Anda di halaman 1dari 34

KARAKTERISTIK CAMPURAN ASPAL DAN AGREGAT

( MIX 01 )

A. JADWAL PELAKSANAAN
Hari / Tanggal

: Senin / 3 January 2011

Waktu

: 08.00 WIB Selesai

Tempat

: Laboratoium Pengujian Bahan Teknik Sipil


Politeknik Negeri Padang

B. TUJUAN PRAKTIKUM
a. Tujuan Umum
Dapat mengetahui jumlah kadar aspal optimum yang dapat digunakan
dalam suatu campuran aspal dan agregat.. Dapat menentukan komposisi
yang tepat antara agregat aspal dan material pengisi (filler) dalam
campuran beraspal dan dapat menentukan kadar aspal optimum yang di
gunakan untuk perencanaan campuran aspal pada jalan raya.
b. Tujuan Khusus
1.

Dapat memahami prosedur pelakasanaan pengujian campuran aspal


dengan agregat dengan baik benar.

2.

Dapat menggunakan peralatan pengujian campuran aspal dan agregat


dengan baik dan benar.

3. Dapat mencatat, menghitung dan menganalisa data pengujian campuran


aspal dan agregat dengan metode Marshall.
4. Dapat memplotkan data data dari hasil pencarian dengan metode
Marshall kedalam grafik untuk mendapatkan kadar as[al optimum.

C. REFERENSI
1. Panduan Praktikum Pengujian Bahan II
2. Bahan Ajar Bahan Bangunan II

3. Bahan Ajar Rekayasa Jalan II


4. SNI 06 2489 - 1991

D. DASAR TEORI
1) Jenis Campuran
Konstruksi perkerasan jalan lentur merupakan campuran antara
aspal dengan agregat. Campuran aspal dan agregat ini lebih dikenal
dengan campuran beraspal dan juga campuran beton aspal. Aspal dalam
campuran bersifat sebagai perekat dan pengisi, sedangkan agregat
berfungsi

sebagai

tulangan

struktur

perkerasan.

Agak

sulit

untuk

melakukan klasifikasi yangcukup tegas terhadap jenis jenis aspal /


campuran yang ada. Tidak sedikit campuran terkait perkerasannya sdan
juga jenis campuran yang tergantung pada fungsinya.
Beberapa jenis campuran dapat diklasifikasikan sebagai berikut :
a. Berdasarkan fungsi campuran pada struktur perkerasan
Lapisan pondasi
Lapisan permukaan
Lapisan aus
Lapiosan tertutup
b. Berdaskan kemampuan mendistribusikan beban
Campuran yang memiliki nilai struktural
Campuran yang tidak memuiliki nilai struktural
c.

Berdasarkan metode konstruksinya


Metode segregasi
Metode pracampur, yang terbagi atas campuran panas ( Hot Mix ),
campuran hangat ( Warm Mix ) dan campuran dingin ( Cold Mix ).
Berikut beberapa jenis campuran yang cukup dikenal di Indonesia:

a. Lapen ( Lapis Penetrasi Makadam )


Campuran antara agregat dan aspal yang terdiri dari agregat pokok dan
agregat pengunci dengan gradasi terbuka dan seragam yang diikat
dengan aspal dengan cara disemprotkan diatas dan dipadatkan lapis demi
lapis.
Biasa digunakan sebagai lapis pondasi dan lapis pwermukaan. Jika
digunakan sebagai lapis permukaan, maka perlu diberi lapisan penutup,
yang merupakan leburanb aspal dengan agregat penutup.
Campuran ini mempunyai sifat kurang kedapair, kekuatan utama terletak
pada sifat saling interlocking antara batuan pokok dengan batuan
pengunci, memiliki nilai struktural, cukup kenyal dan memiliki permukaan
yang kasar. Dapat digunakan untuk perkerasan lama dan baru serta lalu
lintas ringan dan sedang. Campuran ini termasuk jenis segresi, yaitu
proses pencampuran dilakukan pada saat pengahamparan.
b. Latastirn ( Lapis Tipis Aspal Pasir )
Campuran yamng memiliki / terdiri dari aspal dan pasir bergradasi
menerus yang dicampurkan pada suhu minimum 120 C dan dipadatkan
pada suhu minimum 120 C dan dipadatkan pada suhu 90 C - 110 C.
Berfungsi sebagai lapis penutup, lapisan aus memberikan permukaan
jalan yang rata dan licin. Campuran ini merupakan bentuk campuran pra
campur dengan campuran panas.
c.

Buras ( Leburan Aspal )


Campuran yang terdiri dari aspal leburan pasir dengan ukuran maksimum
3/8, berfungsi sebagai lapisan penutup menjaga permukaan agar tidak
berdebu, kedap air, tidak licin dan mencegah lepasnya butir halus,
termasuk konstruksi segresi.

d. Burtu (Leburan Aspal Satu Lapis )

Campuran ini sama dengan buras,tetapi leburan ini satu lapis agregat
bergradasi seragam dengan tebal maksimum 20 mm. Berfungsi menjaga
permukaan agar tidak berdebu, mencegah air masuk dan memperbaiki
tekstur permukaan, digunakan pada jalan yang belum atau sudah
beraspal yang sudah stabil, mulai retak atau mengalami degradasi dan
dapat digunakan sampai lalu lintas berat.
e. Burda ( Leburan Aspal Dua Lapis )
Burda ini merupakan p[engembangan dari Burtu, dimana lapisan aspal
ditaburi dan dikerjakan 2 kali secara berurutan dengan tebal maksimal 35
mm. Berfungsi memebuat permukaan tidak berdebu, mencegh masuknya
air dan memperbaiki tekstur permukaan perkerasan. Digunakan pada
jalan ytang telah atau belum beraspal dan jalan tersebut telah stabil dan
rata mulai retak atau degradasi dan dapat digunakan sampai lalu lintas
berat.
f.

