Anda di halaman 1dari 19

LAPORAN DISKUSI KELOMPOK

BLOK 2. IDENTIFIKASI PENATALAKSANAAN PENDERITA 4


MODUL 4. BEDAH PREPROSTETIK

SEMESTER VI
TAHUN AKADEMIK 2014/2015
Disusun Oleh :
KELOMPOK 4
DITA YUARITA
REXI RENALDY L
RIZKI KARTIKA PUTRA
RIZTA RIZTIA BUDIANTI
SINTYA KUSUMA WARDANI
ALMIRA FAIZAH
ANDREY ABRAHAM THOE
HENRY SEBASTIAN
VANYA NATASHA GANI
M BAGUS FADILA
CAROLINE PRAJNA P

2012.07.0.0014
2012.07.0.0016
2012.07.0.0020
2012.07.0.0017
2012.07.0.0029
2012.07.0.0040
2012.07.0.0046
2012.07.0.0065
2012.07.0.0052
2012.07.0.0061
2012.07.0.0067

FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI


UNIVERSITAS HANG TUAH
SURABAYA
2014

KATA PENGANTAR
Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena atas
berkat rahmat-Nya, penulis dapat menyelesaikan makalah ini dengan baik dan tepat
waktu.
Makalah ini dibuat untuk melengkapi tugas yang merupakan hasil dari diskusi
kelas kecil mata kuliah IDENTIFIKASI PENATALAKSANAAN PASIEN 4 MODUL
4. BEDAH PREPROSTETIK. Selain itu makalah ini bertujuan untuk mengetahui dan
memahami secara jelas mengenai anamnesa pasien, prosedur diagnosis dan
pemeriksaan klinis, diagnosis sementara, teknik pemeriksaan penunjang, diagnosa
akhir dan penatalaksanaan dari kasus TORUS MANDIBULARIS.
Pada kesempatan ini penulis juga mengucapkan terima kasih kepada :

langsung

Fani Pangabdian, drg, Sp. KG. selaku fasilitator dkk kelompok 4,


Semua pihak yang membantu penulis secara langsung maupun tidak

Penulis mengharapkan kritik dan saran yang membangun sehingga makalah


selanjutnya penulis dapat membuatnya lebih baik . Penulis mohon maaf apabila dalam
pembuatan makalah ini terdapat kesalahan dan kekurangan .

Surabaya , 20 Juni 2014

Penyusun

DAFTAR ISI
Cover.................................................................................................................................
1
Kata Pengantar..................................................................................................................
2
Daftar isi............................................................................................................................
3
Bab 1 Pendahuluan
Latar Belakang......................................................................................4
Batasan Topik..........................................................................................4
Jabaran Pemicu.......................................................................................4
1.4 Peta konsep.............................................................................................5
1.1
1.2
1.3

Bab II. Pembahasan


2.1 Prosedur diagnosis dan pemeriksaan klinis
......................................................................................................................
6
2.2 Diagnosis akhir beserta alasan
......................................................................................................................
6
2.3 Tonus palatinus
......................................................................................................................
7
2.4 Bedah prepostetik
......................................................................................................................
8
2.5 Torektomi
......................................................................................................................
9
2.6 Gigi tiruan
......................................................................................................................
11
2.7 Kondisi edontulous yang ideal
......................................................................................................................
12
Bab III. Penutup

3.1 Kesimpulan
........................................................................................................................
19
Daftar Pustaka...................................................................................................................
20

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 LATAR BELAKANG
Dalam praktek kedokteran gigi, sering sekali kita jumpai pasien datang
dengan bebagai keluhan. Agar tidak salah memberi terapi atas keluhan pasien
maka diperlukan dignosa yang tepat. Untuk itu diperlukan berbagai langkahlangkah yang tepat untuk dapat menentukan diagnosa dan terapi yang
diperlukan. Langkah pertama yang diperlukan adalah anamnesa kemudian
diperlukan pemeriksaan klinis. Langkah selanjutnya adalah menentukan
diagnosa sementara. Setelah itu langkah selanjutnya adalah menegakkan
diagnosa akhir. Untuk mendukung diagnosa akhir dapat dilakukan pemeriksaan
penunjang. Setelah diagnosa akhir ditentukan terapi yang tepat dapat diberikan
kepada pasien.
1.2 BATASAN TOPIK
1.
2.
3.
4.
5.
6.

