Anda di halaman 1dari 29

1

BAB I
PENDAHULUAN

1. 1

Latar Belakang
Kota adalah sebuah tempat yang dewasa ini menjadi salah satu

tujuan penduduk dari berbagai daerah untuk mencari penghasilan.


Akibatnya, pertumbuhan populasi penduduk di kota mengalami lonjakan
yang signifikan. Hal tersebut berdampak pada penurunan kualitas
lingkungan kota. Masalah-masalah perkotaan seperti kepadatan lalu
lintas, pencemaran udara, perumahan kumuh, irigasi air yang buruk
semakin tidak terkendali. Sebagai contoh, sedikitnya ada sekitar 686.864
ton polutan yang dihasilakan oleh Kota Jakarta dalam setahun, dan 60
persen

dari

polutan

tersebut

merupakan

gas

berbahaya

karbonmonoksida (CO) (Setyawan, 2013). Berdasarkan data di kantor


Badan Pengelolaan Lingkungan Hidup Daerah Jakarta menyebutkan
tingkat pencemaran air yang sebagian besar terkontaminasi e coli dan
coliform telah mencapai 50 persen. Bahkan di beberapa wilayah,
pencemaran airnya sudah 90 persen (Tempo.com, 2006). Keadaan ini
dapat menimbulkan masalah kesehatan karena lingkungan yang tidak
sehat dapat menjadi etiologi penyakit dan menyebabkan
angka mortalitas penduduk
produktivitas

penduduk

peningkatan

sehingga berdampak pada penurunan

kota.

Melihat

permasalahan

ini,

maka

pembangunan kota yang sehat sangat penting untuk dilakukan.


Berdasarkan Peraturan Bersama Menteri Dalam Negeri dan
Menteri Kesehatan Nomor 34 tahun 2005, Kota

Sehat

didefinisikan

sebagai suatu kondisi kabupaten/kota yang bersih, nyaman, aman dan


sehat untuk dihuni penduduk, yang dicapai melalui
penerapan

beberapa

tatanan

dan

terselenggaranya

kegiatan yang terintegrasi yang

disepakati masyarakat dan pemerintah daerah.

Untuk mewujudkan kota sehat ini, perawat memiliki andil di


dalamnya. Perawat memiliki peran sebagai tenaga kesehatan untuk
berkontribusi dalam program kota sehat ini. Menurt Asmadi (2008),
perawat memiliki peran sebagai care giver yaitu peran untuk memberikan
pelayanan keperawatan kepada individu, keluarga, kelompok, atau
masyarakat sesuai dengan permasalahan tidak terkecuali permasalahan
yang ditimbulkan oleh lingkungan kota yang tidak sehat. Perawat juga
berperan sebagai educator, perawat dapat memberikan pendidikan
kesehatan kepada masyarakat untuk meningkatkan pengetahuan dan
kesadaran masyarakat mengenai pentingnya lingkungan yang sehat.
Selain itu perawat berperan sebagai peneliti dan manager yang dapat ikut
berkontribusi dalam merencanakan pembangunan kota yang sehat dan
menjadi problem solver terhadap berbagai permasalah lingkungan dan
kesehatan di Kota. Oleh karena itu, sebagai perawat, konsep Kota yang
sehat merupakan hal yang penting untuk dipelajari agar dapat
memaksimalkan perannya sebagai tenaga kesehatan yang memiliki
peran strategis dalam membentuk program Kota Sehat sehingga dapat
menurunkan angka morbiditas penduduk.

1. 2

Batasan Topik
a. Populasi perkotaan
b. Karakteristik perkotaan
c. Konsep Kota Sehat

1.3 Tujuan Penulisan


a. Mengetahui populasi perkotaan
b. Mengetahui karakteristik perkotaan
c. Mengetahui konsep kota sehat

BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Populasi Perkotaan


2.1.1 Populasi Perkotaan
Penduduk kota di Amerika dibawah kepungan di seluruh wilayah
negeri. Masyarakat terpapar dengan penyakit, gangguan kesehatan,
kekerasan, kriminal, kelaparan, kemiskinan, penyalahgunaan obat, dan
kemelaratan

berada

pada

tingkat

mengkhawatirkan.

Meskipun

kemelaratan menjadi masalah baik pada wilayah perkotaan maupun


pedesaan, kemelaratan terbanyak berada di wilayah perkotaan (Saucier &
Janes, 2001).
Suatu populasi perkotaan sekurang-kurangnya 50.000 orang dalam
satu wilayah kesatuan ataupun bukan (departemen perdagangan AS,
1992). Kota mengalami peningkatan jumlah penduduk secara terus
menerus, terutama penduduk dewasa muda, yang bermigrasi dari
pedesaan ke kota dengan harapan untuk mencapai mimpi mereka untuk
sukses. Dengan janji kekayaan dan kehidupan yang baru, orang-orang
yang

masih

muda

tertarik,

terkadang

hanya

untuk

menemukan

ketidakpuasan pada pekerjaan, kemiskinan, dan stress (Goldstein &


Kickbusch, 1996). Beberapa diantaranya tidak dapat menemukan
pekerjaan. Tidak hanya kebanyakan orang bermigrasi ke kota, namun
juga banyak juga yang lahir dan menetap dikota sepanjang hidup mereka
(Saucier & Janes, 2001).
Pendapatan yang rendah dan pengangguran merupakan situasi
yang memacu kemiskinan dan itu menjadi sebuah masalah. Dengan
pertumbuhan populasi yang cepat, pemerintah kota tidak dapat menjaga
langkah dengan kebutuhan masyarakat perkotaan. Nyatanya, kebanyakan
masalah diperkotaan adalah berhubungan dengan pertumbuhan yang
cepat, seperti ketersediaan air bersih yang kurang, polusi udara, kriminal
dan kekerasan, kemiskinan, penyakit, kepadatan, disriminasi
rumah yang tidak adekuat (Goldstein & Kickbusch, 1996).

ras, dan

2.1.2 Tipologi atau Klasifikasi Kota


Berdasarkan Bappenas (2005), secara universal, dasar yang
digunakan dalam pengklasifikasian kota adalah jumlah dan kepadatan
penduduk. Dimana setiap negara tidak sama klasifikasinya:
a. Argentina dan Kanada: Suatu tempa dengan penduduk 1.000 jiwa
sudah dapat disebut kota
b. Amerika Serkat : sekitar 2.500 jiwa
c. Italia, Yunani, dan Spanyol : untuk dapat digolongkan kota,
penduduknya paling sedikit 10.000 jiwa
d. Nederland : menggolongkan kota jika penduduknya paling tidak
20.000 jiwa
e. Indonesia : pada tahun 1971 jumlah penduduk 20.000 jiwa
ditambah dengan fasilitas lainnya yang baru bisa digolongkan
sebuah kota.
Berdasarkan jumlah penduduk, jumlah penduduk 20-50 ribu jiwa
tergolong ke dalam town, jumlah penduduk 50-100 ribu jiwa tergolong
kedalam klasifikasi city, dan jumlah penduduk lebih dari 100 ribu jiwa
maka

kota

(metropolis).

tersebut

diklasifikasikan

kedalam

kota

metropolitan

Di Indonesia, klasifikasi kota hanya meliputi 5 tingkatan

dengan dasar penggolongannya adalah jumlah penduduk. Badan


Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) mengklasifikasikan
kota sebagai berikut (Bappenas, 2005):
a.
b.
c.
d.
e.

