Anda di halaman 1dari 31

MAKALAH FARMAKOGNOSI FITOKIMIA III

POLIKETIDA

Disusun Oleh Kelompok 1 A:

Fadillah Saadi Ekapriatna


1112102000008
Vesty Anis Triana
1112102000009

1112102000001

1112102000002

Angga Maulidan Pernama

Dwi Hariyati

Galih Audha Rahman


1112102000010

1112102000003

Safizah Ummu Harisah

Sani Pradasari Afifah


1112102000011

1112102000004

Muhammad Huda Ardo

Tharlis Diansyah Lubis


1112102000012

1112102000005

Muhammad Alamsyah Putra

Ayu Nopita
1112102000013
Agung Prakoso Trisa

1112102000007

Nur Afniah

111..

PROGRAM STUDI FARMASI


FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH


2014

A. Pengertian Senyawa Poliketida


Secara biogenetik, senyawa aromatik/fenolat dibedakan:
1. Berasal dari jalur sikimat yaitu fenil propanoid
2. Berasal dari jalur asetat-malonat yaitu poliketida
3. Kombinasi kedua jalur yaitu flavonoid
Poliketida berasal dari kata poli yang berarti banyak dan
ketida

yang

menunjukkan adanya ketida (-CH2COCOOH).

Hal ini

dikarenakan suatu poliketida ditandai dengan dimilikinya pola berulang suatu


ketida

[CH2CO]n

dalam

rangkaian

strukturnya.

Poliketida

alami

digolongkan berdasarkan pada biosintesisnya, yang membedakannya


adalah urutan rantai poli--keto, yang terbentuk oleh coupling unit-unit
asam asetat (C2) melalui reaksi kondensasi, yaitu:
nCH3CO2H

[CH2CO]n

Poliketida termasuk dalam kelas produk alami yang diisolasi dari


mikroba, tanaman dan invertebrata yang mencakup jumlah yang
mengesankan klinis obat yang efektif dengan kegiatan beragam.
Beberapa contoh diantaranya: erythromycin (antibiotik), rapamycin
(imunosupresif), amfoterycin (antijamur), avermectin (antiparasit), dan
doxorubycin (antikanker). Seperti pada produk alam lainnya, poliketida
memainkan peran yang berbeda dalam memproduksi organisme, dari
pertahanan diri (menghambat pertumbuhan dan melawan organisme
yang merugikan) sampai mengsignal molekul (sebagai pembawa
pesan antar organisme).
Poliketida

diproduksi

melalui

kondensasi

bertahap

yang

sederhana dari prekursor asam karboksilat, menyerupai biosintesis

asam lemak. Biosintesis tersebut dilakukan oleh enzim yang dikenal


sebagai synthases poliketida (PKSs). Ada beberapa jenis PKSs, mulai
dari protein yang relatif sederhana sampai kompleks multienzimatik
besar yang memiliki puluhan situs katalitik.
Protein tersebut menggunakan salah satu dari dua mekanisme umum,
yaitu:
1. Modular - di mana setiap rangkaian situs katalitik ini hanya

digunakan sekali selama proses biosintesis, dan


2. Iteratif - di mana set yang sama dari situs aktif digunakan berulang

kali.
Poliketida terdiri dari beberapa senyawa antara lain aflatoxin,
diskodermolida, antibiotikpoliena, makrolida, tetrasiklin, dan masih
banyak yang lainnya. Akan tetapi dalam kesempatan ini kami akan
menguraikan penjelasan mengenai diskodermolida.

A. Struktur Poliketida
Poliketida berasal dari kata poli yang berarti banyak dan
ketida yang menunjukkan adanya ketida (-CH2COCOOH). Hal ini
dikarenakan suatu poliketida ditandai dengan dimilikinya pola berulang
suatu ketida [CH2CO]n

dalam rangkaian strukturnya. Poliketida alami

digolongkan berdasarkan pada biosintesisnya, yang membedakannya


adalah urutan rantai poli--keto, yang terbentuk oleh coupling unit-unit
asam asetat (C2) melalui reaksi kondensasi, yaitu
nCH3CO2H

[CH2CO]n

Secara umum senyawa poliketida memiliki struktur


[CH2CO]n

CH 3

COOH yang disebut ketida atau poli--keto. Berdasarkan

struktur poliketida tersebut, secara trivial poliketida memiliki nama

poliketida atau alkan poli-on. Sedangkan secara IUPAC diberi nama


polialkanon.

