Anda di halaman 1dari 19

HIPERTERMIA

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Hipetensi ini biasanya diwariskan sebagai ciri dominan autoan. Sindrom ini terjadi pada semua
penyakit inti sentral,tetapi tidak terbatas pada niopati tertentu. Gena yang cacat pada lokus
19913.1 terdapat pada penyakit inti sentral maupun hipertermia maligna tanpa miopati tertentu
ini. Sindrom ini jarang terdapat pada sistroti muskularis duchenne & dustrafi muskularis lain.
Pada sindrom tersendiri yang tidak terkait dengan penyakit otot lain. Anak yang terkena kadangkadang tidak memiliki wajah yang aneh semua usia dapat terkena. Bahkan termasuk bayi
prematur yang ibunya mengalami anastesia umum untuk bedah sesar.
B. Tujuan
- Untuk lebih mengenali penderita yang beresiko untuk hipertermia maligna, karena serangannya
dapat dicegah dalam pemberian natrium dan trolan sebelum anatesik diberikan.
- Dapat memberikan cukup informasi untuk menciptakan diagnosis banding, menegakkan etiologi
spesifikasi atau menyarankan pengambilan jaringan untuk biopsi dan biakan.
BAB II
PEMBAHASAN
1. Defenisi
Hipertertmia adalah suhu tubuh yang tinggi dan bukan disebabkan oleh mekanisme pengaturan
panas hipotalamus.
2. Etiologi

Disebabkan oleh meningkatnya produksi panas andogen (olahraga berat, hipertermia


maligna,sindrom neuroleptik maligna,hipertiroidisme), pengurangan kehilangan panas, atau
terpajan lama pada lingkungan bersuhu tinggi (sengatan panas).
3. Gejala
- Suhu badannya tinggi
- Terasa kehausan
- Mulut kering-kering
- Kedinginan, lemas
- Anoreksia (tidak selera makan)
- Nadi cepat dan
- Pernafasan tidak teratur.
4. Tindakan / Pengobatan
- Bila suhu diduga karena paparan panas yang berlebihan :
Letakkan bayi di ruangan dengan suhu lingkungan normal (25C 28C).

Lepaskan sebagian atau seluruh pakaiannya bila perlu

Periksa suhu aksiler setiap jam sampai tercapai suhu dalam batas normal.

Bila suhu sangat tinggi (<39C), bayi dikompres atau dimandikan selama 10-15 menit
dalam air yg suhunya 4C lebih rendah dari suhu tubuh bayi.
- Bila bayi pernah diletakkan di bawah pemancar panas atau inkubator

Turunkan suhu alat penghangat, bila bayi di dalam inkubator, buka inkubator sampai suhu
dalam batas normal.
Lepas sebagian atau seluruh pakaian bayi selama 10 menit kemudian.

Beri pakaian lagi sesuai dengan alat penghangat yang digunakan

Periksa suhu bayi setiap jam sampai tercapai suhu dalam batas normal.

Periksa suhu inkubator atau pemancar panas setiap jam dan sesuaikan pengatur suhu.

- Manajemen lanjutan suhu lebih 37,5C


Yakinkan bayi mendapatkan masukan cukup cairan

Anjurkan ibu untuk menyusui bayinya. Bila bayi tidak dapat menyusui, beri ASI
peras dengan salah satu alternatif cara pemberian minum.
Bila terdapat tanda dehidrasi, tangani dehidrasinya.
Periksa kadar glukosa darah,bila kurang 45 mg/dl (2,6 mmol/l), tangani hipoglikemia.

Cari tanda sepsis sekarang dan ulangi leagi bila suhu tubuh mendapai batas normal.

