Anda di halaman 1dari 36

Referat HIV

BAB I
PENDAHULUAN

Masalah HIV/AIDS adalah masalah besar yang mengancam Indonesia dan banyak
negara di seluruh dunia.UNAIDS badan WHO yang mengurusi masalah AIDS,memperkirakan
jumlah ODHA di seluruh dunia pada Desember 2004 adalah 35,9-44,3 juta orang.Saat ini tidak
ada negara yang terbebas dari HIV/AIDS.HIV.AIDS menyebabkan berbagai krisi secara
bersamaan,menyebabkan krisi kesehatan,krisis pembangunan negara,kriris negara ,krisis
ekonomi,pendidikan dan krisis kemanusiaan. Dengan kata lain HIV/AIDS menyebabkan krisi
multidimensi.Sebagai krisi kesehatan,AIDS memerlukan respon dari masyarakat dan
memerlukan pelayanan pengobatan dan perawatan untuk individu yang terinfeksi HIV.
Kasus pertama AIDS di dunia dilaporkan pada tahun 1981.Meskipun demikian,dari
beberapa literatur sebelumnya ditemukan kasus yang cocok dengan definisi surveilans AIDS
pada tahun 1950-1960-an di Amerika Serikat.Sampel jaringan potong beku dan serum dari
seorang pria berusia 15 tahun di St Louis,AS, yang dirawat dengan dan meninggal alibat
Sarkoma Kaposi diseminata dan agresif pada 1968,menunjukkan antibodi HIV positif dengan
Western Blot dan antigen HIV positif dengan ELISA.
Virus penyebab HIV diidentifikasi oleh Luc Montaigner pada tahun 1983 yang pada
waktu itu diberi nama LAV (Lymphadenopathy virus) sedangkan Robert Gallo menemukan
virus penyebab AIDS pada 1984 yang saat itu dinamakan HTLV-III.Sedangkan tes untuk
memeriksa antibodi terhadap HIV dengan cara ELISA baru tersedia pada tahun 1985.
Kasus pertama AIDS di Indonesia dilaporkan secara resmi oleh Departemen Kesehatan
tahun 1987 yaitu pada seorang warga negara Belanda di Bali. Sebenarnya sebelum itu telah
ditemukan kasus pada bulan Desember 1985 yang secara klinis sangat sesuai dengan diagnosis
AIDS dan hasil tes ELISA tiga kali diulang,menyatakan positif. Tetapi tes Western Blot hasilnya
negatif, sehingga tidak dilaporkan. Kasus kedua ditemukan pada bulan Maret 1986 di RS Cipto

Kepaniteraan Klinik Ilmu Penyakit Dalam


Universitas Tarumanagara RSPI Sulianti Saroso
Periode 18 Mei 25 Juli 2015
1

Referat HIV
Mangunkusumo pada pasien hemofilia dan termasuk jenis non-progresor,artinya kondisi dan
kekebalannya cukup baik selama 17 tahun tanpa pengobatan,dan sudah dikonfirmasi dengan
Western Blot,serta masih berobat jalan di RSCM pada tahun 2002.

Kepaniteraan Klinik Ilmu Penyakit Dalam


Universitas Tarumanagara RSPI Sulianti Saroso
Periode 18 Mei 25 Juli 2015
2

Referat HIV
BAB II
PEMBAHASAN
HIV/AIDS

DEFINISI
HIV (Human Immunodeficiency Virus) adalah suatu retrovirus dengan materi genetik
asam ribonukleat (RNA). Retrovirus mempunyai kemampuan yang unik untuk mentransfer
informasi genetik mereka dari RNA ke DNA dengan menggunakan enzim yang disebut reverse
transcriptase, setelah masuk ke tubuh hospes.
HIV menyerang sistem imun manusia yaitu menyerang limfosit T helper yang memiliki
reseptor CD4 dipermukaannya. Limfosit T helper antara lain berfungsi menghasilkan zat kimia
yang berperan sebagai perangsang pertumbuhan dan pembentukan sel-sel lain dalam sistem
imun dan pembentukan antibodi sehingga yang terganggu bukan hanya fungsi limfosit T tetapi
juga limfosit B, monosit, makrofag dan sebagainya dan merusak sistem imunitas. Selanjutnya
bisa memudahkan infeksi oportunistik di dalam tubuh. Kondisi inilah yang kita sebut AIDS
AIDS (Acquired Immunodeficiency Syndrome) dapat diartikan sebagai kumpulan gejala
atau penyakit yang disebabkan oleh menurunnya kekebalan tubuh akibat infeksi oleh virus HIV
(Human Immunodeficiency Virus) yang termasuk family retroviridae. AIDS merupakan tahap
akhir dari infeksi HIV.4
Definisi AIDS menurut CDC (Centers for Disease Control and Prevention) lebih
melihat pada gejala yang ditimbulkan pada tahapan perubahan penderita HIV/AIDS, yaitu pada
orang dewasa atau remaja umur 13 tahun atau lebih adalah terdapatnya satu dari beberapa
keadaan yang menunjukkan imunosupresi berat yang berhubungan dengan infeksi HIV, seperti
Pneumocystis Carnii Pneumonia (PCP), suatu infeksi paru yang sangat jarang terjadi pada
penderita yang tidak terinfeksi HIV mencakup infeksi oportunistik yang jarang menimbulkan

Kepaniteraan Klinik Ilmu Penyakit Dalam


Universitas Tarumanagara RSPI Sulianti Saroso
Periode 18 Mei 25 Juli 2015
3

Referat HIV
bahaya pada orang yang sehat. Selain infeksi dan kanker dalam penetapan CDC 1993, juga
termasuk: ensefalopati, sindrom kelelahan yang berkaitan dengan AIDS dan hitungan
CD4<200/ml.
B.

EPIDEMIOLOGI HIV/AIDS
Salah satu faktor yang berpengaruh dalam epidemiologi HIV di
variasi antar wilayah, baik dalam hal besarnya

masalah

maupun

Indonesia

adalah

faktor-faktor.yang

berpengaruh. Epidemi HIV di Indonesia berada pada kondisi epidemi terkonsentrasi.


Klasifikasi untuk epidemi HIV/AIDS terdiri dari:

Rendah: Prevalensi HIV dalam suatu sub-populasi berisiko tertentu belum


melebihi 5%.

Terkonsentrasi: Prevalensi HIV secara konsisten lebih dari 5% di subpopulasi


tertentu dan prevalensi HIV di bawah 1% di populasi umum
atau ibu hamil.

Meluas: Prevalensi HIV lebih dari 1% di populasi umum atau ibu hamil
Di Indonesia, sejak tahun 1999 telah terjadi peningkatan jumlah ODHA pada kelompok

orang berperilaku risiko tinggi tertular HIV yaitu para penjaja seks komersial dan penyalahguna NAPZA suntikan di beberapa provinsi seperti DKI Jakarta, Riau, Bali, Jawa Barat dan
Jawa Timur sehingga provinsi tersebut tergolong sebagai daerah dengan tingkat epidemi
terkonsentrasi (concentrated level of epidemic). Tanah Papua sudah memasuki tingkat epidemi
meluas (generalized epidemic). Hasil estimasi tahun 2009, di Indonesia terdapat 186.000 orang
dengan HIV positif.
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia telah menetapkan sebanyak 278 rumah sakit
rujukan Odha (Surat Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor
780/MENKES/SK/IV/2011 tentang Penetapan Lanjutan Rumah Sakit Rujukan Bagi Orang
dengan HIV (lihat Lampiran 1)) yang tersebar di hampir semua provinsi di Indonesia.
Dari Laporan Situasi Perkembangan HIV & AIDS di Indonesia sampai dengan
Kepaniteraan Klinik Ilmu Penyakit Dalam
Universitas Tarumanagara RSPI Sulianti Saroso
Periode 18 Mei 25 Juli 2015
4

Referat HIV
September 2011 tercatat jumlah Odha yang mendapatkan terapi ARV sebanyak 22.843 dari 33
provinsi dan 300 kab/kota, dengan rasio laki-laki dan perempuan 3 : 1, dan persentase tertinggi
pada kelompok usia 20-29 tahun
C.