Penamaan

B. Contoh Poliketida
Tetrasiklina (INN)
Tetrasiklin adalah antibiotik poliketida spektrum luas yang diproduksi
dari genus Streptomyces dari Actinobacteria. Umumnya digunakan untuk
mengobati acne vulgaris.dijual dengan beberapa nama dagang seperti
Sumycin, Terramycin, Tetracyn, Panmycin, dan lain-lain. Actisite yang
berbentuk seperti benang serat digunakan dalam aplikasi kedokteran gigi. Ia
juga digunakan untuk memproduksi beberapa senyawa turunan semi-sintetik
yang dikenal sebagai antibiotik tetrasiklina. Tetrasiklin umumnya diproduksi
oleh beberapa anggota dari genus Streptomyces dan merupakan antibiotik

yang umum digunakan untuk pengobatan manusia. Namun, tetrasiklin juga


sering digunakan untuk pengobatan hewan contohnya unggas. Tetrasiklin
termasuk antibiotik dengan spektrum luas karena menginhibisi hampir
semua bakteri gram-negatif maupun gram-positif.
Madigan MT, Martinko JM.2006. Brock Biologi of Microorganism: Elevent
Edition. New Jarsey: Pearson Prenitice Hall.
Rifampisin
Rifampisin adalah bakterisida antibiotik obat dari kelompok
rifamycin yang digunakan untuk mengobati infeksi bakteri. Ini adalah
senyawa semisintetik yang berasal dari Amycolatopsis rifamycinica
(sebelumnya

dikenal

sebagai

Amycolatopsis

mediterranei

dan

Streptomyces mediterranei ). Rifampisin biasanya digunakan untuk


mengobati Mycobacterium seks, termasuk tuberkulosis dan penyakit
Hansen.
Rifampisin merupakan obat antibiotik yang digunakan untuk
mengobati infeksi bakteri. Rifampicin sering dipakai untuk pengobatan
tuberculosis (TBC). Obat ini juga dapat digunakan untuk mencegah
infeksi setelah berkontak dengan seseorang yang sedang menderita
infeksi serius. Obat ini hanya diberikan dengan resep dokter. Untuk
infeksi pasca bedah oleh kuman enterokokus Ps. aeroginosa atau
stafilokokus yang resisten terhadap Beta Laktam atau Aminoglikosid.
Rifampisin bekerja dengan membunuh bakteri yang menyebabkan
infeksi.
Cara kerja obat ini yaitu dengan menonaktifkan enzim bakteri
yang disebut RNA polimerase. Bakteri menggunakan RNA polimerase
untuk membuat protein dan untuk menyalin informasi genetik (DNA)
mereka sendiri. Tanpa enzim ini bakteri tidak dapat berkembang biak
dan bakteri akan mati. Kerja obat bersifat bakterisid, dapat membunuh

kuman semi-dormant yang tidak dapat dibunuh oleh isoniazid.


Mekanisme kerja berdasarkan perintangan spesifik dari suatu enzim
bakteri Ribose Nukleotida Acid (RNA)-polimerase sehingga sintesis RNA
terganggu.
Interaksi obat ini adalah mempercepat metabolisme metadon,
absorpsi

dikurangi

oleh

antasida,

mempercepat

metabolisme,

menurunkan kadar plasma dari dizopiramid, meksiletin, propanon dan


kinidin, mempercepat metabolisme kloramfenikol, nikumalon, warfarin,
estrogen,

teofilin,

tiroksin,

anti

depresan

trisiklik,

antidiabetik

(mengurangi khasiat klorpropamid, tolbutamid, sulfonil urea), fenitoin,


dapson, flokonazol, itrakonazol, ketokonazol, terbinafin, haloperidol,
indinafir,

diazepam,

atofakuon,

nifedipin,

verapamil,

siklosprosin,

betabloker(propanolol),diltiazem,
mengurangi

khasiat

glukosida

jantung, mengurangi efek kostikosteroid, flufastatin.


Rifampisin adalah suatu enzyme inducer yang kuat untuk
cytochrome P-450 isoenzymes, mengakibatkan turunnya konsentrasi
serum obat-obatan yang dimetabolisme oleh isoenzyme tersebut.
Obat-obat tersebut mungkin perlu ditingkatkan selama pengobatan TB,
dan diturunkan kembali 2 minggu setelah rifampisin dihentikan. Obatobatan yang berinteraksi, diantaranya protease inhibitor, antibiotika
makrolid, levotiroksin, noretindron, warfarin, siklosporin, fenitoin,
verapamil,

diltiazem,

digoxin,

nortriptilin,

alprazolam,

diazepam,

midazolam, triazolam dan beberapa obat lainnya.


