Anda di halaman 1dari 106

BAB I

LATAR BELAKANG
1.1 Gambaran Umum Desa
1.1.1 Gambaran Umum Desa Secara Geografis
Desa Tanjung Pasir memiliki luas 564,25 Hektar (Ha) dengan luas wilayah desa terdiri
dari sawah seluas 79 Hektar, daratan seluas 108,185 Hektar dan empang seluas 377,065
hektar. Pada daratan terdiri dari 2 Hektar pemakaman umum. (Profil Puskesmas Tegal
Angus, 2012)
Jarak dari Ibukota Kabupaten Tangerang ke Desa Tanjung Pasir 47 Kilometer (km)
atau 25 km dari pintu keluar M-1 (west gate) Bandara Soekarno-Hatta melalui jalan
Marsekal Surya Darma (Jalan Selapanjang). Desa ini terletak di Utara dari Kecamatan
Teluk Naga, Kabupaten Tangerang, Provinsi Banten yang merupakan daerah pesisir
pantai (daerah dataran rendah) dengan ketinggian 1-2 meter di atas permukaan laut
(mdpl) dan suhu udara berkisar antara 30-37C. Topografi Kecamatan Teluk Naga
meliputi daerah sawah, daerah pantai, daratan rendah dengan ketinggian antara 1-2 mdpl,
dan daerah tambak. (Profil Puskesmas Tegal Angus, 2012)
Prasarana perhubungan dan pengairan di Kecamatan Teluk Naga dihubungkan oleh
jalan. Panjang jalan yang ada di wilayah Kecamatan Teluk Naga sepanjang 108 km,
dengan klasifikasi sebagai berikut :
1.

2.

Berdasarkan status
a.Jalan Propinsi

: 9,5 km

b. Jalan Kabupaten

:5

c.Jalan Desa

: 93,5 km

km

Berdasarkan kondisi fisik


a.Jalan Hotmik

: 17,5 km

b. Jalan Aspal

: 67

km

c.Jalan Tanah

: 14,5 km

d. Jembatan

Jembatan Besi

:1

km

Jembatan Beton

:7

km

e. Sungai/Kali
Sungai/Kali yang mengalir di wilayah Kecamatan Teluk Naga adalah Sungai

Cisadane dengan panjang saluran sejauh 12 km.


f. Irigasi/Pengairan
Irigasi/Pengairan dapat mengairi sawah seluas 20.593.649 Ha.
g. Bendungan air/Dam
Bendungan/Dam dapat digunakan Perusahaan Daerah Air Minum(PDAM) yang
menjadi salah satu sumber air bersih yangdimanfaatkan masyarakat.
Batas-batas wilayah Desa Tanjung Pasir seperti yang terlihat pada gambar adalah
sebagai berikut (Profil Puskesmas Tegal Angus, 2012) :
1. Utara

: Laut Jawa

2. Barat

: Desa Tanjung Burung

3. Timur

: Desa Muara

4. Selatan

: Desa Tegal Angus, Lemo dan Pangkalan


Gambar 1.1 Peta Batas Wilayah Desa Tanjung Pasir

Sumber : Profil Puskesmas Tegal Angus, 2012


Transportasi untuk mencapai wilayah Desa Tanjung Pasir sebagian besar dapat
ditempuh dengan angkutan umum, baik sepeda motor maupun mobil. Namun demikian,
sebagian kecil wilayah hanya dapat ditempuh dengan berjalan kaki. Jarak tempuh dari
pusat pemerintahan Desa Tanjung Pasir dalam melaksanakan hubungan dan komunikasi
kerja dengan pemerintah diatasnya secara berjenjang sebagai berikut (Profil Puskesmas
Tegal Angus, 2012):
a. Dengan Kantor Kecamatan berjarak : 12 km

b. Dengan Ibukota Kabupaten berjarak : 54 km


c. Dengan Ibukota Provinsi berjarak

: 72 km

Sebelum memasuki Desa Tanjung Pasir akan melewati daerah Kampung


Melayu Teluk Naga, setelah pasar maju sekitar 200 meter mengambil arah kanan. Setelah
itu akan melewati Desa Tegal Angus sebelum sampai ke Desa Tanjung Pasir. Kondisi
fisik jalan menuju Desa Tanjung pasir dari arah Bandara Soekarno-Hatta maupun ke arah
Tanjung Burung sudah menggunakan aspal. (Profil Puskesmas Tegal Angus, 2012)
Pada tahun 2010 Desa Tanjung Pasir terdiri dari 6 Kepala Dusun, 18 Rukun
Warga (RW) dan 31 Rukun Tetangga (RT). Jumlah penduduk Desa Tanjung sekitar
9100 penduduk dengan jumlah rumah tangga 2473 dan yang memenuhi syarat rumah
sehat sebanyak 218. Mayoritas masyarakat Tanjung Pasir bersuku bangsa Betawi dan
beragama Islam. Mata pencaharian utama penduduk Desa Tanjung Pasir adalah Nelayan,
Kuli Bangunan, danWiraswasta. Kepadatan jumlah penduduk desa Tanjung Pasir 1,625
penduduk/km2, yang rata-rata penduduk tinggal didaerah pesisir pantai. Jumlah
penduduk miskin masih cukup besar menunjukan kondisi ekonomi di wilayah Desa
Tanjung Pasir masih rendah. Tingkat pendidikan masyarakat desa Tanjung Pasir juga
masih sangat rendah sehingga kesadaran perilaku hidup bersih dan sehat pada
masyarakat masih kurang. (Profil Puskesmas Tegal Angus, 2012)
Di Desa Tanjung Pasir terdapat beberapaPelayanan Kesehatan seperti
Posyandu, Poskesdes, beberapa Bidan dan Puskesmas yang terletak di desa Tegal Angus.
Posyandu di Tanjung Pasir berjumlah 9 dengan jadwal kegiatan sebulan sekali, 1
Poskesdes terletak di dalam area TNI Angkatan Laut dengan jadwal kegiatan 2 kali
dalam seminggu. Masyarakat Tanjung Pasir juga memiliki Pelayanan Kesehatan berupa
Puskesmas di wilayah Tegal Angus yang berjarak sekitar 7 km yang dapat ditempuh
dengan kendaraan motor maupun mobil. Di Puskesmas terdapat 2 dokter umum, 1 dokter
gigi dan 17 bidan desa.Desa Tanjung Pasir memiliki tiga musim yaitu musim penghujan,
kemarau dan angin. Musim yang mempengaruhi Desa Tanjung Pasir pada kurun waktu
satu tahun ini adalah musim angin. Angin bertiup dari arah barat atau barat daya dengan
kecepatan 15 km/jam dengan curah hujan rata-rata 26,4 mm/tahun. (Profil Puskesmas
Tegal Angus, 2012)
Puskesmas Tegal Angus terdapat di:
a) Desa Tegal Angus
b) Jalan Raya Tanjung Pasir

c) Kode Pos 15510


d) Status Kepemilikan Tanah : Tanah Pemerintah Kabupaten (Pemkab)
Terdapat 6 Desa Binaan Puskesmas :
1) Desa Lemo,
2) Desa Tanjung Pasir,
3) Desa Tanjung Burung,
4) Desa Pangkalan,
5) Desa Tegal Angus,
5) Desa Muara.
1.1.2 Gambaran Umum Secara Demografi
1.1.2.1 Jumlah Penduduk
Kepadatan penduduk rata-rata 1,625 jiwa/km2. Dengan jumlah rumah tangga 1.485
dan rata-rata jumlah jiwa per rumah tangga adalah 3,7 jiwa.
Berdasarkan data dari BPS Kabupaten Tangerang pada tahun 2012 jumlah penduduk
di wilayah kerja Puskesmas Tegal Angus adalah 53.831 jiwa yang tersebar di 6 desa seperti
yang tercantum di tabel 1.1 dibawah ini :
Tabel 1.1 Luas Wilayah, Jumlah Desa, Jumlah Penduduk, Jumlah Rumah Tangga Dan
Kepadatan Penduduk Menurut Desa/Kelurahan Tanjung Pasir Tahun 2012

RumahRata-Rata Jiwa/

KepadatanPenduduk
(km2)

793
3229

10.3
1
7.19
4.08

1850.9
7
693.77
2239.7
9

1,484

1572

3.10

18

1,936

2319

5.32

23

1,895

1895

3.30

13
9

45

10,74
5

10,74
5

4.33

1463.5
5
1686.7
0
3361.4
8
1794

N
o

Desa/Kel

Luas
(km2)

(Jiwa)Penduduk

Penduduk Miskin (Jiwa)

RT

RW

KK

Rumah

Jumlah

Lemo

3,61

6,682

734

32

15

1,408

1408

2
3

Muara
Pangkalan

5,14
7,54

3,566
16,88
8

490
1,49
5

22
35

6
11

793
3,229

5,24

7,699

740

16

Tanjung
Burung
Tanjung Pasir

5,64

9,513

31

Tegal Angus

2,83

9,513

30,02

53,83
1

1,34
8
1,08
1
5,88
9

Jumlah

Wilayah

Sumber : Data BPS Kecamatan Teluk Naga Tahun 2012


Klasifikasi jumlah penduduk berdasarkan jenis kelamin di wilayah kerja Puskemas
Tegal Angus dilihat pada tabel 1.2 dibawah ini :
Tabel 1.2 Jumlah Penduduk Menurut Jenis Kelamin dan Kelompok Umur Puskesmas
Tegal Angus Tahun 2012
NO

KELOMPOK

UMUR
(TAHUN)
2

LAKI-LAKI
3

JUMLAH PENDUDUK
PEREMPUAN LAKI-LAKI +
4

PEREMPUAN
5

1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16

0-4
5-9
10-14
15-19
20-24
25-29
30-34
35-39
40-44
45-49
50-54
55-59
60-64
65-69
70-74
75+

JUMLAH

2,702
2,657
2,896
2,980
2,910
2,877
2,336
1,994
1,704
1,401
1,135
741
546
337
252
203

2,505
2,511
2,563
2,895
2,960
2,790
2,153
1,888
1,613
1,262
925
656
533
318
281
307

5,207
5,168
5,459
5,875
5,870
5,667
4,489
3,882
3,317
2,663
2,060
1,397
1,079
655
533
510

27,671

26,160

53,831

Sumber : Kantor Statistik Kabupaten Tangerang Tahun 2012


1.1.2.2 Lapangan Pekerjaan Penduduk
Lapangan pekerjaan penduduk di wilayah kerja Puskesmas Tegal Angus cukup
beragam, hal ini berhubungan dengan letak geografis kecamatan Teluk Naga dimana
terdapat persawahan dan berbatasan dengan laut serta daerah kota Tangerang dan
akses ke daerah Jakarta.
1.1.2.3 Tingkat Pendidikan
Aspek pendidikan merupakan salah satu indikator yang dapat mempengaruhi
kualitas kehidupan penduduk di wilayah Kecamatan Teluk Naga, khususnya daerah
wilayah kerja Puskesmas Tegal Angus seperti yang dapat dilihat pada grafik berikut :
Diagram 1.1 Penduduk 10 Tahun ke Atas Menurut Jenjang Pendidikan di Wilayah
Kerja Puskesmas Tegal Angus Tahun 2012

Sumber : Profil Puskesmas Tegal Angus Tahun 2012


1.1.2.4 Sarana dan Prasarana
1. Gedung Puskesmas yang terdiri dari :
a. Ruang Kepala Puskesmasn : 1 Ruang
b. Ruang TU

: 1 Ruang

c. Ruang Dokter

: 1 Ruang

d. Ruang Aula

: 1 Ruang

e. Ruang Imunisasi

: 1 Ruang

f. Ruang Loket

: 1 Ruang

g. Ruang Apotik

: 1 Ruang

h. Ruang BP umum

: 1 Ruang

i. Ruang BP Anak

: 1 Ruang

j. Ruang BP Gigi

: 1 Ruang

k. Ruang KIA dan KB

: 1 Ruang

l. Ruang Gizi

: 1 Ruang

m. Ruang Gudang Obat

: 1 Ruang

n. Ruang TB

: 1 Ruang

o. Ruang Lansia

: 1 Ruang

p. Ruang Kesling

: 1 Ruang

q. Ruang Perpustakaan

: 1 Ruang

r. Ruang Mushola

: 1 Ruang

s. Ruang Bidan

: 1 Ruang

t. Dapur

: 1 Ruang

u. Ruang Gudang Perkakas

: 1 Ruang

v. WC

: 9 Ruang

2. Bidan di Desa

: 6 orang

3. Posyandu 45 buah, terdiri dari :


a. Tegal Angus

: 7 Posyandu

b. Pangkalan

: 10 Posyandu

c. Tanjung Burung

: 7 Posyandu

d. Tanjung Pasir

: 9 Posyandu

e. Lemo

: 6 Posyandu

f. Muara

: 6 Posyandu

4. Pembinaan UKBM ( Usaha Kesehatan Bersumber Daya Masyarakat ) :


a. Jumlah Posyandu

: 45 buah

b. Jumlah Kader Posyandu dibina

: 225 orang

c. Jumlah kader dasa wisma dibina

: 34 orang

d. Jumlah TOMA (Tokoh Masyarakat) dibina : 60 orang


5. Sarana Sekolah yang ada di wilayah kerja Puskesmas Tegal Angus.
Tabel 1.3 Sarana Sekolah di Wilayah Kerja Puskesmas Tegal Angus
JUMLAH SEKOLAH
No
1
2
3

NAMA DESA
Pangkalan
Tanjung Burung
Tegal Angus

PAUD
1
1
0

TK
2
0
1

RA
0
0
0

S
D
5
2
2

MI
1
1
2

SMP
2
0
2

MTS
1
0
1

SMA
0
0
1

SMK
1
0
0

MA
0
0
0

JUMLAH SEKOLAH
No
4
5
6

NAMA DESA

PAUD

Tanjung Pasir
Muara
Lemo
PUSKESMAS

0
0
0
1

TK
2
0
0
3

RA
0
0
0
0

S
D
2
3
3
12

MI
1
0
0
4

SMP
0
0
0
2

MTS

SMA

1
0
0
2

0
0
0
1

SMK
0
0
0
0

MA
0
0
0
0

Sumber : Program UKS, Puskesmas Tegal Angus, 2012


Sarana pelayanan kesehatan wilayah kerja Puskesmas Tegal Angus dapat dilihat
pada tabel dibawah ini:
Tabel 1.4 Sarana Pelayanan Kesehatan Kecamatan Teluk Naga Tahun 2012
No
1
2

3
4
5
6
7

8
10
11
13
14
15

Sarana Pelayanan Kesehatan


Apotik
Balai Pengobatan Swasta
Gudang Farmasi
Laboratorium Klinik Swasta
Optikal
Pos UKK
Polindes
Posbindu
Poskesdes
Posyandu
Praktek Bidan Swasta
Praktek dokter (perorangan)
Dokter umum
Dokter gigi
Dokter spesialis
Puskesmas
Puskesmas pembantu (pustu)
Rumah Sakit Bersalin
Rumah Sakit Pemerintah
Rumah Sakit Swasta
Toko obat
Sumber : Puskesmas Tegal Angus

Jumlah
0
2
0
0
0
0
0
1
1
45
8
5
0
0
1
1
0
0
0
2

1.1.2.5 Kesehatan Dasar


A. Pelayanan Kesehatan Dasar
1. Pelayanan Kesehatan Ibu dan Anak
Upaya Pemerintah Desa Tanjung Pasir untuk menurunkan angka kematian ibu
dengan instansi terkait, dalam hal ini puskesmas untuk pelayanan kesehatan
masyarakat, antara lain :
a. Kunjungan Ibu Hamil K1.
Kunjungan ibu hamil yang mendapat pelayanan antenatal sesuai standar yang
pertama kali pada masa kehamilan. Cakupan K1 di puskesmas Tegal Angus

tahun 2012 adalah 96,4% dengan cakupan pemberian Fe1 sebesar 96,4%.
b. Kunjungan Ibu Hamil K4.
Kunjungan ibu hamil yang mendapat pelayanan antenatal sesuai standar
paling sedikit empat kali selama masa kehamilan, minimal satu kali pada
triwulan pertama, satu kali pada trimester kedua dan dua kali pada triwulan
ketiga kehamilan dan mendapat 90 tablet Fe. Cakupan kunjungan K4 di
puskesmas Tegal Angus tahun 2012 adalah 90% dengan cakupan pemberian
Fe3 90%.
c. Persalinan Ditolong Tenaga Kesehatan.
Ibu bersalin yang mendapat pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan
yang memiliki kompetensi kebidanan. Persalinan oleh tenaga kesehatan di
puskesmas Tegal Angus tahun 2012 adalah 90,5%.
d. Penanganan Bumil dan Neonatal Risiko Tinggi.
Deteksi dini kelompok bumil dan neonatal risti. Jika ditemukan lebih awal
dapat dilakukan intervensi untuk menangani risiko tersebut. Penemuan bumil
risti dan neonatal risti di puskesmas Tegal Angus pada tahun 2012 yaitu 173
bumil risti dari 215 sasaran bumil resti (80,5%) dan 113 neonatal risti dari
165 sasaran neonatal risti (68,4%).
e. Pelayanan Neonatal.
Pelayanan kesehatan neonatus (0-28 hari) minimal dua kali, satu kali umur 07 hari dan satu kali pada umur 8-28 hari.dalam melaksanakan pelayanan
neonatus, petugas kesehatan selain melakukan pemeriksaan kesehatan bayi
juga melakukan konseling perawatan bayi kepada ibu.
2. Deteksi dini tumbuh kembang anak balita dan pemeriksaan kesehatan anak sekolah.
Puskesmas Tegal Angus melakukan deteksi tumbuh kembang balita dan
pemeriksaan kesehatan siswa SD/MI. Upaya yang dilakukan antara lain penyuluhan
di posyandu dan pembentukan kelas ibu balita.
3. Keluarga berencana.
a. Peserta KB Baru.
Puskesmas Tegal Angus melakukan edukasi melalui penyuluhan terus
menerus.

10

b. Peserta KB Aktif.
4. Imunisasi
a. Desa UCI
Desa binaan di wilayah Puskesmas Tegal Angus ada 6 desa. Upaya yang
dilakukan sweeping imunisasi.
b. Drop Out imunisasi Campak-Polio.
Penyuluhan tentang pentingnya imunisasi lengkap pada balita, sweeping
imunisasi campak dan meningkatkan cakupan imunisasi di posyandu.
5. Gizi
a. Penanganan balita BGM dan gizi buruk
Penanganan balita gizi buruk dengan diberikan PMT pemulihan di klinik gizi
dan MP-ASI untuk perawatan dirumah dan kegiatan kunjungan rumah untuk
pemantauan pemberian PMT serta rujukan untuk balita gizi buruk.
b. ASI Eksklusif
ASI merupakan makanan penting untuk bayi. Pemberian ASI eksklusif
adalah pemberian makanan hanya ASI sampai bayi berumur 6 bulan. Zat gizi
yang terkandung dalam ASI cukup memenuhi kebutuhan nutrisi untuk bayi
sampai berumur 6 bulan. Keuntungan dari ASI adalah ASI mengandung zat
kekebalan tubuh, mengandung protein yang mudah diserap oleh tubuh bayi,
mudah dan murah diberikan untuk bayi serta membangun ikatan kasih
sayang antara ibu dan anak. Jumlah bayi yang diberikan ASI eksklusif di
puskesmas tegal angus pada tahun 2012 ini adalah 719 bayi dari 976 bayi
(73,7%), meningkat dari tahun lalu yang hanya sebesar 44, 53%.
c. Penanggulangan Kekurangan Vitamin A (KVA)
Program penanggulangan kekurangan vitamin telah dimulai sejak tahun
1970an namun sampai saat ini masalah KV masih menjadi salah satu
masalah gizi utama di Indonesia. KVA tingkat berat (Xeroptalmia) yang
dapat menyebabkan kebutaan sudah jarang ditemui, tetapi KVA tingkat sub klinis yaitu KVA yang belum menampakkan gejala nyata masih diderita oleh
sekitar 50% di Indonesia.
B. Pelayanan Kesehatan Pengembangan

11

Pelayanan Kesehatan Usia Lanjut


Pelayanan kesehatan salah satunya ditujukan terhadap kelompok usia lanjut,
dimana pada kelompok ini biasanya banyak mengalami gangguan kesehatan
degeneratif dan fungsi tubuh lainnya. Dalam upaya meningkatkan status kesehatan
usia lanjut telah dilaksanakan program pelayanan kesehatan usia lanjut.
1.1.2.6 Perilaku Masyarakat
Pembinaan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat di Puskesmas dilakukan melalui
program promosi kesehatan yaitu penyebarluasan informasi kesehatan untuk
meningkatkan derajat kesehatan. Perilaku Hidup Bersih dan Sehat di masyarakat
dapat menggambarkan derajat kesehatan wilayah tersebut, hal ini dapat disajikan
dengan indikator PHBS, adapun dari hasil kajian PHBS di wilayah Puskesmas Tegal
Angus pada Tahun 2012 dapat digambarkan sebagai berikut :
1. Persalinan ditolong oleh Tenaga Kesehatan

( 90,5% )

2. Rumah yang bebas jentik

( 72,83% )

3. Penimbangan bayi dan balita

( 100% )

4. Memberikan ASI ekslusif

( 73,67% )

5. Menggunakan air bersih

( 99,39% )

6. Menggunakan jamban sehat

( 15,74% )

7. Olahraga atau melakukan aktifitas fisik setiap hari

( 10,09% )

8. Mengkonsumsi makanan seimbang

( 23,5% )

9. Tidak merokok dalam rumah

( 23,5%)

10. Penduduk miskin yang dicakup JPKM

( 96,85% )

1.1.2.7 Kesehatan Lingkungan


Kesehatan Lingkungan merupakan aspek yang penting dibidang kesehatan,
upaya peningkatan kualitas lingkungan merupakan langkah yang tepat dalam
meningkatkan derajat kesehatan masyarakat dan keluarga yang lebih baik. Berikut ini
upaya-upaya peningkatan kualitas lingkungan bagi kesehatan yang dilakukan di
puskesmas Tegal Angus :
a) Penyehatan Perumahan
Rumah merupakan tempat berkumpul/ beristirahat bagi semua anggota

12

keluarga dan untuk menghabiskan sebagian besar waktunya, sehingga kondisi


kesehatan perumahan dapat berperan sebagai media penularan penyakit diantara
anggota keluarga atau tetangga sekitarnya. Rumah sehat adalah rumah tinggal
yang memenuhi syarat kesehatan, hasil pemantauan selama tahun 2012
menunjukkan dari 12.421 rumah yang diperiksa sebanyak 11,2 % yang memenuhi
syarat kesehatan.
b) Pemenuhan Kebutuhan Sarana Sanitasi Dasar
Pemenuhan kebutuhan sarana sanitasi dasar di wilayah Puskesmas Tegal
Angus sangat kurang sekali seperti yang terlihat pada tabel dibawah ini :
Tabel 1.5 Kepemilikan Sarana Sanitasi Dasar di Wilayah Puskesmas Tegal Angus
Tahun

TEMPAH

SPAL

SAB

SAMPAH
2010
532
188
2245
2011
3579
578
3877
2012
608
608
650
Sumber : Data Program Kesling PKM Tegal Angus tahun 2012
Seperti yang terlihat pada tabel di atas bahwa dari jumlah rumah yang
diperiksa mengalami penurunan, hal ini dikarenakan tidak adanya sanitarian di
Puskesmas Tegal Angus sehingga kurang tenaga untuk memeriksa sanitasi dasar.
Berdasarkan jumlah rumah yang diperiksa, rumah yang memiliki tempat sampah
sehat hanya 15,7 % dan jamban sehat hanya 5,3 %. Berbagai faktor seperti tingkat
pengetahuan, pendidikan, ekonomi, sosial dan kesadaran penduduk yang lebih
rendah menyebabkan sulitnya meningkatkan kesehatan sanitasi masyarakat.
c) Penyehatan Tempat Tempat Umum (TTU)
Pengawasan terhadap TTU dilakukan untuk meminimalkan faktor risiko
sumber penularan bagi masyarakat yang memanfaatkan TTU, Bentuk kegiatan
yang dilakukan antara lain meliputi pengawasan lingkungan TTU secara berkala,
bimbingan, penyuluhan dan sarana perbaikan. Tidak adanya tenaga sanitarian dan
kurangnya tenaga di Puskesmas Tegal Angus menyebabkan pembinaan di TTU
tidak dapat dilakukan.

