendah yakni 3.284,00 (Kcal/kg). Hal ini menunjukkan bahwa semakin tinggi
kandungan abu yang ada pada lapisan batubara maka nilai kalori yang ada semakin
rendah. Ini dikarenakan panas yang dikeluarkan habis untuk membakar abu yang ada.
Splitting yang ada disebabkan pada saat akumulasi gambut berlangsung yang diikuti
dengan penurunan cekungan dan pengendapan sediment non batubara di atas akumulasi
gambut. Pada saat penurunan cekungan berhenti, maka pengendapan sediment non
batubara terhenti, kemudian akumulasi gambut akan terbentuk lagi. Litologi sedimen non
batubara yang ada dapat berupa batupasir maupun batulempung.

Pada splitting seam G, pada lampiran korelasi seam G, H, J tampak bahwa litologi
yang berperan berupa batulempung pada bagian utara dan selatan. Sedangkan

85

pada bagian tengah, splitting disebabkan oleh adanya batupasir (titk bor DD-0309).

Pada splitting seam H, , pada lampiran korelasi seam G, H, J, litologi yang


berperan adalah batulempung ( titik bor DD-03-09 dan DD-03-22).

Pada splitting seam K, pada lampiran korelasi seam K, K1, L tampak bahwa
litologi yang berperan berupa batulempung pada bagian selatan dan tengah.
Sedangkan ke utara seam K tidak mengalami splitting.

Pada splitting seam K1, pada lampiran korelasi seam K, K1, L tampak bahwa
litologi yang berperan pada semua splitting berupa batulempung kecuali pada
bagian selatan (titik dor BD-03-52R) yang berupa batulempung.

Pada splitting seam L, pada lampiran korelasi seam K, K1, L tampak bahwa
litologi yang berperan berupa batulempung.

Banyaknya lapisan batubara yang terdapat pada daerah penelitian disebabkan adanya
pengulangan siklus pengendapan yang sangat dipengaruhi oleh proses transgresi dan
regresi.

86

BAB 6
KESIMPULAN
Geomorfologi daerah penelitian sangat dipengaruhi oleh struktur geologi yang ada dan
proses erosi dan pelapukan yang intensif. Sturktur sinklin yang ada menghasilkan lembah
yang berada di tengah daerah penelitian. Sedangkan struktur sesar naik membentuk
punggungan pada bagian barat daerah penelitian. Bentukan asal daerah penelitian dibagi
menjadi dua yaitu bentukan asal Struktural terdenudasi dengan sub satuan geomorfik
Punggungan Tererosi (S1), satuan bentukan asal Denudasional, dengan sub satuan
geomorfik adalah Lembah Hasil Erosi (D1) dan Perbukitan Tererosi (D2), dan satuan
bentukan asal Fluvial dengan sub satuan geomorfik Dataran Aluvial (F1).
Stratigrafi daerah penelitian dari tua kemuda adalah satuan batupasir Latih dengan umur
Miosen Awal - Miosen Tengah yang diendapkan pada lingkungan transitional lower
delta plain. Di atasnya secara selaras diendapkan satuan batupasir kuarsa Latih pada kala
Miosen Tengah di lingkungan transitional lower delta plain. Kemudian di atasnya secara
selaras diendapkan satuan batulempung Latih pada kala Miosen Tengah pada lingkungan
transitional lower delta plain. Di atas satuan batulempung Latih diendapkan secara tidak
selaras endapan alluvial yang merupakan hasil sedimentasi dari Sungai Binungan.
Batubara di daerah penelitian terdapat pada satuan batupasir kuarsa Latih dan satuan
batulempung Latih.
Struktur geologi yang berkembang di daerah penelitian berupa sinklin dan sesar naik.
Karena sinklin Binungan memiliki sumbu sinklin yang melengkung, maka analisa lipatan
dilakukan sebanyak dua kali yaitu pada bagian selatan dan utara. Analisa lipatan pada
bagian selatan didapatkan kedudukan arah umum sayap lipatan timurlaut adalah N 157
E/ 22, kedudukan arah umum sayap lipatan baratdaya adalah N 14 E/ 27, arah umum
sumbu lipatan adalah N 176 E / 86 dan garis sumbu 8, N 178 E. Berdasarkan hasil
analisa tersebut maka jenis lipatan adalah Upright Horizontal Fold, klasifikasi menurut

87

Fluety (1964).Analisa lipatan pada bagian utara didapatkan kedudukan arah umum sayap
lipatan timurlaut adalah N 151 E/ 14, kedudukan arah umum sayap lipatan baratdaya
adalah N 350 E/ 73, arah umum sumbu lipatan adalah N 170 E / 60 dan garis sumbu
6, N 168 E. Berdasarkan hasil analisa tersebut maka jenis lipatan adalah Steeply
inclined Horizontal Fold, klasifikasi menurut Fluety (1964). Sesar naik Binungan terletak
di bagian barat daerah penelitian. Sesar ini merupakan sesar yang diperkirakan
berdasarkan data-data lapangan berupa kedudukan lapisan batuan yang relatif besar,
adanya zona hancuran dengan kedudukan batuan yang acak, dan kenampakan topografi
yang curam dengan punggungan yang memanjang.

Sejarah geologi daerah penelitian dimulai pada kala Miosen Awal dengan diendapkannya
satuan batupasir Latih. Kemudian diatas satuan batupasir Latih secara selaras diendapkan
satuan batupasir kuarsa Latih pada kala Miosen Awal-Miosen Tengah. Kemudian di atas
satuan batupasir kuarsa Latih diendapkan secara selaras satuan batulempung Latih pada
kala Miosen Tengah. Setalah pengendapan batulempung Latih terjadi proses tektonik
dengan arah gaya relatifbarat-daya timurlaut. Proses tektonik ini menyebabkan
terlipatnya seluruh satuan batuan yang ada di daerah penelitian dan membentuk sinklin
Binungan dan sesar naik Binungan. Sesar naik Binungan mengakibatkan satuan batupasir
Latih terangkat. Proses pelapukan dan erosi terus berlangsung hingga sekarang yang
mengakibatkan semua satuan batuan yang ada tersingkap dan membentuk endapan
alluvial disekitar sungai Binungan.
Berdasarkan pemodelan geologi yang dilakukan dengan menggunakan data log bor, elog, dan pengamatan singkapan diketahui bahwa daerah penelitian memiliki 11 lapisan
batubara yaitu lapisan batubara grup D, E, E1, F, G, H, J, K, K1, L, M.
Total sulfur daerah penelitian berkisar antara 0,21 2,84 (%adb). Tinggi rendahnya
kandungan total sulfur berdasarkan pengamatan fisik batubara dipengaruhi oleh
keberadaan plant remain yang merupakan sisa tumbuhan/daun yang terdapat pada

88

batubara, yang saat pembusukan sulfur yang terkadung dalam tumbuhan tersebut tidak
ikut membusuk. Kehadiran pirit skunder yang berbentuk euhedral dan melembar yang
sering terdapat pada cleat juga mempengaruhi terhadap kandungan total sulfur. Selain itu,
lingkungan pengendapan dari batubara dan lapisan pengapitnya juga berpengaruh
terhadap total sulfur yang ada.
Kandungan abu di daerah penelitian paling tinggi 37,34 (%adb), dan terendah 3,17
(%adb). Kandungan abu ini dipengaruhi oleh adanya parting sebagai pengotor yang
mempengaruhi pada saat proses pembentukan batubara. Parting ini terjadi karena adanya
material klastik yang terendapkan pada lingkungan swamp sehingga pengendapan
batubara terganggu. Selain itu kehadiran sulfur sulfide (pirit) dapat menaikkan
kandungan abu dalam batubara.
Nilai kalori pada daerah penelitian tertinggi 6.123,98 Kcal/kg, sedangkan terendah
3.284,00 Kcal/kg. Berdasarkan data yang diperoleh nilai kalori di daerah telitian sedikit
dipengaruhi oleh keberadaan resin yang merupakan material pengotor dalam batubara
yang sifatnya mudah terbakar sehingga dapat menaikkan nilai kalori. Nilai kalori juga
dipengaruhi oleh kandungan abu dalam batubara. Semakin tinggi kandungan abu dalam
batubara maka semakin rendah nilai kalori dari batubara tersebut.

