Anda di halaman 1dari 23

BPSL

BUKU PANDUAN SKILLS LAB


PEMULIHAN SISTEM
STOMATOGNATIK III
(ILMU BEDAH MULUT)
SEMESTER VII
TAHUN AKADEMIK 2014-2015

BLOK 4.7.13
NAMA

KLP

NIM

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN DOKTER GIGI


FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS BRAWIJAYA

BUKU PANDUAN SKILLS LAB

BLOK 3.6.13
PEMULIHAN SISTEM STOMATOGNATIK III
(ILMU BEDAH MULUT)

SEMESTER VII
TAHUN AKADEMIK 2014-2015
Penyusun :

Tim SL Blok 4.7.13

Editing :

Sekretariat Blok

Desain & Layout :

Tim Sekretariat Blok

Cetakan : September, 2014


PSPDG FK UB

KATA PENGANTAR

Puji syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa, karena atas


perkenan Nya Buku Praktikum/Skills Lab (BPSL) Blok 13, edisi
2014-2015 dapat diselesaikan sesuai pada waktunya. Buku ini
merupakan pedoman pembelajaran praktikum/skills lab bagi
mahasiswa semester VI PSKG FKUB.

Malang, September 2014


Ester H. Lodra, drg., Sp.BM

DAFTAR ISI

Tata tertib Praktikum/ skills lab.


Kegiatan praktikum/ skills lab.
Evaluasi.
Daftar Pustaka.

TATA TERTIB
I.1.

TATA TERTIB PRAKTIKUM/SKILL LAB


Setiap mahasiswa diwajibkan mengikuti seluruh kegiatan praktikum/skills
lab blok 11.
b. Sebelum praktikum/skills lab dimulai, mahasiswa harus sudah mempelajari
terlebih dahulu materi praktikum/skills lab yang sudah ditentukan hari itu.
c. Mahasiswa harus hadir di ruang praktikum/skills lab pada waktu yang
ditentukan dan mengenakan jas praktikum/skills lab dan name tag sesuai
dengan ketentuan yang berlaku. Mahasiswa yang datang terlambat lebih
dari 10 menit tanpa alasan yang dapat diterima penyelenggara
praktikum/skills lab, tidak diperkenankan mengikuti praktikum.Mahasiswa
yang berhalangan melakukan praktikum/skills lab harus melapor pada
Koord. Pendidikan Mata Ajar yang bersangkutan.
d. Selama kegiatan praktikum/skills lab berlangsung, mahasiswa dilarang
merokok, makan atau kegiatan serupa lainnya, mengganggu jalannya
praktikum atau bersenda gurau, atau meninggalkan ruang praktikum tanpa
ijin instruktur praktikum/skills lab.
e. Peralatan/sarana ruang praktikum/skills lab yang dipinjam menjadi
tanggung jawab mahasiswa. Sebelum kegiatan praktikum/skills lab dimulai,
periksa/teliti terlebih dahulu kelengkapan peralatan/sarana yang akan
digunakan, apabila kurang lengkap atau ada yang rusak segera melapor
pada petugas nstruktur praktikum yang bertanggung jawab hari itu.
Mahasiswa menandatangani bukti peminjaman peralatan/sarana.
f. Selesai praktikum/skills lab, semua peralatan/sarana dicuci bersih dan
dikembalikan ke tempat semula dan sampah dibuang pada tempatnya.
Tempat kerja ditinggalkan harus dalam keadaan bersih dan rapi.
a.

I.2.

TATA TERTIB UJIAN PRAKTIKUM/SKILLS LAB


a. Setiap mahasiswa diwajibkan mengikuti semua ujian praktikum/skills lab
pada waktu yang telah ditentukan.
b. Mahasiswa yang berhalangan mengikuti ujian harus melapor paling lambat
2 (dua) hari sesudah hari ujian kepada Koord. Pendidikan Mata Ajar yang
bersangkutan
dengan
mengajukan
alasan
yang
dapat
dipertanggungjawabkan, dan akan mendapat kesempatan untuk mengikuti
ujian susulan pada waktu dan menurut cara yang ditetapkan oleh Koord.
Pendidikan Mata Ajar.

