Anda di halaman 1dari 29

MODUL I

PENGANTAR (TES INTELIGENSI)

TUJUAN PEMBELAJARAN

Mahasiswa memahami pengertian Inteligensi, pendekatan teoritis,


serta sejarah perkembangan Tes Inteligensi.

Mahasiswa

memahami

dan

mampu

melaksanakan

administrasi

penyelenggaraan, skoring, analisis, interpretasi, dan pelaporan hasil


tes Inteligensi.

STANDAR KOMPETENSI

Mahasiswa memahami pengertian inteligensi secara komprehensif;

Mahasiswa

memahami

dan

mampu

melaksanakan

administrasi

penyelenggaraan, skoring, analisis, interpretasi, dan pelaporan hasil


tes Inteligensi.

SILABUS
Pokok Bahasan

11

Sub pokok Bahasan

Inteligensi: Definisi dan Teori

Kontrak belajar; Definisi


Inteligensi; Pendekatanpendekatan; Teori-teori
Inteligensi; Intelligence
Quotient

Pengukuran Inteligensi

Sejarah pengukuran;
Beberapa Tes Inteligensi
populer; Keterbatasan tes
Inteligensi

Tes WAIS-R

Praktik administrasi tes

Tes WAIS-R

Skoring dan analisis hasil;

Psikodiagnostik II
Lusi Nur Ardhiani

Pusat Pengembangan Bahan Ajar


Universitas Mercu Buana

Interpretasi hasil tes;


Pelaporan.
Tes WISC

Praktik administrasi tes

Tes WISC

Skoring dan analisis hasil;


Interpretasi hasil tes;
Pelaporan.

Tes WPPSI

Praktik administrasi tes

Tes WPPSI

Skoring dan analisis hasil;


Interpretasi hasil tes;
Pelaporan.

Tes BINET

Praktik administrasi tes

Tes BINET

Skoring dan analisis hasil;


Interpretasi hasil tes;
Pelaporan.

Tes IST

Praktik administrasi: Skoring


dan analisis hasil; Interpretasi
hasil tes; Pelaporan.

Tes TKD

Praktik administrasi: Skoring


dan analisis hasil; Interpretasi
hasil tes; Pelaporan.

Tes CFIT

Praktik administrasi: Skoring


dan analisis hasil; Interpretasi
hasil tes; Pelaporan.

Tes Seri PM

Praktik administrasi: Skoring


dan analisis hasil; Interpretasi
hasil tes; Pelaporan.

Penggunaan tes Inteligensi

Seleksi /rekruitmen pegawai

Seleksi calon mahasiswa/siswa

Seleksi kenaikan jabatan

Seleksi siswa berprestasi/kelas akselerasi

Seleksi untuk memberhentikan karyawan

11

Psikodiagnostik II
Lusi Nur Ardhiani

Pusat Pengembangan Bahan Ajar


Universitas Mercu Buana

Untuk keperluan diagnosis klinis/pendidikan

Dll.

Syarat seorang tester (Ahmad Zubaidi)

Mempunyai pandangan yang matang tentang manusia

Memiliki pengetahuan dalam bidang psikologi yg cukup luas

Cekatan dalam menggunakan berbagai teknik diagnosa psikologik

Memiliki jenjang pendidikan bidang psikologi

DEFINISI
Sampai saat ini definisi inteligensi terus berkembang.
David Wechsler (pencipta skala-skala inteligensi yang masih digunakan
sampai saat ini)
Inteligensi adalah kumpulan atau totalitas kemampuan seseorang
untuk
- Bertindak dengan tujuan tertentu,
- Berfikir secara rasional, serta
- Menghadapi lingkungannya dengan efektif

Alfred Binet (tokoh utama perintis pengukuran inteligensi 1857-1911) dan


Theodore Simon
Inteligensi terdiri dari 3 komponen:

Kemampuan untuk mengarahkan pikiran/tindakan

Kemampuan untuk mengubah arah tindakan bila tindakan itu telah


dilaksanakan

Kemampuan untuk mengkritik diri sendiri (autokritik)

Pendekatan

11

Psikodiagnostik II
Lusi Nur Ardhiani

Pusat Pengembangan Bahan Ajar


Universitas Mercu Buana

Menurut Maloney dan Ward terdapat 4 pendekatan yang digunakan dalam


memahami hakikat inteligensi

Pendekatan Teori Belajar

Pendekatan neurobiologis

Pendekatan teori-teori psikometri

Pendekatan teori-teori perkembangan

Pendekatan Teori Belajar

Perilaku yang berisi proses belajar sbg respon dr tuntutan luar


interaksi dgn lingkungan

Dinilai dengan norma relatif

Bukan sifat kepribadian (trait), oleh karena itu para ahli lebih
memusatkan perhatiannya pada perilaku yang tampak

Menurut

para

lingkungan.

ahli

toeri

Lingkungan

belajar,
belajar

inteligensi
sendiri

sangat

menentukan

dipengaruhi
relativitas

inteligensi individu
Pendekatan Neurobiologis

Inteligensi memiliki dasar anatomis biologis

Perilaku inteligen menurut pendekatan ini dapat ditelusuri dasar-dasar


neuroanatomisnya dan proses neurofisiolgisnya. Oleh karena itu,
dalam berbagai riset selalu dipentingkan untuk melihat korelasikorelasi inteligensi pada aspek-aspek anatomi, elektrokimia, atau
fisiologi.

