Anda di halaman 1dari 16

BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Penyakit pada hewan disebabkan oleh berbagai faktor yang cukup kompleks,
mulai dari diri hewan itu sendiri sampai hal yang ada di luar hewan tersebut. Salah
satu penggolongan penyakit hewan adalah berdasarkan agen penyebab/etiologi, yaitu
etiologi infeksius dan non-infeksius. Penyakit infeksius adalah penyakit yang
etiologinya adalah mikrorganisme, yang menyebabkan sakit dengan cara menginfeksi
hewan, sedangkan penyakit non-infeksius adalah penyakit yang etiologinya bukan
mikroorganisme, misalnya akibat abnormalitas fungsi tubuh, kelainan metabolisme,
defisiensi nutrisi, penyakit maternal, dan lain-lain.
Mikroorganisme yang dapat menyebabkan penyakit infeksius adalah bakteri,
virus, fungi, parasit, dan amoeba. Semua agen penyakit tersebut memiliki peran yang
sama penting, namun penyakit parasitik memiliki kepentingan tersendiri karena
keberadaannya hampir dapat dipastikan dalam tubuh setiap hewan. Mulai dari
menyebabkan gejala klinis sampai subklinis, keberadaan parasit sangat merugikan
hewan tersebut karena menyerap banyak unsur dari tubuh hewan untuk dijadikan
nutrisinya. Parasit pada tubuh hewan diklasifikasikan dalam dua kelompok besar
yaitu ektoparasit yang menginfestasi bagian luar dan permukaan tubuh hewan serta
endoparasit yang menginfeksi internal tubuh hewan.
Salah satu penyakit akibat parasit adalah toksoplasmosis. Toksoplasmosis
adalah penyakit parasitik yang disebabkan oleh endoparasit protozoa Toxoplasma
gondii. Protozoa adalah mikroorganisme obligat bersel tunggal yang memiliki sifat
makhluk hidup yaitu motil dan fagosit. Host definitive dari protozoa ini adalah
kucing namun dapat menginfeksi juga semua hewan homoiterm termasuk manusia
sehingga penyakit toksoplamosis ini dikelompokkan dalam penyakit zoonosis.
Penularan antar kucing, ke hewan lain ataupun ke manusia terjadi melalui
transmisi vertikal kepada fetus, konsumsi daging mentah hewan terinfeksi dan kontak

dengan benda yang tercemar bentuk ookista T. gondii dari feses kucing. Dampak
zoonosis toksoplasmosis paling bahaya jika menginfeksi manusia pada keadaan
pregnansi, karena dapat meyebabkan abortus spontan atau abnormalitas pada fetus.
Sifat zoonosis dari penyakit inilah yang menyebabkan pengendalian dan
pencegahannya menjadi sangat strategis, mengingat kucing merupakan hewan
peliharaan yang sering berinteraksi dengan manusia. Selain itu, hewan terinfeksi juga
sering tanpa gejala klinis/subklinik sehingga pengetahuan tentang kejadian penyakit
serta morfologi, siklus hidup dan patogenesa dari T. gondii penting untuk mengambil
langkah pencegahan bahkan pengobatan yang tepat pada hewan maupun pada
manusia.
B. Tujuan
Tujuan penulisan makalah ini adalah untuk mengetahui morfologi, siklus
hidup, dan patogenesis dari Toxoplasma gondii, serta untuk mengetahui gejala klinis
yang

ditimbulkan,

diagnosa,

pencegahan,

pengobatan

dan

epidemiologi

toksoplasmosis di Indonesia.

BAB II

PEMBAHASAN
A. Morfologi Toxoplasma gondii
Nama Toxoplasma gondii berasal dari dua suku kata. Toxoplasma
berasal dari kata toxon (bahasa Yunani) yang berarti busur yang mengacu pada
bentuk sabit (crescent shape) dari takizoit, dan nama gondii berasal dari kata
Ctenodactylus gondii yaitu nama rodensia dari Afrika Utara di mana parasit
tersebut untuk pertama kali diisolasi (Subekti dan Arrasyid, 2006).
Domain:
Kingdom:
Superphylum:
Phylum:
Class:
Order:
Family:
Subfamily:
Genus:
Species:

Eukaryota
Chromalveolata
Alveolata
Apicomplexa
Conoidasida
Eucoccidiorida
Sarcocystidae
Toxoplasmatinae
Toxoplasma
T. gondii

