Anda di halaman 1dari 14

A.

DEFINISI HIPOGLIKEMIA
Hipoglikemia adalah kadar glukosa darah yang kurang dari 50 mg/100 ml
darah. Hipoglikemia dapat disebabkan oleh puasa, atau khususnya puasa
yang disertai olahraga karena olahraga meningkatkan pemakaian glukosa
oleh sel-sel otot rangka. Kebanyakan hipoglikema lebih sering disebabkan
kelebihan dosis insulin pada pengidap diabetes dependen insulin atau
preparat ora yang berlebihan.
Hipoglikemia dapat terjadi setiap saat pada siang atau malam hari. Kejadian
ini bisa dijumpai sebelum makan, khususnya jika waktu makan tertunda atau
bila pasien lupa makan camilan. Sebagai contoh, hipoglikemia siang hari
terjadi bila insulin reguler yang disuntikkan pada pagi hari mencapai
puncaknya, sementara hipoglikemi pada sore hari timbul bersamaan dengan
puncak kerja NPH atau insulin Lente yang diberikan pada pagi hari.
Hipoglikemia pada tengah malam dapat terjadi akibat pencapaian puncak
kerja NPH atau insulin Lente yang disuntikkan pada malam hari, khususnya
bila pasien tidak makan camilan sebelum tidur.
Karena otak memerlukan glukosa darah sebagai sumber energi utama,
hipoglikemia menyebabkan terjadinya berbagai gejala gangguan fungsi
sistem saraf pusat (SSP) seperti konfusi, iritabilitas, kejang, dan koma.
Hipoglikemia dapat menyebabkan sakit kepala, akibat perubahan aliran
darah

otak

hipoglikemia

dan

perubahan

menyebabkan

keseimbangan

pengaktifan

air.

sistem

Secara

saraf

sistematis,

simpatis

yang

menstimulasi rasa lapar, gelisah, berkeringat, dan takikardi. Tingkat


kecemasan meningkat dengan gemetar dan gelisah.
B. KLASIFIKASI HIPOGLIKEMIA
Hipoglikimia dapat diklasifikasikan menjadi ringan, sedang, dan berat
menurut gejala klinis yang dialami oleh pasien
Simptomatik dapat diatasi sendiri, tidak ada gangguan
Ringan
aktivitas sehari-hari yang nyata
Simptomatik dapat diatasi sendiri, meniumbulkan gangguan
Sedang
Berat

aktivitas sehari-hari yang nyata


Sering tidak simptomatik, psien tidak dapat mengatasi sendiri
karena adanya gangguan kognitif
1. Membutuhkan pihak ketiga tetapi tidak membutuhkan

terapi parenteral
2. Membutuhkan terapi parenteral (glukagon intramuskuler
atau intravena)
3. Disertai kejang atau koma)
American

Diabetes

Association

Workgroup

on

Hypoglicemia

mengklasifikasikan kejadian hipoglikemia menjadi 5 kategori sebagai berikut


Severe

Kejadian hipoglikemia yang membutuhkan bantuan

hypoglicemia
Documented

dari orang lain


Kadar gula darah plasma 70 mg/dl disertai gejala

symptomatic
klinis hipoglikemia
hypoglicemia
Asymptomatic
hypoglicemia
Probable

Kadar gula darah plasma 70 mg/dl tanpa disertai


gejala klinis hipoglicemia
Gejala klinis hipoglikemia tanpa disertai pengkuran

symptimatic
kadar gula darah plasma
hypoglicemia
Gejala klinis hypoglicemia dengan pengukuran
Relative
kadar gula darah plasma 70 mg/dl dan terjadi
hypoglicemia
penurunan kadar gula darah
C. ETIOLOGI HIPOGLIKEMIA
Adapun penyebab Hipoglikemia yaitu :
1. Dosis suntikan insulin terlalu banyak/ penggunaan waktu insulin yang
salah
Saat menyuntikan obat insulin, pasien harus tahu dan paham dosis obat
yang disuntikkan sesuai dengan kondisi gula darah saat itu. Celakanya,
terkadang pasien tidak dapat memantau kadar gula darahnya sebelum
disuntik, sehingga dosis yang disuntikan tidak sesuai dengan kadar gula
darah saat itu. Memang sebaiknya bila menggunakan insulin suntik,
pasien harus memiliki monitor atau alat pemeriksa gula darah sendiri.
2. Lupa makan atau makan terlalu sedikit.
Penderita diabetes sebaiknya mengkonsumsi obat insulin dengan kerja
lambat dua kali sehari dan obat yang kerja cepat sesaat sebelum makan.
Kadar insulin dalam darah harus seimbang dengan makanan yang