89

DAFTAR PUSTAKA
Anonim, 1997, Ringkasan Mengenai Teknologi Eksplorasi Batubara, New Energy and
Industrial Technology Development Organization (NEDO) & Japan Technical
Co-Operation Center For Coal Resources Development (JATEC).
Burhan & Situmorang, 1995, Peta Geologi Lembar Tanjung Redeb Kalimantan Timur,
Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi, Bandung.
Horne, J.C. Ferm, Caruccio, F.T., Baganz, B.P., 1978, Depositional Models in Coal
Exploration and Mine Planning in Appalachian Region, The American
Assosiation of Petroleum Geologists Bulletin volume 62, number 12, America,
hal. 2379 2411.
Kuncoro Prasongko, B., 2002, Aplikasi Model Pengendapan Batubara, BTM (Buletin
Teknologi Mineral) no.15, UPN Veteran Yogyakarta, Yogyakarta, hal. 18 21.
Kuncoro Prasongko, B., 2000, Geometri Lapisan Batubara, Seminar dan Musyawarah
Nasional I-2000 Ikatan Alumni Tambang, Jurusan Teknik Pertambangan UPN
Veteran Yogyakarta, Yogyakarta, hal. IV-13 IV-15.
PT. Berau Coal, 2003, Binungan Annual Main Plan 2004.
PT. Berau Coal, 2003, Drill Hole Survey Data Base Binungan Area.
PT. Berau Coal, 2003, Log Bore & Electric Logging Report Deep Drilling and Shallow
Drilling Binungan Area.
PT. Berau Coal, 2003, Quality Analysis Deep Drilling and Shallow Drilling Binungan
Area.
PT. Berau Coal, 1999, Geological Map Berau Area.
PT. Tambang Batubara Bukit Asam (Persero),

-, Materi Pelatihan Kualitas Batubara,

Pusat Pelatihan dan Pendidikan


Ragan, Donal M., 1973, Structural Geology An Introduction to Geometrical Techniques
Second Edition, Department of Geology Arizona State University.

90

Ward, Colin R., 1984, Coal Geology and Coal Technology, Blackwell Scientific
Publication, Melbourne.
Zuidam, R.A.Van, 1983, Guide to Geomorphic Aerial Photography Interpretation and
Mapping. Enschede 325 p.

91

No. Sample
Lokasi Pengamatan
Nama Batuan
Satuan Batuan
Perbesaran

: 01
:5
: Batulempung karbonan
: Batulempung Latih
: 30x
Ket. Foto :
1. Kuarsa
2. Min. opak
3. Lempung
4. Karbon
5. Lithic

0.3 mm

PEMERIAN PETROGRAFIS:
Sayatan batulempung, warna coklat kehitaman, didominasi oleh mineral berukuran lempung,
dengan sedikit butiran berupa kuarsa, mineral opak, dan lithic dengan ukuran butir 0,01-0,04,
bentuk butir menyudut tanggung-membulat, yang tertanam dalam masa dasar lempung. Nampak
cerat-cerat karbon dengan ukuran 0,05-0,5mm.
KOMPOSISI MINERAL:
Kuarsa

Karbon

(8%), tidak berwarna, relief rendah, indeks bias n>nkb, ukuran butir 0,010,4mm, pemadaman bergelombang, menyudut tanggung-membulat tanggung.
(4%), hitam, kedap cahaya, berukuran 0,01-0,4mm, relief tinggi, menyudut
tanggung-membulat tanggung.
(57%), kecoklatan, pada posisi nikol silang menjadi gelap, tersebar merata
dalam sayatan.
(9%), kuning kecoklatan, berupa butiran batulanau, ukuran butir 0,01-0,02mm,
membulat, tersebar merata dalam sayatan.
(22%), hitam, kedap cahaya, berukuran 0,05-0,5mm.

Nama

: Claystone (Klasifikasi Gilbert,1954)

Mineral opak
Mineral lempung
Lithic

92

No. Sample
Lokasi Pengamatan
Nama Batuan
Satuan Batuan
Perbesaran

: 02
: 79
: Batupasir halus
: Batupasir Latih
: 30x
Ket. Foto :
1. Kuarsa
2. Min. opak
3. Lempung

0.3 mm

PEMERIAN PETROGRAFIS:
Sayatan batupasir, warna abu-abu kecoklatan, tekstur klastik, ukuran butir 0,01-0,1mm, kemas
terbuka, bentuk butir menyudut tanggung-membulat, butiran terdiri dari kuarsa dan mineral opak,
dengan rongga antar butir terisi oleh lempung dan lithic.

KOMPOSISI MINERAL:
Kuarsa
Mineral opak
Mineral lempung
Lithic
Nama

(17%), tidak berwarna, relief rendah, indeks bias n>nkb, ukuran butir 0,030,1mm, pemadaman bergelombang, menyudut tanggung-membulat tanggung.
(16%), hitam, kedap cahaya, berukuran 0,02-0,1mm, relief tinggi, membulat
tanggung.
(39%), kecoklatan, pada posisi nikol silang menjadi gelap
(28%), kuning kecoklatan, berupa butiran batupasir-batulanau, ukuran butir
0,01-0,03mm, membulat.
: Lithic Wacke (Klasifikasi Gilbert,1954)

93

No. Sample
Lokasi Pengamatan
Nama Batuan
Satuan Batuan
Perbesaran

: 03
: 80
: Batulanau
: Batupasir latih
: 30x
Ket. Foto :
1. Kuarsa
2. Min. opak
3. Lempung
4. Lithic

0.3 mm

PEMERIAN PETROGRAFIS:
Sayatan batulanau, warna abu-abu kecoklatan, tekstur klastik, ukuran butir 0,01-0,04mm, kemas
terbuka,bentuk butir menyudut tanggung-membulat, butiran terdiri dari kuarsa dan mineral opak
,dengan rongga antar butir terisi oleh lempung dan lithic.

KOMPOSISI MINERAL:
Kuarsa
Mineral opak
Mineral lempung
Lithic
Nama

(14%), tidak berwarna, relief rendah, indeks bias n>nkb, ukuran butir 0,020,4mm, pemadaman bergelombang, menyudut tanggung-membulat tanggung.
(8%), hitam, kedap cahaya, berukuran 0,01-0,4mm, relief tinggi, membulat
tanggung.
(66%), kecoklatan, pada posisi nikol silang menjadi gelap, tersebar merata
dalam sayatan.
(12%), kuning kecoklatan, berupa butiran batulanau, ukuran butir 0,010,02mm, membulat, tersebar merata dalam sayatan.
: Claystone (Klasifikasi Gilbert,1954)

94

No. Sample
Lokasi Pengamatan
Nama Batuan
Satuan Batuan
Perbesaran

: 04
: 39
: Batupasir kuarsa
: Batupasir kuarsa Latih
: 30x
Ket. Foto :
1. Kuarsa
2. Min. opak
3. Lempung

0.3 mm

PEMERIAN PETROGRAFIS:
Sayatan batupasir, warna abu-abu kecoklatan, tekstur klastik, ukuran butir 0,05-0,25mm, kemas
terbuka, bentuk butir menyudut tanggung-membulat tanggung, butiran terdiri dari kuarsa dan
mineral opak, dengan rongga antar butir terisi oleh lempung.

KOMPOSISI MINERAL:
Kuarsa

Mineral lempung

(76%), tidak berwarna, relief rendah, indeks bias n>nkb, ukuran butir 0,080,25mm,pemadaman bergelombang, menyudut tanggung-membulat tanggung.
(16%), hitam, kedap cahaya, berukuran 0,05-0,1mm, relief tinggi, membulat
tanggung.
(8%), kecoklatan, pada posisi nikol silang menjadi gelap.

Nama

: Lithic Arenit (Klasifikasi Gilbert,1954)

Mineral opak

95

No. Sample
Lokasi Pengamatan
Nama Batuan
Satuan Batuan
Perbesaran

: 05
: 17
: Batupasir kuarsa
: Batupasir kuarsa Latih
: 30x
Ket. Foto :
1. Kuarsa
2. Min. opak
3. Lempung
4. Biotit
5. Lithic

0.3 mm

PEMERIAN PETROGRAFIS:
Sayatan batupasir, warna coklat-coklat kehitaman, tekstur klastik, ukuran butir 0,02-0,15mm,
kemas terbuka, bentuk butir menyudut tanggung-membulat, butiran terdiri dari kuarsa dan
mineral opak, dengan rongga antar butir terisi oleh lempung dan lithic.

