Anda di halaman 1dari 30

REFERAT

ILMU ANESTESI
PRE OPERATIVE VISITE, PERSIAPAN ANESTESI,
PREMEDIKASI, RUANG PULIH SADAR

Pembimbing :
dr. Subagja Nata Atmaja, Sp. An

Penyusun :
Yohana Natalia Nurhaeni

2009 04 0 0110

Elfan Winoto

2009 04 0 0082

FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS HANG TUAH SURABAYA
2015

HALAMAN PENGESAHAN

Telah disahkan referat ilmu anestesi berjudul Pre Operative Visite,


Persiapan Anestesi, Premedikasi, Ruang Pulih Sadar yang digunakan
sebagai salah satu syarat dalam mengikuti tugas kepaniteraan di
Departemen Ilmu Anestesi RSAL dr. Ramelan Surabaya.

Penyusun :
Yohana Natalia Nurhaeni

2009 04 0 0110

Elfan Winoto

2009 04 0 0082

Disahkan oleh :
Pembimbing

dr. Subagja Nata Atmaja, Sp. An

DAFTAR ISI

LEMBAR PENGESAHAN.............................................................................
DAFTAR ISI..................................................................................................
BAB I PENDAHULUAN ..............................................................................
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA ......................................................................
2.1

Pre Operative Visite...........................................................................


2.1.1 Pendahuluan................................................................................
2.1.2 Anamnesa....................................................................................
2.1.3 Pemeriksaan fisik.........................................................................
2.1.4 Pemeriksaan laboratorium...........................................................

2.2

Persiapan Anestesi..........................................................................
2.2.1 Persiapan pada hari operasi......................................................

2.3

Premedikasi......................................................................................
2.3.1 Tujuan Premedikasi...................................................................
2.3.2 Faktor-faktor yang mempengaruhi dosis obat...........................
2.3.3 Obat-obat premedikasi..............................................................

2.4

Ruang Pulih Sadar...........................................................................


2.4.1 Definisi.......................................................................................
2.4.2 Lokasi.........................................................................................
2.4.3 Alat-alat yang disediakan..........................................................
2.4.4 Sumber daya manusia...............................................................
2.4.5 Pemantauan pasca anestesi dan kriteria pengeluaran.............
2.4.6 Penilaian pasien untuk dipindahkan ke ruang perawatan
atau ke ICU (Intensive Care Unit)..............................................
2.4.7 Masalah di ruang pulih sadar....................................................

BAB III KESIMPULAN ...............................................................................


DAFTAR PUSTAKA ..................................................................................

BAB I
PENDAHULUAN
Kata

Anestesi

diperkenalkan

Oliver

Wendell

Holmes

yang

menggambarkan keadaan tidak sadar yang bersifat sementara, karena


pemberian obat dengan tujuan untuk menghilangkan nyeri pembedahan.
Analgesia ialah pemberian obat untuk menghilangkan nyeri tanpa
menghilangkan kesadaran pasien.
Anestesiologi aialah ilmu kedokteran yang pada awalnya berprofesi
menghilangkan nyeri dan rumatan pasien sebelum, selama dan sesudah
pembedahan. Definisi Anestesiologi berkembang terus sesuai dengan
perkembangan ilmu kedokteran. Definisi yang ditegakkan oleh The
American Board Of Anesthesiology pada tahun 1989 yaitu mencakup
semua kegiatan profesi atau praktek sebagai berikut :
1. Menilai, merancang dan menyiapkan pasien untuk anesthesia
2. Membantu

pasien

menghilangkan

nyeri

saat

pembedahan,

persalinan atau pada saat dilakukan tindakan diagnostik


terapeutik.
3. Memantau dan memperbaiki homeostasis pasien perioperatif dan
pasien yang dalam keadaan kritis.
4. Mendiagnosa dan mengobati sindroma nyeri
5. Mengelola dan mengajarkan Resusitasi Jantung Paru (RJP)
6. Membuat evaluasi fungsi pernafasan dan mengobati gangguan
pernafasan.
7. Mengajarkan, memberi supervisi dan mengadakan evaluasi tentang
penampilan

personel

paramedik

dalam

bidang

perawatan pemapasan dan perawatan pasien kritis.


1

anestesia,

8. Mengadakan penelitian tentang ilmu dasar dan ilmu klinik untuk


menjelaskan dan memperbaiki perawatan pasien terutama tentang
fungsi fisiologis dan respon terhadap obat.
9. Melibatkan diri dalam administrasi rumah sakit, pendidikan
kedokteran dan fasilitas rawat jalan yang diperlukan untuk
implementasi pertanggungjawaban.
Sebelum dilakukan anestesi harus melewati beberapa tahapan,
yaitu mulai pre operative visite, persiapan anestesi, premedikasi, dan
ruang pulih sadar. Secara garis besar persiapan pra anestesi dibagi
menjadi dua, yaitu pre-operative visite dan premedikasi. Dokter
anestesi harus dapat menilai dan melakukan persiapan dalam waktu
singkat pada operasi darurat, karena penundaan operasi dapat
berakibat buruk bagi pasien dan keluarganya.
Pemberian anestesi pada pembedahan dapat menyebabkan
keadaan yang mengancam jiwa oleh karena gangguan jalan nafas,
sirkulasi, dan fungsi otak yang dapat disebabkan oleh obat dan teknik
anestesi maupun oleh karena pembedahannya. Pasien yang akan
menjalani anestesi dan pembedahan harus dipersiapkan dengan baik,
karena apabila kurang memadai dapat meningkatkan resiko terjadinya
kecelakaan anestesi.

BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA

2.1

Pre Operative Visite

2.1.1 Pendahuluan
Semua pasien yang akan menjalani pembedahan dan anestesi
harus diperiksa lebih dulu oleh dokter yang akan memberikan anestesi.
Pemeriksaan terhadap pasien yang akan dianestesi setidaknya satu hari
sebelum operasi dan bila tindakan perbedahan terencana atau waktu
dikonsulkan ke ahli bedah pada waktu darurat.
Setiap akan melakukan pembedahan dan anestesi perlu dilakukan
persiapan untuk memberi rasa nyaman pada pasien dan mencegah
terjadinya kecelakaan anestesi. Tujuan kunjungan pre-operatif :
1
2
3
4

Membina hubungan baik dengan pasien


Mengetahui riwayat anestesi dan penyakit terdahulu
Menjelaskan resiko anestesi pembedahan
Melakukan pemeriksaan terhadap pasien baik pemeriksaan fisik

maupun pemeriksaan khusus


5 Mengadakan pengelolaan praoperative
6 Merencanakan dan menentukan obat premedikasi, obat anestesi
dan pengelolaan anestesi yang seusai dengan kondisi pasien.
Pemeriksaan pre operatif dilakukan dengan melakukan anamnesa,
pemeriksaan fisik dan pemeriksaan laboratorium. Pemeriksaan preoperatif
meliputi :
A : Alergi
M : Medical drug
P : Past Ilness
L : Last meal
E : Exposure

2.1.2 Anamnesa
Diperoleh dari data pasien (autoanamnesa) atau dari keluarga
(heteroanamnesa) meliputi :
a Identitas pasien (nama, umur, alamat, pekerjaan, dll)
b Riwayat penyakit yang pernah atau sedang diderita yang mungkin
dapat menjadi penyulit dalam anestesi, antara lain :
1) Penyakit alergi.
2) Diabetes mellitus
3) Penyakit paru kronik : asma bronchiale, pneumonia, bronchitis.
4) Penyakit jantung dan hipertensi (seperti infark miokard, angina
pectoris, dekompensasi kordis)
5) Penyakit susunan saraf (seperti stroke, kejang, parese, plegi, dll)
6) Penyakit hati
7) Penyakit ginjal.
8) Penyakit ganguan perdarahan (riwayat perdarahan memanjang)
c Riwayat penyakit keluarga yang bersifat herediter.
d Riwayat adanya kehamilan : pada pasien yang hamil, pemilihan
anestesi harus hati-hati karena dapat berpengaruh pada janinnya.
e Riwayat obat-obatan yang digunakan dan mungkin menimbulkan
interaksi dengan obat-obat anestesi. Riwayat obat-obat yang
sedang

atau

telah

digunakan

dan

mungkin

menimbulkan

interaksi (potensiasi, sinergis, antagonis dll) dengan obat-obat


anestetik. Misalnya, obat anti hipertensi, obat-obat antidiabetik,
antibiotik golongan aminoglikosida, obat penyakit jantung (seperti
f

digitalis, diuretika), monoamino oxidase inhibitor, bronkodilator.


Riwayat alergi : Reaksi alergi kadang-kadang salah diartikan oleh
pasien dan kurangnya dokumentasi sehingga tidak didapatkan
keterangan yang memadai. Beratnya alergi mulai asimptomatik
hingga reaksi anafilaktik yang mengancam kehidupan, akan tetapi
seringkali alergi dilaporkan hanya karena intoleransi obat-obatan.
Pada evaluasi pre operatif dicatat seluruh reaksi obat dengan
penjelasan tentang kemungkinan terjadinya respon alergi yang
serius, termasuk reaksi terhadap plester, sabun iodine dan lateks.
Jika respon alergi terlihat, obat penyebab tidak diberikan lagi tanpa
tes imunologik atau diberi terapi awal dengan antihistamin, atau
kortikosteroid.

g Riwayat operasi dan anestesi sebelumnya meliputi beberapa kali


dan waktunya kapan (apakah pasien mengalami komplikasi saat itu
seperti kesulitan pulih sadar, perawatan intensif pasca bedah, dll)
h Riwayat sistem organ meliputi keadaan umum, pernafasan,
kardiovaskuler,
i

ginjal,

gastrointestinal,

hematologi,

endokrin, psikiatrik, ortopedi dan dermatologi


Kebiasaan buruk yang mempengaruhi anestesi

neurologi,
semisalnya

merupakan :
1) Perokok berat : Perokok berat (diatas 20 batang perhari) dapat
mempersulit induksi

anestesi karena

merangasang

batuk,

sekresi jalan nafas yang banyak, memicu atelektasis dan


pneumonia pasca bedah. Rokok sebaiknya dihentikan minimal
24 jam sebelumnya untuk menghindari adanya CO dalam darah
2) Peminum alkohol : umumnya resisten terhadap obat- obat
anestesi khususnya golongan barbiturat. Peminum alkohol
dapat menderita sirosis hepatic
3) Pecandu narkoba dan penenang
j Makan minum terakhir (khusus untuk operasi emergensi)

2.1.3 Pemeriksaan fisik


Secara keseluruhan dilakukan pemeriksaan 6B, yaitu :
I. Breath
Meliputi : pemeriksaan sistem pernafasan, perhatikan frekuensi nafas,
dengarkan suara nafas, gerakan dada, pasien sesak atau nyeri.
Permasalahan pernafasan itu ada dua, yaitu:
a Jalan nafas (airway) : bebas atau tidak
1) Disebut bebas : apabila penderita dapat bernafas dengan baik
atau diberi nafas dengan mudah, suara nafas bersih dan tidak
ada suara nafas tambahan
2) Disebut tidak bebas : apabila penderita memerlukan bantuan
untuk bernafas
a) Bantuan manual (tanpa alat) dengan triple airway manuver
(Head tilt, Chin lift, Jaw thrust)
b) Bantuan jalan nafas buatan (dengan alat)

