Anda di halaman 1dari 23

BAB I

PENDAHULUAN
Indonesia akan beralih dari negara agraris menjadi negara industri.
Perkembangan ini akan membawa konsekuensi terhadap perubahan gaya hidup,
kondisi lingkungan dan perilaku masyarakat. Faktor ini secara tidak langsung erat
kaitannya dan berpengaruh pada derajat kesehatan. Pergeseran pola penyakit di
masyarakat yang semula didomonasi oleh penyakit menular dan infeksi, sekarang
didominasi oleh penyakit degeneratif, salah satunya adalah kondisi dislipidemia
yang merupakan faktor resiko terjadinya penyakit jantung koroner ( Krisnatuti,
1999).
Tingkat pengetahuan gizi yang tinggi dapat memperhitungkan macam dan
jenis makanan yang akan dikonsumsi. Tingkat pengetahuan gizi yang rendah
dapat dilihat dari kebiasaan pola makanan sehingga hanya memilih makanan yang
menarik oleh panca indra dan memilih makanan tertentu bahkan menghindari
makanan yang tidak disukai walaupun makanan tersebut memiliki kandungan gizi
yang lebih tinggi (Sediaoetama, 1989).
Telah banyak bukti-bukti yang diperoleh dari penelitian eksperimental,
epidemiologis dan klinis tentang peran dislipidemia pada penyakit kardiovaskuler
aterosklerosis yang intinya adalah :
Dislipidemia merupakan faktor resiko yang utama
Perubahan gaya hidup masyarakat erat hubungannya dengan
peningkatan kadar lipid
Bahwa penurunan kadar kolesterol sebesar 1 % akan menurunkan resiko
PJK sebesar 2 %
Bahwa upaya mengubah gaya hidup ( berhenti merokok, memelihara
berat badan idial, membatasi asupan makan yang mengandung kolesterol dan
lemak jenuh ) akan menurunkan resiko PJK dan dapat menyebabkan perlambatan
bahkan regresi aterosklerosis.
Bahwa pengendalian kadar lipid sampai batas yang dianjurkan harus
merupakan bagian integral dari pencegahan primer dan terapi penderita PKV.

Kepatuhan terhadap diet merupakan salah satu usaha untuk tercapainya


tujuan pengobatan. Patuh terhadap diet dapat mengontrol kadar kolesterol LDL
dan kadar kolesterol HDL dalam darah. Apabila tidak mampu mengontrol
makanannya maka akan berdampak buruk yaitu dapat menyebabkan tingginya
kadar kolesterol LDL yang dapat memicu terjadinya jantung koroner
(Ronald.H.Sitorus, 2006).

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. Definisi
Dislipidemia adalah kelainan metabolisme lipid yang ditandai dengan
peningkatan maupun penurunan fraksi lipid dalam plasma. Kelainan fraksi lipid
yang paling utama adalah kenaikan kadar kolesterol total, kolesterol LDL,
kenaikan kadar trigliserida serta penurunan kadar HDL. Dalam proses terjadinya
aterosklerosis semuanya mempunyai peran yang penting dan sangat kaitannya
satu dengan yang lain, sehingga tidak mungkin dibicarakan sendiri-sendiri.
Ketiga-tiganya sekaligus dikenal sebagai Triad Lipid.
Dislipidemia dalam proses terjadinya aterosklerosis semuanya memiliki peran
yang penting dan sangat berkaitan satu dengan yang lain, sehingga tidak mungkin
dibahas sendiri-sendiri. Ketiganya dikenal sebagaitriad lipid, yaitu:
a. Kolesterol total
Banyak penelitian menunjukkan bahwa hubungan antara kadar kolesterol total
darah dengan resiko penyakit jantung koroner (PJK) sangat kuat, konsisten, dan
tidak bergantung pada faktor resiko lain.
Penelitian genetik, eksperimental, epidemiologis, dan klinis menunjukkan dengan
jelas bahwa peningkatan kadar kolesterol total mempunyai peran penting pada
patogenesis penyakit jantung koroner (PJK).
b. Kolesterol HDL dan kolesterol LDL
Bukti epidemiologis dan klinis menunjang hubungan negative antara kadar
kolesterol HDL dengan penyakit jantung koroner. Intervensi obat atau diet dapat
menaikan kadar kolesterol HDL dan dapat mengurangi penyakit jantung koroner.
c. Trigliserida
Kadar trigliserida diantara 250-500 mg/dl dianggap berhubungan dengan penyakit
jantung koroner apabila disertai adanya penurunan kadar kolesterol HDL.

B. Epidemiologi
Provinsi Jawa Tengah mengalami peningkatan kondisi dislipidemia dari
0,09% pada tahun 2006 menjadi 0,10% pada tahun 2007, dan 0,11% pada tahun
2008. Prevalensi tertinggi terjadi di kota pekalongan sebesar 0,76%. Sedangkan
prevalensi terendah sebesar 0,01% terdapat pada Kabupaten Banyumas,
Kabupaten

Banjarnegara,

Kabupaten

Rembang,

dan

Kabupaten

Tegal.

Peningkatan kasus ini disebabkan karena faktor resiko seperti konsumsi lemak
jenuh, rendah serat dan kurang olah raga (Dinkes, 2008).
C. Klasifikasi
1. Dislipidemia Primer
Dislipidemia primer berkaitan dengan gen yang mengatur enzim dan apoprotein
yang terlibat dalam metabolism lipoprotein maupun reseptornya. Kelainan ini
biasanya disebabkan oleh mutasi genetik. Dislipidemia primer meliputi:

Hiperkolesterolemia poligenik
Hiperkolesterolemia familial
Dislipidemia remnant
Hyperlipidemia kombinasi familial
Sindroma Chylomicron
Hypertrriglyceridemia familial
Peningkatan Cholesterol HDL
Peningkatan Apolipoprotein B

2. Dislipidemia Sekunder

Dislipidemia sekunder disebabkan oleh penyakit atau keadaan yang mendasari.


