Anda di halaman 1dari 14

PRODUKSI ASAM SITRAT DARI Aspergillus niger DALAM

BIOREAKTOR

ABSTRAK
Percobaan mengenai produksi asam sitrat dalam bioreaktor menggunakan
Aspergillus niger telah dilakukan. Medium propagasi untuk inokulum terdiri dari
Gula pasir; Ekstrak tauge 20% (b/v); (NH4)2SO4; KH2PO4. Medium fermentasi
terdiri dari Gula pasir 15% (b/v); (NH4)2SO4 0,6% (b/v); KH2PO4 0,3% (b/v); pH
medium fermentasi 6,0. Kondisi selama fermentasi, yaitu suhu : 291oC; Agitasi
150 rpm dan lama proses fermentasi selama 5 hari. Produksi asam sitrat tertinggi
terjadi pada hari ke 5 sebesar 9,024 g/l. Kadar glukosa meningkat sampai hari ke 3
(208, 75 g/l)

kemudian menurun sampai hari ke 5 (101 g/l). Sedangkan

konsentrasi biomassa tertinggi pada hari ke 3 (16,8079 g/l) dengan laju


pertumbuhan spesifik sebesar 0.165/hari. Koefisien Y x/s = 0.054 g biomassa/ g
glukosa; koefisien Y p/x = 0.91 g asam sitrat/ g biomassa, sedangkan koefisien Y
p/s = 0,023 g asam sitrat/ g glukosa.

PENDAHULUAN
Asam sitrat adalah asam organik yang secara alami terdapat pada buahbuahan seperti jeruk, nenas dan pear. Asam sitrat pertama kali diekstraksi dan
dikristalisasi dari buah jeruk, sehingga asam sitrat hasil ektraksi dari buah-buahan
ini dikenal sebagai asam sitrat alami.
Wehner (1893) pertama kali melaporkan produksi asam sitrat sebagai hasil
sampingan pada fermentasi produksi asam oksalat dengan menggunakan
Penicillium glaucum. Tahun 1917, Currie juga melaporkan bahwa Aspergillus
niger dapat menghasilkan asam sitrat pada medium pH rendah dengan kadar gula
tinggi. Sejak saat itu asam sitrat diproduksi secara komersial dengan
menggunakan kapang A. niger.
Dewasa ini telah diketahui banyak jenis kapang yang dapat menghasilkan
asam sitrat, seperti A. niger, A. awamori, A. fonsecaeus, A. luchuensis, A. wentii,
A. saitoi, A. flavus, A. clavatus, A. fumaricus, A. phoenicus, Mucor viriformis,

Ustulina vulgaris dll. Selain kapang, beberapa bakteri dan kamir juga dapat
memproduksi asam sitrat, diantaranya: Brevibacterium, Corynebacterium,
Arthrobacter dan Candida.
Kapang A. niger merupakan mikroorganisme yang dapat tumbuh dan
banyak digunakan secara komersial dalam produksi asam sitrat, asam glukonat,
dan beberapa enzim seperti pektinase dan amilase (Broekhuijsen et al., 1993;
Okada, 1985). A. niger mampu mensintesis asam sitrat dalam medium fermentasi
ekstraseluler dengan konsentrasi yang cukup tinggi, jika dibiakkan dalam media
yang kadar garamnya rendah dan mengandung gula sebagai sumber karbon (Hang
et al., 1977; Ji et al., 1992).
Asam sitrat (C6H8O7) banyak digunakan dalam industri terutama industri
makanan, minuman, dan obat-obatan. Kurang lebih 60% dari total produksi asam
sitrat digunakan dalam industri makanan, dan 30% digunakan dalam industri
farmasi, sedangkan sisanya digunakan dalam industri pemacu rasa, pengawet,
pencegah rusaknya rasa dan aroma, sebagai antioksidan, pengatur pH dan sebagai
pemberi kesan rasa dingin. Dalam industri makanan dan kembang gula, asam
sitrat digunakan sebgai pemacu rasa, penginversi sukrosa, penghasil warna gelap
dan penghelat ion logam. Dalam industri farmasi asam sitrat digunakan sebgai
pelarut dan pembangkit aroma, sedangkan pada industri kosmetik digunakan
sebagai antioksidan (Bizri & Wahem, 1994).
Proses fermentasi asam sitrat dapat dilakukan dengan sistem terendam,
fermentasi kultur permukaan. Fermentasi kultur terendam dibagi dua yaitu
dilakukan pada fermentor berpengaduk dan pada air lift fermentor. Sedangkan
pada fermentasi kultur permukaan dapat menggunakan media cair maupun media
padat. Fermentasi sistem terendam lebih sulit dilakukan dibandingkan prosedur
permukaan, tetapi dapat dilakukan secara curah, proses curah terumpani, atau
sinambung. Fermentasi curah digunakan untuk substrat glukosa, dan curah
terumpani lebih layak diterapkan untuk untuk tetes tebu. Biakan sinambung
mempunyai produktivitas yang lebih tinggi (Mangunwidjaja & Suryani, 1994).
Produksi asam sitrat pada proses fermentasi dipengaruhi oleh beberapa
faktor diantaranya adalah jenis media, pH media, waktu fermentasi, suhu, aerasi,
dan mikroorganisme yang digunakan. Faktor yang paling menentukan adalah

