Anda di halaman 1dari 137

PENGARUH PENGETAHUAN PAJAK, KEMUDAHAN

PAJAK, DAN KEADILAN PAJAK TERHADAP KEPATUHAN


WAJIB PAJAK UMKM
(Studi pada KPP Pratama Surabaya Karangpilang)

DIAJUKAN UNTUK MEMENUHI SEBAGIAN PERSYARATAN


DALAM MEMPEROLEH GELAR SARJANA AKUNTANSI
DEPARTEMEN AKUNTANSI
PROGRAM STUDI AKUNTANSI

DIAJUKAN OLEH
NUR AINI FIRDAUS
NIM: 041013123

FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS


UNIVERSITAS AIRLANGGA
SURABAYA
2014
i

SKRIPSI
PENGARUH PENGETAHUAN PAJAK KEMUDAHAN
PAJAK DAN KEADILAI\T PAJAK TERIIADAP KEPATUHAN
WAJIB PAJAKT]MKM
(Studi pada KPP Pratama Surabaya Karangpilang)

DIAJUKAN OLEH
NTIR AINI FIRDAUS
NIIM: 041013123
TDLAH DISETUJUI DAN DITERIMA DENGAIT BAIK OLEH:
DOSEN PEMBIMBING,

Alfa Rahmiati. SE..IllM..

TANGGAL?J;.9.*.-

Ak

t{

KETUA PROGRAM STUDI,

Drs. AGUS TilIDODO M.. M.Si.. Ak- CMA.

Il

'vlr-b/E

TAI{GG4L,...................

PER}TYATAAIi{ ORISINILITAS SKRIPSI

Saya, [Nur

Aini Firdaus,041013123), menyatakan bahwa:

1. Skripsi saya asli dan benar- benar hasil karya saya sendiri, dan bukan karya
orang lain dengan mengatas namakan sayq serta bukan hasil peniruan atau

penjiplakan (plagiarism) dari karya orang lain. Skripsi

ini

belum pernah

diajukan untuk mendapatkan gelar akademik baik di Universitas Airlangga,


maupur perguruan tinggi lainnya.

2. Dalam Skripsi ini tidak terdapat karya atau pendapat yang telah ditulis atau
dipublikasikan orang lain, kecuali secara tertulis dengan jelas dicantumkan
sebagai acuan dengan disebutkan nama pengarang dan dicantumkan dalam
daftar kepustakaan.

3. Pernyataan ini saya buat dengan sebenar-benamya, dan apabila dikemudian


hari terdapat penyimpangan dan ketidakbenaran dalam pernyataan ini, maka
saya bersedia menerima sanksi akademik berupa gelar yang telah diperoleh
karena karya tulis Skripsi ini, sertia sanksi- sanksi lainnya sesuai dengan norma
dan peraturan yang berlaku di Universitas Airlangga.

NIM:041013123

iii

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Allah SWT yang telah
memberikan rahmat dan anugerah-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan
skripsi yang berjudul Pengaruh Pengetahuan Pajak, Kemudahan Pajak, dan
Keadilan Pajak terhadap Kepatuhan Wajib Pajak UMKM (studi pada KPP
Pratama Surabaya Karangpilang) dengan baik.
Penulisan skripsi ini tidak lepas dari bantuan yang telah diberikan oleh
berbagai pihak. Oleh karena itu, pada kesempatan ini penulis mengucapkan
terimakasih dan penghargaan sedalam-dalamnya kepada:
1.

Prof. Dr. Muslich Anshori, SE., M.Sc., Ak., selaku Dekan Fakultas Ekonomi
dan Bisnis Universitas Airlangga.

2.

Drs. Agus Widodo Mardijuwono, M., M.Si., Ak., CMA selaku ketua
Departemen Akuntansi Universitas Airlangga.

3.

Alfa Rahmiati, SE., MM., Ak., selaku dosen pembimbing yang telah
memberikan bimbingan, arahan, ilmu dan pengetahuan kepada penulis dalam
menyelesaikan skripsi ini.

4.

Wiwik Supratiwi, Dra., MBA, Ak. selaku dosen wali yang telah memberikan
nasihat dan motivasi dalam menjalani perkuliahan.

5.

Kepada seluruh Bapak dan Ibu dosen pengajar Fakultas Ekonomi dan Bisnis
Universitas Airlangga, terima kasih atas bimbingan dan ilmu perkuliahan
yang telah diberikan.

iv

6.

Pegawai Direktorat Jenderal Pajak di KPP Pratama Surabaya Karangpilang,


Pak Zauki, Pak Janti, Pak Agus, Pak Hendri, dan Pak Edy, yang telah
membantu berjalannya penelitian.

7.

Keluarga penulis yang senantiasa memberikan dukungan dan doa. Ayah, Ibu,
Kakak, dan Adik tercinta yang telah memberikan perhatian, kasih sayang,
semangat, teladan, dan doa selama pendidikan penulis.

8.

Teman dekat penghuni kos, khususnya Cyntia, Ayun, Ayuk, Fenny, dan
Debby. Terimakasih atas segala bantuan, canda tawa, dan petuah-petuahnya.

9.

Teman-teman terdekat selama kuliah, Amel, Dita, Aqmar, Bibik, Mentari,


Fina, Ullun, dan Mita. Terimakasih telah menghabiskan waktu bersama
selama masa-masa kuliah.

10. Teman-teman seperjuangan mengerjakan skripsi, Fenti, Radit, Zulfa, Ahmed,


Ula. Terimakasih telah berbagi ilmu dan informasi. Dan juga untuk temanteman AKS1, terutama angkatan 2010.
11. Terimakasih kepada Mbak Weni dan Mas Cahyo yang telah membantu
kelancaran skripsi.
12. Seluruh staf dan karyawan di Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas
Airlangga yang telah membantu kelancaran selama masa kuliah dan dalam
mengerjakan penulisan skripsi ini.
13. Kepada seluruh pihak yang tidak bisa penulis sebutkan satu per satu,
terimakasih atas semua dukungan, bantuan, serta doanya.

Semoga Allah SWT memberikan balasan atas segala apa yang telah
diberikan. Akhir kata, penulis berharap semoga skripsi ini dapat memberikan
manfaat baik bagi penulis maupun semua pihak yang membutuhkan.

Surabaya,
Penulis,

Nur Aini Firdaus

vi

ABSTRAK

Penelitian ini bertujuan untuk menguji pengaruh dari pengetahuan pajak,


kemudahan pajak, dan keadilan pajak terhadap kepatuhan wajib pajak UMKM
yang berlandaskan pada Peraturan Pemerintah Nomor 46 Tahun 2013 tentang
Pajak Penghasilan atas Penghasilan dari Usaha yang Diterima atau Diperoleh
Wajib Pajak yang Memiliki Peredaran Bruto Tertentu yaitu yang omzetnya tidak
lebih dari Rp 4,8 Milyar. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif.
Variabel independen yang digunakan adalah pengetahuan pajak, kemudahan
pajak, dan keadilan pajak. Sedangkan variabel dependen dalam penelitian ini
adalah kepatuhan wajib pajak UMKM. Penelitian ini menggunakan metode survei
kuisioner pada 100 responden wajib pajak UMKM efektif yang omzetnya tidak
lebih dari Rp 4,8 Milyar yang terdaftar di Kantor Pelayanan Pajak Pratama
Surabaya Karangpilang. Kuisioner yang terkumpul dianalisis menggunakan
PASW Statistik 18. Penelitian ini menggunakan analisis regresi linier berganda.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengetahuan pajak dan kemudahan pajak
berpengaruh positif terhadap kepatuhan wajib pajak UMKM. Sedangkan keadilan
pajak berpengaruh negatif terhadap kepatuhan wajib pajak UMKM.
Kata Kunci: keadilan pajak, kemudahan pajak, kepatuhan wajib pajak UMKM,
pengetahuan pajak.

vii

ABSTRACT

This study aimed to examine the impact of tax knowledge, tax simplicity,
and tax fairness for compliance Mikro-Small-Medium Enterprise taxpayer based
on Goverment Regulation No. 46 of 2013 about income tax on business income
that received or provided of taxpayers who have specific gross distribution that
turnover is not more than 4,8 billon rupiah. This study use quantitative approach.
The independent variables used are tax knowledge, tax simplicity, and tax
fairness. While the dependent variable in this research was the compliance MikroSmall-Medium Enterprise taxpayer. This research used questionnaires survey
method in 100 effective respondent of Mikro-Small-Medium Enterprise taxpayer
that were listed in KPP Pratama Surabaya Karangpilang. Questionnaires were
collected and analyzed using PASW Statistic 18. This research used multiple
linier regression analysis. Result of this research showed that tax knowledge and
tax simplicity have positif effect on compliance Mikro-Small-Medium Enterprise
taxpayer. While the tax fairness has negatif effect on compliance Mikro-SmallMedium Enterprise taxpayer.
Keywords: compliance Mikro-Small-Medium Enterprise taxpayer, tax fairness,
tax knowlegde, tax simplicity

viii

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL........................................................................................

HALAMAN PERSETUJUAN SKRIPSI.........................................................

ii

PERNYATAAN ORISINALITAS SKRIPSI ..................................................

iii

KATA PENGANTAR .....................................................................................

iv

ABSTRAK .......................................................................................................

vii

ABSTRACT.....................................................................................................

viii

DAFTAR ISI....................................................................................................

ix

DAFTAR TABEL............................................................................................

xiii

DAFTAR GAMBAR .......................................................................................

xiv

DAFTAR LAMPIRAN....................................................................................

xv

BAB 1 : PENDAHULUAN ...........................................................................

1.1 Latar Belakang .................................................................................

1.2 Rumusan Masalah ............................................................................

10

1.3 Tujuan Penelitian .............................................................................

11

1.4 Manfaat Penelitian ...........................................................................

11

1.5 Sistematika Penulisan Skripsi ..........................................................

12

BAB 2 : TINJAUAN PUSTAKA ..................................................................

15

2.1 Landasan Teori .................................................................................

15

2.1.1 Teori Atribusi .........................................................................

15

2.1.2 Teori Fairness ........................................................................

17

2.1.3 Pajak .......................................................................................

18

ix

2.1.4 Pengetahuan Pajak..................................................................

21

2.1.5 Kemudahan Pajak ...................................................................

23

2.1.6 Keadilan Pajak........................................................................

26

2.1.7 Kepatuhan Pajak .....................................................................

28

2.1.8 Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah.......................................

30

2.1.9 Peraturan Pemerintah Nomor 46 Tahun 2013 ........................

33

2.2 Penelitian Terdahulu.........................................................................

35

2.3 Kerangka Konseptual .......................................................................

39

2.4 Hipotesis Penelitian ..........................................................................

39

2.4.1 Pengaruh Pengetahuan Pajak terhadap Kepatuhan


Wajib Pajak UMKM ..............................................................

40

2.4.2 Pengaruh Kemudahan Pajak terhadap Kepatuhan Wajib


Pajak UMKM ........................................................................

41

2.4.3 Pengaruh Keadilan Pajak terhadap Kepatuhan Wajib


Pajak UMKM ........................................................................

42

BAB 3 : METODE PENELITIAN ...............................................................

44

3.1 Pendekatan Penelitian.......................................................................

44

3.2 Identifikasi Variabel .........................................................................

44

3.3 Definisi Operasional Variabel ..........................................................

45

3.31 Variabel Independen (X) ........................................................

45

3.3.2 Variabel Dependen (Y) ..........................................................

49

3.4 Jenis dan Sumber Data......................................................................

49

3.5 Metode Pengumpulan Data...............................................................

50

3.6 Populasi dan Sampel.........................................................................

51

3.7 Metode Analisis Data .......................................................................

52

3.7.1 Uji Validitas dan Reliabilitas..................................................

52

3.7.2 Uji Asumsi Klasik ..................................................................

53

3.7.3 Analisis Regresi Linier Berganda...........................................

55

3.7.4 Uji Hipotesis ...........................................................................

56

BAB 4 : HASIL DAN PEMBAHASAN........................................................

57

4.1 Gambaran Umum..............................................................................

57

4.1.1 Gambaran Umum Objek Penelitian........................................

57

4.1.1.1 Profil Kantor Pelayanan Pajak Pratama


Surabaya Karangpilang .............................................

57

4.1.1.2 Visi dan Misi Direktorat Jenderal Pajak ...................

58

4.1.1.3 Struktur Organisasi Kantor Pelayanan Pajak


Pratama Surabaya Karangpilang ...............................

58

4.1.2 Gambaran Umum Subjek Pajak .............................................

61

4.2 Deskripsi Hasil Penelitian ...............................................................

62

4.2.1 Deskripsi Jawaban Responden ..............................................

63

4.2.2 Karakteristik Responden ........................................................

63

4.2.3 Tanggapan Responden tentang Pengetahuan Pajak................

67

4.2.4 Tanggapan Responden tentang Kemudahan Pajak.................

68

4.2.5 Tanggapan Responden tentang Keadilan Pajak .....................

69

4.2.6 Tanggapan Responden tentang Kepatuhan Wajib Pajak


UMKM ..................................................................................

xi

71

4.3 Metode Analisis Data dan Pengujian Hipotesis................................

72

4.3.1 Uji Validitas dan Reabilitas ...................................................

72

4.3.2 Uji Asumsi Klasik .................................................................

75

4.3.3 Analisis Regresi Linier Berganda ..........................................

78

4.3.3.1 Koefisien Determinasi ...............................................

78

4.3.3.2 Koefisien Korelasi Berganda ....................................

79

4.3.3.3 Koefisien Regresi ......................................................

79

4.3.4 Hasil Analisis Uji Hipotesis ..................................................

80

4.4 Pembahasan .....................................................................................

83

4.4.1 Pengaruh Pengetahuan Pajak terhadap Kepatuhan


Wajib Pajak UMKM ..............................................................

83

4.4.2 Pengaruh Kemudahan Pajak terhadap Kepatuhan Wajib


Pajak UMKM .........................................................................

84

4.4.3 Pengaruh Keadilan Pajak terhadap Kepatuhan Wajib


Pajak UMKM .........................................................................

86

4.5 Keterbatasan Penelitian ...................................................................

89

BAB 5 : SIMPULAN DAN SARAN .............................................................

91

5.1 Simpulan ..........................................................................................

91

5.2 Saran .................................................................................................

92

DAFTAR PUSTAKA ....................................................................................

93

LAMPIRAN

xii

DAFTAR TABEL
Tabel 1.1 Perkembangan APBN 2011-2013 .................................................

Tabel 2.1 Kriteria Industri UMKM ............................................................... 32


Tabel 2.2 Penelitian Terdahulu ..................................................................... 37
Tabel 3.1 Populasi Penelitian ....................................................................... 51
Tabel 4.1 Distribusi Kuisioner ...................................................................... 62
Tabel 4.2 Interval Jawaban Responden ........................................................ 63
Tabel 4.3 Karakteristik Responden Berdasarkan Usia.................................. 64
Tabel 4.4 Karakteristik Responden Berdasarkan Jenis Kelamin .................. 64
Tabel 4.5 Karakteristik Responden Berdasarkan Pendidikan Terakhir ........ 65
Tabel 4.6 Karakteristik Responden Berdasarkan Jenis Usaha ...................... 65
Tabel 4.7 Karakteristik Responden Berdasarkan Bentuk Usaha................... 66
Tabel 4.8 Karakteristik Responden Berdasarkan Lama Usaha .................... 66
Tabel 4.9 Tanggapan Responden tentang Pengetahuan Pajak ...................... 67
Tabel 4.10 Tanggapan Responden tentang Kemudahan Pajak ....................... 68
Tabel 4.11 Tanggapan Responden tentang Keadilan Pajak ............................ 69
Tabel 4.12 Tanggapan Responden tentang Kepatuhan Wajib Pajak UMKM . 71
Tabel 4.13 Hasil Uji Validitas Variabel Bebas ............................................... 73
Tabel 4.14 Hasil Uji Validitas Variabel Terikat ............................................. 74
Tabel 4.15 Uji Reliabilitas Variabel Penelitian ............................................... 74
Tabel 4.16 Hasil Uji Normalitas ..................................................................... 75
Tabel 4.17 Hasil Uji Multikolinieritas ............................................................ 76
Tabel 4.18 Analisis Regresi Linier Berganda ................................................. 78
Tabel 4.19 Hasil Uji Regresi ........................................................................... 81

xiii

DAFTAR GAMBAR

Gambar 2.1 Kerangka Konseptual ................................................................... 39


Gambar 4.1 Struktur Organisasi KPP Pratama Surabaya Karangpilang.......... 59
Gambar 4.2 Hasil Uji Heteroskedastisitas ...................................................... 77

xiv

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1

: Surat Pemberian Ijin Penelitian

Lampiran 2

: Kuisioner

Lampiran 3

: Tabel Demografi Responden

Lampiran 4

: Tabulasi Data

Lampiran 5

: Frekuensi Data

Lampiran 6

: Hasil Uji Validitas dan Reabilitas

Lampiran 7

: Hasil Uji Regresi Berganda

xv

BAB 1
PENDAHULUAN

1.1

Latar Belakang
Pajak merupakan instrumen keuangan yang penting dalam perekonomian

di Indonesia dan sekaligus sebagai sumber daya utama dalam pembangunan


daerah. Pajak mempunyai dua fungsi, yaitu fungsi budgeter dan fungsi
regulerend. Fungsi budgeter yaitu mengenai fungsi pajak sebagai sumber
anggaran negara, sedangakan fungsi regulerend digunakan untuk mengatur
kebijakan dalam masyarakat di bidang ekonomi, sosial, maupun politik dengan
tujuan tertentu (Suandy, 2011). Oleh karena itu, dalam pemungutan pajak bukan
hanya ditujukan untuk menjaga dan meningkatkan pertumbuhan ekonomi, namun
juga untuk memberikan penerimaan pajak yang besar bagi negara.
Pajak dalam APBN di Indonesia merupakan penyumbang terbesar
pendapatan negara. Menurut Undang-undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang
Keuangan Negara, Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) adalah
rencana tahunan keuangan negara yang telah disetujui oleh Dewan Perwakilan
Rakyat. APBN merupakan pegangan bagi pemerintahan dalam mengatur
pendapatan dan pengeluarannya atau belanja negara. Penerimaan untuk negara
dari sektor pajak ini mengalami peningkatan dari tahun ke tahun. Seperti pada
tahun 2011 penerimaan negara yang berasal dari pajak mencapai 72,2 persen, dari
penerimaan bukan pajak 27,4 persen, dan sisanya sebesar 0,4 persen berasal dari
hibah. Pada tahun 2012 penerimaan negara dari sektor pajak meningkat menjadi
1

74,8 persen dan pada 2013 penerimaan APBN dari sektor pajak ditargetkan
menjadi 78 persen (Kementerian Keuangan, Laporan Semester Pelaksanaan
APBN, 2012).
Tabel 1.1
Perkembangan APBN 2011-2013

Penerimaan Negara

Tahun 2011
(%)

Tahun 2012
(%)

Target Tahun
2013 (%)

Penerimaan Pajak

72,2%

74,8%

78%

Penerimaan Negara
Bukan Pajak

27,4%

25,1%

21,7%

Penerimaan Hibah

0,4%

0,1%

0,3%

Total

100%

100%

100%

Sumber: Kementerian Keuangan


Target penerimaan negara dari sektor pajak yang semakin besar tiap
tahunnya mendorong Direktorat Jenderal Pajak terus berupaya untuk menggenjot
penerimaan pajaknya. Hal ini dikarenakan Indonesia memiliki tax ratio yang
sangat rendah dibandingkan dengan negara-negara lainnya. Tax ratio di Indonesia
pada tahun 2012 hanya sekitar 12,3 persen dan dalam lima tahun terakhir tidak
pernah mencapai 14 persen. Tax ratio Indonesia berada di bawah rata-rata
international yang telah mencapai 20 persen bahkan tax ratio Indonesia juga
dibawah negara yang mempunyai pendapatan perkapita rendah (Harinurdin,
2009).
Tax ratio atau rasio penerimaan pajak terhadap Produk Domestik Bruto
mempunyai dua implikasi utama berkenaan dengan rendahnya tax ratio. Pada satu

sisi, menggambarkan kepatuhan pajak masyarakat yang rendah sehingga jumlah


pajak yang dikumpulkan masih relatif kecil dibandingkan dengan basis pajak.
Pada sisi lainnya, relatif rendahnya jumlah pajak yang dikumpulkan terhadap
basis pajak memberikan harapan bahwa peningkatan penerimaan pajak masih
dapat dilakukan (Gunadi, 2005).
Salah satu upaya yang dilakukan oleh Direktorat Jenderal Pajak dalam
meningkatkan tax ratio ini adalah dengan mengoptimalkan peningkatan
penerimaan pajak yang berasal dari sektor informal, yaitu Usaha Mikro Kecil dan
Menengah (UMKM). UMKM di Indonesia merupakan wajib pajak yang memiliki
potensi pajak yang besar karena menurut Ditjen Pajak Fuad Rahmani menyatakan
bahwa UMKM memberikan kontribusi terhadap Produk Domestik Bruto (PDB)
sebesar 61 persen, namun hanya menyumbangkan sebesar 5 (lima) persen
terhadap total penerimaan pajak. Kecilnya kontribusi pajak dari sektor UMKM ini
dikarenakan wajib pajak masih banyak yang belum menyetorkan pajak mereka.
Kontribusi terhadap PDB yang cukup besar tersebut menunjukkan bahwa UMKM
sebenarnya memiliki potensi yang besar dalam menyumbang total penerimaan
pajak di Indonesia (Tambunan, 2013).
Potensi penerimaan pajak dari UMKM di Indonesia memang cukup
menjanjikan. Berdasarkan sumber data dari Kementerian Koperasi dan Usaha
Kecil Menengah per Juni 2013, saat ini terdapat 55,2 juta UMKM atau 99,98
persen dari total usaha di Indonesia. Jumlah tenaga kerja yang diserap UMKM ini
sekitar 101,72 juta atau 97,3 persen dari total tenaga kerja Indonesia. Dari jumlah
kontribusi UMKM yang sangat besar itulah maka pemerintah dan Direktorat

Jenderal Pajak berupaya untuk menggenjot penerimaan pajak dari sektor UMKM
dengan mengeluarkan peraturan mengenai pajak UMKM yang tercermin dalam
peraturan pemerintah yaitu PP Nomor 46 Tahun 2013 tentang Pajak Penghasilan
atas Penghasilan dari Usaha yang Diterima atau Diperoleh Wajib Pajak yang
Memiliki Peredaram Bruto Tertentu yang mulai berlaku efektif mulai tanggal 1
Juli 2013.
Dikeluarkannya PP Nomor 46 Tahun 2013 ini oleh pemerintah
dimaksudkan untuk memberikan kemudahan bagi wajib pajak orang pribadi dan
badan yang memiliki peredaran bruto tertentu yang diperlukan ketentuan
tersendiri mengenai perhitungan, penyetoran, dan pelaporan pajak penghasilan
yang terutang. Batasan peredaran usaha wajib pajak orang pribadi dan badan
dalam PP Nomor 46 tahun 2013 sebesar Rp 4,8 Milyar, besaran omzet ini masih
dalam lingkup UMKM menurut Undang-undang No. 20 tahun 2008 tentang
Usaha Mikro Kecil dan Menengah. Tarif dari PP Nomor 46 tahun 2013 dikenakan
pajak final sebesar 1 persen dari jumlah omzet per bulan dan berlaku juga bagi
wajib pajak UMKM yang omzetnya masih dalam lingkup peraturan pemerintah
tersebut.
Terkait UMKM, sebelum diberlakukannya PP Nomor 46 Tahun 2013
sudah terdapat ketentuan perpajakan yang mengatur khusus mengenai tarif
UMKM, namun hanya yang berbentuk badan usaha. Undang-undang No. 36
Tahun 2008 tentang UU PPh, pada pasal 31 huruf E disebutkan bahwa wajib
pajak dalam negeri yang peredaran brutonya mencapai Rp 50 Milyar mendapat
fasilitas berupa pengurangan tarif sebesar 50 persen dari tarif umum sebagaimana

diatur dalam pasal 17 ayat 2 UU PPh yang dikenakan atas penghasilan kena pajak
dari bagian peredaran bruto sampai dengan Rp 4,8 Milyar. Dengan tarif PPh
badan yang berjumlah 25 persen, maka bagi wajib pajak yang memenuhi
persyaratan tersebut tarif efektinya menjadi 12,5 persen.
Perubahan tarif terkait dikeluarkannya PP Nomor 46 Tahun 2013 tersebut
harus memerlukan kerjasama yang baik antara Wajib Pajak dan fiskus yang
melaksanakannya agar peraturan pemerintah yang baru dapat dilaksanakan
dengan tepat dan lancar. Wajib pajak harus memiliki pemahaman dan
pengetahuan yang baik tentang perpajakan dan tata cara pelaksanaan peraturan
perpajakan yang berlaku. Selain itu fiskus sebagai aparat pajak harus membantu
meningkatkan pengetahuan Wajib Pajak dengan memberikan sosialisasi terkait PP
Nomor 46 Tahun 2013 dan pelayanan tanya jawab baik melalui kring pajak atau
saat Wajib Pajak bertanya secara langsung.
Pengetahuan perpajakan yang dimiliki oleh wajib pajak merupakan hal
yang paling mendasar yang harus dimiliki oleh wajib pajak, karena tanpa adanya
pengetahuan tentang pajak, maka sulit bagi wajib pajak dalam menjalankan
kewajiban

perpajakannya

(Aziza,

2011).

Menurut

Herdiningsih

(2010)

pengetahuan pajak merupakan proses pengubahan sikap dan tata laku seseorang
wajib pajak atau kelompok wajib pajak dalam usaha mendewasakan manusia
melalui upaya pengajaran dan pelatihan formal dan nonformal.
Supriyati dan Nur Hidayati (2008) mengungkapkan bahwa penelitian
yang dilakukan di KPP Sidoarjo Timur menunjukkan pengetahuan pajak memiliki
pengaruh terhadap kepatuhan wajib pajak, sedangkan persepsi wajib pajak

mengenai petugas pajak dan persepsi kriteria wajib pajak patuh tidak memiliki
pengaruh terhadap kepatuhan wajib pajak.
Pertimbangan pemerintah atas pengenaan PPh final dengan tarif 1 persen
dari peredaran usaha terhadap UMKM, sebagaimana yang terdapat dalam
penjelasan umum PP Nomor 46 Tahun 2013 adalah kesederhanaan dalam
pemungutan pajak, berkurangnya beban administrasi bagi wajib pajak maupun
Direktorat Jenderal Pajak, serta memperhatikan perkembangan ekonomi dan
moneter. Dengan lebih sederhananya pemungutan pajak untuk sektor UMKM ini
pemerintah mengharapkan agar kepatuhan wajib pajak meningkat sehingga
penerimaan pajak negara pun ikut meningkat.
Seperti halnya reformasi di bidang perpajakan, penetapan peraturan
pemerintah terkait pajak UMKM bertujuan untuk memberikan kemudahan dan
kesederhanaan kepada wajib pajak UMKM. Undang-undang pajak harus
sederhana, sehingga wajib pajak dapat memahami dan mematuhi aturan dengan
benar dan dengan cara yang hemat biaya (AICPA, 2010).
Kemudahan dan kesederhanaan dalam PP Nomor 46 Tahun 2013 terlihat
dari tarif yang ditetapkan yaitu satu persen dari peredaran bruto. Sehingga
pemerintah bermaksud agar wajib pajak akan lebih mudah menghitung besar
pajak terhutang hanya dengan tarif tunggal satu persen. Beberapa kemudahan
lainnya dapat dilihat dari cara pembayaran yang dapat dilakukan melalui ATM,
kemudahan dalam mengajukan permohonan SKB (Surat Keterangan Bebas) untuk
pajak, dan kemudahan lainnya.

