Anda di halaman 1dari 15

Tinjauan Pustaka

Hand Arm Vibration Syndrome


Gita Pupitasari
102011327
Mahasiswa Fakultas Kedokteran UKRIDA
Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana
Jl. Arjuna Utara No. 6, Jakarta 11510
e-mail: gita_puspitasari64@yahoo.com
Pendahuluan
Setiap hari manusia terlibat pada suatu kondisi lingkungan kerja yang berbeda-beda
dimana perbedaan kondisi tersebut sangat mempengaruhi terhadap kemampuan manusia.
Manusia akan mampu melaksanakan kegiatannya dengan baik dan mencapai hasil yang
optimal apabila lingkungan kerjanya mendukung. Suatu kondisi lingkungan kerja dikatakan
sebagai lingkungan kerja yang baik apabila manusia bisa melaksanakan kegiatannya dengan
optimal dengan sehat, aman dan selamat.
Para pekerja yang tangganya terpajan alat-alat yang bergetar secara persiten
berhubungan dengan gangguan fungsi dari tangan. Gangguan sirkulasi mikro perifer,
Fenomena Raynaud akibat rasa dingin atau Vibration White Fingers dan gangguan neurologi
pada sususnan saraf perifer yang dikenal sebagai Hand Arm Vibration Syndrome (HAVS).
Diagnosis HAVS didasarkan atas riwayat terpajannya tangan atau lengan dengan alat-alat
yang bergetar, simtom sensorineural dan vaskular. Pengobatan yang dilakukan meliputi
physiobanneotherapy, pemberian obat, bloking saraf, dan tindakan pembedahan jika
diperlukan. Upaya paling utama untuk memperbaiki kesehatan akibat HAVS adalah
melakukan pencegahan primer dan sekunder.
Kasus Skenario 6
Seorang laki-laki berusia 42 tahun datang ke klinik dengan keluhan kedua tangannya
kebas.
Untuk dapat menegakan suatu penyakit akibat kerja perlu dilakukan pendekatan klinis
penyakit akibat kerja, yang secara teori terdiri dari 7 langkah.

Diagnosis
klinis
Pajanan yang
dialami
Hubungan
Hubungan antara
antara pajanan
pajanan dan
dan
Jumlah pajanan
cukup
Peranan faktor
individu
penyakit
penyakit
Faktor lain di luar
pekerjaan
Penyakit akibat
kerja

Bukan penyakit akibat


kerja

1. Diagnosis klinis
Pada tahap ini dilakukan anamnesis, pemeriksaan fisik, pemeriksaan penunjang serta
bila diperlukan pemeriksaan tempat kerja.
a.
Anamnesis
Pada tahap anamnesis, kita tidak hanya menanyakan keluhan saja tetapi kita
akan lebih menitik beratkan pada riwayat pekerjaannya.
Riwayat penyakit :
Tanyakan keluhan ? sejak kapan ? apakah keadaan membaik jika
beristirahat ?
RPS, RPD, RPK ?
Riwayat pekerjaan :
Sudah berapa lama bekerja ? bekerja sebagai apa ?
Waktu bekerja dalam sehari ?
Riwayat pekerjaan sebelumnya ? adakah pekerjaan sampingan ?
Penggunaan alat pelindung diri yang digunakan ?
Pekerja lain mengalami keluhan yang sama ?
Hobi pasien apa ?
Dari data skenario didaptkan : laki-laki 42 tahun bekerja sebagai pengantar
obat selama 12 tahun, mengantar obat dengan mengendarai motor. Keluhan terjadi
baru 3 bulan. Laki-laki ini pada saat mengendarai motor tidak memakai sarung
tangan. Lamanya bekerja dalam sehari 8 jam. Memiliki pekerjaan sampingan,
diabetus melitus tidak ada. Pemeriksaan graving score >6, dan pemeriksaan lab dalam
batas normal.
2

b.

Pemeriksaan fisik
Pemeriksaan fisik dilakukan secara umum terlebih dahulu seperti
pemeriksaan TTV, suhu, pernafasan, nadi. Namun kita juga perlu menitik
beratkan pada pemeriksaan sistem organ yang diperkirakan terpengaruh