Lasbutag ( Campuran Asbuton Dingin )


Campuran yang terdiri atas campuran agregat asbuton dan bahan
peremaja yang tercampur, diaduk, diperam, dihamparkan dan dipadatkan
dalam keadaan dingin ( tanpa pemanasan ). Campuran ini merupakan
jenis yang memanfaatkan langsung aspal, yaitu aspal dari pulau buton
( yang disebut Asbuton ).

g. Latasbum ( Lapis Tipis Asbuton Murni )


Ini merupakan pengembangan dan memanfaatkan aspal alam asbuton
melakukan ekstraksi untuk mendapatkan aspal murni dari alam atau
batuan asbuton. Digunakan pada jalan raya telah n\beraspal yang telah
stabil dan rata serta mulai retak dan mengalami.
h. Laston ( Lapis Aspal beton )
Campuran aspal dengan agregat bergradasi menerus dengan campuran /
yang dicampurkan pada suhu minimum 115 C, dihamparkan pada suhu
minimum 110 C. Berfungsi sebagai pelindung / pendukung lalu lintas,

pelindung lapisan dibawahnya dari cuaca dan air, lapisan aus dan
menyediakan permukaan jalan rata dan tidak licin.
i.

Laston atas ( Lapisan Aspal Pondasi Atas )


Campuran ini adalah penggunaan Laston sebagai lapisan pondasi dan
campuran ini terdiri dari campuran agregat dan aspal dengan
perbandingan tertentu dan di
Campur pada suhu 90 C - 120 C dan dipadatkan dalam keadaan panas.
Berfungsi sebagai lapisan perkerasan dan meneruskan beban kekonstruksi
dibawahnya.

j.

Laston Bawah ( Lapisan Aspal Beton Pondasi Bawah )


Campuran ini terdiri dari campuran agregat dan aspal yang dicampur
pada suhu minimum 80 C - 120 C dan dipadatkan pada suhu minimum
80 C. Berfungsi sebagai perkerasan yang menruskan beban padsa
konstruksi dibawahnya. Dipasang pada tanah dasar yang telah stabil dan
untuk mempercepat peningkatan jalan secara keseluruhan, terutama
pada konstruksi bertahap.

k.

Lataston ( Lapis Tipis Aspal Beton )


Campuran ini menggunakan agregat bergradasi timpang, aspal dan filler
yang dicampur pada suhu tertentu, tergantung pada nilai penetrasi aspal
yang digunakan dan dipadatkan pada suhu minimal 148 C. Tebal
padatnya antara 2,5 cm 3 cm.

l.

Hot Rolled Aspalt HRA


Campuran ini adalah tipe campuran yang menggunakan agregat
bergradasi senjang. Campuran ini menggunakan sedikit agregat
berukuran sedang ( 2,36 m 10 mm ) dan matriks material halus dan
aspal serta sedikit agregat kasar ( biasanya ukuran normal 14 mm ).

m. Stone Mastis Aspalt ( SMA )

Campuran SMA bergradasi kasar, seperti aspal Porous tetapi rongganya


terisi mortar agregat halus/filler/aspal. Hasilnya adalah suatu campuran
bergradasi senjang dengan ketahanan terhadap air dan memiliki
durabilitas tinggi.
Dari sekian banyak tipe-tipe campuran aspal dan agregat yang
paling umum campuran aspal beton ( Asphatic Concrete) yang dikenal dg
AC atau laston dan campuran hot Rolled Asphalt (HRA)
AC merupakan susunan gradasi yang continue dari mutu
material mutu tinggi yang dicampur panas. Agregat yang lebih kecil
mengisi ruang antar agregat yang lebih besar, membenttuk struktur
granular yang padat dengan void yang sangat kecil
HRA adalah sand base mixture yang padat, kedap dan
bergradasi timpang
, karena ada ukuran ada ukuran butir yang tidak terdapat dalam
campuran. Sedangkan ukuran agregat halus cukup banyak, maka agregat
kasar seolah-olah mengambang.
Perbandingan sifat-sidat yang penting antara AC dan HRA

Campuran AC

Campuran HRA

o
1.

Kedap air

Kedap air

Fleksibilitas rendah

Fleksibilitas Tinggi

Keawetan kurang

Keawetan tinggi

Fatique resistance baik

Fatique resistance baik

Sensitif thd Variasi campuran

Kurang sensitif

Pola Pemadatan sangat sukar

Mudah Pemadatan

Kontrol terhadap VIM tinggi.

VIM tidak begitu kritis

Nilai struktur tinggi (kekuatan

Nilai kekuatan struktur rendah

struktur )

Nilai kekerasan rendah

10

Nilai kekerasan tinggi

Gradasi timbang

11

Gradasi menerus

Dapat dihampar dalam Lapisan tipis.

Lapisan harus tebal

2) Kinerja campuran aspal dan agregat


Campuran aspal dan agregat untuk perkerasan jalan yang biasanya
disebut sebagai aspal beton merupakan suatu bahan lapis perkerasan
jalan yang terdiri dari campuran agregat kasar, agregat sedang dan agregat halus serta bahan mineral
lainnya sebagai pengisi / filler dengan aspal sebagai bahan pengukat
dalam perbandingan yang proporsional dan teliti serta diatur dalam
perencanaan campuran.
Tahapan yang perlu diketahui dalam perencanaan campuran beraspal
adalah :
Melakukan pemeriksaan terhadap aspal yang akan dipakai. Pemeriksaan viskositas dan
berat jenis aspal. Viskositas diperlukan untuk menentukuan suhu campuran maupun suhu
pemadatan.
Melakukan spesifikasi gradasi agregat yang akan dipakai yaitu suatu besan persentase
agregat yang lewat suatu saringan dengan ukuran tertentu.
Melakukan pemeriksaan mutu agregat yang akan dipakai.
Menentukan kombinasi beberapa fraksi agregat sehingga mendapatkan gradasi campuran
yang memenuhi spesifikasi yang ditentukan karena pada umumnya agregat yang akan dipakai
terdiri dari beberapa fraksi.
Jika mutu bahan sudah terpenuhi dan harga viskositas dari aspal serta kombinasi fraksi
sudah diketahui, kemudian dibuat campuran agregat dengan berbagai kadar aspal selanjutnya
dilakukan percobaan marshall guna menentukan flow dan stabilitas campuran beraspal.
Syarat syarat utama aspal beton yang bermutu baik adalah :
1.

