Anda di halaman 1dari 22

Pembunuhan dengan Kekerasan Tajam

Nama: Gita Puspitasari


NIM: 102011327
Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana
Jl. Arjuna Utara No.6 Jakarta Barat 11510
Email: gita_puspitasari64@yahoo.com

Pendahuluan
Ilmu Kedokteran Forensik adalah salah satu cabang spesialistik yang mempelajari
pemanfaatan ilmu kedokteran untuk kepentingan penegakan hukum serta keadilan. Ilmu
kedokteran forensik telah dikenal sejak zaman Babilonia, yang mencatat ketentuan bahwa
dokter saat itu mempunyai kewajiban untuk memberi kesembuhan bagi para pasiennya
dengan ketentuan ganti rugi bila hal itu tidak dicapai.
Dalam perkembangannya lebih lanjut, ternyata ilmu kedokteran forensik tidak
semata-mata bermanfaat dalam urusan penegakan hukum dan keadilan di lingkup pengadilan
saja,tetapi juga bermanfaat dalam segi kehidupan bermasyarakat lain. Untuk dapat memberi
bantuan yang maksimal bagi pelbagai keperluan tersebut di atas, seorang dokter dituntut
untuk dapat memanfaatkan ilmu kedokteran yang dimilikinya secara optimal.
Dalam menjalankan fungsinya sebagai dokter yang diminta untuk membantu dalam
pemeriksaan kedokteran forensik oleh penyidik, dokter tersebut dituntut oleh undang-undang
untuk melakukannya dengan sejujur-jujurnya serta menggunakan pengetahuan yang sebaikbaiknya.
Oleh karena itu, dalam bidang ini dipelajari tata laksana mediko-legal, tanatologi,
traumatologi, toksikologi, teknik pemeriksaan dan segala sesuatu yang terkait, agar semua
dokter dalam memenuhi kewajibannya membantu penyidik, dapat benar-benar memanfaatkan
segala pengetahuan kedokterannya untuk kepentingan peradilan sera kepentingan lain yang
bermanfaat bagi kehidupan bermasyarakat.

Skenario Kasus

Seorang laki-laki ditemukan di sebuah sungai kering yang penuh batu-batuan dalam
keadaan mati tertelungkup. Ia mengenakan kaos dalam (oblong) dan celana panjang yang di
bagian bawahnya digulung hingga setengan tungkai bawahnya. Lehernya terikat lengan baju
(yang kemudian diketahui sebagai baju miliknya sendiri) dan ujung lengan baju lainnya
terikat ke sebuah dahan pohon perdu setinggi 60 cm. Posisi tubuh relatif mendatar, namun
leher memang terjerat oleh baju tersebut. Tubuh mayat tersebut telah membusuk, namun
masih dijumpai adanya satu luka terbuka di daerah ketiak kiri yang memperlihatkan
pembuluh darah ketiak yang putus, dan beberapa luka terbuka di daerah tungkai bawah kanan
dan kiri yang memiliki ciri-ciri yang sesuai dengan akibat kekerasan tajam.Perlu diketahui
bahwa rumah terdekat dari TKP adalah 2 km. TKP adalah suatu daerah perbukitan yang
berhutan cukup lebat.

Pembahasan Kasus
Perkiraan Kronologis Kasus
Dua orang lelaki sedang mencari kayu, Tn. A dan temannya. Ketika mereka telah
istirahat dari sungai dan saat mau pulang kembali ke rumah dengan celana yang digulung dan
hanya memakai kaos oblong, karena baju yang mereka kenakan sebelumnya telah
dimasukkan ke dalam tas bersatu dengan barang-barang bawaan mereka. Di jalan yang tidak
jauh dari sungai itu, ketika berjalan depan belakang, dengan posisi Tn. A yang berada di
belakang temannya dengan membawa kayu, tiba-tiba diserang oleh temannya yang berada
tepat di depannya dengan menggunakan golok yang dikeluarkan dari dalam tasnya, temannya
memang berniat untuk membunuh Tn. A karena dendam pribadi dengan niat menusuk
langsung ke daerah jantung, tetapi Tn. A sempat menghindar dan malah terkena bagian ketiak
kirinya yang mengakibatkan perdarahan hebat di daerah tersebut akibat luka bacok itu.
Tn. A masih sempat berlari kembali ke arah sungai dengan tangan kanan memegang
ketiak kiri yang terus mengeluarkan darah yang sangat banyak, tetapi dengan keadaan yang
mulai melemah, temannya masih mencoba lagi untuk membunuh Tn. A, tetapi masih bisa
melakukan perlawanan dengan menendang memakai kakinya sehingga tungkai bawahnya
terkena luka sayatan senjata itu berkali-kali dan akhirnya Tn. A terjatuh dan mulai tidak sadar
karena perdarahan hebat di daerah ketiak kiri yang terus menerus mengeluarkan darah
sehingga dia tergeletak dan benar-benar tidak sadarkan diri. Lalu temannya yang melihat
Tn.A tidak sadarkan diri itu langsung menjerat leher Tn. A dengan baju Tn. A dan
mengikatkannya pada pohon perdu untuk memanipulasi pembunuhan itu dan menghilangkan
jejaknya.
2

Aspek Hukum
Aspek hukum yang terkait dalam kasus pembunuhan atau penganiayaan yang menyebabkan
kematian adalah sebagai berikut.1

Pasal 338 KUHP


Barangsiapa dengan sengaja merampas nyawa orang lain, diancam karena
pembunuhan, dengan pidana penjara paling lama lima belas tahun. 1
Pasal 339 KUHP
Pembunuhan yang diikuti, disertai atau didahului oleh suatu perbuatan pidana, yang
dilakukan dengan maksud untuk mempersiapkan atau mempermudah pelaksanaannya,
atau untuk melepaskan diri sendiri mupun peserta lainnya dari pidana dalam hal
tertangkap tangan, ataupun untuk memastikan penguasaan barang yang diperolehnya
secara melawan hukum, diancam dengan pidana penjara seumur hidup atau selama

waktu tertentu, paling lama dua puluh tahun. 1


Pasal 340 KUHP
Barangsiapa dengan sengaja dan dengan rencana lebih dahulu merampas nyawa orang
lain, diancam, karena pembunuhan dengan rencana (moord), dengan pidana mati atau
pidana penjara seumur hidup atau selama waktu tertentu, paling lama dua puluh lima

tahun. 1
Pasal 354 KUHP
1) Barang siapa dengan sengaja melukai berat orang lain, diancam, karena
melakukan penganiayaan berat, dengan pidana penjara paling lama delapan
tahun. 1
2) Jika perbuatan mengakibatkan mati, yang bersalah dikenakan pidana paling

lama sepuluh tahun. 1


Pasal 355 KUHP
1) Penganiayaan berat yang dilakukan dengan rencana lebih dahulu, diancam
dengan pidana penjara paling lama dua belas tahun. 1
2) Jika perbuatan mengakibatkan mati, yang bersalah dikenakan pidana penjara
paling lama lima belas tahun. 1