akibat kerja. Pada kasus ini kita bisa melakukan pemeriksaan sensitifitas. 1
Nail Press Test
Grasping power
Tes provokasi dingin
c.
Pemeriksaan penunjang 1
Faktor rheumatoid
Anti nuklear serum antibodi
2. Pajanan yang dialami
Pajanan yang dialami dalam kasus ini adalah laki-laki ini mengendarai motor
semenjak bekerja sebagai kurir pengantar obat selama 12 tahun dan laki-lai ini
mengendarai motor tanpa memakai sarung tangan. Sehingga dengan demikian getaran
yang dihasilkan dari jalan kemudian ke kendaraan motor sehingga di distribusikan ke
tangan lelaki ini, maka timbulah keluhan tangan laki-laki ini menjadi kebas sejak 3
bulan. Dan laki-laki ini bekerja dalam seharinya 8 jam per hari.
3. Hubungan pajanan dengan penyakit
Getaran atau vibrasi adalah faktor fisik yang ditimbulkan oleh subjek dengan
gerakan. Vibrasi dapat terjadi lokal atau seluruh tubuh. Alat yang digunakan untuk
mengukur frekuensi

dan intensitas vibrasi di lingkungan kerja adalah vibration

meter.1
Vibrasi mekanis dapat bersumber dari peralatan atau mesin-mesin produksi.
Dalam kehidupan sehari-hari disadari atau tidak kita sering terpapar vibrasi, terutama
jika mengadakan perjalanan menggunakan alat transportasi seperti : bus,
kapal,pesawat, mobil dan sepeda motor. Di lingkungan industri, banyak pula tenaga
kerja yang terpapar vibrasi dalam melakukan aktivitasnya, biasanya mereka yang
menggunakan hand tool, mesin-mesin besar atau kendaraan berat. 1
Ada 2 tipe vibrasi pada manusia yaitu : whole body vibration dan hand arm
vibration. WBV ditransmisikan ke tubuh melalui permukaan penyangga (kaki, pantat
dan punggung). Seseorang yang mengemudikan kendaraan terpapar WBV lewat
bokong dan punggung. HAV ditransmisikan ke tangan dan lengan, vibrasi tersebut
teutama dialami oleh operator peralatan tangan getar. 1
a. Whole Body Vibration (WBV)
Terpapar terhadap WBV dapat menyebabkan kerusakan fisik permanen atau
dapat terganggu sistem sarafnya. Terpapar setiap hari oleh WBV selama bertahuntahun dapat menyebabkan kerusakan fisik serius, sebagai contoh Ischemic Lumbago
3

yang mempengaruhi tulang belakang bagian bawah, selain itu sistem urologi dan
sirkulasi juga terpengaruhi. Terpapar WBV dapat mengganggu sistem saraf pusat.
Gejala dari gangguan ini tampak dalam bentuk kelelahan, insomnia dan sakit kepala.
Banyak orang mengalami gejala gangguan saraf pusat selama atau setelah melakukan
perjalan panjang dengan mobil atau kapal. Namun demikian gejala biasanya hilang
setelah cukup beristirahat. Biasanya frekuensi getaran ini adalah sebesar 5-20 Hz. 2
b. Hand Arm Vibration Syndorme (HAVS)
Terpapar setiap hari oleh HAV selama bertahun-tahun dapat menyebabkan
kerusakan fisik permanen, yang pada umumnya dikenal sebagai White finger
syndrome atau dapat merusakkan persendian dan otot jari atau lengan. White finger
syndrome dalam tahap perkembangannya ditunjukkan oleh memutihnya jari-jari yang
disebabkan oleh kerusakan arteri dan saraf-saraf jaringan lunak pada tangan. Gejala
biasanya mempengaruhi satu jari pada mulanya tetapi juga akan mempengaruhi jarijari lain bila keterpaparan HAV berlanjut. Dalam sebagian kasus-kasus berat gejala
akan menyerang pada kedua tangan. Getaran setempat yaitu getaran yang merambat
melalui tangan akibat pemakaian peralatan yang bergetar, frekuensinya biasanya
antara 20-500 Hz. Frekuensi yang paling berbahaya adalah pada 128 Hz, karena tubuh
manusia sangat peka pada frekuensi ini. 2
Dalam tahap awal white finger syndrome gejalanya adalah sensasi gatal, mati
rasa dan hilangnya kontrol pada jari-jari yang dipengaruhi. Hilangnya rasa dan kontrol
pada jari-jari dapat mengundang bahaya langsung dan seketika, apabila tenaga kerja
mengoperasikan alat yang berbahaya seperti alat pemotong atau gergaji. Kerusakan
sendi-sendi jari atau siku sering disebabkan oleh terpapar vibrasi yang dihasilkan alat
seperti : asphalt hammers dan rock drill dalam jangka panjang. Kerusakan ini
menyebabkan sakit di persendian dan otot-otot lengan serta disertai berkurangnya
kontrol dan otot lengan. 2
Pada kasus ini, lebih menuju ke arah Hand Arm Vibration Syndrome (HAVS),
dengan alasan laki-laki ini mengndarai motor, tanpa menggunakan sarung tangan.
Maka pada kesempatan ini akan lebih di jelaskan lebih dalam mengenai Hand Arm
Vibration Syndrome (HAVS).
1) Nilai ambang batas getaran pada lengan
Menurut Canadian Government Specification CDA/MS/NVSH 107
Vibration Limited Maintenance untuk mesin-mesin jenis elektrik motor yang
4