Hal ini dapat bersifat spesifik untuk setiap bentuk dislipidemia seperti
diperlihatkan oleh tabel 2.5 dibawah ini.
Tabel 2 Penyebab Umum Dislipidemia Sekunder
Hiperkolesterolemia
Hipotiroid

Hipertrigliseridemia
DM, alcohol

Dislipidemia
Hipotiroid

Sindrom nefrotik

Obesitas

Sindrom nefrotik

Gagal ginjal kronik

Gagal ginjal kronik

Penyakit hati obstruktif


Sumber: Buku Ajar IPD

D. Etiologi dan faktor risiko


Hiperlipidemia biasanya disebabkan oleh :
1)
2)
3)
4)
5)
6)
7)
8)

Riwayat keluarga dengan hiperlipidemia


Obesitas
Diet kaya lemak
Kurang melakukan olahraga
Penggunaan alkohol
Merokok
Diabetes yang tidak terkontrol dengan baik
Kelenjar tiroid yang kurang aktif

Sebagian besar kasus peningkatan kadar trigliserida dan kolesterol total


bersifat sementara dan tidak berat, dan terutama merupakan akibat dari makan
lemak. Pembuangan lemak dari darah pada setiap orang memiliki kecepatan yang
berbeda. Seseorang bisa makan sejumlah besar lemak hewani dan tidak pernah
memiliki kadar kolesterol total lebih dari 200 mg/dl, sedangkan yang lainnya
menjalani diet rendah lemak yang ketat dan tidak pernah memiliki kadar
kolesterol total di bawah 260mg/dl. Perbedaan ini tampaknya bersifat genetik dan
secara luas berhubungan dengan perbedaan kecepatan masuk dan keluarnya
lipoprotein dari aliran darah (Balai Informasi Tekhnologi Lipid, 2009).
E. Patofisiologi
Lemak (disebut juga lipid) adalah zat yang kaya energi yang berfungsi sebagai
sumber energi utama untuk proses metabolisme tubuh. Lemak diperoleh dari

makanan dan dibentuk di dalam tubuh, terutama di hati. Lemak disimpan dalam
sel-sel lemak tubuh, sehingga dapat digunakan di kemudian hari. Lipid yang
disimpan berfungsi untuk melindungi tubuh dari dingin dan membantu
melindungi tubuh terhadap cedera. Lemak merupakan komponen penting dari
selaput sel, selubung yang membungkus sel-sel saraf serta eksresi empedu.
Makanan kaya lipid yang kita makan terdiri atas kolesterol dan trigliserid. Selain
koleterol yang berasal dari makanan, dalam usus juga terdapat kolesterol darihati
yang dieksresi bersama empedu ke usus halus. Kolesterol dan trigliserid dalam
usus halus akan diserap ke dalam enterosit mukosa usus halus. Trigliserid
akandiserap sebagai asam lemak bebas. Kolesterol akan diserap sebagai
kolesterol. Dalam mukosa usus halus asam lemak bebas akan diubah lagi menjadi
trigliserid dan kolesterol akan mengalami esterifikasi menjadi kolesterol ester.
Lipid dalam darah terdiri atas kolesterol, kolesterol ester, trigliserid, fosfolipid,
dan asam lemak bebas.Kolesterol adalah suatu jenis lemak yang ada dalam tubuh
dan dibagi menjadi LDL, HDL, total kolesterol dan trigliserida. Dari hati,
kolesterol diangkut oleh lipoprotein yang bernama LDL (Low Density
Lipoprotein) untuk dibawa ke sel-sel tubuh yang memerlukan, termasuk ke sel
otot jantung, otak dan lain-lain agar dapat berfungsi sebagaimana mestinya. HDL
(high density lipoprotein) adalah bentuk LP yang memiliki komponen kolesterol
paling sedikit. Dibentuk di usus dan hati, HDL ini akan menyerap kolesterol bebas
dari pembuluh darah, atau bagian tubuh lain seperti sel makrofag, kemudian
membawanya ke hati. VLDL (very low density LP) adalah LP yangdibentuk di
hati yang kemudian akan diubah di pembuluh darah menjadi LDL(lowdensity
LP). Bentuk LP ini memiliki komponen kolesterol paling banyak dan
akanmembawa kolesterol tersebut ke jaringan seperti dinding pembuluh darah
(Jeffry Tenggara, 2008).
Kelebihan kolesterol akan diangkut kembali oleh lipoprotein yang disebut
HDL (High Density Lipoprotein) untuk dibawa kembali ke hati yang selanjutnya
akan diuraikan lalu dibuang ke dalam kandung empedu sebagai asam (cairan)
empedu. LDL mengandung lebih banyak lemak daripada HDL sehingga ia akan
mengambang di dalam darah. Protein utama yang membentuk LDL adalah Apo-B

(apolipoprotein-B). LDL dianggap sebagai lemak yang "jahat" karena dapat


menyebabkan penempelan kolesterol di dinding pembuluh darah. Sebaliknya,
HDL disebut sebagai lemak yang "baik" karena dalam operasinya ia
membersihkan kelebihan kolesterol dari dinding pembuluh darah dengan
mengangkutnya kembali ke hati. Protein utama yang membentuk HDL adalah
Apo-A(apolipoprotein). HDL ini mempunyai kandungan lemak lebih sedikit dan
mempunyai kepadatan tinggi sehingga lebih berat.
Konsentrasi kolesterol pada High-Dendity Lipoprotein (HDL) dan LowDensity (LDL)/Very-Low-Density (VLDL) Lipoprotein adalah predictor kuat
untuk

penyakit jantung koroner. HDL fungsional menawarkan perlindungan

dengan cara memindahkan kolesterol dari sel dan atheroma. Konsentrasi tinggi
dari LDL dan konsentrasi rendah dari HDL fungsional sangat terkait dengan
penyakit kardio vaskular

karena beresiko

tinggi

terkena

ateroklerosis.

