Anda di halaman 1dari 28

Persetubuhan di Bawah Umur

Nama: Gita Puspitasari


NIM: 102011327
Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana
Jl. Arjuna Utara No.6 Jakarta Barat 11510
Email: gita_puspitasari64@yahoo.com

Pendahuluan
Kejahatan seksual sebagai salah satu bentuk kejahatn yang menyangkut tubh,
kesehatan, dannyawa manusia, mempunyai kaitan yang erat dengan Ilmu Kedokteran
Forensik yaitu di dala upaya pembuktian hawasanya kesejahteraan tersebut memang telah
terjadi. Adanya kaitan antara Ilmu Kedokteran Forensik dengan kejahatan seksual dapat
dipandang sebagai konsekuensi dari pasal-pasal di Kitab Undang0Undang Hukum Pidana
(KUHP) serta Kitab Undang-Undang Acara Hukum

Pidana (KUAHP), yang memuat

ancaman hukuman serta tatacara pembuktian pada setiap kasus yang termasuk di dlam
pengertian kasus kejahatan seksual.
Dalam upaya pebuktian secara kedokteran forensik pada setiap kasus kejahatan
seksual sebenarnya terbatas di dalam pembuktian ada tidaknya tanda-tanda persetubuhan, ada
tidaknyua tanda-tanda kekerasan, perkiraan umur sertapembuktian apakah seseorang itu
memang sudah pantas atau sudah mampu untuk kawin atau tidak.
Perkosaan ialah tindakan menyetubuhi wanita yang bukan istrinya dengan kekerasan
atau ancaman kekerasan. Persetubuhan sendiri didefinisikan sebagai penetrasi penis ke dalam
kemaluan wanita (mulai dari labia minor). Pada kasus akut/dini (dalam 7 hari setelah
kejadian) masih dapat dicari adanya sperma sebagai bukti. Sedangkan bila korban diperiksa
lebih dari 7 hari setelah kejadian, kemungkinan ditemukannya sperma lebih sulit dan
pemeriksaan lebih ditujukan untuk mengetahui terjadinya kehamilan. 1
Kejahatan terhadap kesusilaan dapat berupa persetubuhan, prcabulan maupun
pelecehan seksual. Dewasa ini kejahatan susila atau kejahatan seksual makin marak terjadi,
terutama anak-anak di bawah umur sebagai korbannya. Dengan alas an tindak kejahatan yang
1

beraneka ragam, tidak dipungkiri anak-anak merupakan korban yang paling rentan namun
juga paling mudah menjadi korban kejahatan susila. Dampak yang diakibatkan pasca
kejahatan susila terhadap seorang anak sangatlah berbahya, baik dalam segi fisik maupun
psikis. Hal tersebut lah yang menyebabkan rusaknya kepribadian dan terjadinya gangguan
perkembangan dari anak tersebut. 1

Prosedur Hukum
Dalam hal ini sebaiknya ditanyakan dahulu maksud pemeriksaan, apakah sekedar
ingin mengetahui saja, atau ada maksud untuk melakukan penuntutan. Bila dimaksudkan
akan melakukan penuntutan maka sebaiknya dokter jangan memeriksa anak itu. Pemeriksaan
harus dilakukan berdasarkan permintaan polisi dan biasanya dilakukan di rumah sakit. Ada
baiknya dokter memberikan penerangan pada ibu/ayah itu, bahwa jika umur anaknya sudah
15 tahun, dan jika persetubuhan terjadi tidak dengan paksaan maka menurut undang-undang,
laki-laki yang bersangkutan tidak dapat dituntut. 2
Pasal 1 ayat 25 KUHP
(25)

Pengaduan

adalah

pemberitahuan

disertai

permintaan

oleh

pihak

yang

berkepentingan kepada pejabat yang berwenang untuk menindak menurut hukum seorang
yang telah melakukan tindak pidana aduan yang merugikannya.
Pengaduan dilakukan oleh orang yang merasa dirugikan dan disertai permintaan untuk
dilakukan penuntutan.

Aspek Hukum
Pemeriksaan kasus-kasus persetubuhan yang merupakan tindak pidana, hendaknya
dilakukan dengan teliti dan waspada. Pemeriksa harus yakin akan semua bukti-bukti yang
ditemukannya karena berbeda dengan di klinik ia tidak lagi mempunyai kesempatan untuk
melakukan pemeriksaan ulang guna memperoleh lebih banyak bukti. Tetapi dalam
melaksanakan kewajiban itu dokter jangan sampai meletakkan kepentingan sikorban di
bawah kepentingan pemeriksaan. Terutama bila korban masih anak-anak hendaknya
pemeriksaan itu tidak sampai menambag trauma psikis yang sudah dideritanya. 2
Kejahatan Terhadap Kesusilaan
Pasal 285 KUHP
2

Barang siapa dengan kekerasan atau ancaman memaksa seorang wanita bersetubuh
dengan dia di luar perkawinan, diancam karena melakukan perkosaan, dengan pidana
penjara paling lama dua belas tahun.
Pasal 287 KUHP
(1) Barang siapa bersetubuh dengan seorang wanita di luar perkawinan, padahal diketahui
atau sepatutnya harus diduga, bahwa uurnya belum lima belas tahun, atau kalau
umurnya tidak ternyata, belum mampu kawin, diancam dengan pidana penjara paling
lama sembilan tahun.
(2) Penuntutan hanya dilakukan ata pengaduan, kecuali jika umurnya wanita beum
sampai dua belas tahun atau jika ada salah suatu hal tersebut pasal 291 dan pasal 294.
Pasal 288 KUHP
(1) Barang siapa bersetubuh dengan seorang wanita di dalam perkawinan, yang diketahui
atau sepatutnya harus diduga bahwa belum mampu dikawin, diancam, apabila
perbuatan mengakibatkan luka-luka dengan pidana penjara paling lama empat tahun.
(2) Jika perbuatan mengakibatkan luka berat, dijatuhkan pidana penjara paling lama 8
tahun.
(3) Jika mengakibatkan mati, dijatuhkan pudana penjara paling lama 12 tahun.
Pasal 289 KUHP
Barang siapa dengan kekerasan atau ancaman kekerasan memaksa seorang untuk
melakukan atau membiarkan dilakukan perbuatan cabul, diancam karena melakukan
perbuatan yang menyerang kehormatan kesusilaan, dengan pidana penjara paling lama 9
tahun.