dikonsumsi.

Jika

makanan

yang

anda

konsumsi

kurang

maka

keseimbangan ini terganggu dan terjadilah hipoglikemia.

3. Aktifitas fisik
Aktivitas fisik atau olahraga

berperan

dalam

pencegahan

dan

penanganan diabetes. Olahraga dapat memicu penurunan berat badan,


meningkatkan sensitivitas insulin pada jaringan hepar dan perifer,
meningkatkan pemakaian glukosa, dan kesehatan sistem kardiovaskuler.
Namun pada penderita diabetes dengan pengendalian gula darah yang
intensif, olahraga dapat meningkatkan risiko terjadinya hipoglikemia bila
tanpa disertai penyesuaian dosis terapi insulin, dan atau suplementasi
karbohidrat. Hipoglikemia dapat terjadi saat berolah raga, sesaat setelah
berolahraga, ataupun beberapa jam setelah berolahraga. Beberapa studi
terakhir menemukan bahwa hipoglikemia setelah olah raga dipengaruhi
oleh kegagalan sistem otonom pada penderita diabetes.
Pada saat olah raga terjadi penurunan insulin secara fisiologis,
sedangkan pada penderita diabetes yang tergantung pada terapi insulin
eksogen, penurunan insulin fisiologis ini tidak terjadi karena insulin yang
beredar di dalam tubuh adalah insulin eksogen dan tidak dapat
dikendalikan oleh pankreas.
Berbeda dengan penurunan sekresi insulin yang tidak terjadi pada
penderita diabetes, pada saat berolah raga sekresi glukagon dari sel
sel alfa pankreas tetap terjadi pada penderita diabetes melitus tipe 1 dan
tipe 2. Hilangnya penurunan kadar insulin juga menghambat proses
glikogenolisis dan glukoneogenesis karena kadar insulin yang relatif
tinggi beredar dalam darah.
Pada penderita diabetes juga terjadi kegagalan sekresi epinefrin. Secara
fisiologis,

epinefrin

berfungsi

meningkatkan

glikogenolisis

dan

menghambat pemakaian glukosa pada saat olahraga.


4. Kesalahan waktu pemberian obat dan makanan.
Tiap tiap obat insulin sebaiknya dikonsumsi menurut waktu yang
dianjurkan. Pasien harus mengetahui dan mempelajari dengan baik
kapan obat sebaiknya disuntik atau diminum sehingga kadar glukosa
darah menjadi seimbang.
5. Penyakit yang menyebabkan gangguan penyerapan glukosa.
Beberapa penyakit seperti celiac disease dapat menurunkan penyerapan
glukosa oleh usus. Hal ini menyebabkan insulin lebih dulu ada di aliran

darah dibandingan dengan glukosa. Insulin yang telah beredar ini akan
menyebabkan kadar glukosa darah menurun sebelum glukosa yang baru
menggantikannya.
6. Gangguan hormonal.
Orang dengan diabetes terkadang mengalami gangguan hormon
glukagon. Hormon ini berguna untuk meningkatkan kadar gula darah.
Tanpa hormon ini maka pengendalian kadar gula darah menjadi
terganggu.
7. Riwayat hipoglikemia sebelumnya.
Hipoglikemia yang terjadi sebelumnya mempunyai efek yang masih
terasa dalam beberapa waktu. Meskipun saat ini anda sudah merasa
baikan tetapi belum menjamin tidak akan mengalami hipoglikemia lagi.
8. Gangguan Ginjal
Hipoglikemia pada gangguan fungsi ginjal dapat diakibatkan oleh
penurunan

glukoneogenesis,

kerja

insulin

yang

berlebih

atau

berkurangnya asupan kalori. Pada gangguan fungsi ginjal dapat terjadi


penurunan kebutuhan insulin karena perubahan pada metabolisme dan
ekskresi insulin (insulin clearance). Insulin eksogen secara normal
dimetabolisme oleh ginjal. Pada gangguan fungsi ginjal, waktu paruh
insulin memanjang karena proses degradasi insulin berlangsung lebih
lambat.