Jalan nafas oro/ nasofaring (jangan dipaksa jika reflek


muntah masih ada, untuk dewasa 7 mm atau sebesar jari

kelingking kanan)
Laringeal Mask Airway
Cricothyrotomy / trakeostomi

b Pernafasan (breathing) : penderita bernafas atau tidak


1) Bila penderita bernafas, tapi mungkin tidak memadai dapat
diberikan :
a) Terapi oksigen
b) Bronkial toilet, yaitu dicoba batuk sendiri, tapi bila tidak
mampu mengeluarkan secret lakukan dengan penghisapan
intra trakeal atau bronchial
c) Chest physicotherapy, yaitu latih cara menarik nafas dalam
dan batuk
d) Nafas buatan jangka panjang (ventilator), yaitu diberikan bila
poin 1 sampai 3 gagal memberikan O2 yang memadai.
2) Bila penderita tidak bernafas
a) Nafas buatan tanpa alat
b) Nafas buatan dengan alat : ambu bag, jackson reese,
respirator atau ventilator
Selain memperhatikan jalan nafas kita juga perlu memperhatikan
gangguan membuka mulut (jarak minimal 4 cm), kekakuan otot,
masalah gigi (ompong, gigi palsu, gigi goyah, dll), leher yang terlalu
pendek, kesemua itu dapat mempersulit intubasi. Untuk mengetahui
apakah panjang leher cukup untuk melakukan intubasi, yaitu dengan
mengukur jarak mentohyoid dengan os hyoid. Normalnya adalah 4
cm atau 7 cm. Pemeriksaan rongga mulut juga dapat dilakukan
dengan cara pemeriksaan mallampati, yaitu mulut terbuka maksimal
dan lidah dijulurkan. Pemeriksaan mallampati dibagi beberapa
derajat, yaitu:

Derajat 1 : uvula terlihat semua


Derajat 2 : uvula terlihat sebagian
Derajat 3 : uvula tidak terlihat, hanya terlihat palatum molle
Derajat 4 : hanya terlihat palatum durum

II. Blood

Tekanan nadi, pengisian nadi, tekanan darah, perfusi perifer. Nilai


syok atau perdarahan, Hb. Lakukan pemeriksaan jantung (ECG)
tentukan adanya aritmia yang berbahaya dimana segera memerlukan
tindakan menilai fungsi jantung
III. Brain
GCS, adakah kelumpuhan saraf atau kelainan neurologis, tandatanda peningkatan TIK. Pemeriksaan tingkat kesadaran penderita
dengan cara : Kualitatif (composmentis, somnolen, sopor, coma) dan
Kuantitatif (GCS)
IV. Bowel
Pembesaran hepar. Bising usus dan peristaltik usus. cairan bebas
dalam perut atau massa abdominal. Makan minum terakhir harus
diperhatikan

karena

menimbulkan

efek

muntah

yang

dapat

mengakibatkan aspirasi muntah kedalam paru-paru.


Perut kembung dapat menyebabkan diafragma terdorong keatas
sehingga pergerakan terganggu, kemudian paru-paru terbatas bergerak
sehingga menimbulkan hipoventilasi.
V. Bladder
Produksi urin. pemeriksaan faal ginjal yang mana secara umum
akan menggambarkan hemodinamik penderita, rehidrasi dan hormonal.
Pemeriksaan urine dilakukan dengan memeriksa :
Produksi urine
Serum kreatinin
BUN
Sedimen urine
VI. Bone
Kelainan postur tubuh, kelainan neuromuskular, patah tulang.
Kelainan postur dapat mempengaruhi fungsi tubuh dan menjadi penyulit
saat

anastesi.

Bentuk

tulang

belakang

yang

abnormal

dapat

mempengaruhi anatomi tubuh. Patah tulang leher terutama pada C2


dapat menyebabkan tetraplegi dan kelumpuhan otot diafragma
sehingga penderita meninggal karena gangguan nafas.

2.1.4 Pemeriksaan laboratorium


a.
b.
c.
d.

Pemeriksaan darah rutin (Hb, Leukosit, trombosit, Hematokrit)


Foto thorax : untuk bedah mayor
EKG : untuk pasien diatas 40 tahun
Pemeriksaan kimia klinik
o Fungsi hepar (SGOT, SGPT, albumin) pada pasien ikterus
o Fungsi ginjal (urine lengkap, BUN, serum kreatinin) pada

pasien hipertensi
o Faal hemostasis
o Serum elektrolit (Na, K, Cl)
o Analisa gas darah, apabila ada gangguan respirasi
e. Pemeriksaan berdasarkan indikasi
o Radiologi (foto thoraks,foto cervical,BOF,CT scan,USG, dll)
o Laboratorium (gula darah)
o EKG pada anak, Echocardiografi, treadmil test, dll
Pasien

yang

akan

menjalani

anestesi

dan

pembedahan

dikategorikan dalam beberapa status fisik sesuai klasifikasi American


Society of Anesthesiologist (ASA) sebagai berikut:

ASA I: Pasien normal tanpa gangguan organ, fisiologis, biokimia


maupun psikiatrik, proses patologis yang akan dilakukan operasi
terbatas lokasinya dan tidak akan menyebabkan gangguan sistemik.
Misalnya : Pada seorang dewasa muda sehat yang akan menjalani
operasi hernia inguinalis, atau seorang wanita muda sehat dengan

myoma uteri yang akan dilakukan myomektomi.


ASA II: Pasien dengan penyakit sistemik ringan dan tidak ada
keterbatasan fungsional, orang tua > 60 tahun , anak < 1 tahun.
Misalnya : Pasien dengan penyakit jantung organik tanpa pembatasan
aktifitas atau dengan pembatasan aktifitas, direncanakan operasi
hernia, pasien dengan anemia, pasien dengan umur ekstrim
(neonatus/geriatrik) tanpa penyakit sistemik, obesitas, bronkitis kronis.

ASA III : Pasien dengan penyakit sistemik sedang sampai berat yang
menyebabkan keterbatasan fungsi, harus selalu minum obat untuk
kelangsungan hidupnya dan aktifitas sehari hari terbatas.
Misalnya : Pada DM berat dengan komplikasi vaskuler, inusifiensi paru
sedang sampai berat, angina pectori, infark miokard yang lama.

ASA IV: Pasien dengan penyakit sistemik berat yang mengancam


hidup dan menyebabkan ketidakmampuan fungsi.
Misalnya : Pasien dengan dekompensasi jantung, pasien dengan
angina pektoris yang terus menerus, insufisiensi berat dari faal paru,
hepar, ginjal atau endokrin.

