Anda di halaman 1dari 25

REFERAT 28 MEI 2015

PRESBIKUSIS

REFERAT 28 MEI 2015 PRESBIKUSIS Disusun oleh : Rusthavia Afrilianti, S.Ked FAA 110 001 Pembimbing :

Disusun oleh :

Rusthavia Afrilianti, S.Ked

FAA 110 001

Pembimbing :

dr. Nuch Sabunga, Sp.THT-KL

Dibawakan dalam rangka tugas kepaniteraan klinik pada bagian Ilmu Kesehatan Telinga Hidung Tenggorok Kepala & Leher

FK UNPAR/RSUD dr. DORIS SYLVANUS PALANGKA RAYA

2015

LEMBAR PENGESAHAN

PRESBIKUSIS

RUSTHAVIA AFRILIANTI, S.Ked

FAA 110 001

REFERAT

Diajukan sebagai salah satu syarat mengikuti ujian akhir di Bagian Ilmu Kesehatan Telinga Hidung Temggorok Kepala & Leher

Periode IV (11 Mei 13 Juni 2015)

Referat ini disahkan oleh :

Pembimbing

dr. Nuch Sabunga, Sp.THT-KL

Tanggal

………

………

Tanda Tangan

…………………

KATA PENGANTAR

Puji syukur sebesar-besarnya penyusun panjatkan kepada Allah SWT karena berkah dan rahmat-Nya referat ini bisa diselesaikan tepat pada waktunya.

Tidak lupa penyusun juga mengucapkan terima kasih yang sebanyak-banyaknya pula kepada pembimbing referat penyusun, yaitu dr. Nuch Sabunga, Sp.THT-KL yang dengan sabar telah memberikan bimbingan dan waktunya kepada penyusun untuk referat yang mengambil judul “Presbikusis” ini. Tidak lupa pula penyusun mengucapkan terima kasih kepada dr. Moelyadhi Utomo, Sp.THT dan dr. Nunun Chatra Kristinae, Sp.THT-KL yang telah memberikan bimbingan dan membagikan banyak ilmu yang bermanfaat selama mengikuti kepaniteraan di bagian Ilmu Kesehatan THT-KL ini.

Terima kasih terutama kepada orang tua, untuk mama, yang selalu memberikan dukungan dan doa, serta untuk teman-teman kelompok F, yaitu dokter-dokter muda bagian/SMF Ilmu Kesehatan THT Rotasi 5 yang telah banyak membantu penyusun dalam penyusunan referat ini. Terima kasih untuk waktu dan semua bantuan yang telah teman-teman berikan.

Penyusun sadar dalam penyusunan referat ini masih banyak terdapat kekurangan, semoga dalam penyusunan selanjutnya, penyusun dapat lebih baik lagi.

Demikian yang dapat penyusun sampaikan. Kiranya referat ini dapat berguna dan membantu generasi dokter-dokter muda selanjutnya maupun mahasiswa-mahasiswi jurusan kesehatan lain yang sedang dalam menempuh pendidikan, referat ini berguna sebagai referensi dan sumber bacaan untuk menambah ilmu pengetahuan.

Palangka Raya,

Mei 2015

Penyusun

LEMBAR PENGESAHAN

KATA PENGANTAR

DAFTAR ISI

DAFTAR GAMBAR

DAFTAR ISI

BAB I.

PENDAHULUAN……………………………………………………………

1

BAB II.

TINJAUAN PUSTAKA

2

2.1 Anatomi Telinga

2

2.2 Fisiologi Mendengar.……………………………………………

6

2.3 Presbikusis

10

2.3.1 Definisi

10

2.3.2 Etiologi

………………………………

10

2.3.3 Epidemiologi

……………

10

2.3.4 Faktor risiko

……………

10

2.3.5 Patogenesis

12

2.3.6 Klasifikasi

13

2.3.7 Diagnosis

16

2.3.8 Penatalaksanaan

17

2.3.9 Prognosis

18

BAB III.

KESIMPULAN………………………………………………………………

19

DAFTAR PUSTAKA

DAFTAR GAMBAR

Gambar 2.1

Anatomi telinga

2

Gambar 2.2

Membran timpani

2

Gambar 2.3

Telinga tengah dan telinga dalam

3

Gambar 2.4

Anatomi telinga dalam

5

Gambar 2.5

Anatomi koklea

5

Gambar 2.6

Audiogram sensory presbyacusis

13

Gambar 2.7

Audiogram neural presbyacusis

14

Gambar 2.8

Audiogram metabolic presbyacusis

15

Gambar 2.9

Audiogram mechanic presbyacusis

15

BAB I

PENDAHULUAN

Presbikusis merupakan salah satu masalah gangguan pendengaran yang sering terjadi. Diseluruh dunia diperkirakan sekitar 3045% masyarakat diatas umur 65 tahun didiagnosis menderita presbikusis. 1 Presbikusis adalah gangguan pendengaran pada usia lanjut akibat proses degenerasi organ pendengaran yang terjadi secara perlahan dan simetris pada kedua sisi telinga. 2 Pada audiogram terlihat gambaran penurunan pendengaran yang mulai terjadi pada nada tinggi dan bersifat sensorineural dengan tidak ditemukannya kelainan yang mendasari selain proses menua secara umum. 1

Di US diperkirakan sekitar 2530% dengan usia 6574 tahun didiagnosis menderita gangguan dengar. Insidens ini meningkat diatas usia 75 tahun sebesar 4050%. 1 Etiologi presbikusis belum diketahui secara pasti, walaupun diduga banyak faktor yang mempengaruhi terjadinya presbikusis. 2

