Anda di halaman 1dari 17

BAB III

TINJAUAN PUSTAKA
A. PENDAHULUAN
I.

Traumatologi Forensik
Traumatologi adalah ilmu yang mempelajari tentang luka dan cedera

serta hubungannya dengan berbagai kekerasan (rudapaksa), sedangkan yang


dimaksudkan dengan luka adalah suatu keadaan terjadinya ke-tidakseimbangan atau diskontinuitas jaringan tubuh akibat kekerasan.(1)
Berdasarkan sifat serta penyebabnya, kekerasan dapat dibedakan atas
kekerasan yang bersifat. (1)

Mekanik :
- Kekarasan oleh benda tajam
- Kekerasan oleh benda tumpul
- Tembakan senjata api

Fisika :
- Suhu
- Listrik dan Petir
- Perubahan tekanan udara
- Akustik
- Radiasi

Kimia :
- Asam atau basa kuat

II.

Jenis-jenis Luka(1)

Berdasarkan jenisnya, luka dibagi menjadi :

Luka akibat kekerasan benda tajam


Luka akibat kekerasan benda tajam dapat berupa luka iris atau sayat,
luka tusuk dan luka bacok.

Luka akibat kekerasan benda tumpul


Luka yang terjadi dapat berupa memar (kontusio, hematom), luka lecet
(ekskoriasi, abrasi) dan luka terbuka/robek (vulnus laseratum).

Luka akibat tembakan senjata api


Luka yang terjadi dapat berupa Luka Tembak Masuk yang terdiri dari
luka tembak temple atau kontak, luka jarak dekat, luka jarak jauh dan
Luka Tembak Keluar.

Luka akibat suhu / temperature


Suhu tinggi dapat mengakibatkan terjadinya heat exhaustion primer dan
heat exhaustion sekunder (dehidrasi), dan Luka bakar. Dan suhu rendah
dapat menyebabkan kematian mendadak, serta pada kulit dapat terjadi
luka yang terbagi menjadi beberapa derajat kelainan berupa: hyperemia,
edema dan vesikel, nekrosis dan pembekuan disertai kerusakan

jaringan.

Luka akibat listrik dan petir


Pada korban akan ditemukan aboresent mark (kemerahan kulit seperti
percabangan pohon), metalisasi (pemindahan partikel metal dari benda
yang dipakai ke dalam kulit), magnetisasi (benda metal yang dipakai
berubah menjadi magnet)

Perubahan tekanan udara

Akustik

Radiasi

B. KEKERASAN BENDA TUMPUL


Kekerasan karena benda tumpul (Blunt Force Injury) merupakan kasus
yang paling banyak terjadi dan selalu menduduki urutan pertama yang masuk di
bagian ilmu kedokteran forensik.(1)
Cara kejadian yang terutama adalah kecelakaan lalu lintas. Jika
ditambah dengan kasus-kasus yang tidak fatal, jumlahnya tentu akan berlipat
ganda. Benda tumpul dimaksud sebagai benda yang tidak bermata tajam
(tidak dapat untuk mengiris, membacok, atau menusuk). Mempunyai
konsistensi yang keras atau kenyal, permukaannya dapat halus ataupun kasar.
Kadang-kadang dalam satu benda didapat bagian yang tajam dan tumpul,
misalnya clurit dengan ujung tajam dan tangkainya tumpul.(1)
Benda tumpul bila mengenai tubuh dapat menyebabkan luka, yaitu luka
lecet, memar, dan luka robek atau luka terbuka. Dan bila kekerasan benda
tumpul tersebut sedemikian hebatnya dapat pula menyebabkan patah tulang.(1)

Gambar 1. Jenis-jenis luka akibat benda tumpul (3)


Organ atau jaringan pada tubuh mempunyai beberapa cara menahan
kerusakan yang disebabkan objek atau alat dengan permukaan yang tumpul,
daya tahan tersebut menimbulkan berbagai tipe luka yakni luka lecet, luka

memar dan luka robek. (1)


LUKA MEMAR
PENDAHULUAN
Lebam atau kontusio atau dalam bahasa Inggris disebut sebagai bruise
merupakan sebuah area perdarahan didalam jaringan lunak karena ruptur
pembuluh darah yang disebabkan oleh trauma tumpul. Kata bruise kadangkadang dianggap bersinonim dengan hematom dan ekimosis (echymoma).
Istilah kontusio juga sering digunakan, khususnya ketika berhubungan dengan
adanya trauma internal.