Pasal 290 KUHP


Diancam dengan pidana paling lama tujuh tahun:
3

1. Barang siapa melakukan perbuatan cabul, dengan seorang pada hal diketahui, bahwa
orang itu pingsan atau tidak berdaya.
2. Barang siapa melakukan perbuatan cabul, dengan seorang padahal diketahui atau
sepatutnya harus diduga, bahwa umurnya belum lima belas tahun atau kalau umurnya
tidak ternyata, bahwa belum mampu dikawin;
3. Barang siapa membujuk seorang yang diketahio atau sepatutnya haru diduga, bahwa
umurnya belum lima belas tahun atau kalau umurnya tidak ternyata, bahwa belum
mampu dikawin, untuk melakukan atau membiarkan dilakukan perbuatan cabul, atau
bersetubuh di luar perkawinan dengan orang lain.
Pasal 291 KUHP
(1) Jika salah satu kejahatan yang diterangkan dalam paal 286, 287, 289 dan 290
mengakibatkan luka-luka berat, dijatuhkan pidana penjara paling lama 12 tahun.
(2) Jika salah satu kejahatan yang diterangkan dalam pasal 285, 286, 287 dan 290 itu
engakibatkan mati, dijatuhkan pidana penjara paling lama lima bela tahun.

Kekerasan pada Anak


Bab IX Pasal 59 UU 23/2002 Tentang Perlindungan Anak
Pemerintah dan lembaga negara lainnya berkewajiban dan bertanggung jawab untuk
memberikan perlindungan khusus kepada anak dalam situasi darurat, anak yang berhadapan
dengan hukum, anak dari kelompok minoritas dan terisolasi, anak tereksploitasi secara
ekonomi dan/atau seksual, anak yang diperdagangkan, anak yang menjadi korban
penyalahgunaan narkotika, alkohol, psikotropika, dan zat adiktif lainnya (napza), anak korban
penculikan, penjualan dan perdagangan, anak korban kekerasan baik fisik dan/atau mental,
anak yang menyandang cacat, dan anak korban perlakuan salah dan penelantaran.3

Bab IX Pasal 64 UU 23/2002 Tentang Perlindungan Anak

1. Perlindungan khusus bagi anak yang berhadapan dengan hukum sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 59 meliputi anak yang berkonflik dengan hukum dan anak korban tindak
pidana, merupakan kewajiban dan tanggung jawab pemerintah dan masyarakat.3
2. Perlindungan khusus bagi anak yang berhadapan dengan hukum sebagaimana dimaksud
dalam ayat (1) dilaksanakan melalui:3
a. perlakuan atas anak secara manusiawi sesuai dengan martabat dan hak-hak anak;
b. penyediaan petugas pendamping khusus anak sejak dini;
c. penyediaan sarana dan prasarana khusus;
d. penjatuhan sanksi yang tepat untuk kepentingan yang terbaik bagi anak;
e. pemantauan dan pencatatan terus menerus terhadap perkembangan anak yang
berhadapan dengan hukum;
f. pemberian jaminan untuk mempertahankan hubungan dengan orang tua atau keluarga;
dan
g. perlindungan dari pemberitaan identitas melalui media massa dan untuk menghindari
labelisasi.
3. Perlindungan khusus bagi anak yang menjadi korban tindak pidana sebagaimana dimaksud
dalam ayat (1) dilaksanakan melalui:3
a. upaya rehabilitasi, baik dalam lembaga maupun di luar lembaga;
b. upaya perlindungan dari pemberitaan identitas melalui media massa dan untuk
menghindari labelisasi;
c. pemberian jaminan keselamatan bagi saksi korban dan saksi ahli, baik fisik, mental,
maupun sosial; dan
d. pemberian aksesibilitas untuk mendapatkan informasi mengenai perkembangan
perkara.
Bab IX Pasal 68 UU 23/2002 Tentang Perlindungan Anak
1. Perlindungan khusus bagi anak korban penculikan, penjualan, dan perdagangan anak
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 59 dilakukan melalui upaya pengawasan,
perlindungan, pencegahan, perawatan, dan rehabilitasi oleh pemerintah dan masyarakat.3
2. Setiap orang dilarang menempatkan, membiarkan, melakukan, menyuruh melakukan,
atau turut serta melakukan penculikan, penjualan, atau perdagangan sebagaimana
dimaksud dalam ayat (1).3
Bab XI Pasal 82 UU 23/2002 Tentang Perlindungan Anak
Setiap orang yang dengan sengaja melakukan kekerasan atau ancaman kekerasan, memaksa,
melakukan tipu muslihat, serangkaian kebohongan, atau membujuk anak untuk melakukan
atau membiarkan dilakukan perbuatan cabul, dipidana dengan pidana penjara paling lama 15
(lima belas) tahun dan paling singkat 3 (tiga) tahun dan denda paling banyak Rp
5

300.000.000,00 (tiga ratus juta rupiah) dan paling sedikit Rp 60.000.000,00 (enam puluh juta
rupiah).3
Apabila seorang ibu/ayah ingin memeriksakan anak perempuannya, karena ia merasa sangsi
apakah anaknya masih perawan, atau karena ia merasa curiga kalau-kalau atas diri anaknya
baru terjadi persetubuhan.
Dalam hal ini sebaiknya ditanyakan dahulu maksud pemeriksaan, apakah sekedar ingin
mengetahui saja, atau ada maksud untuk melakukan penuntutan. Bila dimaksudkan akan
melakukan penuntutan maka sebaiknya dokter jangan memeriksa anak itu. Pemeriksaan harus
dilakukan berdasarkan permintaan polisi dan biasanya dilakukan di rumah sakit. Ada baiknya
dokter memberikan penerangan pada ibu/ayah itu, bahwa jika umur anaknya sudah 15 tahun,
dan jika persetubuhan terjadi tidak dengan paksaan maka menurut undang-undang, laki-laki
yang bersangkutan tidak dapat dituntut

Prosedur Medikolegal
Prosedur medikolegal adalah tatacara atau prosedur penatalaksanaan dan berbagai
aspek yang berkaitan pelayanan kedokteran untuk kepentingan hukum. Secara garis besar,
prosedur medikolegal mengacu kepada peraturan perundang-undangan yang berlaku di
Indonesia, dan pada beberapa bidang juga mengacu kepada sumpah dokter dan etika
kedokteran. 4
Beberapa pasal yang mengaturnya antara lain:
1. Kewajiban Dokter Membantu Peradilan
Pasal 133 KUHAP
(1)

Dalam hal penyidik untuk kepentingan peradilan menangani seorang korban


baik luka, keracunan ataupun mati yang diduga Karen aperistiwa yang
merupakan tindak pidana, ia berwenang mengajukan permintaan keterangan ahli
kepada ahli kedokteran kehakiman atau dokter dan atau ahli lainnya.

(2)

Permintaan keterangan ahli sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dilakukan


secara tertulis, yang dalam surat itu disebutkan dengan tegas untuk pemeriksaan
luka atau pemeriksaan mayat dan atau pemeriksaan bedah mayat.

(3)

Mayat yang dikirim kepada ahli kedokteran kehakiman atau dokter pada rumah
sakit harus diperlakukan secara baik dengan penuh penghormatan terhadap
mayat tersebut dan diberi label yang memuat identitas mayat, dilak dengan
diberi cap jabatan yang dilekatkan pada ibu jari kaki atau bagian lain badan
mayat.