media tumbuh (substrat) dan mikroorganisme yang digunakan (Friedrich et al.,


1994).
Pada umumnya hasil samping pertanian dan perkebunan seperti jerami
padi, onggok, bagas, dan kulit kakao masih mengandung lignoselulosa. Limbah
ini masih mengandung pati, protein, lemak, dan senyawa kimia lainnya. Dengan
teknologi fermentasi, hasil samping ini dapat dimanfaatkan lebih lanjut menjadi
produk lain yang berguna seperti pangan, pakan ternak, pelarut organik, asamasam organik seperti asam sitrat dan lain-lain (Judoamidjojo et al., 1989).

TUJUAN
Percobaan bertujuan untuk mempelajari produksi asam sitrat pada proses
fermentasi menggunakan A. niger.

METODOLOGI
Bahan yang diguankan dalam percobaan ini:
Mikroorganisme : Aspergillus niger berumur 5 hari.
Medium propagasi untuk inokulum terdiri dari:
Gula pasir

15 gram

Ekstrak tauge 20% (b/v)

11 ml

(NH4)2SO4

450 mg

KH2PO4

225 mg

Semuanya bahan kemudian dilarutkan dalam 100 ml akuades, pH 6,0


Medium fermentasi terdiri dari:
Gula pasir

15% (b/v)

(NH4)2SO4

0,6% (b/v)

KH2PO4

0,3% (b/v)

pH medium fermentasi 6,0


Kondisi fermentasi : Suhu : 291oC
Agitasi 150 rpm
Lama 5 hari

Alat yang digunakan adalah spektrofotometer, tabung reaksi, gelas ukur,


timbangan, vortex, erlenmeyer, labu ukur, pipet, kertas pH, shaker, autoklaf,
kertas saring, oven, alat titrasi dan alat vakum.
Prosedur kerja:
1. Membuat media propagasi dengan komposisi yang sudah ditentukan.
Namun, gula dipisahkan dari bahan lainnya. Lalu semua bahan disterilisasi
pada suhu 121oC selama 15 menit dan dinginkan.
2. Melakukan inokulasi dengan suspense spora A.niger sebanyak 2% (v/v).
Selanjutnya hasil inokulasi pada media propagasi yang telah diinkubasi ini
disebut inokulum.
3. Kemudian lakukan inkubasi pada incubator goyang pada suhu 291oC
(suhu kamar) selama 24 jam.
4. Bioreaktor tangki pengaduk (CSTR) yang akan digunakan juga dilakukan
sterilisasi.
5. Membuat media fermentasi dengan komposisi yang telah ditentukan dalam
Erlenmeyer 1000 ml dengan melarutkan 900 ml media dan inokulum 100
ml. Namun gula dan bahan lainnya dpisahkan. Kemudian disterilisasi pada
suhu 121oC, 15 menit dan dinginkan.
6. Kemudian melakukan inokulasi inokulum.
7. Pengambilan sample dilakukan setiap hari selama 5 hari.
8. Pada setiap pengamatan, yang diamati adalah sebagai berikut :
-

pH : dilakukan dengan mengukur pH cairan fermentasi dengan pH


meter

Biomassa : dilakukan dengan menyaring cairan fermentasi pada kertas


saring yang telah dikeringkan dan diketahui bobotnya. Biomassa
dihitung sebagai bobot residu kering hasil penyaringan per ml cairan
kultivasi

