Anda di halaman 1dari 22

Tugas KMB II

KEPERAWATAN MEDIKAL BEDAH II


ASAM URAT (GOUT)
DI SUSUN
O
L
E
H
Kelompok 4
JEFRI KILINAU
LANI WULANDARI
LIDYAWATI MUSTAFA
KARTO WISASTRO PAKI
MEYLAN HARYANTI UTINA
MADE RADIYASA
IIA D4 KEPERAWATAN

POLITEKHNIK KESEHATAN KEMENKES GORONTALO

2014/2015

Kata Pengantar

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.


Alhamdulillahirabbilalamin, banyak nikmat yang Allah berikan, tetapi
sedikit sekali yang kita ingat. Segala puji hanya layak untuk Allah Tuhan seru

sekalian alam atas segala berkat, rahmat, taufik, serta hidayah-Nya yang
tiada terkira besarnya, sehingga penyusun dapat menyelesaikan makalah
dengan judul SISTEM MUSCULUSCELETAL GOUT
Dalam penyusunannya, penulis memperoleh banyak bantuan dari
berbagai pihak, karena itu penulis mengucapkan terima kasih yang sebesarbesarnya kepada: Kedua orang tua dan teman-teman penyusun yang telah
memberikan dukungan, kasih, dan kepercayaan yang begitu besar. Dari
sanalah semua kesuksesan ini berawal, semoga semua ini bisa memberikan
sedikit kebahagiaan dan menuntun pada langkah yang lebih baik lagi.
Meskipun penulis berharap isi dari makalah ini bebas dari kekurangan
dan kesalahan, namun selalu ada yang kurang. Oleh karena itu, penyusun
mengharapkan kritik dan saran yang membangun agar makalah ini dapat
lebih baik lagi.
Akhir kata penulis berharap agar makalah ini bermanfaat bagi semua
pembaca.

Gorontalo, 28 April
2015
Penyusun

Kelompok 4

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR
.................................................................................................................. i
DAFTAR ISI
..........................................................................................................................
..... ii
BAB 1 PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
............................................................................................................1
B. TUJUAN DAN MANFAAT
...................................................................................................1
BAB II PEMBAHASAN
A. KONSEP MEDIK
1. DEFINISI
GOUT....................................................................................................
2. ETIOLOGI
GOUT................................................................................................
3. PATOFISIOLOGI
GOUT.......................................................................................
4. MANIFESTASI KLINIS
GOUT..............................................................................
5. PEMERIKSAAN PENUNJANG
GOUT.................................................................
6. PENATALAKSANAAN KEPERWATAN
GOUT..................................................
7. PENATALAKSANAAN MEDIS
GOUT....................................................................
8. KOMPLIKASI .........................................................................................
....................
B. KONSEP KEPERAWATAN
1. PENGKAJIAN..........................................................................................
....................
2. DIAGNOSA KEPERAWATAN
...................................................................................
3. RENCANA
KEPERAWATAN......................................................................................

DAFTAR
PUSTAKA.........................................................................................................
......

BAB 1
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Perjalanan sejarah bangsa-bangsa di dunia menunjukkan bahwa kualitas sumber daya
manusia terbukti sangat menentukan kemajuan dan keberhasilan pembangunan suatu negarabangsa. Terbentuknya sumber daya manusia yang berkualitas, yaitu sumber daya manusia yang
sehat, cerdas, dan produktif ditentukan oleh berbagai faktor. Salah satu faktor yang sangat
esensial
adalah
terpenuhinya
kebutuhan
pangan
yang
bergizi.
Permintaan pangan yang tumbuh lebih cepat dari produksinya akan terus berlanjut.
Akibatnya, akan terjadi kesenjangan antara kebutuhan dan produksi pangan domestik yang
makin lebar. Penyebab utama kesenjangan itu adalah adanya pertumbuhan penduduk yang masih
relatif tinggi, dengan jumlah besar dan penyebaran yang tidak merata.
Dampak lain dari masalah kependudukan ini adalah meningkatnya kompetisi
pemanfaatan sumber daya lahan dan air disertai dengan penurunan kualitas sumber daya
tersebut. Hal ini dapat menyebabkan kapasitas produksi pangan nasional dapat terhambat
pertumbuhannya.
Rendahnya konsumsi pangan atau tidak seimbangnya gizi makanan yang dikonsumsi
mengakibatkan terganggunya pertumbuhan organ dan jaringan tubuh, lemahnya daya tahan
tubuh terhadap serangan penyakit, serta menurunnya aktivitas dan produktivitas kerja.1
Asam urat (AU) telah diidentifikasi lebih dari 2 abad yang lalu, namun beberapa aspek
patofisiologi dari hiperurisemia tetap belum dipahami dengan baik. Selama beberapa tahun
hiperurisemia telah diidentifikasi bersama-sama atau dianggap sama dengan gout, namun
sekarang AU telah diidentifikasi sebagai marker untuk sejumlah kelainan metabolik dan
hemodinamik.
Salah satu masalah kesehatan yang berkaitan dengan gizi di Indonesia adalah penyakit asam
urat. Asam Urat sering dialami oleh banyak orang sekarang ini. Bahkan, orang yang masih
tergolong muda juga sering ditimpa penyakit ini. Sebenarnya, seperti apa penyakit ini? Apa saja
definisi, etiologi, klasifikasi, manifestasi klinis, patofisiologi, pemeriksaan fisik, pemeriksaan

penunjang, penatalaksanaa medis, penatalaksanaan keperawatan dan komplikasi. Berikut kita


akan membahasnya.
B. Tujuan dan Manfaat
I.