Keseimbangan antara HDL dan LDL semata-mata ditentukan secara genetikal,


tetapi dapat dirubah dengan pengobatan, pemilihan makanan dan factor lainnya
(Anonim, 2008).
Seperti yang telah disebutkan di atas lipid memiliki banyak manfaat bagi
tubuh. Namun, apabila terjadi keadaan hiperlipidemia, akan menyebabkan
kelainan metabolisme lipid. Kelainan metabolisme lipid pada keadaan
hiperlipidemia dapat terjadi pada tapak-tapak produksi atau penggunaan
lipoprotein

yang

menyebabkan

keadaan

hipolipoproteinemia

atau

hiperlipoproteinemia (Murray, 2003). Patofisiologi hubungan hiperlipidemia


dengan stroke terdiri dari 2 yaitu pertama, ketika arteri karotid menjadi
menyempit atau tersumbat oleh plak lemak seperti kolesterol, kondisi yang
dikenal sebagai arteriosclerosis, atau "pengerasan arteri," hasilnya. Sementara
kebanyakan orang berpikir dari arteriosclerosis sebagai penyakit koroner yang
dapat menyebabkan serangan jantung, kurang menyadari bahwa itu juga
merupakan penyebab utama stroke. Proses selanjutnya sama seperti stroke system
karotis. Kedua, Sesaat setelah terjadinya peningkatan kadar LDL dan atau
kolesterol,sejumlah monosit akan melekat pada permukaan endotel arteri dan
selanjutnyamelakukan migrasi kedalam ruangan subendotel. Setelah berbulan-

bulan akan terjadi penumpukan kolesterol dan makrofag dalam ruangan


subendotel ini dan disebut foam cell. Foam sell yang bertumpuk kemudian akan
menimbulkan fatty streak . Sejalan dengan peningkatan kadar kolesterol, sejumlah
sel otot halus muncul pada permukaan subendotel. Sel otot halus ini kemudian
secara progresif memproduksi kolagen dan membentuk fibrous cap di atas inti
lemak dari lesi. Kolagen yang terbentuk secara terus menerus kemudian
menimbulkan bentuk athresclerotik yang disebut fibrous plaque.Kestabilan
plaquesangat menentukan apakah lesi aterosklerosis ini akan menimbulkan
kelainan kardiovaskuler. Plaque yang stabil merupakan hasil langsung dari
kemampuan sel otot halus untuk memproduksi kolagen dan membentuk fibrous
cap. Plaque yang stabil adalah plaque yang memiliki fibrous cap yang tebal yang
menghalangi inti lemak kontak dengan darah. Sedangkan plaque yang tidak stabil
adalah plaque yang mengandung inti lemak yang tebal atau banyak ditutupi oleh
fibrous cap yang tipis. Adanya flow shear stress, hipertensi dan hiperlipidemia
akan mengiritasi atau menimbulkan fissura/rupture dari plaque yang ada dan
selanjutnya menimbulkan kondisi aterogenik berupa aggregasi platelet dan
trombus. Keadaaan ini menimbulkan sumbatan atau obstruksi yang signifikan
terhadap vaskularisasi koroner dan menimbulkan manifestasi klinis penyakit
kardiovaskuler (Chien, 2003). Kadar kolesterol total > 220 mg/dl meningkatkan
risiko stroke antara 1,31 2,9 kali (Junaidi, 2003). Kadar kolesterol total yang
ideal adalah 140-200 mg/dL atau kurang. Idealnya, kadar kolesterol LDL tidak
boleh lebih dari 130 mg/dL dan kadar kolesterol HDL tidak boleh kurang dari 40
mg/dL. Kadar trigliserida ideal 10-160 mg/dL darah (Balai Informasi Teknologi
Lipi, 2009).
F. Manifestasi klinis dan diagnosis
Kebanyakan pasien adalah asimptomatik selama bertahun-tahun sebelum
penyakit jelas secara klinis. Gejala-gejala yang bisa tampak diantaranya
berkeringat, jantung berdebar, nafas pendek dan cemas.(Anwar, 2004)
Pedoman Klinis Kadar Lipid Sehubungan Dengan Resiko PKV
Angka patokan kadar lipid yang memerlukan pengelolaan, penting
dikaitkan dengan terjadinya komplikasi kardiovaskuler. Dari berbagai penelitian

jangka panjang di negara-negara barat, yang dikaitkan dengan besarnya resiko


untuk terjadinya PKV, dikenal patokan kadar kolesterol total sbb :
a) Kadar yang diinginkan dan diharapkan masih aman (desirable) adalah < 200
mg/dl
b) Kadar yang sudah mulai meningkat dan harus diwaspadai untuk mulai
dikendalikan (bordeline high) adalah 200-239 mg/dl
c) Kadar yang tinggi dan berbahaya bagi pasien (high) adalah > 240 mg/dl .
Untuk trigliserida besamya pengaruh terhadap kemungkinan terjadinya
komplikasi kardiovaskuler belum disepakati benar. NECP (National Cholesterol
Education Program) tidak memesukkan kadar trigliserida dalam anjuran
pengelolaan lipid mereka. Sebaliknya kelompok kontinental memasukkan juga
faktor trigliserida dalam algoritma yang mereka anjurkan, dilandasi oleh
penelitian mereka di Eropa ( studi Procam dan studi Paris ).
Di Indonesia data epidemiologis mengenai lipid masih langka, apa lagi
longitudinal yang berkaitan dengan angka kesakitan atau angka kematian penyakit
kardiovaskuler.