Penjelasan Pasal 133 KUHAP


(2)

Keterangan yang diberikan oleh ahli kedokteran kehakiman disebut keterangan


ahli, sedangkan keterangan yang diberikan oleh dokter bukan ahli kedokteran
kehakiman disebut keterangan.

Pasal 179 KUHAP


(1) Setiap orang yang diminta pendapatnya sebagai ahli kedokteran kehakiman atau
dokter atau ahli lainnya wajib memberikan keterangan ahli demi keadilan.
(2) Semua ketentuan tersebut di atas untuk saksi berlaku juga bagi mereka yang
memberikan keterangan ahli, dengan ketentuan bahwa mereka mengucapkan
sumpah atau janji akan memberikan keterangan yang sebaik-baiknya dan sebenarbenarnya menurut pengetahuan dalam bidang keahliannya.
2. Hak Menolak Menjadi Saksi / Ahli
Pasal 20 KUHAP
(1) Dalam hal penyidik menganggap perlu, ia dapat meminta pendapat orang ahli atau
orang yang memiliki keahlian khusus.
Pasal 170 KUHAP
(1) Mereka yang karena pekerjaan, harkat martabat atau jabatannya diwajibkan
menyimpan rahasia, dapat minta dibebaskan dari kewajiban untuk member
keterangan sebagai sanksi, yaitu tentang hal yang dipercayakan kepada mereka.
(2) Hakim menentukan sah atau tidaknya segala alasan untuk permintaan tersebut.
3. Bentuk Bantuan Dokter
Pasal 183 KUHAP
7

(1) Hakim tidak boleh menjatuhkan pidana kepada seorang kecuali apabila dengan
sekurang-kurangnya dua alat bukti yang sah ia memperoleh keyakinan bahwa
suatu tindak pidana benar-benar terjadi dan bahwa terdakwalah yang bersalah
melakukannya.
Pasal 184 KUHAP
(1) Alat bukti yang sah :
a. Keterangan saksi;
b. Keterangan ahli;
c. Surat;
d. Petunjuk;
e. Keterangan terdakwa.
(2) Hal yang secara umum sudah diketahui tidak perlu dibuktikan.
4. Sangsi Bagi Pelanggar Kewajiban Dokter
Pasal 21 KUHP
(1) Barang siapa dengan sengaja tidak menuruti perintah atau permintaan yang
dilakukan menurut undang-undang oleh pejabat yang tugasnya mengawasi
sesuatu, atau oleh pejabat berdasarkan tugasnya, demikian pula yang diberi
kuasa untuk mengusut atau memeriksa tindak pidana; demikian pula barang
siapa dengan sengaja mencegah, menghalang-halangi atau menggagalkan
tindakan guna menjalankan ketentuan, diancam dengan pidana penjara paling
lama empat bualn dua minggu atau denda paling banyak sembilan ribu rupiah.
(2) Disamakan dengan pejabat tersebut di atas, setiap orang yan gmenurut
ketentuan undang-undang teru-menerus atau untuk sementara waktu diserahi
tugas mejalankan jabatan umum.
(3) Jika pada waktu melakukan kejahatan belum lewat dua tahun sejak adanya
pemidanaan yang menjadi tetap karena kejahatan semacam itu juga, maka
pidananya dapat ditambah sepertiga.
8

Pasal 222 KUHP


Barang siapa dengan sengaja mencegah, menghalang-halangi atau menggagalkan
pemeriksaan mayat untuk pengadilan, diancam dengan pidana penjara paling lama
sembilan bulan atau pidana denda paling banyakk empat ribu lima ratus rupiah.
Pasal 522 KUHP
Barang siapa menurut uundang-undang dipanggil sebagai saksi, ahli atau juru bahasa,
tidak dating secara melawan hokum, diancam dengan pidana denda paling banyak
sembilan ratus rupiah.
5. Rahasia Jabatan
Pasal 1 PP No10/1966
Yang dimaksud dengan rahsaia kedokteran ialah segala sesuatu yang diketahui oleh
orang-orang tersebut dalam pasal 3 pada waktu atau selama melakukan pekerjaannya
dalam lapangan kedokteran.
Pasal 3 PP No 10/1966
Yang diwajibkan menyimpan rahsia dalam pasal 1 ialah:
a. Tenaga kesehatan menurut pasal 2 UU tentang tenaga kesehatan
b. Mahasiswa kedokteran, murid yang bertugas dalam lapangan pemeriksaan,
pengobatan dan atau perawatan, dan orang lain yang ditetapkan oleh menteri
kesehatan.
Pasal 48 KUHP
Barang siapa melakukan perbuatan karena pengaruh daya paksa tidak dipidana.
Pasal 50 KUHP
Barang siapa melakukan perbuatan untuk melaksanakan ketentuan undang-undang,
tidak dipidana.
6. Keterangan Palsu
Pasal 267 KUHP
9

(1) Seorang dokter yang dengan sengaja member surat keterangan palsu tentang ada
atau tidaknya penyakit, kelemahan atau cacat, diancam dengan pidana penjara
paling lama empat tahun.
(2) Jika keterangan diberikan dengan maksud untuk memasukkan seorang ke dalam
rumah sakit gila atau menahannya disitu, dijatuhkan pidana penjara paling lama
delapan tahun enam bulan.
(3) Diancam dengan pidana yang sama, barangsiapa dengan sengaja memakai surat
keterangan palsu itu seolah-olah isinya sesuai dengan kebenaran.
Pasal 7 KODEKI
Seorang dokter hanya memberikan keterangan atau pendapat yang dapat dibuktikan
kebenarannya.
PEMERIKSAAN
1. Anamnesis
Pada umumnya anamnesis yang diberikan oleh orang sakit dapat dipercaya,
sebaliknya anamnesis yang diperoleh dari korban tidak selalu benar. Terdorong oleh
berbagai maksud atau perasaan, misalnya maksud untuk memeras, rasa dendam,
menyesal, atau karena takut pada ayah / ibu, korban mungkin mengemukakan hal
hal yang tidak benar. 5
Anamnesis merupakan suatu yang tidak dapat dilihat atau ditemukan oleh dokter
sehingga bukan merupakan pemeriksaan yang obyektif, sehingga seharusnya tidak
dimasukkan dalam Visum et Repertum. Anamnesis dibuat terpisah dan dilampirkan
pada Visum et Repertum dengan judul Keterangan yang diperoleh dari korban.
Dalam mengambil anamnesis, dokter meminta pada korban untuk menceritakan
segala sesuatu tentang kejadian yang dialaminya dan sebaiknya bersifat terarah.
Anamnesis terdiri dari bagian yang bersifat umum dan khusus.
Anamnesis umum meliputi pengumpulan data tentang umur, tanggal, dan tempat lahir,
status perkawinan, siklus haid untuk anak yang tidak diketahui umurnya, penyakit
kelamin, penyakit kandungan dan penyakit lainnya seperti epilepsi, katalepsi,
syncope. Keterangan pernah atau belum pernah bersetubuh, saat persetubuhan
terakhir, adanya penggunaan kondom.
10