kondisinya tidak baru, jika getaran yang ditimbulkan telah melampaui 130 dB
atau 3,2 mm/detik (velocity) maka mesin tersebut perlu dilakukan pengecekan.
Dan jika getaran yang ditimbulkan telah melampaui 135 dB atau 5,6 mm/detik
(velocity) maka kondisi mesin harus diperbaharui. Saat ini di Indonesia
dipakai nilai ambang batas getaran berdasarkan Keputusan Menteri Tenaga
kerja nomor KEP. 51/MEN/1999. 1
Tabel 1. Nilai ambang batas getaran untuk pemajanan lengan dan tangan Jumlah waktu per
hari kerja (sumber: Menteri Tenaga kerja nomor : KEP. 51/MEN/1999)

Catatan :
1 Gram = 9,81 m/det2

2) Efek getaran lengan tangan (hand arm vibration)


Efeknya lebih mudah di jelaskan

dari

pada

menguraikan

patofisiologinya. Efek ini disebut sebagai sindrom getaran lengan (HAVS)


yang terdiri atas:2
Efek vaskuler -Pemucatan pada episodik buku jari ujung yang

bertambah parah pada suhu dingin (fenomena Raynoud).


Efek Neurologik -buku jari ujung mengalami kesemutan dan baal
Efek bersifat progresif apabila ada pemanjanan terhadap alat bergetar

berlanjut dan dapat menyebabkan dalam kasus yang parah, gangren. Alat-alat
yang dipakai akan bergetar dan getaran tersebut disalurkan pada tangan,
getaran-getaran dalam waktu singkat tidak berpengaruh pada tangan tetapi
dalam jangka waktu cukup lama akan menimbulkan kelainan pada tangan
berupa : 2
1. Angioneurosis jari-jari tangan

Fenomenon Raynaud (jari-jari putih) adalah syndrome akibat


getaran yang paling sering di wilayah-wilayah dunia yang dingin.
Gejala-gejala nonspesifik pertama adalah akroparestesia pada tangan
dan perasaan kebal di jari-jari tangan pada waktu kerja atau sebentar
sesudahnya. Pada stadium ini, selain gangguan kepekaan terhadap
getaran, tidak ditemukan perubahan objektif lainnya. Pada fase
berikutnya, diamati kepucatan paroksismal sporadik pada ujung-ujung
jari tangan. Paroksisme disebabkan oleh spasme lokal arteriol dan
kapiler, serta dicetuskan oleh paparan terhadap suhu dingin lokal atau
umum. Biasannya terjadi pada musim dingin dan sepenuhnya pulih
kembali 15-30 menit setelah tangan dihangatkan. Selama paroksisme,
kepekaan nyeri taktil sangat berkurang. Fase ini menimbulkan
kesulitan diagnostik yang besar, karena penyakit yang dilaporkan tidak
selalu dapat dikonfirmasi dengan pemeriksaan di ruang konsultasi
dokter. Observasi secara langsung suatu serangan di tempat kerja
mempermudah diagnosanya.2,3
Stadium lebih lanjut dari penyakit ini ditandai dengan
kepucatan paroksismal, tidak hanya pada ujung-ujung jari, tetapi
menyebar pada hampir seluruh jari namun jarang mengenai ibu jari.
Parokisme dapat diprovokasi oleh suhu yang sedikit dingin, bahkan
dapat timbul gejala pada suhu lingkungan. Pada stadium yang lebih
lanjut, angiospasme diganti oleh paresis dinding pembuluh darah kecil
yang mengakibatkan akrosianosis. 2,3
Gejala-gejala yang menonjol adalah rasa kebal ditangan,
gangguan kecepatan jari, dan gangguan sensitivitas. Juga dapat timbul
perubahan-perubahan tonus lokal. 2,3
2. Gangguan tulang, sendi dan otot
Patologi osteoartikular sering kali terbatas pada tulang-tulang
karpal (khususnya lunata dan navikularis), sendi radioulnaris dan sendi
siku. Gejala subjektif biasanya ringan tetapi pada stadium yang lanjut
gangguan fungsional dapat cukup berarti. Perubahan radiogram yang
paling khas adalah atrosis sendi karpal, radioulnaris dan siku, serta
pseudokista terutama pada tulang-tulang karpal, yang dapat pula
memperlihatkan perubahan-perubahan atrofik lain seperti trabekula
yang menebal dan menjadi jarang. Otot dan tendon disekitar sendi
6

