Anda di halaman 1dari 125

PERLINDUNGAN HUKUM ATAS

RAHASIA DAGANG

TESIS

Oleh
HIMALAY TAUFAN
067011041/MKn

SEKOLAH PASCASARJANA
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN
2008

Himalay Taufan: Perlindungan Hukum Atas Rahasia Dagang, 2008.


USU e-Repository 2008

PERLINDUNGAN HUKUM ATAS


RAHASIA DAGANG

TESIS

Untuk Memperoleh Gelar Magister Kenotariatan (M.Kn.)


Pada Sekolah Pascasarjana Universitas Sumatera Utara

HIMALAY TAUFAN
067011041/MKn

SEKOLAH PASCASARJANA
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN
2008

Himalay Taufan: Perlindungan Hukum Atas Rahasia Dagang, 2008.


USU e-Repository 2008

Judul Tesis
Nama Mahasiswa
Nomor Pokok
Program Studi

: PERLINDUNGAN HUKUM ATAS RAHASIA DAGANG


: Himalay Taufan
: 067011041
: Kenotariatan
Menyetujui
Komisi Pembimbing

(Prof. Dr. Runtung Sitepu, SH, M.Hum)


Ketua

(Prof.Dr.Muhammad Yamin, SH,MS,CN)


Anggota

Ketua Program Studi

(Prof.Dr.Muhammad Yamin,SH,MS,CN)

Tanggal Lulus : 30 Juni 2008

Himalay Taufan: Perlindungan Hukum Atas Rahasia Dagang, 2008.


USU e-Repository 2008

(Syafruddin Hasibuan, SH,MH)


Anggota

Direktur

(Prof.Dr.Ir.T.Chairun Nisa B, MSc)

Telah diuji
Pada Tanggal : 30 Juni 2008____________________________________________

PANITIA PENGUJI TESIS


Ketua : Prof. Dr. Runtung Sitepu, SH, M.Hum
Anggota : 1. Prof. Dr. Muhammad Yamin, SH, MS, CN
2. Syafruddin Hasibuan, SH, MH
3. Syafnil Gani, SH, M. Hum
4. Dr. T. Keizerina Devi A, SH, M.Hum

Himalay Taufan: Perlindungan Hukum Atas Rahasia Dagang, 2008.


USU e-Repository 2008

ABSTRAK
Rahasia Dagang saat ini sudah merupakan salah satu bentuk investasi yang sangat
mahal di samping bentuk investasi lainnya yang harus dipertahankan terhadap semua
pihak sehingga tidak disalahgunakan demi kepentingan pihak lain melalui suatu
mekanisme persaingan tidak jujur.
Rahasia Dagang adalah informasi di bidang teknologi dan atau bisnis yang tidak
diketahui umum, mempunyai nilai ekonomi karena berguna dalam kegiatan usaha,
dan dijaga kerahasiaannya oleh pemilik Rahasia Dagang.
Perlindungan hukum atas Rahasia Dagang dapat dibagi kedalam beberapa bagian
besar, yaitu:
1. Adanya unsur kontrak/perjanjian.
2. Hak pemilik Rahasia Dagang benar-benar diperhatikan
3. Dicantumkannya unsur perbuatan melawan hukum.
4. Penyelesaian sengketa di Peradilan Negeri.
5. Adanya Pengalihan Hak Rahasia Dagang.
6. Tidak adanya jangka waktu perlindungan Rahasia Dagang.
Bertolak dari uraian diatas, maka perumusan masalah penelitian ini adalah
bagaimanakah Perlindungan Hukum atas Rahasia Dagang, bagaimana upaya Pemilik
Rahasia Dagang dalam mempertahankan eksistensi Rahasia Dagangnya untuk
mengatasi persaingan usaha tidak sehat yang dilakukan oleh kompetitor yang tidak
beritikad baik, serta bagaimana bentuk upaya penyelesaian sengketa pelanggaran
Rahasia Dagang
Penelitian ini bersifat deskriptif analitis, artinya bahwa penelitian ini termasuk
lingkup penelitian yang menggambarkan, menelaah dan menjelaskan secara tepat
serta menganalisa peraturan perundang-undangan yang berkaitan dengan
perlindungan Rahasia Dagang.
Penelitian ini dilakukan melalui pendekatan yuridis normatif, karena penelitian
ini merupakan penelitian kepustakaan atau studi dokumen yang dilakukan atau
ditujukan hanya pada peraturan-peraturan yang tertulis atau bahan hukum yang lain,
kalaupun ada digunakan pendekatan yuridis empiris hanyalah sebagai metode
pendukung dalam penelitian ini.
Dari hasil penelitian tersebut, maka dapat diambil kesimpulannya bahwa Sistem
Perlindungan Rahasia Dagang memiliki ruang lingkup yang lebih luas, karena
terdapat ketentuan didalamnya bahwa pihak yang melakukan pelanggaran dapat
dikenakan tuntutan baik secara perdata maupun pidana. Pemberian perlindungan
hukum terhadap Rahasia Dagang memiliki makna yang sangat penting, yaitu sebagai
landasan bagi perlindungan yang efektif terhadap berbagai bentuk informasi yang
bersifat rahasia yang dikatagorikan sebagai Rahasia Dagang melalui pengaturan
pencegahan praktek persaingan usaha yang tidak sehat yang dapat merugikan
masyarakat

Himalay Taufan: Perlindungan Hukum Atas Rahasia Dagang, 2008.


USU e-Repository 2008

Disarankan Perlindungan Hukum Atas Rahasia Dagang diterapkan dengan lebih


terarah karena Rahasia Dagang merupakan aset ataupun investasi yang sangat bernilai
tinggi dan mahal harganya bagi orang atau perusahaan yang merupakan penemu dari
Rahasia Dagang tersebut oleh karena itu tepatlah pemerintah membuat suatu
ketentuan hukum yang dapat dikatakan cukup lengkap mengatur hal-hal yang
diperlukan secara khusus dalam melindungi suatu aset yang bernilai ekonomi tinggi
seperti halnya Rahasia Dagang.
Kata kunci: Rahasia Dagang, Perlindungan Rahasia Dagang

Himalay Taufan: Perlindungan Hukum Atas Rahasia Dagang, 2008.


USU e-Repository 2008

ABSTRACT
The secret of trade now is already one form of investment expensively
beside the form of another investment that must be maintained against all parties
for not abuse for interest of another parties through one mechanism of inhonest
competition.
The secret of trade is information in field of technology and business that is
not known by public, to have value of economy because useful in activity of business,
and kept the secret by the owner of the Trade Secret.
The protection of law for secret of trade can be separated into some parts,
they are:
1. There is contract element/agreement
2. The right of owner of Trade Secret is noticed seriously (there is right of exclusive)
3. Display of unlawfull actions
4. The solution of conflict in state court
5. The transfer of rights of trade secret
6. There is no time period of protecting trade secret
To depart from the presentation above, so the formulation of issue in this
research is how the protection of law for secret of trade, what is the attempt of trade
secret owner in maintaining the existence of trade secret for solving the competition
that is not healthy by competitors and there is no good intention, and what is the form
of conflict solution in breaking of the trade secret.
This research is descriptive analytical, meaning that this research is included
into scope of research to describe, process and explain and analyze the regulations of
law relating to the protection of trade secret.
Research is done by approach of yuridic and normative, because the research
is library one and document study, although there is yuridical empiric, it is only a
supportive method of the research.
From the result of research, it is concluded that system of Trade Secret
Protection has wider scope, because there is provision in it that the breaker can be
claimed by civil and criminal matter. The giving of law protection on trade secret has
important meaning, namely as foundation for effective protection for forms of
information secretly categorized as secret of the trade by regulation of preventing
unhealthy practice of competition that can damage the people.
It is suggested the protection of Law for Trade Secret is stipulated in better
focus because Secret of trade is asset or investment with high value and expensive of
price for person or organization as inventor of the Trade Secret, therefore government
makes law regulation to regulate the things needed particularly in protecting an asset
of high economic value such as Secret of Trade.
Keywords: Secret of Trade, Protection of Trade Secret

Himalay Taufan: Perlindungan Hukum Atas Rahasia Dagang, 2008.


USU e-Repository 2008

KATA PENGANTAR
Puji dan syukur kepada Tuhan Yang Maha Pengasih dan penyayang karena
berkat dan rahmat-Nya maka penulisan Tesis ini dapat diselesaikan dengan judul
PERLINDUNGAN HUKUM TERHADAP RAHASIA DAGANG
Penulisan tesis ini merupakan salah satu persyaratan yang harus dipenuhi
untuk memperoleh Gelar Magister dalam bidang ilmu kenotariatan pada program
Pascasarjana Universitas Sumatera Utara. Dalam penulisan tesis ini telah banyak
mendapat bimbingan, pengarahan dan bantuan dari semua pihak, oleh karena itu
penulis ucapkan terima kasih khusus kepada bapak Prof. Dr Runtung Sitepu,
sebagai pembimbing utama, bapak Prof. Dr. H. M,.Yamin,SH, MS, CN. Dan bapak
Syafruddin Hasibuan, SH, MH, Sebagai anggota pembimbing kedua dan ketiga atas
kesediaan memberi bimbingan dan petunjuk serta saran dari sejak awal penyusunan
proposal sampai selesai penulisan tesis ini.
Selanjutnya terima kasih yang tak terhingga disampaikan kepada :
1. Kedua orang tua saya Hamzah dan Nurmala Harahap serta seluruh anggota
keluarga penulis yang sangat penulis sayangi dan hormati yang senantiasa
mengasihi, membimbing, memperhatikan dan menyediakan segala apa yang
penulis perlukan dalam segala hal sampai saat ini.
2. Prof. Dr Chairuddin P.Lubis, DTM & H, SpAK, selaku Rektor Universitas
Sumatera Utara, atas kesempatan dan fasilitas yang diberikan kepada kami

Himalay Taufan: Perlindungan Hukum Atas Rahasia Dagang, 2008.


USU e-Repository 2008

untuk

mengikuti

dan

menyelesaikan

pendidikan

Program

Magister

Kenotariatan Pascasarjana Universitas Sumatera Utara.


2. Prof. Dr.Ir. T Chairun Nisa B,M.Sc, selaku Direktur Sekolah Pascasarjana
Universitas Sumatera Utara, atas kesempatan menjadi mahasiswa Program
Magister Kenotariatan Pascasarjana Universitas Sumatera Utara.
3. Dr. T. Keizerina Devi A, SH, M.Hum, Selaku dosen penguji pada Tesis saya
yang telah banyak memberikan bimbingan dan dorongan dalam peyelesaian
Tesis ini.
4. Syafnil Gani, SH, M. Hum, Selaku dosen penguji pada Tesis saya yang telah
banyak memberikan bimbingan dan dorongan dalam peyelesaian Tesis ini.
5. Prof. Dr Muhammad Yamin SH,MS, CN sebagai ketua program Studib
Magister Kenotariatan Pascasarjana Universitas Sumatera Utara.
6. Bapak-bapak dan ibu-ibu Guru besar dan Staf pengajar pada program Studi
Magister Kenotariatan Pascasarjana Universitas Sumatera Utara yang telah
banyak memberikan bantuan ilmu pengetahuan kepada penulis, khususnya
dalam bidang Ilmu Kenotaritan
7. Kakek saya Prof. DR. Muhammad Daud, SH selaku guru besar Fakultas
Hukum Universitas Sumatera Utara Medan yang telah membimbing dan
membantu saya dalam penyelesaian Tesis ini.
8. Putri, Viky, Andien, Rispi, dan Vika sebagai keponakan-keponakan yang
menceriakan hari-hari penulis.

Himalay Taufan: Perlindungan Hukum Atas Rahasia Dagang, 2008.


USU e-Repository 2008

Ion, Ari, Yudha, Fitri, Widy, Eko yang selalu berada di sisi penulis dalam
segala kondisi.

10. My Sweet Heart, Eka Santi, yang selalu membantu dan memberi dukungan
dalam penyelesaian Tesis ini.
11.

Rekan-rekan

mahasiswa

dari

program

Pascasarjana Universitas Sumatera Utara

Studi

Magister

Kenotariatan

yang telah banyak memberikan

dorongan moril kepada penulis dalam menyelesaikan tesis ini.


12.

Semua pihak yang telah membantu penulis yang tidak dapat disebutkan nama
dan jabatannya satu persatu
Akhirnya dengan menghaturkan puji dan syukur yang sangat mendalam

kepada ALLAH SWT, serta mengucapkan ALHAMDULILLAHI ROBBIL


ALAMIN semoga pengetahuan yang penulis terima selama perkuliahan dapat di
darmabaktikan kepada keluarga, agama, masyarakat dan bangsa.

Medan,

Juni 2008

Penulis

Himalay Taufan
067011041

Himalay Taufan: Perlindungan Hukum Atas Rahasia Dagang, 2008.


USU e-Repository 2008

RIWAYAT HIDUP
A. IDENTITAS DIRI
Nama

: Himalay Taufan, SH

Tempat Tanggal Lahir

: Takengon, 02 November 1984

Jenis Kelamin

: Laki-laki

Umur

: 23 tahun

Agama

: Islam

Alamat

: Jl.Kenanga Raya, Gg.Gayo Baru, No.229, Pasar 1,


Tanjung Sari, Medan, 20132

Telepon

: (061) 77048214

Hand Phone

: 081396121184 - 081361212114

B. PENDIDIKAN
1. PENDIDIKAN FORMAL

SD Negeri Buntul Kubu tamat tahun 1996

SLTP Negeri 1 Takengon tamat tahun 1999

SMU Negeri 1 Takengon tamat tahun 2002

Universitas Sumatera Utara, Fakultas Hukum, Program Studi Hukum Perdata,


tamat tahun 2006

Sekolah Pasca Sarjana, Universitas Sumatera Utara, Program Studi Magister


Kenotariatan, sejak tahun 2006

2. PENDIDIKAN NON FORMAL

Kursus Komputer Office Class di Bina Komputer

Kursus Bahasa Inggris Conversation Class di SDM 21

Kursus Bahasa Jepang Basic Class di SDM 21

Pelatihan Akting di Institut Kesenian Jakarta

Himalay Taufan: Perlindungan Hukum Atas Rahasia Dagang, 2008.


USU e-Repository 2008

C. PRESTASI
1. Modelling

Finalis Model Trendy 2002

Finalis Model Elit Tabloid Gaya Medan 2003

Finalis Duta Sumut 2003

Juara Busana Muslim 2003

The Best Intelegency Geas Club 2003

Finalis Simpati Zone Ambassador 2005

Juara 2 Model Trendy 2003

Cover Guest Keren Beken 2004 Wakil Medan

2. Acting

FTV Sang Dara 2004

FTV Nurani Tak Pernah Berdusta 2004

Sinetron Taqwa 2006

Cipta Bintang Televisi 2004

3. Iklan

Produk Minuman PROSWEAT 2006

4. Talent search

Kontestan Supervisi AFI 2006

Indonesian Idol

Finalis 30 Detik Jadi Bintang Global TV 2005

Finalis Indonesian Star Metro TV 2005

Finalis Ari Wibowo Cari Pembantu, MD Entertaint SCTV 2005

Finalis VJ Hunt MTV 2005-2006

Himalay Taufan: Perlindungan Hukum Atas Rahasia Dagang, 2008.


USU e-Repository 2008

DAFTAR ISI
Halaman
ABSTRAK ................................................................................................................i
ABSTRACT ................................................................................................................iii
KATA PENGANTAR................................................................................................iv
RIWAYAT HIDUP ...................................................................................................vii
DAFTAR ISI...............................................................................................................ix
BAB I PENDAHULUAN............................................................................................1
A. Latar Belakang ..................................................................................................1
B. Permasalahan ....................................................................................................7
C. Tujuan Penelitian ..............................................................................................7
D. Manfaat Penelitian ............................................................................................9
E. Keaslian Penelitian............................................................................................9
F. Kerangka Teori Dan Konsepsi .......................................................................10
1. Kerangka Teori...........................................................................................10
1.1 Sejarah Rahasia Dagang....................................................................11
1.2 Pengertian Rahasia Dagang................................................................15
1.2 Kriteria Rahasia Dagang ...................................................................18
1.4 Ruang Lingkup Rahasia Dagang.......................................................19
2. Konsepsi.....................................................................................................21
G. Metode Penelitian ..........................................................................................22

Himalay Taufan: Perlindungan Hukum Atas Rahasia Dagang, 2008.


USU e-Repository 2008

1. Sifat Penelitian ...................................................................................23


2. Pendekatan Penelitian ........................................................................24
3. Sumber Data.......................................................................................25
4. Lokasi Penelitian................................................................................26
5. Analisis Data ......................................................................................26
BAB II PERLINDUNGAN HUKUM RAHASIA DAGANG ............................28
A. Tentang Era Globalisasi .................................................................................28
B. Kaitan Antara Perlindungan Hukum Atas Rahasia Dagang Dengan
Era Globalisasi ..............................................................................................32
C. Pengaruh TRIPs-WTO Terhadap Perlindungan Hukum Rahasia
Dagang Dan Era Globalisasi ..........................................................................43
D. Perlindungan Hukum Rahasia Dagang ..........................................................53
BAB III UPAYA

PEMILIK

RAHASIA

MEMPERTAHANKAN

EKSISTENSI

DAGANG
RAHASIA

DALAM

DAGANGNYA

UNTUK MENGATASI PERSAINGAN TIDAK SEHAT ...................66


A. Hak Dan Kewajiban Pemilik Rahasia Dagang ..............................................66
1. Hak Pemilik Rahasia Dagang.............................................................66
2. Kewajiban Pemilik Rahasai Dagang..................................................71
B. Pengalihan Hak Rahasia Dagang ...................................................................72
C. Pemilik Rahasia Dagang Dalam Mempertahankan Eksistensi
Rahasia Dagangnya Untuk Mengatasi Persaingan Usaha
Tidak Sehat ....................................................................................................77

Himalay Taufan: Perlindungan Hukum Atas Rahasia Dagang, 2008.


USU e-Repository 2008

BAB IV PENYELESAIAN SENGKETA PELANGGARAN


RAHASIA DAGANG ............................................................................. ...82
A. Pelanggaran Rahasia Dagang..........................................................................83
B. Tindak Pidana Pencurian Rahasia Dagang Dan
Spionase Ekonomi..........................................................................................90
C. Penyelesaian Sengketa Pelanggaran Rahasia Dagang ....................................93
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN ................................................................. .101
A. Kesimpulan .................................................................................................. .101
B. Saran............................................................................................................. .104
DAFTAR PUSTAKA ............................................................................................. .106

Himalay Taufan: Perlindungan Hukum Atas Rahasia Dagang, 2008.


USU e-Repository 2008

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Hak Atas Kekayaan Intelektual (HAKI) adalah hasil dari proses kemampuan
berpikir (intellectual) manusia yang merupakan ide dan diwujudkan dalam bentuk
ciptaan atau invensi. Pada ide tersebut, melekat predikat intelektual yang bersifat
abstrak, sedangkan pada ciptaan atau invesi yang merupakan milik didalamnya
melekat suatu hak yang bersumber dari akal atau intelek manusia. Jadi dapatlah
dikatakan bahwa HAKI tersebut merupakan hak yang bersifat abstrak dan termasuk
pada lingkup benda tidak berwujud.
Terdapat keterkaitan yang sangat erat antara perlindungan atas Rahasia
Dagang (trade secret) atau yang dikenal juga dengan informasi yang dirahasiakan
(undisclosed information) yang merupakan bagian dari Hak Atas Kekayaan Intelktual
dengan globalisasi perdagangan 1 .
Pada era globalisasi perdagangan internasional dilakukan secara bebas antar
negara-negara di dunia. Kondisi ini sangat mempengaruhi perkembangan HAKI oleh
karena itu perlu diberikan perlindungan hukum terhadap HAKI, dimana perlindungan
ini tidak hanya secara bilateral melainkan juga secara multilateral atau secara global.
Tingginya frekuensi keluar masuk dan berpindah-pindahnya sumber daya
manusia dari satu perusahaan ke perusahaan lainnya bahkan antar perusahaan yang

Himalay Taufan: Perlindungan Hukum Atas Rahasia Dagang, 2008.


USU e-Repository 2008

berbeda negara telah menjadi ciri dalam era globalisasi perdagangan yang tidak dapat
dihindarkan. Kenyataan seperti ini akan sangat berpengaruh terhadap perlindungan
Rahasia Dagang.
Tingginya frekuensi keluar masuk tenaga kerja dari suatu perusahaan ke
perusahaan lainnya secara internasional dengan mudah dapat digunakan sebagai
upaya pelanggaran Rahasia Dagang oleh kompetitor.
Dengan berpindahnya sumber daya manusia dari satu perusahaan ke
perusahaan lainnya tidak berarti bahwa orang tersebut dapat menggunakan Rahasia
Dagang yang dimiliki oleh perusahaan yang ditinggalkannya untuk dimanfaatkan
pada perusahaan barunya. Oleh karena itu pembuatan kontrak kerja yang melindungi
Rahasia Dagang baik itu bersifat formula, proses produksi, daftar pelanggan metodemetode dan sebagainya menjadi sangat penting untuk dilakukan.
Pembentukan Undang-Undang Rahasia Dagang harus diterapkan atau
setidaknya menerapkan standar minimal dalam TRIPs Agreement. Dengan
kemungkinan penerapan standar minimal, berarti masih dimungkinkan celah untuk
menentukan ketentuan-ketentuan yang dapat memberikan manfaat.
Indonesia pada prinsipnya telah memberikan Rahasia Dagang itu sendiri jauh
sebelum Undang-Undang Tahun 2000 Tentang Rahasia Dagang dirumuskan.
Undang-Undang Rahasia Dagang sangat penting untuk melindungi gagasangagasan yang mempunyai nilai komersil yang memberikan keuntungan bersaing.

Ahmad M Ramli, Hak atas Kepemilikan Intelektual (Teori Dasar Perlindungan Rahasia
Dagang) Bandung, 2000, Mandar Maju, Hal 1

Himalay Taufan: Perlindungan Hukum Atas Rahasia Dagang, 2008.


USU e-Repository 2008

Undang-Undang Rahasia Dagang juga dapat mendorong iklim yang sehat dan
memantapkan hubungan para pihak dalam transaksi perdagangan dengan tersedianya
perangkat aturan-aturan main yang jujur, bahkan tanpa adanya kontrak yang tegas
sekalipun. Lebih jauh, Undang-Undang Rahasia Dagang juga mempertinggi efisiensi
dan produktivitas dengan memberikan kerangka yang mendorong arus informasi
diantara semua pihak terhadap suatu transaksi perdagangan 2 .
Rahasia Dagang saat ini sudah merupakan salah satu bentuk investasi yang
sangat mahal disamping bentuk investasi lainnya yang harus dipertahankan terhadap
semua pihak sehingga tidak disalahgunakan demi kepentingan pihak lain melalui
suatu mekanisme persaingan tidak jujur 3 . Akibat dari kenyataan ini, maka
perlindungan atas Rahasia Dagang akan menjadi salah satu faktor penentu dalam
menarik investor asing untuk masuk ke Indonesia, dan faktor penentu untuk frekuensi
perdagangan internasional itu sendiri.
Untuk melindungi Rahasia Dagangnya para investor juga berkepentingan
terhadap suatu bentuk usaha penanam modal asing yang didalamnya tidak terlibat
unsur luar perusahaan itu.
Perlindungan Rahasia Dagang juga semakin penting jika dikaitkan dengan
hubungan antar perusahaan dan karyawannya. Keberadaan PMA yag tidak
melibatkan unsur luar perusahaan saat ini sudah dimungkinkan di Indonesia dengan
kebijakan pemerintah yang menyatakan dibolehkannya bentuk PMA 100% saham
2

Cita Citrawinda Priapantja, Budaya Hukum Indonesia Menghadapi Globalisasi Perdagangan


Atau Perlindungan Rahasia Dagang Di Bidang Farmasi, Penerbit Chandra Pratama, 1999, Hal 36.

Himalay Taufan: Perlindungan Hukum Atas Rahasia Dagang, 2008.


USU e-Repository 2008

dalam suatu PT sangat penting artinya, terutama apabila bidang usaha PT tersebut
melibatkan HAKI termasuk Paten dan Rahasia Dagang 4 .
Perlindungan hukum berlaku bagi Hak Kekayaan Intelektual yang sudah
terdaftar dan dibuktikan dengan sertifikat pendaftaran. Perlindungan hukum
berlangsung

selama

jangka

waktu

yang

ditentukan

menurut

bidang

dan

klasifikasinya. Apabilia orang ingin menikmati manfaat ekonomi dari Hak Atas
Kekayaan Intelektual orang lain, dia wajib memperoleh izin dari orang yang berhak.
Perlindungan hukum merupakan upaya yang diatur oleh Undang-Undang
guna mencegah terjadinya pelanggaran HAKI oleh orang yang tidak berhak.
Undang-Undang Rahasia Dagang memainkan peranan penting bagi suatu
bisnis yang menghasilkan inovasi-inovasi yang harus dijaga kerahasiaannya untuk
memperoleh kembali biaya-biaya dan keuntungan3.
Dalam konteks yang lebih luas, dasar perdagangan dari seluruh negara dapat
dipengaruhi oleh seberapa luasnya sistem hukum yang melindungi Rahasia Dagang,
bersama-sama Hak Atas Kekayaan Intelektual lainnya, seperti Hak Paten, Hak
Merek, Hak Cipta, Desain Industri, Desain Tata Letak Sirkuit Terpadu, dan lain-lain.
Tidak memadainya Perlindungan Hukum atas Hak Atas Kekayaan Intelektual
(HAKI) tersebut dapat mempengaruhi perkembangan industri karena

perangkat

HAKI itu dirancang untuk merangsang kegiatan swasta, terutama investasi dana
untuk membantu riset dan pengembangan teknologi baru yang sudah menjadi sifatnya
3

Opcit Hal 2

Himalay Taufan: Perlindungan Hukum Atas Rahasia Dagang, 2008.


USU e-Repository 2008

mengandung resiko yang lebih besar dari pada kegiatan perdagangan lainnya. Maka
melalui pengurangan resiko, perangkat hukum HAKI merangsang investasi yang
lebih besar dalam proses invasi 5 .
Jadi, perlindungan atas Rahasia Dagang dapat mendorong masuknya investasi,
inovasi industri, dan kemajuan teknologi dan dengan demikian mempunyai pengaruh
langsung pada keseluruhan perekonomian negara 6 .
Dalam

tahun-tahun

belakangan

ini,

lajunya

perubahan

teknologi,

meningkatkan pengeluaran biaya untuk riset dan pengembangan, lebih besarnya


mobilitas karyawan dan kegiatan pengusaha, persaingan bisnis secara internasional,
dan bertambah rumitnya menyatu-padukan teknologi-teknologi yang berbeda, telah
mempertinggi pentingnya Undang-Undang Rahasia Dagang
Dengan lahirnya Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2000 Tentang Rahasia
Dagang di Indonesia diharapkan dapat menjamin dan memberikan perlindungan
hukum terhadap informasi-informasi yang bersifat rahasia dari suatu perusahaan
sehingga tidak mudah diperoleh pihak

lain secara melawan hukum dan dapat

terhindar dari praktek persaingan curang atau persaingan tidak sehat. Dengan
demikian, kelancaran dan kemajuan suatu perusahaan meningkatkan dan melahirkan
optimisme dari pelaku usaha di dalam memasuki era globalisasi perdagangan.