KOMPOSISI MINERAL:
Kuarsa
Mineral opak
Mineral lempung
Biotit
Lithic
Nama

(56%), tidak berwarna, relief rendah, indeks bias n>nkb, ukuran butir 0,05
-0,15mm, pemadaman bergelombang, menyudut tanggung-membulat tanggung.
(4%), hitam, kedap cahaya, berukuran 0,05-0,8mm, relief tinggi, membulat
tanggung.
(18%), kecoklatan, pada posisi nikol silang menjadi gelap.
(2%), kuning kecoklatan-coklat kemerahan belahan satu arah (parallel), indeks
bias n>nkb, ukuran 0,05-0,08mm.
(20%), kuning kecoklatan, berupa butiran batupasir-batulanau, ukuran butir
0,02-0,04mm, membulat.
: Lithic Wacke (Klasifikasi Gilbert,1954)

96

DATA KEDUDUKAN BATUAN DALAM ANALISA STEREOGRAFIS

BAGIAN SELATAN
STRIKE

BAGIAN UTARA
DIP

14
15
174
177
164
163
158
155
175
175
210
201
187
148
151
154
160
160

STRIKE
25
30
30
38
36
23
18
23
27
21
14
11
27
19
17
26
23
20

Arah umum : N 14 E/27 dan N 157 E/22

DIP
334
2
171
155
163
141
135
152
157
153
145
146

74
70
15
8
18
10
14
16
10
15
12
20

Arah umum : N 350 E/73 dan N 151 E/14

97

Hinge surface

PROYEKSI STEREOGRAFIS SINKLIN BINUNGAN BAGIAN SELATAN

Hinge line

1
2
3
Hinge line
Hinge surface

: 3O/N 086O E
: 8O/N 178O E
: 8O/N 337O E
: 8O/N 178O E
O
: N 176O E/86

Upright horizontal fold (Fluety, 1964)

98

Hinge surface

PROYEKSI STEREOGRAFIS SINKLIN BINUNGAN BAGIAN UTARA

3
Hinge
line

1
2
3
Hinge line
Hinge surface

: 29O/N 075O E
: 6O/N 168O E
: 60O/N 268O E
: 6O/N 168O E
O
: N 170O E/60

Steeply inclined horizontal fold (Fluety, 1964)

99
DATA SURVEY TITIK BOR
DAERAH BINUNGAN BLOK 3 - 4
DRILL HOLE
NUMBER
DD-03-01
DD-03-02
DD-03-03
DD-03-04
DD-03-05
DD-03-06
DD-03-07
DD-03-08
DD-03-09
DD-03-10
DD-03-11
DD-03-12
DD-03-13
DD-03-14
DD-03-15
DD-03-16
DD-03-17
DD-03-18
DD-03-22
BD-03-01
BD-03-02
BD-03-03
BD-03-04
BD-03-04A
BD-03-05
BD-03-06
BD-03-07
BD-03-07A
BD-03-08
BD-03-09
BD-03-10
BD-03-11
BD-03-12
BD-03-13
BD-03-14
BD-03-15
BD-03-16
BD-03-17
BD-03-18
BD-03-19
BD-03-20

EASTING
550,459.00
551,006.00
550,886.50
550,732.50
551,018.00
550,894.50
550,446.50
550,527.00
550,728.50
550,416.00
550,430.00
550,506.00
550,126.00
550,697.50
550,237.00
549,940.50
549,625.00
550,133.00
550,329.00
550,488.00
550,502.00
550,465.50
550,517.00
550,574.50
550,537.00
550,536.50
550,528.50
550,509.50
550,541.00
550,576.00
550,547.50
550,549.00
550,566.00
550,582.50
550,594.50
550,576.50
550,505.00
550,485.50
550,465.00
550,447.50
550,461.50

NORTHING
227,075.62
226,626.64
226,812.11
227,032.52
227,154.69
227,458.40
227,405.11
227,606.88
227,890.84
227,881.10
228,167.82
228,326.84
228,270.47
227,394.75
228,703.66
228,699.43
228,428.34
228,939.70
229,009.57
227,305.72
227,362.02
227,449.85
227,486.22
227,404.64
227,504.45
227,555.92
227,578.46
227,665.96
227,631.34
227,666.56
227,716.88
227,762.79
227,795.40
227,815.48
227,836.07
227,853.26
227,839.31
227,824.50
228,026.25
228,050.02
227,781.45

ELEVASI

TOTAL DEPTH

48.19
25.98
12.39
33.50
18.48
42.05
22.42
12.27
31.67
34.02
27.34
42.64
16.49
8.44
19.10
13.46
24.01
48.55
11.94
12.33
24.22
28.61
37.02
33.44
36.24
27.38
14.96
32.51
21.79
40.38
39.49
38.63
36.06
34.66
32.72
27.29
17.76
16.81
9.82
11.00
17.65

85.00
84.60
121.35
131.80
69.60
115.00
70.20
123.60
88.00
55.00
98.50
113.40
70.65
120.00
78.60
45.00
145.40
96.00
83.00
34.00
17.60
20.00
34.80
35.15
41.90
29.30
20.50
35.20
17.70
27.20
29.40
26.75
18.60
12.15
25.00
7.50
13.95
18.50
8.90
13.00
27.00

BD-03-21
BD-03-22
BD-03-23
BD-03-24
BD-03-25
BD-03-26
BD-03-27
BD-03-28
BD-03-29
BD-03-30
BD-03-31
BD-03-32
BD-03-33
BD-03-34
BD-03-34R
BD-03-35
BD-03-36
BD-03-37
BD-03-38
BD-03-39
BD-03-40
BD-03-40A
BD-03-41
BD-03-51
BD-03-52
BD-03-52R
BD-03-53
BD-03-54
BD-03-55
BD-03-59
BD-03-64
BD-03-65

550,459.00
550,489.50
550,487.00
550,471.50
550,454.00
550,506.50
550,463.00
550,433.50
550,445.50
550,434.50
550,391.50
550,291.00
550,285.00
550,270.50
550,269.50
550,250.50
550,274.00
550,356.00
550,357.00
550,355.00
550,440.00
550,395.00
550,435.00
550,508.00
550,538.50
550,539.00
550,514.50
550,158.00
550,034.50
550,468.00
550,378.00
550,428.00

227,992.99
227,877.32
227,907.64
227,937.00
227,971.91
228,035.23
228,094.94
228,125.48
228,202.41
228,245.30
228,269.07
228,307.76
228,373.52
228,409.42
228,409.52
228,455.00
228,843.86
228,914.58
228,955.50
228,740.08
229,130.83
229,047.37
229,200.11
227,297.97
227,239.63
227,240.46
227,209.86
228,467.55
228,473.50
227,639.73
227,495.20
227,548.87

9.34
12.33
10.40
14.32
9.79
15.21
15.14
20.34
29.87
32.27
22.25
19.70
7.10
5.47
5.46
10.50
16.30
9.28
17.00
24.73
26.77
11.55
48.19
17.36
10.67
10.61
12.10
14.29
6.80
33.89
30.89
15.36

12.30
11.50
9.50
16.20
12.30
15.00
9.20
19.50
24.00
20.50
17.90
32.80
20.20
17.30
17.80
24.00
50.50
19.40
21.00
51.15
3.50
30.00
44.00
39.50
24.30
24.30
10.65
41.00
10.00
51.40
46.70
45.00