Menurut paper yang dibuat oleh BG Consulting (2003) kemudahan pajak


dapat dicapai melalui kemudahan dalam sistem pajak, undang-undang pajak, dan
penetapan aturan-aturan perpajakannya. Hotlzman (2007) dalam penelitiannya
menyebutkan bahwa sistem pajak yang mudah akan mengurangi beban kepatuhan
pajak dibandingkan dengan sistem pajak yang kompleks. Dan diperkuat oleh
penelitian dari Priantara (2011) yang menyimpulkan bahwa faktor kebutuhan,
kemudahan, sanksi, dan persepsi secara simultan berpengaruh signifikan terhadap
kepatuhan WPOP pengusaha kecil dan mikro.
Penetapan tarif baru dalam PP Nomor 46 Tahun 2013 sebesar satu persen
dari peredaran bruto ini masih menimbulkan pro dan kontra baik dikalangan wajib
pajak maupun para ahli di bidang perpajakan. Dari segi keadilan pajak yang
menurut para praktisi dan ekonom berpendapat bahwa PP Nomor 46 tahun 2013
adalah adil karena mereka menganggap memang sudah diperlukan penetapan tarif
khusus untuk UMKM yakni satu persen dari peredaran bruto yang tadinya
mempunyai tarif sebesar 12,5 persen dengan norma perhitungan khusus. Namun
sebagian besar wajib pajak menilai penetapan tarif tersebut memberatkan mereka.
Hal ini dikarenakan wajib pajak harus tetap membayar pajak dengan tarif satu
persen dari peredaran bruto tidak peduli apakah wajib pajak memperoleh laba
ataupun tidak.
Pemajakan yang adil adalah semakin besar penghasilan, maka semakin
besar pula pajak yang harus dibayar. Hal ini disebut juga dengan keadilan vertikal
atau vertical equity (Musgrave & Musgrave, 1976). Penghasilan yang dimaksud
disini adalah penghasilan neto, yaitu setelah dikurangi dengan biaya-biaya

pengurang penghasilan bruto menurut ketentuan perpajakan yang berlaku


(Mansury R, 1996). Perhitungan PPh final yang langsung dari peredaran brutonya
menyatakan bahwa pemajakan tersebut tidak sesuai dengan konsep keadilan
menurut pajak. Hal ini dikarenakan peredaran bruto seorang wajib pajak belum
tentu mencerminkan keuntungan wajib pajak tersebut.
Kebijakan atau kegiatan yang dapat menimbulkan persepsi, bahwa pajak
itu adil bagi semua orang akan sangat membantu menyadarkan wajib pajak untuk
memenuhi kewajiban dalam membayar pajak (Mc Mahon, 2001). Menurut Vogel,
Spicer, dan Becker (dalam Richardson, 2006) pembayar pajak cenderung untuk
menghindari membayar pajak jika mereka menganggap sistem pajak tidak adil.
Hal tersebut menunjukkan pentingnya dimensi keadilan pajak sebagai variabel
yang mempengaruhi kepatuhan pembayar pajak.
Dimensi keadilan pajak merupakan sifat yang tidak sewenang-wenang
atau tidak berat sebelah atas sistem perpajakan yang berlaku. Menurut Gerbing
(1988), dalam Richardson (2006) terdapat lima dimensi keadilan pajak, yakni:
(general fairness), timbal balik yang diterima pemerintah (exchanges with
government), kepentingan pribadi (self interest), ketentuan-ketentuan yang
diberlakukan secara khusus (special provisions), dan struktur tarif pajak (tax rate
structures).
Pris (2010) menyimpulkan bahwa tidak ada satupun dari dimensi kedilan
pajak yang berpengaruh secara signifikan pada perilaku kepatuhan WP badan.
Hasil yang berbeda ditunjukkan oleh Richardson (2006) menunjukkan bahwa
dimensi-dimensi keadilan pajak yang terkait dengan General Fairness, Exchange

with Government, dan middle income earners tax share/burden memiliki


hubungan positif yang signifikan dengan kepatuhan pajak di Hong Kong. Namun,
dimensi-dimensi keadilan pajak lainnya, seperti Self Interest, Tax Rate Structure,
dan Attittude Towards Taxation of the Wealthy tidak memiliki hubungan yang
signifikan.
Seluruh aspek yang terkait dengan pengetahuan pajak, kemudahan pajak,
dan keadilan pajak Wajib Pajak bertujuan untuk meningkatkan kepatuhan Wajib
Pajak. Kepatuhan adalah sebuah sikap yang rela untuk melakukan segala sesuatu,
yang didalamnya didasari oleh kesadaran maupun adanya paksaan, yang membuat
perilaku seseorang dapat sesuai dengan yang diharapkan (Mc Mahon 2001). Mc
Mahon (2001) juga mengartikan kepatuhan sebagai kegiatan individu untuk
menjalankan kewajibannya dalam memberikan kontribusi pada pemenuhan
kewajibannya sesuai dengan ketentuan yang mengaturnya.
Masalah mengenai kepatuhan wajib pajak ini merupakan masalah yang
sering dalam bidang perpajakan. Penelitian di bidang ini pun sering dilakukan.
Rata-rata fokus penelitain adalah perilaku pembayar pajak dan pengaruh variabelvariabel yang terkait. Adapun variabel yang pernah diteliti adalah tarif pajak
(Mason dan Calvin, 1984; Keller, 1998 dalam Mustikasari, 2007), faktor-faktor
ekonomi (Duncan et al., 1989 dalam Mustikasari, 2007), dan perilaku wajib pajak
(Marti, et al., 2010). Penelitian mengenai kepatuhan pajak sangat penting,
mengingat peran pajak dalam meningkatkan pembangunan di Indonesia sangat
besar. Beberapa penelitian mengenai kepatuhan pajak diantaranya seperti
penelitian yang dilakukan oleh Witono (2008) membuktikan bahwa terdapat

10

pengaruh signifikan antara pengetahuan pajak dan keadilan pajak terhadap tingkat
kepatuhan pajak. Albari (2008) menyimpulkan bahwa adanya pengaruh positif
dan langsung maupun tidak langsung dari keadilan pajak terhadap kepatuhan
pajak melalui variabel antara kepuasan.
Berdasarkan fenomena dan ketidakkonsistenan hasil penelitian-penelitian
sebelumnya yang telah dipaparkan di atas, maka akan dilakukan penelitian dan
analisa mengenai pengaruh pengetahuan pajak, kemudahan pajak, dan keadilan
pajak terhadap kepatuhan wajib pajak PP 46 Tahun 2013 di Indonesia khususnya
sektor UMKM. Studi dilakukan pada Kantor Pelayanan Pajak Pratama Surabaya
Karangpilang karena telah memenuhi target pencapaian penerimaan pajaknya
tahun 2012 sebesar 101,21% yang berarti kepatuhan waib pajak pada KPP
Pratama Surabaya Karangpilang dalam memenuhi kewajiban perpajakannya
sangat baik. Penelitian dan analisa ini dikembangkan dalam bentuk skripsi yang
berjudul Pengaruh Pengetahuan Pajak, Kemudahan Pajak, dan Keadilan
Pajak Terhadap Kepatuhan Wajib Pajak UMKM (studi pada KPP Pratama
Surabaya Karangpilang)
1.2

Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, maka dalam penelitian ini

dirumuskan masalah sebagai berikut:


Apakah pengetahuan pajak, kemudahan pajak, dan keadilan pajak
berpengaruh terhadap kepatuhan Wajib Pajak UMKM yang dikaitkan dengan PP
Nomor 46 Tahun 2013 (studi pada KPP Pratama Surabaya Karangpilang)?

11

1.3

Tujuan Penelitian
Berdasarkan rumusan masalah dan latar belakang yang telah dijabarkan

diatas, maka tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah:
Menguji dan memberikan gambaran mengenai pengaruh pengetahuan
pajak, kemudahan pajak, dan keadilan pajak terhadap kepatuhan Wajib Pajak
UMKM yang dikaitkan dengan PP Nomor 46 Tahun 2013 (studi pada KPP
Pratama Surabaya Karangpilang).
1.4

Manfaat Penelitian
Manfaat yang diharapkan dari dilakukannya penelitiaan adalah:

1. Bagi Penulis
Dengan adanya penelitian ini, penulis dapat memahami penerapan dan
pengaplikasian serta menambah pengetahuan mengenai peraturan tarif
UMKM terbaru yaitu PP Nomor 46 Tahun 2013 tentang Pajak Penghasilan
atas Penghasilan dari Usaha yang Diterima atau Diperoleh Wajib Pajak yang
Memiliki Peredaram Bruto Tertentu yang ditetapkaan oleh Menteri Keuangan
dan mulai berlaku efektif pada 1 Juli 2013.
2. Bagi Instansi/Perusahaan
Dapat memberikan masukan kepada Instansi maupun UMKM dalam menilai
kebijakan tarif pajak terbaru yaitu PP Nomor 46 Tahun 2013 tentang Pajak
Penghasilan atas Penghasilan dari Usaha yang Diterima atau Diperoleh Wajib
Pajak yang Memiliki Peredaram Bruto Tertentu.
3. Bagi Pembaca

12

Dapat memberikan bukti empiris dan pengetahuan lebih mengenai apakah


terdapat pengaruh persepsi wajib pajak mengenai pengetahuan pajak,
kemudahan pajak, dan keadilan pajak terhadap kepatuhan Wajib Pajak
UMKM PP Nomor 46 Tahun 2013 (studi pada KPP Pratama Karangpilang
Surabaya).

1.5

Sistematika Penulisan
Untuk memberikan gambaran yang jelas mengenai penelitian yang

dilakukan, maka disusunlah suatu sistematika penulisan skripsi, yaitu sebagai


berikut:
BAB 1

: Pendahuluan
Secara garis besar dalam bab ini berisi latar belakang yang
berhubungan dengan topik skripsi, yaitu pengaruh pengetahuan
pajak, kemudahan pajak, dan keadilan pajak terhadap kepatuuhan
wajib pajak UMKM di Indonesia terkait dengan Peraturan
Pemerintah Nomor 46 Tahun 2013. Bab ini juga berisi rumusan
masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, dan sistematika
penelitian.

BAB 2

: Tinjauan Pustaka
Bab ini menjelaskan tentang teori-teori yang digunakan di dalam
penelitian yang berhubungan dengan topik skripsi yaitu mengenai
pengetahuan pajak, kemudahan pajak, keadilan pajak, dan
kepatuhan wajib pajak UMKM yang terkait dengan PP Nomor 46

13

Tahun 2013. Bab ini juga menjelaskan tentang konsep-konsep


dasar yang dijadikan sebagai pedoman dalam analisis dan
pembahasan, serta menjalaskan hubungan antar variabel penelitian,
juga termasuk penelitian-penelitian terdahulu yang berkaitan
dengan skripsi ini, kerangka berpikir, serta hipotesis.
BAB 3

: Metode Penelitian
Bab ini berisi tentang pendekatan penelitian, identifikasi variabel,
definisi operasional variabel, jenis dan sumber data, metode
pengumpulan data, populasi dan sampel, metode analisis data yang
meliputi uji validitas dan reliabilitas, uji asumsi klasik yang terdiri
dari uji normalitas, uji multikolinieritas, dan uji heteroskedastisitas.
Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dan analisis
regresi linier berganda.

BAB 4

: Hasil dan Pembahasan


Bab ini menjelaskan gambaran umum objek dan subjek penelitian,
deskripsi hasil penelitian, teknik analisis, pengujian hipotesis,
pembahasan, dan keterbatasan penelitian. Dari hasil analisis dapat
diperoleh jawaban atas rumusan masalah serta jawaban atas
hipotesis tentang pengaruh pengetahuan pajak, kemudahan pajak,
dan keadilan pajak terhadap kepatuhan Wajib Pajak UMKM yang
terkait dengan PP Nomor 46 Tahun 2013.

14

BAB 5

: Simpulan dan Saran


Bab ini merupakan bagian akhir dari skripsi yang berisi simpulan
dari hasil analisis tentang pengaruh pengetahuan pajak, kemudahan
pajak, dan keadilan pajak terhadap kepatuhan wajib pajak UMKM
di Indonesia yang terkait dengan PP Nomor 46 Tahun 2013. Dalam
bab ini juga menyajikan saran untuk penelitian selanjutnya.

BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA

2.1

Landasan Teori
Teori adalah suatu konseptualisasi yang umum (Sugiyono, 2009). Teori

adalah serangkaian bagian atau variabel, definisi, dan dalil yang saling
berhubungan yang menghadirkan sebuah pandangan sistematis mengenai
fenomena. Teori mempunyai fungsi untuk menjelaskan meramalkan, dan
mengendalikan suatu gejala.
2.1.1

Teori Atribusi
Atribusi merupakan salah satu proses pembentukan persepsi atau

perilaku seseorang. Atribusi merupakan suatu teori yang menggambarkan


mengenai hal yang menyebabkan seseorang berperilaku (Anggraeni, 2013).
Atribusi merupakan penilaian mengenai orang lain dalam berperilaku apakah
dipengaruhi secara internal atau eksternal.
Pada dasarnya, teori atribusi menyatakan bahwa bila individu-individu
mengamati perilaku seseorang, mereka mencoba untuk menentukan apakah hal
tersebut ditimbulkan secara internal atau eksternal (Robbins, 1996). Perilaku
internal adalah suatu perilaku yang diyakini timbul atau dilakukan karena berada
dibawah kendali pribadi individu itu sendiri, misal: kemampuan, sikap sukarela,
atau pengetahuan, hal ini merupakan atribusi internal. Sedangkan perilaku
eksternal adalah suatu perilaku yang diyakini timbul atau dilakukan karena adanya

15

16

pengaruh eksternal atau dari luar individu tersebut, artinya individu tersebut
melakukannya secara terpaksa atau adanya kesempatan dan lingkungan yang
mendukung, hal ini merupakan atribusi eksternal.
Menurut Robbins (2003) penentuan internal atau eksternal tergantung
pada tiga faktor, yaitu kekhususan, konsensus, dan konsistensi. Pertama
kekhususan artinya seseorang akan mempersepsikan perilaku individu lain secara
berbeda dalam situasi yang berlainan. Jika perilaku seseorang dianggap suatu hal
yang luar biasa, maka individu pengamat memberikan atribusi eksternal pada
perilaku tersebut, maksudnya individu pengamat menganggap perilaku tersebut
dilakukan karena adanya faktor eksternal yang membuat seseorang melakukan hal
tersebut. Kedua, konsensus artinya jika semua orang mempunyai kesamaan
pandangan dalam merespon perilaku seseorang dalam situasi yang sama. Apabila
konsensusnya tinggi, maka hal itu termasuk atribusi internal, sedangkan jika
konsensusnya rendah, maka hal tersebut termasuk atribusi eksternal. Faktor yang
terakhir adalah konsistensi, yaitu jika seseorang menilai perilaku orang lain
dengan respon sama dari waktu ke waktu. Semakin konsisten perilaku yang
dilakukan, maka orang akan menghubungkan hal tersebut dengan sebab-sebab
internal (Fikriningrum, 2012).
Perilaku kepatuhan Wajib Pajak UMKM sangat ditentukan oleh persepsi
Wajib Pajak dalam menilai pengetahuan pajak, kemudahan pajak, dan keadilan
pajak. Persepsi dalam menilai suatu perilaku berasal dari faktor internal dan
eksternal. Oleh karena itu, teori atribusi relevan untuk menjelaskan hal tersebut.

17

2.1.2

Teori Fairness
Fairness berasal dari bahasa inggris yang mempunyai arti adil, wajar,

dan jujur. Dalam penelitian ini, kata fairness lebih ditujukan pada definisi adil.
Pengertian adil menunjukkan bahwa sistem pajak yang ada pada suatu negara
harus terfokus pada kepentingan seluruh pihak, tidak mementingkan dan
merugikan pihak yang satu dengan yang lain.
Teori keadilan dalam penelitian ini berperan sebagai teori yang melihat
apakah peraturan perpajakan yang diterapkan sudah berjalan sesuai dengan hukum
dan standar dalam memenuhi kriteria adil atau belum. Dalam perpajakan, keadilan
mengacu pada pertukaran antara pembayar pajak dengan pemerintah, yaitu apa
yang wajib pajak terima dari pemerintah atas sejumlah pajak yang telah dibayar
(Spicer & Lundstedt, 1976). Jika wajib pajak merasa tidak mendapatkan
pertukaran yang adil dari pemerintah atas pajak yang telah dibayarkannya, maka
mereka akan mengubah pandangan mereka atas keadilan pajak sehingga berakibat
pada perilaku mereka dalam membayar pajak. Mereka akan melaporkan
pendapatan mereka kurang dari apa yang seharusnya agar beban pajak yang
mereka bayarkan berkurang.
Menurut Greenberg (2003), ada dua premis yang mendasari teori
keadilan, yang pertama adalah bahwa penilaian keadilan diasumsikan berdasarkan
proksi atas kepercayaan antar pribadi untuk berperilaku dengan cara yang
kooperatif dalam lembaga-lembaga sosial. Premis yang kedua adalah banyak
orang diasumsikan menggunakan jalan pintas kognitif untuk memastikan apakah
mereka memiliki penilaian mengenai keadilan yang tersedia ketika mereka perlu

18

untuk membuat keputusan tentang keterlibatan dalam perilaku yang kooperatif.


Hal ini berarti bahwa adil bagi seseorang akan mempengaruhi perilaku mereka
ketika berhubungan dengan kegiatan yang dilakukan dengan pemerintah dan
secara tidak langsung juga mempengaruhi perilaku dari setiap orang yang terlibat
secara bersamaan dengan kegiatan yang dilakukan pemerintah tersebut.
Namun menurut Rawls (1971) salah satu kategori dalam masalah
keadilan adalah keadilan distributif. Dalam teori keadilan distributif (distributive
justice theory) menyatakan bahwa untuk menjadi adil, sebuah sistem tidak hanya
membutuhkan untuk memperlakukan seseorang dalam kondisi yang sama dan
cara yang sama, melainkan tergantung pada kebutuhan individu masing-masing.
Hal ini berarti keadilan dalam pajak tidak seharusnya memperlakukan seseorang
dengan kondisi yang sama, namun juga ditentukan dari kebutuhan mereka, baik
itu kebutuhan yang sifatnya pribadi ataupun tidak.
2.1.3

Pajak
Pajak merupakan penerimaan negara yang paling besar dan merupakan

penyumbang APBN terbesar bagi negara. Menurut Mardiasmo (2009) pajak


merupakan iuran rakyat kepada kas negara berdasarkan undang-undang
perpajakan yang dapat dipaksakan dengan tidak mendapatkan imbalan jasa timbal
balik yang langsung dapat ditunjukkan dan digunakan untuk membiayai
pengeluaran umum. Pajak mempunyai dua fungsi, yaitu fungsi anggaran
(budgeter) dan fungsi mengatur (regurelend). Fungsi anggaran (budgeter) adalah
pajak berfungsi untuk mengisi kas negara atau anggaran pendapatan negara yang
digunakan untuk keperluan pembiayaan umum pemerintah baik rutin maupun

19

untuk pembangunan. Fungsi mengatur (regurelend) adalah pajak berfungsi


sebagai alat untuk mengatur atau alat untuk melaksanakan kebijakan yang
ditetapkan negara dalam bidang ekonomi sosial untuk mencapai tujuan tertentu.
Fungsi

pajak

tersebut

membuat

pemerintah

berupaya

untuk

meningkatkan pendapatan dari sektor pajak dengan melakukan pemungutan pajak


kepada Wajib Pajak yang telah memenuhi subjek dan objek pajaknya. Untuk itu
ada tiga sistem pemungutan pajak yang berlaku di Indonesia (Suandy, 2011),
yaitu:
a. Official Assessment System
Official assessment system adalah sistem pemungutan pajak dimana jumlah pajak
yang harus dilunasi atau terutang oleh Wajib Pajak dihitung dan ditetapkan oleh
fiskus/aparat pajak. Ciri dari sistem pajak ini adalah:
1) Wewenang untuk menentukan besarnya pajak terutang ada pada fiskus.
2) Wajib pajak bersifat pasif.
3) Utang pajak timbul setelah dikeluarkan surat ketetapan pajak oleh fiskus.
b. Self Assessment System
Self assessment system adalah sistem pemungutan pajak dimana Wajib Pajak
harus menghitung, membayar, dan melaporkan jumlah pajak yang terutang
sendiri. Ciri dari sistem pajak ini adalah:
1) Wewenang untuk menentukan besarnya pajak terutang ada pada wajib pajak
sendiri.
2) Wajib pajak bersifat aktif, mulai dari menghitung, menyetor, dan melaporkan
sendiri pajak yang terutang.

20

3) Fiskus tidak ikut campur dan hanya mengawasi.


c. Withholding System
Withholding system adalah sistem pemungutan pajak dimana besarnya pajak
terhutang dihitung dan dipotong oleh pihak ketiga, yakni antara lain pemberi kerja
dan bendaharawan negara. Ciri dari sistem pajak ini adalah wewenang
menentukan besarnya pajak yang terutang ada pada pihak ketiga, yaitu pihak
selain fiskus dan wajib pajak.
Wajib pajak dalam membayarkan pajaknya memperoleh kewajibankewabijan dan hak-hak yang diatur dalam ketentuan umum perpajakan. Beberapa
kewajiban yang harus dilaksanakan oleh wajib pajak menurut Mardiasmo (2009)
adalah:
a. Mendaftarkan diri untuk mendapatkan NPWP.
b. Melaporkan usahanya untuk dikukuhkan sebagai PKP.
c. Menghitung dan membayar sendiri pajak dengan benar.
d. Mengisi dengan benar, jelas, dan lengkap SPT dan memasukkan ke Kantor
Pelayanan Pajak dalam batas waktu yang telah ditentukan.
e. Jika diperiksa wajib:
1) Memperlihatkan dan atau meminjamkan buku atau catatan, dokumen yang
menjadi dasar dan dokumen lain yang berhubungan dengan penghasilan
yang diperoleh, kegiatan usaha, pekerjaan bebas, atau objek yang terutang
pajak.
2) Memberikan kesempatan untuk memasuki tempat atau ruangan yang
dipandang perlu dan memberikan bantuan guna kelancaran pemeriksaan.

21

f. Apabila dalam waktu mengungkapkan pembukuan, pencatatan, atau dokumen


serta keterangan yang diminta, Wajib Pajak terikat oleh suatu kewajiban untuk
merahasiakan, maka kewajiban untuk merahasiakan itu ditiadakan oleh
permintaan untuk keperluan pemeriksaan.
Sedangkan hak Wajib Pajak menurut Mardiasmo (2009) adalah sebagai berikut:
a. Mengajukan keberatan dan surat banding.
b. Menerima tanda bukti pemasukan SPT.
c. Melakukan pembetulan SPT yang telah dimasukkan.
d. Mengajukan permohonan penundaan penyampaian SPT.
e. Mengajukan permohonan penundaan atau pengangsuran pembayaran pajak.
f. Meminta pengembalian kelebihan pembayaran pajak.
g. Mengajukan permohonan penghapusan dan pengurangan sanksi, serta
pembetulan surat ketetapan pajak yang salah.
h. Memberi kuasa kepada orang untuk melaksanakan kewajiban pajaknya.
i. Meminta bukti pemotongan atau pemungutan pajak.
j. Mengajukan keberatan dan banding.
2.1.4

Pengetahuan Pajak
Pengetahuan adalah hasil kerja fikir (penalaran) yang merubah seseorang

dari tidak tahu menjadi tahu dan menghilangkan keraguan terhadap suatu perkara
(Widayati dan Nurlis, 2010). Pengetahuan pajak sendiri merupakan proses
mengubah sikap dan tata laku seorang wajib pajak atau kelompok wajib pajak
dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan pelatihan
(Hardiningsih, 2011).

22

Pengetahuan akan peraturan perpajakan dipengaruhi oleh banyak hal,


antara lain pendidikan formal dan non formal yang mengandung dua aspek yaitu
aspek positif dan aspek negatif. Kedua aspek ini menentukan perilaku seseorang,
semakin banyak aspek positif maka akan berdampak pada kepatuhan wajib pajak
untuk membayar pajak. Palil (2005) mengungkapkan bahwa pengetahuan wajib
pajak tentang pajak yang baik akan memperkecil tax evasion. Begitupun
penelitian yang ditemukan oleh Kassipillai yang menyatakan pengetahuan tentang
pajak merupakan hal yang sangat penting bagi berjalannya sistem self assessment.
Hal tersebut sesuai juga dengan penelitian terbaru Palil pada 2010 tentang
pengetahuan pajak di Malaysia yang mengungkapkan bahwa pengetahuan pajak
adalah penting dalam penilaian diri dan dapat mempengaruhi kepatuhan wajib
pajak.
Widayati dan Nurlis (2010) menjelaskan bahwa terdapat beberapa
indikator yang mempengaruhi pengetahuan dan pemahaman terhadap peraturan
perpajakan yaitu (1) kepemilikan NPWP, (2) pengetahuan dan pemahaman
mengenai hak dan kewajiban, (3) pengetahuan dan pemahaman mengenai sanksi
perpajakan, (4) pengetahuan dan pemahaman mengenai PTKP, PKP, dan tarif
pajak, (5) wajib pajak mengetahui dan memahami peraturan perpajakan melalui
sosialisasi, dan (6) wajib pajak mengetahui dan memahami peraturan perpajakan
mengenai training yang mereka ikuti. Penelitian ini memberikan hasil bahwa
semua faktor pengetahuan dan pemahaman tentang peraturan pajak mempunyai
pengaruh yang signifikan terhadap kemauan wajib pajak untuk membayar pajak.