F. MANIFESTASI KLINIS HIPOGLIKEMIA


Gejala dan tanda dari hipoglikemia merupakan akibat dari aktivasi sistem
saraf otonom dan neuroglikopenia. Pada pasien dengan usia lajut dan
pasien yang mengalami hipoglikemia berulang, respon sistem saraf otonom
dapat berkurang sehingga pasien yang mengalami hipoglikemia tidak
menyadari kalau kadar gula darahnya rendah (hypoglycemia unawareness).
Kejadian ini dapat memperberat akibat dari hipoglikemia karena penderita

terlambat untuk mengkonsumsi glukosa untuk meningkatkan kadar gula


darahnya
Gejala hipoglikemia dapat dikelompokkan menjadi dua kategori: gejala
adrenergik dan gejala sistem saraf pusat.
Pada hipoglikemia gejala ringan, ketika kadar glukosa darah menurun,
sistem saraf simpatik akan terangsang. Pelimahan adrenalin ke dalam darah
menyebabkan

gejala

seperti

perspirasi,

tremor,

takikardi,

palpitasi,

kegelisahan dan rasa lapar.


Pada hipoglikemia sedang, penurunan kadar glukosa darah menyebabkan
sel-sel otak tidak memperoleh cukup bahan bakar untuk bekerja dengan
baik.

Tanda-tanda

gangguan

fungsi

sistem

saraf

pusat

mencakup

ketidakmampuan berkonsentrasi, sakit kepala, vertigo, konfusi, penurunan


daya ingat, patirasa didaerah bibir serta lidah, bicara pelo, gerakan tidak
terkoordinasi,

perubahan

emosional,

perilaku

yang

tidak

rasional,

penglihatan ganda, dan perasaan ingin pingsan. Kombinasi semua gejala ini
(disamping gejala adrenergik) dapat terjadi pada hipoglikemi sedang.
Pada hipoglikemi berat, fungsi sistem saraf pusat mengalami gangguan
yang sangat berat sehingga pasien memerlukan pertolongan orang lain
untuk mengatasi hipoglikemia yang dideritanya. Gejalanya dapat mencakup
perilaku yang memgalami disorientasi, serangan kejang, sulit dibangunkan
dari tiur atau bahkan kehilangan kesadaran
Gejala hipoglikemia dapat terjadi secara mendadak dan tanpa terduga
sebelumnya. Kombinasi semua gejala tersebut dapat bervariasi antara
pasien yang satu dengan yang lainnya. Sampai derajat tertentu, gejala ini
dapat berhubungan dengan tingkat penurunan kadar glukosa darah yang
sebenarnya atau dengan kecepatan penurunan kadar tersebut. Sebagai
contoh, pasien yang biasanya memiliki glukosa darah dalam kisaran
hiperglikemia (misalnya, sekitar 200-an atau lebih) dapat merasakan gejala
hipoglikemia (adrenergik) kalau kadar gula darahnya secara tiba-tiba turun
hingga 120 mg/dl atau kurang. Sebaliknya, pasien yang biasanya memiliki
kadar glukosa darah yang rendah namin masih berada dalam rentang
normal dapat tetap asimtomatik meskipun kadar glukosa darah tersebut
turun secara perlahan-lahan sampai dibawah 50 mg/dl
G. PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK HIPOGLIKEMIA
1. Gula darah puasa

