Anda di halaman 1dari 11

Jumat, 04 November 2011

Askep Gagal Nafas Akut


LAPORAN PENDAHULUAN ASUHAN KEPERAWATAN
PADA PASIEN GAGAL NAFAS AKUT (DEWASA)
A. KONSEP DASAR MEDIS
I.

II.

PENGERTIAN
Gagal nafas adalah pertukaran gas yang tidak adekuat sehingga terjadi hipoksemia,
hiperkapnea (peningkatan konsentrasi karbondioksida arteri), dan asidosis.
Gagal nafas akut adalah gagal nafas yang timbul pada klien yang parunya normal
secara structural maupun fungsional sebelum awitan penyakit timbul.
PENYEBAB / ETIOLOGI

1. Depresi sistem saraf pusat


Mengakibatkan gagal nafas karena ventilasi tidak adekuat. Pusat pernafasan yang
mengendalikan pernapasan, terletak dibawah batang otak (pons dan medulla)
sehingga pernafasan lambat dan dangkal.
2. Kelainan neurologis primer
Akan memperngaruhi fungsi pernapasan. Impuls yang timbul dalam pusat
pernafasan menjalar melalui saraf yang membentang dari batang otak terus ke saraf
spinal ke reseptor pada otot-otot pernafasan. Penyakit pada saraf seperti gangguan
medulla spinalis, otot-otot pernapasan atau pertemuan neuromuslular yang terjadi
pada pernapasan akan sangat mempengaruhi ventilasi.
3. Efusi pleura, hemotoraks dan pneumothoraks
Merupakan kondisi yang mengganggu ventilasi melalui penghambatan ekspansi
paru. Kondisi ini biasanya diakibatkan penyakti paru yang mendasari, penyakit
pleura atau trauma dan cedera dan dapat menyebabkan gagal nafas.
4. Trauma
Disebabkan oleh kendaraan bermotor dapat menjadi penyebab gagal nafas.
Kecelakaan yang mengakibatkan cidera kepala, ketidaksadaran dan perdarahan dari
hidung dan mulut dapat mengarah pada obstruksi jalan nafas atas dan depresi
pernapasan. Hemothoraks, pnemothoraks dan fraktur tulang iga dapat terjadi dan
mungkin meyebabkan gagal nafas. Flail chest dapat terjadi dan dapat mengarah pada
gagal nafas. Pengobatannya adalah untuk memperbaiki patologi yang mendasar
5. Penyakit akut paru
Pnemonia disebabkan oleh bakteri dan virus. Pnemonia kimiawi atau pnemonia
diakibatkan oleh mengaspirasi uap yang mengritasi dan materi lambung yang
bersifat asam. Asma bronkial, atelektasis, embolisme paru dan edema paru adalah
beberapa kondisi lain yang menyababkan gagal nafas.
III.

PATOFISIOLOGI

Gagal nafas ada dua macam yaitu gagal nafas akut dan gagal nafas kronik dimana
masing masing mempunyai pengertian yang berbeda. Gagal nafas akut adalah gagal
nafas yang timbul pada pasien yang parunyanormal secara struktural maupun
fungsional sebelum awitan penyakit timbul. Sedangkan gagal nafas kronik adalah
terjadi pada pasien dengan penyakit paru kronik seperti bronkitis kronik, emfisema
dan penyakit paru hitam (penyakit penambang batubara).Pasien mengalalmi toleransi
terhadap hipoksia dan hiperkapnia yang memburuk secara bertahap. Setelah gagal
nafas akut biasanya paru-paru kembali kekeasaan asalnya. Pada gagal nafas kronik
struktur
paru
alami
kerusakan
yang
ireversibel.
Indikator gagal nafas telah frekuensi pernafasan dan kapasitas vital, frekuensi
penapasan normal ialah 16-20 x/mnt. Bila lebih dari20x/mnt tindakan yang
dilakukan memberi bantuan ventilator karena kerja pernafasan menjadi tinggi
sehingga timbul kelelahan. Kapasitasvital adalah ukuran ventilasi (normal 10-20
ml/kg).
Gagal nafas penyebab terpenting adalah ventilasi yang tidak adekuatdimana terjadi
obstruksi jalan nafas atas. Pusat pernafasan yang mengendalikan pernapasan terletak
di bawah batang otak (pons dan medulla). Pada kasus pasien dengan anestesi, cidera
kepala, stroke, tumor otak, ensefalitis, meningitis, hipoksia dan hiperkapnia
mempunyai kemampuan menekan pusat pernafasan. Sehingga pernafasan menjadi
lambat dan dangkal. Pada periode postoperatif dengan anestesi bisa terjadi
pernafasan tidak adekuat karena terdapat agen menekan pernafasan dengan efek
yang dikeluarkan atau dengan meningkatkan efek dari analgetik opiood. Pnemonia
atau dengan penyakit paru-paru dapat mengarah ke gagal nafas akut.

