Anda di halaman 1dari 21

Presentasi Kasus

Fraktur Depressed

Oleh:
Gandy
11-2013-066
Pembimbing:
Dr. Junior Panda Indrawan Simanungkalit, Sp.BS, M.Kes

KEPANITERAAN KLINIK ILMU BEDAH DAN ANESTESI


RUMAH SAKIT MARDI RAHAYU KUDUS
PERIODE 5 MEI 2014 12 JULI 2014
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS KRISTEN KRIDA WACANA
2014
1|Page

KEPANITERAAN KLINIK
STATUS ILMU BEDAH DAN ANESTESI
FAKULTAS KEDOKTERAN UKRIDA
SMF ILMU BEDAH DAN ANESTESI
RS MARDI RAHAYU
Nama

: Gandy

NIM

: 112013066

Dokter pembimbing : Dr. Junior Panda Indrawan Simanungkalit, Sp.BS, M.Kes

I.

IDENTITAS PASIEN
Nama

: An. M R

Tanggal lahir

: 27-05-2002

Umur

: 12 Tahun

Jenis kelamin

: Laki-laki

Status perkawinan

: Belum Menikah

Pekerjaan

: Pelajar

Pendidikan

: SD

Agama

: Islam

Alamat

: Colo RT.01/RW.04 Colo, Dawe, Kudus

No. CM

: 383093

Masuk RSMR

: Selasa, 27 Mei 2014 Pukul 16.00 WIB

PASIEN DATANG KE UGD


Sendiri / bisa jalan / tak bisa jalan / dibawa oleh supir
Dibawa oleh keluarga: ya / tidak
Hari Selasa, 27 Mei 2014 Pukul 16.00 WIB
II.

SUBJEKTIF
Anamnesis:
Auto anamnesis / allo anamnesis, tanggal: 1 Juni 2014 Pukul: 12.00 WIB
Dengan keluarga pasien: Ibu dan 2 Kakak perempuan OS

2|Page

Keluhan utama:
Penurunan kesadaran 11/2 Jam SMRS
Riwayat penyakit sekarang:
11/2 Jam SMRS, OS mengalami kecelakaan lalu lintas tunggal. OS ikut menumpang
truk pengangkut tanah, kemudian truk tersebut masuk jurang. Kecelakaan terjadi di desa
Kombang, RT 04, Colo. Posisi jatuh OS tidak diketahui secara pasti. Tidak ada saksi yang
melihat kejadian tersebut. Tidak ada jejas pada bagian tubuh lain OS. Muntah (-), Kejang (-),
tidak ada kelumpuhan anggota gerak. Tidak ada perdarahan dari telinga maupun hidung.
Waktu kejadian OS tidak sadar. OS tidak sempat ada episode sadar setelahnya. Kemudian OS
langsung dibawa ke UGD RSMR. OS sampai di UGD sekitar pukul 16.00 WIB. Waktu
datang OS dalam keadaan tidak sadar.
Riwayat penyakit keluarga:
Tidak ada riwayat penyakit diabetes mellitus, hipertensi, penyakit jantung koroner,
dan alergi pada keluarga pasien.
Riwayat penyakit dahulu:

III.

Penyakit terdahulu
Trauma terdahulu
Operasi
Sistem saraf
Sistem kardiovaskular
Sistem gastrointestinal
Sistem urinarius
Sistem genitalis
Sistem musculoskeletal

: tidak ada
: tidak ada
: tidak ada
: tidak ada
: tidak ada
: tidak ada
: tidak ada
: tidak ada
: tidak ada

OBJEKTIF
1.
Status Umum (Tanggal 27 Mei 2014, Pukul 16.00 WIB)
Keadaan umum
: Tampak sakit sedang
Kesadaran
: E4 M6 V4 Delirium
Tekanan darah
: 110/70 mmHg
Nadi
: 85 x/menit
Pernapasan
: 22 x/menit
Suhu
: 36,5oC
Kepala
: terdapat hematom di regio temporo-parietal-occipital dextra
Mata
: pupil isokor diameter 3mm, SI (-), CA (-)
Telinga
: normotia, darah (-), pus (-)
3|Page