Komar Kantaatmadja, Undang-Undang Perseroan Terbatas 1995 dan Implikasinya Terhadap


Penanaman Modal Asing, Bandung, 1995, Hal 1
5
Ibid, Hal 37
6
Ibid, Hal 38

Himalay Taufan: Perlindungan Hukum Atas Rahasia Dagang, 2008.


USU e-Repository 2008

Era globalisasi ini memperlihatkan suatu kenyataan bahwa perdagangan


global akan memasuki tahapan baru, yaitu makin berkurangnya hambatan
perdagangan antar negara yang ada di dunia ini dan makin bertambahnya
ketergantungan suatu negara kepada negara lainnya.
Arah globalisasi ini sangat erat kaitannya dengan ilmu pengetahuan teknologi,
terutama di bidang informasi, telekomunikasi, serta transportasi, dan memperlihatkan
kecenderungan yang terus berkembang.
Pesatnya perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi ini mengakibatkan
suatu peristiwa di satu negara sangat mudah dan cepat diketahui oleh orang banyak
yang ada di negara lain. Hal ini berarti tidak ada lagi batas antara negara dan
menyebabkan pembauran antar negara menjadi semakin kompleks. Inilah salah satu
gambaran yang akan dihadapi oleh negara-negara di dunia, termasuk Indonesia dalam
era globalisasi atau perdagangan bebas.
Para pelaku usaha dan investor, baik dari dalam negeri maupun dari luar
negeri merasa berkepentingan terhadap teknologi yang mereka miliki sehingga
mereka merasa perlu adanya perlindungan hukum terhadap teknologi tersebut.
Hal ini terjadi karena barang dan jasa yang mereka hasilkan dengan teknologi
yang mereka miliki merupakan bagian dari Hak Atas Kekayaan Intelektual yang
wajib dilindungi oleh hukum yang sesuai dengan standar internasional.
Munculnya keterkaitan antara barang dan jasa dengan Hak Atas Kekayaan
Intelektual adalah karena di dalam proses pembuatan barang dan jasa tersebut
terdapat informasi yang dirahasiakan atau yang lebih dikenal dengan Rahasia Dagang

Himalay Taufan: Perlindungan Hukum Atas Rahasia Dagang, 2008.


USU e-Repository 2008

yang tidak boleh diketahui oleh umum yang merupakan bagian dari HAKI selain Hak
Paten, Hak Merek, Hak Cipta, Desain Industri, Desain Tata Letak Sirkuit Terpadu,
dan lain-lain.
Informasi yang dirahasiakan atau Rahasia Dagang dari suatu perusahaan
merupakan hal yang sangat penting bagi pelaku usaha karena informasi ini memiliki
nilai ekonomis dan menyangkut kualitas dari barang dan jasa yang dihasilkan.
Apabila terjadi pembocoran maka akan merugikan perusahaan tersebut, jadi
dipandang dari sudut hukum dan ekonomi, Rahasia Dagang menjadi faktor yang
esensial bagi perkembangan perusahaan tersebut.
Oleh karena itu, perlindungan hukum terhadap Rahasia Dagang ini merupakan
suatu syarat mutlak dan menjadi faktor yang sangat esensial terutama untuk
mencegah persaingan usaha yang tidak sehat dari pelaku bisnis lainnya yang memiliki
perusahaan yang memproduksi barang atau jasa yang sejenis, terlebih-lebih jika
dikaitkan dengan globalisasi perdagangan.
Jadi dengan adanya perlindungan hukum terhadap Rahasia Dagang, maka
akan melahirkan bentuk persaingan dagang yang jujur di antara pelaku bisnis dan
menjadi komoditas yang sangat berharga karena memiliki nilai ekonomis tinggi 7 .
Selain itu, perlindungan hukum ini menjadi salah satu faktor penentu dalam menarik
investor asing untuk menanamkan modalnya di Indonesia.
Para pelaku usaha enggan melakukan kegiatan perdagangan karena jika terjadi
pembocoran Rahasia Dagang oleh orang yang tidak berhak maka mengakibatkan

Himalay Taufan: Perlindungan Hukum Atas Rahasia Dagang, 2008.


USU e-Repository 2008

kerugian, serta investor asing tidak berminat menanamkan modalnya di Indonesia


dalam bentuk Penanaman Modal Asing (PMA) yang didalamnya tidak terlibat unsur
luar perusahaan itu atau dalam bentuk Joint Venture karena tingkat kompetisi antar
perusahaan semakin tinggi sehingga menimbulkan persaingan usaha tidak sehat.
Berdasarkan penjabaran tersebut diatas, penulis bermaksud untuk menyusun
tesis dengan judul PERLINDUNGAN HUKUM ATAS RAHASIA DAGANG
B. Permasalahan
Berdasarkan latar belakang sebagaimana dikemukakan di atas, maka pokok
permasalahan dalam penulisan tesis ini adalah sebagai berikut :
1. Bagaimanakah Perlindungan Hukum atas Rahasia Dagang?
2. Bagaimana upaya Pemilik Rahasia Dagang dalam mempertahankan eksistensi
Rahasia Dagangnya untuk mengatasi persaingan usaha tidak sehat yang
dilakukan oleh kompetitor yang tidak beritikad baik?
3. Bagaimana bentuk upaya penyelesaian sengketa pelanggaran Rahasia
Dagang?
C. Tujuan Penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk :
1. Mengetahui Bagaimanakah Perlindungan Hukum atas Rahasia Dagang.
2. Mengetahui

bagaimana

upaya

pemilik

Rahasia

Dagang

dalam

mempertahankan eksistensi Rahasia Dagangnya untuk mengatasi persaingan


usaha tidak sehat yang dilakukan oleh kompetitor yang tidak beritikad baik.
7

Opcit, Hal 3

Himalay Taufan: Perlindungan Hukum Atas Rahasia Dagang, 2008.


USU e-Repository 2008

3. Juga untuk mengetahui bagaimana bentuk upaya penyelesaian sengketa


pelanggaran Rahasia Dagang.
D. Manfaat Penelitian
Penelitian

ini diharapkan dapat mempunyai manfaat baik secara praktis

maupun teoritis, yaitu :


1. Secara praktis Penelitian ini diharapkan dapat menjadi bahan masukan bagi
para aparat penegak hukum yang terkait untuk melaksanakan perlindungan
hukum bagi pencari keadilan khususnya di bidang Rahasia Dagang.
2. Secara teoritis Penelitian ini diharapkan dapat menjadi bahan untuk penulisan
dan penelitian lebih lanjut untuk membentuk aturan main yang jelas mengenai
perlindungan hukum terhadap Rahasia Dagang.
3. Pembahasan dalam penulisan ini juga dimaksudkan sebagai sumbang saran
penulis kepada mahasiswa dan masyarakat untuk menambah wawasannya
tentang HAKI khususnya Rahasia Dagang.
E. Keaslian Penelitian
Dari hasil penelusuran kepustakaan yang ada di lingkungan Universitas
Sumatera Utara, khususnya di lingkungan Pasca Sarjana Universitas Sumatera Utara
menunjukkan bahwa tesis dengan judul PERLINDUNGAN HUKUM ATAS
RAHASIA DAGANG ini belum ada yang membahasnya, sehingga tesis ini dijamin
keasliannya sepanjang mengenai judul dan permasalahan yang diuraikan di atas
sehingga penulisan ini dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah.

Himalay Taufan: Perlindungan Hukum Atas Rahasia Dagang, 2008.


USU e-Repository 2008

F. Kerangka Teori Dan Konsepsi


1. Kerangka Teori
Kerangka teori adalah merupakan kerangka lebih lanjut terhadap masalahmasalah yang diteliti. Sebelum peneliti mengetahui kegunaan dari kerangka teori,
maka peneliti perlu mengetahui terlebih dahulu mengenai arti teori.
Menurut Bintaro Tjokromijoyo dan mustafa Adidjoyo Teori diartikan
sebagai ungkapan mengenai hubungan kausal yang logis diantara perubahan
(variabel) dalam bidang tertentu, sehingga dapat digunakan sebagai kerangka pikir
(frame of thingking) dalam memahami serta menangani permasalahan yang timbul di
dalam bidang tersebut 8
Dari teori diatas dapat disimpulkan bahwa maksud kerangka teori adalah
pengetahuan yang diperoleh dari tulisan dan dokumen serta pengetahuan kita sendiri
yang merupakan kerangka dari pemikiran dan sebagai lanjutan dari teori yang
bersangkutan, sehingga teori penelitian dapat digunakan untuk proses penyusunan
maupun penjelasan serta meramalkan kemungkinan adanya gejala-gejala yang timbul.
Menurut M. Solly Lubis, kerangka teori adalah kerangka pemikiran atau butirbutir pendapat, teori, atau tesis mengenai sesuatu kasus atau permasalahan (problem)
yang menjadi bahan perbandingan pegangan teoritis 9 .

Bintaro Tjokroamidjojo Dan Mustofa Adidjoyo, Teori Dan Strategi Pembangunan Nasional,
Jakarta; CV Haji Masagung, 1998, Hal 12
9
M. Solly Lubis, dikutip dalam S. Mantayborbir, Sistem Hukum Pengurusan Piutang Negara,
Jakarta; Pustaka Bangsa Press, 2004, Hal 13

Himalay Taufan: Perlindungan Hukum Atas Rahasia Dagang, 2008.


USU e-Repository 2008

Dalam hal ini fungsi kerangka teori selaras dengan apa yang digunakan oleh
Dr. Sugiyono bahwa teori-teori yang relevan dapat digunakan untuk menjelaskan
tentang variabel yang akan diteliti. Setara sebagai dasar untuk memberikan
jawaban sementara terhadap masalah yang diajukan 10 .
1.1 Sejarah Rahasia Dagang
Sebelum mengetahui lebih jauh tentang Rahasia Dagang, maka ada baiknya
terlebih dahulu kita tahu tentang sejarah daripada Rahasia Dagang itu sendiri. Dengan
mengetahui sejarah dari Rahasia Dagang itu maka dapat mengetahui mengapa
Rahasia Dagang menjadi penting. Rahasia Dagang bukanlah hal yang baru bagi dunia
usaha.
Sebelum abad kesembilan belas, masalah kerahasiaan, khususnya yang
berhubungan dengan rahasia perusahaan, telah memperoleh perhatian yang tidak
kalah pentingnya oleh pengadilan, namun hal ini belum diatur secara khusus.
Dimana pengaturannya secara umum diatur dalam hukum kerahasiaan (law
of confidental). Hukum kerahasiaan berkaitan dengan perlindungan rahasia-rahasia
baik yang menyangkut rahasia di bidang perdagangan, rahasia yang sifatnya pribadi
ataupun mengenai pemerintah negara.
Adapun dasar-dasar alasan terbentuknya hukum kerahasiaan ini dapat
mencegah seseorang membocorkan informasi yang diberikan kepadanya secara
rahasia, dengan pengertian tegas maupun diam-diam bahwa informasi itu tidak boleh
dibocorkan kepada pihak-pihak lain atau disalahgunakan oleh penerima informasi.
10

Sugiyono, Metode Penelitian Administrasi, Bandung : Alfa Beta, 1983, hal 200

Himalay Taufan: Perlindungan Hukum Atas Rahasia Dagang, 2008.


USU e-Repository 2008

Sumber hukum kerahasiaan terletak pada equity dan hampir keseluruhannya


merupakan hukum kasus. Hal ini jugalah yang menjadi dasar perlunya perlindungan
terhadap Rahasia Dagang itu sendiri.
Dan hukum kerahasiaan secara modern mulai berkembang pada awal abad
kesembilan belas, yang mana perkembangan tersebut telah mampu menghasilkan
peraturan-peraturan khusus mengenai rahasia-rahasia ataupun informasi-informasi
tentang perdagangan dan kepentingan negara 11 .
Untuk lebih mengetahui tentang sejarah Rahasia Dagang itu dengan
mengambil contoh kasus yang telah terjadi jauh sebelum terbentuknya UndangUndang Nomor 10 Tahun 2000 Tentang Rahasia Dagang.
Salah Satu kasus yang cukup terkenal, yang diputus di negeri Belanda
adalah kasus Cohen vs Lindenbaum. Cohen maupun Lindenbaum adalah dua buah
perusahaan percetakan yang saling bersaing. Kasus ini bermula dari penerimaan
pegawai Lindenbaum oleh Cohen melalui iming-iming dan bujuk rayu yang disertai
dengan hadiah. Karyawan Lindenbaum yang dipekerjakan oleh Cohen tersebut
selanjutnya dimanfaatkan oleh Cohen, dengan cara mengorek segala informasi
maupun data yang dimiliki oleh karyawan tersebut. Khususnya yang berhubungan
dengan jalannya kegiatan operasional Lindenbaum, termasuk berbagi informasi
mengenai

pembelian,

pemasok

(supplier),

penjualan,

promosi,

pelanggan

(customer), serta proses penentuan harga (pricing), hal ini dilakukan oleh Cohen
untuk merebut pangsa pasar.

Himalay Taufan: Perlindungan Hukum Atas Rahasia Dagang, 2008.


USU e-Repository 2008

Perusahaan Lindenbaum selanjutnya menggugat perusahaan Cohen akibat


tindakannya tersebut yang telah membawa banyak kerugian materil pada
perusahaannya, dengan dasar gugatan Cohen telah melakukan perbuatan
melanggar hukum, misalnya Pasal 1365 KUH Perdata, karena belum adanya
peraturan khusus di bidang HAKI terutama mengenai Rahasia Dagang.
Dalam pemeriksaan tingkat pertama, Lindenbaum dimenangkan. Namun
pada pemeriksaan tingkat banding oleh Gerechtshof, Amsterdam, Lindenbaum
dikalahkan berdasarkan yurisprudensi bahwa tindakan Cohen tersebut tidak
dapat dikatagorikan sebagai perbuatan yang melawan hukum. Tidak ada satu
ketentuanpun dalam peraturan perundang-undangan yang berlaku waktu itu yang
dilanggar oleh Cohen.
Di pemeriksaan kasasi oleh Hoge Raad, Lindenbaum dimenangkan.
Diman Hoge Raad menyatakan bahwa perbuatan Cohen tersebut dapat
dimasukkan sebag a i perbuatan melanggar hukum (Pasal 1365 KUH Perdata),
karena telah memperkosa suatu Hak Milik hukum orang lain secara bertentangan
dengan kepatutan atau kesusilaan atau dengan kepantasan dalam masyarakat
dengan tanpa memperhatikan kepentingan orang lain 12 .
Putusan Hoge Raad Belanda Tanggal 31 Januari 1919 tersebut telah
memberikan suatu pengertian yang luas dari perbuatan melanggar hukum, yaitu
bahwa
11

pengungkapan

informasi

tersebut

ternyata

merupakan

David I Bainbridge, Komputer Dan Hukum, Jakarta, PT Sinar Grafika, 1993, Hal;46

Himalay Taufan: Perlindungan Hukum Atas Rahasia Dagang, 2008.


USU e-Repository 2008

suatu

pengungkapan yang dapat menyebabkan kerugian (secara komersil) terhadap


pihak pemilik informasi tersebut 13 .
Hal terpenting dari kasus ini adalah pengadilan menyatakan bahwa suatu
tindakan dianggap telah melanggar Rahasia Dagang jika memenuhi unsur-unsur :
1. Bahwa informasi itu memiliki nilai kerahasiaan.
2. Adanya kewajiban para pihak untuk merahasiakan informasi tersebut.
3. Adanya unsur perbuatan berupa tindakan penggunaan informasi tersebut
secara melawan hukum yang merugikan pemilik informasi.
Tergugat dalam hal ini dinyatakan telah melanggar Rahasia Dagang karena
melanggar kewajibannya untuk menjaga kerahasiaan tersebut 14 . Demikianlah telah
kita lihat bagaimana pentingnya suatu informasi atau data yang bersifat rahasia bagi
dunia usaha. Kerahasiaan itu sendiri pada dasarnya bersifat relatif, dan tidak absolut,
sebagaimana yang telah dikemukakan di atas.
Suatu informasi rahasia adalah suatu informasi yang tidak terbuka untuk
umum, dalam arti kata orang luar, dan bersifat tidak rahasia bagi orang yang
terlibat secara langsung dengan keberadaan dan pemanfaatan informasi itu sendiri,
yang dalam banyak istilah dikatagorikan sebagai orang dalam.

12

Gunawan Widjaja, Seri Hukum Bisnis, Rahasia Dagang, Jakarta, P.T Raja Grafindo Persada,
2001, Hal 1
13
Ibid Hal 2

Himalay Taufan: Perlindungan Hukum Atas Rahasia Dagang, 2008.


USU e-Repository 2008

1.2 Pengertian Rahasia Dagang


Sebelum membahas lebih lanjut mengenai Rahasia Dagang, ada baiknya
mengetahui terlebih dahulu pengertian dari Rahasia Dagang tersebut. Jika telah
mengetahui pengertian tersebut, maka untuk menuju pada tahap pembahasan akan
lebih memudahkan untuk semakin mengerti dan memahami hal tersebut. Istilah
Rahasia Dagang itu sendiri di beberapa Negara berbeda-beda satu dengan yang
lainnya.
Ada yang menyatakan istilah know-how dibedakan dengan trade secret.
Istilah Rahasia Dagang dikenal secara luas dalam sistem Anglo Saxon dan
dipergunakan baik dalam produk-produk hukum dan kepustakaan hukum.
Sarjana-sarjana hukum terkemuka Amerika Serikat, seperti Robert Merges,
Pamela Samuelson, Richard M Buxbaum menggunakan istilah Rahasia Dagang
meskipun telah lahir istilah baru yaitu informasi yang dirahasiakan yang diakomodasi
dalam TRIPs tersebut. Di Prancis, Jerman, Jepang, dan Amerika Serikat dan banyak
Negara lainnya menyatakan bahwa know-how dalam bidang industri dapat
merupakan suatu trade secret atau Rahasia Dagang, walaupun proses umum atau
metode itu berkaitan dengan hal yang dapat dipatenkan atau secara umum dapat
diketahui oleh masyarakat luas 15 .

14

Ahmad M. Ramli, HAKI Teori Dasar Perlindungan Rahasia Dagang, Bandung, Mandar Maju,
2000, Hal.31
15

Insan Budi Maulana, Langkah Awal Mengenal Undang-Undang Rahasia Dagang, Bandung, PT.
Citra Aditya Bakti, 2001, Hal.18

Himalay Taufan: Perlindungan Hukum Atas Rahasia Dagang, 2008.


USU e-Repository 2008

TRIPs dalam hal ini memberikan istilah agak berbeda dengan menyatakan
sebagai informasi yang dirahasiakan, istilah ini pada prinsipnya merupakan pedoman
dari istilah Rahasia Dagang.
Dengan catatan bahwa kesepakatan GATT-WTO dalam TRIPs tampak
bermaksud memperluas istilah Rahasia Dagang ini. Berbeda dengan penggunaan
istilah yang digunakan dalam Sistem Hukum Amerika Serikat, Sistem Hukum Inggris
memberikan istilah yang lebih mendekati terminologi yang digunakan TRIPs dengan
menyebutkannya sebagai informasi rahasia (confidential information) untuk Rahasia
Dagang, sedangkan hukum dan praktek pengadilan Australia justru menggunakan
istilah yang sama dengan Amerika Serikat yaitu Rahasia Dagang 16 .
Terlepas dari semua perbedaan tentang penyebutan istilah Rahasia Dagang itu
sendiri, pada prinsipnya Rahasia Dagang merupakan bagian dari informasi rahasia 17 .
Informasi Rahasia adalah informasi yang tidak boleh diketahui siapa saja, kecuali
petugas atau pejabat yang diberi wewenang untuk melaksanakan dan menyimpan
informasi rahasia tersebut.
Informasi rahasia dapat diklasifikasikan menjadi beberapa jenis menurut
pemilik atau sumbernya, yaitu 18 :
1.

Rahasia Pribadi (private secret), dimiliki seseorang yang patut dirahasiakan,


misalnya catatan harian pengusaha melalui sekretarisnya, kisah kehidupan pribadi
masa lalu, kiat sukses dalam pemasaran.
16
17

Op. Cit, Hal.33-34


Ibid Hal 35

Himalay Taufan: Perlindungan Hukum Atas Rahasia Dagang, 2008.


USU e-Repository 2008

2. Rahasia Politik (political secret), dimiliki oleh negara atau partai politik misalnya
rahasia jabatan, strategi penguasaan suatu wilayah, pembatasan ruang gerak
partai politik, strategi mempertahankan kekuasaan.
3. Rahasia Pertahanan dan Keamanan (defence and security secret), dimiliki negara,
misalnya strategi pengembangan militer, pembangunan pabrik senjata,
pertahanan negara yang efektif, daerah kawasan militer.
4. Rahasia Dagang (trade secret), dimiliki perusahaan atau pengusaha, misalnya
penemuan teknologi, proses produksi dan pemasaran, manajemen perusahaan,
formula produk berkualitas, program komputer, dan komputerisasi data prospek
perusahaan.
Terdapat perbedaan pengertian Rahasia Dagang pada beberapa sarjana, untuk
mewakili pengertian Rahasia Dagang itu sendiri, kita akan mengutip dari pengertian
yang tercantum dalam ketentuan Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2000 Tentang
Rahasia Dagang, Pasal 1 Ayat (1) yang berbunyi :
Rahasia Dagang adalah informasi di bidang teknologi dan atau bisnis yang tidak
diketahui umum, mempunyai nilai ekonomi karena berguna dalam kegiatan usaha,
dan dijaga kerahasiaannya oleh pemilik Rahasia Dagang.
Banyak pengertian dari Rahasia Dagang itu sendiri, baik menurut ketentuan
hukum nasional maupun menurut negara lainnya. Namun pada prinsipnya bahwa
Rahasia Dagang merupakan segala informasi yang tidak diketahui oleh umum dalam
rangka kegiatan perdagangan. Informasi yang sangat strategis sifatnya ini memiliki
18

Ibid Hal 36

Himalay Taufan: Perlindungan Hukum Atas Rahasia Dagang, 2008.


USU e-Repository 2008

potensi mengandung nilai ekonomis yang tinggi karena dapat digunakan untuk alat
bersaing dengan para competitor.
1.3 Kriteria Rahasia Dagang
Dengan mengetahui pengertian Rahasia Dagang tersebut, maka kita dapat
mengambil kesimpulan informasi yang bagaimanakah yang termasuk kedalam
Rahasia Dagang tersebut. Untuk menjawab pertanyaan itu, yang menjadi pembahasan
selanjutnya yaitu kriteria Rahasia Dagang tersebut.
Adapun kriteria Rahasia Dagang berdasarkan pengertian Rahasia Dagang
sebelumnya yaitu :
1. Informasi

itu

mempunyai

nilai

ekonomi

(economic

value),

artinya

menghasilkan keuntungan ekonomi bagi perusahaan yang menggunakannya.


2. Informasi itu mempunyai nilai rahasia (secret value), artinya ide baru yang
belum diketahui oleh pihak lain, bernilai strategis dalam menghadapi pesaing,
dan prospek usaha cerah melalui pengembangan proses produksi dan
pemasaran.
3. Informasi itu termasuk lingkup perindustrian dan perdagangan (scope of
industry and trade), lingkup perindustrian ini meliputi aspek tata niaga.
4. Terbukanya kerahasiaan (disclosure of secrecy), informasi mengakibatkan
kerugian bagi pemiliknya karena informasi itu berpindah dan ikut
dimanfaatkan oleh pihak pesaing.
Tidak sedikit fakta yang terdapat diperusahaan-perusahaan besar, dimana
mereka mencantumkan secara konkrit dan tegas dalam setiap kontrak/perjanjian baik

Himalay Taufan: Perlindungan Hukum Atas Rahasia Dagang, 2008.


USU e-Repository 2008

antara pengusaha dengan karyawannya ataupun antar perusahaan yang satu dengan
yang lain mengenai kewajiban tiap-tiap pihak yang terkait untuk menjaga kerahasiaan
terutama di bidang perdagangan.
Untuk mempertahankan eksistensi Rahasia Dagang, maka pemiliknya harus
melakukan langkah-langkah konkret untuk melindunginya, seperti :
1. Pengungkapan Rahasia Dagang hanya dilakukan terhadap mereka yang perlu
mengetahuinya saja dengan persyaratan-persyaratan yang sifatnya rahasia.
2. Rahasia Dagang harus selalu dimasukkan kedalam kelompok informasi atau
data yang bersifat rahasia.
3. Akses public terhadap informasi tersebut dalam berbagai bentuk harus
dihindari, termasuk didalamnya kegiatan-kegiatan penelitian laboratorium,
studi literatur, perbandingan proses produksi dan lain-lain.
4. Dalam perjanjian kerja antar perusahaan dengan karyawan harus diatur secara
tegas tentang larangan pengungkapan Rahasia Dagang diluar tugas-tugasnya
seperti jika berhubungan dengan pihak lain yang tidak terikat dalam
perjanjian.
1.4 Ruang Lingkup Rahasia Dagang
Mengenai ruang lingkup Rahasia Dagang masih terdapat perbedaan pendapat,
namun Indonesia mencoba untuk membuat cakupan mengenai Rahasia Dagang itu
dengan mengacu kepada ketentuan TRIPs.
Menurut Pasal 2 Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2000 Tentang Rahasia
Dagang lingkup perlindungan Rahasia Dagang meliputi informasi tentang Metode

Himalay Taufan: Perlindungan Hukum Atas Rahasia Dagang, 2008.


USU e-Repository 2008

Produksi, Metode Pengolahan, Metode Penjualan, atau informasi lainnya di bidang


teknologi dan atau bisnis yang bernilai ekonomi, dan tidak diketahui oleh masyarakat
umum.
Disamping mengacu pada Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2000, dapat juga
diambil contoh penerapan lingkup baku dalam hukum Amerika Serikat, Yaitu :
1. Informasi tekhnikal atau penelitian dan pengembangan dengan contoh sebagai
berikut : informasi teknologi, informasi yang berhubungan dengan riset dan
pengembangan, formula-formula, senyawa-senyawa/bahan campuran, prosesproses dan lain-lain.
2. Informasi tentang proses produksi, misalnya data biaya, informasi-informasi
yang berhubungan dengan perlengkapan-perlengkapan khusus produksi,
teknologi pemrosesan, spesifikasi-spesifikasi untuk proses produksi dan
perlengkapannya.
3. Informasi tentang pemasok.
4. Informasi tentang kendali mutu, misalnya prosedur kendali mutu, kendali
mutu manual, data kendali mutu, dan know-how.
5. Informasi penjualan dan pemasaran, misalnya peramalan penjualan,
perencanaan penjualan dan pemasaran, laporan penjualan, informasi tentang
kompetitor, informasi yang berhubungan dengan pelanggan, hasil studi dan
laporan-laporan penjualan dan pemasaran.

Himalay Taufan: Perlindungan Hukum Atas Rahasia Dagang, 2008.