Pendekatan neurobiologist menimbulkan berbagai teori inteligensi


yang mengaitkan perilaku inteligensi serta ciri-cirinya dengan aspek
biologis.

Pendekatan Psikometris

11

Psikodiagnostik II
Lusi Nur Ardhiani

Pusat Pengembangan Bahan Ajar


Universitas Mercu Buana

Ciri utama dari pendekatan ini adalah adanya anggapan bahwa


inteligensi merupakan suatu konstruk atau sifat psikologis yang
berbeda-beda kadarnya bagi setiap orang.

Lebih tertarik pada pengukuran psikometris

Fokus pada cara praktis untuk melakukan klasifikasi dan prediksi


berdasarkan hasil pengukuran dari pada meneliti hakikat inteligensi itu
sendiri

Dalam pendekatan ini, terdapat dua arah studi, pertama bersifat


praktis dan lebih menekankan pada pemecahan masalah, kedua lebih
menekankan pada konsep dan penyusunan teori.

Pendekatan inilah yang melahirkan berbagai skala pengukuran yang


menjadi awal pengukuran saat ini

Pendekatan Teori Perkembangan

Studi inteligensi dikaitkan dengan tahap-tahap perkembangan biologis

Lebih bersifat kualitatif, berbeda dari pendekatan psikometris yang


bersifat kuantitatif.

Melihat kaitan tingkatan intelegensi dengan tingkatan usia tertentu


Teori-Teori Inteligensi

Alfred Binet

Inteligensi berkembang sejalan dengan proses kematangan

Inteligensi sebagai sesuatu yang fungsional sehingga memungkinkan


orang lain untuk mengamati dan menilai teingkat perkembangan
individu berdasar suatu kriteria tertentu

11

Psikodiagnostik II
Lusi Nur Ardhiani

Pusat Pengembangan Bahan Ajar


Universitas Mercu Buana

Untuk melihat seseorang cukup inteligen atau tidak dapat diamati dari
caranya melakukan suatu tindakan dan mengubah arah tindakan itu
apabila perlu

Edward Lee Thorndike

Inteligensi tergantung pada bnyknya neural conection krn adanya


penguatan

Inteligensi3 btk kemampuan


Kemampuan abstraksi: yakni kemampuan untuk bekerja dengan
menggunakan gagasan dan symbol-simbol
Kemampuan mekanik

yaitu suatu kemampuan untuk bekerja

dengan menggunakan alat-alat mekanis dan kemampuan yang


memerlukan aktivitas indera gerak (sensori motor)
Kemampuan sosial yaitu suatu kemampuan untuk menghadapi
orang lain di sekitar diri sendri dengan cara-cara yang efektif.
Charles E Spearman

Terkenal dengan teori 2 faktor

Berangkat dari analisi korelasional terhadap skor seperangkat tes yang


mempunyai tujuan dan fungsi ukur berlainan

Inteligensi mengandung dua komponen


Eduksi relasi: kemampuan menemukan hubungan dasar diantara
dua hal ex: panjang-pendek
Eduksi korelasi: kemampuan menerapkan hubungan dasar yg
telah

ditemukan

kedalam

situasi

baru,

ex:

panjang-

pendek:hitam-

Disamping itu, Spearman juga mengemukakan lima prinsip kuantitatif


dalam kognisi yaitu:

11

Psikodiagnostik II
Lusi Nur Ardhiani

Pusat Pengembangan Bahan Ajar


Universitas Mercu Buana

a. Energi mental: setiap fikiran cenderung untuk menjaga total output


kognitif

simultannya

dalam

kuantitas

yang

tetap

walau

bagaimanapun variasi kualitatifnya


b. Kekuatan menyimpan: terjadinya peristiwa kognitif menimbulkan
kecenderungan untuk terulang kembali
c. Kelelahan:

terjadinya

peristiwa

kognitif

menimbulkan

kecenderungan untuk melawan terulangnya peristiwa tersebut


d. Kontrol konatif: intensitas kognisi dapat dikendalikan oleh konasi
(motivasi)
e. Potensi

primordial:

setiap

manifestasi

dari

keempat

prinsip

kuantitatif terdahulu akan dirimbun di atas potensi awal individu


yang bervariasi
Louis Leon Thurstone & Thelma Gwinn Thurstone
-

Sekalipun teori mereka berbeda dengan teori thorndike, namun teori


mereka dapat digolongkan dalam teori faktor ganda

Dari hasil studi yang mereka lakukan dengan intensif, Thurstone


menyusun tes kemampuan primer Chicago dan menguraikan 6 faktor
kemampuan sebagai berikut:
V: verbal (pemahaman akan hubungan kata, kosa kata, dan
penguasaan komunikasi lisan
N: Number ( kecermatan dan kecepatan dalam penggunaan fungsifungsi hitung dasar
S: Spatial (kemampuan untuk mengenali berbagai hubungan dalam
bentuk visual)