100

Data Analisa Kimia Batubara Daerah Binungan Blok 3 - 4


Drill Hole

Seam

Number
BD-03-02
BD-03-02
BD-03-03
BD-03-03
BD-03-03
BD-03-03
BD-03-03
BD-03-04
BD-03-04
BD-03-04A
BD-03-04A
BD-03-04A
BD-03-04A
BD-03-04A
BD-03-04A
BD-03-04A
BD-03-04A
BD-03-04A
BD-03-04A
BD-03-05
BD-03-05
BD-03-05
BD-03-05
BD-03-05
BD-03-05
BD-03-05
BD-03-06
BD-03-06
BD-03-06
BD-03-06
BD-03-06
BD-03-06
BD-03-06
BD-03-07
BD-03-07
BD-03-07
BD-03-07
BD-03-07
BD-03-07
BD-03-07
BD-03-07
BD-03-07A
BD-03-07A
BD-03-07A
BD-03-07A
BD-03-07A
BD-03-07A
BD-03-08
BD-03-08
BD-03-08
BD-03-08
BD-03-08

LLU
LLU
LU
LLU
LLL
LLL
LLL
LU
LL
KU
KU
KU
KL
KL
KL
KL
KL
KL
KL
KU
KL
KL
KL
KL
KL
KL
K
K
K
K
K
K
K
K
K
K
K
K
K
K
K
KU
KL
KL
KL
KL
KL
KU
KU
KL
KL
KL

From

To

Thickness

( metres )

( metres )

( metres )

2.95
3.97
15.4
15.95
16.9
17.15
17.65
5.4
6.05
28.2
28.51
29.49
30.1
30.36
31.45
31.71
32.12
32.38
32.64
36.8
37.7
37.95
38.2
38.77
39.02
39.65
24.2
24.45
24.7
25.2
26.25
26.75
27
15.7
15.95
16.25
16.5
16.75
17
18
18.25
30.4
30.85
31.1
32.2
32.7
32.95
13.5
13.75
14.65
14.9
15.4

3.97
4.4
15.65
16.65
17.15
17.65
17.9
5.9
6.45
28.51
29.49
29.8
30.36
31.45
31.71
32.12
32.38
32.64
32.9
37.4
37.95
38.2
38.77
39.02
39.65
39.9
24.45
24.7
25.2
26.25
26.75
27
27.25
15.95
16.25
16.5
16.75
17
18
18.25
18.5
30.6
31.1
32.2
32.7
32.95
33.2
13.75
14.45
14.9
15.4
16.4

1.02
0.43
0.25
0.7
0.25
0.5
0.25
0.5
0.4
0.31
0.98
0.31
0.26
1.09
0.26
0.41
0.26
0.26
0.26
0.6
0.25
0.25
0.57
0.25
0.63
0.25
0.25
0.25
0.5
1.05
0.5
0.25
0.25
0.25
0.3
0.25
0.25
0.25
1
0.25
0.25
0.2
0.25
1.1
0.5
0.25
0.25
0.25
0.7
0.25
0.5
1

Ash
%
adb
3.97
3.43
3.58
3.41
3.02
1.97
2.53
9.22
6.73
3.1
2.04
2.06
13.01
1.7
5.75
9.82
3.97
2.76
5.41
2.18
3.24
1.62
3.34
7.24
2.58
5.07
8.8
2.81
2.77
2.46
2.39
2.08
1.39
1.49
2.16
3.3
2.24
1.42
2.29
1.94
2
3.65
3.04
1.97
1.61
1.65
2.27
2.07
3.01
3.2
1.52
6.01

Total
Sulphur
%
adb
1.49
2.27
1.62
1.59
1.29
2.01
0.97
1.5
1.59
0.17
0.18
0.22
0.17
0.19
0.24
0.26
0.28
0.39
1.22
0.12
0.17
0.14
0.14
0.16
0.22
0.37
0.18
0.15
0.15
0.17
0.15
0.27
0.28
0.13
0.15
0.14
0.15
0.14
0.17
0.23
0.36
0.15
0.16
0.15
0.22
0.3
0.42
0.14
0.13
0.15
0.11
0.14

Calorific
Value
kcal/kg
adb
6096
5965
5980
6089
6058
6212
6159
4840
5285
5988
6154
6386
5284
6033
5687
5420
5816
6079
5842
6397
5954
6108
5939
5688
5974
5872
5616
6488
6080
6029
5960
6097
6202
6151
5930
5976
6094
6064
6000
6042
6088
6180
5943
6063
6156
6160
6149
6024
6301
6173
5812
6105

101

Drill Hole

Seam

Number
BD-03-08
BD-03-09
BD-03-09
BD-03-09
BD-03-09
BD-03-09
BD-03-09
BD-03-10
BD-03-10
BD-03-10
BD-03-10
BD-03-10
BD-03-10
BD-03-11
BD-03-11
BD-03-11
BD-03-11
BD-03-11
BD-03-12
BD-03-12
BD-03-12
BD-03-12
BD-03-12
BD-03-12
BD-03-12
BD-03-12
BD-03-12
BD-03-13
BD-03-13
BD-03-13
BD-03-13
BD-03-13
BD-03-13
BD-03-13
BD-03-13
BD-03-16
BD-03-16
BD-03-16
BD-03-16
BD-03-16
BD-03-16
BD-03-16
BD-03-16
BD-03-16
BD-03-16
BD-03-16
BD-03-17
BD-03-17
BD-03-17
BD-03-17
BD-03-17
BD-03-17
BD-03-17
BD-03-18
BD-03-18

KL
KU
KU
KL
KL
KL
KL
KU
KU
KL
KL
KL
KL
KU
KL
KL
KL
KL
KU
KU
KU
KU
KL
KL
KL
KL
KL
K
K
K
K
K
K
K
K
K
K
K
K
K
K
K
K
K
K
K
K1U
KU
KL
KL
KL
KL
KL
K
K

From

To

Thickness

( metres )

( metres )

( metres )

16.4
22.2
22.45
23.1
23.27
23.62
24.35
24.15
24.83
25.75
26.03
26.83
27.62
21.2
22.55
22.8
23.65
24.5
12.4
12.74
13.08
13.76
14.5
14.79
15.38
16.44
16.74
5.75
7
7.65
7.9
8.15
8.65
9.6
9.85
7.5
7.75
8.01
8.61
8.87
8.97
9.22
9.47
10.49
10.99
11.25
2.65
13.65
14.1
14.35
15.3
15.8
16.05
2.35
2.62

16.65
22.45
22.95
23.27
23.62
24.35
25.15
24.83
25.5
26.03
26.83
27.62
27.9
22.4
22.8
23.65
24.5
24.75
12.74
13.08
13.76
14.1
14.79
15.38
16.44
16.74
16.7
7
7.65
7.9
8.15
8.65
9.6
9.85
10.1
7.75
8.01
8.61
8.87
8.97
9.22
9.47
10.49
10.99
11.25
11.5
3.15
13.9
14.35
15.3
15.8
16.05
16.3
2.62
3.33

0.25
0.25
0.5
0.17
0.35
0.73
0.17
0.68
0.68
0.28
0.79
0.79
0.28
1.2
0.25
0.85
0.85
0.25
0.34
0.34
0.68
0.34
0.29
0.59
1.06
0.29
0.29
1.25
0.65
0.25
0.25
0.5
0.95
0.25
0.25
0.25
0.25
0.61
0.25
0.1
0.25
0.25
1.01
0.51
0.25
0.25
0.5
0.25
0.25
0.95
0.5
0.25
0.25
0.27
0.71

Ash
%
adb
2.17
2.48
2.74
3.33
1.44
2.29
2.47
2.4
4.04
7.02
1.7
1.8
2.25
3.17
3.36
2.79
2.59
3.37
4.78
2.5
1.91
3.51
5.28
4.08
2
1.42
2.11
9
7.19
6.1
4.25
1.45
1.5
7.02
3.05
1.76
1.36
2.02
4.35
20.26
3.64
1.42
1.53
2.16
3.02
10.46
6.28
4.18
4.36
1.5
1.81
1.65
2.81
3.68
2.14

Total
Sulphur
%
adb
0.22
0.15
0.17
0.17
0.13
0.36
0.36
0.2
0.15
0.22
0.16
0.15
0.2
0.15
0.18
0.15
0.18
0.17
0.23
0.15
0.14
0.14
0.18
0.14
0.14
0.2
0.28
0.21
0.19
0.15
0.23
0.15
0.17
0.25
0.33
0.15
0.13
0.12
0.13
0.19
0.15
0.15
0.14
0.17
0.25
0.36
0.56
0.15
0.18
0.15
0.2
0.29
0.35
0.16
0.14