ASA V: Pasien yang diperkirakan tidak dapat hidup atau bertahan


dalam 24 jam dengan atau tanpa operasi.
Misalnya : shock karena perdarahan, pasien trauma kepala hebat
dengan peningkatan tekanan intrakranial

Bila operasi yang dilakukan darurat (emergency) maka setiap pasien dari
masing-masing kelas tersebut diatas yang mengalami pebedahan darurat
dipertimbangkan menjadi dalam kondisi fisik yang lebih jelek sehingga
penggolongan ASA diikuti huruf E (misalnya E1,E2,E3,E4,E5)

2.2

Persiapan Anestesi

2.2.1 Persiapan pada hari operasi


Dilakukan persiapan sebelum pasien dibawa ke ruang operasi
meliputi :
a. Pembersihan dan pengosongan saluran cerna
Pengosongan lambung sebelum anestesi

penting

untuk

mencegah aspirasi isi lambung karena regurgitasi dan muntah. Pada


pembedahan elektif, pengosongan lambung dilakukan dengan puasa,
pasien dewasa 6-8 jam, sedangkan pasien anak 3- 5 jam.
Pada pembedahan darurat pengosongan lambung

dapat

dilakukan lebih aktif dengan merangsang muntah, memasang pipa


nasogastrik atau memberi obat yang menyebabkan muntah seperti
apomorphin, dll. Cara-cara ini tidak menyenangkan untuk pasien
sehingga jarang sekali dilakukan. Cara lain yang dapat ditempuh
adalah dengan pemberian antasida (magnesium trisiklat) atau
antagonis reseptor H2 (cimetidine atau ranitidine). Puasa yang cukup
lama pada kasus akut kadang-kadang tidak menjamin lambung
9

kosong secara sempurna,misalnya pada stress mental yang hebat,


kehamilan, rasa nyeri, atau pada pasien DM. Pemberian obat
pencahar umumnya diberikan pada laparotomi eksplorasi. Komplikasi
penting yang harus dihindari karena puasa adalah hipoglikemia atau
dehidrasi, terutama pada bayi, anak, dan pasien geriatri.
b. Gigi palsu, bulu mata palsu, cincin, gelang harus ditanggalkan dan
bahan kosmetik seperti lipstik, cat kuku harus dibersihkan agar tidak
mengganggu pemeriksaan selama anestesia misal sianosis
c. Kandung kemih haru kosong, bila perlu dilakukan kateterisasi.
d. Untuk membersihkan jalan nafas, pasien diminta untuk batuk sekuatsekuatnya dan mengeluarkan lendir jalan nafas
e. Penderita dimasukan ke dalam kamar bedah dengan memakai
pakaian khusus, diberikan tanda atau label, terutama untuk bayi.
Periksa sekali lagi apakah pasien atau keluarga sudah memberi izin
pembedahan secara tertulis (informed consent)
f. Pemeriksaan fisik yang penting dapat diulangi sekali lagi di kamar
operasi karena mungkin terjadi perubahan makna yang dapat
menyulitkan perjalanan anestesi, misalnya hipertensi mendadak,
dehidrasi, atau serangan asma akut.
Pemberian obat premedikasi secara intramuskular atau oral dapat
diberikan - 1jam sebelum dilakukan induksi anestesi atau beberapa
menit bila diberikan secara intravena.

2.3

Premedikasi
Premedikasi adalah pemberian obat 1-2 jam sebelum induksi

anastesia dengan tujuan melancarkan induksi, rumatan dan bangun dari


anesthesia.

2.3.1 Tujuan Premedikasi


Tujuan

utama

pemberian

premedikasi

tidak

hanya

unuk

mempermudah induksi dan mengurangi jumlah obat-obatan yang akan


digunakan akan tetapi terutama untuk menenangkan pasien sebagai
persiapan anestesi.
10

Tujuan dilakukannya premedikasi antara lain:


a. Meredakan kecemasan dan ketakutan
Kecemasan merupakan reaksi yang alami dan terjadi pada
seseorang yang dihadapkan pada suatu situasi yang tidak pasti.
Kunjungan pra anastesia dan pemberian simpati dengan sedikit
pengertian dalam masalah yang dihadapi pasien dapat membantu
pasien dalam mengatasi rasa sakit dan kawatir dalam menghadapi
operasi.
Obat pereda kecemasan yang dapat digunakan antara lain
diazepam peroral 10-15 mg diberikan beberapa jam sebelum induksi
anastesia. Apabila disertai nyeri karena penyakitnya dapat diberikan
opioid speerti petidin 50 mg intramuskular.
b. Memperlancar induksi anesthesia
Pada saat ini kebutuhan pemberian obat-obatan khusus untuk
membantu induksi anesthesia lebih mudah sudah berkurang. Hal ini
karena banyak dipakai induksi intravena dan penggunaan pelemas
otot yang mengurangi kesulitan khususnya pernafasan.
c. Mengurangi sekresi kelenjar ludah dan bronkus
Sekresi berlangsung selama anesthesia dan dapat dirangsang
oleh tindakan seperti pengisapan atau pemasangan pipa jalan nafas
trakea
d. Meminimalkan jumlah obat anestetik
Tujuan premedikasi antara lain untuk mengurangi metabolisme
basal, sehinggan induksi dan pemeliharaan anestesi menjadi lebih
mudah dan diperlukan obat-obatan lebih sedikit sehingga pasien akan
sadar lebih cepat.
e. Mengurangi mual, muntah pasca bedah
Untuk mengurangi mual dan muntah pasca bedah, dapat
diberikan premedikasi droperidol secara intramuskular dengan dosis
2,5-5mg atau dapat juga dibarikan ondansetrom (zofran, narfoz)
dengan dosis 2-4mg.
f. Menciptakan amnesia
Banyak obat premedikasi menyebabkan amnesia atu tidak
menimbulkan potensial efek amnesia dengan obat anestetik.
g. Mengurangi isi cairan lambung
Cairan lambung 25ml dengan pH 2,5 dapat menyebabkan
pneumonitis asam. Sehingga untuk meminimalkan kejadian tersebut dapat
11

diberikan antagonis reseptor H2 histamin seperti simetidin peroral dengan


dosis 600 mg atau ranitidin peroral (zantac) 150 mg 1-2 jam sebelum
jadwal operasi.
h. Mengurangi reflex yang membahayakan
Trauma bedah dapat menyebabkan bagian tubuh bergerak, bila
anestesi tidak memadai. Obat-obatan analgetika dapat diberikan sebelum
pembedahan, sehingga anesthesia lemah seperti N 2O memerlukan sedikit
penambahan obat-obatan lain selama anastesi.