Prosedur Medikolegal1

Penemuan
Seorang laki-laki ditemukan di sebuah sungai kering yang penuh batu-batuan dalam
keadaan mati oleh warga masyarakat atau orang yang melihat dan menemukan.
Pelaporan
Dilakukan oleh orang yang menemukan ke pihak yang berwajib, contohnya
kepolisian RI.
3

Penyelidikan
Dilakukan oleh penyelidik yang menindak-lanjuti suatu pelaporan, untuk mengetahui
apakah benar ada kejadian pembunuhan seperti yang dilaporkan.
Penyidikan
Dilakukan oleh penyidik. Penyidikan merupakan tindak lanjut setelah diketahui
benar-benar telah terjadi pembunuhan pada kasus ini. Penyidik dapat meminta
bantuan seorang ahli. Dalam kasus pembunuhan yang mengenai tubuh manusia, maka
penyidik dapat meminta bantuan dokter untuk dilakukan penanganan dan penyidikan
dengan kedokteran forensik. 1
Penyidik wajib meminta sacara resmi kepada kedokteran forewnsik untuk melakukan

pemeriksaan atas korban. 1


Pemberkasan perkara
Dilakukan oleh penyidik, menghimpun semua hasil penyidikannya, termasuk hasil
pemeriksaan kedokteran forensic yang dimintakan kepada dokter. Kemudian hasil

berkas perkara ini akan diteruskan ke penuntut umum. 1


Penuntutan
Dilakukan oleh penuntut umum di sidang pengadilan setelah berkas perkara yang
lengkap diajukan ke pengadilan.
Persidangan1
- Persidangan pengadilan dipimpin oleh hakim atau majelis hakim.
- Dilakukan pemeriksaan terhadap terdakwa pembunuhan, para saksi dan juga
para ahli. Dan sebaiknya dokter atau pemeriksa korban dapat di hadirkan di

siding pengadilan ini sebagai saksi ahli.


Putusan pengadilan1
- Vonis dijatuhkan oleh hakim dengan ketentuan :
- Keyakinan pada diri hakim bahwa memang telah terjadi suatu pembunuhan di
-

kasus ini dan terdakwa memang bersalah melakukan tindak pidana tersebut.
Kayakinan hakim ini harus ditunjang oleh sekurang-kurangnya dua alat bukti
yang sah.

Interpretasi Temuan
Seorang laki-laki ditemukan di sebuah sungai kering yang penuh batu-batuan dalam
keadaan mati tertelungkup. Lehernya terikat lengan baju (yang kemudian diketahui sebagai
baju miliknya sendiri) dan ujung lengan baju lainnya terikat ke sebuah dahan pohon perdu
setinggi 60 cm. Posisi tubuh relatif mendatar, namun leher memang terjerat oleh baju
tersebut.
Keterangan ini menggambarkan keadaan korban yang seolah-olah mati disebabkan
karena gantung diri dengan posisi gantung berbaring tertelungkup. Namun, masih dijumpai
4

adanya satu luka terbuka di daerah ketiak kiri yang memperlihatkan pembuluh darah ketiak
yang putus yang memiliki ciri-ciri yang sesuai dengan akibat kekerasan tajam dan beberapa
luka terbuka di daerah tungkai bawah kanan dan kiri yang memiliki ciri-ciri yang sesuai
dengan akibat kekerasan tajam.
Temuan ini menyingkirkan bahwa korban mati bunuh diri. Karena luka yang
ditemukan merupakan tanda bukti korban penganiayaan orang lain terhadap korban yang
diduga sekaligus pelaku pembunuhan. Temuan nomor satu hanya manipulasi dari pelaku agar
orang menduga korban mati bunuh diri.
Putusnya pembuluh darah ketiak merupakan mekanisme dari kematian korban, karena
pembuluh darah ketiak merupakan salah satu pembuluh darah besar dari bagian tubuh di
daerah aksila (ketiak). Dimana kekerasan tajamlah yang menyebabkan putusnya pembuluh
darah berupa luka bacok. Luka berupa bacokan memiliki ciri-ciri, yaitu kedua sudut lancip
dan relatif dalam, bentuk garis lurus, tak ada lecet atau memar di sekitar luka, tepi dinding
rata, folikel rambut terpotong, serta tidak ada jembatan jaringan.
Beberapa luka terbuka di daerah tungkai bawah kanan dan kiri yang juga memiliki
ciri-ciri yang sesuai akibat benda tajam memungkinkan bahwa korban sempat melakukan
perlawanan dengan kakinya sehingga kaki ikut terluka oleh benda tajam tersebut dan
menimbulkan luka sayat. Luka berbentuk sayatan tersebut memiliki ciri-ciri, yaitu kedua
sudut lancip dan relatif superfisial, bentuk garis lurus, tak ada lecet atau memar di sekitar
luka, tepi dinding rata, folikel rambut terpotong, serta tidak ada jembatan jaringan.
Ia mengenakan kaos dalam (oblong) dan celana panjang yang di bagian bawahnya
digulung hingga setengah tungkai di bawahnya. Diduga korban adalah warga pedesaan yang
sedang mencari kayu bakar di hutan. Karena kebiasaan masyarakat di pedesaan setiap kali
berjalan menusuri hutan sering menggulung celananya dan membuka baju kemudian
disandangkan di bahu. Mungkin keadaan demikian membuatnya nyaman dan tidak gerah.
Tubuh mayat tersebut telah membusuk. Diduga korban telah meninggal lebih dari 24
jam yang lalu. Kelompok kami sepakat 24 jam yang lalu mengingat suhu di daerah
pegunungan yang dingin, sehingga memungkinkan pembusukan mayat berlangsung lebih
lama dari daerah yang panas.
Rumah terdekat dari TKP adalah kira-kira 2 km. TKP adalah daerah suatu perbukitan
yang berhutan cukup lebat.Keterangan ini memperkuat asumsi bahwa pembunuhan
berlangsung di tempat tersebut karena letaknya jauh dari pemukiman sehingga memberi
kesempatan serta memudahkan pelaku untuk melakukan tindak kejahatan tersebut.