tersebut biasanya juga terlibat, gejala subyektif (nyeri) yang


disebabkan kelainan ini sering mendahului perubahan radiogram yang
jelas. 2,3
3. Neuropati
Kerusakan saraf yang disebabkan getaran meliputi persyarafan
otonom perifer (pada angioneurosis). Beberapa ahli mengemukakan
efek-efek pada syaraf perifer seperti ulnaris, medianus, radialis. Ahli
lainya menganggap trauma saraf umumnya sekunder dari iskemik
berulang (pada angioneurosis), atau suatu factor tambahan sering kali
neuropati kompresif misalnya, perubahan osteoartikuler disekitar
batang saraf tersebut. Terkenanya serat-serat sensoris menyebabkan
parastesia atau berkurangnya kepekaan seratserat motorik, gangguan
ketangkasan dan akhirnya atrofi. pengukuran kecepatan konduksi saraf
adalah pemeriksaan terpilih. Suatu bentuk campuran menggabungkan
gangguan otot, tendon, tulang, pembuluh darah dan saraf perifer. 2,3
Diagnosa awal berdasarkan riwayat gejala yang khas, seperti
kesemutan dan gangguan rasa pada jari-jari yang terpajan getaran. Gejala ini
menetap dan bertambah berat dalam waktu yang lama. Gejala berikutnya
adalah jari memucat dengan adanya pajanan kronis. Untuk memastikan
diagnosis dan menetapkan tingkat keparahan, diperlukan beberapa tes
neurologist dan tes vaskuler. Cara menentukan derajat penyakit ditingkat
internasional dengan menggunakan klasifikasi Stockholm. 2,3
Tabel 2 . Klasifikasi sindrom getaran sistem Stockholm
Stadium

Derajat

Deskripsi

Ringan

Terjadi pemucatan pada ujung- ujung

I. Gejala vaskuler
1

jari
2

Sedang

Pemucatan pada ujung dan ruas jari


tengah, pada satu jari atau lebih

Berat

Terjadi pemucatan pada semua ruas jari

Sangat berat

Seperti gambaran 3 dengan perubahan


kulit (kulit trophic)

II. Gejala Sensorik


SN 0

Tidak ada gejala

SN 1

Rasa baal yang hilang

timbul atau

menetap dengan atau tanpa rasa nyeri


SN 2

Seperti pada SN 1 disertai gangguan


saraf sensorik

SN 3

Seperti pada SN 2 dengan diskriminasi


dan gangguan ketangkasan

4. Pajanan yang dialami


a. Patofisiologi
Sampai saat ini, etiologi HAVS belum dapat dijelaskan dengan
memuaskan. Dulu, diduga rasa dingin yang hebat atau vibrasi di bagian tangan
akan mengakibatkan spasme a. digitalis yang memperdarahi ujung saraf
sinpatis jari-jari tanngan, sehingga menyebabkan pucatnya jari-jari tangan
tersebut. Namun beberapa peneliti melaporkan bahwa pajanan vibrasi untuk
jangka waktu yang lama pada lengan atau tangan tidak mengakibatkan
terjadinya spasme pembuluh darah, melainkan menyebabakan penebalan
lapisan intima (serosa) dan fibrosis periarterial yang akan mengakibatkan a.
digitalis menyempit dan akhirnya tersumbat. 1
Gambaran histologi ini meyakinkan pengamatan secara klinis bahwa
bertambah lamanya pajanan vibrasi bukan lagi dalam bentuk bertambah
lamanya episode memucatnya ujung-ujung jari, tetapi sianosis pada jari-jari
tersebut makin lama makin berat, sirkulasi daran dan suplai nutri makin
bururk. yang pada akhirnya mengakibatkan terjadinya ulserai pada jari-jari
tersebut. 1