USU e-Repository 2008

6. Informasi keuangan internal, misalnya dokumen keuangan, internal anggaran,


peramalan, hasil cetak melalui komputer, marjin produksi, biaya produksi,
data untungt-rugi, informasi administrative.
7. Informasi administrasi internal, misalnya organisai internal, kunci-kunci
dalam pengambilan keputusan, perencanaan strategi bisnis, perangkat lunak
komputer internal perusahaan.
Ruang lingkup Rahasia Dagang dapat berkembang lebih luas tetapi intinya
mencakup informasi teknik dan informasi non-teknik.
2.

Konsepsi
Konsep adalah salah satu bagian terpenting dari teori. Konsepsi diterjemahkan

sebagai usaha membawa sesuatu dari abstrak menjadi suatu yang konkrit, yang
disebut dengan operational definition19 . Pentingnya defenisi operasional adalah untuk
menghindarkan perbedaan pengertian atau penafsiran mendua (dubius) dari suatu
istilah yang dipakai. 20 Oleh karena itu untuk menjawab permasalahan dalam
penelitian ini harus didefenisikan beberapa konsep dasar, agar secara operasional
diperoleh hasil penelitian yang sesuai dengan tujuan yang telah ditentukan, yaitu:
a. Rahasia Dagang adalah informasi yang tidak diketahui oleh umum di
bidang teknologi dan atau bisnis, mempunyai nilai ekonomi karena berguna

19

Sutan Remy Syahdeeni, 1993, Kebebasan Berkontrak Dan Perlindungan Yang Seimbang Bagi
Para Pihak Dalam Perjanjian Kredit Bank Di Indonesia, Institut Bankir Indonesia, Jakarta, hal 10.
20
Tan Kamelo, 2002, Perkembangan Lembaga Fiducia;Suatu Tinjauan Putusan Pengadilan Dan
Perjanjian Di Sumatera Utara, Disertasi, Medan:PPs-USU, hal 35.

Himalay Taufan: Perlindungan Hukum Atas Rahasia Dagang, 2008.


USU e-Repository 2008

dalam kegiatan usaha dan dijaga kerahasiaannya oleh pemilik Rahasia


Dagang.
b. Perlindungan Rahasia Dagang diatur dalam Undang-Undang Nomor 30
Tahun 2000 Tentang Rahasia Dagang, dan mulai berlaku sejak tanggal 20
Desember 2000.
c. Lingkup perlindungnan Rahasia Dagang meliputi metode produksi, metode
pengolahan, metode penjualan, atau informasi lain dibidang teknologi dan
atau bisnis yang memiliki nilai ekonomi dan tidak diketahui oleh
masyarakat umum.
d. Rahasia Dagang dapat dialihkan atau beralih kepada pihak lain yaitu
dengan dara pearisan, hibah, wasiat, perjanjian tertulis, atau sebab-sebab
lainnya yang dibenarkan oleh peraturan perundang-undangan.
e. Lisensi adalah izin yang diberikan oleh pemilik Rahasia Dagang kepada
pihak lain melalui suatu perjanjian berdasarkan pada pemberian hak (bukan
pengalihan hak) untuk menikmati manfaat ekonomi dari suatu Rahasia
Dagang yang diberi perlindungan dan jangka waktu tertentu dan syarat
tertentu. Perjanjian lisensi wajib dicatatkan pada Direktorat Jenderal HaKI
dengan sebagaimana diatur dalam Undang-Undang.
G. Metode Penelitian
Metode penelitian merupakan suatu sistem dan suatu proses yang mutlak
dilakukan dalam suatu kegiatan penelitian dan pengembangan ilmu pengetahuan.
Dalam pelaksanaannya diperlukan dan ditentukan alat-alatnya, jangka waktu yang

Himalay Taufan: Perlindungan Hukum Atas Rahasia Dagang, 2008.


USU e-Repository 2008

diperlukan untuk proses penulisan, cara-cara yang dapat ditempuh, apabila menemui
kesulitan pada proses penelitian 21 .
Sebagai suatu penelitian ilmiah, maka rangkaian kegiatan penelitian dimulai
dari pengumpulan data sampai pada analisis data dilakukan dengan memperhatikan
kaedah-kaedah penelitian ilmiah sebagai berikut :
1. Sifat Penelitian
Sesuai dengan permasalahan yang akan diteliti, penelitian ini diarahkan untuk
mengetahui Perlindungan Hukum Atas Rahasia Dagang Sebagai Hak Kekayaan
Intelektual Menurut Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2000 Tentang Rahasia
Dagang.
Meneliti pada hakekatnya berarti mencari, yang dicari dalam penelitian
hukum adalah kaedah, norma atau das sollen, bukan peristiwa, perilaku dalam arti
fakta atau das sein 22 .
Penelitian ini bersifat deskriptif analitis, artinya bahwa penelitian ini termasuk
lingkup penelitian yang menggambarkan, menelaah dan menjelaskan secara tepat
serta

menganalisa

peraturan

perundang-undangan

yang

berkaitan

dengan

perlindungan Rahasia Dagang.

21

Soerjono Soekanto Dan Sri Mamudji, Penelitian Hukum Normatif, Jakarta, PT Raja Grafindo
Persada, 1994, hal 23.
22
Soedikno Mertokusumo, Penemuan Hukum Sebuah Pengantar, Yogyakarta, Liberty
Yogyakarta, 2001, Hal.29

Himalay Taufan: Perlindungan Hukum Atas Rahasia Dagang, 2008.


USU e-Repository 2008

2. Pendekatan Penelitian
Dalam penelitian ini dipergunakan penelitian kepustakaan yang bersifat
hukum normatif 23 atau penulisan kepustakaan dengan pendekatan perundangundangan (statue approach), terutama untuk mengkaji peraturan perundangundangan yang berkaitan dengan Rahasia Dagang.
Penelitian ini dilakukan melalui pendekatan yuridis normatif, karena
penelitian ini merupakan penelitian kepustakaan atau studi dokumen yang dilakukan
atau ditujukan hanya pada peraturan-peraturan yang tertulis atau bahan hukum yang
lain 24 , kalaupun ada digunakan pendekatan yuridis empiris hanyalah sebagai metode
pendukung dalam penelitian ini.
Penelitian hukum normatif atau kepustakaan menurut Soerjono Soekanto
mencakup :
1. Penelitian hukum Penelitian terhadap azas-azas hukum;
2. Penelitian terhadap sistematik hukum;
3. Penelitian terhadap sinkronisasi vertikal dan horizontal;
4. Perbandingan hukum;
5. Sejarah hukum.

23
24

Soerjono Soekanto Dan Sri Mamudji, Op Cit Hal 23


Bambang Waluyo, Metode Penelitian Hukum, Jakarta, Sinar Grafika, 1996, Hal 13.

Himalay Taufan: Perlindungan Hukum Atas Rahasia Dagang, 2008.


USU e-Repository 2008

3. Sumber Data
Penelitian normatif ini dilakukan dengan penggunaan studi dokumen atau
bahan pustaka, yaitu berupa data sekunder. Penelitian ini juga menggunakan
penelitian lapangan sebagai data pendukung dalam penelitian ini.
Data sekunder yang digunakan terdiri dari bahan hukum primer dan bahan
hukum sekunder. Bahan hukum primer yang digunakan berupa norma dasar,
peraturan dasar, peraturan perundang-undangan, bahan hukum yang tidak
dikodifikasikan dan badan hukum dari zaman penjajahan hingga kini masih berlaku,
sedangkan badan hukum sekunder yang digunakan berupa buku, makalah, dan hasil
penelitian dibidang hukum.
Bahan utama dari penelitian ini adalah data sekunder yang dilakukan dengan
menghimpun bahan-bahan berupa :
a. Bahan Hukum Primer
Yaitu bahan hukum yang mengikat, berupa ketentuan peraturan perundangundangan terkait dengan penulisan ini.
b. Bahan Hukum Sekunder
Yaitu bahan yang memberikan penjelasan tentang bahan hukum primer antara
lain buku-buku hasil penulisan, jurnal, makalah, artikel, surat kabar, internet
yang terkait dengan objek penulisan ini.
c. Bahan Hukum Tertier
Bahan hukum yang memberikan petunjuk maupun penjelasan terhadap bahan
hukum primer dan bahan hukum sekunder, seperti kamus umum, kamus

Himalay Taufan: Perlindungan Hukum Atas Rahasia Dagang, 2008.


USU e-Repository 2008

hukum, dan jurnal ilmiah, majalah, surat kabar, dan internet juga menjadi
tambahan bagi penulisan tesis ini sepanjang memuat informasi yang relevan
dengan penelitian yang akan dilakukan.
Data primer yaitu penelitian lapangan untuk mendapatkan data primer yang
berkaitan dengan masalah Perlindungan Hukum atas Rahasia Dagang yang dilakukan
dengan wawancara dengan Maneger In Charge A&W Restaurant Cabang Sun Plaza,
Medan.
4. Lokasi Penelitian
Penelitian ini dilakukan di kota Medan yaitu Di kantor Cabang A&W
Restaurant, Cabang Medan, Sun Plaza, Medan. dengan pertimbangan bidang usaha
yang berkaitan dengan konsumsi terasa lebih eksis dalam melindungi Rahasia
Dagangnya.
5. Analisis Data
Analisis data merupakan hal yang sangat penting dalam suatu penelitian
dalam rangka memberikan jawaban terhadap permasalahan yang diteliti. Penelitian
ini akan dimulai dengan mengidentifikasi hukum positif di bidang Rahasia Dagang
dan perundang-undangan lainnya yang mempunyai hubungan erat dengan peraturan
perundang-undangan lainnya yang mempunyai hubungan erat dengan Perlindungan
Rahasia Dagang.
Dari data sekunder yang terdiri dari bahan hukum primer dan bahan hukum
sekunder yang diperoleh akan dianalisis secara kualitatif dan kemudian ditarik

Himalay Taufan: Perlindungan Hukum Atas Rahasia Dagang, 2008.


USU e-Repository 2008

kesimpulan dengan menggunakan logika hukum dengan cara deduktif. Dari data yang
dianalisis tadi diharapkan dapat menjawab permasalahan yang ditetapkan.

Himalay Taufan: Perlindungan Hukum Atas Rahasia Dagang, 2008.


USU e-Repository 2008

BAB II
PERLINDUNGAN HUKUM RAHASIA DAGANG
A. Tentang Era Globalisasi
Dalam beberapa tahun ini timbul kecendrungan bahwa sistem perekonomian
dunia berdampak luas bagi perkembangan sistem perekonomian nasional, baik secara
langsung maupun tidak langsung.
Kenyataan memperlihatkan bahwa negara-negara di dunia saling bergantung
satu sama lain, berusaha mengahasilkan barang dan jasa yang terbaik dan melakukan
transaksi perdagangan secara bebas dan terbuka. Kondisi ini memperlihatkan akan
lahirnya suatu era yang bersifat global, bebas, namun terkendali dan terbuka bagi
semua negara di dunia. Era inilah yang disebut dengan era globaliasi atau
perdagangan bebas.
Konsep globalisasi pada dasarnya mengacu pada pengertian ketiadaan batas
antar negara. Konsep ini bermakna bahwa suatu negara tidak dapat mencegah sesuatu
terjadi di negara lain. Hal ini dapat dihubungkan dengan banyak hal, seperti sistem
perekonomian, sistem perdagangan, investasi atau penanaman modal, tatanan
kehidupan, dan lain-lain.
Globalisasi adalah ketiadaan batas dan kendala perdagangan antar bangsa (as
a popular view of globalization is as the absence of bonders and barries to trade
between nations).

Himalay Taufan: Perlindungan Hukum Atas Rahasia Dagang, 2008.


USU e-Repository 2008

Defenisi dan konsep globalisasi di atas bermakna sama, yaitu adanya


kebebasan antara negara-negara dalam melakukan sesuatu tanpa adanya hambatan,
baik dalam sistem perdagangan atau dalam berbagai sistem lainnya.
Pada era globalisasi atau perdagangan bebas, seluruh kegiatan perdagangan
sangat berpengaruh baik secara langsung maupun tidak langsung pada perkembangan
perekonomian nasional. Setiap negara berusaha meningkatkan produksinya dan
menghasilkan apa yang terbaik. Setiap usaha yang dilakukannya bertujuan agar
mampu bersaing dengan negara lain dalam iklim persaingan yang bebas dan terbuka.
Jadi, setiap negara cenderung berpikir bagaimana meningkatkan kualitas barang atau
jasa sehingga mampu bersaing walaupun dengan harga jual yang relatif tinggi.
Dengan demikian, siap tidak siap, mau tidak mau, seluruh negara di dunia
harus terlibat dan turut serta dalam globalisasi perdagangan karena negara-negara
tersebut tidak mungkin menutup atau mengisolasi diri dari peradaban global yang
berirama liberalisasi perdagangan.
Eksistensi arus globalisasi mulai mendapat perhatian serius secara global
ketika teknologi, terutama informasi, komunikasi, dan transportasi, berkembang
dengan cepat. Perkembangan ini memperlihatkan adanya kemampuan suatu negara
untuk mengetahui berbagai peristiwa di negara lain dengan cepat.
Kemajuan teknologi ini menyebabkan pembauran antar bangsa semakin
kompleks, sistem perekonomian dunia menyatu menjadi satu jaringan besar, dunia
terintegrasi secara ekonomi, sosial, budaya, teknologi, dan bisnis. Kondisi ini sangat
berpengaruh terhadap sistem nilai kehidupan suatu negara.

Himalay Taufan: Perlindungan Hukum Atas Rahasia Dagang, 2008.


USU e-Repository 2008

Kemajuan teknologi yang begitu cepat inilah menumbuhkan keinginan suatu


negara untuk menanamkan modalnya di negara lain dan berusaha bersaing dengan
pasar dalam negeri.
Namun, munculnya era globalisasi ini tidak sepenuhnya berdampak positif
bagi negara-negara dunia. Kadang kala perdagangan bebas ini menumbuhkan iklim
persaingan usaha tidak sehat diantara pelaku usaha. Hal ini terjadi karena kurangnya
kemampuan memproduksi barang atau jasa yang berkualitas.
Kondisi ini melahirkan suatu keinginan dari negara-negara yang dirugikan
terutama negara maju untuk membentuk satu organisasi perdagangan dunia yang
dapat melindungi kepentingan anggotanya. Menurut pandangan mereka, peran
organisasi ini sangat signifikan dalam era perdagangan yang semakin global. Oleh
karena itu pada putaran uruguay di Marekash di tandatangani pembentukan organisasi
perdagangan dunia melalui The Agreement Establishing The World Trade
Organization. Dengan lahirnya WTO ini, maka sistem perdagangan dan investasi
dunia mengacu pada satu sistem tunggal dan WTO inilah yang akan
mengadministrasikan dan mengawasi pelaksanaan persetujuan perdagangan serta
menyelesaikan sengketa dagang diantara negara-negara anggota.
Dengan demikian, sistem perekonomian dan perdagangan dunia dilaksanakan
secara bebas, tanpa hambatan, namun terkendali karena adanya WTO yang
mengawasi pelaksanaan perdagangan tersebut. Keadaan ini mendorong semakin
meningkatnya ketergantungan antar negara dan pentinganya aspek Comprativeness

Himalay Taufan: Perlindungan Hukum Atas Rahasia Dagang, 2008.


USU e-Repository 2008

suatu barang atau jasa bukan bergantung pada keunggulan comparative barang atau
jasa, untuk bersaing serta merebut pangsa pasar.
Era globalisasi atau perdagangan bebas ini juga dialami di tingkat regional,
misalnya dengan dibentuknya blok perdagangan bebas seperti AFTA (ASEAN Free
Trade Area). Indonesia sebagai negara yang terletak di kawasan Asia Tenggara ikut
serta menandatangani kesepakatan itu bersama-sama dengan negara-negara lainya.
AFTA atau Area Perdagangan Bebas ASEAN ialah suatu kerja sama regional
di Asia Tenggara untuk mengahapuskan trade barries antar negara anggota ASEAN.
Munculnya AFTA ini merupakan fenomena global yang terjadi di berbagai blok-blok
ekonomi sebagi reaksi atau anti klimaks terhadap globalisasi dan perdagangan bebas.
Berdasarkan kondisi ini, tujuan pendirian AFTA adalah menjalin kerja sama
ekonomi regional ASEAN dalam rangka tercapainya cita-cita perdagangan dunia
yang adil, seimbang, transparan, bebas hambatan tarif dan non tarif, serta mendukung
tercapainya pemilihan ekonomi dan dinamika bisnis negara-negara anggota yang
sesuai dengan kesepakatan ASEAN Bold Measures yang dicapai pada pertengahan
Desember 1998 pada KTT VI ASEAN di Hanoi. 25
Target AFTA adalah pengurangan tarif, bahkan menuju zero tariffs rate
sebelum tahun 2003 bagi negara-negara anggotanya menuju liberalisasi perdagangan.
Dengan demikian, negara-negara anggota dapat meningkatkan daya saing jangka
panjang dan keunggulan kompetitif sebagai basis produksi pasar dunia.

25

Ade Manan Suherman, Aspek Hukum Dalam Ekonomi Global, Jakarta:Ghalia, Cetakan I, 2000,
Hal 124-125

Himalay Taufan: Perlindungan Hukum Atas Rahasia Dagang, 2008.


USU e-Repository 2008

B. Kaitan Antara Perlindungan Hukum Atas Rahasia Dagang Dengan Era


Globalisasi
Selama berlangsungnya era reformasi ini, pertumbuhan dan perkembangan
ekonomi di Indonesia cukup signifikan. Hal ini ditandai dengan bertambah luasnya
bidang-bidang usaha yang terbuka yang bergerak pada sektor produksi barang
maupun jasa.
Kondisi ini memberikan indikasi berkembangnya kegiatan perdagangan baik
nasional

maupun

internasional.

Sedangkan

disisi

lain,

perkembangan

ini

menunjukkan betapa besarnya ketergantungan Indonesia akan produk-produk import.


Pada prinsipnya, keikutsertaan Indonesia dalam pembentukan Organisasi
Perdagangan Dunia (WTO) yang didalamnya mencakup persetujuan TRIPs, berarti
menyetujui rencana persaingan dunia dan perdagangan bebas. Keikutsertaan itu
memberikan konsekuensi, yaitu Indonesia harus mempersiapkan diri agar mampu
melakukan persaingan secara jujur dan sehat dalam pasar global karena persaingan
tersebut tidak hanya akan dilakukan antara negara-negara industri maju dengan
negara-negara berkembang. Tetapi juga antar negara-negara berkembang yang satu
dengan lainnya.
Selain itu, Indonesia perlu mempersiapkan diri terhadap pembentukan dan
penegakan HAKI atau Intellectual Property Rights secara efektif dan efisien karena
HAKI tersebut merupakan salah satu isu global dalam era perdagangan bebas. Hal ini
dapat dijalankan dengan memberlakukan standar-standar perlindungan HAKI

Himalay Taufan: Perlindungan Hukum Atas Rahasia Dagang, 2008.


USU e-Repository 2008

Internasional didalam negeri antara lain dengan langkah nyata untuk melindungi
Rahasia Dagang pelaku usaha yang memiliki nilai ekonomi tinggi.
Didalam menjalankan usahanya, pelaku usaha berusaha menghasilkan
barang/jasa yang berkualitas dengan menggunakan teknologi yang canggih. Untuk
mewujudkan hal ini, pelaku usaha dituntut untuk dapat bersaing dan bertindak secara
jujur, efisien, mampu mengembangkan kreativitasnya dan inovasi-inovasi baru dalam
kancah persaingan usaha nasional maupun internasional. Dengan adanya persaingan
ini, pelaku usaha dapat memperoleh laba yang sebesar-besarnya, menghasilkan
produk bermutu melalui penemuan-penemuan baru, dan suatu saat mampu menguasai
pasar. Jika ia mampu bersaing dengan pelaku usaha lainnya, maka perusahaannya
pasti mampu bertahan dalam era persaingan global.
Di dalam dunia bisnis, persaingan atau competition antar pelaku usaha
merupakan salah satu bentuk aktivitas yang dapat mendatangkan keuntungan atau
menimbulkan kerugian.
Persaingan ini merupakan pendorong untuk memajukan perusahaan dengan
menciptakan produk bermutu dan teknik menjalankan perusahaan yang serba
canggih. Jika aktivitas ini dilakukan, maka pelaku usaha melaksanakan persaingan
usaha yang jujur dan sehat.
Persaingan inilah yang dibenarkan oleh hukum dan mendatangkan
keuntungan bagi siapa saja. Akan tetapi, dalam era globalisasi ini, tingkat persaingan
atau kompetisi antara perusahaan semakin tinggi. Sering terhadap praktek persaingan
usaha tidak sehat, melanggar hukum yang dapat menimbulkan konflik antar pelaku

Himalay Taufan: Perlindungan Hukum Atas Rahasia Dagang, 2008.


USU e-Repository 2008

usaha yang satu dengan yang lainnya. Pelaku usaha cenderung untuk saling
menjatuhkan dan merugikan pelaku usaha lainnya dengan perbuatan yang tidak
wajar, tidak jujur, atau curang.
Dalam literatur hukum, persaingan ini disebut persaingan melanggar hukum
yang dikatagorikan sebagai perbuatan melanggar hukum (onrechtmatige daad).
Contohnya seperti membujuk karyawan perusahaan produsen barang bermutu tinggi
supaya membocorkan formula (rumus) untuk memprediksi barang tersebut, meniru
cara promosi perusahaan lain, mencuri bahan baku perusahaan lain, dan lain-lain.
Oleh karena itu, pelaku usaha merasa berkepentingan terhadap teknologi canggih
serta Rahasia Dagang yang dimilikinya demi kelangsungan perusahaannya.
Dalam era globalisasi, Rahasia Dagang memiliki dua peranan penting bagi
negara berkembang dalam melaksanakan investasi dan perdagangan bebas, yaitu:
1. Keberhasilan negara berkembang dalam memberikan perlindungan hukum
terhadap

Rahasia

Dagang

akan

dijadikan

ukuran

kelayakan

untuk

melaksanakan penanaman modal di negara tersebut. Tanpa adanya


perlindungan hukum, maka investor asing enggan menanamkan modalnya di
negara berkembang itu;
2. Kegagalan perlindungan hukum terhadap Rahasia Dagang mengakibatkan
munculnya tindakan pembalasan silang, yaitu berupa pengenaan sanksi
terhadap sektor usaha lain karena adanya pelanggaran terhadap sektor usaha
tertentu.

Himalay Taufan: Perlindungan Hukum Atas Rahasia Dagang, 2008.


USU e-Repository 2008

Berdasarkan paparan ini, demi mempertahankan Rahasia Dagangnya, pelaku


usaha dan para investor yang berkeinginan menanamkan modalnya di suatu negara
merasa berkepentingan dan perlu adanya perlindungan hukum terhadap Rahasia
Dagang tersebut melalui sistem perlindungan HAKI sesuai dengan standar
internasional.
Bagi mereka perlindungan hukum tersebut merupakan salah satu dasar
pertimbangan untuk melakukan perdagangan dan investasi di suatu negara. Apabila
pelindungan hukum yang memadai tersebut telah diberikan, maka perusahaan
tersebut dapat menggunakan teknologi dan Rahasia Dagangnya untuk memperoleh
keuntungan melebihi pelaku usaha lainnya yang tidak memiliki informasi tersebut.
Ditinjau dari sudut hukum, alasan ini dapat dipahami karena pelanggaran
terhadap Rahasia Dagang akan merugikan pemiliknya. Selain itu, jika diakibatkan
dengan era globalisasi, perlindungan hukum terhadap Rahasia Dagang merupakan
syarat mutlak karena Rahasia Dagang telah menjadi faktor yang sangat esensial
dalam upaya persaingan dagang yang jujur, sekaligus merupakan komoditas yang
sangat berharga dan memiliki nilai ekonomis tinggi jika dibandingkan dengan jenis
HAKI lainnya yang juga memperoleh perlindungan hukum secara internasional.
Pada masa kini, terutama dalam era globalisasi, Rahasia Dagang sudah
merupakan salah satu bentuk investasi yang sangat mahal yang harus dipertahankan
oleh pemiliknya dari pihak lain yang mungkin berusaha menyalahgunakan untuk
mencari keuntungan melalui sistem persaingan usaha tidak sehat (unfair competition).

Himalay Taufan: Perlindungan Hukum Atas Rahasia Dagang, 2008.


USU e-Repository 2008

Hal ini mengakibatkan pelaku usaha/bisnis menjadikan perlindungan hukum


atas Rahasia Dagang sebagai faktor penentu untuk masuk ke negara lain untuk
berinvestasi dan melakukan perdagangan internasional, misalnya kegiatan eksporimpor dengan menggunakan informasi yang dimilikinya yang termasuk ke dalam
Rahasia Dagang. Oleh karena itu, bagi negara berkembang, khususnya Indonesia
perlu memenuhi perangkat hukum yang berkenaan dengan perlindungan hukum
terhadap Rahasia Dagang demi peningkatan kegiatan investasi dan perdagangan
internasional khususnya menyangkut persoalan alih teknologi dari negara maju.
Dengan demikian, dapat dinyatakan bahwa adanya kepastian hukum atas
pemberian pelindungan hukum terhadap Rahasia Dagang merupakan kebutuhan yang
mendesak dalam era persaingan bisnis untuk menghindari persaingan curang yang
dapat merusak iklim bisnis secara keseluruhan dan juga melindungi para pelaku usaha
lainnya karena terjadinya keluar masuk modal serta sumber daya manusia yang
semakin tinggi.
Dengan meningkatnya perlindungan hukum terhadap Rahasia Dagang, maka
melahirkan manfaat ekonomi bagi pemilik Rahasia Dagang tersebut berupa
pengembangan kreativitas, ide serta gagasan-gagasan yang menambah keuntungan
serta masyarakat secara keseluruhan. Hal ini berarti, pelaku usaha dapat memperoleh
kembali investasi yang dikeluarkannya dan mendorongnya untuk melakukan inovasi
berikutnya.
Berdasarkan hal diatas, jelaslah bahwa pemberian perlindungan hukum
terhadap Rahasia Dagang yang memadai sangat penting dalam era globalisasi demi

Himalay Taufan: Perlindungan Hukum Atas Rahasia Dagang, 2008.