2.3.2 Faktor-faktor yang mempengaruhi dosis obat


Faktor-faktor yang mempengaruhi dosis obat antara lain:
a. Usia
Merupakan variabel yang penting dalamn kerja obat. Sesudah
usia 40 tahun, efek narkotika dan sedatif meninggi karena rasa nyeri
berkurang dengan peningkatan usia. Hal ini disebabkan oleh karena
penurunan

kepekaan

terhadap

rangsangan

sensorik.

Dengan

pertambahan usia tidak hanya terjadi penurunan persepsi nyeri, tetapi


juga terjadi penurunan aktifitas refleks jalan nafas.
b. Suhu
Tiap kenaikan suhu 1 derajat fahrenheit, laju metabolisme basal
naik sebesar 7%.
c. Emosi
Mungkin merupakan

penyebab

terbanyak

kenaikan

laju

metabolisme basal pra anesthesia. Takut dan ketegangan merupakan


faktor utama dan keduanya meninggikan kepekaan terhadap rasa
nyeri.
d. Penyakit
Pasien

harus

dinilai

sehubungan

dengan

penyakit

dan

terapinya. Pada pasien penyakit kronis seperti osteomielitis dengan


gizi buruk, morfin dapat lebih mudah mencapai dosis toksik, karena
hepar tidak dapat mengolah mofin dosis besar. Pada pasien anemia,
pemakaian opioid atau obat depresan sebaiknya dosis dikurangi.

12

2.3.3 Obat-obat premedikasi


Obat-obat yang digunakan pada premedikasi adalah golongan
analgetik

narkotik,

sedatif,

antikolinergik,

tranquilizer,

antihistamin,

antasida, histamin H2 reseptor antagonis, dan antiemetik.


a. Analgetik Narkotik
Macam obat golongan narkotik antara lain:
1) Morfin
Obat ini digunakan untuk mengurangi kecemasan dan
ketegangan

pasien

menjelang

pembedahan.

Morfin

adalah

depresan susunan saraf pusat. Bila rasa nyeri telah ada sejak
sebelum tindakan bedah, ini merupakan obat pilihan. Memberikan
pemeliharaan anestesi yang mulus, bila memakai premedikasi
morfin pada penggunaan anestesi lemah.
Kerugian penggunaan morfin, pemulihan pasca bedah lebih
lama. Penyempitan bronkus dapat timbul pada pasien asthma.
Terdapat juga mual dan muntah pasca bedah. Morfin juga dapat
menyebabkan obstipasi atau konstipasi pasca anestesia serta
menurunkan basal metabolisme tubuh.
2) Pethidin
Berefek sedasi, analgesia dan antispasmolitik. Bila bersama
barbiturat memiliki efek amnesia. Dosis 1mg/kgbb (dewasa) sering
digunakan sebagai premedikasi seperti morfin dan menekan
tekanan darah, pernafasan dan juga merangsang otot polos. Selain
itu dapat menyebabkan mulut kering, berkeringat dan euforia.
3) Fentanil
Merupakan narkotik sintetik yang sangat poten 75 - 125 kali
dari morfin. Dapat menyebabkan depresi napas dan kaku otot
rangka. Memilki efek kholinergik sehingga dapat menyebabkan
bradikardia. Dosis premedikasi 0,05 - 0,1 mg/kg.
Efek samping semua narkotik adalah depresi napas, mual dan
muntah, melalui barier (sawar) plasenta, dan ketergantungan obat.
Antagonis narkotik adalah Nalokson.
b. Sedatif
13

1) Golongan barbiturat
Pentobarbital (nombutal), sekobarbital (sekonal)
Pentobarbital dan sekobarbital sering digunakan untuk
menimbulkan sedasi dan menghilangkan kekhawatiran sebelum
operasi. Obat ini dapat diberikan secara oral atau intramuscular,
pada dewasa dosis 100-200 mg dan pada bayi dan anak
dosisnya 2mg/kgbb. Obat ini memiliki efek sedatif kuat sampai
hipnotis, namun tidak memiliki efek analgesia. Depresi sirkulasi
dan pernapasan yang ditimbulkannya minimal dan dapat melalui
barier plasenta. Bila diberikan tanpa kombinasi dengan obat
analgetik dapat menimbulkan rasa gelisah pada pasien.

Fenobarbital (luminal)
Obat ini mempunyai kerja depresan yang lemah terhadap
pernafasan dan sirkulasi serta jarang menyebabkan mual dan
muntah.

Diberikan

per

oral

atau

intramuskular

dengan

dosis1,5mg/kgBB. Untuk menimbulkan efek hipnosis diberikan


dosis 100mg.
Pasien yang mendapat barbiturate sebagai premedikasi
biasanya bangun lebih cepat daripada bila menggunakan narkotika.
2) Golongan benzodiazepin
Midazolam (dormicum)
Memiliki efek antiansietas,

sedasi,

amnesia

dan

antikonvulsi, namun tidak memiliki efek analgesik. Obat ini tidak


mendepresi nafas dan sirkulasi. Obat ini larut air dan tidak
memberikan rasa nyeri sehingga dapat diberikan secara

intramuskular maupun intravena.


Diazepam (valium)
Diazepam bekerja pada reseptor otak yang spesifik,
menghasilkan efek anti-anxietas yang selektif pada dosis yang
tidak menimbulkan sedasi yang berlebihan , depresi nafas, mual
atau

muntah.

Kerugian

penggunaan

diazepam

untuk

premedikasi ini adalah kadang-kadang pada orang tertentu

14

dapat menyebabkan sedasi yang berkepanjangan. Obat ini lebih


sukar untuk larut air sehingga menimbulkan rasa nyeri.
3) Golongan Butyrophenon
Dehidrobenzperidrol (dbp) = droperidol
Obat

ini

memiliki

efek

neuroleptik,

transquilizer

dan

antiemetik. Droperidol dapat menyebabkan vasodilatasi pembuluh


darah tepi sehingga seringkali menimbulkan hipotensi bila diberikan
secara intravena, sehingga pasien harus diberikan infus terlebih
dahulu. Obat ini digunakan pada pasien dengan resiko tinggi,
misalnya pada operasi mata, pasien dengan riwayat sering muntah
dan

obesitas.

