Anda di halaman 1dari 19

PENDAHULUAN

Liken planus merupakan penyakit inflamasi kronik, yang menyerang kulit dan
membran mukosa. Biasanya lesi dapat ditemukan pada fleksor kulit ekstermitas atas,
kulit kepala, kuku genitalia, dan membran mukosa.1 Lesi oral bisa hanya ditemukan
tanpa adanya lesi di tempat lain, kondisi ini disebut Oral Liken Planus. 2
Penyakit ini pertama kali dikemukakan oleh ErasmusWilsonpadatahun1869,
danmengenai0,51%populasidiseluruhdunia.Biasanyaditemukanpadausiaparuh
baya,lebihseringpadawanitadaripadapriadenganratio3:2.1,3
Oral Liken Planus bisa menyerang semua bagian dari kavitas oral, namun sering
ditemukan pada bagian bukal mukosa. Tempat lainnya seperti di lidah dan gusi,
sedangkan lesi di palatum jarang ditemukan.4
Etiologi dari Oral Liken Planus belum diketahui secara pasti, namun penyakit ini
umumnya dianggap berkaitan dengan terjadinya proses autoimun. 4 Beberapa faktor
yang diduga menjadi predisposisi penyakit ini diantaranya : anxietas, diabetes, penyakit
autoimmune, penyakit organ pencernaan, obat-obatan, stress, hipertensi, infeksi,
penyakit dental, neoplasma, dan faktor genetik.
Walaupun etiologinya belum diketahui secara pasti, tetapi patogenesisnya sudah
diketahui secara jelas. Penyebab utamanya dikarenakan adanya serangan limfosit ke
keratinosis dari bagian basal mukosa. T Limfosit menyebabkan apoptosis dan
degenerasi sel.5
Lesi oral muncul sebagai striae berwarna putih (Wickham striae), papul
berwarna putih, plak berwarna putih, eritema (atrofi mukosa), erosi (ulserasi yang
dangkal), atau lepuhan. Yang diklasifikasikan sebagai tipe retikular, plak, atropik,
papular, erosif, dan bulla.

Karena etiologinya belum diketahui secara pasti pengobatan yg diberikan pada


Oral Lichen Planus bertujuan untuk mengurangi atau menghilangkan gejala. Pasien
liken planus biasanya tidak dapat sembuh total, karena lesi tersebut akan timbul rekuren.
Kebersihan oral dari pasien juga harus dioptimalkan.

BAB II
EMBRIOLOGI, ANATOMI DAN FISIOLOGI RONGGA MULUT

A. Anatomi
Bibir dan pipi terutama disusun oleh sebagian besar otot orbikular oris yang
diperarafi oleh nervus fasial. Vermilion berwarna merah karena ditutupi oleh lapisan
tipis epitel skuamosa banyak mengandung pembuluh darah kapiler. 6
Ruangan di antara mukosa pipi bagian dalam dan gigi adalah vestibulum oris.
Muara duktus kelenjar parotis menghadap gigi molar kedua atas dari pipi berakhir pada
bagian bibir. 6

Gambar 1. Anatomi Rongga Mulut8

Palatum dibentuk oleh tulang palatum durum di bagian depan dan sebagian
besar dari otot palatum mole di bagian belakang. Palatum durum dibentuk oleh tulang

maksila dan tulang palatin dilapisi oleh membran mukosa. palatum mole terbentuk dari
jaringan otot juga dilapisi oleh membran mukosa. 6
Dasar mulut di antara lidah dan gigi terdapat kelenjar sublingual dan bagian
kelenjar submandibula. Muara duktus mandibula terletak di sepan di tepi frenulum
lidah. 6

