Anda di halaman 1dari 10

BAB II

ISI

A. Anastesi Umum
Anastesi umum adalah tindakan menghilangkan rasa nyeri / sakit
secara sentral disertai hilangnya kesadaran dan dapat pulih kembali
( reversible ). Komponen trias anastesi terdiri dari hipnotik, analgesik,
analgenik dan relaksasi otot. Cara pemberian anastesi umum :
1. Parenteral (intra muscular/intra vena)
Singkat atau induksi anastesi. Umunya diberikan thiopental, namun pada
kasus tertentu dapat digunakan ketamin, diazepam, dll. Untuk tindakan
yang lama anastesi parenteral dikombinasikan dengan cara lain.
2. Perektal. Dapat dipakai pada anak untuk induksi anastesi atau tindakan
tersebut.
3. Anastesi Inhalasi.
Yaitu anestesi dengan penggunaan gas atau cairan anestesi yang mudah
menguap

(valatile

agent)

sebagai

zat

anastetik

melalui

udara

pernafasan.zat anestetik yang digunakan berupa campuran gas (dengan


O) dan konsentrasi zat anestetik tersebut tergantung dari tekanan
parsialnya.tekanan parsial dalam jaringan otak akan menentukan daya
anestesi.Zat anestetik disebut kuat bila dengan tekanan parsial yang rendah
sudah dapat memberi anestesi yang adekuat.
Menunda pemberian anastetik cair mungkin diberikan dengan
mencampurkan uap air dengan oksigen atau oksida nitrat-oksigen dan
selanjutnya pasien menghirup campuran tersebut.uap air diberikan kepada
pasien melalui selang atau masker.

B. Tahap-Tahap Anestesi Umum


Anestesi terdiri dari empat tahap, yang masing-masing mempunyai
tanda dan gejala yang pasti. Ketika duberikan narkotik dan bloker
neuromuscular (relaksan), beberapa dari tahap ini tidak ada lagi.
Tahap I :Anestesi awal dengan pasien menghirup campuran anestetik, hangat,
pening dan perasaan terpisah dari lingkunganmungkin dirasakan
oleh pasien.pasien dapat mendengar bunyi deringan auman, atau
dengungan ditelinganya dan, meski masih sadar, ia menyadari
bahwa ia tidak mampu untuk menggerakkan ekstrimitasnya dengan
mudah. Selama tahap ini, bunyi- bunyian sangat terdengar
berlebihan, bahkan suara rendah atau suara minor terdengar sangat
bising dan tidak nyata.untuk alasan ini, bunyi dan gerakan yang
tidak perlu harus dihindari ketika anestesia telah di mulai.
Tahap II :Excaitement. Fase ini ditandai dengan gerakan melawan, berteriak,
berbicara, bernyanyi, tertawa, atau bahkan menangis sering dapat
dihindari jika anestetik diberikan dengan lancar dan cepat. Pupil
berdilatasi tetapi konsentrasi jika dipajankan dengnan cahaya
frekuensi nadi cepat dan pernafasan tidak teratur.
Karena gerakan pasien yang tidak terkontrol selama fase
ini, ahli anestesi harus selalu ditemani oleh perawat untuk bersiaga
membantu merestrain pasien. Sebuah strap mungkin sudah
terpasang pasa paha pasien, dan tangan pasien diikatkan pada
papan lengan, dan tangan disentuh kecuali untuk tujuan merestrain,
tetapi restrain tidak boleh dipasang di atas tempat yang
dioperasi.manipulasi meningkatkan sirkulasi pada tempat yang
akan

dioperasi,

dengan

demikian

meningkatkan

potensial

perdarahan.
Tahap III :Anestesia Bedah.Aneatesia bedah dicapai dengan pemberin
kontinu uap atau gas anestetik. Pasien dalam keadaan tidak sadar,
berbaring dengan tenang dimeja operasi. Pupil mengecil tetapi