Peneliti lain melaporkan bahwa pajanan vibrasi yang

lama akan mengakibatkan neuropati karena terjadi kerusakan mekanoreseptor


pada ujung-ujung saraf tepi, kehilangan pembukus mielin, dan kerusakan
akson, terutama pada n.medianus dan n. ulnaris disekitar pergelangan tangan.
HAVS dapat terjadi pada pekerja yang menggunakan alat bergetar. Getaran
yang bersumber dari alat akan ditrasmisikan ke tangan dan lngan dari pekerja
yang memegang alat tersebut. Bila digunaan secara terus menerus akan

menyebabkan perubahan pada organ yang terkena. Efek getaran yang


ditimbulkan tergantung dari bedar getaran, alam dan frekuensi. 4
b. Epidemiologi
Studi epidemiologi menunjukkan pekerja yang tangannya terpajan
dengan alat-alat yang bergetar dalam jangka waktu yang cukup lama
berhubungan dengan gangguan fungsi tangan. Bahaya terhadap kesehatan
yang sering dilaporkan adalah

kelainan dari mikrosirkulasi perifer, cold-

induced Raynaud phenomenon atau vibration white finger (VWF) dan


kelainan neurologik pada sistem saraf perifer. Kedua efek terhadap kesehatan
ini secara kolektif disebut hand-arm vibration syndrome (HAVS).5
Menurut Industrial Injuries Schemes (IIS) pada tahun 2003/004
terdapat 1015 kasus baru vibration white finger (VWF) (1010 pria dan 5
wanita). Jumlah ini sudah menurun dibandingkan tahun 2002/03 sebanyak
1775 (1765 pria dan 10 wanita). Medical Research Council (MRC)
menemukan prevalensi VWF sebesar 288.000 penderita di Great Britain
(255.00 pria dan 33.000 wanita) pada tahun 1997-1998. HAVS sudah dikenal
sebagai penyakit akibat kerja (occupational disease) oleh International
Labour Office (ILO) dan the European Commission. Lawson dan McGeoch
mereview proses penilaian kesehatan para pekerja dan melaporkan bahwa >
100.000 mantan pekerja tambang batubara di Inggris menuntut kompensasi
akibat HAVS. Laporan tentang beban akibat HAVS masih belum dapat
dilaporkan secara tepat dan HVAS seringkali didiagnosis sebagai carpal
tunnel syndrome (CTS). Oleh karena diagnosis HAVS sering terlambat
ditegakkan dan penyakit tersebut sudah semakin parah, maka sangat penting
melakukan pencegahan terhadap pekerja yang berisiko terhadap HAVS.5,6

c. Faktor yang mempengaruhi kejaidan HAVS


1. Masa kerja
Masa kerja adalah waktu atau lamanya pekerja telah melakukan
pekerjaan tersebut. Sehingga dapat diketahui lamanya paparan bagi
perja akibat getaran lengan tanagn. Ketika masa kerja lebih lama dalam
emnggunakan alat getar maka paparan yang samapi ke tubuh makin
sering. Hal itu akan mempermudah pekerja terkena HAVS. Pekeja
denga masa kerja > 4 tahun memiliki kerentana untuk gangguan
kesehatan bila dibandingkan <4 tahun. 3
9

2. Lama kerja
Lama kerja adalah waktu atau lamanya pekerja melaukan pekerjaan
sehari-hari. Sehingga dapat diketahui paparan bagi pekerja akibat
getaran lengan tangan. Tingkat intensitas getaran yang lebih tinggi
serrta waktu pemaparan yang lama akan mengakibatkan kerusakan
pada tulang-tulang dan sendi. Pemaparan yang lama terhadap getaran,
terutama bila bersamaan dengan faktor lain yang berbahaya seperti
dingin, kebisingan dan beban status dapat mengakibatkan timbulnya
penyakit akibat getaran. 3
3. Jenis kelamin
Beberapa penelitian menunjukan bahwa jenis kelamin mempengaruhi
tingkat resiko keluhan otot. Kekuatan otot wanita hanya sekitar dua
pertiga dari kekuatan otot pria, sehingga daya tahan otot pria lebih
tinggi dibandingkan dengan wanita. 3
4. Penggunaan Alat Pelindung Diri (APD)
Penggunaan APD sangat berpengaruh terhadap kesehatan pekerja. APD
merupakan salah satu cara untuk meminimalkan resiko Penyakit Akibat
Kerja (PAK). APD yang digunakan untuk mengurangi paparan vibrasi
terhadap lengan tangan berupa sarung tangan. 3
5. Faktor individu
Laporan NIOSH menyatakan bahwa untuk tingkat kesegaran tubuh yang
rendah, maka resiko terjadinya kelelahan adalah 7,1%, tingkat kesegaran tubuh
sedang adalah 3,2% dan tingkat kesegaran tubuh tinggi adalah 0,8%. Dari uraian
tersebut dapat digaris bawahi bahwa, tingkat kesegaran tubuh yang rendah akan
mempertinggi resiko terjadinya keluhan otot, keluhan otot akan meningkat sejalan
dengan bertambahnya aktivita fisik. Tingkat kesegaran jasmani yang rendah akan
meningkatkan risiko terjadinya keluhan otot. Kesegaran tubuh terdiri dari 10
komponen, yaitu: kekuatan, daya tahan, kecepatan, kelincahan, kelenturan,
keseimbangan, kekuatan, koordinasi, ketepatan dan waktu reaksi. Kesepuluh
komponen tersebut dapat diperkuat melalui kebiasaan olahraga. Bagi pekerja dengan
kekuatan fisik yang rendah, risiko keluhan menjadi tiga kali lipat dibandingkan yang
memiliki kekuatan fisik tinggi. 3
Umur sangat berpengaruh terhadp kesehatan, pertambahan umur dapat
meperbesar resiko apabila umur pekerja 29-60 tahun maka pekerja lebih rentan
terkena gangguan atau keluhan kesehatan akibat dari getaran lengan-lengan. Karena