Beberapa peneliti menyokong terjadinya perubahan degenerasi pada telinga dalam yang mengakibatkan penurunan sel ganglion pada nukleus kohlea ventral, genikulatum medial, dan olivari kompleks superior yang mengakibatkan penurunan fungsi sel, serta ditemukannya lipofuscin pada sel epitel dalam duktus kohlea dan sistem vestibuler. Penurunan sel ganglion mengakibatkan kompresi pada saraf dan aliran darah kohlea yang lebih lanjut menyebabkan perubahan pada sel rambut dan stria vaskularis. Selain itu penurunan aliran darah pada kohlea dapat menghilangkan oksigenasi stria vaskularis dan penurunan aktifitas sel rambut. 1

Gangguan proses metabolisme vital pada kohlea menyebabkan perubahan yang berarti pada sel sensorik, perubahan elastisitas duktus kohlea, dan ligamentum spiralis yang selanjutnya menyebabkan penurunan sensitifitas pendengaran yang mengiringi proses menua. 1

Prevalensi presbikusis bervariasi, biasanya terjadi pada usia lebih dari 60 tahun. Presbikusis merupakan salah satu gangguan pendengaran yang menjadi perhatian program penanggulangan gangguan pendengaran dan ketulian (PGPKT). Tujuan program tersebut adalah menurunkan angka presbikusis sebesar 30% pada tahun 2030. Diharapkan dengan program tersebut dapat dicegah peningkatan populasi presbikusis dengan memperhatikan faktor-faktor risikonya. 2

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 ANATOMI TELINGA

Telinga dibagi atas telinga luar, telinga tengah dan telinga dalam.

dibagi atas telinga luar, telinga tengah dan telinga dalam. Gambar 2.1 Anatomi Telinga. 3 2.1.1 Telinga

Gambar 2.1 Anatomi Telinga. 3

2.1.1 Telinga luar

Telinga luar terdiri dari daun telinga dan liang telinga sampai membran timpani. Daun telinga terdiri dari tulang rawan elastin dan kulit. Liang telinga berbentuk huruf “S” dengan kerangka tulang rawan 1/3 bagian luar, sedangkan 2/3 bagian dalam rangkanya terdiri dari tulang. Panjangnya kira-kira 2,53 cm. 4

2/3 bagian dalam rangkanya terdiri dari tulang. Panjangnya kira-kira 2,5 – 3 cm. 4 Gambar 2.2

Gambar 2.2 Membran Timpani. 5

2.1.2

Telinga tengah

Telinga tengah yang terisi udara dapat dibayangkan sebagai suatu kotak dengan enam sisi. Dinding posteriornya lebih luas daripada dinding anterior sehingga kotak tersebut berbentuk baji. Promontorium pada dinding medial meluas ke lateral ke arah umbo dari membran timpani sehingga kotak tersebut lebih sempit pada bagian tengah. Didalam telinga tengah terdapat tulang-tulang pendengaran yang tersusun dari luar kedalam, yaitu maleus, inkus dan stapes. Tuba eustachius termasuk dalam telinga tengah yang menghubungkan daerah nasofaring dengan telinga tengah. Tuba eustachius berfungsi untuk menyeimbangkan tekanan udara pada kedua sisi membran timpani. 4,6

tekanan udara pada kedua sisi membran timpani. 4 , 6 Gambar 2.3 Telinga tengah dan telinga

Gambar 2.3 Telinga tengah dan telinga dalam. 3

2.1.3 Telinga dalam

Telinga dalam terdiri dari dua bagian yaitu labirin dan rumah siput (koklea). Labirin tulang adalah serangkaian saluran didalam bagian petrosa tulang temporalis. Didalam saluran-saluran ini terdapat labirin membranosa yang dikelilingi oleh cairan yang disebut perilimfe. Struktur membranosa ini kurang lebih mirip dengan bentuk saluran tulang. Saluran tulang terisi oleh cairan yang disebut endolimfe, dan tidak terdapat hubungan diantara ruang- ruang yang terisi oleh endolimfe dengan yang terisi oleh perilimfe. 7

Bagian koklea labirin merupakan saluran melingkar yang pada manusia panjangnya 35 mm dan membentuk 2¾ kali putaran. Disepanjang struktur ini terdapat membran basilaris dan membran reissner yang membaginya menjadi tiga ruang (skala). Skala vestibuli dibagian atas dan skala timpani dibagian bawah mengandung perilimfe dan berhubungan satu sama lain di apeks koklea melalui lubang kecil yang disebut helikotrema. Didasar koklea, skala vestibuli berakhir di fenestra ovalis, yang tertutup oleh lempeng kaki stapes. Skala timpani berakhir di fenestra rotundum, yakni foramen di dinding medial telinga tengah yang tertutup oleh membran timpani sekunder yang lentur. Skala media, dan ruang koklea tengah, bersambungan dengan labirin membranosa serta tidak berhubungan dengan dua skala lainnya. 7

Terletak diatas membrana basilaris dari basis ke apeks adalah organ korti, yang mengandung organel-organel penting untuk mekanisme saraf perifer pendengaran. Organ corti tediri dari satu baris sel rambut dalam (3.000) dan tiga baris sel rambut luar (12.000). sel-sel ini menggantung lewat lubang-lubang lengan horizontal dari suatu jungkat-jungkit yang dibentuk oleh sel-sel penyokong. Ujung saraf aferen dan eferen menempel pada ujung bawah sel rambut. Pada permukaan sel-sel rambut terdapat stereosilia yang melekat pada suatu selubung diatasnya yang cenderung datar, bersifat gelatinosa dan aselular, dikenal dengan membrana tektoria. Membrana tektoria disekresi dan disokong oleh suatu panggung yang terleak dimedial disebut sebagai limbus. 6