13

d) Penyehatan Makanan dan Minuman


Makanan dan minuman adalah kebutuhan pokok manusia dan sumber utama
kehidupan bagi umat manusia, maka dengan itu makanan yang tidak dikelola
dengan baik justru akan menjadi sumber media yang sangat efektif di dalam
penularan penyakit saluran pencernaan.
Upaya Puskesmas Tegal Angus adalah pemeriksaan tempat pengelolaan air
bersih, pengawasan terhadap kualitas penyehatan tempattempat umum
pengelolaan makanan. Tidak hanya tenaga sanitarian melainkan kurangnya tenaga
di Puskesmas Tegal Angus menyebabkan pembinaan penyehatan makanan dan
minuman tidak dapat dilakukan.
e) Ketersediaan Pekarangan
Pada saat ini, desa Tanjung Pasir dijadikan sebagai percontohan dan
pembelajaran agar budi daya sayuran dapat dilakukan juga di tingkat rumah
tangga

untuk

mengurangi

pengeluaran

akan

kebutuhan

pangan

serta

meningkatkan pendapatan keluarga.

Tabel 1.6 Laporan Cakupan Rumah Sehat Triwulan IV Puskesmas Tegal Angus Tahun
2012
RUMAH

PUSKESMAS
TEGAL
ANGUS

DESA
TANJUNG
BURUNG
PANGKALAN
TEGAL
ANGUS
TANJUNG
PASIR
MUARA
LEMO
JUMLAH

JUMLAH
DIPERIKS
A

%
DIPERIKSA

JUMLAH
DIPERIKSA

%
SEHAT

2473
4132

22
28

0,89
0,68

19
22

86,36
78,57

2879

21

0,73

17

80,95

1787
496
648
12415

15
10
13
13

0,84
2,02
2,01
2,01

15
10
12
12

100,00
100,00
92,31
92,31

JUMLAH
SELURUHNYA

14

Sumber : Data puskesmas Tegal Angus 2012


1.1.2.8 Situasi Derajat Kesehatan
Presentase tentang angka yang menderita ISPA, dan diare sesuai dari data
Tegal Angus tahun 2012 dan data 10 angka penyakit tersering pada tahun 2012 dapat
di lihat pada tabel berikut :
Tabel 1.7 Angka Kejadian 10 Besar Penyakit tahun 2012
No.

Penyakit

Jumlah Kejadian

Presentase

ISPA

3113

33,1 %

Lain-lain

1391

14,8 %

Dermatitis

1016

10,8 %

Batuk

657

6,9 %

Obs febris

648

6,8 %

Hipertensi Esensial

594

6,3 %

Gastritis

585

6,2 %

Sakit kepala

556

5,9 %

Diare

427

4,5 %

10

TBC

411

4,3 %

Grafik 1.1 Sepuluh Besar Penyakit Puskesmas Tegal Angus Tahun 2012

15

JUMLAH 10 PENYAKIT TERBAYAK PUSKESMAS TEGAL ANGUS BULAN JANUARI 2014


TUBERKULOSIS PARU KLINIS ( SIMPLEK)
MYALGIA
GASTRITIS
SAKIT KEPALA
BATUK
HIPERTENSI ESSENSIAL
DIABETES MELITUS YTT
DEMAM YANG TIDAK DIKETAHUI PENYEBABNYA
DERMATITIS DAN LAIN-LAIN
ISPA
0

8 10 12 14 16 18 20

Sumber : Data Gambaran 10 penyakit terbanyak rawat jalan dan rawat inap Peserta
Jamkesmas di Puskesmas Tegal Angus tahun 2012
1.1.2.9 Situasi Sumber Daya Kesehatan
Upaya pembangunan kesehatan membutuhkan sumber daya kesehatan yang
memadai untuk mencapai target yang ingin dicapai. Bab ini akan menguraikan situasi
sumber daya kesehatan yang ada di Puskesmas Tegal Angus pada tahun 2012.
1.1.2.10 Tenaga Kesehatan
Tenaga kesehatan merupakan salah satu unsur penting dalam pelaksanaan
pembangunan kesehatan karena merupakan penggerak dari program-program
kesehatan. Jumlah tenaga kesehatan di puskesmas tegal angus berjumlah 27 orang
yang terdiri dari dokter umum, dokter gigi, perawat, bidan, dan tenaga gizi seperti
yang tergambar dalam tabel dibawah ini.
Tabel 1.8 Kategori Tenaga di Puskesmas Tegal Angus Tahun 2012
No
1

Kategori Tenaga
AKBID

PNS
1

Status
PTT/TKK
6

Lain-Lain
0

Jumlah
7

16

2
3
4

AKPER
Bidan
D3 Gizi

5
6
7
8
9 No
10

D3 Kesling
Dokter Gigi
Dokter Umum
Honor
Kategori
Pekarya
Tenaga
Perawat
JUMLAH

1
9
1
1
1
2
0
Status 1
2
PNS
21

0
0
0

0
0
0

1
9
1

0
0
0
0
0
1
PTT/TKK
3

0
0
0
4
0
Jumlah
0
Lain-Lain
4

1
1
2
4
1
2
29

Sumber : Ketatausahaan Puskesmas Tegal Angus Tahun 2012

1.1.2.11 Pembiayaan Kesehatan


Salah satu faktor utama di dalam peningkatan pelayanan kesehatan adalah
adanya faktor pembiayaan yang mana dapat digunakan untuk transportasi, jasa
kegiatan program maupun belanja barang. Pembiayaan kesehatan dapat bersumber
dari pemerintah pusat dari APBN seperti dana jamkesmas (jaminan kesehatan
masyarakat miskin) dan jampersal (jaminan persalinan) serta BOK (Bantuan
Operasional Kesehatan), sementara dana dari pemerintah daerah dari APBD berupa
dana operasional puskesmas dan jamkesda (jaminan kesehatan daerah).
Jaminan Kesehatan Prabayar
Sebagai bagian dari amanat UUD 1945, negara harus mengurus masyarakat
miskin. Oleh karena itu pemerintah meluncurkan program jaminan kesehatan
masyarakat miskin (jamkesmas/askeskin).
Hampir 50% penduduk di wilayah tegal angus merupakan masyarakat miskin
dan tidak semua tercakup dalam program jamkesmas. Hal ini disebabkan pendataan
yang kurang akurat, kendala di lapangan adalah data kependudukan yang tidak
lengkap, kriteria miskin yang berbeda dan pemberian kartu jamkesmas yang tidak
tepat.
Masyarakat miskin yang tidak mendapat jaminan melalui program jamkesmas,
akan dipenuhi biaya kesehatannya oleh pemerintah daerah melalui jaminan
kesehatan daerah (Jamkesda). Pemerintah daerah juga membiayai operasional
puskesmas melalui dana operasional puskesmas.
Tabel 1.9 Pembiayaan Puskesmas Tegal Angus Tahun 2012

17

No

1
2
3

Sumber Biaya

BOK
Jamkesmas dan Jampersal
Operasional Puskesmas
TOTAL ANGGARAN

Alokasi Anggaran Kesehatan


(Rp)

70.347.000,90.001.835,69.891.259,230.240.094,-

Sumber : Data TU Puskesmas Tegal Angus Tahun 2012


Gambar 1.2 Demah Keluarga Binaan Kampung Gaga RT 08/RW 03, Desa Tanjung
Pasir, Kecamatan Teluk Naga, Kabupaten Tangerang

18

19

Denah di atas adalah denah lingkungan keluarga binaan kelompok 7 dan Puskesmas
Tegal Angus. Keluarga binaan kelompok 7 terletak di kampung Gaga Rt 08 Rw 03 di Desa
Tanjung Pasir Kabupaten Tanggerang Provinsi Banten. Kampung Gaga terletak sekitar 5 km
dari Puskesmas Tegal Angus. Sebelum menuju lingkungan keluarga binaan harus melewati
gang kecil sebelah kiri sebelum lewat masjid dengan jarak kira kira 1 km setelah itu letak
kampung Gaga berada. Jalan gang hanya cukup untuk satu mobil. Wilayah sekitar kampung
Gaga merupakan daerah pemancingan ikan dan tambak ikan.
Rumah binaan kelompok 7 berada di ujung kampung Gaga. Saling berhimpitan
kecuali rumah 5 dan 6 yang tidak berhimpitan dengan rumah 1,2,3 dan 4. Jamban umum
teletak di belakang rumah keluarga binaan dengan hanya satu jamban umum. Jamban terletak
di atas sebuah empang yang berisikan ikan dan banyak sampah keluarga. Dari rumah 1,2,3,
dan 4 ke jamban kira-kira berjarak 5 meter, dari rumah 5 kira-kira jarak dari rumah ke jamban
sekitar 3 meter dan dari rumah 6 jarak dari rumah ke jamban cukup jauh yaitu sekitar 7 meter.

20

1.2 Gambaran Keluarga Binaan


1.2.1 Keluarga Tn. Karning
Tabel. 1.10 Profil Keluarga Tn.Karning,Kampung Gaga RT 08/RW 03, Desa Tanjung
Pasir, Kecamatan Teluk Naga, Kabupaten Tangerang Bulan Juni Tahun 2014
No

Nama

Status

Jenis

Usia

Pendidikan

Pekerjaan

Keluarga
Suami

Kelamin
Laki laki

40 thn

SD

Tambak Ikan

Tn.

Karning
Ny. Asni

Istri

Perempuan 33 thn

Tn.

Anak

Laki-laki

Hasan
Ny. Een

By.

Penghasilan
Rp 1,8 juta /
bulan

SD

Ibu Rumah

24 thn

SMK

Tangga
Penjahit

Rp 1 juta / bulan

Menantu

Perempuan 19 thn

SMP

Ibu Rumah

Cucu

Perempuan 5 bln

Tangga
-

Nayla
Keluarga Tn. Karning tinggal di Kampung Gaga RT 08/RW 03, Kelurahan Tanjung
Pasir, Kecamata Teluk Naga, Kabupaten Tangerang Propinsi Banten. Keluarga ini terdiri dari
sepasang suami istri, dan dua orang anak, salah satu orang anak tinggal serumah dengan
membawa istri dan anaknya yang masih bayi, dan satu orang anak lagi tinggal disebelah
rumah Tn. Karning. Tn. Karning sebagai kepala keluarga berusia 40 tahun dengan latar
belakang pendidikan terakhir sekolah dasar. Ny. Asni sebagai istri berusia 33 tahun dengan
latar pendidikan sekolah dasar. Tn. Karning dan Ny. Asni memiliki dua orang anak, satu lakilaki dan satu perempuan. Anak pertama laki-laki bernama Hasan berusia 24 tahun dan sudah
menikah dengan pekerjaan sebagai penjahit, memiliki istri bernama Ny. Een berusia 19 tahun
sebagai ibu rumah tangga, mereka memiliki anak bernama Nayla yang berusia 5 bulan.
Tn. Karning berprofesi sebagai penjaga tambak ikan dengan pendapatan Rp
1.800.000,- tiap bulan. Ny. Asni hanya bekerja sebagai ibu rumah tangga.
Keluarga Tn. Karning tinggal disebuah rumah bangunan semi permanen diatas tanah
seluas 10 x 13 m2. Dinding rumah terbuat dari semen dan batu bata, lantai menggunakan
keramik. Atap rumah menggunakan genteng dan terdapat plafon. Rumah Tn. Karning terdiri
dari dua kamar tidur, satu ruang keluarga, satu dapur, dan satu kamar mandi. Ruang keluarga,
dimana terdapat TV dan merupakan tempat biasanya keluarga berkumpul, diruangan tersebut
terdapat jendela yang dapat dilewati cahaya matahari pada sisi rumah Tn. Karning terdapat

21

adanya ventilasi udara.


Di rumah Tn. Karning tidak terdapat WC (jamban) dan hanya terdapar dapur dan
kamar mandi. Untuk buang air besar (BAB) mereka melakukannya di empang yang berjarak
100 meter dari belakang rumahnya. Dengan kondisi dimana jamban tersebut disekitarnya
dikelilingi oleh sampah-sampah plastik maupun botol yang dibuang oleh keluarga Tn.
Karning dan keluarga sekitarnya. Jamban yang digunakan oleh keluarga Tn. Karning
digunakan juga oleh beberapa keluarga disekitar rumahnya. Air yang mereka pakai untuk
membersihkan bokong setelah BAB diambil dari air empang yang berada dibawah dari
jamban tersebut. Tn. Karning dan keluarga merasa kebiasaan dari membuang air besar di
jamban tersebut mengganggu, tetapi karena terbatasnya penghasilan yang didapatkan oleh
Tn. Karning tidak cukup untuk membuat jamban yang lebih layak. Dapur Tn. Karning
menggunakan kompor gas. Sumber air bersih didapatkan dari pompa air yang menyedot air
dari PAM yang dibeli dengan harga Rp. 100.000/ bulan. Air bersih tersebut di gunakan untuk
mandi, masak, dan minum.
Keluarga Tn. Karning biasa melakukan cuci tangan sebelum makan, tetapi hanya
sesekali saja menggunakan sabun, kemudian apabila selesai makan, keluarga Tn. Karning
terbiasa mencuci tangan menggunakan air cuci tangan yang di taruh didalam mangkuk
setelah selesai makan.
Rumah keluarga Tn. Karning terletak di daerah yang padat penduduk dengan jarak
antar rumah 0,5 meter disebelah kanan dan kiri dan di depan terdapat empang yang berjarak
100 meter dari rumahnya. Keluarga Tn. Karning memiliki kebiasaan membuang sampah di
tempat sampah, lalu dibakar di belakang rumah.
Keluarga Tn. Karning memiliki pola makan sebanyak 3 kali dalam sehari. Biasanya
menu yang biasa dimakan adalah sayur bayam, tahu, tempe, telur dan ikan asin. Tn. Karning
memiliki kebiasaan merokok namun tidak didalam rumah, biasanya merokok diluar rumah.
Keluarga Tn. Karning mengaku mencuci tangan sebelum dan sesudah makan tetapi tidak
mengggunakan sabun. Tn. Karning dan Ny. Asni mengaku jarang melakukan olahraga. Tn.
Karning dan Ny. Asni tidak memiliki masalah kesehatan dalam sebulan terakhir ini, penyakit
yang sering dialami oleh Tn. Karning, Ny. Asni adalah mual dan sakit perut. Biasanya apabila
sakit mereka berobat dengan obat dari warung dan apabila sakit tambah parah mereka berobat
ke dokter puskesmas.
Gambar 1.2 Denah Rumah Keluarga Tn. Karning, Kampung Gaga RT 08/RW 03, Desa
Tanjung Pasir, Kecamatan Teluk Naga, Kabupaten Tangerang Bulan Juni 2014

22

Tabel 1.11 Faktor Internal Keluarga Tn. Karning


No
1

Faktor Internal
Kebiasaan Merokok

Permasalahan
Tn. Karning merokok sekitar setengah bungkus
dalam satu hari, biasanya kebiasaan merokok ini
dilakukan diluar rumah jauh dari anak dan

Olah raga

cucunya.
Tn. Karning

Pola Makan

berolahraga.
Tn. Karning makan 3x/hari. Ny. Asni makan

tidak

memiliki

kebiasaan

2x/hari, selalu memasak sendiri setiap jam 7


pagi dan 2 sore dengan komposisi makanan nasi,
sayur, tahu/tempe, telor/ikan. Mengkonsumsi
daging ayam jarang, 3x/bulan. Makan buahbuahan 3x/minggu, paling sering jeruk dan
pepaya. Ibu mengaku tidak pernah jajan
4
5

Pola Pencarian Pengobatan


Menabung

makanan.
Apabila sakit, mereka selalu pergi ke puskesmas.
Tn. Karning mengaku selalu menabung

Mencuci tangan

100.000/bulan.
Tn. Karning, Ny. Asni selalu mencuci tangan

23

sebelum dan sesudah makan menggunakan air


7 NoAktivitas sehari-hari

bersih yang tidak mengalir dan memakai sabun


1. Bapak bekerja sebagai penjaga tambak
ikan
Faktor Internal
Permasa
yang berangkat lahan
kerja dari jam 7 sampai jam
3 sore, sepulang kerja selalu langsung
istirahat, mempunyai kebiasaan merokok
setengah bungkus per hari.
2. Ibu bertindak sebagai ibu rumah tangga,
memasak 2x perhari
3. Anak pertama merupakan penjahit dengan
istri

sebagai

ibu

rumah

tangga

dan

mempunyai anak bayi


Tabel 1.12 Faktor Eksternal Keluarga Tn. Karning
No
Kriteria
1.
Luas Bangunan

Permasalahan
Luas rumah 10 x 13 m2

2.

Dalam rumah terdapat dua kamar tidur, satu

Ruangan dalam rumah

ruang keluarga, satu gudang, satu dapur, dan satu


3.

Ventilasi

kamar mandi.
Terdapat ventilasi pada sisi rumah

4.

Pencahayaan

a. Terdapat jendela pada ruang tamu dan kamar


tidur selalu dalam keadaan terbuka dan tidak
ditutupi dengan kain.
b. Terdapat 3 buah lampu di dalam rumah, 3
berwarna putih. Lampu terdapat di ruang

5.

MCK

keluarga, kamar tidur dan ruang tamu.


Terdapat tempat untuk mandi dan cuci piring,
tetapi tidak terdapat tempat untuk buang air

6.

Sumber Air

besar.
Dalam kesehariannya Tn. Karning
menggunakan air PAM yang dibelinya dari

7.

Saluran pembuangan limbah

tukang air keliling di daerah tempat tinggalnya.


Air Limbah rumah tangga di buang ke parit
buatan sendiri yang di alirkan ke kolam empang
di belakang rumah

24

No
Tempat pembuangan sampah

8.

Kriteria
Permasalahan
Sampah rumah tangga di kumpulkan dibelakang
rumah. Sampah ditumpuk terlebih dahulu hingga
cukup banyak lalu dibakar

9.

Lingkungan sekitar rumah

Di samping kanan dan kiri rumah terdapat rumah


tetangga. Di lingkungan sekitar rumah keluarga Tn.
Karning masih banyak sampah yang berserakan
dikarenakan penduduk sekitar kurang peduli
dengan lingkungannya.

Penentuan Area Masalah

Masalah Non Medis


o Tidak terdapat jamban di dalam rumah
o Terdapat kandang ayam di belakang rumah.
o Kurangnya ketersediaan air bersih.
o Kebiasaan merokok di dalam rumah terhadap kesehatan keluarga.
o Kurangnya kebiasaan mencuci tangan sebelum makan.
o Kebiasaan membakar sampah.

Masalah Medis
o Riwayat penyakit gastrointestinal : diare

Setelah dilakukan presurvey menggunakan observasi dan wawancara, didapatkan bahwa


Tn.Karning dan Ny.Asni mempunyai pengetahuan yang buruk tentang jamban sehat .

1.2.2 Keluarga Tn. Sulaiman


Tabel. 1.13 Profil Keluarga Tn. Sulaiman, Kampung Gaga RT 08/RW 03, Desa
Tanjung Pasir, Kecamatan Teluk Naga, Kabupaten Tangerang Bulan JuniTahun
2014

25

No

Nama

Status

Jenis

Usia

Pendidikan

Pekerjaan

Penghasilan

Tn.

