Anda di halaman 1dari 18

Bentuk dan Cara Topikal Anestesi Gigi

Sediaan Anastesi topikal Gigi :


1.

Semprotan (spray form)


Mengandung agen anestesi lokal tertentu dapat digunakan untuk tujuan ini karena
aksinya berjalan cukup cepat. Bahan aktif yang terkandung dalam larutan adalah lignokain
hidroklorida 10% dalam basis air yang dikeluarkan dalam jumlah kecil kontainer aerosol.

Penambahan berbagai rasa buah-buahan dimaksudkan untuk membuat preparat


tersebut lebih dapat ditolerir oleh anak, namun sebenarnya dapat menimbulkan masalah
karena merangsang terjadinya salivasi berlebihan. Bila anestesi dilakukan dengan
menggunakan semprotan, larutan umumnya dapat didistribusikan dengan lebih mudah dan
efeknya akan lebih luas daripada yang kita inginkan. Waktu timbulnya anastesi adalah 1
menit dan durasinya adalah 10 menit.
2. Salep
Mengandung lignokain hidroklorida 5% juga dapat digunakan untuk tujuan yang
sama, namun diperlukan waktu 3-4 menit untuk memberikan efek anastesi. Beberapa industri
farmasi bahkan menyertakan enzim hialuronidase dalam produknya dengan harapan dapat
membantu
penetrasi
agen
anastesi
lokal
dalam
jaringan.Amethocaine dan benzocaine umumnya ditambahkan dalam preparat ini.
3.

4.

Emulsi
Mengandung lignokain hidroklorida 2% juga dapat digunakan. Emulsi ini akan sangat
bermanfaat bila kita ingin mencetak seluruh rongga mulut dari pasien yang sangat mudah
mual. Sesendok teh emulsi dapat digunakan pasien untuk kumur-kumur disekitar rongga
mulut dan orofaring dan kemudian dibiarkan satu sampai dua menit, sisanya diludahkan tepat
sebelum pencetakan. Emulsi ini juga dapat bermanfaat untuk mengurangi rasa nyeri
pascaoperatif seperti setelah gingivektomidan tidak berbahaya bila tertelan secara tidak
disengaja.
Etil klorida,
Disemprotkan pada kulit atau mukosa akan menguap dengan cepat sehingga dapat
menimbulkan anastesi melalui efek pendinginan. Manfaat klinis hanya bila semprotan
diarahkan pada daerah terbatas dengan kapas atau cotton bud sampai timbul uap es.

Cara melakukan anastesi topikal adalah :


1. Membran mukosa dikeringkan untuk mencegah larutnya bahan anastesi topikal.
2. Bahan anastesi topikal dioleskan melebihi area yang akan disuntik 15 detik (tergantung
petunjuk pabrik) kurang dari waktu tersebut, obat tidak efektif.
3. Anastesi topikal harus dipertahankan pada membran mukosa minimal 2 menit, agar obat
bekerja efektif. Salah satu kesalahan yang dibuat pada pemakaian anastesi topikal adalah
kegagalan operator untuk memberikan waktu yang cukup bagi bahan anastesi topikal untuk
menghasilkan efek yang maksimum.

Gambaran Umum
Prinsip pencabutan gigi sulung tidak berbeda dengan gigi permanen, tidak memerlukan
tenaga besar, tetapi harus diingat bahwa di bawah gigi sulung terdapat gigi permanen yang
mahkotanya sangat dekat dengan gigi sulung terutama gigi molar dua sulung atau kadangkadang penggantinya yaitu premolar dua terjepit diantara akar gigi sulung molar dua tersebut.
Sehingga waktu pencabutan gigi molar dua sulung, premolar dua dapat terganggu atau ikut
terangkat, sehingga pada akar yang resorbsinya tidak sempurna terutama pada molar dua
sulung pencabutannya harus hati-hati.
Sebelum melakukan pencabutan gigi perlu dilakukan anastesi lebih dulu. Pada umumnya
diberikan anastesi lokal, tetapi pada keadaan tertentu dilakukan anastesi umum yang
dilakukan oleh spesialis anastesi.
4. Topikal anesthesia

Teknik ini dilakukan dengan cara mengoleskan larutan anestesi pada permukaan mukosa atau
kulit dengan tujuan untuk meniadakan stimulasi pada ujung-ujung saraf bebas (free nerve
endings). Anestesi topikal dapat digunakan pada tempat yang akan diinjeksi untuk
mengurangi rasa sakit akibat insersi jarum.

Berdasarkan tepat insersi jarum, teknik injeksi anestesi lokal dapat dibedakan menjadi:

1. Submucosal injection

Jarum diinsersikan dan cairan anestesi dideponir ke dalam jaringan di bawah mukosa
sehingga larutan anestesi mengadakan difusi pada tempat tersebut.

2. Paraperiosteal injection

Jarum diinsersikan sampai mendekati atau menyentuh periosteum, dan setelah diinjeksikan
larutan anestesi mengadakan difusi menembus periosteum dan porositas tulang alveolar.