FLAP DAN PENJAHITAN


Hampir semua jenis pembedahan di dunia kedokteran dimulai dgn
insisi, sedangkan flap di bidang kedokteran gigi sering dilakukan untuk
pencabutan gigi yg sulit, odontektomi, serta tindakan bedah yg melibatkan
jaringan keras (tulang) & membutuhkan perluasan medan operasi.
Selama melakukan insisi mata pisau harus dipertahankan tetap pada satu
garis & pada kedalaman tertentu, umumnya pisau harus tetap berkontak dgn
tulang. Hindari insisi melewati lokasi pembuluh darah & saraf. Insisi harus
direncanakan secara seksama sehingga diperoleh flap yg baik, medan operasi
yg lapang, suplay darah yg cukup untuk flap serta dukungan tulang yg cukup
saat flap ditutup.
Flap dibuat dgn cara memisahkan mukoperiosteum flap agar
terlepas dari permukaan tulang. Pemisahan dilakukan dgn elevator
mukoperiosteum atau raspatorium yg diletakkan langsung berkontak dgn
tulang melalui periosteum pada garis insisi. Jika periosteum melekat erat
dgn tulang atau jaringan patologis, maka perlu dibantu dgn disseksi tajam.
Alat dan bahan :
1. Scalpel
2. Scalpel blades
(#11,12,15)
3. Needle holder
4. Pinset chirrurgis
5. Gunting benang
Persiapan peralatan:
1. Blade dipasang pada scalpel menggunakan bantuan klem atau needle
holder sesuai cara pada gambar berikut.

2. Needle holder memegang


jarum dan benang pada 1/3
lengkung proksimal dari
panjang jarum seperti pada
gambar berikut.
Cara memegang instrumen:
1. Scalpel dipegang seperti
memegang pena dengan
menggunakan jari I, II dan III.
Tekanan difokuskan pada sisi
blade sesuai desain dan
kebutuhan.

2. Needle holder dipegang oleh jari


ke I dan IV seperti tampak pada
gambar, jari II dan III digunakan
sebagai stabilisator
MACAM-MACAM BENTUK FLAP DAN PENJAHITAN
A. INCISI LINEAR
Biasanya digunakan pada incisional biopsi, incisi pada ekstirpasi
mukokel, incisi pada enukleasi kista, operasi sinus,dsb
Kedalaman incisi berkaitan dengan batas dasar tempat operasi,
tergantung pada operasi yang akan dikerjakan. Batas dasar pada incisi
di jaringan lunak adalah daerah yang normal didasar lesi patologis,
sementara pada bentukan kista, batas dasar incisinya adalah lokasi
dimana kista tersebut melekat

B. INCISI ELIP
Biasanya digunakan pada saat hendak melakukan open biopsi
atau pengambilan tumor epitelial seperti fibroma, papiloma,
lipoma dsb

C. INCISI SIRKULER
Digunakan pada saat melakukan operasi marsupialisasi
mandibula

D. INCISI MARGINAL
Insisi flap paling sederhana yg sering digunakan dlm Ilmu
Bedah Mulut adalah Insisi Marginal.
Bentuknya berupa garis lurus yg ditarik pada sepanjang
gingival margin bagian bukal/labial atau lingual/palatal,
memotong serabut periodontal & papila interdental.
Syarat utama untuk jenis insisi marginal ini adalah gusi &
periodontal dalam keadaan sehat.

E. INCISI ANGULAR
Insisi angular atau sayatan bersudut adalah insisi marginal yg
dikombinasikan dgn insisi obliqie/sayatan miring.
Sayatan miring dpt dibuat di sisi mesial atau distal sesuai
keperluan, yg dimulai dari ujung insisi marginal menuju ke
arah forniks (muko-bukal/labial fold), membentuk sudut +
120 dgn insisi marginal.
Flap angular yang diperoleh dari insisi angular.
Flap jenis ini sering digunakan utk odontektomi gigi molar
bungsu rahang bawah.
Flap angular hanya dilakukan di bagian bukal ataun labial.
Kontra indikasi utk bagian lingual atau palatal, karena resiko
terpotongnya arteri, vena & saraf penting.

F. INCISI TRAPESOID
Insisi trapezoid atau sayatan trapesium adalah insisi
marginal yg dikombinasikan dgn 2 insisi oblique pada kedua
ujungnya.
Sering digunakan pada bagian anterior maksila & mandibula,
seperti pada ekstirpasi kista, apikoektomi, apeks reseksi,
odontektomi gigi premolar, kaninus, insisif & gigi
supernumerary.