ETIOLOGI
HIV merupakan virus ribonucleic acid (RNA) yang termasuk dalam subfamili Lentivirus
dari famili retrovirus. Struktur HIV dapat dibedakan menjadi 2 tipe HIV yang menyebar luas ke
seluruh dunia dan HIV-2 yang hanya ada di Afrika Barat dan beberapa negara Eropa

D.

PATOGENESIS
HIV menginfeksi sel dengan mengikat permukaan sel sasaran yang memiliki reseptor
membran CD4, yaitu sel T-helper (CD4+). Glikoprotein envelope virus, yakni gp120 akan
berikatan dengan permukaan sel limfosit CD4+, sehingga gp41 dapat memperantarai fusi
membran virus ke membran sel. Setelah virus berfusi dengan limfosit CD4+, RNA virus masuk
ke bagian tengah sitoplasma CD4+. Setelah nukleokapsid dilepas, terjadi transkripsi terbalik
(reverse transcription) dari satu untai tunggal RNA menjadi DNA salinan (cDNA) untai-ganda
virus.
cDNA kemudian bermigrasi ke dalam nukleus CD4+ dan berintegrasi dengan DNA
dibantu enzim HIV integrase. Integrasi dengan DNA sel penjamu menghasilkan suatu provirus
dan memicu transkripsi mRNA. mRNA virus kemudian ditranslasikan menjadi protein
struktural dan enzim virus. RNA genom virus kemudian dibebaskan ke dalam sitoplasma dan
bergabung dengan protein inti.
Tahap akhir adalah pemotongan dan penataan protein virus menjadi segmen- segmen
kecil oleh enzim HIV protease. Fragmen-fragmen virus akan dibungkus oleh sebagian membran
sel yang terinfeksi. Virus yang baru terbentuk (virion) kemudian dilepaskan dan menyerang selsel rentan seperti sel CD4+ lainnya, monosit, makrofag, sel NK (natural killer), sel endotel, sel
epitel, sel dendritik (pada mukosa tubuh manusia), sel Langerhans (pada kulit), sel mikroglia,

Kepaniteraan Klinik Ilmu Penyakit Dalam


Universitas Tarumanagara RSPI Sulianti Saroso
Periode 18 Mei 25 Juli 2015
5

Referat HIV
dan berbagai jaringan tubuh.15
Sel limfosit CD4+ (T helper) berperan sebagai pengatur utama respon imun, terutama
melalui sekresi limfokin. Sel CD4+ juga mengeluarkan faktor pertumbuhan sel B untuk
menghasilkan antibodi dan mengeluarkan faktor pertumbuhan sel T untuk meningkatkan
aktivitas sel T sitotoksik (CD8+). Sebagian zat kimia yang dihasilkan sel CD4+ berfungsi
sebagai kemotaksin dan peningkatan kerja makrofag, monosit, dan sel Natural Killer (NK).
Kerusakan sel T-helper oleh HIV menyebabkan penurunan sekresi antibodi dan gangguan pada
sel-sel imun lainnya.4
Pada sistem imun yang sehat, jumlah limfosit CD4+ berkisar dari 600 sampai 1200/ l
darah. Segera setelah infeksi virus primer, kadar limfosit CD4+ turun di bawah kadar normal
untuk orang tersebut. Jumlah sel kemudian meningkat tetapi kadarnya sedikit di bawah normal.
Seiring dengan waktu, terjadi penurunan kadar CD4+ secara perlahan, berkorelasi dengan
perjalanan klinis penyakit. Gejala-gejala imunosupresi tampak pada kadar CD4+ di bawah 300
sel/l. Pasien dengan kadar CD4+ kurang dari 200/l mengalami imunosupresi yang berat dan
risiko tinggi terjangkit keganasan dan infeksi oportunistik.4
E.

PATOFISIOLOGI
Dalam tuguh ODHA,partikel virus bergabung dengan DNA sel pasien, sehingga satu
kali terinfeksi HIV,seumur hidup ia akan tetap terinfeksi HIV,sebagian berkembang masuk
tahap AIDS pada 3 tahun pertama,50% berkembang menjadi pasien AIDS sesudah 10 tahun,
dan sesudah 13 tahun hampir semua orang yang terinfeksi HIV menunjukkan gejala AIDS,dan
kemudian meninggal. Perjalanan penyakit tersebut menunjukkan gambaran penyakit yang
kronis,sesuai dengan perusakan sistem kekebalan tubug yang juga bertahap.
Infeksi HIV tidak akan langsung memperlihatkan tanda atau gejala tertentu.Sebagian
memperlihatkan gejala tidak khas pada infeksi HIV akut,3-6 minggu setelah terinfeksi. Gejala
yang

terjadi

adalah

demam,nteri

menelan,pembengkakakan

kelenjar

getah

bening,ruam,diare,atau batuk. Setelah infeksi akut,dimulaialh infeksi HIV asimptomatik (tanpa

Kepaniteraan Klinik Ilmu Penyakit Dalam


Universitas Tarumanagara RSPI Sulianti Saroso
Periode 18 Mei 25 Juli 2015
6

Referat HIV
gejala).Masa tanpa gejala ini umumnya berlangsung 8-10 tahun. Namun pada sebagian orang
dalam jangka waktu 2 tahun saja sudah dapat menunjukkan gejala dan ada juga yang perjalanan
penyakitnya lambat.
Seiring dengan memburuknya kekebalan tubuh,odha mulai menampakkan gejala-gejala
akibat infeksi oportunistik seperti berat badan menurun,demam lama,rasa lemah,pembesaran
kelenjar getah bening,diare,tuberkulosis,infeksi jamur,herpes,dll
Manifestasi dari awal dari kerusakan sistem kekebalan tubuh aadalah kerusakan mikro
arsitektur folikel kelenjar getah bening dan infeksi HIV yang luas di jaringan limfoid,yang
dapat dilihat dengan pemeriksaaan hibridisasi in situ. Sebagian besar replikasi HIV terjadi
kelenjar getah bening, bukan di peredaran darah tepi.
Pada waktu orang dengan infeksi HIV masih merasa sehat,klinis tidak menunjukkan
gejala,pada waktu itu terjadi replikasi HIV yang tinggi,10 partikel setiap hari. Replikasi yang
cepat ini disertai dengan mutasi HIV dan seleksi,muncul HIV yang resisten.Bersamaan dengan
replikasi HIV,terjadi kehancuran limfosit CD4 yang tinggi,untungnya tubuh masih
mengkompensasi dengan memproduksi limfosit CD4 sekitar 109 sel setiap hari
Perjalanan penyakit pada pengguna narkotika berjalan lebuh progresif. Dimana 80%
pengguna narkotika terinfeksi virus hepatitis C. Infeksi pada katup jantung juga adalah penyakit
yang sering ditemui pada odha pengguna narkotika dan biasanya tidak dijumpai pada odha
dengan cara lain. Lamanya penggunaan jarum suntik juga berbanding lurus dengan infeksi
pneumonia dan tuberkulosis. Makin lama seseorang menggunakan narkotika suntikan, makin
mudah ia terkena pneumonia dan tuberkulosis. Infeksi yang terjadi secara bersamaan ini akan
menyebabkan virus HIV akan membelah dengan cepat sehingga jumlahnya akan meningkat
pesat.Selain itu juga dapat menyebabkan reaktivasi virus di dalam limfosit T,akibat perjalanan
penyakit yang progresif.
Perjalanan penyakit HIV yang lebih progresif pada pengguna narkotika ini tercermin
dari hasil penelitan Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo pada 57 pasien HIV asimptomatik yang
berasal dari penggunaan narkotika dengan kadar CD4 lebih dari 200sel/mm 3.. Ternyata 56.14%

Kepaniteraan Klinik Ilmu Penyakit Dalam


Universitas Tarumanagara RSPI Sulianti Saroso
Periode 18 Mei 25 Juli 2015
7

Referat HIV
mempunyai jumlah virus dalam darah yang melebih 55.000 kopi/ml,artinya penyakit infeksi
HIVnya progresif,walaupun kadar CD4 realtif masih cukup baik.

