Anda di halaman 1dari 72

PERHITUNGAN KEBUTUHAN MATERIAL SLURRY

PADA PENYEMENAN CASING 9 58 "


SUMUR #H-03 LAPANGAN Y

TUGAS AKHIR

IMAN TAUFIK DARAJAT

PROGRAM STUDI D3 TEKNIK PERMINYAKAN DAN GAS BUMI


JURUSAN TEKNIK
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS NEGERI PAPUA
2014

PERHITUNGAN KEBUTUHAN MATERIAL SLURRY


PADA PENYEMENAN CASING 9 58 "
SUMUR #H-03 LAPANGAN Y

IMAN TAUFIK DARAJAT

Tugas Akhir ini diajukan sebagai salah satu syarat


untuk memperoleh gelar Ahli Madya Teknik dari Universitas Negeri Papua

PROGRAM STUDI D3 TEKNIK PERMINYAKAN DAN GAS BUMI


JURUSAN TEKNIK
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS NEGERI PAPUA
2014

ABSTRAK
Iman Taufik Darajat. Perhitungan Kebutuhan Material Slurry

Pada

Penyemenan Casing 9 58 " Sumur #H-03 Lapangan Y. Dibimbing oleh


Agustinus Denny Unggul Raharjo, ST., MOGE dan Petra Steven Wattimury, ST.
Penyemenan merupakan faktor yang paling penting dalam operasi
pemboran sehingga dapat mereduksi kemungkinan-kemungkinan permasalahan
secara mekanis sewaktu melakukan pemboran pada trayek selanjutnya.
Penyemenan pada sumur pemboran adalah suatu proses pencampuran (mixing)
dan pendesakan (displacement) bubur semen (slurry) melalui casing sehingga
mengalir ke atas melewati annulus di belakang casing sehingga casing terikat ke
formasi.
Perhitungan kebutuhan material slurry bertujuan untuk menghitung berapa
banyak material yang dibutuhkan dalam sebuah proyek penyemenan. Dimana
material penyemenan terdiri dari semen, air, dan additive.
Dari hasil perhitungan, didapatkan total volume slurry yang dibutuhkan
adalah 526,83 cuft atau 93,84 bbl. Dimana slurry dibagi menjadi dua bagian yaitu
322,78 cuft atau 57,49 bbl untuk lead slurry, dan 204,05 cuft atau 36,34 bbl untuk
tail slurry. Material penyemenan yang dibutuhkan untuk lead slurry adalah semen
sebanyak 184 sack. Sedangkan air yang dibutuhkan sebanyak 39,9 bbl. Dan
additive yang dibutuhkan adalah 259,4 lb BAA-11 (accelerator); 55,2 gal BAE15L (extender); dan 5,5 gal BAF-26L (anti foam). Sedangkan Material
penyemenan yang dibutuhkan untuk tail slurry adalah semen sebanyak 176 sack.
Sedangkan air yang dibutuhkan sebanyak 18,6 bbl. Dan additive yang dibutuhkan
adalah 165,4 lb BAA-11 (accelerator); 26,4 gal BAD-14L (dispersant); 70,4 gal
BAL-22L (fluid loss control); dan 5,3 gal BAF-26L (anti foam). Dan Total
displacement volume yang dibutuhkan untuk mendorong semen slurry adalah
sebanyak 403,9 cuft atau 71,9 bbl lumpur.

Kata Kunci : Perhitungan penyemenan, Casing 9 58 ", Material slurry.

ii

LEMBAR PENGESAHAN
Judul

: Perhitungan Kebutuhan Material Slurry

Pada Penyemenan

Casing 9 58 " Sumur #H-03 Lapangan Y


Nama

: Iman Taufik Darajat

NIM

: 2011 41 004

Jurusan

: Teknik

Program Studi : D3 Perminyakan dan Gas Bumi

Disetujui,

Pembimbing I

Pembimbing II

Agustinus D. U. Raharjo, ST., MOGE

Petra Steven Wattimury, ST.

Mengetahui,

Lakhar Ketua Jurusan Teknik

Dekan Fakultas MIPA

Yulius G. Pangkung, ST., M.Eng

Dr. Ir. Ishak Semuel Erari, M.Si

Tanggal lulus : 16 Juli 2014

iii

RIWAYAT HIDUP
Penulis dilahirkan di Manokwari, pada tanggal 6 Oktober 1993 sebagai
anak ketiga dari empat bersaudara dari pasangan Bapak Wawan Darmawan dan
Ibu Nani Yuliani.
Penulis mengawali pendidikan formalnya di SD Negeri 1 Rancaloa Kota
Bandung pada tahun 1999 dan tamat pada tahun 2005, kemudian pada tahun yang
sama penulis melanjutkan pendidikan pada di SMP Negeri 34 Kota Bandung dan
lulus pada tahun 2008. Selanjutnya penulis melanjutkan pendidikan di SMK
Negeri 6 Kota Bandung pada tahun 2008 dan pindah ke SMK Negeri 2
Manokwari pada tahun kedua hingga lulus pada tahun 2011.
Selanjutnya pada tahun 2011 penulis diterima sebagai Mahasiswa D3
Perminyakan dan Gas Bumi, Jurusan Teknik, Fakultas Matematika dan Ilmu
Pengetahuan Alam, Universitas Negeri Papua.

iv

KATA PENGANTAR
Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah
melimpahkan rahmat dan karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan
Tugas Akhir dengan judul Perhitungan Kebutuhan Material Slurry

Pada

Penyemenan Casing 9 58 " Sumur #H-03 Lapangan Y.


Tugas Akhir ini disusun untuk menyelesaikan mata kuliah Tugas Akhir
pada program studi D3 Perminyakan dan Gas Bumi Jurusan Teknik Fakultas
Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Negeri Papua, serta untuk
memperoleh gelar Ahli Madya Teknik dari Universitas Negeri Papua.
Pada kesempatan ini penulis memberikan ucapan terima kasih sebanyak
banyaknya kepada beberapa pihak yang telah membantu selama proses penulisan
tugas akhir ini, diantaranya Bapak Nur Prasetyo Ponco Nugroho ST., M.Eng
selaku Ketua Program Studi D3 Perminyakan dan Gas Bumi, Bapak Agustinus
Denny Unggul Raharjo ST., MOGE dan Bapak Petra Steven Wattimury selaku
Dosen Pembimbing dan Staf Dosen pada Program Studi D3 Perminyakan dan Gas
Bumi, teman teman seperjuangan D3 Teknik Perminyakan dan Gas Bumi,
kedua orang tua yang telah menyayangi dan

telah menyadarkan penulis

bagaimana arti hidup ini, serta keluarga besar Panghegar yang telah memberikan
dukungan baik moril maupun materil.
Penulis menyadari bahwa penulisan Tugas Akhir ini masih jauh dari nilai
kesempurnaan, karena itu kritik dan saran yang bersifat membangun sangat
diharapkan oleh penulis.
Akhir kata, penulis berharap Tugas Akhir ini dapat bermanfaat baik bagi
penulis pribadi, bagi Mahasiswa D3 Teknik Perminyakan dan Gas Bumi maupun
Mahasiswa Universitas Negeri Papua, dan bagi siapapun yang membacanya.

Manokwari, Juli 2014

Penulis

DAFTAR ISI
Halaman
HALAMAN JUDUL ...................................................................................

ABSTRAK ................................................................................................... ii
LEMBAR PENGESAHAN ........................................................................ iii
RIWAYAT HIDUP ..................................................................................... iv
KATA PENGANTAR .................................................................................

DAFTAR ISI ................................................................................................ vi


DAFTAR GAMBAR ................................................................................... ix
DAFTAR TABEL ........................................................................................

DAFTAR LAMPIRAN ............................................................................... xi


DAFTAR ISTILAH DAN SINGKATAN .................................................. xii
BAB I PENDAHULUAN ............................................................................

1.1 Latar Belakang ..................................................................................

1.2 Maksud dan Tujuan ...........................................................................

1.3 Batasan Penulisan ..............................................................................

1.4 Metode Penelitian ..............................................................................

1.5 Sistematika Penulisan ........................................................................

1.6 Keadaan Umum Lapangan .................................................................

1.6.1 Sejarah Lapangan .......................................................................

1.6.2 Letak Geografis ..........................................................................

1.6.3 Geologi Daerah Sangatta ............................................................

1.6.4 Stratigrafi dan Sedimentasi ........................................................

BAB II TINJAUAN PUSTAKA ................................................................

2.1 Penyemenan ......................................................................................

2.2 Jenis Penyemenan ............................................................................. 10


2.2.1 Primary Cementing .................................................................... 10
2.2.2 Secondary Cementing ................................................................. 11

vi

2.3 Klasifikasi Semen .............................................................................. 11


2.4 Sifat Sifat Semen ............................................................................ 13
2.4.1 Densitas ...................................................................................... 13
2.4.2 Thickening Time dan Viskositas ................................................. 14
2.4.3 Water Cement Ratio ................................................................... 15
2.4.4 Waiting On Cement .................................................................... 16
2.4.5 Compressive Strength dan Shear Strength ................................. 16
2.4.6 Filtration Loss ............................................................................ 17
2.4.7 Permeabilitas Semen .................................................................. 18
2.5 Additive Semen .................................................................................. 19
2.5.1 Accelerator ................................................................................. 20
2.5.2 Retarder ...................................................................................... 20
2.5.3 Extender ...................................................................................... 20
2.5.4 Weighting Agent ......................................................................... 21
2.5.5 Lost Circulation Material ........................................................... 21
2.5.6 Dispersant .................................................................................. 21
2.5.7 Fluid Loss Control Agent ........................................................... 21
2.5.8 Special Additive .......................................................................... 21
2.6 Peralatan Penyemenan ...................................................................... 22
2.6.1 Peralatan Atas Permukaan .......................................................... 22
2.6.2 Peralatan Bawah Permukaan ...................................................... 24
2.7 Proses Penyemenan Pada Primary Cementing ................................. 28
2.7.1 Perkinss Cementing System ...................................................... 28
2.7.2 Poorboys Cementing System ..................................................... 29
2.7.3 Stage Cementing System ............................................................. 30
2.8 Perhitungan Pada Penyemenan ......................................................... 32
2.8.1 Volume Slurry ........................................................................... 32
2.8.2 Volume Absolute ........................................................................ 33
2.8.3 Densitas dan Yield Semen .......................................................... 34
2.8.4 Sacks Of Cement ......................................................................... 34
2.8.5 Mix Water Required ................................................................... 34

vii

2.8.6 Material Required (Additive) ..................................................... 35


2.8.7 Displacement Volume ................................................................. 35
BAB III HASIL DAN PEMBAHASAN .................................................... 36
3.1 Hasil .................................................................................................. 36
3.1.1 Data Sumur #H-03 .............................................................. 36
3.1.2 Data Densitas dan Yield Semen Slurry .................................... 37
3.1.3 Data Material Semen ............................................................... 37
3.1.4 Diagram Sumur #H-03 ......................................................... 38
3.1.5 Penentuan Panjang Ruang Yang Akan Disemen ..................... 39
3.1.6 Perhitungan Volume Slurry ..................................................... 39
3.1.7 PerhitunganVolume Absolute ................................................... 41
3.1.8 Perhitungan Densitas dan Yield Semen ................................... 44
3.1.9 Perhitungan Sacks Of Cement .................................................. 44
3.1.10 Perhitungan Mix Water Required ............................................ 45
3.1.11 Perhitungan Material Required (Additive) .............................. 45
3.1.12 Perhitungan Displacement Volume .......................................... 46
3.2 Pembahasan ........................................................................................ 47
BAB IV PENUTUP ..................................................................................... 52
4.1 Kesimpulan ....................................................................................... 52
4.2 Saran .................................................................................................. 52
DAFTAR PUSTAKA .................................................................................. 53
LAMPIRAN ................................................................................................. 55

viii

DAFTAR GAMBAR
Halaman
Gambar 1.1 Tapal Batas Kegiatan PT Pertamina EP Sangatta Field .............

Gambar 1.2 Pembagian Risk Eksplorasi dan Batas WKP ............................

Gambar 1.3 Cekungan di Kalimantan ...........................................................

Gambar 2.1 Skema Penyemenan ...................................................................

