Anda di halaman 1dari 6

ILMU GIZI

Ketahanan Pangan Pada Rumah Tangga


Pada tahun 1970-an ketahanan pangan mulai menjadi isu internasional, pada
tahap ini konsep ketahanan pangan sebagai terjemahan istilah dari food security
difokuskan pada ketersediaan pangan di tingkat nasional maupun internasional,
terutama padi-padian, karena adanya krisis pangan dunia tahun 1974 (Baliwati et al.
2004). Oleh karena itu, sejak awal orde baru kebijakan ketahanan pangan di Indonesia
didasarkan pada pendekatan penyedian pangan yang dikenal sebagai FAA (food
availability approach).
Ketidakmampuan daerah tertentu dalam memenuhi kebutuhan pangan di
wilayahnya termasuk dalam kasus golongan rawan pangan. Situasi seperti ini
menunjukkan bahwa daerah ataupun wilayah tersebut berada dalam kelompok yang
mempunyai ketahanan pangan rendah. Ketahanan pangan sangat erat kaitannya dengan
faktor ketersedian pangan yang ada di daerah tersebut. Ketersedian pangan merupakan
suatu ukuran pangan dimana pangan tersebut secara fisik sudah atau akan tersedia
selama satu periode (Soetrisno 1996).
Secara teoritis terdapat dua tipe ketidaktahanan pangan, yaitu kronis dan
transitori. Ketidaktahanan pangan kronis adalah ketidakcukupan pangan secara menetap
akibat ketidakmampuan rumah tangga untuk memperoleh pangan yang dibutuhkan
melalui pembelian di pasar atau melalui produksi sendiri. Sedangkan ketidaktahanan
pangan transitori adalah penurunan akses terhadap pangan yang dibutuhkan rumah
tangga secara temporer. Hal ini disebabkan adanya bencana alam sehingga
menyebabkan ketidakstabilan harga pangan, produksi, dan pendapatan (Setiawan dalam
Baliwati 2004).
Secara umum masalah pokok yang dihadapi pada sistem ketersediaan pangan di
Indonesia adalah laju peningkatan produksi (penyediaan) pangan nasional belum
mampu mengejar laju peningkatan kebutuhan pangan penduduk. Masalah pangan yang
biasanya terjadi adalah masalah yang menyangkut ketersediaan pangan dan kerawanan
konsumsi pangan. Masalah pangan biasanya dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti
kemiskinan, pendidikan yang rendah, dan pendapatan yang rendah (Dewan Ketahanan
Pangan 2006).
Ketahanan Pangan Rumah Tangga
Hasan (1998) menyatakan bahwa ketahanan pangan sampai pada tingkat rumah
tangga antara lain tercermin oleh tersedianya pangan yang cukup dan merata pada setiap
waktu dan terjangkau oleh masyarakat baik fisik maupun ekonomi, serta tercapainya
konsumsi pangan yang beraneka ragam yang memenuhi syarat-syarat gizi yang diterima
budaya. Sedangkan pengertian ketahanan pangan rumah tangga menurut International
Congres of Nutrition (ICN) di roma tahun 1992 adalah kemampuan rumah tangga untuk
memenuhi kecukupan pangan anggotanya dari waktu ke waktu agar dapat hidup sehat
dan mampu melakukan kegiatan sehari-hari.