Hal khusus yang perlu diketahui adalah tanggal dan jam kejadian. Bila antara kejadian
dan pelaporan kepada yang berwajib berselang beberapa hari/minggu, dapat
diperkirakan bahwa peristiwa itu bukan perkosaan tetapi persetubuhan yang pada
dasarnya tidak disetujui oleh wanita yang bersangkutan karena berbagai alasan,
misalnya merasa tertipu, cemas terjadi kehamilan atau karena ketakutan diketahui
orangtuanya bahwa dia sudah pernah bersetubuh maka mengaku disetubuhi secara
paksa. Jika korban benar telah diperkosa biasanya akan segera melapor. Pada
pelaporan yang terlambat, ada kemungkinan pula karena korban diancam untuk tidak
melapor ke polisi.
Hal selanjutnya yang ditanyakan adalah tempat kejadian. Adanya rumput, tanah dan
lainnya yang melekat pada pakaian dan tubuh korban dapat dijadikan petunjuk dalam
pencarian trace evidence yang berasal dari tempat kejadian. Perlu diketahui pula
apakah korban melawan. Jika korban melawan maka pada pakaian mungkin
ditemukan robekan, pada tubuh korban akan ditemukan tanda-tanda bekas kekerasan
dan pada alat kelamin mungkin terdapat bekas perlawanan. Kerokan kuku mungkin
menunjukkan

adanya

sel-sel

epitel

kulit

dan

darah

yang

berasal

dari

pemerkosa/penyerang. Temukan adanya kemungkinan korban menjadi pingsan karena


ketakutan atau dibuat pingsan dengan pemberian obat tidur/bius. Dalam hal ini
diperlukan sampel pengambilan urin dan darah untuk pemeriksaan toksikologik.
Tanyakan apakah setelah kejadian korban mencuci, mandi, dan mengganti pakaian.
2. Pemeriksaan pakaian
Pakaian diteliti helai demi helai, apakah terdapat, robekan lama atau baru sepanjang
jahitan atau melintang pada pakaian, kancing terputus akibat tarikan, bercak darah, air
mani, Lumpur dsb. yang berasal dari tempat kejadian. Catat apakah pakaian dalam
keadaan rapi atau tidak, benda-benda yang melekat dan pakaian yang mengandung
trace evidence dikirim ke laboratorium kriminologi untuk pemeriksaan lebih lanjut. 5
3. Pemeriksaan tubuh korban
Pemeriksaan tubuh meliputi pemeriksaan umum; lukiskan penampilannya (rambut
dan wajah), rapi atau kusut, keadaan emosional, tenang atau sedih dsb. Adakah tandatanda bekas kehilangan kesadaran atau diberikan obat tidur/bius. Dicatat pula pupil,
refleks cahaya, pupil pinpoint, tinggi dan berat badan, tekanan darah, keadaan
jantung, paru dan abdomen.
11

4. Pemeriksaan genital
Pada vulva, teliti adanya tanda-tanda bekas kekerasan, seperti hiperemi, edema,
memar, dan luka lecet (goresan kuku). Introitus vagina apakah hiperemi/edema.
Dengan kapas lidi mengambil bahan untuk pemeriksaan sperma dari vestibulum.
Periksa jenis selaput dara, adakah rupture atau tidak. Bila ada tentukan rupture baru
atau lama dan catat lokasi rupture tersebut, teliti apakah sampai ke insertion atau
tidak. Tentukan besar orifisium, sebesar ujung jari kelingking, jari telunjuk atau 2 jari.
Sebagai gantinya juga boleh ditentukan ukuran lingkaran orifisium, dengan cara ujung
kelingking atau telunjuk dimasukkan dengan hati-hati ke dalam orifisium sampai
terasa tepi selaput dara menjepit ujung jari, beri tanda pada sarung tangan dan
lingkaran pada titik itu diukur. Ukuran pada serang perawan kira-kira 2.5 cm.
Lingkaran yang memungkinkan persetubuhan dapat terjadi menurut Voight adalah
minimal 9 cm.
Harus diingat bahwa pada persetubuhan tidak selalu disertai dengan deflorasi. Pada
ruptur lama, robekan menjalar sampai ke insertio disertai adanya parut pada jaringan
di bawahnya. Ruptur yang tidak sampai ke insertio, bila sudah sembuh tidak dapat
dikenal lagi.
Periksa pula apakah frenulum labiorum pudendi dan commisura labiorum posterior
utuh atau tidak. Periksa vagina dan serviks dengan spekulum, bila keadaan alat genital
mengijinkan. Adakah tanda penyakit kelamin.
Pada daerah genitalia juga diperiksa ada/ tidaknya rambut kemaluan yang saling
melekat menjadi satu karena air mani yang mengering, gunting untuk pemeriksaan
laboratorium. Selain itu juga dapat dilakukan penyisiran rambut kemaluan dan
kemudian mengumpulkan rambut kemaluan yang terlepas, untuk diperiksa lebih
lanjut di laboratorium,apakah benar milik korban atau kemungkinan milik pelaku. 5
5. Pemeriksaan laboratorium
Pemeriksaan Swab Vagina, Oral, dan Anal (Anus)
Cairan mani merupakan cairan agak putih kekuningan, keruh dan berbau khas. Cairan
mani pada saat ejakulasi kental kemudian akibat enzim proteolitik menjadi cair dalam

12

waktu yang singkat (10 20 menit). Dalam keadaan normal, volume cairan mani 3
5 ml pada 1 kali ejakulasi dengan pH 7,2 7,6.
Cairan mani mengandung spermatozoa, sel-sel epitel dan sel-sel lain yang tersuspensi
dalam cairan yang disebut plasma seminal yang mengandung spermion dan beberapa
enzim sepertri fosfatase asam. Spermatozoa mempunyai bentuk yang khas untuk
spesies tertentu dengan jumlah yang bervariasi, biasanya antara 60 sampai 120 juta
per ml.
Sperma itu sendiri didalam liang vagina masih dapat bergerak dalam waktu 4 5 jam
post-coitus; sperma masih dapat ditemukan tidak bergerak sampai sekitar 24-36 jam
post coital dan bila wanitanya mati masih akan dapat ditemukan 7-8 hari. 6

Identifikasi Spermatozoa
Vaginal dan cervic swab
Merupakan cara yang terbaik untuk mendapatkan bukti telah terjadinya
persetubuhan yang masih baru.Akan tetapi, terkadang pada beberapa
kasus sperma bisa tidak diketemukan, misalnya pada orang yang sudah
vasektomi atau cairan maninya sendiri tidak mengandung sperma.
Oral / anal swab
Swab pada bagian rectum rectum/bukal/palatum dengan lidi yang dililiti
kapas lalu diolesi ke kaca objek untuk diperiksa apakah sperma +/-