F.

PENULARAN
Model penularan HIV melalui hubungan seksual, darah dan produk darah yang
terinfeksi HIV, dan transmisi dari ibu ke anak
Hubungan Seksual
HIV dapat menyebar baik melalui hubungan sesama jenis (homoseksual) atau berbeda
jenis ( heteroseksual) ketika pasangannya telahterinfeksi HIV. Perempuan lebih besar berisiko
untuk t erinfeksi dari pasangannya karena transmisi dari laki-laki ke perempuan lebih efisien
daripada

perempuan ke laki-laki. Selama melakukan hubungan seks kerusakan lapisan

organ seksual bisa

menularkan HIV dari pasangan yang terinfeksi ke orang yang tidak

terinfeksi dengan pertukaran cairan tubuh. Selain melakukan hubungan seksual dengan vaginal
yang berisiko, ada perilaku seksual berisiko lainnya untuk tertular HIV, misalnya hubungan
seks dengan anal.
Darah dan produk darah yang terinfeksi HIV
Penularan HIV melalui darah dan produk darah yang terinfeksi HIV dapat melalui
transfusi darah dan pemakaian jarum suntik yang tidak steril secara bergantian.
o Transfusi darah
Darah donor yang tidak ditapis berisiko mengandung HIV. Ketika tes
darah untuk skrining HIV tidak dapat dilakukan, orang dengan sickle cell,
haemophilia dan lainnya membutuhkan transfusi darah yang berulang terinfeksi
HIV melalui darah yang terkontaminasi virus
o Pemakaian alat suntik/ jarum suntik yang tidak steril
Biasanya pengguna napza suntik menggunakan alat suntik bergantian
dengan teman pengguna napza yang lain. Pertukaran darah yang terinfeksi HIV

Kepaniteraan Klinik Ilmu Penyakit Dalam


Universitas Tarumanagara RSPI Sulianti Saroso
Periode 18 Mei 25 Juli 2015
8

Referat HIV
lewat jarum suntik adalah metode tranmisi HIV antara pengguna napza suntik
Transmisi dari ibu ke anak
Penularan HIV dari ibu ke anak dapat terjadi selama kehamilan, ketika lahir, dan masa
menyusui. Sebagian besar penularan terjadi pada saat melahirkan per vaginam. Peluang
penyebaran HIV dengan cara ini sekitar 30%
Populasi berisiko tinggi untuk penularan HIV terdiri dari:
- Penjaja seks dan pelanggannya
- Penasun (pengguna napza suntik)
- Laki-laki suka laki-laki
- Narapidana
Populasi berisiko juga bisa sebagai jembatan penularan kepada kelompok yang lain
(pasangan kelompok berisiko). Sebagai contoh, pelanggan dari penjaja seks yang terinfeksi HIV
mungkin akan terinfeksi HIV. Kemudian dia melakukan hubungan seks dengan istrinya secara
tidak aman, dan kemudian menginfeksi istrinya. Dalam kasus ini dia bertindak sebagai
jembatan, infeksi HIV yang diperoleh dari penjaja seks ke pasangannya
Hingga saat ini juga tidak terdapat bukti bahwa AIDS dapat ditularkan melalui udara,
minuman, makanan, kolam renang atau kontak biasa (casual) dalam keluarga, sekolah atau
tempat kerja. Juga peranan serangga dalam penularan AIDS tidak dapat dibuktikan.
G.

DIAGNOSIS
Diagnosis ditujukan kepada dua hal, yaitu keadaan terinfeksi HIV dan AIDS.Diagnosis
laboratorium dapat dilakukan dengan dua metode:
1. Langsung: yaitu isolasi virus dari sampel, umumnya dilakukan dengan menggunakan
mikroskop elektron dan deteksi antigen virus. Salah satu cara deteksi antigen virus ialah
Polymerase Chain Reaction (PCR)
2. Tidak Langsung: dengan melihat respon zat anti bodi spesifik, misalnya dengan ELISA,

Kepaniteraan Klinik Ilmu Penyakit Dalam


Universitas Tarumanagara RSPI Sulianti Saroso
Periode 18 Mei 25 Juli 2015
9

Referat HIV
immunoflurescent assay (IFA), atau radioimmunoprecipitation assay (RIPA)
Terdapat dua uji yang khas digunakan untuk mendeteksi antibodi terhadap HIV.
Pertama, tes ELISA (enzyme-linked immunosorbent assay) yang bereaksi terhadap antibodi
dalam serum. Apabila hasil ELISA positif, dikonfirmasi dengan tes kedua yang lebih spesifik,
yaitu Western blot. Bila hasilnya juga positif, dilakukan tes ulang karena uji ini dapat
memberikan hasil positif-palsu atau negatif-palsu. Bila hasilnya tetap positif, pasien dikatakan
seropositif HIV. Pada tahap ini dilakukan pemeriksaan klinis dan imunologik lain untuk
mengevaluasi derajat penyakit dan dimulai usaha untuk mengendalikan infeksi.
Tiap negara memiliki strategi tes HIV yang berbeda. Di Indonesia, skrining dan
surveilans menggunakan strategi tes yang sama. Tes ELISA dan Western Blot telah digunakan di
waktu yang lalu, sekarang di Indonesia menggunakan Dipstik,ELISA 1, dan ELISA 2 untuk
skrining dan surveilans.
Reagensia yang dipilih untuk dipakai pada pemeriksaan didasarkan pada sensitivitas dan
spesifisitas tiap jenis reagensia. Untuk diagnosis klien yang asimtomatik harus menggunakan
strategi III dengan persyaratan reagensia sebagai berikut:
1) Sensitivitas reagen pertama > 99%
2) Spesifisitas reagen kedua > 98%
3) Spesifisitas reagen ketiga > 99%
4) Preparasi antigen atau prinsip tes dari reagen pertama, kedua, dan ketiga tidak sama.
Reagensia yang dipakai pada pemeriksaan kedua atau ketiga mempunyai prinsip pemeriksaan
(misalnya EIA, dot blot, imunokromatografi atau aglutinasi) atau jenis antigen (misalnya lisat
virus, rekombinan DNA atau peptida sintetik) yang berbeda daripada reagensia yang dipakai
pada pemeriksaan pertama.
5) Prosentase hasil kombinasi dua reagensia pertama yang tidak sama (discordant) kurang dari
5%.
6) Pemilihan jenis reagensia (EIA atau Simple/Rapid) harus didasarkan pada:
a. Waktu yang diperlukan untuk mendapatkan hasil

Kepaniteraan Klinik Ilmu Penyakit Dalam


Universitas Tarumanagara RSPI Sulianti Saroso
Periode 18 Mei 25 Juli 2015
10

Referat HIV
b. Jumlah spesimen yang diperiksa dalam satu kali pengerjaan
c. Sarana dan prasarana yang tersedia
Tujuan surveilans, reagen pertama harus memiliki sensitivitas >99%, spesifisitas reagen
>98%.