23

Menurut Nugroho (2012) semakin tinggi pengetahuan dan pemahaman


wajib pajak, maka wajib pajak dapat menentukan perilakunya dengan lebih baik
dan sesuai dengan ketentuan perpajakan. Tetapi jika wajib pajak tidak memiliki
pengetahuan mengenai peraturan pajak mereka tidak dapat menentukan
perilakunya dengan tepat. Dengan adanya pengetahuan perpajakan akan
membantu wajib pajak untuk patuh dalam membayar pajak dan akan
meningkatkan kepatuhan pajak mereka.
2.1.5

Kemudahan Pajak
Kemudahan umumnya dipandang sebagai keutamaan dalam sistem pajak

di suatu negara (Institute on Taxation and Economic Policy, 2011). Kemudahan


atau kesederhanaan tersebut akan memudahkan pembayar pajak untuk memahami
(dan untuk membayar) pajak mereka, dan akan mempermudah bagi administrator
pajak untuk mengumpulkan pajak secara adil. Kemudahan dalam pajak ini yang
menjadi solusi sehingga wajib pajak dapat memperoleh pengurangan biaya
berkaitan dengan pembayaran pajak, dan pemerintah dapat mengurangi biaya
terkait administrasi pajak untuk menilai dan mengumpulkan pajak.
Untuk sektor swasta baik badan maupun UMKM, biaya pajak tidak
hanya mencakup jumlah pajak itu sendiri, namun juga biaya-biaya kepatuhan
pajak yang muncul secara berkala dalam operasional perusahaan. Biaya tersebut
diantaranya adalah (1) gaji staf untuk menghitung pajak dan memelihara
informasi pajak, (2) biaya pelatihan bagi staf secara khusus, (3) biaya yang
diberikan kepada ahli seperti konsultan pajak, akuntan, dan pengacara untuk
beberapa hal khusus. Sedangkan bagi pemerintah biaya administrasi untuk pajak

24

mencakup biaya untuk sumber daya staf pajak, infrastruktur, dan pelatihan yang
antara lain ditujukan untuk memaksa, menilai, mengumpulkan dan memecahkan
klaim, keberatan, dan banding.
Kemudahan dalam administrasi pajak merupakan salah satu asas atau
prinsip pemungutan pajak. Menurut Rosdiana (2010) asas kemudahan
administrasi perpajakan mempunyai beberapa aspek yang mendasarinya, yaitu:
a. Asas Certainty (kepastian)
Asas certainty merupakan kepastian baik bagi petugas pajak maupun semua
wajib pajak terkait dengan subjek pajak, objek pajak, besarnya jumlah pajak
yang harus dibayar, serta prosedur untuk pemenuhan kewajiban pembayaran
dan pelaporannya.
b. Asas Convenience (kemudahan/kenyamanan)
Asas convenience terkait pada kemudahan atau kenyamanan sistem dan
prosedur perpajakannya.
c. Asas Efficiency
Pemungutan pajak dapat dikatakan efisien jika biaya dalam memenuhi
kewajiban pajak lebih rendah dari hasil pemungutannya (cost of taxation).
d. Asas Neutrality
Pajak yang dikeluarkan menurut asas neutrality harus bebas dari distorsi
terhadap produksi juga faktor-faktor ekonomi lainnya.
BG Consulting (2003) dalam papernya menjelaskan kemudahan pajak
dapat dicapai melalui penyederhanaan dalam (1) sistem pajak, yang berarti
mengurangi jumlah pajak agar memudahkan untuk membayar dan mengumpulkan

25

pajak, (2) peraturan pajak, yang berarti penyederhanaan undang-undang dan


hukum yang terkait agar mudah dimengerti dan mengurangi distorsi, dan (3)
penerapan peraturan pajak, yang berarti mengkomunikasikan peraturan pajak
secara langsung dan efektif kepada sektor yang tepat. Penerapan peraturan pajak
tersebut juga dapat dicapai melalui (1) pembuatan undang-undang yang lebih
singkat dan mudah dimengerti, (2) memperluas basis pajak, yang juga berarti
menghilangkan distorsi, dan (3) mengurangi pemotongan dan tarif pajak.
Pembuatan undang-undang menjadi lebih mudah dimengerti berarti
menggunakan bahasa yang lebih sederhana sehingga menghindari perbedaan
dalam makna dan cakupan. Pengurangan dalam distorsi penerapan undangundang pajak adalah kunci dari kesederhanaan pajak. Elemen distorsi biasanya
mencakup peningkatan biaya administrasi yang mengakibatkan meningkatnya
upaya pemerintah dalam menarik pajak. Selain itu peraturan pajak yang kompleks
juga dapat menimbulkan penghindaran dan penggelapan pajak oleh Wajib Pajak.
Umumnya, untuk administrasi pajak akan lebih masuk akal jika pemerintah
menurunkan tarif pajak sementara memperluas dasar pengenaan pajak dan
memberikan insentif kepada beberapa Wajib Pajak melalui pembebasan pajak dan
manfaat lainnya.
Terkait dengan kemudahan dan dalam meraih kepercayaan masyarakat,
Ditjen Pajak melakukan program modernisasi perpajakan secara komprehensif
yang meliputi modernisasi Sistem Administrasi Perpajakan, modernisasi
Organisasi dan Sistem Informasi dan modernisasi Kualitas Sumber Daya Manusia
(The Indonesian Tax in Brief, 2006). Mustikasari (2007) menunjukan bahwa

26

kemudahan wajib pajak berpengaruh signifikan terhadap kepatuhan wajib pajak


badan. Hal tersebut terjadi karena wajib pajak badan merasakan banyak manfaat
dan kemudahan setelah membayar pajak.
2.1.6

Keadilan Pajak
Adil menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah (a) sama berat, tidak

berat sebelah, tidak memihak; (b) berpihak pada yang benar, berpegang pada
kebenaran; (c) sepatutnya tidak sewenang-wenang. Sedangkan keadilan adalah
sifat atau perbuatan yang tidak sewenang-wenang atas sistem perpajakan yang
berlaku (Pris, 2010).
Salah satu syarat pemungutan pajak adalah keadilan (Mardiasmo, 2009).
Keadilan ini meliputi keadilan dalam prinsip mengenai peraturan perundangundangan dan dalam kehidupan sehari-hari. Menurut Mansury (1996) keadilan
dalam perpajakan dapat dibagi menjadi dua, yaitu:
1. Keadilan horizontal, yaitu semua orang yang mempunyai kemampuan ekonomi
atau mendapatkan tambahan keemampuan ekonomi yang sama harus
dikenakan pajak yang sama.
2. Keadilan vertikal, yaitu berkenaan dengan kewajiban membayar pajak yang
kemampuan membayarnya tidak sama, yaitu semakin besar kemampuannya
untuk membayar pajak maka harus semakin besar tarif pajak yang dikenakan.
Persepsi masyarakat akan keadilan pajak yang berlaku di suatu negara
sangat mempengaruhi pelaksanaan perpajakan di negara tersebut. Jika persepsi
atas keadilan masyarakat tinggi, maka mereka akan memiliki kesadaran untuk
berperilaku patuh terhadap peraturan pajak yang berlaku. Tetapi jika sebaliknya,

27

maka masyarakat akan menurunkan tingkat kepatuhan mereka dan akan membuat
mereka melakukan penghindaran pajak dan pengurangan pajak (tax evasion).
Seperti dikemukakan Misu (2011) keadilan dalam sistem pajak merupakan salah
satu faktor yang penting dalam mempengaruhi kepatuhan pajak.
Chistensen (1994) dalam Azmi dan Perumal (2008) mengungkapkan
bahwa konsep keadilan pajak sulit ditetapkan karena (1) keadilan pajak
merupakan masalah multidimensional, (2) dapat diidentifikasikan pada tingkat
individu maupun masyarakat luas, (3) keadilan terkait dengan kompleksitas, (4)
kurangnya

keadilan

dapat

menjadi

pertimbangan

untuk

menyebabkan

ketidakpatuhan. Penelitan Chistensen (1994) dalam Witono (2008) menemukan


bahwa ada hubungan positif antara persepsi keadilan pajak terhadap tingkatan
kepatuhan. Pembayar pajak cenderung akan menghindari membayar pajak jika
mereka menganggap bahwa sistem pajak tidak adil. Namun penelitian ini tidak
mendukung penelitian yang dilakukan oleh Saad (2010) yang menemukan bahwa
terdapat hubungan negatif antara keadilan pajak dan kepatuhan pajak.
Gerbing mewakili penelitian yang pertama mengembangkan model
multidimensional yang menghubungkan keadilan pajak dan kepatuhan wajib
pajak. Dalam Azmi dan Perumal (2008), penelitian Gerbing menemukan lima
indikator keadilan pajak, yaitu:
a. Keadilan umum (General Fairness).
b. Struktur tarif pajak (Tax Rate).
c. Timbal balik dengan pemerintah (Exchange with the Goverment)
d. Kepentingan pribadi (Self-Interest)

28

e. Ketentuan-ketentuan khusus (Special Provision)


Azmi dan Perumal (2008) meneliti eksistensi keadilan pajak di Malaysia.
Dalam penelitian ini hanya tiga variabel dari keadilan pajak Gerbing (1988) yang
berpengaruh terhadap kepatuhan pajak yaitu keadilan umum (general fairness),
struktur pajak (tax structure), dan kepentingan pribadi (self-interest). Penelitian
yang baru dilakukan oleh Bank et al. (2012), meneliti persepsi keadilan pajak di
Turki dengan mengembangkan penelitian yang dilakukan oleh Azmi dan Perumal
pada 2008. Keduanya memakai variabel yang sama.
Richardson (2006) juga melakukan penelitian mengenai keadilan pajak di
Hongkong dengan dasar penelitian Gerbing (1988). Dalam penelitian ini
Richardson menambahkan variabel baru yaitu middle income earners tax
share/burden. Hal ini disesuaikan dengan kondisi yang berlaku di Hong Kong
yang berbeda dari Amerika.
2.1.7

Kepatuhan Pajak
Kepatuhan menurut Kamus Umum Bahasa Indonesia berarti tunduk atau

patuh pada ajaran atau aturan. Dalam perpajakan kepatuhan dapat diartikan
ketaatan, tunduk, dan patuh serta melaksanakan ketentuan perpajakan. Jadi wajib
pajak yang patuh adalah wajib pajak yang taat dan memenuhi serta melaksanakan
kewajiban perpajakan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan
yang berlaku (Imaniyah dan Handayani, 2008).
Pengertian kepatuhan pajak (tax compliance) menurut Simon (2003)
yang dikutip oleh Gunadi (2005) adalah wajib pajak mempunyai kesediaan untuk
memenuhi kewajiban pajaknya. Kepatuhan wajib pajak memenuhi kewajiban

29

perpajakannya akan meningkatkan penerimaan negara dan pada gilirannya akan


meningkatkan besarnya rasio pajak (Nurmantu, 2003). Menurut Peraturan Menteri
Keuangan Nomor 74/PMK.03/2012 menjelaskan kepatuhan perpajakan adalah
tindakan wajib pajak dalam pemenuhan kewajiban perpajakannya sesuai dengan
ketentuan perundang-undangan dan peraturan pelaksanaan perpajakan yang
berlaku dalam suatu negara. Adapun dua macam kepatuhan wajib pajak adalah:
1. Kepatuhan formal adalah suatu keadaan dimana wajib pajak memenhi
kewajiban secara formal sesuai dengan ketentuan dalam Undang-undang
perpajakan.
2. Kepatuhan material adalah suatu keadaan dimana wajib pajak secara substantif
atau hakikatnya memenuhi semua ketentuan material perpajakan yaitu sesuai
dengan isi dan jiwa Undang-undang perpajakan.
Faktor-faktor yang mempengaruhi kepatuhan wajib pajak dalam
membayar pajak menurut Kusumawati (2006) diantaranya adalah:
1. Faktor pendidikan wajib pajak, yang meliputi pendidikan formal dan non
formal serta pengetahuan wajib pajak.
2. Faktor pendapatan wajib pajak, yang meliputi besarnya pendapatan bersih
wajib pajak dari pekerjaan pokok dan sampingannya, serta jumlah anggota
keluarga yang masih harus dibiayai.
3. Faktor pelayanan aparatur pajak, yaitu disaat pelayanan penyampaian
informasi, pelayanan pembayaran, pelaporan, maupun pelayanan keberatan.
4. Faktor penegak hukum pajak, yang terdiri dari sanksi-sanksi, keadilan dalam
penentuan jumlah pajak yang dipungut, pengawasan, dan pemeriksaan.

30

5. Faktor sosialisasi, diantaranya pelaksanaan sosialisasi dan media sosialisasi.


Sesuai dengan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 74/PMK.03/2012,
kriteria wajib pajak patuh adalah:
1. Tepat waktu dalam menyampaikan SPT untuk semua jenis pajak dalam dua
tahun terakhir.
2. Tidak mempunyai tunggakan pajak untuk semua jenis pajak, kecuali telah
memperoleh izin untuk mengangsur atau menunda pembayaran pajak.
3. Tidak pernah dijatuhi hukuman karena melakukan tindakan pidana di bidang
perpajakan dalam jangka waktu 10 (sepuluh) tahun terakhir.
4. Dalam dua tahun pajak terakhir:
a. Menyelenggarakan pembukuan sebagaimana yang dimaksud dalam Pasal
28 Undang-undang KUP.
b. Dalam hal terhadap wajib pajak pernah dilakukan pemeriksaan, koreksi
pada pemeriksaan yang terakhir untuk masing-masing jenis pajak terhutang
paling banyak lima persen.
5. Wajib pajak yang laporan keuangannya untuk dua tahun terakhir diaudit oleh
akuntan publik dengan pendapat wajar tanpa pengecualian, atau pendapat
dengan pengecualian sepanjang tidak mempengaruhi laba rugi fiskal.
2.1.8

Usaha Mikro Kecil dan Menengah


UMKM adalah singkatan dari Usaha Mikro Kecil dan Menengah.

UMKM diatur berdasarkan Undang-undang No. 20 Tahun 2008 tentang Usaha


Mikro Kecil dan Menengah. Pengertian UMKM menurut UU No. 20 Tahun 2008
adalah:

31

a. Usaha Mikro adalah usaha produktif milik orang perorangan dan/atau badan
usaha perorangan yang memenuhi kriteria Usaha Mikro sebagaimana diatur
dalam Undang-undang ini.
b. Usaha Kecil adalah usaha ekonomi produktif yang berdiri sendiri, yang
dilakukan oleh orang perseorangan atau badan usaha yang bukan merupakan
anak perusahaan atau bukan cabang perusahaan yang dimiliki, dikuasai, atau
menjadi bagian baik langsung maupun tidak langsung dari usaha menengah
atau usaha besar yang memenuhi kriteria Usaha Kecil sebagaimana dimaksud
dalam Undang-undang ini.
c. Usaha Menengah adalah usaha ekonomi produktif yang berdiri sendiri, yang
dilakukan oleh orang perseorangan atau badan usaha yang bukan merupakan
anak perusahaan atau cabang perusahaan yang dimiliki, dikuasai, atau menjadi
bagian baik langsung maupun tidak langsung dengan Usaha Kecil atau usaha
besar dengan jumlah kekayaan bersih atau hasil penjualan tahunan
sebagaimana diatur dalam Undang-undang ini.
Menurut Kementrian Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah (2008)
industri usaha kecil dan menengah adalah usaha ekonomi produktif yang berdiri
sendiri, yang dilakukan oleh orang perseorangan atau badan usaha yang bukan
merupakan anak perusahaan atau cabang perusahaan yang dimiliki, dikuasai, atau
menjadi bagian baik langsung maupun tidak langsung dengan usaha kecil atau
usaha besar, dengan jumlah kekayaan bersih atau hasil penjualan tahunan
sebagaimana diatur dalam Undang-undang.

32

Selain mengacu kepada pengertian UMKM yang berdasarkan Undangundang, dalam perspektif pengembangannya, UMKM juga dapat diklasifikasikan
menjadi empat kelompok, yaitu
1. Livelihood Activities, merupakan UMKM yang digunakan sebagai kesempatan
kerja untuk mencari nafkah, yang lebih umum dikenal sebagai sektor informal.
Salah satu contohnya adalah pedagang kaki lima.
2. Micro Enterprise, merupakan UMKM yang memiliki sifat pengrajin dan
memiliki kemampuan untuk menghasilan suatu produk, namun belum memiliki
sifat kewirausahaan.
3. Small Dynamic Enterprise, merupakan UMKM yang telah memiliki jiwa
kewirausahaan dan mampu menerima pekerjaan subkontrak dan ekspor.
4. Fast

Moving

Enterprise,

merupakan

UMKM

yang

telah

memiliki

kewirausahaan dan telah memiliki tujuan untuk memajukan usahanya dengan


melakukan transformasi menjadi Usaha Besar.
Industri usaha mikro kecil dan menengah terbagi menjadi tiga golongan
usaha, yaitu usaha mikro, usaha kecil, dan usaha menengah. Ketiga usaha tersebut
mempunyai kriteria sebagai berikut:
Tabel 2.1
Kriteria Industri UMKM
No.

Uraian

Kriteria

Asset
Omzet
Maks. 50 Juta
Maks. 300 Juta
1.
Usaha Mikro
>50 Juta 500 Juta
>300 Juta 2,5 Milyar
2.
Usaha Kecil
>500 Juta 10 Milyar >2,5 Milyar 50 Milyar
3.
Usaha Menengah
Sumber: Kementrian Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah, 2008

33

2.1.9

Peraturan Pemerintah Nomor 46 Tahun 2013


Ketentuan Pajak Penghasilan yang diatur dalam Peraturan Pemerintah

Nomor 46 Tahun 2013 tentang Pajak Penghasilan Atas Penghasilan Dari Usaha
Yang Diterima Atau Diperoleh Wajib Pajak Yang Memiliki Peredaran Bruto
Tertentu diberlakukan secara efektif mulai tanggal 1 Juli 2013.
Kebijakan pemerintah dengan pemberlakuan PP Nomor 46 Tahun 2013 ini
didasari dengan maksud sebagai berikut:
1. Untuk memberikan kemudahan dan penyederhanaan aturan perpajakan.
2. Mengedukasi masyarakat untuk tertib administrasi.
3. Mengedukasi masyarakat untuk transparansi.
4. Memberikan

kesempatan

masyarakat

untuk

berkontribusi

dalam

penyelenggaraan negara.
Dan tujuan yang ingin dicapai oleh pemerintah dari penetapan PP Nomor 46
Tahun 2013 ini adalah:
1. Kemudahan bagi masyarakat dalam melaksanakan kewajiban perpajakan.
2. Meningkatkan pengetahuan tentang manfaat perpajakan bagi masyarakat.
3. Terciptanya kondisi kontrol sosial dalam memenuhi kewajiban perpajakan.
Kriteria wajib pajak yang dikenai pajak penghasilan berdasarkan
ketentuan PP Nomor 46 Tahun 2013 adalah wajib pajak orang pribadi dan badan,
tidak termasuk Bentuk Usaha Tetap (BUT) yang menerima penghasilan dari usaha
dengan peredaran bruto atau omzet yang tidak melebihi Rp 4.800.000.000,00 (4,8
Milyar rupiah) dalam 1 (satu) Tahun Pajak.

34

Wajib pajak yang tidak dikenai atau dikecualikan dari pajak penghasilan
berdasarkan ketentuan PP Nomor 46 Tahun 2013 ini adalah:
1. Orang Pribadi yang melakukan kegiatan usaha perdagangan dan/atau jasa
yang menggunakan sarana yang dapat dibongkar pasang dan menggunakan
sebagian atau seluruh tempat untuk kepentingan umum. Misalnya: pedagang
keliling, pedagang asongan, warung tenda di area kaki-lima, dan sejenisnya.
2. Badan yang belum beroperasi secara komersial atau yang dalam jangka
waktu 1 (satu) tahun setelah beroperasi secara komersial memperoleh
peredaran bruto atau omzet melebihi Rp 4.800.000.000,00 (4,8 Milyar
rupiah).
Wajib pajak orang pribadi dan badan yang dikecualikan dari subjek pajak
menurut PP Nomor 46 Tahun 2013 tersebut akan melaksanakan ketentuan
perpajakannya sesuai dengan Undang-undang KUP maupun Undang-undang
pajak penghasilan secara umum.
Objek pajak yang dikenakan untuk pajak penghasilan dalam ketentuan
PP Nomor 46 Tahun 2013 adalah penghasilan dari usaha yang diterima atau
diperoleh wajib pajak dengan peredaran bruto atau omzet yang tidak melebihi Rp
4.800.000.000,00 (4,8 Milyar rupiah). Peredaran bruto atau omzet merupakan
jumlah peredaran bruto atau omzet untuk semua gerai/counter/outlet atau
sejenisnya baik pusat maupun cabangnya. Dan tarif pajak yang harus dibayar oleh
wajib pajak menurut ketentuan ini adalah sebesar 1% (satu persen) dari jumlah
peredaran bruto atau omzet.

35

Objek pajak yang tidak dikenai pajak penghasilan sesuai dengan


ketentuan PP Nomor 46 Tahun 2013 ini adalah:
1. Penghasilan dari jasa sehubungan dengan pekerjaan bebas, seperti misalnya:
dokter, advokat/pengacara, akuntan, notaris, PPAT, arsitek, pemain musik,
pembawa acara, dan sebagaimana diuraikan dalam penjelasan PP tersebut.
2. Penghasilan dari usaha yang dikenai PPh Final (Pasal 4 ayat (2)), seperti
misalnya sewa kamar kos, sewa rumah, jasa konstruksi (perencanaan,
pelaksanaan dan pengawasan), PPh usaha migas, dan lain sebagainya yang
diatur berdasarkan Peraturan Pemerintah tersendiri.
3. Penghasilan yang diterima atau diperoleh dari luar negeri.
2.2

Penelitian Terdahulu
Penelitian mengenai pengetahuan pajak, kemudahan pajak, dan keadilan

pajak terhadap kepatuhan wajib pajak dilakukan oleh beberapa peneliti. Penelitian
mengenai pengetahuan pajak dan kepatuhan wajib pajak dilakukan oleh Rizal
Palil pada tahun 2010 di Malaysia dengan judul Tax Knowledge and Tax
Compliance Determinants in Self Assessment System in Malaysia menggunakan
tujuh variabel, yaitu pengetahuan mengenai hak dan kewajiban wajib pajak,
pengetahuan mengenai penghasilan, pengetahuan mengenai dividen dan bunga,
pengetahuan mengenai personel relief, pengetahuan mengenai child relief,
pengetahuan mengenai rabat, dan pengetahuan mengenai hukuman, sanksi, dan
pelanggaran. Penelitian yang sama juga dilakukan oleh Widayati dan Nurlis
(2010) dengan menggunakan enam variabel hampir sama dengan penelitian Palil
(2010).

36

Paper yang ditulis oleh BG Consulting (2003) dengan judul Tax


Simplicity and Stability: Attracrive to Countries and Inventors menggunakan
tiga pendekatan untuk mencapai kemudahan dalam pajak, yaitu: pembuatan
undang-undang yang lebih singkat dan mudah dimengerti, memperluas basis
pajak, yang juga berarti menghilangkan distorsi, dan mengurangi pemotongan dan
tarif pajak. Pada tahun 2007, Hotlzman dalam penelitiannya yang berjudul
Challenges in Achieving Transparancy, Simplicity, and Administering of United
States Tax Code menyebutkan bahwa sistem pajak yang mudah akan mengurangi
beban kepatuhan pajak dibandingkan dengan sistem pajak yang kompleks. Hasil
yang sama pun diungkapkan oleh Mustikasari (2007) yang melakukan penelitian
mengenai kepatuhan wajib pajak badan dan dari penelitian tersebut menunjukan
bahwa kemudahan wajib pajak badan berpengaruh signifikan terhadap kepatuhan
wajib pajak badan.
Penelitian mengenai keadilan pajak dan kepatuhan pajak yang dilakukan
oleh Azmi dan Perumal (2008) di Malaysia dengan judul The Fairness
Dimension in an Asian Context: The Malaysian Perspective menggunakan lima
variabel yang dikembangkan oleh Gerbing (1988), yaitu keadilan umum
perpajakan, struktur tarif pajak, pertukaran dengan pemerintah, kepentingan
pribadi, dan ketentuan khusus. Pada tahun 2005, Giligan dan Richardson
melakukan penelitian dengan menggunakan variabel yang sama tetapi dilakukan
di Australia dan Hongkong. Dan pada tahun 2010, Natrah Saad juga melakukan
penelitian yang di Malaysia dengan menggunakan variabel yang sama. Penelitian

37

di Indonesia mengenai keadilan pajak dan kepatuhan wajib pajak juga dilakukan
oleh Andarini Pris pada tahun 2010 dan Heniar pada tahun 2012.
Tabel 2.2
Penelitian Terdahulu
No.
1.

2.

Nama (Tahun)
Judul
Rizal Palil
(2010) Tax
Knowledge and
Tax
Compliance:
Determinants in
Self Assessment
System in
Malaysia
Widayati dan
Nurlis (2010)
Faktor-faktor
yang
Mempengaruhi
Kemauan untuk
Membayar
Pajak WPOP
yang Melakukan
Pekerjaan
Bebas

3.

Giligan dan
Richardson
(2005)
Perception of
Tax Fairness
and Tax
Compliance in
Australia and
Hongkong

4.

Azmi dan
Perumal (2008)
Tax Fairness in

Variabel yang Diteliti

Alat Uji

Hasil

1. Pengetahuan Pajak
(X1)
2. Kepatuhan Pajak (Y)

Regresi
Berganda

Hasil penelitian ini


menyebutkan bahwa
pengetahuan pajak penting
dalam sistem penilaian diri dan
dapat mempengaruhi
kepatuhan pajak.

1. Kesadaran
membayar pajak
(X1)
2. Pengetahuan dan
Pemahaman tentang
peraturan pajak (X2)
3. Persepsi yang baik
atas Efektifitas
Sistem Perpajakan
(X3)
4. Kemauan Membayar
Pajak (Y)
1. Keadilan umum dan
distribusi
pembebanan pajak
(X1)
2. Timbal balik
pemerintah (X2)
3. Sikap terhadap
perpajakan orang
kaya (X3)
4. Struktur tarif pajak
yaang diinginkan
(X4)
5. Kepentingan Pribadi
(X5)
6. Kepatuhan pajak (Y)
1. Kedilan umum (X1)
2. Struktur tarif pajak
(X2)

Regresi
Berganda

Pengetahuan dan pemahaman


tentang peraturan berpengaruh
positif signifikan terhadap
kemauan membayar pajak,
sedangkan kesadaran WP dan
persepsi yang baik atas
efektifitas sistem perpajakan
tidak berpengaruh signifikan
terhadap kemauan membayar
pajak.

Regresi
Berganda

Di Australia, keadilan umum


dan distribusi pembebanan
pajak, sikap terhadap
perpajakan orang kaya,
struktur tarif pajak yang
diinginkan, dan kepentingan
pribadi mempunyai korelasi
signifikan terhadap kepatuhan
pajak. Sedangkan di
Hongkong, keadilan umum
dan distribusi pembebanan
pajak dan timbal balik
pemerintah memiliki korelasi
signifikan dengan kepatuhan
pajak.
Terdapat tiga dimensi keadilan
pajak yang berpengaruh di
Malaysia, yaitu keadilan

Analisis
Faktor

38

an Asian
Context: The
Malaysian
Perspective

5.

6.

7.

8.

Natrah Saad
(2010) Fairness
Perception and
Compliance
Behaviour: The
Case of Salaried
Taxpayers in
Malaysia after
Implementation
of the Self
Assessment
System
Andarini Pris
(2010) Dampak
Dimensi
Keadilan Pajak
terhaap Tingkat
Kepatuhan
Wajib Pajak
Badan

BG Consulting
(2003) Tax
Simplicity and
Stability:
Atractive to
Countries and
Investor
Holtzman
(2007)
Challenges in
Achieving
Transparancy,
Simplicity, and
Administering
of United States
Tax Code

3. Pertukaran dengan
pemerrintah (X3)
4. Kepentingan pribadi
(X4)
5. Ketentuan khusus
(X5)
6. Kepatuhan pajak (Y)
1. Multidimensi
keadilan pajak (X1)
2. Keadilan pajak (X2)
3. Pengetahuan pajak
(X3)
4. Kerumitan peraturan
pajak (X4)
5. Kepatuhan Wajib
Pajak (Y)

umum, struktur pajak, dan


kepentingan pribadi terhadap
perilaku kepatuhan pajak.