Toxoplasma gondii memiliki 3 fase infeksi yaitu takizoit, bradizoit


dalam bentuk kista di jaringan dan sporozoit dalam bentuk ookista. Takizoit
adalah fase di mana parasit ini berkembang dengan cepat pada host
intermedier (seperti manusia) setelah infeksi. Fase ini juga dapat menyebar
melalui transmisi kongenital, transplantasi, transfusi darah ataupun akibat
insiden di laboratorium. Bentuk takizoit menyerupai bulan sabit dengan ujung
yang runcing dan ujung lain agak membulat. Ukuran panjang 4 8 m, lebar
2 4 m dan mempunyai membran sel, satu inti yang terletak di tengah bulan
sabit dan beberapa organel lain seperti mitokondria dan badan golgi.
Kista dibentuk di dalam sel host bila takizoit yang membelah telah
membentuk dinding. Ukuran kista berbeda-beda, ada yang berukuran kecil
hanya berisi beberapa bradizoit dan ada yang berukuran 200 m berisi kirakira 3000 bradizoit. Kista dalam tubuh hospes dapat ditemukan seumur hidup

terutama di otak, otot jantung, dan otot lurik. Kista berbentuk lonjong atau
bulat di otak, dan di dalam otot bentuk kista mengikuti bentuk sel otot.
Ookista berbentuk lonjong, berukuran 11 14 x 9 11 m. Ookista
memiliki dinding, berisi satu sporoblas yang membelah menjadi dua
sporoblas. Perkembangan selanjutnya kedua sporoblas membentuk dinding
dan menjadi sporokista. Masing-masing sporokista tersebut berisi 4 sporozoit
yang berukuran 8 x 2 m. Toxoplasma gondii diklasifikasikan dalam kelas
Sporozoasida, berkembang biak secara seksual dan aseksual yang terjadi
secara bergantian (Yuadza, 2011).

Gambar 1. Takizoit

Gambar 2. Bradizoit

Gambar 3. Ookista

Gambar 4. Toxoplasma gondii

B. Siklus Hidup Toxoplasma gondii


Siklus hidup dari T. gondii secara prinsip terbagi atas dua yaitu siklus
seksual dan aseksual. Siklus hidup seksual dan aseksual terjadi pada host
definitif, sedangkan pada host intermedier hanya terjadi siklus aseksual.
Siklus hidup seksual terjadi karena adanya peleburan gamet yang masingmasing berisi kromosom haploid. Perkembangan aseksual terjadi karena
pembelahan vegetatif yaitu organisme berkembang dengan membelah diri.
Siklus hidup T. gondii berlangsung secara enteroepitelial dan ekstraintestinal
pada host definitif. Host intermedier hanya mengalami stadium aseksual

enteroepitelial maupun ekstraintestinal. Bentuk enteroepitelial bermakna


proses siklus hidup terjadi di dalam sel epitel usus, sedangkan ekstraintestinal
berarti proses siklus hidup terjadi di luar sel epitel usus.
Siklus hidup pada host definitif
Tertelannya ookista yang telah bersporulasi akan mengakibatkan
terjadinya ekskistasi. Ekskistasi merupakan proses terlepasnya sporozoit dari
ookista karena efek mekanik dan enzimatik di dalam saluran pencernaan host.
Hal serupa juga terjadi apabila yang tertelan adalah kista jaringan dari mangsa
(untuk host definitif dan host intermedier) ataupun pangan hewani (untuk
manusia). Adanya proses mekanis dan enzimatis dalam saluran pencernaan
mengakibatkan keluarnya bradizoit. Sporozoit ataupun bradizoit kemudian
menginfeksi sel epitel usus dari host definitif ataupun host intermedier dan
berubah menjadi takizoit untuk mengawali perkembangan siklus seksual dan
aseksual.
Toxoplasma gondii pada sel epitel usus host definitif mengalami
perkembangan aseksual (schizogoni) maupun seksual (gametogoni) yang
diakhiri dengan terbentuknya ookista. Interval waktu sejak terjadi infeksi
secara oral sampai keluarnya ookista disebut periode prepaten. Periode
prepatennya sekitar 18 hari apabila yang tertelan secara oral adalah ookista,
13 hari jika yang tertelan adalah takizoit, dan 3 10 hari jika yang tertelan
adalah kista. Setelah sporozoit menginfeksi sel epitel usus kucing, dalam
waktu 12 jam (Gambar 5) mulai terbentuk skizon generasi pertama.
Toxoplasma gondii memiliki 5 generasi skizon selama siklus aseksual dalam
tubuh host definitifnya.
Generasi pertama skizon (skizon tipe A) terjadi 12 jam setelah infeksi,
di mana sporozoit berkembang dalam suatu meron dan menghasilkan 2 3
merozoit. Merozoit tersebut kemudian akan keluar dari sel epitel dan
menginfeksi sel epitel baru untuk berkembang menjadi skizon tipe B (skizon
generasi kedua) yang berisi 2 30 merozoit. Skizon tipe B terbentuk kira kira