11

Psikodiagnostik II
Lusi Nur Ardhiani

Pusat Pengembangan Bahan Ajar


Universitas Mercu Buana

W: Word Fluency ( kemampuan untuk mencerna kata-kata tertentu


dengan cepat)
M: Memory (kemampuan mengingat gambar-gambar, pesan-pesan,
angka-angka, kata-kata, dan bentuk-bentuk pola)
R: Reasoning ( kemampuan untuk mengambil kesimpulan dari
beberapa contoh, aturan, atau prinsip. Dapat juga diartikan sebagai
kemampuan pemecahan masalah)

IQ (INTELLIGENCE QUOTIENT)

Salah satu cara menyatakan tinggi rendahnya inteligensi adalah


menerjemahkan hasil tes inteligensi kedalam angka yang dapat
menjadi petunjuk mengenai kedudukan tingkat kecerdasan seseorang
bila dibandingkan secara relative terhadap suatu norma.

Secara

tradisional,

angka

normative

dari

hasil

tes

inteligensi

dinyatakan dalam bentuk rasio (quotient) dan dinamai intelligence


quotient (IQ).

Istilah intelligence quotient diperkenalkan pertama kali oleh William


stern pada tahun 1912.

Rumus awal (dihitung dr hasil tes BINET)


IQ= MA/CA x 100
MA

= usia mental

CA

= usia kronologsi

100

= angka konstan untuk menghindari bilangan desimal

keterbatasan validitas utk usia dewasa

Perumusan IQ deviasi

11

Psikodiagnostik II
Lusi Nur Ardhiani

Pusat Pengembangan Bahan Ajar


Universitas Mercu Buana

Revisi dari keterbatasan MA/CA

Dihitung berdasarkan norma kelompok

Dilakukan pada IQ Weschler

Rumus

: skor standar=m+s [(X-M)/sx]

m =skor standar yg diinginkan


S =deviasi standar yg diinginkan
X = skor mentah yg akan dikonversikan
M = mean distribusi skor mentah yg diperoleh
Sx

= deviasi standar skor mentah yg diperoleh

MODUL II
PENGUKURAN INTELIGENSI

Pengukuran intelegensi dirasakan sangat penting didorong oleh kesadaran


akan perlunya memperlakukan manusia secara individual sesuai dengan
kapasitas dan potensinya masing masing, terutama bila menyangkut bidang
pekerjaan dan pendidikan.

11

Psikodiagnostik II
Lusi Nur Ardhiani

Pusat Pengembangan Bahan Ajar


Universitas Mercu Buana

(Azwar,1996)
SEJARAH PENGUKURAN
-

Pada abad XIV, di cina, telah berlangsung usaha untuk mengukur


kompetensi para pelamar jabatan pegawai negara. Untuk dapat
diterima sebagai pegawai, para pelamar harus mengikuti ujian, ujian
tertulis

mengenai

pengetahuan

Confucian

classics,

kemampuan

menulis puisi, dan komposisi karangan. Ujian ini berlangsung sehari


semalam di tingkat distrik. Kurang dari 7% pelamar yang biasanya
lulus tingkat distrik kemudian harus mengikuti ujian berikutnya yang
berupa menulis prosa dan sajak. Dalam ujian ke 2 ini kurang dari 10%
peserta yang lulus. Akhirnya barulah ujian tingkat akhir diadakan di
peking dimana diantara para peserta terakhir ini hanya lulus 3% saja.
Lulusan ini kemudian diangkat menjadi mandarin dan bekerja sebagai
pegawai negara. Dengan demikian dari ke 3 tahap ujian tersebut
hanya 5 diantara 100.000 pelamar yang akhirnya mencapai status
mandarin. Baru pada abad XIX ujian semacam itu mulai dihilangkan
sejalan

dengan

pesatnya

kemajuan

universitas-universitas

(Azwar,1996).
Rintisan katel (dalam Azwar,1996)
-

Mungkin suatu kebetulan, bahwa awal perkembangan pengukuran


mental berpusat pada kempuan yang bersifat umum yang kita kenal
sebagai tes intelegensi. Usaha pengukuran intelegensi berkembang
dalam kurun waktu yang kurang lebih serempak di Amerika Serikat dan
Perancis.