Partial
Least
Square
(PLS)

1. Keeadilan umum
(X1)
2. Timbal balik
pemerintah (X2)
3. Ketentuan khusu
(X3)
4. Struktur tarif pajak
(X4)
5. Kepentingan pribadi
(X5)
6. Kepatuhan WP
Badan (Y)
1. Tax simplicity
2. Tax stability

Analisis
Multivari
at
Structural
Equation
Modelling
(SEM)

1. Transparansi pajak
2. Kemudahan pajak
3. Keadilan dan
efektifitas
administrasi pajak

Studi
Literatur

Studi
Literatur

Wajib pajak mempersepsikan


keadilan pajak sebagai
multidimensi, namun tidak
mempersepsikan keadilan
pajak sebagai pengaruh positif
dan signifikan terhadap
kepatuhan pajak. Dan
pengetahuan pajak
berpengaruh positif terhadap
keadilan pajak, sedangkan
kerumitan peraturan pajak
berpengaruh negatif.
Dari 5 dimensi keadilan pajak,
tidak ada stupun yang
mempunyai pengaruh
signifikan terhadap perilaku
kepatuhan pajak WP Badan di
Indonesia.

Kemudahan/kesederhanaan
harus diterapkan dalam sistem
perpajakan agar menjadi lebih
mudah dan harmonis. Dan
stabilitas pajak perlu
diterapkan agar menigkatkan
kepatuhan pajak.
Sistem pajak yang sulit untuk
dipatuhi dan dikelola akan
mengurangi transparansi
karena menimbulkan
ketidakkonsistenan dalam
menerapkan hukum kepada
wajib pajak dengan situasi
yang sama. Transparansi
terkait dengan kesederhanaan
dan keefektifan pengelolaan
sistem pajak di Amerika

39

2.3

Kerangka Konseptual
Berdasarkan telaah pustaka yang telah dipaparkan, penelitian ini

menggambarkan hubungan antara variabel pengetahuan pajak, kemudahan pajak,


dan keadilan pajak terhadap kepatuhan wajib pajak UMKM pada Gambar 2.2

Pengetahuan Pajak
5 Indikator
Palil (2010), Widiyati dan
Nurlis (2010)
(X1)

Kemudahan Pajak
3 Indikator
Holtzman (2007), BG
Consulting (2003)
(X2)

Kepatuhan Wajib Pajak


UMKM
(Y)

Keadilan Pajak
5 Indikator
Giligan dan Richardson
(2005) Azmi dan Perumal
(2008), Pris (2010), Saad
(2010)
(X3)
Gambar 2.1
Kerangka Konseptual
2.4

Hipotesis Penelitian
Hipotesis merupakan jawaban sementara terhadap rumusan masalah

penelitian, oleh karena itu rumusan masalah biasanya disusun dalam bentuk
kalimat pertanyaan (Sugiyono, 2009).

40

2.4.1

Pengaruh Pengetahuan Pajak terhadap Kepatuhan Wajib Pajak


UMKM
Menurut teori atribusi, pengetahuan pajak merupakan atribusi internal.

Hal ini dikarenakan pengetahuan pajak timbul karena berada dibawah kendali
pribadi individu itu sendiri. Wajib pajak memiliki pengetahuan pajak tidak karena
paksaan dari pihak lain, melainkan timbul karena hasil kerja fikir (penalaran) dari
dalam diri mereka sendiri.
Pengetahuan pajak berhubungan dengan tingkat pemahaman dan
pengetahuan wajib pajak terhadap peraturan perpajakan yang berlaku. Penelitian
ini mengukur pengetahuan pajak dari penelitian Widayati dan Nurlis (2010), yaitu
(1) kepemilikan NPWP, (2) pengetahuan dan pemahaman mengenai hak dan
kewajiban, (3) pengetahuan dan pemahaman mengenai sanksi perpajakan, (4)
pengetahuan dan pemahaman mengenai PTKP, PKP, dan tarif pajak, (5) wajib
pajak mengetahui dan memahami peraturan perpajakan melalui sosialisasi, dan (6)
wajib pajak mengetahui dan memahami peraturan perpajakan dari training yang
mereka ikuti. Jika pemahaman dan pengetahuan wajib pajak terhadap peraturan
perpajakan dalam hal ini PP Nomor 46 Tahun 2013 menunjukkan hasil positif
maka kepatuhan wajib pajak akan meningkat, sebaliknya jika wajib pajak
merespon negatif maka kepatuhan pajak akan menurun.
Palil (2005) menemukan bahwa pengetahuan wajib pajak tentang pajak
yang baik akan memperkecil tax evasion. Hal tersebut sesuai juga dengan
penelitian terbaru Palil pada 2010 tentang pengetahuan pajak di Malaysia yang
mengungkapkan bahwa pengetahuan pajak adalah penting dalam penilaian ini dan

41

dapat mempengaruhi kepatuhan wajib pajak. Berdasarkan penjelasan tersebut


hipotesis yang akan diuji adalah sebagai berikut:
H1: Pengetahuan pajak berpengaruh terhadap kepatuhan Wajib Pajak
UMKM.
2.4.2

Pengaruh Kemudahan Pajak terhadap Kepatuhan Wajib Pajak


UMKM
Menurut teori atribusi, kemudahan pajak merupakan atribusi eksternal.

Hal ini dikarenakan kemudahan pajak timbul atau dilakukan karena adanya
pengaruh eksternal atau dari luar individu tersebut. Kemudahan pajak timbul
karena wajib pajak merasa peraturan pemerintah yang dibuat memudahkan
mereka dalam menghitung, menyetor, dan melaporkan pajak yang terhutang.
Kemudahan pajak berhubungan dengan penerapan dan pelaksanaan
peraturan perpajakan serta sistem perpajakan yang berlaku. PP Nomor 46 Tahun
2013 tentang Pajak Penghasilan Atas Penghasilan Dari Usaha Yang Diterima
Atau Diperoleh Wajib Pajak Yang Memiliki Peredaran Bruto Tertentu dibuat oleh
pemerintah dengan harapan untuk memudahkan wajib pajak yang melaksanakan
dan menerapkan peraturan perpajakan tersebut. Kemudahan pajak dalam suatu
peraturan perpajakan merupakan hal yang penting dan perlu diperhatikan karena
akan mempengaruhi sikap kepatuhan wajib pajak dalam melaksanakan kewajiban
perpajakannya. Jika peraturan perpajakan dibuat menjadi lebih mudah dipahami
dan sederhana terkait administrasi perpajakannya maka kepatuhan wajib pajak
akan meningkat, sebaliknya jika peraturan perpajakan yang dibuat menimbulkan
kerumitan wajib pajak maka kepatuhan wajib pajak akan menurun.

42

Penelitian Hotlzman (2007) menyebutkan bahwa sistem pajak yang


mudah akan mengurangi beban kepatuhan pajak dibandingkan dengan sistem
pajak yang kompleks. Hasil yang sama pun diungkapkan oleh Mustikasari (2007)
yang melakukan penelitian mengenai kepatuhan wajib pajak badan dan dari
penelitian tersebut menunjukan bahwa kemudahan wajib pajak badan berpengaruh
signifikan terhadap kepatuhan wajib pajak badan. Berdasarkan penjelasan tersebut
hipotesis yang akan diuji adalah sebagai berikut:
H2: Kemudahan pajak berpengaruh terhadap kepatuhan Wajib Pajak
UMKM
2.4.3

Pengaruh Keadilan Pajak terhadap Kepatuhan Wajib Pajak


UMKM
Menurut teori atribusi, keadilan pajak merupakan atribusi eksternal. Hal

ini dikarenakan keadilan pajak timbul atau dilakukan karena adanya pengaruh
eksternal atau dari luar individu tersebut. Keadilan pajak timbul karena wajib
pajak merasa peraturan perpajakan dan sistem perpajakan yang dibuat oleh
pemerintah belum adil sehingga mempengaruhi perilaku kepatuhan pajak meraka.
Dan menurut teori fairness, dalam perpajakan keadilan mengacu pada pertukaran
antara pembayar pajak dengan pemerintah, yaitu apa yang wajib pajak terima dari
pemerintah atas sejumlah pajak yang telah dibayar. Jika wajib pajak merasa tidak
mendapatkan pertukaran yang adil dari pemerintah atas pajak yang telah
dibayarkannya, maka mereka akan mengubah pandangan mereka atas keadilan
pajak sehingga berakibat pada perilaku mereka dalam membayar pajak dengan
mengurangi beban pajak yang akan mereka bayarkan. Hal ini berarti bahwa
semakin wajib pajak merasa tidak adil, maka mereka akan semakin tidak patuh.

43

Keadilan pajak berhubungan dengan persepsi wajib pajak terhadap


keadilan sistem perpajakan secara keseluruhan. Keadilan pajak ini sesuai dalam
penelitian Azmi dan Perumal (2008) mencakup keadilan umum, struktur tarif
pajak, timbal balik dengan pemerintah, kepentingan pribadi, dan ketentuanketentuan khusus. Jika keadilan pajak

dalam sistem perpajakan sudah

menunjukkan hasil yang positif atau mendapatkan respon yang positif dari wajib
pajak, maka kepatuhan wajib pajak akan meningkat. Namun jika keadilan pajak
menurut persepsi wajib pajak tidak menunjukkan respon yang positif maka
kepatuhan wajib pajak akan menurun.
Azmi dan Perumal (2008) meneliti eksistensi keadilan pajak di Malaysia.
Dalam penelitian ini hanya tiga variabel dari keadilan pajak Gerbing (1988) yang
berpengaruh terhadap kepatuhan pajak yaitu keadilan umum (general fairness),
struktur pajak (tax structure), dan kepentingan pribadi (self-interest). Namun
penelitian yang dilakukan oleh Pris (2010) membuktikan tidak adanya pengaruh
keadilan umum terhadap kepatuhan WP Badan. Penelitian ini menguji kembali
apakah terdapat pengaruh keeadilan pajak terhadap kepatuhan wajib pajak badan
terkait PP Nomor 46 Tahun 2013, maka hipotesis yang akan diajukan adalah
sebagai berikut:
H3: Keadilan pajak berpengaruh terhadap kepatuhan Wajib Pajak UMKM

BAB 3
METODE PENELITIAN

3.1

Pendekatan Penelitian
Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan

kuantitatif dengan menjawab rumusan masalah dan melakukan pengujian pada


hipotesis. Pendekatan kuantitatif merupakan pendekatan yang terstruktur dan
mengkuantifikasikan data untuk dapat digeneralisasikan (Anshori dan Iswati,
2006). Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dan membuktikan adanya
pengaruh variabel bebas yang diambil dari data primer berupa jawaban responden
dalam kuisioner dan diukur menggunakan alat bantu statistik untuk kemudian
digunakan dalam menghasilkan kesimpulan yang dapat digeneralisasikan.
3.2.

Identifikasi Variabel
Variabel merupakan suatu konsep yang mempunyai bermacam-macam

nilai (Anshori dan Iswati, 2006). Variabel yang akan dianalisis dalam penelitian
ini adalah:
a. Variabel bebas/independent variabel (X)
Menurut Sugiyono (2009) variabel bebas adalah variabel yang mempengaruhi
atau yang menjadi sebab perubahan atau timbulnya variabel dependen (terikat).
Variabel bebas yang digunakan dalam penelitian ini adalah pengetahuan pajak
(X1), kemudahan pajak (X2), dan keadilan pajak (X3).
b. Variabel terikat/dependent variabel (Y)

44

45

Menurut Sugiyono (2009) variabel terikat adalah variabel yang dipengaruhi


atau yang menjadi akibat adanya variabel bebas. Variabel terikat dalam
penelitian ini adalah kepatuhan wajib pajak UMKM (Y).
3.3

Definisi Operasional Variabel


Definisi operasional variabel adalah suatu definisi yang diberikan kepada

suatu variabel atau konstrak dengan cara memberikan arti atau menspesifikasikan
kegiatan, ataupun memberikan suatu operasional untuk meengukur variabel atau
konstrak tersebut (Anshori dan Iswati, 2006).
3.3.1

Variabel Independen (X)


Variabel independen dari penelitian ini adalah:

1. Pengetahuan Pajak (X1)


Pengetahuan pajak adalah apa yang diketahui Wajib Pajak UMKM tentang
ketentuan perpajakan secara umum dan PP Nomor 46 tahun 2013. Penelitian
ini menggunakan lima indikator pengetahuan pajak dalam penelitian Widayati
dan Nurlis (2010) yang telah dimodifikasi, yaitu:
a. Pendaftaran NPWP dan NPPKP bagi Wajib Pajak yang memiliki
penghasilan.
Wajib pajak akan mendaftarkan NPWP setelah memiliki penghasilan dan
akan mendaftarkan NPPKP ketika memenuhi persyaratan menjadi
pengusaha.
b. Pengetahuan dan pemahaman tentang hak dan kewajiban perpajakan.

46

Pengetahuan dan pemahaman wajib pajak UMKM tentang hak-hak yang


mereka terima dan kewajiban yang harus mereka penuhi terkait PP Nomor
46 Tahun 2013.
c. Pengetahuan dan pemahaman tentang sanksi jika melakukan suatu
pelanggaran.
Pengetahuan dan pemahaman tentang berbagai macam sanksi terkait PP
Nomor 46 Tahun 2013 yang akan wajib pajak peroleh jika mereka
melanggar peraturan perpajakan.
d. Pengetahuan dan pemahaman mengenai PTKP, PKP, dan tarif pajak.
Pengetahuan dan pemahaman tentang penghasilan tidak kena pajak yang
dapat wajib pajak peroleh dalam pengurangan penghasilan bruto mereka,
pengetahuan dalam menghitung penghasilan kena pajak, dan tarif pajak
yang berlaku untuk Wajib Pajak UMKM terkait PP Nomor 46 Tahun 2013.
e. Pengetahuan dan pemahaman peraturan pajak melalui sosialisasi.
Pengetahuan dan pemahaman wajib pajak tentang peraturan perpajakan
yaitu PP Nomor 46 Tahun 2013 melalui sosialisasi yang dilakukan oleh
petugas pajak (fiskus).
2. Kemudahan Pajak (X2)
Kemudahan pajak adalah kesederhanaan dalam sistem perpajakan dan
administrasi perpajakan menurut persepsi wajib pajak UMKM terkait PP
Nomor 46 Tahun 2013, disebut sederhana jika peraturan perpajakan tersebut
memberikan kemudahan bagi wajib pajak dalam melaksanakan kewajiban
perpajakannya. Penelitian ini menggunakan dua dari tiga indikator kemudahan

47

pajak yang digunakan dalam paper BG Consulting (2003) yang telah


dimodifikasi, yaitu:
a. Pembuatan undang-undang atau PP Nomor 46 Tahun 2013 yang lebih
singkat dan mudah dimengerti.
Lebih singkat berarti peraturan perundang-undangan dalam pajak dibuat
lebih sederhana dan singkat. Sedangkan lebih mudah dimengerti berarti
undang-undang dibuat menggunakan bahasa yang lebih sederhana sehingga
menghindari perbedaan dalam makna dan cakupan
b. Mengurangi pemotongan dan tarif pajak UMKM.
Administrasi pajak akan lebih masuk akal jika pemerintah menurunkan
tarif pajak sementara memperluas dasar pengenaan pajak dan memberikan
insentif kepada beberapa Wajib Pajak melalui pembebasan pajak dan
manfaat lainnya.
c. Memperluas basis pajak UMKM, yang juga berarti menghilangkan distorsi
Elemen

distorsi

mencakup

peningkatan

biaya

administrasi

yang

mengakibatkan meningkatnya upaya pemerintah dalam menarik pajak.


Selain itu peraturan pajak yang kompleks juga dapat menimbulkan distorsi
pada peraturan perpajakan. Indikator ini untuk selanjutnya tidak digunakan
karena tidak sesuai dengan penelitian.
3. Keadilan Pajak (X3)
Keadilan pajak adalah sistem perpajakan yang adil menurut persepsi wajib
pajak UMKM terkait PP Nomor 46 Tahun 2013. Penelitian ini menggunakan

48

lima indikator keadilan pajak yang digunakan dalam penelitian Azmi dan
Perumal (2008) yang telah dimodifikasi, yaitu:
a. Keadilan umum pada PP No. 46 Tahun 2013 (General Fairness).
Keadilan umum ini berhubungan dengan keadilan dari sistem pajak dan
distribusi pajak terkait PP No. 46 Tahun 2013.
b. Struktur tarif pajak UMKM (Tax Rate).
Struktur tarif pajak berhubungan dengan struktur tarif yang lebih dianggap
adil oleh Wajib Pajak, misalnya seperti struktur tarif pajak tunggal (flat),
strutur tarif pajak progresif, dan struktur tarif pajak proposional.
c. Timbal balik dengan pemerintah (Exchange with the Goverment).
Timbal balik dengan pemerintah berhubungan dengan manfaat yang
diterima dari pemerintah terkait pajak UMKM pada PP No. 46 Tahun
2013 yang dibayarkan.
d. Kepentingan pribadi (Self-Interest).
Kepentingan pribadi ini berhubungan dengan jumlah pajak yang dibayar
oleh wajib pajak UMKM jika dibandingan dengan wajib pajak UMKM
lain.
e. Ketentuan-ketentuan khusus (Special Provision).
Ketentuan-ketentuan khusus ini berhubungan dengan adanya ketentuan
khusus yang diberikan kepada wajib pajak UMKM terkait PP No. 46
Tahun 2013, misalnya dalam pembuatan SKB.
Variabel pengetahuan pajak, kemudahan pajak, dan keadilan pajak
diukur menggunakan skala likert yang telah dimodifikasi (skala modified likert)

49

dengan interval 1 sampai 4 pada kuisioner, sehingga menghasilkan data dalam


skala interval.
3.3.2

Variabel Dependen (Y)


Variabel dependen dari penelitian ini adalah kepatuhan wajib pajak

UMKM. Kepatuhan berarti wajib pajak secara sukarela memenuhi dan


melaksanakan kewajiban perpajakannya dengan menggunakan sistem self
assessment, yaitu wajib pajak menghitung sendiri pajak yang terhutang,
menyetorkan, dan melaporkan pajaknya. Variabel dependen dalam penelitian ini
diukur

menggunakan

skala

interval

dengan

menggunakan

kuisioner.

Pengelompokan perilaku kepatuhan wajib pajak UMKM ini menggunakan empat


kriteria dari lima kriteria sesuai dengan Peraturan Menteri Keuangan
Nomor 74/PMK.03/2012 yang disesuaikan dengan penelitian ini, yaitu:
a. Tepat waktu dalam menyampaikan SPT untuk semua jenis pajak dalam dua
tahun terakhir.
b. Tidak mempunyai tunggakan pajak untuk semua jenis pajak, kecuali telah
memperoleh izin untuk mengangsur atau menunda pembayaran pajak.
c. Tidak pernah dijatuhi hukuman karena melakukan tindakan pidana di bidang
perpajakan dalam jangka waktu 10 (sepuluh) tahun terakhir.
d. Dalam dua tahun terakhir menyelenggarakan pembukuan sesuai dengan Pasal
28 Undang-undang KUP.
3.4

Jenis dan Sumber Data


Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data primer dan data

sekunder yang dapat dijelaskan sebagai berikut:

50

1. Data Primer
Data primer yang digunakan dalam penelitian ini berupa kuisioner yang diisi
oleh sampel yang dipilih secara acak. Pengisian kuisioner dilakukan oleh
Wajib Pajak UMKM yang terdaftar pada KPP Pratama Surabaya Karangpilang
yang memperoleh penghasilan dari usaha yang diterima atau diperoleh wajib
pajak yang memiliki peredaran bruto tertentu.
2. Data Sekunder
Data sekunder yang digunakan dalam penelitian ini berupa dokumen,
informasi, dan data-data dari KPP Pratama Surabaya Karangpilang, serta teori
yang berkaitan dengan variabel penelitian.
3.5

Metode Pengumpulan Data


Data dikumpulkan dengan menggunakan survei kuisioner terhadap Wajib

Pajak UMKM yang memperoleh penghasilan dari usaha yang diterima atau
diperoleh wajib pajak yang memiliki peredaran bruto tertentu. Survei kuisioner
yang diberikan untuk variabel keadilan pajak merupakan modifikasi dari kuisioner
yang digunakan dari penelitian Azmi dan Perumal (2008). Kuisioner yang
diberikan berisi 16 pertanyaan yang mewakili lima indikator pengetahuan pajak,
tiga indikator kemudahan pajak, lima indikator keadilan pajak, dan empat
indikator kepatuhan wajib pajak UMKM. Skala yang digunakan untuk mengukur
kuisioner adalah skala modified likert interval 1 sampai 4, diukur dengan 1-sangat
tidak setuju sampai 4-sangat setuju.

51

3.6

Populasi dan Sampel


Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas subjek yang

mempunyai kualitas dan karateristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk
dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya (Anshori dan Iswati, 2006).
Populasi dari penelitian ini adalah semua Wajib Pajak UMKM yang memperoleh
penghasilan dari usaha yang diterima atau diperoleh wajib pajak yang memiliki
peredaran bruto tertentu yaitu tidak lebih dari Rp 4,8 Milyar yang terdaftar di KPP
Pratama Surabaya Karangpilang. Populasi dalam penelitian dapat dijelaskan pada
Tabel 3.1:
Tabel 3.1
Populasi Penelitian
Keterangan
Jumlah Wajib Pajak
Wajib Pajak Terdaftar 2012
44.369
Wajib Pajak Efektif 2012
21.182
Wajib Pajak memiliki omzet tidak
3.594
melebihi Rp 4,8 Milyar 2012
Sumber: Kantor Pelayanan Pajak Pratama Surabaya Karangpilang
Pada Tabel 3.1 dapat dijelaskan bahwa wajib pajak terdaftar yang berarti
wajib pajak yang masih terdaftar pada administrasi KPP Pratama Surabaya
Karangpilang sampai dengan tanggal 31 Desember 2012 berjumlah 44.369 Wajib
Pajak. Dan wajib pajak efektif berarti Wajib Pajak yang memenuhi kewajiban
perpajakannya berupa memenuhi kewajiban menyampaikan SPT masa dan atau
Tahunan sebagaimana mestinya di KPP Pratama Surabaya Karangpilang tahun
2012 sebesar 21.182. Selanjutnya yang populasi diperhitungkan dalam penelitian
ini adalah Wajib pajak yang memiliki omzet tidak melebihi Rp 4,8 Milyar sebesar
3.594.

52

Sampel adalah bagian dari jumlah dan karateristik yang dimiliki oleh
populasi. Sampel yang diambil dari populasi harus benar-benar mewakili populasi
tersebut (Anshori dan Iswati, 2006). Selanjutnya ditentukan besarnya ukuran
sampel dengan menggunakan rumus Isaac dan Michael, dalam Zaenudin (2000)
karena dapat menggambarkan proporsi wajib pajak yang patuh dengan lebih baik,
yaitu sebagai berikut:
( )

= ( )()( )

dimana:
n

= ukuran sampel

= jumlah populasi

Z = derajat kepercayaan 1,96 pada 0,05


p

= proporsi prevalensi kejadian 0,5

= 1-q

= limit dari error ditetapkan 10%

sehingga
(,),,

= ()(,)(,),, 93,57

n = 93,57 dibulatkan menjadi 100


3.7

Metode Analisis Data

3.7.1

Uji Validitas dan Reliabilitas


Kuisioner yang digunakan dalam penelitian ini harus memenuhi 2 (dua)

syarat penting yang berlaku pada sebuah angket yaitu valid dan reliable. Suatu
kuisioner dikatakan valid (sah) jika pertanyaan pada kuisioner tersebut mampu

53

mengungkapkan sesuatu yang diukur oleh kuisioner, sedangkan suatu kuisioner


dikatakan reliable (andal) jika jawaban responden terhadap pertanyaan adalah
konsisten dari waktu ke waktu (Santoso, 2000).
1. Uji validitas data bertujuan untuk mengetahui sejauh mana kuisioner mampu
mengukur variabel yang diinginkan peneliti, karena variabel ilmu sosial
bersifat abstrak. Semakin tinggi suatu validitas variabel maka tes tersebut akan
semakin valid. Berdasarkan Solimun (2005) uji validitas dapat dilakukan
dengan menghitung korelasi antara skor masing-masing item dengan skor total
menggunakan korelasi product moment (metode interkorelasi). Berdasarkan
Solimun (2005) menyatakan bahwa bilamana koefisien korelasi positif dan
lebih besar dari 0,3 maka indikator bersangkutan dianggap valid.
2. Suatu kuisioner dikatakan reliabel (andal) jika jawaban seseorang terhadap
pertanyaan adalah konsisten atau stabil dari waktu ke waktu. Uji reliabilitas
dimaksudkan untuk mengetahui konsistensi hasil pengukuran apabila
dilakukan lebih dari dua kali pengukuran terhadap objek dan alat ukur yang
sama (Nasir, 2003: 134). Uji reliabilitas yang dilakukan adalah dengan
menggunakan Reliability Analysis dengan parameter yang digunakan adalah
dengan cronbach alpha. "Kuisioner yang reliabel adalah kuisioner yang
mempunyai nilai cronbach alpha diatas 0,6" (Maholtra, 1996).
3.7.2

Uji Asumsi Klasik


Evaluasi ini dimaksudkan untuk mengetahui apakah penggunaan model

Regresi Linier Berganda yang dianalisis telah memenuhi asumsi klasik. Model ini
akan lebih tepat digunakan jika memenuhi asumsi sebagai berikut:

54

1. Uji Normalitas
Uji normalitas bertujuan untuk menguji apakah dalam model pengujian,
variabel pengganggu (residual) terdistribusi normal. Salah satu alat uji
statistik yang digunakan dalam menguji normalitas residual adalah uji
statistik

nonparametrik

Chi-Square

Goodness-of-fit-Test.

Kriteria

keputusannya dapat dilihat dari signifikansi hasil perhitungan dengan PASW


18. Apabila nilai signifikan tersebut lebih besar dari 0,05 () maka distribusi
data dinyatakan normal.
2. Multikolinieritas
Multikolinieritas adalah situasi adanya multi korelasi di antara variabel
independen satu dengan yang lainnya atau dengan kata lain di antara variabelvariabel independen tersebut dapat dibentuk hubungan antara variabel satu
dengan variabel yang lainnya. Uji gejala multikolinieritas digunakan untuk
mengetahui ada tidaknya hubungan yang signifikan antar masing-masing
variabel bebas yang diteliti. untuk mengetahui ada tidaknya gejala ini
digunakan indikasi nilai VIF (Varian Inflation Factor). Uji gejala
multikolinieritas dimaksudkan untuk lebih mengetahui adanya hubungan yang
sempurna antar variabel dalam model regresi. Hakim (2001: 301)
menyebutkan angka toleransi VIF untuk terhindar dari gejala multikolinieritas
ini antara 1 5.
3. Heteroskedastisitas
Uji Heteroskedastisitas bertujuan untuk menguji adanya ketidaksamaan yang
terjadi dalam model regresi varians dari residual satu pengamatan ke

55

pengamatan yang lain (Ghozali, 2006). Model regresi yang baik yaitu apabila
varians sama atau terdapat Homoskedastisitas. Sedangkan jika varians tidak
sama maka dapat dikatakan terjadi Heteroskedastisitas. Dengan melihat grafik
plot (Scatterplot) maka dapat dideteksi ada tidaknya Heteroskedastisitas.
Apabila terdapat seperti titik-titik yang membentuk suatu pola yang teratur
maka hal tersebut mengindikasikan telah terjadi heteroskedastisitas. Namun
jika tidak ada pola yang jelas, seperti titik-titik menyebar diatas dan dibawah
angka 0 pada sumbu Y maka hal tersebut mengindikasikan tidak terjadi
heteroskedastisitas.
3.7.3

Analisis Regresi Linier Berganda


Teknik analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik

analisis regresi linier berganda. Persamaan regresinya untuk menguji pengaruh


variabel pengetahuan pajak, kemudahan pajak, dan keadilan pajak terhadap
kepatuhan wajib pajak UMKM yang ditunjukkan dengan rumus sebagai berikut:
Y = + 1X1 + 2X2 + 3X3 + e
Keterangan:
Y

= Kepatuhan Wajib Pajak UMKM

= Konstanta

1-3 = Koefisien Regresi


X1

= Pengetahuan Pajak

X2

= Kemudahan Pajak

X3

= Keadilan Pajak

= Tingkat Kesalahan/Error

56

3.7.4

Uji Hipotesis
Pengujian hipotesis dalam penelitian ini dilakukan dengan uji t atau t-test

untuk menguji pengaruh variabel secara parsial terhadap variabel terikat. Dalam
penelitian ini tingkat signifikan yang digunakan adalah 5%. Langkah-langkah
dalam melakukan uji t adalah sebagai berikut:
a. Menentukan hipotesis statistik Ho dan Ha
H0 : i = 0, berarti bahwa masing-masing variabel bebas secara individual
tidak berpengaruh terhadap variabel terikat kepatuhan wajib pajak.
Ha : i 0, berarti bahwa masing-masing variabel bebas secara individual
berpengaruh terhadap variabel terikat kepatuhan wajib pajak.
b. Menetukan taraf signifikansi ( = 5%)
c. Menghitung besarnya thitung dengan menggunakan SPSS 18.
d. Menentukan daerah penolakan hipotesis:
1. Jika signifikansi t > 0,05 () maka H0 diterima (Ha ditolak).
2. Jika signifikansi t 0,05 () maka H0 ditolak (Ha diterima).
e. Melakukan interpretasi hasil olah data.