IV.

GEJALA KLINIS
Gejala klinis dari gagal nafas adalah nonspesifik dan mungkin minimal, walaupun
terjadi hipoksemia, hiperkarbia dan asidemia yang berat. Tanda utama dari kecapaian
pernafasan adalah penggunaan otot bantu nafas, takipnea, takikardia, menurunnya
tidal volume, pola nafas ireguler atau terengah-engah (gasping) dan gerakan
abdomen yang paradoksal.
Hipoksemia akut dapat menyebabkan berbagai masalah termasuk aritmia jantung
dan koma. Terdapat gangguan kesadaran berupa konfusi. PaO2 rendah yang kronis
dapat ditoleransi oleh penderita yang mempunyai cadangan kerja jantung yang
adekuat. Hipoksia alveolar (PAO2< 60 mmHg) dapat menyebabkan vaso konstriksi
arteriolar paru dan meningkatnya resistensi vaskuler paru dalam beberapa minggu
sampai berbulan-bulan, menyebabkan hipertensi pulmonal, hipertrofi jantung kanan
(kor pulmonale) dan pada akhirnya gagal jantung kanan.

Hiperkapnia dapat menyebabkan asidemia. Menurunnya pH otak yang akut


meningkatkan drive ventilasi. Dengan berjalannya waktu, kapasitas bufer di
otak meningkat, dan akhirnya terjadi penumpulan terhadap rangsangan turunnya pH
di otak dengan akibatnyadrive tersebut akan menurun. Efek hiperkapnia akut kurang
dapat ditoleransi daripada yang kronis, yaitu berupa gangguan sensorium dan
gangguan personalia yang ringan, nyeri kepala, sampai konfusi dan narkosis.
Hiperkapnia juga menyebabkan dilatasi pembuluh darah otak dan peningkatan
tekanan intrakranial.Asidemia yang terjadi bila hebat (pH< 7,3) menyebabkan
vasokonstriksi arteriolar paru, dilatasi vaskuler sistemik, kontraktilitas miokard
menurun, hiperkalemia, hipotensi dan kepekaan jantung meningkat sehingga dapat
terjadi aritmia yang mengancam nyawa.
V.

VI.

PEMERIKSAAN FISIK
Inspeksi
Kesulitan bernafas tampak dalam perubahan irama dan frekwensi pernafasan.
Penyakit akut paru sering menunjukan frekwensi pernafasan lebih dari 20 kali/menit.
Palpasi
Perawat harus memperhatikan adanya pelebaran ICS dan penurunan taktil fremitus
yang menjadi penyebab utama gagal nafas.
Perkusi
Dapat ditemukan daerah redup, daerah dengan suara nafas melemah yang
disebabkan oleh penebalan pleura, efusi pleura yang cukup banyak, hipersonor bila
didapatkan pneumotorak atau emfisema paru.
Auskultasi
Auskultasi dilakukan untuk menilai apakah ada bunyi nafas tambahan seperti
wheezing dan ronkhi serta untuk menentukan dengan tepat lokasi yang didapat dari
kelainan yang ada.
PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK

Analisa Gas Darah Arteri


Pemeriksaan gas darah arteri penting untuk menentukan adanya asidosis respiratorik
dan alkalosis respiratorik, serta untuk mengetahui apakah klien mengalami asidosis
metabolik, alkalosis metabolik, atau keduanya pada klien yang sudah lama
mengalami gagal napas. Selain itu, pemeriksaan ini juga sangat penting untuk
mengetahui oksigenasi serta evaluasi kemajuan terapi atau pengobatan yang
diberikan terhadap klien.
Radiologi
Berdasarkan pada foto thoraks PA/AP dan lateral serta fluoroskopi akan banyak data
yang diperoleh seperti terjadinya hiperinflasi, pneumothoraks, efusi pleura,
hidropneumothoraks, sembab paru, dan tumor paru.
Pengukuran Fugnsi Paru