Tabel 3: Pedoman klinis untuk menghubungkan propillipid dengan resiko


terjadinya PKV (Penyakit kardiovaskuler)

Secara klinis digunakanlah kadar kolesterol total sebagai tolak ukur,


walupun berdasarkan patofisiologi, yang berperan sebagai faktor resiko adalah
kolesterol LDL.
Tabel 4. Kadar kolesterol total dapat juga menggambarkan kadar kolesterol
LDL ( tabel )

Pada pasien IMA terjadi perubahan plasma lipid, sehingga profil lipid
perlu dianalisa dengan hati-hati apabila diperiksa pada masa penyembuhan IMA .
Kadar trigliserida menjadi nilainya lebih tinggi 3 mingu dan kemudian kembali ke
nilai semula 6 minggu pasca IMA, sebaliknya nilai kolesterol total dan kol-LDL
pasca IMA, dan kembali mencapai kadar pra IMA dalam 8-12 minggu.
Pemeriksaan Laboratorium
Pada pemeriksaan laboratorium memegang peranan penting dalam
menegakkan diagnosa. Parameter yang diperiksa: kadar kolesterol total, kolesterol
LDL, kolesterol HDL dan trigliserid.
a. Persiapan
Sebaiknya subjek dalam keadaan metabolik stabil, tidak ada perubahan berat
badan, pola makan, kebiasaan merokok, olahraga, minum kopi/alkohol dalam 2
minggu terahir sebelum diperiksa, tidak ada sakit berat atau operasi dalam 2 bulan
terakhir.

10

Tidak mendapat obat yang mempengaruhi kadar lipid dalam 2 minggu terakhir.
Bila hal tersebut tidak memungkinkan, pemeriksaan tetap dilakukan tetapi, dengan
disertai catatan.
b. Pengambilan bahan pemeriksaan
Pengambilan bahan dilakukan setelah puasa 12-16 jam ( boleh minum air
putih) . Sebelum bahan diambil subyek duduk selama 5 menit (Anwar, 2004).
G. Penatalaksanaan
1. Pengelolaan penderita dislipidemia
a. Umum
Pilar utama pengelolaan dislipidemia adalah upaya non farmakologis yang
meliputi modifikasi diet, latihan jasmani, serta pengelolaan berat badan. Tujuan
terapi diet adalah menurunkan resiko penyakit jantung koroner dengan
mengurangi

asupan

lemak

jenuh

dan

kolesterol

serta

mengembalikan

keseimbangan kalori, sekaligus memperbaiki nutrisi. Perbaikan keseimbangan


kalori biasanya memerlukan peningkatan penggunaan energi melalui kegiatan
jasmani serta pembatasan asupan kalori (Waspadji, 2007)
b. Upaya non farmakologis
1. Terapi diet
Dimulai dengan menilai pola makan pasien, mengidentifikasi makanan yang
mengandung banyak lemak jenuh dan kolesterol serta seberapa sering keduanya
dikonsumsi.
a. Perencanaan terapi diet
Pada pasien dislipidemia harus diterapkan diet seimbang yang mengandung
semua nutrient dalam jumlah yang memadai.
1)
2)
3)
4)

Tujuan diet yang diberikan untuk pasien dengan kondisi dislipidemia:


Menurunkan berat badan bila terjadi kegemukan.
Mengubah jenis dan asupan lemak makanan.
Menurunkan asupan kolesterol makanan.
Meningkatkan asupan karbohidrat kompleks dan menurunkan asupan
karboidrat sederhana.
Syarat diet yang diberikan:
1) Energi yang dibutuhkan disesuaikan menurut berat badan dan
11

aktivitas fisik.
2) Lemak sedang, <30% dari kebutuhan enegi total.
3) Protein cukup, yaitu 10-20% dari kebutuhan total.
4) Karbohidrat sedanng, yaitu 50-60% dari kebutuhan total.
5) Serat tinggi, terutama yang larut air.
6) Cukup vitamin dan mineral (Sunita, 2004)
b. Intervensi gizi
Intervensi gizi biasa dilakukan dengan memberikan edukasi gizi yang
melibatkan alih pengetahuan untuk meningkatkan pengetahuan gizi pada pasien.
Pengetahuan gizi merupakan pencapaian pada Status gizi yang baik dan sangat
penting bagi kesehatan dan kesejahteraan bagi setiap orang. Untuk memenuhi
kebutuhan gizinya, setiap individu memiliki pola makanan yang mengandung zat
gizi yang dapat digunakan oleh tubuh. Pengetahuan gizi dapat memegang peranan
penting terhadap tata cara penggunaan pangan dengan baik sehingga akan
mencapai kebutuhan gizi yang seimbang. Tingkat pengetahuan gizi akan dapat
menentukan perilaku seseorang untuk memperbaiki pola konsumsi makanan yang
umumnya dipandang lebih baik dan dapat diberikan sedini mungkin (Suharjo,
1989).
2. Latihan jasmani
Dari beberapa penelitian diketahui bahwa latihan fisik dapat meningkatkan
kadar HDL, menurunkan trigliserida, menurunkan LDL dan menurunkan berat
badan.
c. Farmakologis
Apabila terapi non farmakologi tidak berhasil maka, dapat diberikan bermacammacam obatan Tujuan dari pengelolaan dislipidemia dalam jangka pendek adalah
untuk mengontrol kadar LDL dan HDL dalam darah, dan menghilangkan keluhan
maupun gejala yang terjadi pada penderita dislipidemia. Tujuan jangka panjang
untuk mencegah terjadinya jantung koroner. Cara penanganannya dengan
menormalkan kadar kolesterol LDL dan HDL dalam darah. (Anwar bahri, 2004)
Terapi farmakologi (Balai Informasi Tekhnologi Lipi, 2009)
Tabel 5. Terapi Farmakologi
Jenis Obat
Penyerap