USU e-Repository 2008

pertumbuhan sektor ekonomi suatu negara terutama bagi negara berkembang dan
kelancaran aktivitas perdagangan internasional.
Sebagai negara yang telah meratifikasi TRIPs melalui UU No. 7 Tahun 1994
tentang Pengesahan Pembentukan Organisasi Perdagangan Dunia (WTO), Indonesia
memiliki keterikatan untuk melaksanakan ketentuan-ketentuan tentang Rahasia
Dagang dan ketentuan-ketentuan HAKI lainnya yang terdapat dalam TRIPs 26 Sampai
saat ini RI telah memiliki perundang-undangan di bidang Hak Cipta, Paten, Merek,
Rahasia Dagang, Desain Industri, dan Desain Tata Letak Sirkuit Terpadu yang telah
mengakomodasi dan memuat ketentuan-ketentuan pelaksanaan (implementing
legislation) dari TRIPs.
Beberapa Undang-undang tentang HAKI tersebut yang saat berlaku seringkali
memberi kesan tambal sulam karena hanya mengadakan perubahan dalam berbagai
pasal yang sebenarnya sangat banyak berbeda. Kenyataan ini menurut Sudargo
Gautama justru membingungkan dalam penerapannya karena kemungkinan akan
menimbulkan kekeliruan dalam penerapannya, oleh karenanya lebih baik dibuat suatu
Undang-Undang baru. 27
Berkenaan dengan lahirnya Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2000 Tentang
Rahasia Dagang, dapat dikatakan merupakan peraturan implementasi dari TRIPs GATT. Pengaturan tentang hal ini sebelumnya tidak berarti sama sekali tidak ada,
26

Pemerintah RI telah mengeluarkan UU No. 12/1997 tentang Perubahan atas UU No. 6/1982
tentang Hak Cipta sebagaimana telah diubah dengan UU No. 7/1987; UU No. 13/1997 tentang
Perubahan atas UU No. 6/1989 tentang Paten; dan UU No. 14/1997 tentang Perubahan atas UU No.

Himalay Taufan: Perlindungan Hukum Atas Rahasia Dagang, 2008.


USU e-Repository 2008

sebab jauh sebelum TRIPs disepakati di Indonesia telah ada ketentuan-ketentuan


tentang Rahasia Dagang yang tersebar dalam berbagai perundang-undangan,
meskipun belum secara tegas mengelompokkan hal itu sebagai bagian dari HaKI
yang merupakan implementasi dari TRIPs.
Informasi yang dirahasiakan diatur dalam Bab 7 Pasal 39 TRIPs ayat (1)
sampai dengan ayat (3).
Pasal 39 ayat (1) dan ayat (2) selengkapnya menyatakan :
(1) the course of ensuring effective protection againts unfair competition as provided
in Article 10 bis of the Paris Convention (1967), Members shall protect
undisclosed information in accordance with paragraph 2 below and data
submitted to governments or govermental agencies in accordance with paragraph
3 below;
(2) Natural and legal persons shall have the possibility of preventing information
lawfully within their control from being disclosed to, acquired by, or used by
others without their consent in a manner contrary to honest commercial practices
so long as such information :
a. is secret in the sense it is not, as abody or in the precise configuration and
assembly of its components, generally known among or readily accessible
to persons within the circles that normally deal with the kind of
information in question;

19/1992 tentang Merek, UU No. 30/200 tentang Rahasia Dagang, UU No. 31/2000 tentang Disain
Industri, dan UU No. 32/2000 tentang Disain Tata Letak Sirkuit Terpadu

Himalay Taufan: Perlindungan Hukum Atas Rahasia Dagang, 2008.


USU e-Repository 2008

b. has commercial value because it is secret, and;


c. has been subject to reasonable steps under the circumstances, by the
person lawfully in control of the information, to keep it secret.
Dari ketentuan - ketentuan tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa sebagai
negara anggota Indonesia diwajibkan untuk memberikan perlindungan terhadap
informasi yang dirahasiakan (Rahasia Dagang) untuk menjamin perlindungan secara
efektif dalam menghadapi persaingan curang sesuai dengan Pasal 10 bis Konvensi
Paris versi 1967. 28 Penunjukan berlakunya Pasal 10 bis Konvensi Paris
merupakan konsekuensi sifat keberlakuan TRIPs yang juga berfungsi sebagai kaidah
penunjuk. 29 Konvensi Paris telah diratifikasi tanpa reservasi oleh RI melalui Keppres
No. 15/1997.

27

Sudargo Gautama, & Rizawanto Winata, Pembaharuan Undang-Undang Paten , 1998, hal. 3
Article 10 bis Paris Convention berbunyi :
(1) The countries of the Union are bound to assure to nationals of such countries effective protection
againts unfair competition.
(2) Any act of competition contrary to honest practices in industrial or commercial matters constitutes
and act of unfair competition
(3) The following in particular shall be prohibited :
1. all acts of such a nature as to create confusion by any means whatever with the
establishment, the goods, or the industrial or commercial activites, or competitor
2. false allegation in the corse of trade of such anature as to discredit the establisment, the
goods, or the industrial or commercial activities, of a competitor;
3. indication or allegation the use of which in the course of trade is liable so mislead the
public as to the nature, the manufacturing process, the characteristic, the suitability for
their purpose, or the quantity, of the goods.
29
lihat. Pasal 1 (3), Pasal 2, Pasal 3 dan Pasal 4 (b) TRIPs. Dalam hal ini TRIPs sebagai suatu
kesepakatan internasional memiliki relevansi dengan Konvensi-konvensi dan Perjanjian Internasional
lainnya di bidang HAKI. Dalam beberapa segi TRIPs merupakan kaidah penunjuk untuk berlakunya
ketentuan-ketentuan Perjanjian Internasional di bidang HAKI. Anggota harus mematuhi ketentuan ketentuan yang tertuang dalam Pasal 1 sampai dengan 12, dan Pasal 19 Konvensi Paris (1976) dan
tidak satupun ketentuan TRIPs yang memungkinkan negara anggota terbebas dari kewajibankewajiban yang timbul atas dasar ketentuan Konvensi Paris, Konvensi Berne, Konvensi Roma dan
Perjanjian HAKI tentang Rangkaian Elektronik Terpadu.
28

Himalay Taufan: Perlindungan Hukum Atas Rahasia Dagang, 2008.


USU e-Repository 2008

Sebagai negara anggota Indonesia memiliki kewajiban untuk menyediakan


instrumen dan bentuk perlindungan yang memungkinkan perorangan dan badan
hukum untuk dipublikasikannya, diberikannya kepada pihak lain, atau penggunaan
secara melawan hukum dan tanpa izin suatu informasi yang dikuasainya secara sah
dengan cara yang bertentangan dengan praktik-praktik komersial yang jujur,
sepanjang informasi tersebut merupakan rahasia, baik yang mempunyai bentuk
tertentu atau dalam bentuk konfigurasi dan gabungan komponen-komponennya, yang
tidak diketahui secara umum atau tidak memungkinkan akses terhadapnya oleh
pihak-pihak yang berkecimpung di dalam lingkungan yang secara normal berhadapan
dengan informasi tersebut.
Pemilik informasi ini juga harus menunjukkan upaya bahwa ia telah
memperlakukan informasi itu sebagai Rahasia Dagang yang memiliki nilai ekonomis.
Sesuai dengan ketentuan TRIPs, bahwa informasi tersebut harus memiliki nilai
komersial karena kerahasiaannya, dan telah ditangani sedemikian rupa oleh pihak
yang secara sah menguasainya dalam rangka menjaga kerahasiaannya itu.
Masalah Rahasia Dagang ini lebih lanjut diatur sebagai berikut: 30
"Member, when requiring, as a condition of approving the marketing of
pharmaceutical or of agricultural chemical product which utilize new chemical
entities, the submission of undisclosed test or other data, the origination of which
involves a considerable effort, shall protect such data against unfair coomercial use.
In addition, Member shall protect such data against disclosure, except where

Himalay Taufan: Perlindungan Hukum Atas Rahasia Dagang, 2008.


USU e-Repository 2008

necessary to protect the public, or unless steps are taken to ensure that the data are
protected against unfair commercial use."
Perlindungan juga diberikan terhadap data yang diserahkan kepada
pemerintah atau badan pemerintah, dalam hal ini pemerintah negara peserta yang
mewajibkan diserahkannya rangkaian percobaan yang dirahasiakan atau data lain
yang diperoleh sebagai syarat persetujuan pemasaran atau produksi farmasi baru atau
produk kimia pertanian baru yang memanfaatkan unsur kimia baru. Pemerintah
negara tersebut wajib memberikan perlindungan yang memadai agar data yang
diserahkan kepadanya itu tidak digunakan secara komersial dan secara tidak adil.
Dalam hal ini pemerintah tersebut harus melindungi dari kemungkinan
publikasi atas data yang bersangkutan, kecuali jika diperlukan untuk melindungi
masyarakat atau didasarkan atas jaminan bahwa data tersebut tidak akan
disalahgunakan secara komersial.
Berkenaan dengan perlindungan Rahasia Dagang ini, TRIPs memberikan
penekanan terhadap apa yang dimaksud praktik-praktik komersial yang tidak jujur
seperti tertuang dalam ketentuan TRIPs yang mengatakan : 31 For the purpose of this
provision, "a manner contraty to honest commercial practices" shall mean at least
practices such as breach of contract, breach of confidence and inducement to breach,
and includes the acquisition of undisclosed information by third parties who knew, or

30
31

Pasal 39 ayat (3) TRIPs


Pasal 39 ayat (2) TRIPs

Himalay Taufan: Perlindungan Hukum Atas Rahasia Dagang, 2008.


USU e-Repository 2008

were grossly negligent in failing to know, that such practices were involved in the
acquisition."
Dalam kalimat negatif dikatakan bahwa apa yang dimaksud dengan praktikpraktik komersial yang tidak jujur atau bertentangan dengan praktik-praktik
komersial yang jujur adalah suatu tindakan yang paling tidak mencakup praktik
berupa tindakan ingkar janji (wanprestasi atas suatu kontrak), wanprestasi atas
kerahasiaan dan bujukan untuk melakukan wanprestasi, termasuk diperolehnya
informasi yang dirahasiakan oleh pihak ketiga yang mengetahui atau yang sepatutnya
mengetahui bahwa praktik-praktik tersebut terjadi dalam upaya untuk mendapatkan
informasi tersebut. Masalah praktek persaingan curang ini pun diatur dalam UU No. 5
Tahun 1999 Tentang Larangan Praktek Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak
Sehat. 32
Sebagai anggota World Trade Organization (selanjutnya disebut : WTO),
maka Indonesia harus menyesuaikan semua ketentuan HAKI yang ada dengan
ketentuan TRIPs, dengan catatan bahwa dalam hal ini harus sejauh mungkin
diupayakan agar penerapan dan implementasi ketentuan TRIPs tersebut tidak
merugikan kepentingan Indonesia.
Khusus untuk Rahasia Dagang lahirnya Undang-Undang Nomor 30 Tahun
2000 menunjukkan bahwa Pemerintah telah membuat peraturan implementasi dalam

32

Pasal 1 angka 6 Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1999 berbunyi : "Persaingan usaha tidak sehat
adalah persaingan antar pelaku usaha dalam menjalankan kegiatan produksi dan atau pemasaran
barang dan atau jasa yang dilakukan dengan cara tidak jujur atau melawan hukum atau menghambat
persaingan usaha."

Himalay Taufan: Perlindungan Hukum Atas Rahasia Dagang, 2008.


USU e-Repository 2008

bentuk undang-undang yang mengatur dan mengelompokkan Rahasia Dagang secara


spesifik sebagai bagian dari HAKI sesuai dengan klasifikasi TRIPs.
C. Pengaruh TRIPs-WTO Terhadap Perlindungan Hukum Rahasia Dagang
Dalam Era Globalisasi
Persetujuan TRIPs (Trade Related Aspect of Intellectual Property Rights =
Aspek aspek Perdagangan yang bertalian dengan Hak Milik Intelektual), merupakan
salah satu issue dari 15 issues dalam persetujuan GATT (General Agreement on Tarif
and Trade) yang mengatur masalah Hak Milik Intelektual secara global.
Dokumen akhir Putaran Uruguay (GATT) disetujui pada 15 Desember 1993
dan diratifikasi pada 15April 1998 dari pukul 13.00 sampai pukul 17.30 waktu
setempat di Marrakech, 321 km ke arah Barat dari kota Rabai Ibukota Maroko, Afrika
Utara.Dokumen akhir Putaran Uruguay setebal lebih dari 500 halaman dengan lebih
dari 28 kesepakatan perdagangan yang global telah ditandatangani oleh 125 negara
termasuk Indonesia. Kesepakatan-kesepakatan dibidang perdagangan global dengan
diikuti lahirnya WTO (World Trade Organization) itu ditutup secara resmi oleh Raja
Hasan II dari Maroko tepat pada pukul 18.15.
Secara umum persetujuan TRIPs berisikan norma-norma yuridis yang harus
dipatuhi dan dilaksanakan di bidang HAKI, disamping pengaturan mengenai larangan
melakukan perdagangan atas barang hasil pelanggaran HAKI tersebut.
TRIPs bertujuan untuk melindungi dan menegakkan Hukum Hak Milik
Intelektual guna mendorong timbulnya inovasi, pengalihan, serta penyebaran
teknologi, diperolehnya manfaat bersama pembuat dan pemakai pengetahuan

Himalay Taufan: Perlindungan Hukum Atas Rahasia Dagang, 2008.


USU e-Repository 2008

teknologi,dengan cara yang menciptakan kesejahteraan sosial dan ekonomi serta


berkeseimbangan antara hak dan kewajiban (Pasal 7 TRIPs).
Indonesia sebagai salah satu negara berkembang mempunyai kepentingan
spesifik untuk berperan serta secara aktif dalam perundingan Putaran Uruguay untuk
mengakomodasi TRIPs dalam perangkat hukum nasional di bidang HAKI.
Kepentingan spesifik tersebut adalah:
1. Pembangunan nasional secara menyeluruh merupakan tujuan utama Pemerintah
Indonesia;
2. Di bidang ekonomi tujuan pembangunan hanya dapat tercapai bila Indonesia
dapat mencapai dan mempertahankan laju pertumbuhan yang cukup tinggi dengan
tingkat inflasi yang terkendali;
3. Dalam upaya untuk mencapai laju pertumbuhan yang cukup tinggi tersebut sektor
luar negeri telah memegang peranan penting. Hal ini akan tetap berlaku pada
tahun-tahun mendatang karena pasar dalam negeri dengan tingkat pendapatan
nasional perkapita yang relatif masih terlalu rendah, tidak dapat menjadi motor
pendorong laju pertumbuhan nasional yang cukup tinggi;
4. Berbeda dengan tahun 1970-an, dimana penghasilan dari sektor migas menjadi
andalan dari program pembangunan, sejak tahun 1980-an Indonesia memusatkan
perhatian terutama pada sektor non migas;
5. Agar ekspor non migas dapat terus berkembang dengan pesat, maka pemerintah
telah mengambil serangkaian langkah-langkah deregulasi dan debirokrasi untuk
meningkatkan efisiensi dalam bidang perekonomian. Program tersebut akan terus

Himalay Taufan: Perlindungan Hukum Atas Rahasia Dagang, 2008.


USU e-Repository 2008

dilakukan karena kepentingan nasional menunjukkan bahwa langkah-langkah


tersebut merupakan suatu hal yang strategis dan sangat tepat untuk mencapai
tujuan pembangunan jangka panjang yang telah ditentukan oleh pihak Indonesia
sendiri;
6. Diluar negeri upaya pengamanan ekspor non-migas tergantung pada keterbukaan
pasar terjamin. Untuk mencapai tujuan tersebut, maka Indonesia bersama negara
anggota lainnya berupaya untuk menjaga agar keterbukaan sistem perdagangan
internasional yang hingga sekarang masih dapat dipertahankan melalui GATT
dapat terjamin.
Pembahasan konsekuensi persetujuan TRIPs bagi Indonesia tidak terlepas dari
pembahasan posisi dan kebijaksanaan Indonesia menghadapi persetujuan TRIPs.
Dalam pembahasan posisi dan kebijaksanaan Indonesia menghadapi
persetujuan TRIPs, perlu diperhatikan hal-hal sebagai berikut di bawah ini:
a. Pengaturan hal-hal yang baru dan belum ada peraturan perundang-undangan
HAKI, serta pengaturan hal-hal tertentu dengan standar yang lebih tinggi
dibandingkan standar yang dimiliki dalam peraturan perundang-undanga HAKI
yang telah ada, bukanlah masalah yang sederhana.
b. Dengan pengaturan standar yang relatif minimum sekarang inipun, masih harus
diusahakan

efektifitas

pelaksanaanya

melalui

peningkatan

administrasi

pengelolaannya, pemasyarakatan (penyebarluasan) pemahamannya, termasuk di


kalangan aparat penegak hukumnya.

Himalay Taufan: Perlindungan Hukum Atas Rahasia Dagang, 2008.


USU e-Repository 2008

c. Masalah dengan begitu bukan sekedar menyesuaikan peraturan perundangundangan HAKI. Selain kesiapan masyarakat dan aparatur, perlu juga dikaji
seberapa jauh dampak penerapan pengaturan hal-hal yang baru dan ketentuan
ketentuan yang berstandar tinggi tersebut tidak menimbulkan terutama masalah
sosial dan ekonomi yang akhirnya akan menyulut kerawanan politik.
d. Masa peralihan bagi Indonesia hanya berlangsung maksimal 5 tahun. Kalau
persetujuan tersebut benar-benar akan berlaku efektif misalnya tanggal 1 januari
1995, maka segala persiapan baik pranata peraturan perundang-undangan yang
harus disesuaikan, kesiapan administrasi, kesiapan masyarakat dan para aparat
dalam memahami peraturan perundang-undangan yang baru, harus benar-benar
selesai dan siap mulai tanggal l Januari 2000. Jangka waktu tersebut tidak lama
untuk semua itu.
e. Dampak dari ketidaksiapan tadi, sangat hebat pengaruhnya terhadap perekonomian
nasional terutama dalam perdagangan intenasional. Setiap saat Indonesia harus
siap untuk menghadapi panel dalam rangka mekanisme penyelesaian pertikaian.
Dan kalau "Kesalahan" tersebut terbukti, serta kerugian ekonomi/finansial yang
diakibatkan dapat ditunjukkan, maka Indonesia harus selalu bersiap untuk
menghadapi tindakan balasan terhadap komoditi ekspornya.
Pemikiran tentang perlunya perlindungan hukum terhadap ide, gagasan yang
berasal dari kreativitas manusia yang merupakan objek HAKI sebenarnya telah ada
sejak abad ke-19. pada masa itu, perlindungan hukum berdasarkan hukum perdata
dianggap kurang memadai, terlebih lagi dengan mulai berkembangnya kegiatan

Himalay Taufan: Perlindungan Hukum Atas Rahasia Dagang, 2008.


USU e-Repository 2008

perdagangan internasional. Hal inilah yang selanjutnya melahirkan konsep tentang


ketentuan perlindungan hukum terhadap objek HAKI yang bersifat internasional,
tidak sahnya secara bilateral, melainkan juga secara global/multilateral.
Konvensi internasional pertama yang berkenaan dengan HAKI adalah Paris
Conventation yang megatur Tentang Hak Milik Industrial pada tahun 1883, kemudian
diikuti dengan Bern Convention yang mengatur tentang Hak Cipta pada tahun 1886.
Selanjutnya, muncul keinginan negara-negara di dunia untuk membentuk suatu
organisasai internasional untuk melindungi HAKI secara keseluruhan.
Untuk itu diadakan konfrensi di Stockholm pada tahun 1967 untuk
membentuk organisasi dunia untuk perlindungan HAKI, yaitu Convention
establishing the world intellectual property (WIPO). Organisasi inilah yang menjadi
pengelola tunggal Paris Convention dan Bern Convention. Dalam konvensi
pembentukan WIPO ini, Rahasia Dagang tidak secara tegas disebut sebagai salah satu
bentuk HAKI.
Namun oleh karena pelaksanaan (enforcement) perlindungan HAKI oleh
WIPO dianggap kurang optimal serta memadai, tidak mampunya WIPO
mensosialisasikan ketentuan hukum tentang HAKI yang seragam bagi negara-negara
anggotanya, dan juga dianggap perlu untuk menambah bentuk HAKI lainnya, seperti
computer programs, integrated circuits, reprography, broadcasting inovations,
biotechnollogy, maka dalam perlindungan WTO-GATT selanjutnyalah dimasukkan
agenda tentang HAKI. Dengan masuknya agenda HAKI melalui TRIPs dalam WTO-

Himalay Taufan: Perlindungan Hukum Atas Rahasia Dagang, 2008.


USU e-Repository 2008

GATT, maka negara-negara maju merasa aman dalam menjalankan kegiatan


perdagangannya karena adanya ketentuan yang seragam bagi negara-negara di dunia.
GATT (General Agreement On Tariff And Trade: perjanjian umum tentang
tarif dan perdagangan), sebagai organisasi perdagangan internasional yang
melindungi keseimbangan kepentingan antara negara-negara anggota dalam
hubungan perdagangan internasional didirikan pada tahun 1946.
GATT bertujuan untuk menciptakan suatu iklim perdagangan yang aman dan
jelas bagi masyarakat bisnis agar tercipta perdagangan dunia yang bebas tanpa
diskriminasi serta untuk menciptakan liberalisasi perdagangan dalam bidang
penanaman modal, lapangan kerja, mencegah terjadinya perang dagang yang
merugikan, dan lain-lain. 33
Akan tetapi dalam perkembangannya GATT telah mengalami berbagai
macam revisi maupun perubahan mulai dari tahun 1948 hingga diselenggarakannya
putaran Uruguay. Putaran Uruguay diadakan selama 7 (tujuh) tahun dan diakhiri
dengan kesepakatan diterima naskah Final Act Uruguay Round pada tanggal 15
Desember 1993 yang mengakhiri perundingan Puturan Uruguay. Kemudian pada
tanggal 15 April 1994 naskah persetujuan itu resmi ditandatangani di Marekesh,
Maroko oleh 125 negara termasuk didalamnya Indonesia.
Penandatanganan persetujuan Putaran Uruguay sangat bermanfaat karena
terbuka peluang pasar internasional yang lebih luas, tersedianya mekanisme

33

Huala Adolf Dan Chandrawulan A, Masalah-Masalah Hukum Dalam Perdagangan Internasional, Jakarta;
PT. Raja Grafindo Perkasa, 1994, hal 1.

Himalay Taufan: Perlindungan Hukum Atas Rahasia Dagang, 2008.


USU e-Repository 2008

perlindungan

multilateral

bagi

kepentingan

nasional

dalam

perdagangan

internasional. 34
Persetujuan Putaran Uruguay ini meliputi:
1. Pembentukan organisasi perdagangan dunia (WTO) sebagai pengganti
sekretariat

GATT

yang

akan

mengadministrasikan

dan

mengawasi

pelaksanaan persetujuan perdagangan serta menyelesaikan sengketa dagang


diantara negara-negara anggota.
2. Penurunan tarif impor berbagai komoditas perdagangan secara menyeluruh
dan mengurangi berbagai hambatan proteksi perdagangan yang ada.
3. Pengaturan di bidang HAKI melalui TRIPs, ketentuan investasi yang
berkenaan dengan perdagangan, dan perdagangan jasa.
Jika dilihat isi persetujuan tersebut, ternyata GATT yang pada walnya
merupakan cikal bakal pembentukan WTO ternyata hanya menjadi salah satu bagian
dari lampiran persetujuan pembentukan WTO yang berkaitan dengan aturan dan
kaedah yang berlaku dalam perdagangan barang.
Di dalam persetujuan pembentukan WTO, secara singkat dapat dinyatakan
bahwa persetujuan itu bermakna sebagai berikut: 35
1. Sistem perdagangan antar negara-negara di dunia yang berkembang pesat
dengan segala permasalahannya, dan dalam rangka memperkuat sistem
34
Abdulkadir Muhammad, Kajian Hukum Ekonomi Hak Kekayaan Intelektual, Bandung; PT Citra Aditya
Bakti, 2001, Hal 43.

Himalay Taufan: Perlindungan Hukum Atas Rahasia Dagang, 2008.


USU e-Repository 2008

perdagangan multilateral ditempatkan dalam satu organisasi yang lebih


terintegrasi yaitu WTO;
2. WTO merupakan organisasi paying (penaung) yang membawahi seluruh
perjanjian dalam Putaran Uruguay dan akan menjadi pengganti WTO;
3. WTO mengadministrasikan semua perjanjian, menyediakan forum-forum
untuk negoisasi dikemudian hari, mengadministrasikan sistem penyelesaian
sengketa, memantau kebijaksanaan perdagangan dan bekerja sama dengan
lembaga-lembaga ekonomi lainnya;
4. Struktur kelembagaan WTO mencakup suatu sidang menteri yang bertemu
minimal setiap dua tahun. Suatu General Council yang akan bertemu secara
teratur dan council untuk perdagangan barang, Council untuk TRIPs, Council
untuk Service Dispute Settlement Body, Trade poling Review Body, dan lainlain;
5. WTO menyediakan lembaga untuk semua perjanjian-perjanjian yang dicapai
oleh putaran uruguay;
6. Semua anggota WTO harus menjadi penandatanganan semua peranjian dan
anggota baru WTO setelah penandatanganan langsung dapat diterima dengan
persetujuan 2/3 sesuai dari anggota;
7. Perubahan terhadap WTO dapat dilakukan apabila disetujui 2/3 anggota.

35

Paingot Rambe Manalu, Hukum Dagang Internasional, Pengaruh Globalisasi Ekonomi


Terhadap Hukum Nasional, Khususnya HAKI, Jakarta: Penerbit Mavindo Pustaka Mandiri, 2000, Hal
160.

Himalay Taufan: Perlindungan Hukum Atas Rahasia Dagang, 2008.


USU e-Repository 2008

Sebagai bagian dari lampiran pembentukan WTO, TRIPs terdiri dari 7 (tujuh)
Bab, 73 (tujuhpuluh tiga) pasal, dan memuat kaedah-kaedah secara detail tentang
standar yang harus dipenuhi dan dilaksanakan oleh negara-negara penandatanganan
untuk Rahasia Dagang ini diatur dalam Article 39 Section 7, yang berbunyi:
1. In the course of ensuring effective protection against unfair competition as
provided in Article 10bis of the Paris Convention (1967), Members shall protect
undisclosed information in accordance with paragraph 2 and data submitted to
governments or governmental agencies in accordance with paragraph 3.
2.Natural and legal persons shall have the possibility of preventing information
lawfully within their control from being disclosed to, acquired by, or used by others
without their consent in a manner contrary to honest commercial practices (10) so
long as such information:
(a) is secret in the sense that it is not, as a body or in the precise configuration and
assembly of its components, generally known among or readily accessible to
persons within the circles that normally deal with the kind of information in
question;
(b) has commercial value because it is secret; and
(c) has been subject to reasonable steps under the circumstances, by the person
lawfully in control of the information, to keep it secret.
3. Members, when requiring, as a condition of approving the marketing of
pharmaceutical or of agricultural chemical products which utilize new chemical
entities, the submission of undisclosed test or other data, the origination of which

Himalay Taufan: Perlindungan Hukum Atas Rahasia Dagang, 2008.