Setelah suhu bayi normal :

Lakukan perawatan lanjutan


Pantau bayi selama 12 jam berikutnya, periksa suhu badannya setiap 3 jam.
Bila suhu tetap dalam batas normal dan bayi dapat diberi minum dengan baik serta tidak ada
masalah lain yang memerlukan perawatan di rumah sakit, bayi dapat dipulangkan,

nasehati ibu cara menghangatkan bayi di rumah dan melindungi dari pancaran panas yang
berlebihan.
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Demam adalah kenaikan suhu tubuh yang ditengahi oleh kenaikan titik ambang regulasi panas
hipotalamus. Ada banyak macam-macam demam, salah-satunya yaitu hipertermia. Hipertermia ini
adalah suhu tubuh yang tinggi dan bukan disebabkan oleh mekanisme pengatur panas
hipotalamus.
B. Saran dan Kritik
Kami sebagai penulis sangat membutuhkan kritik dan saran yang sangat berguna bagi kita untuk
mengatasi penyakit hipertermia pada neonatus dan anak balita di bawah umur agar terhindarnya
dari segala penyakit yang sangat berbahaya karena adanya penyakit hipertermia.

Hipertermi
1.2.1 Pengaturan Suhu Tubuh
Seperti banyak fungsi biologis lainnya, suhu tubuh manusia memperlihatkan irama sirkadian.
Mengenai batasan normal, terdapat beberapa pendapat. Umumnya berkisar antara 36,10C atau lebih
rendah pada dini hari sampai 37,40 C pada sore hari. Atau 36,5 + 0,70 C (Benneth, et al, 1996;
Gelfand, et al, 1998).
Lebih lanjut dijelaskan, suhu tubuh rata-rata orang sehat 36,8+0,40 C, dengan titik terendah pada jam
06.00 pagi dan tertinggi pada jam 16.00. Suhu normal maksimum (oral) pada jam 06.00 adalah 37,20

C dan suhu normal maksimum pada jam 16.00 adalah 37,70 C. Dengan demikian, suhu tubuh > 37,20
C pada pagi hari dan > 37,70 C pada sore hari disebut demam (Gelfand, et al, 1998; Andreoli, et al,
1993; Lardo, 1999). Sebaliknya Bennet & Plum (1996) mengatakan, demam (hipertemi) bila suhu >
37,2 0 C.
Walaupun tidak ada batasan yang tegas, namun dikatakan bahwa apabila terdapat variasi suhu tubuh
harian yang lebih 1-1,50 C adalah abnormal. Suhu tubuh dapat diukur melalui rektal, oral atau aksila,
dengan perbedaan kurang lebih 0,5- 0,60 C, serta suhu rektal biasanya lebih tinggi (Andreoli, et al,
1993; Gelfand, et al, 1998).
Nukleus pre-optik pada hipotalamus anterior berfungsi sebagai pusat pengatur suhu dan bekerja
mempertahankan suhu tubuh pada suatu nilai yang sudah ditentukan, yang disebut hypothalamus
thermal set point (Busto, et al, 1987; Lukmanto, 1990; Lardo, 1999).
Peningkatan suhu tubuh secara abnormal dapat terjadi dalam bentuk hipertermi dan demam. Pada
hipertermi, mekanisme pengaturan suhu gagal, sehingga produksi panas melebihi pengeluaran panas.
Sebaliknya, pada demam hypothalamic thermal set point meningkat dan mekanisme pengaturan suhu
yang utuh bekerja meningkatkan suhu tubuh ke suhu tertentu yang baru. Tingginya peningkatan suhu
tubuh tidak dapat dipakai untuk membedakan hipertermi dengan demam. Perbedaan antara demam
dan hipertermi lebih dari perbedaan teoritis belaka ( Lukmanto, 1990).
Menurut Darlan Darwis cit. Lardo S (1999), pembagian demam, yakni:
1. Demam dengan peninggian set point hypothalamus
Cirinya : pembentukan panas meningkat, pembuangan menurun.
Penderita biasanya merasa demam tetapi menggigil dan kedinginan serta ekstremitas dingin. Keadaan
ini biasanya diobati dengan antipiretika yang langsung bekerja pada hypothalamus.
2. Demam dengan set point hypothala mus normal.

a. Pembentukan panas meningkat, pembuangan normal.