Gambar 2.2 Gambaran Tujuan Primary Cementing ..................................... 10


Gambar 2.3 Cementing Unit ......................................................................... 23
Gambar 2.4 Flow Line ................................................................................... 24
Gambar 2.5 Cementing Head ........................................................................ 24
Gambar 2.6 Casing ........................................................................................ 25
Gambar 2.7 Top and Bottom Plug ................................................................. 25
Gambar 2.8 Float Shoe ................................................................................. 26
Gambar 2.9 Float Collar ............................................................................... 26
Gambar 2.10 Centralizer ............................................................................... 27
Gambar 2.11 Scratcher ................................................................................. 27
Gambar 2.12 Stage Collar.............................................................................. 28
Gambar 3.1 Diagram Casing Sumur #H-03 ............................................... 38

ix

DAFTAR TABEL
Halaman
Tabel 2.1 Klasifikasi Semen Berdasarkan API ........................................... 13
Tabel 3.1 Data Penyemenan Casing 9 58 " Sumur #H-03 ...................... 36
Tabel 3.2 Densitas dan Yield Cement Slurry Sumur #H-03.................... 37
Tabel 3.3 Material Penyemenan Sumur #H-03 ....................................... 37
Tabel 3.4 Volume Slurry Penyemenan Sumur #H-03 ............................. 48
Tabel 3.5 Total Additive Penyemenan Sumur #H-03.............................. 50

DAFTAR LAMPIRAN
Halaman
Lampiran Cementing Proposal For 9 58 " Casing ..................................... 55

xi

DAFTAR ISTILAH DAN SINGKATAN

Keterangan

Pertama Kali
Digunakan
Pada Halaman

Additive

Zat tambahan untuk mendapatkan sifat


sifat semen yang diinginkan

12

Annulus

Ruang antara dua tubular yang berbeda


ukuran

API

American Petroleum Institute, standar


pada dunia perminyakan dan gas bumi

11

Blow out

Kick yang tidak dapat dikendalikan


sehingga terjadi semburan liar ke
permukaan

21

Bumping pressure

Naiknya tekanan karena aliran fluida


ditutup

29

BWOC

By Weight On Cement

35

Caliper log

Metode untuk
lubang bor

mengukur

diameter

Casing

Pipa selubung
lubang bor

sebagai

pelindung

Cutting

Serpihan dari lubang bor

28

Deepening

Memperdalam lubang bor

48

Excess

Tambahan bubur semen karena safety


factor

32

Exist Casing

Casing yang akan disemen

32

Filtrat

Fasa cair dari suatu fluida

17

Istilah/Singkatan

32

xii

Flash-set

Bubur semen kekurangan air akibat


banyaknya filtrat yang hilang

17

Formasi abnormal

Formasi yang memiliki tekanan lain


dari biasanya

10

HSR

High Sulphate Resistance

11

Lead slurry

Bubur semen yang berada di depan


tail slurry

37

MSR

Moderated Sulphate Resistance

11

Mud cake

Sisa sisa dari lumpur pemboran yang


menempel di dinding formasi

27

Open hole

Dinding lubang bor yang tidak atau


belum disemen

32

Komplesi
sumur
dengan
cara
Perforated Completion perforasi/membuat lubang pada casing
di zona produktif

10

Previous casing

Casing yang sudah disemen pada


trayek sebelumnya

32

Safety factor

Faktor keamanan dalam melaksanakan


suatu pekerjaan

15

SG

Specific Gravity

37

Slurry

Bubur atau suspensi semen

Spacer

Fluida yang berfungsi


lumpur dan bubur semen

Strength

Kekuatan
tekanan

Tail slurry

Bubur semen yang berada di belakang


lead slurry

semen

untuk

membatasi

menahan

29

16

37

xiii

Top of cement

Puncak dari penyemenan

36

Top of tail

Puncak dari tail slurry

36

Valve

Katup yang berfungsi membuka atau


menutup aliran fluida

25

Viskositas

Ketahanan suatu fluida terhadap aliran

14

Yield Semen

Nilai yang menunjukkan jumlah


volume slurry dengan komposisi
tertentu yang dapat dihasilkan dari tiap
sak semen

34

Zona produktif

Zona yang terdapat fluida produksi

10

xiv

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Penyemenan merupakan salah satu faktor terpenting dalam suatu proses
pemboran. Penyemenan pada sumur pemboran adalah suatu proses pencampuran
(mixing) dan pendesakan (displacement) bubur semen (slurry) melalui casing
sehingga mengalir ke atas melewati annulus di belakang casing sehingga casing
terikat ke formasi. Pada umumnya penyemenan bertujuan untuk melekatkan
casing pada dinding lubang bor, melindungi casing dari masalah-masalah mekanis
sewaktu pemboran berlangsung, melindungi casing dari fluida formasi yang
bersifat korosif dan untuk memisahkan zona yang lain di belakang casing.
Penyemenan merupakan faktor yang paling penting dalam operasi pemboran
sehingga dapat mereduksi kemungkinan-kemungkinan permasalahan secara
mekanis sewaktu melakukan pemboran pada trayek selanjutnya.
Menurut alasan dan tujuannya, penyemenan dapat dibagi menjadi dua
yaitu: Primary cementing (penyemenan utama) dan secondary cementing
(penyemenan yang kedua atau perbaikan). Primary cementing adalah proses
penyemenan yang dilakukan pertama kali setelah casing diturunkan ke dalam
lubang bor. Sedangkan secondary cementing adalah penyemenan yang dilakukan
dikarenakan tidak sempurnanya penyemenan pertama (gagal). Selain itu,
secondary cementing juga dilakukan jika ingin menutup zona perforasi yang tidak
lagi digunakan, menutup kebocoran casing dan menutup sumur yang sudah akan
ditinggalkan.
Pada proses penyemenan, harus dilakukan perhitungan terlebih dahulu
terhadap volume dan materialnya sebelum memompakan slurry ke dalam sumur,
dimana perhitungan tersebut harus dilakukan secara tepat guna mendapatkan hasil
penyemenan yang baik. Maka dari itu penulis bermaksud untuk membahas
bagaimana proses perhitungan material kebutuhan slurry pada penyemenan casing
9 58 " Sumur #H-03 Lapangan Y.
1

1.2 Maksud dan Tujuan


Adapun maksud dan tujuan penulisan tugas akhir ini adalah untuk
menghitung material slurry yang akan dibutuhkan pada penyemenan casing
9 58 " Sumur #H-03 Lapangan Y, dan untuk memahami bagaimana proses
perhitungan volume dan material slurry yang dibutuhkan pada suatu penyemenan
program primary cementing khususnya casing 9 58 ".
1.3 Batasan Penulisan
Dalam Penulisan Tugas Akhir ini penulis hanya akan melakukan
perhitungan material slurry dengan menghitung berapa banyak volume dan
material slurry yang dibutuhkan untuk melakukan penyemenan casing 9 58 "
Sumur #H-03 Lapangan Y.
1.4 Metode Penelitian
Metode yang dipakai penulis adalah dengan metode studi pustaka dengan
mengolah data lapangan.
1.5 Sistematika Penulisan
Dalam penulisan Tugas Akhir ini terdapat empat bab dengan perincian
sebagai berikut :

Bab I Pendahuluan, dalam bab ini akan diberikan suatu gambaran


mengenai latar belakang yang mendasari, batasan terhadap ruang lingkup
dan tujuan yang akan dicapai serta dilanjutkan dengan keadaan umum
lapangan.

Bab II Tinjauan Pustaka, dalam bab ini akan diberikan pengetahuan


umum dan penjelasan mengenai penyemenan.

Bab III Hasil dan Pembahasan, dalam bab ini terdapat sub-bab hasil yang
akan menjelaskan proses perhitungan dan sub-bab pembahasan yang akan
menjelaskan hasil dari perhitungan.

Bab IV Kesimpulan, dalam bab ini akan berisi kesimpulan dari semua
pembahasan dan perhitungan yang dijelaskan sebelumnya.

1.6 Keadaan Umum Lapangan


1.6.1

Sejarah Lapangan
Kegiatan eksplorasi dan eksploitasi migas di Sangatta, dimulai pada tahun

1902 oleh ilmuan geologi Belanda, Muller dan Ulrich yang menemukan daerah
yang berpotensi terhadap minyak bumi di daerah Sangatta Kalimantan Timur.
Tahun 1936, BPM melakukan penyelidikan gravitasi terhadap daerah Sangatta.
Pada tahun 1939, sumur ST-1 mulai dibor sebagai sumur eksplorasi (1384
m) dan berhasil menemukan cadangan minyak dan gas. Namun kegiatan
eksplorasi migas di daerah Sangatta sempat terhenti karena terjadi Perang Dunia
II. Tahun 1949, kegiatan eksplorasi dan eksploitasi dilanjutkan kembali namun
dihentikan karena tidak ekonomis.
Tahun 1970, PERTAMINA kembali melakukan kaji ulang dengan
melakukan penyelidikan geologi dan seismik di area operasi Sangatta. Di tahun
1972, PERTAMINA merehabilitasi 6 sumur bekas BPM dan dilanjutkan kembali
dengan pemboran pengembangan tahun 1973.
Produksi komersil di Sangatta Field dimulai pada tahun 1976 sebesar 5304
BOPD dan mencapai puncaknya pada tahun 1979 dengan produksi 9125 BOPD.
Rata-rata produksi di Sangatta Field pada bulan Juni tahun 2007 adalah sebesar
2150 BOPD.
1.6.2

Letak Geografis
Daerah operasi PT. Pertamina EP Region KTI Sangatta Field terletak pada

lapangan minyak Sangatta dan termasuk dalam Cekungan Kutai. Secara geografis
terletak pada garis LU 025027 dan garis BT 11728-11730 atau terletak
kurang lebih 300 km sebelah timur laut Balikpapan. Dengan luas Wilayah Kerja
Pertambangan Sangatta Bungalun sekitar 6.967 km2 dan Sangatta sekitar 17
km2.

Gambar 1.1 Tapal Batas Kegiatan


PT. Pertamina EP Region KTI Sangatta Field
(Data PT. Pertamina EP Region KTI Sangatta Field, 2006)

Gambar 1.2 Pembagian Risk Eksplorasi dan Batas WKP


(Data PT. Pertamina EP Region KTI Sangatta Field, 2006)
1.6.3

Geologi Daerah Sangatta


Daerah Sangatta terletak di antara Delta Mahakam dan Tinggian

Mangkalihat Peninsula serta termasuk dalam Cekungan Kutai bagian utara.


Berdasarkan hasil analisa Formasi Balikpapan di Lapangan Sangatta disimpulkan
bahwa sistem delta di Sangatta adalah merupakan perkembangan delta tersendiri

yang berkembang di bagian utara Cekungan Kutai dan terpisah dari Delta
Mahakam purba di bagian selatan.

TARAKAN
BASIN

KUTAI

BASIN
BARITO
BASIN

ASEM
BASIN

Gambar 1.3 Cekungan di Kalimantan


(Data PT. Pertamina EP Region KTI Sangatta Field, 2006)
Sistem delta yang berada di Sangatta ini terbentuk bersamaan dengan
proto Delta Mahakam yang diperkirakan mulai berlangsung sejak Miosen Awal.
Penurunan dasar cekungan selama kala Eosen hingga Oligosen awal
menyebabkan terjadinya transgresi regional yang berlangsung dari timur sampai
barat.
Pengangkatan Tinggian Kuching pada kala Oligosen Akhir mengubah arah
umum sedimentasi di Cekungan Kutai dengan dimulainya fase regresi utama dari
barat ke timur. Sedimentasi delta mencapai puncak perkembangannya pada kala
Miosen Akhir hingga Pliosen. Akibat dari kegiatan tektonik Oligosen Akhir
tersebut di daerah Sangatta tidak begitu nyata. Kemungkinan daerah Mangkupa
sebelah utara Sungai Bungalun terangkat dan daerah lainnya termasuk Sangatta
masih berada dalam fase transgresi. Sedimentasi dan tektonik daerah Sangatta
Bungalun telah berjalan secara sinkron.
Pengangkatan yang diikuti erosi sebelah barat menyebabkan sedimentasi
di daerah timur (sekitar daerah Sangatta), sebaliknya bila intensitas pengangkatan
berkurang, transgresi dari timur berlangsung ke arah barat.
Di kawasan Sangatta Bungalun pengendapan delta yang cepat pada

Miosen Tengah mulai membebani endapan lempung tebal berumur tersier dan
mengkibatkan masa lempung yang belum mampat (kompak) itu menjadi labil.
Akibatnya masa lempung mencuat, berdiapirik menerus sedimen regresif di
atasnya membentuk struktur antiklin yang sempit ini dipisahkan oleh sinklin
sinklin yang lebar, berlangsung setahap demi setahap beruntun bersamaan dengan
progradasi pengendapan delta.
1.6.4