3. Intraosseous injection

Injeksi dilakukan ke dalam struktur tulang, setelah terlebih dahulu dibuat suatu jalan masuk
dengan bantuan bur.

4. Interseptal injection

Teknik ini merupakan modifikasi dari teknik intraosseous, dimana jarum disuntikkan ke
dalam tulang alveolar bagian interseptal diantara kedua gigi yang akan dianestesi. Teknik ini
biasanya dilakukan untuk mempermudah pelaksanaan injeksi intraosseou
Teknik Anastesi Blok

1.
a.

Teknik-teknik

anastesi

blok
Injeksi

pada

maksila

:
Zigomatik

Titik suntikan terletak pada lipatan mukosa tertinggi diatas akar distobukal molar kedua atas. Arahkan jarum ke
atas dan ke dalam dengan kedalaman kurang lebih 20 mm. ujung jarum harus tetap menempel pada periosteum
untuk

menghindari

masuknya

jarum

ke

dalam

plexus

venosus

pterygoideus.

Perlu diingat bahwa injeksi zigomatik ini biasanya tidak dapat menganestesi akar mesiobukal molar pertama
atas. Karena itu, apabila gigi tersebut perlu dianestesi untuk prosedur operatif atau ekstraksi, harus dilakukan
injeksi supraperiosteal yaitu di atas premolar kedua. Untuk ekstraksi satu atau semua gigi molar, lakukanlah
injeksi n.palatinus major.

b. Injeksi Infraorbital

Pertama-tama tentukan letak foramen infraorbitale dengan cara palpasi. Foramen ini terletak tepat dibawah
crista infraorbitalis pada garis vertikal yang menghubungkan pupil mata apabila pasien memandang lurus ke
depan. Tarik pipi, posisi jari yang mempalpasi jangan dirubah dan tusukkan jarum dari seberang gigi premolar
ke dua, kira-kira 5 mm ke luar dari permukaan bukal. Arahkan jarum sejajar dengan aksis panjang gigi premolar
kedua sampai jarum dirasakan masuk kedalam foramen infraorbitale di bawah jari yang mempalpasi foramen
ini. Kurang lebih 2 cc anestetikum dideponir perlahan-lahan.

Beberapa operator menyukai pendekatan dari arah garis median, dalam hal ini, bagian yang di tusuk adalah pada
titik refleksi tertinggi dari membran mukosa antara incisivus sentral dan lateral. Dengan cara ini, jarum tidak
perlu melalui otot-otot wajah.

Untuk memperkecil resiko masuknya jarum ke dalam orbita, klinisi pemula sebaiknya mengukur dulu jarak
dariforamen infraorbitale ke ujung tonjol bukal gigi premolar ke dua atas. Kemudian ukuran ini dipindahkan ke
jarum. Apabila ditransfer pada siringe jarak tersebut sampai pada titik perbatasan antara bagian yang runcing
dengan bagian yang bergigi. Pada waktu jarum diinsersikan sejajar dengan aksis gigi premolar kedua, ujungnya
akan terletak tepat pada foramen infraorbitale jika garis batas tepat setinggi ujung bukal bonjol gigi premolar
kedua. Jika foramen diraba perlahan, pulsasi pembuluh darah kadang bisa dirasakan. (3)

c. Injeksi N. Nasopalatinus

Titik suntikan terletak sepanjang papilla incisivus yang berlokasi pada garis tengah rahang, di posterior gigi
insicivus sentral. Ujung jarum diarahkan ke atas pada garis tengah menuju canalis palatina anterior. Walaupun
anestesi topikal bisa digunakan untuk membantu mengurangi rasa sakit pada daerah titik suntikan, anestesi ini

mutlak harus digunakan untuk injeksi nasopalatinus. Di anjurkan juga untuk melakukan anestesi permulaan
pada jarigan yang akan dilalui jarum.

Injeksi ini menganestesi mukoperosteum sepertiga anterior palatum yaitu dari kaninus satu ke kaninus yang lain.
Meskipun demikian bila diperlukan anestesi daerah kaninus, injeksi ini biasanya lebih dapat diandalkan
daripada injeksi palatuna sebagian pada daerah kuspid dengan maksud menganestesi setiap cabang n.palatinus
major yang bersitumpang.

d. Injeksi Nervus Palatinus Major

Tentukan titik tengah garis kayal yang ditarik antara tepi gingiva molar ketiga atas di sepanjang akar palatalnya
terhadap garis tengah rahang. Injeksikan anestetikum sedikit mesial dari titik tersebut dari sisi kontralateral.
Karena hanya bagian n.palatinus major yang keluar dari foramen palatinum majus (foramen palatinum
posterior) yang akan dianestesi, jarum tidak perlu diteruskan sampai masuk ke foramen. Injeksi ke foramen atau
deponir anestetikum dalam jumlah besar pada orifisium foramen akan menyebabkan teranestesinya n.palatinus
medius sehingga palatum molle menjadi keras. Keadaan ini akan menyebabkan timbulnya gagging.
Injeksi ini menganestesi mukoperosteum palatum dari tuber maxillae sampai ke regio kaninus dan dari garis
tengah ke crista gingiva pada sisi bersangkutan.

e. Injeksi Sebagian Nervus Palatinus

Injeksi ini biasanya hanya untuk ekstraksi gigi atau pembedahan. Injeksi ini digunakan bersama dengan injeksi
supraperiosteal atau zigomatik.