Keadaan ini sering terdapat pada : malignan hyperthermia, hipotiroidisme, hipernatremia, keracunan
aspirin, memakai baju terlalu tebal, udara terlalu panas (Heat Stroke). Dalam keadaan ini penderita
merasa kepanasan, berkeringat banyak, ekstremitas panas dan lembab, menggigil dan pilloerection.
b. Pembentukan panas normal, pembuangan terganggu.
Terdapat pada luka bakar, displasia ektodermal, keracunan akut antikolinergik. Secara klinis pasien
kepanasan, juga keringat sedikit tidak ada dan pilloerection tidak ada. Penanggulangan pada keadaan
ini adalah dengan kompres dingin, pemberian antipiretika tidak diperkenankan.
3. Demam tipe sentral.
Pada keadaan ini terjadi kerusakan pada TRC. Misalnya pada encephalitis, perdarahan intrakranial,
trauma kapitis, dll. Biasanya set point hypothalamus rusak sehingga penderita berubah menjadi
makhluk poikilothermis.Jika dikompres dingin suhu tubuh sulit untuk naik lagi (Busto, et al,1987).
Pada penderita demam tipe sentral dapat terjadi hiperpireksi, pasien menjadi gaduh gelisah, kejang.
Suhu rectal diatas 410 C kalau dibiarkan berlama - lama menyebabkan kerusakan otak yang
permanent, sedangkan suhu rectal diatas 430 C dapat menyebabkan kematian (Lukmanto, 1990)
1.2.2 Mekanisme terjadinya demam
Castillo, et al (1998) melaporkan bahwa hipertermia, 58% disebabkan oleh infeksi, 42% disebabkan
oleh nekrosis jaringan atau oleh perubahan mekanisme termoregulasi yang terjadi jika lesi mengenai
daerah anterior hipotalamus.
Terjadinya demam disebabkan oleh pelepasan zat pirogen dari dalam lekosit yang sebelumnya telah
terangsang baik oleh zat pirogen eksogen yang dapat berasal dari mikroorganisme atau merupakan
suatu hasil reaksi imunologik yang tidak berdasarkan suatu infeksi (Benneth, et al, 1996; Gelfand, et
al, 1998). Pirogen eksogen ini juga dapat karena obat-obatan dan hormonal, misalnya progesterone.

Pirogen eksogen bekerja pada fagosit untuk menghasilkan IL-1, suatu polipetida yang juga dikenal
sebagai pirogen endogen. IL-1 mempunyai efek luas dalam tubuh. Zat ini memasuki otak dan bekerja
langsung pada area preoptika hipotalamus. Di dalam hipotalamus zat ini merangsang pelepasan asam
arakhidonat serta mengakibatkan peningkatan sintesis PGE-2 yang langsung dapat menyebabkan
suatu pireksia/ demam (Lukmanto, 1990; Gelfand, et al, 1998).
Secara skematis mekanisme terjadinya demam dapat digambarkan sebagai berikut : (Gelfand, et al,
1998)
Penyebab demam selain infeksi ialah keadaan toksemia, adanya keganasan atau akibat reaksi
pemakaian obat (Gelfand, et al, 1998). Sedangkan gangguan pada pusat regulasi suhu sentral dapat
menyebabkan peninggian temperature seperti yang terjadi pada heat stroke, ensefalitis, perdarahan
otak, koma atau gangguan sentral lainnya. Pada perdarahan internal saat terjadinya reabsorbsi darah
dapat pula menyebabkan peninggian temperatur ( Andreoli, et al, 1993 ).
1.2.3 Suhu tubuh dan metabolisme
Reaksi tubuh terhadap stress pada keadaan injury akan menimbulkan peningkatan metabolic,
hemodinamik dan hormonal respons (Lukmanto, 1990).
Peningkatan pengeluaran hormon katabolik (stress hormon) yang dimaksud adalah katekolamin,
glukagon dan kortisol.Ketiga hormone ini bekerja secara sinergistik dalam proses glukoneogenesis
dalam hati terutama berasal dari asam amino yang pada akhirnya menaikkan kadar glukosa darah
(hiperglikemia). Faktor lain yang menambah pengeluaran hormon katabolik utamanya katekolamin
ialah dilepaskannya pirogen dapat merubah respon hiperkatabolisme dan juga merangsang timbulnya
panas (Lukmanto, 1990; Ginsberg, 1998).
1.2.4 Suhu Tubuh dan Sirkulasi Serebral
Pengaruh hipertermia terhadap sawar darah otak/ BBB adalah meningkatkan permeabilitas BBB yang
berakibat langsung baik secara partial maupun komplit dalam terjadinya edema serebral (Ginsberg, et