Campuran harus mempunyai nilai stabilitas yang cukup yaitu harus sanggup menahan beban
lalulintas tanpa terjadinya deformasi dalam bentuk jejak roda ( Rutting ) atau rusak
bergelombang akibat dorongan beban roda kendaraan ( Pushing )

2.

Campuran tidak boleh retak retak artinya harus mampu menahan lendutan ( Derection )
yang mungkin timbul terhadap lapisan hamparan atau permukaan tanpa mengalami
kerusakan.

3.

Campuran harus dapat bertahan lama ( Durable) artinya tidak rusak atau aus dibawah beban
lalulintas dan kondisi cuaca.

4.

Campuran harus cukup kekerasannya ( Skid Resistance ) dan harus tetap seperti sedemikian
selama masa pelayanannya.

5.

Harus cukup ekonomis dalam artian murah namun kuat.


Sifat-sifat penting yang harus dimiliki oleh suatu campuran agregat adalah

1.

Stabilitas
Stabilitas yaitu kemapuan campuran aspal sebagai bahan perkerasan untuk menahan
deformasi akibat beban lalu lintas tanpa terjkadi perubahan seperti gelombang, alur ataupun
Bleeding. Kebutuhan akan stabilitas sejalan denagn jumlah lalu lintas dan beban kendaraan
yang lewat. Kekuatan atau stabilitas ini diharapkan dari sifat paling kuno ( Interkocking )
antar agregat penyusunnya, kelekatan yang disumbangakan oeh aspal dan adanya mortar.
Dengan demikian stabilitas yang tinggi dapat diperoleh denang cara mengusahakan :

Agregat dengan gradasi yang rapat ( Dense Graded )

Agregat dengan permukaan kasar

Agregat berbentuk kubus

Aspal dengan penetrasi rendah

Aspal dengan jumlah yang mencukupi untuk ikatan antar butir


Yang perlu diperhatiakan adalah bahwa memaksimalkan nilai stabilitas akan menyebababkan
penurunan kinerja campuran lainnya. Pengukuran stabilitas dilakukan melalui pengujian
skala laboratorium yang dinamakan Marshaal Test.
Stabilitas: S

= Kuat tekan

Dalam perkerasan jalan stabilitas yang diharapkan adalah stabilitas yang memadai artinya
tidak terlalu tinggi tidak juga terlalu rendah.
: Fc' = Flexural Streigh

Sumber kekuatan berbagai jenis campuran :


-

Asphaltic Concrete
agregat

: Kekuatan bersumber pada interlocking

Hot Rolled Asphalt

: Kekuatan bersumber pada mortal campuran

Split Mastic Asphalt : Kekuatan pada mortal campuran

Macadam

2.

Durabilitas

: Kekuatan diperoleh pada pelaksanaan

Durabilitas adalah ketahanan suatu campuran terhadap disintegrasi karena beban lalu lintas
dan berbagai faktor lingkungan ( cuaca, air dan perubahan suhu ). Makin besar besar potensi
terhadap berbagai agregat, makin besar durabilitasnya. Aspal menyelimuti agregat dalam
bentuk film aspal untuk melindungi dari air, sehingga air tidak dapat masuk kedalam agregat.
Aspal juga mengisi rongga udara, sehingga rongga udara berkurang dan menghindari
terjadinya proses oksidasi yang dapat menyebkan aspal menjadi rapuh dan getas. Namun ada
batasan minimum rongga udara terisi aspal untuk menghindari terjadinya Bleeding.
Durabilatas dapat menurun disebabkan oleh :

air/uap air ( oksidasi )


( kehancuran secara mekanis )
Faktor yang mempengaruhi durabilitas aspal beton adalah :
a.

VIM (Void in Mineral Mixture ) atau rongga dalam campuran kecil sehingga lapis kedap air
dan udara tidak masuk kedalam campuran yang menyebabkan terjadinya oksidasi dan aspal
menjadi rapuh / getas

b.

VFA (void in mineral agregat ) atau rongga dalam agregat, dalam suatu campuran aspal yang
telah dipadatkan termasuk didlam nya rongga yang terdidri aspal efektif. Jika VMA besar
maka film aspal dapat dibuat tebal.

Untuk memaksimalkan durabilitas dilakukan dengan cara :


Campuran aspal beton mempunyai kandungan aspal yang cukup untuk menyelimuti
semua agregat.
Aspal yang cukup untuk mengisi ruang udara diantara agregat ( Kedap air )
Flow ( kelelehan ) perubahan bentuk platis suatu campuran yang terjadi akibat beban
sampai batas runtuh yang dinyatakan dalam mm atau 0,01

VFB ( Void filled with bitumen ) rongga terisi aspal, bagian dari rongga volume didalam
agregat (VMA ) yang terisi aspal efektif dinyatakan dl dalam % VMA
Ketahanan diharapkan meningkat dengan adanya proteksi aspal terhadap agregat yang makin
besar.untuk memaksimumkan durabilitas dilakukan dengan cara :
a.

campuran aspal beton mempunyai kandungan aspal yang cukup menyelimuti semua partikel
agregat.

b. Aspal yang cukup untuk mengisi ruang udar diantara agregat.


