Anda di halaman 1dari 10

Biaya yang dapat dikurangkan dari penghasilan bruto adalah biaya untuk mendapatkan,

menagih, dan memelihara penghasilan, termasuk:


1. biaya yang secara langsung atau tidak langsung berkaitan dengan kegiatan usaha,
antara lain:
a. biaya pembelian bahan;
b. biaya berkenaan dengan pekerjaan atau jasa termasuk upah, gaji,honorarium,
bonus, gratifikasi, dan tunjangan yang diberikan dalam bentuk uang;
c. bunga, sewa, dan royalti;
d. biaya perjalanan;
e. biaya pengolahan limbah;
f. premi asuransi;
g. biaya promosi dan penjualan yang diatur dengan atau berdasarkan Peraturan
Menteri Keuangan;
h. biaya administrasi; dan
i. pajak kecuali Pajak Penghasilan;
2. penyusutan atas pengeluaran untuk memperoleh harta berwujud dan amortisasi atas
pengeluaran untuk memperoleh hak dan atas biaya lain yang mempunyai masa
manfaat lebih dari 1 (satu) tahun sebagaimana dimaksud dalam Pasal 11 dan Pasal
11A;
3. iuran kepada dana pensiun yang pendiriannya telah disahkan oleh Menteri Keuangan;
4. kerugian karena penjualan atau pengalihan harta yang dimiliki dan digunakan dalam
perusahaan atau yang dimiliki untuk mendapatkan, menagih, dan memelihara
penghasilan;
5. kerugian selisih kurs mata uang asing;
6. biaya penelitian dan pengembangan perusahaan yang dilakukan di Indonesia;
7. biaya beasiswa, magang, dan pelatihan;
8. piutang yang nyata-nyata tidak dapat ditagih dengan syarat:
a. telah dibebankan sebagai biaya dalam laporan laba rugi komersial;
b. Wajib Pajak harus menyerahkan daftar piutang yang tidak dapat ditagih
kepada Direktorat Jenderal Pajak; dan

c. telah diserahkan perkara penagihannya kepada Pengadilan Negeri atau instansi


pemerintah yang menangani piutang negara; atau adanya perjanjian tertulis
mengenai penghapusan piutang/pembebasan utang antara kreditur dan debitur
yang bersangkutan; atau telah dipublikasikan dalam penerbitan umum atau
khusus; atau adanya pengakuan dari debitur bahwa utangnya telah dihapuskan
untuk jumlah utang tertentu;
d. syarat sebagaimana dimaksud pada angka 3 tidak berlaku untuk penghapusan
piutang tak tertagih debitur kecil sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 ayat
(1) huruf k UU Pajak Penghasilan;
yang pelaksanaannya diatur lebih lanjut dengan atau berdasarkan Peraturan Menteri
Keuangan;
9. sumbangan dalam rangka penanggulangan bencana nasional yang ketentuannya diatur
dengan Peraturan Pemerintah;
10. sumbangan dalam rangka penelitian dan pengembangan yang dilakukan
di Indonesia yang ketentuannya diatur dengan Peraturan Pemerintah;
11. biaya pembangunan infrastruktur sosial yang ketentuannya diatur dengan Peraturan
Pemerintah;
12. sumbangan fasilitas pendidikan yang ketentuannya diatur dengan Peraturan
Pemerintah; dan
13. sumbangan dalam rangka pembinaan olahraga yang ketentuannya diatur dengan
Peraturan Pemerintah.
Untuk menentukan besarnya Penghasilan Kena Pajak bagi Wajib Pajak dalam negeri dan
bentuk usaha tetap tidak boleh dikurangkan:
1. pembagian laba dengan nama dan dalam bentuk apapun seperti dividen, termasuk
dividen yang dibayarkan oleh perusahaan asuransi kepada pemegang polis, dan
pembagian sisa hasil usaha koperasi;
2. biaya yang dibebankan atau dikeluarkan untuk kepentingan pribadi pemegang saham,
sekutu, atau anggota;
3. pembentukan atau pemupukan dana cadangan, kecuali:
a. cadangan piutang tak tertagih untuk usaha bank dan badan usaha lain yang
menyalurkan kredit, sewa guna usaha dengan hak opsi, perusahaan
pembiayaan konsumen, dan perusahaan anjak piutang;
b. cadangan untuk usaha asuransi termasuk cadangan bantuan sosial yang
dibentuk oleh Badan Penyelenggara Jaminan Sosial;
c. cadangan penjaminan untuk Lembaga Penjamin Simpanan;

d. cadangan biaya reklamasi untuk usaha pertambangan;


