Anda di halaman 1dari 8

BAB I

PENDAHULUAN

A. Tujuan
Dapat melakukan identifikasi (analisa kualitatif) kandungan kimia dari
ekstrak atau ekstrak hasil fraksinasi dengan metode kromatografi

kertas
Dapat melakukan isolasi atau pemisahan kandungan kimia dari
ekstrak atau ekstrak hasil fraksinasi dengan metode kromatografi
kertas.

B. Teori
a. Kromatografi Kertas
Kromatografi

digunakan

untuk

memisahkan

substansi

campuran

menjadi komponen-komponennya, teknik pemisahan campuran didasarkan atas


perbedaan distribusi dari komponen-komponen campuran tersebut diantara dua
fase, yaitu fase diam (padat atau cair) dan fase gerak (cair atau gas). Seluruh
bentuk kromatografi berkerja berdasarkan prinsip ini. Bila fase diam berupa zat
padat yang

aktif,maka dikenal istilah kromatografi penyerapan (adsorption

chromatography). Bila fase diam berupa zat cair, maka teknik ini disebut
kromatografi pembagian (partition chromatography). Fase diam akan menahan
komponen campuran sedangkan fase gerak akan melarutkan zat komponen
campuran. Komponen yang mudah tertahan pada fase diam akan tertinggal.
Sedangkan komponen yang mudah larut dalam fase gerak akan bergerak
lebih cepat. Semua kromatografi memiliki fase diam (dapat berupa padatan,
atau kombinasi cairan-padatan) dan fase gerak (berupa cairan atau gas). Fase
gerak mengalir melalui fase diam dan membawa komponen-komponen
yang

terdapat

dalam

campuran.

Komponen-komponen

yang berbeda

bergerak pada laju yang berbeda. Proses kromatografi juga digunakan dalam
metode pemisahan komponen gula dari komponen non gula dan abu dalam
tetes menjadi fraksi-fraksi terpisah yang diakibatkan oleh perbedaan adsorpsi,
difusi dan eksklusi
adsorbent

komponen

gula

dan

non

gula

tersebut

terhadap

dan eluent yang digunakan (Hongisto dan Heikkila, 1977;

Kantasubrata, 1993; Schneider, 1987).

Sedangkan dalam kromatografi, eluent adalah fasa gerak yang berperan


penting pada proses elusi bagi larutan umpan (feed) untuk melewati fasa diam
(adsorbent). Interaksi antara adsorbent dengan eluent sangat menentukan
terjadinya pemisahan komponen. Oleh sebab

itu pemisahan komponen gula

dalam tetes secara kromatografi dipengaruhi oleh laju alir eluent dan jumlah
umpan. Eluent dapat digolongkan menurut ukuran kekuatan teradsorpsinya
pelarut atau campuran pelarut tersebut pada adsorben dan dalam hal ini yang
banyak digunakan adalah jenis adsorben alumina atau sebuah lapis tipis silika.
Penggolongan ini dikenal sebagai deret eluotropik pelarut. Suatu pelarut
yang bersifat larutan relatif polar, dapat mengusir pelarut yang relatif tak
polar dari ikatannya dengan alumina (jel silika). (Kantasubrata, 1993). fase
geraknya (Mobile Phase) berupa cairan atau campuran cairan, biasanya pelarut
organi dan kadang-kadang juga air. Fase diam yang berupa lapisan tipis ini dapat
dibuat

dengan

membentangkan

(adsorbent=penjerap=sorbent)

diatas

/meratakan

plat/lempeng

kaca

fase

diam

plastik

ataupun

aluminium.
Jenis-Jenis Kromatografi
Berdasarkan fase gerak yang digunakan, kromatografi dibedakan menjadi dua
golongan besar yaitu gas chromatography dan liquid chromatography. Masingmasing golongan dapat dibagi lagi seperti yang telah disebutkan pada definisi di
atas.
a. Liquid Liquid Chromatography (LLC)
LLC adalah kromatografi pembagian dimana partisi terjadi antara fase
gerak dan fase diam yang kedua-duanya zat cair. Dalam hal ini fase diam
tidak boleh larut dalam fase gerak. Umumnya sebagai fase diam digunakan
air dan sebagai fase gerak adalah pelarut organik. Misalnya pada
kromatografi kertas, sebagai fase diam adalah air yang terserap pada serat
selulosa dari kertas.
b. Liquid Solid Chromatography (LSC)
LSC adalah kromatografi penyerapan.