Gambar 2. Anatomi Palatum8

Lidah merupakan organ muskular aktif. Dua pertiga bagian depan dapat
digerakkan, sedangkan pangkalnya terfiksasi. Lidah melekat pada tulang hioid pada
bagian inferior, prosesus stiloid tulang temporal dan mandibula. Otot lidah dipersarafi
oleh saraf hipoglosus. Dua pertiga lidah bagian depan dipersarafi oleh saraf lingual dan
saraf glosofaring pada sepertiga lidah bagian belakang.6
Korda timpani mempersarafi cita rasa lidah dua pertiga bagian depan, sedangkan
saraf glosofaringeus mempersarafi cita rasa lidah sepertida bagian belakang. Cita rasa
dibagi dalam daerah-daerah tertentu misalnya, rasa pahit dapat dirasakan pada lidah
bagian belakang. Permukaan lidah bagian atas dibagi menjadi dua pertiga depan dan
sepertiga bagian belakang oleh garis dari papilla sirkumvalata yang berbentuk huruf V..
Fungsi lidah untuk bicara dan menggerakkan bolus makanan pada waktu pengunyahan
dan penelanan. 6

Setiap bagian lateral lidah memiliki komponen otot-otot ekstrinsik dan intrinsik
sama. Otot ekstrinsik lidah terdiri dari otot hyoglossus, otot genioglossus dan otot
styloglossus. Otot-otot tersebut berasal dari luar lidah (menempel pada tulang di sekitar
bagian tersebut) dan masuk ke dalam jaringan ikat yang ada di lidah. Otot-otot eksternal
lidah berfungsi untuk menggerakkan lidah dari sisi yang satu ke sisi berlawanan dan
menggerakkan ke arah luar dan ke arah dalam. Pergerakan lidah karena otot tersebut
memungkinkan lidah untuk memposisikan makanan untuk dikunyah, dibentuk menjadi
massa bundar, dan dipaksa untuk bergerak ke belakang mulut untuk proses penelanan.
Selain itu, otot-otot tersebut juga membentuk dasar mulut dan mempertahankan agar
posisi lidah tetap pada tempatnya. Otot otot intrisik lidah berasal dari dalam lidah dan
berada dalam jaringan ikat lidah. Otot ini mengubah bentuk dan ukuran lidah pada saat
berbicara dan menelan. Otot tersebut terdiri atas : otot longitudinal superior, otot
longitudinal inferior, otot transversus lingual, dan otot vertikalis lingual. Untuk menjaga
agar pergerakan lidah terbatas ke arah posterior dan menjaga agar lidah tetap pada
tempatnya, lidah berhubungan langsung dengan frenulum lingual, yaitu lipatan
membran mukosa pada bagian tengah sumbu tubuh dan terletak di permukaan bawah
lidah, menghubungkan langsung antara lidah dengan dasar rongga mulut. 7
Pada bagian dorsum lidah dan permukaan lateral lidah, lidah ditutupi oleh
papila. Papila adalah proyeksi lamina propria ditutupi oleh epitel pipih berlapis.
Sebagian dari papila memiliki kuncup perasa, reseptor dalam proses pengecapan,
sebagian lainnya tidak. Namun, papila tidak memiliki kuncup perasa memiliki reseptor
untuk sentuhan dan berfungsi untuk menambah gaya gesekan antara lidah dan makanan,
sehingga mempermudah lidah menggerakkan makanan di dalam rongga mulut Secara
histologi, terdapat empat jenis papila yang dapat dikenali sampai saat ini, yaitu:
Papila filiformis. Papila filiformis mempunyai jumlah sangat banyak di lidah.
Bentuknya kerucut memanjang dan terkeratinasi, hal tersebut menyebabkan warna
keputihan atau keabuan pada lidah. Papila jenis ini tidak mengandung kuncup perasa. 7
Papila fungiformis. Papila fungiformis mempunyai jumlah lebih sedikit
dibanding papila filiformis. Papila ini hanya sedikit terkeratinasi dan berbentuk

menyerupai jamur dengan dasarnya adalah jaringan ikat. Papila ini memiliki beberapa
kuncup perasa pada bagian permukaan luarnya. Papila ini tersebar di antara papila
filiformis. 7
Papila foliata. Papila ini sedikit berkembang pada orang dewasa, tetapi
mengandung lipatan-lipatan pada bagian tepi lidah dan mengandung kuncup perasa. 7
Papila sirkumfalata. Papila sirkumfalata merupakan papila dengan jumlah paling
sedikit, namun memiliki ukuran papilla paling besar dan mengandung lebih dari
setengah jumlah keseluruhan papila di lidah manusia. Dengan ukuran satu sampai tiga
milimeter, dan berjumlah tujuh sampai dua belas buah dalam satu lidah, papila ini
umumnya membentuk garis berbentuk menyerupai huruf V dan berada di tepi sulkus
terminalis. 7