USU e-Repository 2008

involves a considerable effort, shall protect such data against unfair commercial
use. In addition, Members shall protect such data against disclosure, except where
necessary to protect the public, or unless steps are taken to ensure that the data are
protected against unfair commercial use.
Berdasarkan ketentuan Pasal 39, TRIPs hanya memberikan aturan yang sangat
umum mengenai perlindungan atas Rahasia Dagang. Oleh karena itu, TRIPs
membebankan kewajiban kepada para anggota WTO untuk melindungi Rahasia
Dagang dengan maksud untuk menghindari adanya praktek perdagangan tidak sehat
dengan cara mencuri atau memperoleh informasi rahasia secara tidak benar, ataupun
dengan cara memanfaatkannya untuk kepentingan perdagangan. Ketentuan ini
memberikan konsekuensi kepada negara anggota WTO untuk membentuk UndangUndang Rahasia Dagang yang harus disesuaikan dan diselaraskan dengan standar
minimal yang diatur dalam TRIPs. Dengan demikian, masih dimungkinkan untuk
menerapkan ketentuan-ketentuan yang tidak mengabaikan kepentingan nasional.
Dengan adanya kewajiban tersebut, maka ketentuan TRIPs ini memberikan
pengaruh yang sangat besar dalam pemberian perlindungan hukum terhadap Rahasia
Dagang dalam era globalisasi. Selain itu, dalam pelaksanaan perdagangan
internasional; yang bebas dan penuh dengan persaingan bisnis, TRIPs dalam Pasal 41
menghendaki agar anggota WTO, seperti Indonesia, mencantumkan prosedur
penegakan hukum tentang HAKI (Rahasia Dagang) dalam hukum nasional demi
kelancaran aktivitas perdagangan yang sah dan untuk menciptakan perlindungan
hukum yang jujur, adil bagi semua pihak. Selain itu, prinsip-prinsip TRIPs harus

Himalay Taufan: Perlindungan Hukum Atas Rahasia Dagang, 2008.


USU e-Repository 2008

menjadi landasan lahirnya ketentuan tentang Rahasia Dagang yang disetai dengan
penegakan hukumnya secara konsisten.
Oleh karena itu, dalam Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2000 Tentang
Rahasia Dagang, sistem hukum yang diterapkan sesuai dengan kepentingan nasional
dengan strategi bisnis yang berskala nasional dan internasional dan menciptakan
kreasi dan inovasi masyarakat.
Dengan kata lain, kebijakan-kebijakan ekonomi demi peningkatan industri
harus dilakukan tanpa mengabaikan faktor hukum untuk melindungi hak-hak dari
pelaku bisnis. Jadi, para pihak yang memiliki Rahasia Dagang tersebut akan mampu
menguasai Rahasia Dagangnya dan memanfaatkannya dalam kancah persaingan
bisnis.
Dengan demikian, persaingan usaha tidak sehat yang pasti menimbulkan
masalah-masalah ekonomi internasional yang berkaitan dengan kepercayaan para
investor asing terhadap Indonesia akan mulai berkurang dan persaingan bisnis antar
pelaku bisnis dilaksanakan secara jujur, sehat, dan adil dalam aktivitas perdagangan
global dalam era globalisasi.
D. PERLINDUNGAN HUKUM RAHASIA DAGANG
Perlindungan Rahasia Dagang memiliki nilai yang sangat penting dalam dunia
investasi dan perdagangan, karena melalui sistem perlindungan seperti ini, maka
informasi bisnis yang sifatnya sangat strategis dan kompetitif yang tidak terlindungi
dengan Sistem Hukum Paten dan Hak Cipta atau Desain Industri dapat dilindungi.

Himalay Taufan: Perlindungan Hukum Atas Rahasia Dagang, 2008.


USU e-Repository 2008

Sebagai gambaran bahwa untuk mendapatkan perlindungan Paten seorang


penemu, harus benar-benar menemukan sesuatu yang sifatnya baru, terpenuhinya
syarat-syarat yang sangat kompleks yang ditetapkan oleh Kantor Paten, sedangkan
Rahasia Dagang dapat dilakukan secara lebih fleksibel karena tidak terikat pada
syarat-syarat formal seperti halnya yang terjadi dalam Sistem Hukum Paten, yang
memerlukan pemenuhan formalitas dan proses pemeriksaan yang rumit 36
Perlindungan Rahasia Dagang didasarkan atas beberapa teori yaitu sebagai
berikut 37 :
a.

Teori Hak Milik


Teori Hak Milik merupakan salah satu dasar perlindungan Rahasia Dagang 38 .
Beberapa putusan di Amerika Serikat menunjukkan bahwa terdapat keterkaitan
antara Rahasia Dagang dengan konsep Hak Milik. Rahasia Dagang dapat
disejajarkan sebagai satu bentuk Hak Milik bahkan identik dengan aset atau
investasi bagi perorangan atau perusahaan 39 .
Sebagai Hak Milik, Rahasia Dagang bersifat eksklusif dan dapat dipertahankan
terhadap siapapun yang berupaya menyalahgunakannya atau membajaknya.
Pemilik mempunyai hak yang seluas-luasnya untuk mempergunakan Hak
Miliknya itu untuk kepentingan perusahaannya.

36

Ditjen HCPM, Buku Panduan Di bidang Paten, 1997, hal 8


Gunawan Widjaja , Pemilik Rahasia Dagang Dan Pemegang Rahasia Dagang, Business News,
2001, Hal 120.
38
Cabanellas Guilarmo & Massaguer jose, Know-How Agreements and EEC Competition Law,IIC
Studies,Vol 12 Hal 50
39
Gunawan Widjaja , Opcit, Hal 49
37

Himalay Taufan: Perlindungan Hukum Atas Rahasia Dagang, 2008.


USU e-Repository 2008

Prinsip tentang Hak Milik ini juga dikenal dalam Hukum Indonesia. Pasal 570
BW menyatakan: Hak Milik adalah hak untuk menikmati kegunaan sesuatu
kebendaan dengan leluasa, dan untuk berbuat bebas terhadap kebendaan itu
dengan kedaulatan sepenuhnya, asal tidak bersalahan dengan Undang-Undang
atau peraturan umum yang ditetapkan oleh suatu kekuasaan yang berhak
menetapkannya, dan tidak mengganggu hak-hak orang lain; kesemuanya itu
dengan tidak mengurangi kemungkinan akan pencabutan hak itu demi
kepentingan umum berdasarkan atas ketentuan Undang-Undang dan dengan
pembayaran ganti rugi.
Pengertian pasal 570 BW ini menunjukkan bahwa Hak Milik adalah hak yang
paling utama dimana pemilik dapat menguasai benda itu sebebas-bebasnya dalam
arti dapat memperlakukan perbuatan hukum atas benda itu secara eksklusif
disamping dapat pula melakukan perbuatan-perbuatan materiil atas benda itu.
Namun demikian, sifat eksklusivitas atas Hak Milik untuk benda-benda berwujud
tampaknya sudah mengalami pergeseran karena munculnya berbagai norma
kemasyarakatan yang membatasi Hak Milik. Rahasia Dagang dan HAKI pada
umumnya, pada prinsipnya harus dapat dibatasi jika bersentuhan dengan
kepentingan masyarakat luas.
b.

Teori Kontrak
Teori kontrak merupakan dasar yang paling sering dikemukakan dalam proses
pengadilan mengenai Rahasia Dagang, khususnya di Amerika. Di Indonesia
sendiri yang mengadopsi Sistem Hukum Eropa Kontinental, ketentuan tentang

Himalay Taufan: Perlindungan Hukum Atas Rahasia Dagang, 2008.


USU e-Repository 2008

prinsip kontrak ini diatur dalam KUH Perdata (Burgerlijk Wetboek). Dalam Pasal
1233 dinyatakan bahwa tiap-tiap perikatan dilahirkan baik karena perjanjian, baik
karena Undang-Undang.
Prinsip perlindungan berdasarkan Hukum Kontrak ini sangat relevan dengan
bentuk perlindungan berdasarkan sistem hukum perburuhan atau hukum
ketenagakerjaan. Hubungan antara pengusaha dan karyawan merupakan salah
satu masalah penting berkenaan dengan Rahasia Dagang. Tingginya tingkat
keluar masuk karyawan dari suatu perusahaan ke perusahaan yang lain
menyebabkan perlunya pengaturan Rahasia Dagang ini diintegrasikan dengan
Undang-Undang Ketenagakerjaan 40 . Teori inipun terkait dengan masalah
kedudukan orang dalam perusahaan (insider traiding). Perlu dibuat perjanjian
kerja oleh perusahaan dengan karyawannya yang isinya melarang penggunaan
teknologi atau informasi yang telah diketahui secara umum atau merupakan
public domain karena ini merupakan suatu tindakan yang dianggap sebagai cacat
hukum 41
c.

Teori Perbuatan Melawan Hukum


Perlindungan atas Rahasia Dagang juga dapat dilakukan berdasarkan teori
perbuatan Melawan Hukum. Hal ini merupakan salah satu jalan keluar sebagai
konsekuensi perlindungan atas HAKI yang tidak didaftarkan seperti halnya
Rahasia Dagang ini. Prinsip semacam ini banyak diterapkan diberbagai negara

40
41

Gunawan Widjaja , Ibid, Hal 51


Melvin F Jager, Trade Secrets Law Handbook, 1983, Hal 43

Himalay Taufan: Perlindungan Hukum Atas Rahasia Dagang, 2008.


USU e-Repository 2008

untuk mengatasi kegiatan persaingan curang yang dilakukan oleh kompetitor yang
tidak beritikad baik. Seseorang dianggap telah melakukan perbuatan melawan
hukum jika secara tanpa hak mempergunakan informasi dengan cara:
1. diperoleh melalui tata cara yang tidak lazim atau
2. pengungkapan atau penggunaannya mengakibatkan dilanggarnya
kerahasiaan yang diperolehnya dari orang lain yang mengungkapkan
rahasia itu kepadanya, atau
3. orang tersebut mempelajari rahasia tersebut dari orang ketiga yang
memperoleh informasi tersebut secara tidak patut atau pengungkapan
pihak ketiga ini merupakan pelanggaran juga atau
4. orang

itu

mempelajari

mengungkapkannya

dengan

rahasia

tersebut

menyatakan

dan

bahwa

hal

kemudian
tersebut

merupakan pembukaan rahasia dengan sengaja, dalam Hukum


Indonesia hal ini diatur dalam Pasal 1365 KUH Perdata.
Rahasia Dagang dilindungi oleh Undang-Undang seiring dengan lahirnya
informasi yang terkait dan mulai berfungsi dalam kegiatan perekonomian. Tidak
diperlukan prosedur pendaftaran bagi perlindungan Rahasia Dagang karena sifat
informasi yang rahasia (sedangkan jika dilakukan pendaftaran maka akan
memerlukan pengungkapan informasi). Rahasia Dagang dapat dicatatkan apabila
terjadi pengalihan atau lisensi kepada pihak lain. Pencatatan ini hanya berkaitan
dengan data administratif lisensi atau pengalihan hak tanpa perlu mengungkapkan isi
dari informasi rahasia tersebut.

Himalay Taufan: Perlindungan Hukum Atas Rahasia Dagang, 2008.


USU e-Repository 2008

Pasal 2 Undang-Undang Rahasia Dagang menyebutkan : metode produksi,


metode pengolahan, metode penjualan, atau informasi lain di bidang teknologi
dan/atau bisnis yang memiliki nilai ekonomi dan tidak diketahui oleh masyarakat
umum. Informasi Rahasia yang memperoleh perlindungan yaitu:

Informasi yang bersifat rahasia. Hanya diketahui oleh pihak tertentu atau tidak
diketahui secara umum oleh masyarakat.

Informasi memiliki nilai ekonomi. Kerahasiaan informasi dapat digunakan


untuk menjalankan kegiatan atau usaha komersial atau dapat meningkatkan
keuntungan.
Pemeliharaan kerahasiaan informasi wajib dilakukan oleh pemilik informasi

rahasia dengan melakukan langkah-langkah yang layak dan patut. Artinya semua
langkah yang memuat ukuran kewajaran, kelayakan, dan kepatutan yang harus
dilakukan.
Pemeliharaan rahasia biasanya berkaitan dengan hubungan antara pekerja
dengan pemberi kerja yang merupakan pemilik Rahasia Dagang. Dalam lingkungan
kerja perlu diatur prosedur perusahaan yang bisa menjamin kerahasiaan informasi.
Perlu diatur secara jelas dan tegas pula dalam peraturan perusahaan mengenai pihak
yang bertanggung jawab atas informasi rahasia.
Dalam Undang-Undang Rahasia Dagang Indonesia juga ditegaskan bahwa
yang menjadi objek perlindungan Rahasia Dagang adalah informasi yang bersifat
rahasia yang meliputi metode produksi, metode pengolahan, metode penjualan, atau

Himalay Taufan: Perlindungan Hukum Atas Rahasia Dagang, 2008.


USU e-Repository 2008

informasi lain dibidang teknologi dan/atau bisnis yang memiliki nilai ekonomi dan
tidak diketahui oleh masyarakat umum. 42
Perlindungan Hukum atas Rahasia Dagang menurut Undang-Undang Nomor
30 Tahun 2000 dapat dibagi kedalam beberapa bagian besar, yaitu:
1. Adanya unsur kontrak/perjanjian, dalam Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2000
ketentuan mengenai hal ini tercantum dalam Pasal 6 yang menyebutkan bahwa
Pemegang Hak Rahasia Dagang dapat memberian lisensi kepada pihak lain
berdasarkan perjanjian lisensi. Lisensi secara garis besar merupakan izin yang
diberikan oleh pemegang Rahasia Dagang kepada pihak lain dalam bentuk tertulis
(perjanjian). Perjanjian lisensi yang dicantumkan dalam Undang-Undang Nomor
30 Tahun 2000, harus mampu menampung segala aspek yang diperlukan untuk
melindungi Rahasia Dagang tersebut.
2. Hak pemilik Rahasia Dagang benar-benar diperhatikan (adanya Hak Eksklusif).
Keeksklusifan dari hak tersebut diharapkan dapat membuat kerahasiaan dari
Rahasia Dagang itu sendiri tetap dapat terjaga.
3. Dicantumkannya unsur perbuatan melawan hukum. Prinsip melawa hukum
sangat relevan untuk dijadikan dasar perlindungan Rahasia Dagang antara para
pihak yang sama sekali tidak terikat kontrak/perjanjian satu sama lain.
4. Penyelesaian sengketa di Peradilan Negeri. Ketentuan mengenai hal ini tercantum
dalam Pasal 11 ayat (2) Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2000 yang
menyebutkan bahwa Pemilik Rahasia Dagang dapat menggugat siapapun yang
42

Pasal 2 Undang-Undang Rahasia Dagang

Himalay Taufan: Perlindungan Hukum Atas Rahasia Dagang, 2008.


USU e-Repository 2008

dengan sengaja dan tanpa hak untuk membayar ganti kerugian, dimana gugatan
tersebut diajukan ke Pengadilan Negeri.
5. Pengalihan Hak Rahasia Dagang tercantum dalam Pasal 5 ayat (1) dan pasal 6
Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2000. disebutkan dalam pasal itu bahwa Hak
Rahasia Dagang dapat beralih atau dialihkan dengan melalui Pewarisan, Hibah,
Wasiat, Perjanjian Tertulis dan sebab-sebab lain yang dibenarkan peraturan
perundang-undangan. Sedangkan dalam Pasal 6 mengatur tentang Pengalihan
Hak Rahasia Dagang dengan lisensi berdasarkan perjanjian lisensi. Dari dua
ketentuan di atas disebutkan bahwa pengalihan Rahasia Dagang dapat berupa
pengalihan hak dengan non lisensi dan pengalihan hak dengan lisensi.
6. Jangka waktu perlindungan Rahasia Dagang. Kedua ketentuan hukum tersebut
tidak menyebutkan batasan waktu perlindungan Rahasia Dagang. Dalam artian
bahwa perlindungan Rahasia Dagang tidak terbatas oleh waktu seperti halnya
perlindungan di bidang HAKI lainnya yang terdapat batasan waktu perlindungan,
misalnya perlindungan Paten selama kurun waktu 20 tahun.
Perlindungan Hukum Rahasia Dagang Berdasarkan Perjanjian
Hukum perjanjian di atur dalam buku ke III KUHPerdata dimana pada KUH
Perdata digunaan kata persetujuan untuk menyatakan perjanjian.
Suatu perjanjian adalah suatu perbuatan dengan mana satu orang atau lebih
mengikatkan dirinya terhadap satu orang atau lebih. 43

43

Pasal 1313 KUH Perdata

Himalay Taufan: Perlindungan Hukum Atas Rahasia Dagang, 2008.


USU e-Repository 2008

Perlindungan Rahasia Dagang berdasarkan perjanjian telah dicantumkan


secara eksplisit dalam Pasal 5 ayat (1) huruf d Undang-Undang Rahasia Dagang,
yang menyatakan bahwa perlindungan Rahasia Dagang lahir antara lain berdasarkan
perjanjian tertulis.
Perjanjian tertulis ini dilakukan antara pemilik/pemegang Rahasia Dagang
dengan pihak ketiga dan disebut dengan Perjanjian Merahasiakan (Secrecy
Agreement). Yang menjadi objek perjanjian ini tidak hanya data dan informasi yang
termasuk katagori Rahasia Dagang, tetapi juga mencakup tentang pengalaman teknik
berkenaan dengan proses pengolahan, bahan-bahan, tata cara pengoperasian,
pengendalian mutu, dan informasi mengenai formula yang memiliki nilai komersial
tinggi.
Pada perjanjian ini juga dicantumkan bahwa pemilik Rahasia Dagang sebagai
pemberi Rahasia Dagang bersedia mengungkapkan Rahasia Dagangnya kepada
penerima dalam jangka waktu yang telah ditetapkan.
Penerima

Rahasia

Dagang

berkewajiban

merahasiakan

dan

tidak

mengungkapkan Rahasia Dagang tersebut kepada orang lain tanpa izin tertulis dari
pemberi Rahasia Dagang. Oleh karena itu, harus diperjanjikan dengan tegas bahwa
informasi itu adalah suatu hak kepemilikan sehingga penerima hak tidak akan
menggunakannya untuk kepentingan usahanya.
Kewajiban merahasiakan ini juga berlaku terhadap perjanjian selanjutnya
yang mungkin dilakukan yang berkaitan dengan perjanjian pokok dan tetap berlaku
seterusnya apabila jangka waktu perjanjiannya telah berakhir.

Himalay Taufan: Perlindungan Hukum Atas Rahasia Dagang, 2008.


USU e-Repository 2008

Khusus untuk pengakuan hak atas dasar perjanjian, diperlukan adanya suatu
pengalihan hak yang didasarkan pada pembuatan suatu akta, terutama akta otentik.
Hal ini penting mengingat aspek yang dijangkau begitu luas dan pelik, selain
untuk menjaga kepentingan masing-masing pihak yang mengadakan perjanjian
pengalihan hak atas Rahasia Dagang tersebut.
Kecenderungan dipilihnya bentuk perlindungan melaui Rahasia Dagang
setidaknya dilandasi oleh dua alasan, yaitu:
Karena seringkali substansi yang diinginkan untuk mendapat perlindungan

1.

merupakan hal yang tidak dapat diberi Paten, seperti halnya daftar
pelanggan perusahaan, data keuangan, nota-nota bisnis dan lain-lain.
2.

Mungkin juga hal yang ingin dilindungi sebenarnya memungkinkan untuk


diberi Paten, tetapi inventor lebih memilih bentuk perlindungan Rahasia
Dagang karena berbagai alasan seperti jangka waktu perlindungan yang
tidak terbatas, nilai kerahasiaan yang lebih terjamin, mahalnya biaya
dikantor Paten dan formalitas pendaftaran yang lebih rumit.
Keuntungan-keuntungan perlindungan Rahasia Dagang adalah 44

1. Dibandingkan dengan jangka waktu perlindungan atas Paten yang hanya 20


tahun di Indonesia maka perlindungan melalui Rahasia Dagang lebih
menguntungkan karena jangka waktunya yang tidak terbatas. Untuk
penemuan-penemuan dan rumus-rumus di bidang produksi perdagangan
jangka waktu ini menjadi demikian penting karena jika dilindungi dengan

Himalay Taufan: Perlindungan Hukum Atas Rahasia Dagang, 2008.


USU e-Repository 2008

Paten maka setelah habis jangka waktunya itu maka informasi akan menjadi
milik umum dan setiap orang dapat mengaksesnya tanpa perlu takut
dinyatakan sebagai pelanggar HAKI, sedangkan informasi itu sendiri
merupakan salah satu potensi strategis yang seharusnya dipegang teguh untuk
dapat bersaing dengan kompetitor. Melalui sistem perlindungan Rahasia
Dagang, maka informasi itu dapat dilindungi seterusnya dan haknya tetap
melekat pada pemiliknya. Rahasia Dagangpun seringkali tidak memenuhi
syarat Paten. Disamping itu perlu juga dipenuhi syarat-syarat seperti harus ada
unsur kebaruan, dan dapat diterapkan dalam industri.
2. Melalui sistem perlindungan Rahasia Dagang, maka segala informasi penting
perusahaan akan tetap terjaga kerahasiaannya, karena informasi itu tetap
bersifat tertutup, hal ini sangat penting mengingat keterbukaan informasi
tersebut dapat dimanfaatkan oleh kompetitor untuk membuat produk yang
sama.
3. Dalam sistem Hukum Paten hanya penemu pertama yang boleh mendaftarkan
patennya, namun dalam Rahasia Dagang hal ini tidak diatur artinya sepanjang
waktu orang boleh menyimpan Rahasia Dagangnya dan memelihara haknya
dari gangguan orang lain, tanpa perlu memikirkan apakah orang lain juga
mempunyai informasi serupa, dengan catatan bahwa informasi itu bukan
informasi umum atau milik umum.

44

Ahmad M Ramli, opcit, hal 79

Himalay Taufan: Perlindungan Hukum Atas Rahasia Dagang, 2008.


USU e-Repository 2008

4. Dari segi biaya, perlindungan penemuan melalui Rahasia Dagang relatif lebih
murah dibandingkan dengan Paten, karena tidak perlu mengeluarkan iuran
tahunan dan biaya-biaya yang berkaitan dengan formalitas pendaftaran seperti
halnya pada Paten. Hal ini menjadi salah satu faktor yang dipertimbangkan
oleh inventor.
5. Secara faktual terdapat hal-hal yang tidak dapat dilindungi Paten, tetapi justru
dapat dilindungi oleh Rahasia Dagang, misalnya daftar pelanggan, formulirformulir, dan lain-lain. Informasi-informasi bisnis seringkali tidak merupakan
hal yang memenuhi syarat untuk dlindungi Paten, karena beberapa alasan
seperti tidak mengandung langkah inventif, kemungkinan adanya kesamaan
dengan penemu lain dan sebagainya 45 .
Sedangkan menurut A&W Restaurant, tujuan dan kegunaan dari Rahasia
Dagang itu sendiri adalah untuk 46 :
1. Merupakan bahan untuk membuat strategi bisnis
2. Menghindari persaingan dari perusahaan sejenis.
3. Menjaga nama baik perusahaan.
Kerugian-Kerugian Perlindungan Rahasia Dagang adalah47

45

Langkah inventif menurut pasal 2 ayat 2 dan ayat 3 UU Nomor 13 Tahun 1997 adalah jika
penemuan tersebut bagi seorang yang mempunyai keahlian biasa mengenai teknik merupakan hal yang
tidak dapat diduga sebelumnya. Penilaian bahwa suatu penemuan merupakan hal yang tidak dapat
diduga harus dilakukan dengan memperhatikan keahlian yang ada pada saat diajukan permintaan
paten atau yang telah ada pada saat diajukan permintaan pertama dalam hal permintaan itu diajukan
dengan Hak Prioritas.
46
Hasil wawancara dengan Syafnil Tanjung, Maneger In Charge, A&W Restaurant Cabang Sun
Plaza Medan, Tanggal 24 Maret 2004, Pukul 11.00 WIB
47
Ahmad M Ramli, opcit, Hal 81

Himalay Taufan: Perlindungan Hukum Atas Rahasia Dagang, 2008.


USU e-Repository 2008

1. Rahasia Dagang mungkin juga ditemukan oleh pihak ketiga sebagai


kompetitor.
2. Upaya perlindungan Rahasia Dagang dapat mempengaruhi produktivitas
karena sistem perlindungannya yang sangat ketat sehingga memerlukan
metode yang sangat rapi termasuk dalam rangka hubungan perusahaan dengan
karyawan. Hal ini dapat mempengaruhi keberhasilan manufaktur, akibat
hilangnya keuntungan tambahan yang mestinya diperoleh karena sistem
perlindungan ini.
3. Perlindungan atas Rahasia Dagang hanya akan berlangsung selama
kerahasiaannyan itu terjaga dengan baik, sekali rahasia itu terpublikasi oleh
pemiliknya, maka tidak akan ada lagi perlindungan 48 oleh karena itu seorang
Pemilik Rahasia Dagang harus mengeluarkan biaya dan tenaga yang terusmenerus untuk melindungi informasi yang dimilikinya itu, dengan pengertian
lain bahwa tanggung jawab perlindungan sepenuhnya diserahkan kepada
pemilik informasi. Hal ini berbeda dengan Paten yang tidak membebankan
kewajiban serupa karena Stelsel Konstitutif telah secara langsung melindungi
pemilik meskipun Paten tersebut telah dipublikasikan.

48

Roman, Saliwanchik, Legal Protecytion For Microbiological And Genetic Engineereing


Inventions, Addison-Wesley Publising Company, Advanced Book Program/World Science division
Reading, Massachusetts, London 1982 hal12.

Himalay Taufan: Perlindungan Hukum Atas Rahasia Dagang, 2008.


USU e-Repository 2008

BAB III
UPAYA PEMILIK RAHASIA DAGANG DALAM
MEMPERTAHANKAN EKSISTENSI RAHASIA
DAGANGNYA UNTUK MENGATASI
PERSAINGAN TIDAK SEHAT

A. Hak Dan Kewajiban Pemilik Rahasia Dagang


1. Hak Pemilik Rahasia Dagang
Pasal 4 Undang-Undang Rahasia Dagang mengatur tentang kewenangan atau
hak yang dimiliki oleh pemilik Rahasia Dagang terhadap Rahasia Dagangnya untuk :
1. Menggunakan sendiri Rahasia Dagang yang dimilikinya;
2. Memberikan lisensi kepada atau melarang pihak lain untuk menggunakan Rahasia
Dagang atau mengungkapkan Rahasia Dagang itu kepada pihak ketiga untuk
kepentingan yang bersifat komersial.
Berdasarkan pasal ini, pemilik Rahasia Dagang mempunyai Hak Monopoli
untuk menggunakan sendiri Rahasia Dagang yang dimilikinya dalam kegiatan bisnis
untuk memperoleh keuntungan ekonomis.
Ketentuan ini juga berarti bahwa hanya pemilik Rahasia Dagang yang berhak
untuk memberikan izin kepada pihak lain untuk menggunakan Rahasia Dagang yang
dimilikinya melalui perjanjian lisensi. Selain itu, pemilik Rahasia Dagang juga
berhak melarang pihak lain untuk menggunakan atau mengungkapkan Rahasia

Himalay Taufan: Perlindungan Hukum Atas Rahasia Dagang, 2008.