akan lebih berkonsentrasi ketika dipajan oleh cahaya.pernafasan


teratur, frekuensi dan volume nadi normal dan kulit berwarna
merah muda dan kemerahan.dengan pemberian anestesi yang tepat,
tahap hidup ini dapat dipertahankan berjam-jam dengan salah satu
bidang tubuh, berkisar dari ringan (1) sampai (4), tergantung pada
kedalaman anesthesia yang diperlukan.
Tahap IV :Takarjalak tahap ini dicapai ketika terlalu banyak anestesia telah
diberikan .pernafasan menjadi dangkal, nadi lemah dan cepat, pupil
menjadi melebar dan tidak berkontraksi saat terpajan cahaya.
Terjadi sianosis dan, kecuali tindakan cepat tidak dilakukan,akan
terjadi kematian denagn cepat. Jika tahap ini terjadi anestetik harus
segera dihentikan, dan dibutuhkan dukungan respiratori dan
sirkulasi untuk mencegah kematian. Stimulan, walaupun jarang
dipakai, mungkin diberikan jika terjadi takarjalak pemberian
anestetik.antagonis narkotik dapat digunakan jika takarjalak
disebabkan oleh narkotik.
Selama pemberian anestetik dilakukan dengan lancar,
tentunyaa tidak ada perbedaan mencolok antara tiga tahap pertama,
tidak terjadi tahap IV. Pasien secara bertahap melewati satu tahap
ketahap yang lain dan dengan observasi ketat terhadap tanda-tanda
yang ditunjukan pasien ahli anestesi dapat mengontrol situasi
tersebut. Respon pupil, tekanan darah, frekuensi pernafasan dan
jantung yang kemungkinan menjadi pedoman kondisi pasien yang
dapat diandalkan.

C. Mekanisme Kerja.
Ada beberapa teori yang mencoba menjelaskan mekanisme kerja
anestetika dengan menetapkan hubungan antara sifat-sifat fisiokimia dari
suatu obat dengan kegiatan anastetikanya, yang terpenting adalah teori lemak
dari Mayer-overton. Karena sel-sel saraf dan membran yang mengandung

lemak, maka menurut teori tersebut suatu anastetika dapat masuk kedalam
jaringan-jaringan saraf, karena daya larutnaya dalam lemak. Semakin baik
daya larut suatu obat kedalam lemak / minyak dan semakin kecil daya larutnya
dalam air, maka semakin kuat pula khasiatnya depresinya atas sel saraf.
Hubungan ini dirumuskan dengan suatu perbandingan yaiitu koefisien
pembagian minyak-air (KMA).

D. Perubahan Fisiologis Lain.


Pemberian anestetik dibarengi juga dengan aktifitas fisiologis lain. Hanya
sedikit anestetik dapat menghasilkan hipersekresi mucus dan saliva.
Hipersekresi ini dapat ditekan dengan pemberian atropin praopperasi. Dapat
terjadi muntah atau regurgitasi, khususnya bila pasien dating keruang operasi
dengan perut penuh. Jika terjadi cegukan pasien dimiringkan kesalah satu sisi,
bagian kepala meja direndahkan dan disediakan besin untuk menampung
muntahan. Peralatan suction selalu siap dan ini dapat digunakan untuk
membuang saliva muntahan lambung.
Selama anestesia suhu tubuh pasien dapat turun, dan karenanya segala
upaya harus dilakukan untuk mencegah menggigil.selimut katun yang hangat
harus disediakan. Metabolisme glukosa menurun dan sebagai akibatnya terjadi
asidosis metabolik.
Selain dari bahaya anestetik itu sendiri, ahli anestesi harus melindungi
pasien terhadap asfiksia ini dapat disebabkan oleh benda asing didalam mulut,
spasme pita suara, relaksasi lidah atau aspirasi muntahan, saliva atau darah.
Komplikasi