Hidung

: normosepta, tidak ada deviasi, tidak ada darah, tidak ada pus,

Tenggorokan
Leher
Paru-paru
Jantung
Abdomen
Ekstremitas
Status psikikus
Cara berpikir
Perasaan hati
Tingkah laku
Ingatan
Kecerdasan
Status Neurologis

tidak ada sekret


: T1/T1 tenang, tidak hiperemis
: tidak ada pembesaran KGB dan tiroid, kaku kuduk (-)
: suara nafas vesikuler, Rh (-), Wh (-)
: BJ I,II dalam batas normal, murmur (-), gallop (-)
: supel, normoperistaltik, nyeri tekan (-)
: deformitas a/r femoris dextra, vulnus laseratum cruris sinistra
: sulit dinilai
: sulit dinilai
: sulit dinilai
: sulit dinilai
: sulit dinilai

a. Kepala
1. Bentuk

: normocephali

2. Nyeri tekan

: (-)

3. Simetris

: kontur tengkorak simetris

4. Pulsasi

: (+)

b. Leher
1. Sikap

: simetris

2. Pergerakan

: bebas

3. Kaku kuduk

: (-)

c. Nervus kranialis
N. I (Olfactorius)

Kanan

Kiri

Subjektif

sulit dinilai

sulit dinilai

Dengan bahan (kopi)

sulit dinilai

sulit dinilai

Kanan

Kiri

Tajam penglihatan

sulit dinilai

sulit dinilai

Lapangan penglihatan

sulit dinilai

sulit dinilai

Melihat warna

sulit dinilai

sulit dinilai

Fundus okuli

tidak dilakukan

1. N. II (Optikus)

2. N. III (Okulomotorius)

Kanan

Kiri

Pergerakan bola mata


Temporal

Temporal

4|Page

*dapat bergerak

sulit dinilai

sulit dinilai

Kedudukan bulbus

normal

normal

Strabismus

tidak ada

tidak ada

Nistagmus

tidak ada

tidak ada

Exophtalmus

tidak ada

tidak ada

Pupil: Besar

3mm

3mm (simetris)

bulat

bulat

Membuka kelopak mata

normal

normal

Refleks terhadap sinar

(+)

(+)

Refleks Konversi

(+)

(+)

Refleks konsensual

(+)

(+)

Melihat kembar

sulit dinilai

sulit dinilai

N.IV (Trokhlearis)

Kanan

Kiri

sesuai arah panah

Bentuk

Pergerakan mata
Temporal

*dapat bergerak

Temporal

sulit dinilai

sulit dinilai

sulit dinilai

sulit dinilai

Kanan

Kiri

Bawah dalam
Diplopia
3. N.V (Trigeminus)
Membuka mulut

normal

normal

Menggigit

sulit dinilai

sulit dinilai

Pergerakan rahang

sulit dinilai

sulit dinilai

V1

sulit dinilai

sulit dinilai

V2

sulit dinilai

sulit dinilai

V3

sulit dinilai

sulit dinilai

Reflek kornea

(+)

(+)