Tujuan Umum
Mahasiswa diharapkan dapat mengetahui konsep dasar GOUT (Asam Urat)

II.

Tujuan Khusus
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.

III.

Untuk Mengetahui Pengertian


Untuk mengetahui Etiologi
Untuk mengetahui patofisiologi
Untuk mengetahui Manifetasi klinis
7. Untuk mengetahui Pemeriksaan Penunjang
8. Untuk mengetahui Penatalaksanaan Keperawatn
9. Untuk mengetahui Penatalaksanaan Medis
10. Untuk mengetahui Komplikasi

Manfaat
1. Sebagai bahan informasi mahasiswa tentang konsep dasar GOUT (Asam Urat)
2. Sebagai bahan masukan bagi lahan praktik untuk lebih meningkatkan mutu.
BAB II
ASAM URAT (GOUT)

A. PENGERTIAN
1. DEFINISI
Gout (pirai)
berhubungan

merupakan

dengan

kelompok

defekgenetik

keadaan
pada

heterogenous

yang

metabolisme

purin

(hiperurisemia). Pada keadaan ini bisa terjadi oversekresi asamurat atau


defek renal yang mengakibatkan penurunan eksresi asam urat, atau
kombinasikeduanya.
Gout dapat bersifat primer maupun sekunder. Goutprimer merupakan
akibat langsungpembentukan asam urat tubuh yang berlebihan atau akibat
penurunan

eksresi

pembentukan

asam

asam

urat

urat.Goutsekunder
yang

disebabkan

berlebihan

atau

karena

eksresiasam

uratyangberkurang akibat proses penyakit lain atau pemakaian obat-obat


tertentu.
2. ETIOLOGI
a) Penyakit ginjal kronis
Ginjal merupakan filter berbagai benda asing untuk diekskresi keluar
tubuh.

Karena

memengaruhi
penyakit.

itu,gangguan
metabolisme

Salah

satunya

yang

tubuh
penyakit

timbul

pada

organ

danmenimbulkan
yang

bisa

ini

akan

berbagai

jenis

ditimbulkanadalah

hiperurisemia. Hiperurisemia dan penyakit ginjal memiliki hubungan

sebab akibat.Gangguan fungsi ginjal pada ginjal bisa mengganggu


eskresi asam urat. Namun, kadarasam urat yang terlalu tinggi juga bisa
mengganggu kinerja dan fungsi ginjal (Lingga,2012:41).
b) Faktor usia
Gout umumnya dialami oleh pria dan wanita dewasa yang berusia
diatas 40 tahun.Setelah memasuki masa pubertas, pria memiliki resiko
gout lebih tinggi dibandingkandengan wanita. Jumlah total penderita
gout pada pria lebih banyak dibandingkan dengankaum wanita. Ketika
memasuki usia paruh baya, jumlahnya menjadi sebanding antarapria dan
wanita. Dalam sebuah kajian di Amerika, prevalensi berlipat ganda
dalampopulasi usia 40-75 tahun. Dalam kajian kedua, prevalensi gout
pada populasi dewasa di Inggris diperkirakan sebesar 1.4%, dengan
puncaknya lebih dari 7% pada pria usia 40-75(Beyond, 2013). Menurut
survey yang diadakan oleh National Health and Nutrition Examinition
Survey (NHANES), rasio penderita hiperurisemia sebagai berikut:
a. Usia diatas 20 tahun
: 24%
b. Usia 50-60 tahun
: 30%
c. Usia lebih tua dari 60 tahun : 40%
d. Rata-rata penduduk Asia
: 5-6%
Resiko serangan gout mencapai puncaknya pada saat seseorang
berusia 75 tahun, setelah berusia di atas 75 tahun, resiko gout semakin
menurun, bahkan tidak ada resiko sama sekali.Kecuali, jika penyakit
tersebut merupakan perkembangan dari penyakit gout kronis yang
sebelumnya telah dialami (Lingga, 2012:24).
c) Dehidrasi
Kekurangan cairan didalam tubuh akan menghambat ekskresi asam
urat. Pada dasarnyasemua cairan itu adalah pelarut. Namun, daya larut
setiap cairan berbeda-beda. Air yang memiliki daya larut paling tinggi
adalah air putih. Air putih dapat melarutkan semua zat yang larut di
dalam cairan, termasuk asam urat. Air diperlukan sebagai pelarut asam
urat yang dibuang atau diekskresi melalui ginjal bersama urine. Jika
tubuh kekurangan air,maka akan menghambat ekskresi asam urat
sehingga memicu peningkatan asam urat. Saat volume cairan tubuh
kurang,

maka

sampah

sisa

metabolisme

pun

akan

menumpuk.

Penumpukan asam urat dan sisa metabolisme itulah yang menimbulkan


nyeri di persendian (Lingga, 2012:166).
d) Makan berlebihan
Asupan purin dari makanan akan menambah jumlah purin yang beredar
di dalam tubuh.secara teknis, penambahan purin yang beredar di dalam
darah tergantung pada jumlah purin yang berasal dari makanan. Artinya,

semakin banyak mengkonsumsi purin, semakin tinggi kadar asam urat


(produk akhir metabolisme purin) dalam tubuh (Lingga, 2012:98).
e) Konsumsi alcohol
Sejumlah studi mengatakan konsumsi alkohol memiliki pengaruh sangat
besar dalammeningkatkan prevalensi gout pada penggemar alkohol.
Dampak

buruk

alkohol akan semakin

nyata

pada

individu

yang

mengalami obesitas. Sebuah studi yang dilakukan di Jepang oleh Shirusi


H.