G. INCISI U SHAPE
Insisi ini tidak melibatkan gingival margin sehingga tidak
mengganggu jaringan periodontal di sekitar margin gusi.
Insisi dilakukan berbentuk huruf U pada jarak yg cukup dari
gingival margin dgn maksud agar tidak merusak suplay
darah gingiva & membran periodontal.
Flap U juga hanya diindikasikan untuk bagian anterior
maksila & mandibula.
Sering digunakan untuk apikoektomi, apeks reseksi &
pengambilan ujung akar yg patah.

H. INCISI SEMILUNAR
Merupakan insisi berbentuk melengkung setengah lingkaran
atau sering disebut insisi semilunar atau semisirkuler.
Insisi semilunar dibuat untuk keperluan bedah yg
membutuhkan lapangan operasi tidak terlalu luas dan hanya
pada bagian bukal/labial, kadang dilakukan di bagian median
palatal.
Indikasi utk apikoektomi & apeksreseksi

10

MACAM-MACAM JAHITAN
1. Jahitan terputus
Terbanyak digunakan karena sederhana dan
mudah. Tiap jahitan disimpul sendiri. Dapat
dilakukan pad akulit atau bagian tubuh lainnya,
dan cocok untuk daerah yang banyak bergerak
karean tiap jahitan saling menunjang satu dengan
lainnya.
Jahitan terputus (interupted suture), tiap-tiap
simpul berdiri sendiri. Secara kosmetik benang
kasar/besar atau tegang pada saat menyimpulnya
akan memberikan bekas yang kurang bagus, yaitu
seperti gambaran lipan.

2.

Jahitan simpul tunggal

Sinonim : Jahitan Terputus Sederhana, Simple Interrupted Suture. Merupakan


jenis jahitan yang sering dipakai. digunakan juga untuk jahitan situasi.
Teknik :
Melakukan penusukan jarum dengan jarak antara setengah sampai 1 cm ditepi
luka dan sekaligus mengambil jaringan subkutannya sekalian dengan
menusukkan jarum secara tegak lurus pada atau searah garis luka.
Simpul tunggal dilakukan dengan benang absorbable denga jarak antara 1cm.
Simpul di letakkan ditepi luka pada salah satu tempat tusukan
Benang dipotong kurang lebih 1 cm.

3.

Jahitan matras Horizontal

Sinonim : Horizontal Mattress suture, Interrupted mattress


Jahitan dengan melakukan penusukan seperti simpul, sebelum disimpul
dilanjutkan dengan penusukan sejajar sejauh 1 cm dari tusukan pertama.
Memberikan hasil jahitan yang kuat.

11

4.

Jahitan Matras Vertikal

Sinonim : Vertical Mattress suture, Donati, Near to


near and far to far
Jahitan dengan menjahit secara mendalam dibawah
luka kemudian dilanjutkan dengan menjahit tepi-tepi
luka. Biasanya menghasilkan penyembuhan luka
yang cepat karena di dekatkannya tepi-tepi luka
oleh jahitan ini.

5.

Jahitan Matras Modifikasi

Sinonim : Half Burried Mattress Suture


Modifikasi dari matras horizontal tetapi menjahit daerah luka seberangnya
pada daerah subkutannya.

Jahitan kontinu

Sering disebut doorloven. Simpul hanya pada ujung-ujung jahitan., jadi hanya
ada dua simpul. Bial salah satu terbuak maka jahitan ini akan terbuak
seluruhnya. Jahitan ini jarang dipakai untuk menjahit kulit. Secar kosmetik
bekas luka jahitan seperti pada jahitan terputus. Jahitan kontinu dapat
dilakukan lebih cepat dari jahitan terputus.

7.

Jahitan Jelujur sederhana

Sinonim : Simple running suture, Simple


continous, Continous over and over
Jahitan ini sangat sederhana, sama dengan
kita menjelujur baju. Biasanya
menghasilkan hasiel kosmetik yang baik,
tidak disarankan penggunaannya pada
jaringan ikat yang longgar.

12

8.