Teknik Pengambilan bahan untuk pemeriksaan laboratorium untuk pemeriksaan cairan mani
dan sel mani dalam lendir vagina, yaitu dengan mengambil lendir vagina menggunakan pipet
pasteur atau diambil dengan ose batang gelas, atau swab. Bahan diambil dari forniks
posterior, bila mungkin dengan spekulum. Pada anak-anak atau bila selaput darah masih utuh,
pengambilan bahan sebaiknya dibatasi dari vestibulum saja. 6
Pemeriksaan yang dapat dilakukan meliputi :
1. Penentuan spermatozoa (mikroskopis)
Tujuan : Menentukan adanya sperma
- Bahan pemeriksaan : cairan vagina, oral atau anal
13

- Metode pemeriksaan :
Tanpa pewarnaan
Untuk melihat motilitas spermatozoa. Pemeriksaan ini paling bermakna untuk
memperkirakan saat terjadinya persetubuhan
Cara pemeriksaan :
Letakkan satu tetes cairan vagina pada kaca objek kemudian ditutup. Periksa dibawah
mikroskop dengan pembesaran 500 kali. Perhatikan pergerakkan spermatozoa
Hasil :
Umumnya disepakati dalam 2 3 jam setelah persetubuhan masih dapat ditemukan
spermatozoa yang bergerak dalam vagina. Haid akan memperpanjang waktu ini
sampai 3 4 jam. Berdasarkan beberapa penelitian, dapat disimpulkan bahwa
spermatozoa masih dapat ditemukan 3 hari, kadang kadang sampai 6 hari pasca
persetubuhan. Pada orang mati, spermatozoa masih dapat ditemukan hingga 2 minggu
pasca persetubuhan, bahkan mungkin lebih lama lagi.
Dengan Pewarnaan
Cara pemeriksaan :
Buat sediaan apus dan fiksasi dengan melewatkan gelas sediaan apus tersebut pada
nyala api. Pulas dengan HE, biru metilen atau hijau malakit
Cara pewarnaan yang mudah dan baik untuk kepentingan forensik adalah pulasan
dengan hijau malakit dengan prosedur sebagian berikut :
Buat sediaan apus dari cairan vaginal pada gelas objek, keringkan diudara, dan fiksasi
dengan melewatkan gelas sediaan apus tersebut pada nyala api, warnai dengan
Malachite-green 1% dalam air, tunggu 10-15 menit, cuci dengan air, warnai dengan
larutan Eosin Yellowish 1 % dalam air, tunggu selama 1 menit, cuci lagi dengan air,
keringkan dan periksa dibawah mikroskop.
Hasil :

14

Keuntungan dengan pulasan ini adalah inti sel epitel dan leukosit tidak terdiferensiasi,
sel epitel berwarna merah muda merata dan leukosit tidak terwarnai. Kepala
spermatozoa tampak merah dan lehernya merah muda, ekornya berwarna hijau. Bila
persetubuhan tidak ditemukan, belum tentu dalam vagina tidak ada ejakulat karena
kemungkinan azoosperma atau pascavasektomi. Bila hal ini terjadi, maka perlu
dilakukan penentuan cairan mani dalam cairan vagina.
2. Penentuan Cairan Mani (kimiawi)
Untuk membuktikan terjadinya ejakulasi pada persetubuhan dari ditemukan cairan
mani dalam sekret vagina, perlu dideteksi adanya zat-zat yang banyak terdapat dalam
cairan mani, yaitu dengan pemeriksaan laboratorium :
a. Reaksi Fosfatase Asam

Merupakan tes penyaring adanya cairan mani, menentukan apakah bercak


tersebut adalah bercak mani atau bukan, sehingga harus selalu dilakukan pada
setiap sampel yang diduga cairan mani sebelum dilakukan pemeriksaan lain.
Reaksi fosfatase asam dilakukan bila pada pemeriksaan tidak ditemukan sel
spermatozoa. Tes ini tidak spesifik, hasil positif semu dapat terjadi pada feses,
air teh, kontrasepsi, sari buah dan tumbuh-tumbuhan.
Dasar reaksi (prinsip) :
Adanya enzim fosfatase asam dalam kadar tinggi yang dihasilkan oleh
kelenjar prostat. Enzim fosfatase asam menghidrolisis natrium alfa naftil
fosfat. Alfa naftol yang telah dibebaskan akan bereaksi dengan brentamin
menghasilkan zat warna azo yang berwarna biru ungu. Bahan pemeriksaan
yang digunakan adalah cairan vaginal.
Reagen :
Larutan A
Brentamin Fast Blue B 1 g (1)
Natrium

asetat trihidrat 20 g (2)


Asam

asetat glasial 10 ml (3)

15

Askuades

100 ml (4)
(2) dan (3) dilarutkan dalam (4) untuk menghasilkan larutan penyangga
dengan pH 5, kemudian (1) dilarutkan dalam larutan peyangga tersebut.
Larutan B
Natrium alfa naftil fosfat 800 mg + aquades 10 ml.
89 ml Larutan A ditambah 1 ml larutan B, lalu saring cepat ke dalam botol
yang berwarna gelap. Jika disimpan dilemari es, reagen ini dapat bertahan
berminggu-minggu dan adanya endapan tidak akan mengganggu reaksi.
Cara pemeriksaan :
Bahan yang dicurigai ditempelkan pada kertas saring yang terlebih dahulu
dibasahi dengan aquades selama beberapa menit. Kemudian kertas saring
diangkat dan disemprotkan / diteteskan dengan reagen. Ditentukan waktu
reaksi dari saat penyemprotan sampai timbul warna ungu, karena intensitas
warna maksimal tercapai secara berangsur-angsur.
Hasil :
Bercak yang tidak mengandung enzim fosfatase memberikan warna serentak
dengan intensitas tetap, sedangkan bercak yang mengandung enzim tersebut
memberikan intensitas warna secara berangsur-angsur.
Waktu reaksi 30 detik merupakan indikasi kuat adanya cairan mani. Bila 30
65 detik, masih perlu dikuatkan dengan pemeriksaan elektroforesis. Waktu
reaksi > 65 detik, belum dapat menyatakan sepenuhnya tidak terdapat cairan
mani karena pernah ditemukan waktu reaksi > 65 detik tetapi spermatozoa
positif.
Enzim fosfatase asam yang terdapat di dalam vagina memberikan waktu reaksi
rata-rata 90 100 detik. Kehamilan, adanya bakteri-bakteri dan jamur, dapat
mempercepat waktu reaksi.
b. Reaksi Florence