Efek samping pada saluran cerna diantaranya rasa panas pada
perut, sakit epigastrik, mual, muntah, anoreksia, kembung, kejang
perut, diare, SSP, letih, rasa kantuk, sakit kepala, ataksia, bingung,
pening, tak mampu berfikir, nyeri pada anggota, otot kendor,
gangguan

penglihatan,

ketulian

frekuensi

rendah

sementara.

Hipersensitifitas diantaranya demam, pruritis, urtikaria, erupsi kulit,

sariawan mulut dan lidah, eosinofilia, hemolisis, hemoglobinuria,


hematuria, insufiensi ginjal, gagal ginjal akut (reversibel). Hematologi
diantaranya trombositopenia, leukopenia transien, anemia, termasuk
anemia hemolisis. Intoksikasi lain diantaranya hemoptisis, proteinurea
rantai rendah, gangguan menstruasi, sindrom hematoreal.

Epothilones
Metabolit yang dikeluarkan oleh Sorangium cellulosum, dikenal
sebagai

epothilones

yang

telah

tercatat

memiliki

aktivitas

antineoplastik. Hal ini mengakibatkan pengembangan analog yang


meniru aktivitasnya. Salah satu analog tersebut, dikenal sebagai
Ixabepilone adalah agen kemoterapi yang disetujui oleh US Food and
Drug Administration untuk pengobatan metastasis kanker payudara .
Myxobacteria ini adalah sebuah kelompok bakteri gram negatif,
berbentuk batang. Kebanyakan, dalam penampilan sangat panjang dan
tipis. Secara taksonomi mereka dapat disamakan dengan Cytophaga.
Myxobacteria adalah bakteri aerob yang memerlukan oksigen untuk
pertumbuhan. Sumber nutrisi utama mereka adalah protein atau asam
amino, dan dengan demikian mereka tumbuh dengan baik pada media
kultur umum, meskipun pertumbuhannya lambat. Terdapat kation
divalen, atau terjadi proses autolisis, sehingga sumber magnesium
ditemukan dalam medium. Kalsium meningkatkan penggumpalan di

media cair. Myxobacteria hidup dalam kelompok disebut kawanan, dan


setiap sel individu berkontribusi untuk menghasilkan berbagai enzim
hidrolitik yang merusak protein, komponen dinding sel, dan asam
nukleat. Sebuah sel individu tidak dapat menghasilkan enzim yang
cukup untuk mendukung dirinya sendiri, tetapi secara berkelompok
mampu memecah polimer di suatu daerah. Molekul-molekul dengan
berat molekul rendah yang dihasilkan digunakan oleh myxobacteria
sebagai makanan.
Epothilone B adalah 16-beranggota poliketida macrolactone
dengan metil tiazol kelompok terhubung ke macrocycle dengan ikatan
olefinik.

Alfatoksin
Aflatoksin adalah senyawa racun atau toksin yang dihasilkan
oleh

metabolit

sekunder

A.parasiticus.

kapang/jamur Aspergillus
Aflatoksi

segolongan mikotoksin (racun/toksin

flavus dan
merupakan

yang

berasal

dari

fungi/kapang/jamur) yang sangat mematikan dan karsinogenik (pemicu


kanker) bagi manusia dan hewan. Tingginya kandungan aflatoksin
pada

makanan/pakan

akan

berbuntut

keracunan

dan

berakibat

kematian, hal ini menjadi tantangan bagi kita semua. Kondisi iklim

indonesia, tropis hal ini membuat tingkat kelembaban yang tinggi


sehingga

kendisi

kapang/jamur.

tersebut

Kapang

ini

sangat
biasanya

cocok

untuk

ditemukan

pertumbuhan
pada

bahan

pangan/pakan yang mengalami proses pelapukan (Diener dan Davis


1969), antara biji kacang-kacangan (kedelai, kacang tanah, dan bunga
matahari), rempah-rempah (seperti ketumbar, lada, jahe, serta kunyit)
dan serealia (seperti padi, gandum, sorgum dan jagung).
Pertumbuhan aflatoksin dipacu oleh kondisi lingkungan dan iklim,
seperti kelembapan, suhu, dan curah hujan yang tinggi. Kondisi seperti
itu biasanya ditemui di negara tropis seperti Indonesia. Senyawa
aflatoksin terdiri atas beberapa jenis, yaitu B1, B2, Gl, dan G2, namun
yang paling dominan dan mempunyai sifat racun yang tinggi dan
berbahaya adalah aflatoksin B1 (Diener dan Davis 1969). Aflatoksin
dapat mencemari kacang tanah, jagung, dan hasil olahannya, serta
pakan ternak. Hewan ternak yang mengonsumsi pakan tercemar
aflatoksin akan meninggalkan residu aflatoksin dan metabolitnya pada
produk ternak seperti daging, telur, dan susu. Hal tersebut menjadi
salah satu sumber paparan aflatoksin pada manusia. Direktorat
Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan memberikan standart kadar
aflatoksin dalam pakan untuk ternak berdasarkan maksimal 50 ppb
(part per bilion). Struktur kimia aflatoksin terlihat pada gambar.