Keluarga
Suami

Kelamin
Laki

24

Sekolah

Buruh Ikan

Rp. 1.000.000

Sulaiman
2

Ny.

laki
Istri

Nurjanah
3

Nurkifti

Anak

Perempua

Menengah
24

Pertama
Sekolah

Menengah

Laki-laki

Pertama
Sekolah

Rp.
Buruh pabrik

1.200.000/bulan
Rp. 900.000 - Rp.
1.000.000/bulan

Pelajar

Dasar
Keluarga Tn. Sulaiman tinggal di Desa Tanjung Pasir, Kecamatan Teluk Naga.
Keluarga ini terdiri dari sepasang suami istri, dan seorang anak yang tinggal serumah. Tn.
Sulaiman sebagai kepala keluarga berusia 24 tahun dengan latar belakang pendidikan terakhir
sekolah menengah pertama. Tn. Sulaiman putus sekolah sejak duduk dibangku kelas 1 SMP
karena keterbatasan biaya, semenjak putus sekolah Tn. Sulaiman bekerja untuk membantu
perekonomian keluargnya. Tn. Sulaiman berprofesi sebagai buruh ikan dengan pendapatan
tidak menentu, dengan penghasilan kira-kira berkisar antara Rp. 1.000.000 hingga Rp.
1.200.000 per hari nya. Tn. Sulaiman biasanya berangkat kerja pukul 06.00 WIB dan pulang
ke rumah pukul 16.00 WIB.
Tn. Sulaiman memiliki seorang istri yang bernama Ny. Nurjanah berusia 24 tahun
dengan latar pendidikan terakhir sekolah menengah pertama. Ny. Nurjanah bekerja sebagai
buruh pabrik demi membantu perekonomian keluarganya yang masih dirasakan sangat
kurang. Kesehariannya mengurus rumah seperti memasak, mencuci pakaian, membersihkan
rumah, mengurus anak dan sore hari nya berangkat kerja. Ny. Nurjanah berangkat kerja pukul
17.30 WIB dari rumah dan pulang ke rumah pukul 00.30 WIB. Saat berangkat kerja, anak
Ny. Nurjanah tinggal bersama ayah nya yang pada malam hari ada di rumah karena sore hari
nya sudah pulang kerja.
Anak pertama Tn. Sulaiman, bernama Nurkifti, sekarang berusia 6 tahun, lahir di
rumah dengan bantuan bidan setempat, secara normal, dengan berat badan 2900 gram. Ny.
Nurjanah mengaku anak pertamanya mendapatkan imunisasi lengkap dan mengaku rajin
memeriksakan kehamilan ketika masih mengandung. Nurkifti sekarang bersekolah duduk di
bangku kelas 1 SD. Bersekolah setiap hari senin jumat, berangkat sekolah pukul 06.30 WIB
dan pulang sekolah pukul 12.00 WIB.
Keluarga Tn. Sulaiman tinggal disebuah rumah bangunan permanen diatas tanah

26

seluas 12 x 5 m2. Dinding rumah terbuat dari semen dan batu bata, sebagian berlantaikan
keramik dan sebagian berlantaikan tanah. Atap rumah menggunakan genteng dan dibuat
plafon. Rumah Tn. Sulaiman terdiri dari sebuah ruang tamu yang sekaligus dijadikan ruang
keluarga, 1 buah kamar tidur, 1 ruang dapur yang digabung dengan kamar mandi
disebelahnya tanpa disertai sekat pembatas ruangan. Ruang tamu berukuran 5 x 4 m2
beralaskan keramik dan dipergunakan untuk menerima tamu, nonton televisi, dan berkumpul
bersama keluarga. Diruangan tersebut terdapat 2 jendela dan memiliki pintu dengan jenis
pintu yang dapat dilewati cahaya matahari. Untuk sore hingga malam hari keluarga Tn.
Sulaiman menggunakan lampu sebagai penerangan.
Di rumah Tn. Sulaiman tidak terdapat WC ( jamban ) dan hanya terdapat dapur dan
kamar mandi yang bersebelahan. Untuk buang air besar (BAB) mereka melakukannya di
empang yang berjarak 150 meter dari belakang rumahnya. Jamban yang digunakan tidak
memiliki sistem saluran pembuangan yang memadai karna pembuangan di empang dan
empang tersebut tidak mengalir. Sedangkan untuk membasuh setelah BAB, Tn. Sulaiman dan
keluarga biasanya menggunakan air empang. Selama menggunakan jamban di empang,
keluarga Tn. Sulaiman memiliki riwayat masalah kesehatan seperti diare berulang dan anak
nya pernah mengalami cacingan. Bak mandi yang ada dirumah dikuras setiap 1 bulan 1 kali.
Sumber air bersih didapatkan dari PAM yang dibeli dengan harga Rp. 500/derigen. Air bersih
tersebut digunakan untuk mandi, masak dan minum. Dapur Tn. Sulaiman hanya terdapat
kompor yang menggunakan kompor minyak.
Rumah keluarga Tn. Sulaiman terletak di daerah yang padat penduduk dengan jarak
antar rumah 0,5 meter disebelah kanan dan kiri dan 5 meter dengan rumah depan. Keluarga
Tn. Sulaiman memiliki kebiasaan membuang sampah di lahan kosong belakang rumah yang
berjarak 10 meter dari rumah. Biasanya sampah tersebut di bakar setelah terkumpul banyak.
Keluarga Tn. Sulaiman memiliki pola makan sebanyak 3 kali dalam sehari (pagi
siang sore/malam). Biasanya menu yang biasa dimakan adalah nasi, ikan asin, tahu, tempe
dan kadang-kadang makan ayam goreng. Keluarga Tn. Sulaiman jarang mengkonsumsi
sayur-sayuran dan buah-buahan.
Tn. Sulaiman memiliki kebiasaan merokok, biasanya Tn. Sulaiman menghabiskan
setengah bungkus rokok perhari, dan mengaku sering merokok di luar rumah dan saat bekerja
karena ada anak kecil didalam rumah.
Tn. Sulaiman dan Ny. Nurjanah mengaku jarang mencuci tangan sebelum atau
sesudah melakukan aktivitas. Biasanya Tn. Sulaiman dan Ny. Nurjanah mencuci tangan
dengan air dari gayung yang berasal dari bak mandi, dan jarang menggunakan sabun, sabun

27

yang digunakan juga bukan sabun khusus cuci tangan. Tangan yang dibasuh hanya bagian
telapak tangan dan punggung tangan. Setelah mencuci tangan Tn. Sulaiman dan Ny. Nurjanah
mengeringkan tangannya dengan mengelapnya ke pakaian yang sedang digunakan.
Tn. Sulaiman mengaku jarang melakukan olahraga, Tn. Sulaiman merasa tidak
bersemangat untuk berolahraga karena pagi hari harus berangkat kerja. Sedangkan Ny.
Nurjanah tidak sempat berolahraga karena sibuk untuk mengurus rumah dan anak nya serta
malam hari nya harus berangkat kerja.
Dalam segi kesehatan, Tn. Sulaiman, istri beserta anaknya mengaku memiliki masalah
kesehatan seperti diare yang kadang berulang serta cacingan. Biasanya apabila sakit mereka
berobat dengan obat warung terlebih dahulu, apabila sakit tidak sembuh mereka berobat ke
Puskesmas atau klinik terdekat. Jarak puskesmas dari rumah Tn. Sulaiman tidak terlalu jauh.
Transportasi yang biasa digunakan Tn Sulaiman dan keluarganya menggunakan kendaraan
umum.

Gambar. 1.3 Denah Rumah Keluarga Tn. Sulaiman, Kampung Gaga RT 08/RW 03,
Desa Tanjung Pasir, Kecamatan Teluk Naga, Kabupaten Tangerang Bulan Juni 2014

28

Tabel 1.14.
No

Faktor Internal

Kebiasaan Merokok

Faktor Internal Keluarga Tn. Sulaiman


Permasalahan
Tn. Sulaiman memiliki kebiasaan merokok ini
dilakukan diluar rumah atau saat sedang bekerja.

Olah raga

Keluarga Tn. Sulaiman tidak ada yang memiliki


kebiasaan berolahraga.

Pola Makan

Ny. Nurjanah memasak sendiri untuk makan


keluarga, menu makanan yang sering dimakan
adalah nasi, tahu, tempe, dan ikan asin. Terkadang
makan ayam goreng. Ny. Nurjanah dan seorang
anaknya makan 3x sehari di rumah (pagi - siang
malam), tapi Tn. Sulaiman makan pada pagi dan
malam hari dirumah karena Tn. Sulaiman di siang
hari bekerja dan baru balik saat sore hari.

29

Pola Pencarian Pengobatan

Apabila sakit, mereka membeli obat warung.


Apabila tidak sembuh, mereka baru berobat ke
Puskesmas atau klinik dokter umum terdekat.

Menabung

Keluarga Tn. Sulaiman tidak memiliki kebiasaan


menabung, dikarenakan penghasilan yang
dihasilkan perharinya terkadang masih tidak cukup
untuk kebutuhan sehari-hari.
a. Tn. Sulaiman dan Ny. Nurjanah tidak selalu

Kebiasaan Mencuci Tangan

mencuci

tangan

setiap

memulai

dan

mengakhiri aktivitas, mereka juga jarang


mencuci tangan sebelum dan sesudah makan.
b. Mencuci tangan hanya punggung dan telapak
tangan.
c. Mencuci tangan tidak dengan menggunakan
Faktor Internal

No

sabun.
Permasalahan
d. Mencuci tangan dengan airdari gayung yang
diambil dari bak mandi.

a. Tn. Sulaiman bekerja sebagai buruh ikan. Ia


7

Aktivitas sehari-hari

berangkat kerja dari rumah pukul 06.00 WIB


dan pulang pada pukul 16.00 WIB
b. Ny. Nurjanah bekerja sebagai buruh pabrik,
dan sehari-hari mengurus rumah, anak dan
sore hari nya pukul 17.30 berangkat kerja dan
pulang ke rumah pukul 00.30
c. Anak sekolah dari pukul 07.00 12.00

Tabel 1.15
N
o
1.

Faktor Eksternal Keluarga Tn. Sulaiman

Kriteria
Luas

Permasalahan
Luas rumah 12 x 5 m2

Bangunan

30

2.

Ruangan

Dalam rumah terdapat ruang tamu yang sekaligus dijadikan ruang

dalam rumah

kumpul keluarga dengan ukuran 5x4 m2, satu kamar tidur, dengan
ukuran 5x3m2, dan satu dapur yang digabung dengan kamar mandi
disebelahnya, dengan ukuran 5 x 3m2

3.

Ventilasi

4.

Pencahayaan

5.

MCK

6.

Terdapat 2 buah jendela berukuran 50x100 cm


a. Terdapat dua jendela pada ruang tamu
b.
Terdapat 3 buah lampu di dalam rumah,dengan lampu
berwarna kuning.
a. Terdapat sarana MCK yang tidak lengkap dikarenakan tidak adanya lahan
dan biaya untuk membuat jamban sendiri dirumah, berlantai semen.
b. Terdapat 2 ember besar untuk menampung air
c. Tempat cuci baju dan piring bersamaan dengan tempat mandi
d. Tidak terdapat jentik nyamuk di bak mandi
a. Membeli air bersih yang berasal dari PAM, sebanyak 6 jerigen setiap hari.

Sumber Air

b. Air ini digunakan untuk air minum, mencuci, mandi dan buang air kecil.
7.

c. Air berwarna kuning keruh, tidak berbau dan rasa asin.


Air Limbah rumah tangga di buang ke kolam empang di belakang rumah.

Saluran
pembuangan

Aliran limbah tidak lancar.

limbah
8.

9.

Tempat

Sampah rumah tangga dibuang ke lahan kosong belakang rumah. Sampah

pembuangan

ditumpuk terlebih dahulu hingga cukup banyak lalu dibakar.

sampah
Lingkungan

Di samping kanan dan kiri rumah terdapat rumah tetangga. Di lingkungan

sekitar rumah

sekitar rumah keluarga Tn. Sulaiman masih banyak sampah yang berserakan
dikarenakan

penduduk

sekitar

kurang

peduli

dengan

lingkungannya.

Dibelakang pekarangan rumah terdapat empang yang sangat kotor penuh


dengan sampah.

No

Kriteria

Permasalahan

Penentuan Area Masalah Keluarga Tn. Sulaiman


a) Non-Medis
- Kebiasaan membuang dan membakar sampah di halaman rumah.
- Pada lingkungan keluarga Tn. Sulaiman tidak terdapat jamban sehat.
- Tidak tersedianya sumber air bersih di lingkungan rumah.
b) Medis
- Riwayat menderita diare berulang.
- Riwayat menderita penyakit cacingan
Setelah dilakukan presurvey menggunakan observasi dan wawancara, didapatkan Tn.
Sulaiman mempunyai pengetahuan yang baik tentang jamban sehat sementara,Ny.Nurjamah

31

mempunyai pengetahuan yang buruk tentang jamban sehat.


1.2.3 Keluarga Tn. Yatmin
Tabel. 1.16 Profil Keluarga Tn. Yatmin, Kampung Gaga RT 08/RW 03, Desa
Tanjung Pasir, Kecamatan Teluk Naga, Kabupaten Tangerang Bulan JuniTahun
2014
No

Nama

Tn. Yatmin

Ny. Acoh

Nn. Santi

An. Sinta

Status

Usi

Pendidik

Pekerja

Keluarga Kelamin

an

an

Suami

50th

Tidak

Buruh

Rp.1.200.000/

Sekolah

tambak

bulan

Tamat SD

Pedagan

Rp.500.000/

Bulan

Tamat

Buruh

Rp.1.500.000/

SMA

pabrik

Bulan

SD

Pelajar

Istri

Anak

Anak

Jenis

Laki-laki

Perempuan 35th

Perempuan 18th

Perempuan 12th

Penghasilan

Keluarga binaan ini beralamat di Kampung Telaga Sukamana Desa Tanjung Pasir,
Kecamatan Teluk Naga, Kabupaten Tangerang Keluarga ini terdiri dari seorang suami,
seorang istri dan dua orang anak. Seorang kepala keluarga yang bernama Tn. Yatmin, 50
tahun, bekerja sebagai burah tambak ikan di empang daerah Tanjung Pasir dengan rata-rata
pendapatan Rp.1.200.000 per bulan. Tn. Yatmin berangkat ke tempat kerja pukul 06.00 WIB
hingga pukul 15.00 WIB. Tn. Yatmin terkadang tidak berangkat ke tempat kerja dikarenakan
tidak ada ikannya. Tn. Yatmin memiliki kebiasaan merokok satu bungkus per hari dan sering
merokok di dalam rumah dan di luar rumah.
Ny. Acoh adalah istri dari Tn. Yatmin berusia 35 tahun, bekerja sebagai ibu rumah
tangga dengan usaha membuka warung di depan rumahnya. Ny Acoh mempunyai pedapatan
rata-rata Rp 500.000 per bulan.
Nn. Sinta adalah anak pertama dari Tn Yatmin dan Ny Acoh yang berusia 18 tahun
dengan pendidikan terakhir sekolah menengah atas. Nn. Sinta bekerja sebagai buruh di
sebuah pabrik di daerah Tanjung Pasir dengan pendapatan rata-rata Rp. 1.500.000 per bulan.
Nn. Sinta berangkat ke tempat kerja tergantung dengan pembagian waktu kerja. Jika dapat

32

waktu kerja pagi Nn Sinta berangkat dari rumah sekitar pukul 06.30 WIB dan sampai rumah
pukul 14.30 WIB, jika dapat waktu kerja siang Nn. Sinta berangkat pukul 13.30 sampai
rumah pukul 20.30 WIB, dan jika waktu kerja malam Nn. Sinta berangkat pukul 19.30
sampai rumah pukul 07.00 WIB.
An. Sinta adalah anak kedua dari Tn. Yatmin dan Ny. Acoh yang berusia 12 tahun
yang sedang menempuh pendidikan tingkat sekolah dasar. Nn Sinta berangkat ke sekolah
sekitar pukul 07.30 WIB dan sampai di rumah pukul 12.15 WIB.
Keluarga Tn. Yatmin tinggal disebuah bangunan rumah diatas tanah 6x5 m. Rumah
terdiri dari satu buah ruang tamu, dua kamar tidur, dan satu dapur yang dan satu kamar mandi
tanpa adanya jamban. Lantai rumah sebagian terbuat dari semen dan sebagian lagi dari
keramik. Dinding rumah terbuat dari tembok. Untuk atap rumah terbuat dari genting tanpa
plafon.
Pada bagian belakang rumah terdapat tanah kosong. Tanah kosong tersebut biasa
digunakan untuk kandang ayam dan menimbun sampah kemudian dibakar selama 1 minggu
sekali.
Rumah keluarga Tn.Yatmin terdapat kamar mandi namun tidak disertai jamban.
Kamar mandi tersebut hanya digunakan untuk mandi, buang air kecil, mencuci baju dan
piring. Kamar mandi hanya dilengkapi oleh bak besar, kamar mandi tersebut seluas 1 x 3 m.
Sehingga untuk buang air besar mereka harus ke jamban umum yang berada di pinggir
empang dengan jarak sekitar 2 meter dari rumah Tn. Yatmin. Jamban umum yang digunakan
Tn. Yatmin dan keluarga merupakan tipe jamban cemplung. Keluarga Tn. Yatmin
menggunakan air bersih yang di bawanya dari rumah untuk membersihkan setelah buang air
besar. Jamban umum yang tidak sehat dan letaknya jauh dari rumah merupakan masalah
untuk Tn. Yatmin dan keluarga.
Kegiatan mencuci piring keluarga Tn.Yatmin dilakukan di kamar mandi yang juga
digunakan untuk buang air kecil. Piring piring kotor ditumpuk di lantai kamar mandi
tersebut, tanpa alas apapun. Piring piring yang telah dibersihkan, dikeringkan di rak piring
yang berada di dapur yang terletak tidak jauh dari kamar mandi. Kegiatan mencuci tangan di
tiap anggota keluarga sedikit kurang baik. Masing-masing keluarga memiliki kebiasaan
mencuci tangan tetapi tidak menggunakan sabun. Kebiasaan ini juga biasa dilakukan hanya
ketika mereka setelah makan.

33

Gambar 1.3 Denah Rumah Keluarga Tn. Yatmin, Kampung Gaga, Desa Tanjung Pasir,
Kecamatan Teluk Naga, Kabupaten Tangerang Bulan Juni 2014

Tabel 1.17 Faktor Internal Keluarga Tn. Yatmin


No
1

Faktor Internal
Kebiasaan Merokok

Olah raga

Pola Makan

Pola Pencarian Pengobatan

Permasalahan
Tn. Yatmin merokok sekitar setengah bungkus
dalam satu hari, biasanya kebiasaan merokok ini
dilakukan didalam dan diluar rumah jauh dari
anaknya.
Tn. Yatmin memiliki kebiasaan berolahraga di
tempat kerjanya selama 30 menit 3x/minggu.
Tn. Yatmin makan 1x/hari karena ia mengaku
lelah setelah pulang bekerja. Ny.Acoh makan
2x/hari, selalu memasak sendiri setiap jam 7
pagi dan 2 sore dengan komposisi makanan nasi,
tahu/tempe, terkadang ikan atau daging
Mengkonsumsi daging ayam jarang, 3x/bulan.
Makan buah-buahan tidak menentu. Ibu
mengaku tidak pernah jajan makanan. Nn. Santi
dan An. Sinta makan 2x/hari.
Apabila sakit, mereka membeli obat warung lalu

34

Menabung

setelah beberapa hari tidak kunjung sembuh ke


puskesmas.
Tn.
Yatmin
mengaku
selalu
menabung

Mencuci tangan

600.000/bulan.
Tn. Yatmin, Ny. Acoh, Nn. Santi dan An. Sinta
selalu mencuci tangan sebelum dan sesudah makan
menggunakan air bersih yang tidak mengalir dan
memakai sabun, masih belum tahu cara mencuci
Faktor
Permasalahan
tanganInternal
yang baik.
a. Bapak bekerja sebagai buruh tambak ikan

No
7

Aktivitas sehari-hari

yang berangkat pukul 06.00 WIB kemudian


saat

pulang

selalu

langsung

istirahat,

mempunyai kebiasaan merokok setengah


bungkus per hari.
b. Ibu bertindak sebagai ibu rumah tangga,
memasak 2x sehari
c. Anak pertama sebagai buruh pabrik yang
berangkat tergantung jadwal jaga dengan
durasi kerja 8 jam/hari
d. Anak kedua merupakan pelajar SD

Tabel 1.18

Faktor Eksternal Keluarga Tn. Yatmin

No
1.

Kriteria
Luas Bangunan

Permasalahan
Luas rumah 6x 5 m dengan lantai keramik

2.

Ruangan dalam rumah

Dalam rumah terdapat ruang keluarga berukuran4


x 2,5 m, dua kamar tidur yang masing-masing
berukuran 3 x 3 m. Juga terdapat dapur yang
berukuran 2,5 x 1,5 m mencakup tempat mandi,
mencuci dan buang air kecil.

35

3.

Ventilasi

Terdapat lima buah ventilasi di ruang tamu


berukuran 15 x 30 cm yang selalu terbuka, dua
buah ventilasi di dalam kamar tidur berukuran 30
x 40 cm. 1 jendela di ruang keluarga yang tidak
bisa dibuka berukuran 40 x 70 cm. 2 jendela di
dalam kamar tidur yang masing-masing berukuran
40 x 70 cm yang selalu dibuka ketika pagi dan
siang hari. Hal ini sesuai dengan luas lantai rumah.

4.

Pencahayaan

(luas ventilasi lebih dari 10% dari lantai rumah).


a. Terdapat tiga buah jendela berukuran 40 x
70 cm yang berada di ruang keluarga dan
ruang kamar.
b. Hanya terdapat 1 buah lampu di luar dan
dalam

5.