Kota Megapolitan populasi >5 juta jiwa


Kota Metropolitan populasi 1-5 juta jiwa
Kota Besar populasi 500.000-1 juta jiwa
Kota sedang populasi 100-500 ribu jiwa
Kota Kecil populasi 20.000-100.000 jiwa

National Urban Development Strategic (NUDS) mengklasifikasikan kota


sampai ke tingkat kecamatan, yaitu:
1. Kota Metropolitan, populasi >1 juta jiwa
2. Kota Besar, populasi 500.000-1 juta jiwa
3. Kota Sedang, populasi 200-500 ribu jiwa

4. Kota Kecil, populasi 20.000-200 ribu jiwa


5. Kota Kecamatan, populasi 3000-20 ribu jiwa
Data jumlah kabupaten dan kota di Indonesia menurut Bappenas pada
tahun 2005:

Sumber: Bappenas, 2005

2.2 Karakteristik Perkotaan


2.2.1 Sejarah Perkembangan dan Karakteristik Kota (Urban)
Masyarakat perkotaan tentunya memiliki perbedaan dengan
masyarakat yang lain. Mereka memiliki ciri dan karakter tersendiri yang
membuat mereka memerlukan ruang lingkup area tersendiri dalam bidang
keperawatan. Menurut Prof. Drs. R. Bintarto, kota adalah suatu sistem
jaringan kehidupan manusia dengan kepadatan penduduk yang tinggi,
strata sosial ekonomi yang heterogen dan corak kehidupan yang
materialistik (Bintarto, 2000).
Sebelum kota menjadi tempat pemukiman yang tetap, pada
mulanya kota sebagai suatu tempat orang pulang balik untuk berjumpa
secara teratur, terdapat semacam daya tarik pada penghuni luar kota
untuk

kegiatan

rohaniah

dan

perdagangan

serta

kegiatan

lain,

penghuninya sebagian besar telah mampu memenuhi kebutuhannya lewat


pasar setempat dan ciri kota ada pasarnya. Dalam suatu kota diisi oleh

suatu golongan spesialis non agraris dan yang berpendidikan dan


merupakan sistem jaringan kehidupan manusia yang ditandai oleh strata
sosial ekonomi yang heterogen serta corak matrialistis. Sedangkan
masyarakat perkotaan adalah masyarakat yang tinggal di kota yaitu di
wilayah yang memiliki kegiatan utama bukan pertanian dan biasanya
mereka tinggal di kota bertujuan untuk memperbaiki hidup mereka.
Masyarakat perkotaan sering disebut urban community, oleh karena itu
urbanisasi adalah perpindahan penduduk dari desa ke kota. Gejala
urbanisasi di sebuah kota dapat dilihat dari jumlah penduduk yang terus
berubah (bertambah) dan terjadi perubahan pada tatanan masyarakat
(Bintarto, 2000).
2.2.2 Karakteristik Masyarakat Kota
Masyarakat perkotaan sering disebut juga urban community.
Pengertian masyarakat kota lebih ditekan pada sifat-sifat kehidupanya
serta

ciri-ciri

kehidupanya

yang

berbeda

dengan

masyarakat

pedesaan.Perhatian khusus masyarakat kota tidak terbatas pada aspekaspek seperti pakaian, makanan dan perumahan, tetapi mempunyai
perhatian lebih luas lagi. Orang orang kota sudah memandang
penggunaan keburuhan hidup, artinya oleh hanya sekadarnya atau apa
adanya. Hal ini disebabkan oleh karena pandangan warga kota
sekitarnya. Kalau menghidangkan makanan misalnya, yang diutamakan
adalah bahwa yang menghidangkan mempunyai kedudukan sosial yang
tinggi. Bila ada tamu misalnya, diusahakan menghidangkan makananmakanan yang ada dalam kaleng. Pada orang-orang desa ada kesan
bahwa mereka memasak makanan itu tanpa perduli apakah tamunya suka
atau tidak. Pada orang kota, makanan yang dihidangkan harus kelihatan
mewah. Orang desa memandang makanan sebagai alat memenuhi
kebutuhan biologis namun orang kota menganggap makanan sebagai alat
memenuhi kebutuhan sosial.
Menurut Harwantiyoko (1997) ada beberapa ciri yang menonjol pada
masyarakat kota, yaitu:

1) Kehidupan keagamaan berkurang dibanding masyarakat desa.


Kegiatan kegiatan keagamaan hanya setempat di tempat tempat
peribadatan,
kehidupan

seperti:

masjid,

masyarakat

gereja.

berada

Sedangkan

dalam

lingkungan

diluar

itu

ekonomi,

perdagangan. Cara kehidupan warga masyarakat desa yang


cenderung kearah keagamaan.
2) Orang kota pada umumnya dapat mengurus dirinya sendiri tanpa
harus bergantung pada orang lain. Di perkotaan kehidupan
keluarga sulit untuk disatukan, sebab perbedaan kepentingan,
paham politik, perbedaan agama dan lain-lain.
3) Pembagian kerja di antara warga-warga kota juga lebih tegas dan
mempunyai batas-batas yang nyata. Misalnya seorang individu
akan

lebih

memilih

bergaul

dengan

teman

sejawatnya

dibandingkan dengan yang memiliki penghasilan lebih. rendah.


Latar belakan pendidikan sangat berpengaruh terhadap pergaulan
masyarakat pekotaan.
4) Kemungkinan mendapat pekerjaan lebih banyak pada warga di
kota daripada di desa. Pekerjaan para warga desa lebih bersifat
seragam, terutama dalam bidang petani namun pekerjaan warga
kota lebih beragam jenis dengan banyak sector.
5) Jalan pikiran rasional

yang pada umumnya dianut masyarakat

perkotaan, menyebabkan bahwa interaksi-interaksi yang terjadi


lebih didasarkan pada factor kepentingan daripada factor probadi.
6) Jalan

kehidupan

yang

cepat

di

kota-kota,

mengakibatkan

pentingnya factor waktu bagi warga kota, sehingga pembagian


waktu

yang

diteliti

sangat

penting,

untuk

dapat

mengejar

kebutuhan-kebutuhan seorang individu.


7) Perubahan-perubahan sosial tampak dengan nyata di kota-kota,
sebab kota-kota biasanya terbuka dalam menerima pengaruhpengaruh dari luar. Hal ini seiring menimbulkan pertentangan
antara golongan tua dengan golongan muda. Oleh karena itu

golongan muda yang belum sepenuhnya terwujud kepribadianya,


lebih sering mengikuti pola-pola baru dalam kehidupanya.

2.2.3 Kriteria Kawasan Perkotaan


Kriteria Kawasan Perkotaan. Merupakan Daerah Kota berdasarkan
ketentuan yang tercantum dalam Lampiran PP No. 129 tahun 2000 :
1. Kemampuan ekonomi; merupakan cerminan hasil kegiatan usaha
perekonomian yang berlangsung di suatu Daerah Kota, yang dapat
diukur dari:
a. PDRB (produk domestik regional bruto)
b. Penerimaan daerah sendiri
2. Potensi daerah; merupakan cerminan tersedianya sumber daya yang
dapat dimanfaatkan dan memberikan sumbangan terhadap penerimaan
daerah dan kesejahteraan masyarakat, yang dapat diukur dari:
a. Lembaga keuangan;
b. Sarana ekonomi;
c. Sarana pendidikan;
d. Sarana kesehatan;
e. Sarana transportasi dan komunikasi;
f. Sarana pariwisata;
g. Ketenagakerjaan.
3. Sosial budaya; merupakan cerminan yang berkaitan dengan struktur
sosial dan pola budaya masyarakat, yang dapat diukur dari:
a. Tempat peribadatan;
b. Tempat/kegiatan institusi sosial dan budaya;
c. Sarana olahraga.
4. Sosial politik; merupakan cerminan kondisi sosial politik masyarakat,
yang dapat diukur dari:
a. Partisipasi masyarakat dalam berpolitik;
b. Organisasi kemasyarakatan.
5. Jumlah penduduk; merupakan jumlah tertentu penduduk suatu
daerah.
6. Luas daerah; merupakan luas tertentu suatu daerah. Pertimbangan
lain yang memungkinkan terselenggaranya otonomi daerah; dapat
diukur dari:
a. Keamanan dan ketertiban;
b. Ketersediaan sarana dan prasarana pemerintahan;
c. Rentang kendali;

d. Kota yang akan dibentuk minimal telah terdiri dari 3 (tiga)