24 54 jam setelah infeksi. Demikian seterusnya sampai terbentuk skizon tipe


D dan E (skizon generasi keempat dan kelima). Skizon tipe D berisi sekitar 2
35 merozoit sedangkan skizon tipe E berisi 4 24 merozoit. Setelah
terbentuk skizon tipe D dan E, selanjutnya dimulailah siklus seksual.
Belum diketahui secara pasti merozoit dari skizon generasi manakah
yang membentuk mikro dan makrogamet, namun diperkirakan merozoit dari
skizon tipe D dan E yang menjadi awal pembentukan mikro dan makrogamet.
Selama mikrogametosis, sporosit dalam mikrogamon membelah menjadi 10
21 makrogamet. Mikrogamet tersebut bergerak secara aktif dengan flagelanya
menuju makrogamet dengan menembus sel epitel serta melakukan fertilisasi
sehingga terbentuk zigot yang selanjutnya berkembang menjadi ookista.
Ookista akan keluar bersama feses kucing dan mengalami sporulasi
(pematangan) di lingkungan 1 5 hari.
Secara umum, kucing dapat menghasilkan 360 juta ookista dalam satu
hari. Ookista tersebut akan terus diproduksi dan dikeluarkan selama 4 6 hari.
Siklus aseksual dalam tubuh kucing juga terjadi pada sel-sel berinti di luar sel
epitel usus (Gambar 5). Sporozoit yang menginfeksi sel-sel berinti selain usus
akan berkembang menjadi takizoit dalam kurun waktu 24 jam setelah infeksi.
Selanjutnya takizoit tersebut membelah diri secara endodiogoni. Setelah
takizoit memperbanyak diri, maka takizoit tersebut akan menghancurkan sel
tempatnya berkembang untuk keluar dan menginfeksi sel lain di sekitarnya.
Siklus aseksual pun dimulai lagi dengan pembelahan endodiogoni.
Pada kucing maupun host intermedier lainnya, kista jaringan mulai
terbentuk setelah 10 hari atau 2 3 minggu pascainfeksi. Kista jaringan
tersebut akan bertahan lama sampai terjadi lisis sehingga bradizoit terbebas
dan mengalami reaktivasi menjadi takizoit.
Siklus hidup pada host intermedier
Toxoplasma gondii hanya mengalami perkembangan aseksual dengan
dua bentuk parasit yang berbeda pada host intermedier. Masing-masing adalah
bentuk takizoit dan kista yang berisi bradizoit. Takizoit merupakan bentuk

multiplikatif aktif dan cepat yang berkaitan dengan manifestasi klinis


toksoplasmosis akut. Bradizoit merupakan stadium multiplikatif lambat dan
relatif non-invasif dengan membentuk kista yang berkaitan dengan infeksi
kronis.
Host intermedier T. gondii tidak hanya terbatas pada mamalia darat
tetapi juga mamalia air seperti lumba-lumba dan paus. Host intermedier
lainnya adalah bangsa unggas (aves) baik unggas darat, unggas air, unggas
udara yang liar maupun yang terdomestikasi.
Setiap ookista yang dikeluarkan oleh host definitif akan mengalami
sporulasi sehingga terbentuk dua sporokista yang masing-masing berisi empat
sporozoit. Ookista yang telah bersporulasi tersebut merupakan salah satu
stadium infektif yang dapat menginfeksi host intermedier seperti burung,
mamalia dan juga manusia. Selanjutnya T. gondii akan menyebar ke berbagai
sistem organ melalui pembuluh limfe maupun pembuluh darah.
Proses perkembangan dan siklus hidup takizoit dalam tubuh host
intermedier serupa dengan siklus hidup aseksual yang terjadi pada tubuh
kucing (Gambar 5 dan 6). Perbedaan yang ada hanya terbatas pada lokasi kista
yang umum dijumpai pada masing-masing hewan. Perbedaan lokasi jaringan
yang dominan mengandung kista dipengaruhi beberapa faktor diantaranya
adalah rute infeksi, sistem imun dan perbedaan struktur seluler dan molekuler
masing-masing hewan dan manusia. Siklus aseksual yang terjadi pada usus
host intermedier berbeda dengan siklus aseksual pada usus kucing. Siklus
aseksual pada usus host intermedier serupa dengan siklus aseksual pada sel
berinti selain sel epitel usus dalam tubuh kucing (Yuadza, 2011).