Kadang-kadang bila injeksi upraperiosteal dan zigomatik digunakan untuk prosedur dentistry operatif pada regio
premolar atau molar atas, gigi tersebut masih tetap terasa sakit. Disini, anestesi bila dilengkapi dengan
mendeponir

sedikit

anestetikum

di

dekat

gigi

tersebut

sepanjang

perjalanan

n.palatinus

major.

2. Teknik-teknik anastesi blok pada mandibula :

a. Anestesi blok n.mentalis

Nervus mentalis merupakan cabang dari N.Alveolaris Inferior yang berupa cabang sensoris yang berjalan keluar
melalui foramen mentale untuk menginervasi kulit dagu, kulit dan membrana mukosa labium oris inferior.
Teknik Anestesi Blok N.Mentalis

Tentukan letak apeks gigi-gigi premolar bawah. Foramen biasanya terletak di dekat salah satu apeks akar gigi
premolar tersebut.

Ketika blok nervus maxilaris atau alveolaris inferior sukses, maka tidak perlu dilakukan injeksi. Jarum pendek
yang berukuran 25 gauge dimasukkan (setelah jaringan yang akan dipreparasi diberikan antiseptik) dalam
mucobuccal fold di dekat foramen mentale dengan bevel di arahkan ke tulang. Foramen dapat diraba atau dapat
terlihat dengan menggunakan sinar x dan biasanya berada di antara gigi premolar. Pasien mungkin saja
merasakan sakit ketika nervus telah teraba pada foramen.5 Lakukan penembusan jaringan dengan kedalaman 5
mm, lakukan aspirasi dan injeksikan anestetikum sebanyak 0,6 cc. Teknik ini menyebabkan efek anestesi pada
jaringan

buccal

bagian

anterior

di

depan

foramen,

bibir

bagian

bawah,

dan

dagu.

Tariklah pipi ke arah bukal dari gigi premolar. Masukkan jarum ke dalam membrana mukosa di antara kedua
gigi premolar kurang lebih 10 mm eksternal dari permukaan bukal mandibula. Posisi syringe membentuk sudut
450 terhadap permukaan bukal mandibula, mengarah ke apeks akar premolar kedua. Tusukkan jarum
tersebut sampai menyentuh tulang. Kurang lebih cc anestetikum dideponir, ditunggu sebentar kemudian ujung
jarum digerakkan tanpa menarik jarum keluar, sampai terasa masuk ke dalam foramen, dan deponirkan kembali
cc anestetikum dengan hati-hati.

Selama pencarian foramen dengan jarum, jagalah agar jarum tetap membentuk sudut 45o terhadap permukaan
bukal mandibula untuk menghindari melesetnya jarum ke balik periosteum dan untuk memperbesar
kemungkinan masuknya jarum ke foramen.

Injeksi ini dapat menganestesi gigi premolar dan kaninus untuk prosedur operatif. Untuk menganestesi gigi
insisivus, serabut saraf yang bersitumpang dari sisi yang lain juga harus di blok. Untuk ekstraksi harus
dilakukan injeksi lingual.

b. Teknik Anestesi Blok N. Bucalis

Teknik Injeksi N.Buccalis

Nervus buccal tidak dapat dianestesi dengan menggunakan teknik anaestesi blok nervus alveolaris inferior.
Nervus buccal menginervasi jaringan dan buccal periosteum sampai ke molar, jadi jika jaringan halus tersebut
diberikan perawatan, maka harus dilakukan injeksi nervus buccal. Injeksi tambahan tidak perlu dilakukan ketika
melakukan pengobatan untuk satu gigi. Jarum panjang dengan ukuran 25 gauge digunakan (karena injeksi ini
biasanya dilakukan bersamaan dengan injeksi blok nervus alveolaris inferior, jadi jarum yang sama dapat
digunakan setelah anestetikum terisi). Jarum disuntikan pada membran mukosa bagian disto bucal sampai pada
molar terakhir dengan bevel menghadap ke arah tulang setelah jaringan telah diolesi dengan antiseptik. Jika
jaringan tertarik kencang, pasien lebih merasa nyaman. Masukkan jarum 2 atau 4 mm secara perlahan-lahan dan
lakukan aspirasi.4 Setelah melakukan aspirasi dan hasilnya negatif, maka depositkan anestetikum sebanyak 2 cc
secara perlahan-lahan.