dicegah

dengan

memasang

endotrakheal

dengan

yang

kembungkan.
E. Sifat Umum Anestetik Lokal.
Anestetik local adalah obat yang menghambat hantaran saraf, bila
dikenakan secara lokal pada jaringan saraf dengan kadar cukup. Obat ini
bekerja pada tiap bagian susuna saraf.sebagai contoh, bila anestetik lokal

dikenakan korteks motoris, impuls yang dialirkandari daerah tersebut terhenti,


dan bila disuntikan kedalam kulit maka trasmisi impuls sensorik dihambat.
Pemberian anestetik local pada tiap batang saraf menyebabkan paralysis
sensorik dan motorik didarah yang dipersarafinya. Banyak macam zat yang
mmpengaruhi hantaran saraf, tetapi umumnya tidak dapat dipakai karena
menyebabkan kerusakan permanen pada sel saraf. Paralysis saraf oleh
anestetik local bersifat reversible, tanpa merusak serabut atau sel saraf.
Anestetik yang pertama ditemukan adalah kokain, suatu alkaloid yang
terdapat dalam daun erythoxylon coca, semacam tumbuhan belukar.

F. Sifat Anestetik Local Yang Ideal.


Anestetik local sebaiknya tidak mengiritasi dan tidak merusak jaringan
saraf secara permanen. Kebanyakan anestetik local memnuhi saraf ini, batas
keamanan harus lebar, sebab anestetik local akan diserap dan disuntikan. Mula
kerja haruys sesingkat mungkin, sedangkan masa kerja harus cukup lama
sehingga cukup waktu untuk melakukan tindakan operasi, tetapi tidak
demikian lama sampai memperpanjang masa pemulihan. Zat anestetik local
juga harus larut dalam air, stabil dalam larutan, dapat disterilkan tanpa
mengalami perbahan.
Mekanisme kerja.
Anestetik local mencegah pembentukan dan konduksi impuls saraf tempat
kerjanya terutama dimembaran sel, efeknya pada aksoplasma hanya sedikit
saja.
Sebagaimana diketahui potensial aksi saraf terjadi karena adanya
peningkatan sesaat (sekilas) permeabilitas membran terhadap ion Na akibat
depolarisasi ringan pada membran. Proses fundamental inilah yang dihambat
oleh anestesi local ; hal ini terjadi akibat adanya interaksi lamgsung antara zat
anestesi local dengan kanal Na yang peka terhadap adanya perubahan voltase
muatan listrik (voltage sensitive Na channels). Dengan semakin

bertambahnya efek esensial local didalam saraf, maka ambang rangsang


membran akan meningkat secara bertahap, kecepatan peningkatan potensial
aksi menurun, konduksi impuls melambat dan faktor pengaman (safety faktor)
konduksi saraf juga berkurang. Faktor-faktor ini akan mengakibatkan
penurunan kemungkinan menjalarnya potensial aksi, dan dengan demikian
mengakibatkan kegagalan konduksi saraf.
G. Teknik Pemberian Anestetik Lokal
1. Anestesia permukaan
Larutan garam anestetik lokal tidak dapat menembus kulit sehat.
Larutan lidokain 2% dalam karboksimetilselulosa digunakan untuk
menghilangkan nyeri di selaput lendir mulut, faring, dan esofagus.
Anestetik lokal yang tidak larut merupakan sediaan terpilih untuk
menghilangkan nyeri pada luka, ulkus dan luka bakar. Sediaan ini
aman, dan pada kadar yang tepat tidak akan mengganggu proses
penyembuhan luka.
2. Anestesia Infiltrasi
Tujuan teknik ini untuk menimbulkan anestesia ujung saraf melalui
kontak langsung dengan obat. Larutan obat ini disuntikkan secara
intradermal atau SK. Cara anestesia infiltrasi yang sering digunakan
yaitu blokade lingkar ( ring- block ). Dengan cara ini obat disuntikkan
SK mengelilingi daerah yang akan di operasi, terjadi blokade saraf
sensoris secara efektif di daerah yang akan dioperasi. Campuran dengan
epinefrin tidak dianjurkan pada blockade lingkar untuk anestesia jari
atau penis, agar tidak terjadi isjemia setempat.
3. Anestesia Blok
Bermacam-macam