BAB 4
HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1

Gambaran Umum
Objek dalam penelitian ini adalah Kantor Pelayanan Pajak Pratama

Surabaya Karangpilang. Pada gambaran objek penelitian akan menjelaskan


mengenai profil Kantor Pelayanan Pajak Pratama Surabaya Karangpilang, visi dan
misi Direktorat Jenderal Pajak, serta struktur organisasinya. Sedangkan subjek
dalam penelitian ini adalah Wajib Pajak UMKM baik Orang Pribadi maupun Badan
yang memiliki usaha dengan peredaran bruto tertentu tidak melebihi Rp 4,8 Milyar
sesuai dengan PP Nomor 46 Tahun 2013 yang terdaftar pada Kantor Pelayanan
Pajak Pratama Surabaya Karangpilang.
4.1.1

Gambaran Objek Penelitian

4.1.1.1 Profil Kantor Pelayanan Pajak Pratama Surabaya Karangpilang


Kantor Pelayanan Pajak Pratama Surabaya Karangpilang dibentuk
berdasarkan Keputusan Ditjen Pajak No. KEP 158/PJ/2007 sehubungan dengan
reorganisasi di lingkungan Direktorat Jenderal Pajak berdasarkan Peraturan Menteri
Keuangan Nomor 55/PMK.01/2007. Pembentukan KPP Pratama Surabaya
Karangpilang

merupakan

bagian

dari

program

Modernisasi

Administrasi

Perpajakan Indonesia yang bertujuan untuk meningkatkan pelayanan perpajakan,


meningkatkan kepatuhan Wajib Pajak melalui pengawasan dan penegakan hukum,
meningkatkan efektivitas dan efisiensi organisasi melalui reformasi dan

57

58

modernisasi, serta meningkatkan profesionalisme dan integritas sumber daya


manusia.
KPP Pratama Surabaya Karangpilang merupakan salah satu unit lini depan
(front line unit) dari Direktorat Jenderal Pajak yang sarat dengan tugas, amanah,
dan harapan berupa pengamanan penerimaan pajak, peningkatan pelayanan,
peningkatan kepatuhan pajak, pengelolaan sistem informasi atau teknologi
informasi yang optimal, dan pengelolaan serta peningkatan kapasitas sumber daya
manusia. KPP Pratama Surabaya Karangpilang mempunyai tugas melaksanakan
pelayanan, pengawasan, administratif, dan pemeriksaan di bidang perpajakan yang
meliputi PPh, PPN, PPnBM, PTLL, PBB, dan BPHTB.
4.1.1.2 Visi dan Misi Direktorat Jenderal Pajak
Visi dari Direktorat Jenderal Pajak adalah Menjadi institusi pemerintah
yang menyelenggarakan sistem administrasi perpajakan modern yang efektif,
efisien, dan dipercaya masyarakat dengan integritas dan profesionalisme yang
tinggi.
Misi dari Direktorat Jenderal Pajak adalah Menghimpun penerimaan
pajak negara berdasarkan Undang-undang perpajakan yang mampu mewujudkan
kemandirian pembiayaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN)
melalui sistem administrasi perpajakan yang efektif dan efisien.
4.1.1.3 Struktur Organisasi Kantor Pelayanan Pajak Pratama Surabaya
Karangpilang
Struktur

organisasi

Kantor

Pelayanan

Pajak

Pratama

Surabaya

Karangpilang terdiri dari kepala kantor, kelompok fungsional, sub bagian umum,

59

seksi pengolahan data dan informasi, seksi pelayanan, seksi penagihan, seksi
pemeriksaan, seksi ekstensifikasi, dan seksi pengawasan dan konsultasi.

Kepala
Kantor

Kelompok
Fungsional

Seksi
PDI

Sub Bagian
Umum

Seksi
Pelayanan

Seksi
Pengawasan
dan
Konsultasi I

Seksi
Penagihan

Seksi
Pengawasan
dan
Konsultasi II

Seksi
Pemeriksaan
an

Seksi
Pengawasan
dan
Konsultasi III

Seksi
Ekstensifikasi

Seksi
Pengawasan
dan
Konsultasi IV

Sumber: Kantor Pelayanan Pajak Pratama Surabaya Karangpilang


Gambar 4.1
Struktur Organisasi KPP Pratama Surabaya Karangpilang
Keterangan:
1. Kelompok Fungsional bertugas melakukan kegiatan sesuai dengan jabatan
fungsional masing-masing berdasarkan peraturan perundang-undangan yang
berlaku.

60

2. Sub Bagian Umum mempunyai empat tugas pokok, yaitu mengelola


anggaran/kebendaharaan kantor, mengadministrasikan kepegawaian, mengelola
rumah tangga KPP dan kesekretariatan kantor.
3. Seksi

Pengolahan

Data

dan

Informasi

(PDI)

mempunyai

tupoksi

mengkoordinasikan pengumpulan data, menyiapkan informasi perpajakan,


perekaman dokumen perpajakan, urusan tata usaha penerimaan perpajakan,
pengalokasian PBB dan BPHTB, pelayanan dukungan teknis komputer,
pemantauan aplikasi e-SPT dan e-filling, dan penyiapan laporan kinerja.
4. Seksi Pelayanan mempunyai tugas melakukan penetapan dan penerbitan produk
hukum perpajakan, pengadministrasian dokumen dan berkas perpajakan,
penerimaan dan pengolahan Surat Pemberitahuan (SPT) dan surat lainnya,
penyuluhan perpajakan, pelaksanaan registrasi Wajib Pajak, dan melakukan
kerjasama perpajakan.
5. Seksi Penagihan mempunyai dua tugas pokok, yaitu melakukan pemetaan dan
analisis atas jumlah tunggakan pajak (selain PBB dan BPHTB) di wilayah KPP
Pratama Surabaya Karangpilang, sesuai jumlah yang tercantum dalam laporan
bulanan perkembangan tunggakan pajak dan mempunyai tugas melakukan
serangkaian tindakan penagihan baik aktif maupun pasif agar penanggung pajak
melunasi utang pajak dan biaya penagihan pajak.
6. Seksi Pemeriksaan mempunyai tugas pokok mengkoordinasikan pelaksanaan
penyusunan rencana pemeriksaan, pengawasan pelaksanaan aturan pemeriksaan,
penerbitan dan penyaluran Surat Perintah Pemeriksaan (SP2), serta administrasi
pemeriksaan perpajakan lainnya.

61

7. Seksi Ekstensifikasi mempunyai tugas melaksanakan ekstensifikasi dalam


rangka penambahan jumlah Wajib Pajak, melaksanakan pemeliharaan basis data
dan pembentukan Bank Data Nilai Pasar Properti (BDNPP), penilaian
individual, penyempurnaan Zona Nilai Tanah (ZNT)/Nilai Indikasi Rata-rata
(NIR), penentuan NJOP tahun berikutnya, dan persiapan cetak massal SPPT
PBB.
8. Seksi Pengawasan dan Konsultasi I, Seksi Pengawasan dan Konsultasi II Seksi
Pengawasan dan Konsultasi III, Seksi Pengawasan dan Konsultasi IV
mempunyai tugas melakukan pengawasan kepatuhan perpajakan Wajib Pajak,
bimbingan, himbauan dan konsultasi teknis perpajakan kepada Wajib Pajak,
pembuatan profil Wajib Pajak, analisa kinerja Wajib Pajak, rekonsiliasi data
Wajib Pajak dalam rangka melakukan intensifikasi, dan melakukan evaluasi
berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
4.1.2

Gambaran Subjek Penelitian


Subjek dalam penelitian ini adalah Wajib Pajak UMKM baik Orang

Pribadi dan Badan yang memiliki usaha dengan peredaran bruto tertentu sesuai
dengan PP Nomor 46 Tahun 2013 yaitu tidak melebihi Rp 4,8 Milyar. Subjek pajak
yang dipilih adalah subjek pajak yang masih efektif sampai dengan Desember 2013.
Jumlah Wajib Pajak Orang Pribadi dan Badan yang masih efektif sampai dengan
Desember 2013 yang memiliki usaha dengan peredaran bruto tertentu sesuai
dengan PP Nomor 46 Tahun 2013 sejumlah 3594 Wajib Pajak. Perhitungan dengan
menggunakan rumus Isaac dan Michael dengan nilai kritis diperoleh sebanyak 94

62

Wajib Pajak yang dijadikan sampel. Penelitian ini menggunakan sampel sebanyak
100 Wajib Pajak.
4.2

Deskripsi Hasil Penelitian


Penelitian ini menggunakan metode distribusi langsung (direct distribution

method) dalam proses pengumpulan data, yaitu dengan mendatangi responden


secara langsung untuk membagikan kuisioner dan mengumpulkan kuisioner
tersebut. Jumlah sampel dalam penelitian ini sebanyak 100 Wajib Pajak yang
memiliki peredaran bruto tertentu sesuai dengan PP Nomor 46 Tahun 2013.
Adapun distribusi kuisioner dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
Tabel 4.1
Distribusi Kuisioner
Keterangan
Kuisioner yang dibagikan
Kuisioner yang tidak kembali
Kuisioner yang kembali
Kuisioner yang diisi tidak lengkap
Kuisioner yang dapat diolah
Sumber: Kuisioner diolah

Jumlah Kuisioner
120
9
111
11
100

Penyebaran kuisioner dilakukan mulai tanggal 16 Desember 2013 sampai


dengan tanggal 20 Desember 2013 secara langsung kepada Wajib Pajak yang
memiliki peredaran bruto tertentu sesuai dengan PP Nomor 46 Tahun 2013 yang
terdaftar di KPP Pratama Surabaya Karangpilang sebanyak 120 kuisioner dan yang
kembali sebanyak 111 kuisioner. Kuisioner yang dapat diolah dalam penelitian ini
hanya sebesar 100 kuisioner dikarenakan terdapat 11 kuisioner yang diisi tidak
lengkap oleh Wajib Pajak.

63

4.2.1

Deskripsi Jawaban Responden


Deskripsi jawaban responden mengenai variabel penelitian akan dijelaskan

berdasarkan

hasil

perhitungan

rata-rata

masing-masing

variabel.

Untuk

mengkategorikan rata-rata jawaban responden digunakan interval kelas yang dicari


dengan rumus berikut:
=

(Skor tertinggi Skor terendah)


Banyak Kategori

Berdasarkan rumus diatas, interval kelas dengan skor tertinggi dalam kuisioner ini
adalah 4, skor terendah adalah 1, dan banyak kategori adalah 4, maka
perhitungannya adalah:
=

(4 1)
= 0,75
4

Interval pada masing-masing kategori berjarak 0,75, sehingga berlaku


ketentuan kategori dengan hasil sebagai berikut:
Tabel 4.2
Interval Jawaban Responden
Interval
3,26 < a 4,00
2,51 < a 3,25
1,76 < a 2.50
1,00 < a 1,75
Sumber: Hasil Perhitungan
4.2.2

Kategori
4
3
2
1

Keterangan
Sangat Setuju / Sangat Tinggi
Setuju / Tinggi
Tidak Setuju / Rendah
Sangat Tidak Setuju / Sangat Rendah

Karakteristik Responden
Responden dalam penelitian ini adalah Wajib Pajak UMKM yang terdaftar

di KPP Pratama Surabaya Karangpilang dengan jumlah responden sebanyak 100

64

Wajib Pajak. Karakteristik responden meliputi usia, jenis kelamin, tingkat


pendidikan terakhir, jenis usaha, bentuk usaha, dan lama usaha.
Karakteristik responden berdasarkan usia dapat dilihat pada Tabel 4.3
dibawah ini:
Tabel 4.3
Karakteristik Responden Berdasarkan Usia
Usia
< 26
26 40
> 40
Total
Sumber: Lampiran 5

Responden
16
54
30
100

Presentasi
16 %
54 %
30 %
100 %

Berdasarkan Tabel 4.3 dapat diketahui bahwa dari 100 responden yang
memiliki usia dibawah 26 tahun sebanyak 16% (16 responden). Responden yang
berusia antara 26 40 tahun sebanyak 54% (54 responden), dan sisanya sebesar
30% (30 responden) berusia diatas 40 tahun.
Karakteristik responden berdasarkan jenis kelamin dapat dilihat pada
Tabel 4.4 dibawah ini:
Tabel 4.4
Karakteristik Responden Berdasarkan Jenis Kelamin
Jenis Kelamin
Laki-laki
Perempuan
Total
Sumber: Lampiran 5

Responden
60
40
100

Presentase
60 %
40 %
100 %

Berdasarkan tabel 4.4 dapat diperoleh gambaran bahwa terdapat 60% (60
responden) yang berjenis kelamin laki-laki. Dan sisanya sebanyak 40% (40
responden) yang berjenis kelamin perempuan.

65

Karakteristik responden berdasarkan pendidikan terakhir dapat dilihat pada


Tabel 4.5 dibawah ini:
Tabel 4.5
Karakteristik Responden Berdasarkan Pendidikan Terakhir
Pendidikan Terakhir
SMP
SMA
Diploma
Sarjana (S1)
Lainnya
Total
Sumber: Lampiran 5

Responden
1
30
14
53
2
100

Presentase
1%
30 %
14 %
53 %
2%
100 %

Berdasarkan Tabel 4.5 menunjukkan bahwa tingkat pendidikan terakhir


mayoritas responden adalah Sarjana (S1), yaitu sebanyak 53% (53 responden).
Sisanya tingkat pendidikan terakhir responden setingkat SMP sebanyak 1% (1
responden), pendidikan terakhir responden tingkat SMA sebanyak 30% (30
responden), pendidikan terakhir responden tingkat diploma sebanyak 14% (14
responden), dan sisanya sebanyak 2% (2 responden) berpendidikan lain.
Karakteristik responden berdasarkan jenis usaha dapat dilihat pada Tabel
4.5 dibawah ini:
Tabel 4.6
Karakteristik Responden Berdasarkan Jenis Usaha
Jenis Usaha
Industri
Dagang
Jasa
Lainnya
Total
Sumber: Lampiran 5

Responden
5
38
49
8
100

Presentase
5%
38 %
49 %
8%
100 %

66

Berdasarkan Tabel 4.6 menunjukkan bahwa terdapat 5% (5 responden)


yang memilik jenis usaha industri. Selebihnya sebanyak 38% (38 responden)
memiliki jenis usaha dagang, sebanyak 49% (49 responden) memiliki jenis usaha
jasa, dan sisanya sebanyak 8% (8 responden) memiliki jenis usaha lain.
Karakteristik responden berdasarkan bentuk usaha dapat dilihat pada Tabel
4.7 dibawah ini:
Tabel 4.7
Karakteristik Responden Berdasarkan Bentuk Usaha
Bentuk Usaha
Usaha Dagang (UD)
Perusahaan Komanditer (CV)
Lainnya
Total
Sumber: Lampiran 5

Responden
14
50
36
100

Presentase
14 %
50 %
36 %
100 %

Berdasarkan Tabel 4.7 menunjukkan bahwa terdapat 14% (14 responden)


yang memiliki bentuk usaha Usaha Dagang (UD). Selebihnya sebanyak 50% (50
responden) memiliki bentuk usaha Perusahaan Comanditer (CV) dan sebanyak 36%
(36 responden) mempunyai bentuk usaha lain.
Karakteristik responden berdasarkan lama usaha dapat dilihat pada Tabel
4.8 dibawah ini:
Tabel 4.8
Karakteristik Responden Berdasarkan Lama Usaha
Lama Usaha
< 2 tahun
2 4 tahun
> 4 8 tahun
> 8 tahun
Total
Sumber: Lampiran 5

Responden
15
24
25
36
100

Presentase
15 %
24 %
25 %
36 %
100 %

67

Berdasarkan Tabel 4.8 menunjukkan bahwa terdapat 15% (15 responden)


yang lama usahanya kurang dari 2 tahun. Selebihnya sebanyak 24% (24 responden)
yang lama usahanya 2 4 tahun, sebanyak 25% (25 responden) yang lama
usahanya > 4 8 tahun, dan sebanyak 36% (36 responden) yang memiliki lama
usaha lebih dari 8 tahun.
4.2.3

Tanggapan Responden tentang Pengetahuan Pajak


Deskripsi jawaban responden tentang pengetahuan pajak adalah sebagai

berikut:
Tabel 4.9
Tanggapan Responden tentang Pengetahuan Pajak
(X1)
No. Indikator

Presentase Skor Jawaban


1
2
3
4
1.
X1.1
2
11
60
27
2.
X1.2
5
15
67
13
3.
X1.3
2
20
67
11
4.
X1.4
2
21
59
18
Variabel Pengetahuan Pajak
Sumber: Lampiran 5

Total
(%)
100
100
100
100

Mean

Kategori

100
100
100
100

3,12
2,88
2,87
2,93
2,95

Tinggi
Tinggu
Tinggi
Tinggi
Tinggi

Tabel 4.9 menunjukkan bahwa variabel pengetahuan pajak termasuk


dalam kategori tinggi dengan rata-rata sebesar 2,95. Rata-rata tertinggi terdapat
pada indikator X1.1 dan rata-rata terendah terdapat pada indikator X1.3. Penjelasan
masing-masing indikator adalah sebagai berikut:
1. Indikator X1.1 rata-rata jawaban responden adalah 3,12 termasuk dalam kategori
tinggi. Hal ini berarti Wajib Pajak UMKM memiliki NPWP dan NPPKP saat
dimulainya usaha dan diterimanya penghasilan.

68

2. Indikator X1.2 rata-rata jawaban responden adalah 2,88 termasuk dalam kategori
tinggi. Hal ini berarti Wajib Pajak UMKM mengerti tata cara perhitungan pajak
PP Nomor 46 Tahun 2013 dan cara penyampaian SPT-nya.
3. Indikator X1.3 rata-rata jawaban responden adalah 2,87 termasuk dalam kategori
tinggi. Hal ini berarti Wajib Pajak UMKM mengetahui sanksi yang akan
diterima jika melakukan pelanggaran atau terlambat menyetor dan/atau
melaporkan SPT PP Nomor 46 Tahun 2013.
4. Indikator X1.4 rata-rata jawaban responden adalah 2,93 termasuk dalam kategori
tinggi. Hal ini berarti Wajib Pajak UMKM dapat memahami dengan baik
peraturan pajak melalui adanya sosialisasi PP Nomor 46 Tahun 2013.
4.2.4

Tanggapan Responden tentang Kemudahan Pajak


Deskripsi jawaban responden tentang kemudahan pajak adalah sebagai

berikut:
Tabel 4.10
Tanggapan Responden tentang Kemudahan Pajak
(X2)
No. Indikator

Presentase Skor Jawaban


1
2
3
4
1.
X2.1
4
26
64
6
2.
X2.2
3
16
68
13
3.
X2.3
10
43
38
9
Variabel Kemudahan Pajak
Sumber: Lampiran 5

Total
(%)
100
100
100

Mean

Kategori

100
100
100

2,72
2,91
2,46
2,69

Tinggi
Tinggi
Rendah
Tinggi

Tabel 4.10 menunjukkan bahwa variabel kemudahan pajak termasuk


dalam kategori tinggi dengan rata-rata sebesar 2,69. Rata-rata tertinggi terdapat
pada indikator X2.2 dan rata-rata terendah terdapat pada indikator X2.3. Penjelasan
masing-masing indikator adalah sebagai berikut:

69

1. Indikator X2.1 rata-rata jawaban responden adalah 2,72 termasuk dalam kategori
tinggi. Hal ini berarti Wajib Pajak UMKM menganggap PP Nomor 46 Tahun
2013 merupakan peraturan yang lebih mudah dimengerti dari peraturan yang
sebelumnya.
2. Indikator X2.2 rata-rata jawaban responden adalah 2,91 termasuk dalam kategori
tinggi. Hal ini berarti Wajib Pajak UMKM menganggap penetapan tarif tunggal
1% mempermudah dalam menghitung pajak penghasilan dibandingkan dengan
tarif berbeda dengan memperhatikan besarnya omzet.
3. Indikator X2.3 rata-rata jawaban responden adalah 2,46 termasuk dalam kategori
rendah. Hal ini berarti Wajib Pajak UMKM tidak menganggap bahwa tarif 1%
adalah ringan karena pajak yang dibayarkan oleh wajib pajak bertambah.
4.2.5

Tanggapan Responden tentang Keadilan Pajak


Deskripsi jawaban responden tentang keadilan pajak adalah sebagai

berikut:
Tabel 4.11
Tanggapan Responden tentang Keadilan Pajak
(X3)
No. Indikator

Presentase Skor Jawaban


1
2
3
4
1.
X3.1
8
33
56
3
2.
X3.2
4
40
48
8
3.
X3.3
7
38
45
10
4.
X3.4
3
29
56
12
5.
X3.5
1
27
65
7
Variabel Keadilan Pajak
Sumber: Lampiran 5

Total
(%)
100
100
100
100
100

Mean

Kategori

100
100
100
100
100

2,54
2,60
2,58
2,77
2,78
2,65

Tinggi
Tinggi
Tinggi
Tinggi
Tinggi
Tinggi

Tabel 4.11 menunjukkan bahwa variabel keadilan pajak termasuk dalam


kategori tinggi dengan rata-rata sebesar 2,65. Rata-rata tertinggi terdapat pada

70

indikator X3.5 dan rata-rata terendah terdapat pada indikator X3.1. Penjelasan
masing-masing indikator adalah sebagai berikut:
1. Indikator X3.1 rata-rata jawaban responden adalah 2,54 termasuk dalam kategori
tinggi. Hal ini berarti Wajib Pajak UMKM menganggap secara keseluruhan
pajak penghasilan terkait PP Nomor 46 Tahun 2013 telah dikenakan secara adil
baik untuk pengenaan tarif dan objek pajaknya.
2. Indikator X3.2 rata-rata jawaban responden adalah 2,60 termasuk dalam kategori
tinggi. Hal ini berarti Wajib Pajak UMKM menganggap bahwa keadilan PP
Nomor 46 Tahun 2013 tercermin dari penentuan tarif tunggal 1% dari omzet.
3. Indikator X3.3 rata-rata jawaban responden adalah 2,58 termasuk dalam kategori
tinggi. Hal ini berarti Wajib Pajak UMKM menerima manfaat yang sesuai dan
adil dari pemerintah atas pembayaran pajak penghasilan, contohnya seperti
infrastruktur, fasilitas-fasilitas umum, serta kemudahan menjalankan aktivitas
usaha terkait dengan regulasi dan birokrasi.
4. Indikator X3.4 rata-rata jawaban responden adalah 2,77 termasuk dalam kategori
tinggi. Hal ini berarti Wajib Pajak UMKM menganggap bahwa ketentuan
mengenai restitusi (pengembalian kelebihan pembayaran) dan surat keterangan
bebas (SKB) yang hanya diberikan kepada Wajib Pajak patuh sudah adil.
5. Indikator X3.5 rata-rata jawaban responden adalah 2,78 termasuk dalam kategori
tinggi. Hal ini berarti Wajib Pajak UMKM menganggap apabila dibandingkan
dengan Wajib Pajak yang berpenghasilan rendah maka Wajib Pajak membayar
pajak dalam jumlah yang lebih besar.

71

4.2.6

Tanggapan Responden tentang Kepatuhan Wajib Pajak UMKM


Deskripsi jawaban responden tentang kepatuhan wajib pajak UMKM

adalah sebagai berikut:


Tabel 4.12
Tanggapan Responden tentang Kepatuhan Wajib Pajak UMKM
(Y)
No. Indikator
1.

Y.1

Presentase Skor Jawaban


1
2
3
4
73
27

Total
(%)
100

2.
3.
4.