Sensibilitas

4. N.VI (Abdusen)

Kanan

Kiri

Pergerakan mata

5|Page

Temporal

Temporal

*dapat bergerak lateral

sulit dinilai

sulit dinilai

Melihat kembar

sulit dinilai

sulit dinilai

Kanan

Kiri

Mengerutkan dahi

normal

normal

Menutup mata

normal

normal

Memperlihatkan gigi

normal

normal

Perasaan lidah depan

sulit dinilai

sulit dinilai

Kanan

Kiri

Gesekan rambut

sulit dinilai

sulit dinilai

Suara berbisik

sulit dinilai

sulit dinilai

Weber

tidak dilakukan

Rinne

tidak dilakukan

Swabach

tidak dilakukan

5. N.VII (Fasialis)

6. N.VIII (Kokhlearis)

7. N.IX (Glossofaringeus)
Perasaan lidah belakang

sulit dinilai

sulit dinilai

Reflek muntah

sulit dinilai

sulit dinilai

Kanan

Kiri

Arcus pharynx

sulit dinilai

sulit dinilai

Uvula

sulit dinilai

sulit dinilai

Menelan

sulit dinilai

sulit dinilai

Fonasi

sulit dinilai

sulit dinilai

Kanan

Kiri

Mengangkat bahu

sulit dinilai

sulit dinilai

Memalingkan kepala

sulit dinilai

sulit dinilai

Kanan

Kiri

Menjulurkan lidah

sulit dinilai

sulit dinilai

Tremor lidah

sulit dinilai

sulit dinilai

Kekuatan lidah

sulit dinilai

sulit dinilai

8. N.X (Vagus)

9. N.XI (Aksesorius)

10. N.XII (Hipoglossus)

d.

Badan dan anggota gerak


1. Badan
a. Respirasi

: simetris dalam keadaan statis dinamis


6|Page

b. Bentuk columna vertebralis : simetris

b.

c. Pergerakan kolumna

: sulit dinilai

d. Sensibilitas

Kanan

Kiri

Taktil

sulit dinilai

sulit dinilai

Nyeri

sulit dinilai

sulit dinilai

Suhu

sulit dinilai

sulit dinilai

Diskriminasi

sulit dinilai

sulit dinilai

Refleks kulit perut atas

: +/+

Refleks kulit perut bawah

: +/+

Refleks kulit perut tengah

: +/+

Refleks

2. Anggota gerak atas


a. Motorik

Kanan

Kiri

Pergerakan

sulit dinilai

sulit dinilai

Kekuatan

sulit dinilai

sulit dinilai

Tonus

normotonus

normotonus

Atrofi

normotrofi

normotrofi

Lingkar lengan atas

19 cm

19 cm

Lingkar lengan bawah

15,5 cm

15 cm

Taktil

sulit dinilai

sulit dinilai

Nyeri

sulit dinilai

sulit dinilai

Suhu

sulit dinilai

sulit dinilai

Diskriminasi

sulit dinilai

sulit dinilai

Biceps

++

++

Triceps

++

++

Radius

++

++

Ulna

++

++

Tromner-Hoffman

(-)

(-)

Kanan

Kiri

Pergerakan

sulit dinilai

sulit dinilai

Kekuatan

sulit dinilai

sulit dinilai

b. Sensibilitas

c. Refleks

3. Anggota gerak bawah


a. Motorik

7|Page

Tonus

normotonus

normotonus

Atrofi

normotrofi

normotrofi

Lingkar tungkai atas

28 cm

28 cm

Lingkar tungkai bawah

22 cm

21 cm

Taktil

sulit dinilai

sulit dinilai

Nyeri

sulit dinilai

sulit dinilai

Suhu

sulit dinilai

sulit dinilai

Diskriminasi

sulit dinilai

sulit dinilai

Patella

++

++

Achilles

++

++

Babinski

Chaddock

Rossolimo

Mendel-Bechterev

Schaefer

Oppenheim

Gonda

Gordon

b. Sensibilitas

c. Refleks

4. Koordinasi, gait, dan keseimbangan

Cara berjalan

: sulit dinilai

Tes Romberg

: sulit dinilai

Disdiadokokinesia

: sulit dinilai

Ataksia

: sulit dinilai

Dismetria

: sulit dinilai

5. Gerakan-gerakan abnormal

Tremor

: tidak ada

Miokloni

: tidak ada

Khorea

: tidak ada

Fasikulasi

: tidak ada

6. Alat vegetatif

Miksi

: sulit dinilai
8|Page

b.

Defekasi

: sulit dinilai

Ereksi

: sulit dinilai

Status Lokalis

Hematom a/r temporoparietal-occipital dextra

IV.

DIAGNOSIS KERJA
CKS
o Suspect fraktur depressed
o Suspect fraktur linier
o Suspect subgaleal hematom
o Suspect kontusio serebri
o Suspect fraktur basis cranii

V.