teknik

digunakan

untuk

mempengaruhi

konduksi saraf otonom maupun somatis dengan anestesia lokal. Hal ini
bervariasi dari blokade pada saraf tunggal, misalnya saraf oksipetal
plexus brachialis, plexus celiacus dan lain-lain sampai ke anestesia
eoidural dan anestesi spinal. Cara ini dapat digunakan pada tindakan

pembedahan maupun untuk tujuan diagnostik dan terapi.

H. Obat Premidikasi
Obat-obat yang dapat diberikan sebagai premedikasi pada tindakan anestesi
sebagai berikut :
1. Anelgetik Narkotik
Morfin. Dosis premedikasi dewasa 5-10 mg (0,1-0,2mg/Kg BB)
intramuskular diberikan untuk mengurangi kecemasan dan ketegangan
pasien

menjelang

operasi,

menghindari

takipnu

pada

pemberian

trikloroetilen, dan agar anestesi berjalan dengan tenang dan dalam.


Kerugiannya adalah terjadi perpanjangan waktu pemulihan, timbul spasme
serta kolik biliaris dan ureter. Kadang-kadang terjadi konstipasi, retensi
urine, hipotensi, dan depresi napas.
Petidin. Dosis premedikasi dewasa 50-75 mg (1-1,5 mg/kg BB) intravena
diberikan untuk menekan tekanan darah dan pernapasan serta merangsang
otot polos. Dosis induksi 1-2 mg/kg BB intravena.
2. Barbutirat
Pentobarbital dan Sekorbarbital. Diberikan untuk menimbulkan sedasi.
Dosis dewasa 100-200 mg, pada anak dan bayi 1 mg/kg BB secara oral atau
intramuskular. Keuntungannya adalah masa pemulihan tidak diperpanjang
dan kurang menimbulkan reaksi yang tidak diinginkan. Yang mudah
didapat adalah fenobarbital dengan efek depresen yang lemah terhadap
pernapasan dansirkulasi serta jarang menyebabkan mual dan muntah.
3. Antikolinergik
Atropin. Diberikan untuk mencegah hipersekresi kelenjar ludah dan
bronkus selama 90 menit. Dosis 0,4-0,6 mg intramuskular bekerja setelah
10-15 menit.
4. Obat Penenang
Midozolam.

Dibandingkan

dengan

diazepam,

midozolan

mempunyai awal dan lama kerja lebih pendek. Belakangan ini midozolam

lebih disukai dibandingkan dengan diazepam. Dosis 50% dari dosis


diazepam.
KESIMPULAN
1. Anestesi adalah tindakan menghilangkan rasa nyeri / sakit secara sentral
disertai hilangnya kesadaran dan dapat pulih kembali.
2. Tahap-tahap anestesi umum ada 4 :
a. anestesi awal
b. excaltement
c. anestesi bedah
d. takar jarak
3. Mekanisme kerjanya anestesi menganut teori lemak dari Mayer-Overton.
Semakin daya larut obat dalam lemak/minyak dan semakin kecil daya
larutnya dalam air, maka semakin kuat pula khasiat depresinya atas sel saraf.
4. Obat-obat pasaran atau paten yang diberikan pada tindakan anestesi adalah :
a. Analgetik Narkotik
- morfin
- petidin
b. Barbutirat
- pentobarbital dan sekorbarbital
c. Antikolinergik
- atrepin
d, Obat Penenang
- midozolam

PENUTUP
Demikianlah hasil makalah kami. Kami menyadari masih banyak
kekurangan.Kekurangan yang kami sadari maupun tidak,oleh karena itu kami
sangat mengharaapkan saran dan kritik yang membangun untuk baik lagi.Dan
semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi penulis maupun pembaca.Jika ada
kata-kata dari kami yang kurang berkenan dihati anda mohon dimaafkan.