Y.2
3
71
26
100
Y.3
1
8
73
18
100
Y.4
8
64
28
100
Variabel Kepatuhan Wajib Pajak UMKM
Sumber: Lampiran 5

Mean

Kategori

100

3.27

100
100
100

3.23
3.08
3.20
3,19

Sangat
Tinggi
Tinggi
Tinggi
Tinggi
Tinggi

Tabel 4.12 menunjukkan bahwa variabel kepatuhan wajib pajak UMKM


termasuk dalam kategori tinggi dengan rata-rata sebesar 3,27. Rata-rata tertinggi
terdapat pada indikator Y.1 dan rata-rata terendah terdapat pada indikator Y.3.
Penjelasan masing-masing indikator adalah sebagai berikut:
1. Indikator Y.1 rata-rata jawaban responden adalah 3,27 termasuk dalam kategori
sangat tinggi. Hal ini berarti Wajib Pajak UMKM Orang Pribadi menyampaikan
Surat Pemberitahuan (SPT) Tahunan 2012 sebelum tanggal atau paling lambat
tanggal 31 Maret 2013 dan Wajib Pajak UMKM Badan menyampaikan Surat
Pemberitahuan (SPT) Tahunan 2012 sebelum tanggal atau paling lambat tanggal
30 April 2013.
2. Indikator Y.2 rata-rata jawaban responden adalah 3,23 termasuk dalam kategori
tinggi. Hal ini berarti Wajib Pajak UMKM menyampaikan SPT Masa untuk

72

setiap jenis pajak bulan Oktober 2013 pada tanggal atau paling lambat tanggal
20 November 2013.
3. Indikator Y.3 rata-rata jawaban responden adalah 3,08 termasuk dalam kategori
tinggi. Hal ini berarti Wajib Pajak UMKM membayar pajak penghasilan PP
Nomor 46 Tahun 2013 untuk bulan Oktober paling lambat tanggal 15 bulan
November dalam jumlah yang sesuai dengan pajak yang terhutang.
4. Indikator Y.2 rata-rata jawaban responden adalah 3,23 termasuk dalam kategori
tinggi. Hal ini berarti Wajib Pajak UMKM menyelenggarakan pencatatan
transaksi usaha atau pembukuan secara teratur setiap bulannya.
4.3

Metode Analisis Data dan Pengujian Hipotesis

4.3.1

Uji Validitas dan Reliabilitas


Uji validitas dan reliabilitas dilakukan pada variabel yang digunakan

dalam penelitian ini. Variabel bebas yang digunakan yaitu pengetahuan pajak,
kemudahan pajak, dan keadilan pajak. Sedangkan variabel terikat yang digunakan
adalah kepatuhan wajib pajak UMKM. Pengujian validitas dan reliabilitas dalam
penelitian ini dilakukan dengan menggunakan PASW Statistic 18.
1. Uji Validitas
Menurut Santoso (2000) suatu kuisioner dikatakan valid (sah) jika pertanyaan
pada kuisioner tersebut mampu mengungkapkan sesuatu yang diukur oleh
kuisioner. Uji validitas bertujuan untuk mengetahui sejauh mana kuisioner
mampu mengukur variabel yang diinginkan dalam penelitian. Semakin tinggi
suatu validitas variabel maka tes tersebut akan semakin valid. Uji validitas
yang digunakan dalam penelitian ini dihitung menggunakan PASW Statistic

73

18. Apabila koefisien korelasi yang dinyatakan dengan Corrected Item Total
Correlation bernilai positif dan lebih besar dari r standar 0,3 , maka indikator
yang bersangkutan dianggap valid. Hasil uji validitas untuk variabel bebas
ditunjukkan pada tabel di bawah ini:
Tabel 4.13
Hasil Uji Validitas Variabel Bebas
Variabel
Pengetahuan
Pajak

Indikator

X1.1
X1.2
X1.3
X1.4
Kemudahan
X2.1
Pajak
X2.2
X2.3
Keadilan
X3.1
Pajak
X3.2
X3.3
X3.4
X3.5
Sumber: Lampiran 6

Corrected Item
Total Correlation
0,533
0,615
0,701
0,604
0,460
0,513
0,486
0,508
0,475
0,351
0,545
-0,10

Keterangan
r standar
0,3
0,3
0,3
0,3
0,3
0,3
0,3
0,3
0,3
0,3
0,3
0,3

Valid
Valid
Valid
Valid
Valid
Valid
Valid
Valid
Valid
Valid
Valid
Tidak Valid

Berdasarkan Tabel 4.13 dapat diketahui bahwa variabel bebas keadilan


pajak pada indikator X3.5 adalah tidak valid dan indikator X3.5 tidak diikut sertakan
pada perhitungan regresi selanjutnya. Selebihnya indikator yang lain pada variabel
bebas pengetahuan pajak, kemudahan pajak, dan keadilan pajak adalah valid. Hal
ini dapat diketahui dari angka koefisien korelasi antara skor variabel yang
menunjukkan nilai lebih dari 0,3. Sedangkan hasil uji validitas untuk variabel
terikat adalah sebagai berikut:

74

Tabel 4.14
Hasi Uji Validitas Variabel Terikat
Variabel

Indikator

Kepatuhan
Wajib Pajak
UMKM

Y.1
Y.2
Y.3
Y.4
Sumber: Lampiran 6

Corrected Item
Total Correlation
0,647
0,706
0,532
0,478

Keterangan
r standar
0,3
0,3
0,3
0,3

Valid
Valid
Valid
Valid

Berdasarkan Tabel 4.14 diketahui bahwa seluruh indikator untuk variabel


kepatuhan wajib pajak UMKM lebih besar dari r standar yaitu 0,3. Sehingga dapat
dinyatakan seluruh indikator valid atau dapat mengukur variabel kepatuhan wajib
pajak UMKM.
2. Uji Reliabilitas
Menurut Santoso (2000) suatu kuisioner dikatakan reliable (andal) jika
jawaban responden terhadap pertanyaan adalah konsisten dari waktu ke waktu.
Uji reliabilitas dapat dilakukan dengan perhitungan koefisien Cronbach Alpha.
Analisis reliabilitas dilakukan dengan melihat apakah koefisien Crobanch
Alpha lebih besar dari 0,60. Jika koefisien Crobanch Alpha menunjukkan lebih
besar dari 0,60 maka dapat dikatakan bahwa variabel yang diukur reliabel atau
memiliki kehandalan untuk digunakan dalam penelitian.
Tabel 4.15
Uji Reliabilitas Variabel Penelitian
Variabel
Pengetahuan Pajak (X1)
Kemudahan Pajak (X2)
Keadilan Pajak (X3)
Kepatuhan WP UMKM (Y)
Sumber: Lampiran 6

Crobanch Alpha
0,798
0,668
0,614
0,777

Nilai Kritis
0,60
0,60
0,60
0,60

Ket.
Reliabel
Reliabel
Reliabel
Reliabel

75

Tabel 4.15 menunjukkan bahwa besarnya nilai Crobanch Alpha baik pada
variabel bebas dan variabel terikat lebih besar dari 0,60. Oleh karena itu, item-item
pertanyaan yang membentuk variabel penelitian adalah reliabel (andal).
4.3.2

Uji Asumsi Klasik


Sebelum data dianalisis menggunakan analisis regresi, perlu dilakukan

pengujian terhadap asumsi-asumsi klasik. Pengujian asumsi klasik pada penelitian


ini meliputi uji normalitas, uji multikolinieritas, dan uji heteroskedastisitas.
1. Uji Normalitas
Uji normalitas bertujuan untuk menguji apakah dalam model pengujian,
variabel pengganggu (residual) terdistribusi normal. Pada penelitian ini untuk
melakukan uji normalitas digunakan Chi-Square Goodness-of-fit-Test. Hasil uji
normalitas menggunakan Chi-Square Goodness-of-fit-Test menunjukkan hasil
sebagai berikut:
Tabel 4.16
Hasil Uji Normalitas
Test Statistics
Unstandardized
Residual
Chi-square

32,840

Df
Asymp. Sig.

81
1,000

a. 82 cells (100,0%) have


expected frequencies less than
5. The minimum expected cell
frequency is 1,2.

Sumber: Lampiran 7

76

Kriteria keputusan dapat dilihat dari signifikan hasil perhitungan, apabila


nilai tersebut lebih besar dari 0,05 () maka distribusi data dinyatakan normal. Pada
tabel 4.16 dapat dilihat bahwa nilai signifikan sebesar 1,000 yang lebih besar dari
0,05 (), maka distribusi data dinyatakan normal.
2. Uji Multikolinieritas
Uji gejala multikolinieritas digunakan untuk mengetahui ada tidaknya
hubungan yang signifikan antar masing-masing variabel bebas yang diteliti. Untuk
mengetahui ada tidaknya gejala ini digunakan indikasi nilai VIF (Varian Inflation
Factor). Multikolinearitas terjadi apabila nilai VIF 10. Hasil pengujian
multikolinearitas dalam penelitian ini ditunjukkan dalam tabel berikut ini:
Tabel 4.17
Hasil Uji Multikolinieritas
Variabel
Pengetahuan Pajak
Kemudahan Pajak
Keadilan Pajak
Sumber: Lampiran 7

Nilai VIF
1,304
1,803
1,477

Keterangan
Tidak Terjadi Multikolinieritas
Tidak Terjadi Multikolinieritas
Tidak Terjadi Multikolinieritas

Berdasarkan Tabel 4.17 diketahui bahwa semua variabel bebas


mempunyai nilai VIF < 10. Hal ini dapat disimpulkan bahwa pada model regresi
tidak terjadi multikolinieritas.
3. Uji Heteroskedastisitas
Uji Heteroskedastisitas bertujuan untuk menguji adanya ketidaksamaan
yang terjadi dalam model regresi varians dari residual satu pengamatan ke

77

pengamatan yang lainnya (Ghozali, 2006). Uji heteroskedastisitas dilakukan dengan


melihat gambaran sebaran residual dengan menggunakan metode scatterplot.

Sumber: Lampiran 7
Gambar 4.2
Hasil Uji Heteroskedastisitas
Berdasarkan Gambar 4.2 menunjukkan bahwa sebaran data tidak
membentuk pola yang jelas. Gambar tersebut menunjukkan bahwa titik-titik
menyebar di atas dan dibawah angka nol pada sumbu Y. Dari pengujian ini dapat
diambil kesimpulan bahwa pada model regresi ini tidak terjadi heteroskedastisitas.
Hal ini menunjukkan bahwa variasi data bersifat homogen, sehingga variabel
tergantung benar-benar hanya dijelaskan oleh variabel bebas.

78

4.3.3

Analisis Regresi Linier Berganda


Pada penelitian ini pengujian hipotesis menggunakan teknik analisis

regresi linier berganda. Pemilihan teknik tersebut berdasarkan tujuan untuk


mengetahui pengaruh variabel bebas yang berjumlah lebih dari satu terhadap
variabel terikat dengan data yang berskala interval. Pengujian data dalam penelitian
ini menggunakan program SPSS (Statistical Program for Social Science) versi 18
dengan hasil sebagai berikut:
Tabel 4.18
Analisis Regresi Linier Berganda
Variabel

Koefisien
Regresi
2,718
Konstanta
0,179
Pengetahuan Pajak
0,195
Kemudahan Pajak
-0,217
Keadilan Pajak
Koefisien Determinasi (R2)
Koefisien Korelasi (R)
F Hitung
Signifikansi

t hitung

Signifikansi

9,594
2,188
2,072
-2,048

0,000
0,031
0,041
0,043
0,142
0,377
5,301
0,002

Sumber: Lampiran 7
4.3.3.1 Koefisien Determinasi
Kemampuan variabel bebas dalam menerangkan atau menjelaskan
perubahan variabel terikat dapat dilihat dari nilai koefisien determinasi berganda
(R). Semakin tinggi nilai R maka semakin baik model tersebut. Nilai dari R
berkisar antara 0 sampai 1, semakin mendekati 1 maka semakin baik kemampuan
variabel bebas dalam menjelaskan variabel terikat pada model. Pada Tabel 4.18
dapat dilihat bahwa nilai koefisien determinasi dari hasil perhitungan adalah

79

sebesar 0,142. Hal ini berarti sebesar 14,2% kepatuhan wajib pajak UMKM dapat
dijelaskan dengan variabel pengetahuan pajak, kemudahan pajak dan keadilan
pajak. Sedangkan 85,8% dari kepatuhan wajib pajak dijelaskan oleh variabel lain
yang tidak dimasukkan dalam penelitian ini.
4.3.3.2 Koefisien Korelasi Berganda
Nilai koefisien berganda dapat menunjukkan tingkat hubungan atau
korelasi variabel terikat (Y) kepatuhan wajib pajak UMKM, terhadap variabel
bebas pengetahuan pajak, kemudahan pajak, dan keadilan pajak. Berdasarkan hasil
analisis regresi linier berganda diperoleh nilai koefisien korelasi berganda (R)
sebesar 0,377. Nilai ini menunjukkan adanya hubungan yang cukup kuat antara
variabel bebas pengetahuan pajak, kemudahan pajak, dan keadilan pajak dengan
variabel terikat kepatuhan wajib pajak UMKM (Y).
4.3.3.3 Koefisien Regresi
Berdasarkan tabel 4.18 diatas, maka persamaan regresi yang dapat dibuat
adalah sebagai berikut:
Y = 2,178 + 0,179 X1 + 0,195 X2 0,217 X3 + e
Keterangan:
Y

= Kepatuhan Wajib Pajak UMKM

X1

= Pengetahuan Pajak

X2

= Kemudahan Pajak

X3

= Keadilan Pajak

= Error

80

Koefisien regresi yang

bertanda positif menunjukkan perubahan yang

searah antara variabel bebas terhadap variabel terikat, sedangkan koefisien yang
bertanda negatif menunjukkan perubahan yang tidak searah antara variabel bebas
terhadap variabel terikat. Penjelasan untuk persamaan tersebut adalah:
1. Konstanta pada persamaan regresi linier berganda menunjukkan nilai sebesar
2,178 yang artinya apabila variabel pengetahuan pajak, kemudahan pajak, dan
keadilan pajak bernilai 0 (nol) atau konstan, maka kepatuhan wajib pajak
UMKM nilainya sebesar 2,178.
2. Nilai 1 sebesar 0,179 tersebut mempunyai arti jika nilai variabel pengetahuan
pajak (X1) ditingkatkan satu, sedangkan variabel kemudahan pajak dan keadilan
pajak nilainya tetap, maka kepatuhan wajib pajak UMKM akan meningkat
sebesar 0,179.
3. Nilai 2 sebesar 0,195 tersebut mempunyai arti jika nilai variabel kemudahan
pajak (X2) ditingkatkan satu, sedangkan variabel pengetahuan pajak dan
keadilan pajak nilainya tetap, maka kepatuhan wajib pajak UMKM akan
meningkat sebesar 0,195.
4. Nilai 3 sebesar -0,217 tersebut mempunyai arti jika nilai variabel keadilan pajak
(X3) ditingkatkan satu, sedangkan variabel pengetahuan pajak dan kemudahan
pajak nilainya tetap, maka kepatuhan wajib pajak UMKM akan menurun sebesar
0,217.
4.3.4

Hasil Analisis Uji Hipotesis


Uji hipotesis digunakan untuk mengetahui pengaruh variabel pengetahuan

pajak, kemudahan pajak, dan keadilan pajak terhadap kepatuhan Wajib Pajak

81

UMKM. Pada penelitian ini, formulasi hipotesis statistik dengan menggunakan i


yang merupakan koefisien untuk masing-masing variabel bebas, yaitu:
H0 : i = 0, berarti bahwa tidak ada pengaruh pengetahuan pajak, kemudahan pajak,
dan keadilan pajak terhadap kepatuhan Wajib Pajak UMKM sesuai dengan PP
Nomor 46 Tahun 2013 di KPP Pratama Surabaya Karangpilang.
Ha : i = 0, berarti bahwa terdapat pengaruh pengetahuan pajak, kemudahan pajak,
dan keadilan pajak terhadap kepatuhan Wajib Pajak UMKM sesuai dengan PP
Nomor 46 Tahun 2013 di KPP Pratama Surabaya Karangpilang.
Kreteria penerimaan dan penolakan hipotesis adalah:
1. Jika signifikansi uji t < 0,05 maka H0 ditolak, berarti pengetahuan pajak,
kemudahan pajak, dan keadilan pajak berpengaruh secara parsial terhadap
kepatuhan wajib pajak UMKM.
2.

Jika signifikansi uji t > 0,05 maka H0 diterima, berarti pengetahuan pajak,
kemudahan pajak, dan keadilan pajak tidak berpengaruh secara parsial terhadap
kepatuhan wajib pajak UMKM.
Pengujian hipotesis koefisien regresi secara parsial (uji t) ditunjukkan

untuk mengetahui pengaruh masing-masing variabel bebas secara individual


terhadap variabel terikat dalam satu model. Berikut hasil uji parsial selengkapnya:
Tabel 4.19
Hasil Uji Regresi
Variabel
Pengetahuan Pajak
Kemudahan Pajak
Keadilan Pajak
Sumber: Lampiran 7

Koefisien Regresi ()
0,179
0,195
-0,217

t-hitung
2,188
2,072
-2,048

Signifikansi
0,031
0,041
0,043

82

Berdasarkan Tabel 4.19 dapat dijelaskan sebagai berikut:


1. Variabel pengetahuan pajak
Formulasi hipotesis statistik H0 = 1 = 0 ; Ha = 1 0
Nilai koefisien regresi untuk variabel pengetahuan pajak (X1) adalah sebesar
0,179 dengan tingkat signifikansi 0,031. Nilai signifikansi lebih kecil dari 0,05
sehingga dapat dinyatakan bahwa variabel pengetahuan pajak (X1) berpengaruh
positif terhadap kepatuhan wajib pajak UMKM.
2. Variabel kemudahan pajak
Formulasi hipotesis statistik H0 = 2 = 0 ; Ha = 2 0
Nilai koefisien regresi untuk variabel kemudahan pajak (X2) adalah sebesar
0,195 dengan tingkat signifikansi 0,041. Nilai signifikansi lebih kecil dari 0,05
sehingga dapat dinyatakan bahwa variabel kemudahan pajak (X2) berpengaruh
positif terhadap kepatuhan wajib pajak UMKM.
3. Variabel keadilan pajak
Formulasi hipotesis statistik H0 = 3 = 0 ; Ha = 3 0
Nilai koefisien regresi untuk variabel keadilan pajak (X3) adalah sebesar -0,217
dengan tingkat signifikansi 0,043. Nilai signifikansi lebih kecil dari 0,05
sehingga dapat dinyatakan bahwa variabel keadilan pajak (X3) berpengaruh
signifikan negatif terhadap kepatuhan wajib pajak UMKM.

83

4.4

Pembahasan

4.4.1

Pengaruh Pengetahuan Pajak terhadap Kepatuhan Wajib Pajak


UMKM
Hasil pengujian statistik koefisien regresi menunjukkan adanya pengaruh

positif pada variabel pengetahuan pajak terbukti dengan nilai signifikansi sebesar
0,031 lebih kecil dari 0,05. Hal ini menunjukkan bahwa hasil penelitian menolak
hipotesis 0 (nol). Hasil dari penelitian ini mengindikasikan bahwa pengetahuan
pajak berpengaruh positif terhadap kepatuhan wajib pajak UMKM dalam hal ini
yang sesuai dengan PP Nomor 46 Tahun 2013. Wajib Pajak UMKM yang
memenuhi kriteria pada PP Nomor 46 Tahun 2013 yaitu wajib pajak yang memiliki
peredaran bruto tertentu yang omzetnya tidak melebihi Rp 4,8 Milyar akan
mematuhi peraturan pemerintah tersebut jika wajib pajak UMKM mengetahui
tentang PP Nomor 46 Tahun 2013 dengan baik.
Sesuai dengan teori atribusi, pengetahuan pajak merupakan atribusi
internal. Hal ini dikarenakan pengetahuan pajak timbul karena berada dibawah
kendali pribadi individu itu sendiri. Wajib pajak memiliki pengetahuan pajak tidak
karena paksaan dari pihak lain, melainkan pengetahuan pajak timbul karena hasil
kerja fikir (penalaran) yang timbul dari dalam diri mereka sendiri.
Hasil penelitian ini sesuai dengan penelitian Palil (2010) yang menyatakan
bahwa pengetahuan pajak adalah penting dan dapat mempengaruhi kepatuhan wajib
pajak. Hal ini menunjukkan bahwa pengetahuan pajak mempunyai pengaruh cukup
tinggi dalam perpajakan. Artinya wajib pajak UMKM perlu untuk mengetahui
seluruh hal terkait PP Nomor 46 Tahun 2013 seperti tata cara pembayaran,
pelaporan, penyampaian SPT, serta sanksi yang akan dikenakan jika melanggar

84

peraturan tersebut agar wajib pajak UMKM mengerti pentingnya membayar pajak
dan akan meningkatkan kepatuhan mereka terhadap pajak. Menurut Nugroho
(2012) semakin tinggi pengetahuan dan pemahaman wajib pajak, maka wajib pajak
dapat menentukan perilakunya dengan lebih baik dan sesuai dengan ketentuan
perpajakan. Pengetahuan akan peraturan perpajakan dipengaruhi oleh banyak hal,
antara lain pendidikan formal dan non formal yang mengandung dua aspek yaitu
aspek positif dan aspek negatif. Kedua aspek ini menentukan perilaku seseorang,
semakin banyak aspek positif maka akan berdampak pada meningkatnya kepatuhan
wajib pajak UMKM untuk membayar pajak dan sebaliknya.
4.4.2

Pengaruh Kemudahan Pajak terhadap Kepatuhan Wajib Pajak


UMKM
Hasil pengujian statistik koefisien regresi menunjukkan adanya pengaruh

positif pada variabel kemudahan pajak terbukti dengan nilai signifikansi sebesar
0,041 lebih kecil dari 0,05. Hal ini menunjukkan bahwa hasil penelitian menolak
hipotesis 0 (nol). Hasil penelitian ini mengindikasikan bahwa kemudahan pajak
berpengaruh terhadap kepatuhan wajib pajak UMKM dalam hal ini yang sesuai
dengan PP Nomor 46 Tahun 2013. Wajib pajak UMKM yang memenuhi kriteria
pada PP Nomor 46 Tahun 2013 yaitu wajib pajak yang memiliki peredaran bruto
tertentu yang omzetnya tidak melebihi Rp 4,8 Milyar akan mematuhi peraturan
pemerintah tersebut jika wajib pajak menganggap bahwa peraturan pajak tersebut
mudah untuk diterapkan. Dalam penerapan PP Nomor 46 Tahun 2013, wajib pajak
UMKM menilai peraturan pajak tersebut cukup mudah untuk diterapkan. Mudah
dalam hal ini dapat dilihat dari segi mudah untuk menghitung jumlah pajak yang

85

terhutang, mudah untuk mengerti peraturan pajak yang dibuat, dan mudah karena
jumlah pajak yang dibayarkan oleh wajib pajak berkurang.
Sesuai dengan teori atribusi, kemudahan pajak merupakan atribusi
eksternal. Hal ini dikarenakan kemudahan pajak timbul atau dilakukan karena
adanya pengaruh eksternal atau dari luar individu tersebut. Kemudahan pajak
timbul karena wajib pajak merasa peraturan pemerintah yang dibuat memudahkan
mereka dalam menghitung, menyetor, dan melaporkan pajak yang terhutang.
Hasil pengujian ini sesuai dengan penelitan yang dilakukan oleh Hotlzman
(2007) yang menyebutkan bahwa sistem pajak yang mudah akan mengurangi beban
kepatuhan pajak dibandingkan dengan sistem pajak yang kompleks. Beban
kepatuhan pajak tersebut tidak hanya mencakup jumlah pajak itu sendiri, namun
juga termasuk biaya-biaya kepatuhan pajak yang muncul secara berkala dalam
operasional perusahaan, diantaranya termasuk (1) gaji staf untuk menghitung pajak
dan memelihara informasi pajak, (2) biaya pelatihan bagi staf secara khusus, (3)
biaya yang diberikan kepada ahli seperti konsultan pajak, akuntan, dan pengacara
untuk beberapa hal khusus. Semakin mudah sistem pajak yang berlaku maka beban
kepatuhan pajak akan berkurang dan kepatuhan wajib pajak akan meningkat.
Hasil penelitian ini pun sesuai dengan hasil yang diungkapkan dalam
penelitian Mustikasari (2007) yang melakukan penelitian mengenai kepatuhan
wajib pajak badan dan dari penelitian tersebut menunjukan bahwa kemudahan
wajib pajak badan berpengaruh signifikan terhadap kepatuhan wajib pajak badan.
Oleh karena itu pemerintah dan Ditjen Pajak harus secara bersama-sama
memberikan kemudahan kepada masyarakat dalam bentuk mempermudah

86

peraturan pajak yang dibuat agar masyarakat dalam hal ini Wajib Pajak lebih patuh
terhadap peraturan perpajakan. Semakin mudah peraturan perpajakan yang dibuat,
maka kepatuhan Wajib Pajak akan semakin meningkat.
4.4.3

Pengaruh Keadilan Pajak terhadap Kepatuhan Wajib Pajak UMKM


Hasil pengujian statistik koefisien regresi menunjukkan adanya pengaruh

signifikan negatif pada variabel keadilan pajak terbukti dengan nilai signifikansi
sebesar 0,043 lebih kecil dari 0,05. Hal ini menunjukkan bahwa hasil penelitian
menolak hipotesis 0 (nol). Hasil penelitian ini mengindikasikan bahwa keadilan
pajak berpengaruh negatif terhadap kepatuhan Wajib Pajak UMKM sesuai dengan
PP Nomor 46 Tahun 2013. Berpengaruh negatif berarti semakin wajib pajak
menganggap suatu peraturan itu adil, maka kepatuhan wajib pajak akan semakin
menurun. Hasil penelitian ini mengungkapkan wajib pajak menilai PP 46 Tahun
2013 adalah tidak adil, namun wajib pajak tetap patuh dalam melaksanakan
kewajiban perpajakannya dikarenakan adanya hal-hal lain selain keadilan pajak
yang mempengaruhi kepatuhan wajib pajak. Wajib pajak UMKM yang merasa
tidak adil namun patuh bisa disebabkan karena mereka takut terhadap sanksi yang
mereka dapatkan ketika mereka tidak patuh dalam membayar pajak. Sedangkan
wajib pajak UMKM yang merasa adil namun mereka tidak patuh, kondisi ini dapat
disebabkan karena beban pajak yang harus dibayarkan sangat besar sehingga
mengakibatkan mereka tidak patuh dengan mengurangi beban pajak yang
seharusnya dibayarkan.
Sesuai dengan teori atribusi, keadilan pajak merupakan atribusi eksternal.
Hal ini dikarenakan keadilan pajak timbul atau dilakukan karena adanya pengaruh

87

eksternal atau dari luar individu tersebut. Keadilan pajak timbul karena wajib pajak
merasa peraturan perpajakan dan sistem perpajakan yang dibuat oleh pemerintah
belum adil sehingga mempengaruhi perilaku kepatuhan pajak meraka.
Sedangkan penelitian ini bertentangan dengan teori fairness yang
menyatakan jika wajib pajak merasa tidak mendapatkan pertukaran yang adil dari
pemerintah atas pajak yang telah dibayarkannya, maka mereka akan mengubah
pandangan mereka atas keadilan pajak sehingga berakibat pada perilaku mereka
dalam membayar pajak dengan mengurangi beban pajak yang akan mereka
bayarkan. Namun hasil penelitian ini tidak bertentangan dengan teori keadilan
distributif yang menyatakan bahwa untuk menjadi adil, sebuah sistem tidak hanya
membutuhkan untuk memperlakukan seseorang dalam kondisi yang sama dan cara
yang sama, melainkan tergantung pada kebutuhan individu. Hal ini berarti keadilan
pajak yang berpengaruh negatif terhadap kepatuhan wajib pajak dipengaruhi oleh
kebutuhan masing-masing wajib pajak yang berbeda satu sama lain. Wajib pajak
yang merasa sistem pajak adil, namun memiliki kebutuhan yang besar akan
cenderung tidak mematuhi peraturan pajak yang berlaku dengan cara mengurangi
beban pajak atau melakukan penghindaran pajak. Hasil penelitian ini didukung pula
dengan teori atribusi, sehingga keadilan pajak dapat dipengaruhi secara internal
maupun eksternal terhadap perilaku kepatuhan wajib pajak. Oleh karena itu hasil
penelitian ini tidak seluruhnya bertentangan dengan teori keadilan dalam pajak.
Penelitian ini mempunyai hasil yang sama dengan penelitian yang
dilakukan oleh Saad (2010) yang menyatakan keadilan pajak horisontal memiliki
pengaruh negatif terhadap perilaku kepatuhan yang mana pembayar pajak yang

88

menganggap sistem pajak adil, semakin kecil kemungkinan mereka untuk


membayar pajak. Hal ini dikarenakan pembayar pajak yang sama (memiliki
pendapatan yang sama) tidak harus dikenakan pajak yang sama pula tanpa
mempertimbangkan tanggung jawab keuangan dan kesejahteraan sosial.
Hasil dalam penelitian ini mempunyai persamaan dengan hasil penelitian
yang dilakukan oleh Azmi dan Perumal (2008) yang membuktikan adanya
pengaruh antara keadilan pajak terhadap kepatuhan wajib pajak yang ditunjukkan
dengan hasil nilai signifikansi kurang dari 0,05. Namun terdapat perbedaan juga
dalam penelitian ini dengan penelitian yang dilakukan oleh Azmi dan Perumal
(2008) yang mengungkapkan bahwa keadilan pajak berpengaruh positif terhadap
kepatuhan wajib pajak, sedangkan dalam penelitian ini memberikan hasil bahwa
keadilan pajak berpengaruh negatif terhadap kepatuhan wajib pajak UMKM yang
ditunjukkan dengan nilai koefisien regresi yang bernilai negatif yaitu -0,217.
Perbedaan ini dikarenakan demografi penelitian yang sedikit berbeda. Dalam
penelitian Azmi dan Perumal (2008) lebih banyak yang berumur 40-59 tahun,
sedangkan dalam penelitian ini paling banyak berumur 26-40 yang masih berusia
produktif. Adanya perbedaan umur memungkinkan adanya pola pikir yang juga
berbeda.
Selain itu terdapat persamaan dan perbedaan dalam penelitian ini dengan
penelitian yang dilakukan oleh Pris (2010). Persamaan hasil penelitian ini dengan
penelitian yang dilakukan oleh Pris (2010) adalah hasil uji t yang menunjukkan
negatif terhadap kepatuhan pajak. Dan perbedaan dalam penelitian ini dengan
penelitian yang dilakukan oleh Pris (2010) adalah penelitian Pris (2010)

89

menunjukkan bahwa tidak adanya pengaruh antara keadilan pajak terhadap


kepatuhan wajib pajak, sedangkan hasil penelitian ini mengungkapkan adanya
pengaruh

yang negatif antara keadilan pajak terhadap kepatuhan wajib pajak

UMKM. Perbedaan ini kemungkinan dikarenakan adanya perbedaan pola pikir


antara masyarakat metropolitan di Jakarta dengan masyarakat Surabaya. Hal ini
dikarenakan demografi penelitian yang hampir sama yaitu lebih banyak yang
berumur antara 31-40 yang merupakan usia kerja dan lebih dari 50% responden
adalah laki-laki, serta tingkat pendidikan yang mayoritas adalah Sarjana.
4.5

Keterbatasan Penelitian
Penelitian ini memiliki beberapa keterbatasan didalamnya, yaitu:

1. Penelitian ini menggunakan metode survei secara langsung melalui kuisioner


sebagai instrumen penelitian. Kelemahan dari metode kuisioner ini adalah
adanya beberapa responden yang tidak menjawab pertanyaan dalam kuisioner
dengan serius atau menjawab pertanyaan tidak sesuai dengan keadaan yang
sebenarnya.
2. Sampel yang digunakan dalam penelitian ini tidak seluruhnya telah
menerapkan PP Nomor 46 Tahun 2013 hal ini dikarenakan sanksi yang
dikenakan untuk PP Nomor 46 Tahun 2013 baru mulai dilaksanakan per 1
Januari 2014 sehingga beberapa wajib pajak belum seluruhnya menerapkan
peraturan pemerintah ini.
3. Pemilihan responden hanya terbatas di wilayah cakupan KPP Pratama
Surabaya Karangpilang, sehingga hasil penelitian ini hanya mencerminkan
perilaku wajib pajak dengan peredaran bruto tertentu sesuai dengan PP Nomor

90

46 Tahun 2013 yaitu tidak melebihi Rp 4,8 Milyar di KPP Pratama Surabaya
Karangpilang. Oleh karena itu diperlukan kehati-hatian dalam memakai hasil
penelitian ini kepada responden yang berada di daerah lainnya yang memiliki
karakter yang berbeda.
4. Terdapat ukuran keadilan pajak yang tidak valid yaitu pada indikator X3.5
bernilai sebesar -0,10. Oleh karena itu pada

penelitian selanjutnya untuk

memilih indikator lain yang disesuaikan juga dengan penelitian yang


dilakukan.