MCK

rumah.

Sehingga

pencahayaan

rumah kurang baik.


a. Tidak memiliki jamban, jika ingin buang
air besar Tn Yatmin pergi ke jamban umum
yang berada di pinggir empang berjarak 3
m dari rumahnya.
b. Tempat cuci piring dan baju bersamaan
dengan tempat mandi, bak, dan memasak.
c. Tersedia air pam yang dibeli dari warung.

6.

Sumber Air

a. Tidak memiliki sumber air di rumahnya,


sehingga harus membeli air pam di warung.

7.
8.

Saluran pembuangan limbah

Limbah rumah tangga cair di buang ke empang yang

Tempat pembuangan sampah

berjarak 3 m dari rumahnya.


Sampah dibuang di dekat empang, sampah ini
ditumpuk hingga penuh, lalu kemudian dibakar oleh
siapapun warga sekitar sekitar 1minggu sekali.

9.

Lingkungan sekitar rumah

Depan rumah dan belakang rumah Tn. Darman


merupakan tanah yang dimiliki oleh tetangganya.
Sebelah kanan rumah langsung menempel dengan

36

rumah lain yang merupakan rumah saudaranya.


Sebelah kiri rumah adalah rumah warga lain. Sekitar 3
m sebelah kanan dari rumah Tn. Yatmin terdapat
empang untuk membuang limbah, bab dan terdapat
sampah.

Penentuan Area Masalah Tn. Yatmin


a. Non-Medis
- Keluarga Tn. Yatmin mempunyai kebiasaan membakar sampah.
- Rendahnya penghasilan per bulan di keluarga yang belum bisa
-

mencukupi kebutuhan sehari-hari.


Keluarga Tn. Yatmin tidak mempunyai jamban di dalam rumah,
mereka menggunakan jamban yang terdapat di luar rumah yaitu di
empang belakang rumah dan jamban tersebut tidak termasuk jamban

sehat.
Kurangnya ketersediaan air bersih di lingkungan keluarga Tn. Yatmin.
Pencahayaan yang kurang pada rumah keluarga Tn. Yatmin
Buruknya ventilasi dan sirkulasi udara dalam rumah Tn. Yatmin

b. Medis
-

Keluarga Tn. Yatmin tidak pernah berobat ke Puskesmas karena terdapat


pemikiran bahwa jika berobat ke Puskesmas akan disuntik, sehingga

hanya membeli obat ke warung.


Riwayat penyakit gastrointestinal : Diare.
Riwayat penyakit ISPA (Infeksi Saluran Pernafasan Atas) : Batuk, pilek.

Setelah dilakukan presurvey menggunakan observasi dan wawancara, didapatkan Tn.Yatmin


mempunyai pengetahuan yang cukup tentang jamban sehat dan Ny.Acoh mempunyai
pengetahuan yang cukup juga tentang jamban sehat.

1.2.4 Keluarga Tn. Darhi


Tabel 1.19 Profil Keluarga Tn. Darhi, Kampung Gaga RT 08/RW 03, Desa
Tanjung Pasir, Kecamatan Teluk Naga, Kabupaten Tangerang Bulan JuniTahun
2014

37

Nama

Status

JenisKelami

Usi

Pendidika

Pekerjaa

Keluarg

Penghasilan

Tn. Darhi

a
Suami

Laki-laki

35th

Tamat SD

Penjaga

Ny. Ati

Istri

Perempuan

32th

Tamat SD

empang
Bulan
Ibu rumah -

th

An.Marjay

Anak

Perempuan

12

Pelajar

tangga
Pelajar

a
An.Nuraini

pertama
Anak

Perempuan

4th

SMP
Belum

kedua
Keluarga

binaan

Rp.800.000/

sekolah
ini

beralamat

di

Kampung

Gaga

DesaTanjung

Pasir,

KecamatanTeluk Naga RT 08/RW 03.Keluarga ini terdiri dari seorang ayah, ibu yang tinggal
bersama 2 orang anak. Seorang kepala keluarga yang bernama Tn. Darhi, 35 tahun. Ia
berprofesi sebagai penjaga empang dengan rata-rata pendapatan Rp.800.000 tiap bulan. Ia
bekerja sebagai penjaga empang didekat rumahnya. Ia berangkat ketempat kerja pukul 9 pagi
hingga pukul 5 sore. Ia memiliki kebiasaan merokok satu bungkus per hari. Ia sering
merokok di dalam rumah dan di luar rumah.
Ny. Ati berusia 32 tahun. Dahulu sebelum menikah dengan Tn.Darhi, Ny.Ati sempat
bekerja di sebuah pabrik di Kampung Melayu, Tanggerang . Namun sekarang sejak menikah
dengan Tn.Darhi Ny.Ati hanya lah seorang ibu rumah tanggadan mengurusi kedua orang
anaknya.
An. Marjaya berusia 12 tahun, ia merupakan anak pertama. Jaya lahir secara normal
di rumahnya ditolong oleh bidan desa . Jaya diberikan ASI sejak lahir sampai usia 1,5 tahun
lalu dilanjutkan dengan susu formula.Sejak kehamilan Jaya, Ny.Ati rutin memeriksakan
kandungannya ke puskesmas dan posyandu terdekat. Sejak lahir Jayabaru mendapatkan 5x
imunisasi yakni, BCG, Hep.B, Polio, dan DPT . Sejak lahir Jaya belum pernah mengalami
sakit yang berat kecuali diare saat usianya 5 tahun .
An.Nuraini berusia 4 tahun, ia merupakan anak kedua . Nurainilahirsecara normal di
puskesmas terdekat. Nuraini diberikan ASI sejak lahir hingga usianya 6 bulan, lalu
dilanjutkan dengan susu formula serta sari buah . Sejak 2 bulan belakangan. Ny.Ati
mengeluhkan bahwa Nuraini mengalami BAB berdarah. Darah berwarna merah segar, dan
terdapat benjolan yang masih bisa masuk jikadimasukan dari lubang anus . Ny.Ati sudah
membawa Nuraini berobat ke puskesmas terdekat dan diberikan obat, sejak itu dirasakan

38

benjolan semakin lama semakin mengecil dan menghilang namun sekarang ada lagi. Ny.Ati
mengatakan bahwa Nuraini tidak menyukai sayur-sayuran dan lebih suka jajan di warung
dekat rumahnya.Nuraini belum sekolah karena belum cukup umur untuk memasuki SD.
Keluarga Tn. Darhi tinggal disebuah bangunan rumah diatas tanah 6x5 m. Rumah
terdiri dari satu buah ruang tamu, dua buah kamar tidur, dan satu dapur yang bersatu dengan
kamar mandi. Lantai rumah sebagian terbuat dari semen dan sebagian lagi beralaskan tanah.
Dinding rumah terbuat dari sebagian bilik bamboo dan sebagian semen yang belum di
cat.Untuk atap rumah terbuat dari bilik bambu dan tidak mempunyai plafon.
Pada bagian depan rumah terdapat kandang ayam dan tumpukan bamboo serta
tumpukan sampah. Bagian depan rumah juga berbatas pagar semen yang langsung terhubung
dengan empang .
Rumah keluarga Tn.Darhi terdapat kamar mandi namun tidak disertai jamban. Kamar
mandi tersebut hanya digunakan untuk mandi, buang air kecil, mencuci baju dan piring.
Kamar mandi hanyadilengkapi oleh ember besar, kamar mandi tersebut seluas 1 x 3 m.
Sehingga untuk buang air besar mereka harus ke jamban umum yang berada di pinggir
empang. Jamban umum yang digunakan Tn. Darhi dan keluarga merupakan tipe jamban
cemplung. Tn.Darhi merasa kesulitan dengan jamban umum dan letaknya yang jauh,
tetapiTn.Darhi mengatakan mengalami kesulitan secara ekonomi jika mereka harus
membangun jamban sendiri .
Kegiatan mencuci piring keluargaTn.Darhi dilakukan di kamar mandi yang
jugadigunakan untuk buang air kecil. Piring piring kotor ditumpuk di lantai kamar mandi
tersebut, tanpa alas apapun. Piring piring yang telah dibersihkan, dikeringkan di rak piring
yang berada di dapur yang terletak tidak jauh dari kamar mandi. Kegiatan mencuci tangan di
tiap anggota keluarga sedikit kurang baik. Masing-masing keluarga memiliki kebiasaan
mencuci tangan tetapi tidak menggunakan sabun. Kebiasaan ini juga biasa dilakukan hanya
ketika merekasetelah makan.
Gambar 1.5. Denah Rumah Keluarga Tn. Darhi, Kampung Gaga, Desa Tanjung Pasir,
Kecamatan Teluk Naga, Kabupaten Tangerang Bulan Juni 2014

39

Tabel 1.20

Faktor Internal

Keluarga Tn.
No.
1

Darhi

Faktor Internal
KebiasaanMerokok

Permasalahan
Tn. Darhi merokok sekitar satu bungkus dalamsatuhari,
biasanya kebiasaan merokok ini dilakukan didalam rumah

Olah raga

dan di luar rumah.


Keluarga Tn. Darhi tidak ada yang memiliki kebiasaan

PolaMakan

berolahraga
Ny.Ati terkadang memasak sendiri dengan komposisi
makanan nasi, tahu, tempe, ikan, sayur. Jarang sekali makan
daging sapi atau ayam dan buah-buahan. Keluarga ini jarang

5
6

beli makanan di luar.


PolaPencarianPengo Apabila sakit, mereka pergi kebidan dan dokter klinik
batan

terdekat dan membeli obat di apotek dan terkadang membeli

Menabung

di warung. Mereka juga sering untuk berobat ke puskesmas.


Ny. Ati tidak menabung. Uang dari anak-anaknya dijdikan

Aktivitassehari-hari

untuk biaya Marjaya dan untuk kebutuhan sehari-hari.


a. Tn. Darhi bekerja sebagai penjaga empang, bekerja dari
pk 09.00
sampai
pk17.00
Faktor
Internal
Permasalahan
b. Ny.Ati tidak bekerja, hanya seorang ibu rumah tangga dan

No.

mengurusi kedua orang anaknya


c. Marjaya adalah seorang pelajar SMP, ia merupakan anak
pertama dari dua bersaudara .

Tabel 1.21
No
Kriteria
1.
Luas Bangunan

Faktor Eksternal Keluarga Tn. Darhi


Permasalahan
Luas rumah 6x5 m dengan lantai semen
dantanah

40

2.

Ruangan dalam rumah

Dalam

rumah

terdapat

ruang

tamu

berukuran3x2 m, duakamar tidur yang masingmasing berukuran 2x2m. Juga terdapat dapur
disertai kamar mandi yang berukuran3x2m dan
ruangan ini tidak disertai dengan adanya tempat
3.

Ventilasi

pembuangan sampah.
Tidak terdapat ventilasi sama sekali yang
seharusnya luas ventilasi kurang dari 10% dari
lantai rumah.

4.

Pencahayaan

a. Tidak terdapat jendela pada ruang tamu


rumah
b. Tidak terdapat jendela di kedua kamar
c. Hanya terdapat 3 buah lampu di dalam
rumah yang berwarna kuning untuk ruang

5.

MCK

tengah, dapur dan kamar mandi.


a. Tidak memiliki jamban, jika ingin buang air
besarmerekapergi ke jamban umum yang
berada di pinggir empang.
b. Kamarmandiberalaskan semen

dengan

ukuran 1x1m terletak di dalam rumah yang


digunakan untuk cucipiring
c. Tersedia air yang cukup untuk buang air
6.

Sumber Air

kecil di dalam ember.


a. Sumber Air berasaldari PAM yang dijual di
warungtetangga.
b. Anggota keluarga

memiliki

kebiasaan

mencuci tangan tetapi tidak menggunakan


sabun. Kebiasaan ini jugabiasa dilakukan
7.

Saluranpembuanganlimbah

hanya ketika mereka setelah makan.


Limbah rumah tanggacair di buang keempang
yang berjarak 1 meter dari rumah dan limbah
padat di buang di pekarangan belakang rumah.

8.

Tempat pembuangan sampah

Aliran limbah ini tidak lancar.


Sampah dibuang di pekarangan belakang
rumah, sampah ini ditumpuk hingga penuh, lalu
kemudian dibakar oleh keluarga sehingga
banyak lalat yang menghinggapi tumpukan

41

No

Kriteria

sampah
9.

Lingkungan sekitar rumah

Permasalahan

tersebut,

dan

menimbulkan

bau.

Keluarga biasa membakar 1 minggu sekali.


Depan rumah Tn. Darhi berbataskan pagar
semen
empang.

yang

langsung

Samping

terhubung

kanan

rumah

dengan
terdapat

kandang ayam dan tumpukan bamboo serta


sampah.

Tn.Darhi

tidak

memiliki

bagian

belakang rumah. Empangdi depan rumah


Tn.Darhi tampak kotor dan banyak sampah
yang menumpuk. Sehingga banyak lalat yang
menghinggap di empang tersebut.

Penentuan Area Masalah :


Medis :
Saat ini anak kedua dari pasangan Tn.Dahir dan Ny. Ati sedang menderita
hemorrhoid dikarenakan kurangnya konsumsi sayuran.
Riwayat menderita cacingan,pada anak kedua Ny.Ati
Riwayat memiliki penyakit ISPA, pada Ny.Ati
Non - Medis :
Keluarga TnDahir dan warga sekitar mempunyai kebiasaan menumpuk
sampah dan bila sudah penuh lalu dibuang keempang yang berada di

belakang kediaman TnDahir


Keluarga ini memiliki hewan peliharaan tetapi keadaan kandang yang kotor
dan tidak terawat. Menurut pengakuan keluarga ini, ia jarang sekali

membersihkan kandang ayam tersebut dan membiarkannya kotor.


Pada keluarga ini tidak terdapat jamban.
Vantilasi dan sirkulasi rumah yang buruk
Kebiasaan merokok di dalam rumah

Setelah dilakukan presurvey menggunakan observasi dan wawancara, didapatkan bahwa


Tn.Darhi dan Ny.Ati mempunyai pengetahuan yang buruk tentang jamban sehat.
1.2.5 Keluarga Tn.Iba
Tabel 1.22 Profil Keluarga Tn. Iba, Kampung Gaga RT 08/RW 03, Desa Tanjung

42

Pasir, Kecamatan Teluk Naga, Kabupaten Tangerang Bulan Juni Tahun 2014
No

Nama

Jenis
Kelamin
Laki-laki

Usia

Pendidikan

Pekerjaan

Tn. Iba

Status
Keluarga
Suami

50th

SD

Ny. Rohaini

Istri

Perempuan

50th

SD

Wawan

Laki-laki

20th

SMP

Nur

Anak
Kandung
Anak
Kandung

Perempuan

5th

Tambak
Ikan
Buruh
Pabrik
Kuli
Bangunan
-

Iqbal

Anak
Kandung

Laki-laki

4th

Penghasilan
(per bulan)
Rp 1.500.000;
Rp 1.000.000:
Rp 500.000;
-

Keluarga binaan ini beralamat di Kampung Telaga Sukamana Desa Tanjung Pasir,
Kecamatan Teluk Naga RT 08/RW03. Keluarga ini terdiri dari sepasang suami istri yang
menikah 30 tahun yang laludan memiliki 4 orang anak. Anak pertama belum menikah dan
masih tinggal dengan Tn. Iba, anak kedua belum menikah pula namun tinggal dengan
neneknya yang berada di depan rumah orangtuanya, dan dua anak lainnya masih berada di
rumah keluarga ini.
Keluarga ini terdiri dari seorang kepala keluarga yang bernama Tn. Iba, 50 tahun. Ia
berprofesi sebagai penjaga tambak ikan denganrata-rata pendapatan Rp 1.800.000 tiap
bulannya. Ia memulai pekerjaannya pada pukul 07.00 pagi hingga 16.00 sore hari. Setelah
selesai bekerja, Tn. Iba biasanya beristirahat saja dirumah.
Tn. Iba memiliki seorang istri yang bernama Ny. Rohaini berusia 50 tahun. Ny.
Rohaini bekerja sebagai buruh pabrik. Keseharian Ny. Rohaini bekerja sesuai dengan jadwal
jaga dari pabrik tempat dia bekerja.
Semasa hidupnya Tn. Iba hanya sering mengeluh pusing. Biasanya jika keluhan itu
muncul ia lebih memilih untuk istirahat. Apabila terdapat sakit yang lebih parah seperti batuk,
pilek dan sakit gigi, Tn. Rohani memilih berobat ke puskesmas terdekat yang ada di desa
tersebut.
Ny. Rohaini seringkali mengeluh sakit perut yang seringkali ia abaikan. Keluhan sakit
perut ini sering Ny. Rohaini sebut sebagai sakit Maag. Biasanya Ny. Rohaini hanya meminum
obat diwarungnya saja dan tidak berobat ke dokter maupun puskesmas.
Ny. Rohaini memiliki empat orang anak, anak pertama Ny. Rohaini belum menikah
dan masih tinggal bersama kedua orangtuanya. Anak pertama Ny. Ana bernama Wawan. Ia
bekerja sebagai kuli bangunan. Pendapatan yang dihasilkan Wawan perbulannya Rp 500.000.
Anak kedua Ny. Rohaini bernama Bagas berusia 17 tahun, namun tidak tinggal dengan

43

keduaorangtuanya, dia tinggal bersama dengan neneknya yang bertempat tinggal di depan
rumah keduaorangtuanya.
Anak ketiga Ny. Rohaini yang tinggal bersamanya, bernama Nn. Nur yang kini
berumur 5 tahun. Saat dilahirkan di tolong oleh bidan, dengan berat badan 2800gr. Alasan
dilahirkan di bidan karena anak pertama Ny. Rohaini juga dilahirkan oleh bidan. Semasa Ny.
Rohaini hamil, ia tidak pernah menderita sakit dan rajin memeriksakan kandungan di bidan
terdekat. Imunisasi dasar diakui lengkap oleh Ny. Rohaini. Saat ini Nn. Nur belum sekolah
dan masih tinggal dengan kedua orang tuanya. Dalam kesehariannya ia hanya bermain
dengan tetangga-tetangganya.
Anak keempat Ny.Rohaini yang masih serumah dengannya, bernama Iqbal, berusia 4
tahun. Saat dilahirkan di tolong oleh bidan, dengan berat badan 3000gr. Alasan dilahirkan
di bidan karena anak pertama dan kedua Ny. Rohaini juga dilahirkan oleh bidan. Semasa
hamil Ny. Rohaini tidak pernah menderita sakit dan rajin memeriksakan kandunganmya di
bidan terdekat. Imunisasi dasar diakui lengkap oleh Ny. Rohaini.
Keluarga Tn. Iba tinggal disebuah bangunan rumah diatas tanah seluas 6 x 5 m 2.
Rumah terdiri dari satu buah ruang tamu, satu ruang tengah, satu kamar tidur, satu dapur, dan
satu kamar mandi. Lantai rumah terbuat dari semen. Dinding rumah terbuat dari bilik bambu.
Untuk atap rumah terbuat dari genteng tetapi tanpa plafon. Pada bagian depan tidak terdapat
pekarangan, hanya berada di belakang yang dipakai untuk tempat mencuci piring,
Rumah keluarga Ny. Rohaini dilengkapi dengan kamar mandi yang tidak dipakaikan
sekat. Sehingga untuk buang air besar mereka harus ke jamban umum yang berada di pinggir
empang. Ny.Rohani mengaku merasa kesulitan dengan tidak adanya jamban pribadi dirumah
mereka,karena keterbatasan biaya keluargaTn.Iba mengaku tidak dapat membangun jambann
yang layak seperti seharusnya . Jamban umum yang diapakai keluarga ini juga dipakai
bersamaan dengan warga lainnya,letaknya yang lumayan jauh dari rumah dan bentuk yang
sangat sederhana membuat keluarga ini merasa tidak nyaman untuk menggunakan jamban
umum tersebut .
Ny. Rohaini mengaku sumber air rumahnya adalah air PAM yang dibeli dari tukang
air keliling yang ada di daerah lingkungan rumahnya.
Gambar 1.6 Denah Rumah Keluarga Tn. Iba, Kampung Gaga, Desa Tanjung Pasir,
Kecamatan Teluk Naga, Kabupaten Tangerang Bulan Juni 2014

44

Tabel 1.23

Faktor Internal Keluarga Tn. Iba

No
1

Faktor Internal
Kebiasaan Merokok

Permasalahan
Tn. Iba memiliki kebiasaan merokok di dalam

Olah raga

rumah dan luar rumah.


Keluarga Tn. Rohani tidak ada yang memiliki

Pola Makan

kebiasaan berolahraga
Ny. Rohaini terkadang memasak sendiri dengan

komposisi makanan nasi, tahu, tempe, dan ikan


asin. Jarang sekali makan daging, sayur dan
4

Pola Pencarian Pengobatan

buah.
Apabila sakit, mereka pergi ke puskesmas

Menabung

terdekat.
Keluarga Tn. Iba tidak memiliki kebiasaan

Mencuci Tangan

menabung.
Tn. Rohani, Ny. Ana, dan ketiga anaknya
mempunyai

Aktivitas sehari-hari

kebiasaan

mencuci

tangan

menggunakan tidak memakai sabun.


4.
Bapak bekerja sebagai penjaga tambak
ikan 100 m dari rumahnya
5.

Ibu bertindak sebagai pekerja pabrik

6.

Anak pertamanya berprofesi sebagai kuli


bangunan

7.

Anak ketiga dan keempatnya belum


sekolah

45

Tabel 1.24

Faktor Eksternal Keluarga Tn. Iba

No
1.

Kriteria
Luas Bangunan

Permasalahan
Luas rumah 6x5m2 dengan berlantai aspal

2.