e. cadangan biaya penanaman kembali untuk usaha kehutanan; dan
f. cadangan biaya penutupan dan pemeliharaan tempat pembuangan limbah
industri untuk usaha pengolahan limbah industri, yang ketentuan dan syaratsyaratnya diatur dengan atau berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan;
4. premi asuransi kesehatan, asuransi kecelakaan, asuransi jiwa, asuransi dwiguna, dan
asuransi bea siswa, yang dibayar oleh Wajib Pajak orang pribadi, kecuali jika dibayar
oleh pemberi kerja dan premi tersebut dihitung sebagai penghasilan bagi Wajib Pajak
yang bersangkutan;
5. penggantian atau imbalan sehubungan dengan pekerjaan atau jasa yang diberikan
dalam bentuk natura dan kenikmatan, kecuali penyediaan makanan dan minuman bagi
seluruh pegawai serta penggantian atau imbalan dalam bentuk natura dan kenikmatan
di daerah tertentu dan yang berkaitan dengan pelaksanaan pekerjaan yang diatur
dengan atau berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan;
6. jumlah yang melebihi kewajaran yang dibayarkan kepada pemegang saham atau
kepada pihak yang mempunyai hubungan istimewa sebagai imbalan sehubungan
dengan pekerjaan yang dilakukan;
7. harta yang dihibahkan, bantuan atau sumbangan, dan warisan sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 4 ayat (3) huruf a dan huruf b, kecuali sumbangan sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 6 ayat (1) huruf i sampai dengan huruf m UU Pajak Penghasilan serta
zakat yang diterima oleh badan amil zakat atau lembaga amil zakat yang dibentuk
atau disahkan oleh pemerintah atau sumbangan keagamaan yang sifatnya wajib bagi
pemeluk agama yang diakui di Indonesia, yang diterima oleh lembaga keagamaan
yang dibentuk atau disahkan oleh pemerintah, yang ketentuannya diatur dengan atau
berdasarkan Peraturan Pemerintah;
8. Pajak Penghasilan;
9. biaya yang dibebankan atau dikeluarkan untuk kepentingan pribadi Wajib Pajak atau
orang yang menjadi tanggungannya;
10. gaji yang dibayarkan kepada anggota persekutuan, firma, atau perseroan komanditer
yang modalnya tidak terbagi atas saham;
11. sanksi administrasi berupa bunga, denda, dan kenaikan serta sanksi pidana berupa
denda yang berkenaan dengan pelaksanaan perundang-undangan di bidang
perpajakan.
Fa. Cartenz merupakan wajib pajak badan yang sepanjang tahun 2012
mencatatkan laba bersih dalam laporan keuangannya senilai Rp
34.575.000.000,00. Berikut merupakan informasi terkait penghasilan dan beban
yang termasuk dalam laporan keuangan perusahaan.

a. Perusahaan telah menerima pesanan luar biasa dari Istana Kepresidenan


dengan nilai kontrak Rp 2.650.000.000,00, dikenai PPh 22 dan PPN.
Perusahaan mencatat penghasilan sesuai dengan kas yang diterima saat
pembayaran.
b. Perusahaan menerima Rp 510.000.000,00 atas penyewaan lahan kosong
yang dimiliki dan Rp 765.000.000,00 atas penyewaan mesin produksi.
c. Perusahaan mencatat keuntungan revaluasi tanpa dilaporkan sebesar Rp
115.000.000,00.
d. Piutang perusahaan yang telah dihapuskan sebesar Rp 3.165.000.000 dan
baru setengahnya dilaporkan kepada otoritas pajak.
e. Di dalam biaya depresiasi, termasuk depresiasi rumah dinas Direktur
senilai Rp yang diperoleh tahun 2001 dengan nilai Rp 2.000.000.000,00.
Aset didepresiasikan dengan nilai sisa Rp 100.000.000,00 dan masa
manfaat 25 tahun
Di samping itu, diketahui pula beberapa informasi lain terkait kewajiban
perpajakan Fa. Cartenz yang telah dipotong pihak lain, sebagai berikut.
a. Kredit PPh 22 atas impor sebesar Rp 1.785.000.000,00.
b. Kredit PPh 23 atas bunga pinjaman sebesar Rp 598.500.000,00.
c. Kredit PPh 24 atas penghasilan dari luar negeri sebesar Rp
1.165.000.000,00.
d. Angsuran PPh 25 yang telah dibayar sendiri sebesar Rp 2.755.000.000,00.
e. STP PPh 25 sebesar Rp 812.250.000.