al, 1998). Selain itu hipertermia meningkatkan metabolisme sehingga terjadi lactic acidosis yang
mempercepat kematian neuron (neuronal injury) dan menambah adanya edema serebral (Reith, et al,
1996). Edema serebral (ADO Regional kurang dari 20 ml/ 100 gram/ menit) ini mempengaruhi
tekanan perfusi otak dan menghambat reperfusi adekuat dari otak, dimana kita ketahui edema serebral
memperbesar volume otak dan meningkatkan resistensi serebral. Jika tekanan perfusi tidak cukup
tinggi, aliran darah otak akan menurun karena resistensi serebral meninggi. Apabila edema serebral
dapat diberantas dan tekanan perfusi bisa terpelihara pada tingkat yang cukup tinggi, maka aliran
darah otak dapat bertambah (Hucke, et al, 1991). Dengan demikian daerah perbatasan lesi vaskuler itu
bisa mendapat sirkulasi kolateral yang cukup aktif, kemudian darah akan mengalir secara pasif ke
tempat iskemik oleh karena terdapatnya pembuluh darah yang berada dalam keadaan vasoparalisis.
Melalui mekanisme ini daerah iskemik sekeliling pusat yang mungkin nekrotik (daerah penumbra)
masih dapat diselamatkan, sehingga lesi vaskuler dapat diperkecil sampai daerah pusat yang kecil saja
yang tidak dapat diselamatkan lagi/nekrotik (Hucke, et al, 1991). Apabila sirkulasi kolateral tidak
dimanfaatkan untuk menolong daerah perbatasan lesi iskemik, maka daerah pusatnya yang sudah
nekrotik akan meluas, sehingga lesi irreversible mencakup juga daerah yang sebelumnya hanya
iskemik saja yang tentunya berkorelasi dengan cacat fungsional yang menetap, sehingga dengan
mencegah atau mengobati hipertermia pada fase akut stroke berarti kita dapat mengurangi ukuran
infark dan edema serebral yang berarti kita dapat memperbaiki kesembuhan fungsional (Hucke, et al,
1991).
1.2.5 Penatalaksanaan
1. Mempertahankan suhu dalam batas normal
Kaji pengetahuan klien dan keluarga tentang hipertermia

Observasi suhu, nadi, tekanan darah, pernafasan

Beri minum yang cukup

Berikan kompres air biasa

Lakukan tepid sponge (seka)

Pakaian (baju) yang tipis dan menyerap keringat

Pemberian obat antipireksia

Pemberian cairan parenteral (IV) yang adekuat

2. Meningkatkan kebutuhan nutrisi dan cairan


Menilai status nutrisi anak

Ijinkan anak untuk memakan makanan yang dapat ditoleransi anak, rencanakan untuk memperbaiki
kualitas gizi pada saat selera makan anak meningkat.
Berikan makanan yang disertai dengan suplemen nutrisi untuk meningkatkan kualitas intake nutrisi

Menganjurkan kepada orang tua untuk memberikan makanan dengan teknik porsi kecil tetapi sering

Menimbang berat badan setiap hari pada waktu yang sama, dan dengan skala yang sama

