Anda di halaman 1dari 15

Kasus 1

Topik: Skizofrenia Paranoid


Tanggal (kasus): 5 April 2012
Tanggal (presentasi):

Persenter: dr. Fazia


Pendamping: dr. Nita Rahmaniar
Pembimbing: dr.Dewi, Sp.KJ
Tempat Presentasi : Ruang Komite Medik RSU Cut Nyak Dhien Meulaboh
Obyektif Presentasi:

Keilmuan

Diagnostik

Keterampilan

Neonatus

Penyegaran

Manajemen
Bayi

Masalah
Anak

Tinjauan Pustaka

Istimewa
Remaja

Dewasa

Lansia

Bumil

Deskripsi : Laki-laki, 28 tahun, mengamuk, tertawa sendiri


Tujuan:
- Mampu mendiagnosis Skizofrenia Paranoid
- Mengetahui pengobatan Skizofrenia Paranoid
Bahan
bahasan:

Tinjauan Pustaka

Cara
membahas:
Data pasien:
Nama klinik: RSUD

Diskusi

Riset
Presentasi dan

diskusi
Nama: Mustafa

Telp: (-)
Sabang
Data utama untuk bahan diskusi:

Kasus

Email
Nomor Registrasi:
Terdaftar sejak: 5 April 2013

Audit

Pos

1. Diagnosis/Gambaran Klinis :
Heteroanamnesis : pasien dibawa ke ruangan zaitun oleh keluarganya dengan keluhan mengamuk sejak 5
hari yang lalu. Menurut keluarganya pasien sedang bermasalah dengan istrinya. Pasien sering bicara dan
tertawa sendiri, sering jalan-jalan sendiri dan mondar-mandir tanpa tujuan yang jelas. Pasien juga tidak
bisa tidur, sering cemas, takut, gelisah. Waham curiga (+), pasien menaruh curiga terhadap kawan-kawan
di kamtornya, halusinasi auditorik (+), kurang sosialisasi (+), tidur (-), pasien pernah mengalami gangguan
jiwa 1 tahun yang lalu tetapi belum pernah dirawat di rumah sakit. Riwayat pemakaian ganja (+).
2. Riwayat Pengobatan:
Pasien belum pernah mendapat pengobatan sebelumnya.
3. Riwayat kesehatan/penyakit:
Pasien pernah mengalami gangguan jiwa 1 tahun yang lalu.
4. Riwayat keluarga:
Tidak ada anggota keluarga dengan keluhan yang sama.
5. Riwayat pekerjaan: Pasien adalah seorang pegawai di perusahaan kelapa sawit.
6. Lain-lain:
Riwayat kelahiran dan tumbuh kembang: tidak jelas.
Riwayat kebiasaan sosial: merokok (+).
7. PEMERIKSAAN STATUS MENTAL
Pemeriksaan status mental ini dilakukan keesokan harinya saat kondisi pasien sudah tenang.
A. Deskripsi Umum

Penilaian umum: Pasien menggunakan baju berwarna abu-abu berlengan pendek dan celana panjang
setinggi tumit berwarna coklat. Pasien terlihat rapi, roman wajah sesuai usianya, rambut lurus sebahu

dan disisir rapi, kuku-kuku pasien agak panjang namun bersih.


Perilaku dan Aktivitas Psikomotor: Kurang perhatian dan mengamuk
Sikap terhadap Pemeriksa : tidak kooperatif

B. Mood dan Afek


Mood : Disforik
Afek : Appropriate
Keserasian : Sesuai
C. Pembicaraan
Tidak kooperatif, pasien masih bingung, dan autis
D. Persepsi
Tidak ditemukan adanya halusinasi dan ilusi saat dilakukan pemeriksaan.
E. Proses Pikir
Bentuk : Logis
Arus : Koheren
F. Isi Pikir : Waham (-), preokupasi : (-)
G. Kesadaran dan Kognisi
1. Taraf kesadaran dan kesigapan : Compos Mentis (GCS E4V5M6)
2. Orientasi:
a. Waktu : Baik (pasien mengetahui hari, tanggal, bulan dan tahun saat dilakukan pemeriksaan)
b. Tempat : Baik (pasien mengetahui saat ini berada di rumah sakit dan tahu alamat rumahnya)
c. Orang : Baik (Pasien mampu mengenali keluarga yang datang mengunjunginya)
3. Daya Ingat