PEMERIKSAAN PENUNJANG
a. Pemeriksaan CT-Scan Brain Non Kontras (Tanggal 28 Mei 2014)

9|Page

10 | P a g e

Klinis:
Sulci, fisura sylvii dan sisterna relative obliterasi
11 | P a g e

Tampak lesi hiperdens di temporo-parietal kanan dan juga mengisi fissure sylvii

kanan, intersulci temporo parietal kanan


Tak tampak midline shifting
Sistem ventrikel lateral, III, IV relative normal
Pons dan serebelum baik
Fraktur linier impresi Os temporal parietal kanan dan fraktur linier Os occipital

kanan
Hematoma subgaleal temporo parietal occipital kanan

Kesan:

Cenderung EDH temporal kanan (DD// SDH temporo-parietal kanan) dengan PSA
Edema serebri dan peningkatan TIK
Fraktur linier impresi Os temporal parietal kanan dan fraktur linier Os occipital

kanan
Hematoma subgaleal temporo parietal occipital kanan

b. Pemeriksaan Laboratorium (Tanggal 27 Mei 2014 Pukul 18.39)


Hb
Leukosit
Eosinophil%
Basophil%
Neutrophil%
Limfosit%
Monosit%
Luc%
MCV
MCH
MCHC
Hematokrit
Trombosit
Eritrosit
RDW
PDW
MPV
LED
Golongan darah/Rh
BT
CT
APTT/PTT/PTTK
PTT
Gula darah sewaktu
Ureum
Creatinin darah

11,70
39,11
0,60
0,30
85,00
8,10
5,3
0,6
80,70
27,50
34,10
34,30
297
4,25
12,50
52,70
9,20
5/7
A/+
2.00
5,30
46,6
16,2
289
40,8
1.00

g/dl
Ribu
%
%
%
%
%
%
fL
Pg
%
%
Ribu
Juta
%
fL
Mikro m3
Mm/jam

10,58-15,6
4,5-13,5
1-5
0-1
50-70
25-50
1-6
1-4
80-100
26-34
32-36
40-52
156-408
4,4-5,9
11,5-14,5
25-65
6,8-10
0-10

Menit
Menit
Detik
Detik
Mg/dl
Mg/dl
Mg/dl

1-3
2-6
27-42
11-15
75-110
15-36
0,9-1,3
12 | P a g e

Natrium
Kalium
VI.

136,5
3,13

Mmol/l
Mmol/l

132-145
3,5-5

RESUME
OS anak laki-laki usia 12 tahun mengalami KLL terjatuh ke jurang 1 1/2 jam SMRS.
Posisi jatuh OS tidak diketahui secara pasti. Waktu kejadian dan datang ke UGD OS dalam
keadaan tidak sadar. Muntah (-), kejang (-), tidak ada kelumpuhan anggota gerak badan, tidak
ada perdarahan dari hidung maupun telinga.

VII.

DIAGNOSIS PASTI
1.

Fraktur depressed >1 tabula interna regio temporo parietal - occipito


dextra

2.

Sub galeal hematom regio temporo parietal occipito dextra


Dasar diagnosis:
Riwayat trauma kecelakaan lalu lintas
Hasil CT-Scan

VIII. PENATALAKSANAAN
Terapi operatif:
Craniotomy reposisi
Terapi medikamentosa:

IX.

X.

IVFD NaCl 0,9% 20 tpm


Starxon 2x750 mg
Torasic 2x1/2
Brainact 2x500
Kalnex 3x250
Manitol 4x75 cc

PROGNOSIS
Ad Vitam
Ad Fungsionam
Ad Sanationam

: dubia ad bonam
: dubia ad bonam
: dubia ad bonam

OPERASI (Tanggal 28 Mei 2014, Pukul 12.10 WIB)


Macam Prosedur
Craniotomy Reposisi
Laporan Operasi

Dilakukan tindakan anestesi dan desinfeksi dengan saflon, alcohol, dan betadine
Insisi base skull
13 | P a g e

Fraktur depressed os interlocking


Elevasi dan fiksasi dengan 1 buah miniplate
Perdarahan dirawat
Luka di jahit lapis demi lapis
Op selesai

Catanan spesifik komplikasi

XI.