Masukkan jarum pada lipatan mukosa pada suatu titik tepat di depan gigi molar pertama. Perlahan-lahan
tusukkan jarum sejajar dengan corpus mandibulae, dengan bevel mengarah ke bawah, ke suatu titik sejauh
molar ketiga, anestetikum dideponir perlahan-lahan seperti pada waktu memasukkan jarum melalui jaringan.
Pasien harus berada dalam posisi semisupine. Operator yang menggunakan tangan kanan berada dalam posisi
searah dengan jarum jam delapan sedangkan operator yang kidal berada pada posisi searah dengan jarum jam
empat.
Injeksi ini menganestesi jaringan bukal pada area molar bawah. Bersama dengan injeksi lingual, jika
diindikasikan, dapat melengkapi blok n.alveolaris inferior untuk ekstraksi semua gigi pada sisi yang diinjeksi. In
jeksi ini tidak selalu diindikasikan dalam pembuatan preparasi kavitas kecuali jika kavitas bukal dibuat sampai
di bawah tepi gingival.

3.1.3 Instrumen Untuk Anastesi Lokal

A. Syringe Anastesi (Syringe, Cartridge)

Syringe obat bius (gambar 1-15) dirancang untuk mendukung dan mengusir solusi anestesi dari tabung kaca
komersial yang disusun disebut carpuletm. (nama merek dagang, carpule). Jarum cartridge yang tersedia untuk

anestesi lokal memiliki cincin yang menangani ibu jari pada akhir luar dan tombak pada akhir cartridge dari
plunger. Seruit ini dirancang untuk melibatkan plunger karet penyumbat cartridge. Cincin-ibu jari digunakan
untuk menarik kembali plunger serta menentukan apakah jarum telah menembus pembuluh darah. Prosedur ini
disebut "aspirating" dan syringenya adalah syringe aspirating.

B. Disposable Needles (Needles, Disposable)

Jarum sekali pakai dikemas untuk menjaganya dalam kondisi steril. Setelah digunakan, jarum akan dibuang.
Jarum ini melekat pada syringe yang dihubungkan oleh plastic-hub yang merupakan bagian dari jarum sekali
pakai.

Umumnya

jarum

tersedia

dalam

ukuran

13/16

inci

dan

inci.

Jarum sekali pakai selalu steril, selalu tajam, dan cenderung mudah patah daripada yang lain jarum. Jarum
hipodermik harus dibuang agar tidak dapat melukai operator maupun menguhindari kejadianlain yang tidak
diinginkan.
3.1.4 Persiapan Instrument Anastesi

A. Sterilisasi Instrumen

Seperti dalam pemeriksaan dasar, anestesi juga memerlukan persiapan tertentu. Salah satu instrumen dalam
persiapan yang selalu membutuhkan, yaitu penyterilan syringe. Item lainnya disterilisasi oleh produsen dan
dikemas dalam kondisi steril.

B. Anastesi Topical

Item pertama saat persiapan adalah topikal xylocaine. Anastesi ini diproduksi dalam bentuk jelly atau salep. Hal
ini paling sering digunakan untuk menganastesi daerah tempat suntikan yang sebenarnya harus dilakukan. Dua
kasa 1-2 inci atau cotton tip aplicator akan diperlukan bila menggunakan topikal xylocaine. Sejumlah kecil
ditempatkan pada aplikator dan diaplikasikan di atas area yang akan disuntikkan. Tujuan anestesi topikal adalah
untuk mengurangi ketidaknyamanan pada pasien selama injeksi berlangsung.

C. Syringe.

Syringe (sisi-loading jarum suntik cartridge) adalah satu-satunya item dalam persiapan yang memerlukan
penyterilan setelah digunakan pada setiap pasien. Syringe ini digunakan untuk mengaplikasikan anestesi lokal.
Jarum syringe merupakan jenis sekali pakai. Panjang dan jarum gauge yang digunakan akan bervariasi,
tergantung kebutuhan operator. Operator akan menangani dua jarum yang berbeda: sebuah infiltrasi dan jarum
konduktif. Jarum infiltrasi memiliki panjang 13/16 inci dan digunakan untuk injeksi maksilaris, untuk membius
daerah kecil sekitar dua hingga tiga gigi. Sedangkan, jarum konduktif memiliki panjang 1 3 / 8 inci panjang.
Injeksi blok dibuat dengan menggunakan jarum tersebut, anastesi daerah menyeluruh.

D. Anastesi Lokal.

Saat ini, dua jenis obat bius lokal yang banyak tersedia, yaitu lidokain hidroklorida (xylocaine) dengan epinefrin
(1:50.000 hingga 1:100.000) dan mepivacaine hidroklorida (carbocaine) tanpa epinefrin. Jenis ini dapat
diidentifikasi dengan warna tutup dan dengan warna wadah. Sebagai contoh: lidokain hidroklorida dengan
epinefrin (1:50.000), ditandai dengan tutup hijau dan garis hijau di wadah; lidokain hidroklorida dengan
epinephrine (1:100.000) memiliki tutup merah dan bergaris-garis merah; dan hidroklorida mepivacaine memiliki
tutup putih dan wadah cokelat. Epinefrin adalah faktor pengendali untuk berapa lama anestesi akan berlangsung.
Penambahan epinefrin mengakibatkan semakin lama daerah tersebut akan teranastesi. Epinefrin adalah
vasokonstriktor yang menyebabkan jaringan di sekitar kapiler membengkak, sehingga akan mengkonstriksi
kapiler dan memperlambat aliran darah. Aliran darah yang menurun menyebabkan lambatnya difusi anastesi di
seluruh tubuh, sehingga memperpanjang aksinya. Hal ini juga dapat membantu dalam mengontrol pendarahan.