Gula sisa : dilakukan dengan metoda DNS. Memasukkan 1 ml sampel


ke dalam tabung reaksi. Kemudian ditambahkan pereaksi DNS
sebanyak 3 ml. Lalu larutan dipanaskan dalam air mendidih selama 5
menit, kemudian didinginkan pada suhu kamar. Blanko dibuat dengan
mengganti

sampel

dengan

ml

akuades.

Lalu

mengukur
4

absorbansinya

menggunakan

spektrofotometer

pada

panjang

gelombang 550 nm. Kurva standar dibuat untuk pengukuran gula


dengan metode DNS. Hasil mengukuran diplotkan pada kurva standar
sehingga dapat diketahui kadar gula sisa.
-

Total asam : Pengukuran asam organic dilakukan dengan metode


titrasi. Mengambil 10 ml sampel kemudian dititrasi dengan larutan
NaOH 0.1 N yang telah distandarisasi. Titrasi dilakukan dengan
bantuan indicator PP. Titrasi dihentikan bila telah terbentuk warna
merah muda. Penentuan kadar total asam organic tertitrasi adalah :


10

192

HASIL
Produksi asam sitrat meningkat selama proses fermentasi dan maksimum
sebesar 9,024 g/l pada hari ke 5. Kadar glukosa meningkat sampai hari ke 3 (208,
75 g/l) kemudian menurun sampai hari ke 5 (101 g/l). Sedangkan konsentrasi
biomassa tertinggi pada hari ke 3 (16,8079 g/l) (Tabel 1 & Gambar 1) dengan laju
pertumbuhan spesifik sebesar 0.165/hari (Gambar 2). Koefisien Y x/s = 0.054 g
biomassa/ g glukosa, nilai ini menunjukkan bahwa dalam 1 gram glukosa
terbentuk 0,054 g biomassa. Koefisien Y p/x = 0.91 g asam sitrat/ g biomassa,
nilai ini menunjukkan bahwa dalam 1 gram biomassa terbentuk 0,91 g asam sitrat.
Koefisien Y p/s = 0,023 g asam sitrat/ g glukosa, nilai ini menjunjukkan bahwa
dalam 1 g glukosa terbentuk 0,023 asam sitrat (Gambar 3-5).
Tabel 1. Data pengamatan selama proses fermentasi
hari ke- pH
0
1
2
3
4
5

4,5
2
2
2
2
2

biomassa
(g/l)
6,37
11,50
15,46
16,81
15,98
16,41

asam
glukosa sitrat
(g/l)
(g/l)
57,25
0
151,75
2,496
158,5
4,608
208,75
5,952
160,75
6,912
101
9,024

ln
biomassa
1,851649
2,442197
2,738107
2,821851
2,771427
2,797633

250

asam sitrat(g/l)dan
biomassa(g/l)

200
150
100

glukosa(g/l)

18
16
14
12
10
8
6
4
2
0

50
0
0

biomassa

asamsitrat

glukosa

Gambar 1. Kurva pertumbuhan biomassa, konsentrasi asam sitrat yang terbentuk,


dan konsentrasi glukosa selama proses fermentasi
3.5

lnbiomassa

3
2.5

y=0.165x+2.156
R=0.671

2
1.5
1
0.5
0
0

harike

Gambar 2. Kurva laju pertumbuhan spesifik


10
9
8
7
6
5
4
3
2
1
0

y=0.023x+2.919
R=0.145

50

100

150

200

Gambar 3. Kurva yield asam sitrat per substrat (Yp/s)


6

12
10
8
6
y=0.054x+2.860
R=0.503

4
2
0
50

100
0

1
150

200

Gambbar 4. Kurvaa yield biom


massa per suubstrat (Yx/ss)
10
8

y=0.712x 0.427
R==0.818

6
4
2
0
0

10

12

Gambarr 5. Kurva yield


y
asam sitrat
s
per bioomassa (Ypp/x)