Calorific
Value
kcal/kg
adb
5880
6135
6492
6118
6160
6190
6391
6405
6283
5782
6193
6170
6092
6214
6141
6069
6190
6187
5972
5994
6003
5940
5757
5860
6084
6195
6176
4927
5619
5812
5791
6141
6137
5907
6115
6267
6169
6442
6041
4580
6017
6228
6061
6092
6208
5650
5779
6088
5914
6148
6177
6237
6224
6011
6152

102

Drill Hole

Seam

Number
BD-03-18
BD-03-18
BD-03-18
BD-03-18
BD-03-18
BD-03-18
BD-03-18
BD-03-19
BD-03-19
BD-03-19
BD-03-19
BD-03-19
BD-03-19
BD-03-19
BD-03-19
BD-03-19
BD-03-20
BD-03-20
BD-03-20
BD-03-20
BD-03-20
BD-03-20
BD-03-20
BD-03-20
BD-03-21
BD-03-21
BD-03-21
BD-03-21
BD-03-21
BD-03-21
BD-03-21
BD-03-21
BD-03-21
BD-03-22
BD-03-22
BD-03-22
BD-03-22
BD-03-22
BD-03-22
BD-03-22
BD-03-22
BD-03-22
BD-03-23
BD-03-23
BD-03-23
BD-03-23
BD-03-23
BD-03-24
BD-03-24
BD-03-24
BD-03-24
BD-03-24
BD-03-24
BD-03-24
BD-03-24

K
K
K
K
K
K
K
K
K
K
K
K
K
K
K
K
KU
KU
KU
KL
KL
KL
KL
KL
K
K
K
K
K
K
K
K
K
KU
KU
KU
KU
KL
KL
KL
KL
KL
KU
KL
KL
KL
KL
KU
KU
KU
KU
KL
KL
KL
KL

From

To

Thickness

( metres )

( metres )

( metres )

3.33
3.61
3.88
4.15
5.41
5.95
6.23
6.8
7.05
7.29
7.89
8.13
8.38
9.56
10.06
10.3
21.15
21.4
22.15
22.5
22.75
23.8
24.3
24.55
6.2
6.47
6.74
7.44
7.71
7.98
9.22
9.76
10.03
4.85
5.13
5.41
6.02
6.4
6.64
7.84
8.32
8.56
3.45
5.1
6.4
6.9
7.15
10.4
10.65
10.9
11.45
12
12.27
13.26
13.8

3.61
3.88
4.15
5.41
5.95
6.23
6.5
7.05
7.29
7.89
8.13
8.38
9.56
10.06
10.3
10.55
21.4
22.15
22.4
22.75
23.8
24.3
24.55
24.8
6.47
6.74
7.44
7.71
7.98
9.22
9.76
10.03
10.3
5.13
5.41
6.02
6.3
6.64
7.84
8.32
8.56
8.8
3.7
6.4
6.9
7.15
7.4
10.65
10.9
11.45
11.7
12.27
13.26
13.8
14.08

0.27
0.27
0.27
1.26
0.55
0.27
0.27
0.25
0.25
0.59
0.25
0.25
1.18
0.49
0.25
0.25
0.25
0.75
0.25
0.25
1.05
0.5
0.25
0.25
0.27
0.27
0.7
0.27
0.27
1.24
0.54
0.27
0.27
0.28
0.28
0.61
0.28
0.24
1.2
0.48
0.24
0.24
0.25
1.3
0.5
0.25
0.25
0.25
0.25
0.55
0.25
0.27
0.98
0.55
0.27

Ash
%
adb
4.5
4.91
2.34
2.83
1.59
3.19
3.45
3.26
1.88
3.05
5.07
3.36
1.53
2.14
2.5
2.64
2.48
1.94
6.63
3.16
1.45
1.64
1.6
3.34
1.7
1.41
2.24
8.51
4.89
1.7
1.69
2.28
9.64
1.58
1.56
1.86
3.78
3.94
1.72
4.85
26.62
4.92
1.64
1.69
1.49
1.83
2.62
1.98
1.46
1.66
3.91
3.61
1.53
1.69
3.05

Total
Sulphur
%
adb
0.14
0.16
0.14
0.14
0.17
0.27
0.39
0.18
0.25
0.14
0.17
0.16
0.14
0.25
0.33
0.23
0.19
0.13
0.14
0.15
0.13
0.13
0.22
0.36
0.17
0.15
0.13
0.14
0.18
0.14
0.18
0.27
0.43
0.12
0.16
0.15
0.15
0.17
0.15
0.18
0.2
0.37
0.19
0.14
0.18
0.3
0.42
0.18
0.33
0.15
0.15
0.18
0.15
0.23
0.41

Calorific
Value
kcal/kg
adb
6038
5873
6077
6027
6199
6208
6215
6119
6179
6250
5968
5991
6159
6219
6131
6145
6154
6333
6313
6117
6187
6251
6321
6190
6267
6179
6420
5661
5896
6080
6197
6249
5829
6354
6133
6280
6125
5953
6099
5939
4541
5960
6310
6123
6164
6327
6179
6291
6143
6415
6141
6014
6188
6317
6102

103

Drill Hole

Seam

Number
BD-03-24
BD-03-25
BD-03-25
BD-03-25
BD-03-25
BD-03-25
BD-03-25
BD-03-25
BD-03-25
BD-03-25
BD-03-27
BD-03-27
BD-03-27
BD-03-27
BD-03-27
BD-03-27
BD-03-27
BD-03-28
BD-03-28
BD-03-28
BD-03-28
BD-03-28
BD-03-28
BD-03-28
BD-03-28
BD-03-29
BD-03-29
BD-03-29
BD-03-29
BD-03-29
BD-03-30
BD-03-30
BD-03-30
BD-03-30
BD-03-30
BD-03-30
BD-03-31
BD-03-31
BD-03-31
BD-03-31
BD-03-31
BD-03-32
BD-03-32
BD-03-32
BD-03-32
BD-03-32
BD-03-32
BD-03-32
BD-03-33
BD-03-33
BD-03-33
BD-03-33
BD-03-33
BD-03-34R
BD-03-34R

KL
K
K
K
K
K
K
K
K
K
K
K
K
K
K
K
K
K
K
K
K
K
K
K
K
K
K
K
K
K
K
K
K
K
K
K
K
K
K
K
K
K1U
KU
KL
KL
KL
KL
KL
K
K
K
K
K
K
K

From

To

Thickness

( metres )

( metres )

( metres )

14.08
5.7
5.96
6.22
6.96
7.22
7.48
8.95
9.48
9.74
3.4
3.7
4
4.61
5.75
6.9
7.2
13.6
13.88
14.6
14.88
15.16
16.39
16.94
17.22
15.9
16.15
16.4
17.65
17.9
15.9
16.15
16.4
16.9
18.05
18.3
12.8
13.05
13.35
15.4
15.65
12.9
28.55
29.3
29.55
29.8
30.3
30.55
16
16.25
16.5
17.65
17.9
14.8
15.16

14.35
5.96
6.22
6.96
7.22
7.48
8.95
9.48
9.74
10
3.7
4
4.61
5.75
6.9
7.2
7.5
13.88
14.6
14.88
15.16
16.39
16.94
17.22
17.5
16.15
16.4
17.65
17.9
18.15
16.15
16.4
16.9
18.05
18.3
18.55
13.05
13.35
13.6
15.65
15.9
14.1
29.1
29.55
29.8
30.3
30.55
30.8
16.25
16.5
17.65
17.9
18.15
15.16
16.04

0.27
0.26
0.26
0.73
0.26
0.26
1.47
0.52
0.26
0.26
0.3
0.3
0.6
1.15
1.15
0.3
0.3
0.28
0.72
0.28
0.28
1.23
0.56
0.28
0.28
0.25
0.25
1.25
0.25
0.25
0.25
0.25
0.5
1.15
0.25
0.25
0.25
0.3
0.25
0.25
0.25
1.2
0.55
0.25
0.25
0.5
0.25
0.25
0.25
0.25
1.15
0.25
0.25
0.36
0.89