Diperiksa untuk mengetahui kadar gula darah puasa (sebelum diberi


glukosa 75 gram oral) dan nilai normalnya antara 70- 110 mg/dl.
2. Gula darah 2 jam post prandial
Diperiksa 2 jam setelah diberi glukosa dengan nilai normal < 140 mg/dl/2
jam
3. HBA1c
Pemeriksaan dengan menggunakan bahan darah untuk memperoleh
kadar gula darah yang sesungguhnya karena pasien tidak dapat
mengontrol hasil tes dalam waktu 2- 3 bulan. HBA1c menunjukkan kadar
hemoglobin terglikosilasi yang pada orang normal antara 4- 6%. Semakin
tinggi maka akan menunjukkan bahwa orang tersebut menderita DM dan
beresiko terjadinya komplikasi.
4. Elektrolit, tejadi peningkatan creatinin jika fungsi ginjalnya telah
terganggu
5. Dasar diagnosis hipoglikemia dipakai trias whipple:
keluhan yang berhubungan dengan hipoglikemia
kadar glukosa plasma yang rendah
perbaikan kondisi setelah perbaikan kadar

gula

darah

H. PENATALAKSANAAN MEDIS HIPOGLIKEMIA


1. Menurut PERKENI (2006) pedoman tatalaksana hipoglikemia sebagai
berikut
Glukosa diarahkan pada kadar glukosa puasa yaitu 120 mg/dl
Bila diperlukan pemberian glukosa cepat (IV) satu flakon (25cc)
Dex 40% (10 gr Dex) dapat menaikkan kadar glukosa kurang lebih
25-30 mg/dl.
2. Manajemen hipoglikemi menurut Soemadji (2006); Rush & Louis (2004;
Smeltzer & Bare (2003) sebagai berikut
Hipoglikemi ringan:
Diberikan 160-200 ml teh manis atau jus buah atau 6-10 butir

permen atau 23 sendok teh sirup atau madu


Bila gejala tidak berkurang dalam 15 menit ulangi pemberiannya
Tidak dianjurkan untuk mengonsumsi makanan tinggi kalori

(coklat, kue, donat, ice cream, cake)


Hipoglikemi berat:
Tergantung pada kesadaran pasien
Bila klien dalam keadaan tidak sadar jangan memberikan
makanan atau minuman karena dapat menyebabkan aspirasi.
Terapi hipoglikemi
Glukosa oral

10-20 gr glukosa oral harus segera diberikan dalam bentuk

tablet atau jelly, atau


150-200 ml minuman yang mengandung glukosa seperti jus

buah segar
Sebaiknya coklat manis tidak diberikan karena lemak dalam

cokelat dapat menghambat absorbsi glukosa


Bila belum ada jadwal makan dalam 1-2 jam perlu diberikan

tambahan 10-20 gr karbohidrat kompleks


Bila pasien mengalami kesulitan menelan dan keadaan tidak

terlalu gawat, dapat diberikan madu


Glukagon intramuskular
- 1 mg glukagon IM dapat diberikan dan hasilnya tampak
-

dalam 10 menit
Bila pasien sudah sadar pemberian glukogon harus diikuti
dengan pemberian dlukosa oral 20 gr dan dilanjutkan
dengan pemberian 40 gr karbohidrat dalam bentuk tepung

untuk mempertahankan pemulihan.


Pada keadaan puasa yang panjang atau hipoglikemia yang
diinduksi oleh alkohol, pemberian glukosa mungkin tidak
efektif.

Efektifitas

glukagon

tergantung

dari

stimulasi

glikogenolisis yang terjadi.


Glukosa intravena
- Glukosa 40% IV, atau glukosa 10% IV setelah 6 jam
KADAR GLUKOSA
TERAPI HIPOGLIKEMI (dengan rumus 3-2-1)
(mg/ dl)
< 30 mg/dl
Injeksi IV Dex.40% (25cc) bolus 3 flash
30-60 mg/dl
Injeksi IV Dex.40% (25cc) bolus 2 flash
60-100 mg/dl
Injeksi IV Dex.40% (25cc) bolus 1 flash
FOLLOW UP:
1. Periksa kadar gula darah lagi, 30 menit sesudah injeksi IV
2. Sesudah bolus 3 atau 2 atau 1 flash setelah 30 menit dapat
diberikan 1 flash lagi sampai 2-3 kali untuk mencapai kadar 120
mg/dl

Pemberian dekstrosa diteruskan dengan infus dekstrosa


10% selama 3 hari. Monitor glukosa darah setiap 3-6 jam
sekali

dan

kadarnya

dipertahankan

90-180

mg%.