USU e-Repository 2008

Dagang yang dimilikinya kepada pihak ketiga apabila pengungkapan tersebut


dilakukan untuk kepentingan yang bersifat komersial.
Di samping hak-hak tersebut dalam Undang-Undang Rahasia Dagang
disebutkan pula bahwa Pemilik Rahasia Dagang juga memiliki kewajiban, yaitu harus
bersedia mengungkapkan setiap bagian dari Rahasia Dagang serta proses
penggunaannya secara lengkap untuk kepentingan pembuktian dihadapan pengadilan.
Hal ini memang memiliki resiko bahwa Rahasia Dagang dapat terpublikasi, maka
untuk mencegah hal tersebut hakim dapat memerintahkan agar sidang dilakukan
secara tertutup atas permintaan para pihak yang bersengketa, baik dalam perkara
perdata maupun perkara pidana. 49
Hal yang sama dilakukan pula oleh pengadilan di Amerika Serikat, di mana
pengadilan harus melindungi kerahasiaan suatu Rahasia Dagang dalam rangka proses
pemeriksaan dan proses litigasi pada umumnya. Setiap orang yang terlibat dalam
proses litigasi itu pun tidak boleh mengungkapkan Rahasia Dagang sebelum
memperoleh persetujuan dari pengadilan. 50
Hal yang senada dianut pula oleh Kanada yang menetapkan bahwa pengadilan
dapat membuat perintah untuk melindungi Rahasia Dagang. Selama dalam proses
perkara pengadilan dapat melangsungkan dengar pendapat secara tertutup,
memerintahkan semua atau beberapa catatan proses penuntutan untuk disegel, atau
49

Pasal 18 Undang-Undang Rahasia Dagang


Pasal 5 UTSA (USA) selengkapnya berbunyi : "In an action under this Act, a court shall
preserve the secrecy of an alleged trade secret by reasonable means, which may include granting
protective orders in connection with discovery proceedings, holding in-camera hearings, sealing the
50

Himalay Taufan: Perlindungan Hukum Atas Rahasia Dagang, 2008.


USU e-Repository 2008

memerintahkan setiap orang yang terlibat dalam proses penuntutan untuk tidak
mengungkapkan Rahasia Dagang dimaksud tanpa terlebih dahulu memperoleh
persetujuan dari pengadilan. 51
Pada Pasal 1 ayat (2) Undang- Undang Nomor 30 Tahun 2000 Tentang
Rahasia Dagang, dinyatakan bahwa Hak Rahasia Dagang adalah Hak Atas Rahasia
Dagang yang timbul berdasarkan Undang-Undang ini.
Berdasarkan ketentuan ini, maka secara eksplisit diatur tentang hak dari
pemilik Rahasia Dagang (Pasal 4), yaitu:
a. menggunakan sendiri Rahasia Dagang yang dimilikinya;
b. memberikan lisensi kepada atau melarang pihak lain untuk
mengunakan Rahasia Dagang itu kepada pihak ketiga untuk
kepentingan yang bersifat komersial.
Berdasarkan ketentuan ini, pemilik Rahasia Dagang mempunyai hak
monopoli untuk menggunakan sendiri Rahasia Dagang yang dimiliknya dalam
kegiatan bisnis dan bersifat komersil untuk memperoleh keuntungan. Hal ini berarti
bahwa hanya pemilik Rahasia Dagang saja yang berhak memberikan izin kepada

records of the action, and ordering any person involved in the litigation not to disclose an alleged
trade secret without prior court approval."
51
Pasal 11 UTSA (Canada) berbunyi : "(1) In any proceedings under this Act, the Court may, at
any time, on application, make an order directing by what means the trade secret at issue in the
proceedings is to be preserved during the course of the proceedings. (2) Without limiting the
generality of subsection (1), the Court may
(a)hold hearing in private,
(b)order that all or any of the records of the proceedings be sealed, or
(c) order any person involved in the proceedings not to disclose an alleged trade secret without prior
approval of the Court."

Himalay Taufan: Perlindungan Hukum Atas Rahasia Dagang, 2008.


USU e-Repository 2008

pihak lain untuk mengunakan Rahasia Dagang yang dimiliknya melalui perjanjian
lisensi.
Lisensi adalah izin yang diberikan oleh pemegang Hak Rahasia Dagang
kepada pihak lain melalui suatu perjanjian berdasarkan pemberian hak (bukan
Pengalihan Hak) untuk menikmati manfaat ekonomi dari suatu Rahasia Dagang yang
diberi perlindungan dalam jangka waktu tertentu dan syarat tertentu. 52
Dari rumusan tersebut dapat ditarik beberapa unsur, yaitu:
1. adanya izin yang diberikan oleh pemegang Hak Rahasia Dagang.
2. izin tersebut diberikan dalam bentuk perjanjian.
3. izin tersebut merupakan pemberian hak untuk menikmati manfaat
ekonomi (yang bukan bersifat pengalihan Hak Rahasia Dagang).
4.

izin tersebut diberikan untuk Rahasia Dagang yang memenuhi syarat


untuk dilindungi.

5. izin tersebut diberikan dengan waktu tetentu dan syarat tertentu.


Selain itu, berdasarkan ketentuan ini pula, maka pemilik Rahasia Dagang
berhak melarang pihak lain untuk menggunakan atau mengungkapakan Rahasia
Dagang miliknya kepada pihak ketiga yang bersifat komersil yang dapat merugikan
kegiatan bisnisnya. Sebagai contoh, suatu perusahaan memiliki formula atau ramuan
yang unik dalam memproduksi suatu barang, atas ramuan itu, perusahaannya selalu
mendapat untung. Oleh karena itu, pemilik Rahasia Dagang atas formula/ramuan itu

52

Pasal 5 Undang-Undang Rahasia Dagang

Himalay Taufan: Perlindungan Hukum Atas Rahasia Dagang, 2008.


USU e-Repository 2008

hanya ingin memakai sendiri untuk kepentingan bisnisnya dan tidak bersedia
memberikan lisensi kepada pihak lain.
Prinsip dari lisensi bersifat non ekslusif, artinya bahwa lisensi tetap
memberikan kemungkinan kepada pemiliknya untuk memberikan lisensi kepada
pihak ketiga lainnya, apabila akan dibuat sebaliknya, hal ini harus dinyatakan secara
tegas dalam perjanjian lisensi tersebut.
Perjanjian lisensi kerap kali dilakukan secara tidak seimbang atau hanya
menguntungkan salah satu pihak saja (biasanya yang diuntungkan adalah pemberi
lisensi atau Licensor), sehingga dapat menimbulkan kerugian pada pihak lain
(penerima lisensi), dan kerugian itu bahkan juga dapat menimbulkan kerugian bagi
perekonomian negara, baik langsung atau tidak langsung 53 . Dengan melihat
pengalaman atau untuk melakukan tindakan pencegahan yang ditimbulkan akibat dari
perjanjian lisensi maka Pasal 9 Undang-Undang Rahasia Dagang Nomor 30 Tahun
2000 menentukan bahwa:
Perjanjian lisensi dilarang memuat ketentuan yang dapat menimbulkan
akibat yang merugikan perekonomian Indonesia atau memuat ketentuan yang
mengakibatkan persaingan usaha tidak sehat 54 sebagaimana diatur dalam peraturan
perundang-undangan yang berlaku.

53

Suyud Marono & Amir Angkasa, Komersialisasi Aset Intelektual Aset Hukum Bisnis, Jakarta,
PT Gramedia Widiasarana Indonesia, Hal 41.
54
Penjelasan pasal ini tidak mencantumkan makna atau mendefenisikan dari persaingan tidak
sehat, namun bisa saja maksud dari pasal ini tercantum dalam Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1999
Tentang Larangan Praktek Monopoli Dan Persaingan Usaha Tidak Sehat

Himalay Taufan: Perlindungan Hukum Atas Rahasia Dagang, 2008.


USU e-Repository 2008

Jika perjanjian lisensi mencantumkan hal-hal diatas, maka Direktorat Jenderal


HAKI wajib menolak pencatatan lisensi itu. tidak hanya itu saja, Direktorat Jenderal
HAKI perlu untuk melaporkannya kepada komisi Pengawas Persaingan Usaha
(KPPU). Pencatatan perjanjian lisensi tidak perlu menguraikan isi Rahasia Dagang
yang dilisensikan itu agar kerahasiaan yang terdapat dalam perjanjian Rahasia
Dagang itu tetap terjamin. Yang diperlukan hanyalah data para pihak yang
mengadakan perjanjian lisensi (misalnya nama dan alamat pemberi dan penerima
lisensi, royalti dan masa perjanjian lisensi)
Dengan pencatatan itu dapat memberikan perlindungan tidak hanya kepada
pemberi lisensi dan penerima lisensi saja, tetapi juga kepada pihak ketiga, khususnya
masyarakat yang perlu mengetahui bahwa benar penerima lisensi mempunyai hak
untuk memanfaatkan secara komersial Rahasia Dagang dalam produk barang atau
jasa mereka.
Dalam perjanjian lisensi Rahasia Dagang dilarang memuat ketentuan yang
dapat menimbulkan akibat yang merugikan perekonomian Indonesia atau memuat
ketentuan yang mengakibatkan persaingan usaha tidak sehat, misalnya, perjanjian
lisensinya mengatur kewajiban yang dapat dinilai tidak adil bagi penerima lisensi,
seperti menghalangi proses alih teknologi ke Indonesia.
2. Kewajiban Pemilik Rahasia Dagang
Pemilik Rahasia Dagang memiliki suatu kewajiban atas Rahasia Dagang
tersebut. Pemilik Rahasia Dagang wajib memelihara dan menjaga kerahasiaan

Himalay Taufan: Perlindungan Hukum Atas Rahasia Dagang, 2008.


USU e-Repository 2008

informasi yang dimiliknya dari pihak-pihak yang berusaha dengan berbagai cara
memperolehnya untuk kepentingan usahanya.
Kewajiban dalam memelihara kerahasiaan ini dapat ditempuh melalui
ketentuan-ketentuan yang bersifat implisit. Pada prinsipnya hukum akan memberikan
perlindungan apabila pemilik Rahasia Dagang tersebut menjalankan kewajibannya
untuk menjaga Rahasia Dagangnya.
Pemilik Rahasia Dagang juga dibebani kewajiban, yaitu harus bersedia
mengungkapkan setiap bagian dari Rahasia Dagangnya serta proses penggunaannya
secara lengkap untuk kepentingan pembuktian dihadapan pengadilan. Hal ini
memang mengandung resiko karena Rahasia Dagang yang dimilikinya dapat
terpublikasikan. Oleh karena itu, hakim dapat meminta agar sidang dilakukan secara
tertutup demi kepentingan bisnis dari pemiliknya serta mengurangi tingkat kerugian
yang dideritanya.
B. Pengalihan Hak Rahasia Dagang
Pasal 1 angka 2 Undang-Undang Rahasia Dagang menyatakan bahwa Hak
Rahasia Dagang adalah Hak Atas Rahasia Dagang yang timbul berdasarkan UndangUndang Rahasia Dagang ini (Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2000 Tentang
Rahasia Dagang). Hak Rahasia Dagang ini diklasifikasikan sebagai Hak Milik,
sehingga sebagai Hak Milik, Rahasia Dagang dapat beralih dan dialihkan kepada
pihak lain.
Undang-Undang Rahasia Dagang dalam Pasal 5 ayat (1) menyebutkan
peristiwa-peristiwa hukum yang dapat mengakibatkan beralihnya Hak Rahasia

Himalay Taufan: Perlindungan Hukum Atas Rahasia Dagang, 2008.


USU e-Repository 2008

Dagang. Pengalihan Rahasia Dagang dapat dilakukan melalui proses Pewarisan,


Hibah, Wasiat, Perjanjian Tertulis, atau sebab-sebab lain yang dibenarkan oleh
peraturan perundang-undangan.
Khusus untuk pengalihan hak atas dasar perjanjian, diperlukan adanya suatu
Pengalihan Hak yang didasarkan pada pembuatan suatu akta, terutama akta otentik.
Hal ini penting mengingat aspek yang dijangkau begitu luas dan pelik, selain untuk
menjaga kepentingan masing-masing pihak yang mengadakan Perjanjian Pengalihan
Hak Atas Rahasia Dagang tersebut.
Pengalihan Hak Rahasia Dagang yang disebabkan oleh "sebab-sebab lain
yang dibenarkan oleh peraturan perundang-undangan" dapat dijelaskan di sini
misalnya putusan pengadilan yang menyangkut kepailitan.
Di samping itu Pemilik Rahasia Dagang atau Pemegang Hak Rahasia Dagang
juga dapat memberikan lisensi kepada pihak lain berdasarkan perjanjian lisensi untuk
melaksanakan atau menggunakan Hak Rahasia Dagang dalam kegiatan yang bersifat
komersial. 55
Berbeda dengan perjanjian yang menjadi dasar Pengalihan Rahasia Dagang,
lisensi hanya memberikan hak secara terbatas dan dengan waktu yang terbatas pula.
Dengan demikian, lisensi diberikan untuk pemakaian atau penggunaan Rahasia
Dagang dalam jangka waktu tertentu. Berdasarkan pertimbangan bahwa sifat Rahasia
Dagang yang tertutup bagi pihak lain, pelaksanaan lisensi dilakukan dengan
mengirimkan atau memperbantukan secara langsung tenaga ahli yang dapat menjaga

Himalay Taufan: Perlindungan Hukum Atas Rahasia Dagang, 2008.


USU e-Repository 2008

Rahasia Dagang itu. Hal ini berbeda, misalnya, dari pemberian bantuan teknis yang
biasanya dilakukan dalam rangka pelaksanaan proyek pengoperasian mesin baru atau
kegiatan lain yang khusus dirancang dalam rangka bantuan teknik. 56
Selama

memberikan

lisensi,

Pemilik

Rahasia

Dagang

tetap

boleh

melaksanakan sendiri atau memberi lisensi kepada pihak ketiga berkaitan dengan
Rahasia Dagang yang dimilikinya. 57 Dengan demikian pada prinsipnya perjanjian
lisensi bersifat non-eksklusif, artinya tetap memberikan kemungkinan kepada Pemilik
Rahasia Dagang untuk memberikan lisensi kepada pihak ketiga lainnya. Apabila
diinginkan untuk perjanjian lisensi yang bersifat eksklusif, artinya Hak Rahasia
Dagang tidak dapat diberikan lagi kepada pihak ketiga lainnya maka hal tersebut
harus dinyatakan secara tegas dalam perjanjian lisensi dimaksud.
Sebagai catatan, perlu dikemukakan pada prinsipnya perjanjian lisensi
seharusnya tidak boleh memuat ketentuan yang langsung maupun tidak langsung
merugikan perekonomian Indonesia, atau memuat ketentuan yang mengakibatkan
persaingan usaha tidak sehat sebagaimana diatur dalam peraturan perundangundangan yang berlaku. 58 Peraturan perundang-undangan dimaksud dalam ketentuan
ini adalah Undang-Undang No. 5 Tahun 1999 Tentang Larangan Praktek Monopoli
dan Persaingan Usaha Tidak Sehat.

55

Lihat, Pasal 6 Undang-Undang Rahasia Dagang


Penjelasan Pasal 6 Undang-Undang Rahasia Dagang
57
Lihat Pasal 7 Undang-Undang Rahasia Dagang
58
Lihat Pasal 9 ayat 1 Undang-Undang Rahasia Dagang
56

Himalay Taufan: Perlindungan Hukum Atas Rahasia Dagang, 2008.


USU e-Repository 2008

Dalam mekanisme administrasi atau pencatatan, baik berbagai bentuk


Pengalihan Hak Rahasia Dagang maupun Perjanjian lisensi Rahasia Dagang wajib
dicatatkan kepada Direktorat Jenderal Hak Atas Kekayaan Intelektual (HAKI).
Ketentuan tentang wajib catat ini tidak akan membuka akses terpublikasinya Rahasia
Dagang, karena yang dicatatkan bukanlah substansi dari Rahasia Dagang melainkan
hanya data yang bersifat administratif dari dokumen pengalihan hak maupun
dokumen perjanjian lisensi. Ketentuan wajib catat ini tercantum dalam Pasal 5 ayat
(3) jo Pasal 8 ayat (1) UU Rahasia Dagang. Demikian pula halnya dengan
pengumuman yang dilakukan terhadap Pengalihan Hak Rahasia Dagang dan
perjanjian lisensi dalam Berita Resmi Rahasia Dagang, juga tidak mencantumkan halhal yang bersifat substansial melainkan hanya data yang bersifat administratif saja.
Baik dokumen Pengalihan Hak Rahasia Dagang maupun dokumen perjanjian
lisensi yang tidak dicatatkan kepada Direktorat Jenderal HAKI akan mempunyai
konsekuensi bahwa tanpa pencatatan maka dokumen dimaksud tidak akan memiliki
akibat hukum terhadap pihak ketiga 59 .
Pasal 5 ayat (1) UU Rahasia Dagang menyebutkan beberapa cara pengalihan
Hak Rahasia Dagang kepada orang lain, yakni bahwa Hak Rahasia Dagang dapat
beralih atau dialihkan dengan Pewarisan, Hibah, Wasiat, Perjanjian Tertulis atau
sebab-sebab lain yang dibenarkan oleh peraturan perundang-undangan. Sebagai Hak

59

Ahmad M Ramli, Hak Atas Kepemilikan Intelektual Teori Dasar Perlindungan Rahasia
Dagang, Bandung, Mandar Maju, 2001, Hal 126

Himalay Taufan: Perlindungan Hukum Atas Rahasia Dagang, 2008.


USU e-Repository 2008

Milik, Rahasia Dagang dapat beralih atau dialihkan kepada pihak lain melalui caracara yang telah disebutkan diatas.
Pengalihan Hak Rahasia Dagang melalui Pewarisan terjadi demi hukum
sebagai akibat meninggalnya pihak pemilik Rahasia Dagang, jelas mengakibatkan
beralihnya secara hukum semua hak-hak dan kewajiban yang melekat pada Rahasia
Dagang dari pewaris (Pemilik Rahasia Dagang)
Sedangkan Pengalihan melalui Hibah dan Wasiat tidak terjadi demi hukum,
melainkan harus dilakukan melalui perbuatan hukum tertentu, sehingga hak atas
Rahasia Dagang menurut hukum sah beralih atau dialihkan kepada penerima hibah
dan penerima wasiat.
Peristiwa hukum tertentu tersebut didasarkan pada hukum yang mengatur
mengenai hibah dan wasiat sesuai dengan golongan penduduknya.
Demikian pula Pengalihan Hak Rahasia Dagang dapat dilakukan melalui
Perjanjian yang tertulis (akta) atau dapat dilakukan karena sebab-sebab lain yang
dibenarkan peraturan perundang-undangan seperti melalui putusan pengadilan yang
menyangkut kepailitan.
Pengalihan Hak Rahasia Dagang diatas bersifat limitatif artinya proses
Pengalihan Hak Rahasia Dagang tersebut tidak boleh mencantumkan klausula time
constraint, dengan kata lain pengalihan hak itu bersifat final dalam arti tidak boleh
dibatasi oleh waktu.
Sebagai tambahan dapat dikemukakan bahwa pemerintah sendiri sampai saat
ini belum memiliki peraturan pelaksanaan tentang pencatatan perjanjian lisensi. Hal

Himalay Taufan: Perlindungan Hukum Atas Rahasia Dagang, 2008.


USU e-Repository 2008

ini merupakan kelemahan yang sangat mendasar karena UU Paten, Merek dan Hak
Cipta yang ada telah memerintahkan pengaturan hal ini.
C. Pemilik Rahasia Dagang Dalam Mempertahankan Eksistensi

Rahasia

Dagangnya Untuk Mengatasi Persaingan Tidak Sehat.


Sebagai suatu bentuk HAKI suatu informasi harus memenuhi kriteria tertentu
untuk dapat diklasifikasikan sebagai Rahasia Dagang, kriteria yang harus dipenuhi
adalah bahwa informasi itu harus memiliki nilai dan sifat kerahasiaan yang dapat
digunakan untuk aktivitas bisnis. Dalam hal ini seorang pemilik Rahasia Dagang
harus dapat menunjukkan bahwa informasi itu memiliki eksistensi dan nilai
komersial,

tidak

diketahui

umum

dan

memerlukan

biaya-biaya

untuk

merahasiakannya.
Dalam proses pengadilan seseorang yang merasa hak atas informasi yang
dirahasiakannya dilanggar harus dapat membuktikan bahwa telah terjadi pengambilalihan Rahasia Dagang secara tidak sah oleh tergugat. Dalam Hukum Perdata
Intenasional hal seperti ini dikatagorikan sebagai unjust enrichment
Rahasia Dagang yang meliputi rumus, pola, cara kerja, atau kompilasi dari
informasi yang secara ekonomis dapat digunakan dalam suatu aktivitas bisnis harus
pula memiliki nilai yang sifatnya memberikan kesempatan kepada pemiliknya untuk
dapat menghasilkan produk dari perusahaan Rahasia Dagang. Rahasia Dagang harus
hanya diketahui oleh pemilik di mana fakta-fakta itu digunakan untuk kepentingan
bisnisnya.

Himalay Taufan: Perlindungan Hukum Atas Rahasia Dagang, 2008.


USU e-Repository 2008

Diketahuinya informasi itu oleh karyawan bukanlah satu hal yang


menghilangkan hak seseorang atas Rahasia Dagang itu, dengan kata lain pemilik
boleh menginformasikan kepada karyawanya tentang Rahasia Dagang yang
dimilikinya untuk melindungi Rahasia Dagang tersebut dari kemungkinan
penyalahgunaan suatu perjanjian yang isinya menyatakan bahwa karyawan harus
memegang teguh rahasia itu dan tidak menyalahgunakannya baik untuk dirinya
sendiri maupun untuk orang lain 60 .
Rahasia Dagang, sebagai salah satu bentuk HAKI, memiliki kekhasan,
keunikan, dan perbedaan dengan bentuk-bentuk HAKI lainnya. Sifat non disclousure
(ketidakterbukaan) dari Rahasia Dagang ini merupakan unsur pokok yang
membedakannya dari bentuk HAKI lainnya.
Apabila informasi itu telah diungkapkan kepada umum tanpa menghiraukan
perlunya menyembunyikan informasi tersebut maka gugurlah sifat rahasia itu dan
informasi itu tidak lagi dilindungi dalam Rahasia Dagang. Selain itu, kedudukan
sebagai Rahasia Dagang juga akan hilang apabila pihak lain menemukan informasi
tersebut melalui penelitian, pameran umum atau publikasi kepustakaan. Oleh karena
itu, pemilik/pemegang Rahasia Dagang harus melakukan langkah-langkah yang
konkret untuk mempertahankan eksistensi Rahasia Dagang yang dimilikinya dan
mencegah terjadinya persaingan usaha tidak sehat.

60

Ahmad M Ramli, Ibid, Hal 84

Himalay Taufan: Perlindungan Hukum Atas Rahasia Dagang, 2008.


USU e-Repository 2008

Untuk mempertahankan Rahasia Dagang yang dimilikinya, pemilik atau


pemegang Rahasia Dagang dapat melakukan berbagai cara yang sesuai dengan
hukum yang berlaku.
Langkah-langkah tersebut terdiri dari:
1.

Membuat Perjanjian Tertulis


Perjanjian tertulis ini dilakukan antara pemilik/pemegang Rahasia Dagang
dengan pihak ketiga dan disebut dengan perjanjian Merahasiakan (Secrecy
Agreement). Yang menjadi objek perjanjian ini tidak hanya data dan informasi
yang termasuk katagori Rahasia Dagang, tetapi juga mencakup tentang
pengalaman teknik berkenaan dengan proses pengolahan, bahan-bahan, tata
cara pengoperasian, pengendalian mutu, dan informasi mengenai formula yang
memiliki nilai komersial tinggi. Pada perjanjian ini juga dicantumkan bahwa
pemilik Rahasia Dagang sebagai pemberi Rahasia Dagang bersedia
mengungkapkan Rahasia Dagangnya kepada Penerima Rahasia Dagang dalam
jangka waktu yang telah ditetapkan. Penerima Rahasia Dagang berkewajiban
merahasiakan dan tidak mengungkapakan Rahasia Dagang tersebut kepada
orang lain tanpa izin tertulis dari pemberi Rahasia Dagang. Oleh karena itu,
harus diperjanjikan dengan tegas bahwa informasi itu adalah suatu hak
kepemilikan sehingga penerima hak tidak akan menggunakannya untuk
kepentingan usahanya.

Kewajiban merahasiakan ini juga berlaku terhadap

perjanjian selanjutnya yang mungkin dilakukan yang berkaitan dengan

Himalay Taufan: Perlindungan Hukum Atas Rahasia Dagang, 2008.


USU e-Repository 2008

perjanjian pokok dan tetap berlaku seterusnya apabila jangka waktu


perjanjiannya telah berakhir.
2.

Membuat Perjanjian Kerja Antara Pihak Perusahaan Dengan Karyawan


Perjanjian kerja ini disebut dengan Employment Agreement and Confidentiality
Agreement. Dalam perjanjian kerja tersebut harus diatur dengan tegas bahwa
karyawan tidak boleh mengungkapkan Rahasia Dagang perusahaan diluar
tugasnya, seperti jika berhubungan dengan pihak lain yang tidak terikat dalam
perjanjian, bahkan dalam kegiatan seminar atau pameran yang diselenggarkan
perusahaan. Klausula ini disebut dengan Non-Disclosure of Confidential
information.
Dengan kata lain, pengungkapan Rahasia Dagang hanya dapat diberikan kepada
karyawan di bidang terntentu saja dengan persyaratan tertentu yang bersifat
rahasia. Pada perjanjian kerja inipun harus pula dinyatakan dengan tegas bahwa
apabila karyawan tersebut tidak bekerja lagi pada perusahaan tersebut, maka ia
tetap berkewajiban merahasiakan Rahasia Dagang milik perusahaan tersebut
dari pihak lainnya. Namun demikian, tanpa adanya perjanjian kerja ini, seorang
karyawan seharusnya tidak membocorkan Rahasia Dagang perusahaan tempat
ia bekerja kepada pihak yang tidak berwenang karena sudah merupakan
kewajibannya. Dengan adanya perjanjian kerja ini, maka akan menjamin
adanya kepastian hukum bagi kedua belah pihak dan untuk menghindari adanya
sengketa dikemudian hari.

Himalay Taufan: Perlindungan Hukum Atas Rahasia Dagang, 2008.


USU e-Repository 2008

3.

Rahasia Dagang harus selalu dimasukkan dalam kelompok informasi atau data
yang bersifat rahasia. Dengan demikian, seluruh dokumen yang berkaitan
dengan Rahasia Dagang harus dibubuhi tanda rahasia, dibuat kode-kode
rahasia, disimpan pada lemari yang terkunci, dan karyawan yang tidak
berkepentingan dilarang mengetahui informasi itu dengan membuat tanda
hanya untuk orang tertentu saja. Pihak perusahaan harus membuat sistem
kontrol atas penguinjung atau tamu yang mengunjungi perusahaan tersebut.
Oleh karena itu, pihak perusahaan perlu mencatat siapa saja yang datang ke
perusahaan.

4.

Pihak perusahaan memuat tanda pengenal bagi semua orang seperti karyawan,
bahkan direktur untuk menghindari masuknya pihak luar ke dalam perusahaan.

5.

