Anda di halaman 1dari 17

Modul-7 : Pendahuluan

Metode Survei GPS


Hasanuddin Z. Abidin

Geodesy Research Division


Institute of Technology Bandung
Jl. Ganesha 10, Bandung, Indonesia
E-mail : hzabidin@gd.itb.ac.id
Version : March 2007

Lecture Slides of GD. 3211 Satellite Surveying


Geodesy & Geomatics Engineering
Institute of Technology Bandung (ITB)

METODE PENENTUAN POSISI DENGAN GPS


Penentuan Posisi Dengan GPS

Survei

Absolut

Diferensial

Post-processing
Statik
Pseudo-kinematik

Navigasi

Diferensial

Absolut

Real-Time

Stop-and-Go

Jarak Fase
(RTK)

Pseudorange
(DGPS)

Statik Singkat

Kinematik
Hasanuddin Z. Abidin, 2004

Spektrum Ketelitian Penentuan Posisi Dengan GPS


ABSOLUTE
POSITIONING

SPS with selective availability


50 m

Sejak
2 Mei
2000

SPS without selective availability


10 m
PPS with anti-spoofing
5m
DIFFERENTIAL
POSITIONING

3m
1m

carrier-smoothed code

ambiguity-resolved carrier phase

5 cm

static survey (carrier phase)

3 mm
1 mm

differential code

1 cm

10 cm

1m

10 m

100 m

SPS = Standard Positioning Service (for civilian).


PPS = Precise Positioning Service (for military and authorized users).
Hasanuddin Z. Abidin, 2002

Static Positioning
Satelit GPS

Stasion
Referensi

vektor baseline

Satelit GPS

Stasion
Referensi

Titik (-titik) yang akan ditentukan


posisinya tidak bergerak.
Bisa berupa absolute ataupun
differential positioning.
Bisa menggunakan data
pseudorange dan/atau fase.
Ukuran lebih pada suatu epok
pengamatan biasanya banyak.
Keandalan dan ketelitian posisi yang
diperoleh umumnya tinggi (orde mm
sampai cm).
Aplikasi : penentuan titik-titik
kontrol untuk survai pemetaan
maupun survai geodetik.
Hasanuddin Z. Abidin, 1994

KARAKTERISTIK SURVEI GPS

Metode penentuan posisi yang digunakan adalah metode


diferensial (metode relatif).
Minimal 2 receiver GPS diperlukan.
Penentuan posisi sifatnya statik (titik-titik survainya tidak
bergerak).
Data utama pengamatan yang digunakan untuk
penentuan posisi adalah data fase.
GPS
Tipe receiver yang digunakan adalah
tipe survai/geodetik bukan tipe navigasi.
Pengolahan data umumnya dilakukan
secara post-processing.
Monitor
Antar titik tidak perlu bisa saling
Station
melihat. Yang perlu adalah setiap
titik dapat melihat satelit.
Hasanuddin Z. Abidin, 2004

Geometri Jaring Survei GPS


Jaring survai GPS dibentuk oleh titik-titik yang diketahui koordinatnya
(titik tetap) dan titik-titik yang akan ditentukan posisinya.
Titik-titik tersebut dihubungkan dengan baseline-baseline yang
komponennya (dX,dY,dZ) diamati.
Contoh suatu bentuk jaring GPS :

titik tetap
titik yang akan
ditentukan posisinya
baseline
yang diamati

Hasanuddin Z. Abidin, 1996

Moda Jaring vs. Moda Radial


MODA JARINGAN

Moda yang digunakan


akan berpengaruh pada:

MODA RADIAL
(DARI 1 TITIK TETAP)

Ketelitian titik
Waktu Survei
Biaya Survei

Hasanuddin Z. Abidin, 2004

Tahapan Pelaksanaan Survei GPS


PERENCANAAN
revisi

PERSIAPAN
revisi

PENGUMPULAN DATA
revisi

PENGOLAHAN DATA
perhitungan
tambahan

PELAPORAN

peralatan
geometri
strategi pengamatan
strategi pengolahan data
organisasi pelaksanaan

pengenalan lapangan
(reconnaissance)
monumentasi

data GPS
data meteorologi
data pelengkap

pemrosesan awal
perhitungan baseline
perhitungan jaringan
transformasi koordinat
kontrol kualitas
Hasanuddin Z. Abidin, 1996

Pemrosesan Data Survei GPS

Pemrosesan data survei GPS biasanya


akan mencakup tiga tahapan utama
perhitungan, yaitu :
1. Pengolahan data baseline
2. Perataan jaringan
3. Transformasi datum dan
koordinat