Hipoglikemia karena sulfonilurea ini tidak efektif dengan


pemberian glukagon.

ASUHAN KEPERAWATAN

A. PENGKAJIAN
1. Data Subjektif
Keluhan utama : takikardi, gemetar, pandangan kabur, pusing, lapar,

penurunan kesadaran
Riwayat penyakit sekarang : Hipoglikemi dapat terjadi akibat intake
nutrisi yang tidak adekuat, dan olah raga yang terlalu berat. Namun

mekanisme umum dan penting adalah respon terhadap terapi insulin.


Riwayat penyakit dahulu : Asupan nutrisi yang tidak adekuat,
olahraga terlalu berat, dosis insulin terlalu berlebih, atau menderita

penyakit Diabetes Mellitus.


Riwayat penyakit keluarga : Anggota keluarga ada yang menderita
Diabetes Mellitus.

2. Data Objektif
a. Pengkajian Primer
Airway: kaji kepatean jalan nafas pasien, ada tidaknya sputum

atau benda asing yang menghalangi jalan nafas


Breathing: kaji frekuensi nafas, bunyi nafas, ada tidaknya

penggunaan otot bantu pernafasan


Circulation: kaji nadi, nadi menurun/ tidak ada
Disability: lemah, letih, sulit bergerak
b. Head to Toe

Kepala dan leher


Kaji bentuk kepala, keadaan rambut, adakah pembesaran pada
leher, telinga kadang-kadang berdenging, adakah gangguan
pendengaran, lidah sering terasa tebal, ludah menjadi lebih kental,
gigi mudah goyah, gusi mudah bengkak dan berdarah, apakah

penglihatan kabur / ganda, diplopia, lensa mata keruh.


Sistem integument
Turgor kulit menurun, adanya luka atau warna kehitaman bekas
luka, kelembaban dan suhu kulit di daerah

sekitar ulkus dan

gangren, kemerahan pada kulit sekitar luka, tekstur rambut dan

kuku.
Sistem pernafasan
Adakah sesak nafas, batuk, sputum, nyeri dada. Pada penderita

DM mudah terjadi infeksi.


Sistem kardiovaskuler
Perfusi jaringan menurun, nadi perifer lemah atau

berkurang,

takikardi, hipertensi, aritmia,


Sistem gastrointestinal
Terdapat polifagi, polidipsi, mual, muntah, diare, konstipasi,
dehidrase, perubahan berat badan, peningkatan lingkar abdomen,

obesitas.
Sistem urinary
Poliuri, retensio urine, inkontinensia urine, rasa panas atau sakit

saat berkemih.
Sistem musculoskeletal
Penyebaran lemak, penyebaran masa otot, perubahn tinggi
badan, cepat lelah, lemah dan nyeri, adanya gangren di

ekstrimitas.
Sistem neurologis
Terjadi penurunan sensoris, parasthesia, anastesia, letargi,
mengantuk, reflek lambat, kacau mental, disorientasi

3. Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan laboratorium: glukosa serum <50mg/dl, spesimen urin

dua kali negatif terhadap glukosa


EKG: Takikardi

B. ANALISA DATA
DATA

ETIOLOGI

DS:
- Jantung terasa
berdebar-debar
- Gemetar
- pandangan kabur
- pusing
- lapar
- menderita DM
- Anggota
keluarga
ada yang menderita
Diabetes Mellitus.