(2009)

menemukan

korelasi

nyata

antara

konsumsi

alkohol

danobesitas terhadap hiperurisemia. Resiko konsumsi alkohol semakin


tinggi jika dilakukan oleh penderita obesitas.
Dikatakan bahwa penderita obesitas yang gemar mengkonsumsi akohol
dipastikan mengalami gout (Lingga, 2012:47).
f) Pasca-operasi
Seseorang yang telah menjalani operasi beresiko mengalami kenaikan
kadar asam uratsesaat. Karena penurunan jumlah air yang mereka
konsumsi pasca-operasi menyebabkan ekskresi asam urat terhambat
untuk sementara waktu (Lingga, 2012:28).
3.PATOFISIOLOGI
Hiperurisemia (konsentrasi asam urat dalam serum yang lebih besar
dari 7,0 mg/dl [SI0,4 mol/L) dapat (tetapi tidak selalu) menyebabkan
penumpukan

kristal

monosodium

urat.

Serangan

gout

tampaknya

berhubungan dengan peningkatan atau penurunan mendadak kadar asam


urat serum. Kalau kristal urat mengendap dalam sebuah sendi respons
inflamasi akan terjadi dan serangan gout dimulai. Dengan serangan yang
berulang, penumpukan kristal natrium urat yang dinamakan tous akan
mengendap dibagian perifer tubuh seperti ibu jari kaki, tangan dan
telinga. Nefrolitiasis urat (batu ginjal) dengan penyakit renal kronis yang
terjadi sekunder akibat penumpukan urat dapat timbul.
Gambaran kristal urat dalam cairan sinovial sendi yang asimtomatik
menunjukan bahwa faktor-faktor non kristal nmungkin berhubungan
dengan reaksi inflamasi. Kristal monosodium yang ditemukan tersalut
dengan imonoglobulin yang terutama berupa IgG. IgG akan meningkatkan
fagositosis

kristal

dan

dengan

imonologik.
4. MANIFESTASI KLINIS
Gejala awal dari artritis

demikian

gout

adalah

memperlihatkan

panas,

aktivitas

kemerahan

dan

pembengkakan pada sendi yang tipikal dan tiba-tiba. Persendian yang


sering terkena adalah persendian kecil pada basis dari ibu jari kaki.
Beberapa sendi lain yang dapat terkena ialah pergelangan kaki, lutut,

pergelangan tangan, jari tangan, dan siku. Pada serangan akut penderita
gout dapat menimbulkan gejala demam dan nyeri hebat yang biasanya
bertahan berjam-jam sampai seharian, dengan atau tanpa pengobatan.
Seiring berjalannya waktu serangan artritis gout akan timbul lebih sering
dan lebih lama.
Pasien dengan gout meningkatkan kemungkinan terbentuknya batu
ginjal.
Kristal-kristal asam urat dapat membentuk tophi (benjolan keras tidak
nyeri disekitar sendi) di luar persendian. Tophi sering ditemukan di
sekitar jari tangan, di ujung siku dan sekitar ibu jari kaki, selain itu dapat
ditemukan juga pada daun telinga, tendon achiles (daerah belakang
pergelangan kaki) dan pita suara (sangat jarang terjadi).
5. PEMERIKSAAN PENUNJANG
1) Serum asam urat

Umumnya meningkat, diatas 7,5 mg/dl. Pemeriksaan ini mengindikasikan


hiperuricemia, akibat peningkatan produksi asam urat atau gangguan

ekskresi.
2) Angka leukosit
Menunjukkan peningkatan yang signifikan mencapai 20.000/mm3 selama
serangan akut. Selama periode asimtomatik angka leukosit masih dalam
batas normal yaitu 5000 10.000/mm3.
3) Eusinofil Sedimen rate (ESR)
Meningkat selama serangan akut. Peningkatan kecepatan sedimen rate
mengindikasikanproses inflamasi akut, sebagai akibat deposit asam urat di
persendian.
4) Urin spesimen 24 jam
Urin dikumpulkan dan diperiksa untuk menentukan produksi dan ekskresi dan
asam urat. Jumlah normal seorang mengekskresikan 250 - 750 mg/24 jam
asam urat di dalam urin. Ketika produksi asam urat meningkat maka level
asam

urat

urin

meningkat.

Kadar

kurang

dari

800

mg/24

jam

mengindikasikan gangguan ekskresi pada pasien dengan peningkatan serum


asam urat.Instruksikan pasien untuk menampung semua urin dengan peses
atau tisu toilet selama waktu pengumpulan. Biasanya diet purin normal
direkomendasikan selama pengumpulan urin meskipun diet bebas purin pada
waktu itu diindikasikan.
5) Analisis cairan aspirasi dari sendi yang mengalami inflamasi akut atau
material aspirasi dari sebuah tofi menggunakan jarum kristal urat yang
tajam, memberikan diagnosis definitif gout.
6) Pemeriksaan radiografi
Dilakukan pada sendi yang terserang, hasil pemeriksaan akan menunjukkan
tidak terdapat perubahan pada awal penyakit, tetapi setelah penyakit
berkembang progresif maka akan terlihat jelas/area terpukul pada tulang
yang berada di bawah sinavial sendi.