Daya ingat jangka panjang : Baik (pasien mampu menceritakan masa sekolahnya, mengingat usianya

saat pertama kali sekolah, walaupun kadang agak lambat mengingat)


Daya ingat jangka sedang : Baik (pasien mampu menceritakan kapan diantar ke rumah sakit ).
Daya ingat jangka pendek : Baik (pasien mampu mengingat bahwa ia sudah makan dan pada waktu itu
belum minum obat)

4. Konsentrasi dan Perhatian : berkurang (Pasien tampak menaruh perhatian terhadap pembicaraan yang
dilakukan dengan pemeriksa tetapi cenderung melambat dalam merespon wawancara yang dilakukan)
5. Kemampuan Visuo Spasial: Baik, pasien mampu menggambar dan jajaran genjang bersusun namun
gambarnya tidak lurus karena tremor.
6. Pikiran abstrak: Baik (pasien dapat menjelaskan perbedaan dan persamaan bola dan jeruk. Kalau bedanya
bola ditendang, jeruk dimakan. Persamaannya sama-sama bentuk bulat)
7. Intelegensi dan kemampuan informasi: Baik (mampu menyebutkan ibukota Provinsi Aceh dan nama

presiden RI) ibukota Provinsi Aceh,banda aceh, presiden Indonesia Pak SBY.
8. Bakat Kreatif: Pasien menggemari bidang computer atau IT
9. Kemampuan menolong diri sendiri: Relatif baik (mampu makan, minum, mandi dan mengurus dirinya
sendiri)
H. Pengendalian Impuls : Terkendali
I. Daya Nilai dan Tilikan
Penilaian Realita : Tidak Terganggu
Tilikan : 6
J. Taraf dapat dipercaya: Dapat dipercaya

8. Pemeriksaan Fisik
I.
STATUS PRESENT
1. Keadaan Umum
2. Kesadaran
:
3. Tekanan Darah :
4. Nadi
:
5. Frekuensi Nafas
6. Temperatur
:

: Lemah
Compos mentis
100/60 mmHg
84x/menit, reguler, lemah
: 22x/menit
36,8o C

II. STATUS GENERAL


A. Kulit
Warna

: Sawo matang

Turgor

: Kembali cepat

Ikterus

: (-)

Pucat

: (-)

Sianosis

: (-)

Oedema

: (-) pada kedua extremitas inferior

Kelembaban

: Lembab (berkeringat banyak)

B. Kepala
Bentuk

: Kesan Normocephali

Rambut

: Berwarna hitam, sukar dicabut

Mata

: Cekung (-), refleks cahaya (+/+), konj. Palp inf pucat (-/-), sklera ikterik (-/-)

Telinga

: Sekret (-/-), perdarahan (-/-)

Hidung

: Sekret (-/-), perdarahan (-/-), NCH (-/-)

C. Mulut
Bibir

: Pucat (-), Sianosis (-)

Gigi geligi

: Karies (-)

Lidah

: Beslag (-), Tremor (-)

Mukosa

: Basah (+)

Tenggorokan

: Tonsil dalam batas normal

Faring

: Hiperemis (-)

D. Leher
Bentuk

: Kesan simetris

Kel. Getah Bening: Kesan simetris, Pembesaran KGB (-)


Peningkatan TVJ : R-2 cmH2O
E. Axilla
F. Thorax

: Pembesaran KGB (-)

1. Thoraks depan
Inspeksi
Bentuk dan Gerak

: Normochest,

pergerakan simetris.

Tipe pernafasan : Thorako-abdominal


Retraksi

: (-)

Palpasi
Stem premitus
Lap. Paru atas
Lap. Paru tengah
Lap.Paru bawah

Paru kanan
Normal
Normal
Normal

Paru kiri
Normal
Normal
Normal

Perkusi
Lap. Paru atas
Lap.
Paru

Paru kanan
Sonor
Sonor

Paru kiri
Sonor
Sonor

tengah
Lap.Paru
bawah

Sonor

Sonor

Auskultasi
Suara pokok
Lap.
Paru

Paru kanan
Vesikuler

atas
Lap.Paru

Vesikuler

Vesikuler

tengah
Lap.Paru

Vesikuler

Vesikuler

bawah
Suara
tambahan
Lap. Paru atas
Lap.
Paru
tengah
Lap.