Prosedur diagnosis dan pemeriksaan klinis


Diagnosis akhir beserta alasan
Tonus palatinus
Bedah prepostetik
Torektomi
Gigi tiruan
4

7. Kondisi edontulous yang ideal


8. Retensi dan stabilisasi pemakaian gigi tiruan

1.3 JABARAN PEMICU


Laki laki usia 48 tahun datang ke RSGM FKG UHT atas konsul dari
prostodontist ke bagian bedah mulut untuk dilakukan tindakan bedah sebelum
dibuatkan gigi tiruan. Anamnesis didapatkan, pasien merasakan tonjolan yang
besar dan keras pada langit-langitnya. Pasien tersebut bercerita bahwa tindakan
bedah juga dilakukan pada waktu orang tuangnya ingin membuat gigi tiruan.
Tonjolan tersebut dirasakan kurang lebih 20 tahun yang lalu dan tidak disertai
rasa sakit. Pemeriksaan intra oral didapatkan edontulous rahang atas, serta
terdapat torus palatinus yang sangat besar pada bagian median palatum warna
sama dengan jaringan sekitarnya, keras, tidak dapat digerakkan dan tidak sakit
ditekan

1.5 PETA KONSEP

Etiopataogenesis

Tonjolan tulang besar


di palatum

Pemeriksaan obyektif

Pemeriksaan subyektif

Edontuolus rahang
atas disertai tonjolan
torus palatinus

Gigi tiruan tidak stabil

Indikasi
Kontraindikasi
Armamentariu
m
Tekhnik
Komplikasi

Eksisi torus palatinus

Gigi tiruan
5

BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Prosedur diagnosis
Prosedur diagnosis dimulai dari anamnesis, pemeriksaan obyektif, dan
pemeriksaan penunjang. Berdasarkan anamnesis diketahui tonjolan yang
besar dan keras pada langit-langitnya. Pasien tersebut bercerita bahwa
tindakan bedah juga dilakukan pada waktu orang tuangnya ingin membuat
gigi tiruan. Tonjolan tersebut dirasakan kurang lebih 20 tahun yang lalu
dan tidak disertai rasa sakit. Pemeriksaan intra oral didapatkan edontulous
rahang atas, serta terdapat torus palatinus yang sangat besar pada bagian
median palatum warna sama dengan jaringan sekitarnya, keras, tidak dapat
digerakkan dan tidak sakit ditekan. Pemeriksaan ekstra oral tidak ada
kelainan.
2.2 Diagnosis akhir dan alasan
6

Edontulous ridge yang disertai torus palatinus.


Alasan berdasarkan anamnesis, pasien memiliki tonjolan besar dan keras
pada langit-langit rongga mulut sejak 20 tahun yang lalu, yang disebabkan
karena faktor herediter. Pada pemeriksaan intra oral terdapat edontulous
pada rahang atas, torus palatinus yang besar pada median palatum, warna
sama dengan jaringan sekitar, keras, tidak sakit dan tidak dapat
digerakkan.
2.3 Torus palatinus
2.3.1 Definisi
Suatu penonjolan tulang yang umum terjadi di tengah palatum keras.
Ukuran bervariasi dari tidak terlihat sampai sangat besar, dari flat sampai
lobular. Terdiri dari tulang kanselous yang matur dan padat dikelilingi
tulang kortikal dengan ketebalan bervariasi. Mempunyai ukuran dan
bentuk sangat variasi bisa tonjol kecil tunggal atau tonjol multilobuler
yang luas.
2.3.2 Etiologi
Belum diketahui secara pasti ada beberapa faktor yang diperkirakan :
faktor herediter, trauma superfisial, maloklusi, respon fungsional.
2.3.3 Gejala klinis
Exotosis tulang tampak sebagai tumor yang kaku dengan permukaan
mukosa yang normal. Tonjolan tulang yang keras ditengah-tengah palatum
ini biasanya berukuran <2cm. Hanya terkadang perl;ahan-lahan dapat
bertumbuh bessar dan memenuhi seluruh langit-langit.
2.3.4 klasifikasi
1. Convex senssile= lunak, pertumbuhan keluar, bilateral, simetris
2. Nodular = massanya bersifat agak menyebar, ukuran variasi, ada
sejumlah peninggian tulang yang semi pedunculated
3. Lobular = kebanyakan menyerupai bentuk nodular yang