(2,3)

Memar umumnya terjadi akibat trauma benda tumpul, seperti pukulan


atau jatuh, tetapi juga dapat terjadi karena luka hancur, perasan, atau cubitan.

(5)

Adanya tekanan yang cukup pada permukaan kulit mengakibatkan gangguan


pembuluh darah tanpa merusak kulitnya.

(3)

Kontusio tidak hanya bisa terjadi

pada kulit, terapi juga pada organ dalam tubuh seperti paru-paru, hati, otak, dan
otot.(1) Salah satu permasalahan mengenai terbentuknya luka memar adalah
adanya variasi antar individu. Luka memar biasanya menjalani serangkaian
perubahan warna dari merah, merah kebiruan, biru, biru kehijauan atau cokelat
menjadi kuning sebelum menghilang.Namun, tidak semua luka memar
menjalani perubahan warna tersebut. (3)
PATOMEKANISME
Sel sebagai bagian dari suatu jaringan apabila mengalami jejas atau
cedera akan melakukan respon adaptasinya sendiri. Penyebab jejas sel antara
lain adalah : (4)
1) Hipoksia;

2) Trauma fisik;
3) Obat-obatan dan zat kimia;
4) Reaksi imunologis;
5) Defek genetik; dan
6) Ketidakseimbangan nutrisi.
Pada kasus luka memar, jejas sel terjadi karena trauma fisik benda
tumpul. Sel yang terkena jejas akan mengalami beberapa fase untuk beradaptasi
agar dapat kembali ke keadaan homeostasis.

(4)

Kontusio dapat dibedakan dari

area livor mortis. Pada kontusio, darahnya telah masuk hingga kedalam
jaringan lunak sehingga tidak dapat dihapus atau dikeluarkan seperti pada area
livor mortis. Pemeriksaan immunohistokimia pada kontusio dan perubahan
warna postmortem menunjukkan adanya reaksi positif dari glycophorin A,
sebuah komponen dari sel darah merah, yang mengindikasikan bahwa trauma
tersebut adalah trauma antemortem.

(4)

Setelah kematian, tidak adanya tekanan

darah berarti diperlukan tenaga yang sangat besar untuk menghasilkan memar
pada mayat. Memar postmortem seperti itu sangat kecil jika dibandingkan
dengan tenaga yang dikeluarkan, biasanya dihubungkan dengan adanya fraktur,
dan memar yang dihasilkan tersebut hanya berdiameter beberapa sentimeter. (4)

Memar

Lebam mayat

Lokasi

Bisa dimana sahaja

Pada bagian terendah

Pembengkakan

(+)

(-)

Mikroskopik

Reaksi jaringan (+)

Reaksi jaringan (-)

Bila ditekan

Warna tetap
Warna memudar/ menghilang
Tabel 1 Perbedaan memar dengan lebam mayat (5)

Derajat dan keparahan kontusio tidak hanya bergantung kepada

banyaknya energi yang diberikan, tetapi juga terhadap struktur dan


vaskularisasi jaringan yang mengalami kontusio. Oleh karena itu, kontusio
paling mudah terjadi pada daerah yang berkulit tipis dan memiliki banyak
lemak. (6)
Anak-anak dan orang tua lebih mudah mengalami kontusio, karena
anak-anak memiliki kulit yang lebih tipis dan lembut serta memiliki sedikit
lemak subkutan. Pada orang tua, terjadi hilangnya jaringan penyokong
subkutan, gangguan pembuluh darah dan memarnya lebih lama sembuh. (3,

6)

Beberapa faktor yang mempengaruhi ukuran dari sebuah kontusio : usia, jenis
kelamin, dan kondisi kesehatan korban, serta daerah dan tipe jaringan yang
terkena. Tidak ada cara pasti untuk menentukan seberapa banyak energi yang
diperlukan agar terjadi kontusio. Penelitian untuk mengetahui seberapa banyak
energi yang diperlukan untuk terjadinya fraktur atau luka memar sulit dilakukan
karena tidak adanya sampel manusia. (3)