Ruangan dalam rumah

Dalam rumah terdapat ruang tamu, satu kamar


tidur dengan berlantai aspal. Juga terdapat dapur
dan kamar mandi yang tidak bersekat

3.

Ventilasi

4.

Pencahayaan

5.

MCK

Tidak terdapat ventilasi pada rumah Tn. Iba


a.

Terdapat dua buah jendela, namun tdk pernah


dibuka
b. Terdapat 3 buah lampu dalam rumah yang
berwarna kuning.
Tn. Iba memiliki kamar mandi yang tidak
bersekat, sehingg ia dan keluarganya harus ke
jamban umum

6.

Sumber Air

Tn. Iba menggunakan fasilitas PAM yang


dibelinya di tukang air keliling di daerah
rumahnya

7.

Saluran pembuangan limbah

Limbah rumah tangga cair di buang ke kali yang


berjarak 2 meter dari rumah dan limbah padat di
buang di pekarangan samping rumah. Aliran

8.

Tempat pembuangan sampah

limbah ini lancar.


Sampah dibuang di pekarangan samping rumah,
sampah ini ditumpuk hingga penuh, lalu
kemudian dibakar oleh siapapun warga sekitar
sehingga banyak lalat yang menghinggapi

46

tumpukan sampah tersebut, dan menimbulkan


9.

bau.
Depan rumah Tn. Iba menghadap ke empang.

Lingkungan sekitar rumah

Samping rumah Tn. Iba, terdapat kandang ayam


yang sudah tidak terurus.
Penentuan Area Masalah :

Non-Medis: :
Memiliki hewan peliharaan yang terbiasa masuk kedalam rumah (ayam dan

kucing)
Keadaan ventilasi udara di dalam rumah yang jarang di buka
Keadaan rumah yang kotor dan berdebu
Kurangnya ketersediaan air bersih
Kurangnyapencahayaandalamrumah
Tidakadanyajamban di dalamrumah.

Medis :
Tidakada yang sakit pada saat ini

Setelah dilakukan presurvey menggunakan observasi dan wawancara, didapatkan bahwa


Tn.Iba dan Ny.Rohaini mempunyai pengetahuan yang buruk tentang jamban sehat.

1.2.6 Keluarga Ny. Napsa


Tabel 1.25 Profil Keluarga Ny. Napsa, Kampung Gaga RT 08/RW 03, Desa
Tanjung Pasir, Kecamatan Teluk Naga, Kabupaten Tangerang Bulan JuniTahun
2014
Nama

Ny. Napsa

Nurul

Status

Jenis

Keluarga

Kelamin

Istri

Perempuan

Anak I

Perempuan

Usia

Pendidikan

Pekerjaan

Penghasilan

38

Tidak

Buruh

Rp 800.000

tahun

sekolah

15

SMP

Pelajar

tahun

47

Siti fatimah

Anak II

Perempuan

10

SD

Pelajar

tahun

Rumah keluarga ini terletak di RT 08 / RW 03 Kampung Gaga, Desa Tanjung Pasir,


Kec. Teluk Naga, Kabupaten Tangerang. Rumah keluarga tersebut dihuni oleh tiga anggota
keluarga yaitu Ny. Napsa sebagai kepala keluarga karena suami dari Ny. Napsa sudah
meninggal 2 tahun yang lalu karena kecelakaan saat berngkat ke tempat kerja dengan dua
orang anak, anak pertama bernama Nurul dan anak kedua bernama Siti Fatimah.
Ny Napsa , berusia 38 tahun, bekerja sebagai seorang petani di daerah Tanjung Pasir
dengan penghasilan Rp 800.000 per bulan namun ini tidak tetap. Pendapatan Ny. Napsa
digunakan untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari, seperti membeli air PAM, makanan,
membayar listrik, pengobatan dan lain-lain.
Ny. Napsa tidak bisa membaca dan menulis karena dia sekolah SD tidak sampai lulus.
Anak pertama Ny.Napsa adalah seorang perempuan bernama Nurul yang sekarang berusia 15
tahun dan masih bersekolah ditingkat Sekolah Menengah Pertama. Anak kedua pasangan Ny.
Napsa bernama Siiti Fatimah yang sekarang berusia 10 tahun.
Keluarga Ny. Napsa tinggal disebuah bangunan rumah dipinggiran empang yang
beralaskan pluran berukuran 8 x 6 m. Rumah terdiri dari sebuah ruang tamu yang juga
digunakan sebagai ruang keluarga dan ruang makan bagi keluarga Di ruangan ini terdapat
sebuah lemari baju dari kayu, dan sebuah meja plastik. Rumah Ny Napsa tidak memiliki
jendela. Cahaya yang masuk sangat kurang dari dinding rumah yang terbuat dari bilik bambu
dan dari pintu depan dan pintu belakang. Dikarenakan keluarga Ny. Napsa tidak memiliki
fasilitas jamban di rumahnya, anggota keluarga biasanya melakukan aktifitas buang air besar
di jamban tetangga sebelah rumahnya yang berhubungan dari belakang rumahnya dan
membersihkan kotorannya dengan air tanpa sabun yang dilakukan setelah kembali ke dalam
rumah. Di rumah keluarga Ny. Napsa juga tidak terdapat tempat pembuangan, baik limbah
maupun sampah rumah tangga.
Rumah keluarga Ny. Napsa berada di lingkungan rumah padat penduduk dan berada
didepan empang. Jarak dari rumah Ny. Napsa ke tetangga depan sekitar 2 m. Di samping
rumah terdapat rumah tetangga yang mepet. Dibelakang rumah terdapat empang yang
dijadikan tempat penampungan tinja.
. Ny. Napsa memasak makanan sendiri untuk keluarganya. Makanan yang sering

48

dimasak seperti tahu, tempe, sayur kangkung, dan sesekali makan ikan. Sehari-harinya
mereka makan sebanyak 2-3 kali. Mereka mengatakan bahwa sering mencuci tangan sebelum
dan sesudah makan dengan air dan sabun.
Anak pertama Ny. Napsa lahir di Bidan begitu juga anak yang kedua lahir di bidan,
anak Ny. Napsa lengkap mendapatkan imunisasi dasar.Keluarga Ny. Napsa mengatakan
jarang memeriksa kesehatan ke puskesmas karena mereka sudah terbiasa jika sakit meminum
obat yang dibeli warung.
Pada saat ini pada keluarga Ny. Napsa tidak ada satupun anggota keluarganya yang
sedang menderita batuk-batuk, sesak nafas, mencret-mencret, dan demam.
Keluarga Ny Napsa memiliki sumber air berupa air PAM yang dibeli, harga per 3
dirigen Rp 2000. Air ini ditampung dibak mandi didalam rumah, digunakan untuk beberapa
keperluan, seperti minum, membilas alat makan dan mencuci baju. Tempat penampungan air
ini tidak memiliki penutup dan dibilas sebulan sekaliKeluarga Ny Napsa tidak memiliki
tanaman dan kandang ternak. Sampah rumah tangga dibuang dan dikumpulkan di pinggir
empang di belakang rumah.
Gambar 1.7 Denah Rumah Keluarga Ny. Napsa, Kampung Gaga, Desa Tanjung Pasir,
Kecamatan Teluk Naga, Kabupaten Tangerang Bulan Juni 2014

49

Tabel 1.26
No
1

Faktor Internal Keluarga Ny. Napsa

Faktor Internal
Pola Makan

Permasalahan
Ny Napsa memasak makanan sendiri untuk
keluarganya. Makanan yang sering dimasak seperti
tahu, tempe, sayur kangkung, dan sesekali makan
ikan. Sehari-harinya mereka makan sebanyak 2-3

kali
Dalam keluarga Ny Napsa

Olah raga

tidak ada kebiasaan

untuk berolahraga.
3
4

Pola Asuh Anak

Anak pertama Ny Napsa lahir di Bidan, anak yang

Pola Pencarian Pengobatan

kedua lahir di bidan.


Keluarga Ny Napsa mengatakan jarang memeriksa
kesehatan ke puskesmas karena mereka

sudah

terbiasa jika sakit meminum obat yang dibeli


warung
FaktorKeluarga
Internal Ny Napsa

5 NoMenabung

mengikuti
6

tidak menabungPermasa
dan tidak
kegiatan lahan
arisan yang ada di

lingkungannya.
a. Istri adalah seorang kepala keluarga, petani, dan

Aktivitas sehari-hari

ibu rumah tangga yang mengurusi anak,


memasak, mencuci, dll.

Table 1.27

Faktor EksternalKeluarga Ny. Napsa

No
1.

Kriteria
Luas Bangunan

Permasalahan
Luas rumah 48 m2 dengan lantai plur dan

2.

Ruangan Dalam Rumah

dinding terbuat dari bilik bamboo.


Dalam rumah terdapat ruang keluarga, kamar
tidur, dapur yang menyatu dengan kamar mandi
karena tidak ada sekat antara dapur dan kamar
mandi.

3.

Ventilasi

Tidak terdapat ventilasi di bangunan rumah


keluarga tn Otong.

4.

Pencahaan

Hanya terdapat 4 buah lampu di dalam rumah

50

yang berwarna putihdan satu buah di teras


5.
6.

MCK

rumahsehingga penerangan kurang baik.


Memiliki 1 kamar mandi tanpa fasilitas untuk

Sumber Air

buang air besar.bersatu dengan dapur tanpa sekat.


Tidak terdapat sumber air, air didapatkan dengan
cara membeli pada pedagang air PAM keliling
dengan harga Rp.2.000/dirigen. Dalam sehari
keluarga

7.

Saluran pembuangan limbah

Tn.

Mamat

dapat

menghabiskan

Rp.10.000 hanya untuk membeli air bersih.


Limbah rumah tangga cair maupun limbah jamban
di buang ke empang yang berjarak kurang dari 5

8.

Tempat pembuangan sampah

meter.
Sampah dibuang dibelakang rumah, sampah ini
ditumpuk hingga penuh, lalu kemudian dibakar
oleh siapapun warga sekitar sehingga banyak lalat

No
9.

yang menghinggapi tumpukan sampah tersebut,


dan
Kriteria
Permasa
menimbulkan bau yanglahan
tidak sedap
Lingkungan sekitar rumah
Rumah keluarga Ny Napsa berada di lingkungan
rumah padat penduduk dan berada didepan empang.
Jarak dari rumah Ny Napsa

ke tetangga depan

sekitar 2 m. Di samping rumah terdapat rumah


Tetangga yang mepet. Dibelakang rumah terdapat
empang yang dijadikan tempat penampungan tinja.

Penentuan Area Masalah


Masalah Non Medis
Kebisaan membuang sampah di belakang rumah/Empang.
Jamban diatas empang.
Kebiasaan merokok di dalam rumah terhadap kesehatan keluarga

Kurangnya kesadaran berobat ke tenaga kesehatan

Tidak ada MCK yang memenuhi standar

Masalah Medis

Riwayat diare pada anak kedua

Setelah dilakukan presurvey menggunakan observasi dan wawancara, didapatkan bahwa

51

Ny.Napsa mempunyai pengetahuan yang buruk tentang jamban sehat.

1.3 Penentuan Area Masalah Kesehatan


1.3.1 Alasan Pemilihan Area Masalah
Sebagai pendekatan awal untuk mengetahui area masalah yaitu dengan menganalisis
laporan tahunan Puskesmas mengenai data-data penderita 10 penyakit terbesar yang ada di
wilayah PuskesmasTegal Angus.
Kemudian informasi tersebut dibandingkan dengan laporan kader desa setempat.
Setelah mengamati,

mewawancarai, dan melakukan observasi masing-masing keluarga

binaan di Kampung Gaga, Desa Tegal Angus terdapat berbagai area permasalahan pada
keluarga binaan tersebut, yaitu:
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.

Perilaku BAB yang tidak baik pada keluarga binaan


Perilaku membakar sampah di sekitar rumah
Perilaku merokok di sekitar rumah
Kurang nya ventilasi pada rumah keluarga binaan
Banyaknya angka kejadian ISPA pada keluarga binaan
Perilaku mencuci tangan tidak memakai sabun
Kurangnya pencahayaan dalam rumah keluarga binaan
Perilaku melakukan pengobatan dengan tenaga non medis

Dari sekian masalah yang ada pada keluarga tersebut, diputuskan untuk mengangkat
permasalahan PENGETAHUAN TENTANG JAMBAN SEHAT PADA KELUARGA
BINAAN KAMPUNG GAGA RT 08 / RW 03, DESA TANJUNG PASIR. Pemilihan area
masalah kesehatan ini didasarkan atas berbagai pertimbangan, yaitu:
-

Selama melakukan kunjungan beberapa kali ke rumah keluarga binaan, terlihat


keenam keluarga binaan memiliki kebiasaan yang sama, yaitu kebiasaan keluarga
binaan BAB di jamban umum yang tidak sehat yang mana jamban terletak di
belakang rumah mereka dan tempat pembuangannya di empang yang tidak terdapat
air mengalir. Hal ini dikarenakan tidak terdapatnya jamban sehat di daerah sekitar
desa tersebut sehingga membuat kepedulian terhadap pengetahuan tentang jamban
sehat ataupun pengetahuan dari dampak penggunaan jamban yang tidak sehat sangat
diabaikan oleh warga sekitar .

52

Ada beberapa anggota keluarga binaan yang pernah mengalami gejala penyakit

seperti diare. Hal ini sesuai dengan data data dipuskesmas Tegal Angus tahun 2013.
Kebiasaan keluarganbinaaan yang BAB di jamban tidak sehat yang terletak di
empang belakang rumah, hal ini dapat membuat resiko tinggi untuk terjadinya
penyakit seperti diare, cacingan atau pun penyakit kulit karna buruknya sanitasi
jamban.

Kurangnya pengetahuan tentang menggunakan jamban yang tidak sehat berhubungan dengan
salah satu penyakit seperti yaitu diare. Dari data sekunder yang didapat kan terdapat 10
penyakit besar padatahun 2012 di PuskesmasTegal Angus, yang diperlihatkan dalam tabel.

Sumber : Data Surveillance Puskesmas Tegal Angus Tahun 2012

53

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Diagnosis dan intervensi komunitas
Diagnosis dan intervensi komunitas adalah suatu kegiatan untuk menentukan adanya
suatu masalah kesehatan di komunitas atau masyarakat dengan cara pengumpulan data di
lapangan dan kemudian melakukan intervensi sesuai dengan permasalahan yang ada.
Diagnosis dan intervensi komunitas merupakan suatu prosedur atau keterampilan dari
ilmu kedokteran komunitas. Dalam melaksanakan kegiatan diagnosis dan intervensi
komunitas perlu disadari bahwa yang menjadi sasaran adalah komunitas atau sekelompok
orang sehingga dalam melaksanakan diagnosis komunitas sangat ditunjang oleh
pengetahuan ilmu kesehatan masyarakat (epidemiologi, biostatistik, metode penelitian,
manajemen kesehatan, promosi kesehatan masyarakat, kesehatan lingkungan, kesehatan
kerja dan gizi).
2.2 Teori Pengetahuan
2.2.1 Definisi Pengetahuan
Menurut Notoatmojo (2007), pengetahuan merupakan hasil Tahu dan ini terjadi
setelah orang melakukan pengindraan terhadap suatu subyek tertentu.Pengindraan
terjadi melalui panca indra manusia yaitu indra penglihatan, pendengaran penciuman,
rasa, dan raba. Pengetahuan atau kognitif merupakan domain yang sangat berperan
untuk terbentuknya suatu tindakan seseorang.
2.2.2 Tingkat Pengetahuan
Tahu diartikan sebagai mengingat suatu materi yang telah dipelajari
sebelumnya. Termasuk di dalam pengetahuan tingkat ini adalah mengingat kembali
(recall).
Menurut Notoatmodjo (2007), pengetahuan yang cukup dalam domain

kognitif

mempunyai 6 tingkatan, yaitu:


a. Tahu (know)
Tahu diartikan sebagai mengingat suatu materi yang telah dipelajari
sebelumnya.Termasuk di dalam pengetahuan tingkat ini adalah mengingat
kembali (recall) terhadap sesuatu yang spesifik dari seluruh bahan yang dipelajari
atau rangsangan yang telah diterima. Oleh sebab itu, Tahu ini adalah merupakan

54

tingkat pengetahuan yang paling rendah, kata kerja untuk mengukur bahwa orang
tahu tentang apa yang telah dipelajari antara lain : menyabutkan, menguraikan,
mendefinisikan, menyatakan dan sebagainya.
b. Memahami (comprehension)
Memahami diartikan sebagai suatu kemampuan menjelaskan secara benar
mengenai obyek yang diketahui dan dapat menginterpretasikan meteri tersebut
secara benar.Orang yang telah paham terhadap obyek atau materi harus dapat
menjelaskan, menyebutkan, contoh menyimpulkan, merencanakan, dan sebagainya
terhadap obyek yang telah dipelajari.
c. Aplikasi (application)
Aplikasi diartikan sebagai kemampuan untuk menggunakan materi yang telah
dipelajari pada situasi atau kondisi yang riil (sebenarnya). Aplikasi disini dapat
diartikan aplikasi atau penggunaan hukum-hukum, rumus, metode, prinsip, dan
sebagainya dalam konteks dan situasi yang lain. Dalam menggunakan prinsipprinsip siklus pemecahan masalah (problem solving cycle) didalam pemecahan
masalah kesehatan dari kasus yang diberikan.
d. Analisis (analysis)
Analisis adalah suatu kemampuan untuk menjabarkan materi atau suatu obyek
ke dalam komponen-komponen tetapi masih di dalam suatu struktur organisasi dan
masih ada kaitanya satu sama lain. Kemampuan analisis ini dapat dilihat dari
penggunaan

kata-kata

kerja.Dapat

menggambarkan

(membuat

bagan),

membedakan, memisahkan, mengelompokan, dan sebagainya.


e. Sintesis (synthesis)
Sintesis adalah menunjukkan kepada suatu kemampuan untuk meletakkan atau
menghubungkan bagian-bagian di dalam suatu bentuk kesluruhan yang baru.
Dengan kata lain, sintesis itu suatu kemampuan untuk menyusun formulasi baru
dari formulasi-formulasi yang ada.
f. Evaluasi (evaluation)
Evaluasi ini berkaitan dengan kemapuan untuk melaksanakan justifikasi atau
penilaian terhadap suatu materi atau obyek.Penilaian-penilaian ini berdasarkan
suatu kriteria yang telah ditentukan sendiri atau menggunakan kriteria-kriteria yang
telah ada.

55

2.2.3 Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Tingkatan Pengetahuan


Menurut Notoatmojo (2007), pengetahuan yang telah dimilki seseorang dipengaruhi
oleh faktor-faktor sebagai berikut:
1. Pendidikan
Tingkat pendidikan seseorang akan berpengaruh dalam memberi respon yang
datang dari luar. Orang yang berpendidikan tinggi akan memberi respon yang
rasional terhadap informasi yang datang dan akan berpikir sejauh mana
keuntungan yang mungkin akan mereka peroleh dari gagasan tersebut. Ibu hamil
yang berpendidikan, tentu akan banyak memberi perubahan terhadap apa yang
mereka lakukan dimasa lalu.
2. Paparan media masa
Melalui berbagai media baik cetak maupun elektrolik, berbagai informasi
dapat diterima oleh masyarakat sehingga seseorang yang lebih sering mendengar
atau melihat media massa (TV, radio, majalah, pamflet,dan lain-lain) akan
memperoleh informasi yang lebih banyak dibandingkan dengan orang yang tidak
pernah mendapat informasi media. Ini berarti informasi media masa
mempengaruhi tingkat pengetahuan yang dimiliki oleh seseorang.
3. Ekonomi
Dalam memenuhi kebutuhan primer maupun kebutuhan sekunder, keluarga
dalam status ekonomi baik lebih mudah tercukupi dibanding keluarga dengan
status ekonomi rendah. Hal ini akan mempengaruhi kebutuhan akan informasi
yang termasuk kebutuhan sekunder.
4. Lingkungan sosial ekonomi
Manusia adalah makhluk sosial, dimana dalam kehidupan saling berinteraksi
antara satu dengan yang lain. Individu yang dapat berinteraksi secara kontinyu
akan lebih besar terpapar informasi. Sementara faktor hubungan sosial juga
mempengaruhi kemampuan individu sebagai komunikasikan untuk menerima
pesan menurut model komunikasi media.
5. Pengalaman
Pengetahuan dapat diperoleh dari pengalaman baik dari pengalaman pribadi
maupun dari pengalaman orang lain. Pengalaman ini merupakan suatu cara untuk
memperoleh kebenaran suatu pengetahuan.
6. Akses layanan kesehatan atau fasilitas kesehatan
Mudah atau sulitnya dalam mengakses layanan kesehatan tentunya akan

56

berpengaruh terhadap pengetahuan khususnya dalam hal kesehatan.


2.3 Teori Pembuangan Air Besar
2.3.1 Konsep Kotoran Manusia (Tinja)
Pembuangan air besar atau pembuangan kotoran manusia adalah upaya membuang air
besar atau kotoran manusia. Yang dimaksud dengan kotoran manusia adalah semua
benda atau zat yang tidak dipakai lagi oleh tubuh dan yang harus dikeluarkan dari
dalam tubuh. Zat tersebut bisa berbentuk tinja (feces), air seni (urine), dan CO2.
Khusus pembuangan tinja dan urine memerlukan tempat khusus untuk pembuangan
yang disebut jamban atau kakus (latrine). (Notoatmodjo, 2007 : 180)
2.3.2 Peran Tinja dalam Penularan Penyakit
Dilihat dari kesehatan masyarakat, masalah pembuangan kotora manusia merupakan
masalah yang pokok untuk sedini mungkin diatasi. Hal inikarena kotoran manusia
(feces) adalah sumber penyebaran penyakit yangmultikompleks. Hal ini dapat
diilustrasikan seperti gambar berikut:
Gambar 2.1 Penyebaran Penyakit Bersumber Feses

Sumber : Soedjono, 2009


Berdasarkan gambar tersebut tampak jelas bahwa peranan tinja dalam penyebaran
penyakit sangat besar. Disamping dapat langsung mengkontaminasi makanan,
minuman, sayuran, dan sebagainya, juga air, tanah, serangga (lalat, kecoa, dan
sebagainya) dan bagian tubuh kita dapat terkontaminasi oleh tinja tersebut.