Gambar 3. Penampang Lidah8

Pada bagian akhir dari papila sirkumfalata, dapat dijumpai sulkus terminal.
Sulkus terminal merupakan sebuah lekukan melintang yang membagi lidah menjadi dua
bagian, yaitu lidah bagian rongga mulut (dua pertiga anterior lidah) dan lidah pada
orofaring (satu pertiga posterior lidah). Mukosa lidah pada orofaring tidak memiliki

papila, namun tetap berstruktur bergelombang dikarenakan keberadaan tonsil lingual


terletak di dalam mukosa lidah posterior tersebut. 7

B. Fisiologi
Langkah pertama proses pencernaan adalah mastikasi atau mengunyah, motilitas
mulut melibatkan pemotongan, perobekan, penggilingan, dan pencampuran makanan
masuk oleh gigi. Tujuan mengunyah sendiri adalah a. menggiling dan memecah
makanan menjadi potongan lebih kecil untuk mempermudah proses menelan; b. untuk
mencampur makanan dengan air liur; dan c. untuk merangsang papil pengecap. Tujuan
terakhir ini selain menimbulkan sensasi rasa namun juga secara refleks memicu sekresi
saliva, lambung, pankreas dan empedu sebagai persiapan menyambut masuknya
makanan.9
Tindakan mengunyah dapat bersifat volunteer, tetapi sebagian besar proses
mengunyah ketika makan merupakan suatu refleks ritmik ditimbulkan oleh pengaktifan
otot rangka oada rahang, bibir, pipi, dan lidah sebagai respon terhadap tekanan makanan
ke jaringan mulut. 9
Di dalam mulut, makanan bercampur dengan saliva dan didorong ke dalam
esofagus. Gelombang peristaltik di esofagus menggerakan makanan ke dalam lambung.
Di kelenjar saliva (liur), granula sekretorik (zimogen) yang mengandung enzinenzim saliva dikeluarkan dari sel-sel asinar ke dalam duktus. Sekitar 1500 mL air liur
disekresi per hari pH saliva saat kelenjar istirahat sedikit lebih rendah dari 7.0, tetapi
selama sekresi aktif, pHnya mencapai 8.0. Air liur mengandung dua enzim pencernaan:
lipase lingual, yang disekresi oleh kelenjar di lidah, dan amilase saliva, yang disekresi
oleh kelenjar-kelenjar saliva. Saliva juga mengandung musin, yaitu glikoprotein yang
melumasi makanan, mengikat bakteri, dan melindungi mukosa mulut. Saliva juga
mengandung immunoglobulin sekretorik IgA; lisozim, yang menyerang dinding kuman;

laktoferin, yang mengikat besi dan bersifat bakteriostatik; dan protein kaya-prolin yang
melindungi email gigi dan mengikat tannin yang toksik.9
Saliva mempunyai sejumlah fungsi penting, antara lain memudahkan kita
menelan, mempertahankan kelembaban mulut, bekerja sebagai pelarut molekul yang
merangsang indera pengecap, membantu proses bicara dengan memudahkan pergerakan
bibir dan lidah, dan mempertahankan kebersihan mulut dan gigi. Saliva juga
mempunyai daya antibakteri. Saliva juga membantu mempertahankan pH mulut sekitar
7.0. system ini juga membantu menetralkan asam lambung dan menghilangkan nyeri
ulu hati (heartburn) bila getah lambung mengalami regurgitasi ke dalam esophagus. 9
Sekresi saliva berada di bawah kendali saraf. Rangsangan pada saraf
parasimpatis menyebabkan sekresi liur menjadi cair dalam jumlah besar dengan
kandungan zat organic yang relatif rendah. Atropin dan obat penghambat kolinergik lain
menurunkan sekresi saliva. Rangsangan saraf simpatis menyebabkan vasokontriksi.
Makanan dalam mulut menyebabkan reflex sekresi saliva, juga rangsangan serabut
aferen vagus di ujung esophagus yang dekat dengan gaster. 9