Kecamatan;
2.2.4 Ciri-Ciri Kota
Menurut Bintarto, ciri kota diidentifikasi menjadi 2 macam, yaitu ciri
fisik dan ciri sosial (Khosim, Amir dan Kun Marlina Lubis, 2007).
a. Ciri fisik
1. Terdapat sarana perekonomian seperti pasar, swalayan, dan
supermarket
2. Adanya tempat parkir bagi kendaraan yang memadai
3. Adanya sarana untuk rekreasi dan olahraga yang baik
4. Terdapat lahan terbukan seperti alun - alun
5. Adanya gedung - gedung pemerintahan dan perdagangan
b. Ciri sosial
1. Anggota masyarakat yang beranekaragam (heterogen)
2. Masyarakat individualistis dan materialistis
3. Mata pencaharian non agraris
4. Adanya spesialisasi pekerjaan
5. Adanya kesenjangan sosial dan ekonomi yang dalam
6. Norma keagaam mulai pudar
7. Adanya segregasi keruangan
8. Sistem kekerabatan mulai pudar.

2.2.5 Masalah Kesehatan dan Sosial Pada Masyarakat Perkotaan


Masyarakat perkotaan menghadapi stressor yang lebih banyak
ketimbang masyarakat pedesaan. Walaupun ada beberapa yang masalah
yang juga terdapat pada wilayah pedesaan, masalah kesehatan dan
sosial yang dihubungkan dengan kehidupan pada perkotaan biasanya
lebih nyata. Kemiskinan pada populasi perkotaan menjadi sumber atas
beberapa masalah yang

berkembang pada kota-kota, khususnya

kelaparan, masalah kesehatan, penyakit menular karena terlalu ramainya


orang, kekerasan, kriminalitas, tunawisma, dan tempat tinggal yang tidak
layak (Polednak, 1997). Adapun masalah kesehatan dan sosial pada
masyarakat perkotaan antara lain:
1. Kebutuhan Tempat Tinggal dan Makanan

10

Pada tahun 1997, kota-kota di seluruh Amerika memiliki kebutuhan


yang tak terpenuhi untuk tempat tinggal dan makanan. Sekitar 27% dari
permintaan untuk tempat penampungan oleh tunawisma dan tiga puluh
lima persen dari permintaan penampungan oleh keluarga tunawisma yang
belum terpenuhi pada tahun 1997 (US. Conference of mayor, 1997).
Masalah tumbuh setiap tahun. Pada tahun 1998, pejabat nasional kotakota besar memperkirakan kenaikan 92% dalam permintaan untuk
makanan dan tempat tinggal (US. Conference of mayor, 1997). Tidak ada
pejabat kota memperkirakan penurunan dalam permintaan untuk tahun
berikutnya. Bahkan, pada tahun 1998 survei mengungkapkan bahwa ada
peningkatan pada makanan darurat dan tempat tinggal di seluruh Amerika
(Rosenblum & imgrund, 1999).
2. Tunawisma
Pertumbuhan permasalahan tunawisma menjadi masalah local
(appel & boden, 1999). Tunawisma adalah masalah global. Populasi
tunawisma terletak di daerah perkotaan dan pedesaan. Perempuan,
remaja, penyalahguna zat, keluarga dengan anak-anak, dan orang-orang
dengan penyakit mental merupakan

populasi tunawisma (interagency

council on the homeless, 1994) lezak & edgar, 1996 DHHS, 1995).
Perkiraan anak-anak tunawisma adalah 100.000 pada setiap hari (institute
of Medicine, 1988), yang lebih mengejutkan adalah fakta bahwa setiap
tahun 30% sampai 50% dari semua tunawisma adalah keluarga dengan
anak-anak dan 22% dari semua orang tunawisma adalah anak-anak
(milhaly, 1991: reyes & Waxman, 1998).
a. Populasi Tunawisma Di Amerika
Selama periode 7 hari Maret 1987, statistik menunjukkan bahwa
lebih dari 600.000 orang tunawisma mencari perlindungan dari lingkungan
luar (burt & cohen, 1989) selama 1990

departemen perdagangan AS

(1992) berusaha untuk mengumpulkan statistik tentang jumlah angka di


seluruh negeri untuk data yang dikumpulkan di kota-kota tertentu . Saat
konferensi AS jurusan studi kota tertentu AS setiap tahun untuk menarik
kesimpulan tentang ruang lingkup masalah dan karakteristik populasi

11

tunawisma. Pada tahun 1997, 29 kota dievaluasi oleh konferensi AS


walikota status mereka mengenai kelaparan dan tunawisma.
Penelitian telah memperkirakan jumlah tunawisma di seluruh
Amerika, menunjukkan bahwa jumlah orang yang mengalami tunawisma
bahkan peningkatan dari perkiraan sebelumnya. Pada bagian akhir dari
tahun 1980 sebanyak 9.320.000 orang diyakini menjadi tunawisma
(culhante, dejowski, ibanex, needham & Macchia, 1993). Bahkan lebih
mengejutkan adalah bahwa keluarga adalah segmen yang paling cepat
berkembang dari populasi tunawisma (1997 (US. Conference of mayor,
1997).
b. Populasi Tunawisma di US
Saat ini di Negara US menghadapi masalah-masalah sosial yang
luar biasa (family and youth services bureau, 1996). Namun, tak satu pun
dari masalah ini mengancam kondisi manusia sebanyak tunawisma.
Semua

seluruh

populasi

tunawisma

adalah

masalah

sosial

dari

penyalahgunaan zat, rasisme, kekerasan, pendidikan yang terbatas,


kejahatan dan kemiskinan
Budaya baru tunawisma telah muncul. Jumlah dan komposisi
tunawisma selama dua dekade terakhir abad ke-20 telah menangkap
perhatian dari rakyat Amerika. Individu-individu yang terdiri dari populasi
tunawisma tidak lagi " skid row bums ", gelandangan dan gelandangan
yang ditemukan tahun lalu. Sekarang perempuan, remaja, keluarga
dengan anak-anak, dan orang tua merupakan sebagian besar penduduk
tunawisma (lembaga kedokteran, 1988). Telah ditemukan bahwa wanita
lajang dengan anak-anak akan segera membuat sebagian besar orang
tunawisma (Vladeck, 1990)
Gaya hidup tunawisma merupakan

penghalang untuk praktek

kesehatan yang lebih baik dan dengan demikian menyebabkan masalah


kesehatan yang lebih umum (Flynn, 1997: hatton, 1997). Perawat
kesehatan masyarakat memainkan peran penting dalam meruntuhkan
hambatan yang mencegah praktek kesehatan yang positif dalam budaya
baru ini perempuan tunawisma, pria, dan anak-anak.