pertumbuhannya lebih cepat dan sangat luas serta mempunyai banyak


undercut
4. Spindle = bentuknya panjang tipis, tampak disepanjang midline ridge
5. Flat apabila torus tersebut fisiologis
2.4 Bedah prepostetik
2.4.1 Definisi
Merupakan bagian dari bedah mulut dan maksilofacial yang bertujuan
untuk membentuk jaringan keras dan jaringan lunak seoptimal mungkin
sebagai dasar dari suatu protesa meliputi oencabutan sederhana dan
persiapan protesa.
2.4.2 Tujuan
Untuk menyiapkan jaringan lunak dan jaringan keras dari rahang
untuk suatu protesa yang nyaman yang akan mengembalikan
fungsi oral, bentuk wajah, dan estetis.
Untuk mengembalikan fungsi rahang
Untuk memelihara atau memperbaiki struktur rahang
Untuk memperbaiki rasa kenyamanan pasien
Untuk memperbaiki estetis wajah
Untuk mengurangi rasa sakit dan rasa yang tidak menyenangkan

yang timbul dari pemasangan protesa yang menyakitkan


2.4.3 Macam
Jaringan lunak meliputi gingivoplasty, frenectomy dan

vestibulotomy
Jaringan keras meliput alveoloplasty, alveolar augmentasi,
torectomy, dan tuberositas maxillary

2.5 Torektomi
2.5.1 Definisi
Pengambilan torus jika saat akan pemasangan GT Torus mengganggu
2.5.2 Indikasi

Torus palatinus yang besar dan menutupi hampir menutupi seluruh


ruang palatum dan menganggu pembuatan basis gigi tiruan untuk

mendapat stabilisasi gigi tiruan


Torus palatinus yang panjang sampai kearah posterior dan
melewati garis getar sehingga dapat menganggu pembuatan

penutupan tepi posterior pada gigi tiruan.


Torus palatinus yang keras dan bentuknya gelombang naik turun,
makanan dan debris menumpuk pada daerah ini dan menyebabkan
inflamasi dan bau mulut yang tidak enak, pengambilan torus
palatinus bukan hanya untuk mempersiapkan pembuatan gigi
tiruan tetapi juga untuk memperbaiki keadaan kebersihan rongga

mulut
Torus palatinus menyebabkan masalah psikologi pada pasien yang

mengalami kankerfobia
Torus palatinus yang kecil dengan undercut yang ekstrem

2.5.3 Kontra Indikasi


Pada gambaran radiografi terlihat celah atau ruang udara didalam

struktur tulang palatinus


Pada pasien dengan penyakit sistemik yang kontraindikasi
dilakukan pembedahan seperti hipertensi yang tidak terkontrol,

diabetes melitus yang tidak terkontrol, dsb.