Identifikasi Forensik
Identifikasi forensik merupakan upaya yang dilakukan dengan tujuan membantu
penyidik untuk menemukan identitas seseorang. Identitas seseorang dipastikan bila paling
sedikit dua metode yang digunakan memberikan hasil positif. Penentuan identitas personal
dapat menggunakan metode identifikasi sidik jari, visual, dokumen, pakaian dan perhiasan,
identifikasi medik, pemeriksaan gigi, dan pemeriksaan serologi, Akhir-akhir ini
dikembangkan pula metode DNA. 2
a. Pemeriksaan sidik jari
Metode ini membandingkan gambaran sidik jari jenazah dengan data sidik jari ante
mortem. Setelah mengambil sidik jari jenazah (cap) hasil kita berikan kepada pihak
yang berwajib.
b. Metode visual
Jenazah Tn.A sudah membusuk, maka metode ini kurang efektif dilakukan, karena
metode visual hanya efektif apabila didapatkan jenazah yang belum mebusuk.
c. Pemeriksaan dokumen
Tidak ditemukannya dompet ataupun dokumen dan kartu identifikasi lainnya pada
pakaian korban.
d. Pemeriksaan pakaian dan perhiasan
Dari pakaian dan perhiasan yang dipakai jenazah, mungkin dapat diketahi merek atau
nama pembuat, ukuran, inisial nama pemilik, badge, yang semuanya dapat membantu
identifikasi walaupun telah terjadi pembusukan pada jenazah tersebut.
e. Pada pemeriksaan didapatkan mayat berpakaian
Atas: kaos dalam (oblong) berwarna putih tanpa merek ukuran L yang

berlumuran darah di bagian dada dan perut kiri tubuh korban.


Bawah: celana panjang kain berwarna hitam tidak bermerek dengan dua buah
saku di bagian belakang dan satu buah saku masing-masing pada bagian kanan
dan kiri yang dibagian bawahnya digulung hingga setengah tungkai bawahnya.
Pada saku kiri belakang terdapat sehelai sapu tangan berwarna abu-abu

bergaris hitam. Pada bagian depan atas celana terdapat bercak darah.
Celana dalam berwarna putih dengan karet berwarna abu-abu pada pinggang
dengan tulisan Rider berwarna hitam. Celana dalam ini sedikit berlumuran
darah pada bagian depan atas sebelah kiri..

f. Identifikasi medik
Metode ini menggunakan data tinggi badan, berat badan, warna rambut, warna mata,
cacat/kelainan khusus, tatu (rajah). Metode ini mempunyai nilai cukup tinggi karena
selain dilakukan oleh seorang ahli dengan melakukan berbagai cara/modifikasi

sehingga ketepatannya cukup tinggi. Melalui metode ini diperoleh data tentang jenis
kelamin, ras, perkiraan umur dan tinggi badan, kelainan pada tulang dan sebagainya.
Pada pemeriksaan didapatkan bahwa mayat adalah seorang laki-laki bangsa
Indonesia, umur kurang lebih tiga puluh enam tahun, kulit berwarna sawo matang,
gizi cukup, panjang badan 165 cm dan berat badan 74 kg dan zakar disunat. Rambut
kepala berwarna hitam, tumbuh keriting tipis, panjang 13 cm. Alis berwarna hitam,
tumbuh lebat. Kumis berwarna hitam, tumbuh lebat dengan panjang 10mm. Hidung
berbentuk normal dan kedua daun telinga berbentuk normal. Alat kelamin berbentuk
normal, tidak menunjukkan kelainan. Lubang dubur berbentuk biasa tidak terdapat
kelainan
g. Pemeriksaan gigi
Pemeriksaan ini meliputi pencatatan data gigi (odontogram) dan rahang yang dapat
dilakukan dengan menggunakan pemeriksaan manual, sinar-X dan pencetakan gigi
serta rahang. Odontogram memuat data tentang jumlah, bentuk, susunan, tambalan,
protesa gigi dan sebagainya. Hasil dari pemeriksaan dibandingkan dengan data ante
mortem.
Pada mayat didapatkan gigi geligi lengkap kecuali geraham depan pertama rahang
bawah sebelah kiri yang tidak ada.
h. Pemeriksaan serologik
Pemeriksaan serologik bertujuan untuk menentukan golongan darah jenazah.
Pemeriksaan golongan darah yang telah membusuk dapat dilakukan dengan
memeriksa rambut, kuku dan tulang.
Pemeriksaan Medis
Pemeriksaan Luar
1. Label mayat: sehelai karton berwarna merah muda dengan materai lak merah, terikat
pada ibu jari kaki kanan mayat.
2. Tutup mayat: 3. Bungkus mayat: 4. Pakaian: Korban menggunakan kaos dalam (oblong) berwarna putih tanpa merek
ukuran L yang berlumuran darah di bagian dada dan perut kiri tubuh korban dan
celana panjang kain berwarna hitam tidak bermerek dengan dua buah saku di bagian
belakang dan satu buah saku masing-masing pada bagian kanan dan kiri yang
dibagian bawahnya digulung hingga setengah tungkai bawahnya. Pada saku kiri
belakang terdapat sehelai sapu tangan berwarna abu-abu bergaris hitam. Pada bagian
depan atas celana terdapat bercak darah, serta celana dalam berwarna putih dengan
karet berwarna abu-abu pada pinggang dengan tulisan Rider berwarna hitam. Celana
7

dalam ini sedikit berlumuran darah pada bagian depan atas sebelah kiri. Lehernya
terikat lengan baju dan ujung lengan baju lainnya terikat ke sebuah dahan pohon
perdu setinggi 60 cm.
5. Perhiasan: tidak ditemukan
6. Benda di samping mayat: pohon perdu setinggi 60 cm dan bebatuan
7. Tanda kematian:
Lebam mayat
Dilakukan pencatatan letak dan distribusi lebam. Pada kasus ini korban
ditemukan dalam posisi tertelungkup, sehingga lebam mayat akan ditemukan
pada bagian perut dan dada korban. Dan lebam mayat tidak hilang pada
penekanan dan tidak dapat berpindah. Lebam mayat biasanya mulai tampak

20-30 menit paska mati dan akan menetap 8-12 jam.


Kaku mayat
Kaku mayat mulai tampak kira-kira 2 jam setelah mati klinis,dan distribusinya
dimulai dari kepala ke kaki. Setelah mati klinis 12 jam kaku mayat menjadi

lengkap.
Suhu tubuh
Suhu tubuh menurun akibat berhenti nya proses metabolisme , hal ini
dipengaruhi juga oleh suhu lingkungan sekitar korban dan keadaan korban

yang hanya menggunakan kaos dalam.


Pembusukan
Tanda pembusukan tampak pertama kali pada kulit perut sebelah kanan bawah
yang berwarna kehijau-hijauan. Pembusukan baru tampak kira-kira 24 jam
pasca mati. Pada kasus ini telah ditemukan adanya pembusukan, jadi perkiraan

saat kematian pada korban ini adalah lebih dari 24 jam.