Gambar 6.
6 Kurva peerubahan pH
H selama prroses fermenntasi
7

PEMBAHASAN
pH medium
pH medium dalam proses fermentasi sangat penting. Pada proses awal
fermentasi diketahui bahwa pH medium sebesar 4,5 kemudian menurun pada hari
ke 2 sampai ke 5 sebesar 2,0 (Gambar 6). Pada awal fermentasi merupakan awal
saat spora mulai terbentuk untuk memulai germinasi. Sedangkan selama proses
fermentasi untuk produksi asam sitrat diperlukan pH 2. pH yang rendah akan
mengurangi resiko kontaminasi pada saat fermentasi oleh mikroorganisme lain.
pH yang rendah juga menghambat produksi dari asam organik yang tidak
diinginkan (misalnya asam glukonat, asam oksalat) dan hal ini membuat
perbaikan asam sitrat dari

media cair. Pengambilan amonia dalam proses

germminasi spora menyebabkan dilepaskannya proton pada pH rendah setelah


fase germinasi terbentuk. Menurut Papagianni (1995), meningkatnya pH menjadi
4,5 selama fase produksi akan menurunkan hasil asam sitrat sampai 80%.
pH pada media juga mempengaruhhi produksi asam sitrat dari A. niger
karena beberapa enzim yang berperan dalam siklus TCA sensitif terhadap pH. pH
yang rendah selama fermentasi untuk produksi asam sitrat yang optimal
diperlukan pH sekitar 2. Jika kondisi tersebut tidak diperoleh hasil produksi akan
berkurang (Mattey, 1992). Papagianni (1995) & Papagianni et al. (1999)
melaporkan bahwa pH mempengaruhi morfologi dan produktivitas asam sitrat
dari A. niger dari hasil data kuantitatif. Morfologi dengan agregat yang kecil dan
filament yang pendek berkaitan dengan meningkatnya produksi asam sitrat pada
pH sekitar 2,0 0,2. Pada pH 1,6 morfologi akan berkembang abnormal (bulbous
hyphae) dan produksi asam sitrat akan menurun secara drastis. Pada pH 3,0
agregat mempunyai bentuk perimeter yang lebh panjang dan terbentuk asam
oksalat.

Sintesis asam sitrat


Dari

gambar 1, diperlihatkan bahwa konsentrasi asam sitrat meningkat

seiring lamanya waktu fermentasi. Konsentrasi tertinggi diperoleh pada hari ke-5
sebesar 9,024 g/l.

Asam sitrat merupakan senyawa antara pada siklus kreb (siklus asam
trikarboksilat). Lintasan reaksi katabolik yang mendahului pembentukan asam
sitrat ini diantaranya adalah lintasan glikolisis dan lintasan Entner-Doudoroff yang
menyediakan senyawa antara asam piruvat yang merupakan senyawa kunci dalam
metabolisme sel. Sebagian besar (80%) dari glukosa diubah menjadi piruvat
melalui lintasan glikolisis. Piruvat akan mengalami dekarboksilasi dan berikatan
dengan koenzim-A membentuk asetil-CoA dan selanjutnya masuk kedalam siklus
krebs untuk bergabung dengan oksaloasetat membentuk asam sitrat. Piruvat juga
bisa langsung masuk ke siklus krebs dengan bantuan enzim piruvat karboksilase
yang mengubah piruvat menjadi oksaloasetat.

Gambar 7. Skema reaksi metabolik dalam produksi asam sitrat


(Sumber: Pagianni, 2007)s
Mekanisme pembentukan asam sitrat dapat dilihat pada gambar 7.
Langkah pertama dari siklus tersebut, yaitu penyatuan asetil ko-A dengan asam