Kepaniteraan Klinik Ilmu Penyakit Dalam


Universitas Tarumanagara RSPI Sulianti Saroso
Periode 18 Mei 25 Juli 2015
11

Referat HIV

WHO mengembangkan sebuah sistem staging (untuk menentukan prognosis),


berdasarkan dari kriteria klinis, sebagai berikut:5
Tabel 1. Penentuan derajat klinis untuk infeksi HIV pada dewasa menurut WHO5
Tahap 1 :

Asimptomatik

Limfadenopati menyeluruh

Tahap 2:

Penurunan berat badan < 10% berat badan sebelumnya

Manifestasi mukokutaneus minor (misal: ulserasi oral,


infeksi jamur di kuku)

Herpes zoster dalam 5 tahun terakhir

Angular cheilitis

Seboroik dermatitis

Infeksi saluran napas atas rekuren (misal: sinusitis


bakterial)

Papular pruritik eruption

Kepaniteraan Klinik Ilmu Penyakit Dalam


Universitas Tarumanagara RSPI Sulianti Saroso
Periode 18 Mei 25 Juli 2015
12

Referat HIV
Tahap 3:

Penurunan berat badan > 10% dari berat badan sebelumnya

Diare kronis tanpa sebab > 1 bulan

Demam berkepanjangan tanpa sebab > 1 bulan (>37,6OC)

Candidiasis oral

Oral hairy leukoplakia

TB paru

Infeksi bakteri berat (pneumonia, pyomiositis)

Stomatitis, gingngivitis, periodontitis

Anemia (Hb <8)

Neutropenia ( netrofil <500)

Trombositopenia (<50.000)
Tahap 4:

HIV wasting syndrome (penurunan berat badan > 10%,


diare>1 bulan atau lemah lesu dan demam > 1 bulan)

Pneumonisitis carina pneumonia

Toxoplasmosis otak

Kriptosporidiosis dengan diare, lebih dari sebulan

Kriptokokosis, ekstra paru

TB ekstra paru

Penyakit disebabkan oleh CMV

Kandidiasis esofagus sampai paru

Mikobakteriosis atipikal

Lymphoma

Kepaniteraan Klinik Ilmu Penyakit Dalam


Universitas Tarumanagara RSPI Sulianti Saroso
Periode 18 Mei 25 Juli 2015
13

Referat HIV

H.

Kaposi sarcoma

HIV encephalopati

Virus herpes lebih dari 1 bulan

Leukoensefalopati multifokal yang progresif

Infeksi jamur endemik yang menyebar

Meningitis

Ensefalopati HIV

Infeksi non tuberkulosis bakteri

PENATALAKSANAAN HIV/AIDS
Pengobatan Pencegahan Kotrimoksasol (PPK)
Beberapa infeksi oportunistik (IO) pada ODHA dapat dicegah dengan pemberian
pengobatan profilaksis. Terdapat dua macam pengobatan pencegahan, yaitu profilaksis primer
dan profilaksis sekunder.

Profilaksis primer adalah pemberian pengobatan pencegahan untuk mencegah suatu


infeksi yang belum pernah diderita.

Profilaksis sekunder adalah pemberian pengobatan pencegahan yang ditujukan untuk


mencegah berulangnya suatu infeksi yang pernah diderita sebelumnya
Berbagai

penelitian

telah

membuktikan

efektifitas

pengobatan

pencegahan

kotrimoksasol dalam menurunkan angka kematian dan kesakitan pada orang yang terinfeksi
HIV. Hal tersebut dikaitkan dengan penurunan insidensi infeksi bakterial, parasit (Toxoplasma)
dan Pneumocystis carinii pneumonia (sekarang disebut P. jiroveci, disingkat sebagai PCP).
Pemberian kotrimoksasol untuk mencegah (secara primer maupun sekunder) terjadinya PCP
dan Toxoplasmosis disebut sebagai Pengobatan Pencegahan Kotrimoksasol (PPK)

Kepaniteraan Klinik Ilmu Penyakit Dalam


Universitas Tarumanagara RSPI Sulianti Saroso
Periode 18 Mei 25 Juli 2015
14

Referat HIV
PPK dianjurkan bagi:

ODHA yang bergejala (stadium klinis 2, 3, atau 4) termasuk perempuan hamil dan
menyusui. Walaupun secara teori kotrimoksasol dapat menimbulkan kelainan
kongenital, tetapi karena risiko yang mengancam jiwa pada ibu hamil dengan jumlah
CD4 yang rendah (<200) atau gejala klinis supresi imun (stadium klinis 2, 3 atau 4),
maka perempuan yang memerlukan kotrimoksasol dan kemudian hamil harus
melanjutkan profilaksis kotrimoksasol.

ODHA dengan jumlah CD4 di bawah 200 sel/mm3 (apabila tersedia pemeriksaan dan
hasil CD4).

ODHA yang akan memulai terapi ARV dengan CD4 di bawah 200 sel/mm3; dianjurkan
Kepaniteraan Klinik Ilmu Penyakit Dalam
Universitas Tarumanagara RSPI Sulianti Saroso
Periode 18 Mei 25 Juli 2015
15

Referat HIV
untuk memberikan kotrimoksasol 2 minggu sebelum ARV. Hal tersebut berguna untuk 1)
mengkaji kepatuhan pasien dalam minum obat dan 2) menyingkirkan efek samping yang
tumpang tindih antara kotrimoksasol dengan obat ARV, mengingat bahwa banyak obat ARV
mempunyai efek samping yang sama dengan efek samping kotrimoksasol.
Saat Memulai Terapi ARV
Untuk memulai terapi antiretroviral perlu dilakukan pemeriksaan jumlah CD4 (bila
tersedia) dan penentuan stadium klinis infeksi HIV-nya. Hal tersebut adalah untuk menentukan
apakah penderita sudah memenuhi syarat terapi antiretroviral atau belum. Berikut ini adalah
rekomendasi cara memulai terapi ARV pada ODHA dewasa.
a. Tidak tersedia pemeriksaan CD4
Dalam hal tidak tersedia pemeriksaan CD4, maka penentuan mulai terapi ARV adalah
didasarkan pada penilaian klinis.
b. Tersedia pemeriksaan CD4
Rekomendasi :
1.Mulai terapi ARV pada semua pasien dengan jumlah CD4 <350 sel/mm3 tanpa memandang
stadium klinisnya.
2.Terapi ARV dianjurkan pada semua pasien dengan TB aktif, ibu hamil dan koinfeksi Hepatitis
B tanpa memandang jumlah CD4

Kepaniteraan Klinik Ilmu Penyakit Dalam


Universitas Tarumanagara RSPI Sulianti Saroso
Periode 18 Mei 25 Juli 2015
16

Referat HIV

Memulai Terapi ARV pada Keadaan Infeksi Oportunistik (IO) yang Aktif
Infeksi oportunistik dan penyakit terkait HIV lainnya yang perlu pengobatan atau
diredakan sebelum terapi ARV dapat dilihat dalam tabel di bawah ini.