8. Identifikasi umum:
Jenis Kelamin : Laki-laki
Bangsa : Indonesia
Ras : Jawa
Umur : 36 tahun
Warna Kulit : sawo matang
Keadaan gizi : cukup
Tinggi badan : 165 cm
Berat badan : 74 kg
9. Identifikasi khusus
Tattoo : Jaringan parut : Anomali : 10. Pemeriksaan rambut: hitam dan keriting tipis
11. Pemeriksaan mata: tertutup, tidak ada gambaran perbendungan mata dan tidak ada
bintik-bintik perdarahan pada komjungtiva bulbi dan palpebra.
8

12. Pemeriksaan daun telinga dan hidung: tidak terdapat busa/cairan dan darah
13. Pemeriksaan terhadap mulut dan rongga mulut: terdapat luka lecet jenis tekan atau
geser dan luka memar pada bagian/ permukaan bibir akibat bibir yang terdorong dan
menekan gigi, gusi dan lidah. Tidak ditemukan busa halus.
14. Pemeriksaan alat kelamin dan lubang pelepasan: tidak ada kelainan
15. Pemeriksaan terhadap tanda-tanda kekerasan :
Letak luka: ditemukan adanya satu luka terbuka didaerah ketiak kiri dan

beberapa luka terbuka di daerah tungkai bawah kanan dan kiri.


Jenis luka: luka terbuka yang memperlihatkan pembuluh darah ketiak yang
putus dan luka terbuka di daerah tungkai bawah kanan dan kiri yang memiliki

ciri-ciri yang sesuai dengan akibat kekerasan tajam.


Arah luka: melintang
Tepi luka: rata dan teratur
Sudut luka: kedua sudut luka lancip
Dasar luka: dalam luka tidak melebihi panjang luka
Ukuran luka: 10 cm
16. Pemeriksaan terhadap patah tulang: tidak ada tanda patah tulang

Pemeriksaan Dalam
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.

Lidah
: tidak ada bekas gigitan dan masih utuh
Tonsil
: tidak ada kelainan
Kerongkongan
: tidak ditemukan benda asing
Batang tenggorok
: tidak ditemukan busa
Rawan gondok
: terdapat sedikit resapan darah
Arteria karotis interna : tidak terdapat kerusakan
Kelenjar timus
: ditemukan adanya thymic fat body
Paru-paru
: tidak tampak adanya edema
Jantung
: sebesar kepalan tangan kanan mayat. Selaput luar tampak

licin, tidak terdapat bintik perdarahan.


10. Aorta thorakalis
: tidak ada kelainan
11. Aorta abdominalis
: tidak ada kelainan
12. Ginjal
:Bersimpai lemak tipis. Simpai ginjal kanan dan kiri tampak
rata dan licin, berwarna coklat dan mudah dilepas. Berat ginjal sebelah kanan
sembilan puluh gram dan yang kiri seratus gram.
13. Hati, kandung empedu, dan pankreas : Hati berwarna coklat, permukaan rata, tepi
tajam dan perabaan kenyal. Penampang hati berwarna merah-coklat dan gambaran
hati tampak jelas. Berat hati adalah seribu dua ratus lima puluh gram. Kandung
empedu berisi cairan berwarna hijau coklat, selaput lendir berwarna hijau. Saluran
empedu tidak menunjukkan penyumbatan.

14. Limpa dan kelenjar getah bening : Limpa penampang berwarna merah hitam dengan
gambaran limpa jelas. Berat limpa seratus sepuluh gram.
15. Lambung dan Usus
: lambung selaput lendir

berwarna

putih

dan

menunjukkan lipatan yang biasa , tidak terdapat kelainan. Usus tidak ada kelainan.
16. Otak besar, otak kecil, dan batang otak
: tidak ada kelainan
17. Alat kelamin dalam : tidak ada kelainan

Pada autopsi semua organ harus diperiksa secara menyeluruh untuk dapat mengetahui
kemungkinan-kemungkinan lain penyebab kematian.3
Berdasarkan temuan dari pemeriksaan luar berupa adanya satu luka terbuka di daerah
ketiak kiri yang memperlihatkan pembuluh darah ketiak yang putus, maka kemungkinan
sebab kematian korban adalah akibat kekerasan tajam dan bukan karena akibat penjeratan
karena dalam kasus ini tidak ditemukan adanya tanda-tanda kematian akibat jeratan berupa
tanda-tanda asfiksia maupun resapan darah pada otot-otot leher sebelah dalam. Sedangkan
mekanisme kematian korban adalah syok karena perdarahan masif akibat putusnya pembuluh
darah ketiak kiri. 3
Tanatologi
Aspek tanatologi pada kasus ini, yaitu:

Tubuh mayat ditemukan telah membusuk, sehingga perkiraan saat kematian korban
lebih dari 24 jam karena pembusukan baru tampak kira-kira 24 jam pasca mati.
Pembusukan ini awalnya berupa warna kehijauan pada perut kanan bawah, yaitu
daerah sekum yang isinya lebih cair dan penuh dengan bakteri serta terletak dekat
dinding perut. Warna kehijauan ini disebabkan oleh terbentuknya sulf-methemoglobin. Secara bertahap warna kehijauan ini akan menyebar ke seluruh tubuh,

dan bau busuk pun akan tercium. 2


Ditemukan lebam mayat tetap pada bagian dada dan perut karena korban diketemukan
dalam keadaan tertelungkup sebab setelah kematian klinis, maka eritrosit akan
menempati tempat terbawah akibat gaya tarik bumi (gravitasi). Lebam mayat yang
tetap ini dikarenakan bertimbunnya sel-sel darah dalam jumlah yang cukup banyak,
sehingga sulit berpindah lagi, dan kekakuan otot-otot dinding pembuluh darah ikut
mempersulit perpindahan tersebut. Dan lebam mayat yang menetap ini akan terjadi

setelah 8-12 jam pasca kematian. 2


Pada korban juga terdapat penurunan suhu tubuh (algor mortis).
10

Pada korban tidak diketemukan kaku mayat (rigor mortis) karena korban sudah
meninggal kira-kira 24 jam, sedangkan kaku mayat akan timbul dan menjadi lengkap
pada 12 jam pertama, kemudian menetap selama 12 jam dan akan menghilang dalam
urutan yang sama. 2

Sebab Kematian

: Cedera/luka akibat kekerasan benda tajam.

Cara Kematian

: Pada kasus ini, cara kematian korban adalah tidak wajar, dengan

dugaan pembunuhan oleh seseorang di hutan dengan menggunakan kekerasan tajam. Hal ini
juga berdasarkan hasil temuan pada korban, yaitu ditemukan tanda-tanda kekerasan, yaitu
luka terbuka pada bagian ketiak dan luka benda tajam pada kedua tungkai bawah.
Mekanisme Kematian

: Perdarahan masif karena putusnya pembuluh darah ketiak kiri

akibat kekerasan benda tajam yang diterima korban.