Sebagai adsorben digunakan

silika gel, alumina, penyaring molekul atau gelas

berpori dipak dalam

sebuah kolom dimana komponen-komponen campuran dipisahkan dengan


adanya fase gerak. Kromatografi kolom dan kromatografi lapis tipis (TLC)
merupakan teknik pemisahan yang masuk golongan ini

c. Ion-exchange chromatography
Teknik ini menggunakan zeolitas, resin organik atau anorganik sebagai
penukar ion. Senyawaan yang mempunyai ion-ion dengan afinitas yang
berbeda terhadap resin yang digunakan dapat dipisahkan.
Analisa asam-asam amino adalah yang umum dilakukan dengan cara ini.
Contoh lain adalah asam-asam nukleat dan analisis garam-garam anorganik.
Kromatografi kertas merupakan kromatografi partisi dimana fase geraknya
adalah air yang disokong oleh molekul-molekul selulosa dari kertas. Kertas yang
digunakan adalah kertas Whatman No.1 dan kertas yang lebih tebal Whatman
No. 3

biasanya untuk pemisahan campuran dalam jumlah yang lebih besar

karena dapat menampung lebih banyak cuplikan (Sastrohamidjojo, 1991).


Fase gerak yang digunakan biasanya campuran dari suatu komponen
organik yang utama air dan berbagai tambahan seperti asam-asam, basa atau
pereaksi-pereaksi kompleks dengan tujuan untuk memperbesar kelarutan dari
beberapa

senyawa

atau

untuk

mengurangi

kelarutan

yang

lainnya

(Sastrohamidjojo, 1991).
Fase gerak terdiri dari satu atau beberapa pelarut dan bila diperlukan dapat
menggunakan sistem pelarut multi komponen, berupa suatu campuran
sederhana mungkin yang terdiri atas maksimum tiga komponen. Pada
pemisahan senyawa organik selalu menggunakan pelarut campur, tujuannya
untuk memperoleh polaritas yang tepat sehinga diperoleh pemisahan senyawa
yang baik. Kombinasi pelarut berdasarkan atas polaritas masing-masing pelarut
sehingga dengan demikian diperoleh sistem penggabung yang cocok (Stahl,
1985).
Jarak pengembang senyawa pada kromatogram biasanya dinyatakan
dengan harga Rf (Stahl, 1985).

Jarak yang ditempuh oleh tiap bercak dari titik pentotolan diukur dari pusat
bercak dan harga Rf berada antara 0,001,00. Harga Rf sangat beguna untuk
mengidentifikasi suatu senyawa (Eaton, 1989).
Faktor-faktor yang mempengaruhi harga Rf adalah sebagai berikut:
(Sastrohamidjojo,1991).
1. Struktur kimia senyawa yang dipisahkan
2. Sifat penyerap
3. Tebal dan kerataan lapisan penyerap
4. Pelarut dan drajat kemurniannya
5. Drajat kejenuhan uap pengembang dalam bejana
6. Teknik percobaan
7. Jumlah cuplikan yang digunakan
Menurut Sastrohamidjojo (1991), kromatografi kertas dapat dikembangkan
dengan cara :
1. Menurun (desendens)
Dilakukan dengan membiarkan fase gerak merambat turun pada kertas
kromatografi, kertas digantungkan dalam bejana menggunakan batang kaca dan
batang kaca lain menahan ujung atas kertas yang tercelup dalam fase gerak.
Setelah bejana ditutup, fase gerak dibiarkan merambat turun pada kertas
(Depkes, 1979).
2. Menaik (esendens)
Kertas digantung pada penggantung berbentuk kail yang dipasang pada
penutup bejana kromatografi. Pelarut diletakkan pada bagian bawah dari bejana
lalu ujung bawah kertas dicelupkan ke dalam fase gerak sehingga fase gerak
merambat naik pada kertas.
3. Mendatar
Kertas yang digunakan berbentuk bulat dan ditengahnya diberi lubang
tempat untuk meletakkan sumbu yang terbuat dari gulungan kertas atau benang.
Fase gerak akan naik membasahi kertas dan merambat melingkar memisahkan
senyawa yang ditotolkan.