Pihak perusahaan harus pula membuat buku masuk bagi siapa saja yang
memasuki departemen pada perusahaan tersebut yang bukan merupakan
tempatnya, ketentuan ini perlu mengingat adanya hubungan antar departemen
dalam perusahaan tersebut.
Sedangkan menurut A&W Restaurant, untuk menjaga kerahasiaan dari

Rahasia Dagang dapat dilakukan dengan cara:


1. Tidak menjelaskan secara khusus tentang formulasi pada waktu promosi,
2. Membuat kemasan yang mempunyai ciri-ciri khusus,

Himalay Taufan: Perlindungan Hukum Atas Rahasia Dagang, 2008.


USU e-Repository 2008

3. Formulasi dibuat secara khusus, memberikan incentive atau bonus kepada


distributor atau dealer 61 .
Dengan adanya langkah-langkah tersebut, maka pemilik atau pemegang
Rahasia Dagang dapat melaksanakan kegiatan bisnisnya dan tidak akan kuatir lagi
kehilangan Rahasia Dagangnya dan terhindar dari adanya persaingan usaha tidak
sehat dari para kompetitor. Dengan demikian langkah-langkah ini harus senantiasa
dilaksanakan setiap saat demi peningkatan kegiatan bisnisnya.

61

Hasil Wawancara Dengan Syafnil Tanjung, Opcit

Himalay Taufan: Perlindungan Hukum Atas Rahasia Dagang, 2008.


USU e-Repository 2008

BAB IV
PENYELESAIAN SENGKETA PELANGGARAN
RAHASIA DAGANG

Dalam era globalisasi, perlindungan hukum terhadap Rahasia Dagang


merupakan kebutuhan yang sangat mendesak bagi para pemilik Rahasia Dagang
karena tanpa adanya perlindungan hukum tersebut, akan menimbulkan permasalahan
baru, yaitu semakin maraknya persaingan usaha tidak sehat (unfair competition) yang
akan merugikan perusahaannya.
Perlindungan hukum terhadap Rahasia Dagang yang dibutuhkan oleh pemilik
Rahasia Dagang sesungguhnnya bersifat keperdataan, yang berarti bersumber dari
hubungan keperdataan antara pemilik/pemegang Rahasia Dagang dengan pihak yang
pada awalnya tidak berhak untuk melakukan tindakan-tindakan yang bersifat
komersil dengan cara menggunakan Rahasia Dagang tersebut tanpa izin pemiliknya
ataupun memperolehnya dengan cara berlawanan dengan hukum.
Hubungan keperdataan itu diatur secara eksklusif, baik dalam perjanjian,
kebiasaan, peraturan perundang-undangan, maupun peraturan perusahaan yang
berlaku pada suatu kurun waktu tertentu.
Para pihak yang terlibat hubungan ini harus tunduk pada ketentuan yang
disepakati tersebut dan menjaga objek yang ditetapkan sebagai Rahasia Dagang,

Himalay Taufan: Perlindungan Hukum Atas Rahasia Dagang, 2008.


USU e-Repository 2008

dengan demikian sifat rahasia yang terkandung dalam Rahasia Dagang sesungguhnya
berada di luar ketentuan pidana.
A. Pelanggaran Rahasia Dagang
Seorang dianggap tidak sah dan melanggar Rahasia Dagang orang lain apabila
ia memperoleh atau menguasai Rahasia Dagang tersebut dengan cara-cara yang tidak
layak, seperti wanprestasi (ingkar janji), pencurian, penyadapan, spionase, membujuk
untuk membocorkan Rahasia Dagang melalui penyuapan,paksaan dan lain-lain. Yang
bukan dikatakan pelanggaran tersebut adalah kegiatan rekayasa ulang untuk
mengurangi bagian-bagian suatu produk yang diperoleh secara sah guna dianalisa
untuk mengetahui komposisi, cara pembuatan, cara kerja, bentuk maupun metode
pembuatannya. Praktik seperti ini diakui sah sepanjang digunakan sebagai dasar bagi
pengembangan atau penyempurnaan lebih lanjut atas produk yang bersangkutan.
Sebagai contoh, misalnya kasus Rachmat Hendarto alias Kristoforus dan
Andreas Tan Giok San Alias David Tan yang didakwa telah membocorkan Rahasia
Dagang PT General Food Industri Bandung (GFIB). Dalam persidangan yang digelar
di Pengadilan Negeri Bandung, Jaksa Penuntut Umum menjerat perbuatan kedua
terdakwa dengan pasal 13 jo pasal 17 Undang-Undang RI nomor 30 Tahun 2000
Tentang Rahasia Dagang jo pasal 55 ayat (1) KUH Pidana 62 . Perbuatan kedua
terdakwa dinilai telah merugikan PT GFIB, yang mana keduanya saat masih bekerja
dan terikat sebagai karyawan PT GFIB, telah keluar dan bekerja di perusahaan lain

62

Http://id.wikepeda.org/wiki/rahasia_dagang (4 maret 2008) pukul 02.05 WIB Dikutip dari


http://www.google.co.id/search=id&q=kasus+pelanggaran+rahasia+dagang&meta.

Himalay Taufan: Perlindungan Hukum Atas Rahasia Dagang, 2008.


USU e-Repository 2008

yang bergerak di bidang yang sama, yaitu pengolahan biji cokelat menjadi produk
makanan olahan.
Pelanggaran Rahasia Dagang terjadi apabila seseorang dengan sengaja (unsur
kesengajaan):
1.

mengungkapkan Rahasia Dagang;

2.

mengingkari kesepakatan untuk menjaga Rahasia Dagang;

3.

mengingkari kewajiban tertulis atau tidak tertulis untuk menjaga Rahasia


Dagang; atau,

4.

memperoleh Rahasia Dagang dengan cara yang bertentangan dengan hukum.


Pengecualian dari Pelanggaran Rahasia Dagang :

1.

Pengungkapan

atau

penggunaan

Rahasia

Dagang

didasarkan

pada

kepentingan pertahanan keamanan, kesehatan, atau keselamatan masyarakat.


2.

Tindakan rekayasa ulang atas produk yang dihasilkan dari penggunaan


Rahasia Dagang milik orang lain yang dilakukan semata-mata untuk
kepentingan pengembangan lebih lanjut dari produk yang bersangkutan.
(analisis dan evaluasi untuk mengetahui informasi tentang suatu teknologi
yang sudah ada).
Untuk menindak pelaku pelanggaran, Indonesia wajib menerbitkan suatu

peraturan baru untuk mengantisipasi perkembangan teknologi dan informasi yang


kesemuanya mengarah bagi perlindungan Rahasia Dagang.
Hal ini mutlak dilakukan karena saat ini Pasal 1365 KUH Perdata sudah tidak
memadai dan tidak dapat mengikuti perkembangan di masa datang. Dengan

Himalay Taufan: Perlindungan Hukum Atas Rahasia Dagang, 2008.


USU e-Repository 2008

terikatnya kita pada persetujuan TRIPs yang menekankan pada pelaksanaan


penegakan hukum, perlu pula diadakan perbaikan-perbaikan ketentuan-ketentuan
mengenai sarana hukum yang dapat mengikuti perkembangan praktek-praktek bisnis
yang saat ini banyak melibatkan teknologi.
Hal yang paling penting adalah bila kita tidak mau dicap sebagai bangsa yang
suka menjiplak inovasi dan Rahasia Dagang milik bangsa lain, maka kita juga harus
menggiatkan inovasi bertaraf internasional maupun teknologi tepat guna.
Apabila pihak penerima Rahasia Dagang melanggar kesepakatan yang telah
ditetapkan, maka persaingan usaha tidak sehat tidak dapat dihindari lagi

dan

mengakibatkan timbulnya sengketa bisnis. Dalam hal ini, Undang-Undang Nomor 30


Tahun 2000 Tentang Rahasia Dagang memberikan kesempatan kepada pemegang
Rahasia Dagang untuk menyelesaikan sengketa bisnis ini melalui lembaga peradilan
umum, yaitu Pengadilan Negeri. Ketentuan ini tercantum dalam Pasal 11 UndangUndang Nomor 30 Tahun 2000 Tentang Rahasia Dagang yang menyatakan:
1. Pemegang Hak Rahasia Dagang atau penerima lisensi dapat mengguggat
siapapun yang dengan sengaja dan tanpa hak melakukan perbuatan
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4, berupa:
a.

gugatan ganti rugi;

b.

penghentian semua perbuatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4


(empat)

2. Gugatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 ayat (1) diajukan ke


Pengadilan Negeri.

Himalay Taufan: Perlindungan Hukum Atas Rahasia Dagang, 2008.


USU e-Repository 2008

Semua prosedur yang dipergunakan untuk menyelesaikan sengketa ini harus


secara akomodatif menyediakan sarana untuk mengidentifikasikan dan melindungi.
Dalam Pasal 11 Undang-Undang Rahasia Dagang untuk memerintahkan
membayar ganti rugi yang memadai kepada Pemegang Rahasia Dagang berkenaan
dengan kerugian yang di deritanya.
Ganti rugi ini dapat berupa pengembalian keuntungan atau pembayaran atas
hasil yang diterimanya dari kegiatan pelanggaran tersebut. Selain itu, seperti juga
tercantum dalam Pasal 11 ayat (1b), Pengadilan Negeri juga berwenang untuk
memerintahkan pelanggar menghentikan kegiatan pelanggaran tersebut untuk
mencegah masuknya ke dalam arus perdagangan di dalam wilayah Indonesia atau
memeritahkan barang yang merupakan hasil pelanggaran Rahasia Dagang, tanpa
kompensasi apapun, dikeluarkan dari arus perdagangan untuk menghindari atau
mengurangi kerugian yang dapat dialami pemiliknya.
Walaupun sifat rahasia dari Rahasia Dagang bersifat perdata, namun UndangUndang Nomor 30 Tahun 2000 Tentang Rahasia Dagang juga mengatur aspek
pidananya. Hal ini bertujuan untuk melindungi pemilik yang beritikad baik dan
menigkatkan pengembangan dan penggunaan Rahasia Dagang oleh rakyat Indonesia.
Aspek pidana yang berkenaan dengan pelanggaran Rahasia Dagang ini terdiri
dari dua macam yang diatur dalam pasal 13 dan 14 Undang-Undang Nomor 30 Tahun
2000 Tentang Rahasia Dagang yang menyatakan:
Pasal 13: pelanggaran Rahasia Dagang juga terjadi apabila seseorang dengan sengaja
mengungkapakan Rahasia Dagang, mengingkari kesepakatan atau

Himalay Taufan: Perlindungan Hukum Atas Rahasia Dagang, 2008.


USU e-Repository 2008

mengingkari kewajiban tertulis atau tidak tertulis untuk menjaga Rahasia


Dagang yang bersangkutan.
Pasal 14:

seseorang dianggap melanggar Rahasia Dagang pihak lain apabila ia


memperoleh atau menguasai Rahasia Dagang tersebut dengan cara yang
bertentangan dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku

Terhadap pelanggaran yang di atur dalam Pasal 13 dan Pasal 14 tersebut


Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2000 Tentang Rahasia Dagang menetapkan sanksi
berupa ketentuan pidana yang diatur dalam Bab IX Pasal 17 ayat (1) yang
menyatakan:
barang siapa dengan sengaja dan tanpa hak mengunakan Rahasia Dagang pihak lain
atau melakukan perbuatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 13 dan Pasal 14
dipidana dengan pidana penjara paling lama 2 (dua) tahun dan/atau denda paling
banyak Rp 300.000.000,- (tiga ratus juta).
Ketentuan pidana tersebut dapat dilakukan secara alternatif atau kumulatif.
Secara alternatif berarti pelanggar tersebut hanya dikenai salah satu hukuman saja,
apakah pidana penjara paling lama 2 (dua) tahun atau denda paling banyak Rp
300.000.000,- (tiga ratus juta). sedangkan secara kumulatif berarti sanksi pidana
tersebut, baik pidana penjara maupun pidana denda, keduanya dikenakan kepadanya.
Walaupun negara memberikan ketentuan pidana kepada pelanggar, namun
pemberian sanksi ini didasarkan kepada kepentingan pemilik atau pemegang Rahasia
Dagang. Oleh karena itu, tindak pidana tersebut dijadikan sebagai delik aduan, bukan

Himalay Taufan: Perlindungan Hukum Atas Rahasia Dagang, 2008.


USU e-Repository 2008

delik biasa. Dengan demikian, proses pemeriksaan atau penyidikan tndak pidana
tersebut dapat dilaksanakan apabila ada pengaduan dari pihak yang dirugikan.
Apabila aspek perdata dan pidana yang diatur dalam Undang-Undang Nomor
30 Tahun 2000 Tentang Rahasia Dagang dikaitkan dengan kegiatan bisnis yang akan
dilakukan pemilik atau pemegang Rahasia Dagang dalam era globalisasi, maka
gugatan perdata ini dapat diajukan oleh pemilik Rahasia Dagang setelah putusan
pidana berkekuatan hukum tetap.
Hal ini dperlukan untuk melindungi pelaku usaha dari tindakan pesaingnya
yang berkaitan dengan Rahasia Dagang yang dimilikinya serta agar mampu
menghadapi persaingan global yang cenderung mempergunakan teknologi canggih
yang berkaitan pula dengan Rahasia Dagang.
Ketentuan tentang Pelanggaran Rahasia Dagang diatur dalam Bab VII Pasal
13, Pasal 14, dan Pasal 15 Undang-Undang Rahasia Dagang. Pasal 13 menyatakan:
"Pelanggaran Rahasia Dagang dapat juga terjadi apabila seseorang dengan sengaja
mengungkapkan Rahasia Dagang, mengingkari kesepakatan atau mengingkari
kewajiban tertulis atau tidak tertulis untuk menjaga Rahasia Dagang yang
bersangkutan.
Berdasarkan ketentuan tersebut, maka pelanggaran Rahasia Dagang dianggap
telah terjadi jika terdapat seseorang dengan sengaja mengungkapkan informasi atau
mengingkari kesepakatan atau mengingkari kewajiban (wanprestasi) atas perikatan
yang telah dibuatnya baik tersurat maupun tersirat untuk menjaga Rahasia Dagang
dimaksud.

Himalay Taufan: Perlindungan Hukum Atas Rahasia Dagang, 2008.


USU e-Repository 2008

Seseorang pun dianggap telah melanggar Rahasia Dagang orang lain jika ia
memperoleh atau menguasai Rahasia Dagang tersebut dengan cara yang bertentangan
dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
Kekecualian terhadap ketentuan pelanggaran Rahasia Dagang ini diberikan
terhadap pengungkapan atau penggunaan Rahasia Dagang yang didasarkan untuk
kepentingan pertahanan keamanan, kesehatan, dan keselamatan masyarakat di
samping berlaku pula untuk tindakan rekayasa ulang atas produk yang dihasilkan dari
penggunaan Rahasia Dagang milik orang lain yang dilakukan semata-mata untuk
kepentingan pengembangan lebih lanjut produk yang bersangkutan.
Ketentuan tentang pengecualian terhadap pelanggaran Rahasia Dagang
tersebut seharusnya juga dilengkapi dengan ketentuan yang secara tegas mengatur
tentang pengungkapan Rahasia Dagang oleh seseorang di depan sidang pengadilan
atas perintah hakim. Atas perintah hakim, seseorang yang mengungkapkan Rahasia
Dagang di depan sidang pengadilan seharusnya juga ditetapkan sebagai suatu
kekecualian sehingga yang bersangkutan tidak dianggap telah melakukan
pelanggaran Rahasia Dagang.
Ketentuan Pasal 18 tentang dimungkinkannya sidang pengadilan berkaitan
dengan Rahasia Dagang bersifat tertutup (atas permintaan para pihak yang
bersengketa) juga tidak secara tegas maupun tersirat bermaksud mengatur
pengecualian di atas.
Di Amerika Serikat tindakan yang dianggap sebagai pelanggaran Rahasia
Dagang antara lain berupa tindakan perolehan Rahasia Dagang secara tidak patut.

Himalay Taufan: Perlindungan Hukum Atas Rahasia Dagang, 2008.


USU e-Repository 2008

Pengungkapan atau penggunaan Rahasia Dagang milik orang lain tanpa izin ataupun
pada saat pengungkapan atau penggunaan Rahasia Dagang tersebut ia mengetahui
dan patut menduga bahwa informasi itu telah diperoleh secara tidak patut, atau
diperoleh dari pihak yang seharusnya berkewajiban memelihara Rahasia Dagang
itu 63 .
B. Tindak Pidana Pencurian Rahasia Dagang dan Spionase Ekonomi
Dalam UU Rahasia Dagang tidak ada ketentuan yang mengatur tentang tindak
pidana pencurian dan spionase ekonomi berkaitan dengan Rahasia Dagang. Tindaktindak pidana spionase ekonomi merupakan hal yang amat serius bagi negara-negara
maju.
Dalam Rancangan Undang-Undang Rahasia Dagang, spionase ekonomi ini
telah sempat dimasukkan sebagai suatu ketentuan yang perlu diatur. Spionase
ekonomi berkaitan dengan Rahasia Dagang dapat diartikan sebagai suatu pelanggaran
Rahasia Dagang yang sengaja dilakukan dengan maksud untuk menguntungkan
pemerintah asing dikatagorikan sebagai tindakan spionase ekonomi. Tindakan
spionase ekonomi itu sendiri meliputi tindakan-tindakan sebagai berikut: 64

63

Pasal 2 UTSA (USA) selengkapnya berbunyi : "Misappropriation" means: (i) acquisition of a


trade secret of another by a person who knows or has reason to know that the trade secret was
acquired by improper means; or (ii) disclosure or use of a trade secret of another without express or
implied consent by a person who (A) used improper means to acquire knowledge of the trade secret; or
(B) at the time of disclosure or use, knew or had reason to know that his knowledge of the trade secret
was (I) derived from or through a person who had utilized improper means to acquire it; (II) acquired
under circumstances giving rise to a duty to maintain its secrecy or limit its use; or (Ill) derived from
or through a person who owed a duty to the person seeking relief to maintain its secrecy or limit its
use; or (C) before a material change of his position, knew or had reason to know that it was a trade
secret and that knowledge of it had been acquired by accident or mistake."
64
Pasal 32 ayat (2) Rancangan Undang-Undang Rahasia Dagang

Himalay Taufan: Perlindungan Hukum Atas Rahasia Dagang, 2008.


USU e-Repository 2008

a. mencuri, atau tanpa izin mengambil untuk diri sendiri, membawa, atau
menyembunyikan, atau dengan penipuan, kelicikan, atau dengan cara curang
memperoleh Rahasia Dagang;
b.

tanpa ijin memperbanyak, meniru, mensketsa, menggambar, memotret,


mengambil data, memasukkan data, merubah, memusnahkan, memfoto kopi,
mereplikasi, melakukan transmisi, mengantarkan, mengirim, mengirimkan
melalui pos, mengkomunikasikan, atau menyampaikan Rahasia Dagang;

c. menerima, membeli, atau memiliki Rahasia Dagang, dengan maksud mencuri,


memperoleh, atau mengubah tanpa ijin;
d. berusaha untuk melakukan pelanggaran sebagaimana dimaksud dalam huruf a, b,
dan c.
Di Indonesia sendiri saat ini terdapat beberapa pasal dalam KUHP yang
berkaitan dengan informasi yang harus dirahasiakan untuk kepentingan negara seperti
yang dimuat dalam Pasal 112, 113, 114, 115 dan 116 KUHP. 65

65

Pasal-pasal tersebut selengkapnya berbunyi:


Pasal 112 KUHP :"Barangsiapa dengan sengaja mengumumkan surat-surat, berita-berita atau
keterangan-keterangan yang diketahui bahwa harus dirahasiakan untuk kepentingan negara, atau
dengan sengaja memberitahukan atau memberikannya kepada negara asing, kepada seorang raja atau
suku-bangsa, diancam dengan pidana penjara paling lama tujuh tahun."
Pasal 113 KUHP :
"(1) Barangsiapa dengan sengaja untuk seluruhnya atau sebagian mengumumkan, atau
memberitahukan maupun menyerahkan, kepada orang yang tidak wenang mengetahui, surat-surat,
peta-peta, rencana-rencana, gambar-gambar atau benda-benda yang bersifat rahasia dan bersangkutan
dengan pertahanan atau keamanan Indonesia terhadap serangan dari luar, yang ada padanya atau yang
isinya, bentuknya atau susunannya benda-benda itu diketahui olehnya, diancam dengan pidana penjara
paling lama empat tahun
. (2) Jika adanya surat-surat atau benda-benda pada yang bersalah, atau pengetahuannya tentang itu
karena pencahariannya, pidananya ditambah sepertiga."
Pasal 114 KUHP : "Barangsiapa karena kelapaannya menyebabkan bahwa surat-surat atau bendabenda rahasia tersebut dalam Pasal 113, yang tentang menyimpan atau menarohnya menjadi tugasnya,

Himalay Taufan: Perlindungan Hukum Atas Rahasia Dagang, 2008.


USU e-Repository 2008

Di Amerika Serikat pencurian Rahasia Dagang juga dapat dikatagorikan


sebagai kejahatan federal dengan kualifikasi spionase ekonomi. Undang-undang
Spionase Ekonomi AS disahkan pada tanggal 11 Oktober 1996 oleh Presiden Bill
Clinton. 66
Kasus yang diputus berdasarkan Economic Espionage Act of 1996 antara lain
adalah kasus United States of America v. Patrick and Daniel Worthing. Kasus ini
bermula ketika Patrick Worthing bekerja pada pusat penelitian serat optik industri
PPG.Berdasarkan

atas laporan

yang

dipublikasikan,

Patrick

Worthing

menyalahgunakan disket, blueprint dan tipe lain dari informasi riset Rahasia Dagang
industri PPG, di mana ia mencoba menjual ke pihak kompetitor yaitu Owens Corning
pesaing PPG. Biarpun Owens Corning bersiap-siap memenangkan gugatan industri
PPG dan pemerintahan federal. Patrick Worthing dan saudaranya Daniel Worthing
didakwa atau dituntut berdasarkan Undang-undang Spionase Ekonomi, 18 U.S.C.
Pasal 1832 (a)(1), (3) dan (5). Patrick Worthing menjalani hukuman pada 5 Juni 1997
selama 15 bulan setelah didakwa bersalah. Daniel Worthing, yang menurut laporan

diketahui oleh umum, mengenai bentuk atau susunannya, untuk seluruhnya atau sebagian, atau oleh
orang yang tidak wenang mengetahui, ataupun jatuh dalam tangannya, diancam dengan pidana penjara
paling lama satu tahun enam bulan atau kurungan paling lama satu tahun atau denda paling banyak tiga
ratus rupiah." Pasal 115 KUHP : "Barangsiapa melihat atau membaca surat-surat atau benda-benda
rahasia tersebut dalam untuk seluruhnya atau sebagian, sedangkan diketahui atau selayaknya harus
diduga bahwa benda-benda itu tidak dimaksud untuk diketahui olehnya; begitu pula jika membuat atau
menyuruh buat salinan atau ikhtisar dengan huruf atau bahasa apapun juga; membuat atau menyuruh
buat teraan, gambaran atau tiruan surat-surat atau benda-benda rahasia itu, atau jika tidak menyerahkan
benda-benda itu kepada pejabat kehakiman, kepolisian atau pamong-praja, dalam hal benda-benda itu
jatuh ke tangannya, diancam dengan pidana penjara paling lama tiga tahun."
Pasal 116 KUHP : "Pemufakatan jahat untuk melakukan kejahatan tersebut dalam Pasal 113 dan 115
diancam dengan pidana penjara paling lama satu tahun."
66
R. Mark Halligan, The Economic Spionage Act Of 1996, The Theft Of Trade Secret Is New A
Federal Crime, Hal 1

Himalay Taufan: Perlindungan Hukum Atas Rahasia Dagang, 2008.


USU e-Repository 2008

setuju untuk membantu saudaranya malam sebelumnya untuk memberi uang sebesar
US $100,000, dihukum 5 tahun masa percobaan termasuk 6 bulan tahanan rumah 67 .
C. Peyelesaian Sengketa Pelanggaran Rahasia Dagang
Seorang pelaku usaha yang berkedudukan sebagai pemilik atau pemgang
Rahasia Dagang berusaha mempertahankan Hak Atas Rahasia Dagang

yang

dimikinya. Apabila terjadi sengketa bisnis antara pemilik/pemegang Rahasia Dagang


dengan pihak ketiga yang berkaitan dengan pelaksanaan perjanjian, maka
pemilik/pemegang Rahasia Dagang dapat menyelesaikan sengketa tersebut dengan
berbagai jenis penyelesaian sengketa, misalnya Penyelesaian sengketa diluar
pengadilan (Non Litigasi) yaitu dengan cara arbitrase atau alternatif penyelesaian
sengketa.
Pada umumnya para pihak yang bersengketa tentang Rahasia Dagang memilih
cara penyelesaian sengketa melalui badan arbitrase atau alternatif penyelesaian
sengketa karena pada dasarnya masalah Rahasia Dagang merupakan masalah perdata
sehingga diperlukan penyelesaian yang dapat dilaksanakan secara cepat, efektif,
efisien, dan tertutup 68 . Selain itu, melalui cara ini, Pemilik atau Pemegang Rahasia
Dagang tidak akan kehilangan Hak Rahasia Dagangnya karena tidak diketahui oleh
masyarakat serta nama baiknya tidak tercemar.

67

Criminal No. 97-9 (W.D. Pa December 7, 1996) Trade Secrets dikutip dari
http://www.google.co.id/search=id&q=kasus+pelanggaran+rahasia+dagang&meta
68
Iman Syahputra Tunggal Dan Heri Herjandono, Aspek-Aspek Hukum Rahasia Dagang, Jakarta,
Harvindo, 2000, Hal 125

Himalay Taufan: Perlindungan Hukum Atas Rahasia Dagang, 2008.


USU e-Repository 2008

Pada umumnya, jika terjadi sengkete, penyelesaian sengketa melalui lembaga


peradilan kurang diminati, sehingga penyelesaian sengketa melalui arbitrase relatif
lebih diminati daripada penyelesaian secara Litigasi, terutama sengketa-sengketa
bisnis internasional. Karena penyelesaian ini memiliki berbagai kelebihan.
Kelebihan- kelebihan tersebut antara lain:
a. Dapat menjamin kerahasiaan sengketa para pihak, oleh karena
keputusannya

tidak

dipublikasikan,

sehingga

dapat

dihindari

pengungkapan informasi bisnis kepada umum, yang dapat merugikan,


misalnya kehilangan reputasi bisnis;
b. Dapat dihindari keterlambatan yang diakibatkan karena masalah
prosedural dan administratif;
c. Para pihak dapat memilih arbiter yang menurut keyakinannya mempunyai
pengetahuan, pengalaman serta latar belakang yang cukup mengenai
masalah yang dipersengketakan, jujur, dan adil;
d. Para pihak dapat menentukan pilihan hukum untuk menyelesaikan
masalahnya serta proses dan tempat penyelenggaraan arbitrase;
e.

Putusan arbitrase merupakan putusan yang mengikat para pihak dan dapat
langsung dilaksanakan;

f.

Prosedur pemeriksaan sengketa dilakukan dengan cara sederhana bahkan


cenderung lebih informal;

Himalay Taufan: Perlindungan Hukum Atas Rahasia Dagang, 2008.