Mempertahankan kebersihan mulut anak

Menjelaskan pentingnya intake nutrisi yang adekuat untuk penyembuhan penyakit

Kolaborasi untuk pemberian makanan melalui parenteral jika pemberian makanan melalui oral tidak
memenuhi kebutuhan gizi anak
3. Mencegah kurangnya volume cairan.
Mengobservasi tanda-tanda vital (suhu tubuh) paling sedikit setiap 4 jam

Monitor tanda-tanda meningkatnya kekurangan cairan: turgor tidak elastis, ubun-ubun cekung,
produksi urin menurun, memberan mukosa kering, bibir pecah-pecah
Mengobservasi dan mencatat berat badan pada waktu yang sama dan dengan skala yang sama

Memonitor pemberian cairan melalui intravena setiap jam

Mengurangi kehilangan cairan yang tidak terlihat (Insensible Water Loss/IWL) dengan memberikan
kompres dingin atau dengan tepid sponge
Memberikan antibiotik sesuai program

(Suriadi & Rita Y, 2001)


1.2.6 Perawatan Pada Penderita Demam
a. Dianjurkan untuk istirahat minimal 1 minggu / dan mengurangi aktivitas bermain.
b. Memperkuat asupan nutrisi makanan dalam porsi kecil tapi sering.
c. Dianjurkan untuk mengkomsumsi makanan yang dihaluskan seperti bubur saring.
d. Kompres pada daerah dahi, ketiak dan lipat paha bila panas.
e. Dianjurkan untuk banyak minum.
f. Menggunakan pakaian yang dapat menyerap keringat.
g. Hubungi petugas ke-sehatan atau fasilitas kesehatan yang terdekat.
1.2.7 Akibat Lanjut Bila Tidak Diatasi
a. Adanya peradangan pada usus.

b. Terjadi perdarahan pada usus yang diakibatkan adanya luka pada usus.
c. Adanya penurunan kesadaran.
d. Berlanjut pada organ organ vital lainnya : otak , paru paru, ginjal, hati jantung.
1.2.8 Pencegahan Terhadap Demam
a. Kesehatan lingkungan.
b. penyediaan air minum yang memenuhi syarat.
c. Pembuangan kotoran manusia pada tempatnya.
d. Pemberantasan lalat.
e. Pembuangan sampah pada tempatnya.
f. Pendidikan kesehatan pada masyarakat.
g. Pemberian imunisasi lengkap kepada bayi.
h. Makan makana yang bersih dan sehat
i. Jangan biasakan anak jajan diluar
j. Cuci tangan sebelum dan sesudah makan
PENDAHULUAN
Bayi baru lahir atau neonatus meliputi umur 0 28 hari. Kehidupan pada masa neonatus ini sangat
rawan oleh karena memerlukan penyesuaian fisiologik agar bayi di luar kandungan dapat hidup
sebaik-baiknya. Hal ini dapat dilihat dari tingginya angka kesakitan dan angka kematian neonatus.
Diperkirakan 2/3 kematian bayi di bawah umur satu tahun terjadi pada masa neonatus. Peralihan dari
kehidupan intrauterin ke ekstrauterin memerlukan berbagai perubahan biokimia dan faali. Dengan
terpisahnya bayi dari ibu, maka terjadilah awal proses fisiologik sebagai berikut :
1. Peredaran darah melalui plasenta digantikan oleh aktifnya fungsi paru untuk bernafas (pertukaran
oksigen dengan karbondioksida)