ILMU GIZI

Berdasarkan hasil Lokakarya Ketahanan Pangan Nasional (Departemen


Pertanian 1996) menyatakan ketahanan pangan rumah tangga didefinisikan dalam
beberapa alternatif rumusan, yaitu: 1) kemampuan untuk memenuhi kebutuhan pangan
anggota rumah tangga dalam jumlah, mutu dan ragam sesuai budaya setempat dari
waktu ke waktu agar hidup sehat; 2) kemampuan rumah tangga untuk memenuhi
kecukupan pangan anggotanya dari produksi sendiri, atau membeli dari waktu ke waktu
agar dapat hidup; 3) kemampuan rumah tangga untuk memenuhi kecukupan pangan
anggotanya dari waktu ke waktu agar dapat hidup sehat.
Ketidaktahanan pangan dapat digambarkan dari perubahan konsumsi pangan
yang mengarah pada pemikiran kuantitas dan kualitas, termasuk perubahan frekuensi
konsumsi makanan pokok (Khomsan 2002). Adapun situasi ketidaktahanan pangan
rumah tangga dapat ditandai oleh perubahan-perubahan kehidupan sosial, seperti
semakin banyak anggota masyarakat yang mengandalkan barang, bertambahnya
anggota rumah tangga yang pergi ke luar daerah untuk mencari pekerjaan, dan lain-lain
(Khomsan 2002).
Dua bentuk ketidaktahanan pangan (food insecurity) tingkat rumah tangga yaitu
pertama, ketidaktahanan pangan kronis yaitu terjadi dan berlangsung secara terus
menerus yang biasa disebabkan oleh rendahnya daya beli dan rendahnya kualitas
sumberdaya dan sering terjadi di daerah terisolir dan gersang. Ketidaktahanan pangan
jenis kedua, ketidaktahanan pangan akut (transitori) terjadi secara mendadak yang
disebabkan oleh antara lain: bencana alam, kegagalan produksi dan kenaikan harga yang
mengakibatkan masyarakat tidak mempunyai kemampuan untuk menjangkau pangan
yang memadai (Atmojo 1995).
Sehubungan dengan itu untuk mewujudkan ketahanan pangan tingkat rumah
tangga diperlukan kelembagaan pangan karena ketahanan pangan mempunyai cakupan
luas dan bersifat multisektoral meliputi aspek peraturan perundangan, organisasi sebagai
pelaksana peraturan perundangan dan ketatalaksanaan. Kebijakan peningkatan
ketahanan pangan memberikan perhatian secara khusus kepada mereka yang memiliki
resiko tidak mempunyai akses untuk memperoleh pangan yang cukup (Soetrisno 1996).
Indikator Ketahanan Pangan Rumah Tangga
Ketahanan pangan rumah tangga dipengaruhi oleh ketahanan pangan pada
tingkat regional, nasional dan global. Ketahanan pangan merupakan suatu konsep yang
multidimensional yaitu berkaitan antar mata rantai sistem pengadaan gizi mulai dari
produksi, distribusi, konsumsi dan status gizi. Untuk indikator ketahanan pangan rumah
tangga dapat dicerminkan dari tingkat kerusakan tanaman, tingkat produksi,
ketersediaan pangan, pengeluaran pangan, fluktuasi harga, jumlah dan mutu konsumsi
pangan serta status gizi (Suhardjo 1996).
Soetrisno (1996) menyatakan bahwa indikator ketahanan pangan rumah tangga
dapat dilihat dari kecukupan konsumsi maupun ketersedian pangan yang sesuai dengan
norma gizi. Sedangkan indikator sosial ekonomi dan demografi dapat digunakan untuk
mengetahui risiko ketahanan pangan seperti pendapatan, pendidikan, struktur keluarga,
harga pangan, pengeluaran pangan dan sebagainya.
Maxwell dan Frankenberger (1992) menyatakan bahwa pencapaian ketahanan
pangan dapat diukur dari berbagai indikator. Indikator tersebut dibagi menjadi dua
kelompok yaitu indikator proses dan indikator dampak. Indikator proses
menggambarkan situasi pangan yang ditunjukkan oleh ketersedian dan akses pangan,

ILMU GIZI

sedangkan indikator dampak meliputi indikator langsung maupun tak langsung.