Dosis

2,5-5mg

im

digunakan

sebagai

obat

premedikasi dengan kombinasi narkotik. Pada dosis besar dapat


menumbulkan gejala Parkinson
c. Antikolinergik
Sulfas atropin
Memiliki efek antisialagogue dan efek vagolitik kuat untuk
mencegah bradikardia. Obat ini bersifat bronkodilatasi, dapat
menimbulkan

takikardia,

meningkatkan

suhu,

midriasis

dan

lakrimasi. Dosis premedikasi 0,001 - 0,002 mg/kgBB.

Skopolamin
Memiliki efek antisialagogue seperti sulfas atropin. Bersifat
sedasi dan amnesia. Efek vagolitik lebih ringan dari atropin dan
tidak meningkatkan suhu tubuh. Dosis premedikasi : 0,001 - 0,002
mg/kgBB.

Glikopirolat (robinul)
Merupakan obat antikolinergik sintetikyang memiliki efek
stimulasi SSP dan efek takikardi lebih rendah daripada atropin.
Dosis premedikasi : 0,1 - 0,2 mg/kgBB.

d. Tranquilizer

15

Bermacam-macam jenis turunan fenotiasin dan penenang yang


digunakan sebagai premedikasi. Obat-obat ini digunakan oleh karena
kerja sedative, anti aritmia, antihistamin dan kerja antiemetic, kadangkadang dikombinasikan dengan barbiturate atau narkotika. Kombinasi
ini memberikan sedasi yang kuat. Contoh : phenergan 25 mg untuk
dewasa.
e. Antihistamin
Dari golongan ini yang sering digunakan sebagai obat
premedikasi ialah promethazib (phenergan) dengan dosis 12,5-25 mg
im, pada orang dewasa. Digunakan pada pasien dengan riwayat asma
bronchiale.
f. Antasida
Pemberian antasida 15-30 menit pra induksi hamp[ir 100%
efektif untuk menaikan pH asam lambung di atas 2,5. Seperti
diketahui, aspirasi cairan asam lambung dengan pH yang rendah
dapat menimbulkan acid aspiration syndrome atau disebut dengan
Mendelson syndrome. Selain meningkatkan pH asam lambung juga
dapat meningkatkan tonus sphincter esophagus. Contoh antasida yang
dapat digunakan adalah Belusil atau Mylanta) dengan dosis 15 - 30cc
30 menit sebelum anestesi.

g. Histamin H2 reseptor antagonis


Obat ini melawan kemampuan histamine dalam meningkatkan
sekresi lambung yang mengandung ion H+ tinggi. Dari kepustakaaan
disebutkan bahwa pemberian cimetidine oral 300 mg 1-1,5 jam pra
induksi dapat menaikan pH cairan lambung diatas 2,5 pada lebih dari
80%pasien. Dapat pula diberikan secara iv dengan dosis yang sama 2
jam sebelum induksi dimulai.

16

h. Antiemetik
4) Dehidrobenzperidol
5) Metoklorpramid (primperan)
Memiliki efek meningkatkan motilitas esofagus inferior dan
relaksasi pilorus serta mempercepat pengosongan lambung.

Dosis : 10 - 20 mg IV perlahan-lahan.
Ondansetron (zolfran)
Menghambat reseptor 5 hidrositriptamin dan serotonin.
Mekanisme kerja belum diketahui secara pasti. Berguna untuk
mengurangi muntah pasca kemoterapi. Dosis antiemesis : 4 mg
(dewasa).

2.4

Ruang Pulih Sadar

2.4.1 Definisi
Ruang pemulihan (Recovery Room) atau disebut juga Post
Anesthesia Care Unit (PACU) adalah ruangan tempat pengawasan dan
pengelolaan secara ketat pada pasien yang baru saja menjalani operasi
sampai dengan keadaan umum pasien stabil.
Pasien operasi yang ditempatkan di ruang pemulihan secara terus
menerus dipantau. Ruang pulih sadar digunakan sebagai ruangan untuk
observasi pasien pasca bedah atau anestesi. Ruang pulih sadar adalah
batu loncatan sebelum pasien dipindahkan ke bangsal atau masih
memerlukan perawatan intensif di ICU. Dengan demikian pasien pasca
operasi dan anestesi dapat terhindar dari komplikasi yang disebabkan
karena operasi atau pengaruh anestesinya.

2.4.2 Lokasi
Letak ruangan pemulihan yang ideal adalah berdekatan dengan
ruang operasi dan mudah di jangkau oleh dokter ahli anestesi atau ahli
bedah sehingga mudah dibawa kembalikan ke ruang operasi bila
diperlukan, serta mudah dijangkau bagian radiologi atau ruangan harus

17

cukup dan dilengkapi dengan lampu cadangan bila sewaktu-waktu terjadi


pemadaman aliran listrik

2.4.3 Alat-alat yang disediakan


Alat-alat yang disediakan di ruang pulih sadar antara lain:
a.
b.
c.
d.
e.
f.
g.
h.

Alat bantu nafas (oropharyng, orotrakheal, tracheotomy)


Oksigen dan masker oksigen, pulse oxymeter
Cairan infus
Tensimeter dan stetoskop
EKG
Termometer
Peralatan resusitasi jantung-paru
Obat yang dibutuhkan untuk keadaan gawat

2.4.4 Sumber daya manusia


Ruang pulih sadar adalah tempat khusus untuk mengelola pasca
bedah sehingga dibutuhkan sumber daya manusia yang berkualifikasi
dalam mengelola pasien gawat yang berbeda dengan tenaga kamar
bedah. Jumlah personal bergantung pada kapasitas kamar bedah. Pasien
dalam 1-2 jam pertama masuk ruang pulih sadar membutuhkan
penanganan yang intensif. Sehingga harus didapati perawat terlatih
khusus dan trampil dalam pengawasan keadaan darurat. Adapun rasio
yang ideal adalah sebagai berikut: Pasien:perawat yaitu 3:1 (Ideal), 2:1
(Gawat), 1:1 (Sangat gawat).