12

c. Populasi tunawisma di Indonesia


Globalisasi

dunia

di

bidang

ekonomi

dan

budaya

telah

menyebabkan berbagai krisis yang menggoncang hakekat kemanusiaan,


yakni: peningkatan ketimpangan sosial dan kemiskinan, deteorisasi
ekologi serta perebakan ketegangan sosial. Terlebih dari pada itu,
globalisasi juga ikut mencerabut akar kemandirian komunitas lokal.
Rentetan dampak lanjutan lain dalam proses itu juga menyebabkan
kerentanan ekonomi lokal hingga tidak berdaya menghadapi ragam
bentuk perubahan. Adapun dampak berikutnya yang lebih mencemaskan
lagi terkait dengan persoalan kemandirian masyarakat desa dan kota yang
kian melemah. Ketergantungan mereka terhadap produk dan jasa dari luar
sistem kian tinggi tanpa terkendali. Tak jarang, akhirnya sampai
menimbulkan pola hidup konsumtif, hedonis dan mudah terpengaruh oleh
tekanan penetrasi pasar global dan pada gilirannya mengikis akar-akar
kemandirian masyarakat.
Beberapa ciri pembeda wilayah desa kota memang secara faktual
dapat dilihat secara kasat mata yang menunjukkan bias pembangunan
fisik, sosial, ekonomi, budaya dan lingkungan. Berpijak pada ciri desa-kota
tersebut kota lebih memberikan kesan yang lebih maju dari pada desa.
Kehidupan di perkotaan seolah-olah memberikan suasana menjanjikan
bagi setiap urban yang silau dengan corak kehidupan glamour, penuh
kemewahan, fasilitas sosial dan fasilitas umum memadai, berbagai
gedung menjulang tinggi dan masyarakat bergaya hidup modern. Semua
sisi kehidupan kota seolah memberi kesan kemakmuran hidup. Padahal di
balik itu ternyata beberapa studi yang dilakukan antoso (1991) dan Evers
(1982) menemukan bahwa di sisi lain kehidupan kota yang menunjukkan
kemajuan

terdapat

keterbelakangan

yang

mencerminkan

potret

ketidakberdayaan, kemiskinan yang terkonsentrasi pada pemukiman


kumuh (slum area).
Kehadiran rumah kardus, gubuk dan pondok reyot hanyalah satu
dari sekian ciri untuk menggambarkan potret kemiskinan di perkotaan.
Gambaran ciri lain yang lebih menyedihkan dari kaum miskin kota

13

seringkali kita lihat dari fakta: tingkat ekonomi rendah, tingkat pendidikan
rendah, akses terhadap fasilitas kesehatan lemah, kesulitan memenuhi
kebutuhan pokok, selalu terlilit hutang, pekerjaan tak tetap, lokasi
pekerjaan berpindah-pindah dan sering diuber aparat. Tak jarang, warga
miskin di perkotaan terlibat tindakan kriminal yang meresahkan kehidupan
sosial. Potret lain dari kemiskinan kota yang mengharukan terekam dari
kisah tragis Supriyono yang tidak kuat membayar pengobatan dan
pemakaman anaknya Khairunisa sehingga terpaksa membawanya pulang
ke kampung halaman dengan menaruh jenazah dalam gerobak. Kisah
Supriyono adalah sebuah illustrasi kecil dari setumpukan masalah
kemiskinan di perkotaan yang berlangsung ibarat gunung. Masih banyak
kemalangan lain yang kerap menimpa kaum tak beruntung dari segi
ekonomi ini.
Menyadari

komplesitas

persoalan

kemiskinan

di

perkotaan

mendorong pemerintah Indonesia melakukan beragam upaya untuk


meredusir
penurunan

dampak
jumlah

menggembirakan

yang

dimunculkan.

penduduk

yakni

pada

miskin
kurun

Meski
dalam
waktu

laporan
lingkup
Tahun

mengenai
nasional
1999-2002

diinformasikan jumlah penduduk miskin berkurang 9,57 juta jiwa atau dari
47,97 juta orang menjadi 38,4 juta jiwa. Demikian pada Tahun 2005-2006
menjadi 39,3 juta jiwa dan Tahun 2007 menjadi 37,17 juta jiwa dari total
jumlah penduduk lalu setahun silam menurut versi BPS tinggal 12, 49
persen atau setara dengan 30,02 juta jiwa namun persoalan kemiskinan
tetap urgen diperhatikan secar serius.
3. Kurangnya Pekerjaan
Kurangnya pekerjaan tetap tetap menjadi masalah. Walaupun
begitu, banyak penduduk selalu mencari kesejahteraan dan program
suportif untuk para orang miskin lain sebagai penyebab masalah sosial di
Amerika (Polednak, 1997).
4. Diskriminasi Rasial
Diskriminasi rasial tetap menjadi masalah utama yang belum dapat
dicari penyelesaiannya. Sebuah garis warna, yang dideskripsikan oleh

14

Lewis (1993, p.251), telah menyebabkan kulit putih dan kulit hitam tetap
terpisah.

Terdapat

perbedaan

pendapatan

mayor

dan

pelayanan

kesehatan antara kulit putih dan kulit hitam secara keseluruhan.


Kemiskinan dan terlalu banyaknya populasi kulit hitam telah dihubungkan
dengan terjadinya penyebarang penyakit menular (Polednak, 1997).
Terlampau tingginya tingkat mortalitas bayi baru lahir pada kulit hitam
telah ditemukan pada 38 area metropolitan (Polednak, 1997). Diantara
African-American, telah dicatat sebanyak 10 sampai 25 kematian per 1000
kelahiran hidup, dibandingkan dengan 5 sampai 10 kematian per 1000
kelahiran hidup pada kulit putih. Kurangnya akses pelayanan kesehatan,
rendahnya kualitas perawatan prenatal, kehamilan yang terlalu muda.
Penyebab kematian yang tinggi dibandingkan kulit putih pada kulit hitam
(African-American) pada wilayah perkotaan mencakup penyakit jantung,
penyakit ginjal, dan pembunuhan masal.
Ghetto counterculture : istilah yang digunakan pada pemisahan
yang berlokasi pada area perumahan. Pemisahan perumahan ini
menempatkan kulit hitam pada komunitas kelas rendah, memproduksi
suatu efek konsentrasi pada area tersebut (p. 48). Konsentrasi kulit
hitam pada wilayah kaya raya seperti kota bagian dalam menghasilkan
suatu penundaan spiral pada kondisi manusia. Efek dari konsentrasi
tersebut adalah peningkatan masalah sosial seperti obat-obatan terlarang,
kriminalitas, perusakan gedung, dan miskinnya akses pada pelayanan
kesehatan dan fasilitas lain. Infeksi respirasi, TB (tuberculosis), infeksi
kulit, dan beberapa penyakit lainnya dapat terjadi pada area konsentrasi.
2.3 Keperawatan Kesehatan Masyarakat Perkotaan
Keperawatan kesehatan masyarakat perkotaan ini termasuk dalam
lingkup

keperawatan

komunitas.

Karena

masyarakat

perkotaan

merupakan komunitas yang tinggal di daerah perkotaan dengan semua


keadaan dan kondisi yang ada di lingkungan kota. Keperawatan
masyarakat perkotaan memiliki 8 karakteristik dan merupakan hal yang
penting dalam melakukan praktik (Allender & Spredley, 2005), yaitu:

15

1. Merupakan lahan keperawatan;


2. Merupakan kombinasi antara keperawatan publik dan keperawatan
klinik;
3. Berfokus pada populasi;
4. Menekankan terhadap pencegahan akan penyakit serta adanya
5.
6.
7.
8.

promosi kesehatan dan kesejahteraan diri;


Mempromosikan tanggung jawab klien dan self care;
Menggunakan pengesahan/ pengukuran dan analisa;
Menggunakan prinsip teori organisasi;
Melibatkan kolaborasi interprofesional. Perawat kesehatan masyarakat
perkotaan memiliki peran dalam mengelola perawatan kesehatan
dalam perkotaan tersebut serta menjadi pendidik kesehatan dalam
masyarakat tersebut.