Paduan ARV Lini Pertama yang Dianjurkan


Pemerintah menetapkan paduan yang digunakan dalam pengobatan ARV berdasarkan
pada 5 aspek yaitu:
Efektivitas
Efek samping / toksisitas
Interaksi obat
Kepatuhan
Kepaniteraan Klinik Ilmu Penyakit Dalam
Universitas Tarumanagara RSPI Sulianti Saroso
Periode 18 Mei 25 Juli 2015
17

Referat HIV
Harga obat

Prinsip dalam pemberian ARV adalah


1. Paduan obat ARV harus menggunakan 3 jenis obat yang terserap dan berada dalam dosis
terapeutik. Prinsip tersebut untuk menjamin efektivitas penggunaan obat.
2. Membantu pasien agar patuh minum obat antara lain dengan mendekatkan akses pelayanan
ARV .
3. Menjaga kesinambungan ketersediaan obat ARV dengan menerapkan manajemen logistik
yang baik.
Anjuran Pemilihan Obat ARV Lini Pertama
Paduan yang ditetapkan oleh pemerintah untuk lini pertama adalah:
2 NRTI + 1 NNRTI
Penatalaksanaan pemberian obat adalah

Kepaniteraan Klinik Ilmu Penyakit Dalam


Universitas Tarumanagara RSPI Sulianti Saroso
Periode 18 Mei 25 Juli 2015
18

Referat HIV

Paduan Lini Pertama yang direkomendasikan pada orang dewasa yang belum pernah
mendapat

terapi ARV (treatment-nave)

Berbagai pertimbangan dalam penggunaan dan pemilihan Paduan terapi ARV


1. Memulai dan Menghentikan Non-Nucleoside Reverse Transcriptase Inhibitor (NNRTI)
Nevirapine dimulai dengan dosis awal 200 mg setiap 24 jam selama 14 hari pertama dalam
paduan ARV lini pertama bersama AZT atau TDF + 3TC. Bila tidak ditemukan tanda toksisitas
hati, dosis dinaikkan menjadi 200 mg setiap 12 jam pada hari ke-15 dan selanjutnya. Mengawali
terapi dengan dosis rendah tersebut diperlukan karena selama 2 minggu pertama terapi NVP
menginduksi metabolismenya sendiri. Dosis awal tersebut juga mengurangi risiko terjadinya
ruam dan hepatitis oleh karena NVP yang muncul dini. Bila NVP perlu dimulai lagi setelah
pengobatan dihentikan selama lebih dari 14 hari, maka diperlukan kembali pemberian dosis
Kepaniteraan Klinik Ilmu Penyakit Dalam
Universitas Tarumanagara RSPI Sulianti Saroso
Periode 18 Mei 25 Juli 2015
19

Referat HIV
awal yang rendah tersebut.
Cara menghentikan paduan yang mengandung NNRTI

Hentikan NVP atau EFV

Teruskan NRTI (2 obat ARV saja) selama 7 hari setelah penghentian Nevirapine dan Efavirenz,
(ada yang menggunakan 14 hari setelah penghentian Efavirenz) kemudian hentikan semua
obat. Hal tersebut guna mengisi waktu paruh NNRTI yang panjang dan menurunkan risiko
resistensi NNRTI.
Penggunaan NVP dan EFV

NVP dan EFV mempunyai efikasi klinis yang setara

Ada perbedaan dalam profil toksisitas, potensi interaksi dengan obat lain, dan harga

NVP berhubungan dengan insidensi ruam kulit, sindrom Steven-Johnson dan hepatotosksisitas
yang lebih tinggi dibanding EFV.

Dalam keadaan reaksi hepar atau kulit yang berat maka NVP harus dihentikan dan tidak boleh
dimulai lagi

Gunakan NVP atau PI untuk ibu hamil trimester 1 atau triple NRTI jika NVP dan PI tidak dapat
digunakan. Triple NRTI hanya diberikan selama 3 bulan lalu dikembalikan kepada paduan lini
pertama

Perlu kehati-hatian penggunaan NVP pada perempuan dengan CD4 >250 sel/mm3 atau yang
tidak diketahui jumlah CD4-nya dan pada laki-laki dengan jumlah CD4 >400 sel/mm3 atau
yang tidak diketahui jumlah CD4-nya.

Perlu dilakukan lead-in dosing pada pada penggunaan NVP, yaitu diberikan satu kali sehari
selama 14 hari pertama kemudian dilanjutkan dengan 2 kali sehari.

EFV dapat digunakan sekali sehari dan biasanya ditoleransi dengan baik, hanya saja biayanya
lebih mahal dan kurang banyak tersedia dibandingkan NVP

Kepaniteraan Klinik Ilmu Penyakit Dalam


Universitas Tarumanagara RSPI Sulianti Saroso
Periode 18 Mei 25 Juli 2015
20

Referat HIV

Toksisitas utama EFV adalah berhubungan dengan sistem saraf pusat (SSP) dan ada
kemungkinan (meski belum terbukti kuat) bersifat teratogenik bila diberikan pada trimester 1
(tetapi tidak pada triemester dua dan tiga) dan ruam kulit yang biasanya ringan dan hilang
sendiri tanpa harus menghentikan obat. Gejala SSP cukup sering terjadi, dan meskipun biasanya
hilang sendiri dalam 2-4 minggu, gejala tersebut dapat bertahan beberapa bulan dan sering
menyebabkan penghentian obat oleh pasien

EFV perlu dihindari pada pasien dengan riwayat penyakit psikiatrik berat, pada perempuan
yang berpotensi hamil dan pada kehamilan trimester pertama.

EFV merupakan NNRTI pilihan pada keadaan ko-infeksi TB/HIV yang mendapat terapi
berbasis Rifampisin.
Dalam keadaan penggantian sementara dari NVP ke EFV selama terapi TB dengan Rifampisin
dan akan mengembalikan ke NVP setelah selesai terapi TB maka tidak perlu dilakukan lead-in
dosing
2. Pilihan pemberian Triple NRTI
Regimen triple NRTI digunakan hanya jika pasien tidak dapat menggunakan obat ARV berbasis
NNRTI, seperti dalam keadaan berikut:
Ko-infeksi TB/HIV, terkait dengan interaksi terhadap Rifampisin
Ibu Hamil, terkait dengan kehamilan dan ko-infeksi TB/HIV
Hepatitis, terkait dengan efek hepatotoksik karena NVP/EFV/PI
Anjuran paduan triple NRTI yang dapat dipertimbangkan adalah
AZT+3TC +TDF
Penggunaan Triple NRTI dibatasi hanya untuk 3 bulan lamanya, setelah itu pasien
perlu di kembalikan pada penggunaan lini pertama karena supresi virologisnya kurang kuat.
3. Penggunaan AZT dan TDF

Kepaniteraan Klinik Ilmu Penyakit Dalam


Universitas Tarumanagara RSPI Sulianti Saroso
Periode 18 Mei 25 Juli 2015
21

Referat HIV

AZT dapat menyebabkan anemi dan intoleransi gastrointestinal

Indeks Massa Tubuh (IMT / BMI = Body Mass Index) dan jumlah CD4 yang rendah merupakan
faktor prediksi terjadinya anemi oleh penggunaan AZT

Perlu diketahui faktor lain yang berhubungan dengan anemi, yaitu antara lain malaria,
kehamilan, malnutrisi dan stadium HIV yang lanjut

TDF dapat menyebabkan toksisitas ginjal. Insidensi nefrotoksisitas dilaporkan antara 1%


sampai 4% dan angka Sindroma Fanconi sebesar 0.5% sampai 2%

TDF tidak boleh digunakan pada anak dan dewasa muda dan sedikit data tentang keamanannya
pada kehamilan

TDF juga tersedia dalam sediaan FDC (TDF+FTC) dengan pemberian satu kali sehari yang
lebih mudah diterima ODHA
4. Perihal Penggunaan d4T
Stavudin (d4T) merupakan ARV dari golongan NRTI yang poten dan telah digunakan
terutama oleh negara yang sedang berkembang dalam kurun waktu yang cukup lama.
Keuntungan dari d4T adalah tidak membutuhkan data laboratorium awal untuk memulai serta
harganya yang relatif sangat terjangkau dibandingkan dengan NRTI yang lain seperti Zidovudin
(terapi ARV), Tenofovir (TDF) maupun Abacavir (ABC). Namun dari hasil studi didapat data
bahwa penggunaan d4T, mempunyai efek samping permanen yang bermakna, antara lain
lipodistrofi dan neuropati perifer yang menyebabkan cacat serta laktat asidosis yang
menyebabkan kematian.
Efek samping karena penggunaan d4T sangat berkorelasi dengan lama penggunaan d4T
(semakin lama d4T digunakan semakin besar kemungkinan timbulnya efek samping). WHO
dalam pedoman tahun 2006 merekomendasikan untuk mengevaluasi penggunaan d4T setelah 2
tahun dan dalam pedoman pengobatan ARV untuk dewasa tahun 2010 merekomendasikan untuk
secara bertahap mengganti penggunaan d4T dengan Tenofovir (TDF).