Jahitan Jelujur Feston

Sinonim : Running locked suture,


Interlocking suture
Jahitan kontinyu dengan mengaitkan benang
pada jahitan sebelumnya, biasa sering
dipakai pada jahitan peritoneum. Merupakan
variasi jahitan jelujur biasa.

PEKERJAAN UNTUK SKILL LAB:


Buatlah incisi linear pendek dengan penjahitan matras
horisontal
Buatlah incisi linear panjang dengan penjahitan jelujur
sederhana
Buatlah incisi sirkuler dengan intterupted suture
Buatlah incisi trapesoid dengan interupted suture

13

Fiksasi dan ligasi gigi


Pengantar :
Trauma dapat menyebabkan gigi-gigi berubah posisi, goyang dan bahkan
lepas dari socketnya. Hal ini sering terjadi pada gigi-gigi anterior, baik rahang
atas maupun rahang bawah.

Sebagai tindakan penanggulangan untuk

keadaan ini dapat dilakukan fiksasi-imobilisasi gigi, dengan cara paling


sederhana adalah mengikatnya (ligasi ) dengan kawat dan diperkuat dengan
pemasangan archbarr. Mula-mula setelah persiapan operasi dilalui, gigi
dikembalikan ke posisi semula (reposisi) kemudian dilakukan pengikatan
(ligasi) dengan kawat dengan berbagai teknik pengikatan. Teknik ligasi yang
umum dilakukan adalah ligasi interdental teknik Simple Essig wiring untuk
indikasi fraktur alveolar.

Untuk memperoleh fiksasi yang kokoh dapat

dilakukan ligasi dengan bantuan pemasangan a rchbarr. Hasil optimal diperoleh


dengan menggabungkan kedua teknik ini, yakni dilakukan Essig wiring
dikombinasikan dengan pemasangan archbarr.

Setelah dua hingga tiga bulan

alat ini dilepas dan pada saat itu gigi telah kokoh tertanam di dalam tulang
alveolar.

Pada gigi yang mengalami fraktur akarnya merupakan kontra

indikasi untuk perawatan ini, demikian pula untuk gigi-gigi desidui pada masa
periode geligi campuran.
Sasaran pembelajaran :
-

Mahasiswa mampu menegakkan diagnosa dan menentukan indikasi


fiksasi interdental dan pemasangan archbarr.

Mahasiswa mampu membaca anatomi dan posisi fraktur yang akan


dilakukan fiksasi pada illuminator foto rontgent guna menentukan
anatomi dan posisi-lokasi gigi yang mengalami fraktur alveolar.

14

Mahasiswa mampu memilih jenis alat, bahan dan teknik fiksasi sesuai
kebutuhan.

Mahasiswa mampu melakukan dengan benar dan berurut tindakan


fiksasi interdental sederhana.

Metode:
Pengarahan, audio-visual, demonstrasi , self-practice.
Fasilitas:
-

Phantom & Maneqeen (manekin).

Illuminator foto rontgent

Set alat dasar pemeriksaan gigi

Set alat fiksasi dan ligasi : klem kawat, klem ligasi, lunacheck, gunting
kawat dan tang pemotong archbarr .

Bahan fiksasi dan ligasi : archbarr, kawat diameter 3.0 dan 4.0

Bahan operasi : kapas dan has.

Prosedur teknis :

Pengarahan, audiovisual dan demonstrasi.

Mahasiswa memilih alat dan bahan untuk tindakan fiksasi


interdental sesuai kebutuhan dibawah pengawasan instruktur.

Mahasiswa melakukan tindakan fiksasi-imobilisasi tahap demi


tahap pada Phantom & Maneqeen (manekin) dengan benar
tahap demi tahap dibawah pengawasan instruktur.