BAB III
ORAL LICHEN PLANUS
A. Etiologi dan Patofisiologi
Data saat ini menunjukkan bahwa lichen planus adalah penyakit autoimun.
Mekanisme dari Oral Lichen Planus diakibatkandarireaksidariselTyangmemediasi
penyakitautoimun,dimanaselTCD8+ memicu apoptosis dari sel epitel oral.
Sel mononuclear seperti makrofag dan sel T akan menginfiltrasi hingga ke
lapisan propia bagian atas, berdekatan dengan membran basalis. Sel T yang berada di
epitelium dan berdekatan dengan basal keratinosit yang rusak, mengaktifasi limfosit
CD8+. Pada awalnya sel T CD8+ akan mengenali keratinosit sebagai antigen dengan
bantuan Major Histoccompatibility Complex kelas I (MHC I). ). Setelah pengenalan dan
aktivasi, sel T CD8+ akan menginduksi apoptosis keratinosit dan memediasi datangnya
beberapa sitokin, seperti TNF yang akan menimbulkan inflamasi yang lebih lanjut. 5
Dalam lesi Oral Liken Planus terdapat peningkatan dari sitokin Tumor Nekrosis
Faktor (TNF)alpha. Keratinosit basal dan sel T di subepitelial menginfiltrat secara
cepat TNF in situ. Dari data ini yang menyatakn TNF ikut terlibat dari patogenesis dari
Oral Liken Planus.5
Antigen dari Liken Planus belum diketahui secara pasti, yang bisa jadi berasal
dari jaringannya sendiri, karena itu lichen planus digolongkan termasuk dalam penyakit
autoimun. Antigen Liken Planus kemungkinan dari obat-obatan (lichenoid drug
reaction), kontak alergi dengan peralatan gigi atau pasta gigi (reaksi hipersensitivitas),
trauma mekanik (Koebner phenomenon), infeksi virus, atau antigen lainnya yang tidak
diketahui.

10

B. Diagnosis
Anamnesa
Pada anamnesa perlu diperhatikan faktor risiko dan keluhan yang dirasakan.
Penyakit Oral Liken Planus lebih sering pada perempuan dengan usia lebih dari 40
tahun biasanya didapati komorbid seperti penyakit hati autoimun, hepatitis C, dan
kolitis useratif.11,12 Selain itu, pasien biasanya mengeluh bahwa

mulutnya sensitif

dengan pasta gigi, asam, alkohol, makanan pedas, dan makanan asin. Rasa sakit, terasa
terbakar, kasar, dan lesi pada mulut juga merupakan keluhan yang bisa dirasakan
pasien.11
Gambaran klinis
Pada pemeriksaan fisik oral, biasanya ditemukan tampakkan jaring berwarna
putih bilateral dengan atau tanpa ulser atau bulla. Biasanya terdapat pada mukosa bukal,
permukaan dorsal dari lidah dan gingiva. Mungkin dibeberapakasusterdapatsilent
onsetdanbaruterlihatsaatpemeriksaan.
Lesi Oral Liken Planus normalnya akanberlangsungselamabertahuntahun,
bergantianantaraperiodeeksaserbasidanperiodetenang.Selamaperiodeeksaserbasi,
terbentukeritematosusatauareaulserasidanpeningkatanrasasakit.Eksaserbaasidari
Oral Liken Planusberhubungandenganperiodestrespsikologis,rasacemasdantrauma

mekanik (Koebner phenomenon). Paparan yang menyebabkan iritasi kronis yang


dihasilkandariplakataudentalkalkulusjugadapatmemperburuk Oral Liken Planus
bisajugadidapatkandariKoebnerfenomena,seperti:traumamekanikdariprosedur
Odontologikal,panasdaniritasirokok,gesekanbendatajam,restorasigigiyangkasar,
dankebiasaan(mengunyahpermenkaret).Dariinspeksi,lesiOral Liken Planusdapat
terlihatsebagaistriaeberwarnaputih(Wickhamstriae)dipermukaanmukosa,papula