Ash
%
adb
1.6
1.8
1.4
1.9
8.35
2.76
1.73
1.42
1.74
2.37
1.3
1.54
7.24
1.42
1.62
5.77
1.76
2.05
2.95
11
2.2
1.37
1.34
1.64
4.43
2.22
2.16
1.84
1.44
3.41
1.8
2.53
4.22
1.8
1.82
11.35
7.6
4.78
3.6
3.64
2.4
24.24
5.67
5.18
2.82
18.13
8.39
2.09
1.88
1.77
2
6.04
3.56
16.83
2.04

Total
Sulphur
%
adb
0.25
0.14
0.16
0.12
0.18
0.17
0.15
0.17
0.28
0.41
0.14
0.16
0.17
0.12
0.19
0.37
0.33
0.14
0.22
0.17
0.16
0.15
0.16
0.23
0.36
0.19
0.15
0.17
0.2
0.31
0.14
0.18
0.15
0.2
0.33
0.47
0.19
0.2
0.18
0.43
0.49
0.36
0.2
0.22
0.18
0.12
0.11
0.17
0.23
0.18
0.14
0.25
0.38
0.2
0.2

Calorific
Value
kcal/kg
adb
6214
6145
6142
6346
5607
6004
6062
6174
6154
5999
6302
6467
5769
6160
6210
5965
6227
6290
6318
5543
6152
6208
6217
6324
6165
6088
6124
6034
6121
6042
6479
6254
6045
6198
6413
5647
5859
6097
6078
6193
6195
4543
6060
5940
6135
5047
5739
6116
6084
6084
6059
5953
6076
5196
6114

104

Drill Hole

Seam

Number
BD-03-34R
BD-03-35
BD-03-35
BD-03-35
BD-03-35
BD-03-35
BD-03-36
BD-03-36
BD-03-37
BD-03-37
BD-03-37
BD-03-37
BD-03-37
BD-03-38
BD-03-38
BD-03-38
BD-03-39
BD-03-39
BD-03-39
BD-03-40A
BD-03-40A
BD-03-40A
BD-03-51
BD-03-51
BD-03-51
BD-03-51
BD-03-51
BD-03-51
BD-03-51
BD-03-51
BD-03-52R
BD-03-52R
BD-03-52R
BD-03-52R
BD-03-52R
BD-03-52R
BD-03-53
BD-03-53
BD-03-53
BD-03-53
BD-03-53
BD-03-53
BD-03-54
BD-03-55
BD-03-55
BD-03-55
BD-03-55
BD-03-55
BD-03-55
BD-03-55
BD-03-55
BD-03-59
BD-03-59
BD-03-59
BD-03-59

K
K
K
K
K
K
J
J
J
J
J
J
J
J
J
J
J
J
J
H
H
H
KU
KU
KU
KU
KL
KL
KL
KL
KU
KU
KU
KU
KL
KL
KU
KU
KU
KL
KL
KL
KL
L
L
L
L
L
L
L
L
LUU
LUL
LUL
LL

From

To

Thickness

( metres )

( metres )

( metres )

16.04
19.7
20
20.31
21.39
21.7
46.8
47.2
14.4
14.72
15.05
15.75
16.08
16.9
17.25
18.25
47.15
47.4
48.25
3.6
3.92
4.88
34.1
34.35
34.6
35.15
35.55
35.8
37.05
37.3
17.4
17.67
17.94
19.08
19.6
21.82
1.9
2.31
2.72
5.2
8.52
9.21
9.95
5.2
5.56
5.88
6.24
6.5
6.76
7.02
7.38
9.6
10.6
10.87
11.6

17.05
20
20.31
21.39
21.7
22
47.2
47.6
14.72
15.05
15.75
16.08
16.4
17.25
18.25
18.6
47.4
48.25
48.5
3.92
4.88
5.2
34.35
34.6
35.15
35.4
35.8
37.05
37.3
37.55
17.67
17.94
19.08
19.35
19.88
22.1
2.31
2.72
5
8.52
9.21
9.65
11.2
5.56
5.88
6.24
6.5
6.76
7.02
7.38
7.64
10.35
10.87
11.4
11.94

0.3
0.3
0.3
1.09
0.3
0.3
0.4
0.4
0.32
0.32
0.71
0.32
0.32
0.35
0.99
0.35
0.25
0.85
0.25
0.32
0.96
0.32
0.25
0.25
0.55
0.25
0.25
1.25
0.25
0.25
0.27
0.27
1.14
0.27
0.28
0.28
0.41
0.41
2.28
3.32
0.7
0.44
1.25
0.36
0.31
0.36
0.26
0.26
0.26
0.36
0.26
0.45
0.27
0.53
0.34

Ash
%
adb
3.52
2.26
16.51
1.96
2.17
2.9
1.78
4.4
2.82
1.74
2.68
1.78
3.76
2.12
2.06
6.74
1.9
1.78
7.77
2.86
1.5
1.79
1.48
1.38
1.64
4.87
4.39
2.06
6.4
7.84
2.85
1.7
2.52
3.52
1.91
2
1.24
1.26
2.25
6.34
1.24
1.45
30
4.84
10.24
2.46
18.91
3.8
1.89
15.02
1.76
2.41
3
2.74
2.76

Total
Sulphur
%
adb
0.27
0.19
0.2
0.17
0.25
0.45
0.57
0.7
1.74
1
0.86
0.61
0.96
0.72
0.77
1.41
1.02
0.54
0.62
1.87
1.38
1.1
0.18
0.16
0.14
0.25
0.25
0.2
0.17
0.18
0.22
0.25
0.28
0.22
0.38
0.71
0.32
0.32
0.31
0.48
0.35
0.36
0.28
1.61
1.32
1.49
0.64
1.09
0.79
0.61
0.57
1.53
1.81
1.51
1.88

Calorific
Value
kcal/kg
adb
6184
5943
5092
6000
6080
6014
6352
6078
6343
6449
6272
6308
6202
6388
6375
6175
6429
6407
5733
6376
6354
7102
6114
6118
6448
5873
5865
6016
5684
5502
6103
5991
6167
6020
6020
5889
6151
6113
6070
5653
6262
6083
4213
5843
5589
6266
4899
5990
6120
5469
6323
6033
6267
6060
6031

105

Drill Hole

Seam

Number
BD-03-59
BD-03-59
BD-03-59
BD-03-59
BD-03-59
BD-03-59
BD-03-59
BD-03-59
BD-03-64
BD-03-64
BD-03-64
BD-03-64
BD-03-64
BD-03-64
BD-03-64
BD-03-65
BD-03-65
BD-03-65
BD-03-65
BD-03-65
DD-03-01
DD-03-01
DD-03-01
DD-03-01
DD-03-02
DD-03-02
DD-03-02
DD-03-02
DD-03-02
DD-03-02
DD-03-02
DD-03-02
DD-03-02
DD-03-03
DD-03-03
DD-03-03
DD-03-03
DD-03-03
DD-03-03
DD-03-03
DD-03-03
DD-03-03
DD-03-03
DD-03-03
DD-03-04
DD-03-04
DD-03-04
DD-03-04
DD-03-04
DD-03-04
DD-03-04
DD-03-04
DD-03-04
DD-03-05
DD-03-05

LL
LL
K1LU
KL
KL
KL
KL
KL
LU
LU
LL
LL
LL
LL
LL
LUU
LUL
LUL
LLL
LLL
L
L
L
L
EUU
EUU
EUU
EUU
EUU
EULL
ELUU
ELUL
ELL
FU
FL
FL
E1U
E1L
EUU
EUU
EULL
EULL
ELU
ELL
H
H
H
H
H
GUU
GUL
GUL
F
E1
E1

From

To

Thickness

( metres )

( metres )

( metres )

11.94
12.32
35.1
46.2
46.48
46.75
47.3
48.13
42.2
42.5
42.75
43
43.5
44.1
44.35
8
8.9
9.41
9.95
10.6
35.7
36.1
36.64
36.98
68.35
69.3
69.5
69.74
70.41
73
76.5
80.11
81.1
22.9
23.75
23.96
74
74.85
109.05
109.8
111.3
111.51
112.45
114
48.5
48.85
49.47
49.82
49.96
73.55
74.9
75.29
107.15
3.6
3.82