Gambar 2: Proses terbentuknya memar

PENGUKURAN USIA KONTUSIO


Metode yang biasa digunakan untuk menentukan usia dari sebuah luka
memar adalah dengan histologi dan perubahan warna. Metode penentuan umur
luka yang biasa digunakan dalam bidang forensik selama ini adalah dengan
melihat gambaran luka secara makroskopis, berdasarkan perubahan warna yang
mengikuti proses penyembuhan yang terjadi pada luka tersebut. Penentuan
umur luka secara mikroskopik ataupun secara serologik merupakan metode lain
yang dapat digunakan, yaitu dengan melihat perubahan-perubahan biokimiawi
yang terjadi pada jaringan dan cairan tubuh terutama pada darah. (7)
Memar akan mengalami proses perubahan warna karena degradasi dari
hemoglobin. Tidak ada terminologi standar yang digunakan untuk menjelaskan
warna dari memar. Warna yang sama dapat disebut sebagai ungu, merah
keunguan, biru keunguan, atau biru. Kebanyakan memar awalnya berwarna
merah, biru gelap, ungu, atau hitam. Setelah hemoglobin dipecah, warnanya
perlahan berubah menjadi ungu, hijau, kuning tua, kuning pucat, kemudian
menghilang.Perubahan ini dapat terjadi dalam beberapa hari hingga beberapa
minggu. Namun, laju perubahan ini sangat bervariasi, bukan hanya antar
individu, tetapi antar memar pada individu yang sama. Perubahan warna ini
juga bisa terjadi tidak berurutan dan saling bertumpang-tindih. Warna pada
ujung luka memar biasanya merupakan indikator usia memar yang paling baik,
dengan warna tertua berada pada bagian ujung. (3)
Sumber

0-24 jam

1-4 hari

5-7 hari

8-10 hari

1-3 minggu

Schwartz
dkk(1996
)

Merah

Biru
keunguan

Hijau,
kuning

Kuning
kecoklatan

Menghilang

Tabel 2: Perubahan luka memar(7)

Hasil degradasi metabolik dari heme terdiri dari serangkaian senyawa


non-metallic yang tersusun sebagai struktur rantai linear pyrrole. Senyawan
tersebut adalah bilin atau bilichrome. Salah satu dari bilin tersebut adalah
senyawa berwarna biru-kehijauan yang disebut sebagai biliverdin (C33 H34 O6
N4) yng kemudian dipecah menjadi bilirubin (C33 H36 O6 N4) oleh enzim
biliverdin reductase yang merupakan sebuah senyawa berwarna kuning
kemerahan yang terbentuk dengan menambahkan dua atom hidrogen ke
biliverdin. Senyawa-senyawa tersebut, serta pigmen biologis lainnya seperti
biochrome yang dibentuk sebagai produk katabolic porfirin, yang bertanggung
jawab terhadap perubahan warna pada luka memar. Pendeteksian sel eritrosit
dan hemosiderin merupakan suatu metode klasik yang digunakan untuk
menentukan umur dari memar. (6)
Perubahan umur pada luka memar merupakan satu hal yang harus
dibahas apabila memperkirakan perubahan morfologi yang terjadi pada luka
terbuka dan abrasi. Perumuran histologis, yang berhubungan dengan perubahan
ini selalunya akan berubah menurut pola yang infinit dan terdiri dari tiga
stadium yaitu: Fase inflamatorik (satu sampai tiga hari setelah luka):
vaskularisasi, hemostatik, dan respon seluler. (6)

PERUBAHAN
WARNA MEMAR

Pigmentasi
kulit
Struktur
dan
vaskularisasi
jaringan
Umur
Jenis kelamin
Lemak
subkutan dan
berat
badan
korban
Laju
penyembuhan
Suhu tubuh

ANTEMORTEM
DIBANDING
POSTMORTEM

Cepatnya
kematian
setelah trauma
Kondisi
lingkungan
Pakaian
Laju
metabolism
Status
kesehatan dan
penyakit
(hipertensi,
gangguan
koagulasi,
gangguan hati,
pengobatan)

MASSA
DAN
KECEPATAN TUMBUKAN

Kedalaman
dan
kekuatan dari trauma
Deformasi fisik lain
(luka
tusuk,
overlapping)
Subjektifitas
pemeriksa dan derajat
keahlian
Cahaya pada saat
observasi
Efek gravitasi seiring
berjalannya waktu

Tabel 3 : Daftar hal-hal yang mempengaruhi penampakan luka memar (7)


Fase proliferasi (10 14 hari setelah luka) : regenerasi epitel dan jaringan.
Reorganisasi dan fase remodeling (beberapa bulan setelah luka).

Bentuk : kontur, pola, dan derajat pembengkakan harus ditulis sejelas


mungkin.

Ukuran : tergantung bentuk luka memar. Namun, paling tidak harus


diberikan 2 dimensi pengukuran panjang dan lebar.