Penggunaan spirometer dapat membuat kita mengetahui ada tidaknya gangguan


obstruksi dan restriksi paru. Nilai normal atau FEV1 > 83% prediksi. Ada obstruksi
bila FEV1 < 70% dan FEV1/FVC lebih rendah dari nilai normal. Jika FEV1 normal,
tetapi FEV1/FVC sama atau lebih besar dari nilai normal, keadaan ini menunjukkan
ada restriksi.
Elektrokardiogram (EKG)
Adanya hipertensi pulmonal dapat dilihat pada EKG yang ditandai dengan
perubahan gelombang P meninggi di sadapan II, III dan aVF, serta jantung yang
mengalami hipertrofi ventrikel kanan. Iskemia dan aritmia jantung sering dijumpai
pada gangguan ventilasi dan oksigenasi.

Pemeriksaan Sputum
Yang perlu diperhatikan ialah warna, bau, dan kekentalan. Jika perlu lakukan kultur
dan uji kepekaan terhadap kuman penyebab. Jika dijumpai ada garis-garis darah pada
sputum (blood streaked), kemungkinan disebabkan oleh bronkhitis, bronkhiektasis,
pneumonia, TB paru, dan keganasan. Sputum yang berwarna merah jambu dan
berbuih (pink frothy), kemungkinan disebabkan edema paru. Untuk sputum yang
mengandung banyak sekali darah (grossy bloody), lebih sering merupakan tanda dari
TB paru atau adanya keganasan paru.

VII.

PENATALAKSANAAN MEDIS
Antibiotik
Pemberian antibiotik diberikan sebaiknya setelah diperoleh hasil kultur dan uji
kepekaan terhadap kuman penyebab.
Terapi oksigen
Pemberian oksigen kecepatan rendah : masker Venturi atau nasal prong
Ventilator mekanik dengan tekanan jalan nafas positif kontinu (CPAP) atau PEEP
Inhalasi nebulizer
Fisioterapi dada
Pemantauan hemodinamik/jantung
Pengobatan
1. Brokodilator
Untuk klien sesak nafas dapat diberikan bronkkodilator alanal sesui dengan factor
penyebab penyakit.
Ada dua golongan bronkodilator yang sering digunakan yaitu golongan simpatetik
dan derivate santin.
2. Steroid
Dukungan nutrisi sesuai kebutuhan

I.

II. KONSEP DASAR ASUHAN KEPERAWATAN


PENGKAJIAN

Aktivitas / Istirahat
Gejala : kekurangan energy, insomnia
Sirkulasi
Gejala : riwayat adanya bedah jantung paru, fenomena embolik (darah, udara, lemak)
Tanda :
a. TD : dapat normal atau meningkat pada awal (berlangjut menjadi hipoksia) ;
hipotensi terjadi pada tahap lanjut (syok) atau dapat factor pencetus seperti pada
eklampsia.
b. Frekuensi jantung : takikardi biasanya ada
c. Bunyi jantung : normal pada tahap dini ; S2 (komponen paru) dapat terjadi
Integritas Ego
Gejala : ketakutan, ancaman perasaan takut
Tanda : gelisah, agitasi, gemetar, mudah terangsang, perubahan mental
Makanan / cairan
Gejala : kehilangan selera makan, mual
Tanda : edema atau perubahan berat badan, hilang atau berkurangnya bunyi usus
Neurosensori
Gejala/tanda : adanya trauma kepala, mental lamban, disfungsi motor.
Pernafasan
Gejala : adanya aspirasi atau tenggelam, inhalasi asap atau gas, infeksi difus paru.
Timbul tiba tiba atau bertahap, kesulitan nafas, lapar udara.
Tanda:
a. Pernafasan : cepat, mendengkur, dangkal.
b. Bunyi nafas : pada awal normal, ronki, dan dapat terjadi bunyi nafas bronchial.
II.
1.
2.
3.

4.
5.

DIAGNOSA KEPERAWATAN
Ketidakefektifan bersihan jalan nafas berhubungan dengan penurunan kemampuan
batuk efektif ditandai dengan perubahan dalam frekuensi dan kedalaman pernafasan.
Ketidakefektifan pola nafas berhubungan dengan ventilasi tidak adekuat ditandai
dengan perubahan dalam frekuensi dan kedalaman pernafasan.
Kerusakan pertukaran gas berhubungan dengan ventilasi yang tidak adekuat ditandai
dengan ketidakcocokan ventilasi atau ferfusi dengan peningkatan ruang mati dan
pirau intrapulmonal.
Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan mual,
muntah ditandai dengan intake nutrisi yang tidak adekuat.
Ansietas berhubungan dengan factor psikologis ditandai dengan ketakutan, gelisah.