2.4
Konsep Kota Sehat
2.4.1 Pengertian Kota Sehat
Menurut Kementerian Kehutanan (2013), kota sehat adalah suatu
pendekatan

untuk

meningkatkan

kesehatan

masyarakat

dengan

mendorong terciptanya kualitas lingkungan fisik, sosial, budaya dan


produktivitas, serta perekonomian yang sesuai dengan kebutuhan wilayah
perkotaan. Konsep Kota Sehat merupakan pola pendekatan untuk
mencapai kondisi kota/kabupaten yang aman, nyaman dan sehat bagi
warganya melalui upaya peningkatan kualitas lingkungan fisik, sosial dan
budaya

secara

optimal

sehingga

dapat

mendukung

peningkatan

produktivitas dan perekonomian wilayah (atau lebih bertujuan kepada


good governance). Kota Sehat merupakan gerakan untuk mendorong
inisiatif masyarakat (capacity building) menuju hidup sehat
Kota yang sehat adalah salah satu kota yang dapat membuat dan
meningkatkan terus-menerus lingkungan fisik dan sosial dan memperluas
sumber daya komunitas yang dapat membuat orang saling mendukung
satu sama lain dalam melaksanakan semua fungsi kehidupan dan
mengembangkan potensi maksimum mereka (WHO, 1998 dikutip dalam
http://www.who.int/healthy_settings/types/cities/en/, diakses pada tanggal
17 Juni 2015).

16

2.4.2 Sejarah Kota Sehat


Pendekatan Kota Sehat pertama kali dikembangkan di Eropa oleh
WHO pada tahun 1984 sebagai strategi menyongsong Ottawa Charter,
yang menekankan kesehatan untuk semua yang dapat dicapai dan
langgeng, jika semua aspek sosial, ekonomi lingkungan dan budaya
diperhatikan.

Oleh

karena

itu

konsep

kota

sehat

tidak

hanya

memfokuskan kepada pelayanan kesehatan semata, tetapi lebih kepada


aspek menyeluruh yang mempengaruhi kesehatan masyarakat, baik
jasmani maupun rohani (Kementrian Kehutanan, 2013; Lundy dan Janes,
2009).
The International Healthy Cities Foundation (IHCF) dibangun pada
bulan Agustus 1994. Tujuan dari IHCF dan WHO adalah untuk
meningkatkan tingkat kesehatan seluruh penduduk dunia. Tugas IHCF
adalah memfasilitasi penghubung antara orang-orang, isu dan sumber
untuk

mendukung

perkembangan

program

kota

sehat.

IHCF

mengembangkan infrastuktur melalui 3 program dalam menjalankan


tugasnya, yaitu: komunikasi, sumber sarana dan program pelatihan serta
pelayanan penasehat (Lundy dan Janes, 2009).
Salah satu kota besar pertama di Amerika yang menerapkan
program kota sehat adalah Boston pada tahunn 1992. Boston menjadi
pemimpin dalam program kota sehat di Amerika. Setelah Boston berhasil
dalam menjalankan program tersebut, dari evaluasi yang telah dilakukan
terdapat 4 rekomendasi untuk meningkatkan program ini, salah satunya
adalah

peningkatan

perkembangan

leadership

dan

lebih

banyak

dukungan untuk koalisi. Perawat komunitas dapat mengisi peran sebagai


pemimpin dan menyediakan dukungan dan kordinasi koalisi kesehatan
dan politik. Perawat komunitas perlu untuk menyadari hasil potensial
kesehatan penduduk kota saat program kota sehat berhasil dilaksanakan
(Lundy dan Janes, 2009).
Kota Sehat di Indonesia dicanangkan oleh Menteri Dalam Negeri
pada tanggal 26 Oktober 1998. Sejak itu telah tercatat sebanyak 51 kota
mengupayakan penyelenggaraan kota sehat, dengan melibatkan para
pihak (stakeholders), antara lain Departemen Dalam Negeri dan Otonomi
Daerah, Departemen Energi dan Sumber daya Mineral, Departemen

17

Pendidikan Nasional, Departemen Kebudayaan dan Pariwisata, Menteri


Negara Lingkungan Hidup/Bapedal, dan Departemen Perhubungan dan
Telekomunikasi (Kementrian Kehutanan, 2013)
2.4.3 Konsep Kota Sehat
Titik awal proyek Kota Sehat adalah pengakuan bahwa kota
berperan bermakna dalam mempromosikan kesehatan dan berada pada
posisi

yang

unik

untuk

mengimplementasikan

upaya

kesehatan

masyarakat. Konsep Kota Sehat merupakan resep untuk kehidupan yang


berkualitas dalam suatu lingkungan spesifik bernama perkotaan. Menurut
filosofi Kota Sehat, kota seharusnya menyediakan lingkungan fisik yang
bersih dan aman berdasarkan ekosistem yang berkesinambungan.
Unsur utama yang mutlak ada dalam konsep Kota Sehat dibedakan
dalam dua kategori yang luas meliputi konsep tentang sehat dan konsep
tentang cara memperolehnya. Tiga unsur kunci yang berhubungan
dengan kesehatan adalah model sehat yang positif, model sehat yang
ekologis, dan perhatian kepada ketidaksamaan dalam kesehatan (health
inequalities). Pertama, sehat sebagai konsep positif, tidak hanya berarti
tidak ada penyakit. Kedua, model sehat yang holistik atau ekologis,
memperhitungkan semua faktor yang berbeda yang berpengaruh
terhadap kesehatan. Ketiga, perhatian khusus pada ketidaksamaan dalam
kesehatan (Soedirham, 2012).
WHO (dikutip dalam Hidayat, 2003) telah menetapkan sepuluh
kriteria sebuah kota sehat, yaitu :
1. Harus bersih dan aman.
2. Mampu menyediakan dan mempertahankan ketersediaan makanan, air,
energi, dan pembuangan sampah yang efisien.
3. Melalui diversifikasi, mengembangkan ekonomi inovatif yang dapat
memenuhi kebutuhan dasar penduduk untuk memperoleh makanan,
air, tempat tinggal pendapatan, keamanan dan pekerjaan.
4. Mempunyai dukungan kuat masyarakat, dimana berbagai organisasi
saling bekerja sama untuk memperbaiki kesehatan.
5. Mendorong setiap warga negara untuk bekerja
penyusunan

kebijakan

yang

berpengaruh

kesehatan dan kesejahteraan penduduk.

sama

terhadap

dalam

kehidupan,

18

6. Menyediakan kegiatan hiburan dan rekreasi yang dapat memfasilitasi


interaksi dan komunikasi antar warga negara.
7. Menghargai budaya masa lalu dan warisan leluhur serta kekhususan
dari berbagai adat penduduk, tanpa membedakan agama maupun suku
bangsa.
8. Menghormati kesehatan sebagai komponen integral dari pembuatan
kebijakan publik dan memberikan hak kepada setiap penduduk untuk
mengadopsi perilaku hidup yang lebih sehat.
9. Secara terus menerus berupaya memperbaiki kualitas pelayanan
kesehatan.
10. Tempat di mana setiap penduduk dapat hidup lebih lama dengan
kesehatan yang baik dan penderitaan sakit yang minimal.
2.4.4 Aplikasi Di Indonesia
Program kota sehat di Indonesia terdapat dalam kebijakan
Indonesia Sehat 2010 dimana salah satu strategi baru pembangunan
kesehatannya adalah desentralisasi. Untuk mewujudkan stategi ini dapat
menerapkan program kota sehat pada seluruh kabupaten atau kota di
setiap provinsi. Peraturan yang mengatur tentang penyelenggaraan kota
sehat dapat dilihat pada Peraturan Bersama Menteri Dalam Negeri dan
Menteri Kesehatan No. 34 tahun 2005.
1. Kebijakan
Penerapan kegiatan didasarkan kepada pendekatan kota sehat di
masing-masing wilayah atas dasar adanya permasalahan yang spesifik
yang disusun berdasarkan skala prioritas untuk dipecahkan dan
diselesaikan bersama-sama oleh seluruh masyarakat di wilayah
tersebut, dan apabila diperlukan difasilitasi oleh pemerintah setempat.
Pendekatan Kota Sehat dimulai dari beberapa kecamatan,
sedangkan pendekatan Kabupaten Sehat dimulai dari beberapa desa,
sedangkan kawasan dimulai dari beberapa kawasan terbatas dan
diharapkan berkembang secara terus menerus dan dinamis sehingga
meliputi seluruh daerah perkotaan dan daerah kabupaten, yang
kemudian

dapat

mendorong

kota-kota

lain

untuk

meniru

dan

mengembangkannya.
Kegiatan kota sehat sepenuhnya dibiayai dan dilaksanakan oleh
daerah yang bersangkutan dan masyarakatnya dengan menggunakan