E. Aspirasi

Perakitan dan penggunaan syringe aspirasi cukup sederhana. Syringe ini dilengkapi dengan perangkat yang
memungkinkan operator untuk menentukan apakah operator telah menginjeksi ke dalam aliran darah.
Penginjeksian agen ke dalam sistem peredaran darah dapat menimbulkan gejala yang tidak diinginkan atau
kematian. Perhatikan cincin jempol dan plunger berpentil. Pentil itu menembus tutup karet cartridge anestesi,
yang memungkinkan aspirasi ketika operator menarik plunger melalui jarum suntik pada cincin jempol.

F. Instrument

Untuk

instrumen

yang

biasa

digunakan

pada

anastesi

lokal,

dapat

dilihat

pada

3.1.5

gambar

3.

Prosedur

A.

Pengisian

Tabung

Syringe

Ketika jarum sekali pakai digunakan, hub plastik berulir ke syringe tanpa merusak segel atau memindahkan
silinder plastik pelindung luar. Langkah pertama adalah memasukkan jarum yang tepat. Langkah berikutnya
adalah untuk menarik plunger dari jarum suntik dan masukkan carpuletm (cartridge) dari obat bius. Setelah
memasukkan carpuletm, lepaskan plunger dan amankan pentil pada stopper karet dengan menyolok cincin
jempol di telapak tangan. Pelindung silinder dapat dilepas tergantung kebutuhan dan kenyamanan operator
dalam bekerja. Hal ini biasanya akan dilakukan setelah carpuletm larutan anestesi telah dan disisipkan tepat
sebelum injeksi diberikan. Hub dan jarum dan dibuang setelah digunakan, berikut pencegahan standar, dan
sesuai

dengan

kebijakan

lokal.

B. Injeksi.

Ketika operator siap menyuntikkan larutan anestesi, daerah injeksi/ kerja harus dikeringkan dengan kain kasa.
Operator dapat mengaplikasikan antiseptik ke daerah tersebut dengan aplikator, sehingga jaringan tersebut siap
untuk

di

injeksi.

Anestesi lokal tidak diragukan lagi adalah obat yang paling sering digunakan dalam praktek kedokteran gigi.
Jarum anestesi tersedia dalam ukuran (gauge) yang berbeda dan panjang. Jarum dengan ukuran panjang
biasanya digunakan terutama untuk injeksi "blok" dan jarum pendek untuk tipe injeksi infiltrasi. Namun, tidak
menutup kemungkinan untuk menggunakan jarum panjang pada kedua jenis injeksi. Gauge 25 merupakan jarum
panjang

yang

disediakan

dalam

bidang

C.

gigi.
Komplikasi

Meskipun telah mengikuti teknik, dan obat-obatan yang digunakan memiliki batas keselamatan yang sangat
tinggi, dan peralatan yang digunakan efisien dan mudah disterilkan, komplikasi masih dapat terjadi. Komplikasi
paling umum adalah sinkop (pingsan) yang disebabkan oleh anemia otak (yang biasanya psikogenik di alam)
dan biasanya berlangsung dari 30 detik sampai 2 menit. Kadang-kadang, reaksi alergi terhadap obat yang
dipakai

mungkin

timbul,

tetapi

ini

sangat

jarang.

2.2 Anastesi Lokal


Anastesi lokal adalah tindakan menghilangkan rasa sakit untuk sementara pada satu bagian
tubuh dengan cara mengaplikasikan bahan topikal atau suntikan tanpa menghilangkan
kesadaran. Pencegahan rasa sakit selama prosedur perawatan gigi dapat membangun
hubungan baik antara dokter gigi dan pasien, membangun kepercayaan, menghilangkan rasa
takut, cemas dan menunjukkan sikap positif dari dokter gigi. Teknik anastesi lokal merupakan
pertimbangan yang sangat penting dalam perawatan pasien anak. Ketentuan umur, anastesi
topikal, teknik injeksi dan analgetik dapat membantu pasien mendapatkan pengalaman positif
selama mendapatkan anastesi lokal. Berat badan anak harus dipertimbangkan untuk
memperkecil kemungkinan terjadi reaksi toksis dan lamanya waktu kerja anastetikum, karena
dapat menimbulkan trauma pada bibir atau lidah.
Anak-anak dapat ditangani secara anastesi lokal dengan kerja sama dari orangtua dan tidak
ada kontra indikasi. Anak-anak diberitahu dengan kata-kata sederhana apa yang akan
dilakukan, jangan membohongi anak. Sekali saja anak kecewa, sulit untuk membangun
kembali kepercayaan anak. Lebih aman mengatakan kepada anak-anak bahwa dia akan
mengalamisedikit rasa tidak nyaman seperti tergores pensil atau digigit nyamuk daripada
menjanjikan tidak sakit tetapi tidak mampu memenuhi janji tersebut. Bila seorang anak
mengeluh sakit selama injeksi pertimbang kembali situasinya, injeksikan kembali bila perlu
tapi jangan minta ia untuk menahan rasa sakit.
Sebelum melakukan penyuntikan, sebaiknya operator berbincang dengan pasien, dengan
menyediakan waktu untuk menjelaskan apa yang akan dilakukan dan mengenal pasien lebih
jauh dokter gigi dapat meminimaliskan rasa takut.
2.2.1 Macam Anastesi Lokal
2.2.1.1