BAB 5
SIMPULAN DAN SARAN

5.1

Simpulan
Setelah dilakukan penelitian mengenai pengaruh pengetahuan pajak,
kemudahan pajak, dan keadilan pajak terhadap kepatuhan wajib pajak
UMKM dengan pengetahuan pajak, kemudahan pajak, keadilan pajak sebagai
variabel bebas dan kepatuhan wajib pajak UMKM sebagai variabel terikat,
maka diperoleh simpulan sebagai berikut:

1.

Pengetahuan pajak memiliki pengaruh positif terhadap perilaku kepatuhan


wajib pajak UMKM sesuai dengan PP Nomor 46 Tahun 2013 yaitu yang
memiliki peredaran bruto tertentu yang omzetnya tidak melebihi Rp 4,8
Milyar dan bertempat tinggal atau berkedudukan di KPP Pratama Surabaya
Karangpilang, pengaruh tersebut sebesar 3,1%. Hasil tersebut sesuai dengan
penelitian yang dilakukan oleh Palil (2010).

2. Kemudahan pajak memiliki pengaruh positif terhadap perilaku kepatuhan


wajib pajak UMKM sesuai dengan PP Nomor 46 Tahun 2013 yang bertempat
tinggal atau berkedudukan di KPP Pratama Surabaya Karangpilang sebesar
4,1%. Hasil penelitian ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh
Hotlzman (2007) dan Mustikasari (2007).
3. Keadilan pajak memiliki pengaruh negatif terhadap kepatuhan wajib pajak
UMKM sesuai dengan PP Nomor 46 Tahun 2013 yang bertempat tinggal
atau berkedudukan di KPP Pratama Surabaya Karangpilang sebesar 4,3%.

91

92

Hasil ini memiliki persamaan dan perbedaan dengan penelitian yang


dilakukan oleh Azmi dan Perumal (2008) dan Pris (2010).
5.2

Saran
Berdasarkan hasil penelitian, maka saran yang dapat diberikan adalah
sebagai berikut:
1. Bagi Pemerintah
a. Pemerintah perlu untuk mengkaji ulang peraturan pemerintah yang dibuat
dengan

memperhatikan

masyarakat

disetiap

kalangan

dan

juga

memperhatikan dampak dari peraturan yang dibuat.


b. Pemerintah perlu terus berupaya dalam meningkatkan kemudahan pajak
dan sistem perpajakan yang berlaku saat ini agar masyarakat tidak merasa
kesulitan dalam membayarkan pajaknya dan merasa adil dengan jumlah
beban pajak yang dibayarkan sehingga kepatuhan wajib pajak akan
meningkat.
2. Bagi penelitian selanjutnya
a. Untuk penelitian selanjutnya diharapkan menggunakan variabel lain atau
menambah variabel lain yang dapat mempengaruhi kepatuhan wajib pajak
terkait PP Nomor 46 Tahun 2013 sehingga penelitian dapat dilihat dari
sisi yang berbeda.
b. Untuk penelitian selanjutnya diharapkan menambah jangkauan penelitian
atau memperbesar sampel ke wilayah lain sehingga dapat lebih banyak
mewakili populasi wajib pajak terkait PP Nomor 46 Tahun 2013.

DAFTAR PUSTAKA

Albari. 2008. Pengaruh Keadilan terhadap Kepuasan dan Kepatuhan Wajib Pajak.
UNISIA, XXXI No. 69 (9)
American Institute of Certified Public Accountants, Tax Division. 2001. Guiding
Principles of Good Tax Policy: A framework for Evaluating Tax
Proposals. New York: American Institute of Certified Public Accountants,
Inc.
Anggraeni, Dian B. 2013. Persepsi Keadilan Pajak terhadap Perilaku Kepatuhan
Wajib Pajak Orang Pribadi. Skripsi tidak diterbitkan. Semarang
Universitas Diponegoro
Anshori, Muslich Sri Iswati. 2006. Metodologi Penelitian Kuantitatif. Surabaya:
Fakultas Ekonomi Universitas Airlangga
Aziza, Sayyida. 2011. Analisis Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kepatuhan
Wajib Pajak. Skripsi tidak diterbitkan. Surabaya UPN Veteran Jatim
Surabaya.
Azmi, Anna A. Che & Kamala A. Perumal. 2008. Tax Fairness Dimensions in an
Asian Context: The Malaysian Perspective. International Review of
Business Research Papers, IV No. 5 (10-11): 11-19
BG Consulting. 2003. Tax Simplicity and Stability: Attractive to Countries and
Investors. Paper tidak diterbitkan. United Stated: BG Consulting, Inc.
Fikriningrum, Winda K. 2012. Analisis Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Wajib
Pajak Orang Pribadi dalam Memenuhi Kewajiban Membayar Pajak.
Skripsi tidak diterbitkan. Semarang Universitas Diponegoro
Ghozali, Imam. 2001. Aplikasi Analisis Multivariate dengan Program SPSS.
Semarang: Badan Penerbit Universitas Diponegoro
Gunadi. 2005. Fungsi Pemeriksaan Terhadap Peningkatan Kepatuhan Pajak.
Jurnal Pajak Indonesia. IV No. 5: 4-9
Hakim, Abdul. 2001. Statistika Deskriptif untuk Ekonomi dan Bisnis.
Yogyakarta: Ekonisia
Hardiningsih, Pancawati. 2011. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kemauan
Membayar Pajak. Dinamika Keuangan dan Perbankan, III No. 1 (11):
126- 142

93

94

Harinurdin, Erwin. 2009. Perilaku Kepatuhan Wajib Pajak Badan. Jurnal Ilmu
Administrasi dan Organisasi. XVI No. 2 (5-8): 96-104
Holtzman, Yair. 2007. Challenges in Achieving Transparency, Simplicity and
Administering of The United Stated Tax Code. Journal of Management
Development, XXVI No. 5: 418-427
Imaniyah, Nur & Bestari Dwi Handayani. 2008. Pengaruh Penghasilan dan
Pengetahuan Perpajakan terhadap Kepatuhan Wajib Pajak dalam
Membayar PBB di Kelurahan Tegalrejo Kota Pekalongan. Simposium
Nasional Perpajakan II
Institute on Taxation and Economic Policy. 2011. Income Tax Simplification:
How to Achieve It. Washington, DC
Kusumawati. 2006. Analisis Perilaku Wajib Pajak Orang Pribadi terhadap
Pelaksanaan Self Assessment System. Tesis tidak diterbitkan. Malang
Fakultas Ekonomi Universitas Brawijaya
Maholtra, N. K. 1996. Marketing Research an Applied Oriented Second
Edition. New Jersey: Prentice Hall, Inc.
Mansury, R. 1996. Pajak Penghasilan Lanjutan. Jakarta: Ind. Hill-Co.
Mardiasmo. 2009. Perpajakan. Edisi Revisi 2009. Yogyakarta: Andi
Mc Mahon, C. 2001. Collective Rationality and Collective Reasoning.
Cambridge: Cambridge University Press
Misu, Nicoleta Barbuta. 2011. A Review of Factors for Tax Compliance. Annals
of Dunarea de Jos University of Gelati Fascicle I. Economics and Applied
Informatics Years, XVII No. 1
Musgrave, Richard A. & Peggy B. Musgrave. 1976. Keuangan Negara dalam
Teori dan Praktek. Terjemahan oleh Alfonsus Sirait.1993. Jakarta:
Erlangga
Mustikasari, Elia. 2007. Kajian Empiris tentang Kepatuhan Wajib Pajak Badan di
Perusahaan Industri Pengolahan di Surabaya. Simposium Nasional
Akuntansi X, Universitas Hasanudin Makassar
Nasir, Mohammad. 2003. Metode Penelitian. Jakarta: Galia Indonesia
Nugroho, R. Adi. 2012. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kemauan Membayar
Pajak dengan Kesadaran Membayar Pajak sebagai Variabel Intervening.
Diponegoro Journal of Accounting, I No. 2: 1-11
Numantu, Safri. 2003. Pengantar Perpajakan. Jakarta: Granit

95

Palil, M. Rizal. 2005. Does Tax Knowledge Matters in Self Assessment Systems?
Evidence from Malaysian Tax Administrative. The Journal of American
Academy of Business, VI No. 2 (3): 80-84
------------. 2010. Tax Knowledge and Tax Compliance Determinants in Self
Assessment System in Malaysia. Thesis tidak diterbitkan. Birmingham
Department of Accounting and Finance The University of Birmingham
Priantara, Diaz & Bambang Supriyadi. 2011. Faktor-faktor yang Mempengaruhi
Pengusaha Kecil dan Mikro Mendaftar Menjadi Wajib Pajak Orang
Pribadi. Jurnal Akuntansi dan Keuangan, XIII (2): 98-108
Pris, K. Andarini. 2010. Dampak Dimensi Keadilan Pajak terhadap Tingkat
Kepatuhan Wajib Pajak Badan. Skripsi tidak diterbitkan. Semarang
Fakultas Ekonomi Universitas Diponegoro.
Rawls, John. 1971. A Theory of Justice, dalam Chapter II The Principle of
Justice. Publisher: The Belknap Press of Harvard University Press
Cambrigne, Massachusetts
Republik Indonesia. Keputusan Menteri Keuangan Nomor 544/KMK.04/2000
sebagaimana diubah terakhir dalam Peraturan Menteri Keuangan
Nomor 74/PMK.03/2012
tentang Tata Cara Penetapan dan Pencabutan
Penetapan Wajib Pajak
dengan Kriteria Tertentu dalam Rangka
Pengembalian Pendahuluan Kelebihan Pembayaran Pajak
------------. Peraturan Pemerintah Nomor 46 Tahun 2013 tentang Pajak
Penghasilan atas
Penghasilan dari Usaha yang Diterima atau
Diperoleh Wajib Pajak yang Memiliki Peredaram Bruto Tertentu
------------. Undang-undang Nomor 7 Tahun 1983 sebagaimana diubah
terakhir dalam Undang-undang Nomor 36 Tahun 2008 tentang Pajak
Penghasilan
------------. Undang-undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara
------------. Undang-undang Nomor 20 Tahun 2008 tentang Usaha Mikro, Kecil,
dan Menengah
Richardson, Grant. 2006. The Impact of Tax Fairness Dimensions on Tax
Compliance Behavior in an Asian Jurisdiction: The Case of Hong Kong.
International Tax Journal, XXXII (1): 29-42
Robbin, P. Stephen. 2003. Organizational Behavior. Ten Edition. Prenctice Hall
Inc.
Rosdiana, Haula. 2010. Pengantar Perpajakan. Depok

96

Saad, Natrah. 2010. Fairness Perceptions and Compliance Behaviour: The Case of
Salaried Taxpayers in Malaysia after Implementation of the SelfAssessment System. Journal of Tax Research, VIII No. 1 (6): 32-63
Santoso, Singgih. 2000. Buku Latihan SPSS Statistik Parametrik. Jakarta: PT Elek
Media Komputindo
Solimun. 2005. Kisi-kisi Analisis data (Pemodelan Statistika) dan Metodologi
Penelitian. Malang: FMIPA Universitas Brawijaya
Spicer, M. W., and Lundstedt, S. B. 1976. Understanding Tax Evasion. Public
Finance, 31: 295-305
Suandy, Early. 2011. Hukum Pajak. Jakarta : Salemba Empat
Sugiyono. 2009. Metode Penelitian Bisnis. Bandung: CV. Alfabeta
Suharso, Puguh. 2009. Metode Penelitian Kuantitatif dan Kualitatif. Jakarta
Supriyati & Nur hidayati. 2008. Pengaruh Pengetahuan Pajak dan Persepsi Wajib
Pajak terhadap Kepatuhan Wajib Pajak. Jurnal Akuntansi dan Teknologi
Informasi, VII No. 1: 41-50
Tambunan, Ruston. 2013. Ketentuan Terbaru Pajak Penghasilan Atas UMKM:
Sederhana Tapi Tidak Adil, (Online), (http://www.ortax.org, diakses 12
Oktober 2013).
The Indonesian Tax in Brief, Tinjauan Perpajakan Indonesia. 2006. Tim
Penyusun, edisi revisi. Koperasi Pegawai Kantor Pusat Direktorat Jenderal
Pajak. Jakarta
Witono, Banu. 2008. Peranan Pengetahuan Pajak pada Kepatuhan Wajib Pajak.
Jurnal Akuntansi dan keuangan, VII No. 2 (9): 196-208
Widayati & Nurlis. 2010. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kemauan untuk
Membayar Pajak Wajib Pajak Orang Pribadi yang Melakukan Pekerjaan
Bebas. Simposium Nasional Akuntansi XIII, Universitas Jenderal
Soedirman Purwokerto
Zaenudin, Muhamad. 2000. Metode Penelitian. Jakarta

LAMPIRAN 2

KUISIONER
Kepada
Yth. Bapak/Ibu/Saudara/i
Wajib Pajak di KPP Karangpilang Surabaya
Dengan hormat,
Sehubungan dengan penulisan skripsi S1 Akuntansi Universitas Airlangga, dengan ini
saya mengharapkan bantuan Bapak/Ibu/Saudara/i berkenan untuk mengisi daftar pertanyaan
yang ada dalam kuisioner ini. Penelitian ini mengangkat topik mengenai pengetahuan pajak,
kemudahan pajak, dan keadilan pajak terhadap kepatuhan Wajib Pajak UMKM terkait
penetapan PP 46 Tahun 2013.
Kuisioner ini hanya digunakan untuk keperluan akademis serta bersifat RAHASIA
dan tidak akan diungkapkan kepada pihak lain. Kuisioner ini tidak terkait dengan Ditjen
Pajak sehingga tidak akan mempengaruhi jumlah/keringanan/sanksi pajak yang dibayar. Oleh
karena itu KEJUJURAN dalam pengisian kuisioner ini sangat saya harapkan.
Petunjuk Pengisisan
Jawaban bisa dituliskan di tempat yang disediakan atau memilih jawaban dengan
memberikan tanda silang (X) pada skala 1-4 terhadap kotak yang disediakan. Setiap
pertanyaan hanya boleh diisi dengan satu jawaban.
Skala yang digunakan dalam menjawab kuisioner adalah sebagai berikut:
STS
TS
S
SS
Sangat Tidak
Tidak Setuju
Setuju
Sangat Setuju
Setuju
Atas kesediaan dan partisipasi Bapak/Ibu/Saudara/i untuk meluangkan waktu mengisi
kuisioner ini, saya menyampaikan terimakasih sebanyak-banyaknya.

Hormat Saya,

Nur Aini Firdaus,


Fakultas Ekonomi dan Bisnis
Universitas Airlangga

LAMPIRAN 2

PROFIL RESPONDEN WP PP No. 46 Tahun 2013

Nama (boleh tidak diisi) :


Umur:
Jawaban untuk pertanyaan dibawah ini silahkan dilingkari/coret
Jenis Kelamin:
Laki-laki / Perempuan
Pendidikan terakhir:
SD / SMP / SMA / D3 / S1 / Lainnya ............................
Jenis Usaha :
Industri / Dagang / Jasa / Lainnya ................................
Bentuk Usaha:
UD / CV / Lainnya ...............................
Omzet Usaha:
a. < 4,8 Milyar per tahun

b. 4,8 Milyar per tahun

Lama Usaha:
a. < 2 tahun

b. 2-4 tahun

c. >4-8 tahun

d. > 8 tahun

DAFTAR PERTANYAAN
PENGETAHUAN PAJAK (X1)
No.
1.
2.
3.

4.

Pertanyaan
Saya memiliki NPWP dan NPPKP saat dimulainya usaha dan
diterimanya penghasilan.
Saya mengerti tata cara perhitungan pajak PP No. 46 Tahun 2013
dan cara penyampaian SPT-nya.
Saya mengetahui sanksi yang akan saya terima jika saya melakukan
pelanggaran atau terlambat menyetor dan/atau melaporkan SPT PP
No. 46 Tahun 2013.
Saya dapat memahami dengan baik peraturan pajak melalui adanya
sosialisasi PP No. 46 Tahun 2013.

STS

TS

SS

LAMPIRAN 2

KEMUDAHAN PAJAK (X2)


No.
5.
6.

7.

Pertanyaan
Saya menganggap PP 46 Tahun 2013 merupakan peraturan yang
lebih mudah dimengerti dari peraturan yang sebelumnya.
Penetapan tarif tunggal 1 % mempermudah saya menghitung pajak
penghasilan dibandingkan dengan tarif yang berbeda dengan
memperhatikan besarnya omzet.
Saya menganggap tarif 1 persen adalah ringan karena pajak yang
saya bayarkan berkurang.

STS

TS

SS

STS

TS

SS

STS

TS

SS

KEADILAN PAJAK (X3)


No.
8.

9.
10.

11.

12.

Pertanyaan
Secara keseluruhan, pajak penghasilan terkait PP 46 Tahun 2013
telah dikenakan secara adil (untuk pengenaan tarif dan objek
pajaknya).
Keadilan PP 46 Tahun 2013 tercermin dari penentuan tarif tunggal
(flat) 1% dari omzet.
Saya menerima manfaat yang sesuai dan adil dari pemerintah atas
pembayaran pajak penghasilan, contohnya infrastruktur, fasilitasfasilitas umum, serta kemudahan menjalankan aktivitas usaha
terkait dengan regulasi dan birokrasi.
Ketentuan mengenai restitusi (pengembalian kelebihan
pembayaran) dan surat keterangan bebas (SKB) yang hanya
diberikan kepada Wajib Pajak Patuh sudah adil.
Apabila dibandingkan dengan Wajib Pajak yang berpenghasilan
rendah, saya membayar pajak dalam jumlah yang lebih besar.

KEPATUHAN WAJIB PAJAK UMKM (Y)


No.
13.

14.

15.

16.

Pertanyaan
a. WP Orang Pribadi
Saya menyampaikan Surat Pemberitahuan (SPT) Tahunan 2012
sebelum tanggal atau paling lambat tanggal 31 Maret 2013.
b. WP Badan
Saya menyampaikan Surat Pemberitahuan (SPT) Tahunan 2012
sebelum tanggal atau paling lambat tanggal 30 April 2013.
Saya menyampaikan SPT Masa untuk setiap jenis pajak bulan
Oktober 2013 pada tanggal atau paling lambat tanggal 20
November 2013
Saya membayar pajak penghasilan PP No. 46 Tahun 2013 untuk
bulan Oktober paling lambat tanggal 15 bulan November dalam
jumlah yang sesuai dengan pajak yang terhutang.
Saya menyelenggarakan pencatatan transaksi usaha atau
pembukuan secara teratur setiap bulannya.

LAMPIRAN 3
Tabel Demografi Responden
Respndn
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27
28
29
30
31
32
33
34
35
36
37
38
39
40
41
42

Umur
42
40
31
23
35
26
38
29
34
46
40
60
25
42
22
24
45
31
36
40
51
50
31
43
33
26
33
45
63
32
32
22
52
28
42
40
27
41
36
27
45
27

JK
L
L
P
P
L
P
L
L
L
P
L
L
L
P
P
L
P
L
P
L
L
P
P
L
P
P
P
L
L
P
L
L
L
P
L
L
P
L
L
P
L
L

Pendidikan
S1
SMA
S1
D3
S1
S1
S1
S1
S1
SMA
S1
S1
S1
SMA
SMA
D3
S1
S1
D3
SMA
S1
S1
S1
S1
S1
SMA
S1
S1
S1
SMA
S1
S1
D3
D3
S1
D3
SMA
S1
SMA
SMA
S1
D3

Jenis Usaha Bentuk Usaha


Jasa
PT
Dagang
CV
Jasa
PT
Jasa
CV
Dagang
CV
Dagang
CV
Jasa
CV
Jasa
CV
Dagang
PT
Dagang
CV
Dagang
CV
Dagang
CV
Manufaktur
CV
Jasa
Firma
Jasa
CV
Jasa
CV
Jasa
Firma
Jasa
PT
Jasa
CV
Jasa
CV
Jasa
UD
Dagang
CV
Jasa
PT
Dagang
Firma
Industri
CV
Dagang
PT
Industri
PT
Jasa
CV
Jasa
PT
Jasa
Firma
Dagang
CV
Dagang
PT
Dagang
PT
Manufaktur
CV
Dagang
PT
Jasa
CV
Dagang
CV
Dagang
CV
Jasa
PT
Jasa
CV
Dagang
UD
Jasa
CV

Omzet
Rp 4,8 M
Rp 4,8 M
Rp 4,8 M
Rp 4,8 M
Rp 4,8 M
Rp 4,8 M
Rp 4,8 M
Rp 4,8 M
Rp 4,8 M
Rp 4,8 M
Rp 4,8 M
Rp 4,8 M
Rp 4,8 M
Rp 4,8 M
Rp 4,8 M
Rp 4,8 M
Rp 4,8 M
Rp 4,8 M
Rp 4,8 M
Rp 4,8 M
Rp 4,8 M
Rp 4,8 M
Rp 4,8 M
Rp 4,8 M
Rp 4,8 M
Rp 4,8 M
Rp 4,8 M
Rp 4,8 M
Rp 4,8 M
Rp 4,8 M
Rp 4,8 M
Rp 4,8 M
Rp 4,8 M
Rp 4,8 M
Rp 4,8 M
Rp 4,8 M
Rp 4,8 M
Rp 4,8 M
Rp 4,8 M
Rp 4,8 M
Rp 4,8 M
Rp 4,8 M

Lama Usaha
> 8 th
> 8 th
> 4-8 th
> 4-8 th
2-4 th
2-4 th
2-4 th
> 8 th
2-4 th
< 2 th
> 4-8 th
> 8 th
2-4 th
> 8 th
> 8 th
> 8 th
2-4 th
< 2 th
2-4 th
> 8 th
> 8 th
2-4 th
2-4 th
> 4-8 th
> 8 th
> 4-8 th
> 8 th
> 8 th
> 8 th
2-4 th
> 8 th
> 8 th
> 8 th
2-4 th
> 4-8 th
< 2 th
< 2 th
> 4-8 th
< 2 th
> 8 th
> 4-8 th
> 4-8 th

43
44
45
46
47
48
49
50
51
52
53
54
55
56
57
58
59
60
61
62
63
64
65
66
67
68
69
70
71
72
73
74
75
76
77
78
79
80
81
82
83
84
85
86
87
88
89

30
34
28
37
62
22
19
31
33
44
35
42
25
32
34
29
28
24
41
46
38
24
31
30
33
40
36
42
28
43
22
44
23
29
37
43
23
27
30
27
29
22
25
44
38
53
34

P
P
P
L
P
P
P
P
L
L
P
L
P
L
L
L
L
L
L
P
L
P
P
L
P
L
P
L
L
L
L
L
L
P
L
L
P
P
L
L
P
L
L
P
P
L
L

SMA
D3
S1
S1
D3
S1
SMA
SMA
S1
SMA
S2
S1
S1
S1
S1
SMA
SMA
SMA
SMA
S1
S1
SMA
S1
S1
S1
SMA
S1
S1
SMA
D3
S1
S1
SMP
S1
SMA
S1
SMA
SMA
S1
S1
SMA
D3
D3
SMA
D3
SMA
S1

Industri
Dagang
Dagang
Dagang
Dagang
Jasa
Jasa
Manufaktur
Dagang
Jasa
Dagang
Jasa
Manufaktur
Jasa
Dagang
Jasa
Jasa
Manufaktur
Dagang
Jasa
Industri
Jasa
Jasa
Jasa
Dagang
Industri
Jasa
Jasa
Jasa
Jasa
Dagang
Dagang
Dagang
Jasa
Jasa
Jasa
Jasa
Jasa
Manufaktur
Jasa
Jasa
Dagang
Jasa
Manufaktur
Jasa
Jasa
Jasa

Firma
CV
CV
UD
UD
PT
CV
PT
CV
CV
CV
PT
Firma
CV
CV
CV
CV
CV
CV
CV
PT
CV
UD
CV
CV
Firma
PT
CV
CV
UD
UD
PT
UD
PT
UD
PT
Firma
CV
PT
PT
CV
UD
PT
PT
Firma
UD
PT

