Anda di halaman 1dari 6

Untuk membentengi perkembangan budaya luar, pendidikan seni dan

budaya sejak usia dini wajib diberikan kepada setiap pelajar. Hakikat
manusia adalah mencerna dan mengingat apa yang mereka kerjakan
untuk pertama kali dan terus berulang. Layaknya belajar berdiri dan
berbicara bagi seorang balita, pelajar muda baik sejak PAUD maupun
sekolah dasar alangkah bagusnya mulai diperkenalkan seni dan budaya
negaranya sendiri.

Dengan pembekalan sejak dini, para penerus bangsa ini diharap mampu
membentengi diri mereka guna menghidupkan kesenian dan
kebudayaan tradisional.

Selain itu masih minimnya sosok guru yang mempunyai visi dan misi
dalam mempertahankan seni budaya bangsa. Hal itu menjadi salah satu
penyebab anak muda Indonesia tak begitu peduli terhadap budaya
tradisional.
Bahkan, sedikit sekali lembaga pendidikan formal yang menghidupkan
seni budaya. Orang tua siswa yang memang mempunyai latar belakang
seni memilih untuk menyekolahkan anak mereka di sanggar-sanggar
kesenian.

Selain kurikulum pendidikan di sekolah, para orang tua kecuali mereka


yang berlatar belakang seni, kurang memberikan pengetahuan seni
budaya kepada sang anak. Masih jarang ditemukan orang tua yang
menginginkan anaknya kelak menjadi seorang penari, dalang, dan ahli
seni lainnya. Mereka merasa derajat keluarga akan lebih terangkat
ketika anak-anaknya menjadi seorang dokter atau ilmuan eksakta.
Warga sendiri tidak meregenarisakan seni budaya melalui berbagai
kegiatan, mereka tidak menciptakan kebiasaan. "Jadi jika seni budaya
kita akan habis," tutur Susilo.
sistem kurikulum mengenai seni budaya seharusnya segera direvisi. Di
sekolah dasar dalam pelajaran kesenian, murid kebanyakan hanya
diajarkan melukis dan membuat prakarya saja. Sedangkan, untuk
ekstrakurikuler, mereka kurang banyak mempraktikkan budaya daerah
masing-masing.

Padahal, untuk meningkatkan minat murid dalam seni budaya, akan


lebih baik bila setiap sekolah di setiap daerah memberikan mata
pelajaran yang terkait dengan kekhasan budaya di daerah tersebut.
Misalkan di daerah Jawa, murid diajarkan memainkan wayang dan
menjadi dalang. Atau di kawasan DKI Jakarta mengembangkan budaya
Betawi. Dari hal sekecil itu, murid diharap semakin mengenal budaya
tradisional meski baru terpaku pada daerah sendiri.

Bagi guru seni, mereka juga seharusnya diberikan keleluasaan untuk


memberikan pengajaran seni budaya. Meski harus melakukan
koordinasi dengan dinas pendidikan setempat, tetapi guru seni baiknya
mengajarkan berbagai kesenian bukan hanya mengikuti program
kurikulum yang diberikan pemerintah pusat dan daerah.
Berbagai stasiun televisi nasional maupun lokal lebih banyak
mengusung acara hiburan yang mengacu pada budaya asing. Mulai dari
musik, film, hingga program anak kecil tak banyak menyentuh nilai seni
dan budaya lokal. Tak mengherankan bila akhirnya pola perkembangan
anak saat ini lebih mengacu kepada budaya luar.