12.32
12.6
35.9
46.48
46.75
47.3
48.13
48.4
42.5
42.6
43
43.5
44.1
44.35
44.6
8.6
9.41
9.6
10.6
10.9
36.05
36.64
36.98
37.6
69.3
69.5
69.74
70.41
70.65
73.7
78.2
80.35
81.7
23.35
23.96
24.1
74.4
75.5
109.5
110.15
111.51
111.85
112.9
114.3
48.85
49.47
49.82
49.96
50.1
74.55
75.29
76
107.8
3.82
4.5

0.38
0.28
0.8
0.27
0.27
0.55
0.82
0.27
0.3
0.1
0.25
0.5
0.6
0.25
0.25
0.6
0.51
0.19
0.65
0.3
0.68
0.54
0.34
0.34
0.95
0.2
0.24
0.67
0.24
0.7
1.7
0.24
0.42
0.45
0.21
0.14
0.4
0.65
0.45
0.35
0.21
0.34
0.4
0.3
0.35
0.63
0.35
0.14
0.14
1
0.39
0.71
0.65
0.22
0.68

Ash
%
adb
4.84
3.11
37.34
3.61
1.58
1.6
2.33
2.54
7.09
4.31
3.36
3.3
2.85
0.99
3.4
1.92
5.78
7.05
2.58
1.88
12.88
10.22
7.95
6.84
2.61
32.44
4.1
2.93
9.09
6.18
2.13
3.4
5.47
3.47
34.01
57.12
3.84
5.86
6.54
6.18
2.08
2.09
9.3
3.7
2.4
2.09
2.88
37.47
7.23
17.34
14.45
5.08
6.26
8.15
4.1

Total
Sulphur
%
adb
0.63
1.86
0.38
0.18
0.15
0.14
0.2
0.38
1.73
2.58
1.25
1.26
1.01
1.15
0.49
1.62
1.86
1.89
1.81
1.22
0.54
0.57
0.66
0.56
0.65
3.72
1.79
1.85
3.49
0.69
3.06
3.74
3.21
0.76
2.85
3.57
0.54
0.4
0.79
1.4
1.58
1.65
3.69
0.87
0.35
0.28
0.3
0.27
0.37
0.44
0.55
2.03
1.88
2.84
1.71

Calorific
Value
kcal/kg
adb
6003
5993
3284
5998
6176
6070
6059
6084
5544
5766
6140
5971
6019
6081
5919
6046
5882
5570
6054
6103
5423
5488
5720
5733
6018
3940
6150
6184
5509
5784
6204
6099
6032
6155
3720
4720
6001
5839
5766
5607
6280
6263
5650
6094
6038
6124
5997
3283
5557
5071
5298
5817
6183
5781
6172

106

Drill Hole

Seam

Number
DD-03-05
DD-03-05
DD-03-05
DD-03-05
DD-03-05
DD-03-05
DD-03-05
DD-03-05
DD-03-05
DD-03-05
DD-03-05
DD-03-05
DD-03-05
DD-03-05
DD-03-05
DD-03-05
DD-03-05
DD-03-05
DD-03-06
DD-03-06
DD-03-06
DD-03-06
DD-03-07
DD-03-07
DD-03-07
DD-03-07
DD-03-07
DD-03-07
DD-03-07
DD-03-07
DD-03-07
DD-03-07
DD-03-08
DD-03-08
DD-03-08
DD-03-08
DD-03-08
DD-03-08
DD-03-08
DD-03-08
DD-03-08
DD-03-08
DD-03-09
DD-03-09
DD-03-09
DD-03-09
DD-03-09
DD-03-09
DD-03-09
DD-03-09
DD-03-09
DD-03-09
DD-03-09
DD-03-09
DD-03-10

E1
EU
EU
EU
EU
EU
ELU
ELU
ELL
ELL
DU
DU
DU
DU
DU
DL
DL
DL
F
F
F
E1
LU
LLU
LLU
LLL
LLL
KU
KU
KL
KL
KL
KU
KU
KU
KL
KL
KL
KL
H
H
H
J
J
J
J
J
J
HU
HU
HU
HU
HL
GL
LU

From

To

Thickness

( metres )

( metres )

( metres )

4.5
30.55
31.25
31.75
33.45
33.95
37.3
37.67
39.1
39.4
55.5
55.79
57.41
57.7
57.95
63.2
63.57
64.83
15.35
15.6
15.95
43.3
15.7
16.65
16.81
17.5
18.02
55.83
56.63
57.3
58.33
58.85
7.65
7.86
8.64
9.35
9.88
10.52
11.04
95.4
95.72
96.18
29.6
29.83
30.16
30.62
31.09
31.37
52.9
53.17
53.87
54.63
60.3
82.4
14.7

4.9
30.83
31.8
33.64
34
34.1
37.67
38.6
39.4
40.6
55.79
57.41
57.7
57.95
58.8
63.57
64.83
65.2
15.6
15.95
16.2
44.5
16.3
16.81
17.3
18.02
18.2
56.63
57.15
58.33
58.85
60.3
7.86
8.64
9.15
9.88
10.52
11.04
11.3
95.72
96.18
96.5
29.83
30.16
30.62
31.09
31.37
31.6
53.17
53.87
54.63
54.9
61.3
83.4
15.12

0.4
0.28
0.55
1.89
0.55
0.28
0.37
0.93
0.3
1.2
0.29
1.62
0.29
0.25
0.85
0.37
1.26
0.37
0.25
0.35
0.25
1.2
0.6
0.16
0.49
0.52
0.18
0.8
0.52
1.03
0.52
0.62
0.21
0.77
0.51
0.53
0.63
0.52
0.26
0.32
0.45
0.32
0.23
0.33
0.47
0.47
0.28
0.23
0.27
0.7
0.76
0.27
1
1
0.42

Ash
%
adb
3.62
2.35
3.49
1.48
2.41
5.66
12.43
3.66
18.74
4.89
3.56
1.9
7.48
43.78
5.06
2.33
2.05
4.77
1.35
3.44
8.54
8.2
8.34
3.32
9.96
2.26
2.6
1.99
9.35
3.69
2.59
6.11
2.18
1.74
8.9
1.53
2.9
2.71
1.76
19.3
7.95
9.09
4.6
1.86
4.98
2.03
5.09
17.84
10.08
3.3
2.46
3.4
4.31
8.05
3.66

Total
Sulphur
%
adb
1.55
1
0.63
0.41
0.38
0.51
3.14
1.77
4.34
0.7
2.27
1.95
3.62
5.12
3.02
1.86
0.91
2.27
1.66
2.14
2.4
1.08
2.08
2.11
1.93
1.56
1.19
0.17
0.22
0.29
0.36
0.44
0.17
0.14
0.18
0.16
0.15
0.21
0.31
3.33
2
2.51
3.36
1.91
1.61
1.24
0.76
1.59
0.29
0.75
0.48
1.13
1.08
1.73
2.38

Calorific
Value
kcal/kg
adb
6091
6212
6133
6301
6264
5883
5473
6250
5047
6149
6205
6340
5791
3097
6069
6241
6449
5975
6211
5893
5559
5560
5427
6096
5376
6122
6055
6357
5559
5913
6129
5762
6053
6285
5547
5969
5925
5982
6043
4844
5703
5586
6150
6173
6055
6123
5723
5023
5414
6159
6103
5950
5926
5966
5955

107

Drill Hole

Seam

Number
DD-03-10
DD-03-10
DD-03-10
DD-03-10
DD-03-10
DD-03-10
DD-03-10
DD-03-10
DD-03-10
DD-03-10
DD-03-10
DD-03-10
DD-03-10
DD-03-10
DD-03-10
DD-03-10
DD-03-10
DD-03-10
DD-03-10
DD-03-11
DD-03-11
DD-03-11
DD-03-11
DD-03-11
DD-03-11
DD-03-11
DD-03-11
DD-03-11
DD-03-11
DD-03-11
DD-03-11
DD-03-12
DD-03-12
DD-03-12
DD-03-12
DD-03-12
DD-03-12
DD-03-12
DD-03-12
DD-03-12
DD-03-12
DD-03-12
DD-03-13
DD-03-13
DD-03-13
DD-03-13
DD-03-13
DD-03-13
DD-03-13
DD-03-13
DD-03-13
DD-03-13
DD-03-14
DD-03-14
DD-03-14