Bagian vestibulum telinga dibentuk oleh sakulus, utrikulus dan kanalis semisirkularis. Sakulus dan utrikulus mengandung makula yang diliputi oleh sel-sel rambut. Menutupi sel- sel rambut ini adalah suatu lapisan gelatinosa yang ditembus oleh silia, dan pada lapisan ini terdapat pula otolit yang mengandung kalsium dan dengan berat jenis yang lebih besar daripada endolimfe. Karena pengaruh gravitasi maka gaya dari otolit akan membengkokkan silia sel-sel rambut dan menimbulkan rangsangan pada reseptor. 6

Sakulus berhubungan dengan utrikulus melalui sebuah duktus sempit yang juga merupakan saluran menuju sakus endolimfatikus. Makula utrikulus terletak pada bidang yang tegak lurus terhadap makula sakulus. Ketiga kanalis semisirkularis bermuara pada utrikulus. Masing-masing kanalis memiliki suatu ujung yang melebar membentuk ampula dan mengandung sel-sel rambut krista. Sel-sel rambut menonjol pada suatu kupula gelatinosa. Gerakan endolimfe dalam kanalis semisirkularis akan menggerakkan kupula yang selanjutnya akan membengkokkan silia sel-sel rambut krista dan merangsang sel reseptor. 6

Gambar 2.4 Anatomi telinga dalam. 8 Gambar 2.5 Anatomi Koklea. 8 10

Gambar 2.4 Anatomi telinga dalam. 8

Gambar 2.4 Anatomi telinga dalam. 8 Gambar 2.5 Anatomi Koklea. 8 10

Gambar 2.5 Anatomi Koklea. 8

2.2 FISIOLOGI MENDENGAR

2.2.1 Mekanisme mendengar

Proses pendengaran terjadi mengikuti alur sebagai berikut: gelombang suara mencapai membran tympani. Gelombang suara yang bertekanan tinggi dan rendah berselang seling menyebabkan gendang telinga yang sangat peka tersebut menekuk keluar-masuk seirama dengan frekuensi gelombang suara. Ketika membran timpani bergetar sebagai respons terhadap gelombang suara, rantai tulang-tulang tersebut juga bergerak dengan frekuensi sama, memindahkan frekuensi gerakan tersebut dari membrana timpani ke jendela oval. Tulang stapes yang bergetar masuk-keluar dari tingkat oval menimbulkan getaran pada perilymph di scala vestibuli. Oleh karena luas permukaan membran tympani 22 kali lebih besar dari luas tingkap oval, maka terjadi penguatan tekanan gelombang suara 15 22 kali pada tingkap oval. Selain karena luas permukaan membran timpani yang jauh lebih besar, efek dari pengungkit tulang-tulang pendengaran juga turut berkontribusi dalam peningkatan tekanan gelombang suara. 9

Gerakan stapes yang menyerupai piston terhadap jendela oval menyebabkan timbulnya gelombang tekanan di kompartemen atas. Karena cairan tidak dapat ditekan, tekanan dihamburkan melalui dua cara sewaktu stapes menyebabkan jendela oval menonjol ke dalam yaitu, perubahan posisi jendela bundar dan defleksi membrana basilaris. 7

Pada jalur pertama, gelombang tekanan mendorong perilimfe ke depan di kompartemen atas, kemudian mengelilingi helikoterma, dan ke kompartemen bawah, tempat gelombang tersebut menyebabkan jendela bundar menonjol ke luar untuk mengkompensasi peningkatan tekanan. Ketika stapes bergerak mundur dan menarik jendela oval ke luar, perilimfe mengalir ke arah yang berlawanan mengubah posisi jendela bundar ke arah dalam. 7,9

Pada jalur kedua, gelombang tekanan frekuensi yang berkaitan dengan penerimaan suara mengambil jalan pintas. Gelombang tekanan di kompartemen atas dipindahkan melalui membrana vestibularis yang tipis, ke dalam duktus koklearis dan kemudian melalui mebrana basilaris ke kompartemen bawah, tempat gelombang tersebut menyebabkan jendela bundar menonjol ke luar-masuk bergantian. 7,9

Membran basilaris yang terletak dekat telinga tengah lebih pendek dan kaku, akan bergetar bila ada getaran dengan nada rendah. Hal ini dapat diibaratkan dengan senar gitar yang pendek dan tegang, akan beresonansi dengan nada tinggi. Getaran yang bernada tinggi pada perilymp scala vestibuli akan melintasi membrana vestibularis yang terletak dekat ke telinga tengah. Sebaliknya nada rendah akan menggetarkan bagian membrana basilaris di daerah apex. Getaran ini kemudian akan turun ke perilymp scala tympani, kemudian keluar melalui tingkap bulat ke telinga tengah untuk diredam. 7,9

Karena organ corti menumpang pada membrana basilaris, sewaktu membrana basilaris bergetar, sel-sel rambut juga bergerak naik turun dan rambut-rambut tersebut akan membengkok ke depan dan belakang sewaktu membrana basilaris menggeser posisinya terhadap membrana tektorial. Perubahan bentuk mekanis rambut yang maju mundur ini menyebabkan saluran-saluran ion gerbang mekanis di sel-sel rambut terbuka dan tertutup secara bergantian. Hal ini menyebabkan perubahan potensial depolarisasi dan hiperpolarisasi yang bergantian. Sel-sel rambut berkomunikasi melalui sinaps kimiawi dengan ujung-ujung serat saraf aferen yang membentuk saraf auditorius (koklearis). 7,9

Depolarisasi sel-sel rambut menyebabkan peningkatan kecepatan pengeluaran zat perantara mereka yang menaikan potensial aksi di serat-serat aferen. Sebaliknya, kecepatan pembentukan potensial aksi berkurang ketika sel-sel rambut mengeluarkan sedikit zat perantara karena mengalami hiperpolarisasi (sewaktu membrana basilaris bergerak ke bawah). Perubahan potensial berjenjang di reseptor mengakibatkan perubahan kecepatan pembentukan potensial aksi yang merambat ke otak. Impuls kemudian dijalarkan melalui saraf otak statoacustikus (saraf pendengaran) ke medulla oblongata kemudian ke colliculus. Persepsi auditif terjadi setelah proses sensori atau sensasi auditif. 7,9