11

putihatauplakputih,atropi,erosifdanlesivesikular.Daerahyangpalingseringterkena
adalahmukosapipi,dorsumlidah,gingiva,mukosalabialdanbibirbawah.

Oral Liken Planusmemilikibeberapapresentasiklinisyaitutiperetikular,erosif,


atropik,plak,papular,danbullous.

Retikular: Merupakan bentuk klinis yang paling umum dari penyakit ini. Ditandai
dengan adanya garis-garis keratosis putih atau striae jelas dan lebih menonjol dari
mukosa sekitarnya yang dikenal dengan Wickhams striae. Striae dapat berbentuk jaring
atau berbentuk lingkaran.4 Striae tersebut sering memperlihatkan daerah eritematous di
sekelilingnya, yang menandakan adanya inflamasi sub-epitel. Tipe ini umumnya
bilateral dan sering terdapat di mukosa bukal. Umumnya lichen planus tipe ini tidak
memiliki gejala atau rasa sakit (asimptomatik).

Gambar 4. Lichen planus tipe retikular

Erosif:Tipe erosif atau ulseratif ini merupakan bentuk paling signifikan dari penyakit
Oral Liken Planus, karena menunjukkan gejala dari lesi. Ditandai dengan adanya ulser
di bagian tengah lesi yang dilapisi oleh fibrin atau pseudomembran. Ulser tersebut
dikelilingi oleh daerah kemerahan dan seringkali terdapat garis-garis putih. Tipe ini
umumnya terdapat di mukosa bukal. Pasien dapat mengeluh adanya rasa sakit atau rasa
2

terbakar.

12

Gambar 5. Lichen planus tipe erosif

Atrophic: Tipe ini disebut juga tipe erythematous ditandai dengan adanya daerah
kemerahan yang homogen dengan garis-garis putih retikuler terlihat pada bagian tepi
lesi. Daerah yang umumnya terlibat yaitu attached gingiva. Pasien mungkin mengeluh
adanya rasa terbakar, sensitif, dan tidak nyaman.

Gambar 6. Lichen planus tipe atropik

Plaquelike:Tipe ini mirip dengan leukoplakia. Ditandai dengan lesi berwarna putih
yang homogen, berbatas jelas, dan kadang dikelilingi oleh striae. Tipe ini sering terjadi
pada dorsum lidah dan mukosa bukal. Sama seperti tipe retikular, tipe ini juga
2

asimptomatik.

13

Gambar7.Lichenplanustipeplak

Papular: Tipe ini biasanya muncul pada tahap awal lichen planus. Ditandai dengan
adanya papul (0.5mm1.0mm) berwarna putih. Kadang bintik-bintik kecil tersebut
bergabung dengan striae.

Gambar 8. Lichen planus tipe papular

Bullous: Tipe ini ditandai dengan adanya bulla yang dikelilingi oleh garis-garis
retikular. Bulla tersebut biasanya tidak bertahan lama dan meninggalkan ulser jika
pecah. Lesi ini biasanya terdapat di mukosa bukal terutama di daerah posterior regio
molar kedua dan ketiga.3 Tipe ini merupakan tipe yang paling jarang ditemukan.