Ditemukan fraktur depressed >1 tabula a/r parietal dextra interlocking

FOLLOW UP
Tanggal

: 2 Juni 2014

Pukul

: 14.45 WIB

: pusing (-), tidur sudah nyenyak

: kesadaran

: E4 M6 V5 CM

Tekanan darah

: 100/60 mmHg

Nadi

: 84 x/menit

Pernapasan

: 20 x/menit

Suhu

: 36,3oC

: Post craniotomy reposisi

Tanggal
Pukul

: 3 Juni 2014
: 15.15 WIB

: pusing sudah berkurang daripada kemarin, nafsu makan sedikit menurun

: kesadaran

: CM E4 M6 V5 (Obey commands)

Tekanan darah

: 110/80 mmHg

Nadi

: 96 x/menit

Pernapasan

: 20 x/menit

Suhu

: 36,5oC

Mata

: reflex cahaya +/+, pupil isokor

: Post craniotomy reposisi

Tanggal
Pukul

: 4 Juni 2014
: 15.00 WIB

: sudah tidak pusing lagi, rencana besok pulang

: kesadaran

: CM E4 M6 V5
14 | P a g e

Tekanan darah

: 120/80 mmHg

Nadi

: 86 x/menit

Pernapasan

: 20 x/menit

Suhu

: 36,0oC

: Post craniotomy reposisi

Tanggal

: 5 Juni 2014

Pukul

: 16.00

OS sudah dipulangkan

PEMBAHASAN
FRAKTUR DEPRESSED
Definisi
Fraktur tengkorak adalah rusaknya kontinuitas tulang tengkorak disebabkan oleh
trauma. Hal ini dapat terjadi dengan atau tanpa kerusakan otak. Adanya fraktur tengkorak
biasanya dapat menimbulkan dampak tekanan yang kuat. Fraktur tengkorak diklasifikasikan
terbuka atau tertutup. Bila fraktur terbuka maka dura rusak, dan fraktur tertutup keadaan dura
tidak rusak.1
Fraktur Tulang Kepala
Fraktur tulang kepala merupakan hasil dari trauma tumpul atau penetrasi. Fraktur
tulang kepala dapat dikategorikan menjadi fraktur linier dan fraktur depressed. Fraktur
depressed merupakan fraktur yang terdapat pada tulang kepala dimana fragmen fraktur
terdesak ke arah otak. Fraktur depressed biasanya merupakan dari gaya yang terlokalisir pada
satu tempat di kepala. Ketika gaya tersebut cukup besar, atau terkonsentrasi pada daerah

15 | P a g e

sempit, tulang terdesak ke bawah, sehingga menghasilkan fraktur depressed. Keadaaan


tersebut tergantung dari besarnya benturan dan kelenturan tulang kepala.2

Gambar1: Fraktur Depressed


Fraktur depressed tersering terjadi pada frontoparietal (75%), dan juga dapat terjadi
pada bagian temporal (10%), occipital (5%), dan lainnya (10%). Fraktur depressed sering
terjadi pada frontoparietal karena tulang pada bagian tersebut tipis dan cenderung terkena
serangan dari penyerang. Fraktur depressed dapat merupakan fraktur tertutup atau terbuka.
Kebanyakan fraktur depressed adalah fraktur terbuka. Pada bayi yang baru lahir, fraktur
depressed ping-pong terjadi sekunder pada kepala bayi ketika tertekan tulang sacral
promontorium ibu ketika kontraksi uterus. Penggunaan forceps juga dapat menyebabkan
fraktur pada kepala bayi, namun jarang terjadi. Fraktur kepala pada balita terjadi ketika
terjatuh atau karena menerima tindakan kekerasan. Fraktur yang terjadi pada anak biasanya
terjadi karena terjatuh dan kecelakaan sepeda. Pada dewasa, fraktur terjadi karena kecelakaan
sepeda motor atau karena menerima tindakan kekerasan.2
Sekitar 25% dari pasien dengan fraktur kepala depressed tidak datang dengan keluhan
hilangnya kesadaran, dan 25% lainnya hilang kesadaran dalam waktu kurang dari 1 jam.
Gejala pada fraktur kepala antara lain, nyeri kepala, mual, muntah. Presentasi klinis dapat
berbeda-beda, tergantung apabila ada kelainan intrakranial, seperti epidural hematoma dan
kejang. Pada pemeriksaan fisik terdapat fraktur yang terbuka atau tertutup dengan segmen
tulang yang lebih cekung dibandingkan tulang disekitarnya.3
Selain pemeriksaan neurologis, analisa lab darah, dapat dilakukan pemeriksaan
pencitraan. Pemeriksaan pencitraan yang dapat dilakukan adalah X- ray, CT-scan dan MRI.
16 | P a g e