Kromatografi kertas merupakan metode yang paling sering digunakan dalam


hal analisis senyawa polar (flavonoida). Untuk tujuan isolasi, hanya memerlukan
sejumlah bahan yang sedikit. Komponen senyawa flavonoid umumnya mudah
dipelajari dengan metode kromatografi karena sifatnya yang menghasilkan warna
dari hubungan sifat kelarutannya.
Adapun kelebihan kromatografi kertas yaitu senyawa flavonoida dapat
menghasilkan warna alami dari berbagi komponen senyawa bila dilihat dibawah
sinar ultraviolet yang mudah diamati pada kertas. Kedua, tekniknya mudah
dipelajari, memberikan hasil yang cepat dan memerlukan peralatan yang tidak
mahal. Selain itu, metode kromatografi kertas merupakan cara terbaik untuk
mengidentifikasi campuran senyawa flavonoida dengan jumlah yang sedikit
(Gaissman, 1962).
Adapun alat yang digunakan dalam percobaan ini adalah pensil,
mistar, chambers, pipa kapiler, klip kertas dan gunting.
C. Bahan dan Alat
Bahan :
Daun jambu biji
Pelarut n-heksan
Etil asetat
Alat :

Chamber
Pensil
Mistar
Pipa kapiler
Gunting
Kertas saring
Kertas kromatografi

D. Cara Kerja
1. Penyiapan bejana pengembang
Bersihkan chamber dan keringkan
Lapisi chamber dengan kertas saring yang kering

Isi cairan pengelusi ke dalam chamber setinggi 1 cm, tutup


chamber dan biarkan sampai jenuh dengan uap cairan pengelusi

2.

yang cocok
Chamber siap digunakan

Penyiapan kertas kromatografi di oven, lalu digaris dengan pensil 1-2


cm dari tepi atas dan bawah.
Buat cuplikan dengan konsentrasi 1%-5% (dalam cairan pengelusi)
Totolkan cuplikan menggunakan pipet kapiler atau pipet ukur
berskala dengan jarak antar totolan 1-2 cm, usahakan jangan

sampai melebar (diameter 3-5 cm), keringkan


Masukkan ke dalam chamber dan tutup
Biarkan eluen naik sampai garis batas
Keluarkan kertas kromatografi dari chamber dan keringkan
Deteksi dibawah lampu uv atau dengan pereaksi penampak noda
Tentukan nilai Rf dan amati warna bercak dengan pereaksi
penampak noda

BAB II
PEMBAHASAN
A. Hasil Pengamatan

No

Jenis Pelarut
Ekstrak

Jarak pelarut
(cm)

Jarak zat terlarut


(cm)

1.

14
n-heksan

2.

Etil asetat

21,3

11,5
9,5
10

21,3

B. Perhitungan

a) n-heksan

b) etil asetat

Rf = 14/21,3

Rf = 9,5/21,3

= 0,67

= 0,45

Rf = 11,5/21,3

Rf = 9,5/21,3

= 0,54

= 0,47

BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan

B. Saran

DAFTAR PUSTAKA