Contoh
asam Kolestiramin

Cara Kerja
Mengikat asam empedu di

12

empedu

Kolestipol

usus,

dan

meningkatkan

pembuangan LDL dari aliran


Penghambat sintesa Niasin

darah
Mengurangi kecepatan VLDL

protein

(VLDL merupakan prekursos

Penghambat HMG

Adrenalin, Flufastatin

dari LDL)
Menghambat

Koenzim-A

Lovastatin

kolesterol, dan meningkatkan

reduktase

Vlavastatin

pembuangan LDL dari aliran

Sinvastatin
Derivat asam fibrat Klofibrat

pembentukan

darah
Meningkatkan

Fenofibrat

pemecahan

lemak

Gemfibrosil
1. Niasin (asam nikotinat)
Asam nikotinat mempunyai kemampuan menurunkan lipid yang luas, tetapi
penggunaaan

dalam

klinik

terbatas

karena

efek

samping

yang

tidak

menyenangkan. Mekanisme kerja: pada dosis dalam gram, niasin (NYE a sin)
merupakan vitamin larut air, menghambat lipolisis dengan kuat dalam jaringan
lemak-penghasil utama asam lemak bebas yang beredar. Hati umumnya
menggunakan asam lemak dalam sirkulasi sebagai precursor utama untuk sintesis
triasilgliserol. Karena itu, niasin menyebabkan penurunan sintesis triasilgliserol
yang diperlukan untuk produksi VLDL (lipoprotein densitas sangat rendah).
Lipoprotein densitas rendah (LDL, lipoprotein kaya kolesterol) berasal dari VLDL
dalam plasma. Karena itu, reduksi VLDL juga mengakibatkan penurunan
konsentrasi LDL plasma. Dengan demikian, baik triasilgliserol (dalam VLDL)
dan kolesterol (dalam VLDL dan LDL) dalam plasma menjadi rendah.
Selanjutnya, pengobatan dengan niasin akan meningkatkan kadar kolesterol-HDL
(HDL merupakan

karier kolesterol

yang

baik).

Selanjutnya, dengan

meningkatkan sekresi aktivator plasminogen jaringan dan merendahkan


fibrinogen plasma, niasin dapat mengubah beberapa disfungsi sel endotel

13

penyebab thrombosis yang ada kaitannya dengan hiperkolesterolemia dan


aterosklerosis.
Penggunaan dalam terapi : niasin merendahkan kadar plasma kolesterol dan
triasilgliserol. Karena itu, obat ini berguna pada pengobatan hiperlipoproteinemia
tipe II b dan IV, dengan VLDL dan LDL naik. Niasin juga diguanakan untuk
pengobatan hiperkolesterolemia lain yang berat, sering dengan kombinasi
antihiperlipidemia lain. Selain itu, obat ini merupakan obat antihiperlipidemia
paling poten untuk meningkatkan kadar HDL plasma.
Farmakokinetik : niasin diberikan per oral. Zat ini diubah dalam tubuh
menjadi nikotinamid yang dimasukkan dalam kofaktor nikotinamid adenine
dinukleotida (NAD). Niasin adalah derivat nikotinamid dan metabolit lain
dikeluarkan dalam urin. Nikotinamid sendiri tidak menurunkan kadar lipid dalam
plasma.
Efek samping : efek samping niasin yang paling menonjol adalah kemerahan
pada kulit (disertai perasaan panas yang tidak nyaman) dan pruritus. Pemberian
aspirin sebelum minum niasin mengurangi rasa panas yang diantar oleh
prostaglandin. Beberapa pasien juga mengalami mual dan sakit pada abdomen.
Asam nikotinat menghambat sekresi tubular asam urat dan karena itu mudah
terjadi hiperurisemia dan pirai. Telah dilaporkan adanya gangguan toleransi
glukosa dan hepatotoksisitas.
2. Fibrat-Klofibrat dan Gemfibrozil
Obat-obat tersebut merupakan derivat asam fibrat dan keduanya
mempunyai mekanisme kerja yang sama. Gamfibrozil dalam klinik telah
menggantikan klofibrat karena kematian akibat klofibrat lebih tinggi. Kematian
tersebut tidak ada hubungannya dengan penyebab kardiovaskular tetapi lebih
ganasan atau komplikasi pasca kolesistektomi dan pankreasitis.
Mekanisme kerja : Kedua obat menyebabkan penurunan trigliserol plasma
dengan memacu aktifitas lipase lipoprotein, sehingga menghidrolisis triasilgliserol
pada kilomikron dan VLDL, sehingga dapat mempercepat pengeluaran partikelpartikel ini dari plasma. Penelitian pada hewan menunjukkan bahwa fibrat dapat
menyebabkan penurunan kolesterol plasma dengan menghambat sintesis