Jawa
b:

Keterangan :
Atas kontrak dengan Istana Kepresidenan
Nilai penghasilan bruto yang telah dicatat
= 2.650.000.000

+ 10% * 2.650.000.000 1,5% * 2.650.000.000

= 2.650.000.000

+ 265.000.000

= 2.877.900.000

37.100.000

Koreksi negatif atas penghasilan bruto


= 2.877.900.000

- 2.650.000.000

= 227.900.000
Keterangan :
Depresiasi menurut akuntansi
= 4% * (2.100.000.000 - 100.000.000 )
= 4% * (2.000.000.000)
= 80.000.000
Depresiasi menurut fiskal
= 50% * 5% * 2.000.000.000
= 50.000.000
Koreksi positif atas beban depresiasi
= 80.000.000 50.000.000
= 30.000.000

Penjurnalan atas kewajiban pajak akhir tahun


Beban pajak kini

8.834.900.000

Pajak dibayar di muka PPh 22

1.822.100.000

Pajak dibayar di muka PPh 23

598.500.000

Pajak dibayar di muka PPh 24

1.165.000.000

Pajak dibayar di muka PPh 25

3.567.250.000

Utang PPh 29

1.682.050.000

Keterangan :
Kredit PPh 22
= Atas impor

+ Atas penyerahan kepada bendaharawan negara

= 1.785.000.000

+ 37.100.000

= 1.822.100.000
Kredit PPh 25
= Angsuran PPh 25 + STP PPh 25
= 2.755.000.000

+ 812.250.000

= 3.567.250.000
Aset pajak tangguhan muncul akibat perbedaan temporer yang dapat
dikurangkan, berdasar perspektif perpajakan. Nilai aset pajak tangguhan Fa.
Cartenz meliputi
= Akibat beban piutang tak tertagih

+ Akibat beban depresiasi

= 25% x 50%x 3.165.000.000

+ 25% x 30.000.000

= 395.625.000

+ 7.500.000

= 403.125.000
Jurnal
Aset pajak tangguhan
Manfaat pajak tangguhan

403.125.000
403.125.000

Kompensasi kerugian
Pasal 6 ayat (2) Undang-undang Nomor 7 Tahun 1983 tentang Pajak Penghasilan
sebahaimana telah beberapa kali diubah, terkahir dengan Undang undang nomor 36 tahun
2008 menyebutkan :
Apabila penghasilan bruto setelah pengurangan sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
didapat kerugian, kerugian tersebut dikompensasikan dengan penghasilan mulai tahun pajak
berikutnya berturut-turut sampai dengan 5 (lima) tahun.
Kompensasi kerugian berpengaruh pada Penghasilan Kena Pajak di masa yang akan datang,
dan efek pajaknya akibat dari kompensasi kerugian adalah menghematan pada di masa yang
akan datang (future tax saving). Realisasi keuntungan pajak dimasa yang akan datang
tergantung pada Penghasilan Kena pajak di masa yang akan dating tersebut yang sulit
diramalkan dan tidak pasti.
Terdapat persoalan menyangkut efek pajak akibat kompensasi kerugian tersbut diakui dalam
tahun pajak pada saat kerugian tersbut muncil, atau pda tahun-tahun yang akan dating pada
saat terealisasi. Terdapat pendapat umum yang menyatakan bahwa keuntungan pajak akibat
kompensasi kerugian tersbut hendaknya tidak diakui sampai bena-benar terealisai, keciali
dalam keadaan yang tidak lazim, pada saat munculnya kompensasi kerugian tersebut dengan
penuh keyakinan tanpa ragu-ragu bahwa kompensasi kerugian tersebut akan terealisasi.
Hal ini dengan alas an bahwa keuntungan pajak akibat kompensai kerugian baru
diperhitungkan setelah terealisasi, dikarenakan perusahaan yang menderita kerugian
membutuhkan waktu yang cukup untuk menutupi kerugian tersebut, sehingga menghasilkan
operasional yang menguntungkan kembali. Kompensasi hanya dapat dilakukan dalam jangka
waktu 5 tahun berturut-turut. Kerugian ini dapat direalisasikan apabila terdapat penghasilan
kena pajak (laba) di periode mendatang (kewajiban pajak tangguhan) untuk kompensasinya.
Di Amerika Serikat, keuntungan pajak akibat kompensasi akan diakui apabila terdapat
kemungkinan akan direalisasikan sebesar 50% di masa yang akan dating. Dalam hal ini,
aktiva pajak tangguhan nettoakan dicatat sebagai keuntungan pajak, yang dihitung
berdasarkan aktiva pajak tangguhan bruto setelah dikurangi dengan penyisihan penilaian nihil
yang otomatis menjadi aktiva pajak tangguhan neto (Zain, 2007)
Keuntungan pajak akibat kompensasi rugi diakui sebagai aktiva pajak tangguhan dalam hal
kompensasi pajak tangguhan tersebut dapat dikompensasi dengan jumlah Penghasilan Kena
Pajak pada masa mendatang. Keuntungan pajak dihitung dengan mengalikan jumlah yang
dapat dikompensasi tersebut dengan tarif pajak yang akan berlaku pada periode kompensasi
terjadi. Pada saat aktiva pajak tangguhan tersebut dicatat, beban pajaknya pun akan
berkurang. Pada tahun-tahun berikutnya, pada saat penghasilan terealisasi, aktiva pajak
tangguhan pun akan berkurang. Keuntungan pajak karena kompensasi kerugian tidak akan
terealisasi apabila tidak terdapat Penghasilan Kena pajak yang memadai untuk menutupi
kerugian tersebut.
Dalam PSAK No. 46 tentang Akuntansi Pajak Penghasilan par. 26 menjelaskan bahwa saldo
rugi fiskal yang dapat dikompensasi diakui sebagai aktiva pajak tangguhan apabila besar
kemungkinan bahwa laba fiskal pada masa depan memadai untuk dikompensasi. Selanjutnya
dalam Menurut PSAK 46 par. 27 diatur bahwa terdapat hal-hal yang harus dipertimbangkan