Warna : penting untuk mendeskripsikan warna luka memar dengan


Istilah simple.

Lokasi : sama seperti luka trauma lainnya, penting untuk


menggambarkan lokasi tepatnya pada tubuh. Harus disertai dengan
deskripsi lokasinya (seperti bagian bawah dada kiri depan) dan
jaraknya dari 2 titik (misalnya dari garis tengah tubuh dan dibawah
bahu).

Foto : penting untuk mengilustrasikan deskripsi luka memar dengan


foto berkualitas bagus. Skala pengukuran harus disertakan dalam
setiapfoto. Untuk menentukan usia luka memar berdasarkan
warnanya,biasanya disertakan skala warna.

Pada keadaan tertentu, penggunaan teknik fotografi spesial dengan


menggunakan gelombang cahaya diluar dari spektrum cahaya yang
dapat dilihat seperti ultraviolet dan infrared dapat memperbaiki
penampakan dari luka memar tersebut.
Tabel 4: Dokumentasi luka memar (6)

C. ASPEK MEDIKOLEGAL (8)


Di dalam melakukan pemeriksaan terhadap korban kekerasan, pada
hakekatnya dokter diwajibkan untuk dapat memberikan kejelasan dari
permasalahan sebagai berikut:

Jenis luka apa yang ditemui

Jenis kekerasan atau senjata apakah yang menyebabkan luka

Bagaimana kualifikasi dari luka itu


Untuk memahami yang dimaksud dengan kualifikasi derajat luka

sebaiknya mempelajari terlebih dahulu pasal-pasal dalam Kitab UndangUndang Hukum Pidana yang bersangkutan dengan penganiayaan.
Dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) dikenal luka
kelalaian atau karena disengajakan.Luka yang terjadi ini disebut Kejahatan
Terhadap Tubuh atau Mis drijven Tegen Het Lijf. Kejahatan terhadap jiwa ini
diperinci menjadi dua yaitu kejahatan doleuse (yang dilakukan dengan sengaja)
dan kejahatan culpose ( yang dilakukan karena kelalaian atau kejahatan).
Hukum pidana Indonesia mengenal delik penganiayaan yang terdiri dari
tiga tingkatan dengan hukuman yang berbeda yaitu penganiayaan ringan
(pidana maksimum 3 bulan penjara), penganiayaan

diancam (pidana

maksimum 2 tahun 8 bulan), dan penganiayaan yang menimbulkan luka berat


(pidana maksimum 5 tahun). Ketiga tingkatan penganiayaan tersebut diatur
dalam pasal 352 (1) KUHP untuk penganiayaan ringan, pasal 351 (1) KUHP
untuk penganiayaan, dan pasal 352 (2) KUHP untuk penganiayaan yang
menimbulkan luka berat.
Jenis kejahatan yang dilakukan dengan sengaja diatur dalam Bab XX,
pasal-pasal 351 s.d. 358. Jenis kejahatan yang disebabkan karena kelalaian
diatur dalam pasal 359, 360 dan 361 KUHP. Dalam pasal-pasal tersebut
dijumpai kata-kata, mati, menjadi sakit sementara atau tidak dapat dijalankan
pekerjaan sementara, yang tidak disebabkan secara langsung oleh terdakwa,
akan tetapi karena salahnya diartikan sebagai kurang hati-hati, lalai, lupa dan
amat kurang perhatian.
Pasal 361 KUHP menambah hukumannya sepertiga lagi jika kejahatan
ini dilakukan dalam suatu jabatan atau pekerjaan.Pasal ini dapat dikenakan

pada dokter, bidan, apoteker, supir, masinis keretaapi dan lain-lain.