3.

Fleksibilitas
Fleksibilitas adalah campuran beraspal sebagai bahan perkerasan menahan lendutan tanpa
terjadi retak dan perubahan volume.
Fleksibilitas suatu campuran dapat diperoleh dengan :

a.

Penggunaan agergat bergradasi senjang sehingga memperoleh VMA ynag besar

b. Penggunaan aspal lunak (penetrasi yang tinggi)


c.

Penggunaan aspal yang cukup banyak ,sehingga diperoleh VIM ynag kecil
Untuk memaksimalkan fleksibilitas, harus digunakan dengan gradasi terbuka
( Open Groded ), karena itu harus kompromi dengan stabilitas campuran, dimana campuran
yang menggunakan agregat bergradasi terbuka yang stabil dibandingkan dengan campuran
yang menggunakan bergradasi rapat.
Fleksibilitas suatu campuran beraspal dapat dinilai dengan menggunakan
rasioantara stabilitas Marshall dengan kelelehan ( Flow ), yang dikenal dengan nama
Marshall Questient. Semakin besar MQ semakin kaku campuran dan sebaliknya

4.

Kedap air
Kemampuan permukaan perkerasan untuk menahan rembesan air kedalam
perkerasan, permukaan perkerasan dapat kedap air, dilakukan dengan cara :

a.

Menggunakan gradasi tepat

b. Manambah kadar aspal


6.

Kekerasan (skid Resistence )

Adalah kemampuan permukaan lapis keras untuk menghindari kendaraan yang


melalui diatasnya agar tidak terjadi bleding / sleping ( tergenlincir ) keluar saat permukaan
basah, nilai kerekatan yang tinggi dapat diperoleh dengan cara :
a. Menggunakan agregat yang miknoteklstur tinggi dan nilai abrasi rendah.
b. Membuat kondisi permukaan mempunyai mikroteksture tinggi misalnya dengan menambah
hipping
7. Kelemahan ( Fatique resistence )
Adalah kemampuan pekerasan untuk mendukung beban (load resistance )
Dari beban lalu lintas tanpa mengalami retak. Nilai Fatique resistence dapat dinaikan dengan
cara :
a.

Memperingat kadar aspal

b. Mempertebal lapis permukaan


c.

Memperkecil rongga terhadap campuran

Beberapa cara menentukan kadar aspal dalam campuran :


1.

Metode Luas permukaan

a.

Cara California
P = 0,015 a + 0,036 b + 0,17 c + C
Dimana :
P = Persentase aspal dalam campuran dalam perbandingan berat
s = Persentase agregat tertahan # 10 mm
b = Persentase agregat lolos # 10 mm tertahan # 200 mm
c = Persentase agregat yang lolos # 200 mm

b. Cara Myoming
P = 1,3 ( 0,015 a + 0,036 b + 0,17 c )
c.

Cara lain menurut persamaa


P = SKT
Dimana :
P = Persentase aspal yang diperlukan
S = Faktor koreksi, karena butiran berbeda

S = 2,65 / U
K = Faktor koreksi karena diperlukan untuk menyelubungi seluruh
Luas permukaan butiran
2.

Percobaan Laboratorium
Percobaan Marshall
Percobaan Hven

Parameter Campuran
Density
Stabilitas
Flow
VIM
VMA
MQ
VFA
CAD
IP

SNI

BS

AI

SNI = Standar Nasional Indonesia

3.

BS

= British Standar

AI

= Aspalt Institute

Kadar aspal optimum dengan metode marshall


Beberapa persyaratan teknis dan ekonomis sebagai berikut :

a.

Cukup jumlah aspal untuk menjamin keawetan pekerasan .

b. Cukup stabilitas sehingga dapat menerima beban lalu lintas tanpa

mengalami dan

terjadinya perubahan bentuk ( deformation )


c.

Cukup rongga dalam total campuran untuk memungkinkan tambahan pemadatan dilapangna
akibat beban lalu lintas.

d. Cukup fleksibel sehingga memungkinkan perubahan bentuk tanpa terjadi retakan.


Fungsi aspal dalam campuran adalah sebagai perekat ( hinder ) dan pengisi
( filler ). Dengan fungsi ini maka jumlah aspal dalam campurannya terlalu sedikit akan
mengakibatkan kurang berfungsinya sifat perekat dan pengisi yang akan mengakibatkan
berkurangnya ikatan antara agregat ( Interlocking ) dan massa dan masuknya air dalam

rongga. Sedangkan jumlah air yang berlebihan akan menyebabkan Bleeding yang dengan
gesekan ban roda kendaraan memprcepat pengelupasan dari agregat dan aspal dari agregat
sehingga terjadi lubang dan berkurangnya ikatan antar agregat.
Pada umunya, prosedur perencanaan dan pengawasan campuran aspal dan agregat dengan
metode Marshall. Proses perencanaan dimulai memilih spesifikasi ( Spek ) campuran, yaitu
gradasi yang harus dignakan serta jenis aspal.
Proses selanjutnya adalah pembuatan benda uji yang diikuti oleh pemadatan. Disarankan
paling sedikit 5 variasi kadar aspal, dan aspal setiap kadar aspal tersebut dibuat 3 benda uji
pemadatan benda uji dalam hal ini menggunakan metode Marshall, dinyatakan dalam jumlah
tumbukan yang diketahui kenaikan pada uji tersebut. Jumlah tumbukan didasarkan pada
dalam jumlah tumbukan.
Sebelum pengujian Marshall Test, terlebih dahulu dilakukan pengujian berat isi dan berat
jenis untuk dapat menghitung kandungan rongga dalam aspal.
Tabel : Kriteria perencanaan campuran aspal beton ( Bina Marga )
Lalu lintas berat