Anastesi Topikal

Menghilangkan rasa sakit di bagian permukaan saja karena yang dikenai hanya ujung-ujung
serabut urat syaraf. Bahan yang digunakan berupa salf.
2.2.1.2

Anastesi Infiltrasi

Sering dilakukan pada anak-anak untuk rahang atas ataupun rahang bawah. Mudah
dikerjakan dan efektif. Daya penetrasi anastesi infiltrasi pada anak-anak cukup dalam karena
komposisi tulang dan jaringan belum begitu kompak.

2.2.1.3

Anastesi Blok

Digunakan untuk pencabutan gigi molar tetap.


2.3 Anastesi Infiltrasi
Anestesi infiltrasi adalah anestesi yang bertujuan untuk menimbulkan anestesi ujung saraf
melalui injeksi pada atau sekitar jaringan yang akan dianestesi sehingga mengakibatkan
hilangnya rasa dikulit dan jaringan yang terletak lebih dalam misalnya daerah kecil dikulit
atau gusi (pencabutan gigi).
Anasstesi ini sering dilakukan pada anak-anak untuk rahang atas ataupun rahang bawah.
Mudah dikerjakan dan efektif. Daya penetrasi anastesi infiltrasi pada anak-anak cukup dalam
karena komposisi tulang dan jaringan belum begitu kompak.
2.4 Indikasi dan Kontra Indikasi dari Anastesi Infiltrasi
2.4.1 Indikasi Anastesi Infiltrasi
Ada beberapa indikasi yang ditujukan untuk pemakaian anestesi infiltrasi, antara lain:
1.

Natal tooth/neonatal tooth

Natal tooth : gigi erupsi sebelum lahir


Neonatal tooth : gigi erupsi setelah 1 bulan lahir dan biasanya gigi:

Mobiliti

Dapat mengiritasi : menyebabkan ulserasi pada lidah

Mengganggu untuk menyusui


1.

Gigi dengan karies luas, karies mencapai bifurkasi dan tidak dapat direstorasi
sebaiknya dilakukan pencabutan. Kemudian dibuatkan space maintainer.

2.

Infeksi di periapikal atau di interradikular dan tidak dapat disembuhkan kecuali


dengan pencabutan.

3.

Gigi yang sudah waktunya tanggal dengan catatan bahwa penggantinya sudah mau
erupsi.

4.

Gigi sulung yang persistensi

5.

Gigi sulung yang mengalami impacted, karena dapat menghalangi pertumbuhan gigi
tetap.

6.

Gigi yang mengalami ulkus dekubitus

7.

Untuk perawatan ortodonsi

8.

Supernumerary tooth.

10. Gigi penyebab abses dentoalveolar


11. Jika penderita atau ahli bedah atau ahli anestesi lebih menyukai anestesi lokal serta dapat
meyakinkan para pihak lainnya bahwa anestesi lokal saja sudah cukup
12. Anestesi lokal dengan memblok saraf atau anestesi infiltrasi sebaiknya diberikan lebih
dahulu sebelum prosedur operatif dilakukan dimana rasa sakit akan muncul
2.4.2 Kontra Indikasi Anastesi Infiltrasi
Ada beberapa kasus dimanana penggunaan anestesi infiltrasi tidak di perbolehkan, kasuskasus ini perlu diketahui sehingga gejala-gejala yang tidak menyenangkan dan akibat yan
tidak diinginkan bisa dihindari. Kontra indikasi antara lain :
1.

Anak yang sedang menderita infeksi akut di mulutnya. Misalnya akut infektions
stomatitis, herpetik stomatitis. Infeksi ini disembuhkan dahulu baru dilakukan
pencabutan.

2.

Blood dyscrasia atau kelainan darah, kondisi ini mengakibatkan terjadinya perdarahan
dan infeksi setelah pencabutan.

3.

Pada penderita penyakit jantung.

Misalnya : Congenital heart disease, rheumatic heart disease yang akut.kronis, penyakit
ginjal/kidney disease.
1.

Pada penyakit sistemik yang akut pada saat tersebut resistensi tubuh lebih rendah dan
dapat menyebabkan infeksi sekunder.

2.

Adanya tumor yang ganas, karena dengan pencabutan tersebut dapat menyebabkan
metastase.

3.

Pada penderita Diabetes Mellitus (DM), tidaklah mutlak kontra indikasi.

4.

Kurangnya kerjasama atau tidak adanya persetujuan dari pihak penderita.