Stratigrafi dan Sedimentasi


Penyebaran foraminifera secara vertikal yang meliputi jumlah kelimpahan

dan keregangan genus atau spesies di daerah Sangatta menunjukkan adanya


perubahan lingkungan pengendapan yang jelas mulai dari batial neritik luar
pada bagian bawah dan berturut turut ke arah yang lebih mudah berubah
menjadi neritik tengah, neritik pinggir, lagoon dan fluvial delta plain. Kemudian
berubah lagi menjadi neritik pinggir berselang seling dengan fluvial delta
plain sampai sedimen yang termuda.
Perubahan lingkungan pengendapan tersebut ditunjang pula oleh
paleogeografi daerah Sangatta yang bentuk topografinya sangat landai. Adanya
fluktuasi permukan air laut yang berubah ubah dari fase transgresi menjadi fase
regresi dan sebaliknya akan membentuk sifat sedimen yang khusus di daerah
Sangatta yaitu merupakan selang seling batu pasir, batu lempung dan batubara
dengan ketebalan berkisar dari 2 meter s/d 10 meter berulang secara periodik, dari
bawah ke atas dan monoton tanpa adanya perubahan lingkungan pengendapan
yang mencolok. Hal ini dapat dilihat dari pencerminan bentuk kurva log GR/SP
dan resistivity di setiap sumur Lapangan Sangatta yang bentuknya monoton dari
bawah keatas dan tidak memperlihatkan perubahan bentuk kurva yang mencolok.
Dilihat dari posisi stratigrafi, daerah Sangatta didominasi oleh litologi dari
Formasi Balikpapan yang terdiri dari variasi perselingan antara batu pasir, batu
lempung, batubara dan lensa lensa batu gamping yang mencapai ketebalan
2100 meter.
Sedimentasi yang diawali oleh fase transgresi (Eosen-Oligosen), kondisi
transgresi maksimum (Oligosen-Miosen) dan diakhiri oleh suatu tahap regresi
6

mulai dari Miosen Tengah sampai Pliosen. Walaupun demikian, dalam kenyataan
sepanjang fase regresi telah pula berlangsung beberapa siklus transgresi-regresi
kecil.
Pada kala Miosen Bawah daerah ini, Mangkupa yang berada di sebelah
barat laut Sungai Bungalun diduga mengalami pengangkatan dan sekitarnya
diendapkan lempung pasir, lanau dan batu gamping dalam lingkungan laut neritik.
Ke timur pengendapan telah berlangsung dalam kondisi laut yang lebih dalam,
dibuktikan oleh pemboran sumur miang 1, dimana batuan berumur Miosen
Bawah menunjukkan lingkungan batial.
Stratigrafi daerah Sangatta, berdasarkan data log, data geologi dan data fosil
diwakili oleh tiga formasi batuan, yaitu berturut turut dari bawah ke atas:
1. Formasi Pamaluan
Litologi terdiri dari batu lempung dan lanau berwarna kelabu hingga kelabu
kehitaman selang seling dengan batu pasir mulai dari kedalaman 3000 m
sampai 3141 m. Di Sangatta litologi tersebut merupakan bagian atas dari
Formasi Pamaluan dengan umur Miosen Bawah dan diendapkan pada
lingkungan laut neritik.
2. Formasi Palubalang
Formasi ini dari kedalaman 2166 m hingga 3000 m. Litologinya berupa
perselingan antara batu pasir dengan batu lempung, kadang kadang
terdapat sisipan batu gamping yang banyak mengandung fosil. Umur dari
formasi ini adalah Miosen Tengah dan diendapkan pada lingkungan neritik
tengah neritik dalam.
3. Formasi Balikpapan
Formasi ini dari permukaan hingga kedalaman 2166 m. Susunan litologi
berupa perselingan batu pasir dan batu lempung dengan sisipan batubara.
Umur dari lapisan ini adalah Miosen Tengah bagian atas dan diendapkan
pada lingkungan neritik dalam, hingga transisi dengan model pengendapan
selang seling antara kondisi fluvial dan kondisi delta.

Dari ketiga formasi di atas mempunyai petroleum system yang berbeda


beda, Formasi Balikpapan adalah formasi yang sangat komplek karena bisa
menjadi source rock, reservoir, seal rock dan juga trap. Untuk formasi yang lain
hanya mempunyai sifat yang sedikit dibanding dengan Formasi Balikpapan.
Lapangan Sangatta merupakan bagian dari komplek Delta Mahakam
sebagai produk dari sedimentasi. Sungai Mahakam telah ada sejak zaman Miosen
Tengah. Delta Mahakam sebelah utara dibatasi oleh Tinggian Mangkalihat,
sebelah barat oleh Dataran Tinggi Meratus.
Gambaran secara regional struktur bawah permukaan daerah Sangatta
merupakan sebuah antiklin memanjang dari selatan ke arah utara dengan sudut
kemiringan di kedua sayapnya berkisar antara 6 8, dan dengan beberapa blok
patahan. Patahan pada umumnya merupakan patahan normal yang melintang di
bagian tengah, sedang di ujung selatan ada patahan pergeseran ke samping
(tranversal fault) diikuti dengan potongan kecil yang membelok ke arah timur
selatan. Luas lapisan antiklin produktif 18 km 2 dengan panjang 6 km dan lebar 3
km dengan kemiringan 6 8 pada kedua sayapnya.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Penyemenan
Penyemenan merupakan suatu proses pendorongan sejumlah slurry ke
dalam casing, kemudian melalui bagian bawah sepatu casing mengalir naik ke
annulus antara casing dan formasi. Kemudian slurry ini akan mengeras sehingga
mengikat antara casing dan formasi atau casing dengan casing. Skema
penyemenan dapat dilihat pada gambar 2.1.
Tujuan penyemenan adalah untuk melekatkan casing pada dinding lubang
sumur untuk melindungi casing dari masalah masalah mekanis sewaktu operasi
pemboran berlangsung dan melindungi casing dari fluida formasi yang bersifat
korosi dan untuk memisahkan zona yang satu dengan zona yang lain di belakang
casing. Menurut alasan dan tujuannya, penyemenan dapat dibagi dua yaitu
primary cementing (penyemenan utama) dan secondary cementing (penyemenan
kedua).

Gambar 2.1 Skema Penyemenan


(George O. Suman, 1977)

2.2 Jenis Penyemenan


2.2.1

Primary Cementing

Pada primary cementing, penyemenan casing pada dinding lubang sumur


dipengaruhi oleh jenis casing yang akan disemen.
Penyemenan conductor casing bertujuan untuk mencegah terjadinya
kontaminasi fluida pemboran (lumpur pemboran) terhadap lapisan tanah
permukaan.
Penyemenan surface casing bertujuan untuk melindungi air tanah agar
tidak tercemar dari fluida pemboran, memperkuat kedudukan surface casing
sebagai tempat dipasangnya alat BOP (Blow Out Preventer), untuk menahan
beban casing yang terdapat di bawahnya dan untuk mencegah terjadinya aliran
fluida pemboran atau fluida formasi yang akan melalui surface casing.
Penyemenan intermediate casing bertujuan untuk menutup tekanan
formasi abnormal atau untuk mengisolasi daerah lost circulation.
Penyemenan production casing bertujuan untuk mencegah terjadinya
aliran antar formasi ataupun aliran fluida formasi yang tidak diinginkan yang akan
memasuki sumur. Selain itu, penyemenan production casing bertujuan untuk
mengisolasi zona produktif yang akan diproduksikan fluida formasi (perforated
completion) dan juga untuk mencegah terjadinya korosi pada casing yang
disebabkan oleh material material korosif.

Gambar 2.2 Gambaran Tujuan Primary Cementing


(Anonimous, Teori Dasar Penyemenan)

10

2.2.2

Secondary Cementing

Setelah operasi khusus penyemenan dilakukan, seperti Cement Bond


Logging (CBL) dan Variable Densitas Logging (VDL), kemudian didapati kurang
sempurnanya

atau terdapat

kerusakan pada

primary

cementing.

Maka

dilakukanlah secondary cementing. Secondary cementing dilakukan juga apabila


pengeboran gagal mendapat minyak dan menutup kembali zona produksi yang
diperforasi.
Ada beberapa pekerjaan secondary cementing yaitu di antaranya squeeze
cementing, re-cementing, dan plugback cementing.

2.3 Klasifikasi Semen


American Petroleum Institute (API) telah melakukan pengklasifikasian
semen ke dalam beberapa kelas guna mempermudah pemilihan dan penggolongan
semen yang akan digunakan. Pengklasifikasian ini didasarkan atas kondisi sumur
dan sifat-sifat semen yang disesuaikan dengan kondisi sumur tersebut. Kondisi
sumur tersebut meliputi kedalaman dan kandungan yang terdapat dalam fluida
formasi (seperti Sulphate dan sebagainya). American Petroleum Institute (API)
menstandarisasikan semen portland berdasarkan pada konsentrasi bahan-bahan
dasar di dalam semen, yaitu sebagai berikut :
a. Kelas A : Digunakan dari permukaan sampai kedalaman 6000 ft (1830 meter)
dengan temperatur hingga 800C dan tidak tahan terhadap Sulphate. Tersedia
hanya dalam tipe Ordinary (O), digunakan pada kondisi normal.
b. Kelas B : Digunakan dari permukaan sampai kedalaman 6000 ft (1830 meter)
dan temperatur hingga 800C dengan kondisi formasi banyak mengandung
Sulphate. Tersedia hanya dalam tipe Ordinary (O) dan Moderate Sulphate
Resistant (MSR).
c. Kelas C : Digunakan dari permukaan sampai kedalaman 6000 ft ft (1830
meter) dan temperatur hingga 800C pada kondisi dimana diperlukan
pengerasan yang cepat. Tersedia semen tipe Ordinary (O), Moderate Sulphate
Resistant (MSR) dan High Sulphate Resistant (HSR).

11

d. Kelas D : Digunakan dari kedalaman 6000 ft (1830 meter) sampai 10.000 ft


(3050 meter) dengan kondisi tekanan formasi dan temperatur agak tinggi
(antara 80 1300C). Tersedia semen tipe Moderate Sulphate Resistant (MSR)
dan High Sulphate Resistant (HSR).
e. Kelas E : Digunakan dari kedalaman 10.000 ft (3050 meter) sampai 14.000 ft
(4270 meter) dengan kondisi temperatur (130 1450C) dan tekanan formasi
tinggi. Tersedia semen tipe Moderate Sulphate Resistant (MSR) dan High
Sulphate Resistant (HSR).
f. Kelas F : Digunakan dari kedalaman 10.000 ft (3050 meter) sampai 16.000 ft
(4880 meter) dengan kondisi temperatur (130 1600C) dan tekanan formasi
yang sangat tinggi. Tersedia semen tipe Moderate Sulphate Resistant (MSR)
dan High Sulphate Resistant (HSR).
g. Kelas G : Digunakan sebagai semen dasar untuk penyemenan dengan
kedalaman dari permukaan sampai 8000 ft (2440 meter) dengan temperatur
hingga 900C. Bila ditambah dengan additives, maka semen kelas G ini dapat
digunakan pada tekanan dan temperatur yang lebih tinggi serta kedalaman
yang lebih. sebagai semen dasar dan jika diperlukan dapat ditambah additives
yang sesuai. Tersedia semen tipe Moderate Sulphate Resistant (MSR) dan
High Sulphate Resistant (HSR).
h. Kelas H : Digunakan sebagai semen dasar untuk penyemenan dengan
kedalaman dari permukaan sampai 8000 ft (2440 meter) dengan temperatur
hingga 950C. Tersedia semen tipe Moderate Sulphate Resistant (MSR) dan
High Sulphate Resistant (HSR).

12

Tabel 2.1 Klasifikasi Semen Berdasarkan API


(Dwight K. Smith, 1990)
API
Classification

Mixing
Water
(gal/sk)

Slurry Weight Well Depth


(lb/gal)
(ft)

Static
Temperatur
(0F)

A (portland)

5.2

15.6

0 to 6.000

80 to 170

B (portland)

5.2

15.6

0 to 6.000

80 to 170

C (high early)

6.3

14.8

0 to 6.000

80 to 170

D (retarded)

4.3

16.4

E (retarded)

4.3

16.4

F (retarded)

4.3

16.2

G (basic)

5.0

15.8

0 to 8.000

80 to 170

H (basic)

4.3

16.4

0 to 8.000

80 to 170

6.000 to

170 to 260

12.000
6.000 to

170 to 290

14.000
10.000 to

230 to 320

16.000

2.4 Sifat Sifat Semen


Bubur semen yang dibuat harus disesuaikan sifat-sifatnya dengan keadaan
formasi yang akan disemen. Sifat-sifat bubur semen yang dimaksud adalah
sebagai berikut : Densitas, thickening time, strength, sifat filtrasi, permeabilitas
semen, Water Cement Ratio, dan Waiting On Cement.

2.4.1 Densitas
Densitas suspensi semen dapat didefinisikan sebagai perbandingan antara
jumlah berat bubuk semen, air pencampur, dan additive terhadap jumlah volume
bubuk semen, air pencampur, dan additive. Densitas ini dapat dihitung dengan
menggunakan rumus :

Dbs

Gbk Gw Ga
Vbk Vw Va

(2.1)
13

dimana :Dbs : Densitas suspensi semen, lb/gal.


Gbk : Berat bubuk semen, lb.
Gw

: Berat air, lb.

Ga

: Berat additive, lb.

Vbk : Volume bubuk semen, gal.


Vw

: Volume air, gal.

Va

: Volume additive, gal.

Densitas suspensi semen sangat berpengaruh terhadap tekanan hidrostatis


suspensi semen di dalam lubang sumur. Bila formasi tidak sanggup menahan
tekanan suspensi semen, maka akan menyebabkan formasi pecah, sehingga terjadi
lost circulation. Untuk mengurangi densitas suspensi semen dapat ditambahkan
clay, zat-zat kimia silikat jenis extender atau bahan-bahan yang dapat
memperbesar volume suspensi semen seperti pozzolan. Untuk memperbesar
densitas suspensi semen dapat ditambahkan pasir atau material-material pemberat
ke dalam suspensi semen seperti barite.