Lalu lintas sedang

Lalu lintas ringan

Stabilitas ( kg )

( 2 x 75 tumbukan )
Min
Maks
550
-

(2x50 tumbukan )
Min
Maks
450
-

( 2 x 35 tumbukan )
Min
Maks
350
-

Keleleahan (mm)

4,5

Stabilitas ( kg/mm )

200

350

200

350

200

300

Rongga udara

75

75

75

Sifat Campuran

campuran (%)
Indeks perenadaman
(%)

Sebelum melakukan pengujian marshall terlebih dahulu dilakukan pengujian berat isi
dan berat isi dan berat jenis untuk menghitung kandungan rongga didalam campuran untuk

penggambaran, kurva marshall sebaiknya kalau manual menggunakan mistar yang lentur
( fleksible ), jangan pakai yang kaku.
Keuntungan dari metode Marshall :
Dapat digunakan untuk campuran perencanaan pada kondisi yang berbeda beda dengan
cara sederhana.
Bahan bahan yang digunakan akan dapat dipertimbangkan sekalipun dibawah mutu
standar.
Pemeriksaan tersebut dapat dilakukan untuk mengontrol sesuatu yang direncanakan

Kerugian Metode Marshall :


Pemeriksaan yang dapat dilakukan untuk satu jenis campuran.
Tidak dapat digunakan setiap umum pada setiap campuran.
Alat alat labor yang digunakan harus dengan ketelitian dan ditangani tenaga ahli.
Tempertaur percobaan reletif tinggi.

Adapun langkah langkah metode Marshall :


1.

a = % aspal

2.

b = % aspal terhadap campuran

3.

c = berat setelah dicetak

4.

d = berat benda uji dalam keadaan jenuh

5.

e = berat benda uji dalam air

6.

f = berat jenis ( d-c)

7.

g = Berat jenis benda uji ( f c )

8.

Kepadatan agregat yang dipadatkan ( Sn )


Sn =

9.

Persen rongg terhadap campuran ( VMA )

10. Berat jenis campuran Max Teoritis

11. Persen rongga terhadap campuran ( VMA )


= 100 100 ( h / j )
12. Persen rongga terhadap agregat ( VIM )
=

13. Persen rongga terisi aspal


=

14. Faktor koreksi sampel ( lihat tabel koreksi )


15. Bacaan Stabilitas
16. Bacaan Stabilitas setelah koreksi
= o n
17. Flow ( mm )
18. MQ ( kg/ml )
19. Bj Bulk Agregat Gabungan
=

20. Bj Efektif Agregat Gabungan


=

21. Berat jenis aspal

E. PERALATAN DAN BAHAN

1. Peralatan
Cetakan berdiameter 10,16 cm dan tinggi 7,62 cm lengkap dengan pelat
atas dan leher sambung
Mesin penumbuk manual dan Mekanis yang mempunyai permukaan rata
yang berbentuk slinder dengan berat 4,536 kg dan tinggi jatuh bebas 45,
7 cm
Landasan pemadat terdiri dari balok katu ( jati/ sejenisnya )
Alat pengeluar benda uji
Untuk mengeluarkan benda uji yang sudah dipadatkan dari dalam cetakan
benda uji dipakai sebuah alat akstruder yang berdiamter 10 cm
Alat Marshall
Oven, yang dilengkapi dengan pengatur suhu yang mampu memvariasi
sampai 200 o c ( + 3o-C)
Waterbath
Timbangan digital dan timbangan biasa
Metal Thermometer
B erkapasitas 250oc dan 100oC dengan ketelitian 1 % dari
kapasitasnya.
Panel
Panci-panci untuk memanaskan agregat, aspal dan campuran aspal.
Sendok Pengaduk
Spatula
Sarung tangan
Masker
Kantong plastik ukuran 2 kg
Kuali
Kompor gas
2. Bahan
Aspal
Agregat halus dan kasar berdasarkan spek yang diigunakan sebanyak
1200 gr ( untul 1 benda Uji )

Air Suling
F.

KESELAMATAN KERJA
1. Memakai pakaian praktek selama praktikum.
2. Membaca referensi terlebih dahulu sebelum memulai praktikum.
3. Menggunakan peralatan sesuai dengan fungsinya berdasar petunjuk
prosedur dan petunjuk Pembimbing praktikum.
4. Guinakan sarung tangan pada saat melakukan pengujian.
5. Periksalah keadaan peralatan pengujian sebelum digunakan.
6. Bersihkan peralatan dan ruang kerja setelah selesai praktikum.

G. PROSEDUR PELAKSANAAN
1. Analisa saringan
a. Keringkan agregat pada suhu 105oC 110 oC, minimum selama 4 jam,
keluarkan dari alat pengering (oven) dan tunggu sampai beratnya tetap.
b. Pisah-pisahkan agregat kedalam fraksi-fraksi yang dikehendaki ( sesuai
spek) dengan cara penyaringan. Spek yang digunakan adalah spesifikasi
campuran Bina Marga No. IV Menyiapkan agregat sesuai saringan dibawah
ini
Berat tertahan 19,1 ( )
Berat tertahan 12,7 ( )
Berat tertahan 9,52 ( 3/8 )
Berat tertahan 4,76 ( no 4 )
Berat tertahan 2,36 ( no 8 )
Berat tertahan 0,59 ( no 30 )

Berat tertahan 0,28 ( no 50 )


Berat tertahan 0,15 ( no 100)
Berat tertahan 0,074 ( 200 )
c.