Kepaniteraan Klinik Ilmu Penyakit Dalam


Universitas Tarumanagara RSPI Sulianti Saroso
Periode 18 Mei 25 Juli 2015
22

Referat HIV
Berdasarkan kesepakatan dengan panel ahli, maka pemerintah memutuskan sebagai
berikut:
Menggunakan AZT atau TDF pada pasien yang baru memulai terapi dan belum pernah
mendapat terapi ARV sebelumnya
Pada pasien yang sejak awal menggunakan d4T dan tidak dijumpai efek samping dan/atau
toksisitas maka direkomendasikan untuk diganti setelah 6 bulan
Jika terjadi efek samping akibat penggunaan AZT (anemia), maka sebagai obat substitusi
gunakan TDF.
Pada saat sekarang penggunaan Stavudin (d4T) dianjurkan untuk dikurangi karena banyaknya
efek samping. Secara nasional dilakukan penarikan secara bertahap (phasing out) dan
mendatang tidak menyediakan lagi d4T setelah stok nasional

5. Penggunaan Protease Inhibitor (PI)


Obat ARV golongan Protease Inhibitor (PI) TIDAK dianjurkan untuk terapi Lini
Pertama, hanya digunakan sebagai Lini Kedua. Penggunaan pada Lini Pertama hanya bila
pasien benar-benar mengalami Intoleransi terhadap golongan NNRTI (Efavirenz atau
Nevirapine). Hal ini dimaksudkan untuk tidak menghilangkan kesempatan pilihan untuk Lini
Kedua. mengingat sumber daya yang masih terbatas
6. Paduan Obat ARV yang Tidak Dianjurkan

Kepaniteraan Klinik Ilmu Penyakit Dalam


Universitas Tarumanagara RSPI Sulianti Saroso
Periode 18 Mei 25 Juli 2015
23

Referat HIV

Sindrom Pulih Imun (SPI - immune reconstitution syndrome = IRIS)


Sindrom Pulih Imun (SPI) atau Immune Reconstitution Inflammatory Syndrome (IRIS)
adalah perburukan kondisi klinis sebagai akibat respons inflamasi berlebihan pada saat
pemulihan respons imun setelah pemberian terapi antiretroviral. Sindrom pulih imun
mempunyai manifestasi dalam bentuk penyakit infeksi maupun non infeksi. Manifestasi
tersering pada umumnya adalah berupa inflamasi dari penyakit infeksi. Sindrom pulih imun
infeksi ini didefinisikan sebagai timbulnya manifestasi klinis atau perburukan infeksi yang ada
sebagai akibat perbaikan respons imun spesifik patogen pada ODHA yang berespons baik
terhadap ARV.
Mekanisme SPI belum diketahui dengan jelas, diperkirakan hal ini merupakan respon
imun berlebihan dari pulihnya sistem imun terhadap rangsangan antigen tertentu setelah
pemberian ARV.
Insidens sindrom pulih imun secara keseluruhan berdasarkan meta analisis adalah
16.1%. Namun, insidens ini juga berbeda pada tiap tempat, tergantung pada rendahnya derajat
sistem imun dan prevalensi infeksi oportunistik dan koinfeksi dengan patogen lain.
Pada saat ini dikenal dua jenis SPI yang sering tumpang tindih, yaitu sindrom pulih imun
Kepaniteraan Klinik Ilmu Penyakit Dalam
Universitas Tarumanagara RSPI Sulianti Saroso
Periode 18 Mei 25 Juli 2015
24

Referat HIV
unmasking (unmasking IRD) dan sindrom pulih imun paradoksikal. Jenis unmasking terjadi
pada pasien yang tidak terdiagnosis dan tidak mendapat terapi untuk infeksi oportunistiknya dan
langsung mendapatkan terapi ARV-nya. Pada jenis paradoksikal, pasien telah mendapatkan
pengobatan untuk infeksi oportunistiknya. Setelah mendapatkan ARV, terjadi perburukan klinis
dari penyakit infeksinya tersebut.
Manifestasi klinis yang muncul sangat bervariasi dan tergantung dari bahan infeksi atau
non-infeksi yang terlibat, sehingga diagnosis menjadi tidak mudah. Pada waktu menegakkan
diagnosis SPI perlu dicantumkan penyakit infeksi atau non infeksi yang menjadi penyebabnya (
misal IRIS TB, IRIS Toxoplasmosis).
International Network Study of HIV-associated IRIS (INSHI) membuat konsensus untuk
kriteria diagnosis sindrom pulih imun sebagai berikut.
1. Menunjukkan respons terhadap terapi ARV dengan:
a. mendapat terapi ARV
b. penurunan viral load > 1 log kopi/ml (jika tersedia)
2. Perburukan gejala klinis infeksi atau timbul reaksi inflamasi yang terkait dengan inisiasi
terapi ARV
3. Gejala klinis tersebut bukan disebabkan oleh:
a. Gejala klinis dari infeksi yang diketahui sebelumnya yang telah berhasil disembuhkan
(Expected clinical course of a previously recognized and successfully treated infection)
b. Efek samping obat atau toksisitas
c. Kegagalan terapi
d. Ketidakpatuhan menggunakan ARV
Beberapa faktor risiko terjadinya SPI adalah jumlah CD4 yang rendah saat memulai
terapi ARV, jumlah virus RNA HIV yang tinggi saat memulai terapi ARV, banyak dan beratnya
infeksi oportunistik, penurunan jumlah virus RNA HIV yang cepat selama terapi ARV, belum
pernah mendapat ARV saat diagnosis infeksi oportunistik, dan pendeknya jarak waktu antara
memulai terapi infeksi oportunistik dan memulai terapi ARV.
Kepaniteraan Klinik Ilmu Penyakit Dalam
Universitas Tarumanagara RSPI Sulianti Saroso
Periode 18 Mei 25 Juli 2015
25

Referat HIV
Tatalaksana SPI meliputi pengobatan patogen penyebab untuk menurunkan jumlah antigen dan
meneruskan terapi ARV. Terapi antiinflamasi seperti obat antiiflamasi non steroid dan steroid
dapat diberikan. Dosis dan lamanya pemberian kortikosteroid belum pasti, berkisar antara 0,5- 1
mg/kg/hari prednisolon.
Penyakit infeksi dan non infeksi penyebab SPI pada ODHA

Pemantauan Pasien dalam Terapi Antiretroviral


1. Pemantauan klinis
Frekuensi Pemantauan klinis tergantung dari respon terapi ARV. Sebagai batasan
minimal, Pemantauan klinis perlu dilakukan pada minggu 2, 4, 8, 12 dan 24 minggu sejak
memulai terapi ARV dan kemudian setiap 6 bulan bila pasien telah mencapai keadaan stabil.
Pada setiap kunjungan perlu dilakukan penilaian klinis termasuk tanda dan gejala efek samping
obat atau gagal terapi dan frekuensi infeksi (infeksi bakterial, kandidiasis dan atau infeksi
oportunirtik lainnya) ditambah konseling untuk membantu pasien memahami terapi ARV dan
dukungan kepatuhan.
2. Pemantauan laboratoris
Kepaniteraan Klinik Ilmu Penyakit Dalam
Universitas Tarumanagara RSPI Sulianti Saroso
Periode 18 Mei 25 Juli 2015
26