6. PENATALAKSANAAN
a. Olahraga aerobik/senam
Manfaat kesehatan olahraga aerobik meliputi berkurangnya resiko
penyakit jantung atau penyakit kronis lainya, menormalkan tekanan
darah, mengontrol berat badan, mengurangi gula darah dan lemak,
dan mengurangi kekakuan dan nyeri karena arthritis. Olahraga
aerobik berpengaruh rendah tidak memperburuk nyeri arthritis.
Digabungkan dengan penguatan dan peregangan, olahraga aerobik
menambah kebugaran, mengurangi depresi dan nyeri dan (dalam
jangka panjang) memperbaiki fungsi (Millar, 2013:51). Durasi suatu
kelas biasanya 45-60 menit. Kelas 60 menit yang baik meliputi
kegiatan pemanasan minimum 10 menit, 15-20 menit gerak inti, dan
10 menit pendinginan. Selama 2-4 minggu dalam jangka waktu 2-3
kali dalam seminggu. Penelitian telah membuktikan bahwa dengan
mengikuti

aerobik

seseorang

dapat

mengurangi

nyeri

dan

meningkatkan fungsi tangan dan kaki, kekuatan,kecepatan, atau


jarak tempuh yang merupakan perkiraan ketahanan aerobik pada
aktivitas singkat (Millar, 2013:131)
b. Kompres panas atau dingin
Terapi es dapat menurunkan prostaglandin

yang

memperkuat

sensitivitas reseptor nyeri dan subkutan lain pada tempat cedera


dengan menghambat proses inflamasi. Agar efektif, es dapat
diletakkan pada tempat cedera segera setelah cedera terjadi.
Sementara terapi panas mempunyai keuntungan meningkatkan aliran
darah ke suatu area dan kemungkinan dapat menurunkan nyeri
dengan mempercepat penyembuhan (Andarmoyo, 2013:85).
c. Relaksasi
Relaksasi adalah suatu tindakan untuk membebaskan mental dan
fisik dari ketegangan dan stress sehingga dapat meningkatkan
toleransi nyeri. Teknik relaksasi yang sederhana terdiri atas nafas
abdomen

dengan

frekuensi

lambat,

berirama.

Pasien

dapat

memejamkan matanya dan bernafas dengan perlahan dan nyaman.


Periode relaksasi yang teratur dapat membantu untuk melawan
keletihan dan ketegangan otot yang terjadi dengan nyeri kronis dan
yang meningkatkan nyeri (Andarmoyo,2013:89).
7. PenatalaksanaanMedis
Preparat

colchicine

indometasin,

(oral

digunakan

atau
untuk

parenteral)
meredakan

atau

NSAID

serangan

akut

seperti
gout.

Penatalksanaan medik hiperurisemia, tofus, penghancuran sendi dan


masalah renal biasanya dimulai setelah proses inflamasi akut mereda.
Preparat urikosurik seperti probenesid akan memperbaiki keadaan
hiperurisemia dan melarutkan endapan urat. Alopurinol juga merupakan
oabt

yang

efektif

tetapi

penggunaanya

terbatas

terdapat

resiko

toksisitas. Kalau diperlukan penurunan kadar asam urat dalam serum,


preparat urikosurik merupakan obat pilihan. Kalau pasiennya berisiko
untuk mengalami insufisiensi renal atau batu ginjal (kalkuli renal)
alupurinol merupakan obat pilihan.
8. KOMPLIKASI
1. Radang sendi akibat asam urat (gouty arthritis)
Komplikasi hiperurisemia yang paling dikenal adalah radang sendi
(gout). Telah dijelaskansebelumnya bahwa, sifat kimia asam urat
cenderung berkumpul di cairansendi ataupunjaringan ikat longgar.
Meskipun

hiperurisemia

merupakan

faktor

resikotimbulnya

gout,namun, hubungan secara ilmiah antara hiperurisemia dengan


serangan gout akut masih belumjelas. Atritis gout akut dapat terjadi
pada keadaan konsentrasi asam urat serum yang normal.Akan tetapi,
banyak pasien dengan hiperurisemia tidak mendapat serangan atritis
gout.Gejala klinis dari Gout bermacam-macam, yaitu, hiperurisemia
tak bergejala, serangan akutgout, gejala antara(intercritical), serangan
gout berulang, gout menahun disertai tofus.Keluhan utama serangan
akut dari gout adalah nyeri sendi yang amat sangat yang disertai
tandaperadangan (bengkak, memerah, hangat dan nyeri tekan).
Adanya peradangan juga dapat disertaidemam yang ringan. Serangan
akut biasanya puncaknya 1-2 hari sejak serangan pertama kali.Namun
pada mereka yang tidakdiobati, serangan dapat berakhir setelah 7-10
hari.Serangan biasanya berawal dari malam hari. Awalnya terasa nyeri
yang sedang pada persendian. Selanjutnya nyerinya makin bertambah
dan terasa terus menerus sehingga sangat mengganggu.Biasanya
persendian ibu jari kaki dan bagian lain dari ekstremitas bawah
merupakan persendianyang pertama kali terkena. Persendian ini
merupakan bagian yang umumnya terkena karenatemperaturnya lebih
rendah dari suhu tubuh dan kelarutan monosodium uratnya yang
berkurang.Trauma pada ekstremitas bawah juga dapat memicu
serangan. Trauma pada persendian yangmenerima beban berat tubuh
sebagai hasil dari aktivitas rutin menyebabkan cairan masuk ke
sinovial pada siang hari. Pada malam hari, air direabsobsi dari celah