14

Gambar9.Lichen planus tipe bullae

Sekitar10%daripasiendengan Oral Liken Planus memilikilesihanyapada


gusi.Yangdisebabkanolehareaeritematosusatauulseryanglokasinyamenempelpada

gusidandisertaiareakeputihan,yangdinamakandeskuamasigingivitis. 2 Padakondisi
inisulitsekaliuntukdidiagnosa,kadangdiperlukanpemeriksaanbiopsy,histologi,dan
imunofluoresenuntukmengetahuidiagnosisnyasecarapasti.Biasannyalesipadagusi

disebabkankarenakurangnyadalammenjagakebersihanmulut. 14Lesigingiva:
Keratinisasi: lesi biasa ditemukan melekat pada gusi dengan bercak putih dengan
permukaanyangdatar.

Vesikobulosa: lesinya paling sering muncul di gusi dan jika muncul sulit untuk di
diagnosis.

Atropik: lesi yang paling sering muncul dari lesi di gusi oleh Oral Liken Planus,
deskuamasigingivitis.

Erosif:lesierosifjugamembentukdeskuamasigingivitis.

15

C. Pemeriksaan Penunjang
Diagnose pasti dari Oral Lichen Planus tergantung dari pemeriksaan histopatologi
jaringan. Pemeriksaan histopatologi dari Oral Lichen Planus terdapat tampak adanya
degenerasi lapisan sel basal dan dikenal dengan sebutan liquefaction degeneration,
adanya infiltrasi limfosit pada lapisan lamina propia hingga epitel, hiperkeratinisasi
epitelium (yang memberi gambaran Wickhams striae). Seiring berjalannya waktu,
epitel akan mengalami remodeling secara bertahap menghasilkan penurunan ketebalan
epitel dan retepeg akan berbentuk seperti gergaji (saw-toothed appearance). Badan sel
koloid eusinofil (Civatte bodies), adanya degenerasi dari keratinosit yang dapat terlihat
di membrane basal epitel.

Gambar10.HistologiOralLikenPlanus

Sensitifitas dari pemeriksaan direct imunofluoresens tergantung dari


penyakitnya. Teknik ini positif pada 65,8% pasien dengan Oral Liken Planus. Oral
Liken Planus dikatkanpositif jikaterdapatdeposisidariIgA,IgG,IgMorC3pada

16

membrane basalis. Bagian intraoral yang paling sensitif dengan pemeriksaan direk
imunofluoresensadalahdaerahbukal,bagianatasmukosalabial,palatum,mukosapipi.
Sulitdilakuakanpemeriksaanuntukbagiangusidanbagiandorsumlidah.

13

Dari pemeriksaan dapat dibedakan Oral Lichen Planus dengan penyakit lainnya.
Yang termasuk diagnosa banding dari Oral Lichen Planus, yaitu : Drug induced
"lichenoid" reactions, Chronic discoid lupus erythematosus, Leukoplakia, Benign
mukus membrane pemphigoid, Pemphigus Vulgaris, Eritema Multiformis, Sifilis,
Kandidiasis.

F. Tatalaksana

PengobatanditujukanterutamauntukmengurangigejaladariOralLikenPlanus.
Kebersihan mulut yangbaik diyakini dapatmengurangi keparahan gejala, tetapi bisa
sulit bagi pasien untuk mencapai tingkat kebersihan yang tinggi selama periode
penyakitaktif.13
Sebelummemulaipengobatan,diagnosisharusdikonfirmasisecarahistologis.
Halinijugapentinguntukmenyingkirkandiagnosabandingdaripenyakitini.
Kortikosteroid topikal adalah pengobatan lini pertama untuk OralLiken
Planus. Potensi tinggi atau potensi menengah kortikosteroid topikal biasanya yang
digunakan. Cara Pemberian - kortikosteroid topikal potensi tinggi , seperti clobetasol
propionat 0,05 % , fluocinonide 0,05%, atau betamethasonepropionate 0,05% gel atau
salep , dioleskan tiga sampai empat kali per hari dengan menggunakan ujung jari atau
kapas. Ketika gejala membaik, frekuensi penggunaan harus dikurangi secara berkala.2
Penggunaan imunosupresan dan imunomodulatory, yaitu kalsineurin inhibitor
dapat menghambat pertumbuhan dan diferensiasi

sel T. Yang termasuk dalam

17

kalsineurin inhibitor adalah : siklosporin, immunosuppressant yang selektif menekan