USU e-Repository 2008

g. Kebebasan, kepercayaan, dan keamanan. Penyelesaian sengketa melalui


arbitrase memberikan kebebasan dan otonomi yang sangat luas pada para
pihak. Disamping iu juga, relatif memberikan rasa aman terhadap :
1). keadaan yang tidak menentu serta ketidakpastian sehubungan
dengan sistem hukum yang berbeda.
2). kemungkinan keputusan yang berat sebelah untuk melindungi
kepentingan (pihak) lokal dari mereka yang terlibat sengketa
h. Cepat dan hemat biaya. Penyelesaian sengketa melalui lembaga arbitrase
relatif lebih cepat, dan lebih murah daripada penyelesaian sengketa
melalui proses litigasi, oleh karena putusan arbitrase bersifat final dan
tidak dapat diajukan banding terhadap putsan abitrase;
i.

Bersifat non-preseden. Untuk memutuskan sengketa yang diajukan


melalui lembaga arbitrase, arbiter tidak harus terikat pada putusan yang
sudah ada sebelumnya mengenai masalah yang sama. Bisa terjadi bahwa
terhadap sengketa yang sama akan dijauhkan putusan yang berbeda
asalkan putusan tersebut dianggap adil oleh para pihak. Karena itu prinsip
preseden tidak mempunyai pengaruh penting dalam pengambilan
putusan 69 ;

j.

Kepekaan dan kearifan arbiter. Dalam penyelesaian sengketa, arbiter akan


memberikan perhatian yang besar terhadap keinginan, realitas dan
praktek-praktek dagang para pihak. Hal ini dimaksudkan agar putusan

Himalay Taufan: Perlindungan Hukum Atas Rahasia Dagang, 2008.


USU e-Repository 2008

arbitrase tersebut dapat memberikan rasa keadilan seoptimal mungkin


bagi para pihak yang bersengketa.
Namun putusan arbitrase harus memenuhi beberapa persyaratan tertentu
sehingga dapat dianggap sah untuk dilaksanakan. Adapun persyaratan itu, yaitu :
1. apakah sudah ada persetujuan para pihak untuk menyelesaikan
sengketanya melalui arbitrase
2. apakah sengketa yang diselesaikan melalui arbitrase adalah sengketa di
bidang perdagangan/bisnis atau mengenai hak yang menurut hukum
dikuasai sepenuhnya oleh pihak yang bersengketa;
3.

apakah sengketa yang diselesaikan melalui arbitrase adalah sengketa yang


menurut undang-undang dapat diadakan perdamaian;

4.

apakah putusan arbitrase tidak bertentangan dengan kesusilaan dan


ketertiban umum.

Syarat-syarat tersebut diperiksa oleh ketua Pengadilan Negeri, namun alasan


atau pertimbangan dari putusan arbitrase tidak diperiksa, karena dimaksudkan agar
putusan arbitrase benar-benar mandiri, final dan mengikat. Dari uraian di atas dapat
dikatakan bahwa dicantumkannya sistem penyelesaian sengketa alternatif di luar dari
Pengadilan Negeri merupakan penyempurnaan terhadap sistem perlindungan Rahasia
Dagang.
Kecenderungan dipilihnya bentuk perlindungan melalui Rahasia Dagang
setidaknya dilandasi oleh dua alasan :
69

Iman Syahputra Tunggal Dan Heri Herjandono, Ibid, Hal 126

Himalay Taufan: Perlindungan Hukum Atas Rahasia Dagang, 2008.


USU e-Repository 2008

1. Karena

seringkali

substansi

yang

diinginkan

untuk

mendapatkan

perlindungan merupakan hal yang tidak dapat diberikan Paten, seperti halnya
daftar pelanggan perusahaan, data keuangan, nota-nota bisnis, dan lain-lain;
2. Mungkin juga hal yang ingin dilindungi sebenarnya memungkinkan untuk
diberi Hak Paten, tetapi inventor memilih bentuk perlindungan Rahasia
Dagang karena berbagai alasan seperti jangka waktu perlindungan yang
tidak terbatas, nilai kerahasiaan yan lebih menjamin, mahalnya biaya di
Kantor Paten dan formalitas pendaftaran yang lebih rumit.
Berdasarkan pertimbangan diatas, pemerintah memuat ketentuan tentang
penyelesaian sengketa di luar pengadilan, yaitu pada Pasal 123 Undang-undang
Nomor 30 Tahun 2000 yang menyatakan selain penyelesaian gugatan sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 11 para pihak dapat menyelesaikan perselisihan tersebut
melalui arbitrase atau alternatif penyelesaian sengketa
Bentuk alternatif penyelesaian sengketa terdiri dari negosiasi, mediasi, dan
lain-lain. Dalam negosiasi, para pihak membahas masalah tersebut dengan cara
tawar-menawar tanpa bantuan pihak ketiga (penengah) untuk mencapai kesepakatan.
Dari literatur hukum diketahui bahwa pada umumnya proses negosiasi merupakan
sutu lembaga alternative penyelesaian sengketa yang bersifat informal, meskipun
adakalnya dilakukan secara formal 70 . Tidak ada suatu kewajiban bagi para pihak
untuk melakukan pertemuan secara langsung pada saat negosiasi dilakukan.

70

Gunawan Widjaja & Ahmad Yani, Hukum Arbitrase, Jakarta, PT. Raja Grafindo Persada, 2000,
Hal 31.

Himalay Taufan: Perlindungan Hukum Atas Rahasia Dagang, 2008.


USU e-Repository 2008

Melalui negosiasi para pihak yang bersengketa atau berselisih paham dapat
melakukan suatu proses penjajakan kembali akan hak dan kewajiban para pihak
dengan atau melalui suatu situasi yang sama-sama menguntungkan, dengan
melepaskan atau memberikan kelonggaran atas hak-hak tertentu berdasarkan pada
asas timbal balik 71 . Persetujuan atau kesepakatan yang telah dicapai tersebut
kemudian dituangkan secara tertulis untuk ditanda tangani oleh para pihak dan
dilaksanakan sebagaimana mestinya. Kesepakatan tertulis tersebut menurut ketentuan
pasal 6 ayat 7 Undang-Undang Nomor 30 Tahun 1999 wajib didaftarkan di
Pengadilan Negeri dalam jangka waktu 30 hari terhitung sejak pendaftaran.
Selanjutnya oleh karena itu kesepakatan tertulis hasil negosiasi adalah suatu
persetujuan diantara para pihak, maka selayaknya juga jika hasil negosiasi tidak dapat
dibantah dengan alasan kekhilafan mengenai hukum atau dengan kata lain alasan
bahwa salah satu pihak telah dirugikan. walaupun demikan masih terbuka
kemungkinan untuk tetap dapat dibatalkan, jika memang dapat dibuktikan telah
terjadi suatu kekhilafan mengenai orangnya atau mengenai pokok sengketa, atau telah
dilakukan penipuan atau paksaan, atau kesepakatan telah diadakan atas dasar suratsurat yang kemudian dinyatakan palsu.
Sedangkan mediasi merupakan cara penyelesaian sengketa dengan melibatkan
pihak ketiga (penegah) yang disebut mediator. Mediator merupakan pihak yang tidak
memihak, netral, dan mampu menyelesaikan sengketa ini dan memuaskan para pihak.
Jadi mediator ini arus mampu menjembatani dan menerjemahkan kepentingan
71

ibid, Hal 31

Himalay Taufan: Perlindungan Hukum Atas Rahasia Dagang, 2008.


USU e-Repository 2008

pemilik Rahasia Dagang kepada Penerima Rahasia Dagang 72 . Hasil keputusannya


berasal dari kesepakatan para pihak dengan itikad baik. Tetapi tidak memiliki
kekuatan hukum seperti halnya putusan hakim. Jika ada pihak yang tidak patuh atas
putusan itu. Pihak yang dirugikan paling jauh hanya dapat menuntutnya berdasarkan
perbuatan wanprestasi.
Berbeda dengan mediasi, arbitrase merupakan forum penyelesaian sengketa
Rahasia Dagang yang memiliki kompetensi absolute setara dengan pengadilan.
Putusan-putusannya bersifat final dan mengikat karena para pihak telah sepakat
tanpa adanya banding dan kasasi serta memiliki kekuatan hokum seperti layaknya
putusan pengadilan 73 .
Penyelesaian sengketa melalui ADR untuk memenuhi memiliki keuntungan
dan efektivitas yang tinggi, karena penyelesaiannya selain dapat menghindari
kemungkinan terbukanya Rahasia Dagang atas informasi-informasi Rahasia Dagang
mereka.
Lembaga arbitrase diatur secara terperinci dalam Undang-Undang Nomor 30
Tahun 1999 Tentang Arbitrase dan Alternatif Penyelesaian Sengketa Umum. Dalam
Pasal 1 ayat (1) disebutkan Arbitrase adalah cara penyelesaian suatu sengketa perdata
di luar peradilan umum yang didasarkan pada perjanjian arbitrase yang dibuat secara
tertulis oleh para pihak yang bersengketa. Berdasarkan ketentuan ini, para pihak
mendapat banyak kemudahan karena prosedur yang digunakan tidak berbelit dan
72

ibid, Hal 34

Himalay Taufan: Perlindungan Hukum Atas Rahasia Dagang, 2008.


USU e-Repository 2008

mudah dimengerti, biaya lebih murah, lebih cepat, dan dapat memilik sendiri arbiter
yang ahli di bidangnya untuk menyelesaikan sengketa tersebut, dan keputusannya
bersifat final, tidak mengenal banding ataupun kasasi, serta mengikat.
Selain itu para pihak dapat menghindari kemungkinan terbukanya Rahasia
Dagang tersebut. Kelebihan-kelebihan inilah yang mendorong para pihak untuk
membuat klausula cara penyelesaian sengketa Rahasia Dagang melalui Arbitrase atau
Alternatif Penyelesaian Sengketa di dalam perjanjian penggunaan Rahasia Dagang.
Dalam Undang-Undang Rahasia Dagang disebutkan mekanisme penyelesaian
sengketa yang selengkapnya berbunyi sebagai berikut:
(1)

Pemegang Hak Rahasia Dagang atau penerima lisensi dapat menggugat


siapapun yang dengan sengaja dan tanpa hak melakukan perbuatan
sebagaiman dimaksud dalam Pasal 4, berupa :
a. gugatan ganti rugi; dan/atau
b. penghentian semua perbuatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4.

(2)

Gugatan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1), diajukan ke Pengadilan


Negeri.
Penyelesaian

sengketa

di

bidang

Rahasia

Dagang

dapat

diajukan

penyelesaiannya melalui Pengadilan Negeri, namun demikian, Pengadilan


bukanlah satu-satunya jalan atau cara penyelesaian perkara berkaitan dengan
Rahasia Dagang. Berdasarkan ketentuan Pasal 12 Undang-Undang Rahasia

73

Pasal 631-640 R.V yang telah diubah dengan pasal 6 ayat 7 jo pasal 60 Undang-Undang
Nomor 30 Tahun 1999 Tentang Arbitrase Dan Alternatif Penyelesaian Sengketa.

Himalay Taufan: Perlindungan Hukum Atas Rahasia Dagang, 2008.


USU e-Repository 2008

Dagang maka penyelesaian perkara berkaitan dengan Rahasia Dagang dapat


pula dilakukan melalui arbitrase atau melalui alternatif penyelesaian sengketa
(Negosiasi, Mediasi, dan cara-cara lain yang disepakati para pihak) sesuai
dengan ketentuan Undang-Undang Nomor 30 Tahun 1999 Tentang Alternatif
Penyelesaian Sengketa Dan Arbitrase.
Mekanisme penyelesaian sengketa di bidang Rahasia Dagang dapat
diselesaikan melalui dua sistem penyelesaian sengketa, yaitu baik melalui sistem
ajudikasi maupun non-ajudikasi. Bahkan dalam mekanisme ajudikasi juga dapat
ditempuh dua jalur penyelesaian sengketa, yaitu litigasi maupun non-litigasi.
Dengan demikian diharapkan bahwa sengketa-sengketa berkaitan dengan
Rahasia Dagang dapat diselesaikan sebaik-baiknya melalui penerapan secara optimal
lembaga dan mekanisme penyelesaian sengketa yang ada, serta penerapan prinsipprinsip penyelesaian sengketa yang optimal pula.

Himalay Taufan: Perlindungan Hukum Atas Rahasia Dagang, 2008.


USU e-Repository 2008

BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan
1.

Sistem Perlindungan Rahasia Dagang memiliki ruang lingkup yang lebih


luas, karena terdapat ketentuan didalamnya bahwa pihak yang melakukan
pelanggaran dapat dikenakan tuntutan baik secara perdata maupun pidana.
Pemberian perlindungan hukum terhadap Rahasia Dagang memiliki makna
yang sangat penting, yaitu sebagai landasan bagi perlindungan yang efektif
terhadap berbagai bentuk informasi yang bersifat rahasia yang dikatagorikan
sebagai Rahasia Dagang melalui pengaturan pencegahan praktek persaingan
usaha yang tidak sehat yang dapat merugikan masyarakat, jadi alasan
pemberian perlindungan hukum terhadap Rahasia Dagang sama dengan
alasan pemberian perlindungan hukum terhadap bentuk-bentuk HAKI lainnya

2.

Untuk mempertahankan Rahasia Dagang pemilik atau pemegang Rahasia


Dagang dapat melakukan berbagai cara yang sesuai dengan hukum yang
berlaku. Langkah-langkah tersebut terdiri dari:
a. Membuat Perjanjian Tertulis
Perjanjian tertulis ini dilakukan antara pemilik/pemegang Rahasia
Dagang dengan pihak ketiga dan disebut dengan perjanjian
Merahasiakan (Secrecy Agreement). Yang menjadi objek perjanjian

Himalay Taufan: Perlindungan Hukum Atas Rahasia Dagang, 2008.


USU e-Repository 2008

ini tidak hanya data dan informasi yang termasuk katagori Rahasia
Dagang, tetapi juga mencakup tentang pengalaman teknik berkenaan
dengan proses pengolahan, bahan-bahan, tata cara pengoperasian,
pengendalian mutu, dan informasi mengenai formula yang memiliki
nilai komersial tinggi
b. Membuat Perjanjian Kerja Antara Pihak Perusahaan Dengan
Karyawan Perjanjian kerja ini disebut dengan Employment Agreement
and Confidentiality Agreement. Dalam perjanjian kerja tersebut harus
diatur dengan tegas bahwa karyawan tidak boleh mengungkapkan
Rahasia Dagang perusahaan diluar tugasnya, seperti jika berhubungan
dengan pihak lain yang tidak terikat dalam perjanjian, bahkan dalam
kegiatan seminar atau pameran yang diselenggarkan perusahaan.
Klausula ini disebut dengan Non-Disclosure of Confidential
information.
c. Rahasia Dagang harus selalu dimasukkan dalam kelompok informasi
atau data yang bersifat rahasia. Dengan demikian, seluruh dokumen
yang berkaitan dengan Rahasia Dagang harus dibubuhi tanda
rahasia, dibuat kode-kode rahasia, disimpan pada lemari yang
terkunci,

dan

karyawan

yang tidak berkepentingan dilarang

mengetahui informasi itu dengan membuat tanda hanya untuk orang


tertentu saja

Himalay Taufan: Perlindungan Hukum Atas Rahasia Dagang, 2008.


USU e-Repository 2008

d. Pihak perusahaan memuat tanda pengenal bagi semua orang seperti


karyawan, bahkan direktur untuk menghindari masuknya pihak luar
ke dalam perusahaan.
e.

Pihak perusahaan harus pula membuat buku masuk bagi siapa saja
yang memasuki departemen pada perusahaan tersebut yang bukan
merupakan tempatnya, ketentuan ini perlu mengingat adanya
hubungan antar departemen dalam perusahaan tersebut.

Dengan adanya langkah-langkah tersebut, maka pemilik atau pemegang


Rahasia Dagang dapat melaksanakan kegiatan bisnisnya tidak akan kuatir lagi
kehilangan Rahasia Dagangnya dan terhindar dari adanya persaingan usaha tidak
sehat dari para kompetitor.
3.

Apabila terjadi sengketa bisnis antara pemilik/pemegang Rahasia Dagang


dengan pihak ketiga yang berkaitan dengan pelaksanaan perjanjian, maka
pemilik/pemegang Rahasia Dagang dapat menyelesaikan sengketa tersebut di
luar pengadilan, yaitu dengan cara arbitrase atau alternatif penyelesaian
sengketa. Pada umumnya para pihak yang bersengketa tentang Rahasia
Dagang memilih cara penyelesaian sengketa melalui badan arbitrase atau
alternatif penyelesaian sengketa karena pada dasarnya masalah Rahasia
Dagang merupakan masalah perdata sehingga diperlukan penyelesaian yang
dapat dilaksanakan secara cepat, efektif, efisien, dan tertutup. Selain itu,
melalui cara ini, pemilik atau pemegang Rahasia Dagang tidak akan

Himalay Taufan: Perlindungan Hukum Atas Rahasia Dagang, 2008.


USU e-Repository 2008

kehilangan Hak Rahasia Dagangnya karena tidak diketahui oleh masyarakat


serta nama baiknya tidak tercemar.
B. Saran
1. Dengan berlakunya Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2000 Tentang Rahasia
Dagang yang sesuai dengan standar TRIPs, sewajarnyalah pemerintah
mensosialisasikannya kepada masyarakat terutama kepada pelaku usaha yang
pada umumnya tidak memahami manfaat dari Rahasia Dagang yang
dimilikinya terhadap aktivitas bisnisnya sehingga menganggap informasi
rahasia tersebut sebagai informasi umum dan milik umum.
2. Rahasia Dagang merupakan aset ataupun investasi yang sangat bernilai tinggi
dan mahal harganya bagi orang atau perusahaan yang merupakan penemu dari
Rahasia Dagang tersebut oleh karena itu tepatlah pemerintah membuat suatu
ketentuan hukum yang dapat dikatakan cukup lengkap mengatur hal-hal yang
diperlukan secara khusus dalam melindungi suatu aset yang bernilai ekonomi
tinggi seperti halnya Rahasia Dagang.
3. Upaya perlindungan hukum melalui Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2000
Tentang Rahasia Dagang harus dijalankan dengan benar sehingga para
investor asing berkeinginan menanamkan modalnya di Indonesia, dengan
demikan, penulis berharap bangsa Indonesia mampu bersaing dengan investor
asing tersebut dalam era globalisasi.

Himalay Taufan: Perlindungan Hukum Atas Rahasia Dagang, 2008.


USU e-Repository 2008

DAFTAR PUSTAKA
A. Buku-Buku
Bambang Kesewo, Beberapa Ketentuan Dalam Persetujuan TRIPs, Jakarta,
Departemen Perdagangan RI, 1994.
______________, Pengantar Umum Mengenai HAKI Di Indonesia, Departemen
Perdagangan RI, 1994.
Badan Pembinaan Hukum Nasional, Penelitian Tentang Masalah Hukum Rahasia
Dagang, Jakarta, Departemen Kehakiman, 1997.
Badrulzaman, Mariam Darus, Kompilasi Hukum Perikatan, cetakan I, Bandung, PT
Citra Aditya Bakti, 2001.
Bainbrige, I David, Komputer Dan Hukum, Cetakan I, Jakarta, PT. Sinar Grafika,
1993.
Black, Henry Campbell, Blacks Law Dictionary, St, Paul, Minn, West Publishing
Co, USA, 1991.
Departemen Pendidikan Dan Kebudayaan, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Jakarta,
Balai Pustaka, 1990.
Departemen Kehakiman R.I, Direktorat Jendral Hak Cipta, Paten, Dan Merek, Buku
Panduan Di Bidang Paten, 1997
Gautama, Sudargo, Hukum Merek Indonesia, Bandung; PT Citra Aditya Bakti, 1990.
_______________, Segi-Segi Hukum Hak Milik Intelektual Baru Untuk Indonesia,
PT Citra Aditya Bakti, Bandung, 1998.
_______________, Pengantar Hukum Internasional, Buku I Bagian Umum, Bina
Cipta, Bandung, 1982.
Gembiro, Ita, Hukum Milik Intelektual, Fakultas Hukum Universitas Indonesia,
1991.
Kansil, Nico, Pengantar Umum Mengenai Hak Cipta, Paten, Dan Merek, Yan Apul,
1994
Miljani, Halida Dampak GATT/Putaran Uruguay Bagi Dunia Usaha, Departemen
Perdagangan RI, 1994.
M. S, Soedewi Sri, Hukum Benda, Yogyakarta, Seksi Hukum Perdata Fakultas
Hukum Universitas Gajah Mada, 1980.

Himalay Taufan: Perlindungan Hukum Atas Rahasia Dagang, 2008.


USU e-Repository 2008

Manalu, Paingot Rambe, Hukum Dagang Internasional, Pengaruh Globalisasi


Ekonomi Terhadap Hukum Nasional, Khususnya HAKI, Jakarta, Mavindo
Pustaka Mandiri, 2000.
Marono, Suyud & Amir Angkasa, Komersialisasi Aset Intelektual Aset Hukum Bisnis,
Jakarta, PT Gramedia Widiasarana Indonesia, 1999
Maulana, Insan Budi, Bianglala Hak Kekayaan Inetelektual, Jakarta; Hecca Mitra
Utama, 2005.
Mertokusumo, Soedikno, Penemuan Hukum Sebuah Pengantar, Yogyakarta; Liberty
Yogyakarta, 2001.
Muhammad, Abdulkadir, Kajian Hukum Ekonomi Hak Kekayaan Intelektual,
Bandung; Citra Aditya Bakti, 2001.
Muis, Abdul, H, Pedoman Penulisan Skripsi Dan Metode Penelitian Hukum, Cetakan
I, Medan, Penerbit Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara, 1990.
Priapantja, Citra Cita, Budaya Hukum Indonesia Menghadapi Globalisasi
Perdagangan Atau Perlindungan Rahasia Dagang di Bidang Farmasi,
Bandung; Chandra Pratama, 1999.
Purba, A. Zen Umar, Catatan Dan Ikhtisar Atas Undang-Undang Desain Industri,
Rahasia Dagang, Desain Tata Letak Sirkuit Terpadu, Seminar Peningkatan
Pemahaman Dan Pemberdayaan HAKI Dalam Menghadapi Erea
Perdagangan Global, Jakarta, 2001.
Purwadarminta, W.J.S, Kamus Umum Bahasa Indonesia, Jakarta; PN. Balai Pustaka,
1982.
Ramli. Ahmad M, Hak Atas Kepemilikan Intelektual Teori Dasar Perlindungan
Rahasia Dagang, Bandung, Mandar Maju, 2001.
Roedjiono,Trade Secret Gejala Baru Dalam Rejim Hukum Hak Milik Intelektual,
Yogyakarta, Bahan Seminar Mimbar Hukum Fakultas Hukum Universitas
Gajah Mada
Riswandi, Budi Agus, Hukum Cyberspace, Yogyakarta; Gita Nagari, 2006.
Saidin, Aspek Hukum Hak Kekayaan Intelektual, Cetakan III, Jakarta, PT Raja
Grafindo Persada, 2003.
Syahrani, Riduan, Seluk Beluk Dan Asas-Asas Hukum Perdata, Bandung, Alumni,
1992.
Subekti, Pokok-Pokok Hukum Perdata, Bandung Alumni, 1988.
Sudarsono, Kamus Hukum, Jakarta, Rineka Cipta, 1999.
Suherman, Ade Manan, Aspek Hukum Dalam Ekonomi Global, Cetakan I, Jakarta,
Ghalia, 2000.

Himalay Taufan: Perlindungan Hukum Atas Rahasia Dagang, 2008.


USU e-Repository 2008

Soekanto, Soerjono dan Mamudji, Sri, Penelitian Hukum Normatif, Jakarta, Raja
Grafindo Persada, 1994.
Saidin, H.O.K, Aspek Hukum Hak Kekayaan Intelektual, Jakarta; Raja Grafindo
Persada, 2004.
Tunggal, Iman Syahputra Dan Herjandono, Heri, Aspek-Aspek Hukum Rahasia
Dagang (Trade secrets), Jakarta, Harvarindo, 2000.
Widjaja, Gunawan, Pemilik Rahasia Dagang Dan Pemegang Rahasia Dagang,
Business News, 2001.
_______________, Seri hukum Bisnis Rahasia Dagang, Jakarta, Raja Grafindo,
2001.
Usman, Rachmadi, Hukum Hak Atas Kekayaan Intelektual, Perlindungan Dan
Dimensi Hukumnya Di Indonesia, Bandung; Alumni, 2003.
Winata, Rizwanto Dan Gautama Sudargo, Pembaharuan Hukum Merek Indonesia,
PT. Citra Aditya Bakti, Bandung, 1997.
______________________________________, Konvensi-Konvensi Hak Milik
Intelektual Baru Untuk Indonesia, PT. Citra Aditya Bakti, Bandung, 1997.
______________________________________,
Pembaharuan Undang-Undang
Paten, PT. Citra Aditya Bakti, Bandung, 1998.
Wiranta, I Made, Pedoman Penulisan Usulan Penelitian, Skripsi, dan Tesis, Penerbit
Andi, Yogyakarta; 2006
B. UNDANG-UNDANG
Kitab Undang-Undang Hukum Perdata
Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1999 Tentang Larangan Praktek Monopoli Dan
Persaingan Usaha Tidak Sehat.
Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2000 Tentang Rahasia Dagang
Trade Related Aspects Of Intelectual Property (TRIPs)
C. MAKALAH, DISERTASI DAN JURNAL HUKUM
Guilarmo, Cabanellas & Massaguer jose, Know-How Agreements and EEC
Competition Law,IIC Studies,Vol 12
Kamelo, Tan, Perkembangan Lembaga Fiducia: Suatu Tinjauan Putusan Pengadilan
Dan Perjanjian Di Sumatera Utara, Medan; PPs-USU

Himalay Taufan: Perlindungan Hukum Atas Rahasia Dagang, 2008.


USU e-Repository 2008

Saliwanchik, Roman, Legal Protecytion For Microbiological And Genetic


Engineereing Inventions, Addison-Wesley Publising Company, Advanced
Book Program/World Science division Reading, Massachusetts, London 1982
D. INTERNET (WEBSITE)
http://www.google.co.id/search=id&q=kasus+pelanggaran+rahasia+dagang&meta
http://www.IpCenter-oi.org/artikel.php?artikelid=8
http://jurnalis,wordpress.com/2007/06/18/selembar-perjanjian-jadi-perkara/
http://icelis8m.com/toc.htm
http://ensiklopedia.insan.co.id/h/haki/txt.
http://report.firrar.rtf.co.id.
http://www.denpasarpost.tv/2002/07/22/ekonomi.htm.
http://tripod.lycos.con/rahasia%dagang/htm.
http://www.hukumonline.com/artikel detail.asp?id=6321)
http://ww.cybertokoh.com/mod.php?mod=publisher&op=viewarticle&artid=103715khttp://icelis.8m.com/artikel01_01.htm
http://id.wikepedia.org/wiki/rahasia_dagang

Himalay Taufan: Perlindungan Hukum Atas Rahasia Dagang, 2008.


USU e-Repository 2008