sendi

dan

meninggalkansejumlah

MSU.tofi

pada

kedua

tanganSerangan gout akut berikutnya biasanya makin bertambah


sesuai dengan waktu. Sekitar 60% pasien mengalami serangan akut
kedua dalam tahun pertama, sekitar 78% mengalami serangan kedua
dalam 2 tahun. Hanya sekitar 7% pasien yang tidak mengalami
serangan akut kedua dalam 10 tahun.Pada gout yang menahun dapat
terjadi pembentuk tofi. Tofi adalah benjolan dari kristal monosodium
urat yang menumpuk di jaringan lunak tubuh. Tofi merupakan
komplikasi lambat dari hiperurisemia. Komplikasi dari tofi berupa nyeri,
kerusakan dan kelainan bentuk jaringan lunak, kerusakan sendi dan
sindrom penekanan saraf.
2. Komplikasi Hiperurisemia pada Ginjal
Tiga komplikasi hiperurisemia pada ginjal

berupa

batu

ginjal,

gangguan ginjal akut dan kronis akibat asam urat. Batu ginjal terjadi
sekitar 10-25% pasien dengan gout primer. Kelarutan kristal asam urat
meningkat pada suasana pH urin yang basa. Sebaliknya, pada suasana
urin yang asam, kristal asam urat akan mengendap dan terbentuk
batu.Gout dapat merusak ginjal, sehingga pembuangan asam urat
akan bertambah buruk. Gangguan ginjal akut gout biasanya sebagai
hasil

dari

penghancuran

yang

berlebihan

dari

sel

ganas

saat

kemoterapi tumor. Penghambatan aliran urin yang terjadi akibat


pengendapan asam urat pada duktus koledokus dan ureter dapat
menyebabkan gagal ginjal akut. Penumpukan jangka panjang dari
kristal pada ginjal dapat menyebabkan gangguan ginjal kronik.

B. KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN


A. Pengkajian
1. Tanyakan keluhan nyeri yang terjadi, biasanya pada ibu jari kaki atau pada sendisendi lain. Bagaimana gejala awalnya dan bagaimana klien menanggulanginya,
adakah riwayat gout dalam keluarga. Obat-obatan yang diperoleh
2. Tentukan apakah ada nyeri saat digerakkan, bengkak, dan kemerahan, demam
subfebris, periksa adanya nodul diatas sendi.
3. Kaji adanya kecemasan dan ketakutan dalam melakukan aktivitas dan masalahmasalah yang terkait dengan psikososialnya.
4. Pemeriksaan diagnostik
a. Asam urat meningkat
b. Sel darah putih dan sedimentasi eritrosit meningkat (selama fase akut)
c. Pada aspirasi sendi ditemukan aam urat
d. Pemeriksaan urin
e. Rontgen
B. Diagnosa Keperawatan
1. Nyeri sendi b. d peradangan sendi, penimbunan kristal pada
membrane

sinovia,

tulangrawan

artikular,

erosi

tulang

rawan,

prolifera sinovia dan pembentukan panus.


2. Hambatan mobilitas fisik b. d penurunaan rentang gerak, kelemahan
otot, pada gerakan,dan kekakuan pada sendi kaki sekunder akibat
erosi tulang rawan, proloferasi sinovia, danpembentukan panus.
3. Gangguan citra tubuh b. d perubahan bentuk kakidan terbenuknya
tofus.
4. Gangguan pola tidur b.d nyeri.
C. Rencana Keperawatan

NO

DX. KEPERAWATAN

1.

Domain 12
Kelas 1

TUJUAN & KRITERIA HASIL


(NOC)
Setelah dilakukan tindakan
keperawatan selama .x 24

INTERVENSI (NIC)

Pain management
Lakukan pengkajian nyeri

jam nyeri akut teratasi, dengan

secara komprehensif

Kode dx (00132)

Kriteria hasil :

termasuk lokasi,

Nyeri akut

Pain level
Pain control
Comfort level
Mampu mengontrol nyeri

(tahu penyebab nyeri)


Mampu menggunakan tehnik

Factor Berhubungan
dengan:

Agens cedera mis.


Biologis, zat kimia, fisik,

non-farmakologi untuk

karakteristik, durasi,
frekuensi, kualitas dan

factor presipitasi
Observasi reaksi non verbal

dari ketidaknyamanan
Gunakan tehnik
komunikasi terapeutik

psikologis
Batasan karakteristik:

mengurangi nyeri (mencari

bantuan)
Melaporkan bahwa nyeri

pengalaman nyeri klien


Kaji kultur yang

menggunakan manajemen

mempengaruhi respon nyeri


Evaluasi pengalaman nyeri

nyeri
Mampu mengenali nyeri

masa lampau
Evaluasi bersama klien dan

berkurang dengan

Perubahan selera makan


Perubahan tekanan darah
Perubahan frekuensi

jantung
Perubahan frekuensi

pernapasan
dan tanda nyeri)
Laporan isyarat
Menyatakan rasa nyaman
Diaphoresis
setelah nyeri berkurang
Perilaku distraksi
Tanda vital dalam rentang
Mengekspresikan perilaku
normal
Masker wajah
Perilaku berjaga-jaga
Focus menyempit
Indikasi nyeri yang dapat