6. Kurang pengetahuan berhubungan dengan kurangnya informasi ditandai dengan


pasien tidak mengetahui tentang penyakitnya.

III. INTERVENSI KEPERAWATAN


N Dx Tujuan dan kriteria hasil
Intervensi
Rasional
o
1. 1 Setelah
dilakukanMandiri :
Mandiri :
tindakan
keperawatan
1.Catat upaya dan pola
1. Penggunaan
otot
selama . x 24 jambernafas.
interkostal/abdominal
dan
diharapkan
2.Observasi penurunanpelebaran nasal menunjukkan
ketidakefektifan bersihanekspansi
dindingpeningkatan upaya bernafas.
jalan nafas bisa teratasidada dan adnya
2. Ekspansi dada terbatas atau
dengan kriteria hasil :
peningkatan
tak sama sehubungan dengan
Mempertahankan
jalanfremitus.
akumulasi cairan,edema, dan
nafas
pasien
dengan
3.Pertahankan posisisecret dalam seksi lobus.
bunyi nafas bersih/tidaktubuh/kepala tepatKonsolidasi
paru
dan
ronki.
dan gunakan alatpengisian
cairan
dapat
Menunjukkan
perilakujalan nafas sesuaimeningkatkan fremitus.
untuk
kebutuhan.
3. Memudahkan
memelihara
memperbaiki/mempertaha
4.Bantu
denganjalan nafas atas paten bila
nkan bersihan jalan nafas. batuk/nafas dalam,jalan nafas pasien dipengaruhi
ubah posisi danmisalnya gangguan tingkat
penghisapan sesuaikesadaran, sedasi dan trauma
indikasi.
maksilofasial.
4. Pengumpulan
sekresi
Kolaborasi :
mengganggu ventilasi atau
1. Berikan
oksigenedema paru dan bila pasien
lembab
tidak diintubasi, peningkatan
2. Berikan
terapicairan
oral
dapat
aerosol,
nebulisermengencerkan/ meningkatkan
ultrasonic
pengeluaran.
3. Bantu
dengan
memberikan
Kolaborasi :
fisioterapi
dada, Kelembaban menghilangkan
contoh
drainasedan memobilisasi secret dan
postural
meningkatkan
tranpor
oksigen.
Pengobatan dibuat untuk
mengirimkan
oksigen/bronkodilatasi/kelem
baban dengan kuat pada
alceoli
dan
untuk
memobilisasi secret.
Meninhkatkan

2.

3.

drainase/eliminasi secret paru


kedalam sentral bronkus,
dimana dapat lebih siap
dibatukkan
atau
dihisap
keluar.
2 Setelah
dilakukanMandiri :
Mandiri :
tindakan
keperawatan
1. Kaji
frekuensi, Kedalaman
pernafasan
selama .x 24 jamkedalaman
bervariasi tergantung derajat
diharapkan
pernafasan
dangagal nafas.
ketidakefektifan
polaekspansi dada. Catat Duduk tinggi memungkinkan
nafas teratasi denganupaya pernafasan,ekspansi
paru
dan
kriteria hasil :
termasuk
memudahkan pernafasan.
Menunjukkan pola nafaspenggunaan
otot Kongesti
alveolar
efektif dengan frekuensibantu/pelebaran
mengakibatkan
batuk
dan kedalaman dalamnafas.
kering/iritasi.
rentang normal dan paru
2. Tinggikan
kepala
jelas/bersih.
dan bantu mengubah
Berpartisipasi
dalamposisi. BangunkanKolaborasi :
aktivitas/perilaku
pasien turun tempat Memaksimalkan
bernafas
meningkatkan
fungsitidur dan ambulasidan menurunkan kerja nafas.
paru.
sesegera mungkin. Memberikan
kelembaban
3. Observasi
polapada membrane mukosa dan
batuk dan karaktermembantu pengenceran secret
secret.
untuk
memudahkan
pembersihan.
Kolaborasi :
Kadang
berguna
untuk
Berikan
oksigenmembuang bekuan darah dan
tambahan
membersihkan jalan nafas.
Berikan
humidifikasi
tambahan , mis.
Nebuliser ultrasonic
Siapkan untuk bantu
bronkoskopi
3 Setelah
dilakukanMandiri :
Mandiri :
tindakan
keperawatan
1. Kaji
frekuensi,
1. Berguna
dalam
evaluasi
selama
.x24
jamkedalaman
derajat distress pernafasan
diharapkan
kerusakanpernafasan.
Catatdan atau kronisnya proses
pertukaran gas dapatpenggunaan
penyakit.
teratasi dengan kriteriaaksesori, bafas bibir,
2. Pengiriman oksigen dapat
hasil :
ketidakmampuan
diperbaiki dengan posisi
menunjukkan perbaikanbicara / berbincang. duduk tinggi dan latihan nafas
ventilasi dan oksigenasi
2. Tinggikan
kepalauntuk menurunkan kolaps
jaringan dengan GDAtempat tidur, bantujalan nafas, dispnea, dan kerja
dalam rentang normal danpasien
untuknafas.

