Anda di halaman 1dari 11

KONSEP MEDIS

STROKE NON HEMORAGIK


A. Definisi
Gangguan peredaran darah diotak (GPDO) atau dikenal dengan CVA
( Cerebro Vaskuar Accident) adalah gangguan fungsi syaraf yang disebabkan
oleh gangguan aliran darah dalam otak yang dapat timbul secara mendadak
( dalam beberapa detik) atau secara cepat ( dalam beberapa jam ) dengan
gejala atau tanda yang sesuai dengan daerah yang terganggu (Ginsberg, 2009).
Stroke atau cedera cerebrovaskuler adalah kehilangan fungsi otak yang
diakibatkan oleh berhentinya suplai darah ke bagian otak sering ini adalah
kulminasi penyakit serebrovaskuler selama beberapa tahun (Digiulio Mary,
2014).
Non hemoragic stroke merupakan stroke yang menyebabkan iskemia
akibat emboli dan trombosis serebral biasanya terjadi setelah lama
beristirahat baru bangun tidur atau di pagi hari yang tidak terjadi perdarahan
pada otak. Defisit neurologis yang terjadi secara mendadak yang disebabkan
oleh gangguan sirkulasi darah otak (William & Wilkins, 2011).
B. Etiologi
Penyebab-penyebabnya menurut (Digiulio Mary, 2014) antara lain:
1. Thrombosis ( bekuan cairan di dalam pembuluh darah otak )
Thrombosis ini terjadi pada pembuluh darah yang mengalami oklusi
sehingga menyebabkan iskemi jaringan otak yang dapat menimbulkan
oedema dan kongesti disekitarnya. Keadaan yang dapat menyebabkan
thrombosit cerebral:

Atherosklerosis/arterioskerosis

adalah mengerasnya pembuluh darah serta berkurangnya ketentuan


atau elastisitas pembuluh darah
Hypercoagulasi pada polysitemia

Darah bertambah kental, peningkatan viskositas hematokrit meningkat


dapat melambatkan aliran darah serebral
Arteritis (radang pada arteri)

2. Embolisme cerebral ( bekuan darah atau material lain )

Emboli serebral merupakan penyumbatan pembuluh darah otak oleh darah,


lemak dan udara. Pada umumnya emboli berasal dari thrombus di jantung
yang terlepas dan menyumbat sistem arteri serebral. Emboli tersebut
berlangsung cepat dan gejala timbul kurang dari 10-30 detik.
3. Iskemia ( Penurunan aliran darah ke area otak)
4. Haemortologi
Perdarahan intrakranial atau intra serebral termasuk perdarahan dalam
ruang sub arachnoid/kedalam jaringan otak sendiri. Ini terjadi karena
atherosklerosis dan hypertensi. Akibat pecahnya pembuluh darah otak
menyebabkan perembesan darah kedalam parenkim otak yang dapat
mengakibatkan penekanan, pengerasan dan pemisahan jaringan otak yang
berdekatan sehingga otak akan membengkak, jaringan otak tertekan
sehingga terjadi infark otak, oedema dan mungkin hemiasi otak.
5. Hypoksia Umum
Hipertensi yang parah
Cardiac pulmonary arrest
CO turun akibat aritmia
6. Hypoksia setempat
Spasme arteri serebral yang disertai perdarahan sub aradinoid
Vasokontriksi arteri otak disertai sakit kepala migran.
C. Patofisiologi
Suplai darah ke otak dapat berubah pada gangguan fokal (thrombus,
emboli, perdarahan dan spasme vaskuler) atau oleh karena gangguan umum
(Hypoksia

karena

gangguan

paru

dan

jantung).

Arterosklerosis

sering/cenderung sebagai faktor penting trhadap otak. Thrombus dapat


berasal dari flak arterosklerotik atau darah dapat beku pada area yang
stenosis, dimana aliran darah akan lambat atau terjadi turbulensi. Oklusi pada
pembuluh darah serebral oleh embolus menyebabkan oedema dan nekrosis
diikuti thrombosis dan hypertensi pembuluh darah. Perdarahan intraserebral
yang sangat luas akan menyebabkan kematian dibandingkan dari keseluruhan
penyakit

cerebrovaskuler.