19

mekanisme

pendekatan

Kota

Sehat,

yaitu

dengan

konsep

pemberdayaan masyarakat yang mengutamakan prinsip oleh dan untuk


masyarakat. Pendekatan kegiatan kota sehat melibatkan peran aktif
masrakat dalam seluruh proses penyelenggaraan pembangunan di
daerah, sehingga seluruh potensi masyarakat dapat diberdayakan
secara optimal dalam rangka meningkatkan kualitas hidup masyarakat.
Pemerintah berperan menyusun kebijakan, strategi dan pedoman
umum. Sektor-sektor di propinsi berperan di dalam mengembangkan
petunjuk teknis dan standar yang sesuai dengan daerah. Pelaksanaan
kegiatan diserahkan oleh pemerintah daerah kepada masyarakat
melalui Forum dan Kelompok Kerja (Pokja) Kota Sehat, sehingga dapat
memenuhi kebutuhan dan aspirasi masyarakat di kota tersebut.
Kegiatan kota sehat pada awalnya difasilitasi oleh Pemerintah
Daerah, dimulai dari pembentukan Forum Kota Sehat, selanjutnya
Forum tersebut membentuk Pokja Kota Sehat berdasarkan kebutuhan
terhadap kegiatan yang akan dilaksankan.

Sedangkan plaksanaan

evaluasi kegiatan kota sehat dilakukan oleh Forum dan Pokja Kota
Sehat bersama-sama Pemerintah daerah, LSM, Perguruan Tinggi,
media massa selaku pelaku pembangunan. (Kementrian Kehutanan,
2013).
2. Strategi
Beberapa strategi yang akan ditempuh dalam melaksanakan
kegiatan kota sehat di Indonesia sebagai berikut :
a) Kegiatan dimulai dari beberapa kota terpilih berupa kegiatan yang
spesifik, sederhana, terjangkau, dapat dilaksanakan secara mandiri
dan berkelanjutan dengan menggunakan segenap sumber daya
yang tersedia.
b) Meningkatkan potensi ekonomi stakeholders kegiatan yang menjadi
kesepakatan masyarakat.
c) Perluasan kegiatan ke kota lainnya atas dasar adanya minat dari
kota tersebut untuk ikut dalam pendekatan kota sehat.
d) Meningkatkan keberdayaan masyarakat melalui Forum dan Pokja
Kota Sehat, serta pendampingan dari sector terkait untuk dapat

20

membantu memahami permasalah, menyusun perencanaan dan


melaksanakan kegiatan kota sehat.
e) Menggali potensi wilayah dan kemitraan dengan swasta, LSM,
pemerintah, legislates di dalam penyelenggaraan kegiatan kota
sehat.
f) Memasyarakatkan pembangunan yang berwawasan kesehatan di
dalam mewujudkan kota sehat.
g) Meningkatkan promosi dan penyuluhan agar masyarakat hidup
dalam kondisi yang tertib hukum, peka terhadap lingkungan fisik,
sosial dan budaya yang sehat.
h) Membuat jaringan kerja sama antar kota pengembangan (replikasi)
kota sehat (Kementrian Kehutanan, 2013).
3. Indikator Keberhasilan
Untuk mengukur kemajuan kegiatan kota sehat, dibutuhkan
indikator yang jelas sehingga semua pihak yang ikut terlibat dapat menilai
sendiri kemajuan yang sudah dilakukan, dan menjadi tolok ukur untuk
merencanakan kegiatan selanjutnya. Setiap daerah dapat memilih,
menetapkan dan melaksanakan kegiatan sesuai dengan kondisi dan
kemampuan masing-masing untuk memenuhi indikator tersebut (menurut
Kementrian Kehutanan, 2013).
Menurut Peraturan Bersama Menteri Dalam Negeri dan Menteri
Kesehatan No. 34 tahun 2005, indikator untuk menilai kabupaten/kota
sehat:
a. Indikator Pokok
1. Belajar 9 Tahun.
2. Angka Melek Huruf
3. Pendapatan Perkapita domestik.
4. Angka Kematian Bayi Per-1.000 Kh.
5. Angka Kematian Balita Per-1.000 Kh.
6. Angka Kematian Ibu Melahirkan Per-100.000 Kh.
7. Adanya RUTRK (Rencana Detail Tata Ruangan Kota).
8. Program dana sehat dan jaminan sosial nasional bagi
masyarakat miskin.
b. Indikator Umum
1. Adanya dukungan pemda.
2. Adanya program pendukung di sektor.
3. berfungsinya tim Pembina Kab/ kota dan Kecamatan.
4. berfungsinya Forum Kan/ kota.
5. Adanya sekretariat Forum

21

6. Berfungsinya Forum Komunikasi Desa/ kelurahan.


7. Berfungsinya Pokja Kelurahan/Cesa.
8. Adanya kesepakatan masyarakat dan pemda tentang pilihan
tatanan dan kegiatan.
9. Adanya perencanaan forum yg disepakati masyarakat dan
pemda.
10. Adanya kegiatan yang dilaksanan oleh masy. Melalui forum/
forum komunikasi/ pokja.
c. Indikator Khusus
1. Kawasan permukiman sarana dan prasarana sehat
1.1 Udara bersih
a) Memenuhi standar ISPU
b) Kendaraan bermotor memenuhi syarat emisi
c) Peningkatan penggunaan bahan bakar yang memenuhi
syarat.
d) Penurunan

Kasus

gangguan

pernapasan

(ISPA/pneumonia)
e) Penurunan kasus TB Paru
1.2 Air sungai bersih
a) Terlarang membuang sampah ke sungai.
b) Terlarang membuang kotoran manusia ke sungai
c) Terlarang membuang sampah limbah industri ke sungai
d) Adanya penataan fisik bantaran sungai
1.3 Penyediaan air bersih individu dan umum
a) Meningkatnya cakupan penggunaan air bersih.
b) Meningkatnya cakupan Kualitas air minum memenuhi
syarat kesehatan.
c) Meningkatnya % masyarakat yang memeriksakan airnya
ke laboratorium.
d) Penurunan kasus diare
1.4 Pembuangan air limbah domestik (rumah tangga)
a) Sistem pengolahan limbah kota memenuhi syarat.
b) Adanya gerakan masyarakat dalam pembangunan
SPAL/jamban.
c) Cakupan penggunaan Sarana air limbah dan jamban
keluarga yang memenuhi syarat.
d) Selokan bebas jentik nyamuk.
e) Penurunan Kasus Filariasis (kaki gajah).
1.5 Pengelolaan sampah
a) Sampah tidak menumpuk di TPS/ permukiman.
b) Terlaksananya pemisahkan sampah basah dengan
sampai lainnya.
c) TPA tidak mencemari lingkungan.