Padahal, budaya Timur banyak mengajarkan arti gotong royong,


keselarasan, hingga toleransi tinggi. Bersinggungan dengan budaya
luar yang lebih terbuka dan lebih banyak mengandalkan kerja keras
untuk diri sendiri.
Budaya nasional yang seharusnya menjadi kebanggaan dan harusnya di
pertahankan sekarang mulai hilang dikarenakan masuknya budaya
asing (modern). Kita sebagai warga negara indonesia yang mempunyai
hak penuh atas kebudayaan tersebut seharusnya melestarikannya
bukan malah mengesampingkannya dengan berbagai alasan seperti
takut dibilang ketinggalan jaman, takut dibilang kupper, katrok, dan
lain sebagainya.
Dalam era globalisasi, kebudayaan tradisional mulai mengalami erosi.
Orang, anak muda utamanya lebih senang menghabiskan waktunya
untuk mengakses internet dari pada mempelajari tarian dari
kebudayaan sendiri. Orang akan merasa bangga ketika dapat menuru
gaya berpakaian orang barat dan menganggap budayanya kuno dan
ketinggalan. Globalisasi akan selalu memberikan perubahan, kita lah
yang harus meneliti apakah budaya-budaya tersebut bersifat positif
ataupun negatife.
salah satu cara untuk melestarikan budaya trsdisional adalah sikap dan
perilaku dari masyarakatnya sendiri. Jika dalam diri setiap masyarakat
terdapat jiwa nasionalis yang dominan, melestarikan budaya tradisional
merupakan suatu kebanggaan, tapi generasi muda sekarang ini justru

beranggapan yang sebaliknya, sehingga mereka menggagap


melestarikan budaya itu suatu paksaan. Jadi kelestarian buadaya
tradisional itu juga sangat bergantung pada jiwa nasionais generasi
mudanya.
Kita butuh untuk menyadari bahwa untuk mempertahankan budaya
peninggalan sejarah itu tidak mudah. Butuh pengorbanan yang besar
pula. Oleh karenanya tak cukup apabila hanya ada satu generasi muda
yang mau untuk tapi yang lain masa bodoh. Dalam melakukannya
dibutuhkan kebersamaan untuk saling mendukung dan mengisi satu
sama lain. Dalam kata lain dalam menjaga kelestarian budaya juga
diperlukan kekompakan untuk saling mengisi dan mendukung.
Kemudian kebudayaan yang telah ada seperti kebudayaan
tradisional akan tergeser bahkan akan hilang terganti oleh kebudayaan
baru/ modern. Orang-orang akan lebih mengandalkan kebudayaan baru
dan meninggalkan kebudayaan tradisional karena dianggap
kebudayaan itu adalah kebudayaan yang kuno dan pantas di
tinggalkan.
Jadi keberadaan kebudayaan tradisional saat ini sangat
mengkhawirkan. Kita sebagai penerus bangsa harus dapat melestarikan
budaya sendiri, budaya tradisional. Jangan sampai budaya itu punah
tertelan waktu yang ke era globalisasi.
Untuk dapat tetap melestarikan budaya peninggalan nenek
moyang kita harus dapat memilah dan memilih budaya yang baru yang
positif. Kita harus tetap mengikuti perkembangan budaya modern tapi
jangan sampai kita meninggalkan budaya sendiri. Jangan sampai
kejadian kemarin seperti pengklaiman budaya terjadi kembali. Hal
tersebut terjadi juga karena kita kurang menjaga dan melestarikan
budaya sendiri.

Assalamualaikum Warohmatullahi Wabarokatuh


Ladies and Gentlemen
Firstly, Let us say thanks to Allah who has given us health and opportunity, so we
can face to face and take part in this speech contest. Secondly, Shalawat and
Salam to our prophet Muhammad SAW who has brought us from the darkness to
the lightness, from stupid era to the cleverness era and because of him we cand
stand and arrive in good culture of life, Islamic culture and Indonesian culture.
I would like to deliver my speech with the title Strengthening the Position Of
Students To Popularize Local Cultures
Ladies and Gentlemen