Rumah Sakit UKRIDA


Jalan Arjuna Utara No 6 Jakarta Barat 11470

11

Nomor : 1435-SK.III/VER/3-11

Jakarta, 20 Desember 2014

Lamp : Satu sampul tersegel----------------------------------------------------------------------------Perihal : Hasil Pemeriksaan Pembedahan--------------------------------------------------------------atas jenazah Tn. A----------------------------------------------------------------------------------------PROJUSTITIA
Visum Et Repertum
Yang bertandatangan di bawah ini, dr. Gita Puspitasari, dokter pada Rumah Sakit UKRIDA
Jakarta Barat, atas permintaan tertulis dari Kepolisian Metropolitan Grogol dengan nomor
12/VER/ 2014, tertanggal sembilan belas Desember dua ribu empat belas, maka dengan ini
menerangkan bahwa pada tanggal sembilan belas Desember dua ribu empat belas, pukul
empat belas lewat dua puluh menit waktu Indonesia bagian Barat, bertempat di RS UKRIDA
Jakarta Barat, telah melakukan pemeriksaan jenazah dengan nomor registrasi 096200713
yang menurut surat permintaan tersebut adalah:
Nama : A. --------------------------------------------------------------------------------------------------Umur : 36 tahun -------------------------------------------------------------------------------------------Jenis kelamin : Laki-laki ---------------------------------------------------------------------------------Warga

negara

------------------------------------------------------------------------------Pekerjaan

Indonesia
:

-------------------------------------------------------------------------------------------------Agama : Islam ---------------------------------------------------------------------------------------------Alamat : ----------------------------------------------------------------------------------------------------Mayat telah diidentifikasi dengan sehelai label berwarna merah muda, dengan materai lak
merah, terikat pada ibu jari kaki kanan.----------------------------------------------------------------Hasil Pemeriksaan
Pemeriksaan Luar
1. Mayat tidak terbungkus.------------------------------------------------------------------------2. Mayat berpakaian sebagai berikut:-------------------------------------------------------------a. kaos dalam (oblong) berwarna putih tanpa merek ukuran L yang berlumuran
darah di bagian dada dan perut kiri tubuh korban.----------------------------------b. celana panjang kain berwarna hitam tidak bermerek dengan dua buah saku di
bagian belakang dan satu buah saku masing-masing pada bagian kanan dan
kiri yang dibagian bawahnya digulung hingga setengah tungkai bawahnya.

12

Pada saku kiri belakang terdapat sehelai sapu tangan berwarna abu-abu
bergaris hitam. Pada bagian depan atas celana terdapat bercak darah.-----------c. celana dalam berwarna putih dengan karet berwarna abu-abu pada pinggang
dengan tulisan Rider berwarna hitam. Celana dalam ini sedikit berlumuran
darah pada bagian depan atas sebelah kiri.-------------------------------------------3. Kaku mayat lengkap pada seluruh persendian korban, lebam mayat ditemukan pada
bagian perut dan dada korban berwarna merah kebiruan. Lebam mayat tidak hilang
pada penekanan dan tidak dapat berpindah. Mayat dalam kondisi telah membusuk.---4. Mayat adalah seorang laki-laki bangsa Indonesia, umur kurang lebih tiga puluh enam
tahun, kulit berwarna sawo matang, gizi cukup, panjang badan seratus enam puluh
lima sentimeter dan berat badan tujuh uluh empat kilogram dan zakar disunat. --------5. Rambut kepala berwarna hitam, tumbuh keriting tipis, panjang tiga belas sentimeter.
Alis berwarna hitam, tumbuh lebat. Kumis berwarna hitam, tumbuh lebat dengan
panjang seuluh milimeter.-----------------------------------------------------------------------6. Kedua mata tertutup, tidak ada gambaran perbendungan mata dan tidak ada bintikbintik perdarahan pada komjungtiva bulbi dan palpebra.-----------------------------------7. Hidung berbentuk normal dan kedua daun telinga berbentuk normal.--------------------8. Mulut tertutup. Kedua bibir tampak tebal. Gigi geligi lengkap kecuali geraham depan
pertama rahang bawah sebelah kiri tidak terdapat.-------------------------------------------9. Dari lubang hidung, telinga, mulut dan lubang tubuh lainnya tidak keluar apa-apa.----10. Alat kelamin berbentuk normal, tidak menunjukkan kelainan. Lubang dubur
berbentuk biasa tidak terdapat kelainan.-------------------------------------------------------11. Pada tubuh terdapat luka-luka sebagai berikut:--------------------------------------------a. Pada daerah ketiak kiri, terdapat luka terbuka melintang berukuran kurang
lebih sepuluh sentimeter dengan tepi rata dan teratur serta sudut luka lancip,
dalam luka tidak melebihi panjang luka. Pembuluh darah ketiak tampak
putus .------------------------------------------------------------------------------------b. Pada daerah tungkai bawah kanan, lima belas sentimeter dari mata kaki, dua

puluh sentimeter dari garis bawah lutut terdapat beberapa luka terbuka
melintang berukuran kurang lebih lima sentimeter dengan tepi beraturan.-----c. Pada daerah tungkai bawah kiri, delapan sentimeter dari mata kaki, dua puluh
delapan sentimeter dari garis bawah lutut terdapat luka terbuka melintang
berukuran kurang lebih tujuh sentimeter dengan tepi beraturan.------------------12. Patah tulang tidak tampak pada tubuh jenazah.----------------------------------------------Pemeriksaan Dalam (Bedah Jenazah)
13. Lidah utuh dan tidak terdapat bekas gigitan maupun resapan darah.---------------------14. Tonsil tidak membesar dan penampangnya tidak menunjukkan kelainan.---------------15. Kelenjar gondok rata, tidak ada kelainan------------------------------------------------------13