Di amerika, usaha pertama tersebut dimulai oleh tokoh pencetus istilah


tes mental, James McKeen cattell (1860-1944), yang menerbitkan
bukunya mental tes and measurements di tahun 1890. buku ini berisi

11

10

Psikodiagnostik II
Lusi Nur Ardhiani

Pusat Pengembangan Bahan Ajar


Universitas Mercu Buana

serangkaian tes intelegensi yang terdiri atas 10 jenis ukuran. Ke 10


macam ukuran tersebut adalah :
1. Dinamo meter peasure, yaitu ukuran kekuatan tangan menekan
pegas yang dianggap sebagai indikator aspek psikofisiologis.
2. Rate of movement, yaitu kecepatan gerak tangan dalam satuan
waktu

tertentu

yang

dianggap

memiliki

komponen

mental

didalamnya.
3. Sensation areas, yaitu pengukuran jarak terkecil diantara 2 tempat
yang terpisah dikulit yang masih dapat dirasakan sebagai 2 titik
berbeda.
4. Pressure causing pain, yaitu pengukuran yamg dianggap berguna
dalam diagnosis terhadap penyakit saraf dan dalam mempelajari
status kesadaran abnormal.
5. Least noticabele difference in weight, yaitu pengukuran perbedaan
berat yang terkecil yang masih dapat dirasakan seseorang.
6. Reaction time for sound, yang mengukur waktu antara pemberian
stimulus dengan timbulnya reaksi tercepat.
7. Time

for

naming

colors,

yang

dimaksudkan

sebagai

ukuran

terhadap proses yang lebihmentaldaripada waktu-reaksi yang


dianggap reflektif.
8. Bisection of a 50-cm line, yang dianggap sebagai suatu ukuran
terhadap akurasi space judgment
9. Judgment of 10second time, yang dimaksudkan sebagai ukuran
akurasi dalam time judgment ( subyek diminta menghitung 10
detik tampa bantuan apapun).

11

11

Psikodiagnostik II
Lusi Nur Ardhiani

Pusat Pengembangan Bahan Ajar


Universitas Mercu Buana

10.

Number

of

letters

repeated

upon

once

hearing,

yang

dimaksudkan sebagai ukuran terhadap perhatian dan ingatan


(subyek diminta mengulang huruf yang sudah disebutkan 1x)
Skala skala Binet-simon (alfred binet, 1857-1911)
Alfred Binet direktur lab universitas Sorbonne Prancis memulai suatu
usaha pengukuran inteligensi dengan menggunaka metode Paul broca.
Dilakukan

dengan

cara

mengukur

lingkaran

tempurung

anak-anak

(metoda kraniometri). Pada tahun 1904 Binet kembali menekuni usaha


pengukuran

inteligensi,

ia

meninggalkan

sama

sekali

pendekatan

Kraniometri dan membuat alat baru yang dirancang untuk mengukur


ketajaman bayangan, ketahanan dan kualitas perhatian, ingatan, kualitas
penilaian moral dan estetika, dan kecakapan kesalahan logika serta
memahami kalimat-kalimat.
Sejarah menggariskan bahwa Binet menjadi pemancang tinggal awal
perkembangan tes-tes inteligensi modern yang awalnya d igunakan pada
anak-anak

Dalam revisi 1986 terhadap skala Stanford binet, konsep inteligensi


dikelompokkan menjadi empat tipe penalaran yang masing-masing
diwakili oleh beberapa tes. Yaitu:
1. penalaran Verbal,
2. penalaran Kuantitatif,
3. penalaran Visual abstrak,
4. Memori jangka pendek.
Skala-skala Wechsler
34 tahun setelah diterbitkanya tes intelegensi yang pertama oleh binetsimon atau 2 tahun setelah munculnya revisi stanford-binet, david

11

12

Psikodiagnostik II
Lusi Nur Ardhiani

Pusat Pengembangan Bahan Ajar


Universitas Mercu Buana

wechsler memperkenalkan versi 1 tes intelegensi yang dirancang khusus


untuk digunakan orang dewasa. Tes tersebut terbit pada tahun 1939 dan
dinamai wechsler-bellevue intelegent scale (WBIS), disebut juga skala WB.
Alasan wechler mengenbangkan skala W-B adalah kenyataan bahwa tes
intelegensi yang digunakan untuk orang dewasa saat itu hanya
merupakan perluasan dari tes intelegensi untuk anak-anak- dengan
menambahkan soal yang sejenis yang lebih sukar. Isi tes yang seperti itu,
menurut wechler seringkali tidak menarik minat dan perhatian orang
dewasa.
Pada tahun 1949 wechsler menerbitkan pula skala intelegensi untuk
digunakan pada anak_anak
Tes intelegensi kelompok
Sejalan dengan perkembangan tes intelegensi individual yaitu yang
dikenakan pada subjek secara indifidual, mulai pula dirasakan perlunya
tes intelegensi yang dikenakan pada sekelompok individu secara
serentak atau tes kelompok.
Tes intelegensi kelompok, yang dapat
dikenakan dengan cepat dan discore
serta dapat diinterpretasikan dengan
cepat pula mulai dirancang oleh para
ahli.
Beberapa tes inteligensi popular
Stanford-binet inteligence scale
Digunakan pada anak-anak
Dalam revisi 1986 konsep inteligensi dikelompokkan menjadi empat tipe
penalaran yang masing-masing diwakili oleh beberapa tes, yaitu:

11

13

Psikodiagnostik II
Lusi Nur Ardhiani

Pusat Pengembangan Bahan Ajar


Universitas Mercu Buana

penalaran Verbal, penalaran Kuantitatif, penalaran Visual abstrak, Memori


jangka pendek.
Penyelenggaraan tes dan Penentuan Skor menggunakan buku-buku kecil
berisi
1. Kartu-kartu tercetak untuk presentasi,
2. Flip-over soal tes,
3. objek tes misal balok, manik, papan bentuk, sebuah gambar besar
boneka yang uniseks dan multietnik,
4. buku kecil untuk tester,
5. pedoman penyelenggaraan dan pen-skoran skala.
The wechsler Inteligence scale for children-revised/WISC-R
-

Terbit tahun 1974 untuk usia 6-16 tahun

Terdiri atas 12 subtes yang dua diantaranya digunakan sebagai


cadangan

Skala verbal terdiri atas


1. Informasi
2. Pemahaman
3. Hitungan
4. Kesamaan
5. Kosakata
6. Rentang angka

Skala performansi terdiri atas:


1. Kelengkapan gambar

11

14

Psikodiagnostik II
Lusi Nur Ardhiani

Pusat Pengembangan Bahan Ajar


Universitas Mercu Buana

2. Sususnan gambar
3. Rancangan balok
4. Perakitan objek
5. Sandi
6. Mazes

The wecheler adult intelligence scale revised (WAIS-R)


Untuk usia 16-64 tahun.
Skala verbal

Skala perfomansi

1. Informasi

1. Kelengkapan gambar

2. Rentang angka

2. Susunan gambar

3. Kosakata

3. Rancangan balok

4. Hitungan

4. Perakitan objek

5. Pemahaman

5. Simbol angka

6. kesamaan

11

15

Psikodiagnostik II
Lusi Nur Ardhiani

Pusat Pengembangan Bahan Ajar


Universitas Mercu Buana

The standard progressive Matrices (SPM)


individual ataupun kelompok.

11

16

Psikodiagnostik II
Lusi Nur Ardhiani

Pusat Pengembangan Bahan Ajar


Universitas Mercu Buana

Bersifat nonverbal.
Raven sendiri menyebut skala ini sebagai tes kejelasan pengamatan
dan kejelasan berfikir, bukan tes inteligensi umum
SPM

tidak

memberikan

suatu

angka

IQ

akan

tetapi

menyatakan hasilnya dalam tingkat atau level intelektualitas


dalam beberapa kategori:
Grade I

: Kapasitas intelektual Superior.

Grade II

: Kapasitas intelektual Di atas rata-rata

Grade III

: Kapasitas intelektual Rata-rata.

Grade IV

: Kapasitas intelektual Di bawah rata-rata.

Grade V

: Kapasitas intelektual Terhambat.

Contoh tes SPM

Advanced Progressive Matrices (APM)


Disusun oleh J.C Raven pada tahun 1943

11

17

Psikodiagnostik II
Lusi Nur Ardhiani

Pusat Pengembangan Bahan Ajar


Universitas Mercu Buana

Tes APM terdiri dari 2 set dan bentuknya non-verbal. Set 1 disajikan
dalam buku tes yang berisikan 12 butir soal. Set II berisikan 36 butir
soal tes.
Untuk

membedakan

berkemampuan

secara

intelektual

jelas

antara

lebih

dari

individu-individu
normal

bahkan

berkemampuan intelektual superior.


Tujuan : Untuk mengukur tingkat intelegensi dan analisis klinis.
Colors Progressive Matrices (CPM)
Untuk:
anak-anak yang berusia 5 sampai 11 tahun.
orang-orang yang lanjut usia (>60 tahun)
anak-anak defective
Terdiri dari 36 soal dalam 3 seri: A, AB dan B,
Dapat berbentuk buku soal maupun papan
Contoh tes CPM

11

18

Psikodiagnostik II
Lusi Nur Ardhiani

Pusat Pengembangan Bahan Ajar


Universitas Mercu Buana

yang
yang

Aspek yang diukur


1. Berpikir logis
2. Kecakapan pengamatan ruang
3. Kemampuan

untuk

mencari

dan

mengerti

hubungan

antara

keseluruhan dan bagian-bagian, jadi termasuk kemampuan analisa dan


kemampuan integrasi
4. kemapuan berpikir secara analogi.
Culture Fair Intelligence Test (CFIT)
Culture Fair Intelligence Test (CFIT), Scale 2 and 3 From A and From B

Buku soal dan lembar jawaban yang terpisah.

Tes ini mengukur faktor kemampuan mental umum (g-factor)

Tes ini dipergunakan untuk keperluan yang berkaitan dengan factor


kemampuan mental umum atau kecerdasan.
Skala 2 untuk anak-anak usia 8-14 tahun dan untuk orang
dewasa yang memiliki kecerdasan di bawah normal.
Skala 3 untuk usia sekolah lanjutan atas dan orang dewasa
dengan kecerdasan tinggi.