2. Saluran cerna berfungsi untuk menyerap makanan


3. Ginjal berfungsi untuk mengeluarkan bahan yang tidak terpakai lagi oleh tubuh untuk
mempertahankan homeostasis kimia darah
4. Hati berfungsi untuk menetralisasi dan mengekresi bahan racun yang tidak diperlukan badan
5. Sistem imunologik berfungsi untuk mencegah infeksi
6. Sistem kardiovaskular serta endokrin bayi menyesuaikan diri dengan perubahan fungsi organ
tersebut diatas
Banyak masalah pada bayi baru lahir yang berhubungan dengan gangguan atau kegagalan
penyesuaian biokimia dan faali yang disebabkan oleh prematuritas, kelainan anatomik, dan
lingkungan yang kurang baik dalam kandungan, pada persalinan maupun sesudah lahir.
HIPOTERMIA & HIPERTERMIA
HIPOTERMIA
Suhu normal pada neonatus berkisar antara 36 0C 37,50C pada suhu ketiak.
Gejala awal hipotermia apabila suhu < 36 0C atau kedua kaki dan tangan teraba
dingin. Bila seluruh tubuh bayi teraba dingin, maka bayi sudah mengalami
hipotermia sedang (suhu 320C <360C). Disebut hipotermia berat bila suhu
tubuh < 320C. Untuk mengukur suhu tubuh pada hipotermia diperlukan
termometer ukuran rendah (low reading termometer) sampai 25 0C. Disamping
sebagai suatu gejala, hipotermia dapat merupakan awal penyakit yang berakhir
dengan kematian.
Yang menjadi prinsip kesulitan sebagai akibat hipotermia adalah meningkatnya
konsumsi oksigen (terjadi hipoksia), terjadinya metabolik asidosis sebagai
konsekuensi glikolisis anaerobik, dan menurunnya simpanan glikogen dengan
akibat hipoglikemia. Hilangnya kalori tampak dengan turunnya berat badan yang
dapat ditanggulangi dengan meningkatkan intake kalori.
Etiologi dan faktor presipitasi
- Prematuritas
- Asfiksia
- Sepsis
- Kondisi neurologik seperti meningitis dan perdarahan cerebral
- Pengeringan yang tidak adekuat setelah kelahiran
- Eksposure suhu lingkungan yang dingin
Penanganan hipotermia ditujukan pada: 1) Mencegah hipotermia, 2) Mengenal
bayi dengan hipotermia, 3) Mengenal resiko hipotermia, 4) Tindakan pada
hipotermia.

Tanda-tanda klinis hipotermia:


a. Hipotermia sedang:
- Kaki teraba dingin
- Kemampuan menghisap lemah
- Tangisan lemah
- Kulit berwarna tidak rata atau disebut kutis marmorata
b. Hipotermia berat
- Sama dengan hipotermia sedang
- Pernafasan lambat tidak teratur
- Bunyi jantung lambat
- Mungkin timbul hipoglikemi dan asidosisi metabolik
c. Stadium lanjut hipotermia
- Muka, ujung kaki dan tangan berwarna merah terang
- Bagian tubuh lainnya pucat
- Kulit mengeras, merah dan timbul edema terutama pada punggung, kaki
dan tangan (sklerema)
HIPERTERMIA
Lingkungan yang terlalu panas juga berbahaya bagi bayi. Keadaan ini terjadi bila
bayi diletakkan dekat dengan sumber panas, dalam ruangan yang udaranya
panas, terlalu banyak pakaian dan selimut.
Gejala hipertermia pada bayi baru lahir :
- Suhu tubuh bayi > 37,5 C
- Frekuensi nafas bayi > 60 x / menit
- Tanda-tanda dehidrasi yaitu berat badan menurun, turgor kulit kurang,
jumlah urine berkurang
Pengkajian hipotermia & hipertermia

1. Riwayat kehamilan
- Kesulitan persalinan dengan trauma infant
- Penyalahgunaan obat-obatan
- Penggunaan anestesia atau analgesia pada ibu
2. Status bayi saat lahir
- Prematuritas
- APGAR score yang rendah
- Asfiksia dengan rescucitasi
- Kelainan CNS atau kerusakan
- Suhu tubuh dibawah 36,5 C atau diatas 37,5 C
- Demam pada ibu yang mempresipitasi sepsis neonatal
3. Kardiovaskular
- Bradikardi
- Takikardi pada hipertermia
4. Gastrointestinal
- Asupan makanan yang buruk
- Vomiting atau distensi abdomen
- Kehilangan berat badan yang berarti
5. Integumen
- Cyanosis central atau pallor (hipotermia)
- Kulit kemerahan (hipertermia)
- Edema pada muka, bahu dan lengan
- Dingin pada dada dan ekstremitas(hipotermia)
- Perspiration (hipertermia)