16. Kerongkongan kosong, selaput lendirnya berwarna putih. ---------------------------------17. Trakea/batang tenggorok tidak ditemukan busa ataupun darah.---------------------------18. Rawan gondok tidak terdapat resapan darah--------------------------------------------------19. Arteria karotis interna tidak terdapat kerusakan intima-------------------------------------20. Kelenjar timus (kacangan): didapati thymic fat body dan tidak terdapat perdarahan
berbintik-------------------------------------------------------------------------------------------21. Paru-paru tidak terdapat kelainan--------------------------------------------------------------22. Jantung sebesar kepalan tangan kanan mayat. Selaput luar tampak licin, tidak terdapat
bintik perdarahan.---------------------------------------------------------------------------------23. Ginjal kanan dan kiri bersimpai lemak tipis. Simpai ginjal kanan dan kiri tampak rata
dan licin, berwarna coklat dan mudah dilepas. Berat ginjal sebelah kanan delapan
puluh gram dan yang kiri sembilan puluh gram. --------------------------------------------24. Hati berwarna coklat, permukaan rata, tepi tajam dan perabaan kenyal. Penampang
hati berwarna merah-coklat dan gambaran hati tampak jelas. Berat hati adalah seribu
dua ratus gram.------------------------------------------------------------------------------------25. Kandung empedu berisi cairan berwarna hijau coklat, selaput lendir berwarna hijau.
Saluran empedu tidak menunjukkan penyumbatan.-----------------------------------------26. Limpa penampang berwarna merah hitam dengan gambaran limpa jelas. Berat limpa
seratus lima gram.--------------------------------------------------------------------------------27. Lambung selaput lendir berwarna putih dan menunjukkan lipatan yang biasa , tidak
terdapat kelainan.---------------------------------------------------------------------------------28. Usus dua belas jari, usus halus dan usus besar tidak menunjukkan kelainan------------29. Pankreas tidak ada kelainan.--------------------------------------------------------------------30. Alat kelamin dalam tidak ada kelainan.-------------------------------------------------------Kesimpulan
Pada mayat laki-laki ini ditemukan luka terbuka dan pembuluh darah yang putus pada daerah
ketiak kiri dan beberapa luka terbuka pada tungkai bawah kanan dan kiri yang memiliki ciriciri yang sesuai dengan akibat kekerasan tajam.------------------------------------------------------Luka pada ketiak kiri menunjukkan ciri-ciri yang sesuai dengan bacokan benda tajam.------Sebab mati orang ini adalah kekerasan tajam pada ketiak kiri yang menyebabkan terjadinya
perdarahan hebat.------------------------------------------------------------------------------------------Demikianlah saya uraikan dengan sebenar-benarnya berdasarkan keilmuan saya yang sebaikbaiknya mengingat sumpah sesuai dengan KUHAP.------------------------------------------------Dokter yang memeriksa,

14

dr. Gita Puspitasari


NIP 0972635892

Tinjauan Pustaka
Luka akibat Kekerasan Benda Tajam
Benda-benda yang dapat mengakibatkan luka dengan sifat luka seperti ini adalah
benda yang memiliki sisi tajam, baik berupa garis maupun runcing, yang bervariasi dari alatalat seperti pisau, golok, dan sebagainya hingga keeping kaca, gelas, logam, sembilu bahkan
tepi kertas atau rumput. Gambaran umum luka yang diakibatkannya adalah tepi dan dinding
luka yang rata, berbentuk garism tidak terdapat jembatan jaringan dan dasar luka berbentuk
garis atau titik.2
Luka akibat kekerasan benda tajam dapat berupa luka irirs atau luka sayat, luka tusuk
dan luka bacok. Selain gambaran umum luka tersebut di atas, luka iris atau sayat dan luka
bacok mempunyai kedua sudut luka lancip dan dalam luka tidak melebihi panjang luka.
Sudut luka yang lancip dapat terjadi dua kali pada tempat yang berdekatan akibat pergeseran
15

senjata sewaktu ditarik atau akibat bergeraknya korban. Bila dibarengi gerak memutar, dapat
menghasilkan luka yang tidak selalu berupa garis.2
Pada luka tusuk, sudut luka dapat menentukan perkiraan benda penyebabnya, apakah
berupa pisau bermata satu atau bermata dua. Bila satu sudut luka lancip dan yang lain tumpul,
berarti benda penyebabnya adalah benda tajam bermata satu. Bila kedua sudut luka lancip,
luka tersebut dapat diakibatkan oleh benda tajam bermata dua. Benda tajam bermata satu
dapat menimbulkan luka tusuk dengan kedua sudut luka lancip apabila hanya bagian ujung
benda saja yang menyentuh kulit, sehingga sudut luka dibentuk oleh ujung dan sisi tajamnya.
Kulit di sekitar luka akibat kekerasan benda tajam biasanya tidak menunjukkan adanya luka
lecet atau luka memar, kecuali bila bagian gagang turut membentur kulit. 2
Pada luka tusuk, panjang luka biasanya tidak mencerminkan lebar benda tajam
penyebabnya, demikian pula panjang saluran luka biasanya tidak menunjukkan panjang
benda tajam tersebut. Hal ini disebabkan oleh factor elastisitas jaringan dan gerakan korban.
Umumnya, luka akibat kekerasan benda tajam pada kasus pembunuhan, bunuh diri atau
kecelakaan memiliki ciri-ciri berikut: 2

Tabel 1 : Ciri-ciri luka akibat kekerasan tajam pada kasus pembunuhan,bunuh diri dan
kecelakaan .2
Pembunuhan

Bunuh Diri

Kecelakaan

Lokasi luka

Sembarang

Terpilih

Terpapar

Jumlah luka

Banyak

Banyak

>1

Pakaian

Terkena

Tidak

Terkena

Luka tangkisan

(+)

(-)

(-)

Luka percobaan

(-)

(+)

(-)

Cedera
Sekunder

Mungkin ada

(-)

Mungkin ada

Ciri-ciri pembunuhan di atas dapat dijumpai pada kasus pembunuhan yang disertai
perkelahian, Tetapi bila tanpa perkelahian maka lokasi luka biasanya pada daerah fatal dan
dapat tunggal. Luka tangkis merupakan luka yang terjadi akibat perlawanan korban dan pada