Gambar 5. Siklus hidup Toxoplasma gondii pada tubuh host definitif (A: Enteroepitelial; B:
Ekstraintestinal).

Gambar 6. Siklus hidup lengkap T. gondii

C. Patogenesis dan Gejala Klinis Toksoplasmosis


Pengetahuan patogenesis yang ada dewasa ini menunjukkan bahwa pada
dasarnya takizoit dapat menginfeksi hampir semua jenis sel berinti berbagai jenis
hewan dan manusia bahkan juga insekta. Jaringan atau organ yang umumnya diinvasi
pada hewan di antaranya adalah hati, ginjal, otak, otot skeletal, diafragma dan
jantung. Proses masuknya takizoit ke dalam sel merupakan proses yang aktif dan
sangat singkat. Masuknya takizoit ke dalam sel target hanya memerlukan waktu
sekitar 15 30 detik, sementara itu proses fagositosis yang dilakukan oleh sel
fagositik memerlukan waktu sekitar 2 4 menit (Subekti dan Arrasyid, 2006).
Setelah terjadi infeksi T. gondii ke dalam tubuh, akan terjadi proses yang
terdiri dari tiga tahap yaitu parasitemia, di mana parasit menyerang organ dan
jaringan serta memperbanyak diri dan menghancurkan sel-sel inang. Perbanyakan diri
ini paling nyata terjadi pada jaringan retikuloendotelial dan otak karena di lokasi
tersebut parasit memiliki afinitas paling besar. Pembentukan antibodi merupakan

10

tahap kedua setelah terjadinya infeksi. Tahap ketiga rnerupakan fase kronik, terbentuk
kista-kista yang menyebar di jaringan otot dan saraf yang sifatnya menetap tanpa
menimbulkan peradangan lokal (Yuadza, 2011).
Takizoit dapat menembus retina, otak dan barrier plasenta. Infeksi primer
pada fetus host intermedier (manusia) diawali dengan masuknya darah induk yang
mengandung T. gondii ke dalam plasenta, sehingga terjadi keadaan plasentitis.
Keadaan patologik yang ditimbulkan manifestasinya sangat tergantung pada usia
kehamilan. Toksoplasmosis jarang menimbulkan gejala klinis yang nyata tetapi
dengan uji serologis dapat diketahui prevalensinya. Hal ini diduga berkaitan dengan
virulensi parasit, kerentanan host terhadap infeksi, umur dan imunitas host.
Infeksi toksoplasmosis dapat bersifat akut, sub akut, kronis dan kongenital.
Infeksi kongenital adalah yang paling berbahaya karena dapat menyebabkan abortus,
stillbirth (lahir mati) ataupun lahir cacat. Usus merupakan lokasi infeksi pertama.
Infeksi berat akibat menelan ookista akan mengakibatkan lesi pada usus sampai
terjadi kematian pada anak kucing atau hewan lain, sedangkan pada manusia biasanya
terjadi pembengkakan limfoglandula mesenterika dan terjadi degenerasi sel parenkim
pada hati.
Selama stadium akut, takizoit akan mengalami replikasi dengan cepat dan siap
mengadakan invasi serta melisiskan sel inang. Takizoit yang telah menginfeksi sel,
hidup dalam suatu vakuola parasitoforus yang mengalami suatu modifikasi sehingga
tidak dapat fusi dengan kompartemen intrasel lisosom dan menyebabkan parasit
mampu bertahan hidup serta berkembang untuk jangka waktu lama di dalam sel. Pada
manusia gejala klinis infeksi akut adalah nyeri, pembesaran beberapa limfoglandula,
demam, sakit kepala, nyeri otot, anemia dan kadang komplikasi paru-paru (Hartati,
2011).
D. Diagnosis Toksoplasmosis
Diagnosis toksoplasmosis baik pada manusia maupun hewan secara klinis
sulit ditegakkan karena gejalanya tidak menciri dan mirip dengan penyakit infeksi