14

kolesterol dalam hati dan meningkatkan ekskresi biliar kolesterol ke dalam feses.
Fibrat juga merendahkan kadar fibrinogen plasma.
Penggunaan

Terapi

Fibrat

digunakan

dalam

pengobatan

hipertrigliseridemia, menyebabkan penurunan yang signifikan pada kadar


triasilgliserol plasma. Klofibrat dan gamfibrozil berguna dalam mengobati
hiperlipidemia tipe III (disbetalipoproteinemia), dengan penumpukan partikel
lipoprotein densitas sedang (IDL). Pasien dengan hipertrigliseridemia (tipe IV)
(VLDL meningkat) atau penyakit tipe V (peningkatan VLDL dan kilomiron) yang
tidak responsif dengan diet atau obat lain dapat mengambil manfaat obat-obat ini.
Farmakokinetik : Kedua obat diabsorpsi sempurna setelah dosis oral.
Klofibrat mengalami esterifikasi menjadi asam klofibrat yang aktif terikat pada
albumin dan tersebat luas seluruh jaringan tubuh. Untuk gamfibrizil secara luas
menyebar ke seluruh tubuh dan terikat pada albumin juga.Keduanya mengalami
biotransformasi sempurna dan dikeluarkan dalam urin sebagai konjugat
glukuronida.
Efek samping
a. Efek Gastrointestinal
Efek samping paling umum adalah gangguan pencernaan ringan. Efek samping
akan berkurang dengan berkembangnya terapi.
b. Litiasis
Karena obat-obat ini meningkatkan ekskresi kolesterol biliar,terdapat predisposisi
untuk pembentukan batu empedu.

c. Keganasan
Pengobatan dengan kolifibrat telah menyebabkan sejumlah keganasan-terkait
dengan kematian.
d. Otot
Miositis atau peradangan otot polos dapat terjadi dengan kedua obat sehingga
pelemahan otot atau nyeri otot harus dievaluasi. Meskipun jarang, pasien dengan
insufisiensi ginjal mengandung resiko. Miopati dan rhabdomiolisis telah

15

dilaporkan pada beberapa pasien yang menggunakan gamfibrozil dan lovastatin


bersamaan.
e. Interaksi Obat
Kedua fibrat bersaing dengan antikoagulan kumarin dalam pengikatan pada
protein plasma, sehingga meningkatkan efek antikoagulan sepintas. Karena itu
kadar protrombin perlu dimonitor jika pasien meminum kedua obat ini.
f. Kontraindikasi
Keamanan obat-obat ini pada ibu hamil atau menyusui belum jelas. Seharusnya
obat-obat ini tidak digunakan pada pasien dengan kelainan fungsi hati atau ginjal
atau pasien dengan penyakit kandung empedu.
3. Resin pengikat asam empedu : kolestiramin dan kolestipol
Mekanisme kerja: kolestiramin dan kolestipol adalah resin pertukaran
anion yang terikat pada asam dan garam empedu bermuatan negatif dalam usus
halus. Kompleks resin atau asam empedu ini dikeluarkan melalui feses, sehingga
mencegah asam empedu kembali ke hati melalui sirkulasi enterohepatik.
Berkurangnya konsentrasi asam empedu menyebabkan hepatosit meningkatkan
konversi kolesterol ke asam empedu, menyebabkan suplai senyawa ini baik
kembali, sebagai komponen penting empedu. Akibatnya, konsentrasi kolesterol
intraseluler, mengaktifkan hati untuk meningkatkan ambilan partikel LDL yang
mengandung kolesterol, sehingga LDL plasma turun. Ambilan yang miningkat ini
dilakukan melalui upregulasi reseptor LDL pada permukaan sel.
Penggunaan dalam terapi : resin yang mengikat asam empedu (sering
dikombinasi dengan diet atau niasin) adalah obat-obat pilihan dalam mengobati
hiperlipidemia tipe II a dan II b. kolestiramin juga dapat meringankan pruritus
akibat akumulasi asam empedu pada pasien dengan obstruksi biliar.
Farmakokinetik : kolestiramin dan kolestipol diminum per oral. Karena
tidak larut dalam air dan merupakan molekul yang sangat bessar (berat molekul
lebih dari 106), keduanya tidak diabsorbsi atau dimetabolisme dalam usus.
Sebaliknya semua dikeluarkan dalam feses.
Efek samping :

16

a)

Efek Gastrointestinal : efek samping paling sering adalah gangguan

pencernaan seperti konstipasi, mual dan flatus.


b)

Gangguan Absorbsi : absorbsi vitamin larut lemak A,D,E,K dapat terganggu

jika terdapat dosis resin yang tinggi. Absorbsi asam folat dan askorbat juga dapat
berkurang.
c)