Fraktur pada vertex akan lebih terlihat pada X-ray, namun kriteria standar untuk diagnosis
fraktur pada tulang kepala adalah dengan menggunakan CT-scan. Pemeriksaan MRI
digunakan apabila ada kecurigaan kelainan pada ligamen atau pembuluh darah.3

Gambar2: Gambaran CT-Scan Fraktur Depressed4

Klasifikasi
Klasifikasi fraktur tulang tengkorak dapat dilakukan berdasarkan:3
1.

Gambaran fraktur, dibedakan atas :


a.
Linier
Fraktur linier merupakan garis fraktur tunggal pada tengkorak yang meliputi
seluruh ketebalan tulang. Pada pemeriksaan radiologi akan terlihat sebagai garis
b.

radiolusen.
Diastase
Fraktur yang terjadi pada sutura, sehingga terjadi pemisahan sutura cranial. Fraktur

ini sering terjadi pada anak dibawah usia 3 tahun.


c. Comminuted
Fraktur dengan dua atau lebih fragmen fraktur.
d. Depressed
Fraktur depressed diartikan sebagai fraktur dengan tabula eksterna pada satu atau
lebih tepi fraktur terletak dibawah level anatomic normal dari tabula interna tulang
tengkorak sekitarnya yang masih utuh.
Jenis fraktur ini terjadi jika energy benturan relative besar terhadap area benturan
yang relative kecil. Misalnya benturan oleh martil, kayu, batu, pipa besi, dll. Pada
gambaran radiologis akan terlihat suatu area double density (lebih radio opaque)
2.

karena adanya bagian-bagian tulang yang tumpang tindih.


Lokasi Anatomis, dibedakan atas :
17 | P a g e

a. Konveksitas (kubah tengkorak)


yaitu fraktur yang terjadi pada tulang-tulang yang membentuk konveksitas
(kubah) tengkorak seperti os.Frontalis, os. Temporalis, os. Parietalis, dan os.
Occipitalis.
b. Basis crania (dasar tengkorak)
yaitu fraktur yang terjadi pada tulang yang membentuk dasar tengkorak. Dasar
tengkorak terbagi atas tiga bagian yaitu :
Fossa Anterior
Fossa Media
Fossa Posterior
Fraktur pada masing-masing fosa akan memberikan manifestasi yang berbeda.
3.

Keadaan luka, dibedakan atas :


a. Terbuka
b. Tertutup
Luas lapisan tipe fraktur ditentukan oleh beberapa hal,pertama ditentukan
oleh

besarnya

energy

yang

membentur

kepala

(energy

kinetic

objek), kedua ditentukan oleh Arah benturan, ketiga ditentukan oleh bentuk
tiga dimensi (geometris) objek yang membentur, keempat ditentukan oleh
lokasi anatomis tulang tengkorak tempat benturan terjadi, dan kelima
ditentukan oleh perbandingan antara besar energi dan luasnya daerah benturan,
semakin besar nilai perbandingan ini akan cenderung menyebabkan fraktur
depressed.3
Pendapat ini didukung oleh beberapa hal antara lain:
a.

Fraktur pada tabula interna biasanya lebih luas dari pada fraktur tabula
eksterna diatasnya.

b.

Sering ditemukan adanya fraktur tabula interna walaupun tabula


eksterna utuh.

c.