diamati
Perubahan posisi untuk

menghindari nyeri
Sikap tubuh melindungi
Dilatasi pupil
Fokus pada diri sendiri
Gangguan tidur
Melaporkan nyeri secara

untuk mengetahui

tim kesehatan lain tentang

(skala, intensitas, frekuensi,

ketidakefektifan, control

nyeri masa lampau


Bantu klien dan keluarga
untuk mencari dan

menemukan dukungan
Kontrol lingkungan yang
dapat mempengaruhi nyeri
seperti suhu ruangan,
pencahayaan dan

kebisingan
Kurangi factor presipitasi

nyeri
Pilih dan lakukan
penanganan nyeri
(farmakologi , non

verbal

farmakologi dan

interpersonal)
Kaji tipe dan sumber nyeri
untuk menentukan

intervensi
Ajarkan tentang tehnik non

farmakologi
Berikan analgetik untuk

mengurangi nyeri
Evaluasi keefektifan

kontrol nyeri
Tingkatkan istirahat
Kolaborasikan dengan
dokter

Analgesic administration
Tentukan lokasi ,
karakteristik, kualitas dan
derajat nyeri sebelum

pemberian obat
Cek instruksi dokter
tentang jenis obat, dosis,

dan frekuensi
Cek riwayat alergi
Beri analgetik yang
diperlukan atau kombinasi
dari analgesic ketika

pemberian lebih dari 1


Tentukan pilihan analgesic
tergantung tipe dan

beratnya nyeri
Tentukan analgesic pilihan ,
rute pemberian dan dosis

optimal
Pilih rute pemberian secara
IV, IM, untuk pengobatan

nyeri secara teratur


Monitor vital sign sebelum
dan sesudah pemberian

analgesic pertama kali


Berikan analgesic tepat
waktu terutama saat nyeri
hebat

2.

Hambatan Mobilitas Fisik


Definisi : Katerbatasan
dalam pergerakan fisik
mandiri dan terarah pada
tubuh atau satu
ekstremitas atau lebih
Faktor yang
Berhubungan :

o Ambulasi; kemampuan untuk


berjalan dari satu tempat
ketempat lain secara mandiri
atau dengan alat bantu
o Ambulasi: kursi roda;
kemampuan untuk berjalan
dari satu tempat ketempat lain
dengan kursi roda
o Keseimbangan; kemampuan

untuk mempertahankan
perubahan metabolism sel
indeks masa tubuh diatas
keseimbangkan postur tubuh
persentil ke-75 sesuai usia o Performa mekanika tubuh;
gangguan kognitif
tindakan individu untuk
kepercayaan budaya
mempertahankan kesejajaran
terkait aktivitas sesuai usia
penurunan kekuatan
tubuh yang sesuai dan untuk
kendali atau massa otot
mencegah peregangan otot
keadaan alam perasaan
skeletal

1. Promosi mekanika tubuh;


memfasilitasi penggunaan
postur dan pergerakan dalam
aktivitas sehari-hari untuk
mencegah keletihan dan
ketegangan atau cedera
musculoskeletal
2. Promosi latihan fisik; latihan
kekuatan; memfasilitasi
latihan otot resistif secara
rutin untuk mempertahankan
atau meningkatkan kekuatan
otot
3. Terapi latihan fisik: mobilitas
sendi; menggunakan gerakan
tubuh aktif atau pasif untuk
mempertahankan atau
mengembalikan fleksibilitas
sendi
4. Terapi latihan fisik:
pengendalian otot;

depresi atau ansietas


keterlambatan
perkembangan
ketidaknyamanan
intoleransi aktivitas
danpenurunan kekuatan
pertahanan
kaku sendi atau kontraktur
defisiensi pengetahuan
tentang nilai aktivitas fisik
kurang dukungan
lingkungan fisik atau
sosial
keterbatasan ketahanan
kardiovaskular
hilangnya integritas
struktur tulang
medikasi
gangguan musculoskeletal
gangguan neuromuscular
nyeri
program pembatasan
pergerakan
keengganan untuk
memulai pergerakan
gaya hidup yang kurang
gerak atau disuse atau
melemah
malnutrisi
gangguan sensori persepsi
Batasan Karakteristik :
Objektif
o penurunan waktu reaksi
o kesulitan membolak-balik
posisi tubuh
o asik dengan aktivitas lain
o
o
o
o

sebagai pengganti gerak


dispnea saat beraktivitas
perubahan cara berjalan
pergerakan menentak
keterbatasan kemampuan
untuk melakukan
ketrampilan motorik

halus
o keterbatasan kemampuan
melakukan ketrampilan
motorik kasar
o keterbatasan rentang

o Gerakan terkoordinasi;