Menyiapkan 30 kantong plastik serta timbangan.

d. Memasukkan agregat kedalam kantong plastilk dengan takaran seperti


yang diatas dibagi dengan 30 / takaran
e. Lakukan penyaringan tersebut hingga didapatkan agregat dengan
ukuran sesuai spek sebanyak yang diinginkan.
f.

Untuk mengetahui beberapa banyak agregat yang dibutuhkan maka


caranya :
Lihatlah tabel spesifikasi campuran yang digunakan (No.IV)
Jumlah batas gradasi masing-masing ukuran saringan kemudian dibagi
dengan dua, sehingga didapatkan % lolo untuk tiap-tiap saringan.

g. Setelah semua agregat dimasukkan dalam kantong hingga menjadi 30


bagian, maka ikat kantong plastik dengan rapi. Berat masing masing
kantong berisi agregat 1200 gr.

2. Penimbangan Benda Uji


1. Benda Uji yang telah dipisahkan sesuai ukurannya kemuidian ditimbang
mulai dari ukuran terbesar sampai terkecil ( termasuk filler) sebanyak
1200 gr.
2. Masukan hasil penimbangan kedalam satu kantong plastik ukuran 2 kg,
kemudian ikat dengan karet gelang
3. Buatlah benda uji sebanyak sampel yang dibutuhkan ( 30 buah + 5
sebagai dangan )
3. Pencampuran
a. Setelah semua bahan untuk campuran selesai disediakan denga dihitung
tadi ( sebanyak 1200 gr dengan gradasi tertentu ).

b. Sambil menunggu agregat dipanaskan maka timbang cawan kosong ( b ).


Suhu pemanasan agregat adalah 178 C.
c.

Setelah itu maka masukkan agregat kedalam wadah lalu timbang ( e ).

d. Panaskan lagi cawan berisi agregat hingga mencapai suhu pencampuran


178 C.
e. Setelah itu, hentikan pemanasan tungku dan siramkan aspal sebanyak
5,5 gr kedalam wadah tadi sambil diaduk terus. Jaga suhu agar tidak turun
yang akan mengakibatkan aspal mengeras. Jaga sampel sampai suhu
pencampuran mencapai 1723 C. Aspal yang disiramkan terlebih dahulu
sudah dipanaskan.
f.

Setelah suhu 172 C maka lakukan pemadatan benda uji.

4. Pemadatan Benda uji


a. Bersihkan perlengkapan cetakan benda uji serta bagian muka penumbuk
dengan seksama dan panaskan sampai suhu 172 C.
b. Letakkan cetakan diatas landasan pemadatan dan tahn dengan penahan
cetakan.
c.

Letekkan selembar kertas saring atau kertas penghisap yang sudah


digunting menurut ukuran cetakan kedasar cetakan . Jangan lupa
mengoleskanoli pada cetakan dan kertas agar aspal tidak melekat.

d. Masukkan seluruh campuran kedalam cetakan dan tusuk tusuk


campuran keras keras dengan spatula yang dipanaskan 15 kali sekeliling
pinggiran dan 10 ali ditengah.
e. Lakukan pemadatan dengan alat penumbuk sebanyak 2 kali 75 tumbukan
( untuk laliu lintas berat ). Dengan tinggi jatuh 457,2 mm selama
pemadatan usahakan tumbukan tegak agar benda uji terbentuk dengan
baik.
f.

Lepaskan plat alas berikut leher sambung dari cetakan benda uji
dibalikkan dan pasang kembali plat alas berikut leher sambung pada
cetakan yang dibalikkan tadi.

g. Tumbuklah dengan jumlah tumbukan yang sama sesuai terhadap


permukaan benda uji yang sudah dibalikkan tersebut.
h. Lepaskan kepingan alat dan pasnaglah alat pengeluar benda uji pada
permukaan ujungnya.
i.

Keluarkan dengan hati hati dan letakkan benda uji diatas permukaan rata
dan biarkan selama 24 jam pada suhu ruang.

j.

Dinginkan dengan kipas angin bila diperlukan.

k.

Setelah dingin maka keluarkan benda uji dari cetakan dengan bantuan
Extruder lalu ukur dimensi benda uji Marshall tersebut.

5. Pengujian Campuran
I. Pengujian Volumetrik
a) Pengujian berat jenis campuran
Timbang benda uji kering sehingga dapat berat benda uji kering ( BK ).
Rendam benda uji dalam bak perendam pada suhu 25 C selama 3 menit
kemudian lap permukaannya lalu timbang maka dapat berat SSD.
Kemudian timbang benda uji didalam air timbangan pegas.
Hitung tebal benda uji dengan menggunkan jangka sorong.
II. Pengujian Marshall
Rendam benda uji dalam bak perendam selama 30 menit dengan suhu
tetap 60 C untuk benda uji yang menggunakan aspal padat.
Keluarkan benda uji dari bak perendam dan letakkan kedalam segmen
bawah kepada penekan dengan catatan waktu yang diperlukan dari saat
diangkatnya benda uji dari bak perendam sampai terjadinya beban
maksimal tidak boleh lebih dari 30 detik.
Pasang segmen diatas benda uji dan letakkannya keseluruhan kedalam
mesin penguji.
Pasang arloji pengukur kelelehan ( flow ) pada kedudukannya diatas salah
satu batang penurunandan atur kedudukan jarum petunjuk pada angka
nol.