2.5 Alat dan Bahan Anastesi Infiltrasi

Alat dan bahan yang digunakan untuk anestesi infiltrasi pada gigi sulung saat pencabutan
antara lain :
2.5.1 Syringe
Adalah peralatan anestesi lokal yang paling sering digunakan pada praktek gigi. Terdiri dari
kotak logam dan plugger yang disatukan melalui mekanisme hinge spring.
2.5.2 Cartridge
Biasanya terbuat dari kaca bebas alkali dan pirogen untuk mengindari pecah dan kontaminasi
dari larutan. Sebagaian besar cartridge mengandung 2,2 ml atau 1,8 ml larutan anestesi lokal.
Cartridge dengan kedua ukuran tersebut dapat dipasang pada syringe standart namun
umumnya larutan anestesi sebesar 1,8 ml sudah cukup untuk prosedur perawatan gigi rutin.
2.5.3 Jarum
Pemilihan jarum harus disesuaikan dengan kedalaman anastesi yang akan dilakukan. Jarum
suntik pada kedokteran gigi tersedia dalam 3 ukuran (sesuai standar American Dental
Association = ADA) ; panjang (32 mm), pendek (20 mm, dan superpendek (10 mm).
Jarum suntik yang pendek yang digunakan untuk anestesi infiltrasi biasanya mempunyai
panjang 2 atau 2,5 cm. Jarum yang digunakan harus dapat melakukan penetrasi dengan
kedalaman yang diperlukan sebelum seluruh jarum dimasukan ke dalam jaringan. Tindakan
pengamanan ini akan membuat jarum tidak masuk ke jaringan, sehingga bila terjadi fraktur
pada hub, potongan jarum dapat ditarik keluar dengan tang atau sonde.
Petunjuk:
1.

Dalam pelaksanaan anastesi lokal pada gigi, dokter gigi harus menggunakan syringe
sesuai standar ADA.

2.

Jarum pendek dapat digunakan untuk beberapa injeksi pada jaringan lunak yang tipis,
jarum panjang digunakan untuk injeksi yang lebih dalam.

3.

Jarum cenderung tidak dipenetrasikan lebih dalam untuk mencegah patahnya jarum.

4.

Jarum yang digunakan harus tajam dan lurus dengan bevel yang relatif pendek,
dipasangkan pada syringe. Gunakan jarum sekali pakai (disposable) untuk menjamin
ketajaman dan sterilisasinya. Penggunaan jarum berulang dapat sebagai transfer
penyakit.

2.5.4 Lidocain
Sejak diperkenalkan pada tahun 1949 derivat amida dari xylidide ini sudah menjadi agen
anestesi lokal yang paling sering digunakan dalam kedokteran gigi bahkan menggantikan
prokain sebagai prototipe anestesi lokal yang umumnya digunakan sebagai pedoman bagi
semua agen anestesi lainnya. Lidokain dapat menimbulkan anestesi lebih cepat dari pada
procain dan dapat tersebar dengan cepat diseluruh jaringan, menghasilkan anestesi yang lebih
dalam dengan durasi yang cukup lama. Obat ini biasanya digunakan dalam kombinasi dengan
adrenalin (1:80.000 atau 1: 100.000). Pengunaan lidocain kontraindikasi pada penderita
penyakit hati yang parah.
2.5.5 Mepivacain
Derivat amida dari xilidide ini cukup populer yang diperkenalkan untuk tujuan klinis pada
akhir tahun 1990an. Kecepatan timbulnya efek,durasi aksi, potensi dan toksisitasnya mirip
dengan lidocain. Mepivacain tidak mempunyai sifat alergenik terhadap anestesi lokal tipe
ester. Agen ini dipasarkan sebagai garam hidroklorida dan dapat digunakan anestesi
infiltrasi / regional. Bila mepivacain dalam darah sudah mencapai tingkatan tertentu , akan
terjadi eksitasi sistem saraf sentral bukan depresi, dan eksitasi ini dapat berakhir berupa
konvulsi dan depresi respirasi.
2.5.6 Prilocain
Merupakan derivat toluidin dengan tipe amida pada dasarnya mempunyai formula kimiawi
dan farmakologi yang mirip dengan lidocain dan mepivacaine. Prolocain biasanya
menimbulkan aksi yang lebih cepat daripada lidocain namun anestesi yang ditimbulkan tidak
terlalu dalam. Prolocain juga kurang mempunyai efek vasodilator bila dibandingkan dengan
lidocain dan bisanya termetabolisme lebih cepat. Obat ini kurang toksis dibanding dengan
lidocaine tapi dosis total yang dipergunakan sebaiknya tidak lebih dari 400mg.
2.5.7 Vasokonstriktor
Penambahan sejumlah kecil agen vasokonstriktor pada larutan anestesi lokal dapat memberi
keuntungan berikut ini:
1.

mengurangi efek toksik melalui efek menghambat absorpsi konstituen.

2.

Membatasi agen anestesi hanya pada daerah yang terlokalisir sehingga dapat
meningkatkan kedalaman dan durasi anastesi.

3.

Menimbulkan daerah kerja yang kering (bebas bercak darah) untuk prosedur operasi.

Vasokonstriktor yang biasa digunakan adalah:


1.