15

Tahapan
FIKSASI INTERDENTAL
1. Essig Wiring
Lilitkan kawat panjang mengelilingi gigi-gigi, melalui;
misalnya : 13 s/d 23.
Lilitan dimulai dari distal gigi 13 bagian bukal, s/d
distal gigi 23, kemudian menembus interdental distal
gigi 23 s/d bagian lingual, selanjutnya kawat ditarik
kembali sepanjang lingual s/d bagian distal gigi 13,
menembus interdental 13 tembus ke bagian bukal dan
bertemu dengan ujung kawat asalnya dan dieratkan di
distobukal gigi 13.
Ambil sepotong kawat pendek tembuskan melalui
interdental gigi dari bukal ke lingual tepat di atas
kawat panjang bukal & lingual, kemudian belokkan ke
bawah dan kembali menembus interdental tepat di
bawah kawat panjang bagian libgual & bukal s/d
bertemu dengan ujung kawat di bukal dan dieratkan
Selanjutnya untuk lebih mempererat fiksasi, maka di
setiap interdental gigi-gigi antara 13 & 23 dieratkan
masing-masing dengan sepotong kawat.
Tahapan
2. Eyelet methode wiring atau Ivy Loop
Kawat dililitkan pada dua gigi saja, yakni, misalnya;
gigi 46 & 47 yg dimulai pada sepanjang bagian bukal
gigi-gigi tsb, kemudian mengelilingi gig 47 dari bagian
distal, lingual dan masuk ke interdental di bagian
mesial gigi 47, tembus ke bagian bukal tepat di bawah
kawat bagian bukal.
Selanjutnya kawat dibelokkan lagi ke interdental
mengelilingi kawat bukal dan melewati bagian atasnya
hingga menembus kembali interdental, mengelilingi

16

bagian distal, lingual dan menembus interdental


bagian mesial gigi 46 hingga bertemu dengan ujung
kawat di bagian bukal.
Akhirnya kedua ujung kawat tadi dieratkan dan untuk
lebih memperketat fiksasi, maka belokan kawat di
interdental gigi 46 & 47 dipuntir,dieratkan sesuai
kebutuhan.
Tahapan
Stout Continuous Loop
(Continuous Eyelet Methode Wiring atau Continuous Ivy Loop)
Merupakan pengulangan dari Eyelet atau Ivy Loop.
Fiksasi bersambung dari Eyelet atau Ivy Loop yg
melibatkan lebih dari dua gigi sehingga diperoleh
puntiran interdental lebih dari satu.
Teknik continuous ini paling sering digunakan fiksasi
interdental, sedangkan simple Eyelet atau Ivy Loop
lebih sering digunakan untuk fiksasi intermaksilar.
Teknik Continuous Eyelet atau Ivy Loop yg dibuat dgn
bantuan kawat besar atau selang untuk memperoleh
puntiran interdental yg simetris.

17

Tahapan
Pemasangan Arch Bar
A. Bentuk arch bar menyerupai lengkung gigi.
B. Pasang
ke dalam
mulut, sesuaikan posisi &
bentuknya sesuai kontur lengkung gigi.

Tahapan
C. Bentuk ujung arch bar sesuai kontur gigi terakhir.
D. Pasang lagi ke dalam mulut & ligasi dgn kawat
splint pada setiap gigi.

18

Tahapan
Cara ligasi dgn kawat splint pada setiap gigi saat
pemasangan arch bar.

Tahapan
E. Kawat splint
jarum jam.

diikat

dgn

cara diputar searah

F. Ujung kawat yg terlalu panjang dipotong pendek


& dibengkokkan ke arah embrasure setiap gigi.

Tahapan
TRAKSI INTERMAKSILAR
Pasien dengan kehilangan oklusi sentrik akibat fraktur
simphisis mandibula.
Penggunaan traksi elastik intermaksilar dengan arch
bar untuk memperoleh oklusi sentrik.
Jika oklusi sentrik diperoleh, maka fragmen fraktur
secara otomatis tereposisi.
Oklusi sentrik biasanya dapat diperoleh dalam jangka
waktu sekitar 5 menit s/d 1 jam pasca pemasangan
traksi intermaksilar pada pasien sadar, serta paling

19

lama s/d 1 hari.


Pemasangan traksi intermaksilar paling lama 3 hari
setelah diperolehnya oklusi sentrik dan segera diganti
dengan fiksasi intermaksilar.
Tahapan
Continuous Eyelet Methode Wiring atau Continuous
Ivy Loop dibuat pada rahang atas & rahang bawah.
Setiap puntiran kawat pada masing-masing interdental
dibelokkan ke atas untuk rahang atas dan dibelokkan
ke bawah untuk rahang bawah.
Masing-masing puntiran kawat yg telah dibelokkan tsb
digunakan sebagai kaitan/pegangan elastik yg
menyatukan rahang atas dngan rahang bawah.