Referat HIV

Direkomendasikan untuk melakukan pemantauan CD4 secara rutin setiap 6 bulan, atau lebih
sering bila ada indikasi klinis. Angka limfosit total (TLC = total lymphocyte count) tidak
direkomendasikan untuk digunakan memantau terapi karena perubahan nilai TLC tidak dapat
digunakan untuk memprediksi keberhasilan terapi

Untuk pasien yang akan memulai terapi dengan AZT maka perlu dilakukan pengukuran kadar
Hemoglobin (Hb) sebelum memulai terapi dan pada minggu ke 4, 8 dan 12 sejak mulai terapi
atau ada indikasi tanda dan gejala anemia

Pengukuran ALT (SGPT) dan kimia darah lainnya perlu dilakukan bila ada tanda dan gejala dan
bukan berdasarkan sesuatu yang rutin. Akan tetapi bila menggunakan NVP untuk perempuan
dengan CD4 antara 250 350 sel/mm3 maka perlu dilakuan pemantauan enzim transaminase
pada minggu 2, 4, 8 dan 12 sejak memulai terapi ARV (bila memungkinkan), dilanjutkan
dengan pemantauan berdasar gejala klinis

Evaluasi fungsi ginjal perlu dilakukan untuk pasien yang mendapatkan TDF

Keadaan hiperlaktatemia dan asidosis laktat dapat terjadi pada beberapa pasien yang
mendapatkan NRTI, terutama d4T atau ddI. Tidak direkomendasi untuk pemeriksaan kadar
asam laktat secara rutin, kecuali bila pasien menunjukkan tanda dan gejala yang mengarah pada
asidosis laktat

Penggunaan Protease Inhibitor (PI) dapat mempengaruhi metabolisme glukosa dan lipid.
Beberapa ahli menganjurkan pemeriksaan gula darah dan profil lipid secara reguler tetapi lebih
diutamakan untuk dilakukan atas dasar tanda dan gejala

Pengukuran Viral Load (VL) sampai sekarang tidak dianjurkan untuk memantau pasien dalam
terapi ARV dalam keadaan terbatas fasilitas dan kemampuan pasien. Pemeriksaan VL
digunakan untuk membantu diagnosis gagal terapi. Hasil VL dapat memprediksi gagal terapi
lebih awal dibandingkan dengan hanya menggunakan pemantauan klinis dan pemeriksaan
jumlah CD4

Jika pengukuran VL dapat dilakukan maka terapi ARV diharapkan menurunkan VL menjadi

Kepaniteraan Klinik Ilmu Penyakit Dalam


Universitas Tarumanagara RSPI Sulianti Saroso
Periode 18 Mei 25 Juli 2015
27

Referat HIV
tidak terdeteksi (undetectable) setelah bulan ke 6.
3. Pemantauan pemulihan jumlah sel CD4
Pemberian terapi ARV akan meningkatkan jumlah CD4. Hal ini akan berlanjut bertahuntahun dengan terapi yang efektif. Keadaan tersebut, kadang tidak terjadi, terutama pada pasien
dengan jumlah CD4 yang sangat rendah pada saat mulai terapi. Meskipun demikian, pasien
dengan jumlah CD4 yang sangat rendah tetap dapat mencapai pemulihan imun yang baik tetapi
memerlukan waktu yang lebih lama.
Pada pasien yang tidak pernah mencapai jumlah CD4 yang lebih dari 100 sel/mm3 dan
atau pasien yang pernah mencapai jumlah CD4 yang tinggi tetapi kemudian turun secara
progresif tanpa ada penyakit/kondisi medis lain, maka perlu dicurigai adanya keadaan gagal
terapi secara imunologis.
Data jumlah CD4 saat mulai terapi ARV dan perkembangan CD4 yang dievaluasi tiap 6
bulan sangat diperlukan untuk menentukan adanya gagal terapi secara imunologis. Pada
sebagian kecil pasien dengan stadium lanjut dan jumlah CD4 yang rendah pada saat mulai
terapi ARV, kadang jumlah CD4 tidak meningkat atau sedikit turun meski terjadi perbaikan klinis.
4. Kematian dalam Terapi Antriretroviral
Sejak dimulainya terapi ARV, angka kematian yang berhubungan dengan HIV semakin
turun. Secara umum, penyebab kematian pasien dengan infeksi HIV disebabkan karena
penanganan infeksi oportunistik yang tidak adekuat, efek samping ARV berat (Steven Johnson
Syndrome), dan keadaan gagal fungsi hati stadium akhir (ESLD - End Stage Liver Disease)
pada kasus ko-infeksi HIV/HVB.
Paradigma baru yang menjadi tujuan global dari UNAIDS adalah Zero AIDS-related
death. Hal ini dapat tercapai bila pasien datang di layanan HIV dan mendapat terapi ARV
secepatnya

Kepaniteraan Klinik Ilmu Penyakit Dalam


Universitas Tarumanagara RSPI Sulianti Saroso
Periode 18 Mei 25 Juli 2015
28

Referat HIV
Pemantauan klinis dan laboratoris yang dianjurkan selama pemberian paduan ARV Lini Pertama

Kepaniteraan Klinik Ilmu Penyakit Dalam


Universitas Tarumanagara RSPI Sulianti Saroso
Periode 18 Mei 25 Juli 2015
29

Referat HIV
Efek Samping

Kepaniteraan Klinik Ilmu Penyakit Dalam


Universitas Tarumanagara RSPI Sulianti Saroso
Periode 18 Mei 25 Juli 2015
30

Referat HIV

SUBTITUSI OBAT ARV

Kepaniteraan Klinik Ilmu Penyakit Dalam


Universitas Tarumanagara RSPI Sulianti Saroso
Periode 18 Mei 25 Juli 2015
31

Referat HIV

I.

PENCEGAHAN & PENANGGULANGAN HIV/AIDS


Program penanggulangan AIDS di Indonesia mempunyai 4 pilar, yang semuanya
menuju pada paradigma Zero new infection, Zero AIDS-related death dan Zero
Discrimination.
Empat pilar tersebut adalah:
1. Pencegahan (prevention); yang meliputi pencegahan penularan HIV melalui transmisi seksual
dan alat suntik, pencegahan di lembaga pemasyarakatan dan rumah tahanan, pencegahan HIV
dari ibu ke bayi (Prevention Mother to Child Transmission, PMTCT), pencegahan di kalangan
pelanggan penjaja seks, dan lain-lain.
2. Perawatan, dukungan dan pengobatan (PDP); yang meliputi penguatan dan pengembangan
layanan kesehatan, pencegahan dan pengobatan infeksi oportunistik, pengobatan antiretroviral
dan dukungan serta pendidikan dan pelatihan bagi ODHA. Program PDP terutama ditujukan
untuk menurunkan angka kesakitan dan rawat inap, angka kematian yang berhubungan dengan
AIDS, dan meningkatkan kualitas hidup orang terinfeksi HIV (berbagai stadium). Pencapaian
tujuan tersebut dapat dilakukan antara lain dengan pemberian terapi antiretroviral (ARV).
3. Mitigasi dampak berupa dukungan psikososio-ekonomi.
4. Penciptaan lingkungan yang kondusif (creating enabling environment) yang meliputi
program peningkatan lingkungan yang kondusif adalah dengan penguatan kelembagaan dan
manajemen, manajemen program serta penyelarasan kebijakan dan lain-lain.
Dalam upaya menurunkan risiko terinfeksi HIV, berbagai organisasi kesehatan
dunia termasuk Indonesia menganjurkan pencegahan melalui pendekatan ABCD,
yaitu:
1. A atau Abstinence, yaitu menunda kegiatan seksual, tidak melakukan
kegiatan seksual sebelum menikah.
2. B atau Be faithful, yaitu saling setia pada pasangannya setelah menikah.