Infeksi akut disekitar palatum yang menyebabkan anastesi tidak

berkerja maksimal
Tumor ganas disekitar palatum

2.5.4 Armamentarium
Spuit anastesi dan cairan anastesi
Scapel dan handel
Rasparatorium
Bur fissure
Chissel
9

Bone file
Gunting jaringan

2.5.5 Komplikasi
1. Pendarahan
2. Penimbunan bekuan darah
3. Nekrose dan iritasi mukosa palatal
4. Perforasi dasar hidung fraktur palatal
2.5.6 Teknik
1) Posisi pasien dengan kepala kebelakan sehingga palatum searah
vertikal plane
2) Lakukan anasatesi block
3) Membuka flap, dengan bentuk insisi YX dan Y meggunakan scapel
dan handel
4) Menggunakan rasparatorium untuk memisahkan antara jaringan
lunak dan tulang
5) Mengukur ketinggian tulang dengan bur fissure disertai irigasi
saline steril
6) Potongan torus diambil dengan chisel
7) Dilakukan penghalusan dengan bur besar bulat atau dengan fissure
yang berbentuk buah pir
8) Lakukan irigasi dan inpeksi
9) Potonglah kelebihan jaringan yang ada dengan gunting jaringan
10) Penutupan flap yang dimulai dari posterior dengan beberapa
jahitan matres horizontal terputus
2.6 Gigi tiruan
2.6.1 Retensi
Untuk daya tiruan GT terhadap gaya yang menyebabkan pergerakan ke
arah yang berlawanan dan arah pemasangannya. Kondisi untuk retensi:
- Lingir pada mandibula dan maxilla yang cembung dan luas.
- Jaringan lunak pendukung protesa yang tidak bergerak.
- Vestibulum fasial dan lingual yang cukup dalam.
- Hubungan antar lingir yang baik.
- Hamular notch cukup luas, dukungan tulang memadai.
- Bentuk palatum melengkung.
- Ketebalan jaringan lunak tidak berlebihan.
- Tidak ada jaringan parut pada lingir.
- Tidak ada undercut.
- Perlekatan otot tidak terlalu tinggi.
10

Lingir bentuk v.

2.6.2 Stabilisasi
kemampuan GT untuk stabil atau tetap pada posisinya saat digunakan
stabilitas mengacu pada suatu tahanan untuk melawan pergerakan
horizontal dan tekanan yang cenderung akan mengubah kedudukan basis
GT dan pondasi pendukungnya pada arah horizontal atau rotasi.
2.7 Kondisi edontulous yang ideal
Kondisi normal rongga mulut terdiri dari:
1. Frenulum labialis
2. Vestibulum labialis
3. Fenulum buccalis
4. Vestibulum buccalis
5. Sulkus distobuccal
6. Alveolar ridge
7. Tuberositas
8. Hamular notch
9. Palatum keras (bagian datar)
10. Fovea palatina
11. Sutura palatina medialis
12. Papila insisiva
13. Rugae
Frenulum Labialis
Merupakan ikatan tunggal jaringan ikat fibrosa. Lipatan membran mukosa
yang menghubungkan bagian dalam bibir dengan gusi di garis tengah.
Vestibulum Labialis
Memperluas frenulum labialis sampai frenulum buccalis. Bagian rongga
mulut yang pada satu sisi dibatasi oleh geligi dan gusi atau tonjolan
alveolar residual, serta di sisi lain dibatasi oleh bibir (vestibulum labialis).

11

Frenulum Buccalis
Terdiri dari satu atau beberapa ikatan jaringan ikat fibrous. Dipengaruhi
oleh tiga otot, yaitu: otot orbicularis oris, otot buccinator, dan otot kaninus.

Vestibulum Buccalis
Frenulum buccalis sampai ke hamular notch. Dipengaruhi oleh otot
buccinator, modiolus (tulang sentral atau columella cochlea), dan
prosessus coronoideus mandibula. Bagian rongga mulut yang pada satu
sisi dibatasi oleh geligi dan gusi atau tonjolan alveolar residual, serta di
sisi lain dibatasi oleh vestibulum buccalis.

12

Alveolar Ridge
Daerah prosessus alveolar ridge dan jaringan lunak yang ditinggalkan oleh
gigi pasca ekstraksi berupa tonjolan. Daerah tertinggi disebut crest of
ridge. Mukosa melekat kuat pada periosteum tulang. Terdiri dari serat
kolagen padat. Merupakan daerah bantalan stres utama pada rahang atas.