Naikkan kepala penekan beserta benda uji hingga menyentuh kepala alas
cincin penguji, sebelum pembebanan diberikan.
Atur kedudukan angka arloji pada nol.
Berikan pembebanan pada benda uji dengan kecepatan sekitar 50
mm/menit sampai pembebanan maksimum tercapai, atau pembebanan
menurun seperti yang ditunjukkan oleh jarum arloji tekan dan catat
pembebanan maksimum atau stanilitas yang tercapai. Koreksilah beban
dengan menggunakan faktor koreksi perkalian yang bersangkutan dari
tabel 2 bila benda uji tebalnya kurang dari 63,5 cm.
Catat nilai kelelehan atau flow yang diyunjukkan oleh jarum arlogi
pengukuran kelelehanyang diperlukan dan saat diangkatnya benda uji dari
rendaman air sampai tercapai beban maksimum tidak boleh lebih dari 30
detik.
Lakukan pengolahan data untuk VIM, VMA, VFA serta kepadatan dengan
menggunakan rumus serta data yang ada.
H. DATA PEMERIKSAAN DAN ANALISA
A. Gradasi Agregat
Contoh agregat % Berat tertahan pada # 4,75

No#

Mm

Batas gradasi
Batas bawah

% lolos #
Batas

dan Batas atas

tengah

No.4

50

- 70

% Berat
Tertahan

60 %

4,75

Diket : # ukuran 4,75 % berat tertahan = 20 %


Bb dan Ba

= 50 dan 70

Batas tengah Bt = BA + BB
2
= 70 + 20 = 60
2
Jumlah Total Agregat = 1200 gr
Berat tertahan (gr) yang dibutuhkan

20 %

Berat
tertahan
(gr)

240 gr

= total agregat x % Berat Tertahan


= 1200 x 20%
= 240 gr
B. Campuran MARSHALL (MEKANIS)
Diket : Data (A1-2)
Suhu Pencampuran = 178oC
Suhu pemadatan
= 172oC
Kadar aspal (%) = 4,5 %
Berat wadah panas (gr) = 4492,0 (b)
Berat wadah + agg panas (178oC)(gr) = 5591,00 (e)
Berat agregat panas (gr) (f) = f = e b
= 5591,0 4492,00
= 1099 gr
Berat total campuran (gr) = Berat agregat panas
(100% - kadar aspal )
=
1099
100% - 4,5 %
= 1150,78 gr (g)
Berat aspal (gr) (h) = Berat total campuran (g) Berat agg panas (f)
= 1150,78 1099
= 51,78 gram
Berat wadah + agregat panas = (Berat wadah + agg. Panas + ( berat
aspal panas)
= 5591,00 51,78
= 5642,78 gram
C. VOLUME ASPAL (Volumetik)(Mekanis)
BJ Padat Bulk agregat (Gsb ) = 2,621 (s)
BJ Efektif agregat agregat ( Gse) = 2,621
Berat jenis Aspal (gb)

= 1,031 (u)

Tebal Benda Uji


Sisi I = 71,2
Sisi II = 71
Sisi III= 71
Tebal rata-rata Benda Uji = 71,2 + 71 + 71

3
= 71,1 mm (b)
Kadar aspal = 4,5 % ( c )
Kadar agregat = 95,5 % ( d )
Berat Benda Uji
Berat kering Benda Uji = 1200, 400 gr (e)
Berat benda Uji SSD ( stelah durendam 3 menit dan dilap) = 1225,9 gr
(f)
Berat benda uji dalam air = 633,3 (g)
Volume Benda Uji (h=f-g) = Berat SSD benda uji Berat Benda Uji
(dalam air)
= 1225,9 663,3 = 562,6 gram

Berat jenis campuran


BJ Bulk/Padat (kering)

=
Bj max campuran teoritis
100
+
c
Bj.aspal

(100-c)
Bj. Efektif
=

100

= 2,4509 (gram)
(100-4,5)
+
4,5
1,031

2,621

Kepadatan (k) = Bj Bulk (padat)


= 2,169

VIM (void in Mixture ) (3 5 ) (%)

= 11,50 %

VMA ( void mineral agregat ) (15 %)


=

=
VFA ( Void filled with Aspal / bitumen ) (65%)

Stabilitas m (> 550 kg )


Bacaan alat
A12 = Dial = 1568
Lihat tabel Dial ke KN
Jadi Nilai KN = 18,7959 KN
18,7959 x 101,971 = 1916,636
Koreksi
Tebal Benda Uji = 71,1
Interval
69,9 = 0,86
71,1 = x (?)
71,4 = 0,83

Faktor koreksi

-0,024 = x 0,86
X = 0,86 0,024
= 0,836
Setelah Koreksi
= Faktor koreksi x bacaan alat
= 0,836 x 1916,64
= 1602,31
Kelelehan (flow (2-4)
= 4,16
MQ ( 200 350 )
MQ =
=

= 385,17 (kg/mm)
D. KADAR ASPAL OPTIMUM PERKIRAAN (KAO P)
= 0,035 a + 0,045 b + 0,018 c + 1
= 0,035 x 57,5 + 0,045 x 35,5 + 0,018 x 7 + 1
= 4,74 %
Jadi kadar aspal optimum (KAO) berkisar antara nilai 4,5 % - 6 %
Dimana :
% agregat yang tertahan saringan n0.8
% agregat yang lolos saringan no.8 dan tertahan saringan no.200
% lolos saringan no.200 (PAN)

E. BJ. Gabungan
BJ Bulk Agregat gabungan
=

= 2,621
BJ Efektif Agregat Gabungan
=

= 2,538

F.

ANALISA GRAFIK

Analisa kepadatan dengan stabilitas kadar aspal

Dilihat dari grafik pengaruh kadar aspal terhadap


campuran dapat disimpulkan bahwa grafik yang terbentuk adalah grafik
parabola, artinya pada grafik ini ada nilai maksimum dan nilai minimum
artinya pada saat kadar aspal tertentu, campuran akan mencapai
maximumnya dengan artian campuran tersebut dalam keadaan padat
maximal, dan jika telah melewati titik maksimumnya kadar aspal yang
berlebih

maka kepadatannya akan kembali turun, karena campuran

tersebut lembek dan tidak padat lagi karena lembek


Dari grafik menunjukan kepadatan kadar aspal 6,15 %
campuran tersebut akan mencapai kepadatan maximumnya.