Dalam pasal-pasal tersebut tercantum istilah penganiayaan dan
merampas dengan sengaja jiwa orang lain, suatu istilah hukum semata-mata
dan tidak dikenal dalam istilah medis.
Yang dikatakan luka berat pada tubuh pada pasal 90 KUHP, adalah
penyakit atau luka yang tidak bias. Diharapkan akan sembuh lagi dengan
sempurna atau yang dapat mendatangkan bahaya maut, terus-menerus tidak
cukup lagi melakukan satu pekerjaan tidak lagi memakai salah satu
pancaindera, kudung (rompong), lumpuh, berubah pikiran (akal) lebih dari
empat minggu lamanya, menggugurkan atau membunuh anak dari kandungan
ibu.
Disinilah dokter berperan besar sekali sebagai saksi ahli di depan
pengadilan. Hakim akan mendengarkan keterangan spesialis kedokteran
forensik maupun ahli lainnya (setiap dokter) dalam tiap kejadian secara khusus
demi kasus.
Walaupun luka lecet ini tidak membahayakan jiwa seseorang, tetapi
mempunyai beberapa kepentingan dari segi medikolegal, antara lain :
a) Mengetahui bagaimana terjadinya cedera
b) Bisa memberikan petunjuk adanya tanda-tanda perlawanan pada
kasus-kasus tertentu
c) Untuk menentukan arah datangnya tekanan
d) Dari letak abrasi bisa digunakan untuk memperkirakan dasar dari
tindakan kriminil
e) Bisa merupakan tanda-tanda adanya cedera bagian dalam tubuh.

D. KEKERASAN DALAM RUMAH TANGGA

KDRT sudah diatur dalam Undang-undang, dan sebaiknya masyarakat


mengetahui apa dan bagaimana Undang-undang ini.
1. PENGERTIAN KDRT MENURUT UNDANG-UNDANG
KDRT adalah setiap perbuatan terhadap seseorang terutama perempuan,
yang berakibat timbulnya kesengsaraan atau penderitaan secara fisik, seksual,
psikologis, dan / atau penelantaran rumah tangga termasuk ancaman untuk
melakukan perbuatan, pemaksaan, atau perampasan kemerdekaan secara
melawan hukum dalam lingkup rumah tangga (Pasal 1 Butir 1). (9)
Lingkup rumahtangga dalam Undang-undang ini meliputi: (10)
a. suami, istri, dan anak
b. orang-orang yang mempunyai

hubungan

keluarga

dengan

orang

sebagaimana dimaksud dalam huruf a karena hubungan darah, perkawinan,


persusuan, pengasuhan, dan perwalian, yang menetap dalam rumah tangga;
dan/atau
c. orang yang bekerja membantu rumah tanggadan menetap dalam rumah
tangga tersebut
Orang yang bekerja sebagaimana dimaksud dalam huruf c dipandang
sebagai anggota keluarga dalam jangka waktu selama berada dalam rumah
tangga yang bersangkutan.
2. BENTUK-BENTUK KDRT(11)
Pertama, kekerasan fisik adalah perbuatan yang mengakibatkan rasa
sakit, jatuh sakit atau luka berat (Pasal 6). Adapun kekerasan fisik dapat
diwujudkan dengan perilaku di antaranya: menampar, menggigit, memutar
tangan, menikam, mencekek, membakar, menendang, mengancam dengan
suatu benda atau senjata, dan membunuh. Perilaku ini sungguh membuat anak-

anak menjadi trauma dsalam hidupnya, sehingga mereka tidak merasa nyaman
dan aman.
Kedua, kekerasan psikis adalah perbuatan yang mengakibatkan
ketakutan, hilangnya rasa percaya diri, hilangnya kemampuan untuk bertindak,
rasa tidak berdaya, dan/atau penderitaan psikis berat pada seseorang (pasal 7).
Adapun tindakan kekerasan psikis dapat ditunjukkan dengan perilaku yang
mengintimidasi dan menyiksa, memberikan ancaman kekerasan, mengurung di
rumah, penjagaan yang berlebihan, ancaman untuk melepaskan penjagaan
anaknya, pemisahan, mencaci maki, dan penghinaan secara terus menerus.
Ketiga, kekerasan seksual adalah setiap perbuatan yang berupa
pemaksaan hubungan seksual, pemaksaan hubungan seksual dengan cara tidak
wajar dan/atau tidak disukai, pemaksaan hubungan seksual dengan orang lain
untuk tujuan komersial dan/atau tujuan tertentu. Kekerasan seksual meliputi
(pasal 8): (a) Pemaksaan hubungan seksual yang dilakukan terhadap orang
yang menetap dalam lingkup rumah tangga tersebut; (b) Pemaksaan hubungan
seksual terhadap salah seorang dalam lingkup rumah tangganya dengan orang
lain untuk tujuan komersial dan/atau tujuan tertentu.
Keempat, penelantaran rumah tangga adalah seseorang yang
menelantarkan orang dalam lingkup rumah tangganya, padahal menurut hukum
yang berlaku baginya atau karena persetujuan atau perjanjian ia wajib
memberikan kehidupan, perawatan, atau pemeliharaan kepada orang tersebut.
Selain itu, penelantaran juga berlaku bagi setiap orang yang mengakibatkan
ketergantungan ekonomi dengan cara membatasi dan/atau melarang untuk
bekerja yang layak di dalam atau di luar rumah sehingga korban berada di
bawah kendali orang tersebut (pasal 9). Penelantaran rumah tangga dapat
dikatakan dengan kekerasan ekonomik yang dapat diindikasikan dengan
perilaku di antaranya seperti : penolakan untuk memperoleh keuangan,