6. Neorologic
- Tangisan yang lemah
- Penurunan reflek dan aktivitas
- Fluktuasi suhu diatas atau dibawah batas normal sesuai umur dan berat
badan
7. Pulmonary
- Nasal flaring atau penurunan nafas, iregguler
- Retraksi dada
- Ekspirasi grunting
- Episode apnea atau takipnea (hipertermia)
8. Renal
- Oliguria
9. Study diagnostik
- Kadar glukosa serum, untuk mengidentifikasi penurunan yang disebabkan
energi yang digunakan untuk respon terhadap dingin atau panas
- Analisa gas darah, untuk menentukan peningkatan karbondoksida dan
penurunan kadar oksigen, mengindikasikan resiko acidosis
- Kadar Blood Urea Nitrogen, peningkatan mengindikasikan kerusakan fungsi
ginjal dan potensila oliguri
- Study elektrolit, untuk mengidentifikasi peningkatan potasium yang
berhubungan dengan kerusakan fungsi ginjal
- Kultur cairan tubuh, untuk mengidentifikasi adanya infeksi
Diagnosa keperawatan
Dx.1. Suhu tubuh abnormal berhubungan dengan kelahiran abnormal, paparan
suhu lingkungan yang dingin atau panas.
Tujuan 1 : Mengidentifikasi bayi dengan resiko atau aktual ketidakstabilan suhu
tubuh
Tindakan :

1. Kaji faktor yang berhubungan dengan resiko fluktuasi suhu tubuh pada bayi
seperti prematuritas, sepsis dan infeksi, aspiksia atau hipoksia, trauma CNS,
ketidakseimbangan cairan dan elektrolit, suhu lingkungan yang terlalu panas
atau dingin, trauma lahir dan riwayat penyalahgunaan obat pada ibu
2. Kaji potensial dan aktual hipotermia atau hipertermia :
- Monitor suhu tubuh, lakukan pengukuran secara teratur
- Monitor suhu lingkungan
- Cegah kondisi yang menyebabkan kehilangan panas pada bayi seperti baju
basah atau bayi tidak kering, paparan uadara luar atau pendingin ruangan
- Cek respiratory rate (takipnea), kedalaman dan polanya
- Observasi warna kulit
- Monitor adanya iritabilitas, tremor dan aktivitas seizure
- Monitor adanya flushing, distress pernafasan, episode apnea, kelembaban
kulit, dan kehilangan cairan.
Tujuan 2. Mencegah kondisi yang dapat mencetuskan fluktuasi suhu tubuh
Tindakan :
1. Lindungi dinding inkubator dengan
- Meletakkan inkubator ditempat yang tepat
- Suhu kamar perawatan/kamar operasi dipertahankan + 24 C
- Gunakan alas atau pelindung panas dalam inkubator
2. Keringkan bayi baru lahir segera dibawah pemanas
3. Air mandi diatas 37 C dan memandikannnya sesudah bayi stabil dan 6 12
jam postnatal, keringkan segera
4. Pergunakan alas pada meja resusitasi atau pemanas
5.