Tahapan
FIKSASI INTERMAKSILAR
Fiksasi IntermaksilarEyelet methode wiring atau Ivy Loop
Puntiran interdental dari masing-masing Eyelet
methode wiring atau Ivy Loop rahang atas dgn
rahang bawah disatukan & dieratkan.

20

Puntiran masing-masing interdental rahang atas dgn


rahang bawah disatukan & dieratkan.

Fiksassi Intermaksilar dengan menggunakan Arch Bar


Rahang atas & rahang bawah yg telah dipasang arch
bar disatukan dgn kawat splint pada masing-masing
kaitannya setelah oklusi sentrik diperoleh.
Pemasangan fiksasi intermaksilar paling lama adalah 6
minggu.

21

DAFTAR PUSTAKA

Andreasen J.O. Petersen.J.K. Laskin D.M.1997: Textbook and Color Atlas of


Tooth Impaction. Munksgaard. St Louis. Mosby
Archer, W.H. 1975.
Oral and Maxillofacial Surgery. Vol. II. 5th ed.
Philadelphia & London : W.B. Saunders Co.
Beaumer. III, T.J.,
Curtis, T.A.
&
Firtele, D.N.
Maxillofacial
Rehabilitation. St Louis : The C.V. Mosby Co. 1979.
Birn, H. & Winter, J.E. 1975. Manual of Minor Oral Surgery. Philadelphia,
London & Toronto. W.B. Saunders Co.
Colby R.A, Kerr D.A., Robinson .G.B. Color atlas of Oral pathology. 3rd ed.
David, D.J.
&
Simpson, D. A.
Craniomaxillofacial
Trauma.
London : Churchill-Livingstone. 1995.
Dimitroulis G. 1997. A Synopsis of Minor Surgery. 1st ed. Oxford. Reed
Educational and Professional Publising Ltd
Gans, B.J. (1972) : Atlas of Oral Surgery. 1st ed., St. Louis, The CV. Mosby Co.
Gibson. 1994. Psychology, Pain and Anesthesia. New York : Chapman &
Hall.
Gray,H. 1975.
Anatomy of Human Body.
29ed. Philadelphia : Lea &
Febiger.
Howe, G.L. & Whitehead, F.I.H.
1992.
Local Anaesthesia in Dentistry.
Bristol : John Wright & Sons Ltd.
Killey, H.C. 1977. Fractures of The Mandible. 2nded. Bristol. John Wright &
Sons Ltd.
Killey, H.C. 1977. Fractures of The Midlle Thrid of The Facial Skeleton.
2nd ed. Bristol. John Wright & Sons Ltd.
Kruger, 1984, Oral and Maxillofacial Surgery, 6th ed, C.V Mosby Company, St.
Lois, Toronto.
Laskin, D.M. 1971. Oral and Maxillofacial Surgery. Vol. I, C.V Mosby
Company, St. Lois, Toronto.
Malamed, S.F. 1998.
Handbook of Local Anesthesia.
4th ed.
St. Louis
& London : C.V. Mosby Co.
Navile et all, 1995, Oral and Maxillofacial Pathology, 1st ed., W. B. Saunders
Co., Philadelpia.

22

Ogden G.R. 2001: Removal of Unerupted Teeth in PedlerJ, Frame J.W. Oral
and Maxillofacial Surgery An objective based textbook. Edinburg.Churchill
Livingstone
Olaf E, Langland, Roher, P Langlais. John W. Preece. Principles of Dental
Imaging. 2nd ed. Lippicont Williams & Willkins, 2002.
Peterson L.J. 1998. Principle of Management of Impacted Teeth in Petersen
L.J. Ellis. E. Hupp J.R. Tucker M.R. Contemporary Oral and Maxillofacial
Surgery. 3nd ed. St Louis. Mosby.
Regezi and Sciubba, 1999, Oral Pathology, Clinical Pathologic Correlations, 3rd
ed., W. B. Saunders Co., Philadelphia.
Shafer, J.H. and Dixon,1984, A Textbook of Oral Pathology, 4thed., W.B.
Saunders Co., Philadelphia (629-633).
Whaites E. Essential of Dental Radiolography and Radiology.
Churchill
Livingstone, London 2002
Zederfelt B.H. & Hunt, T.K. 1990, Wound Closure; materials and Techniques.
New Jersey, Davis & Greck Medical Device Division American Cyanamid Co.

23