22

d) Angka kepadatan lalat


e) Angka jentik aedes.
f) Terlaksananya program PSN 3M, di sekolah, tempattempat umum
1.6 Perumahan dan permukiman
a) Adanya sarana fasilitas umum
b) Bebas jentik aedes
c) Bebas banjir.
d) Meningkatnya Rumah Sehat yang memenuhi syarat.
e) Menurunnya keluhan kesehatan akibat pencemaran
industri/pertambangan
f) Tidak terjadi KLB penyakit Diare & DBD, atau malaria.
g) Meningkatnya pemanfaatan Puskesmas
h) Rumah Sakit menyelenggarakan pelayanan 4 (empat)
spesialis dasar.
1.7 Pertamanan dan hutan kota
a) Tersedianya taman dan pertanaman.
b) Adanya pengaturan Pemeliharaan Hutan
1.8 Sekolah
a) Adanya kegiatan UKS dan Organisasi BP3.
b) Meningkatnya kesehatan murid.
c) Terlaksananya program olahraga yang terencana.
d) Menurunnya jumlah peserta didik putus sekolah.
1.9 Pengelolaan pasar
a) Keamanan dan kenyamanan terjamin.
b) Pemeliharaan kebersihan oleh pedagang
c) Tersedia sarana mencegah kebakaran
d) Toilet umum terjaga kebersihannya
e) Pasar yang memenuhi persyaratan
f) Terlaksananya program jaminan kesehatan
1.10

pada

pedagang.
Sarana olah raga dan rekreasi dan tempat bermain

anak-anak
a) Tersedianya sarana prasarana untuk berolah raga.
b) Tersedianya tempat bermain anak-anak dan rekreasi
c) Tersedianya pelayanan kesehatan olah raga
d) Meningkatnya derajat kesegaran/kebugaran jasmani
masyarakat
e) Meningkatnya
1.11

partisipasi

kelompok-kelompok

masyarakat berolahraga secara teratur dan terukur.


Penataan sektor informal (pedagang kaki/asongan

atau industri rumah tangga)


a) Adanya penataan sektor informal.
b) Tidak menimbulkan pencemaran

23

c) Adanya program untuk meningkatkan perekonomian


pedagang.
d) Terselenggaranya jaminan pelayanan kesehatan bagi
pekerja
2 Kawasan tertib lalu lintas dan pelayanan transportasi
2.1 Pelayanan angkutan umum (bus, angkot, taxi)
a) Terpenuhinya prasyaratan kendaraan umum yang bersih
dan hygienis, serta bebas rokok.
b) Terpenuhinya persyaratan emisi kendaraan bermotor.
c) Bebas dari kebisingan.
d) Jaminan keamanan angkutan barang dan pangan.
e) Adanya pemeriksaan kendaraan secara rutin.
2.2 Pelayanan terminal dan halte
a) Terpenuhinya persyaratan udara ambien di terminal
b) Terpenuhinya pengaturan jalur kendaraan yang aman
bagi penumpang.
c) Aman dari kriminal
2.3 Rawan kecelakaan
a) Pertolongan yang cepat dari kecelakaan.
b) Tersedianya peringatan perambuan di daerah rawan
kecelakaan.
c) Tersedianya pelayanan Gawat Darurat di Puskesmas
daerah rawan kecelakaan.
d) Menurunnya tingkat kecelakaan lalu lintas
2.4 Penataan
a) Tingkat kepadatan kendaraan/ kemacetan
b) Pengaturan jalur kendaraan umum, pribadi, sepeda,
motor, dan pejalan kaki.
2.5 Tertib lalu lintas dan keselamatan
a) Terlaksananya gerakan disiplin berlalu lintas.
b) Menurunya kasus pelanggaran lalu lintas.
2.6 Kemasyarakatan
a) Terlaksananya persyaratan pemberian SIM baru dan
perpanjangan.
b) Terlaksananya

penggunaan

bahan

lingkungan.
c) Tersedianya bengkel yang berkreditasi.
3 Kawasan pariwiata sehat
3.1 Informasi wisata dan kesehatan
a) Adanya informasi objek
b) Adanya informasi tentang kesehatan
3.2 Sarana pariwisata
a) Sertifikat layak hotel meningkat
b) Sertifikat layak restoran meningkat

baker

ramah

24

c) Tidak mencemari lingkungan


d) Terjaminnya bersihan lingkungan.
3.3 Objek dan daya tarik wisata
a) Peningkatan jumlah wisatawan.
3.4 Pelayanan kesehatan
a) Terselenggaranya asuransi kesehatan bagi wisatawan
b) Kesehatan petugas penjamah makanan di restoran
memenuhi syarat
c) Tidak terjadi keracunan makanan
d) Penurunan kasus kecelakaan objek wisata.
3.5 Sarana penunjang
a) Adanya sarana telekomunikasi
b) Tersedianya sarana dasar (air bersih, jalan, limbah dan
sampah)
c) Tersedianya sarana transportasi wisatawan yg memadai
d) Tersedianya sarana tanggap darurat.
3.6 Kemasyarakatan
a) Penurunan kasus gangguan keamanan (kerusuhan, anak
jalanan, asongan, kriminal, dll).
b) Peningkatan pendapatan masyarakat.
c) Terselenggaranya pendidikan/latihan/

kursus

bagi

masyarakat pemandu pariwisata/pramu wisata.


4 Kawasan industri dan perkantoran sehat
4.1 Lingkungan fisik industry
a) Industri/perkantoran sesuai dg RUTRK/RDTRK
b) Permukiman di sekitar kawasan industri, tidak kumuh.
c) Emisi/effluent memenuhi persyaratan.
d) Tesedianya ruangan khusus untuk merokok.
4.2 Lingkungan fisik kantor dan perdagangan
a) Bangunan memenuhi persyaratan fisik dan hygiene.
b) Tidak mencemari lingkungan
4.3 Panataan sektor informal (industri kecil/rumah tangga)
a) Adanya penataan sektor informal.
b) Meningkatnya pendapatan sektor informal.
c) Penatan hygiene & sanitasi sarana sektor informal.
d) Terselenggaranya jaminan pelayanan kesehatan bagi
pekerja.
4.4 Keselamatan

dan

kesehatan

kerja

dan

pencegahan

kecelakaan dan rudapaksa


a) Terselenggaranya jaminan pelayanan kesehatan bagi
karyawan.
b) Penurunan kasus penyakit akibat kerja.
c) Menurunya angka kematian dan kecacatan karena
kecelakaan dan rudapaksa.

25

d) Berfungsinya

institusi

Pembina

kesehatan

dan

keselamatan kerja.
e) Emisi/effluent memenuhi syarat.
f) Tempat kerja bebas dari bising.
4.5 Sosial ekonomi dan budaya dan kesehatan masyarakat
a) Meningkatnya kesempatan kerja atau berusaha bagi
masyarakat sekitar.
b) Tersedianya
pelayanan

kesehatan

dasar

bagi

masyarakat.
c) Terpelihara keamanan dan ketertiban.
d) Tersedianya pendidikan/latihan kursus bagi tenaga kerja.
5 Kawasan pertambangan sehat
5.1 Lingkungan pertambngan
a) Bebas dari pertambangan tanpa izin.
b) Pertambangan melakukan kelola dan pantau lingkungan
sesuai dengan dokumen lingkungan.
c) Adanya pengawasan dari masyarakat (forum).
d) Tersedianya sarana umum di kawasan tersebut (sekolah,
pasar, sarana pelayanan kesehatan, tempat ibaadah).
5.2 Reklamasi daerah bekas tambang
a) Adanya perencanaan teknis reklamasi
b) Terlaksananya reklamasi dan revegetasi.
c) Adanya pengawasan dari masyarakat (forum).
5.3 Keselamatan dan kesehatan kerja
a) Peenurunan kasus kecelakaan kerja.
b) Penurunan kasus penyakit akibat kerja.
c) Terselenggaranya jaminan pelayanan kesehatan bagi
karyawan.
5.4 Sosial ekonomi dan kemasyarakatan
a) Adanya prioritas lapangan kerja

bagi

penduduk

setempat.
b) Adanya bantuan sarana pendidikan yang memadai
disekitar pertambangan.
c) Adanya sarana pelayanan kesehatan bagi masyarakat.
5.5 Permukiman
a) Peningkatan kualitas sanitasi dasar.
b) Peningkatan hygiene dan sanitasi perumahan.
c) Gerakan masyarakat meningkatkan perilaku Hidup
Bersih dan Sehat.
6 Kawasan hutan sehat
6.1 Kemantapan kawasan
a) Pengakuan masyarakat terhadap status kawasan.
b) Keikutsertaan masyarakat dalam tata batas kawasan.
c) Terwujudnya tata batas kawasan.