13

Tuberositas Maksila
Bagian cembung pada daerah posterior. Sedikit menonjol bulat di atas
ujung distal dari rahang atas residual ridge. Ukurannya dipengaruhi oleh
luasnya sinus maksilaris. Harus ikut tercetak karena memungkinkan
cakupan yang lebih luas dan permukaan bantalan yang baik. Tuberositas
yang besar membutuhkan tindakan bedah.

Hamular Notch (Pterygomaxillary Notch)


Bagian rendah pada distal tuberosiats maksila. Digunakan sebagai penanda
untuk ekstensi yang baik pada gigi tiruan atas.

Palatum Keras (Palatum Durum)

14

Area datar sebagai area yang retentif. Palatum yang datar tidak
mendukung gigi tiruan. Palatum yang berbentuk V sedikit
menguntungkan sebagai retensi gigi tiruan, sedangkan palatum yang
berbentuk U, merupakan palatum yang diinginkan karena sangat
menguntungkan sebagai retensi gigi tiruan.

Fovea Palatina
Bukaan saluran kelenjar ludah minor. Hanya ditemukan pada garis tengah
posterior persimpangan langit-langit keras (palatinum durum) dan langitlangit lunak (palatum molle). Digunakan sebagai penanda perpanjangan
batas posterior gigi tiruan atas.

15

Sutura Palatina Medialis


Batas dari prosessus palatinus maksilaris. Dilapisi oleh mukosa tipis.
Sedikit lebih tinggi atau timbul. Diperlukan penanganan yang tepat pada
bagian ini.

Papila Insisiva
Bantalan jaringan ikat fibrosa yang terletak lebih ke foramen insisif.
Digunakan sebagai penanda untuk penempatan yang benar pada gigi
tiruan insisif. Membantu gigi tiruan rahang atas untuk menghindari
tekanan pada saraf insisif yang menyebabkan sensasi terbakar.

16

Rugae
Daerah berbentuk tidak teratur dari jaringan ikat yang ditutupi oleh
selaput lendir pada bagian ketiga anterior palatum keras. Berperan pada
fungsi bicara. Tidak mengganggu kenyamanan maksimal pada gigi
tiruan.

BAB III
KESIMPULAN

Diagnosis akhir pada kasus adalah edontulous ridge disertai torus palatinus. Rencana
perawatan kasus yaitu bedah prepostetik dekarenakan pasien ingin membuat gigi
tiruan tindakan bedah yang digunakan adalah torektomi, karena gigi tiruan yang
hendak dibuat memerlukan retensi dan stabilisasi.

17

DAFTAR PUSTAKA

1. Riawan, Lucky. 2003. Bedah Preprostetik. Skripsi, Universitas


Padjajaran, Bandung.
2. Fhebyani, Maria. 2005. Penatalaksanaan Torus Palatinus untuk
Persiapan Pembuatan Gigi Tiruan. Skripsi, Universitas Sumatera
Utara, Medan.
3. http://www.slideshare.net/geetikabali5/anatomical-landmarks22036552. 20 Juni 2015
4. http://www.slideshare.net/ahmedsamy733450/anatomical-landmarksfor-complete-dentures, Diunggah 20 Juni 2015
5. Dorland WAN, 2012. Kamus Saku Kedokteran Dorland. Ed. 28. Alih
bahasa: Mahode AA, dkk. Jakarta: Elsevier
18

6. http://pustaka.unpad.ac.id/wpcontent/uploads/2011/10/pustaka_unpad_bedah_prepostetik.pdf .
diunggah 20 Juni 2015
7. http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/8081/1/000600113.pdf
. Diunggah 20 Juni 2015
8. http://scribd.com/mobile/doc/211856077/Tugas-Om-Lk-Torus-

Palatinus . Diunggah 20 Juni 2015

19