Hiperglikemia

Dosis insulin >>

Pengikatan glukosa
oleh insulin >>

Hipoglikemi

DO:
- Perfusi jaringan
menurun,
- nadi perifer lemah
- takikardi
- hipertensi
- aritmia
- polifagi
- mual, muntah
- cepat lelah
- lemah
- letargi
- mengantuh
- reflek lambat
- kacau mental,
disorientasi
- Pemeriksaan
laboratorium:
glukosa serum
<50mg/dl, spesimen
urin dua kali negatif
terhadap glukosa;
EKG: Takikardi
DS:
- pandangan kabur
- pusing
- lmenderita DM
- Anggota
keluarga
ada yang menderita

Hiperglikemia

Dosis insulin >>

Pengikatan glukosa
oleh insulin >>

DIAGNOSA
KEPERAWATAN
Risiko Ketidakstabilan
Kadar Glukosa Darah

Risiko Ketidakefektifan
Perfusi Jaringan Otak

Diabetes Mellitus.
DO:
- lemah
- letargi
- mengantuk
- reflek lambat
- kacau mental,
disorientasi
- Pemeriksaan
laboratorium:
glukosa serum
<50mg/dl, spesimen
urin dua kali negatif
terhadap glukosa;

Hipoglikemi

Sel-sel otak tidak


memperoleh cukup
bahan bakar dengan
baik

GG. metabolisme sel


otak

Kerusakan sel otak

C. INTERVENSI
1. Diagnosa Keperawatan: Risiko Ketidastabilan Kadar Glukosa Darah
Tujuan dan Kriteria Hasil:
Setelah dilakukan tindakan keperawatan, kadar glukosa darah klien
berada dalam rentang normal, dengan kriteria hasil:
NOC: Blood Glucose Level
Indikator
Kadar glukosa darah

(120
mg/dl

)
NIC: Hypoglicemia Management
1. Monitor tanda dan gejala hipoglikemia (gemertar, tremor, berkeringat,
ansietas, iritabilitas, takikardi, palpitasi, pusing, lapar, muarl, sakit
kepala, lelah, megantuk, lemah, pandangan kabur, kesulitan
2.
3.
4.
5.
6.
7.

berkonsentrasi, dll)
Monitor kadar glukosa darah
Berikan glukagon 1 mg glukagon IM atau glukosa intravena Dex.40%
Pertahankan IV
Berikan glukosa oral
Jaga kepatenan jalan nafas
Cari penyebab utama terjadinya hipoglikemia

2. Diagnosa Keperawatan: Risiko Ketidakefektifan Perfusi Jaringan


Otak
Tujuan dan Kriteria Hasil:
Setelah dilakukan tindakan keperawatan, perfusi jaringan otak efektif,
dengan kriteria hasil:
NOC: Concentration
Indikator
Mempertahankan perhatian
Mempertahankan fokus
Respon terhadap tanda visual
Respon terhadap taktil
Respon terhadap suara

NOC: Fatigue Level


Sakit kepala
Ketajaman perhatian
NIC: Cerebral Perfusion Promotion
1. Pertahankan kadar gula dalam rentang normal
2. Monitor status neurologi
NIC: Neurological Monitoring
1. Monitor ukuran, bentuk, kesimetrisan, dan reaktivitas pupil
2. Monitor tingkat kesadaran
3. Monitor GCS
4. Monitor vital sign: suhu, TD, nadi, dan pernapasan
5. Monitro adanya tremor
6. Catat adanya sakit kepala
7. Monitor respon terhadap stimulus verbal dan taktil
8. Monitor pola keringat
9. Monitor respon medikasi

DAFTAR PUSTAKA

Universitas

Airlangga.

2012.

File

Hipo-Hiperglikemia.

http://ners.unair.ac.id/materikuliah/MP-HPOHIPERGLIKEMIA.pdf.

diakses

pada 05 April 2015


Brunner & Suddarth. 2003. Buku Ajar Keperawatan Medika Bedal. Edisi 8.
Volume 2. Jakarta:EGC
Corwin, Elizabeth J. 2009. Buku Saku Patofisiologi. Edisi 3. Jakarta:EGC
Widiatmi, Dani. 2012. Laporan Pendahuluan: Asuhan Keperawatan pada Klien
dengan Hipoglikemia. Prodi DIII Keperawatan. Poltekkes Kemenkes
Semarang. Semarang

Anda mungkin juga menyukai