Indikator ketersedian berkaitan dengan produksi pertanian, iklim, akses terhadap
sumberdaya alam, praktek pengelolaan lahan, pengembangan institusi, pasar, konflik
regional dan kerusuhan sosial. Indikator akses pangan meliputi sumber pendapatan,
akses terhadap kredit modal dan strategi rumah tangga untuk memenuhi kekurangan
pangan. Indikator dampak secara langsung adalah konsumsi dan frekuensi pangan.
Indikator dampak secara tak langsung meliputi penyimpanan pangan dan status gizi
(Baliwati et al. 2004)
Hasan (1995) juga menyatakan bahwa ketahanan pangan sampai tingkat rumah
tangga antara lain tercermin oleh tersedianya pangan yang cukup dan merata pada setiap
waktu dan terjangkau oleh masyarakat serta tercapainya konsumsi pangan yang
beraneka ragam yang memenuhi syarat-syarat gizi yang diterima oleh budaya setempat.
Selain pengukuran konsumsi dan ketersediaan, dapat pula dikumpulkan data mengenai
ekonomi, sosial, demografi, harga pangan, pengeluaran dan sebagainya. Data tersebut
akan digunakan sebagai indikator risiko terhadap ketahanan pangan rumah tangga.
Susanto (1996) kondisi ketahanan pangan rumah tangga dipengaruhi tidak hanya
oleh ketersediaan pangan (pada tingkat makro dan tingkat di dalam pasar) dan
kemampuan daya beli, tetapi juga oleh beberapa hal yang berkaitan dengan pengetahuan
dan aspek sosio-budaya. Faktor-faktor yang diduga mempengaruhi ketahanan pangan
rumah tangga dapat dirinci menjadi tiga faktor yaitu faktor ketersediaan pangan, daya
beli dan pengetahuan pangan dan gizi.
Berikut ini dapat dijelaskan tiga faktor tersebut:
Ketersediaan pangan
Komponen ketersedian pangan dipengaruhi oleh sumberdaya (alam, manusia
dan sosial) dan produksi pangan (on farm dan off farm ). Menurut Djogo (1994) daerah
yang memiliki perbedaan kondisi agroekologi, akan memiliki potensi produksi pangan
yang berbeda. Ketersedian pangan terkait dengan usaha produksi pangan, distribusi dan
perdagangan termasuk penyelenggaraan cadangan, ekspor dan impor. Dalam kaitan ini,
pangan bukan hanya beras atau komoditas tanaman pangan (padi, jagung, kedelai) tetapi
mencakup makanan dan minuman yang berasal dari tumbuhan dan hewan termasuk
ikan, baik produk primer maupun turunannya.
Dengan demikian pangan tidak hanya dihasilkan oleh pertanian, peternakan,
perikanan, perkebunan, dan kehutanan tetapi juga oleh industri pengolahan pangan.
Menurut Suryana (2004) menyatakan bahwa pangan yang cukup tidak hanya dalam
jumlah tetapi keragamannya, sebagai sumber asupan zat gizi makro (karbohidrat,
protein dan lemak) dan zat gizi mikro (vitamin dan mineral) yang berguna untuk
pertumbuhan, kesehatan, daya tahan fisik, kecerdasan dan produktivitas manusia.
Angka kuantitatif untuk ketersediaan pangan adalah Angka Kecukupan Gizi
(AKG) rekomendasi Widyakarya Nasional Pangan dan Gizi (WNPG) VIII tahun 2004,
dalam satuan rata-rata perkapita perhari untuk energi sebesar 2200 Kal dan untuk
protein 57 gram. Angka tersebut merupakan standar kebutuhan energi bagi setiap
individu agar mampu menjalankan aktivitas sehari-hari.
Daya Beli
Kemampuan membeli atau daya beli merupakan indikator dari tingkat sosial
ekonomi seseorang atau keluarga. Pembelian merupakan fungsi dari faktor kemampuan