oksaloasetat untuk membentuk asam sitrat. Pertama-tama, asetil ko-A hasil dari
reaksi antara (dekarboksilasi oksidatif) masuk ke dalam siklus dan bergabung
dengan asam oksaloasetat membentuk asam sitrat. Setelah "mengantar" asetil
masuk ke dalam siklus Krebs, ko-A memisahkan diri dari asetil dan keluar dari
siklus. Kemudian, asam sitrat mengalami pengurangan dan penambahan satu
molekul air sehingga terbentuk asam isositrat. Lalu, asam isositrat mengalami
oksidasi dengan melepas ion H+, yang kemudian mereduksi NAD+ menjadi
NADH, dan melepaskan satu molekul CO2 dan membentuk asam a-ketoglutarat
(baca: asam alpha ketoglutarat). Setelah itu, asam a-ketoglutarat kembali
melepaskan satu molekul CO2, dan teroksidasi dengan melepaskan satu ion H+
yang kembali mereduksi NAD+ menjadi NADH. Selain itu, asam a-ketoglutarat
mendapatkan tambahan satu ko-A dan membentuk suksinil ko-A. Setelah
terbentuk suksinil ko-A, molekul ko-A kembali meninggalkan siklus, sehingga
terbentuk asam suksinat. Pelepasan ko-A dan perubahan suksinil ko-A menjadi
asam suksinat menghasilkan cukup energi untuk menggabungkan satu molekul
ADP dan satu gugus fosfat anorganik menjadi satu molekul ATP. Kemudian,
asam suksinat mengalami oksidasi dan melepaskan dua ion H+, yang kemudian
diterima oleh FAD dan membentuk FADH2, dan terbentuklah asam fumarat.
Satu molekul air kemudian ditambahkan ke asam fumarat dan menyebabkan
perubahan susunan (ikatan) substrat pada asam fumarat, karena itu asam fumarat
berubah menjadi asam malat. Terakhir, asam malat mengalami oksidasi dan
kembali melepaskan satu ion H+, yang kemudian diterima oleh NAD+ dan
membentuk NADH, dan asam oksaloasetat kembali terbentuk. Asam
oksaloasetat ini kemudian akan kembali mengikat asetil ko-A dan kembali
menjalani siklus Krebs.
Pada A. niger, fosfoenol piruvat dapat diubah langsung menjadi
oksaloasetat (tanpa melalui piruvat) oleh enzim fosfoenol piruvat karboksilase.
Reaksi tersebut membutuhkan ATP sebagai sumber energi, Mg2+, atau Mn2+, dan
K+, atau NH4+. Judoamidjojo dan Darwis (1992) menyatakan bahwa apabila
sumber karbon bukan glukosa, misalnya asam asetat, atau senyawa alifatik
berantai panjang (C9 C23), maka isositrat liase akan terinduksi sehingga

10

isositrat diubah menjadi glioksilat, selanjutnya glioksilat diubah menjadi malat


oleh sintetase. Bila glukosa ditambahkan siklus tersebut akan terhambat.
Pada pembentukan asam sitrat dalam proses fermentasi dibatasi oleh
ketersediaan beberapa unsur kelumit (P, Mn, Zn). Peranan ion logam dalam
proses ini belum diketahui secara menyeluruh. Nilai pH optimum sekitar 1,7
2,0. Jika pH lebih tinggi (alkalis) menyebabkan pembentukan asam asam oksalat
dan glukonat dalam jumlah banyak. Karenanya pengendalian kondisi proses
secara cermat merupakan prasyarat untuk mempertahankan keteraturan metabolik
dan mendukung pembentukan asam sitrat yang lebih banyak. Kondisi yang sesuai
tersebut memungkinkan stimulasi glikolisis untuk penyediaan aliran karbon yang
tidak terbatas ke dalam metabolisme antara. Akumulasi sitrat selanjutnya
tergantung pada pemasokan oksaloasetat (Mangunwidjaja & Suryani 1994).
Mangunwidjaja & Suryani (1994) juga menjelaskan bahwa kekurangan
mangan akan menurunkan aktivitas enzim dalam siklus asam trikarboksilat yang
diikuti oleh penurunan anabolisme. Gangguan metabolisme ini menyebabkan
perbedaan

tingkat

ion

amonium

intraselluler

yang

dapat

membantu

menghilangkan penghambatan enzim fosfofruktose oleh sitrat. Mangan juga


terlibat dalam biokimia permukaan sel dan morfologi hifa. Kebutuhan oksigen
yang tinggi memungkinkan reoksidasi sitoplasma NADH tanpa pembentukan
ATP dan melibatkan suatu cabang respirasi alternatif yang berbeda dari rantai
respirasi normal.