Adrenalin (epinephrine), suatu alkaloid sintetik yang hampir mirip dengan sekresi
medula adrenalin alami.

2.

Felypressin (octapressin), suatu polipeptida sintetik yang mirip dengan sekresi


glandula pituutari posterior manusia. Mempunyai sifat vasokonstriktor yang dapat
diperkuat dengan penambahan prilokain.

2.6 Teknik Anastesi Infiltrasi


Pada anak-anak bidang alveolar labio-bukal yang tipis umumnya banyak terperforasi oleh
saluran vaskuler. Untuk alasan inilah, maka teknik infiltrasi dapat digunakan dengan efektif
untuk mendapat efek anastesi pada gigi-gigi susu atas tanpa perlu mendepositkan lebih dari 1
ml larutan secara perlahan-lahan dijaringan.
Pada anak yang masih muda, rasa tidak enak dari suntikan palatum yang digunakan untuk
prosedur pencabutan gigi atau pemasangan matriks, dapat dihindari dengan cara sebagai
berikut.
Setelah efek suntikan supraperiosteal pada sulkus labiobukal diperoleh, jarum diinsersikan
dari aspek labio-bukal, melaluiruang interproksimal, setinggi jaringan gingiva yang melekat
pada periosteum dibawahnya. Ujung jarum harus tetap berada pada papila dan tidak boleh
menyentuh tulang. Sejumlah kecil larutan anastesi local didepositkan perlahan sampai
mukoperiosteum palatal atau lingal memucat. Sejumlah kecil larutan anastesi yang
didepositkan dengan cara ini akan memberikan efek anastesi yang memadai pada jaringan
palatum. Teknik ini dikenal sebagai suntikan interpapila dan sering digunakan oleh para ahli
pedodonti. Para ahli lainnya umumya lebih suka menggunakan suntikan jet atau suntikan
intraligamental.

2.7 Prosedur Anastesi Infiltrasi


2.7.1 Daerah bukal/labial/RA/RB

Masuknya jarum ke dalam mukosa 2 3 mm, ujung jarum berada pada apeks dari gigi yang
dicabut. Sebelum mendeponir anastetikum, lakukan aspirasi untuk melihat apakah pembuluh
darah tertusuk. Bila sewaktu dilakukan aspirasi dan terlihat darah masuk ke dalam karpul,
tarik karpul. Buang darah yang berada di karpul dan lakukan penyuntikan pada lokasi lain
yang berdekatan. Masukkan obat dengan perlahan dan tidak boleh mendadak sebanyak 0,60
ml (1/3 karpul).
2.7.2 Daerah palatal/lingual.
Masukkan jarum sampai menyentuh tulang. Masukkan obat perlahan dan tidak boleh
mendadak sebanyak 0,2 0,3 cc. Akan terlihat mukosa daerah tersebut putih/pucat.

2.7.3 Daerah Interdental Papil


Masukkan jarum pada daerah papila interdental, masukkan obatnya sebanyak 0,2 0,3 cc.
Akan terlihat mukosa daerah tersebut memucat.
2.7.4 Anastesi Intraligamen
Suntikan intraligamen dilakukan ke dalam periodontal ligamen. Suntikan ini menjadi populer
belakangan ini setelah adanya syringe khusus untuk tujuan tersebut. Suntikan intraligamen
dapat dilakukan dengan jarum dan syringe konvensional tetapi lebih baik dengan syringe
khusus karena lebih mudah memberikan tekanan yang diperlukan untuk menyuntikan ke
dalam periodontal ligamen.
2.8 Teknik Anastesi Infiltrasi
1.

Hilangkan semua kalkulus dari tempat penyuntikan, bersihkan sulkus gingiva dengan
rubber cup dan pasta profilaksis dan berikan desinfektan dengan menggunakan cotton
pellet kecil.

2.

Masukkan jarum ke dalam sulkus gingiva pada bagian mesial distal gigi dengan bevel
jarum menjauhi gigi.

3.

Tekan beberapa tetes larutan ke dalam sulkus gingiva untuk anastesi jaringan di depan
jarum Injeksi intra ligamen pada anak.

4.

Gerakkan jarum ke apikal sampai tersendat diantara gigi dan crest alveolar biasanya
kira-kira 2 mm.

5.

Tekan perlahan-lahan. Jika jarum ditempatkan dengan benar harus ada hambatan pada
penyuntikan dan jaringan di sekitar jarum memutih. Jika tahanan tidak dirasakan, jarum
mungkin tidak benar posisinya dan larutan yang disuntikkan akan mengalir ke dalam
mulut.

6.

Suntikan perlahan-lahan, banyaknya 0,2 ml.

7.

Untuk gigi posterior, berikan suntikan di sekitar tiap akar.

8.

Dapat pula diberikan penyuntikan di bagian mesial dan distal akar tetapi dianjurkan
bahwa tidak lebih dari 0,4 ml larutan disuntikan ke tiap akar.

9.

Cartridge harus dibuang dan tidak boleh digunakan untuk pasien yang lain, walaupun
sedikit sekali larutan yang digunakan.