11

lainnya. Untuk meyakinkan diagnosis dapat dilakukan isolasi parasit dengan cara
menginokulasi jaringan pada mencit atau hewan coba yang peka, namun cara ini
memerlukan waktu yang lama dan kurang sensitif.
Diagnosis yang biasa dilakukan adalah berdasarkan uji serologis untuk
mendeteksi antibodi. Ada beberapa metode yang dapat digunakan yaitu tes warna
Sabin dan Feldman, Indirect Flourescent Antibody Test (IFAT), Enzyme Linked
Immunosorbent Assay (ELISA), dan Indirect Haemaglutination Test (IHA). Dari
kesemuanya, uji warna Sabin dan Feldman adalah yang paling sering digunakan.
Pemeriksaan feses juga dapat dilakukan untuk melihat adanya ookista T. gondii
namun relatif tidak sensitif dan spesifik. Pelepasan ookista dapat terjadi meskipun
kucing tidak menunjukkan gejala klinis. Selain itu, ookista T. gondii sulit dibedakan
dengan ookista coccidian lainnya seperti Hammondia dan Besnoitia yang juga
menginfeksi kucing.
Diagnosis molekuler dengan teknik Polymerase Chain Reaction (PCR) untuk
mendeteksi asam nukleat (DNA) banyak digunakan pada toksoplasmosis kongenital
dan individu immunocompromised karena cukup sensitif dan spesifik. Ada satu
metode diagnosis lagi yang ditemukan kemudian yaitu LAMP (Loop-Mediated
Amplification) berbasis gen surface antigen 1 (SAG1) T. gondii yang ternyata lebih
sensitif dibandingkan metode PCR. Hal ini menjadi harapan baru untuk diaplikasikan
karena metode LAMP tidak memerlukan peralatan mahal seperti PCR (Hartati, 2011).
E. Pencegahan dan Pengobatan Toksoplasmosis
Langkah pencegahan di kucing dapat dilakukan dengan beberapa cara untuk
tujuan yang berbeda pula. Pertama, tidak memberikan kucing daging hewan liar
untuk mencegah terinfeksi bradizoit. Kedua, mengandangkan kucing agar terhindar
dari infeksi bradizoit dari hewan mangsanya. Ketiga, pemberian vaksinasi pada
kucing peliharaan untuk mencegah eksresi ookista. Vaksinasi dapat menurunkan
tingkat kontaminasi ookista dari kucing terhadap lingkungan. Administrasi oral dari
vaksinasi menghasilkan infeksi intestinal namun tidak sampai pada tahap mampu

12

menghasilkan ookista pada kucing sehingga dapat menginduksi sistem imun kucing
tersebut. Sementara itu, untuk mencegah penularan ke manusia, pengetahuan tentang
siklus hidup T. gondii sangat penting. Salah satu cara yang paling tepat adalah
menghindari resiko terpapar kista T. gondii melalui konsumsi daging dari hewan yang
sudah terinfeksi T. gondii. Bradizoit yang terdapat di dalam daging dapat mati pada
suhu 58 C selama 10 menit atau 61 C selama 4 menit. Bradizoit juga dapat mati
secara langsung pada suhu -13 C. Selain itu, papan iris, pisau, dan segala peralatan
yang berkontak langsung dengan daging dapat dicuci menggunakan sabun untuk
membunuh bradizoit dan kista infektif yang mungkin ada. Kebiasaan mencuci tangan
dengan air sabun hangat setelah mengolah daging juga penting sebagai langkah
pencegahan (Bowman et al., 2002).
Tidak ada agen kemoterapi yang dapat digunakan untuk pengibatan
toksoplasmosis di kucing. Pengobatan yang dapat dipakai adalah dengan pemberian
clindamycin yang terbukti efektif. Beberapa rekomendasi pengobatan pada kucing
dengan toksoplasmosis dapat dilihat pada tabel di bawah ini .

Tabel 1. Pengobatan toksoplasmosis pada kucing


F. Epidemiologi Toksoplasmosis
Distribusi T. gondii tersebar luas di seluruh dunia, sedangkan prevalensinya
(tingkat kejadian) bervariasi tergantung pada kepekaan spesies, perbedaan jumlah
sampel, iklim, geografis, metode diagnosis dan keberadaan kucing pada suatu daerah.
Toksoplamosis kongenital telah terjadi di Indonesia, beberapa anak yang baru lahir
dilaporkan mempunyai anomali bawaan yang disebabkan oleh T. gondii. Tingkat
seroprevalensi penyakit ini pada manusia adalah 2 63% dan pada kucing 35 73%.