Aflatoksin dapat mengakibatkan penyakit dalam jangka pendek


(akut) maupun jangka panjang (kronis). Namun, keracunan akut jarang
terjadi

sehingga

tingkat

kewaspadaan

masyarakat

terhadap

pencemaran aflatoksin pada pangan dan pakan relatif rendah.


Aflatoksin juga dapat dijumpai pada susu yang dihasilkan hewan
ternak yang memakan produk yang terinfestasi kapang tersebut.

Masalah yang timbul jika mengonsumsi pangan yang mengandung


aflatoksin :

Keracunan akut (aflatoksikosis), dengan gejala mual, muntah,


kerusakan hati hingga kematian pada kasus serius

Perkembangan anak dan pertumbuhan janin terganggu

Metabolisme protein terganggu

Kekebalan tubuh menurun

Kanker hati (Hepatocellular carcinoma (HCC)


Untuk mengetahui kandungan aflatoksin dalam makanan/pakan

bisa menggunakan seperangkat teknologi pendeteksi yang dikenal


dengan Kit ELISA (Enzyme Linked Immunosorbent Assay, sebagian
besar perusahaan pakan di Indonesia sudah banyak mengunakan ini,
namun untuk mendeteksi dengan metode masih tergolong mahal. 2
bentuk aflatoksikosis yaitu bentuk intoksikasi akut dan berat dan
bentuk intoksikasi kronik subsimtomatik. Akibat yang ditimbulkan oleh
aflatoksin dipengaruhi oleh dosis dan durasi paparan aflatoksin, umur,
jenis kelamin, serta faktor nutrisii. Infeksi virus Hepatitis B yang terjadi
bersamaan dengan paparan aflatoksin akan meningkatkan resiko
terjadinya hepatocellular carcinoma (HCC), yaitu melalui gangguan

fungsi

gen

penghambat

tumor

sehingga

terjadi

mutasi

dan

karsinogenesis.
Lovastatin
Lovastatin

dikenal juga dengan nama mevinolin, merupakan

senyawa metabolit sekunder yang dihasilkan melalui jalur poliketida


dan merupakan derivat dari asetat. merupakan senyawa inhibitor
kompetitif HMG-KoA reduktase yang mampu menurunkan kolesterol
plasma dan menjaga tekanan darah dalam ambang normal (Frick et
al.,1987), Sehingga pengembangan produk lovastatin telah mengalami
kemajuan pesat baik secara alami maupun sintetis.
Endo et al. (1976) menemukan bahwa secara alami kapang
Monascus

menghasilkan

senyawa

yang

menghambat

biosintesis

kolesterol dan disebut lovastatin (mevanolin, monakolin K). Saimee


(2003) berhasil melakukan screening terhadap berbagai fungi dari
kelas Basidiomycetes dan Deuteromycetes yang mampu memproduksi
lovastatin seperti Aspergillus, Penicillium, Pleurotus dan Trichoderma.
Sebagian besar lovastatin yang dijual secara komersial di
masyarakat

umumnya

merupakan

lovastatin

sintetis.

Lovastatin

sintetis dapat menyebabkan efek samping bagi kesehatan manusia


seperti sakit kepala, mual, diare, ruam dan yang paling berbahaya
adalah gagal hati dan rabdomiolisis (Chang dan Buswell,1996).
Disamping itu lovastatin juga diproduksi melalui metode fermentasi
beberapa jenis fungi yang dapat menghasilkan metabolit sekunder
berupa

senyawa

lovastatin.

Produksi

lovastatin

melalui

metode

tersebut relatif belum berkembang dengan baik (Saimee,2003), dan


masih terus dilakukan penelitian lebih lanjut dalam peningkatan
produksi senyawa tersebut.

Penyakit jantung koroner adalah penyakit yang menduduki


peringkat

teratas

penyebab

kematian.