2.4.2 Thickening Time Dan Viskositas


Bubur semen harus tetap dalam keadaan cair agar dapat dipompakan ke
tempat dimana semen harus mengeras dalam waktu tertentu. Thickening time
adalah waktu yang dibutuhkan bubur semen untuk mencapai konsistensi 100 UC
(Unit of Consistency). Harga 100 UC ini merupakan batas bubur semen masih
dapat dipompakan. Dalam hidrasinya semen makin lama makin mengeras dan
naik viskositasnya. Viskositas pada semen disebut konsistensi karena untuk
membedakan viskositas yang digunakan pada penyemenan dan pada pemboran
terhadap istilah viskositas fluida newtonian. Untuk memperpanjang atau
memperpendek thickening time adalah dengan menambahkan additives ke bubur
semen.
Besarnya thickening time yang diperlukan adalah tergantung dari
kedalaman penyemenan, volume bubur semen yang akan dipompakan serta jenis
penyemenan. Umumnya thickening time adalah 3 3,5 jam untuk penyemenan
dengan kedalaman 6.000 18.000 ft. Waktu tersebut termasuk waktu pembuatan

14

bubur semen sampai penempatan semen di belakang casing ditambah dengan


harga safety factor, sedangkan pada penyemenan yang lebih dalam dimana
tekanan dan temperatur akan semakin tinggi sehingga diperlukan additive untuk
memperlambat pengerasan (thickening time).
Untuk memperpanjang thickening time perlu ditambahkan retarder ke
dalam suspensi semen, seperti kalsium lignosulfonat, carboxymethil retarder
cellulose dan senyawa-senyawa asam organik. Untuk memperpendek thickening
time dapat ditambahkan accelerator ke dalam suspensi semen seperti kalsium
klorida, sodium klorida, gypsum, sodium silikat, air laut dan additive yang
tergolong dispersant.
Bila semen mengeras di dalam casing merupakan problema yang fatal bagi
operasi pemboran selanjutnya. Waktu pemompaan yang maksimum umumnya
disamakan dengan thickening time dengan pertimbangan faktor keamanan. Waktu
pemompaan yang diperlukan dipengaruhi oleh tinggi kolom dan volume suspensi
semen yang harus dipompakan, kecepatan laju alir pemompaan dan temperatur
operasi sumur tersebut.

2.4.3 Water Cement Ratio (WCR)


Water cement ratio adalah perbandingan antara volume air dan semen
yang dicampurkan untuk mendapatkan sifat-sifat bubur semen yang diinginkan.
Air yang dicampurkan tidak boleh terlalu banyak ataupun kurang, karena akan
mempengaruhi baik-buruknya ikatan semen nantinya. Batasannya diberikan
dalam bentuk kadar maksimum dan minimum air. Kadar air minimum adalah
jumlah air yang dicampurkan tanpa menyebabkan konsistensi suspensi semen
lebih dari 30 UC. Bila air yang ditambahkan lebih kecil dari kadar minimumnya
maka akan menaikkan densitas suspensi semen yang akan menimbulkan gesekan
(friksi) yang cukup besar di annulus sewaktu suspensi semen dipompakan yang
akhirnya akan menaikkan tekanan di annulus.
Kadar air maksimum ditunjukkan oleh adanya kandungan air yang bebas
(free water) yang dapat dicari dengan mengambil suspensi semen sebanyak
250 ml, kemudian didiamkan selama 2 jam sehingga akan terjadi air bebas pada

15

bagian atas tabung. Untuk semen kelas G air bebas yang terjadi tidak boleh lebih
dari 3,5 ml (1.4%). Bila air bebas yang terjadi melebihi 3,5 ml maka akan terjadi
pori-pori pada semen. Dan ini akan mengakibatkan semen mempunyai
permeabilitas yang besar.

2.4.4 Waiting On Cement (WOC)


Waiting on cement atau waktu menunggu pengerasan semen adalah waktu
yang dihitung saat menunggu pengerasan suspensi semen setelah semen selesai
ditempatkan. WOC ditentukan oleh faktor-faktor seperti tekanan dan temperatur
sumur, WCR, compressive strength dan additive yang dicampurkan ke dalam
suspensi semen (seperti accelerator atau retarder). WOC berdasarkan API adalah
jika compressive strength mencapai 1000 psi.

2.4.5 Compressive Strength Dan Shear Strength


Strength pada semen terbagi menjadi dua yaitu compressive strength dan
shear strength. Compressive strength didefinisikan sebagai kekuatan semen dalam
menahan tekanan-tekanan yang berasal dari formasi maupun dari casing,
sedangkan shear strength didefinisikan sebagai kekuatan semen dalam menahan
berat casing. Jadi compressive strength menahan tekanan-tekanan dalam arah
horisontal dan shear strength menahan tekanan-tekanan pada arah vertikal.
Compressive strength dipengaruhi oleh besarnya kandungan air dalam
suspensi semen dan lamanya waktu pengkondisian (curing time). Dalam
mengukur strength semen seringkali yang diukur adalah compressive strength,
sedang shear strength kurang diperhatikan. Umumnya compressive strength
mempunyai harga 8 10 kali lebih dari harga shear strength. Pengujian
compressive strength di laboratorium dilakukan dengan menggunakan alat
Curing Chamber dan water curing bath, untuk kemudian diuji kekerasannya
dengan menggunakan hydraulic chamber. Curing chamber dapat mensimulasikan
kondisi semen untuk tekanan dan temperatur tinggi sesuai dengan temperatur dan
tekanan formasi. Hydraulic chamber merupakan mesin pemecah semen yang
sudah mengeras dalam curing chamber. Compressive strength minimum

16

direkomendasikan oleh API untuk dapat melanjutkan operasi pemboran adalah


500 psi. Sedang shear strength yang baik tidak kurang dari 100 psi, sehingga
casing dapat terikat dengan kokoh. Dalam keadaan ini pemboran sudah dapat
dilanjutkan. Dari segi teknis, strength semen diharuskan memenuhi persyaratan
sebagai berikut :
a. Kuat menahan pipa selubung.
b. Mengisolasi zona-zona permeabel.
c. Menahan goncangan-goncangan pemboran dan tidak pecah karena perforasi.
d. Mencegah terjadinya kontak antara casing dengan fluida formasi.
2.4.6 Filtration Loss
Filtration loss adalah peristiwa hilangnya cairan dalam suspensi semen ke
dalam formasi permeabel yang dilaluinya. Cairan atau umumnya air yang masuk
ini disebut dengan filtrat. Filtrat yang hilang tidak boleh terlalu banyak, karena
akan membuat suspensi semen kekurangan air yang disebut dengan flash-set. Bila
suspensi semen mengalami flash-set, maka akibatnya akan sama jika air yang
dicampurkan dalam bubur semen yang jumlahnya lebih kecil dari kadar
minimumnya. Akibatnya friksi pada annulus akan naik, pressure loss naik dan
tekanan bubur semen di annulus juga naik. Bila hal ini terjadi, maka formasi akan
rekah. Jadi dapat disimpulkan, bila formasi yang akan dilalui bubur semen
merupakan formasi yang porous dan permeabel, maka perlu penambahan additive
yang sesuai sebelum bubur semen dipompakan.

Filtration loss

yang

direkomendasikan oleh API adalah :


-

Untuk formasi permeabel dengan zona gas, dimana migrasi gas mudah
terjadi maka semen dianjurkan memiliki semen fluid loss antara 20 40
ml / 30 menit.

Untuk semen densitas tinggi dengan pengurangan kadar air yang dapat
menimbulkan gangguan pada operasi pemompaan semen terutama pada
pemompaan yang rendah API fluid lossnya adalah kurang dari 50 ml / 30
menit.

17

Dan untuk semen casing produksi API fluid lossnya kurang dari 100 ml /
30 menit.
Pengujian filtration loss di laboratorium menggunakan alat filter press

pada kondisi temperatur sirkulasi dengan tekanan 1000 psi. Namun filter loss
mempunyai kelemahan yaitu temperatur maksimum yang dapat digunakan hanya
sampai 900F (32,220C). Filtration loss diketahui dari volume filtrat yang
ditampung dalam sebuah tabung atau gelas ukur selama 30 menit masa pengujian.
Bila waktu pengujian tidak sampai 30 menit maka besarnya Filtration loss dapat
diketahui dengan rumus :
F30

Ft

5.477
t

....

(2.3)

dimana :
F30

: Filtrat pada 30 menit.

Ft

: Filtrat pada t menit.

: Waktu pengukur, menit.

2.4.7 Permeabilitas Semen


Permeabilitas diukur pada semen yang mengeras dan bermakna sama
dengan permeabilitas pada batuan formasi yang berarti sebagai kemampuan untuk
mengalirkan fluida. Semakin besar permeabilitas semen maka semakin banyak
fluida yang dapat melalui semen tersebut dan begitu pula sebaliknya.
Semen diinginkan tidak mempunyai permeabilitas. Karena jika semen
mempunyai permeabilitas besar akan menyebabkan terjadinya kontak fluida
antara formasi dengan annulus dan juga strength semen berkurang. Permeabilitas
semen dapat naik karena air yang dicampurkan dalam bentuk bubur semen terlalu
banyak. Tetapi permeabilitas semen dapat juga meningkat karena terlalu
berlebihan dalam penambahan additive.
Perhitungan permeabilitas semen di laboratorium dapat dilakukan dengan
menggunakan Cement Permeameter dengan menggunakan sampel semen.
Permeabilitas diukur dengan menggunakan laju alir air yang melalui luas
permukaan sampel yang diberi perbedaan tekanan sepanjang sampel tersebut.

18

Perhitungan permeabilitas dapat dilakukan dengan menggunakan rumus darcy


sebagai berikut :
K

L
A P

(2.4)

dimana :
K

: Permeabilitas, mD.

: Laju alir, ml/s.

: Viskositas, cp.

: Panjang sampel, cm.

: Luas permukaan sampel, cm2.

: Perbedaan tekanan, psi.

Harga permeabilitas maksimum yang direkomendasikan oleh API adalah


tidak lebih dari 0,1 mD. Permeabilitas semen erat kaitannya dengan kekuatan
semen. Harga permeabilitas yang kecil akan menyebabkan harga strength yang
besar begitupun sebaliknya.
2.5 Additive Semen
Bermacam-macam semen telah dibuat orang untuk memenuhi kebutuhan
bermacam-macam kondisi sumur, seperti kedalaman, temperatur, tekanan dan ini
dapat diubah-ubah densitas dan thickening time-nya dalam batas-batas tertentu
dengan mengubah kadar air. Additive atau zat-zat tambahan adalah materialmaterial yang ditambahkan pada semen untuk memberikan variasi yang lebih luas
pada sifat-sifat bubur semen agar memenuhi persyaratan yang diinginkan.
Additive ini penting sekali dalam perencanaan bubur semen karena digunakan
untuk :
a. Mempercepat atau memperlambat thickening time.
b. Memperbesar strength.
c. Menaikkan atau menurunkan densitas bubur semen.
d. Menaikkan volume bubur semen.
e. Mencegah lost circulation.
f. Mengurangi fluid loss.

19

g. Menaikkan sifat tahan lama (durability).


h. Mencegah kontaminasi gas pada semen.
i. Menekan biaya.
2.5.1 Accelerator
Adalah additive yang digunakan untuk mempercepat pengerasan bubur
semen. Penggunaan additive ini terutama untuk penyemenan pada temperatur dan
tekanan rendah (sumur yang dibor masih dangkal) yang umumnya juga karena
jarak untuk mencapai target tidak terlalu panjang. Selain itu juga mempercepat
naiknya strength semen dan mengimbangi additive lain (seperti dispersant dan
fluid loss control agent), agar tidak tertunda proses pengerasan suspensi
semennya. Contoh-contoh additive yang berlaku sebagai accelerator yang umum
digunakan adalah Calcium Chloride, Sodium Chloride, Gypsum, Sodium Silicate
dan Sea Water.
2.5.2 Retarder
Adalah additive yang digunakan untuk memperpanjang waktu pengerasan.
Hal ini biasanya dilakukan pada penyemenan sumur yang dalam, dimana
temperaturnya tinggi. Additive yang berfungsi sebagai retarder antara lain :
Lignosulfonate, Organic Acids, Modified Lignosulfonate, Carboxy Methyl
Hydroxy Ethyl Cellulose.
2.5.3 Extender
Merupakan additive yang digunakan untuk membuat volume bubur semen
menjadi lebih banyak dari setiap sak semennya, karena diperlukan penambahan
air. Dengan demikian extenders berfungsi sebagai additive yang dapat
mengurangi atau menurunkan densitas bubur semen. yang termasuk extenders
adalah : Bentonite-Attapulgite, Gilsonite, Diatomaceous Earth, Perlite dan
Pozzolans.