Interaksi Obat : kolestiramin dan kolestipol mengganggu absorbsi beberapa

obat dalam usus, misalnya tetrasiklin, fenobarbital, digoksin, warfarin,


pravastatin, fluvastatin, aspirin, dan diuretic thiazid. Karena itu, obat-obat harus
diminum 1-2 jam sebelum atau 4-6 jam setelah resin pengikat asam empedu ini
diminum.
4. Inhibitor HMG CoA reduktase : Lovastatin, praavastatin, simvastatin, dan
fluvastatin
Kelompok antihiperlipidemia yang baru ini menghambat tahap pertama
aktifitas enzim dalam sintesis sterol. Analog dengan struktural alamia, asam3hidroksi-3metil Glutarat (HMG), semua obat dalam grup ini berpacu dalam
menghambat hidrosi metil glutaril koenzim A (HMG-CoA reduktase). Kecuali
fluvastati, inhibitor HMG reduktase lainnya merupakan modifikasi kimia dari
senyawa alamia yang terdapat dalam jamur.
Mekanisme Kerja Inhibisi
1. HMG-CoA reduktase
Lovastatin, simvastatin, pravastatin, fluvastain adalah analog 3-tatin dan
simvastatin adalah lakton yang dihidrolisis menjadi obat aktif. Pravastatin dan
fluvastatin aktif dengan cara demikian. Karena afinitasnya yang kuat terhadap
enzim, semua efektif berpacu menghambat HMG-CoA reduktase, tahapan terbatas
dalam sintesis kolesterol. Dengan menghambat sintesis kolesterol denovo-, obat
akan menghabiskan simpanan kolesterol.
2. Penurunan reseptor LDL
Penghapusan kolesterol intraseluler menyebabkan sel meningkat jumlah
resepto

LDL

permukaan

sel

spesifik

17

yang

dapat

mengikat

dan

menginternalisasikan LDL yang beredar. Sehingga, hasil akhir adalah penurunana


kolesterolplsama karena sintesis berkurang dan peningkatan katabolisme LDL.
Inhibitor HMG-CoA reduktase, seperti kolestiramin , dapat meningkatkan kadar
HDL plasma pada beberapa pasien sehingga menurunkanresiko mendapatkan
penyakit PJK. Penurunan triasilgliserol juga terjadi sedikit.
3. Penggunaan Dalam Terapi
Obat-obat ini efektif dalam menurunkan kadar kolesterol plasma pada
semua jenis hiperlipidemia. Namun pasien yang homozigot untuk penyakit
hiperkolesterolemia kekurangan reseptor LDL dan oleh karenanya mendapatkan
keuntungan sedikit dari obat-obat ini. Perlu diperhatikan bahwa meskipun proteksi
diberikan karena pengurangan kadar kolesterol, kira-kira pasien yang diobati
dengan obat ini masih menderita masalah koroner. Karena itu diperlukan strategi
tambahan seperti diet, latihan, atau obat tambahan perlu diberikan.
Farmakokinetik: pravastatin dan fluvastatin hamper seluruhnya dapat
diabsorbsi setelah pemberian oral; dosis oral lovastatin dan simvastatin diabsorbsi
30-50%. Pravastatin dan fluvastatin adalah obat aktif langsung, sedangkan
lovastatin dan simvastatin harus dihidrolisis menjadi asam. Karena ekstraksi first
pass, kerja utama obat-obat ini pada hati. Semua mengalami biotransformasi,
beberapa produk masih tetap aktif. Ekskresi terjadi terutama melalui empedu dan
feses, tetapi pengeluaran melalui urin juga terjadi. Waktu paruh berkisar antara
1,5-2 jam.
Efek samping :
a)

Hati : kelainan biokimiawi fungsi hati telah terjadi dalam penggunaan

inhibitor HMG-CoA reduktase. Karena itu, sangat diperlukan menilai fungsi hati
dan mengukur kadar serum transaminase secara periodic. Semua akan kembali
normal jika obat dihentikan.
b)

Otot : miopati dan rhabdomiolisis (disintegrasi atau disolusi otot) jarang

dilaporkan. Dalam beberapa kasus, pasien biasanya menderita insufisiensi ginjal


atau mengambil obat seperti siklosporin, itrakonazol, eritromisin, gemfibrosil atau
niasin. Kadar keratin kinase plasma harus diperiksa secara teratur.

18

c)

Interaksi obat : inhibitor HMG-CoA reduktase juga meningkatkan kadar

kumarin. Sehingga, penting untuk sering mengevaluasi waktu protrombin.


d)

Kontra indikasi : obat-obat ini merupakan kontraindikasi bagi ibu hamil atau

menyusui. Obat-obat ini tidak boleh digunakan pada anak-anak atau remaja.
1. Terapi obat kombinasi
Kadang-kadang perlu memberikan 2 antihiperlipidemia untuk mendapatkan
penurunan kadar lipid plasma yang signifikan. Sebagai contoh, pada
hiperlipidemia terapi II, pasien sering diobati dengan kombinasai niasin ditambah
obat pengikat asam empedu, seperti kolestiramin. Kombinasi inhibitor HMG-CoA
reduktase dengan zat pengikat asam empedu juga telah menunjukkan manfaat
dalam menurunkan kolesterol LDL.
Tabel 6. Efek Terapi Obat Lipid dan Lipoprotein
Obat