ILMU GIZI

dan kemauan membeli yang saling menjalin. Menurut Widya Karya Nasional Pangan
dan Gizi VII (LIPI 1998) kurangnya ketersediaan pangan keluarga mempunyai
hubungan dengan pendapatan keluarga, ukuran keluarga dan potensi desa. Keluarga dan
masyarakat yang berpenghasilan rendah, mempergunakan sebagian besar dari
keuangannya untuk membeli makanan dan bahan makanan dan tentu jumlah uang yang
dibelanjakan juga rendah (Suhardjo 1989). Hal yang sama dinyatakan Soemarwoto
(1994) bahwa faktor ekonomi menyebabkan manusia untuk mendapatkan makanan
ditentukan oleh harga makanan.
Pengetahuan Pangan dan Gizi
Pengetahuan pangan dan gizi secara umum merupakan perilaku konsumsi
makanan seseorang atau rumah tangga yang sangat erat dengan wawasan atau cara
pandang yang dimiliki terhadap (sistem) nilai tindakan yang dilakukan. Sistem nilai
tindakan itu dipengaruhi oleh pengalaman pada masa lalu yang berkaitan dengan
pelayanan gizi/kesehatan, ciri-ciri sosial yang dimiliki (umur, jenis/golongan etnik,
pendidikan, pekerjaan dan sebagainya), dan informasi pangan, gizi dan kesehatan yang
pernah diterimanya dari berbagai sumber (Susanto 1994). Kebudayaan memberikan
nilai sosial pada makanan karena ada makanan yang dianggap mempunyai nilai sosial
tinggi dan ada pula nilai sosial yang rendah (Soemarwoto 1994).
Khomsan (2002) menyatakan bahwa walaupun rumah tangga memiliki daya beli
cukup dan pangan juga tersedia, namun bila pengetahuan pangan dan gizinya masih
rendah maka akan sulit bagi rumah tangga yang bersangkutan untuk dapat memenuhi
kecukupan pangannya baik secara kuantitas maupun kualitas.
Pengukuran Ketahanan Pangan Rumah Tangga
Pengkasifikasian ketahanan pangan rumah tangga kedalam food secure (tahan
pangan) dan food insecure (rawan ketahanan pangan) dapat dilakukan dengan
menggunakan pengukuran dari indikator out put yaitu konsumsi pangan (intik energi)
atau status gizi individu (khususnya wanita hamil dan baduta). Rumah tangga
dikategorikan rawan ketahanan pangan jika tingkat konsumsi energi lebih rendah dari
cut off point atau TKE < 70,0 % (Zeitlin & Brown 1990 )
Menurut Hasan (1995) ketahanan pangan tingkat rumah tangga dapat diketahui
melalui pengumpulan data konsumsi dan ketersediaan pangan dengan cara survei
pangan secara langsung dan hasilnya dibandingkan dengan angka kecukupan yang telah
ditetapkan. Selain pengukuran konsumsi dan ketersediaan pangan melalui survei, dapat
pula digunakan data mengenai sosial ekonomi dan demografi untuk mengetahui resiko
ketahanan pangan seperti pendapatan, pendidikan, struktur keluarga, harga pangan,
pengeluaran pangan dan sebagainya. Data tersebut dapat digunakan sebagai indikator
risiko terhadap ketahanan pangan pada tingkat rumah tangga (Sukandar 2001).
Konsep pengukuran ketahanan pangan lain yang dikembangkan Hardinsyah
(1996) adalah berdasarkan mutu konsumsi dengan menggunakan skor diversifikasi
pangan. Pada dasarnya konsep pengukuran ketahanan pangan menggunakan skor
diversifikasi pangan relatif sederhana dan mudah. Selain sudah memperhitungkan
jumlah pangan yang dikonsumsi (aspek kuantitas) dan dikelompokkan pada lima
kelompok pangan empat sehat lima sempurna (makanan pokok, lauk pauk, sayur, buah
dan susu) dan dihitung kuantitasnya menggunakan unit konsumen (UK) agar perbedaan
komposisi umur dan jenis kelamin anggota rumah tangga dapat dipertimbangkan.