16

umumnya ditemukan pada telapak dan punggung tangan, jari-jari tangan, punggung lengan
bawah dan tungkai.
Pemeriksaan pada kain (baju) yang terkena pisau bertujuan untuk melihat interaksi
antara pisau-kain-tubuh, yaitu melihat letak/lokasi kelainan, bentuk robekan, adanya partikel
besi (reaksi biru berlin dilanjutkan dengan pemeriksaan spektroskopi), serat kain dan
pemeriksaan terhadap bercak darahnya.
Bunuh diri yang menggunakan biasanya diarahkan pada tempat yang cepat
mematikan misalnya leher, dada kiri, pergelangan tangan, perut (harakiri) dan lipat paha.
Bunuh diri dengan senjata tajam tentu saja akan menghasilkan luka-luka pada tempat yang
terjangkau oleh tangan korban serta biasanya tidak menembus pakaian karena umumnya
korban menyingkap pakaian terlebih dahulu.
Luka percobaan khas ditemukan pada kasus bunuh diri yang menggunakan senjata
tajam, sehubungan dengan kondisi kejiwaan korban. Luka percobaan tersebut dapat berupa
luka sayat atau luka tusuk yang dilakukan berulang dan biasanya sejajar.
Yang dimaksud dengan kecelakaan pada tabel di atas adalah kekerasan tajam yang terjadi
tanpa unsur kesengajaan misalnya kecelakaan industri, kecelakaan pada kegiatan sehari-hari;
sedangkan cedera sekunder adalah cedera yang terjadi bukan akibat benda tajam penyebab,
misalnya luka akibat terjatuh.
Jenis-Jenis Luka
Terdapat beberapa jenis luka yang dapat ditemukan pada tubuh korban seperti lecet/abrasi,
luka lecet tekan, hematom, laserasi, patah tulang rupture abdomen/rongga thorax, dan
perdarahan. 2
1. Lecet/abrasi
Luka lecet terjadi akibat cedera pada epidermis yang bersentuhan dengan benda yang
memiliki permukaan kasar atau runcing, misalnya pada kejadian kecelakaan lalu
lintas, tubuh terbentur aspal, atau sebaliknya benda tersebut yang bergerak dan
bersentuhan dengan kulit. 2
Manfaat interpretasi luka lecet ditinjau dari aspek medikolegal seringkali diremehkan,
padahal pemeriksaan luka lecet yang teliti disertai pemeriksaan di TKP dapat
mengungkapkan peristiwa yang sebenarnya terjadi. Misalnya suatu luka lecet yang
semula diperkirakan sebagai akibat jatuh dan terbentur aspal jalanan atau tanah,
seharusnya dijumpai pula aspal atau debu yang menempel di luka tersebut. Bila
setelah dilakukan pemeriksaan yang teliti ternyata tidak dijumpai benda asing
17

tersebut, maka harus timbul pemikiran bahwa luka tersebut bukan terjadi akibat jatuh
ke aspal/tanah, tapi mungkin akibat tindak kekerasan. 2
2. Luka lecet tekan
Disebabkan oleh penjejakan benda tumpul pada kulit. Karena kulit adalah jaringan
yang lentur, maka bentuk luka lecet tekan belum tentu sama dengan bentuk
permukaan benda tumpul tersebut, tetapi masih memungkinkan identifikasi benda
penyebab yang mempunyai bentuk yang khas misalnya kisi-kisi radiator mobil, jejas
gigitan, dan sebagainya. 2
Gambaran luka lecet tekan yang ditemukan pada mayat adalah daerah kulit yang kaku
dengan warna lebih gelap dari sekitarnya akibat menjadi lebih padatnya jaringan yang
tertekan serta terjadinya pengeringan yang berlangsung pasca mati. 2
3. Hematom
Adalah suatu perdarahan dalam jaringan bawah kulit/kutis akibat pecahnya kapiler
dan vena, yang disebabkan oleh kekerasan benda tumpul. Luka memar kadangkala
member petunjuk tentang bentuk benda penyebabnya, misalnya jejas ban yang
sebenarnya adalah suatu perdarahan tepi (marginal haemorrhage). 2
Letak, bentuk dan luas luka memar dipengaruhi oleh berbagai factor seperti besarnya
kekerasan, jenis benda penyebab (karet, kayu, besi), kondisi dan jenis jaringan
(jaringan ikat longgar, jaringan lemak), usia, jenis kelamin, corak dan warna kulit,
kerapuhan pembuluh darah, penyakit (hipertensi, penyakit kardio vascular, diatesis,
hemoragik). 2
Pada bayi, hematom cenderung lebih mudah terjadi karena sifat kulit yang longgar
dan masih tipisnya jaringan lemak subkutis., demikian pula pada usia lanjut
sehubungan dengan menipisnya jaringan lemak subkutan dan pembuluh darah yang
kurang terlindung. 2
Akibat gravitasi, lokasi hematom mungkin terletak jauh dari letak benturan, misanya
kekerasan benda tumpul pada dahi menimbulkan hematom palpebra atau kekerasan
benda tumpul pada paha dengan patah tulang paha menimbulkan hematom pada sisi
lain tungkai bawah. 2
Umur luka memar secara kasar dapat diperkirakan melalui perubahan warnanya. Pada
saat timbul, memar berwarna merah, kemudian berubah menjadi ungu atau hitam,
setelah 4 sampai 5 hari akan berwarna hijau yang kemudian akan berubah menjadi
kunin dalam 7 sampai 10 hari, dan akhirnya menghilang dalam 14 sampai 15 hari.
Perubahan warna tersebut berlangsung mulai dari tepid an waktunya dapt bervariasi
tergantung derajat dan berbagai factor yang mempengaruhinya. Dengan perjalanan
waktu, baik pada orang hidup maupun mati, luka memar akan member gambaran
yang makin jelas. 2
18

Hematom ante mortem yang timbul beberapa saat sebelum kematian biasanya akan
menunjukkan pembengkakan dan infiltrasi darah dalam jaringan sehingga dapat
dibedakan dari lebam mayat dengan melakukan penyayatan kulit. Pada lebam mayat
darah akan mengalir keluar dari pembuluh darah yang tersayat bila dialiri air,
penampang sayatan akan tampak bersih, sedangkan pada hematom, penampang
sayatan akan berwarna merah kehitaman. Tetapi harus diingan bahwa pada
pembusukan juga terjadi ekstravasasi darah yang dapat mengacaukan pemeriksaan
ini.2
4. Laserasi
Adalah luka terbuka kekerasan benda tumpul. Bentuk daripada laserasi dapat
menunjukkan sifat benda penyebabnya dan dampak patofisiologi dapat sebagai
sumber perdarahan yang fatal dan menimbulkan suatu infeksi. 2
Ciri-ciri daripada suatu laserasi adalah tepi/dindin tidak rata, kadang ditemukan
jembatan jaringan, dan lecet mungkin ditemukan di sekitar luka. 2
5. Patah tulang
Bentuk daripada patah tulang dapat menentukan sifat benda penyebab. Perubahan
terjadi berdasarkan waktu. Dampak patofisiologi yang dapat ditimbulkan oleh patah
tulang adalah antara lain, perdarahan, disfungsi, kerusakan jaringan sekitar, emboli
lemak dan sumsum tulang. 2
6. Cedera kepala
Selain kelainan pada kulit kepala dan patah tulang tengkorak, cedera kepala dapat
pula mengakibatkan perdarahan dalam rongga tengkorak berupa perdarahan epidural,
subdural dan subarakhnois, kerusakan selaput otak dan jaringan otak. 2
Perdarahan epidural sering terjadi pada usia dewasa sampai usia pertengahan, dan
sering dijumpai pada kekerasan benda tumpul di daerah pelipis (kurang lebih 50%)
dan belakang kepala akibat garis paah yang melewati sulcus arteriea meningea tetapi
perdarahan epidural tidak selalu disertai patah tulang. Perdarahan subdural terjadi
karena robeknya sinus, vena jembatan (bridging vein), arteri basilaris atau berasal dari
perdarahan subarachnoid. 2
Perdarahan subarakhnois biasanya berasal dari focus kontusio/laserasi jaringan otak.
Perlu diingat bahwa perdarahan ini juga bisa terjadi spontan pada sengatan matahari
(heat stroke), leukemia, tumor, keracunan CO dan penyakit infeksi tertentu. Lesi otak
tidak selalu terjadi hanya pada daerah benturan (coup), tetapi dapat terjadi di seberang
titik benturan (contre coup) atau di antara keduanya (intermediate lesion). 2
Perdarahan Axilla
19