menggunakan aktifitas
spesifik atau protocol latihan
kemampuan otot untuk
yang sesuai untuk
bekerjasama secara volunteer
meningkatkan atau
dalam menghasilkan suatu
mengembalikan gerakan
tubuh yang terkendali
gerakan yang terarah
5. Terapi aktivitas fisik:
o Pergerakan sendi: aktif
ambulasi; meningkatkan dan
(sebutkan sendinya); rentang
membantu dalam berjalan
pergerakan sendi aktif
untuk mempertahankan
fungsi tubuh otonom
dengan gerakan atas inisiatif
6. Terapi latihan fisik:
sendiri
keseimbangan; untuk
o Mobilitas; kemampuan untuk
meningkatkan dan
bergerak secara terarah dalam
mempertahankan
keseimbangan postur tubuh
lingkungan sendiri dengan atau
7. Pengaturan posisi; mengatur
tanpa alat bantu
penempatan pasien atau
o Fungsi skeletal; kemampuan
bagian tubuh pasien secara
tulang untuk menyokong tubuh
hati-hati untuk meningkatkan
kesejahteraan fisiologis dan
dan memdasilitasi pergerakan
psikologis
o Performa berpindah;
8. Pengaturan posisi; mengatur
kemmapuan untuk mengubah
penempatan pasien atau
letak tubuh secara mandiri atau
bagian tubuh pasien secara
hati-hati dikursi roda untuk
dengan alat bantu.
meningkatkan kesejahteraan
fisiologis dan psikologis
Tujuan atau criteria evaluasi
9. Bantuan perawatan diri:
o Memperlihatkan mobilitas,
berpindah; memnabtu
individu untuk mengubah
yang dibuktikan oleh indicator
posisi tubuhnya
sebagai berikut:
Pengkajian merupakan proses
1. gangguan eksterm
yang kontinu untuk menentukan
2. berat
3. sedang
tingkat performa hambatan
4. ringan
mobilitas pasien.
5. tidak mengalami gangguan
Aktivitas keperawatan tingkat 1
o Kaji kebutuhan terhadap
bantuan pelayanan
kesehatan dirumah dan
kebutuhan terhadap
peralatan pengobatan yang
tahan lama
o Ajarkan pasien tentang dan
pantau penggunaan alat
bantu mobilitas
o Ajarkan dan bantu pasien
dalam proses berpindah
o Rujuk keahli terapi fisik

pergerakan sendi
o tremor yang diindikasi

oleh pergerakan
o ketidak stabilan poetur

tubuh
o melambatnya pergerakan
o gerakan tidak teratur atau
tidak terkoordinasi

untuk program latihan


Berikan penguatan positif
selama aktivitas
Bantu pasien untuk
menggunakan alas kaki
antiselip yang mendukung
untuk berjalan
Pengaturan posisi (NIC):
Ajarkan pasien bagaimana
menggunakan postur dan
mekanika tubuh yang benar
pada saat melakukan
aktiivtas
Pantau ketepatan
pemasangan traksi

Aktivitas keperawatan
tingkat 2
o Kaji kebutuhan belajar
pasien
o Kaji terhadap kehutuhan
bantuan layanan kesehatan
dari lembaga kesehatan
dirumah dan alat kesehatan
yang tahan lama
o Ajarkan dan dukung pasien
dalam latihan ROM aktif
atau pasif untuk
mempertahankan atau
meningkatkan kekuatan dan
ketahanan otot
o Instruksikan dan dukung
pasien untuk menggunakan
trapeze atau pemberat
untuk meningkatkan serta
mempertahankan kekuatan
ekstremitas atas
o Ajarkan tehnik ambulasi
dan berpindah yang aman
o Instruksikan pasien untuk
menyangga berat badannya
o Instruksikan pasien untuk
mempertahankan
kesejajaran tubuh yang
benar
o Gunakan ahli terapi fisik
dan okupasi sebagai suatu
sumber untuk
mengembangkan
perencanaan dan

mempertahankan atau
meningkatkan mobilitas
o Berikan penguatan positif
selama aktivitas
o Awasi seluruh upaya
mobilitas dan bantu pasien,
jika perlu
o Gunakan sabuk penyokong
saat memberikan bantuan
ambulasi atau perpindahan
Aktivitas keperawatan
tingkat 3 dan 4
o Tentukan tingkat motivasi
pasien untuk
mempertahankan atau
megambalikan mobilitas
sendi dan otot
o Gunakan ahli terapi fisik
dan okupasi sebagai suatu
sumber untuk
mengembangkan
perencanaan dan
mempertahankan atau
meningkatkan mobilitas
o Dukung pasien dan
keluarga untuk memandang
keterbatasan dengan
realitas
o Berikan penguatan positif
selama aktivitas
o Berikan analgesic sebelum
memulai latihan fisik
o Penguatan posisi (NIC):
Pantau pemasangan alat
traksi yang benar
Letakkan matras atau
tempat tidur terapeutik
dengan benar
Atur posisi pasien dengan
kesejajaran tubuh yang
benar
Letakkan pasien pada posisi
terapeutik
Ubah posisi pasien yang
imobilisasi minimal setiap
2 jam, berdasarkan jadwal
spesefik
Letakkan tombol pengubah
posisi tempat tidur dan

lampu pemanggil dalam


jangkauan pasien
Dukung latihan ROM aktif
datau pasif jika perlu
Domain 6
Kelas 3
Kode NDx 00118
Gangguan citra tubuh
Definisi : konfusi dalam
gambaran mental tentang dirifisik individu
Batasan karakteristik :
Perilaku mengenal tubuh
individu
Perilaku menghindari
tubuh individu
Perilaku memantau
tubuh individu
Respon nonverbal
terhadap perubahan
actual pada tubuh (mis;
penampilan,struktur,fung
si)
Respon nonverbal
terhadap persepsi
perubahan pada tubuh
(mis;
penampilan,struktur,fung
si)
Mengungkapkan
perasaan yang
mencerminkan
perubahan pandangan
tentang tubuh individu
(mis;
penampilan,struktur,fung
si)
Mengungkapkan
persepsi yang
mencerminkan
perubahan individu
dalam penampilan
Objektif
Perubahan actual pada
fungsi
Perubahan actual pada
struktur
Perilaku mengenali
tubuh individu
Perilaku memantau
tubuh individu
Perubahan dalam
kemampuan
memperkirakan