dalam menentukan apakah penghasilan kena pajak akan tersedia dalam jumlah memadai
untuk dikompensasikan :
1. Apakah perusahaan mempunyai perbedaan temporer kena pajak dalam jumlah yang
memadai, yang memungkinkan sisa kompensasi dapat digunakan sebelum masa
berlakunya kadaluarsa;
2. Apakah perusahaan mungkin memperoleh laba fiskal agar saldo rugi fiskal yang dapat
dikompensasi kerugian dapat digunakan sebelum masa berlakunya daluarsa;
3. Apakah saldo rugi fiskal yang dapat dikompensasi timbul dari kasus-kasus tertentu
yang hampir tidak mungkin berulang.
Apabila laba fiskal tidak mungkin tersedia dalam jumlah yang memadai untuk dapat
dikompensasi dengan saldo rugi fiskal yang dapat dikompensasi, maka aktiva pajak
tangguhan tidak diakui.
Paragraf 28 mengatur mengenai penilaian kembali aktiva pajak tangguhan. Pada setiap
tanggal neraca, perusahaan menilai kembali aktiva pajak tangguhan yang tidak diakui.
Perusahaan mengakui aktiva pajak tangguhan yang sebelumnya tidak diakui apabila besar
kemungkinan bahwa laba fiskal pada masa depan akan tersedia untuk pemulihannya.
Berikut ini ilustrasi sederhana penerapan penghitungan aktiva pajak tangguhan atas saldo rugi
fiskal yang dapat dikompensasi. Berhubung topik pembahasan kali ini terbatas pada
kompensasi saldo rugi fiskal maka untuk memudahkan pemahaman diasumsikan bahwa tidak
terdapat unsur beda temporer dalam rekonsiliasi perpajakan.
Dari rekonsiliasi laba (rugi) komersial dengan laba (rugi) menurut fiskal PT A selama 5 tahun
berturut-turut diperoleh gambaran sebagai berikut :
2006
Laba (Rugi) Komersial 11.000
Beda Tetap :
Sumbangan
300
Entertainment
100
Laba (Rugi) Fiskal
11.400
Kompensasi
(3.250)
Laba (Akumulasi Rugi) 8.150
Fiskal

2005
10.500

2004
(4.000)

2003
(12.000)

500
300
11.300
(14.550)
(3.250)

100
150
(3.750)
(10.800)
(14.550)

400
800
(10.800)
0
(10.800)

Ayat jurnal pajak tangguhan atas saldo rugi fiskal yang dapat dikompensasi mulai tahun 2003
sampai dengan tahun 2006 sebagai berikut :

Jurnal

Dr

Aktiva Pajak Tangguhan (DTA)


Pajak Penghasilan Tangguhan
(mencatat DTA tahun 2003)

3.240

Aktiva Pajak Tangguhan (DTA)


Pajak Penghasilan Tangguhan
(mencatat tambahan DTA 2004)

1.125

Pajak Penghasilan Tangguhan


Aktiva Pajak Tangguhan (DTA)
(reverse DTA - laba fiskal 2005)

3.390

Pajak Penghasilan Tangguhan


Aktiva Pajak Tangguhan (DTA)
(reverse DTA laba fiskal 2006)

975

Cr

Perhitungan
(30% x 10.800)

3.240

(30% x 3.750)
1.125

(30% x 14.550)-(30% x 3.250)


3.390
(30% x 3.250)
975

Dari ayat-ayat jurnal di atas, dapat diketahui bahwa saldo Aktiva Pajak Tangguhan di Neraca
PT A per 31/12/2006 sudah menjadi nol seiring dengan habisnya kompensasi saldo rugi fiskal
pada tahun 2006.