Axilla adalah daerah berbentuk limas yang terdapat pada peralihan antara lengan atas
dan thorax. Bentuk dan luas axilla berubah-ubah, tergantung dari kedudukan lengan atas.
Arteria axillaris, vena axillaris, dan fasciculus plexus brachialis diliputi oleh sarung fasia
yang tipis. Ke arah cranial sarung aksilar ini ternyata sinambung dengan lapis prevertebral
fasia cervicalis di depan arteria subclavia.4
Arteria axillaris berawal pada tepi lateral costa I sebagai kelanjutan arteria subclavia
dan berakhir pada tepi kaudal musculus teres major. Arteri axillaris dibagi menjadi tiga
bagian oleh musculus pectoralis minor. Vena axillaris terletak medial dari arteria axillaris.
Vena axillaris berawal sebagai lanjutan vena basilica pada tepi kaudal musculus teres major
dan berakhir pada tepi lateral costa I untuk menjadi vena subclavia. Vena axillaris menampug
anak-anak cabang yang sesuai dengan cabang-cabang arteria axillaris, dan di tepi kaudal
musculus subscapularis menampung pasangan vena brachialis yang mengikuti arteria
brachialis (vena comitans). 4
Perdarahan pada pembuluh darah pada daerah ketiak akan menyebabkan korban mati
karena kehabisan darah. Tidak hanya pembuluh darah, pada daerah ketiak juga terdapat saraf
yang pada korban kebetulan tidak ditemukan adanya kerusakan. Karena pembuluh darah
yang terputus, maka darah yang masuk ke jantung untuk dialirkan ke organ-organ lain akan
berkurang. 5
Perdarahan yang terdapat pada region axilla dapat menimbulkan kematian yang
mungkin didahului oleh fase shock. Shock adalah sindrom klinik yang timbul dari perfusi
jaringan yang inadekuat. Ketidakseimbangan antara penghantaran dan kebutuhan oksigen dan
substrat yang diakibatkan oleh hipoperfusi dapat menyebabkan disfungsi seluler. Injury
seluler yang disebabkan oleh penghantaran oksigen dan substrat yang inadekuat dapat
menimbulkan produksi dan lepasnya mediator inflamasi dan perubahan struktur dari
mikrovaskularisasi. Hal ini mengarah ke lingkaran setan dimana perfusi yang bermasalah
bertanggung jawab akan adanya injury seluler; yang menyebabkan maldistribusi aliran darah
yang nantinya bisa mengarah ke multiple organ failure dan apabila lingkaran ini tidak
dihentikan maka dapat berakhir dengan kematian. 5
Bentuk yang paling umum dari shock adalah karena kehilangan sel darah merah dan
plasma dari hemorrhage atau dari kehilangan plasma saja dari sekuestrasi cairan
ekstravaskular atau gastrointestinal, urinary dan insensible loss. Respons fisiologik yang
normal pada hipovolemik adalah dengan menjaga perfusi dari otak dan jantung saat
mengembalikan volume darah sirkulasi yang efektif. Adanya peningkatan simpatis,
hiperventilasi, kolapsnya pembuluh darah vena, pelepasan hormone stress, dan percobaan
20

untuk membatasi kehilangan volume intravascular melalui diambilnya cairan interstitial dan
intraselular dan menurunnya output urin. Kategori hipovolemi : 5

Hipovolemia ringan
Kehilangan 20% dari volume darah, ditandai dengan adanya takikardia yang ringan,
ekstremitas dingin, meningkatnya waktu pengisian kapiler (capillary refill time),

diaphoresis, kolaps vena, dan gelisah (anxious).


Hipovolemia sedang
Kehilangan 20-40% volume darah ditandai dengan pertanda hipovolemia ringan
ditambah dengan takikardia, takipnoe, oligouri dan perubahan postural.

Hipovolemia berat
Kehilangan > 40% volume darah ditandai dengan tanda-tanda hipovolemia ringan dan
sedang yang disertai dengan instabilitas hemodinamika, marked tachycardia,
hipotensi, dan koma (penurunan kesadaran)
Transisi dari hipovolemi ringan menuju berat dapat berlangsung cepat. Apabila

keadaan ini tidak segera ditangani, apalagi pada pasien yang sudah tua atau dengan penyakit
penyerta tertentu, maka kematian dapat segera terjadi. 5
Kesimpulan
Pada mayat laki-laki ini ditemukan luka terbuka dan pembuluh darah yang putus pada
daerah ketiak kiri dan beberapa luka terbuka pada tungkai bawah kanan dan kiri yang
memiliki ciri-ciri yang sesuai dengan akibat kekerasan tajam. Luka pada ketiak kiri
menunjukkan ciri-ciri yang sesuai dengan luka bacok yaitu kedua sudut luka lancip dan
dalamnya luka tidak melebihi panjang luka. Sebab mati orang ini adalah kekerasan tajam
pada ketiak kiri yang menyebabkan terjadinya perdarahan yang banyak sehingga
menimbulkan terjadinya syok dan kematian. Perkiraan saat kematian korban adalah lebih dari
24 jam dikarenakan tubuh korban telah mengalami pembusukan saat ditemukan di TKP.
Daftar Pustaka
1. Staf Pengajar Bagian Kedokteran Forensik FKUI. Peraturan Perundang-undangan
Bidang Kedokteran. Hukum Acara Pidana, Prosedur Medikolegal, dan Kejahatan
terhadap Tubuh dan Jiwa Manusia. Jakarta: Bagian Kedokteran Forensik FKUI; 1994.
h. 1-39.
21

2. Budiyanto A, Widiatmaka W, Sudiono S, et al. Ilmu Kedokteran Forensik. Jakarta:


Bagian Kedokteran Forensik FKUI; 1997. h.3-64, 177-206
3. Staf Pengajar Bagian Kedokteran Forensik FKUI. Teknik Autopsi Forensik. Jakarta:
Bagian Kedokteran Forensik FKUI; 2000. h. 1-44, 74-81
4. Moore KL, Agur AMR. Anatomi Klinis Dasar. Jakarta: Hipokrates; 2002.
5. Perdarahan Aksila. Availaible at: http://emedicine.medscape.com/article/760145overview#showall. Accesed on December 22th 2014.

22