Jika

sirkulasi

serebral

terhambat,

dapat

berkembang cerebral. Perubahan disebabkan oleh anoksia serebral dapat

revensibel untuk jangka waktu 4-6 menit. Perubahan irreversible dapat


anoksia lebih dari 10 menit. Anoksia serebtal dapat terjadi oleh karena
gangguan yang bervariasi, salah satunya cardiac arrest (Corwin, 2009).
D. Faktor Resiko
1. Hipertensi
2. Penyakit kardiovaskuler: arteria koronaria, gagal jantung kongestif,
fibrilasi atrium, penyakit jantung kongestif)
3. Kolesterol tinggi
4. Obesitas
5. Peningkatan hematokrit ( resiko infark serebral)
6. Diabetes Melitus ( berkaitan dengan aterogenesis terakselerasi)
7. Kontrasepasi oral( khususnya dengan disertai hipertensi, merkok, dan
kadar estrogen tinggi)
8. Penyalahgunaan obat ( kokain)
9. Konsumsi alkohol
E. Manifestasi klinis
Gejala - gejala CVA muncul akibat daerah tertentu tak berfungsi yang
disebabkan oleh terganggunya aliran darah ke tempat tersebut. Gejala itu
muncul bervariasi, bergantung bagian otak yang terganggu. Gejala-gejala itu
menurut (William & Wilkins, 2011) antara lain bersifat:
a.Sementara
Timbul hanya sebentar selama beberapa menit sampai beberapa jam dan
hilang sendiri dengan atau tanpa pengobatan. Hal ini disebut Transient
ischemic attack (TIA). Serangan bisa muncul lagi dalam wujud sama,
memperberat atau malah menetap.
b.Sementara,namun lebih dari 24 jam
Gejala timbul lebih dari 24 jam dan ini dissebut reversible ischemic
neurologic defisit (RIND)

c.Gejala makin lama makin berat (progresif)


Hal ini desebabkan gangguan aliran darah makin lama makin berat yang
disebut progressing stroke atau stroke inevolution

d.Sudah menetap/permanen
F. Pemeriksaan Penunjang
1. CT Scan
Memperlihatkan adanya edema , hematoma, iskemia dan adanya infark
2. Angiografi serebral
membantu menentukan penyebab stroke secara spesifik seperti perdarahan
atau obstruksi arteri
3. Pungsi Lumbal
- menunjukan adanya tekanan normal
- tekanan meningkat dan cairan yang mengandung darah menunjukan
adanya perdarahan
4. MRI : Menunjukan daerah yang mengalami infark, hemoragik.
5. EEG: Memperlihatkan daerah lesi yang spesifik
6. Ultrasonografi Dopler : Mengidentifikasi penyakit arteriovena
7. Sinar X Tengkorak : Menggambarkan perubahan kelenjar lempeng pineal
G. Penatalaksanaan
1. Diuretika : untuk menurunkan edema serebral .
2. Anti koagulan: Mencegah memberatnya trombosis dan embolisasi.
H. Komplikasi
Hipoksia Serebral
Penurunan darah serebral
Luasnya area cedera

PATHWAY

Penyakit yang mendasari stroke


Penurunan perfusi jaringan cerebral
Iskemia

SNH

Hipoksia
Metabolisme anaerob terganggu

Nekrosis jaringan otak

Volume cairan bertmbah

Aktifitas elektrolit

Pompa Na dan K gagal

Asam laktat meningkat

Nadan K influk
Edema cerebral
TIK meningkat
Hernia cerebral

ASUHAN KEPERAWATAN TEORITIS


A. Pengkajian
Adapun data yang perlu dikumpulkan adalah sebagai berikut :

Retensi air

1. Pengkajian awal Meliputi nama, umur, jenis kelamin, agama, suku,


pekerjaan, pendidikan, alamat, tanggal masuk RS, No RM, dan diagnosa
medis.
2. Pengkajian data dasar
a. Riwayat kesehatan dahulu
Riwayat hipertensi, penyakit jantung dan diabetes mellitus. Klien
mengalami stres dan kadang pernah mengalami stroke.
b. Riwayat kesehatan sekarang
Terjadi secara mendadak dan adanya perubahan tingkat kesadaran. Di
awali gangguan penglihatan kabur, nyeri kepala, pusing, lupa ingatan
sementara dan kaku leher. Klien mengeluh adanya perubahan mental
emosi yang labil, mudah marah dan disorientasi. Gangguan berbicara,
kesemutan, tangan terasa lemah dan tidak dapat di gerakkan.
c. Riwayat kesehatan keluarga
Anggota keluarga ada yang menderita hipertensi, jantung atau diabetes
mellitus. Kelainan pembuluh darah, seperti artera vehol, malformasi,
asma bronchial dan penyakit paru.
3. Pengkajian Primer
a. Airway
Adanya sumbatan/obstruksi jalan napas oleh adanya penumpukan sekret
akibat kelemahan reflek batuk
b. Breathing
Kelemahan menelan/ batuk/ melindungi jalan napas, timbulnya
pernapasan yang sulit dan / atau tak teratur, suara nafas terdengar
ronchi /aspirasi.

c. Circulation

TD dapat normal atau meningkat , hipotensi terjadi pada tahap lanjut,


takikardi, bunyi jantung normal pada tahap dini, disritmia, kulit dan
membran mukosa pucat, dingin, sianosis pada tahap lanjut
4. Secondary Primer