aktivitas T-sel; takrolimus, menghambat tahap pertama aktivasi T-sel dan menghambat
aktivitas fosfatase dari kalsineurin; dan pimekrolimus, menghambat aktivasi T-sel
dengan menghambat sintesis dan pelepasan sitokin dari sel T dan juga mencegah
pelepasan sitokin inflamasi dan mediator dari sel mast. 2
Retinoid topikal seperti tretinoin, isotretinoin dan fenretinide, dengan sifat
imunomodulasi mereka, telah dilaporkan efektif dalam untuk OralLikenPlanus.
vitamin A secara cepat menghilangkan lesi putih pada untuk OralLikenPlanus,
meskipun efek mungkin hanya bersifat sementara. 2
Dapson, sebagai agen antibakteri, dapson menghambat sintesis bakteri asam
dihydrofolic. Ketika digunakan untuk pengobatan penyakit kulit, mungkin bertindak
sebagai agen anti-inflamasi dengan menghambat pelepasan faktor kemotaktik sel mast. 2
Mycophenolates, merupakan obat yang digunakan untuk kasus OLP yang sudah
parah. Mycophenolates cukup mahal dan efektif dengan penggunaan jangka panjang. 2
Low-dose, low molecular weight heparin (enoxaparin), dosis rendah heparin
tanpa sifat antikoagulan menghambat aktivitas limfosit T heparanase yang sangat
penting dalam migrasi sel-T. Ini merupakan pengobatan sederhana, efektif dan aman
untuk untuk OralLikenPlanus ketika disuntikkan subkutan karena tidak memiliki efek
samping. 2
PUVA therapy, pendekatan non-farmakologis ini menggunakan
photochemotherapy dengan 8-methoxypsoralen dan sinar ultraviolet gelombang panjang
(PUVA). Pengobatan dilakukan setelah dilakukan injeksi psoralen. Pengobatan ini
digunakan dalam pengobatan kasus yang parah dari untuk OralLikenPlanus. 2
Terapi photodynamic (PDT) adalah teknik yang menggunakan senyawa
photosensitizing seperti methylene blue, diaktifkan pada panjang gelombang tertentu

18

dengan sinar laser, untuk menghancurkan sel target melalui oksidasi kuat, yang
menyebabkan kerusakan sel, membran lisis, dan inaktivasi protein memiliki efek
imunomodulator dan dapat menginduksi apoptosis pada sel inflamasi hyperproliferating
yang hadir dalam psoriasis dan lichen planus. 2
Tidak ada terapi untuk OLP benar-benar kuratif; tujuan pengobatan untuk pasien
bergejala adalah paliatif. 2

Gambar 11. Alogaritma tatalaksana Oral Liken Planus

G. Prognosis
Prognosis OralLikenPlanusstabilnamunkronik,dengankurangdari3%

pasienmengalamiremisidalam5tahun.LesidariOralLikenPlanusdapatkembali
rekuren.LikenplanuspadamulutbisabertahanlebihlamadariLikenplanusdikulit,
danbisalebihsulituntukditerapi.

19

BAB IV
RESUME
Oral Liken Planus adalah penyakit inflamasi kronik yang paling sering
ditemukan di mukosa bukal, lidah, dan gusi. Penyakit ini sering menjangkit wanita
dewasa paruh baya. Penyebab dari penyakit ini belum diketahui secara pasti, namun
diduga dikarenakan proses autoimun. Gejala klinis dari Oral Liken Planus Oral, selain
lesi yang asimptomatik, sering diikuti rasa sakit dan gejala lainnya, tergantung dari tipe
lesinya. Penyakit Oral Liken Planus dapat dibedakan dengan penyakit lainnya dengan
pemeriksaan histopatologi dan imunofluoresens. Penanganan penyakit ini masih belum
pasti, karena etiologi dari penyakit ini belum diketahui secara pasti. Sampai sekarang
pengobatan Oral Lichen Planus hanyabertujuan untuk mengurangi atau menghilangkan
gejala saja.