57

Beberapa penyakit yang dapat disebarkan oleh tinja manusia antara lain tifus,
disentri, diare, kolera, bermacam-macam cacing (gelang, kremi, tambang, pita),
skistosomiasis dan sebagainya.
2.3.3 Pengelolaan Pembuangan Kotoran
Pembuangan kotoran manusia atau pembuang air besar adalah akvititas pembuangan
kotoran dari manusia. Pembuangan kotoran idealnya dilakukan di jamban atau jamban
keluarga. Banyak jenis jamban sebagai fasilitas buang air besar meliputi jamban leher
angsa, plengsengan yang dilengkapi dengan penutup dan jamban cemplung yang
sebaiknya juga dilengkapi dengan penutup.
Pembuangan air besar di pedesaan pada umumnya dilakukan secara :
a. Langsung dibuang di permukaan tanah (di pekarangan, kebun dan sebagainya).
b. Di dalam tanah pada lubang galian yang sengaja dibangun untuk keperluan tersebut
(Dainur, 2003 : 35).
2.4 Jamban
2.4.1 Definisi Jamban
Pembuangan kotoran pada lubang galian dikenal dengan sebutan jamban. Jamban atau
jamban keluarga adalah suatu bangunan yang dipergunakan untuk membuang tinja atau
kotoran manusia atau najis bagi suatu keluarga yang lazim disebut kakus atau WC.
2.4.2 Jenis-Jenis Jamban
Pada prinsipnya bangunan jamban dibagi menjadi 3 bagian utama, bangunan
bagian atas (rumah jamban), bangunan bagian tengah (slab atau dudukan jamban),
serta bangunan bagian bawah (penampung tinja).
1.

Rumah Jamban (bangunan bagian atas)


Bangunan bagian atas bangunan jamban terdiri dari atap, rangka dan dinding.
Dalam prakteknya disesuaikan dengan kondisi masyarakat setempat. Beberapa
pertimbangan pada bagian ini antara lain :
a) Sirkulasi udara yang cukup.
b) Bangunan mampu menghindarkan pengguna terlihat dari luar.
c) Bangunan dapat meminimalkan gangguan cuaca (baik musim panas

58

maupun musim hujan).


d) Kemudahan akses di malam hari.
e) Disarankan untuk menggunakan bahan lokal.
f) Ketersediaan fasilitas penampungan air dan tempat sabun untuk cuci
tangan.
2. Slab atau Dudukan Jamban (Bangunan Bagian Tengah)
Gambar 2.2 Dudukan Jamban

Sumber : Pustu Muara Tahun 2014


Slab berfungsi sebagai penutup sumur tinja dan dilengkapi dengan tempat
berpijak. Pada jamban cemplung slab dilengkapi dengan penutup, sedangkan pada
kondisi jamban berbentuk bowl (leher angsa) fungsi penutup ini digantikan oleh
keberadaan air yang secara otomatis tertinggal di didalamnya. Slab dibuat dari
bahan yang cukup kuat untuk menopang penggunanya. Bahan-bahan yang
digunakan harus tahan lama dan mudah dibersihkan seperti kayu, beton, bambu
dengan tanah liat, pasangan bata, dan sebagainya. Selain slab, pada bagian ini juga
dilengkapi dengan abu atau air. Penaburan sedikit abu ke dalam sumur tinja setelah
digunakan akan mengurangi bau dan kelembaban, dan membuatnya tidak menarik
bagi lalat untuk berkembang biak. Sedangkan air dan sabun digunakan untuk cuci
tangan. Pertimbangan untuk bangunan bagian tengah.

59

5. Terdapat penutup pada lubang sebagi pelindung terhadap gangguan serangga


atau binatang lain.
6. Dudukan

jamban

dibuat

harus

mempertimbangkan

faktor

keamanan

(menghindari licin, runtuh, atau terperosok).


7. Bangunan dapat menghindarkan/melindungi dari kemungkinan timbulnya bau.
8. Mudah dibersihkan dan tersedia ventilasi udara yang cukup.
3. Penampung tinja (bangunan bagian bawah)
Penampung tinja adalah lubang di bawah tanah, dapat berbentuk persegi,
lingkaran, bundar atau yang lainnya. Kedalaman tergantung pada kondisi tanah dan
permukaan air tanah di musim hujan. Pada tanah yang kurang stabil, penampung
tinja harus dilapisi seluruhnya atau sebagian dengan bahan penguatseperti anyaman
bambu, batu bata, ring beton, dan lain lain. Pertimbangan untuk bangunan bagian
bawah antara lain :
a. Daya resap tanah (jenis tanah)
b. Kepadatan penduduk (ketersediaan lahan)
c. Ketinggian muka air tanah
d. Jenis bangunan, jarak bangunan dan kemiringan letak bangunan terhadap
sumber air
minum (lebih baik diatas 10 m)
e. Umur pakai (kemungkinan pengurasan, kedalaman lubang/kapasitas)
f. Diutamakan dapat menggunakan bahan lokal.
g. Bangunan yang permanen dilengkapi dengan manhole.
Teknologi pembuangan kotoran manusia atau jamban di pedesaan sudah tentu
berbeda dengan perkotaan. Tipe jamban sesuai dengan teknologi pedesaan antara
lain jamban cemplung atau kakus (pit latrine), jamban cemplung berventilasi
(ventilasi improved pit latrine), jamban empang atau kakus kolam

(fishpond

latrine), jamban pupuk (the compost privy), dan septick tank (Notoatmodjo, 2005 :
182). Jenis jamban antara lain jamban sistem cemplung atau galian, jamban sistem
leher angsa, jamban septik tank ganda.

60

Jenis-jenis jamban
a. Jamban cemplung atau kakus (pit latrine)
Jamban cemplung atau cubluk adalah galian yang berfungsi sebagai
penampung, pengolahan sekaligus peresapan. Berdasarkan jumlahnya, cubluk
terdiri atas cubluk tunggal (satu buah cubluk) dan cubluk kembar (dua buah
cubluk).
Cubluk merupakan galian yang berfungsi sebagai penampung, pengolahan
sekaligus peresapan. Cubluk tunggal harus disertai pengurasan sedangkan cubluk
ganda dapat digunakan secara bergantian sehingga dalam waktu tertentu secara
tidak langsung tinja akan berubah menjadi kompos.
Syarat kakus cemplung adalah tidak boleh terlalu dalam. Dalam pit latrine
antara 1,5 - 3 meter saja. Sesuai dengan daerah pedesaan maka rumahkakus dapat
dibuat dari bambu, dan atap daun kelapa ataupun daun padi. Jarakdari sumber air
minum sekurang-kurangnya 15 meter.

Gambar 2.3 Jamban Cemplung atau Kakus (Pit Latrine)

Sumber : Notoatmodjo Tahun 2005


b. Jamban cemplung berventilasi (ventilasi improved pit latrine)
Jamban ini memiliki persyaratan sama dengan jamban cemplung, bedanya
lebih lengkap, yakni menggunakan ventilasi pipa.

61

Gambar 2.4 Jamban Cemplung Berventilasi (Ventilasi Improved Pit Latrine)

Sumber : Notoatmodjo Tahun 2005


c. Jamban empang (fishpond latrine)
Tidak ada persyaratan khusus, karena jamban ini dibangun di atas empang
ikan. Dalam sistem jamban empang ini disebut daur ulang (recycling), yakni tinja
dapat langsung dimakan ikan, ikan dimakan orang, dan selanjutnya orang
mengeluarkan tinja yang dimakan demikian seterusnya. Jadi mempunyai fungsi
mencegah tercemarnya lingkungan oleh tinja.
Gambar 2.5 Jamban Empang (Fishpond Latrine)

Sumber : Notoatmodjo Tahun 2005


d. Jamban pupuk (the compost privy)
Pada prinsipnya jamban ini sama dengan kakus cemplung, hanya lebih dangkal
galiannya. Disamping itu jamban ini juga untuk membuang kotoran binatang dan
sampah, daun-daunan. Prosedurnya adalah :
1) Mula-mula membuat jamban cemplung biasa.

62

2) Dilapisan bawah sendiri ditaruh sampah daun-daunan.


3) Di atasnya ditaruh kotoran dan kotoran binatang (kalau ada) setiap hari.
4) Setelah 20 inchi, ditutup lagi dengan daun-daunan sampah, selanjutnya
ditaruh kotoran lagi.
5) Demikian selanjutnya sampai penuh.
Gambar 2.6 Jamban Pupuk (The Compost Privy)

Sumber : Notoatmodjo Tahun 2005

e. Septicktank
Jamban septic tank adalah suatu ruangan kedap air atau beberapa
kompartemen yang berfungsi menampung/mengolah air limbah rumah tangga
dengan proses pengendapan dan penguraian tinja oleh bakteri.
Latrine jenis septic tank ini merupakan cara yang paling memenuhi
persyaratan. Oleh sebab itu cara pembuangan tinja semacam ini yang paling
dianjurkan. Septic tank terdiri dari tangki sedimentasi yang kedap air, dimana
tinja dan air pembuangan masuk dan mengalami dekomposisi

Gambar 2.7 Jamban Septic Tank

63

Sumber : Notoatmodjo Tahun 2005


Jenis jamban yang ada di daerah pedesaan di Indonesia dapat digolongkan menjadi dua
macam, yaitu (Depkes RI, 1983):
1. Jenis tanpa leher angsa
Jamban jenis ini mempunyai beberapa cara pembuangan kotoran, yaitu:
a. Bila kotoran di buang ke tanah disebet jamban cemplung
b. Bila kotoran di buang ke empang disebut jamban empang
c. Bila kotoran di buang ke sungai disebut jamban sungai
d. Bila kotoran di buang ke laut disebut jamban laut
2. Jenis dengan leher angsa
Jenis jamban ini mempunyai dua cara pembuangan kotoran, yaitu :
a. Tempat jongkok leher angsa berada langsung di atas galian penampungan
kotoran.
b. Tempat jongkok tidak berada langsung di atas lubang galian penampung
kotoran.
2.4.3 Jamban Keluarga
Jamban keluarga (JAGA) adalah suatu bangunan yang digunakan untuk membuang
dan mengumpulkan kotoran/najis manuasia yang lazim disebut kakus atau WC.
2.4.4 Syarat Jamban Sehat
Kementerian Kesehatan telah menetapkan syarat dalam membuat jamban sehat. Ada
tujuh kriteria yang harus diperhatikan. Berikut syarat-syarat tersebut:
1. Tidak mencemari air
1. Saat menggali tanah untuk lubang kotoran, usahakan agar dasar lubang kotoran
tidak mencapai permukaan air tanah maksimum. Jika keadaan terpaksa, dinding
dan dasar lubang kotoran harus dipadatkan dengan tanah liat atau diplester.

64

2. Jarang lubang kotoran ke sumur sekurang-kurangnya 10 meter.


3. Letak lubang kotoran lebih rendah daripada letak sumur agar air kotor dari
lubang kotoran tidak merembes dan mencemari sumur.
4. Tidak membuang air kotor dan buangan air besar ke dalam selokan, empang,
danau, sungai, dan laut.
2. Tidak mencemari tanah permukaan
a. Tidak buang besar di sembarang tempat, seperti kebun, pekarangan, dekat
sungai, dekat mata air, atau pinggir jalan.
b. Jamban yang sudah penuh agar segera disedot untuk dikuras kotorannya, atau
dikuras, kemudian kotoran ditimbun di lubang galian.
3. Bebas dari serangga
a. Jika menggunakan bak air atau penampungan air, sebaiknya dikuras setiap
minggu. Hal ini penting untuk mencegah bersarangnya nyamuk demam berdarah.
b. Ruangan dalam jamban harus terang. Bangunan yang gelap dapat menjadi
sarang nyamuk.
c. Lantai jamban diplester rapat agar tidak terdapat celah-celah yang bisa menjadi
sarang kecoa atau serangga lainnya.
d. Lantai jamban harus selalu bersih dan kering.
5. Lubang jamban, khususnya jamban cemplung, harus tertutup.
4. Tidak menimbulkan bau dan nyaman digunakan
a. Jika menggunakan jamban cemplung, lubang jamban harus ditutup setiap
selesai digunakan.
b. Jika menggunakan jamban leher angsa, permukaan leher angsa harus tertutup
rapat oleh air.
c. Lubang buangan kotoran sebaiknya dilengkapi dengan pipa ventilasi untuk
membuang bau dari dalam lubang kotoran.
d. Lantan jamban harus kedap air dan permukaan bowl licin. Pembersihan harus
dilakukan secara periodik.
5. Aman digunakan oleh pemakainya
Pada tanah yang mudah longsor, perlu ada penguat pada dinding lubang
kotoran dengan pasangan batau atau selongsong anyaman bambu atau bahan penguat
lai yang terdapat di daerah setempat.
6. Mudah dibersihkan dan tak menimbulkan gangguan bagi pemakainya
a. Lantai jamban rata dan miring ke arah saluran lubang kotoran.

65

b. Jangan membuang plastik, puntung rokok, atau benda lain ke saluran kotoran
karena dapat menyumbat saluran.
c. Jangan mengalirkan air cucian ke saluran atau lubang kotoran karena jamban akan
cepat penuh.
d. Hindarkan cara penyambungan aliran dengan sudut mati. Gunakan pipa
berdiameter minimal empat inci. Letakkan pipa dengan kemiringan minimal 2:100.
7. Tidak menimbulkan pandangan yang kurang sopan
a. Jamban harus berdinding dan berpintu.
b.Dianjurkan agar bangunan jamban beratap sehingga pemakainya terhindar dari
kehujanan dan kepanasan.
Dalam penetuan letak kakus ada dua hal yang perlu diperhatikan yaitu jarak terhadap
sumber air dan kakus. Penentuan jarak tergantung pada:
1. Keadaan daerah datar atau lereng.
2. Keadaan permukaan air tanah dangkal atau dalam.
3. Sifat, macam dan susunan tanah berpori atau padat, pasir, tanah liat atau kapur.
Faktor tersebut di atas merupakan faktor yang mempengaruhi daya peresapan tanah.
Di Indonesia pada umumnya jarak yang berlaku antara sumber air dan lokasi jamban
berkisar antara delapan sampai dengan 15 meter atau rata-rata 10 meter. Dalam
penentuan letak jamban ada tiga hal yang perlu diperhatikan:
g. Bila daerahnya berlereng, kakus atau jamban harus dibuat di sebelah bawah dari
letak sumber air. Andaikata tidak mungkin dan terpaksa di atasnya, maka jarak
tidak boleh kurang dari 15 meter dan letak harus agak ke kanan atau kekiri dari
letak sumur.
h. Bila daerahnya datar, kakus sedapat mungkin harus di luar lokasi yang sering
digenangi banjir. Andaikata tidak mungkin, maka hendaknya lantai jamban (diatas
lubang) dibuat lebih tinggidari permukaan air yang tertinggi pada waktu banjir.
i.

Mudah dan tidaknya memperoleh air.

2.4.5 Manfaat Jamban


Membangun dan menggunakan jamban memberikan manfaat berikut :
e. Peningkatan martabat dan privacy
f.

Lingkungan yang lebih bersih.

g. Bau berkurang, sanitasi dan kesehatan meningkat.


h. Keselamatan lebih baik (tidak perlu pergi ke ladang di malam hari).

66

i.

Menghemat waktu dan uang, dan menghasilkan kompos untuk kebun sayur atau
sawah

j.

Memutus siklus penyebaran penyakit yang terkait dengan sanitasi.

2.4.6 Pemeliharaan Jamban


Jamban sebagai sarana pembuangan kotoran manusia (tinja) perlu di pelihara dengan
baik. Beberapa kegiatan yang dianjurkan dalam pemeliharaan sarana pembuangan tinja
adalah sebagai berikut:
1. Pembersihan halaman di sekitar rumah jamban dari sampah dan tumbuhan rumput
atau semak yang tidak di kehendaki.
2. Pembersihan lantai, dinding, dan atap rumah jamban secara teratur, minimal satu
minggu sekali dari lumut, debu, tanah atau sarang laba-laba.
3. Penyiraman tinja pada lubang pemasukan tinja atau leher angsa setiap selesai
penggunaan.
4. Pemantauan isi lubang pada jamban cubluk, jamban air, jamban bor, dan jamban
kompos secara berkala terutama pada akhir periode pemakaian direncanakan.
5. Pemantauan isi tangki pembusukan secara berkala (tiap 12-18 bulan pada tangki
pembusukan rumah tangga dan tiap enam bulan pada tangki pembusukan sekolah dan
kantor pelayanan umum) untuk menjaga efisiensi kerjanya. Lakukan pengurasan bila
kedalaman busa serta lumpur sudah melebihi batas yang di persyaratkan.
6. Hindarkan pemasukan sampah padat yang sukar atau tidak bias diuraikan (kain
bekas, pembalut, logam, gelas dan sebagainya) dan kimia yang beracun bagi bakteri
(karbol, lisol, formalin dan sebagainya) ke dalam lubang jamban atau tangki
pembusukan.
2.4.7 Dampak dari tidak adanya jamban sehat
Apabila masyarakat buang air besar tidak pada tempatnya ataupun sudah di jamban
namun jambannya tidak memenuhi kriteria sehat akan banyak penyakit yang
ditimbulkan karena salah dalam mengelola kotoran manusia. Contoh beberapa penyakit
yang dapat disebarkan oleh tinja manusia antara lain: tifus, disentri, kolera, bermacammacam cacing (gelang, kremi, tambang, pita) schistosomiasis, dan sebagainya.
( Notoatmodjo, 2003 )
2.4.8 Persyaratan Pembuangan Tinja

67

Menurut Kumoro (1998),terdapat beberapa bagian sanitasi pembuangan tinja,antara


lain :
a. Rumah Kakus : Berfungsi sebagai tempat berlindung dari lingkungan sekitar, harus
memenuhi syarat ditinjau dari segi kenyamanan maupun estetika. Konstruksi
disesuaikan dengan keadaan tingkat ekonomi rumah tangga.
b. Lantai Kakus : Berfungsi sebagai sarana penahan atau tempat pemakai yang sifatnya
harus baik, kuat dan mudah dibersihkan serta tidak menyerap air. Konstruksinya juga
disesuaikan dengan bentuk rumah kakus.
c. Tempat duduk Kakus : Fungsi tempat duduk kakus merupakan tempat penampungan
tinja , harus kuat, mudah dibersihkan, berbentuk leher angsa atau memakai tutup yang
mudah diangkat.
d. Kecukupan air bersih : Jamban hendakla disiram minimal 4 5 gayung, bertujuan
menghindari penyebaran bau tinja dan menjaga kondsi jamban tetap bersih. Juga aga
menghindari kotoran tidak dihinggapi serangga sehingga dapat mencegah penularan
penyakit.
e. Tempat penampungan tinja : rangkaian dari sarana pembuangan tinja yang berfungsi
sebagai tempat mengumpulkan kotoran atau tinja. Konstruksi lubang harus kedap air
dapat terbuat dari pasangan batu bata dan semen, sehingga menghindari pencemaran
lingkungan.
f. Saluran Peresapan : merupakan sarana terakhir dari suatu sistem pembuangan tinja
yang lengkap, berfungsi mengalirkan dan meresapka cairan yan bercampur tinja.

2.5 Kerangka Teori


Teori yang digunakan berdasarkan determinan pengetahuan, yang berpengaruh dalam
terbentuknya suatu tindakan,sikap dan kebiasaan pada keluarga binaan . Terutama dalam
hal pengetahuan tentang jambann sehat . Teori pengetahuan ini diambil berdasarkan teori
dari Notoadmojo, pengetahuan yang telah dimiliki seseorang dipengaruhi oleh faktorfaktor sebagai berikut:
1. Pendidikan

68

Tingkat pendidikan seseorang akan berpengaruh dalam memberi respon yang datang
dari luar. Orang yang berpendidikan tinggi akan memberi respon yang rasional
terhadap informasi yang datang dan akan berfikir sejauh mana keuntungan yang
mungkin akan mereka peroleh dari gagasan tersebut. Ibu hamil yang berpendidikan,
tentu akan banyak memberi perubahan terhadap apa yang mereka lakukan dimasa
lalu.
2. Paparan media masa
Melalui berbagai media baik cetak maupun elektronik, berbagai informasi dapat
diterima oleh masyarakat sehingga seseorang yang lebih sering mendengar atau
melihat media masa (TV, radio, majalah, pamphlet,dan lain-lain) akan memperoleh
informasi yang lebih banyak dibanding dengan orang yang tidak pernah mendapat
informasi media. Ini berarti informasi media masa mempengaruhi tingkat
pengetahuan yang dimiliki oleh seseorang.
3. Ekonomi
Dalam memenuhi kebutuhan primer maupun kebutuhan sekunder, keluarga dalam
status ekonomi baik lebih mudah tercukupi dibanding keluarga dengan status
ekonomi rendah. Hal ini akan mempengaruhi kebutuhan akan informasi yang
termasuk kebutuhan sekunder.
4. Lingkungan sosisal-ekonomi
Manusia adalah mahluk social,dimana dalam kehidupan saling berinteraksi antara
satu dengan yang lain. Individu yang dapat berinteraksi secara kontinyu akan lebih
besar terpapar informasi. Sementara faktor hubungan social juga mempengaruhi
kemampuan individu sebagai komunikasi untuk menerima pesan menurut model
komunikasi media.
5. Pengalaman
Pengetahuan dapat diperoleh dari pengalaman baik dari pengalaman pribadi maupun
dari pengalaman orang lain. Pengalaman ini merupakan suatu cara untuk
memperoleh kebenaran suatu pengetahuan.
6. Akses layanan kesehatan atau fasilitas kesehatan
Mudah atau sulitnya dalam mengakses layanan kesehatan tentunya akan berpengaruh
terhadap pengetahuan khususnya dalam hal kesehatan.