LU
LU
LL
LL
LL
LL
LL
LL
K1U
K1U
K1L
K
K
K
K
K
K
K
K
K1U
K1L
KU
KU
KL
KL
KL
J
J
J
J
J
J
J
J
J
H
GU
GU
GU
GU
GL
GL
LU
LU
LL
LL
K1U
K1U
KU
KL
KL
KL
H
H
H

From

To

Thickness

( metres )

( metres )

( metres )

15.12
15.7
16.8
17.21
17.26
17.45
17.49
17.73
38.8
39.05
39.6
47.65
47.92
48.46
49
49.6
50.2
50.74
51.28
10.2
10.75
18.6
18.81
20.42
21.43
21.91
92.6
92.89
93.83
94.12
94.42
75.85
76.31
76.62
76.98
88.1
94.55
94.85
96.78
97.08
102.35
103.46
20.15
20.6
21.35
22.35
36.5
37.44
52.8
54.25
54.47
56.13
26.8
27.15
28.29

15.7
16.2
17.21
17.26
17.45
17.49
17.73
17.9
39.05
39.2
40.4
47.92
48.46
49
49.6
50.2
50.74
51.28
51.55
10.5
11.15
18.81
19.19
21.43
21.91
22.15
92.89
93.83
94.12
94.42
94.65
76.31
76.62
76.98
78.05
89
94.85
96.78
97.08
97.2
103.46
103.75
20.6
21.25
22.35
23.35
37.44
37.6
54.15
54.47
56.13
56.35
27.15
28.29
28.65

0.58
0.5
0.41
0.05
0.19
0.03
0.24
0.17
0.25
0.15
0.8
0.27
0.54
0.54
0.6
0.6
0.54
0.54
0.27
0.3
0.4
0.21
0.38
1.01
0.48
0.24
0.29
0.94
0.29
0.29
0.23
0.46
0.31
0.36
0.15
0.9
0.3
1.93
0.3
0.12
1.11
0.29
0.45
0.65
1
1
0.94
0.16
1.35
0.22
1.66
0.22
0.35
1.14
0.35

Ash
%
adb
5.23
13.01
5.52
39.19
3.56
48.65
1.43
4.57
6.83
4.56
32.87
2.63
1.9
2.23
4.12
1.75
2.05
2.17
3.23
3.03
25.78
2.88
2.14
1.31
2.64
3.89
2.18
2.15
2.14
28.34
10.52
5.09
2.84
9.72
22.8
15
3.21
2.05
2.43
64.37
4.03
17.53
2.83
4.25
2.11
3.09
7.52
42.31
5.22
2.56
1.82
3.43
2.02
2.05
3.71

Total
Sulphur
%
adb
1.8
2.06
1.53
4.48
1.79
5.6
0.97
0.92
0.28
0.62
0.38
0.18
0.17
0.12
0.14
0.14
0.15
0.22
0.36
0.38
0.46
0.17
0.18
0.19
0.29
0.49
1.02
0.68
0.66
0.67
3.07
2.31
0.65
1.82
3.62
7.71
0.28
0.23
0.43
3.05
1.94
3.1
2.38
1.63
0.61
0.39
0.39
0.31
0.33
0.24
0.18
0.35
0.27
0.27
0.41

Calorific
Value
kcal/kg
adb
5655
5183
5832
3238
5898
3433
6170
5798
5685
6049
3822
6158
6198
6431
6101
6157
6121
6200
6237
6121
4372
6173
6288
6091
6142
6144
6291
6276
6047
4371
5342
6133
6320
5630
4600
5199
6121
6290
6205
4717
6154
4940
6248
5861
6322
8293
5887
3367
6149
6223
6237
6215
6104
6127
5991

108

Drill Hole

Seam

Number
DD-03-14
DD-03-14
DD-03-14
DD-03-15
DD-03-15
DD-03-15
DD-03-16
DD-03-16
DD-03-16
DD-03-16
DD-03-16
DD-03-16
DD-03-16
DD-03-17
DD-03-17
DD-03-17
DD-03-17
DD-03-17
DD-03-17
DD-03-17
DD-03-17
DD-03-17
DD-03-17
DD-03-17
DD-03-17
DD-03-17
DD-03-17
DD-03-18
DD-03-18
DD-03-18
DD-03-18
DD-03-18
DD-03-18
DD-03-18
DD-03-22
DD-03-22
DD-03-22
DD-03-22
DD-03-22
DD-03-22
DD-03-22
DD-03-22
DD-03-22
DD-03-22
DD-03-22
DD-03-22
DD-03-22
DD-03-22
DD-03-22
DD-03-22
DD-03-22
DD-03-22

H
GU
GU
J
J
J
K1
K1
K1
K
K
K
K
KU
KU
KU
KU
KL
KL
J
J
J
HU
HL
HL
HL
HL
K
K
K
J
J
J
J
J
J
J
HU
HL
GUU
GUL
GUL
GUL
GUL
GUL
GL
GL
GL
FU
FL
FL
FL

From

To

Thickness

( metres )

( metres )

( metres )

28.65
38.35
38.95
73.3
73.63
74.67
5.5
6.15
6.45
34.8
35.06
35.57
36.44
4.5
6.4
7.04
7.49
9.7
11.41
60.4
60.73
62.37
135.5
137
137.35
138.46
138.81
19.2
19.67
20.91
90.7
90.97
92.06
92.33
12.4
12.66
13.74
21.5
22.05
33.1
33.75
33.99
34.46
35.49
35.96
41.3
41.58
42.13
60.4
61.3
61.53
62.27

29
38.95
39
73.63
74.67
75
6.15
6.45
6.7
35.06
35.57
36.44
36.7
6.4
7.04
7.49
8.4
11.41
13.13
60.73
62.37
62.7
136.15
137.35
138.46
138.81
138.95
19.67
20.91
21.3
90.97
92.06
92.33
92.6
12.66
13.74
14
21.85
22.2
33.45
33.99
34.46
35.49
35.96
36.2
41.58
42.13
42.4
60.7
61.53
62.27
62.5

0.35
0.22
0.43
0.33
1.05
0.33
0.38
0.45
0.38
0.26
0.51
0.87
0.26
1.9
0.63
0.45
0.91
1.71
1.71
0.33
1.64
0.33
0.65
0.35
1.11
0.35
0.14
0.47
1.24
0.39
0.27
1.09
0.27
0.27
0.26
1.08
0.26
0.35
0.15
0.35
0.24
0.47
1.04
0.47
0.24
0.28
0.55
0.28
0.3
0.23
0.74
0.23

Ash
%
adb
29.07
18.73
28.13
3.16
1.59
2.54
2.04
7.91
3.26
3.09
3.62
2.1
2.5
28.03
29.07
4.43
3.05
2.46
2.96
30.14
4.04
3.05
2.38
2.09
2
7.33
18.87
20.66
2.45
1.57
3.77
1.95
13.45
10.85
2.27
1.61
13.94
6.06
18.86
12.77
4.79
1.21
1.51
1.08
2.29
2.51
1.83
6.73
2.84
3.46
2.28
3.77

Total
Sulphur
%
adb
0.81
1.61
1.26
1.38
0.57
0.45
0.31
0.25
0.25
0.38
0.18
0.18
0.31
0.59
0.47
0.39
0.35
0.41
0.39
0.2
0.28
0.51
0.47
0.33
0.32
0.48
1.35
0.28
0.2
0.25
1.49
0.7
1.62
2.78
1.42
0.85
1.04
1.74
2.18
3.14
1.97
0.81
0.32
0.38
0.65
2.02
1.73
2.18
3.61
2.6
2.01
2.19

Calorific
Value
kcal/kg
adb
4056
4947
4210
6146
6294
6076
6094
5717
6042
6030
5891
5926
6093
4452
4365
6188
6226
6214
6218
4449
6102
6265
6309
6385
6322
5849
4979
4338
6015
6098
6211
6397
5414
5496
6382
6359
5267
5875
4997
5478
6039
6323
6313
6062
6298
6253
6300
5802
6255
6273
6480
6329

109