13

Toksoplasmosis di Indonesia juga merupakan penyebab kebutaan urutan kedua pada


manusia.
Prevalensi toksoplasmosis pada domba, kambing, sapi dan babi di Yogyakarta
berturut-turut adalah 50%, 18%, 2%, dan 44%. Dilaporkan bahwa prevalensi
toksoplasmosis di Rumah Potong Hewan Surakarta adalah domba 23%, kambing
21%, sapi 1%, dan babi 25%. Sedangkan pada pekerja RPH yang menangani
domba/kambing 64%, sapi 55%, dan babi 32%. Diperkirakan 30% dari anjing dan
kucing sehat mempunyai antibodi terhadap T. gondii. Prevalensi toksoplasmosis
secara serologis pada kucing di Jakarta mencapai 72,7%.

Sedangkan dari data

lainnya lagi, Sri Hartati (1993) menyatakan bahwa prevalensi toksoplasmosis pada
kucing di Yogyakarta adalah 40%. Prevalensi toksoplasmosis baik pada hewan
maupun manusia sangat bervariasi dan proporsi populasi yang terinfeksi T. gondii
pada manusia sangat tergantung pada letak geografis dan gaya hidup (Hartati, 2011).

14

BAB III
KESIMPULAN
Ada beberapa poin penting yang dapat ditarik sebagai kesimpulan dari
pembahasan makalah ini, yaitu:
1. Toksoplasmosis merupakan penyakit hewan zoonosis yang disebabkan oleh
protozoa intraseluler Toxoplasma gondii dengan host definitifnya adalah
kucing dan host intermediernya adalah semua hewan homoiterm.
2. Toxoplasma gondii memiliki tiga fase perkembangan yaitu takizoit, bradizoit
dalam bentuk kista di jaringan dan sporozoit dalam bentuk ookista.
3. Siklus hidup Toxoplasma gondii terbagi atas dua yaitu siklus seksual dan
aseksual. Siklus hidup seksual dan aseksual terjadi pada host definitif,
sedangkan pada host intermedier hanya terjadi siklus aseksual.
4. Ada 3 tahap infeksi Toxoplasma gondii dalam tubuh yaitu tahap parasitemia,
pembentukan antibodi dan kronik. Sedangkan jenis infeksinya terbagi menjadi
4 yaitu infeksi akut, sub akut, kronis dan kongenital. Infeksi kongenital adalah
yang paling berbahaya karena dapat menyebabkan abortus.
5. Vaksinasi adalah cara pencegahan infeksi Toxoplasma gondii pada kucing, dan
hygiene personal dan lingkungan adalah cara pencegahan infeksi Toxoplasma
gondii pada manusia.
6. Tidak ada pengobatan spesifik untuk toksoplasmosis namun pengobatan
menggunakan antibiotik seperti clindamicyn, trimetophrim dan sulfadiazine
terbukti efektif.
7. Prevalensi toksoplasmosis pada kucing yang dilaporkan di Indonesia baru
terbatas pada Yogyakarta dan Jakarta saja dengan nilainya berturut-turut
adalah 40% dan 72,7%. Sedangkan pada hewan selain kucing, prevalensi
toksoplasmosis pada domba, kambing, sapi dan babi yang dilaporkan di
Yogyakarta berturut-turut adalah 50%, 18%, 2%, dan 44%.
DAFTAR PUSTAKA
Bowman, D.D., Hendrix, C.M., Lindsay, D.S., and Barr, S.C. 2002, Feline Clinical
Parasitology, Iowa State University Press, USA.

15

Hartati, S. 2011, Toksoplasmosis pada Kucing dan Implikasinya Terhadap Kesehatan


Masyarakat, Pidato Pengukuhan Jabatan Guru Besar FKH UGM, Yogyakarta.
Shaughnessy, M.C. 2013, Toxoplasmosis, diakses pada 18 Juni
<https://microbewiki.kenyon.edu/index.php/Toxoplasmosis>

2015,

Subekti, D.T. dan Arrasyid, N.K. 2006, Imunopatogenesis Toxoplasma gondii


Berdasarkan Perbedaan Galur, WARTAZOA, 16:3.
Wikipedia. 2015, Toxoplasma gondii, diakses pada
<https://en.wikipedia.org/wiki/Toxoplasma_gondii>

18

Juni

2015,

Yaudza, N. 2011, Tingkat Pengetahuan Wanita Usia Subur tentang Toksoplasmosis di


Poliklinik Ginekologi Rumah Sakit Umum Pusat Haji Adam Malik Medan
Tahun 2010, Skripsi, Universitas Sumatera Utara, Medan.

16