26

6.2 Keamanan hutan


a) Menurunnya kasus perambahan hutan dan kebakaran
hutan.
b) Menurunnya kasus penebangan liar/illegalloging.
c) Udara ambient memenuhi persyaratan ISPU.
d) Menurunnya kasus ISPA/pneumonia.
6.3 Rehabilitasi lahan dan konsevarsi tanah
a) Meningkatnya pelaksanaan reboisasi.
b) Meningkatnya gerakan masyarakat dalam penghijauan.
c) Terpeliharanya daerah resapan air.
d) Berfungsinya bangunan penanggulangan erasi dan atau
sumber daya air.
6.4 Keanekaragaman hayati
a) Menurunnya kegiatan perburuan secara liar terhadap
satwa yang dilindungi.
b) Menurunnya kegiatan pemungutan secara liar tumbuhan
yang dilindungi.
c) Menurunnya perdaganagan satwa yang dilindungi secara
liar.
d) Menurunnya perdagangan tumbuhan yang dilindungi
secara liar.
6.5 Sosial ekonomi dan kemasyarakatan
a) Tersedianya akses pemanfaatan hasil hutan tertentu oleh
masyarakat.
b) Adanya pelayanan kesehatan yang memadai di kawasan
sekitar hutan.
c) Adanya sarana pendidikan yang memadai di kawasan
sekitar hutan.
7 Ketahanan pangan dan gizi
7.1 Ketersediaan
a) Terlaksananya intensifikasi pertanian dan pola tanam.
b) Masyarakat menyediakan lumbung pangan.
c) Pemerintah menyediakan buffer stock.
7.2 Distribusi
a) Berfungsinya lembaga distribusi pangan yang ada di
masyarakat (koperasi, dll)
7.3 Konsumsi
a) Terjangkaunya daya beli masyarakat.
b) Meningkatnya KEP total.
c) Masyarakat mengkonsumsi makanan secara B3 (bergizi,
beragam & berimbang).
d) Menurunnya proporsi Balita dengan gizi buruk.
e) Berfungsi lembaga untuk konsultasi gizi.

27

7.4 Kewaspadaan
a) Penurunan kasus gizi berlebih.
b) Bebas keracunan pestisida pada petani.
c) Kecamatan bebas rawan Pangan.
d) Menurunnya penderita kretin baru.
e) Kecamatan bebas rawan gizi.
7.5 Kemasyarakatan
a) Aadanya kegiatan kelompok masyarakat dalam upaya
penanggulangan masalah gizi.
b) Meningkatnya pendapatan petani.
c) Petani mendapatkan pelatihan Pengendalian

hama

terpadu dan penggunaan pestisida.


8 Kehidupan masyarakat yang sehat mandiri
8.1 Perilaku hidup bersih dan sehat
a) Meningkatnya kegiatan kelompok masyarakat berolah
raga secara teratur.
b) Meningkatnya
kegiatan

kelompok

masyarakat

penanggulangan NAPZA
c) Meningkatnya
kegiatan

kelompok

masyarakat

penanggulangan HIV/AIDS.
d) Meningkatnya rumah tangga berperilaku hidup bersih
dan sehat. (tidak merokok , aktifitas fisik setiap hari dan
gizi seimbang)
8.2 Tempat-tempat umum
a) Tempat-tempat Umum laik sehat (Hotel, Taman, rekreasi
dan tempat hiburan, dll)
b) Tidak terjadi kasus keracunan di fasilitas penyedian
makanan.
c) Adanya kemudahan untuk orang cacat tubuh.
d) Jasa boga, restoran/rumah makan dan

tempat

pengolahan makanan lain laik sehat.


e) Menurunnya kasus legionellosis di tempat umum.
f) Adanya kawaan bebas rokok di tempat umum.
8.3 Permukiman, perumahan dan bangunan sehat
a) Peningkatan Rumah Sehat yang memenuhi syarat.
b) Bebas dari pencemaran industri.
c) Penurunan kasus penyakit yang terkait dengan
lingkungan.
d) Adanya program

perbaikan

rumah

sehat

masyarakat.
8.4 Penyediaan air bersih
a) Kualitas air minum memenuhi syarat kesehatan

oleh

28

b) Tercapainya kualitas bakteriologis


c) Peningkatan cakupan air bersih
d) Penurunan kasus diare
e) Masyarakat memeriksaaan airnya ke laboratorium
8.5 Kesehatan dan keselamatan kerja, pencegahan kecelakaan
dan rudapaksa
a) Berfungsinya

institusi

penbina

kesehatan

dan

keselamatan kerja ;
b) Limbah industri diolah secara aman dan sehat;
c) Tempat kerja memenuhi persyaratan kesehatan;
d) Pekerja mendapat pelayan kesehatan dan keselamatan
e)
f)
g)
h)

kerja paripurna;
Penurunan kasus kecelakaan kerja.
Penurunan Kasus penyakit akibat kerja.
Adanya Pemantauan perilaku buruh dalam K3.
Menurunnya angka kematian dan kecacatan karena
kecelakaan dan rudapaksa di rumah, jalan raya, sekolah,

tempat umum.
8.6 Kesehatan keluarga, reproduksi KB
a) Berkembangnya keiompok masyarakat peduli dalam
pelayanan kesehatan.
b) Tersedianya fasilitas pelayanan konseling remaja.
c) Terlaksananya pemeriksaan kesehatan pada siswa
d) SD oleh tenaga kesehatan terlatih/guru UKS.

BAB III
KESIMPULAN

29

a. Populasi perkotaan sekurang-kurangnya 50.000 orang dalam satu


wilayah kesatuan ataupun bukan. Masyarakat perkotaan sering disebut
urban community dimana pada masyarakat kota lebih ditekan pada
sifat-sifat kehidupannya serta ciri-ciri kehidupannya yang berbeda
dengan masyarakat pedesaan. Oleh karena itu, masyarakat perkotaan
menghadapi

stressor

yang

lebih

banyak

daripada

masyarakat

pedesaan. Masalah kesehatan dan sosial pada kehidupan perkotaan


biasanya lebih nyata.
b. Kota sehat adalah pendekatan untuk meningkatkan kesehatan dan
kesejahteraan penduduk kota yang tidak hanya ditunjang dari aspek
kesehatan tapi aspek-aspek lainnya seperti lingkungan fisik, sosial dan
budaya sehingga perekonomian dan produktivitas masyarakat kota
dapat berjalan secara optimal.Seperti yang telah WHO tetapkan kriteria
kota sehat yaitu: lingkungan yang bersih dan aman; dapat menyediakan
makanan

air bersih,

mengembangkan

energi

ekonomi

dan

pembuangan

inovatif;

mempunyai

sampah; dapat
dukungan

kuat

masyarakat; mendorong penduduk untuk saling bekerja sama;


menyediakan tempat hiburan dan rekreasi; menghargai budaya masa
lalu;

menghormati

kesehatan;

berupaya

memperbaiki

kualitas

pelayanan kesehatan; dan memfasilitasi penduduk hidup lebih lama


dan penderitaan sakit yang minimal. Perwujudan Kota Sehat di
Indonesia dapat dilihat melalui Peraturan Bersama Menteri Dalam
Negeri

dan

Menteri

Kesehatan

No.

Penyelenggaraan Kabupaten/Kota Sehat.

34

tahun

2005

Tentang