Kepala : Bentuk normochepal, rambut hitam, penyebaran merata, tidak


mudah tercabut, tidak ada massa atau lesi. Terdapat nyeri pada kepala.
Wajah : Tidak ada edema
Mata : Simetris, tidak ikterus, tidak anemia, pupil isokor.
Hidung : Simetris, tidak ada lesi atau sekret.
Telinga : Simetris, daun telinga bersih, tidak ada nyeri. Tidak ada
sekret.
Mulut : mukosa bibir lembab, Tidak ada lesi / perdarahan.
Leher : Tidak ada pembesaran kelenjar tyroid, tidak ada peningkatan
vena jugularis, tidak ada nyeri tekan.
Dada
: Bentuk dada simetris, tidak ada pengunaan otot diafragma.
Irama napas reguler. Bunyi napas ronchi.
Jantung : Kesan murni terdengar bunyi lup dup (S1 dan S2)
Abdomen : Simetris, tidak ada nyeri tekan, tidak ada pembesaran
abdomen. Tidak ada pembesaran hati dan lien.
Ektremitas : Ektremitas atas dan bawah tidak ada atrofi atau hipertrofi.
Tidak ada udem. Refleks Biseps (+), Triseps (+), Patella (+), Achilles
(+), Babinski (+), pada ektremitas atas terdapat flexi abnormal.

5. Data Biologis
a. Aktivitas dan istirahat
Data Subyektif: kesulitan dalam beraktivitas ; kelemahan, kehilangan
sensasi atau paralysis, mudah lelah, kesulitan istirahat ( nyeri atau kejang
otot)
Data obyektif: Perubahan tingkat kesadaran, Perubahan tonus otot
(flaksid atau spastic), paraliysis (hemiplegia) , kelemahan umum.
b. Sirkulasi

Data Subyektif: Riwayat penyakit jantung ( penyakit katup jantung,


disritmia, gagal jantung , endokarditis bacterial ), polisitemia.
Data obyektif: Hipertensi arterialDisritmia, perubahan EKG. Pulsasi :
kemungkinan bervariasi. Denyut karotis, femoral dan arteri iliaka atau
aorta abdominal.
c. Integritas ego
Data Subyektif: Perasaan tidak berdaya, hilang harapan
Data obyektif: Emosi yang labil dan marah yang tidak tepat,
kesediahan,kegembiraan, kesulitan berekspresi diri.
d. Eliminasi
Data Subyektif : Inkontinensia, anuria, distensi abdomen (kandung kemih
sangat penuh), tidak adanya suara usus (ileus paralitik)
e. Makan/ minum
Data Subyektif : Nafsu makan hilang. Nausea / vomitus menandakan
adanya PTIK. Kehilangan sensasi lidah , pipi , tenggorokan, disfagia.
Data obyektif: Problem dalam mengunyah ( menurunnya reflek palatum
dan faring ). Obesitas ( factor resiko )
2. Diagnosa keperawatan
a. Gangguan perfusi jaringan serebral berhubungan dengan gangguan aliran
darah sekunder akibat peningkatan TIK
b. Gangguan mobilitas fisik berhubungan dengan kerusakan neuromuskular.
c. Gangguan komunikasi verbal berhubungan dengan kehilangan kontrol otot
oral dan fasial
d. Resiko gangguan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan
ketidak mampuan menelan
e. Kecemasan berhubungan dengan ancaman terhadap konsep diri

3.

Intervensi Keperawatan
a. Gangguan perfusi jaringan serebral berhubungan dengan gangguan aliran
darah sekunder akibat peningkatan TIK
Tujuan : Setelah dilakukan perawatan intensive, diharapkan perfusi
jaringan otak dapat tercapai secara optimal dengan