2.2.2 Penentuan frekuensi suara

Suara dengan tinggi nada yang rendah menyebabkan pengaktifan maksimum membrane basilis di dekat apeks koklea dan suara dengan frekuensi yang tinggi mengaktifkan membrane basilaris dekat basis koklea, sedangkan suara dengan frekuensi menengah mengaktifkan membrana di antara kedua nilai yang ekstrim tersebut. Selanjutnya, ada pengaturan spasial pada serabut saraf di jaras koklearis, yang berasal dari koklea sampai korteks serebri. Perekaman sinyal di traktus auditorius pada batang otak dan di area penerima pendengaran pada korteks serebri memperlihatkan neuron-neuron otak yang spesifik diaktivasi oleh frekuensi suara tertentu. Oleh karena itu cara yang digunakan oleh sistem

saraf untuk mendeteksi perbedaan frekuensi suara adalah dengan menentukan posisi di sepanjang membrane basilaris yang paling terangsang. Ini dinamakan prinsip letak untuk menentukan frekuensi suara. 9

2.2.3 Penentuan keras suara

Kekerasan suara ditentukan oleh sistem pendengaran sekurang-kurangnya melalui tiga cara. Pertama, ketika suara menjadi lebih keras terjadi peningkatan amplitudo getaran yang merangsang ujung-ujung saraf bereksitasi lebih cepat. Kedua, ketika amplitudo meningkat akan menyebabkan semakin banyak sel-sel rambut di pinggir bagian mebran basilar yang beresonasi, sehingga terjadi pemjumlahan spasial impuls, dimana transmisi melalui banyak serabut saraf. Ketiga, sel-sel rambut luar tidak terangsang secara bermakna sampai getaran membran basilar mencapai intensitas yang tinggi. 7,9

Suara yang sangat keras yang tidak dapat diperlembut secara adekuat oleh refleks- refkes protektif telinga dapat menyebabkan getaran membrana basilaris yang hebat sehingga sel-sel rambut yang tidak dapat digantikan itu terlepas atau rusak secara permanen dan menimbulkan gangguan pendengaran parsial. 7,9

2.2.4 Diskriminasi arah asal suara

Destruksi korteks pendengaran pada kedua sisi otak baik pada manusia atau pada mamalia yang lebih rendah menyebabkan kehilangan sebagian besar kemampuannya mendeteksi arah asal suara. Namun, mekanisme untuk deteksi ini dimulai pada nuklei olivarius superior di dalam batang otak. 9

Nukleus olivarius superior dibagi menjadi dua yakni nukleus olivarius superior medial dan lateral. Nukleus lateral bertanggung jawab untuk mendeteksi arah sumber suara, agaknya melalui perbandingan sederhana diantara perbedaan intensitas suara yang mencapai kedua telinga, dan mengirimkan sinyal yang tepat ke korteks auditorik untuk memperkirakan arahnya. Nukleus olivarius superior medial mempunyai mekanisme spesifik untuk mendeteksi perbedaan waktu antara sinyal akustik yang memasuki kedua telinga. Nukleus ini terdiri atas sejumlah besar neuron yang mempunyai dua dendrit utama yang menonjol ke arah kanan dan kiri. Intensitas eksitasi di setiap neuron sangat sensitif terhadap perbedaan waktu yang spesifik antara dua sinyal akustik yang berasal dari kedua telinga. Pada nukleus tersebut terjadi pola spasial perangsangan neuron. Suara yang datang langsung dari depan kepala

merangsang satu perangkat neuron olivarius secara maksimal dan suara dari sudut sisi yang

berbeda menstimulasi pernagkat neuron lainnya dari sisi yang berlawanan. 9

2.2.5 Ketulian

Tuli biasanya dibagi dalam dua jenis. Pertama yang disebabkan oleh gangguan koklea

atau saraf pendengaran, yang biasanya dimasukkan dalam tuli saraf dan kedua yang

disebabkan oleh gangguan mekanisme telinga tengah untuk menghantarkan suara ke koklea,

yang biasanya dinamakan tuli hantaran sebenarnya bila koklea atau saraf pendengaran

dirusak total makan orang tersebut akan tuli total akan tetapi bila koklea dan saraf masih utuh

tetapi system osikular rusak atau mengalami ankilosis kaku karena fibrosis atau kalsifikasi,

gelombang suara tetap dapat dihantarkan ke koklea dengan cara konduksi tulang seperti

penghantaran bunyi dari ujung garputala yang bergetar, yang ditempelkan langsung pada

tengkorak. 9

2.2.6 Derajat ketulian

Derajat ketulian dihitung dengan menggunakan indeks Fletcher, yaitu: 4

Ambang dengar (AD) =

AD 500 Hz + AD 1000 Hz + AD 2000 Hz

3

Menurut kepustakaan yang terbaru frekuensi 400 Hz berperan penting untuk

pendengaran, sehingga perlu turut diperhitungkan, sehingga derajat ketulian dihitung dengan

menambahkan ambang dengar 4000 Hz dengan ketiga ambang dengar diatas, kemudian

di bagi 4.