20

2.5.4 Weighting Agents


Merupakan additive yang digunakan untuk memperbesar densitas bubur
semen dan biasanya digunakan pada formasi yang bertekanan tinggi yang berguna
mengurangi kemungkinan terjadinya blow out. yang termasuk dalam additive ini
adalah : Hematite, Ilmenite, Barite dan pasir.
2.5.5 Lost Circulation Materials
Lost Circulation Material adalah additive yang mengontrol hilangnya
suspensi semen ke dalam formasi yang lemah atau bergoa. Biasanya Lost
Circulation Material yang dipakai pada lumpur pemboran digunakan pula dalam
suspensi semen. Additive yang termasuk dalam Lost Circulation Material adalah
antara lain gilsonite, cellophane flakes, gipsum, bentonite dan nut shell.
2.5.6 Dispersants
Adalah additive yang berfungsi untuk mengurangi viskositas suspensi
semen. Pengurangan viskositas atau friksi terjadi karena dispersant mempunyai
kelakuan sebagai thinner (pengencer). Hal ini menyebabkan suspensi semen
menjadi encer, sehingga dapat mengalir dengan aliran turbulensi walaupun
dipompa dengan laju pemompaan yang rendah. Additive yang dapat digunakan
adalah Organic Acids, Lignosulfonate, Polymers dan Sodium Chloride.
2.5.7 Fluid Loss Control Agent
Fluid loss control agent adalah additive yang berfungsi mencegah
hilangnya fasa liquid semen ke dalam formasi, sehingga terjaga kandungan cairan
pada suspensi semen. Additive yang termasuk ke dalam fluid loss control agents
diantaranya polymer, CMHEC dan Latex.
2.5.8 Special Additive
Ada bermacam-macam additive lainnya yang dikelompokkan sebagai
special additive, diantaranya adalah silika, mud kill, radioactive tracers, antifoam
agent dan lainnya.

21

a. Silika
Bubuk Silika atau tepung silika umumnya digunakan sebagai additive dalam
operasi penyemenan supaya strength semen tidak hilang pada temperatur
tinggi.
b. Mud Kill
Berfungsi sebagai additive yang menetralisir bubur semen terhadap zat-zat
kimia dalam lumpur pemboran. Contoh mud kill adalah paraformaldehyde.
Mud kill juga memberi keuntungan seperti memperkuat ikatan semen dan
memperbesar strength semen.
c. Radioactive Tracers
Radioactive tracers ditambahkan ke dalam suspensi semen supaya
memudahkan operasi logging dalam menentukan posisi semen dan
mengetahui kualitas ikatan semen.
d. Antifoam Agents
Adanya foam (busa) dalam suspensi semen sering menyebabkan hilangnya
tekanan pemompaan, maka untuk mencegahnya ditambahkan antifoam agent.
Polypropylene Glycol adalah contoh antifoam agent yang sering digunakan,
karena selain efektif juga harganya murah.
2.6 Peralatan Penyemenan
2.6.1 Peralatan Atas Permukaan
Peralatan di permukaan yang diperlukan dalam penyemenan, terdiri dari
cementing unit, flow line, dan cementing head.
a. Cementing Unit
Cementing Unit merupakan suatu unit pompa yang berguna untuk
memompakan bubur semen dan lumpur pendorong dalam proses penyemenan.
Pada dasarnya Cementing Unit merupakan kumpulan dari berbagai peralatan yang
diperlukan dalam proses penyemenan yaitu :

Pump Skid
Pump skid merupakan pompa yang berfungsi untuk memompakan bubur
semen dan lumpur pendorong. Di samping itu pompa ini juga digunakan
22

untuk menekan bubur semen agar masuk ke dalam formasi melalui lubang
perforasi. Tekanan yang digunakan untuk memasukkan bubur semen
tersebut disebut tekanan squeeze.

Jet Mixer
Jet mixer berfungsi untuk mencampur semen kering dengan air sehingga
mengahasilkan bubur semen yang homogen.

Mixing Tub
Mixing tub adalah suatu alat yang berfungsi untuk menampung bubur semen
yang telah dihasilkan oleh jet mixer, bubur semen yang tertampung
selanjutnya dihisap oleh pump skid untuk diteruskan ke dalam sumur.

Bulk Cement
Bulk cement adalah suatu alat yang berfungsi untuk menyimpan atau
menampung semen kering.

Gambar 2.3 Cementing Unit


(Schlumberger, 2004)
b. Flow Line
Flow line merupakan rangkaian pipa yang berfungsi untuk mengalirkan
bubur semen atau sebagai media untuk mengalirkan fluida pendorong dari
Cementing Unit ke cementing head.

23

Gambar 2.4 Flow Line


(Clark Kent, 2006)
c. Cementing Head

Liner Cementing Head


Merupakan ujung dari flow line yang mempunyai fungsi untuk memasukkan
bubur semen ke dalam sumur.

Plug Dropping Head


Merupakan tempat plug yang akan diluncurkan untuk mendorong bubur
semen dan juga tempat memasukkan bola besi untuk pengesetan hydraulic
liner hanger.

Gambar 2.5 Cementing Head


(Schlumberger, 2004)
2.6.2 Peralatan Bawah Permukaan
Peralatan di bawah permukaan yang diperlukan dalam penyemenan antara
lain casing, top dan bottom plug, float shoe, float collar, landing collar,
centralizer, scratcher, dan dual stage cementing collar.
a.

Casing
Casing menurut fungsi dibagi menjadi : conductor casing, surface casing,

intermediate casing dan production casing / liner casing. Apabila casing hanya
24

dipasang pada zona produktif disebut open hole completion tetapi bila dipasang
dari atas hingga lapisan produktif disebut perforated casing completion.

Gambar 2.6 Casing


(Achmad Mudofir, 2002)
b.

Top Plug
Top Plug adalah plug yang berfungsi untuk mendorong bubur semen

melalui casing atau drill pipe yang telah ditempatkan pada plug dropping head.
c.

Bottom Plug
Bottom Plug adalah plug yang berfungsi untuk meminimalkan kontaminasi

antara semen dengan lumpur.

Gambar 2.7 Top and Bottom


(Schlumberger, 2004)
d.

Float Shoe
Float Shoe adalah peralatan yang terletak paling ujung dari rangkaian

casing. Float shoe dilengkapi dengan valve yang berfungsi mencegah aliran balik
suspensi semen dari annulus ke dalam casing.

25

Gambar 2.8 Float Shoe


(Clark Kent, 2006)
e.

Float Collar
Float Collar adalah collar yang mempunyai valve dan mempunyai fungsi

untuk mencegah aliran balik bubur semen dari annulus ke dalam casing.

Gambar 2.9 Float Collar


(Clark Kent, 2006)
f.

Landing Collar
Landing Collar adalah tempat mendaratnya setting ball untuk keperluan

pengesetan hydroulic hanger dan juga tempat duduknya plug.


g.

Centralizer
Centralizer dipergunakan untuk menempatkan casing supaya berada

ditengah-tengah lubang bor sehingga didapatkan cincin semen yang merata. Alat
ini penting karena ikut menentukan tingkat keberhasilan penyemenan casing.
Jarang sekali casing kedapatan pada posisi lurus, pada beberapa tempat akan
kontak dengan dinding lubang bor, kemungkinan ini semakin besar pada sumur
directional.

26

Gambar 2.10 Centralizer


(Clark Kent, 2006)
h. Scratcher
Scratcher digunakan untuk membersihkan dinding lubang bor dari mud
cake, sehingga semen akan melekat dengan baik terhadap formasi.

Gambar 2.11 Scratcher


(Clark Kent, 2006)
i.

DSCC (Dual Stage Cementing Collar)


DSCC (Dual Stage Cementing Collar) digunakan pada penyemenan

bertahap atau bertingkat, sebagai tempat keluarnya semen dari casing ke annulus
setelah tahap pertama dan sebelumnya selesai.

27

Gambar 2.12 Stage Collar


(Clark Kent, 2006)
2.7 Proses Penyemenan Pada Primary Cementing
Dalam Proses Penyemenan Primary Cementing terdapat tiga teknik atau
metode, yaitu perkins cementing system, poorboys cementing system, dan stage
cementing system.
2.7.1 Perkins Cementing System
1. Lakukan test line. Sirkulasikan lumpur untuk membersihkan lubang dari
cuttings dan mud cake. Sebelumnya saluran lumpur pada cementing head
dibuka. Lumpur bersirkulasi melalui cementing line, masuk ke saluran
lumpur, terus ke dalam casing menuju dasar melalui casing collar , shoe
track, casing shoe. Dari dasar lubang membawa cuttings yang masih ada
di annulus dan mud cake hasil kikisan scratcher dan centralizer. Sirkulasi
lumpur dihentikan setelah lubang bersih, dimana tidak ada lagi padatan
yang tersaring di shale shaker.
2. Cabut pin penahan bottom plug, tutup saluran lumpur, buka saluran bubur
semen. Pompakan bubur semen sejumlah yang diperlukan. Bubur semen
akan mendorong bottom plug, bottom plug mendorong lumpur dalam
rangkaian casing ke bawah.
3. Setelah selesai memompakan bubur semen, cabut menahan pin penahan
top plug, tutup saluran bubur semen, buka saluran fluida pendorong;

28

pompakan fluida pendorong. Lumpur pendorong masuk ke dalam saluran


lumpur pendorong. Lumpur mendorong top plug, dan top plug menorong
bubur semen, bubur semen mendorong bottom plug, dan bottom plug
mendorong lumpur .
4. Saat bottom plug duduk di casing collar terjadi bumping pressure.
Tekanan pemompaan naik secara mendadak.
5. Pompa terus lumpur pendorong sampai diafragma bottom plug pecah.
Indikasinya tekanan turun. Bubur semen masuk lubang bottom plug terus
ke shoe track, masuk casing shoe dan keluar ke annulus, dan naik menuju
permukaan. Top plug mendorong bubur semen, Setelah duduk diatas
bottom plug terjadi lagi bumping pressure. Pendorongan lumpur
dihentikan dan diharapkan bubur sudah mengisi annulus sesuai dengan
yang direncanakan.
2.7.2 Poorboys Cementing System
1. Dilakukan test line untuk memeriksa sambuangan cementing line.
2. Sirkulasi lumpur, membersihkan lubang dari cutting yang tersisa, dan mud
cake yang terkelupas.
3. Pompakan spacer (chemical wash). Spacer merupakan fluida yang
membatasi lumpur di dalam lubang dengan bubur semen. Spacer harus
tidak merusak bubur semen dan lumpur.
4. Pompakan bubur semen sesuai dengan volume yang diperlukan. Volume
bubur semen yang diperlukan pada Poorboys Cementing System adalah :
-

Volume untuk mengisi annulus.

Volume untuk mengisi 2 sampai 3 joint tubing/drill pipe.

Volume untuk mengisi pocket (extra hole).

5. Pompakan spacer, Setelah bubur semen selesai dipompakan, ikuti dengan


pemompaan spacer.
6. Pompakan fluida pendorong (displacement fluid). Pemompaan Lumpur
Pendorong fluida pendorong mendorong spacer, spacer mendorong bubur
semen, dan bubur semen mendorong lumpur. Volume lumpur pendorong

29

yang dipompakan harus dihitung dengan cermat. Saat akhir pendorongan,


minimum dua joint tubing/drill pipe terbawah masih berisi bubur semen.
Jangan sampai bubur semen yang paling belakang sampai masuk ke
annulus di belakang casing shoe.
7. Angkat dua sampai tiga joint drill pipe, keluarkan bubur semen yang
tersisa di dalam drill pipe. Yang lebih baik adalah dengan melakukan
sirkulasi balik (reverse circulation).
8. Penyemenan selesai.
2.7.3 Stage Cementing System
Pada Stage Cementing System, terdapat dua tahap proses penyemenannya.
Tahap pertama yaitu tidak jauh berbeda dengan Perkins Cementing System, tetapi
pada tahap kedua berbeda karena adanya sistem buka dan tutup cementing port.
Langkah langkah tersebut yaitu :
a. Penyemenan Tingkat Pertama.
Penyemenan untuk tingkat pertama tidak jauh berbeda dengan Perkins
Cementing System. Langkah-langkahnya adalah sebagai berikut:
1. Lakukan test line.
2. Lakukan sirkulasi lumpur
3. Pompakan spacer. Spacer adalah sebagai pengganti bottom plug, yang
membatasi bubur semen dengan lumpur yang terdapat di dalam rangkaian
casing.
4. Pompakan bubur semen tingkat pertama sesuai dengan volume yang telah
diperhitungkan.
5. Drop first stage plug.
6. Pompakan lumpur pendorong.
Lumpur pendorong akan mendorong first stage plug . First stage plug akan
mendorong bubur semen, bubur semen akan mendorong spacer, dan spacer
akan mendorong lumpur yang terdapat di dalam casing.
Pendorong dilanjutkan terus sampai first stage plug duduk diatas seal off
plate pada float collar.