ILMU GIZI

Menurut Suwarman dan Sukandar (1998) ketahanan pangan rumah tangga


dikategorikan atas tiga kelompok yaitu rumah tangga tidak tahan pangan jika konsumsi
energinya <75,0% AKE (Angka Kecukupan Energi), rumah tangga cukup rawan pangan
jika konsumsi energi 75,0-100% AKE, dan rumah tangga sangat tahan pangan jika
konsumsi energi >100%.
Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan Ketahanan Pangan Rumah Tangga
Ukuran Rumah Tangga
Ukuran rumah tangga adalah banyaknya anggota rumah tangga yang terdiri atas
ayah, ibu, anak dan anggota rumah tangga lain yang hidup dari pengelolaan sumberdaya
yang sama. Ukuran rumah tangga akan mempengaruhi pengeluaran rumah tangga
(Sukandar 2007). Menurut Suhardjo (1989), menyatakan bahwa pangan yang tersedia
untuk satu rumah tangga yang besar mungkin cukup untuk rumah tangga yang besarnya
setengah dari rumah tangga tersebut, tetapi tidak cukup untuk mencegah gangguan gizi
pada rumah tangga yang besar tersebut. Hasil penelitian Latief et al. (2000) menemukan
bahwa jumlah anggota rumahtangga akan mempengaruhi konstibusi karbohidrat, lemak,
dan protein terhadap total energi intake perkapita perhari. Banyaknya anggota keluarga
akan mempengaruhi konsumsi pangan. Suhardjo (1989) menyatakan bahwa ada
hubungan sangat nyata antara ukuran rumah tangga dan kurang gizi pada masingmasing rumah tangga.
Jumlah anggota rumah tangga yang semakin besar tanpa diimbangi dengan
meningkatnya pendapatan akan menyebabkan pendistribusian konsumsi pangan akan
semakin tidak merata. Keadaan yang demikian tidak cukup untuk mencegah timbulnya
gangguan gizi pada rumah tangga besar. Seperti juga yang dikemukakan Berg (1986)
bahwa jumlah anak yang menderita kelaparan pada rumah tangga besar, empat kali
lebih besar dibandingkan dengan rumah tangga kecil. Anak-anak yang mengalami gizi
kurang pada keluarga beranggota banyak, lima kali lebih besar dibandingkan dengan
keluarga beranggota sedikit. Dalam hubungannya dengan pengeluaran rumah tangga,
Sanjur (1982) menyatakan bahwa besar rumah tangga yaitu banyaknya anggota suatu
rumah tangga, akan mempengaruhi pengeluaran rumah tangga. Harper (1988), mencoba
menghubungkan antara ukuran rumah tangga dan konsumsi pangan, diketahui bahwa
keluarga miskin dengan jumlah anak yang banyak akan lebih sulit untuk memenuhi
kebutuhan pangannya, jika dibandingkan rumah tangga dengan jumlah anak sedikit.
Lebih lanjut dikatakan bahwa rumah tangga dengan konsumsi pangan yang kurang,
anak badutanya lebih sering menderita gizi kurang
Umur
Setiap anggota rumah tangga memiliki kebutuhan akan makanan yang berbedabeda, perbedaan ini dapat dilihat dari kapasitas umur masing-masing anggota rumah
tangga. Menurut Sumarwan (2004), menyatakan bahwa perbedaan usia dapat
mempengaruhi tingkat maupun macam barang dan jasa (baik berupa pangan maupun
non pangan) yang akan dibeli dan dikonsumsi seseorang. Konsumen yang berbeda usia
akan mengkonsumsi produk dan jasa yang berbeda pula. Perbedaan usia juga dapat
mengakibatkan selera dan kesukaan terhadap merek suatu produk pangan maupun jasa.
Umur merupakan salah satu faktor pendukung untuk mengetahui kebutuhan gizi
seseorang. Distribusi kebutuhan pangan dalam rumah tangga tidak merata, artinya setiap