10

kemampuan elastisitas tulang, otot, ataupun urat semakin berkurang sebagai peredam
dari getaran yang dirambatkan ke tubuh. 3

6. Faktor lain diluar pekerjaan


Merokok merupakan salah satu yang dapat menggangu kesehatan. Apabila
pekerja merokok sangat berpengaruh terhadap pekerjaannya dan berdampak negatif
terhadap kesehatan apabila pekerja termasuk salah satu perokok berat yang sanggup
untuk menghabiskan > 1 bungkus perhari. 7
Pekerja yang merokok lebih rentan terkena HAVS daripada mereka yang tidak
merokok. Hal ini disebabkan karena tembakau dapat mempengaruhi aliran darah. Dan
pekerja yang terkena HAVS dengan merokok biasanya menderita lebih parah, itu
sebabnya mereka yang bekerja dengan alat-alat bergetar dilarang merokok. 7
Beberapa penelitian membuktikan bahwa meningkatnya kelugan otot sangat
erat hubungannya dengan lama dan singkatnya kebiasan merokok. Semakin sering
dan tinggi frekuensi merokok, semain tinggi pula tingkat keluhan otot yang dirasakan.
Terkaitnya dengan kondisi kesegaran tubuh seseorang kebiasann merokok akan dapat
menurnkan kapasitas paru-paru, sehingga kemampuan untuk mengkonsumsi oksigen
menurun dan sebagai akibatnya, tinfkat kesegaran tubuh juga menurun. Apabila orang
yang bersankutan harus melakukan tugas yang menuntut pengerahan tenaga, maka
akan mudah lelah karena kandungan oksigen dalam darah rendah, pembakaran
karbihidrat terhambat dan terjadi penumpukan asam laktat dan akihrnya timbul rasa
nyeri otot. 3,7
7. Diagnosis okupasi
Sesudah menerapkan keenam langkah kasus ini merupakan Hand Arm
Vibration Syndrome (HAVS) PAK (penyakit akibat kerja). HAVS adalah gangguan
kesehatan

akbiat

kerja

karena

penggunaan

alat

bantuaan

genggam

yang

meninmbulkan vibrasi dalam jangka wajtu yang lama, oleh karena vibrasi peralatan di
transmisikan ke tangan dan lengan maka dapat disebut juga vibration segmental.
HAVS merupakan fenomena yang kompleks dan patofisiologinya masih belum
banyak diketahui seara pasti, umumnya diduga karena kerusakan saraf tepi dan
lapisan otot-otot halus pembuluh darah tangan. Sindrome ini ditandai dengan
memucatnya ujung-ujung jari tangan yang disetai rasa kesemuatan, baal akibat
penggunaan yang lama. 1
Diagnosis banding adalah Carpan Tunnel Syndnorme. Pada kejadian ini,
terjadi kompresi n. Medianus di pergelangan tangan yang mengakibatkan timbulnya
11

gangguan saraf tepi di jempol, telunjuk dan jari tengah serta jari manis, serta
terdapat rasa nyeri di pergelangan tangan. 1,8
HAVS perlu dibedakan dengan CTS. Gejala yang ditimbulkan hampir sama
adanya kesemutan dan baal. Bila pekerja telah bekerja selama bertahun-tahun dengan
alat tanngan yang bergetar, maka perlu dipikirkan terlebih dahulu adanya HAVS
sebelum menegakan diagnosis CTS. 1,8
CTS bisa dibedakan dengan HAVS bila seluruh faktor seperti anatomi, kondisi
medis dan fisiologis, riwayat terpapar di tempat kerja dan keterlibatan nervus ulnaris
perlu dievaluasi. Bisa saja HAVS dan CTS berada bersamaaan pada pasien tersebut.
Diagnosis yang tepat sangat penting karena berkaitan dengan tindakan pembedahan
yang tidak selalu bermanfaat jika pajanan terhadap getaran tangan dan lengan
merupakan faktor yang berperan terhadap kelainan tersebut. 8
Tabel 3. Perbedaan Hand Arm Vibration Syndorme dan Carpal Tunnel Syndrome. (sumber:
occupational medicine edisi 3 St.Louis)