penolakan untuk memberikan bantuan yang bersifat finansial, penolakan


terhadap pemberian makan dan kebutuhan dasar, dan mengontrol pemerolehan
layanan kesehatan, pekerjaan, dan sebagainya.

3. PENYEBAB TERJADINYA KDRT(11)


Zastrow & Browker (1984) menyatakan bahwa ada tiga teori utama
yang mampu menjelaskan terjadinya kekerasan, yaitu teori biologis, teori
frustasi-agresi, dan teori kontrol.
Pertama, teori biologis menjelaskan bahwa manusia, seperti juga
hewan, memiliki suatu instink agressif yang sudah dibawa sejak lahir. Sigmund
Freud menteorikan bahwa manusia mempunyai suatu keinginan akan kematian
yang mengarahkan manusia-manusia itu untuk tindakan melukai dan
membunuh orang lain dan dirinya sendiri. Agresi pada hakekatnya membantu
untuk menegakkan suatu sistem dominan, dengan demikian memberikan
struktur dan stabilitas untuk kelompok. Beberapa ahli teori biologis
berhipotesis bahwa hormon sek pria menyebabkan perilaku yang lebih agresif.
Di sisi lain, ahli teori belajar verteori bahwa perbedaann perilaku agresif
terutama disebabkan oleh perbedaan sosialisasi terhadap pria dan wanita.
Kedua, teori frustasi-agresi menyatakan bahwa kekerasan sebagai suatu
cara untuk mengurangi ketegangan yang dihasilkan situasi frustasi. Teori ini
berasal dari suatu pendapat yang masuk akal bahwa sesorang yang frustasi
sering menjadi terlibat dalam tindakan agresif. Orang frustasi sering menyerang
sumber frustasinya atau memindahkan frustasinya ke orang lain. Misalnya.
Seorang remaja (teenager) yang diejek oleh orang lain mungkin membalas
dendam, sama halnya seekor binatang kesayangan yang digoda. Seorang

pengangguran yang tidak dapat mendapatkan pekerjaan mungkin memukul istri


dan anak-anaknya.
Ketiga, teori ini menjelaskan bahwa orang-orang yang hubungannya
dengan orang lain tidak memuaskan dan tidak tepat adalah mudah untuk
terpaksa berbuat kekerasan ketika usaha-usahnya untuk berhubungan dengan
orang lain menghadapi situasi frusstasi. Teori ini berpegang bahwa orang-orang
yang memiliki hubungan erat dengan orang lain yang sangat berarti cenderung
lebih mampu dengan baik mengontrol dan mengendalikan perilakunya yang
impulsif.
KESIMPULAN
Setiap keluarga pada awalnya selalu mendambakan kehidupan rumah
tangga yang aman, nyaman, dan membahagiakan. Secara fitrah perbedaan
individual dan lingkungan sosial budaya berpotensi untuk menimbulkan
konflik. Bila konflik sekecil apapun tidak segera dapat diatasi, sangatlah
mungkin berkembang menjadi KDRT. Kejadian KDRT dapat terwujud dalam
bentuk yang ringan sampai berat, bahkan dapat menimbulkan korban kematian,
sesuatu yang seharusnya dihindari.
Untuk dapat menyikapi KDRT secara efektif, perlu sekali setiap anggota
keluarga memiliki kemampuan dan keterampilan mengatasi KDRT, sehingga
tidak menimbulkan pengorbanan yang fatal. Tentu saja hal ini hanya bisa
dilakukan bagi anggota keluarga yang sudah memiliki usia kematangan tertentu
dan memiliki keberanian untuk bersikap dan bertindak. Sebaliknya jika anggota
keluarga tidak memiliki daya dan kemampuan untuk menghadapi KDRT, secara
proaktif masyarakat, para ahli, dan pemerintah perlu mengambil inisiatif untuk
ikut serta dalam penanganan korban KDRT, sehingga dapat segera

menyelamatkan dan menghindarkan anggota keluarga dari kejadian yang tidak


diinginkan.