Before delivering my speech, I would like to ask all audiences here. How many
times did you visit a Museum ?. May be, you visit it weekly, monthly, yearly or
even you never visit Museum at all. Museum is a center of arts and cultures. We
should often to visit it to know the kinds of our clothes, traditional music, arts,
costumes and the others.
Globalization is coming as a dangerous hole for life. It influences all parts of our
life. It affects economic, ITC, education, life style, humanity and cultures. We
know that globalization is not only inviting bad effect but also good effect. But
today what we are going to discuss is the globalization effect on traditional
cultures and how to minimize the effects as a students.
Harvard University Professor, Samuel Huntington says that globalization or
capitalism is coming as a creative destruction . It will destroy the local values
and influences all elements of cultures ( language, history, religion, costumes,
institutions and other self identification ). Let us look at the fact in society,
starting from the simple things as like a name. Ten until a hundred years ago the
name of persons are simple and classical as like Sasak name Baiq Fatimah
change into baiq Engel, from Kamarudin, Khairudin, Akhirudin, Pasarudin
changes into Josep or Michael. So does the traditional music, dancing and songs.
we have Kecimol. Jangger and Gendang Belek in sasak people but all of them are
Katro and Kolot in Sasak people. They will be more enjoyable when there is a
concert of JustIn Bieber or rock and pop music concert. If this condition is
happening, who will keep and conserve our traditional cultures?. Are we waiting
other country claim our cultures in someday ?.
As an intellectual group, students should have a cultural belonging. We should
keep our cultures by implementing those cultures values in our life. Batik as an
example, let us popularize batik by wearing batik in formal party, or as an
English students let us become ambassadors for our cultures. Dont just speak
English and then forget your cultures but make English as a medium to introduce
your cultures to foreigner. The right one is let us speak English but based on our
cultures.
Ladies and Gentlemen
India has claimed itself as the most cultural country in the world. The arts and
cultures are kept regularly so there is no country who brave to claim Indian
cultures as theirs. But the condition says different in Indonesia. One by one our
cultural is claimed by other country as theirs. We should stop this action. The
position of students is keep culture up. Because only a group of students who
know and understand how the dangerous of globalization is.
The conclusion of my speech is let us start to care with our cultures. Students as
an intellectual group should have a cultural belonging and become an
ambassador to popularize local culture. To those students who are able to speak
in English, you should make English language as a medium to promote your
cultures to the foreigner. Be proud of your culture because cultural is our identity

and rich of heritage. No culture No life. It is better to be rich with culture than
money because cultural cant be corrupted by someone. Long Life Culture..!
Thats all my speech. Thanks for your attention and sorry for my mistakes
Wassalamualikum Warohmatullahi Wabarokatuh

Indonesia is a country that has hundreds of ethnic groups. Each ethnic group has
its own dance, song, language and other aspects of culture. Buginese, for
example, has Pajaga dance, Makasarese Ganrang Bulo dance, Balinese Kechak
dance, Sumatranese Serampang Dua Belas dance, et cetera. Those are only
some of the cultural heritage of Indonesia.

In spite of the fact that we have an abundance of cultural heritage handed down
from one generation to another generation, there is a tendency that many
Indonesians do not really appreciate their own culture. When they hold a
wedding party for their sons and daughters, for example, they prefer to invite a
group of modern musicians in stead of a traditional music group. Those modern
music group would certainly sing western songs, not Indonesian traditional
songs. Why do they do so? The answer is because they do not love their own
traditional culture.

The first step we have to take when want to promote our cultural heritage to the
international world is we must love our own culture. This raises a question : how
to plant seeds of love in ourselves. The answer is through a process of
enculturation which means we have to facilitate an easy access to traditional
culture for Indonesian children. Make them accustomed to listen to Indonesian
traditional songs, to watch traditional dances, to play traditional musical
instruments, et cetera.
Teachers in schools should also teach their students to appreciate Indonesian
arts and culture, such as Batik painting, traditional self defence called pencak
silat and other traditional sports as well as traditional games. In other words
traditional arts and culture should become part of our school curriculum.
If most of our citizens have already love their own cultural heritage, then it is the
right time to start promoting our arts and culture to the international world. One
way to promote this cultural heritage is thorough audio-visual media, such as
television and internet. And The reason is because by means of television and
internet people can easily watch and appreciate our arts and culture. Also, these
two products of modern technology can be accessed by most people in the
world, including those living in far away villages.
Another way of promoting our cultural heritage is through arts and cultural
exchange programs among different nations. By means of this program

Indonesian artists and men of culture can visit other countries to introduce our
cultural heritage. One thing we must keep in mind that such a program should be
run seriously and continuously.
So, before promoting our cultural heritage to the international world, we must
first love our cultural heritage ourselves