Riwayat penyakit/ gejala

HAVS

CTS

Ya

Tidak

Tidak

Ya

Jari baal

Ya

Ya

Kesemutan n. Medianus

Ya

Ya

Kesemutan n. Ulnaris

Ya

Ya

Gangguan tidur

Jarang

Sering

Kejang otot

Sering

Jarang

Rasa nyeri pada lengan

Sering

Jarang

Kekeuatan memegang kurang

Ya

Jarang

Fenomena Raynaud

Ya

Tidak

Terpapar vibrasi
Gerakan berulang

Penatalaksanaan
Penatalaksanaan penderita HAVS perlu dilakukan secara menyeluruh dengan
melibatkan berbagai ahli yang terkait meliputi physiobalneotherapi (terapi olahraga, olah raga
di dalam kolam dan fisioterapi. Pemberian obat seperti vasodilator, stabilisasi ototnomik,
calsium chanel blokers, pentoxyhylline untuk memperbaiki fleksibilitas sel darah merah.
Terapi bloking saraf dan terapi bedah untuk paralisa atau paresis nervus ulnaris dan edukasi

12

bagi pasien. Sekalipun telah dilakukan menyeluruh terapi tersebut di atas, efek pemulihan
membutuhkan waktu yang lama. 9
Pencegahan
1. Primer
Dilakukan penyuluhan Pendidikan bagi pekerja yang akan menggunakan alat-alat
tangan bergetar perlu diberikan pelatihan tentang hazard getaran dan mereka perlu
diajarkan bagaimana meminimalisasikan efek getaran tersebut. Pekerja perlu
diberitahukan gejala-gejala awal HAVS sehingga mereka dengan segera mencari
pengobatan agarterhindar dari gejala yang semakin parah. 10
2. Sekunder
a.
Pengendalian secara teknis 10
Menggunakan peralatan kerja yang rendah intensitas getarannya

b.

(dilengkapi dengan damping atau peredam)


Menambah atau menyisipkan damping di antara tangan dan alat,

misalnya membalut pegangan alat dengan karet.


Memelihara atau mearwat peralatan dengan baik. Dengan mengganti

bagian-bagian yang aus atau memberikan pelumas.


Pengendalian secara administratif
Pengaturan jadwal kerja atau pergantian shif kerja untuk mengurangi
pemaparn getaran pada pekerja. Perlu ditentukan lamanya terpapar getaran dan
perlu adanya waktu istirahat untuk menghindari waktu yang terus menerus
terpapar getaran. Pekerja yang menggunakan alat bergetar terus menerus perlu
mengambil waktu istirahat 10 menit tiap jam selama penggunaan alat bergetar

c.

tersebut. 10
Subtitution
Penggantian metode kerja, misalnya dengan automasi atau mekanisasi kerja.
Dan penggantian alat yang sudah tua, yang memiliki vibrasi tinggi dengan

d.

alat-alat yang tingkat getarannya rendah. 10


Maintenance
Melakukan pemeriksaan secara berkala tentang vibrasi yang terdapat
pada peralatan atau mesin dengan alat ukur getaran untuk mengetahui tingkat
vibrasi mesin. Alat-alat perlu diperiksa secara berkala untuk menjaga efek
getaran tetap minimum. Alat-alat yang tumpul akan menimbulkan getaran

e.