16

Reaksi ini dilakukan bila terdapat azoospermia/tidak ditemukan spermatozoa


atau cara lain untuk menentukan semen tidak dapat dilakukan.
Dasar :
Menentukan adanya kolin.
Reagen (larutan lugol) dapat dibuat dari :
Kalium

yodida 1,5 g
Yodium

2,5 g
Akuades

30 ml
Cara pemeriksaan :
Cairan vaginal ditetesi larutan reagen, kemudian lihat dibawah mikroskop.
Hasil :
Bila terdapat mani, tampak kristal kolin periodida coklat berbentuk jarum
dengan ujung sering terbelah.
Test ini tidak khas untuk cairan mani karena bahan yang berasal dari
tumbuhan atau binatang akan memperlihatkan kristal yang serupa tetapi hasil
postif pada test ini dapat menentukan kemungkinan terdapat cairan mani dan
hasil negative menentukan kemungkinan lain selain cairan mani.

c. Reaksi Berberio

Reaksi ini dilakukan dan mempunyai arti bila mikroskopik tidak ditemukan
spermatozoa.
Dasar reaksi :
Menentukan adanya spermin dalam semen.
Reagen : Larutan asam pikrat jenuh.
Cara pemeriksaan (sama seperti pada reaksi Florence) :

17

Bercak diekstraksi dengan sedikit akuades. Ekstrak diletakkan pada kaca


objek, biarkan mengering, tutup dengan kaca penutup. Reagen dialirkan
dengan pipet dibawah kaca penutup.
Hasil :
Hasil positif bila, didapatkan kristal spermin pikrat kekuningan berbentuk
jarum dengan ujung tumpul. Kadang-kadang terdapat garis refraksi yang
terletak longitudinal. Kristal mungkin pula berbentuk ovoid.
3. Penentuan Golongan Darah ABO Pada Cairan Mani
Pada individu yang termasuk golongan sekretor (85% dari populasi), substansi
golongan darah dapat dideteksi dalam cairan tubuhnya seperti air liur, sekret vagina,
cairan mani, dan lain-lain. Substansi golongan darah dalam cairan mani jauh lebih
banyak dari pada air liur (2 100 kali). Hanya golongan sekretor saja yang golongan
darahnya dapat ditentukan dalam semen yaitu dilakukan dengan cara absorpsi
inhibisi.
Table. Gambaran substansi golongan darah dalam bahan pemeriksaan yang
berasal dari forniks posterior vagina.

Hasil :
Adanya substansi asing menunjukkan di dalam vagina wanita tersebut
terdapat cairan mani.
Pemeriksaan Kerokan Kuku

18

Sample pemeriksaan diambil dari jaringan epidermis dan darah (bila ada) dari bawah
kuku korban. Terkadang bisa ditemukan adanya epitel jaringan kulit di bawah kuku si
korban atau bercak darah untuk mekanisme pertahanan.
Pemeriksaan Trace Evidence
Pada pakaian yang dipakai ketika terjadi persetubuhan harus diperiksa. Bila fasilitas
untuk pemeriksaan tidak ada, kirim ke laboratorium forensik di kepolian atau bagian
ilmu

kedokteran

Forensik,

dibungkus,

segel

serta

membuat

berita

acara

pembungkusan dan penyegelan. 5,6


Pemeriksaan Bercak Mani Pada Pakaian
Secara visual
Bercak mani berbatas tegas dan warnanya lebih gelap daripada sekitarnya. Bercak
yang sudah agak tua berwarna kekuningan.
-

Pada bahan sutera / nilon, batas sering tidak jelas, tetapi selalu lebih gelap
daripada sekitarnya.

Pada tekstil yang tidak menyerap, bercak segar menunjukkan permukaan


mengkilat dan translusen kemudian mengering. Dalam waktu kira-kira 1 bulan
akan berwarna kuning sampai coklat.

Pada tekstil yang menyerap, bercak segar tidak berwarna atau bertepi kelabu
yang berangsur-angsur menguning sampai coklat dalam waktu 1 bulan

Dibawah sinar ultraviolet, bercak semen menunjukkan flouresensi putih.


Bercak pada sutera buatan atau nilon mungkin tidak berflouresensi.
Flouresensi terlihat jelas pada bercak mani pada bahan yang terbuat dari
serabut katun. Bahan makanan, urin, sekret vagina, dan serbuk deterjen yang
tersisa pada pakaian sering berflouresensi juga.

Secara taktil (perabaan)


Bercak mani teraba kaku seperti kanji. Pada tekstil yang tidak menyerap, bila
tidak teraba kaku, masih dapat dikenali dari permukaan bercak yang teraba kasar.
Uji pewarnaan Baecchi
Reagen dapat dibuat dari :
-

Asam fukhsin 1 % 1 ml
19

Biru metilen 1 % 1 ml

Asam klorida 1 % 40 ml

Cara Pemeriksaan :
Gunting bercak yang dicurigai sebesar 5 mm x 5 mm pada bagian pusat bercak.
Bahan dipulas dengan reagen Baecchi selama 2 5 menit, dicuci dalam HCL 1 %
dan dilakukan dehidrasi berturut-turut dalam alkohol 70 %, 80 % dan 95 100 %
(absolut). Lalu dijernihkan dalam xylol (2x)dan keringkan di antara kertas saring.
Ambillah 1 2 helai benang dengan jarum.Letakkan pada gelas objek dan uraikan
sampai serabut-serabut saling terpisah. Tutup dengan kaca penutup dan balsem
Kanada. Periksa dengan mikroskop pembesaran 400 x.
Hasil : Serabut pakaian tidak berwarna, spermatozoa dengan kepala berwarna
merah dan ekor berwarna merah muda terlihat banyak menempel pada
serabut benang.
Pemeriksaan rambut kelamin
Pemeriksaan rambut maupun rambut kelamin dapat memakai identifikasi pada manusia.
Rambut manusia dapat dibedakan denga serat-serat yang mirip rambut, bahkan masih
dapat dibedakan dari rambut (bulu) hewan. Dari rambut dapat ditentukan golongan darah
sipemilik rambut. Bahkan masih dapat ditentukan jenis kelamin, meskipun secara teknis
agak sulit dikerjakan. Namun demikian, pemeriksaan rambut ini masih dapat
dipergunakan untuk membantu identifikasi seseorang.
Pemeriksaan Golongan Darah Rambut
Cara penentuan golongan darah rambut
- Ambil sehelai rambut, dicuci dengan aquadest dan kemudian dengan aceton.
- Setelah dikeringkan, lalu dipotong-potong kira-kira dalam ukuran 1-2 cm.
- Semua potongan dimasukkan dalam mortir, laludigurus, supaya lapisan luarnya rusak.
- Gurusan rambut tersebut dimasukkan dalam 3 tabung reaksi.
Tabung pertama ditambah dengan anti serum A
Tabung kedua ditambah dengan anti serum B
Tabung ketiga ditambah dengan anti serum H (O).
Ketiga tabung tersebut didiamkan di dalam es (tempetatur 40c) selama satu malam.
20