Hiperkolesteromia

yaitu

kandungan kolesterol yang tinggi di dalam darah merupakan penyebab


utama penyakit jantung koroner. Teknik pengobatan hiperkolesteromia
mengalami kemajuan pesat. Baik untuk pengobatan dengan senyawa
sintetik maupun senyawa metabolit sekunder alami.
Pengobatan
memanfaatkan

secara

metabolit

alami
sekunder

telah

ditemukan

mikroorganisme

dengan

yang

dapat

menghambat aktivitas enzim HMGKoA reduktase yaitu senyawa ML236B yang diisolasi dari Penicillium citrinum (Endo et al. 1976) dan
mevinolin dari Aspergillus terreus (Alberts et al. 1980). Mevilonin atau
lebih dikenal sebagai lovastatin merupakan obat potensial untuk
menurunkan
terhadap

kolesterol

darah

melalui

penghambatan

HMG-KoA reduktase dalam jalur

biosintesis

kompetitif
kolesterol.

Lovastatin yang diperoleh dari aktivitas fermentasi A. terreus (Alberts


et al. 1980) dan Monascus ruber (Juzlova et al. 1996) juga merupakan
prekursor simvastatin, golongan statin lain yang dapat diperoleh
dengan

semisintesis

melalui

deasilasi

enzimatik

secara

selektif

terhadap lovastatin.
Formula empiris dari lovastatin adalah C24H36O5 dengan berat
molekul 404.55 g/mol. Lovastatin hadir dalam bentuk lakton non aktif
dan asam hidroksi terbuka aktif, semi polar dan larut baik dalam etanol
(Albert,1989). Bentuk aktif dari lovastatin adalah dalam bentuk asam
hidroksi terbuka karena dapat berperan sebagai inhibitor kompetitif
HMG KoA (Saimee,2003). Lovastatin tidak larut dalam air, larut
sebagian dalam etanol, metanol, asetonitril, etil asetat dan larut
sempurna dalam kloroform. Lovastatin mempunyai titik leleh 174,5 oC,
rotasi optik pada konsentrasi 0,5 gram dalam 100 ml asetonitril
sebesar 325oC. Lovastatin mempunyai serapan maksimum sinar
ukltraviolet pada 235,238, dan 247 nm.

Lovasatin

digolongkan

ke

dalam

kelompok

obat

statin

(Albert,1989). Lovastatin sebagai agen hiperkolesterolemia mampu


menurunkan kadar serum kolesterol, LDL, trigliserol dan VLDL dalam
darah

(Albert,

1989).

Selain

sebagai

agen

hiperkolesterolemia,

lovastatin berpotensi sebagai inhibitor MAP kinase dan pengaktif p21


ras. Aktivitas lovastatin ini memiliki arti penting secara medis sebagai
obat

anti

hiperkolesterol-emia

(Hardmann,

et

al.,

1996)

dan

diindikasikan dapat menurunkan resiko arteriosklerosis (Cottingham,


1998).
Lovastatin telah diketahui dapat diturunkan dari asetat melalui
lintas poliketida (Moore, 1985). Biosintesis poliketida di dalam bakteri
dan jamur adalah berkaitan dengan metabolisme asam lemak meski
memiliki perbedaan dimana beberapa reaksi reduksi atau dehidrasi
yang dikatalisa oleh poliketida sintase (PKS) akan ditekan pada tahap
biosintesis

tertentu.

Substrat

asetil-CoA

dan

malonil-CoA

dapat

digunakan oleh PKS untuk menyusun suatu rantai karbon. Dengan


menggabungkan produk metabolisme asam lemak dan modifikasi PKS
maka dimungkinkan diperolehnya berbagai macam metabolit sekunder
yang bersifat biologis aktif (OHagan, 1991).
Aspergillus terreus merupakan salah satu jamur PKS yang
diharapkan

dapat

poliketida,

yaitu

menghasilkan
Lovastatin.

salah

satu

Aspergillus

metabolit
terreus

sekunder
mengalami

metabolisme sekunder ketika sumber makanan dalam media telah

berkurang akibat digunakan untuk metabolisme primer. Sumber


makanan yang tersisa di dalam media akan digunakan oleh Aspergillus
terreus untuk melakukan metabolisme sekunder tersebut. Hasil dari
metabolisme

sekunder

ini

disebut

sebagai

metabolit

sekunder.