Mekanisme Aksi Efek Lipid

Cholestyramine, Naiknya

Turunnya

Efek

Keterangan

Lipoprotein
Turunnya
Permasalahan akibat

colestipol,

katabolisme LDL, kolesterol

LDL

colesevam

turunnya Absorpsi

dengan beberapa obat

Niacin

kolesterol,
Turunnya LDL,

Turunnya

Turunnya

golongan asam
Masalah dengan

sintesis VLDL

trigliserida

VLDL,LDL, penerimaan pasaien,

dan kolesterol HDL

komplikasi, ikatan

kombinasi yg baik
dengan resin
obat,menyebabkan
hepatotoksik yang

Probucol

Naiknya bersihan Turunnya

Turunnya

rendah
Menurunnya HDL,

LDL

LDL dan

efikasi dengan

HDL

menghambat oksidasi

kolesterol

LDL dan fasilitator

19

bolak balik kolesterol


Menyebabkan

Gemfibrozil,

Naiknya bersihan Turunnya

Turunnya

fenofibrate,

VLDL dan

VLDL, LDL kolesterol, rendahnya

clofibrate

turunnya sintesis dan kolesterol dan naiknya lDL akibat HDL,

trigliserida

VLDL

HDL

Gemfibrosil
menghambat
glukoronidasi oleh
simvastatin, lovastatin,

Lomvastatin,

Naiknya

Turunnya

pravastatin,

katabolisme LDL kolesterol

Turunnya

atorvastatin
Naiknya aktivitas

LDL

family heterozygote

simvastatin,fluv dan menghambat

hiperkolestrolemia

astatin,

dengan kombinasi

sintesis LDL

atrovastatin,
furvastatin
Ezetimibe

beberapa agen
Menghambat

Turunnya

Turunnya

Menimbulkan reaksi

absorpsi

kolesterol

LDL

efek samping dan reaksi

koloesterol dan

additive dengan obat

melewati saluran

lain

intestinal

BAB III
KESIMPULAN

Dislipidemia adalah kelainan metabolisme lipid yang ditandai dengan


peningkatan maupun penurunan fraksi lipid dalam plasma. Kelainan fraksi lipid
yang paling utama adalah kenaikan kadar kolesterol total, kolesterol LDL,
kenaikan kadar trigliserida serta penurunan kadar HDL.

20

Telah banyak bukti-bukti yang diperoleh dari penelitian eksperimental,


epidemiologis dan klinis tentang peran dislipidemia pada penyakit kardiovaskuler
aterosklerosis yang intinya adalah :
Dislipidemia merupakan faktor resiko yang utama
Perubahan gaya hidup masyarakat erat hubungannya dengan
peningkatan kadar lipid
Bahwa penurunan kadar kolesterol sebesar 1 % akan menurunkan resiko
PJK sebesar 2 %
Bahwa upaya mengubah gaya hidup ( berhenti merokok, memelihara
berat badan idial, membatasi asupan makan yang mengandung kolesterol dan
lemak jenuh ) akan menurunkan resiko PJK dan dapat menyebabkan perlambatan
bahkan regresi aterosklerosis.
Bahwa pengendalian kadar lipid sampai batas yang dianjurkan harus
merupakan bagian integral dari pencegahan primer dan terapi penderita PKV.
Pilar utama pengelolaan dislipidemia adalah upaya non farmakologis yang
meliputi modifikasi diet, latihan jasmani, dan pengelolaan berat badan. Diet
dislipidemia dimaksudkan untuk menormalisasi nilai lipid darah, dan mengurangi
risiko terhadap penyakit kardiovaskuler ( Sunita, 2007).

DAFTAR PUSTAKA

Almatsier, Sunita. 2007. Penuntun Diet. PT Gramedia Pustaka Utama. Jakarta


Anonim.

2008.

Manfaat

Antitrombosis

dan

Trombolisis

http://perdossijaya.org/perdossijaya/index.php?view=article&id=71:manfaat-obatantitrombosis-dan-trombolisis&option=com_content&Itemid=63

21

Anwar, Bahri. 2004. Dislipidemia Sebagai Faktor Resiko Penyakit Jantung


Koroner.http:/library.usu.ac.id/php?
op=modload&name=download&file=index&reg=getit&lid=1257
Chien PC,FrishmanWH: Lipid disorder in Current diagnosis and treatment
incardiology.2nd edition,ed.Crawford M.Lange medical book,New York 2003.
Dinas

kesehatan

kota

semarang.

2008.

Profil

kesehatan

2008.

http://www.dinkesjatengprov.go.id/dokumen/profil/2008/profil2008.
Junaidi, I., 2003. Panduan Praktis Pencegahan Dan Pengobatan Stroke, Bhuana
Ilmu Populer, Kelompok Gramedia, Jakarta.
Krisnatuti. 1999. Perencanaan Menu Bagi Penderita Jantung Koroner. Trubus
Agriwida. Jakarta
LIPI.

2009.

Tanaman

Obat.

Balai

Informasi

Teknologi

LIPI.

http://www.bit.lipi.go.id/pangankesehatan/documents/artikel_hipertensi/tanaman_obat.
Murray Robert K, Granner Daryl K, Mayes Peter A, Rodwell Victor W. Bani
AnnaP, Sikumbang Tiara M. N, editor. Biokimia Harper. 25th ed. Jakarta :
EGC.2003. p.254-281
Sediaoetama, Achmad Djaelani. 1989. Ilmu Gizi Untuk Mahasiswa dan Profesi di
Indonesia. Jakarta
Sitorus, Ronal.H. 2006. 3 Jenis Penyakit Pembunuh Utama Manusia. Yrama
Widya. Jakarta
Adam, John, 2009. Dislipidemia dalam Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Edisi
V Jilid 3. Jakarta : FK UI.
Suharjo. 1989 Berbagai Cara Pengetahuan. Jakarta.
Tenggara,

Jeffry

B.

2008.

Lemak,

Kolesterol

dan

http://duniafitnes.com/health/lemak-kolesterol-dan-trigliserida.html
22

Trigliserida

Waspadji, Sarwono., Sukardji, Kartini., Octarina, Meida. 2007. Pedoman Diet


Diabetes Militus. Balai Penerbit FK UI. Jakarta.

23