2.4.5 Pemantauan pasca anestesi dan kriteria pengeluaran


a. Penderita yang dikelola adalah penderita pasca anestesi umum
ataupun anestesi regional
b. Pemberian oksigen, pasca bedah operasi kecil boleh / tidak diberi
oksigen bergantung pada keadaan pasien, pasien yang belum
sadar diberikan oksigen dengan kanul nasal atau masker sampai
pasien sadar sepenuhnya.
c. posisi pasien
18

d. Observasi pasien
1) Tekanan darah
2) Nadi
3) Sirkulasinya sudah baik atau tidak. Perfusi jaringan, misalnya
warna membrane mukosa bibir ( warna merah muda atau tidak)
4) Respirasi, dianjurkan pasien nafas adalam. Jalan nafasnya
apakah bebas atau tidak, ventilasinya cukup atau tidak
Pasien belum sadar dilakukan evaluasi:

Pola nafas
Tanda-tanda obstruksi
Pernafasan cuping hidung
Frekuensi nafas
Pergerakan rongga dada: simetris atau tidak
Suara nafas tambahan: tidak ada obstruksi total
Udara nafas yang keluar dari hidung
Sianosis pada ekstrimitas
Auskultasi: wheezing, ronkhi
Pasien sadar: tanyakan adakah keluhan pernafasan

Jika tidak ada keluhan: cukup berikan oksigen


Jika terdapat tanda-tanda obstruksi: terapi sesuai kondisi
(aminophilin, kortikosteroid, tindakan triple airway maneuver)

5) Produksi urine
Sistem urogenitalis. Periksa kualitas, kuantitas, warna,
kepekatan urine. Untuk menilai: apakah pasien masih dehidrasi,
apakah ada kerusakan ginjal saat operasi, acute renal failure.

2.4.6 Penilaian pasien untuk dipindahkan ke ruang perawatan atau


ke ICU (Intensive Care Unit)
Penilaian dilakukan pada saat masuk ruang pulih sadar dan
selanjutnya dilakukan penilaian setiap saat dan dicatat setiap 5 menit
sampai tercapai nilai total 10. Nilai untuk pengiriman pasien adalah 10.
19

Faktor-faktor yang perlu diperhatikan sebelum mengirim ke


ruangan adalah:
a. Observasi minimal 30 menit setelah pemberian narkotik atau obat
penawarnya (nalokson) secara intervena.
b. Observasi minimal 60 menit setelah
c.
d.
e.
f.

pemberian

antibiotik,

antiemetik atau
narkotik secara intramuskular.
Observasi minimal setelah oksigen dihentikan.
Observasi 60 menit setelah ekstubasi
Tindakan lain akan ditentukan kemudian oleh Dokter Spesialis
Anestesiologi dan Dokter Spesialis Bedah.
Pasien bisa dipindahkan ke ruang perawatan dari ruang pemulihan

jika nilai pengkajian post anestesi adalah >7-8. Lama tinggal di ruang pulih
tergantung dari teknik anestesi yang digunakan. Pasien dikirim ke ICU
(Intensive Care Unit) apabila hemodinamik tidak stabil atau membutuhkan
ventilator (mechanical respiratory support).

Tabel 2.1 Score Aldrete

20

Bila pasien anak-anak, kriteria pemulihan yang digunakan adalah


Skor Steward. Bila total skor di atas 5 pasien boleh keluar dari ruang
pemulihan. Untuk menilai masa pulih sadar dari steward membagi dalam
3 tahap:
a. Immediate recovery: kembalinya kesadaran kembalinya reflekreflek protektif jalan nafas dan aktivitas motor yang singkat.
b. Intermediate recovery: kembalinya fungsi koordinasi, hilangnya
perasaan pusing subyektif. Tahap ini kira-kira 1 jam setelah
anestesi yang tidak terlalu dalam.
c. Longterm recovery: tahap ini dapat berlangsung berjam-jam
bahkan berhari-hari tergantung dari lama anestesi.
Tabel 2.2

Score Streward

21

STEWARD SCORING SYSTEM


NILA
KRITERIA
Kesadaran Bangun
Respon terhadap stimuli
Tidak ada respon
Jalan
nafas

I
2
1
0

Batuk atas perintah atau menangis


Mempertahankan jalan nafas dengan baik
Perlu bantuan untuk mempertahankan
Menggerakkan anggota badan dengan tujuan
Gerakan tanpa maksud
Tidak bergerak
SCORE STEWARD

Gerakan

2
1
0
2
1
0

Untuk pasien dengan spinal anastesi digunakan kriteria skor


Bromage, yang dinilai adalah pergerakan kaki, lutut, dan tungkai. Apabila
total skor 2, pasien boleh dipindahkan ke ruang perawat.
Tabel 2.3

Parameter Bromage Scale

PARAMETER BROMAGE SCALE (SAB)


KRITERIA
Kaki tidak dapat digerakan
Dapat menggerakkan sendi pergelangan kaki
Dapat menggerakkan kaki dan flexi lutut
Sendi pergelangan kaki dapat flexi dan ekstensi lutut
SCALE BROMAGE

NILAI
3
2
1
0

2.4.7 Masalah di ruang pulih sadar


a. Gangguan pernafasan
Obstruksi jalan nafas baik parsial, atau total, sering dialami
pada pasien pasca anestesia umum yang belum sadar. Hal ini
disebabkan karena lidah jatuh menutup faring atau edema laring.
Penyebab lainnya adalah spasme laring pada pasien menjelang
sadar, karena laring terangsang oleh benda asing, darah, ludah
sekret, atau sebelumnya ada kesulitan intubasi endotrakea.