4.

tak ada gejala distressmemilih posisi yang


3. Kental, tebal dan banyaknya
pernafasan.
mudah
untuksekresi adalah sumber utama
Berpartisipasi
padabernafas.
gangguan pertukaran gas pada
tindakan
untuk
3. Dorong
jalan nafas kecil.
memaksimalkan
mengeluarkan
4. Bunyi nafas mungkin redup
oksigenasi
sputum
;karena penurunan aliran udara
penghisapan
bilaatau area konsolidasi. Adanya
diindikasikan.
mengi
mengidentifikasikan
4. Auskultasi
bunyispasme bronkus/tertahannya
nafas; catat areasecret.
penurunan
aliran
5. Gelisah dan ansietas adalah
udara dan atau bunyimanifestasi
umum
pada
tambahan.
hipoksia.
5. Awasi
tingkat
6. Selama distress pernafasan
kesadaran/status
berat/akut/refraktori
pasien
mental.
secara total tak mampu
6. Evaluasi
tingkatmelakukan aktivitas sehariintoleransi aktivitas.hari karena hipoksemia dan
Berikan lingkungandispnea.
tenang dan kalem. Kolaborasi :
Kolaborasi :
Dapat memperbaiki atau
Berikan
oksigenmencegah
memburuknya
tambahan
yanghipoksia.
sesuai
dengan
indikasi hasil GDA
dan toleransi pasien.
4 Setelah
dilakukanMandiri :
Mandiri :
tindakan
keperawatan
1. Kaji kebiasaan diet,
1.Pasien distress pernafasan
selama .x 24 jammasukan makananakut sering anoreksia karena
diharapkan
kebutuhansaat
ini.
Catatdispnea, produksi sputum dan
nutrisi klien terpenuhiderajat
kesulitanobat.
dengan kriteria hasil :
makan.
Evaluasi
2.Dapat menghasilkan distensi
1. Menunjukkan
berat badan danabdomen yang menganggu
peningkatan berat badanukuran tubuh.
nafas abdomen dan gerakan
menuju tujuan yang tepat.
2. Hindari
makanandiafragma,
dan
dapat
2. Menunjukkan
penghasil gas danmeningkatkan dipsnea.
perilaku/perubahan polaminuman karbonat.3.Suhu
ekstrem
dapat
hidup
untuk
3. Hindari
makananmeningkatkan spasme batuk.
meningkatkan dan atauyang sangat panas
4.Berguna untuk menentukan
mempertahankan
beratatau yang sangatkebutuhan kalori, menyusun
badan yang tepat.
dingin.
tujuan berat badan dan
4. Timbang
beratevaluasi keadekuatan rencana
badan
sesuainutrisi.
indikasi
Kolaborasi :

Kolaborasi :
1.Metode dan kebutuhan kalori
Konsul ahli gizididasarkan pada situasi /
untuk memberikankebutuhan individu untuk
makanan
yangmemberikan nutrisi maksimal
mudah
dicerna,dengan
upaya
minimal
secara
nutrisipasien/penggunaan energy.
seimbang
2.Menurunkan dispnea dan
Berikan
oksigenmeningkatkan energy untuk
tambahan
sekamamakan
meningkatkan
makan
sesuaimasukan.
indikasi.
5.

6.