30

Kondisi ini ditandai dengan terjadinya bumping pressure, dimana lubang


sel off plate sudah disumbat oleh first stage plug.
7. Periksa apakah float collar berfungsi atau tidak. Kalau berfungsi dengan
baik , penyemenan tingkat pertama selesai.
b. Langkah-langkah Penyemenan Tingkat Kedua
1. Turunkan opening plug ( cementing bomb). Dengan beratnya sendiri
opening plug meluncur turun ke dalam casing.
2. Pompakan lumpur, lumpur akan mendorong opening plug. Opening plug
dapat melewati upper inner sleeve, tetapi tersangkut pada lower inner
sleeve. Sebagai indikasinya tekanan pemompaan naik tiba-tiba.
3. Pompakan lumpur terus, sehingga opening plug menekan lower inner
sleeve, dan shear pin penahannya patah. Lower inner sleeve bergeser ke
bawah dan cementing port terbuka, Lumpur masuk ke dalam cementing
port menuju annulus. Sebagai indikasinya tekanan pompa turun.
4. Pompakan bubur semen untuk tingkat kedua. Bubur semen tingkat kedua
ini keluar ke annulus melalui cementing port. Volume lumpur sesuai
dengan yang sudah diperhitungkan.
5. Turunkan closing plug.
6. Pompakan lumpur pendorong. Lumpur pendorong mendorong closing
plug,

closing plug mendorong

bubur semen, dan

bubur semen

mendorong lumpur di depannya.


7. Closing plug tersangkut pada upper inner sleeve. Indikasinya adalah
tekanan pemompaan naik.
8. Patahkan shear pin penahan upper inner sleeve dengan cara pompakan
terus lumpur pendorong sampai shear pin penahan upper inner sleeve
patah. Upper inner sleeve akan bergeser ke bawah menutup cementing
port kembali.
9. Penyemenan selesai.

31

2.8 Perhitungan Pada Penyemenan


Keberhasilan dari suatu penyemenan juga sangat ditentukan oleh
perhitungan-perhitungan dalam perencanaan penyemenan, disamping untuk
mengetahui kebutuhan semen yang akan digunakan, rencana pemakaian bahan
additive, thickening time bubur semen dan operating time-nya. Banyaknya
volume bubur semen yang di butuhkan pada penyemenan casing dapat dihitung
dengan menggunakan data Caliper log atau Ukuran pahat yang di gunakan.
Diameter lubang yang diambil dari caliper log umumnya lebih mendekati
keadaan lubang yang sebenarnya, sehingga perhitungan dapat lebih teliti
dibandingkan dengan perhitungan yang menggunakan diameter ukuran pahat,
sebab permukaan lubang bor tidak rata dan umumnya terjadi runtuhan dinding
lubang. Akan lebih teliti lagi, bila diameter lubang yang di ambil dari caliper log
dirata-ratakan per-interval kedalaman. Semakin kecil interval kedalaman yang di
ambil, harganya semaking baik. walaupun demikian dalam menghitung volume
bubur semen yang diperlukan, masih di gunakan safety yang disebut excess.
Untuk diameter lubang yang diambil dari diameter pahat, besar excess-nya antara
50% sampai 100%, sedangkan yang diambil dari hasil caliper log antara 10%
sampai 30%.
Pada Primary Cementing, perhitungan yang dilakukan diantaranya adalah
perhitungan banyaknya volume slurry, volume absolute densitas dan yield semen,
sack of cement, mix water required, material additive required, dan displacement
volume.
2.8.1 Volume Slurry
Jumlah dari volume slurry semen yang akan digunakan ditentukan dengan
menghitung volume annulus antara exist casing dan previous casing (casingcasing). Lalu ditambah dengan volume annulus antara exist casing dan open hole
(casing-OH) ditambah dengan excess. Lalu ditambah dengan volume di dalam
shoe track. Dan terakhir ditambah dengan volume di dalam pocket.
Volume slurry (bbl) dapat dihitung dengan rumus sebagai berikut :

32

Volume casing-casing
[(ID1)2 (OD2)2] x 0,000971 x L ; bbl .................................. (2.5)
[(ID1)2 (OD2)2] x 0,005454 x L; cuft .................................. (2.6)

Volume casing-OH
[(OH)2 (OD2)2] x 0,000971 x L x (%excess+1) ; bbl ......... (2.7)
[(OH)2 (OD2)2] x 0,005454 x L x (%excess+1); cuft ........ (2.8)

Volume Shoe Track


(ID2)2 x 0,000971 x L ; bbl .................................................... (2.9)
(ID2)2 x 0,005454 x L; cuft .................................................. (2.10)

Volume Pocket
(OH)2 x 0,000971 x L x (%excess+1) ; bbl ........................... (2.11)
(OH)2 x 0,005454 x L x (%excess+1); cuft .......................... (2.12)

Total Volume Slurry


Volume casing-casing + Volume casing-OH + Volume
Shoe Track + Volume Pocket ................................................ (2.13)

Dimana : ID1

: Diameter dalam previous casing, inch

ID2

: Diameter dalam exist casing, inch

OD2

: Diameter luar exist casing, inch

OH

: Diameter open hole, inch

: Panjang annulus yang akan disemen, ft

%excess+1 : persentase excess ditambah 1


2.8.2 Volume Absolute
Volume absolute suatu material adalah suatu material yang mencukupi
hanya material itu sendiri (tidak termasuk volume udara yang terdapat di
sekeliling partikel). Volume absolute dapat dihitung dengan rumus :
Volume absolute =

1
.............................. (2.14)
8,34

Dimana : Volume absolute : Volume Absolute gal/lb


SG

: Specific Gravity

8,34

: ketentuan, lb/gal

33

2.8.3 Densitas dan Yield Semen


Densitas semen didefinisikan sebagai perbandingan antara berat suspesi
semen terhadap volume suspensi semen yang dirumuskan sebagai berikut :
Dbs =

(++)
.................................................................... (2.15)
(++)

Dimana : Dbs : Densitas suspensi semen, lb/gal


Gbk : Berat bubuk semen, lb
Gw : Berat water, lb
Ga : Berat additive, lb
Vbk : Volume bubuk semen, gal
Vw : Volume water, gal
Va : Volume additive, gal
Yield =

7,48

.................................................................................... (2.16)

Dimana : Yield

: Yield, cuft/sack

7,48

: Ketentuan, gal/sack

Vs

: Volume yang mencakup satu unit semen ditambah semua


additive dan air pencampur, gal/cuft

2.8.4 Sacks Of Cement


Banyaknya sacks yang dibutuhkan dalam penyemenan dapat dihitung
dengan rumus sebagai berikut :
Sacks Of Cement =

Dimana : Sacks of cement

.................................. (2.17)

: banyak sack yang dibutuhkan, sack

Total volume slurry: Total volume slurry, cuft


Yield slurry

: Yield slurry, cuft/sack

2.8.5 Mix Water Required


Banyaknya air yang dibutuhkan dapat dihitung dengan rumus sebagai
berikut :

34

Mix Water Required =

Dimana : Mix Water Required

42

......... (2.18)

: Air yang dibutuhkan,bbl

Konsentrasi

: konsentrasi air, gal/sack

Sacks Of Cement

: Total sacks semen yang digunakan, sack

42

: ketentuan, gal/bbl

2.8.6 Material Required (Additive)


Total material (additive) yang dibutuhkan dapat dihitung dengan rumus
sebagai berikut :

Additive Bubuk = %BWOC x berat semen x Sacks Of Cement (2.19)

Dimana : Material Additive Bubuk : Total material additive bubuk, lb

%BWOC

: By Weight Of Cement (Konsentrasi), %

berat semen

: berat semen/sack, lb/sack

Sacks Of Cement

: Total sacks semen yang digunakan, sack

Additive Cair = konsentrasi additive cair x Sacks Of Cement..... (2.20)

Dimana : Material Additive Cair

: Total material additive cair, gal

Konsentrasi additive cair : konsentrasi additive cair, gal/sack


Sacks Of Cement

: Total sacks semen yang digunakan, sack

2.8.7 Displacement Volume


Total Displacement Volume adalah total volume lumpur yang akan
digunakan untuk mendorong plug. Displacement Volume dapat dihitung dengan
rumus sebagai berikut :
Displacement Volume = (ID2)2 x 0,000971 x L ; bbl ....................... (2.21)
Displacement Volume = (ID2)2 x 0,005454 x L ; cuft ....................... (2.22)
Dimana : Displacement Volume

: volume pendorong plug, bbl, cuft

ID2

: Diameter dalam exist casing, inch

: Panjang dari permukaan ke float collar, ft

35

BAB III
HASIL DAN PEMBAHASAN
3.1 Hasil
3.1.1 Data Sumur
Tabel 3.1 Data Penyemenan Casing " Sumur #H-03
Data
Total Depth

Satuan
307

OD

13,375

inch

Previous Casing,

ID

12,615

inch

13 38

Nominal Weight

54,5

lb/ft

75

OD

9,625

inch

Exist Casing,

ID

8,755

inch

9 58

Nominal Weight

43,5

lb/ft

Length

304,9

Open Hole, 12 14

12,25

inch

Float Shoe

304,9

Float Collar

294,5

204,9

75

Length

Top Of Cement
Top Of Tail
Excess

36

3.1.2 Data Densitas dan Yield Cement Slurry


Tabel 3.2 Densitas dan Yield Cement Slurry Sumur #H-03
Lead
SG Cement Lead Slurry

1,60

SG

Densitas Cement Lead Slurry

13,36

lb/gal

Yield Cement Lead Slurry

1,75

cuft/sack

SG Cement Tail Slurry

1,90

SG

Densitas Cement Tail Slurry

15,8

lb/gal

Yield Cement Tail Slurry

1,16

cuft/sack

Tail

3.1.3 Data Material Penyemenan


Tabel 3.3 Material Penyemenan Sumur #H-03
Lead
Material
Cement Neat

Konsentrasi

SG

94

lb/sack

3,14

BAA-11 (Lead)

1,50

%BWOC

1,96

BAE-15L (Lead)

0,30

gal/sack

1,45

BAF-26L (Lead)

0,03

gal/sack

0,90

Water

9,11

gal/sack

Tail
Material
Cement Neat

Konsentrasi

SG

94

lb/sack

3,14

BAA-11 (Tail)

1,00

%BWOC

1,96

BAD-14L (Tail)

0,15

gal/sack

1,04

BAL-22L (Tail)

0,40

gal/sack

1,02

BAF-26L (Tail)

0,03

gal/sack

0,90

Water

4,45

gal/sack

37

3.1.4 Diagram Casing Sumur #H-03


TOP OF CMT
0

MTR.

VOLUME
CASING - CASING
(LEAD)

13-3/8" SHOE
75 MTR.

VOLUME
CASING - OPENHOLE
(LEAD)

12-1/4" O.H

TOP OF TAIL
204,9 MTR.

VOLUME
CASING -OPENHOLE
(TAIL)

VOLUME
SHOE TRACK
VOLUME
POCKET

294,5 MTR. 9-5/8" FLOAT COLLAR

304,9 MTR. 9-5/8" FLOAT SHOE


307,0 MTR. DEPTH

Gambar 3.1 Diagram Casing Sumur #H-03

38

3.1.5 Penentuan Panjang Ruang Yang Akan Disemen

Panjang Casing Casing (Lead)

= length previous casing


= 75 m
= 75 m x 3,28084 ft/m
= 246,06 ft

Panjang Casing OH (Lead)

= top of tail length previous casing


= 204,9 m 75 m
= 130 m
= 130 m x 3,28084 ft/m
= 426,12 ft

Panjang Casing OH (Tail)

= length exist casing top of tail


= 304,9 m 204,9 m
= 100 m
= 100 m x 3,28084 ft/m
= 328,15 ft

Panjang Shoe Track (Tail)

= float shoe float collar


= 304,9 m 294,5 m
= 10,4 m
= 10,4 x 3,28084 ft/m
= 34,06 ft

Panjang Pocket (Tail)

= total depth float shoe


= 307 m 304,9 m
= 2,1 m
= 2,1 m x 3,28084 ft/m
= 6,96 ft

3.1.6 Perhitungan Volume Slurry

Volume casing-casing (Lead)


Menggunakan Persamaan 2.6
Vcas-cas (L) = [(ID1)2 (OD2)2] x 0,005454 x L
39

= [(12,615 inch)2 (9,625 inch)2] x 0,005454 x 246,06 ft


= 89,24 cuft

Volume casing-OH (Lead)


Menggunakan Persamaan 2.8
Vcas-OH (L) = [(OH)2 (OD2)2] x 0,005454 x L x (%excess+1)
= [(12,25 inch)2 (9,625 inch)2] x 0,005454 x 426,12 ft x 1,75
= 233,54 cuft

Volume casing-OH (Tail)


Menggunakan Persamaan 2.8
Vcas-OH (T) = [(OH)2 (OD2)2] x 0,005454 x L x (%excess+1)
= [(12,25 inch)2 (9,625 inch)2] x 0,005454 x 328,15 ft x 1,75
= 179,85 cuft

Volume Shoe Track (Tail)