22

Prinsip dalam mengatasi sumbatan mekanik dalam sistem


anestesi adalah dengan menghilangkan penyebabnya. Paling
penting disadar bahwa adanya pipa trakea tidak menjamin saluran
pernafaasan yang lancar.
Contohnya, pada kasus bronkospasme, bronkospasme
dapat diatasi dengan memberikan O 2 100%, bersihkan jalan nafas,
dan memberikan preparat kortikosteroid (oradekson). Contoh lain,
untuk penanganan lidah yang menutup faring, maka kita lakukan
manuver tripel, pasang jalan nafas mulut-faring, dan tentu diberikan
O2 100%. Kalau tidak tertolong, berikan sungkup laring.
Kesimpulannya, yang paling penting adalah memastikan
bahwa tidak terjadi sumbatan mekanik, baik secara anatomis yaitu
akibat lidah yang terjatuh ke belakang pada penderita yang tidak
diintubasi.
b. Gangguan kardiovaskuler
a) Hipertensi
Hipertensi

dapat

disebabkan

karena

nyeri

akibat

pembedahan, iritasi pipa trakea, cairan infus berlebihan, buli-buli


penuh atau aktivasi saraf simpatis karena hipoksia, hiperkarpnia,
dan

asidosis.

Jika

berlangsung

berat

dan

lama

akan

mengakibatkan gagal ventrikel kiri, infark miokard, disritmia,


edema paru dan perdarahan otak. Terapi hipertensi diarahkan
pada faktr penyebabnya dan kalau perlu dapat diberkan klonidin
dan nitroprusid 0,5 1,0 g/kg/menit.
b) Hipotensi
Disebabkan perdarahan, terapi cairan kurang adekuat,
hilangnya cairan ke rongga ketiga, kontraksi miokardium kurang
kuat atau tahanan vaskuler perifer menurun. Hipotensi harus
segera dilatasi, karena dapat menyebabkan hipoksemi dan
kerusakan jaringan. Terapi hipotensi disesuaikan dengan faktor

23

penyebabnya. Berikan O2 100% dan infus kristaloid RL atau


Asering 200-500 mL.
c) Disritmia
Disebabkan oleh hipokalemia, asidosis-alkalosis, hipoksia,
hiperkapnia, atau memang pasien menderita sakit jantung.
Penanganannya sesuai penyebab.
c. Gelisah
Gelisah

dapat

disebabkan

karena

hipoksia,

asidosis,

hipotensi, kesakitan, efek samping obat (ketamine). Setelah


disingkirkan

sebab-sebab

di

atas,

pasien

dapat

diberikan

midazolam 0,05-0,1 mg/kgBB.


d. Nyeri
Nyeri pasca bedah dikategorikan sebagai nyeri berat,
sedang dan ringan. Untuk meredam nyeri pasca bedah pada
analgesia regional pasien dewasa, sering ditambahkan morfin 0,050,1 mg saat memasukan anestetik lokal ke ruang subaraknoid atau
morfin 2-5 mg ke ruang epidural. Tindakan ini sangat bermanfaat
karena dapat meredam nyeri selama 10-16 jam. Setelah itu yeri
yang timbul bersifat sedang atau ringan dan jarang diberikan
tambahan opioid dan kalaupun perlu cukup diberkan analgetik
golongan NSAID misalnya ketorolac 10-30 mg iv atau im.
e. Mual- Muntah
Mual-muntah pasca anestesi sering terjadi setelal anestesi
umum terutama pada penggunaan opioid, bedah intra abdomen,
hipotensi dan pada analgesia regional. Obat mual-muntah yang
sering digunakan pada adalah:

Dehydrobenzoperidol (droperidol) 0,05-0,1 mg/KgBB (amp 5

mg/mL) im atau iv
Metokloporamid (primperan) 0,1 mg/kg, supp 20 mg
Ondansetron (zofran,narfoz) 0,05-0,1 mg/kgBB iv
24

Cyclizine 25-50 mg

f. Mengigil
Menggigil terjadi akibat hipotermia atau efek obat anestesi.
Hipotermi terjadi akibat suhu ruang operasi, ruan UPPA yang
dingin, cairan infus dingin, cairan irigasi dingin, bedah abdomen
luas dan lama. Menggigil selain akibat turunnya suhu dapat juga
disertai oleh naiknya suhu dan biasanya akibat obat anestetik
inhalasi. Terapi petidin 10-20 mg iv pada pasien dewasa, selimut
hangat, infus hangat dengan infusion warmer, lampu penghangat
untuk menghangatkan suhu tubuh.

25

BAB III
KESIMPULAN

Pre-operative visite dilakukan sebelum melakukan anestesi di


kamar operasi karena bermanfaat bagi pasien, operator, dan ahli anestesi.
Pre-operative visite bertujuan menilai kelayakan pasien sebelum dilakukan
anestesi, menentukan jenis anestesi, dan obat anestesi yang akan
digunakan. Hal ini sangat penting untuk keselamatan pasien.
Tindakan anestesi yang baik, bila mulai persiapan, durante operasi
dan pasca operasi berjalan dengan aman.
Premedikasi bertujuan untuk menenangkan pasien, membuat
nyaman pasien, dan memudahkan induksi serta mengurangi jumlah obat
anestesi yang digunakan.
Ruang pulih sadar merupakan tempat dimana untuk observasi
pasien setelah dilakukan anestesi dan pembedahan. Hal ini bertujuan
untuk menghindari bahaya dari efek anestesi yang tidak diinginkan dan
agar pasien dapat pulih dengan baik serta meminimalkan keluhan pasien
saar sadar.

26

DAFTAR PUSTAKA

Anderson B.J, Lerman J, Conte C.J A Practice of Anesthesia for Infants


and Children Ed. 5. Elsevier. USA

Arief, Mansjoer, Suprohaita, Wahyu Ika Wardhani, Wiwiek Setiowulan,


2000, Kapita Selekta Kedokteran, Jakarta, Fakultas Kedokteran
Universitas Indonesia.

G, Edward Morgan, Jr., Mageds, Mikhail, 2002, ClinicalAnesthesiology,


New York, Mc Graw-Hill Companies.

Latief, Said, Kartini, R, Dahian, 2001, Petunjuk Praktis Anestesiologi,


Jakarta, Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.

Latief, Said, Kartini, R, Dahian, 2009, Petunjuk Praktis Anestesiologi,


Jakarta, Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.

Muhiman M, Thaib MR, Sunatrio S., Dahian, R., 1989, Anestesiologi,


Jakarta, Bagian Anestesiologi dan Terapi Intensif Fakultas Kedokteran
Universitas Indonesia.

27