Grafik stabilitas dengan kadar aspal ( > 550 kg)

Gragfik pengaruh persentase kadar aspal terhadap stabilitas grafik diatas


juga membentuk parabola, berarti semakin tinggi kadar aspal suatu
campuran tersebut akan mencapai stabilitas maksimumnya, namun jika
kadar aspal terlalu banyak, maka stabilitas akan berkurang karena akan
mengakibatkan berkurangnya gaya interlocking antara agregat
Stabilitas mempunyai standart > 550 kg dan dari grafik
diatas semua benda uji > 550 artinya semua benda uji memenuhi
standart bina marga.
Kadar aspal dengan VIM

Hubungan kadar aspal dengan VIM ( 3 -5 %)


VIM merupakan singkatan dari Void In Mixture ( persentase rongga
terhadap agregat ). Semakin tinggi kadar aspal, maka persentase VIM
akan semakin kecil karena sudah terisi oleh aspal.

Standart bina marga nilai VIM berkisar anatara > 3 5 % dan


sata yang diperoleh adalah (62,3 65 )%. Pada saat nilai VIM 5 %
sedangkan pada nilaui VIM 3 belum memenuhi syaarat bina marga.
Hubungan kadar aspal dengan VMA

VMA (void in mineral agregat ) 15 %


Adalah rongga, yang ada dalam agregat, grafik diatas bertujuan untuk
menentykan berapa nilai kadar aspal yang dibutuhkan untuk memenuhi
rongga pad agregat.
Apababila kadar aspal dalam suatu campuran semakin banyak
maka persentase terhadap agregat akan semakin sedikit, karena ronggarongga terisi oleh aspal. Namun pada batas tertentu, bila aspal ditambah
terlalu banyak, campuran akan semakin plastis dan lembek, apabila
perkerasan diberi beban berulang-ulang atau besar maka aspal tersebut
akan semakin besar, untuk itu kadar aspal, harus sesuai, sehingga didapat
VMA yang memenuhi syarat VMA dario Bina Marga > 15 %
Kadar Aspal dengan VFB/VFA

VFA merupakan singkatan dari Void Filled with Aspalt ( persentase rongga
terisi aspal ). Hubungannya adalah semakin tinggi kadar aspal maka
persentase rongga terisi aspal juga meningkat. VFA tercapai pada kadar
aspal 5 6,5 % ( karena persyaratan VFA 65 % ).
Berdasarkan kriteria campuran aspal beton dari bina
marga, bahwa nilai VFA campuran aspal yang baik minimal 60 %. Dengan
persamaan VFA adalah semakin tinggi kadar aspal dalam suatu campuran
perkerasan, maka rongga dalam campuran tsb akan semakin sedikit.
Pada pengujian didapat nilai kadar aspal 65 % yaitu dari
kadar aspal 5,5 6,5 %

Hubungan kadar aspal dengan kelelehan

Kelelehan adalah hancurnya campuran aspal apabila diberi beban


masimum. Semakin tinggi kadar aspal, maka kelelehan akan meningkat.
Tetapi jika kadar aspal terlalu banyak maka akan terjadi kelebihan aspal
sehingga campuran tersebut lembek dan mengakibatkan kurva turun
drastis. Pada pengujian ini pada kelelehan 2 mm belum memenuhi namun
memenuhi pada kelel;ehan 4 mm yaitu 6,15 %
Hubungan Kadar aspal dan MQ (200-300) kg/mm

Karena MQ merupakan perbandingan stabilitas dengan kelelehan


maka kadar aspal yang banyak dan stabilitas tinggi sehingga MQ menjadi
lebih besar disaat kadar aspal optimum maka MQ menjadi tinggi karena
nilai stabilitas naik dan kelelehan turun.
Standart nilai MQ adalah (200 350) kg/mm. Dan pada grafik
diatas didapat nilai pada saat nilai MQ 350 nilai kadar aspal 6,1 % sampai

MQ 410 nilai 6,5 % maka MQ yang didapat sesuai dengan standart Bina
Marga.
Kadar Aspal Optimum Campuran PEN 60/70

Grafis campuran PEN 60/70 bertujuan untuk menentukan KAO


marshall yang masuk kedalam semua spesifikasi yang dibutuhkan.
Spersifikasi yang dibutuhkan tsb beserta nilainya :
1.
2.
3.
4.
5.
6.

VIM (void in Mixture) ---(6,23 6,5 )


VMA (void in Mineral Agg )--- ( semua terpenuhi )
VFB (void filledf aspal )----- ( 5,5 6,5 )
Stabilitas
----- (semua terpenuhi )
Kelelehan/flow
--- ( 6,15 6,5 )
MQ (Marshall Question ) --- (6,1 6,5 )
Maka dapat nilai KAO marshall yang memenuhi semua spesifikasi adalah
6,23 %, seperti dilihat pada grafik campuran PEN 60/70.

I.

PEMBAHASAN DAN KESIMPULA


Setelah dilakukannya serangkaian kegiatan pengujian
karakteristik campuran aspal dan agregat dengan memplotkan nilai nilai
dari kepadatan, VMA, VIM, VFA, stabilitas, kelelehan dan MQ pada grafik
analisa, diperoleh kadar aspal optimum pada kadar aspal 6,23 %. Hasil ini
telah memenuhi semua persyaratan dari kandungan aspal dilihat dari nilai
kepadatan, VMA, VIM, stabilitas, kelelehan dan MQ.

J.

LAMPIRAN
1. Data Kelompok
2. Skema Prosedur Pengujian
3. Gambar Prosedur Pengujian
4. Gambar Peralatan Pengujian