Menggunakan Persamaan 2.10
Vshoetrack(T)= (ID2)2 x 0,005454 x L
= (8,755 inch)2 x 0,005454 x 34,06
= 14,24 cuft

Volume Pocket (Tail)


Menggunakan Persamaan 2.12
Vpocket (T) = (OH)2 x 0,005454 x L x (%excess+1)
= (12,25 inch)2 x 0,005454 x 6,96 ft x 1,75
= 9,96 cuft

Total Volume Lead Slurry


Menggunakan Persamaan 2.13
Total Vslurry = Vcasing-casing (L) + Vcasing-OH (L)
= 89,24 cuft + 233,54 cuft
= 322,78 cuft

Total Volume Tail Slurry


Menggunakan Persamaan 2.13

40

Total Vslurry = Vcasing-OH (T) + Vshoetrack (T) + Vpocket (T)


= 179,85 cuft + 14,24 cuft + 9,96 cuft
= 204,05 cuft

Total Volume Slurry


Menggunakan Persamaan 2.13
Total Vslurry = Vcasing-casing (L) + Vcasing-OH (L) + Vcasing-OH (T)
+ Vshoetrack (T) + Vpocket (T)
= 89,24 cuft + 233,54 cuft + 179,85 cuft + 14,24 cuft
+ 9,96 cuft
= 526,83 cuft
3.1.7 Perhitungan Volume Absolute
a. Volume Absolute Material Lead

Cement Neat
Menggunakan persamaan 2.14
Volume absolute

1
8,34
1

= 8,34 / 3,14
= 0,038 gal/lb

BAA-11
Menggunakan persamaan 2.14
Volume absolute

1
8,34
1

= 8,34 / 1,96
= 0,061 gal/lb

BAE-15L
Menggunakan persamaan 2.14
Volume absolute

1
8,34

41

= 8,34 / 1,45
= 0,083 gal/lb

BAF-26L
Menggunakan persamaan 2.14
Volume absolute

1
8,34
1
8,34 / 0,90

= 0,133 gal/lb

Water
Menggunakan persamaan 2.14
Volume absolute

1
8,34
1

= 8,34 / 1
= 0,120 gal/lb
b. Volume Absolute Material Tail

Cement Neat
Menggunakan persamaan 2.14
Volume absolute

1
8,34
1

= 8,34 / 3,14
= 0,038 gal/lb

BAA-11
Menggunakan persamaan 2.14
Volume absolute

1
8,34
1

= 8,34 / 1,96
42

= 0,061 gal/lb

BAD-14L
Menggunakan persamaan 2.14
Volume absolute

1
8,34
1

= 8,34 / 1,04
= 0,116 gal/lb

BAL-22L
Menggunakan persamaan 2.14
Volume absolute

1
8,34
1

= 8,34 / 1,02
= 0,118 gal/lb

BAF-26L
Menggunakan persamaan 2.14
Volume absolute

1
8,34
1

= 8,34 / 0,90
= 0,133 gal/lb

Water
Menggunakan persamaan 2.14
Volume absolute

1
8,34
1

= 8,34 / 1
= 0,120 gal/lb

43

3.1.8 Perhitungan Densitas dan Yield Semen


Perhitungan harga densitas dan yield semen slurry sudah ditentukan di
dalam data lapangan. Karena mengingat faktor perhitungan yang harus dilakukan
di laboratorium, maka dari itu densitas dan yield semen sudah ditentukan di
laboratorium dimana diperoleh :
a. Lead Slurry

SG Semen Lead Slurry

Densitas Semen Lead Slurry = 13,36 lb/gal

Yield Semen Lead Slurry

= 1,60

= 1,75 cuft/sack

b. Tail Slurry

SG Semen Tail Slurry

Densitas Semen Tail Slurry = 15,8 lb/gal

Yield Semen Tail Slurry

= 1,90

= 1,16 cuft/sack

3.1.9 Perhitungan Sacks Of Cement


a. Sacks Of Cement Lead Slurry
Menggunakan persamaan 2.17
Sacks Of Cement =
=



322,78
1,75 /

= 184 sack
b. Sack Of Cement Tail Slurry
Menggunakan persamaan 2.17
Sacks Of Cement =
=



204,05
1,16 /

= 176 sack

44

3.1.10 Perhitungan Mix Water Required


a. Mix Water Required Lead Slurry
Menggunakan persamaan 2.18
Mix Water Required


42

9,11 / 184
42 /

= 39,9 bbl
b. Mix Water Required Tail Slurry
Menggunakan persamaan 2.18
Mix Water Required


42

4,45 / 176
42 /

= 18,6 bbl
3.1.11 Perhitungan Material Required (Additive)
a. Material Lead Slurry

BAA-11
Menggunakan persamaan 2.19
Total Material = %BWOC x berat semen/sack x sacks of cement
= 1,5% x 94 lb/sack x 184 sack
= 259,4 lb

BAE-15L
Menggunakan persamaan 2.20
Total Material = konsentrasi additive x sacks of cement
= 0,30 gal/sack x 184 sack
= 55,2 gal

BAF-26 L
Menggunakan persamaan 2.20
Total Material = konsentrasi additive x sacks of cement

45

= 0,03 gal/sack x 184 sack


= 5,5 gal
b. Material Tail Slurry

BAA-11
Menggunakan persamaan 2.19
Total Material = %BWOC x berat semen/sack x sacks of cement
= 1,00% x 94 lb/sack x 176 sack
= 165,4 lb

BAD-14L
Menggunakan persamaan 2.20
Total Material = konsentrasi additive x sacks of cement
= 0,15 gal/sack x 176 sack
= 26,4 gal

BAL-22 L
Menggunakan persamaan 2.20
Total Material = konsentrasi additive x sacks of cement
= 0,40 gal/sack x 176 sack
= 70,4 gal

BAF-26 L
Menggunakan persamaan 2.20
Total Material = konsentrasi additive x sacks of cement
= 0,03 gal/sack x 176 sack
= 5,3 gal

3.1.12 Perhitungan Displacement Volume


Menggunakan persamaan 2.21
Displacement Volume

= (ID2)2 x 0,005454 x L x 3,281


= (8,755 inch)2 x 0,005454 x 294,5 m x 3,281 ft/m
= 403,9 cuft
= 403,9 cuft x 0,178108 bbl/cuft
= 71,9 bbl
46

3.2 Pembahasan
Kebutuhan material slurry pada penyemenan casing 9 58 " Sumur #H03 Lapangan Y terdiri dari semen, air, dan addtitive. Dimana slurry
penyemenan pada casing 9 58 " ini dibagi menjadi dua bagian yaitu lead dan juga
tail.
Pada perhitungan material slurry casing 9 58 " Sumur #H-03 Lapangan
Y, lead dan tail sudah ditentukan oleh hasil uji laboratorium di perusahaan.
Pada data penyemenan casing 9 58 " Sumur #H-03 Lapangan Y yang ada,
lead slurry memiliki panjang interval dari top of cement = 0 meter (permukaan)
hingga top of tail = 204,9 meter. Dan lead slurry memiliki panjang interval dari
top of tail = 204,9 meter hingga total depth = 307 meter (dasar sumur).
Pada perhitungan penyemenan casing 9 58 " Sumur #H-03 Lapangan
Y, excesss yang digunakan 75%. Dimana excess sudah ditentukan oleh engineer
perusahaan terkait.
Pada perhitungan penyemenan casing 9 58 " Sumur #H-03 Lapangan
Y, hal yang pertama dihitung adalah menghitung volume yang akan disemen.
Dimana pada perhitungannya dibagi menjadi lima volume. Yang pertama adalah
volume antara casing casing (lead). Yaitu volume yang berada di antara
previous casing (13 38 ") dan exist casing (9 58 ") yang akan disemen dengan
lead slurry. Yang kedua adalah volume casing open hole (lead). Yaitu volume
yang berada di antara open hole dan exist casing (9 58 ") yang akan disemen
dengan lead slurry. Yang ketiga adalah volume casing open hole (tail). Yaitu
volume yang berada di antara open hole dan exist casing (9 58 ") yang akan
disemen dengan tail slurry. Yang keempat adalah volume shoe track (tail). Yaitu
volume yang berada di antara float shoe dan float collar yang akan disemen
dengan tail slurry. Sebenarnya volume ini tidaklah begitu penting pada tujuannya,
karena setelah proses penyemenan selesai volume tersebut akan dibor untuk
melanjutkan ke trayek selanjutnya, tetapi volume ini sangat berpengaruh untuk

47

menahan bubur semen selama proses pengerasan agar tidak terjadi sirkulasi balik
dari annulus. Dan yang kelima adalah volume pocket (tail). Yaitu volume yang
berada di antara float shoe dan total depth yang akan disemen dengan tail slurry.
Volume ini cukup penting karena berfungsi untuk mensirkulasikan semen slurry
dari dalam casing ke annulus. Karena jika tidak menggunakan pocket harus
dilakukan deepening atau dengan pengangkatan casing untuk mensirkulasikan
semen slurry dari dalam casing ke annulus. Pada perhitungan volume casing
9 58 " Sumur #H-03 Lapangan Y, sesuai perhitungan yang sudah diuraikan
di atas didapatkan volume sebagai berikut.
Tabel 3.4 Volume Slurry Penyemenan Sumur #H-03
Keterangan

Volume
(cuft)

Volume
(bbl)

Casing Casing (lead)

89,24

15,89

Casing open hole (lead)

233,54

41,60

Casing open hole (tail)

179,85

32,03

Shoe track (tail)

14,24

2,54

Volume pocket (tail)

9,96

1,77

Total Volume (lead)

322,78

57,49

Total Volume (tail)

204,05

36,34

Total Volume Slurry

526,83

93,84

Pada perhitungan material slurry penyemenan casing 9 58 " Sumur #H03 Lapangan Y, densitas dan yield semen slurry sudah ditentukan oleh hasil uji
laboratorium. Hal ini karena dalam perhitungan densitas dan yield semen harus
langsung dilakukan pengetesan di laboratorium selama perhitungannya. Selain itu,
tidak adanya data massa berat dari beberapa additive yang ditambahkan membuat
penulis tidak dapat memuat perhitungan densitas dan yield semen slurry.

48

Berdasarkan perhitungan yang sudah ditulis di atas, banyaknya semen


yang dibutuhkan pada perhitungan material slurry penyemenan casing 9 58 "
Sumur #H-03 Lapangan Y didapatkan harga sacks of cement sebanyak 184
sack untuk lead slurry, dan 176 sack untuk tail slurry. Harga ini didapatkan dari
hasil pembagian antara volume slurry dibagi dengan yield semen. Sehingga total
banyaknya semen yang dibutuhkan untuk seluruh slurry adalah 360 sack.
Sedangkan semen yang digunakan pada penyemenan ini adalah semen kelas G.
Digunakan semen kelas G karena semen ini merupakan semen basic atau murni.
Sehingga jika ditambahkan additive, hanya akan dipengaruhi dan akan
mendapatkan sifat yang diinginkan tanpa mempengaruhi sifat sifat yang lainnya.
Sedangkan banyaknya air yang dibutuhkan untuk penyemenan casing
9 58 " Sumur #H-03 Lapangan Y, adalah sebanyak 39,9 bbl untuk lead
slurry dan 18,6 bbl untuk tail slurry. Harga ini didapatkan dari hasil perkalian
antara volume air dalam satuan gal/sack dengan banyaknya sacks of cement.
Dimana volume air dalam satuan gal/sack sudah ditentukan oleh hasil uji
laboratorium pada program penyemenan ini. Yaitu 9,11 gal/sack untuk lead slurry
dan 4,45 gal/sack untuk tail slurry. Sedangkan air yang digunakan pada
penyemenan ini adalah fresh water. Digunakan fresh water karena fresh water
merupakan air yang murni. Sehingga tidak akan mempengaruhi sifat sifat
material lainnya ketika ditambahkan.
Pada perhitungan material slurry penyemenan casing 9 58 " Sumur #H03 Lapangan Y, menggunakan beberapa additive baik pada lead slurry
maupun tail slurry. Bagi additive berbentuk padat, harga total banyaknya additive
(lb) didapatkan dari harga persentase dari suatu additive dalam satu sack semen
atau By Weight On Cement (%BWOC) dikalikan dengan banyaknya sacks of
cement. Sedangkan untuk additive yang berbentuk cair, harga total banyaknya
additive didapatkan dari hasil perkalian antara konsentrasi additive (gal/sack)
dengan banyaknya sacks of cement. Banyaknya Additives yang dibutuhkan pada
penyemenan casing 9 58 " Sumur #H-03 Lapangan Y adalah sebagai berikut.