5 Setelah
dilakukanMandiri :
Mandiri :
tindakan
keperawatan Observasi tingkat
1. Memburuknya
hipoksemia
selama ..x 24 jamkegagalan
dapat menyebabkan atau
diharapkan rasa cemaspernafasan, agitasi,meningkatkan ansietas.
klien teratasi dengangelisal, emosi labil.
2. Menurunkan ansietas dengan
kriteria hasil :
Pertahankan
meningkatkan relaksasi dan
Tampak
rilekaslingkungan tenangpenghematan energy.
melaporkan
ansietasdengan
sedikit
3. Memberikan
kesempatan
menurun sampai tingkatrangsang.
untuk
pasien
menangani
dapat ditangani.
Tunjukkan/bantu ansietasnya
sendiri
dan
Menunjukkan pemecahanteknik
relaksasi,merasa terkontrol.
masalah dan penggunaanmeditasi, bimbingan
4. Membantu
pengenalan
sumber efektif.
imajinasi.
ansietas dan mengidentifikasi
Identifikasikan
tindakan
yang
dapat
persepsi
pasienmembantu untuk individu.
terhadap ancaman
5. Meningkatkan
penurunan
yang
ada
olehansietas melihat orang lain
situasi.
tetap tenang.
Bantu
orang
terdekat
untuk
berespon
positif
pada pasien atau
situasi.
6 Setelah
dilakukan
1. Jelaskan / kuatkan
1. Menurunkan ansietas dan
tindakan
keperawatnpenjelasan
prosesdapat menimbulkan perbaikan
selama x 24 jampenyakit individu.partisipasi
pada
rencana
diharapkan
kurangDorong pasien /pengobatan.
pengetahuan pasien dapatorang terdekat untuk
2. Nafas bibir dan nafas
teratasi dengan kriteriamenanyakan
abdominal menguatkan otot
hasil :
pertanyaan.
pernafasan. Latihan kondisi
Menyatakan pemahaman
2. Instruksikan/kuatka umum meningkatkan toleransi
kondisi, proses penyakitn rasional untukaktivitas, kekuatan otot dan
dan pengobatan.
latihan nafas, batukrasa sehat.

Melakukan
perubahanefektif, dan latihan
3. Pasien ini sering mendapat
pola
hidup
dankondisi umum.
obat
pernafasan
banyak
berpartisipasi
dalam
3. Diskusikan
obatsekaligus yang mempunyai
program pengobatan.
pernafasan,
efekefek samping hampir sama
samping,dan reaksidan potensial interaksi obat.
yang
tidakPenting bagi pasien untuk
diinginkan.
mengetahui efek samping
Berikan informasimengganggu
dan
efek
tentang pembatasansamping merugikan.
aktivitas
dan Mempunyai pengetahuan ini
aktiviras
pilihandapat memampukan pasien
dengan
periodeuntuk membuat pilihan /
istirahat
untukkeputusan informasi untuk
mencegah
menurunkan
dispnea,
kelamahan.
memaksimalkan
tingkat
aktivitas, melakukan aktivitas
yang
diinginkan,
dan
mencegah komplikasi.
IV. IMPLEMENTASI KEPERAWATAN
Sesuai dengan intervensi
V. EVALUASI
1. Ketidakefektifan bersihan jalan nafas teratasi
2. Ketidakefektifan pola nafas teratasi
3. Kerusakan pertukaran gas teratasi
4. Kebutuhan nutrisi klien terpenuhi
5. Rasa cemas klien berkurang / teratasi
6. Klien mengetahui informasi mengenai penyakitnya

DAFTAR PUSTAKA
Brunner & Suddart.2002.Buku Ajar Keperawatan Medikal-Bedah Edisi 8
vol.1.Jakarta:Penerbit Buku Kedokteran EGC.

Doenges,Marilyn.dkk.2000.Rencana Asuhan Keperawatan.Jakarta:Penerbit Buku


Kedokteran EGC.
Muttaqin, Arif.2008. Asuhan Keperawatan Klien dengan Gangguan Sistem
Penafasan. Jakarta : Salemba Medika.

Price, Sylvia A dan Wilson, Lorraine M. 2006. Patofisiologi Konsep Klinis ProsesProses Penyakit. Edisi 6. Jakarta : Penerbit Buku Kedokteran EGC.
Santosa,Budi,2005.Panduan Diagnosa Keperawatan Nanda.Prima Medika.
http://www.trinoval.web.id/2009/04/askep-gagal-nafas.html

Anda mungkin juga menyukai