Proses pembentukan metabolit sekunder dapat dilakukan dengan cara


fermentasi padat dan fermentasi cair. Melalui cara ini maka jenis dan
konsentrasi komponen dalam media cair dapat diatur agar mencapai
kondisi optimum pertumbuhan dan pemakaian media yang lebih
efisien. Sehingga akan dapat dicapai perolehan produk metabolit
sekunder yang maksimum. Pada proses fermentasi, Aspergillus terreus,
Penicillium citrinum, Monascus ruber memerlukan sumber karbon dan
nitrogen sebagai sumber nutrisi untuk dapat tumbuh dan melakukan
metabolisme.

Sumber

ini

dapat

diperoleh

dari

senyawa

yang

mengandung karbohidrat (atau senyawa gula), seperti misalnya


glukosa, laktosa, gliserol, dan tepung dalam berbagai konsentrasi.
Diskodermolida
Diskodermolida adalah produk alami poliketida yang baru-baru
ini ditemukan berpotensi sebagai inhibitor pertumbuhan sel tumor.
Kerangka karbon molekul ini terdiri dari delapan unit polipropionat dan
empat unit asetat dengan 13 stereopusat. Diskodermolida pertama kali
diisolasi dari porifera lautan Karibia Discodermia dissoluta

Avermectin

Senyawa alami yang dihasilkan sebagai produk fermentasi oleh


Streptomyces avermitilis , tanah actinomycete

A. Jenis Poliketida
Poliketida disintesis dengan polimerisasi subunit asetil dan
propionil oleh enzim klasik serta enzim interatif dan multimodular.
Mereka terdiri dari sejumlah besar metabolit sekunder dan produkproduk alami dari hewan, tumbuhan, sumber bakteri, jamur dan
kelautan, dan memiliki keragaman struktur yang besar. Banyak
poliketida molekul siklik yang sering lebih lanjut dimodifikasi oleh

glikosilasi, metilasi, hidroksilasi, oksidasi, dan atau proses lainnya.


Banyak umumnya agen anti-mikroba, anti-parasit, dan anti-kanker
yang digunakan adalah poliketida atau turunan poliketida, seperti
erythromycins, tetrasiklin, avermectins, dan epothilones antitumor.
Adapin jenis-jenis poliketida antara lain:
1. Kuinon
1.1

Benzokuinon

1.2

Naftokuinon

1.3

Antrakuinon dan Antron

1.4

Kuinon lain

2. Benzofenon Xanton
3. Depsida Depsidn
4. Aflatoksin
5. Tetrasiklin

6. Antibiotik Makrolida

1. Kuinon

Kuinon

bersifat

nukleofil

maksudnya

adalah

karbon

yang

bermuatan positif ini akan dapat bereaksi dengan gugus lain yang kaya
elektron. Dan

terbentuk dalam jumlah besar dari m.o tanah atau

oksidasi turunan pirogalol. Sebagai produk akhir proses oksidasi mono


dan

polisiklik

dengan

struktur

akhir

1,4

kuinon.

Atom

karbon

bersumber dari asetat dan mevalonat atau jalur shikimat asam amino
aromatikInterkonversi

kuinon

(Q)

dengan

air

(H2O)

membantu

membawa electron.
H2Q
1.1

Q + 2e- + 2H
Benzokuinon
Fumigatin dan hidroksimetil p-benzo-kuinin (juga p-benzokuimon

lain) telah banyak diisolasi dari fungi p-Benzokuinon dan turunannya


terdapat arthropoda, milliapoda dan insekta.
1.2

Naftokuinon
Jalur

benzokuinon

poliketida
banyak

membentukan
terdapat

dalam

inti
m.o

naftoku-inon
dan

kurang

dan
pada

tumbuhan tinggi. Naftokuinon lain dalam fungi; heptaketidan


(mavanisin), oktaketida (eritrostaminon).
1.3

Antrakuino Antron
Antrasen (utama tingkat oksidasi kuinon) terdapat dalam m.o,

tumbuhan dan binatang rendah.

Kerangka trisiklik kehilangan gugus 3-karboksilat, menghasilkan


turunan antrasena (15 atom C), dikenal dan ditemukan banyak dalam
fungi bersama antron dan antron dimer Penicillium islandicum.
Rutilantinon

(glikosida

Strptomyces sp.

antibiotik)

merupakan

dari

Emodin banyak dalam fungi imperfektif dan tum-

buhan tinggi sebagai glikosida (Rhamnus frangula).