Ambang dengar (AD) =

AD 500 Hz + AD 1000 Hz + AD 2000 Hz + 4000 Hz

4

Dalam menentukan derajat ketulian, yang dihitung hanya ambang dengar hantaran

udaranya (AC) saja. Derajat ketulian IS0 :

0 25 dB : normal

>25 40 dB

: tuli ringan

>40 55 dB

: tuli sedang

>55 70 dB

: tuli sedang berat

>70 90 dB

: tuli berat

>90 dB

: tuli sangat berat

2.3 PRESBIKUSIS

2.3.1 Definisi

Presbikusis adalah tuli sensorineural frekuensi tinggi, umumnya terjadi mulai usia 65 tahun, simetris pada telinga kiri dan kanan. Presbikusis dapat mulai pada frekuensi 1000 Hz atau lebih. Progresifitas penurunan pendengaran dipengaruhi oleh usia dan jenis kelamin, pada laki-laki lebih cepat dibandingkan dengan perempuan. 4

2.3.2 Etiologi

Presbikusis merupakan akibat dari proses degenerasi. Diduga kejadian presbikusis mempunyai hubungan dengan faktor-faktor herediter, pola makanan, metabolisme, aterosklerosis, infeksi, bising, gaya hidup atau bersifat multi faktor. Menurunnya fungsi pendengaran secara berangsur merupakan efek kumulatif dari pengaruh faktor-faktor tersebut diatas. 4

2.3.3 Epidemiologi

Di Amerika Serikat (US), gangguan pendengaran terjadi seiring dengan pertambahan usia, prevalensi berkisar 25% pada orang berusia 70 74 tahun, dan lebih dari 50% pada orang berusia 85 tahun atau lebih. Hal yang serupa terjadi di Kanada, Patterson mencatat orang-orang berusia lebih dari 65 tahun dilaporkan lebih dari 1/3 kelompok tersebut dideteksi mengalami gangguan pendengaran. 10

Pada Survei Kesehatan Indera Penglihatan Pendengaran tahun 1994 1997 di 7 provinsi dengan 19.375 responden, didapatkan prevalensi presbikusis sebesar 2,6% atau sekitar 6,7% dari seluruh pasien THT yang didiagnosis dengan presbikusis. 1

2.3.4 Faktor Risiko

Presbikusis diduga berhubungan dengan faktor herediter, metabolisme, aterosklerosis, bising, gaya hidup, dan pemakaian beberapa obat.

a. Usia dan jenis kelamin Presbikusis rata-rata terjadi pada usia 60 65 tahun ke atas. Pengaruh usia terhadap gangguan pendengaran berbeda antara pria dan wanita. Pria lebih banyak mengalami penurunan pendengaran pada frekuensi tinggi dan hanya sedikit penurunan pada frekuensi rendah bila dibandingkan dengan wanita. Perbedaan jenis kelamin pada

ambang dengar frekuensi tingg ini disebabkan pria umumnya lebih sering terpapar bising di tempat kerja dibandingkan wanita. 2

b. Hipertensi Hipertensi yang berlangsung lama dapat memperberat resistensi vaskuler yang mengakibatkan disfungsi sel endotel pembuluh darah disertai peningkatan viskositas darah, penurunan aliran darah kapiler, dan transport oksigen. Hal tersebut mengakibatkan kerusakan sel-sel auditori sehingga proses transmisi sinyal mengalami gangguan yang menimbulkan gangguan komunikasi. Kurang pendengaran sensorineural dapat terjadi akibat insufisiensi mikrosirkuler pembuluh darah seperti emboli, perdarahan, atau vasospasme. 2

c. Diabetes melitus Pada pasien dengan diabetes melitus (DM), glukosa yang terikat pada protein dalam proses glikosilasi akan membentuk advanced glicosilation end product (AGEP) yang tertimbun dalam jaringan dan mengurangi elastisitas dinding pembuluh darah (arteriosklerosis). Proses selanjutnya adalah dinding pembuluh darah semakin menebal dan lumen menyempit yang disebut mikroangiopati. Mikroangiopati pada organ koklea akan menyebabkan atrofi dan berkurangnya sel rambut, bila keadaan ini terjadi pada vasa nervus VIII, ligamentum dan ganglion spiral pada sel Schwann, degenerasi myelin, dan kerusakan akson maka akan menimbulkan neuropati. 2 National Survey Health USA melaporkan bahwa 21% penderita diabetik menderita presbikusis terutama pada usia 60 69 tahun. 2

d. Hiperkolesterol Hiperkolesterolemia dapat menyebabkan penumpukan plak/aterosklerosis pada tunika intima. Patogenesis aterosklerosis adalah arteroma dan arteriosklerosis yang terdapat secara bersama. Arteroma merupakan degenerasi lemak dan infiltrasi zat lemak pada dinding pembuluh nadi pada arteriosklerosis atau pengendapan bercak kuning keras bagian lipoid dalam tunika intima arteri, sedangkan arteriosklerosis adalah kelainan dinding arteri atau nadi yang ditandai dengan penebalan dan hilangnya elastisitas/ pengerasan pembuluh nadi. Keadaan tersebut dapat menyebabkan gangguan aliran darah dan transport oksigen. 2

e. Merokok Rokok mengandung nikotin dan karbonmonoksida yang mempunyai efek mengganggu peredaran darah, bersifat ototoksik secara langsung, dan merusak sel saraf organ koklea. Insufisiensi sistem sirkulasi darah koklea yang diakibatkan oleh

merokok menjadi penyebab gangguan pendengaran pada frekuensi tinggi yang progresif. Pembuluh saraf yang menyuplai darah ke koklea tidak mempunyai kolateral sehingga tidak memberikan alternatif suplai darah melalui jalur lain. 2

f. Riwayat bising Gangguan pendengaran akibat bising adalah penurunan pendengaran tipe sensorineural yang awalnya tidak disadari karena belum mengganggu percakapan sehari-hari. Faktor risiko yang berpengaruh pada derajat parahnya ketulian ialah intensitas bising, frekuensi, lama pajanan per hari, lama masa kerja dengan paparan bising, kepekaan individu, usia, dan faktor lainnya yang dapat berpengaruh. Berdasarkan hal tersebut dapat dimengerti bahwa jumlah pajanan energi bising yang diterima akan sebanding dengan kerusakan yang didapat. Hal tersebut dikarenakan paparan terus-menerus dapat merusak sel-sel rambut koklea. 2