Rp 4,8 M
Rp 4,8 M
Rp 4,8 M
Rp 4,8 M
Rp 4,8 M
Rp 4,8 M
Rp 4,8 M
Rp 4,8 M
Rp 4,8 M
Rp 4,8 M
Rp 4,8 M
Rp 4,8 M
Rp 4,8 M
Rp 4,8 M
Rp 4,8 M
Rp 4,8 M
Rp 4,8 M
Rp 4,8 M
Rp 4,8 M
Rp 4,8 M
Rp 4,8 M
Rp 4,8 M
Rp 4,8 M
Rp 4,8 M
Rp 4,8 M
Rp 4,8 M
Rp 4,8 M
Rp 4,8 M
Rp 4,8 M
Rp 4,8 M
Rp 4,8 M
Rp 4,8 M
Rp 4,8 M
Rp 4,8 M
Rp 4,8 M
Rp 4,8 M
Rp 4,8 M
Rp 4,8 M
Rp 4,8 M
Rp 4,8 M
Rp 4,8 M
Rp 4,8 M
Rp 4,8 M
Rp 4,8 M
Rp 4,8 M
Rp 4,8 M
Rp 4,8 M

< 2 th
> 4-8 th
2-4 th
> 8 th
> 8 th
> 4-8 th
2-4 th
> 8 th
> 4-8 th
> 4-8 th
2-4 th
> 8 th
> 8 th
> 4-8 th
2-4 th
> 4-8 th
> 4-8 th
2-4 th
> 4-8 th
> 8 th
> 8 th
> 8 th
> 8 th
> 8 th
> 8 th
> 8 th
> 4-8 th
> 4-8 th
< 2 th
> 8 th
< 2 th
2-4 th
< 2 th
2-4 th
< 2 th
> 4-8 th
< 2 th
> 8 th
> 8 th
2-4 th
2-4 th
< 2 th
< 2 th
2-4 th
> 4-8 th
2-4 th
> 8 th

90
91
92
93
94
95
96
97
98
99
100

28
44
45
49
34
38
33
41
47
25
28

L
L
L
L
L
P
P
L
L
P
L

SMA
S1
S1
S1
S1
SMA
S1
S1
SMA
S2
D3

Dagang
Dagang
Jasa
Dagang
Jasa
Manufaktur
Dagang
Dagang
Dagang
Dagang
Dagang

PT
CV
PT
UD
CV
CV
CV
CV
UD
CV
UD

Rp 4,8 M
Rp 4,8 M
Rp 4,8 M
Rp 4,8 M
Rp 4,8 M
Rp 4,8 M
Rp 4,8 M
Rp 4,8 M
Rp 4,8 M
Rp 4,8 M
Rp 4,8 M

> 8 th
> 4-8 th
> 8 th
> 8 th
> 4-8 th
> 4-8 th
2-4 th
< 2 th
< 2 th
< 2 th
> 4-8 th

LAMPIRAN 4
Tabulasi Data
Profil
Responden Umur JK PT JU BU Omzet LU
1
42
1
5 3 3
1
4
2
40
1
3 2 2
1
4
3
31
2
5 3 3
1
3
4
23
2
4 3 2
1
3
5
35
1
5 2 2
1
2
6
26
2
5 2 2
1
2
7
38
1
5 3 2
1
2
8
29
1
5 3 2
1
4
9
34
1
5 2 3
1
2
10
46
2
3 2 2
1
1
11
40
1
5 2 2
1
3
12
60
1
5 2 2
1
4
13
25
1
5 4 2
1
2
14
42
2
3 3 3
1
4
15
22
2
3 3 2
1
4
16
24
1
4 3 2
1
4
17
45
2
5 3 3
1
2
18
31
1
5 3 3
1
1
19
36
2
4 3 2
1
2
20
40
1
3 3 2
1
4
21
51
1
5 3 1
1
4
22
50
2
5 2 2
1
2
23
31
2
5 3 3
1
2
24
43
1
5 2 3
1
3
25
33
2
5 1 2
1
4
26
26
2
3 2 3
1
3
27
33
2
5 1 3
1
4
28
45
1
5 3 2
1
4

Pengetahuan Pajak
P1 P2 P3 P4
3
2
2
2
2
3
3
3
3
3
3
3
2
3
3
3
3
3
3
3
3
3
2
3
4
3
3
3
3
2
2
2
3
3
3
3
4
4
4
4
4
3
3
3
4
3
3
3
3
3
2
2
3
3
2
4
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
2
2
4
3
3
3
3
3
3
4
4
4
3
3
3
3
2
2
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
2
2
2
2
4
4
4
3
3
2
2
2

Kemudahan Pajak
P5 P6
P7
2
3
2
3
4
2
3
3
3
3
3
3
3
2
2
3
2
2
3
4
3
3
3
2
3
3
2
3
3
2
2
3
3
3
3
2
2
3
3
2
2
2
2
2
2
3
3
3
3
3
2
2
3
3
3
3
2
2
4
3
3
3
2
3
3
2
2
3
2
3
3
2
3
3
2
2
2
2
4
4
4
2
2
2

P8
2
3
3
3
3
2
3
3
3
2
2
2
3
1
3
3
2
2
2
3
2
1
2
2
2
2
1
2

Keadilan Pajak
Kepatuhan Pajak
P 9 P 10 P 11 P 12 P 13 P 14 P15 P 16
2
1
2
3
3
3
3
3
3
3
2
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
4
4
3
2
3
4
3
4
2
2
2
3
3
3
3
3
2
2
1
3
3
3
3
3
4
2
2
2
4
4
4
4
3
3
2
3
4
3
2
4
3
3
3
3
3
2
3
3
2
2
2
3
3
3
3
4
2
4
3
3
4
4
3
3
3
2
3
2
4
4
4
4
3
2
3
3
3
3
3
3
2
2
3
2
3
3
2
4
3
3
2
2
3
3
2
4
3
3
3
3
3
3
3
3
2
3
4
3
3
3
3
3
3
1
2
3
3
3
3
3
2
3
3
3
3
3
3
3
4
2
3
3
3
3
3
4
3
2
2
3
4
4
4
3
2
3
2
3
4
4
4
4
2
2
3
3
3
3
3
3
2
2
2
3
4
4
4
3
2
3
2
3
3
3
3
3
2
3
3
2
3
3
2
3
1
2
4
2
4
4
4
4
2
2
2
2
3
3
3
2

29
30
31
32
33
34
35
36
37
38
39
40
41
42
43
44
45
46
47
48
49
50
51
52
53
54
55
56
57
58
59
60
61

63
32
32
22
52
28
42
40
27
41
36
27
45
27
30
34
28
37
62
22
19
31
33
44
35
42
25
32
34
29
28
24
41

1
2
1
1
1
2
1
1
2
1
1
2
1
1
2
2
2
1
2
2
2
2
1
1
2
1
2
1
1
1
1
1
1

5
3
5
5
4
4
5
4
3
5
3
3
5
4
3
4
5
5
3
5
3
3
5
3
6
5
5
5
5
3
3
3
3

3
3
2
2
2
4
2
3
2
2
3
3
2
3
1
2
2
2
2
3
3
4
2
3
2
3
4
3
2
3
3
4
2

3
3
2
3
3
2
3
2
2
2
3
2
1
2
3
2
2
1
1
3
2
3
2
2
2
3
3
2
2
2
2
2
2

1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1

4
2
4
4
4
2
3
1
1
3
1
4
3
3
1
3
2
4
4
3
2
4
3
3
2
4
4
3
2
3
3
2
3

3
3
3
4
3
3
2
1
3
4
3
3
3
3
3
4
3
3
4
4
4
3
3
4
2
4
4
4
4
3
3
3
3

3
2
3
3
3
3
3
2
3
3
3
3
3
3
3
3
1
3
3
3
4
2
3
2
4
2
4
4
3
3
3
3
3

3
3
3
3
3
3
3
2
3
3
3
3
3
3
2
3
2
3
2
4
3
3
3
2
3
4
4
4
3
3
3
3
3

2
3
3
4
3
2
3
2
3
2
4
3
2
3
3
3
2
3
4
4
3
3
3
2
3
4
2
4
3
3
3
3
4

3
3
3
4
2
2
3
1
3
2
3
2
3
3
3
3
3
3
3
3
3
2
3
2
3
3
3
2
3
3
3
3
2

2
3
3
2
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
1
3
4
3
3
3
3
3
3
2
2
2
4
3
3
3
3

2
3
4
2
2
2
2
1
3
3
4
2
3
3
2
3
1
2
3
3
2
3
3
3
1
2
3
1
3
4
3
3
3

2
3
3
3
3
2
3
3
3
2
4
1
3
3
3
3
1
2
3
3
3
3
3
2
1
4
3
2
4
3
3
2
3

2
2
4
2
3
2
3
3
3
2
4
2
2
3
3
3
1
2
3
3
3
2
2
2
1
3
3
2
3
3
3
2
4

3
2
2
2
3
2
1
4
3
2
3
4
2
3
2
2
2
3
2
3
3
3
2
2
3
2
3
3
4
4
3
3
3

3
2
4
4
3
3
3
4
3
2
4
3
3
3
3
3
2
2
3
3
2
3
3
2
3
3
3
2
4
4
3
3
4

3
3
2
4
2
3
3
3
2
2
3
4
2
3
3
3
4
3
3
3
2
2
2
3
4
3
3
1
3
3
2
3
3

3
3
4
3
3
3
3
3
3
4
3
3
3
3
3
3
3
3
4
3
4
3
3
4
4
3
3
3
3
4
3
3
3

3
3
2
4
3
3
3
3
3
4
4
3
3
3
3
3
3
3
2
3
4
3
3
4
4
3
3
3
3
3
3
3
3

3
3
2
4
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
2
3
3
3
4
3
3
4
4
3
3
1
3
4
3
3
3

3
3
3
4
2
3
2
3
3
4
4
3
3
3
3
2
3
4
4
4
4
3
3
4
4
4
3
2
3
3
3
3
3

62
63
64
65
66
67
68
69
70
71
72
73
74
75
76
77
78
79
80
81
82
83
84
85
86
87
88
89
90
91
92
93
94

46
38
24
31
30
33
40
36
42
28
43
22
44
23
29
37
43
23
27
30
27
29
22
25
44
38
53
34
28
44
45
49
34

2
1
2
2
1
2
1
2
1
1
1
1
1
1
2
5
1
1
2
2
1
1
2
1
1
2
2
1
1
1
1
1
1

5
5
3
5
5
5
3
5
5
3
4
5
5
2
5
4
5
3
3
5
5
3
4
4
3
4
3
5
3
5
5
5
5

3
1
3
3
3
2
1
3
3
3
3
2
2
2
3
3
3
3
3
4
3
3
2
3
4
3
3
3
2
2
3
2
3

2
3
2
1
2
2
3
3
2
2
1
1
3
1
3
1
3
3
2
3
3
2
1
3
3
3
1
3
3
2
3
1
2

1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1

4
4
4
4
4
4
4
3
3
1
4
2
2
1
2
1
3
1
4
4
2
2
1
1
2
3
2
4
4
3
4
4
3

3
4
2
3
3
4
2
4
3
3
2
2
4
3
3
1
3
2
4
4
4
3
3
3
3
3
3
3
3
3
4
2
4

3
4
2
3
3
3
2
3
3
3
4
3
4
3
3
1
3
2
3
4
4
3
3
3
3
3
3
1
3
2
3
1
4

2
4
2
3
3
3
3
3
2
3
4
1
4
3
3
1
3
2
3
4
3
3
3
3
3
3
3
3
3
2
3
2
4

2
4
3
3
3
4
3
3
3
3
4
1
4
3
3
2
3
2
3
4
4
4
3
3
3
3
3
3
2
2
3
2
4

3
3
2
3
3
4
2
3
2
3
3
1
3
3
3
2
3
2
3
4
3
3
3
3
3
3
4
3
2
2
3
1
3

3
4
3
3
3
3
3
3
3
3
3
1
3
3
3
2
3
3
3
4
4
3
3
4
3
4
4
4
2
2
3
2
2

2
2
2
1
2
2
3
3
1
3
2
1
3
3
3
3
2
3
2
4
3
4
3
2
3
2
4
4
3
2
1
1
2

2
3
2
2
3
3
3
3
2
3
2
1
3
3
3
2
2
2
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
2
2
1
2

2
2
2
3
3
2
3
3
2
3
2
2
3
3
3
3
2
3
3
3
3
3
3
2
3
3
4
3
3
2
3
1
3

2
2
3
3
1
2
2
2
2
2
3
1
3
3
2
3
2
3
3
3
2
4
3
4
3
3
3
3
2
3
3
1
2

2
2
3
3
3
3
3
3
2
2
2
1
4
3
3
4
2
3
3
4
3
3
3
3
3
3
3
3
3
2
3
1
2

3
4
3
3
2
3
3
3
2
2
3
3
2
3
3
4
3
2
3
4
3
3
2
3
3
2
3
3
3
3
3
2
3

4
4
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
4
3
3
4
4
3
4
4
4
3
3
4
3
3
3
3
3
3
4
4
4

4
4
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
4
3
3
4
4
3
4
4
4
3
3
3
3
3
3
3
3
3
4
4
4

3
2
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
4
3
3
3
3
3
4
4
3
3
3
3
3
3
3
3
3
2
4
4
4

4
4
3
3
3
3
3
3
3
3
3
3
4
3
3
2
3
3
4
4
4
3
3
3
3
3
3
3
3
3
4
3
4

95
96
97
98
99
100

38
33
41
47
25
28

2
2
1
1
2
1

3
5
5
3
6
4

4
2
2
2
2
2

2
2
2
1
2
1

1
1
1
1
1
1

3
2
1
1
1
3

3
3
3
3
3
3

2
2
1
3
3
3

3
3
3
3
3
3

3
3
1
3
3
3

3
3
1
2
3
4

3
3
1
3
3
3

3
3
1
2
2
4

3
3
2
3
3
3

2
3
2
3
2
4

4
3
1
3
3
4

3
3
2
3
3
3

2
2
3
3
3
3

3
3
3
3
3
3

3
3
3
3
3
4

3
3
3
3
3
4

3
3
2
2
3
3

19
22
22
22
22
22
23
23
23
24
24
24
25
25
25
25
26
26
27
27
27
27
27
28
28
28
28
28
28
29
29
29
29
30
30
30
31
31
31
31
31
32
32
32
33
33
33
33
33
34
34
34
34
34
35
35
36
36

36
37
37
38
38
38
38
40
40
40
40
40
41
41
41
42
42
42
42
42
43
43
43
44
44
44
44
45
45
45
45
46
46
47
49
50
51
52
53
60
62
63

LAMPIRAN 5
FREKUENSI DATA
Jenis kelamin
Frequency
Valid

Percent

Valid Percent

Cumulative
Percent

Laki-laki

60

60.0

60.0

60.0

Perempuan

40

40.0

40.0

100.0

100

100.0

100.0

Total

Pendidikan

Valid

2
3
4
5
6
Total

Frequency
1
30
14
53
2
100

Percent
1.0
30.0
14.0
53.0
2.0
100.0

Valid Percent
1.0
30.0
14.0
53.0
2.0
100.0

Cumulative
Percent
1.0
31.0
45.0
98.0
100.0

Jenis usaha

Valid

1
2
3
4
Total

Frequency
5
38
49
8
100

Percent
5.0
38.0
49.0
8.0
100.0

Valid Percent
5.0
38.0
49.0
8.0
100.0

Cumulative
Percent
5.0
43.0
92.0
100.0

BU
Frequency
Valid

Percent

Valid Percent

Cumulative
Percent

14

14.0

14.0

14.0

50

50.0

50.0

64.0
100.0

3
Total

36

36.0

36.0

100

100.0

100.0

LU

Frequency
Valid

Percent

Valid Percent

Cumulative
Percent

15

15.0

15.0

15.0

24

24.0

24.0

39.0

25

25.0

25.0

64.0

36

36.0

36.0

100.0

100

100.0

100.0

Total

Frequency Table
P1
Frequency
Valid

Percent

Valid Percent

Cumulative
Percent

2.0

2.0

2.0

11

11.0

11.0

13.0

60

60.0

60.0

73.0
100.0

4
Total

27

27.0

27.0

100

100.0

100.0

P2
Frequency
Valid

Percent

Valid Percent

Cumulative
Percent

5.0

5.0

5.0

15

15.0

15.0

20.0

67

67.0

67.0

87.0

13

13.0

13.0

100.0

100

100.0

100.0

Total

P3
Frequency
Valid

Percent

Valid Percent

Cumulative
Percent

2.0

2.0

2.0

20

20.0

20.0

22.0

67

67.0

67.0

89.0
100.0

4
Total

11

11.0

11.0

100

100.0

100.0

P4
Frequency
Valid

Percent

Valid Percent

Cumulative
Percent

2.0

2.0

2.0

21

21.0

21.0

23.0

59

59.0

59.0

82.0
100.0

4
Total

18

18.0

18.0

100

100.0

100.0

P5
Frequency
Valid

Percent

Valid Percent

Cumulative
Percent

4.0

4.0

4.0

26

26.0

26.0

30.0

64

64.0

64.0

94.0

6.0

6.0

100.0

100

100.0

100.0

Total

P6
Frequency
Valid

Percent

Valid Percent

Cumulative
Percent

3.0

3.0

3.0

16

16.0

16.0

19.0

68

68.0

68.0

87.0
100.0

4
Total

13

13.0

13.0

100

100.0

100.0

P7
Frequency
Valid

Percent

Valid Percent

Cumulative
Percent

10

10.0

10.0

10.0

43

43.0

43.0

53.0

38

38.0

38.0

91.0

9.0

9.0

100.0

100

100.0

100.0

Total

P8
Frequency
Valid

Percent

Valid Percent

Cumulative
Percent

8.0

8.0

8.0

33

33.0

33.0

41.0

56

56.0

56.0

97.0

3.0

3.0

100.0

100

100.0

100.0

Total

P9

Frequency
Valid

Percent

Valid Percent

Cumulative
Percent

4.0

4.0

4.0

40

40.0

40.0

44.0

48

48.0

48.0

92.0

8.0

8.0

100.0

100

100.0

100.0

Total

P10
Frequency
Valid

Percent

Valid Percent

Cumulative
Percent

7.0

7.0

7.0

38

38.0

38.0

45.0

45

45.0

45.0

90.0
100.0

4
Total

10

10.0

10.0

100

100.0

100.0

P11
Frequency
Valid

Percent

Valid Percent

Cumulative
Percent

3.0

3.0

3.0

29

29.0

29.0

32.0

56

56.0

56.0

88.0

12

12.0

12.0

100.0

100

100.0

100.0

Total

P12
Frequency
Valid

Percent

Valid Percent

Cumulative
Percent

1.0

1.0

1.0

27

27.0

27.0

28.0

65

65.0

65.0

93.0

7.0

7.0

100.0

100

100.0

100.0

Total

P13
Cumulative
Frequency
Valid

Percent

Valid Percent

Percent

73

73.0

73.0

73.0

27

27.0

27.0

100.0

100

100.0

100.0

Total

P14
Cumulative
Frequency
Valid

Percent

Valid Percent

Percent

3.0

3.0

3.0

71

71.0

71.0

74.0

26

26.0

26.0

100.0

100

100.0

100.0

Total

P15
Cumulative
Frequency
Valid

Percent

Valid Percent

Percent

1.0

1.0

1.0

8.0

8.0

9.0

73

73.0

73.0

82.0

18

18.0

18.0

100.0

100

100.0

100.0

Total

P16
Cumulative
Frequency
Valid

Percent

Valid Percent

Percent

8.0

8.0

8.0

64

64.0

64.0

72.0

28

28.0

28.0

100.0

100

100.0

100.0

Total

Descriptives
Descriptive Statistics
N

Minimum

Maximum

Mean

Std. Deviation

P1

100

3.12 .671

P2

100

2.88 .686

P3

100

2.87 .614

P4

100

2.93 .685

P5

100

2.72 .637

P6

100

2.91 .637

P7

100

2.46 .797

P8

100

2.54 .688

P9

100

2.60 .696

P10

100

2.58 .768

P11

100

2.77 .694

P12

100

2.78 .579

P13

100

3.27 .446

P14

100

3.23 .489

P15

100

3.08 .545

P16

100

3.20 .569

Valid N (listwise)

100

LAMPIRAN 6
HASIL UJI VALIDITAS DAN REABILITAS

Reliability
Scale: ALL VARIABLES
Case Processing Summary
N
Cases

Valid

%
100

Excluded

100.0

0 .0

Total

100

100.0

a. Listwise deletion based on all variables in the


procedure.

Reliability Statistics
Cronbach's
Alpha

N of Items

.798

Item-Total Statistics
Corrected

Cronbach's

Scale Mean if

Scale Variance

Item-Total

Alpha if Item

Item Deleted

if Item Deleted

Correlation

Deleted

P1

8.68

2.765 .533

.786

P2

8.92

2.579 .615

.746

P3

8.93

2.631 .701

.708

P4

8.87

2.599 .604

.751

RELIABILITY
/VARIABLES=P5 P6 P7
/SCALE('ALL VARIABLES') ALL
/MODEL=ALPHA
/SUMMARY=TOTAL.

Reliability
Scale: ALL VARIABLES
Case Processing Summary
N
Cases

Valid

%
100

Excluded

100.0

0 .0

Total

100

100.0

a. Listwise deletion based on all variables in the


procedure.

Reliability Statistics
Cronbach's
Alpha

N of Items

.668

Item-Total Statistics
Corrected

Cronbach's

Scale Mean if

Scale Variance

Item-Total

Alpha if Item

Item Deleted

if Item Deleted

Correlation

Deleted

P5

5.37

1.488 .460

.601

P6

5.18

1.422 .513

.537

P7

5.63

1.145 .486

.582

RELIABILITY
/VARIABLES=P8 P9 P10 P11 P12
/SCALE('ALL VARIABLES') ALL
/MODEL=ALPHA
/SUMMARY=TOTAL.

Reliability
Scale: ALL VARIABLES
Case Processing Summary
N
Cases

Valid

%
100

Excluded

100.0

0 .0

Total

100

100.0

a. Listwise deletion based on all variables in the


procedure.

Reliability Statistics
Cronbach's
Alpha

N of Items

.614

Item-Total Statistics
Corrected

Cronbach's

Scale Mean if

Scale Variance

Item-Total

Alpha if Item

Item Deleted

if Item Deleted

Correlation

Deleted

P8

10.73

2.967 .508

.483

P9

10.67

3.011 .475

.501

P10

10.69

3.105 .351

.571

P11

10.50

2.879 .545

.461

P12

10.49

4.333

RELIABILITY
/VARIABLES=P13 P14 P15 P16
/SCALE('ALL VARIABLES') ALL
/MODEL=ALPHA
/SUMMARY=TOTAL.

-.010 .709

Reliability
Scale: ALL VARIABLES

Case Processing Summary


N
Cases

Valid

%
100

Excluded

100.0

0 .0

Total

100

100.0

a. Listwise deletion based on all variables in the


procedure.

Reliability Statistics
Cronbach's
Alpha

N of Items

.777

Item-Total Statistics
Corrected

Cronbach's

Scale Mean if

Scale Variance

Item-Total

Alpha if Item

Item Deleted

if Item Deleted

Correlation

Deleted

P13

9.51

1.606 .647

.697

P14

9.55

1.462 .706

.660

P15

9.70

1.525 .532

.751

P16

9.58

1.539 .478

.783

LAMPIRAN 7
HASIL UJI REGRESI BERGANDA

Regression
[DataSet1]

Variables Entered/Removed
Model
1

Variables
Entered

Variables
Removed

Keadilan pajak,
Pengetahuan
pajak,
Kemudahan
a
pajak

Method

Enter

a. All requested variables entered.


b. Dependent Variable: Kepatuhan pajak
b

Model Summary
Model
R
1

.377

Adjusted R

Std. Error of the

Square

Estimate

R Square
.142

.115

.37454

a. Predictors: (Constant), Keadilan pajak, Pengetahuan pajak,


Kemudahan pajak
b. Dependent Variable: Kepatuhan pajak

ANOVA
Model
1

Sum of Squares
Regression

df

Mean Square

2.231

3 .744

Residual

13.467

96 .140

Total

15.697

99

Sig.

5.301 .002

a. Predictors: (Constant), Keadilan pajak, Pengetahuan pajak, Kemudahan pajak


b. Dependent Variable: Kepatuhan pajak

Coefficients

Model
Unstandardized Coefficients
B
1

(Constant)

Standardized
Coefficients

Std. Error

Beta

2.718 .283

Pengetahuan pajak

.179

Kemudahan pajak

.195

Keadilan pajak

Sig.

9.594 .000

.082

.236

.094

.263

2.188 .031
2.072 .041

-.217 .106

-.235

-2.048 .043

a. Dependent Variable: Kepatuhan pajak

Coefficients
Model

Collinearity Statistics
Tolerance

VIF

(Constant)
Pengetahuan pajak

.767

1.304

Kemudahan pajak

.555

1.803

Keadilan pajak

.677

1.477

a. Dependent Variable: Kepatuhan pajak


a

Residuals Statistics
Minimum
Predicted Value

2.6173

Std. Predicted Value


Standard Error of Predicted

Maximum
3.7342

-3.849
.041

Mean

Std. Deviation

3.1950 .15011

3.592 .000
.165

100
1.000

.070

.028

100
100

Value
Adjusted Predicted Value
Residual

2.5295

3.6699

-1.07502 .85365

3.1921 .15865
.00000

Std. Residual

-2.870

2.279 .000

Stud. Residual

-3.134

2.318 .004

Deleted Residual

-1.28176 .88329

Stud. Deleted Residual

-3.291

.36882

100

.985

100
1.014

.00295

.39194

2.374 .007
2.970

100
100

1.027

100

3.681

100

Mahal. Distance

.183

Cook's Distance

.000

.472

.016

.053

100

Centered Leverage Value

.002

.185

.030

.037

100

a. Dependent Variable: Kepatuhan pajak

18.290

100

Charts

Nonparametric Correlations
[DataSet1] E:\Project\Akuntansi\Nur Aini.sav
Correlations
Unstandardized
Residual
Spearman's rho

Unstandardized Residual

Correlation Coefficient
Sig. (2-tailed)

1.000 .037
.

N
Pengetahuan pajak

Correlation Coefficient

.037

Sig. (2-tailed)

.713

.
100
**

-.101 .394
.319

N
Keadilan pajak

100
1.000

100

Correlation Coefficient
Sig. (2-tailed)

.713
100

N
Kemudahan pajak

Pengetahuan
pajak

.000
100

100
**

Correlation Coefficient

.044

.269

Sig. (2-tailed)

.667

.007

N
**. Correlation is significant at the 0.01 level (2-tailed).

100

100

Correlations
Kemudahan
pajak
Spearman's rho

Unstandardized Residual

Correlation Coefficient
Sig. (2-tailed)

.319

N
Pengetahuan pajak

**

Correlation Coefficient

.394

Sig. (2-tailed)

.000

.000

Chi-Square Test

Frequencies
Test Statistics
Unstandardized
Residual
Chi-square

32,840

df
Asymp. Sig.

81
1,000

a. 82 cells (100,0%) have


expected frequencies less than
5. The minimum expected cell
frequency is 1,2.

100

100

**

.516

Sig. (2-tailed)

.000

**. Correlation is significant at the 0.01 level (2-tailed).

100
**

Correlation Coefficient
N

.007
1.000 .516

N
Keadilan pajak

100
**

.269
100

Correlation Coefficient
Sig. (2-tailed)

.667
100

N
Kemudahan pajak

Keadilan pajak

-.101 .044

1.000
.
100

100