1.4

antrakuinon

Antrakuinon lain

Sebagian besar merupakan pigmen pada fungi dan bakteri,


jarang pada tumbuhan tinggi. Tetragomisin dari Streptomyces rimosus, merupakan dekaketida.
2. Benzofenon-Xanton

benzofenon dan xanton ditemukan dari jalur shikimat dan ditemukan


dalam tumbuhan lewat katabolisme 4-aril kumarin

Jalur a menerangkan pembentukan kerangka C 13 dari xanton


tumbuhan, misal: jakareubin dan mengiferi berasal dari biosintesis
campuran, gugus hidroksi meta pada cincin B mungkin telah ada pada
asam

benzoat

awal,

atau

dibentuk

dengan

hidroksilasi

prazat

benzofenon menjadi gugus hidroksi para. Jalur b xanton dengan tipe


lichexanton, dihasilkan m.o, kedua gugus hidroksi berkedudukan orto
pada cincin A dan B, mungkin berasal dari poliketida

3. Depsida dan Depsidon


Depsida merupakan penggabungan dua atau lebih molekul asam
di atau trihidroksi benzoat, mempunyai ikatan ester antara gugus
karboksilat dari satu unit dengan gugus fenol dari molekul lain.
Sedangkan Depsidon, terdapat dalam lichen, mem-punyai jembatan
eter antara dua cincin aromatik yang berdampingan dalam molekul
depsida. Depsidon mungkin berasal dari depsida, mengalami oksidasi
fenol. Depsida dan depsidon dikenal berasal dari lichen, kecuali nidulin
dari Aspergillus nidulans

4. Aflatoksin
Golongan metabolit fungi, punya struktur, biogenetik dan sifat
toksikologis sama. Sifat umum, ada dua cincin tetrahidrofuran,
bergandengan pada ikatan 2,3, bagian molekul lain misal: xanton
(stregmatosistin), kumarin (aflatoksin B, aflatoksin G). Dihasilkan fungi
imperfektif (Aspergillus, A.versicolor, A.flavus)
5. Tetrasiklin
Golongan antibiotik dengan aktivitas bakteriostatik luas dan
dibiosintesis

oleh

berbagai

Streptomyces

sp

dengan

kerangka

naftasena C18 yang sebagian terhidrogenasi. Biosintesis dimulai dari

silklisasi nona-ketida (dapat atau tidak didahului modifikasi). Adapun


senyawa- senyawa tetrasiklin :

R1
H
H
Cl
H

R2
H
CH3
H
CH3

R3
H

Senyawa
6-

H
H

Dimetiltetrasiklin
Tetrasiklin
7-kloro-6-

OH

dimetiltetrasiklin
5hidroksitetrasiklin

Cl

CH3

(teramisin)
7-klrotetrasiklin

6. Antibiotik Makrolida
Dihasilkan jenis Streptomyces sp, umumnya mempunyai sifat
bakteriostatika. Makrolida berasal dari sifat struktur molekul terdapat
pada lakton makrosiklik. Rantai alifatis bersifat jenuh dan bercabang
tersusun 10 atom karbon, misal eritromisin
A. Reaksi Poliketida
Biosintesis Suatu Poliketida

Poliketida aromatik merupakan suatu poliketida yang memiliki


karakteristik yaitu struktur polisiklik aromatik. Biosintesis poliketida
aromatik

mirip

dengan

biosintesis

asam

lemak.

Perbedaan

pembentukan asam lemak dan senyawa poliketida aromatik terletak


pada peristiwa reduksi sebelum penambahan asetil-CoA lebih lanjut.

Biosintesisis poliketida berasal dari suatu reaksi kondensasi


asetil-CoA dengan senyawa malonil-CoA. Pada dasarnya, asetil-CoA
dibentuk dari asam asetat yang mengalami pengaktivan pada gugus
karboksilnya

menjadi

bentuk

tio

ester

dengan

bantuan

enzim

Poliketida Sintase (PKS), sedangkan malonil-CoA berasal dari asetil-CoA


yang mengalami karboksilasi pada gugus metilennya. Secara garis

besar, pembentukan poliketida berlangsung melalui berbagai tahap


reaksi yaitu:
1. Pembentukan rantai karbon poliasetil
Pembentukan rantai poliasetil (suatu produk menengah yang berupa
rantai karbon linear poli--keton) ini terjadi melalui suatu reaksi
kondensasi Claisen antara unit pemula (asetil-KoA) dan unit perluasan
(malonil-KoA). Pembentukan rantai poliasetil terjadi dengan bantuan
enzim poliketida sintase. Setelah terbentuk rantai diketida, terjadi
reaksi perpanjangan rantai dengan adanya penambahan gugus asetil
yang berasal dari malonil-KoA. Reaksi perpanjangan ini sangat
ditentukan oleh enzim asil transferase. Enzim tersebut berfungsi untuk
memundahkan gugus asil dari malonil-KoA ke enzim poliketida sintase
agar enzim tersebut hanya melakukan siklus kondensasi. Mekanisme
pembentukan rantai poliasetil terdapat pada gambar dibawah ini.