Kemungkinan hal ini juga didukung oleh pengamatan banyaknya


kasus epidural hematoma akibat laserasi arteri meningea media, walaupun pada
pemeriksaan awal dengan radiologi dan gambaran intra operatif tidak tampak adanya
fraktur pada tabula eksterna, tetapi tampak garis fraktur pada tabula interna.3

Tanda dan Gejala


Gejala-gejala yang muncul pada cedera local bergantung pada jumlah dan distribusi
cedera otak. Nyeri yang menetap atau setempat, biasanya menunjukan adanya fraktur.
Patomekanisme terjadinya gejala nyeri diatas antara lain: nyeri adalah sensasi subjektif rasa
tidak nyaman yang biasanya berkaitan dengan kerusakan jaringan actual atau potensial. Nyeri
18 | P a g e

dapat bersifat protektif, yaitu dengan menyebabkan individu menjauhi suatu rangsangan yang
berbahaya, atau tidak memiliki fungsi, seperti pada nyeri kronik. Nyeri dirasakan apabila
reseptor-reseptor nyeri spesifik teraktivasi. Nyeri dijelaskan secara subjektif dan objektif
berdasarkan lama (durasi), kecepatan sensasi, dan letak.1
Fraktur kubah cranial menyebabkan bengkak pada sekitar fraktur, dan karena ini
diagnosis yang akurat tidak dapat ditetapkan tanpa pemeriksaan dengan sinar x.
Fraktur dasar tengkorak cenderung melintas sinus paranasal pada tulang frontal atau
lokasi tengah telinga tulang temporal, juga sering menimbulkan hemoragi dari hidung, faring,
atau telinga dan darah terlihat dibawah konjungtiva. Suatu area ekimosis, atau memar
mungkin terlihat diatas mastoid (tanda battle). Fraktur dasar tengkorak dicurigai ketika CSS
keuar dari telinga (othorea cairan serebrospinal) dan hidung (rhinorea serebrospinal).
Keluarnya cairan CSS merupakan masalah yang serius karena dapat menyebabkan infeksi
seperti meningitis, jika organisme masuk kedalam isi cranial melalui hidung, telinga atau
sinus melalui robekan pada dura.1

Penatalaksanaan
Fraktur depressed yang terjadi pada anak tanpa kelainan neurologis akan sembuh
dengan baik dan tidak memerlukan tindakan operasi. Pengobatan terhadap kejang dianjurkan
apabila kemungkinan terjadinya kejang besar. Pada fraktur terbuka, apabila terkontaminasi,
diperlukan pemberian antibiotic berspektrum luas dan tetanus toksoid.2
Balita dan anak dengan fraktur depressed terbuka memerlukan intervensi bedah
(craniotomy). Kebanyakan dokter bedah syaraf akan mengelevasi fraktur apabila segmen
cekung lebih dari 5 mm dibandingkan dengan tulang yang disekitarnya. Indikasi lain operasi
pada anak adalah ketika terdapat penetrasi dari dura, defek kosmetik yang persisten dan
terdapatnya defisit neurologis fokal. Indikasi untuk dilakukannya elevasi yang segera adalah
ketika terdapat kontaminasi yang masif, ataupun terdapatnya hematoma. Pada dewasa,
indikasi dilakukannya elevasi adalah ketika segmen lebih cekung dari 8-10 mm (atau
melebihi ketebalan dari tulang), terdapat defisit neurologis, perembasan CSF, dan pada
fraktur terbuka.2
Craniotomy adalah potongan yang dilakukan pada kranium. Saat operasi dibuat suatu
flap yang memungkinkan akses ke dura di bawahnya. Selain untuk melakukan elevasi pada
segmen tulang yang terkena, craniotomy juga dilakukan untuk mengevakuasi hematoma,
mengeluarkan benda asing dari dalam tulang kepala dan menutup bolongan pada basis crani
19 | P a g e