ILMU GIZI

anggota rumah tangga tersebut mendapat jumlah makanan yang sesuai dengan tingkat
kebutuhannya, menurut umur dan keadaan fisiknya (Sediaoetama 1996).
Tingkat Pendidikan
Tingkat pendidikan seseorang dapat dinilai berdasarkan lama atau jenis
pendidikan apa yang dialami baik di bidang formal maupun informal. Menurut
Hardinsyah (2007), menyatakan bahwa tingkat pendidikan formal mencerminkan
kemampuan seseorang untuk memahami berbagai aspek pengetahuan termasuk aspek
pengetahuan gizi. Pada umumnya tingkat pendidikan seseorang akan sangat
mempengaruhi sikap dan perilakunya sehari-hari, hal ini juga dapat dilihat dari sikap
dan perilaku makan yang tercermin pada masing-masing individu.
Tingkat pendidikan akan menentukan kemampuan sebuah keluarga untuk
mengakses kebutuhan hidupnya. Dengan semakin tingginya tingkat pendidikan kepala
rumah tangga akan memudahkan rumah tangga untuk memenuhi kebutuhan hidupnya
(Syarief 1998). Informasi yang dimiliki seseorang tentang kebutuhan gizi akan
menentukan jumlah dan jenis pangan yang dikonsumsi. Orang dengan tingkat
pendidikan yang tinggi cenderung memilih makanan yang lebih murah dengan gizi yang
lebih tinggi, sesuai jenis pangan yang tersedia dan kebiasaan pangan sejak kecil,
sehingga kebutuhan zat gizi dapat terpenuhi (Husaini 1983).
Pengeluaran
Pengeluaran suatu rumah tangga dapat dibagi menjadi dua pengeluaran yaitu,
pengeluaran pangan dan pengeluaran nonpangan. Pengeluaran pangan merupakan
jumlah uang yang akan dibelanjakan untuk konsumsi pangan sedangkan pengeluaran
non pangan adalah jumlah uang yang dibelanjakan untuk keperluanselain pangan seperti
pendidikan, listrik, air, komunikasi, transportasi, tabungan, biaya produksi pertanian dan
kebutuhan nonpangan lainnya (Kartika 2005). Menurut Suhardjo (1996) dan Azwar
(2004) pangsa pengeluaran pangan merupakan salah satu indikator ketahanan pangan,
makin besar pangsa pengeluaran untuk pangan berarti ketahanan pangan semakin
berkurang. Semakin tinggi kesejahteraan masyarakat suatu negara pangsa pengeluaran
pangan penduduknya semakin kecil, demikian sebaliknya . Teori Engels
mengemukakan Dengan semakin tinggi tingkat pendapatan keluarga semakin rendah
persentasi pengeluaran untuk konsumsi makanan (Sumarwan 1993). Hal ini
menjelaskan bahwa suatu rumah tangga maupun kelurga dikatakan sejahtera apabila
alokasi pengeluaran untuk makanan lebih kecil jika dibandingkan dengan alokasi
pengeluaran untuk non pangan.
Besaran pendapatan yang dikeluarkan untuk pangan dalam suatu rumah tangga
dapat dijadikan ukuran untuk mengetahui tingkat kesejahteraan rumah tangga. Menurut
Sajogyo (2002) dalam Hildawati (2008), data pengeluaran rumah tangga lebih
menggambarkan pendapatan rumah tangga yang meliputi penghasilan ditambah dengan
hasil-hasil lain seperti tabungan masa lalu, pinjaman dan pemberian. Menurut Moho dan
Wagner (1981) dalam Hildawati (2008), data pengeluaran dapat menggambarkan pola
konsumsi rumah tangga dalam pengalokasian pendapatan yang biasanya relatif tetap.
Dikemukakan pula bahwa pengeluaran pada keluarga yang berpendapatan rendah,
biasanya akan lebih besar jumlahnya daripada pendapatan mereka. Oleh karena itu, data
pengeluaran lebih mencerminkan pendapatan yang sebenarnya.