Paru kiri
Vesikuler

Paru

bawah

Paru kanan

Paru kiri

Rh(-) , Wh(-)

Rh(-) , Wh(-)

Rh(-) , Wh(-)

Rh(-), Wh(-)

Rh(-) , Wh(-)

Rh(-), Wh(-)

2. Thoraks Belakang
Inspeksi
Bentuk dan Gerak

: Normochest,

pergerakan simetris.

Tipe pernafasan : Thorako-abdominal


Retraksi

: interkostal (-)

Palpasi
Stem

Paru kanan

Paru kiri

premitus
Lap. Paru atas
Lap.
Paru

Normal
Normal

Normal
Normal

tengah
Lap.Paru

Normal

Normal

bawah
Perkusi
Lap. Paru atas
Lap.
Parutengah
Lap.Paru
bawah

Paru kanan
Sonor

Paru kiri
Sonor

Sonor

Sonor

Sonor

Sonor

Paru kanan
Vesikuler

Paru kiri
Vesikuler
Vesikuler

Auskultasi
Suara pokok
Lap. Paru atas
Lap.Paru
tengah
Lap.Paru
bawah
Suara
tambahan
Lap. Paru atas
Lap.
Paru
tengah

Vesikuler
Vesikuler

Vesikuler

Paru kanan

Paru kiri

Rh(-) , Wh(-)

Rh(-),Wh(-)

Rh(-) , Wh(-)

Rh(-), Wh(-)

Lap.

Paru

bawah

Rh(-) , Wh(-)

Rh(-), Wh(-)

G. Jantung
- Inspeksi

: Ictus cordis tidak terlihat

- Palpasi

: Ictus cordis teraba ICS V 2 cm lateral lnea midclavicula sinistra

- Perkusi

Batas kanan

Batas atas : ICS III sinistra


: Linea parasternalis kanan

Batas Kiri : ICS V 2 cm lateral lnea midclavicula sinistra


-

Auskultasi

: HR : 90 x/menit, reguler, bising (-). BJ I : terdengar tunggal. BJ II :

terdengar split
H. Abdomen
-

Inspeksi

: Kesan simetris, distensi (-)

Palpasi

: Distensi abdomen (-), Nyeri tekan (-),


Lien tidak teraba, hepar tidak teraba

Perkusi

Auskultasi

I. Genetalia
J. Anus

: Tympani (+), Shifting Dullness (-)


: peristaltik usus ()
: Edema skrotum (-)
: Hemoroid (-)

K. Ekstremitas
Ekstremita
s
Sianotik
Edema
Ikterik
Gerakan

Superior
Kanan
Kiri
Aktif
Aktif

Inferior
Kanan
Kiri
Aktif
Aktif

Tonus otot
Sensibilitas
Atrofi otot
III.

V.

Normotonu Normotonu Normotonu


s
s
s
N
N
N
-

Normoton
us
N
-

DIAGNOSA SEMENTARA
Skizofrenia Paranoid
IV. PLANNING
1. Penatalaksanaan Skizofrenia Paranoid
PENATALAKSANAAN

PSIKOEDUKASI
Mengedukasi keluarga untuk memberikan suasana kondusif bagi pasien (dalam hal ini dapat melibatkan
istri pasien dan bila tidak memungkinkan, maka saudara terdekat pasien misalnya paman pasien
terlebih adalah suasana kondusif di rumahnya).
Mengedukasi keluarga untuk membiasakan pasien secara perlahan dengan kehidupan sosialnya seperti
teman dekatnya, agar ia dapat kembali terbiasa dengan lingkungannya.
Mengedukasi pasien tentang pengaruh obat yang diminum dan dapat mengawasi pasien ketika minum
obat.
Mengedukasi pasien untuk membawanya memeriksakan diri ke RS secara teratur.

PSIKOFARMAKA
Clorilex 2x12,5 mg
Zofredal 2x2 mg
Chlorpromazin 1x100 mg
Trihekxyphenidyl 2x2 mg
Injeksi lodomer+diazepam (k/p)

VI.