The Kauffman Assesment Battery for Children (K-ABC)

K-ABC dimaksudkan untuk mengakomodasi kebutuhan pengetesan


bagi

kelompok-kelompok

khusus,karena

kurang

mengandalkan

kemampuan verbal
Kaufman Addolesent And Adult Inteligence Test (KAIT)

11

Tes ini dirancang untuk usia 11 hingga 85 tahun atau lebih.

19

Psikodiagnostik II
Lusi Nur Ardhiani

Pusat Pengembangan Bahan Ajar


Universitas Mercu Buana

Tes ini menampilkan upaya untuk mengintegrasikan teori tentang


inteligensi cair dan kristal.

Soal-soal dalam tes ini cenderung menuntut semacam penyelesaian


masalah dari pikiran operasional formal Piaget dan fungsi-fungsi
evaluatif perencanaan

Kaufman Brief Inteligence Test (K-BIT)


Tes ini mencakup usia 4 hingga 90 tahun. Tes ini dirancang sebagai
instrumen penyaringan yang cepat untuk memperkirakan tingkat fungsi
intelektual.

Keterbatasan tes intelegensi


-

Hanya dapat dilakukan oleh orang terdidik dalam hal ini adalah
psikolog karena akan sangat membahayakan jika dilakukan orang
awam.

Ketepatan

interpretasi

sangat

tergantung

pada

reliabilitas

dan

validitas.
-

Kondisi testi yang sangat mempengaruhi hasil

Beberapa pendapat keliru mengenai tes intelegensi


-

Tes intelegensi mengukur kemampuan bawaan. Salah karena faktor


pengalaman sangat mempengaruhi.

Prediksi dari tes intelegensi akurat. Salah, karena dapat dipengaruhi


banyak hal

11

20

Psikodiagnostik II
Lusi Nur Ardhiani

Pusat Pengembangan Bahan Ajar


Universitas Mercu Buana

Skor tes intelegensi sangat reliabel. Salah, karena pengukuran aspek


non fisik tak dapat dilakukan secara konsisten dikarenakan banyak
faktor yang menjadi sumber kesalahan

Tes intelegensi dapat mengungkapkan semua informasi mengenai


kompetensi

potersual

dan

aktiual

yang

dimiliki

siswa

dalam

kemampuannya sebagai manidus. Salah,tes inrelegisi tak dapat


memberikan gambaran manusia seutuhnya

Modul III
PETUNJUK ADMINISTRASI PENYELENGGARAAN TES WBIS

Merupakan tes individual untuk usia diatas 16 tahun

Tester harus mencatat jawaban dari orang yang diperiksa (testee)

Tujuan dari tes ini bukan untuk menghasilkan informasi tentang


bagaimana sesorang akan bersikap, bertindak dalam suatu keadaan
tertentu, termasuk misalnya sukses atau gagal dalam menyelesaikan
jenjang pendidikan tertentu, teteapi berkenaan dengan bagaimana
umumnya seseorang diharapkan untuk berfungsi dalam menghadapi
berbagai situasi yang membutuhkan tindakan cerdas inteligensi
merupakan bagian dari kepribadian, bukan suatu keutuhan tersendiri

WBIS tergolong dalam tes tipe C

Persiapan pelaksanaan administrasi


Kelengkapan yang perlu dipersiapkan
-

11

Kotak WB (soal-soal, subtes yang dipilih, dsb)

21

Psikodiagnostik II
Lusi Nur Ardhiani

Pusat Pengembangan Bahan Ajar


Universitas Mercu Buana

Buku pedoman pemeriksaan (manual WBIS)

Stop watch

Formulir jawaban

Alat tulis dan lembar catatan


Suasana yang perlu diciptakan
Posisi

duduk

netral,

tidak

memposisikan

Testee

sebagai

pasien/penderita, memungkinkan catatan tidak terbaca, dll


-

Ruangan dan penerangan

Penjelasan tentang tujuan

Petunjuk umum
-

Diawali dengan building rapport

Tester membacakan istruksi petunjuk yang telah tersedia

Tidak diperkenankan mengajak testee berbincang-bincang selama tes

Apabila testee kurang jelas dengan instruksi, sebaiknya instruksi diulang


namun hindari memberi penjelasan lebih jauh
Pemberian subtes tidak harus berurutan

Tes WBIS terdiri dari 11 subtes, terbagi dalam 2 bagian:


Bagian verbal
1. General information (pengetahuan umum)
2. General comprehension (pengertian umum)
3. Arithmethical reasoning (kecakapan berhitung)
4. Digit span (rentang angka)
5. Similarities (persamaan)
6. Vocabulary ( perbendaharaan kata)
Bagian performance
7. Picture arrangement (menyusun gambar)
8. Picture completion (melengkapi gambar)
9. Object assembly (merakit obyek)

11

22

Psikodiagnostik II
Lusi Nur Ardhiani

Pusat Pengembangan Bahan Ajar


Universitas Mercu Buana

10.