Kepaniteraan Klinik Ilmu Penyakit Dalam


Universitas Tarumanagara RSPI Sulianti Saroso
Periode 18 Mei 25 Juli 2015
32

Referat HIV
3. C atau Condom, yaitu menggunakan kondom bagi orang yang melakukan
perilaku seks berisiko.
4. D atau Drugs, yaitu tidak menggunakan napza terutama napza suntik agar
tidak menggunakan jarum suntik bergantian dan secara bersama-sama.
Upaya pencegahan juga dilakukan dengan cara memberikan KIE(Komunikaasi,
Informasi, dan Edukasi) mengenai HIV/AIDS kepada masyarakat agar tidak melakukan
perilaku berisiko, khususnya pada remaja.Ada lima tingkat pencegahan (Five level prevention)
menurut Level & Clark,yaitu:
1. Promosi kesehatan (health promotion)
2. Perlindungan khusus (spesific protection)
3. Diagnosis dini dan pengobatan segera (early diagnosis and prompt treatment)
4. Pembatasan cacat (disabaliyi limitation)
5. Rehabilitasi (rehabilitation)
Dalam proses pencegahan terhadap semakin meluasnya epidemi HIV/AIDS,
semua elemen dari masyarakat bertanggung jawab terhadap proses pencegahan.Yang
bertanggung jawab terhadap pencegahan persebaran HIV/AIDS adalah:
1. Individu
Seseorang harus mengadopsi gaya hidup dan perilaku yang sehat dan mengurangi risiko
penularan HIV. Orang terinfeksi HIV harus menjadi orang yang bertanggungjawab untuk
menjamin bahwa mereka untuk seterusnya tidak akan menyebarkan virus ke orang lain.
2. Keluarga
Keluarga harus mengadopsi nilai-nilai peningkatan kesehatan. Keluarga harus memberikan
pemahaman dan rasa simpati serta perlindungan untuk menolong anggota keluarga yang divonis
orang terinfeksi HIV dalam menghadapi situasi yang tidak normal dan memaksimalkan potensi
kesehatan untuk mempertahankan diri dari infeksi yang lain.
3. Masyarakat
Masyarakat harus menghindari sikap diskriminasi terhadap orang terinfeksi HIV dan

Kepaniteraan Klinik Ilmu Penyakit Dalam


Universitas Tarumanagara RSPI Sulianti Saroso
Periode 18 Mei 25 Juli 2015
33

Referat HIV
meningkatkan suasana lingkungan yang mendukung dengan norma sosial yang bersifat
melindungi. Masyarakat juga harus berusaha keras meminimalkan kemiskinan yang cenderung
memperburuk situasi.
4. Petugas kesehatan
Petugas kesehatan memiliki tanggung jawab ganda terhadap penyediaan perawatan dan
konseling terhadap orang terinfeksi HIV. Mereka harus menyediakan tindakan pencegahan yang
sesuai untuk mencegah penyebaran infeksi ke klien yang lain dan diri mereka sendiri.
5. Media
Media masa memiliki peran yang dengan mudah dapat dijangkau oleh banyak pembaca
dan murah dalam menyampaikan informasi tentang HIV/AIDS. Bersama dengan media dalam
bentuk lain, media masa bisa efektif menimbulkan kepedulian masyarakat tentang HIV/AIDS.
Bagaimanapun,media masa harus bertanggungjawab dalam melaporkan informasi tentang
HIV/AIDS, menghindari ketidakakuratan yang mana mungkin menghasilkan perbedaan
persepsi dan membutuhkan klarifikasi.
6. Ahli Kesehatan dan LSM
Para ahli kesehatan dan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) dapat membantu
menyebarkan informasi yang benar tentang HIV/AIDS dengan melakukan proses pembelajaran
di masyarakat. Dengan melibatkan masyarakat umum, LSM dapat menjadi penghubung antara
ahli kesehatan dan masyarakat.
Pencegahan HIV diantara penjaja seks dan pelanggan PS:
Banyak proyek yang menemukan bahwa aktivitas pencegahan HIV diantara penjaja
seks, pelanggan PS, dan pasangannya adalah paling efektif ketika paket intervensi mencakup
paling sedikit tiga elemen:
1. Pesan informasi dan perubahan perilaku.
2. Promosi kondom dan membangun keterampilan.
3. Pelayanan IMS.
Pencegahan HIV pada remaja:

Kepaniteraan Klinik Ilmu Penyakit Dalam


Universitas Tarumanagara RSPI Sulianti Saroso
Periode 18 Mei 25 Juli 2015
34

Referat HIV
1. Merubah perilaku dan sikap adalah lebih mudah jika dimulai sebelum pola dibentuk.
2. Sumber kekuatan pencegahan berada didalam dirinya sendiri.
3. Sering dan mudah dijumpai dalam jumlah besar.
Pencegahan HIV dan Pengguna napza suntik:
1. Program penjangkauan masyarakat berbasis komunitas sebaya.
2. Meningkatkan akses untuk alat suntik yang steril dan kondom.
3. Meningkatkan akses untuk perawatan ketergantungan obat, khususnya metadon

Kepaniteraan Klinik Ilmu Penyakit Dalam


Universitas Tarumanagara RSPI Sulianti Saroso
Periode 18 Mei 25 Juli 2015
35

Referat HIV
BAB III
KESIMPULAN

HIV adalah penyakit yang tidak dapat disembuhkan namun dapat dikontrol, HIV
bukan berarti hukuman mati bagi penderitanya. Namun dengan penatalaksanaan yang tepat
maka dapat memperpanjang hidup penderitanya.
Perjalanan penyakit pada HIV berdasarkan perjalanan penyakit dimana tergantung
dengan kondisi imun tubuh dan kondisi fisik pada pasien. Pada pasien dengan kondisi imun
yang rendah maka dapat mempercepat progresifitas penyakit sedangkan dengan imun yang baik
progresifitas penyakit akan berjalan dengan lambat.
Pada

pasien

HIV

yang

bisa

menyebabkan

mortalitas

adalah

penyakit

oportunistiknya,disebabkan kurangya imun pada pasien untuk melawan penyakit penyertanya,


dan berkembang dengan sangat cepat pasa pasien dengan pemakaian narkotika. Karena dapat
menyebabkan perburukan pada katup jantung,penumonia serta tuberkulosis.
Penatalaksanaan pada pasien HIV biasa diberikan dengan obat ARV untuk memperbaiki
sistem imunnya dan mencegah infeksi oportunistik pada pasien,serta diberikan profilaksis pada
pasien sebagai upaya pencegahan HIV dan pada orang dengan resiko kontak HIV tinggi.
Pemberian obat pada pasien HIV diberikan secara segera serta diperlukan akan adannya monitor
secara berkala, untuk mencegah adanya inflamasi dari respon perbaikan imun, karena dapat
menyebabkan perburukan yang bertambah pada pasien HIV.
Upaya pencegahan dan penanggulangan sudah diusahakan oleh pemerintah dengan kerja
sama dengan masyarakat untuk mengurangi penyebaran dan perburukan dari HIV itu sendiri.

Kepaniteraan Klinik Ilmu Penyakit Dalam


Universitas Tarumanagara RSPI Sulianti Saroso
Periode 18 Mei 25 Juli 2015
36