Titik
tetap

Pemrosesan data dapat dilakukan dengan menggunakan


perangkat lunak komersial ataupun ilmiah, tergantung
tingkat ketelitian koordinat yang diinginkan.
Hasanuddin Z. Abidin, 1995

Beberapa Software
Komersial & Ilmiah GPS
Software Komersial

Pemilik Paten / Pembuat

SKI

Leica

GPSurvey

Trimble

GPPS

Ashtech

Software Ilmiah

Pemilik Paten / Pembuat

BERNESSE

University of Berne, Swiss

DIPOP

University of New Brunswick, Kanada

GAMIT

Massachussets Institute of Technology, USA

GIPSY

Jet Propulsion Laboratory, USA

TOPAS

University of Federal Armed Forces, Jerman


Hasanuddin Z. Abidin, 1997

Fungsi Survai GPS (1)


Pada dasarnya, fungsi dan kegunaan dari
survai penentuan posisi dengan GPS dapat
dikelompokkan atas empat cakupan yaitu :

pembangunan suatu jaringan titik yang baru sama sekali,


densifikasi (perapatan) atau ekstensi dari
jaringan titik yang sudah ada,
inspeksi, analisis, dan peningkatan kualitas dari
jaringan titik yang telah ada, dan
kontribusi terhadap penentuan tinggi dan geoid.
Hasanuddin Z. Abidin, 1996

Fungsi Survai GPS (2)

Ekstensi
Jaringan
Titik
lama

Titik
baru

Densifikasi
Jaringan
Jaringan lama

Jaringan baru

Hasanuddin Z. Abidin, 1996

Fungsi Jaringan GPS


Jaringan titik-titik GPS dapat digunakan untuk
beberapa aplikasi, yang pada umumnya dapat
dikelompokkan atas dua jenis, yaitu :

sebagai jaringan titik-titik kontrol (control network),


baik untuk keperluan pemetaan topografi, pemetaan kadaster,
pekerjaan-pekerjaan rekayasa, pemetaan fotogrametri, dll.

sebagai jaringan pemantau (monitoring network),


baik untuk keperluan pemantauan deformasi (bendungan,
gunungapi, dll.), maupun untuk keperluan studi geodinamika.
Hasanuddin Z. Abidin, 1996

Kategori Survai GPS


Kategori

Survai topografi
Survai rekayasa skala kecil

Survai kontrol geodetik


Survai rekayasa presisi tinggi

Survai geodinamika
Survai rekayasa presisi sangat tinggi

Survai kadaster
Survai rekayasa berketelitian menegah

Ketelitian
relatif (ppm)

Ketelitian (cm)
(tergantung jarak)

10

20 - 100

1-5

1 - 20

0.5 - 1

< (1 - 5)

0.1

0.1 - 2

Ref. : [Seeber, 1993]


Hasanuddin Z. Abidin, 1996

Survei Terestris
Metode

Contoh Geometri

Data Ukuran

Poligon

Sudut
dan Jarak

Pengikatan
Kemuka

Sudut
di titik-titik tetap

Pengikatan
Kebelakang

Sudut
di titik-titik yang
akan ditentukan
posisinya

Titik tetap (koordinatnya diketahui)


Titik yang akan ditentukan posisinya

Sudut
yang diukur

Jarak
yang diukur
Hasanuddin Z. Abidin, 1996

Survai GPS vs Survai Terestris (1)

Pada survai dengan GPS tidak diperlukan saling keterlihatan


antar titik seperti halnya pada survai terestris.

Yang diperlukan adalah saling keterlihatan antara titik


dengan satelit GPS (Punya ruang pandang ke langit yang
relatif terbuka).

Karena tidak memerlukan saling keterlihatan antar titik,


maka titik-titik dalam jaringan GPS bisa mempunyai spasi
jarak yang relatif jauh sampai puluhan maupun ratusan km;
tidak seperti halnya pada survai terestris yang biasanya hanya
terbatas pada spasi titik sampai beberapa ratus meter saja.
Hasanuddin Z. Abidin, 1996

Survai GPS vs Survai Terestris (2)

Pelaksanaan survai GPS dapat dilakukan siang maupun malam


hari serta dalam segala kondisi cuaca, tidak seperti halnya
survai terestris yang umumnya hanya bisa dilaksanakan pada
siang hari dan dalam kondisi cuaca yang relatif baik.

Pada survai dengan GPS, koordinat titik-titik ditentukan dalam


tiga-dimensi (posisi horisontal dan vertikal), tidak seperti
halnya survai terestris yang umumnya dalam dua-dimensi
(posisi horisontal).

Datum posisi pada survai GPS adalah datum geosentrik yang


bersifatglobal, sedangkan datum posisi pada survai terestris
umumnya adalah datum toposentrik yang bersifat lokal.
Hasanuddin Z. Abidin, 1996