Block design (menyusun kubus)

11.

Digit symbol (deret simbol)

Pemberian subtes sebaiknya diberikan semua jika ingin memperoleh


gambaran yang lebih menyeluruh.
Terdapat 3 pengecualian subjek:
a. Jika subjek tuna netra hanya bagian verbal yang disajikan
b. Jika subjek orang asing hanya bagian performance yg diberikan
c. Jika subjek berusia diatas 5o th kita dapat meniadakan beberapa
subtes tergantung kondisi
Catatan: peniadaan subtes harus dilakukan sebelum tes berlangsung,
tidak setelah tes berlangsung.
Untuk subjek dewasa normal, tidak perlu dihilangkan lebih dari 1 subtes

1. General information (pengetahuan umum)


o Bacakan instruksi sesuai panduan
o Pemeriksa memberi tanda + untuk jawaban benar dan untuk
jawaban salah pada lembar jawaban
o Jika jawaban subjek meragukan, lakukan inquiry:
Coba jelaskan lebih lanjut
o Jika subjek memberi dua jawaban atau lebih maka Tester harus
menanyakan mana jawaban yang dianggap paling benar
o Jika gagal menjawab pada pertanyaan mudah, lakukan inquiry
untuk mengamati apakah kegagalan tersebut merupakan indikasi
gangguan.
o Jika semua pertanyaan telah selesai, katakan
Kita telah selesai dengan subtes ini, mari kita lanjutkan ke subtes
berikutnya

11

23

Psikodiagnostik II
Lusi Nur Ardhiani

Pusat Pengembangan Bahan Ajar


Universitas Mercu Buana

Penilaian:
Skor 1 untuk setiap jawaban yang benar, 0 untuk jawaban yang salah.
Skor tertinggi : 25

2. General comprehension (pengertian umum)


o Bacakan instruksi dan pertanyaan dimulai dari no 1, jika dalam 1015 detik belum dijawab, pertanyaan dapat diulang kembali
o Tester menuliskan setiap jawaban Testee pada lembar jawaban
secara verbatim kata demi kata
o Terdapat 10 pertanyaan dan 2 pertanyaan pengganti. Pertanyaan
pengganti tidak diberikan untuk mengganti jawaban salah.
Pertanyaan pengganti ditetapkan sebelum tes.
o Jika jawaban pertanyaan pertama kurang tepat, maka Tester
diperbolehkan memberitahu jawaban yang benar. Namun khusus
untuk pertanyaan 1 saja subjek tidak mendapat nilai jika salah
Penilaian:
Skor 2 untuk jawaban yang benar dan lengkap
Skor 1 untuk jawaban yang kurang lengkap
Skor 0 untuk jawaban salah
Dinilai berdasar derajat umum dan kualitas jawaban
Skor tertinggi 20
3. Arithmetical Reasoning (kecakapan berhitung)
o Tes ini menggunakan stop watch

11

24

Psikodiagnostik II
Lusi Nur Ardhiani

Pusat Pengembangan Bahan Ajar


Universitas Mercu Buana

o Terdapat 10 soal, 8 soal dibacakan, 2 soal disajikan langsung untuk


dibaca sendiri oleh subjek.
o Tidak diperkenankan menggunakan coret-coretan
o Subjek diperkenankan menjawab meskipun waktu yang diberikan
telah habis, namun jawaban tetap diperhitungkan salah
o Bila hanya terlewat beberapa detik dapat menjadi bahan untuk
interpretasi kualitatif
o Bila masih ada waktu namun subjek menjawab salah, tester dapat
mengatakan bahwa jawaban itu salah dan bila subjek berhasil
membetulkan didalam batas waktu maka ia mendapat nilai
Penilaian:
o Setia soal yang dijawab dengan benar masih dalam batas waktu
mendapat skor 1
o Batas waktu sebagai berikut:
Soal

Waktu (detik)

1, 2, 3

15

4, 5, 6

30

7, 8

60

9, 10

120

Untuk soal no 9 dan 10


o Mendapat nilai 2 jika dijawab dengan benar dalam 40 detik
o Mendapat nilai 3 jika dijawab dengan benar dalam 15 detik
o Skor tertinggi : 16
4. Digit span (deret angka)
o Suasana tempat harus dipastikan tenang
o Terdiri dari 2 bagian: deret maju dan deret mundur