- Anti serum dibuang, lalu dicuci dengan Nacl dan ditempatkan pada suhu 560c, selama
10 menit.
- Cairan dipindahkan ke tabung lian dan pada masing-masing tabung dimasukkan
suspensi erithrosit yang sesuai.
- Tunggu lima menit, lalu dipusign dalam sentrifuge dengan kecepatan 1.000 putaran
permenit, selama satu menit.
- Lihatlah apakah ada aglunitasi.
6. Tanda kekerasan
Yang dimaksud dengan kekerasan pada delik susila adalah kekerasan yang
menunjukkan adanya unsur pemaksaan, seperti jejas bekapan pada hidung, mulut dan
bibir, jejas cekik pada leher, kekerasan pada kepala, luka lecet pada punggung atau
bokong akibat penekanan, memar pada lengan atas dan paha akibat pembukaan secara
paksa, luka lecet pada pergelangan tangan akibat pencekalan dsb.
Adanya luka-luka ini harus dibedakan dengan luka-luka akibat "foreplay" pada
persetubuhan yang "biasa" seperti luka isap (cupang) pada leher, daerah payudara atau
sekitar kemaluan, cakaran pada punggung (yang sering -terjadi saat orgasme) dsb.
Luka-luka yang terakhir ini memang merupakan kekerasan tetapi bukan kekerasan
yang dimaksud pada delik perkosaan. Adanya luka-luka jenis ini harus dinyatakan
secara jelas dalam kesimpulan visum et repertum untuk menghindari kesalahan
interpretasi oleh aparat penegak hukum.
Tanpa adanya kejelasan ini suatu kasus persetubuhan biasa bisa disalahtafsirkan
sebagai perkosaan yang berakibat hukumannya menjadi lebih berat.
Pemeriksaan toksikologi untuk beberapa jenis obat-obatan yang umum digunakan
untuk membuat orang mabuk atau pingsan perlu pula dilakukan, karena tindakan
membuat orang mabuk atau pingsan secara sengaja dikategorikan juga sebagai
kekerasan. Obat-obatan yang perlu diperiksa adalah obat penenang, alkohol, obat
tidur, obat perangsang (termasuk ecstasy) dsb. 7
7. Tanda persetubuhan
Tanda persetubuhan secara garis besar dapat dibagi dalam tanda penetrasi dan tanda
ejakulasi.
Tanda penetrasi biasanya hanya jelas ditemukan pada korban yang masih kecil atau
belum pernah melahirkan atau nullipara. Pada korban-korban ini penetrasi dapat
21

menyebabkan terjadinya robekan selaput dara sampai ke dasar pada lokasi pukul 5
sampai 7, luka lecet, memar sampai luka robek baik di daerah liang vagina, bibir
kemaluan maupun daerah perineum. Adanya penyakit keputihan akibat jamur Candida
misalnya dapat menunjukkan adanya erosi yang dapat disalah artikan sebagai luka
lecet oleh pemeriksa yang kurang berpengalaman. Tidak ditemukannya luka-luka
tersebut pada korban yang bukan nulipara tidak menyingkirkan kemungkinan adanya
penetrasi.
Tanda ejakulasi bukanlah tanda yang harus ditemukan pada persetubuhan, meskipun
adanya ejakulasi memudahkan kita secara pasti menyatakan bahwa telah terjadi
persetubuhan. Ejakulasi dibuktikan dengan pemeriksaan ada tidaknya sperma dan
komponen cairan mani.
Usapan lidi kapas diambil dari daerah labia minora, liang vagina dan kulit yang
menunjukkan adanya kerak. Adanya rambut kemaluan yang menggumpal harus
diambil dengan cara digunting, karena umumnya merupakan akibat ejakulasi di
daerah luar vagina.
Untuk mendeteksi ada tidaknya sel mani dari bahan swab dapat dilakukan
pemeriksaan mikroskopik secara langsung terhadap ekstrak atau dengan Pembuatan
preparat tipis yang diwarnai dengan pewarnaan malachite green atau christmas tree.
Adanya cairan mani dicari dengan pemeriksaan terhadap beberapa komponen sekret
kelenjar kelamin pria (khususnya kelenjar prostat) yaitu spermin (dengan uji
Florence), cholin (dengan uji Berberio) dan zink (dengan uji PAN) . Suatu temuan
berupa sel sperma negatif tapi komponen cairan mani positip menunjukkan
kemungkinan ejakulasi oleh pria yang tak memiliki sel sperma (azoospermi) atau
telah menjalani sterilisasi atau vasektomi. 7
Aspek Psikososial
Perubahan Psikologis pada Korban Penganiayaan Seksual : 8
1. Fase pertama atau akut (beberapa hari setelah kejadian) :
-

Anak sering menangis atau diam sama sekali.

Anak merasa tegang, takut, khawatir, malu, terhina, dendam dan sebagainya

2. Fase kedua atau adaptasi :


22

Rasa takut atau marah dapat dikendalikan dengan represi atau rasionalisasi

3. Fase ketiga atau fase reoganisasi


-

Depresi yang dapat berlangsung lama

Sering sulit tidur, mimpi buruk dan sulit melupakan kejadian yang telah
menimpanya

Takut melihat orang banyak atau orang yang berada dibelakangnya

Takut terhadap hubungan seksual

Dampak Penganiayaan Seksual terhadap Anak : 8


Gangguan/masalah kejiwaan yang dapat timbul

Pelbagai gejala kecemasan seperti misalnya fobia, insomnia dan sebagainya dan dapat
juga berupa Gangguan Stres Pasca Trauma.

Gejala diosiatif dan histerik.

Rasa rendah diri dan kecenderungan untuk bunuh diri yang menunjukkan terdapatnya
depresi.

Keluhan somatik seperti enuresis, enkoporesis serta keluhan somatik lainnya.

Gangguan perilaku seksual : masturbasi, sexual hyeraousal.

Interprestasi Hasil
Menurut hasil temuan pemeriksaan, ditemukan robekan baru selaput dara pada lokasi
pukul lima sampai tujuh sesuai dengan arah jarum jam dan ditemukannya sel spermatozoa
yang telah mati di dalam liang vagina, pada pemeriksaan berberio didapatkan kristal spermin
pikrat kekuningan berbentuk jarum dengan ujung tumpul. Ditemukan

tanda

kekerasan

berupa bekas kuku tersangka yang membentuk bulan sabit pada leher korban.
Dari temuan di atas dapat ditarik sebuah kesimpulan dimana telah terjadi persetubuhan
terhadap korban karena telah ditemukan robekan baru pada selaput dara dalam waktu kurang
dari 7 hari. Persetubuhan terakhir telah terjadi lebih dari 3 jam sebelum pemeriksaan, terbukti
dari ditemukannya spermatozoa yang telah mati/ tidak bergerak aktif lagi pada pemeriksaan
swap vagina korban.