2.3.5 Patogenesis

Ada beberapa pendapat mengenai kemungkinan patogenesis terjadinya presbikusis, yaitu degenerasi koklea, degenerasi sentral, dan beberapa mekanisme molekuler, seperti faktor gen, stres oksidatif, dan gangguan transduksi sinyal. 2

a. Degenerasi koklea Presbikusis terjadi karena degenerasi stria vaskularis yang berefek pada nilai potensial endolimfe yang menurun menjadi 20 mV atau lebih. Pada presbikusis terlihat gambaran khas degenerasi stria yang mengalami penuaan, terdapat penurunan pendengaran sebesar 40 50 dB dan potensial endolimfe 20 mV (normal 90 mV). 2

b. Degenerasi sentral Perubahan yang terjadi akibat hilangnya fungsi nervus auditorius meningkatkan nilai ambang dengar atau compound action potensial (CAP). Fungsi input-output dari CAP terefleksi juga pada fungsi input-output pada potensial saraf pusat, memungkinkan terjadinya asinkronisasi aktifitas nervus auditorius dan penderita mengalami kurang pendengaran dengan pemahaman bicara buruk. 2

c. Mekanisme molekuler

1. Faktor gen Strain yang berperan terhadap presbikusis, yaitu C57BL/6J merupakan protein pembawa mutasi dalam gen cadherin 23 (Cdh23), yang mengkode komponen ujung sel rambut koklea. Pada jalur intrinsik sel mitokondria mengalami

apoptosis pada strain C57BL/6J yang dapat mengakibatkan penurunan pendengaran. 2

2. Stres oksidatif

Seiring dengan pertambahan usia kerusakan sel akibat stres oksidatif bertambah dan menumpuk selama bertahun-tahun yang akhirnya menyebabkan proses penuaan. Reactive oxygen species (ROS) menimbulkan kerusakan mitokondria mtDNA dan kompleks protein jaringan koklea sehingga terjadi disfungsi pendengaran. 2

d. Gangguan Transduksi Sinyal Ujung sel rambut organ Corti berperan terhadap transduksi mekanik, merubah stimulus mekanik menjadi sinyal elektrokimia Gen famili cadherin 23 (Cdh23) dan protocadherin 15 (PCdh 15) diidentifikasi sebagai penyusun ujung sel rambut koklea yang berinteraksi untuk transduksi mekanoelektrikal. Terkadinya mutasi menimulkan defek dalam interaksi molekul ini dan menyebabkan gangguan pendengaran. 2

2.3.6 Klasifikasi

Berdasarkan perubahan patologik yang terjadi, Gaek dan Schuknect menggolongkan presbikusis menjadi 4 jenis, yaitu sensori (outer hair cell), neural (ganglion cell), metabolik (strial atrophy), dan koklea konduktif (stiffness of the basilary membrane). 4

Menurut penelitian prevalensi terbanyak adalah jenis metabolik (34,6%). Sedangkan prevalensi lainnya adalah neural (30,7%), mekanik (22,8%) dan sensorik (11,9%). 4

1. Tipe sensori Tipe ini menunjukkan atrofi epitel disertai hilangnya sel-sel rambut dan sel penyokong organ Corti. Proses ini berasal dari bagian basal koklea dan perlahan-lahan menjalar ke daerah apeks, hal ini berhubungan dengan penurunan ambang dengar frekuensi tinggi. Beberapa teori mengatakan perubahan ini terjadi akibat akumulasi dari granul pigmen lipofusin. Ciri khas dari tipe sensory presbyacusis ini adalah terjadi penurunan pendengaran secara tajam pada frekuensi tinggi (sloping). Jenis sensori ini adalah tipe noise-induced hearing loss (NIHL) dan banyak didapatkan pada pria dengan riwayat bising. 1

Gambar 2.6 Audiogram sensory presbyacusis . 2. Tipe neural Keluhan utama tipe ini adalah sulit

Gambar 2.6 Audiogram sensory presbyacusis.

2. Tipe neural Keluhan utama tipe ini adalah sulit mengartikan/mengikuti pembicaraan. Pada audiometri tampak penurunan pendengaran sedang yang hampir sama untuk seluruh frekuensi. Berkurangnya skor diskriminasi bicara dengan ambang dengar nada murni yang stabil disebut phonemic regression. 1 Secara histologis tampak atrofi sel ganglion sirals dan organ corti, kehilangan neuron tampak pada seluruh koklea terutama daerah basiler tetapi sangat sedikit, sehingga tidak terlihat adanya penurunan pendengaran pada frekuensi tinggi. Bila daerah apikal juga terkena, maka frekuensi pembicaraan akan sangat terhambat. 1 Pada presbikusis neural, terjadi pula kehilangan neuron secara umum yang berupa perubahan SSP yang difus dan berhubungan dengan defisit lain seperti kelemahan, penurunan perhatian, dan penurunan konsentrasi. Schuknect memperkirakan dari 35.000 total neuron terjadi kehilangan sebesar 2.100 neuron. Gambaran klasik adalah speech discrimination sangat berkurang dan atrofi yang luas pada ganglion spiralis (cookie bite). 1 Kehilangan neuron ini mulai terjadi pada usia muda yang diturunkan secara genetik. Efek dari kehilangan neuron ini akan memberikan gejala sampai 90% neuron tersebut menghilang pada usia tua. 1

Gambar 2.7 Audiogram neural presbyacusis . 3. Tipe strial/metabolik Tipe presbikusis yang sering didapati dengan

Gambar 2.7 Audiogram neural presbyacusis.