Sumber karbon dalam proses fermentasi


Pada proses fermentasi ini, sumber gula yang digunakan adalah sukrosa.
Sukrosa akan dipecah menjadi fruktosa dan glukosa. Dari hasil pengamatan
(Gambar 6), diketahui bahwa kadar glukosa meningkat sampai hari ke-3, baru
kemudian menurun sampai hari ke-5. Sel akan memasukkan fruktosa dan glukosa
ini dari luar sel ke dalam sel melalui mekanisme hidrolisis invertase sukrosa
(Boddy et al., 1993; Rubio & Maldonado, 1995). Menurut Kubicek dan Rohr
(1989) sukrosa baik untuk dijadikan sebagai sumber glukosa oleh A. niger karena
memiliki ikatan intervase mycelium ekstraselular yang kuat dan aktif pada pH
rendah sehingga hidrolisis sukrosa relatif lebih cepat. Gupta et al. (1976), Hossain

11

et al. (1984) dan Xu et al. (1989) melaporkan keunggulan penggunaan sukrosa


dari pada glukosa dan fruktosa pada proses fermentasi asam sitrat.

Aerasi
Industri produsen asam sitrat sejak lama tengah mengetahui bahwa variasi
dalam laju aerasi memiliki efek buruk bagi perolehan produksi. Jika laju aerasi
tertalu tinggi (contohnya kondisi yang biasa terjadi pada skala laboratorium),
tekanan parsial dari CO2 terlarut dalam medium dapat menjadi rendah.
Karbondioksida penting sebagai substrat bagi enzim piruvat karboksilase yang
memulihkan kembali cadangan oksaloasetat yang menjadi substrat sitrat sintase.
Co2 yang memadai dihasilkan dari reaksi piruvat dekarboksilase untuk
mencukupu kebutuhan stoikiometrik dari reaksi piruvat karboksilase, akan tetapi
aerasi yang berlebihan berakibat pada hilangnya CO2 (Papagianni, 2007).
McIntyre & McNeil (1997) dalam Papagianni (2007) menunjukkan bahwa
kadar CO2 yang meningkat dalam gas yang disemburkan memiliki efek buruk
terhadap konsentrasi sitrat akhir dan konsentrasi biomassa akhir. Efek oksigen
terlarut telah banyak dipelajari secara terperinci. Tekanan oksigen terlarut (DOT)
yang menurun bahkan dalam rentang waktu yang pendek dapat menyebabkan
perubahan ireversibel dalam produksi asam sitrat (Kubicek et al., 1980). A. niger
diketahui menggunakan dua jalur respirasi yang berbeda dalam produksi asam
sitrat. Sintesis asam sitrat bergantung pada jalur sensitive sianida selama fase
akhir fermentasi. Baik pertumbuhan maupun awal produksi asam sitrat
bergantung pada respirasi yang sensitif terhadap asam salisilhidroksamat
(SHAM=salicylhydroxyamic acid). Bypass sensitive SHAM dihasilkan di akhir
tropofase, dan komponen ubiquinol oksidase alternatif dari ini telah ditemukan.
Keberadaan dari bypass-bypass ini dan arti pentingnya terhadap produksi asam
sitrat bukanah hal yang terjadi bersamaan. Produksi ATP pada tingkat substrat
melalui glikolisis kemungkinan mencukupi kebutuhan energy sel dan hanya ada
sedikit kebutuhan akan ATP yang lebiih banyak untuk dihasilkan melalui
fosforilasi oksidatif NADH. Konsentrasi ATP internal yang tinggi memiliki efek
penghambatan bagi enzim-enzim glikolisis, sehingga, enzim oksidase alternatif
untuk mendaur kembali NADH untuk glikolisis selanjutnya tampaknya menjadi

12

komponen ensial untuk mempertahankan aliran yang tinggi melalui jalur


glikolisis.
KESIMPULAN
Produksi asam sitrat tertinggi terjadi pada hari ke 5 sebesar 9,024 g/l.
Kadar glukosa meningkat sampai hari ke 3 (208, 75 g/l) kemudian menurun
sampai hari ke 5 (101 g/l). Sedangkan konsentrasi biomassa tertinggi pada hari ke
3 (16,8079 g/l) dengan laju pertumbuhan spesifik sebesar 0.165/hari. Koefisien Y
x/s = 0.054 g biomassa/ g glukosa; koefisien Y p/x = 0.91 g asam sitrat/ g
biomassa, sedangkan koefisien Y p/s = 0,023 g asam sitrat/ g glukosa.