Mekanisme pembentukan rantai poliasetil Rantai poliasetil yang


dihasilkan memiliki kereaktifan yang sangat tinggi karena rantai
poliasetil tersebut memiliki gugus metilen yang dapat bertindak

sebagai Nukleofil dan gugus karbonil yang bertindak sebagai Elektrofil.


Karena kereaktifannya tersebut, rantai poliasetil dapat mengalami
berbagai macam reaksi modifikasi seperti, regiospesifik, reduksi,
siklisasi atau aromatisasi dengan bantuan enzim yang sesuai.
1. Kondensasi dan Siklisasi (Aromatisasi Molekul) Karena sifatnya yang
sangat reaktif, poliasetil tersebut mampu melakukan reaksi-reaksi
tertentu, diantaranya ;
1.1

Kondensasi Intramolekuler

a. Kondensasi Aldol Pada kondensasi aldol terjadi reaksi antara gugus


metilen dengan gugus karbonil dari poliasetil membentuk suatu
turunan asam Orselinat dan turunan Antrakuinon.
b. Kondensasi Claisen Pada kondensasi Claisen terjadi reaksi antara
gugus metilen dan gugus karboksilat pada molekul poliasetil.
Kondensasi ini menghasilkan poliketida turunan Asil Floroglusinol.
Berikut mekanisme reaksi kondensasi Aldol dan Clasein ditunjukan
pada gambar berikut

1.1

Siklisasi

a. Laktonisasi Pada reaksi laktonisasi terjadi reaksi antara gugus


hidroksil dengan gugus karboksil dari poliasetil membentuak suatu
lakton (ester siklik). Gugus hidroksil dari poliasetil dihasilkan ketika
gugus

karbonil

pada

poliasetil

bertautomer

menjadi

bentuk

enolnya. Reaksi ini menghasilkan senyawa turunan piron.


b. Eterifikasi Pada reakis eterifikasi terjadi reakis antara gugus
hidroksil dengan gugus karbonil dari poliasetil membentuk eter
siklik. Reaksi ini menghasilkan senyawa turunan kromon yaitu
turunan piron

1. Modifikasi Sekunder Struktur poliketida


Selain mengalami reaksi kondensasi dan siklisasi, rantai poliketida juga
mengalami reaksi modifikasi sekunder yang dapat berlansung baik
sebelum maupun sesudah reaksi siklisasi. Reaksi modifikasi sekunder
rantai poliketida dapat tejadi melalui:
a. Reduksi Reduksi biasanya terjadi pada gugus karbonil dengan
menghasilkan gugus hidroksil. Modifikasi reduksi dapat terjadi
dengan adanya NADH.

Contoh

b. Oksidasi Biasanya terjadi pada gugus metilen menghasilkan gugus

hidroksil.

Contoh modifikasi sekunder oksidasi :

c. Metilasi terjadi pada gugus metilen dengan menghasilkan cabangn

metil.
Berikut ini adalah modifikasi sekunder metilasi :

Gambar : Contoh modifikasi sekunder reaksi metilasi

Daftar Pustaka
Sumber referensi : Makalah Poliketida PROGRAM STUDI KIMIA FAKULTAS
SAINS DAN TEKNOLOGI UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH
JAKARTA 2014 M / 1436 H.
Sumber gambar : https://muhammadcank.files.wordpress.com
Pabandari, E, E. Koesnandar. Suryani, A dan Syamsu, K. 2005. Stimulasi
Glutamat terhadap Produksi Lovastatin oleh Aspergillus terreus (Glutamate
Stimulation on the Production of Lovastatin by Aspergillus terreus). Bogor.
Nauli, T dan Udin, L, Z. 2006. Model Fermentasi Lovastatin. Bandung.
www.analitik.chem.its.ac.id/.../-01_07-%20Tigor%20Nauli.pdf
Sylvia T. Pratiwi, Mikrobiologi Farmasi, Erlangga, 2008. Tjay Tan Hoan. 2007.
Obat-obat Penting. PT.Gramedia: Jakarta
Chandra Mohan, Antibiotics and Antibiotic Resistance, EMD Bioscience, San
Diego, 2009.
Neal M. J., 2006, At a Glance Farmakologi Medis Edisi Kelima, Jakarta:
Erlangga