untuk mengobati atau mencegah terjadinya perembasan CSF. Terkadang, craniectomy


dilakukan ketika otak yang terdapat di bawahnya juga terkena dan bengkak. Pada kasus ini
cranioplasty perlu dilakukan di kemudian hari.5
Pasien dengan fraktur terbuka yang terkontaminasi dan ditangani dengan tindakan
bedah, perlu dipantau 2-3 bulan setelah operasi dengan dilakukannya beberapa kali CT-scan,
untuk melihat apakah terbentuk abses. Pemantauan juga dilakukan untuk memastikan apakah
terjadi komplikasi fraktur tulang kepala, seperti infeksi ataupun kejang. Kemungkinan
terjadinya kejang kecil namun kemungkinan ini meningkat apabila pasien kehilangan
kesadaran lebih dari 2 jam, dan ketika terdapat robekan pada dura.5
Penanganan Cedera Kepala Ringan
Cedera kepala ringan dikategorikan pada penderita cedera kepala dengan GCS 13-15
pasca trauma. Biasanya tindakan yang dilakukan adalah dengan melakukan perawatan lukaluka seperti tindakan debridement dan penjahitan luka. Pasien dapat diberikan obat
simptomatik untuk mengatasi gejala yang dirasakan sepeti nyeri kepala, vertigo, dll.
Walaupun tidak diperlukan tindakan perawatan, dan diijinkan untuk pulang, tetapi pihak
keluarga harus memperhatikan tanda-tanda bahaya yang dapat muncul seperti penurunan
kesadaran, muntah, perubahan perilaku, kelemahan tubuh, dll. Sehingga edukasi dan
observasi di rumah minimal 24 jam perlu diterapkan dalam penanganan cedera kepala ringan.
Walaupun tidak diharuskan untuk dirawat, tetapi ada indikasi dimana penderita cedera kepala
ringan harus dirawat, salah satunya adalah ada gambaran abnormal pada CT scan, defisit
neurologis muncul, ada fraktur, tidak memiliki keluarga, ada cedera tembus, dll.6
Penanganan Cedera Kepala Sedang dan Berat
Cedera kepala sedang dikategorikan pada penderita cedera kepala dengan GCS 9-12
pasca trauma dan cedera kepala berat dengan GCS 3-8.

Pada penanganan cedera kepala

sedang dan berat, pemeriksaan CT-Scan mutlak harus dilakukan. Penderita juga harus
dilakukan perawatan di rumah sakit dan observasi ketat pada tanda-tanda vital, dan
pemeriksaan neurologis secara periodik, terutama GCS, bentuk dan ukuran pupil, gejalagejala peningkatan intrakranial.6
Observasi dilakukan sampai GCS mencapai 15 dilakukan dalam 24-48 jam. Observasi
ideal dilakukan tiap 30 menit pada jam pertama, lalu tiap jam pada 6 jam kedua, tiap 2 jam
pada 12 jam berikutnya. Lalu observasi tiap 4 jam hingga pasien sadar. Indikasi dilakukan
tindakan operatif pada cedera kepala ditegakan berdasarkan kondisi klinis pasien, temuan
CT-scan atau pemeriksaan radiologi, dan temuan gejala-gejala pasca trauma. Tujuan utama
20 | P a g e

pembedahan adalah untuk dekompresi dan evakuasi pendarahan. Operasi dilakukan


berupa kraniektomi untuk mengurangi TIK.6

Daftar Pustaka
1.
2.
3.
4.

Suzanne C, Smeltzer, Brenda G. Neurosurgery, volume 3. Elsevier;2005.p.1996


Greenberg M. Handbook of neurosurgery, sixth edition. Mcgraw-Hill;2006
Rengachary S S, Wilkins R H. Principles of neurosurgery. London: Mosby;2004
Diunduh dari https://www.google.co.id/search?
q=fraktur+depressed&safe=off&source=lnms&tbm=isch&sa=X&ei=kWuZU4Jagfzx

5.
6.

BYjEgMAK&ved=0CAYQ_AUoAQ&biw=1366&bih=643#q=fracture+depressed
Winn H R. Youmans neurological surgery, fifth edition. USA: Saunders;2004
Sjamsuhidajat R. Buku ajar ilmu bedah, edisi kedua. Jakarta: EGC;2012

21 | P a g e