PROGNOSIS

Quo ad vitam
Quo ad sanactionam
Quo ad functionam

: dubia ad bonam
: dubia ad bonam
: dubia ad malam

Daftar Pustaka:
Arif, I. S. 2006. Skizofrenia: Memahami Dinamika Keluarga Pasien.Bandung: Refika Aditama.
Baihaqi, MIF, dkk. 2007. Psikiatri: Konsep Dasar dan Gangguan-Gangguan.Bandung: Refika Aditama
Halgin, R. P. dan Susan K. W. 1997. Abnormal Psychology: The Human Experience of Psychological Disorder.
Dubuque: Times Mirror Higher Education Group, Inc
Hasil pembelajaran:
1. Diagnosis Skizofrenia Paranoid
2. Langkah penatalaksanaan Skizofrenia Paranoid

Rangkuman
1. Subjektif:
pasien dibawa ke ruangan zaitun oleh keluarganya dengan keluhan mengamuk sejak 5 hari yang lalu.
Menurut keluarganya pasien sedang bermasalah dengan istrinya. Pasien sering bicara dan tertawa sendiri,
sering jalan-jalan sendiri dan mondar-mandir tanpa tujuan yang jelas. Pasien juga tidak bisa tidur, sering
cemas, takut, gelisah. Waham curiga (+), pasien menaruh curiga terhadap kawan-kawan di kamtornya,
halusinasi auditorik (+), kurang sosialisasi (+), tidur (-), pasien pernah mengalami gangguan jiwa 1 tahun
yang lalu tetapi belum pernah dirawat di rumah sakit. Riwayat pemakaian ganja (+).
2. Objektif:
Hasil anamnesis, dan pemeriksaan status mental mendukung diagnosis Skizofrenia.

Pada kasus ini diagnosis ditegakkan berdasarkan:


Gejala klinis (berupa mengamuk, halusinasi auditorik, tertawa sendiri, bicara sendiri, tidur kurang, suka
mondar-mandir sendiri). Hal ini sesuai dengan teori yang menyatakan bahwa salah satu gejala

skizofrenia adalah adanya halusinasi baik auditorik maupun visual.


Pada pemeriksaan status mental tidak ditemukan adanya halusinasi, kondisi pasien sudah tenang, tidak
mengamuk lagi, tetapi pasien masih suka menyendiri, kurang perhatian, bingung, dan tidak kooperatif

saat diajak bicara.


3. Asesmen (penalaran klinis):
Skizofrenia adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan suatu gangguan psikiatrik mayor yang
ditandai dengan adanya perubahan pada persepsi, pikiran, afek, dan perilaku seseorang. Kesadaran yang
jernih dan kemampuan intelektual biasanya tetap terpelihara, walaupun defisit kognitif tertentu dapat
berkembang kemudian.
Gejala skizofrenia secara garis besar dapat di bagi dalam dua kelompok, yaitu gejala positif dan gejala
negatif. Gejala positif berupa delusi, halusinasi, kekacauan pikiran, gaduh gelisah dan perilaku aneh atau
bermusuhan. Gejala negatif adalah alam perasaan (afek) tumpul atau mendatar, menarik diri atau isolasi diri
dari pergaulan, miskin kontak emosional (pendiam, sulit diajak bicara), pasif, apatis atau acuh tak acuh, sulit
berpikir abstrak dan kehilangan dorongan kehendak atau inisiatif.
Skizofrenia dapat ditemukan pada semua kelompok masyarakat dan di berbagai daerah. Insiden dan tingkat
prevalensi sepanjang hidup secara kasar hampir sama di seluruh dunia. Gangguan ini mengenai hampir 1%
populasi dewasa dan biasanya onsetnya pada usia remaja akhir atau awal masa dewasa. Pada laki-laki
biasanya gangguan ini mulai pada usia lebih muda yaitu 15-25 tahun sedangkan pada perempuan lebih
lambat yaitu sekitar 25-35 tahun. Insiden skizofrenia lebih tinggi pada laki-laki daripada perempuan dan lebih
besar di daerah urban dibandingkan daerah rural. Perjalanan klinis skizofrenia berlangsung secara perlahanlahan, meliputi beberapa fase yang dimulai dari keadaan premorbid, prodromal, fase aktif dan keadaan
residual. Pola gejala premorbid merupakan tanda pertama penyakit skizofrenia, walaupun gejala yang ada