3. Tipe strial/metabolik Tipe presbikusis yang sering didapati dengan ciri khas kurang pendengaran yang mulai timbul pada dekade ke-6 dan berlangsung perlahan-lahan. Kondisi ini diakibatkan atrofi stria vaskularis. Dibedakan dari tipe presbikusis lain yaitu pada strial presbyacusis ini gambaran audiogramnya rata (flat), dapat mulai frekuensi rendah, speech discrimination bagus sampai batas minimum pendengaran melebihi 50 dB (flat). Penderita dengan kasus kardiovaskuler dapat mengalami presbikusis tipe ini serta menyerang semua jenis kelamin namun lebih nyata pada wanita. 1

serta menyerang semua jenis kelamin namun lebih nyata pada wanita. 1 Gambar 2.8 Audiogram metabolic presbyacusis

Gambar 2.8 Audiogram metabolic presbyacusis.

4. Tipe konduktif/mekanikal Tipe kekurangan pendengaran ini disebabkan gangguan gerakan mekanis di mebran basalis. Gambaran khas nya adalah audiogram yang menurun dan simetris (ski-slope). Secara histologi tidak ada perubahan morfologi pada struktur koklea. Perubahan atas respon fisik khusus dari membran basalis lebih besar di bagian basal karena lebih tebal dan jauh lebih kurang di apikal. Kondisi ini disebabkan oleh penebalan dan kekakuan sekunder membrana basilaris koklea. Terjadi perubahan gerakan mekanik dari duktus koklearis dan atrofi ligamentum spiralis. Berhubungan dengan tuli sensorineural yang berkembang sangat lambat. 1

dengan tuli sensorineural yang berkembang sangat lambat. 1 Gambar 2.9 Audiogram mechanic presbyacusis . 2.3.7

Gambar 2.9 Audiogram mechanic presbyacusis.

2.3.7 Diagnosis Anamnesis Gejala yang timbul adalah penurunan ketajaman pendengaran pada usia lanjut, bersifat sensorineural, simetris bilateral dan progresif lambat. Umumnya terutama terhadap suara atau nada yang tinggi dan kadang disertai tinitus. 2 Keluhan utama presbikusis berupa berkurangnya pendengaran secara perlahan-lahan dan progresif, simetris pada kedua telinga. Kapan berkurangnya pendengaran tidak diketahui pasti. Keluhan lainnya adalah telinga berdenging (tinitus nada tinggi). Pasien dapat mendengar suara percakapan, tetapi sulit untuk memahaminya, terutama bila diucapkan dengan cepat ditempat dengan latar belakang yang bising (cocktail party deafness). Bila intensitas suara ditinggikan akan timbul rasa nyeri ditelinga. Hal ini disebabkan oleh faktor kelelahan saraf (recruitment). 4

a.

b. Pemeriksaan fisik dan penunjang

Pemeriksaan fisik telinga biaanya normal dan tes penala didapatkan tuli sensorineural. Pemeriksaan timpanometri tipe A (normal), audiometri nada murni, menunjukkan tuli saraf nada tinggi, bilateral dan simetris, terdapat penurunan yang tajam (sloping) setelah frekuensi 2000 Hz dan berangsur-angsur terjadi pada frekuensi yang rendah. Variasi nilai ambang audiogram antara telinga satu dengan lainnya pada presbikusis dapat terjadi sekitar 5 10 dB. Otoacoustic emission (OAE) dapat menunjukkan fungsi koklea, sedangkan presbikusis merupakan degenerasi koklea sehingga hasil yang didapatkan refer (emisi tidak muncul). Pemeriksaan BERA pada presbikusis diperlukan apabila kondisi pasien dengan kesadaran menurun atau terdapat kecurigaan tuli saraf retrokoklear. 2 2.3.8 Penatalaksanaan Presbikusis tidak dapat disembuhkan. Gangguan dengar pada presbikusis adalah tipe sensorineural dan tujuan penatalaksanaannya adalah untuk memperbaiki kemampuan pendengarannya dengan menggunakan alat bantu dengar. Alat ini berfungsi membantu penggunaan sisa pendengaran untuk berkomunikasi. Alat bantu dengar baru diperlukan bila penurunan pendengaran lebih dari 40 dB. Selain itu juga dapat digunakan assistive listening devices, alat ini merupakan amplifikasi sederhana yang mengirimkan sinyal pada ruangan dengan menggunakan headset. 1 Pada orangtua penurunan pendengaran sering disertai juga dengan penurunan diskriminasi bicara akibat perubahan SSP oleh proses menua yang kemudian mengakibatkan perubahan watak yang bersangkutan seperti mudah tersinggung, penurunan perhatian, penurunan konsentrasi, cepat emosi, dan berkurangnya daya ingat. Adakalanya pemasangan alat bantu dengar perlu dikombinasikan dengan latihan membaca ujaran (speech reading) dan latihan mendengar (audioroty training); prosedur pelatihan tersebut dilakukan bersama ahli terapi wicara (speech therapist). 1,4 Dengan demikian tidak semua penderita presbikusis dapat diatasi dengan baik menggunakan alat bantu dengar terutama presbikusis tipe neural. Pada keadaan dimana tidak dapat diatasi dengan alat bantu dengar, penderita merasa adanya penolakkan dari teman atau saudara yang selanjutnya akan mengakibatkan hubungan menjadi tidak baik sehingga penderita menarik diri, jadi kurang bersosialisasi, penurunan fisik, penurunan aktivitas mental sehingga merasa kesepian, dan akhirnya dapat terjadi depresi dan paranoid. 1

Untuk mengatasi hal ini dapat dicoba dengan cara latihan mendengar atau lip reading yaitu dengan membaca geakan mulut orang yang menjadi lawan bicaranya. Penting juga untuk melakukan physiologic counseling yaitu memperbaiki mental penderita. Disin harus dijelaskan kepada keluarganya bagaimana memperlakukan atau mengahdapi penderita presbikusis. 1 Pemasangan alat bantu dengar merupakan salah satu bagianyang penting dalam penatalaksanaan gangguan dengar pada presbikusis agar dapat memanfaatkan sisa pendengaran semaksimal mungkin. 1 Fungsi utamanya adalah untuk memperkuat (amplifikasi) bunyi sekitar sehingga

dapat: 1

1.