69

Gambar 2.8 Kerangka Teori Menurut Notoadmojo (2007)

Ekonomi

Lingkunga
n Sosial
Ekonomi
Paparan
Media
Massa atau
Informasi

Pendidikan

Pengalama
n

Pengetahu
an

Akses
Layanan
Kesehatan
atau
Fasilitas
Kesehatan

2.6 Kerangka Konsep


Berdasarkan teori sebelumnya, dapat dibuat suatu kerangka konsep yang
berhubungan dengan area permasalahan yang terjadi pada keluarga binaan RT 08/RW 03
Kampung Gaga, Desa Tanjung Pasir, Kecamatan Teluk Naga, Kabupaten Tangerang,
Provinsi Banten. Kerangka konsep ini terdiri dari variabel independen dari kerangka teori
yang dihubungkan dengan area permasalahan.

Gambar 2.9 Modifikasi Kerangka Konsep Menurut Notoadmojo (2007)

70

Ekonomi

Lingkunga
n Sosial
Ekonomi
Paparan
Media
Massa atau
Informasi

Pendidikan

Akses
Layanan
Kesehatan
atau
Fasilitas
Kesehatan

Pengetahu
an

Pengalama
n

2.7 Definisi Operasional


Untuk membatasi ruang lingkup atau pengertian variabel-variabel yang diamati atau
diteliti, variabel tersebut diberi batasan atau definisi operasional. Definisi operasional
adalah definisi yang didasarkan atas sifat-sifat variabel yang diamati. Definisi operasional
mencakup hal-hal penting dalam penelitian yang memerlukan penjelasan. Definisi
operasional bersifat spesifik, rinci, tegas dan pasti yang menggambarkan karakteristik
variabel-variabel penelitian dan hal-hal yang dianggap penting. Definisi operasional juga
bermanfaat untuk mengarahkan kepada pengukuran atau pengamanan terhadap variabelvariabel yang bersangkutan serta mengembangkan instrumen (alat ukur) (Notoatmodjo,
2006). Adapun definisi operasional dalam penelitian ini sebagai berikut:
Tabel
NO
1

VARIABEL
Pengetahuan

2.1 Definisi Operasional tiap variabel penelitian

DEFINISI
ALAT
Informasi atau segala Kuesioner
sesuatu
diketahui

yang

harus

responden

CARA
Wawancara

HASIL
SKALA
Baik : 16 - Ordianal
11
Cukup : 6-

mengenai jamban adalah

10

fasilitas

Kurang

pembuangan

kotoran manusia. Kriteria

0-5

71

jamban

sehat

adalah

tidak mencemari sumber


air minum (jarak yang
baikantara

lubang

penampungan

jamban

dan sumber air minum


10 m), tidak mencemari
tanah, mudah dibersihkan
dan

aman

digunakan,

penerangan dan ventilasi


cukup, dan tersedia air
serta

alat

Penyakit

pembersih.
yang

dapat

ditimbulkan akibat buang


air besar sembarangan,
yakni

diare,

kolera,

disentri, cacingan, dan


penyakit

kulit.

memelihara
sehat,

Cara
jamban
yaitu

membersihkan
satu

kali

seminggu,

jamban
dalam
menyiram

tinja tiap selesai buang


air besar, membersihkan
halaman di sekitar rumah
jamban
serta

dari

sampah,

apabila

terdapat

kerusakan

segera

diperbaiki. Penting atau


tidaknya
2

Pengalaman

memiliki

jamban sehat dirumah


Segala sesuatu baik yang Kuesioner
dilihat,

dilakukan

Wawancara

Baik : 5-6

Ordinal

Cukup : 3-

72

ataupun yang didengar

mengenai jamban, yaitu :

Kurang: 0-

kebiasaan

baik

turun-

temurun bahkan hingga


saat

ini

dalam

menggunakan

empang

atau tanah sebagai tempat


buang air besar sebelum
dan
3

Pendidikan

sesudah

jamban.
Jenjang

adanya

pendidikan Kuesioner

formal

terakhir

dijalani

oleh

Wawancara

yang

Tinggi

= Ordinal

Perguruan

keluarga

Tinggi

binaan.

Menengah
= SMP SMA
Rendah =
Tidak
Sekolah

Ekonomi

Kemampuan

Kuisioner

Wawancara

SD
Baik : Ordinal

menyediakan biaya untuk

Rp.

pengadaan

2.400.000,

dan

pengelolaan
sehat

jamban

dilihat

penghasilan
responden

dari

Cukup

rata-rata

Rp.

berdasarkan

2.400.000,

Upah Minimum Regional

Kota Tangerang .

Kurang

<2.400.00
0
5

Lingkungan

Ada tidaknya komunikasi Kuesioner

Sosial

dan kerjasama keluarga

Wawancara

Baik : 5-6

Ordinal

Cukup : 3-

73

Ekonomi

binaan dengan tetangga

dan

masyarakat

Kurang

mendukung

0-2

tokoh

untuk
ketersediaan

jamban

sehat seperti tersedianya


jamban sehat di rumah
warga sekitar, di mana
warga sekitar buang air
besar, tersedia jamban
umum

sehat

di

lingkungan rumah dan


bagaimana
6

Paparan

cara

membersihkannya.
Ada tidaknya sarana Kuesioner

Wawancara

Media Massa yang digunakan untuk


atau

medapatkan

Informasi

tentang jamban sehat di

Ada

Nominal

Tidak Ada

informasi

keluarga binaan baik dari


media cetak, elektronik
atau
7

penyuluhan

dari

Akses

tenaga kesehatan.
Peran dan pemerintah Kuesioner

Layanan

dan atau tenaga kerja di

Kesehatan

bidang kesehatan yang

Wawancara

Ada

Nominal

Tidak Ada

atau Fasilitas bertugas meninjau dan


Kesehatan

memberikan

informasi

kepada

masyarakat

tentang

pentingnya

sekitar jamban sehat

BAB III
METODE
Tujuan umum dari pengumpulan data adalah untuk memecahkan masalah, langkah langkah yang ditempuh harus relevan dengan masalah yang telah ditetapkan sebelumnya.

74

Dalam setiap melaksanakan langkah tersebut harus dilakukan secara objektif dan rasional.
3.1 Populasi Pengumpulan Data
Dalam kegiatan baik yang bersifat ilmiah maupun yang bersifat sosial, perlu
dilakukan pembatasan populasi dan cara pengambilan sampel. Populasi adalah
keseluruhan objek pengumpulan data. Dalam hal ini yang menjadi populasi adalah
keluarga di Kampung Gaga, Desa Tanjung Pasir, Kecamatan Teluk Naga, Kabupaten
Tangerang, Provinsi Banten periode 9 Juni 2014 sampai dengan 21 Juni 2014.
3.2 Sampel Pengumpulan Data
Sampel adalah sebagian atau wakil populasi yang diteliti. Dalam hal ini yang
menjadi sampel adalah keenam keluarga binaan yang terletak di RT 08/ RW 03,
Kampung Gaga, Desa Tanjung Pasir, Kecamatan Teluk Naga, Kabupaten Tangerang,
Provinsi Banten.
3.3 Responden Pengumpulan Data
Responden merupakan perwakilan dari setiap anggota keluarga binaan yang
berjumlah dua puluh empat orang yang termasuk ke dalam kriteria penelitian yaitu
berusia 19 tahun dan kooperatif saat seluruh kegiatan penelitian berlangsung.
Faktor faktor Inklusi dan Eksklusi
Kriteria inklusi dalam laporan ini adalah:

Rumah tangga yang memiliki jambantidak sehat di RT 08/RW 03 Kampung


Gaga, Desa Tanjung Pasir, Kecamatan Teluk Naga, Kabupaten Tangerang,
Provinsi Banten.

Responden yang berkenan diwawancarai dan mengisi kuesioner.

Kriteria ekslusi dalam laporan ini adalah

Rumah tangga yang memanfaatkan jamban sehat.


Rumah tangga yang tidak memililki jamban.
Responden yang tidak berkenan diwawancarai dan mengisi kuesioner.
Responden yang berusia <19 tahun.

75

3.4

Jenis dan Sumber Data

3.4.1 Jenis data


a. Data Kualitatif
b. Data kualitatif adalah data yang berbentuk kata, kalimat dan gambar, serta tidak dapat
diukur dalam skala numerik. Data ini biasanya menjelaskan karakteristik atau sifat.
Data kualitatif diperoleh melalui berbagai cara pengumpulan data misalnya wawancara,
analisis, observasi yang telah dituangkan dalam catatan lapangan (transkrip). Data
kualitatif yang didapatkan yaitu melalui wawancara dengan keluarga binaan serta kader
dan petugas puskesmas.
c. Data Kuantitatif
Data kuantitatif adalah data yang berbentuk angka atau bilangan. Sesuai dengan
bentuknya, data kuantitatif dapat diolah atau dianalisis menggunakan teknik
perhitungan matematika atau statistika. Data kuantitatif yang didapatkan yaitu data
puskesmas tentang angka kejadian penyakit tersering, dan ketersediaan jamban di Desa
Tanjung Pasir. Berdasarkan proses atau cara untuk mendapatkannya, data kuantitatif
dapat dikelompokkan dalam dua bentuk, yaitu:
1

Data diskrit adalah data dalam bentuk angka (bilangan) yang diperoleh dengan
cara membilang. Contoh data diskrit misalnya: jumlah perempuan dan laki-laki,
jumlah orang yang menyelesaikan pendidikan terakhir. Karena diperoleh dengan
cara membilang, data diskrit akan berbentuk bilangan bulat (bukan bilangan

pecahan).
Data kontinyu adalah data dalam bentuk angka atau bilangan yang diperoleh
berdasarkan hasil pengukuran. Data kontinum dapat berbentuk bilangan pecahan,
contohnya adalah umur.

1.4.2

Sumber Data
Sumber data dalam pengumpulan data ini berasal dari responden yang merupakan enam
keluarga binaan di Kampung Gaga, Desa Tanjung Pasir, Kecamatan Teluk Naga,
Kabupaten Tangerang, Provinsi Banten.
a. Data primer

76

Data primer adalah data yang dibuat oleh peneliti untuk maksud khusus
menyelesaikan permasalahan yang sedang ditanganinya. Data dikumpulkan sendiri oleh
peneliti langsung dari sumber pertama atau tempat objek peneliti dilakukan yakni data
yang langsung didapatkan dari hasil kuesioner pengetahuan mengenai jamban sehat
kepada responden di Kampung Gaga, Desa Tanjung Pasir, Teluk Naga melalui
wawancara terpimpin dan observasi, didapatkan hasil pengetahuan yang kurang pada
responden mengenai jamban sehat yaitu sebanyak 94.5% (data terlampir di bab 4) .
b. Data sekunder
Data yang didapat bersumber dari data yang sudah ada di Puskesmas Tegal
Angus, berupa data ketersediaan jamban di seluruh Desa Tanjung Pasirpada tahun 2012
dan data sepuluh besar penyakit. (data terlampir di bab 1).
c. Data tersier
Data yang didapat dari buku dan internet mengenai teori pengetahuan
Notoatmojo (data terlampir di bab 2).
1.5

Penentuan Instrumen Pengumpulan Data


Instrumen pengumpulan data adalah alat bantu yang dipilih dan
digunakan oleh peneliti dalam kegiatan mengumpulkan data agar kegiatan tersebut
menjadi sistematis dan mudah.
Instrumen sebagai alat bantu dalam metode pengumpulan data merupakan
sarana yang dapat diwujudkan berupa benda atau alat, seperti cek list, kuesioner,
perangkat tes, pedoman wawancara, pedoman observasi, skala, kamera foto dan
sebagainya.Instrumen yang dipakai untuk mengumpulkan data pada penelitian ini
adalah kuesioner.

1.6

Pengumpulan Data
Pengumpulan data merupakan bagian terpenting dalam suatu langkah-langkah
diagnosis komunitas. Untuk mendapatkan data yang diperlukan, maka digunakan
beberapa metode dalam proses pengumpulan data.
Metode yang dipakai dalam mengumpulkan data pada penelitian ini adalah
wawancara

dengan

menggunakan

instrumen

kuesioner

sebagai

alat

untuk

mengumpulkan data-data.
Tabel 3.1 Daftar Kegiatan Pengumpulan Data Pada Keluarga Binaan RT 08/RW

77

03 Kampung Gaga, Desa Tanjung Pasir, Kecamatn Teluk Naga, Kabupaten Tangerang,
Provinsi Banten. Periode2 Juni 2014-26 Juli 2014
Tanggal
Selasa

Kegiatan
Perkenalan ke kader dan perkenalan serta sambung

9 Juni 2014

rasa dengan kepala keluarga dan anggota keluarga


binaan.

Rabu

Pengumpulan data dasar masing - masing keluarga

10 Juni 2014

binaan serta melakukan observasi rumah keluarga


binaan dan pre survey. Pengumpulan data dari
Puskesmas Tegal Angus yang berhubungan dengan
beberapa masalah yang ditemukan pada keluarga

Kamis

binaan.
Pengumpulan data lanjutan masing masing

11 Juni 2014

keluarga binaan serta melakukan dokumentasi pada

Jumat

keluarga binaan.
Diskusi tentang penetapan judul dan area masalah

12 Juni 2014

yang akan dibahas.

Senin

Melakukan kegiatanmembagikan kuesioner kepada

16juni 2014

responden.
Mengolah data primer yang didapatkan dari
keluarga binaan.

Selasa

Pengumpulan data hasil pengisian kuesioner


Pengolahan data kuesioner.

17 Juni 2014

Analisis data.
Mengolah

data

sekunder

yang

didapat

dari

Puskesmas Tegal Angus.


3.7

Pengolahan Data dan Analisis Data


Untuk pengolahan data tentang Pengetahuan mengenai jamban sehat
di desa Tanjung Pasir RT 08/RW 03 Kecamatan Teluk Naga, Kabupaten Tangerang
Provinsi Banten Tahun 2014digunakan cara manual dan bantuan software pengolahan
data menggunakan Microsoft Word dan Microsoft Excel. Untuk menganalisis data-data
yang sudah didapat adalah dengan menggunakan analisis univariat.
Analisisunivariat adalah analisis yang dilakukan untuk mengenali setiap

78

variabel dari hasil penelitian. Analisis univariat berfungsi untuk meringkas kumpulan
data sedemikian rupa sehingga kumpulan data tersebut berubah menjadi informasi yang
berguna. Peringkasan tersebut dapat berupa ukuran statistik, tabel, grafik.
Pada diagnosis dan intervensi komunitas ini, variabel independen yang diukur
adalah :
1. Pengalaman
2. Pendidikan
3. Paparan Media Massa atau Informasi
4. Ekonomi
5. Lingkungan Sosial Ekonomi
6. Akses layanan kesehatan atau fasilitas kesehatan

79

BAB IV
ANALISIS HASIL
4.1 Karakteristik Keluarga Binaan
Hasil analisis ini disajikan melalui bentuk diagram yang diambil dari data
karakteristik yang terdiri dari delapan belas responden yang termasuk dalam ketujuh
keluarga binaan di Kampung Gaga RT 08/RW 03, Desa Tanjung Pasir, Kecamatan
Teluk Naga, Kabupaten Tangerang, Provinsi Banten yakni: keluarga Tn. Karniing, Tn.
Sulaiman, Tn. Yatmin, Tn, Darhi, Tn. Iba, dan Ny. Napsa
Grafik 4.1 Distribusi Frekuensi Usia Pada Keluarga Binaan di RT 08/RW 03,
Desa Tanjung Pasir, Juni - Juli2014

Distribusi Frekuensi Umur


50.00%
45.00%

43.48%

40.00%
35.00%

30.44%

30.00%

26.08%

Distribusi Frekuensi Umur

25.00%
20.00%
15.00%
10.00%
5.00%
0.00%
19 tahun

20 - 34tahun

35- 50 tahun

Kuesioner Juni 2014


Berdasarkan grafik 4.1 tentang frekuensi berdasarkan usia pada keluarga binaan
didapatkan jumlah anggota keluarga terbanyak adalah yang berusia <19 tahun yaitu
43.48%.

80

Diagram 4.1 Distribusi Frekuensi Tingkat Pendidikan Pada Keluarga Binaan di


RT 08/RW 03, DesaTanjungPasir, Juni Juli 2014

Distribusi Frekuensi Pendidikan


9%

9%
SD

43%

13%

SMP
Belum sekolah
Tidak sekolah
SMA

26%
Kuesioner Juni 2014
Berdasarkan dari diagram 4.1 terlihat tingkat pendidikan terbanyak dari keluarga
binaan adalah SD (43.48%) dikarenakan ketidakcukupan biaya untuk melanjutkan ke
pendidikan yang lebih tinggi.
Diagram 4.2 Distribusi Frekuensi Pekerjaan Pada Keluarga Binaan di RT 08/
RW 03, DesaTanjungPasir, Juni - Juli 2014

Distribusi 4%
Frekuensi Pekerjaan
4%
4%

26%

Tidak bekerja
Tambak Ikan
Pelajar

17%

Buruh
Penjahit
Pedagang
Kuli bangungan

22%

22%

Kuesioner Juni 2014

81

Berdasarkan dari diagram 4.2 terlihat tingkat pekerjaan terbanyak dari keluarga
binaan adalah tidak atau belum bekerja (26.08%) dikarenakan tingkat pendidikan
yang rendah sehingga sulit untuk mendapatkan pekerjaan.
4.2 Analisis univariant
Hasil analisis data disajikan dalam bentuk tabel berdasarkan variabel-variabel
dalam kuesioner yang dijawab responden pada bulan Juni-Juli 2014.
Tabel 4.1 Distribusi responden mengenai pengetahuan tentang jamban sehat di
Kampung Gaga RT 08/RW 03, Desa Tanjung Pasir, Kecamatan TelukNaga,
Kabupaten Tangerang, Provinsi Banten, Juni - Juli 2014
Pengetahuan
Tentang
Jamban Sehat

Jumlah
Responden

Persentase (%)

Baik

0%

Cukup

6.67

Kurang

14

93.33

Total

15

100%

Kuesioner Juni 2014


Pada Tabel 4.1 didapatkan sebagian besar responden memiliki pengetahuan yang buruk
tentang jamban sehat (93.33%) karena ketidakpedulian keluarga binaan tentang
pendidikan.

82

Tabel 4.2 Distribusi responden mengenai aspek pengalaman di Kampung Gaga


RT 08/RW 03, Desa Tanjung Pasir, Kecamatan Teluk Naga, Kabupaten
Tangerang, Provinsi Banten, Juni - Juli 2014
Pengalaman dalam hal
Melakukan, Melihat, serta

Jumlah

Mendengar Informasi

Responden

tentang Jamban Sehat


Baik

13.33%

Cukup

20 %

Kurang
Total

Persentase (%)

10
15
Kuesioner Juni 2014

66.67 %
100%

Berdasarkan Tabel 4.2 didapatkan sebagian besar responden memiliki tingkat pengalaman
yang kurang (66.67 %) karena kebiasaan BAB di jamban yang tidak sehat yang bersifat
turun-temurun di anggota keluarga dan masyarakat sekitar.
Tabel 4.3 Distribusi responden terhadap aspek pendidikan di Kampung Gaga RT
08/RW 03, Desa Tanjung Pasir, Kecamatan Teluk Naga, Kabupaten Tangerang,
Provinsi Banten, Juni Juli 2014
Pendidikan

Jumlah
Responden

Persentase (%)

Rendah

60%

Sedang

26.67%

Tinggi

13.33%

Total

15

100%

Kuesioner Juni 2014


Berdasarkan Tabel 4.3, didapatkan sebagian besar responden memiliki tingkat
pendidikan yang rendah (60%) dikarenakan ketidakcukupan biaya untuk melanjutkan ke
pendidikan yang lebih tinggi.
Tabel 4.4 Distribusi responden terhadap aspek lingkungan sosial ekonomi di

83

Kampung Gaga RT 08/RW 03, Desa Tanjung Pasir, Kecamatan Teluk Naga,
Kabupaten Tangerang, Provinsi Banten, Juni Juli 2014
Lingkungan Sosial

Jumlah

Persentase

Baik

13.3%

Cukup

33.3%

Kurang

53.4%

Total

15

100%

Ekonomi

Kuesioner Juni 2014


Berdasarkan Tabel 4.4 didapatkan sebagian besar responden memiliki tingkat
lingkungan social ekonomi yang kurang (53,4%) karena keterbatasan sarana dan prasarana di lingkungan keluarga binaan.
Tabel 4.5 Distribusi responden,aspek ekonomi di Kampung Gaga RT 08/RW 03,
Desa Tanjung Pasir, Kecamatan Teluk Naga, Kabupaten Tangerang, Provinsi
Banten, Juni Juli 2014
Ekonomi

Jumlah

Persentase
(%)

Kurang

15

100%

Cukup

0%

Baik

0%

Total

15

100%

Kuesioner Juni 2014

Berdasarkan Tabel 4.5 didapatkan seluruh responden (100%) memiliki tingkat ekonomi
yang kurang dikarenakan pendidikan yang rendah sehingga sulit untuk mendapatkan

84

pekerjaan yang mempunyai penghasilan yang lebih tinggi.