Kriteria hasil : Klien tidak gelisah, tidak ada keluhan nyeri kepala, mual
dan kejang, pupil isokor, reflek cahaya (+) dan TTV normal.
Intervensi :
Kaji dan pantau TTV
Rasional : Mengetahui keadaan umum klien
Pantau tingkat kesadaran klien
Rasional : Mengetahui dan mengontrol perubahan kesadaran klien
Berikan posisi kepala lebih tinggi 15 30 dengan letak jantung (beri
bantal tipis)
Rasional : posisi kepala lebih tinggi memudahkan aliran darah ke otak
Anjurkan klien untuk menghindari batuk dan mengedan berlebihan
Rasional : batuk dan mengedan berlebihan akan meningkatkan tekanan
intra cranial
Berikan penjelasan kepada klien dan keluarga tentang penyebab dan
akibat dari peningkatan TIK
Rasional : Menambah pemahaman keluarga klien dan menurunkan
kecemasan yang dialami keluarga.
Ciptakan lingkungan yang nyaman dan batasi pengunjung.
Rasional : Lingkungan yang nyaman dapat membuat klien beristrihat
dengan nyaman.
Kolaborasi dengan tim dokter dalam pemberian obat neuroprotektor.
Rasional : Obat neoroprotektor.
b. Gangguan mobilitas fisik berhubungan dengan kerusakan neuromuskular.
Tujuan : Setelah dilakukan perawatan intensive, diharapkan mobilisasi
klien mengalami peningkatan dengan
Kriteria hasil : mempertahankan posisi yang optimal, mempertahankan
atau meningkatkan kekuatan dan fungsi bagian tubuh yang mengalami
hemiparese.
Intervensi :
Kaji kemampuan secara fungsional dan luasnya kerusakan awal dengan
teratur.
Rasional : Mengetahui kerusakan yang terjadi pada gangguan mobilitas.
Ubah posisi minimal 2 jam sekali miring kanan - miring kiri
Rasional : Mencegah dekubitus
Berikan latihan rentang gerak aktif dan pasif pada semua ekstremitas
secara teratur ROM Range Of Motion.
Rasional : ROM dapat mencegah kontraktur dan kekakuan sendi pada
persendian, serta meningkatkan kekuatan dan kelenturan otot.

Berikan

posisi

yang

nyaman,

sesekali

bantu

klien

untuk

mengembangkan keseimbangan duduk dengan meninggikan bagian


kepala tempat tidur, bantu untuk duduk disisi tempat tidur Semi
fowler
Rasional : Posisi meninggikan kepala dapat membantu masalah
kesulitan bernapas dan kardiovaskuler.
Kolaborasi pemberian obat relaksan otot, antipasmodik sesuai indikasi.
Rasional : obat relaksan otot dapat membantu melenturkan otot otot
yang kaku.
c. Gangguan komunikasi verbal berhubungan dengan kehilangan kontrol otot
oral dan fasial
Tujuan : Setelah dilakukan perawatan selama 3 x 24 jam, diharapkan
kerusakan komunikasi verbal dapat teratasi, dengan
Kriteria hasil : menerima pesan pesan melalui metode alternatif seperti
menulis, bahasa isyarat. Meningkatkan kemampuan untuk mengerti,
mampu berbicara dengan jelas.
Intervensi :
Kaji tipe disfungsi seperti klien tidak tampak memahami kata atau sulit
berbicara.
Rasional : Mengetahui sejaih mana klien mengalami gangguan bicara
Mintalah klien untuk mengikuti perintah sederhana seperti buka mata
atau tunjuk pintu dengan kalimat yang sederhana.
Mintalah klien untuk mengucapkan suara sederhana seperti Ah dan
Pus.
Rasional : Melatih klien berbicara agar gangguan bicara klien dapat di
atasi dengan tepat.
Berikan metode komunikasi alternatif seperti menulis, berikan petunjuk
visual (gerakan tangan)
Rasional : Komunikasi alternatif dapat mengatasi gangguan bicara klien
sedikit demi sedikit.
d. Kecemasan keluarga berhubungan dengan koping yang tidak efektif
Tujuan : Setelah dilakukan perawatan intensive, diharapkan keluarga klien
tidak gelisah, tidak cemas, wajah rileks dan dapat memahami tentang
penyakit serta pengobatan yang dilakukan.
Intervensi :

Kaji tingkat kecemasan keluarga.


Rasional : Mengetahui tingkat kecemasan yang di alami oleh keluarga
terdekat seperti istri dan anak.
Beri dorongan kepada keluarga terdekat klien untuk mengungkapkan
secara verbal
Rasional : Pengungkapan secara verbal dapat membuat keluarga klien

merasa lega, rileks dan ansietas berkurang.


Berikan penjelasan kepada keluarga klien tentang pengobatan yang
dilakukan.
Rasional : Meningkatkan pengetahuan dan pemahaman keluarga klien
sehingga ansietas berkurang.
DAFTAR PUSTAKA

Corwin, J, Elizabeth,(2009), Buku saku patofiosilogi, EGC, Jakarta


Wilkinson, M, Judith & Ahern, R, Nancy, (2011), Buku saku diagnosa
keperawatan, Edisi 9, EGC, Jakarta.
Eny Kusyati, S.Kep, Ns dkk, (2009), Keterampilan Keperawatan dasar, Edisi
revisi, EGC, Jakarta
Ginsberg, Lionel. Lecture Notes Neurologi. 2009. Jakarta: EMS.
Silbernagl, Stefan dan Florian Lang. Teks & Atlas Berwarna Patofisiologi. 2009.
Jakarta: EGC.
Ginsberg, Lionel. Lecture Notes Neurologi. 2007. Jakarta: EMS.

Anda mungkin juga menyukai