23

DEPARTEMEN ILMU KEDOKTERAN FORENSIK


Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana
Jalan Arjuna Utara No 6 Jakarta Barat 11470

Jakarta, 6 Januri 2015


PROJUSTITIA
Visum et Repertum
No.10/TU.RSJRS/IV/2013
Yang bertanda tangan di bawah ini, dr. Andri Prianto, dokter pada Rumah Sakit UKRIDA ,
menerangkan bahwa atas permintaan tertulis dari Kepolisian Resort Polisi Jakarta Selatan
dengan suratnya nomor VER10/12/2014 tertanggal 6 Januari 2015, maka pada tanggal enam
Januari tahun dua ribu lima belas, pukul sepuluh lewat lima belas menit Waktu Indonesia
bagian Barat, bertempat di RS UKRIDA telah melakukan pemeriksaan korban dengan nomor
registrasi 123-789 yang menurut surat permintaan tersebut adalah :------------------------------24

Nama

: M --------------------------------------------------------------------------------

Jenis kelamin :

Perempuan

---------------------------------------------------------------------Umur

: 14 tahun -------------------------------------------------------------------------

Kebangsaan

: Indonesia -----------------------------------------------------------------------

Agama

: Islam ----------------------------------------------------------------------------

Pekerjaan

: Pelajar---------------------------------------------------------------------------

Alamat

: Jl. Zamrud 2 no. 861, Tangerang --------------------------------------------

HASIL PEMERIKSAAN:------------------------------------------------------------------------------1. Korban datang dalam keadaan sadar, dengan keadaan umum baik. Korban mengaku
diajak pergi oleh teman laki-lakinya ke daerah bandung pada tanggal empat belas
Desember tahun dua ribu tiga belas. Saat berada di villa dihari ke dua pada malam
harinya korban dan pacarnya sedang menonton tv, pertama-tama pacarnya pegangpegang tangan korban, tiba-tiba pacarnya mau memperkosa korban, namun korban
tidak mau dan mulai membela diri. Tetapi pacarnya mengikat tangan korban dan
korban tidak berdaya. Pada hari ke tiga korban melapor kepada ayahnya dan ayahnya
melapor ke kepolisian----------------------------------------------------------------------------2. Pada korban ditemukan: ----------------------------------------------------------------------a. Pakaian robek dan kancing baju terlepas. -------------------------------------------b. Terdapat luka lecet di kedua bagian pergelangan tangan.--------------------------c. Terdapat bekas gigitan pada payudara sebelah kiri. Berbatas tegas dan

berwarna kemerahan pucat. Bekas gigitan pada payudara kiri terdapat pada
sekitar

putting

susu.

---------------------------------------------------------------------d. Ditemukan bercak mani di perut dekat umbilikus.----------------------------------e. Ditemukannya bercak mani di celana dalam. ---------------------------------------f.

Terdapat luka lecet di kedua paha bagian dalam. ------------------------------------

g. Ditemukannya rambut kemaluan yang saling melekat menjadi satu. ------------h. Pada daerah permukaan depan vagina ditemukan adanya luka lecet dan

kemerahan.-------------------------------------------------------------------------------i.

Terdapat robekan pada selaput dara yang sampai ke pangkal pada arah jam
tujuh. Robekan disertai bercak darah mengering. -----------------------------------

3. Terhadap Korban Dilakukan: ------------------------------------------------------------------25

a. Pemeriksaan laboratorium dengan bahan pulas lendir vagina didapatkan

adanya sel spermatozoa. ---------------------------------------------------------------b. Pemeriksaan Fosfatase Asam pada baju dan celana dalam korban, ditemukan

adanya perubahan warna menjadi violet. --------------------------------------------c. Pemeriksaan Sinar Ultra Violet pada celana dalam dan baju korban ditemukan

fluoresensi putih. ------------------------------------------------------------------------d. Pemeriksaan Uji Pewarnaan Baecchi pada celana dalam dan baju korban,

ditemukan adanya sel spermatozoa.---------------------------------------------------e. Pemeriksaan fosfatase asam pada rambut pubis yang melengket ditemukannya

perubahan warna menjadi ungu.-------------------------------------------------------f.

Pembersihan luka/Wound Toilet. ------------------------------------------------------

g. Pemberian analgetika. -------------------------------------------------------------------

4. Korban dipulangkan. ----------------------------------------------------------------------------KESIMPULAN

-----------------------------------------------------------------------------------------Pada pemeriksaan korban seorang perempuan berumur 14 tahun ini ditemukan adanya luka
lecet di kedua pergelangan tangan, robekan pada selaput dara sampai ke pangkal pada arah
jam tujuh dengan bercak darah mengering, luka lecet pada permukaan bawah depan vagina,
sel spermatozoa pada pemeriksaan laboratorium bahan pulasan lendir vagina, luka memar
dan bengkak pada payudara kiri, yang menandakan memang benar terjadi persetubuhan
dengan tindakan kekerasan.------------------------------------------------------------------------------Demikianlah Visum et Repertum ini saya buat dengan sesungguhnya berdasarkan keilmuan
saya dan dengan mengingat sumpah sesuai dengan Kitab Undang-undang Hukum Acara
Pidana.
Dokter Pemeriksa
dr. Andi Prianto
SIP: 102010273

26

DAFTAR PUSTAKA
1. Aspek psikososial kejahatan susila. Diunduh dari:
http://www.scribd.com/doc/54031577/KASUS-3, 4 januari 2015.
2. Staff Pengajar bagian Kedokteran Forensik FKUI. Peraturan perundangan di bidang
kesehatan. Peraturan perundang-undangan bidang kedokteran. Edisi pertama, Cetakan
kedua, Jakarta: FKUI, 1994.p.32 6.
3. Undang-undang Republik Indonesia Nomor 23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak.
Unicef, Indonesia.
4. Staff Pengajar bagian Kedokteran Forensik

FKUI. Prosedur medikolegal. Peraturan

perundang undangan bidang kedokteran. Edisi pertama, Cetakan kedua, Jakarta: FKUI,
1994.p.11 8.
27

5. Budiyanto, A., Widiatmaka, W., Sudiono, S., Winardi, T., Idries, AM., Sidhi, dkk.
Pemeriksaan medik pada kasus kejahatan seksual. Ilmu kedokteran forensik. Edisi I.
Jakarta: FKUI, 1997.p.184 96.
6. Budiyanto, A., Widiatmaka, W., Sudiono, S., Winardi, T., Idries, AM., Sidhi, dkk.
Pemeriksaan laboratorium forensic sederhana. Ilmu kedokteran forensik. Edisi I. Jakarta:
FKUI, 1997.p.184 96.
7. Anonym. Issues in Human and Animal Bite Mark Analysis. 2009. Diunduh dari:
http://www.forensic.to/webhome/bitemarks/. 4 Januari 2015
8. Dampak Psikososial Korban Perkosaan. Diunduh dari
www.depkes.go.id/downloads/Psikososial.PDF. 4 Januari 2015

28