Body image
Self esteem
Criteria Hasil :
Body image positif
Mampu mengidentifikasi
kekuatan personal
Mendiskripsikan secara
actual perubahan fungsi
tubuh
Mempertahankan interaksi sosial

Body image enchancement

Kaji secara verbal dan non


verbal respon klien
terhadap tubuhnya
Monitor frekuensi
mengkritik dirinya
Jelaskan tentang
pengobatan, perawatan,
kemajuan dan prognosis
penyakit
Dorong klien
mengungkapkan
perasaannya
Identifikasi arti
pengurangan melalui
pemakaian alat bantu
Fasilitasi kontak dengan
individu lain dalam
kelompok kecil

hubungan special tubuh


terhadap lingkungan
Perubahan dalam
keterlibatan social
Perluasan batasan tubuh
untuk menggabungkan
objek lingkungan
lingkungan
Secara sengaja
menonjolkan bagian
tubuh
Kehilangan bagian tubuh
Tidak melihat bagian
tubuh
Tidak menyentuh bagian
tubuh
Trauma pada bagian
yang tidak berfungsi
Secara tidak sengaja
menonjolkan bagian
tubuh
Subjektif
Depersonalisasi
kehilangan melalui kata
ganti yang netral
Depersonalisasi bagian
melalui kata ganti yang
netral
Penenkanan pada
kekuatan yang tersisa
Ketakutan terhadap
reaksi orang lain
Focus pada penampilan
masa lalu
Perasaan negative
tentang sesuatu
Personalisasi kehilangan
dengan menyebutkannya
Focus pada perubahan
Focus pada kehilangan
Menolak memverivikasi
perubahan actual
Mengungkapkan
perubahan gaya hidup
Faktor yang berhubungan :
Biofisik, kognitif
Budaya, tahap
perkembangan
Penyakit, cedera
Perceptual, psikososial,
spiritual
Pembedahan, trauma
Terapi penyakit
Gangguan pola tidur
Definisi : gangguan kualitas dan
kuantitas waktu tidur akibat
faktor eksternal

Noc
Anxiety reduction
Comfort level
Pain level
Rest: extent andpattern

Nic
Sleep enhancement
o

Determinasi efekefek medikasi

Batasan karakteristik

Sleep: extent and pattern

Perubahan pola tidue


normal
Penurunan kemampuan
berfungsi
Menyatakan sering
terjaga
Menyatakan tidak
mengalami kesulitan
tidur
Menyatakan tidak
merasa cukup istirahat

Faktor yang berhubungan

terhadap pola tidur


Jelaskan
pentingnya tidur
yang adekuat
Fasilitas untuk
mempertahankan
aktivitas sebelum
tidur (membaca)
Ciptakan
lingkungan yang
nyaman
Kolaborasi
pemberian obat
tidur
Diskusikan dengan
pasien dan
keluarga tentang
teknik tidur pasien
Intruksikan untuk
memonitor tidur
pasien
Monitor waktu
makan dan minum
dengan waktu
tidrur
Monitor/catat
kebutuhan tidur
pasien setiap hari
dan jam

Kelembaban lingkungan
sekitar
Suhu lingkungan sekitar
Tanggung jawab
memberi asuhan
Perubahan pejalan
terhadap cahaya-gelap
Gangguan (mis, untuk
tujuan terapeutik,
pemantauan,
pemeriksaan
laboratorium)
Kurang kontrol tidur
Kurang privasi ,
pencahayaan
Bising, bau gas
Tidak familier dengan
prabot tidur

Kriteria hasil:
Jumlah jam
tidur dalam
batas normal 68 jam/hari
Pola tidur,
kualitas dalam
bats normal
Perasaan segar
sesudah tidur
atau istirahat
Mampu
mengidentifikas
i hal-hal yang
meningktatkan
tidur

BAB III
PENUTUP
A. KESIMPULAN
Asam urat adalah hasil akhir dari katabolisme (pemecahan) purin.
Purin adalah salah satu
kelompok struktur kimia pembentuk DNA.
Gout (pirai) merupakan kelompok keadaan heterogenous yang
berhubungan

dengan

defekgenetik

pada

metabolisme

purin

(hiperurisemia). Pada keadaan ini bisa terjadi oversekresi asamurat atau


defek renal yang mengakibatkan penurunan eksresi asam urat, atau
kombinasikeduanya.
Gejala Asam Urat seperti ; kesemutan dan linu, nyeri terutama malam
hari atau pagi hari saat bangun tidur, sendi yang terkena asam urat terlihat
bengkak, kemerahan, panas dan nyeri luar biasa pada malam dan pagi.

B. SARAN
Berdasarkan kesimpulan diatas, penyusun mengharapkan kepada para
mahasiswa keperawatan khususnya, agar dapat memahami dan menambah
pengetahuan kita tentang GOUT dalam mata kuliah KMB 2 sistem
musculusceletal. Serta diharapkan kritik dan saran yang membangun dari
berbagai pihak demi kesempurnaan makalah ini.

DAFTAR PUSTAKA
Smeltzer, Suzanne C. 1997. Buku Ajar Keperawawatan Medikal Bedah
Brunner & Suddarth. Jakarta : Penerbit Buku Kedokteran EGC
http://www.academia.edu/5865144/GOUT
http://www.slideshare.net/Sifatmasari/asuhan-keperawatan-gout-asamurat