11

25

Psikodiagnostik II
Lusi Nur Ardhiani

Pusat Pengembangan Bahan Ajar


Universitas Mercu Buana

o Bacakan sesuai instruksi, dengan jeda 1 detik disetiap angka


o Beri tanda + jika jawaban betul jika jawaban salah
o Jika jawaban salah beri kesempatan untuk menjawab susunan
yang kedua
o Hentikan jika salah 2 kali pada jumlah digit yang sama
o Skor tertinggi : 17
o Beri catatan perilaku subjek dalam mengingat
5. Similarities (persamaan)
o Terdiri dari 12 pasang kata
o Bila gagal menjawab soal pertama, tester diperkenankan memberi
tahu jawaban yang benar, namun subjek tetap mendapat skor 0
o Penilaian:
o Skor 2, 1, atau 0
o Skor tertinggi 24
6. Vocabulary (perbendaharaan Kata)
o Catat semua jawaban secara lengkap pada lembar jawaban
o Penilaian : skor 1, atau 0 sesuai kunci jawaban
o Skor tertinggi 42
7. Picture arrangement (menyusun gambar)
o Sajikan sesuai nomor urut yang tertera dibelakang gambar
o Beri contoh dan penjelasan untuk gambar burung yang membuat
sarang
o Pada soal berikutnya tidak diberi penjelasan gambar
o Susunan peletakan kartu dihadapan tester sesuai angka 1-2-3
yang terdapat dibelakang gambar
o Susunan seri yang benar ditandai dengan hurut misal: PAT, ABCD
catat sebagai jawaban

11

26

Psikodiagnostik II
Lusi Nur Ardhiani

Pusat Pengembangan Bahan Ajar


Universitas Mercu Buana

o Terdapat pembatasan waktu seperti kecakapan berhitung


o Minta subjek mengatakan selesai agar waktu yg tercatat tepat
o Minta subjek menceritakan gambar dan catat cerita subjek
Penilaian :
o Gambar rumah, penodongan dan elevator diberi skor 2 jika benar 0
jika salah
o Seri gambar main mata, ikan dan taksi diberi skor 3, 2, 1 atau 0
sesuai ketentuan
o Skor tertinggi 21
8. Picture completion (melengkapi gambar)
o Sajikan gambar pertama dan jika subjek menjawab salah beri tahu
jawaban yang benar
o Jawaban yang benar juga dapat diberikan untuk pertanyaan kedua,
namun untuk gambar ke 3 dan seterusnya tidak lagi
diperkenankan meberi bantuan
o Waktu melihat gambar sekitar 15-20 detik, bila subjek tidak dapat
menemukan sajikan gambar berikutnya
o Jika pada no 11, dijawab kakinya tidak ada, maka subjek
mengatakan ya, apa lagi? (jika jawaban tetap salah maka subjek
dianggap gagal)
Penilaian
o Skor 1 untuk setiap jawaban benar
o Skor tertinggi 15
9. Objek Assembly (Merakit objek)
o Terdapat 3 persoalan, sajikan sesuai petunjuk pada diagram yang
telah ditetapkan

11

27

Psikodiagnostik II
Lusi Nur Ardhiani

Pusat Pengembangan Bahan Ajar


Universitas Mercu Buana

o Untuk soal pertama, diberi tahu bahwa potongan tersebut


merupakan potongan bagian boneka
o Batas waktu: boneka (2 menit), kepala (3 menit), tangan (3 menit)
o Skor berkisar 0-6 ada tambahan nilai pada percobaan kepada dan
tangan bila dikerjakan dalam batas waktu tertentu
o Skor tertinggi 26
10. Blok desain (menyusun kubus)
o Letakkan 4 kubus, bacakan instruksi
o Tester menyusun (memberi contoh untuk pola no 1)
o Jika subjek sudah mengerti, maka pelaksanaan tes dimulai dengan
menyajikan kartu pola 1
o Aduk-aduk kubus setiap kali selesai 1 pola
o Setelah pola 4 selesai tambahkan 5 kubus lagi, dan menggunakan
9 kubus untuk kartu pola 5 dan 6
o Setelah pola 6, tester menambahkan 7 kubus sisanya dan
menggunakan 16 kubus untuk pola no 7
Penilaian
o Skor 6, 5, 4, 3, diberikan bagi susunan yang benar dalam batas
waktu tertentu sesuai dengan tabel scoring
o Bila susunan benar tapi diluar batas waktu, beri skor 0
o Skor tertinggi 42
11. Digit symbol (deret simbol)
o Bacakan instruksi sesuai petunjuk
o Persiapkan stopwatch
o Batas waktu percobaan 90 detik
o Pemeriksa memberi contoh sampai no 5
o Katakana berhenti saat 90 detik

11

28

Psikodiagnostik II
Lusi Nur Ardhiani

Pusat Pengembangan Bahan Ajar


Universitas Mercu Buana

Penilaian
o Skor 1 untuk setiap tanda yang benar, skor untuk tanda N
terbalik jika ditulis sebagai huruf N
o Skor tertinggi 67

Administrasi tes bentuk pendek


-

Administrasi bentuk pendek dapat dilakukan namun kurang lengkap


untuk interpretasi

Bentuk pendek yang umum digunakan


o 2 subtes verbal (aritmatic dan vocabulary)
o 2 subtes performance (block design dan picture arrangement)

Cara pendek lainya dengan memberikan semua subtes namun dengan


hanya memberi 1/3 dari item-itemnya

11

29

Psikodiagnostik II
Lusi Nur Ardhiani

Pusat Pengembangan Bahan Ajar


Universitas Mercu Buana