49

Tabel 3.5 Total Additive Penyemenan Sumur #H-03


Lead Slurry
Additive and aplication

Konsentrasi

Total

BAA-11 (accelerator)

1,50

%BWOC

259,4

lb

BAE-15L (extender)

0,30

gal/sack

55,2

gal

BAF-26L (antifoam)

0,03

gal/sack

5,5

gal

Tail Slurry
Additive and aplication

Konsentrasi

Total

BAA-11 (accelerator)

1,00

%BWOC

165,4

lb

BAD-14L (dispersant)

0,15

gal/sack

26,4

gal

BAL-22L (fluid loss control)

0,40

gal/sack

70,4

gal

BAF-26L (anti foam)

0,03

gal/sack

5,3

gal

Pada lead slurry, menggunakan tiga additive yaitu BAA-11, BAE-15L,


dan BAF-26L. BAA-11 berfungsi sebagai accelerator yaitu untuk mempercepat
laju pengerasan. Pada lead slurry menggunakan accelerator karena melihat jarak
target yang tidak terlalu panjang, sehingga diharapkan tidak terjadi penundaan
pengerasan pada semen. Sedangkan additive lainnya yaitu BAE-15L berfungsi
sebagai extender atau untuk memperbesar volume semen slurry. Sehingga dengan
kata lain, BAE-15L ini digunakan untuk menurunkan densitas dari lead slurry.
Sehingga diharapkan lead slurry memiliki densitas yang lebih ringan dari pada
tail slurry. Dan additive terakhir yang digunakan pada lead slurry yaitu BAF-26L.
BAF-26L berfungsi sebagai antifoam agent yaitu untuk menghilangkan busa atau
foam, baik pada proses mixing maupun pada proses pemompaan yang dapat
mengakibatkan hilangnya tekanan pemompaan.
Pada tail slurry, menggunakan empat additive yaitu BAA-11, BAD-14L,
BAL-22L, dan BAF-26L. Sama seperti pada lead slurry, BAA-11 berfungsi
sebagai accelerator yaitu untuk mempercepat laju pengerasan. Pada tail slurry

50

menggunakan accelerator karena melihat jarak target yang tidak terlalu panjang.
Selain itu, accelerator disini diharapkan dapat mengimbangi pengaruh dari
additive lain seperti additive dispersant dan fluid loss control agent yang
digunakan pada tail slurry yang dapat mempengaruhi proses waktu pengerasan
tail slurry. sehingga diharapkan tidak terjadi penundaan pengerasan pada semen
tail slurry. Lalu, penggunaan BAD-14L pada tail slurry berfungsi sebagai
dispersant atau untuk menurunkan viskositas dari tail slurry. Viskositas pada tail
slurry dikurangi karena mengingat densitas tail slurry yang lebih besar dari pada
lead slurry. Sehingga diharapkan pompa tidak keberatan dan tetap efisien dalam
memompakan semen slurry secara keseluruhan. Selain itu, pada tail slurry juga
ditambahkan additive BAL-22L yang berfungsi sebagai fluid loss control agent
atau untuk mencegah hilangnya fasa liquid ke dalam formasi. Additive ini
digunakan dengan dua alasan yaitu karena tail slurry berada di dasar sumur
sehingga suhu dan tekanan yang lebih besar dari pada lead slurry, lalu additive ini
berfungsi untuk mengimbangi dispersant yang dapat memperbesar fluid loss. Dan
additive terakhir yang digunakan pada tail slurry adalah BAF-26L. BAF-26L
berfungsi sebagai antifoam agent yaitu untuk menghilangkan busa atau foam yang
pada proses pemompaan. Selain itu, pada tail slurry menggunakan additive fluid
loss control (BAL-22L) yang dapat menimbulkan busa pada waktu proses proses
mixing. Sehingga additive anti foam agent sangat penting untuk ditambahkan
pada tail slurry ini.
Pada perhitungan material slurry penyemenan casing 9 58 " Sumur #H03 Lapangan Y, banyaknya displacement fluid yang dibutuhkan untuk
mendorong semen slurry adalah 403,9 cuft atau 71,9 bbl. Displacement volume
didapatkan dari harga kapasitas dalam exist casing dikalikan dengan panjang dari
permukaan ke float collar.

51

BAB IV
PENUTUP
4.1 Kesimpulan
Dari seluruh hasil perhitungan dan pembahasan mengenai kebutuhan
material slurry penyemenan casing 9 58 " Sumur #03 Lapangan Y, dapat
ditarik kesimpulan sebagai berikut.
a. Total volume slurry yang dibutuhkan adalah 526,83 cuft atau 93,84 bbl.
Dimana slurry dibagi menjadi dua bagian yaitu 322,78 cuft atau 57,49 bbl
untuk lead slurry, dan 204,05 cuft atau 36,34 bbl untuk tail slurry.
b. Material penyemenan yang dibutuhkan untuk lead slurry adalah semen
sebanyak 184 sack. Sedangkan air yang dibutuhkan sebanyak 39,9 bbl. Dan
additive yang dibutuhkan adalah 259,4 lb BAA-11 (accelerator); 55,2 gal
BAE-15L (extender); dan 5,5 gal BAF-26L (anti foam).
c. Material penyemenan yang dibutuhkan untuk tail slurry adalah semen
sebanyak 176 sack. Sedangkan air yang dibutuhkan sebanyak 18,6 bbl. Dan
additive yang dibutuhkan adalah 165,4 lb BAA-11 (accelerator); 26,4 gal
BAD-14L (dispersant); 70,4 gal BAL-22L (fluid loss control); dan 5,3 gal
BAF-26L (anti foam).
d. Total displacement volume yang dibutuhkan untuk mendorong semen slurry
adalah sebanyak 403,9 cuft atau 71,9 bbl lumpur.

4.2 Saran
Saran yang ingin penulis sampaikan untuk penulisan perhitungan
penyemenan ke depannya, data yang dipersiapkan agar lebih lengkap. Baik data
laboratorium, data formasi, dan data pelengkap lainnya. Hal ini agar perhitungan
dapat lebih baik dan dapat dipahami dari berbagai parameter.

52

DAFTAR PUSTAKA
Badu, Ir. Kaswir. 2008. Advanced Drilling. Pusat Pendidikan dan Pelatihan
Minyak dan Gas Bumi. Cepu.
Baker Huges, INTEQ. 1995. Drilling Engineering Workbook. Baker Huges
INTEQ. Houston United State of America.
Gusmao, Vania. 2009. Penyemenan trayek casing 13 38 dan 9 8 dan 7 Pada
Sumur SLL-30. Laporan Kerja Praktek.
Mudofir, Achmad. 2002. Pengenalan Casing dan Penyemenan. Slide Presentasi.
Kent, Clark. 2006. Cementing System. Powerpoint Presentation.
nn. 2006. Data PT. Pertamina EP Region KTI Sangatta Field.
nn. 2008. Panduan Penyusunan Karya Ilmiah. Fakultas Metematika dan Ilmu
Pengetahuan Alam Universitas Negeri Papua. Manokwari.
nn. 2012. Teori Dasar Penyemenan.
Rubba, Ichwan. 2013. Perencanaan Kebutuhan Material Penyemenan Casing
13 38 Pada Sumur X Lapangan Y Kasim Marine Terminal (KMT)
Sorong Papua Barat. Tugas Akhir Universitas Negeri Papua. Manokwari.
Schlumberger. 2003. Casing Operation Overview. Powerpoint Presentation.
Cirebon.
Setiawan, Ridwan. 2009. Proses Penyemenan Pada Trayek Casing 13 38 Di
Sumur X Lapangan Y. Prosposal Kerja Praktek. Akademi Minyak dan Gas
Bumi Balongan. Indramayu.
Suman, George and Ellis, Richard. 1977. World Oils Cementing Handbook.
Gulf Publishing Company. Houston, United States of America.

53

Smith, D. K. 1990. Cementing. Monograph Volume 4, SPE. Richardson, TX.


Rubiandini, DR. Ir. Rudi R.S. 2009. Teknik Operasi Pemboran. Institut
Teknologi Bandung. Bandung.
Wattimury,

Petra.

2013.

Evaluasi

Perencanaan

Rangkaian

Casing

Sumur X Lapangan Y. Tugas Akhir Universitas Negeri Papua.


Manokwari.

54

LAMPIRAN

Page 1 of 2

CEMENTING PROPOSAL FOR 9-5/8" CASING

PERTAMINA AREA OPERASI SANGATTA


LOKASI : SUMUR #H-03
9-5/8" Csg. Diagram

I. WELL DATA :
TOTAL DEPTH
PREV. CASING
EXIST. CASING
D.P/TUBING
OPEN HOLE
FLOAT SHOE
FLOAT COLLAR

307
13 3/8
9 5/8
12 1/4
304,9
294,5

METER
INCH
INCH
INCH
INCH
METER
METER

TOP OF CMT

54,5 LB/FT
12,615 INCH I.D
75 METER
43,5 LB/FT
8,755 INCH I.D
304,9 METER
- LB/FT
- INCH I.D
- METER
LINER HANGER
METER
TOP OF CEMENT
0 METER
TOP OF TAIL
204,9 METER

II. VOLUME CALCULATION :


CASING - CASING (L)
CASING - OH (L)

CASING - OH (T)
SHOE TRACK (T)
POCKET (T)
ABOVE LINER
TOTAL VOLUME

0,3627
0,3132
0,3132
0,4180
0,8184

CUFT/FT
CUFT/FT
CUFT/FT
CUFT/FT
CUFT/FT
CUFT/FT

x
x
x
x
x
x

75 % EXCESS IN OPEN HOLE


75 METER
=
130 METER
=
100 METER
=
10,4 METER
=
2,12 METER
=
METER
=
=

DISPLACEMENT VOLUME

89,25
233,55
179,82
14,24
9,96
0,00
526,81

CUFT
CUFT
CUFT
CUFT
CUFT
CUFT
CUFT

MTR.

13-3/8" SHOE
75 MTR.

71,9 BBL

III. CEMENT SLURRY CALCULATION :


LEAD SLURRY
EXCESS
75
323
SLURRY VOLUME
57,5
SACK OF CEMENT
184
1,60
DENSITY

13,36

YIELD
WATER
TOTAL MIX. FLUID

1,75
9,11
39,9
9,44
41,4

TAIL SLURRY
EXCESS
75
204
SLURRY VOLUME
36,3
SACK OF CEMENT
176
1,90
DENSITY

%
CUFT
BBL
SACKS
SG
PPG
CUFT/SX YIELD
GPS
WATER
BBL
GPS
TOTAL MIX. FLUID
BBL

%
CUFT
BBL
SACKS
SG

15,8 PPG
1,16
4,45
18,6
5,03
21,1

12-1/4" O.H

CUFT/SX
GPS
BBL
GPS
BBL

TOP OF TAIL
204,9 MTR.

IV. MATERIAL REQUIRED :


ADDITIVES/
PRODUCTS
CEMENT
BAA-11
BAE-15L
BAD-14L
BAL-22L
BAF-26L

LEAD SLURRY
CONCENTRATION
TOTAL
184 SACKS
1,50 %BWOC
259,4 LBS
0,30 GPS
55,2 GALS
GPS
GALS
GPS
GALS
0,03 GPS
5,5 GALS

TAIL SLURRY
CONCENTRATION
TOTAL
176 SACKS
1,00 %BWOC
165,4 LBS
GPS
GALS
0,15 GPS
26,4 GALS
0,40 GPS
70,4 GALS
0,03 GPS
5,3 GALS

294,5 MTR.

304,9 MTR.

V. TOTAL MATERIAL REQUIRED :


PRODUCTS
CEMENT
BAA-11
BAE-15L
BAD-14L
BAL-22L
BAF-26L

LEAD SLURRY
184 SACKS
259,4 LBS
55,2 GALS
GALS
GALS
5,5 GALS

TAIL SLURRY
176 SACKS
165,4 LBS
GALS
26,4 GALS
70,4 GALS
5,3 GALS

TOTAL
360 SACKS
424,88 LBS
55,20 GALS
26,40 GALS
70,40 GALS
10,80 GALS

DEPTH
307,0 MTR.

Page 2 of 2

CEMENTING PROPOSAL FOR 9-5/8" CASING

PERTAMINA AREA OPERASI SANGATTA


LOKASI : SUMUR #H-03

VI. JOB PROCEDURE :


1. RIH 95/8" CASING TO TD AND CONTINUE CIRCULATE THE WELL
2. RIG UP AND INSTAL CEMENTING HEAD, LOAD BOTTOM PLUG TOP PLUG AND CONTINUE CIRCULATE THE WELL
3. PRE JOB SAFETY MEETING
4. FLUSH AND TEST LINE TO 2500 PSI, HOLD 5 MINUTES
5. PUMP 10 BBLS OF WATER HEAD
6. DROP BOTTOM PLUG PLUG
7. PUMP 57,5 BBL OF LEAD SLURRY WITH 184 SXS CEMENT 'G' CLASS AND DENSITY 1,6 SG
RECORD RATE AND PRESSURE
8. PUMP 36,3 BBL OF TAIL SLURRY WITH 176 SXS CEMENT 'G' CLASS AND DENSITY 1,9 SG
RECORD RATE AND PRESSURE
9. DROP TOP PLUG
10. DISPLACE WITH 71,9 BBL OF MUD, BUMP PLUG TO 1500 PSI, HOLD 5 MINUTES
12. BLEED OFF TO ZERO TO CHECK CASING FLOAT
12. JOB COMPLETED