Tabel 4.6 Distribusi responden, aspek paparan media massa atau informasi di
Kampung Gaga RT 08/RW 03, Desa Tanjung Pasir, Kecamatan Teluk Naga,
Kabupaten Tangerang, Provinsi Banten, Juni - Juli 2014
Paparan media
massa atau
informasi

Jumlah
Responden

Persentase (%)

Ada

0%

Tidak Ada

15

100%

Total

15

100%

Kuesioner Juni 2014


Berdasarkan Tabel 4.6 didapatkan seluruh responden (100%) memiliki ketersediaan akses
yang tidak memadai untuk mendapatkan informasi seputar kesehatan, khususnya tentang
jamban sehat karena kurangnya daya tarik dan daya jual dari berita kesehatan, terutama
jamban sehat
Tabel 4.7 Hasil analisis univariat enam variabel Pengetahuan Tentang Jamban
Sehat Pada Keluarga Binaan terhadap tiga belas responden di Kampung Gaga
RT 08/RW 03 Desa Tanjung Pasir, Kecamatan Teluk Naga, Kabupaten Tangerang,
Provinsi Banten, Juni Juli 2014
No.

Jumlah

Variabel

Hasil Ukur

Pengetahuan

Baik

(orang)
0

Tentang

Cukup

6.67%

Jamban Sehat
Pengalaman

Kurang

15

93.33%

Baik

13.3%

Cukup

20%

Kurang

10

66.67%

Tinggi

13.33%

Sedang

26.67%

Mendapatkan
Informasi tentang
Jamban Sehat
Pendidikan

Persentase
0%

85

Rendah

60%

Baik

13.3%

Cukup

33.3%

Kurang
Baik

15
0

53.4%
0%

Cukup

0%

Kurang

15

100%

massa atau

Ada

0%

informasi tentang

Tidak Ada

15

100%

Ekonomi

Lingkungan sosial
ekonomi
Paparan media

Jamban Sehat
No.

Variabel

Hasil Ukur

Jumlah (orang)

Persentase

Kuesioner Juni 2014


Berdasarkan Tabel 4.7 sebagian besar responden memiliki pengetahuan yang buruk tentang
jamban sehat (93.33%) karena ketidakpedulian keluarga binaan tentang pendidikan,
pengalaman mendapatkan informasi tentang jamban sehat sebagian besar kurang (66.67%)
karena kebiasaan BAB di jamban yang tidak sehat yang bersifat turun-temurun di anggota
keluarga dan masyarakat sekitar, tingkat pendidikan sebagian besar rendah (60%)
dikarenakan ketidakcukupan biaya untuk melanjutkan ke pendidikan yang lebih tinggi,
tingkat ekonomi sebagian besar kurang (53.4%) pendidikan yang rendah sehingga sulit untuk
mendapatkan pekerjaan yang mempunyai penghasilan yang lebih tinggi, sebagian besar
responden memiliki tingkat lingkungan social ekonomi yang kurang (53,4%) karena
keterbatasan sarana dan pra-sarana di lingkungan keluarga binaan, dan paparan media massa
atau informasi tentang jamban sehat tidak ada sama sekali (100%) karena kurangnya daya
tarik dan daya jual dari berita kesehatan, terutama jamban sehat.
4.3 Rencana Intervensi Pemecahan Masalah
Setelah dilakukan analisis data hasil penelitian, untuk menentukan rencana
intervensi pemecahan masalah digunakan diagram fishbone. Tujuan pembuatan diagram
fishbone yaitu untuk mengetahui penyebab masalah sampai dengan akar -akar
penyebab masalah sehingga dapat ditentukan rencana intervensi pemecahan masalah

86

dari setiap akar penyebab masalah tersebut. Adapun diagram fishbone dapat dilihat
sebagai berikut :

Rencana Intervensi Pemecahan Masalah

87

FISH BONE

88

Sesuai dengan diagram fishbone tersebut, akar-akar penyebab masalah yang ditemukan
adalah sebagai berikut :
1.
2.

Rendahnya tingkat pendidikan pada sebagian besar keluarga binaan


Pekerjaan dengan penghasilan rendah serta tidak adanya alternatif lapangan pekerjaan

3.

Kebiasaan BAB di jamban yang tidak sehat yang bersifat turun-temurun di anggota keluarga

4.
5.

dan masyarakat sekitar.


Kurangnya daya tarik dan daya jual dari berita kesehatan, terutama jamban sehat.
Ketidakpedulian tokoh masyarakat dan masyarakat terhadsap jamban yang sehat di

6.

lingkungan sekitar
Kurangnya kinerja SDM kesehatan lingkungan mengenai pengadaan jamban sehat.

Maka ditetapkan rencana intervensi dari setiap akar penyebab masalah sebagai berikut:
1. Memberikan sosialisasi dan penyuluhan secara langsung tentang manfaat, penggunaan dan
pengelolaan jamban sehat kepada tokoh masyarakat dan masyarakat dengan harapan
terbentuknya pola pikir yang benar dari masyarakat mengenai pentingnya jamban sehat.
2. Memberikan pelatihan keterampilan khusus untuk memaksimalkan pemanfaatan sumber
daya yang ada. Sehingga memberikan lapangan pekerjaan yang tetap dan menambah
penghasilan agar dapat digunakan untuk membuat atau sekedar membeli peralatan
pengelolaan jamban sehat.
Tabel 4.8 Tabel Alternatif Pemecahan Masalah dan Rencana Intervensi Pada
KeluargaBinaan RT08/RW 03 Kampung Gaga, Desa Tanjung Pasir, Kabupaten
Tangerang Periode2 Juni 2014-26 Juli 2014
No.
1.

Alternatif

Akar Penyebab Masalah

Rencana Intervensi
Pemecahan Masalah
Kebiasaan BAB di jamban Memberikan sosialisasi dan Memberikan sosialisasi dan
yang
tidak sehat yang
penyuluhan secara langsung penyuluhan secara langsung
bersifat turun-temurun di
anggota
keluarga
dan tentang kebiasaan hidup tentang kebiasaan hidup sehat
masyarakat sekitar
sehat mengenai penggunaan mengenai penggunaan jamban
jamban

sehat

kepada sehat kepada keluarga binaan

keluarga

binaan

dengan dengan harapan terbentuknya

harapan terbentuknya pola pola pikir yang benar.


pikir yang benar.

89

2.

Rendahnya tingkat
pendidikan pada sebagian
besar keluarga binaan

Memberikan
tentang

sosialisasi

program-program

pendidikan yang dimiliki.

3.

Kurangnya
pemanfaatan Memberikan
pelatihan
sumber daya alam yang ada
keterampilan
sederhana
oleh masyarakat sekitar
kepada keluarga binaan,
sehingga

dapat

meningkatkan
keluarga

pendapatan

yang

Memberikan sosialisasi tentang


program-program

pendidikan

yang dimiliki.

Memberikan

pelatihan

keterampilan sederhana kepada


keluarga binaan,
dapat

sehingga

meningkatkan

pendapatan

keluarga

yang

dapat

dapat memberikan tambahan

tambahan

penghasilan untuk membuat

penghasilan untuk membuat

atau sekedar membeli peralatan

atau

membeli

untuk

minimal

kriteria jamban sehat.

memberikan
sekedar

peralatan

untuk

minimal

mendekati

mendekati kriteria jamban


4.

sehat.
tokoh Memberikan sosialisasi dan Memberikan

Ketidakpedulian

sosialisasi

dan

masyarakat dan masyarakat penyuluhan secara langsung penyuluhan secara langsung


terhadsap jamban yang sehat tentang pemahaman dampak tentang pemahaman dampak
di lingkungan sekitar
5

penggunaan jamban yang penggunaan jamban yang tidak

tidak sehat.
Kurangnya daya tarik dan Bekerjasama
daya

jual

dari

sehat.
dengan Memasang

berita penyedia media massa dan membagikan

poster

dan

leaflet

kepada

kesehatan, terutama jamban tenaga kesehatan agar ikut masyarakat.


sehat

berpartisipasi

dalam

memberikan sosialisasi dan


penyuluhan

kepada

masyarakat tentang jamban


6.

sehat.
Kurangnya kinerja SDM Memberikan
pelatihan Memberikan pelatihan kepada
kesehatan
lingkungan
kepada SDM yang
ada SDM yang
ada untuk
mengenai pengadaan jamban
sehat.
untuk membuat jamban membuat jamban yang sehat.
yang sehat.
4.4 Intervensi Pemecahan Masalah yang terpilih
90

Intervensi yang tepilih yang dapat dilakukan adalah sebagai berikut:


a. Memberikan sosialisasi dan penyuluhan secara langsung tentang manfaat, penggunaan dan
pengelolaan jamban sehat.
b. Melakukan sosialisasi tentang wajib belajar 12 tahun.
c. Melakukan penyuluhan menggunakan poster atau leaflet tentang jamban sehat untuk
menarik perhatian masyarakat terhadap penggunaan dan pengelolaan jamban sehat.
d. Memberikan informasi dan saran-saran mengenai pelatihan keterampilan khusus dengan
memanfaatkan sumber daya yang ada untuk meningkatkan perekonomian.

Jangka Pendek
a. Memberikan sosialisasi dan penyuluhan secara langsung tentang manfaat, penggunaan
dan pengelolaan jamban sehat.
b. Melakukan penyuluhan menggunakan poster atau leaflet tentang jamban sehat untuk
menarik perhatian masyarakat terhadap penggunaan dan pengelolaan jamban sehat.
c. Memberikan informasi dan saran-saran mengenai pelatihan keterampilan khusus dengan
memanfaatkan bsumber daya yang ada untuk meningkatkan perekonomian keluarga
binaan.

Jangka Menengah
a. Melakukan penyuluhan secara rutin
b. Melakukan evaluasi di keluarga binaan secara berkala untuk mengetahui hasil intervensi
jangka pendek dan penyuluhan yang dilakukan.

Jangka Panjang
a. Memberi saran kepada keluarga binaan untuk membiasakan diri menyisihkan
sebagian penghasilan untuk ditabung, dan uang tersebut digunakan untuk membuat
atau sekedar membeli peralatan untuk mengelola jamban sehat
b. Peran serta masyarakat dengan mendukung program pembangunan memiliki jamban
sehat di rumah atau pengembangan jamban yang belum sehat menjadi jamban yang
sehat dengan cara mengikuti program kesehatan lingkungan yang dilaksanakan oleh
puskesmas.
c. Pembuatan jamban yang sehat.
d. Memusnahkan jamban-jamban yang tidak sehat yang

biasanya digunakan oleh

masyarakat lingkungan sekitar agar mereka menggunakan fasilitas jamban sehat


yang sudah tersedia.

Terpilihnya intervensi tersebut diatas dikarenakan penyuluhan tidak memakan waktu


atau tempat yang banyak, selain itu diharapkan dengan adanya leaflet, lebih dapat menarik
91

minat para responden menyimak penyuluhan dan mudah untuk dimengerti.Melakukan


pendekatan kepada masyarakat untuk mendukung program penggunaan dan pengelolaan
jamban sehat tidak dapat kami lakukan karena keterbatasan waktu dalam melaksanakan
kegiatan intervensi.

92

BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
5.1 KESIMPULAN
5.1.1 Area Masalah
Berdasarkan wawancara dan pengumpulan data dari kunjungan ke keluarga binaan yang
bertempat tinggal di Kampung Gaga RT 08 / RW 03, Desa Tanjung Pasir, Kecamatan Teluk
Naga, Kabupaten Tangerang, Provinsi Banten maka dilakukanlah diskusi kelompok dan
merumuskan serta menetapkan area masalah yaitu Pengetahuan tentang Jamban Sehat pada
keluarga binaan di Kampung Gaga RT/RW 08/03, Desa Tanjung Pasir Kecamatan Teluk
Naga Kabupaten Tangerang Provinsi Banten
5.1.2

Alternatif Penyebab Masalah

1. Memberikan pendidikan tambahan bagi keluarga binaaan dapat berupa materi-materi yang
mudah di pahami oleh keluarga binaan.
2. Meningkatkan pengetahuan dari arti pentinganya dan maanfaat yang bisa di dapat kan dari
jamban sehat di dalam rumah.
5.1.3

Akar Penyebab Masalah

1.
2.

Rendahnya tingkat pendidikan pada sebagian besar keluarga binaan


Pekerjaan dengan penghasilan rendah serta tidak adanya alternatif lapangan
pekerjaan

3.

Kebiasaan BAB di jamban yang tidak sehat yang bersifat turun-temurun di

anggota keluarga dan masyarakat sekitar.


4.
Kurangnya daya tarik dan daya jual dari berita kesehatan, terutama jamban
sehat.
5.

Ketidakpedulian tokoh masyarakat dan masyarakat terhadsap jamban yang

sehat di lingkungan sekitar


6.
Kurangnya kinerja SDM kesehatan lingkungan mengenai pengadaan jamban
sehat.
5.1.4
1.

Intervensi yang Dilakukan


Memberikan sosialisasi dan penyuluhan secara langsung tentang
manfaat, penggunaan dan pengelolaan jamban sehat kepada tokoh masyarakat dan
masyarakat dengan harapan terbentuknya pola pikir yang benar dari masyarakat mengenai

2.

pentingnya jamban sehat.


Memberikan pelatihan keterampilan khusus untuk memaksimalkan
pemanfaatan sumber daya yang ada. Sehingga memberikan lapangan pekerjaan yang tetap
93

dan menambah penghasilan agar dapat digunakan untuk membuat atau sekedar membeli
peralatan pengelolaan jamban sehat.

5.2 SARAN
a) Menyarankan kepada anggota keluarga binaan untuk menerapkan pengetahuan tentang
pembuatan jamban sehat yang baik dan benar serta manfaat yang bisa didapatkan dari
jamban sehat
b) Menyarankan tokoh masyarakat dan pihak pelayanan kesehatan untuk dapat
berkoordinasi untuk mengadakan kegiatan yang bersifat memberikan informasi dan
penyuluhan tentang pengetahuan jamban sehat.

94

DAFTAR PUSTAKA
1. Kartikawatie T, Yusnita, &Yanto D. 2012. Dinas Kesehatan Pemerintah Daerah Kabupaten
Tangerang: Laporan Kinerja Puskesmas Tegal Angus 2012. Tangerang: Puskesmas Tegal
Angus.
2. Notoatmodjo, S. 2005. Promosi Kesehatan Teori dan Aplikasi. Jakarta: Rineka Cipta: 43.
3. Notoatmodjo, S. 2008. Kesehatan Masyarakat Ilmu dan Seni. Jakarta: Rineka Cipta: 131162.
4. Azwar, Azrul. 1988. Pengantar Epidemiologi. Jakarta : Binarupa Aksara.
5. Notoatmodjo, S. 2010. Metodologi Penelitian Kesehatan. Jakarta: Rineka Cipta: 24.
6. Modul Kepaniteraan Kedokteran Komunitas Dan Kepaniteraan Kedokteran Keluarga.
Jakarta, 2011.
7. Kamus Besar Bahasa Indonesia. KBBI.WEB.ID

95

Lampiran 1
SYARAT JAMBAN SEHAT
MENURUT KEMENTRIAN KESEHATAN

NO
1
2
3
4
5
6
7

KEGIATAN

YA / TIDAK

Tidak mencemari air


Tidak mencemari permukaan tanah
Bebas dari serangga
Tidak menimbulkan baud an nyaman digunakan
Aman digunakan oleh pemakainya
Mudah dibersihkan dan tidak menimbulkan gangguan bagi pemakainya
Tidak menimbulkan pandangan yang kurang sopan

KETERANGAN:
-

Beri tanda Ceklist ( ) pada jawaban YA jika responden mengetahuinya


Beri tanda Ceklist ( ) pada jawaban TIDAK jika responden tidak mengetahuinya
Indikator penilaian:
1. Jika jawaban YA nilai 1
2. Jika jawaban TIDAK nilai 0

Total kuesioner:
Jumlah total 6 7

: Pengetahuan BAIK

Jumlah total 4 5

: Pengetahuan CUKUP

Jumlah total 0 3

: Pengetahuan BURUK

Lampiran 2 : Kuesioner

96

KUESIONER
PENGETAHUAN TENTANG JAMBAN SEHAT PADA KELUARGA BINAAN
DI DESA TANJUNG PASIR
IDENTITAS RESPONDEN
1.
2.
3.
4.
5.

Nama
Usia
Alamat
Pendidikan
Pekerjaan
NO

1.

:
:
:
:
:

NOMOR
RESPONDEN

Jenis pertanyaan

Pengetahuan

Pertanyaan

Apakah anda tahu apa itu jamban sehat?


A.Ya

2.

Pengetahuan

B.Tidak
Apakah anda tahu jika BAB di sungai/kolam/kebun
dapat mencemarilingkungan dan menimbulkan
penyakit?
A.Ya

3.

Pengetahuan

B.Tidak tahu
Apakah anda tahu cara membangun jamban sehat?
A.Ya

5.

Pengetahuan

B.Tidak
Apakah anda tahu berapa jarak ideal antara sumber
air dan Jamban?

6.

Pengetahuan

A. >10 meter
B. <10 meter
Apakah Menurut anda Lantai jamban itu perlu
diplester?
A.Ya

7.

Paparan Media

B. Tidak Tahu
Apakah pernah ada penyuluhan bagaimana
membangun jamban sehat yang sederhana?
A.Ya
B.Tidak
97

8.

Lingkungan Sosial

Apakah tetangga-tetangga anda memiliki jamban di


rumah ?
A.Ya

9.

Lingkungan sosial

B.Tidak
Apakah di lingkungan sekitar rumah anda tersedia
sumber air bersih?
A.Ya

10.

Lingkungan Sosial

B.Tidak
Apakah terdapat jamban umum sehat di dekat rumah
anda?
A.Ya

11.

Pengalaman

B.Tidak
Apakah anda pernah mendengar tentang jamban
sehat ?
A.Ya

12.

Pengalaman

B.Tidak
Apakah anda pernah BAB selain dijamban, seperti di
empang atau tanah ?
A.Tidak
B.Ya

13.

Pengalaman

Apakah anda pernah melihat keluarga anda yang


terdahulu BAB di empang atau di tanah
A.Tidak

14.

Tingkat ekonomi

B.Ya
Berapakah perkiraan pendapatan Anda per bulan?
< Rp.500.000,Rp.500.000,- - Rp. 1 juta
> Rp.1 juta

15

Pendidikan

Apa pendidikan terakhir Anda?


A.
B.
C.
D.
E.

16.

SD
SMP
SMA
Perguruan Tinggi
Lainnya..

Akses layanan

Apakah anda mengetahui mengenai tenaga kesehatan

kesehatan

di sekitar lingkungan?
98

A. Ya
B. Tidak
17.

Akses layanan

Apakah ada peran dari tenaga kesehatan dalam

kesehatan

memberikan informasi tentang jamban sehat?


A. Ada
B. Tidak

Lampiran 3 : Skoring Kuesioner

A. Variabel Pengetahuan
1. Jika responden menjawab a diberi poin 2
Jika responden menjawab b diberi poin 1
2. Jika responden menjawab a diberi poin 2
Jika responden menjawab b diberi poin 0
3. Jika responden menjawab a diberi poin 2
Jika responden menjawab b diberi poin 1
99

4. Jika responden menjawab a diberi poin 2


Jika responden menjawab b diberi poin 1
5. Jika responden menjawab a diberi poin 2
Jika responden menjawab b diberi poin 1
6. Jika responden menjawab a diberi poin 2
Jika responden menjawab b diberi poin 0

B.

Variabel Media Massa


1. Jika responden menjawab a diberi poin 2
Jika responden menjawab b diberi poin 1

C. Variabel Lingkungan Sosial Ekonomi


1. Jika responden menjawab a diberi poin 2
Jika responden menjawab b diberi poin 1
2. Jika responden menjawab a diberi poin 2
Jika responden menjawab b diberi poin 1
3. Jika responden menjawab a diberi poin 2
Jika responden menjawab b diberi poin 1

D. Variabel Pengalaman
1. Jika responden menjawab a diberi poin 2
Jika responden menjawab b diberi poin 1
2. Jika responden menjawab a diberi poin 2
Jika responden menjawab b diberi poin 1
3. Jika responden menjawab a diberi poin 2
Jika responden menjawab b diberi poin 1

E. Variabel Tingkat Ekonomi


100

1. Variabel bebas

F. Variabel Pendidikan
1. Variabel bebas

G. Variabel Akses Layanan Kesehatan


1.

Jika responden menjawab a diberi poin 2


Jika responden menjawab b diberi poin 1

Lampiran 4 : Penilaian Variabel


1.

Pengetahuan
a. Jika > 6 responden memiliki pengetahuan tentang jamban sehat yang baik
b. Jika < 5 responden memiliki pengetahuan tentang jamban sehat yang kurang baik

2.

Paparan Media
a. Jika 2 paparan media berpengaruh terhadap informasi tentang jamban sehat
b. Jika 1 paparan media tidak berpengaruh terhadap informasi tentang jamban sehat

3.

Lingkungan Sosial
a. Jika > 4 lingkungan sosial mempengaruhi pengetahuan tentang jamban sehat
101

b. Jika < 4 lingkungan sosial tidak mempengaruhi pengetahuan tentang jamban sehat
4. Pengalaman
a. Jika > 4 pengalaman mempengaruhi pengetahuan tentang jamban sehat
b. Jika < 4 pengalaman tidak mempengaruhi pengetahuan tentang jamban sehat
5.

Tingkat Ekonomi
a. Jika 2 tingkat ekonomi mempengaruhi pengetahuan tentang jamban sehat
b. Jika 1 tingkat ekonomi tidak mempengaruhi pengetahuan tentang jamban sehat

6.

Pendidikan
a. Variabel bebas

7.

Akses layanan kesehatan


a. Jika > 2 akses layanan kesehatan mempengaruhi pengetahuan tentang jamban sehat
b. Jika < 2 akses layanan kesehatan tidak mempengaruhi pengetahua tentang jamban sehat

Lampiran 5 : Desain Poster

102

103

104

Lampiran : Desain Leaflet

105

Lampiran 7 : Dokumentasi

106