DAFTAR PUSTAKA
Bizri, N.J. dan A.L. Wahem. 1994. Citric Acid and Antimicrobials Affect
Microbiological Stability and Quality of Tomato Juice. J. of Food Science
59 (1) : 130-134
Boddy L.M., T. Berges, C. Barreau, M.H. Vainstain, M.J. Johnson dan D.J.
Balance. 1993. Purification and characterisation of an Aspergillus niger
invertase and its DNA sequence. Curr Genet 24: 606.
Broekhuijsen M.P, I.E. Mattern, R. Contreras, dan J.R. Kinghorn. 1993. Secretion
of Heterologons Protein by Aspergillus niger. J.Biotech. 31 : 135-145
Friedrich J., A. Cimerman, dan W. Steiner. 1994. Concomitant Biosynthesis of
Aspergillus niger Pectolytic Enzymes and Citric Acid on Sucrosa. J. Enzym
and Microbial Technology 16 : 703-710
Gupta J.K., L.G. Heding dan O.B. Jorgensen. 1976. Effect of sugars, hydrogen
ion concentration and ammonium nitrate on the formation of citric acid by
Aspergillus niger. ActaMicrobiol Acad Sci Hung 23: 637.
Hang Y.D, D.F. Splittstoessitr, R.E.E. Woodams, dan R.M. Sherman. 1977. Citric
Acid Fermentation of Brewery Waste. J. of Food Science. 42 (2) : 383-388
Hossain M., J.D. Brooks dan I.S. Maddox. 1984. The effect of the sugar source
on citric acid production by Aspergillus niger. Appl Microbiol Biotechnol
19: 3937.

13

Ji L.N., X.R. Zhao, dan H.Y. Yang. 1992. Effects of Trace Elements on Citric
Acid Fermentation by Aspergillus niger and Treatment of cane Molasses as
Raw Material. J. Industriall Microbiology 22(2) : 16-21
Judoamidjojo M, E.G. Sa'id, dan L. Hartoto. 1989. Biokonversi. PAU-BIOTEK.
IPB. Bogor
Judoamidjojo M., A.A. Darwis dan E.G. Sa'id. 1992. Teknologi Fermentasi.
CV.Rajawali pers. Jakarta
Kubicek C.P. dan M. Rhr. 1989. Citric acid fermentation. Crit Rev Biotechnol 4:
33173.
Mangunwidjaja D. dan A. Suryani. 1994. Teknologi Bioproses. Penebar Swadaya.
Jakarta
Mattey M. 1992. The production of organic acids. Crit Rev Biotechnol 12:87
132.
Okada, G. 1985. Purification and Properties of a Cellulase from Aspergillus
niger. J. Biochem. 49 (5) : 1257-1265.
Papagianni M, M. Mattey, M. Berovic dan B. Kristiansen. 1999. Aspergillus niger
morphology and citric acid production in submerged batch fermentation:
effects of culture pH, phosphate and manganese levels. Food Technol
Biotechnol 37:16571.
Papagianni M. 1995. Morphology and citric acid production of Aspergillus niger
in submerged culture. PhD Thesis, University of Strathclyde.
Papagianni M. 2007. Advances in citric acid fermentation by Aspergillus niger:
Biochemical aspects, membrane transport and modeling. Biotechnology
Advances 25 (2007) 244263.
Rubio M.C. dan M.C. Maldonado. 1995. Purification and characterisation of
invertase from Aspergillus niger. Curr Microbiol 31:803.
Wehner. 1893 dalam Rusmana I. 2005. Petunjuk Praktikum Bioteknologi
Mikrobia. FMIPA IPB. Bogor.
Xu B.D., C. Madrit, M. Rhr dan C.P. Kubicek. 1989. The influence of type and
concentration of the carbon source on production of citric acid by
Aspergillus niger. Appl Microbiol Biotechnol 30: 5538.

14