lebih kuat dibandingkan alat-alat yang tetap dijaga ketajamannya. 10


Alat Pelindung Diri (APD)
Dalam memilih APD yang sesuai harus diperhatiakn tipevibrasinya,
untuk getaran menyeluruh sebaiknya menggunakan APD full Body protection
13

yang terbuat dari bahan karet atau kulit, selain itu pakain pelindung ini harus
juga biasmenjaga pekerja tetap hangat dan kering untuk mencegah terjadinya
pengembangan Vibration White Finger.Sedangkan untuk getaran setempat
atau hand-arm vibrationsebaiknya menggunakan sarung tangan yang terbuat
dari bahan karet atau kulit. Pekerja yang bekerja dengan alat-alat tangan yang
bergetar perlu memakai sarung tangan hangat dengan multi lapisan dan sebaiknya
memakai sarung tangan anti getaran bila memungkinkan. 10
Sebelum bekerja, tangan perlu dihangatkan untuk menjaga aliran darah tetap
lancar. Ini terutama penting bila udara dingin. Idealnya agar tetap hangat ketika
digunakan, maka sarung tangan perlu ditaruh di lemari penghangat atau dekat
radiator. Usahakan untuk tidak menyentuh benda-benda dingin. Pekerja yang
menggunakan alat-alat bergetar sebaiknya tidak boleh membiarkan tangannya
menjadi dingin. Bila tangan pekerja tersebut menjadi basah atau dingin, dia harus
mengeringkannya dan memakai sarung tangan yang kering dan hangat sebelum
terpapar getaran. Pekerja yang terpapar udara dingin perlu memakai baju yang tetap
bisa menghangatkan tubuh karena temperatur tubuh yang rendah dapat membuat
pekerja lebih rentan terhadap HAVS. 10

3. Tersier
Penyediaan pemeriksaan kesehatan pada semua pekerja sangat penting, hal ini
dilakuakan untuk mengetahui kemungkinan adanya faktor kesehatan pekerja yang
mengakibatkan seorang pekerja mengalami resiko vibrasi. Pekerja yang ditempatkan
pada pekerjaan yang berisiko tinggi terkena HAVS perlu dilakukan pemeriksaan
kesehatan pra kerja dan perlu diperiksa oleh dokter yang memahami diagnosis dan
penanganan terhadap HAVS. Pekerja yang memiliki riwayat sirkulasi darah yang
abnormal dan terutama pekerja dengan Raynauds Syndrome tidak boleh bekerja
dengan alat-alat tangan yang bergetar. Demikian pula pekerja yang pernah mendapat
gejala HAVS yang sedang ataupun berat sama sekali tidak boleh bersentuhan dengan
apapun alat yang bergetar. 10
Kesimpulan
Upaya paling utama untuk memperbaki kesehatan akibat HAVS adalah melakukan
pencegahan primer dan sekunder. Tingkat pemajanan getaran dari alat-alat yang digunakan
pekerja harus serendah mungkin. Perlu dibuat petunjuk tentang HAVS, yang mencakup caracara pencegahan dan gangguan yang terjadi, serta melakukan surveilens kesehatan (sebelum
diterima sebagai pekerja, pemeriksaan kesehatan secara teratur, uji skrining dan investigasi
diagnostik). Bila tidak dapat dilakukan pencegahan dan tidak ada strategi untuk mengatasi
14

gangguan yang terjadi maka dapat dipastikan makin banyak pekerja yang akan mengalami
HAVS.
Daftar Pustaka
1. Harrianto R. Kesehatan kerja buku ajar. Jakarta: EGC ; 2009.h.16-244.
2. Sumamur PK. Higiene perusahaan dan kesehatan kerja. Edisi 2. Jakarta: Sagung seto;
2013.h. 195-8.
3. Youakim S. Hand Arm Vibration Syndrome (HAVS). BCMJ. 2009; 51(1).
4. Stoyneva Z, Lyapina M, Tzvetkov D et al. Current pathophysiological views on
vibration-induced Raynauds phenomenon. Cardiovas Res. 2003;57:615-624.
5. ILO. Recommnedation concerning the list of occupational diseases and the recording
and notification of occupational accident and diseases. ILO List 2002; 194: 1-12.
6. Lawson IJ, McGeoch KL. A medical assessment process for a large volume medicolegal compensation claims for hand-arm vibration syndrome. Occup Med 2003; 53:
302-8.
7. Palmer, K.T. et al. 2003. Smoking and Musculoskeletal Disorders: Findings From a
British National Survey, Ann Rheum Dis 2003; 62:33-36.
8. Pelmear PL, Taylor W. Carpal tunnel syndrome and hand-arm vibration syndrome. A
diagnostic enigma. Arch Neruol 1994; 51: 416-20.
9. Piligian G, Herbert R, Hearns M, Dropkin J, Landsbergis P, Cherniack M. Evaluation
and management of chronic work-related musculosceletal disorders of the distal upper
extremity. Am J Ind Med 2000; 37: 75-93.
10. The Physical Agent Data Sheet (PADS). Hand-arm vibration. labor standards and
safety division. Di unduh dari : Alaska Department of Labor and Workforce
Development, 18 Oktober 2014 22.47 WIB.

15