Tutup permukaan
dihangatkan dulu

meja

resusitasi

6. Pertahankan suhu kulit 36 36,5 C


7. Sesedikit mungkin membuka inkubator

dengan

selimut

hangat,

inkubator

8. Hangatkan selalu inkubator sebelum dipakai


9. Gendong bayi dengan kulit menempel ke kulit ibu (metode kangguru)
10. Beri topi dan bungkus dengan selimut
Tujuan 3: Mencegah komplikasi dingin
Tindakan :
1. Kaji tanda stress dingin pada bayi :
- Penurunan suhu tubuh sampai < 32,2 C
- Kelemahan dan iritabilitas
- Feeding yang buruk dan lethargy
- Pallor, cyanosis central atau mottling
- Kulit teraba dingin
- Warna kemerahan pada kulit
- Bradikardia
- Pernafasan lambat, ireguler disertai grunting
- Penurunan aktivitas dan reflek
- Distesi abdomen dan vomiting
2. Berikan treatment pada aktual atau resiko injury karena dingin sebagai berikut
:
- Berikan therapy panas secara perlahan dan catat suhu tubuh setiap 15
menit
- Pertimbangkan pemberian plasma protein (Plasmanate) setelah 30 menit
- Berikan oksigen yang telah diatur kelembabannya
- Monitor serum glukosa
- Berikan sodium bikarbonat untuk acidosis metabolik
- Untuk menggantikan asupan makanan dan cairan, berikan dekstrose 10%
sampai temeperatur naik diatas 35 C

Dx.2. Deficit pengetahuan (orangtua) berhubungan dengan kondisi bayi baru


lahir dan cara mempertahankan suhu tubuh bayi.
Tujuan : Memberikan informasi yang cukup kepada orangtua tentang kondisi
bayi dan perawatan yang diberikan untuk mempertahankan suhu tubuh bayi
Tindakan :
1. Beri informasi pada orangtua tentang :
- Penyebab fluktuasi suhu tubuh
- Kondisi bayi
- Treatment untuk menstabilkan suhu tubuh
-

Perlunya membungkus/menyelimuti
bepergian

bayi

saat

menggendong

dan

1. Ajari orangtua cara mengukur suhu tubuh aksila pada bayi dan minta
mereka untuk mendemontrasikannya
2. Informasikan kepada orangtua tentang perawatan saat bayi di inkubator
3. Anjurkan pasien bertanya, mengklarifikasi yang belum jelas dan
menunjukkan prilaku seperti diajarkan
4. d.
Heatstroke
5. Pajanan yang lama terhadap sinar matahari atau lingkungan dengan suhu tinggi dapat
mempengaruhi mekanisme pengeluaran panas. Kondisi ini disebut heatstroke, kedaruratan
yang berbahaya panas dengan angka mortalitas yg tinggi. Klien berisiko termasuk yang masih
sangat muda atau sangat tua, yang memiliki penyakit kardiovaskular, hipotiroidisme, diabetes
atau alkoholik. Yang juga termasuk beresiko adalah orang yang mengkonsumsi obat yang
menurunkan kemampuan tubuh untuk mengeluarkan panas (mis. Fenotiasin, antikolinergik,
diuretik, amfetamin, dan antagonis reseptor beta- adrenergik) dan mereka yang menjalani
latihan olahraga atau kerja yang berat (mis. Atlet, pekerja kontruksi dan petani). Tanda dan
gejala heatstroke termasuk gamang, konfusi, delirium, sangat haus, mual, kram otot,
gangguan visual, dan bahkan inkotinensia. Tanda yang paling dari heatstroke adalah kulit
yang hangat dan kering.
6. Penderita heatstroke tidak berkeringat karena kehilangn elektrolit sangat berat dan malfungsi
hipotalamus. Heatstroke dengan suhu lebih besar dari 40,5 C mengakibatkan kerusakan
jaringan pada sel dari semua organ tubuh. Tanda vital menyatakan suhu tubuh kadang-kadang
setinggi 45 C, takikardia dan hipotensi. Otak mungkin merupakan organ yang terlebih dahulu
terkena karena sensitivitasnyaterhdap ketidakseimbangan elektrolit. Jika kondisi terus

berlanjut, klien menjadi tidak sadar, pupil tidak reaktif. Terjadi kerusakan nourologis yang
permanen kecuali jika tindakan pendinginan segera dimulai.