Mendengar percakapan untuk berkomnunikasi.

2.

Mengatur nada dan volume suaranya sendiri.

3.

Mendengar dan menyadari adanya tanda bahaya.

4.

Mengetahui keadaan sekelilingnya.

5.

Mengenal lingkungan.

Alat bantu dengar terdiri dari mikrofon (penerima suara), amplifier (pengeras suara), receiver (penerus suara), cetakan telinga atau ear mold (menyumbat liang telinga dan pengarah suara ke telinga tengah). Jenis alat bantu dengar adalah model saku, model belakang telinga (behind the ear/BTE), model dalam telinga (in the ear/ITE), model liang telinga (in the canal/ITC), model dalam telinga seluruhnya (completely in the canal), dan model kacamata. 1

2.3.9

Prognosis

Prognosis untuk pasien presbikusis adalah kurang baik. Perkembangan lebih lanjut dari gangguan pendengaran diperkirakan bertambah 0,7 1,2 dB pertahun tergantung dari usia dan frekuensi pendengaran pasien. Penyakit ini belum ada obatnya dan progresifitas presbikusis bersifat lambat. 11

Pasien dengan presbikusis diberikan edukasi agar dapat menghindari penyebab atau mencegah perburukan gangguan pendengaran, misalnya, paparan bising, paparan obat ototoksik, diabetes yang tidak terkontrol dan penyakit metabolik lainnya. 11

BAB III

KESIMPULAN

Presbikusis adalah gangguan pendengaran pada usia lanjut akibat proses degenerasi organ pendengaran yang terjadi secara perlahan dan simetris pada kedua sisi telinga. Pada audiogram terlihat gambaran penurunan pendengaran yang mulai terjadi pada nada tinggi dan bersifat sensorineural dengan tidak ditemukannya kelainan yang mendasari selain proses menua secara umum. Presbikusis merupakan akibat dari proses degenerasi. Diduga kejadian presbikusis mempunyai hubungan dengan faktor-faktor herediter, pola makanan, metabolisme, aterosklerosis, infeksi, bising, gaya hidup atau bersifat multi faktor. Adapun faktor-faktor risiko dari presbikusis antara lain usia dan jenis kelamin, hipertensi, diabetes melitus, hiperkolesterol, merokok dan riwayat terpapar bising. Patogenesis terjadinya presbikusis, yaitu degenerasi koklea, degenerasi sentral, dan beberapa mekanisme molekuler, seperti faktor gen, stres oksidatif, dan gangguan transduksi sinyal. Gaek dan Schuknect menggolongkan presbikusis menjadi 4 jenis, yaitu sensori (outer hair cell), neural (ganglion cell), metabolik (strial atrophy), dan koklea konduktif (stiffness of the basilary membrane). Penatalaksaan presbikusis yaitu dengan pemasangan alat bantu dengar sebagai upaya mengembalikan fungsi pendengaran. Adakalanya pemasangan alat bantu dengar perlu dikombinasikan dengan latihan membaca ujaran (speech reading) dan latihan mendengar (audioroty training); prosedur pelatihan tersebut dilakukan bersama ahli terapi wicara (speech therapist).

DAFTAR PUSTAKA

1. Dewi YA. Presbiakusis. Disampaikan pada Seminar Ilmu Penyakit Dalam Bandung 13 Juli 2007. Bandung: Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran/Rumah Sakit Hasan Sadikin; 2007.

2. Muyassaroh. Faktor Risiko Presbikusis. J Indon Med Assoc Volume: 62 Nomor: 4. Semarang: Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro; 2012. p. 155-158.

3. Snell, R. Anatomi Klinik untuk Mahasiswa Kedokteran Edisi 6. Jakarta: EGC; 2006.

4. Suwento R, Hendarmin H. Gangguan Pendengaran pada Geriatri. Dalam: Buku Ajar Ilmu Kesehatan Telinga, Hidung, Tenggorok, Kepala & Leher. Edisi ke-7. Jakarta: Balai Penerbit FKUI; 2012. p. 36-8.

5. Keith L. Moore, Arthur F. Dalley & Anne M. Agur. Essential Clinical Anatomy. 4th edition. Lippincott Williams & Wilkins.

6. Liston S, Duvall A. Embriologi, Anatomi dan Fisiologi Telinga. Dalam: Buku Ajar Penyakit THT BOEIS. Edisi ke-6. Jakarta: EGC; 1997.

7. Sherwood L. Fisiologi Manusia dari Sel ke Sistem. Edisi 2. Jakarta: EGC; 2001.

8. Dinamic Human Anatomy, 2.0. Saladin. Anatomy & Physiology. Mc Graw Hill

Companies; 2003.

9. Guyton A.C. Indera Pendengaran. Dalam: Buku Ajar Fisiologi Kedokteran Guyton & Hall. Edisi ke-11. Philadelphia: W.B. Saunders Company; 2003. p: 681-92.

10. Milstein D, Weinstein B. Amplification: The Treatment of Choice for Presbycusis. Serial online [diunduh pada 06 Maret 2015] Available from : www.geriatricsandaging.ca

11. Roland PS, Kutz W. Presbycusis Follow Up: Prognosis. Serial online [diunduh pada 24 Mei 2015] Available at http://reference.medscape.com/article/855989-followup#a2650