dikenali hanya secara retrospektif. Karakteristik gejala skizofrenia yang dimulai pada masa remaja akhir atau
permulaan masa dewasa akan diikuti dengan perkembangan gejala prodromal yang berlangsung beberapa
hari sampai beberapa bulan. Tanda dan gejala prodromal skizofrenia dapat berupa cemas, gundah (gelisah),
merasa diteror atau depresi. Penelitian retrospektif terhadap pasien dengan skizofrenia menyatakan bahwa
sebagian penderita mengeluhkan gejala somatik, seperti nyeri kepala, nyeri punggung dan otot, kelemahan
dan masalah pencernaan.
Fase aktif skizofrenia ditandai dengan gangguan jiwa yang nyata secara klinis, yaitu adanya kekacauan dalam
pikiran, perasaan dan perilaku. Penilaian pasien skizofrenia terhadap realita terganggu dan pemahaman diri
(tilikan) buruk sampai tidak ada. Fase residual ditandai dengan menghilangnya beberapa gejala klinis
skizofrenia. Yang tinggal hanya satu atau dua gejala sisa yang tidak terlalu nyata secara klinis, yaitu dapat
berupa penarikan diri (withdrawal) dan perilaku aneh.
Tipe Paranoid
Ciri utama skizofrenia tipe ini adalah waham yang mencolok atau halusinasi auditorik dalam konteks
terdapatnya fungsi kognitif dan afektif yang relatif masih terjaga. Waham biasanya adalah waham kejar atau
waham kebesaran, atau keduanya, tetapi waham dengan tema lain (misalnya waham kecemburuan,
keagamaan, atau somalisas) mungkin juga muncul. Ciri-ciri lainnya meliputi ansietas, kemarahan, menjaga
jarak dan suka berargumentasi, dan agresif.
4. Plan:
Diagnosis: Berdasarkan hasil anamnesis, pemeriksaan status mental, pasien dapat didiagnosis menderita
Skizofrenia Paranoid.
Pengobatan:
Gejala-gejala gangguan skizofrenia yang kronik mengakibatkan situasi pengobatan di dalam maupun di luar
Rumah Sakit Jiwa (RSJ) menjadi monoton dan menjemukan. Secara historis, sejumlah penanganan psikososial
telah diberikan pada pasien skizofrenia, yang mencerminkan adanya keyakinan bahwa gangguan ini merupakan
akibat masalah adaptasi terhadap dunia karena berbagai pengalaman yang dialami di usia dini. Pada terapi

psikosial terdapat dua bagian yaitu terapi kelompok dan terapi keluarga.
1. Terapi kelompok merupakan salah satu jenis terapi humanistik. Pada terapi ini, beberapa klien

berkumpul dan saling berkomunikasi dan terapist berperan sebagai fasilitator dan sebagai pemberi
arah di dalamnya. Para peserta terapi saling memberikan feedback tentang pikiran dan perasaan yang
dialami. Peserta diposisikan pada situasi sosial yang mendorong peserta untuk berkomunikasi,
sehingga dapat memperkaya pengalaman peserta dalam kemampuan berkomunikasi.
2. Pada terapi keluarga merupakan suatu bentuk khusus dari terapi kelompok. Terapi ini digunakan untuk
penderita yang telah keluar dari rumah sakit jiwa dan tinggal bersama keluarganya. Keluarga berusaha
untuk menghindari ungkapan-ungkapan emosi yang bisa mengakibatkan penyakit penderita kambuh
kembali.
Pendidikan:
Keluarga diberi informasi tentang cara-cara untuk mengekspresikan perasaan-perasaan, baik yang positif
maupun yang negatif secara konstruktif dan jelas, dan untuk memecahkan setiap persoalan secara bersamasama. Keluarga diberi pengetahuan tentang keadaan penderita dan cara-cara untuk menghadapinya. Dari
beberapa penelitian, seperti yang dilakukan oleh Fallon ternyata campur tangan keluarga sangat membantu
dalam

proses

penyembuhan,

atau

sekurang-kurangnya

mencegah

kambuhnya

penyakit

penderita,

dibandingkan dengan terapi-terapi secara individual.

Konsultasi:
Dijelaskan perlunya konsultasi dengan Psikiater. Penjelasan mengenai faktor-faktor yang berperan dalam
terjadinya Skizofrenia Paranoid. Dan juga hal-hal yang bisa dilakukan untuk mencegah terjadinya kekambuhan
pada pasien ini.