Anda di halaman 1dari 23

KONSEP DASAR KESEHATAN JIWA DAN

KEPERAWATAN JIWA

a.
b.
c.
d.
e.
f.
g.
h.
i.

1. Deskripsi
Kesehatan jiwa merupakan salah satu indikator untuk mengukur derajad kesehatan
masyarakat.Indikator kesehatan jiwa dimasa yang akan datang bukan lagi masalah klinis seperti
prevalensi gangguan jiwa,melainkan berorientasi pada konteks kehidupan sosial.Oleh karena itu
upaya menjamin kesehatan jiwa merupakan tanggung jawab pemerintah,masyarakat dan
melibatkan berbagai profesi termasuk keperawatan.Menurut Danardi dari bagian psikiatri
FKUI,fokus kesehatan jiwa adalah kondisi optimal yang ideal dalam perilaku dan kemampuan
fungsi sosial (Yosep,2007)
Dalam bab ini akan dibahas konsep dasar kesehatan jiwa dan keperawatan kesehatan jiwa
yang mencakup pengertian kesehatan jiwa, masalah pikososial dan gagguan jiwa serta ciricirinya,pengertian,maksud dsn tujuan,falsafah,peran dan fungsi perawat dalam keperawatan
kesehatan jiwa,perkembangan keperawatan kesehatan jiwa,model konseptual keperawatan
kesehatan jiwa dan model stres adaptasi menurut pandangan para ahli Keperawatan kesehatan
jiwa.
2.Relevansi
Pada pembahasan ini peserta didik akan mempelajari konsep dasar kesehatan dan
keperawatan jiwa yang menjadi dasar pengetahuan untuk membahas topik berikutnya pada mata
kuliah keperawatan kesehatan jiwa I.Pembahasan ini ada hubungannya dengan mata kuliah yang
sudah dipelajari sebelumnya yaitu psikologi dan konsep dasar keperawatan.Topik ini sangat
berguna bagi peserta didik untuk memberikan pengetahuan tentang karakteristik jiwa seseorang
sehat atau terganggu,pengertian,sejarah perkembangan,falsafah,peran dan fungsi perawat,prinsip
serta model konseptual dan teori keperawatan kesehatan jiwa.Konsep ini memberikan arah bagi
perawat untuk melaksanakan pelayanan kesehatan kepada masyarakat terutama dalam praktek
keperawatan kesehatan jiwa dalam upaya meningkatkan,mencegah,mengobati atau memulihkan
kesehatan jiwa seseorang sampai pada tahap optimal.Untuk memudahkan proses pembelajaran
ini peserta didik disarankan membaca rujukan yang berkaitan dengan pokok bahasan yang
dimaksud.
3. Tujuan instruksional khusus
Setelah mengikuti proses pembelajaran diharapkan peserta didik mampu :
Menjelaskan pengertian kesehatan jiwa dan ciri-cirinya.
Menjelaskan pengertian masalah psikososial dan cirinya.
Menjelaskan pengertian gangguan jiwa dan cirinya.
Menjelaskan pengertian Keperawatan Kesehatan jiwa
Menjelaskan falsafah keperawatan kesehatan jiwa.
Menjelaskan maksud dan tujuan keperawatan kesehatan jiwa
Menjelaskan peran dan fungsi keperawatan kesehatan jiwa.
Menjelaskan beberapa prinsip keperawatan kesehatan jiwa.
Menguraikan sejarah perkembangan keperawatan kesehatan jiwa

j.

a.
b.
c.
d.
e.
f.
g.

Mengidentifikasi model konseptual keperawatan kesehatan jiwa.


B. Konsep dasar kesehatan jiwa dan keperawatan kesehatan jiwa.
1. Kesehatan Jiwa.
Kesehatan jiwa seringkali sulit didefinisikan.Orang dianggap sehat jika mereka mampu
melaksanakan peran dimasyarakat dan perilaku mereka pantas serta adaptif.Kebudayaan
masyarakat sangat mempengaruhi nilai dan keyakinannya terhadap definisi sehat.Untuk
memperjelas definisi tentang kesehatan jiwa itu sendiri,dikutip beberapa pandangan yang
menerangkan tentang kesehatan jiwa.
Menurut UU Kesehatan jiwa No.3 tahun 1996,kesehatan jiwa adalah kondisi yang
memungkinkan perkembangan fisik,intelektual,emosional secara optimal dari seseorang dan
perkembangan ini berjalan selaras dengan orang lain.Videbeck (2008) menjelaskan kesehatan
jiwa adalah suatu kondisi sehat emosional,psikologis dan sosial yang terlihat dari hubungan
interpersonal yang memuaskan,perilaku dan koping yang efektif,konsep diri yang positif dan
kestabilan emosional.Kesehatan jiwa adalah suatu kondisi mental sejahtra yang memungkinkan
hidup harmonis dan produktif sebagai bagian yang utuh dari kualitas hidup seseorang,dengan
memperhatikan semua segi kehidupan manusia dengan ciri menyadari sepenuhnya kemampuan
dirinya,mampu menghadapi stres kehidupan dengan wajar,mampu bekerja dengan produktif dan
memenuhi kebutuhan hidupnya,dapat berperan serta dalam lingkungan hidup,menerima dengan
baik apa yang ada pada dirinya dan merasa nyaman bersama dengan orang lain(Keliat,dkk,2005)
Yahoda menerangkan 6 ciri sehat jiwa adalah 1)Bersikap positif terhadap diri
sendiri,2)mampu tumbuh dan berkembang serta mencapai aktualisasi diri,3)mampu mengatasi
stres atau perubahan pada dirinya,4)bertanggung jawab terhadap keputusan dan tindakan yang
diambil,5)mempunyai persepsi yang realistik dan menghargai perasaan serta sikap orang
lain,6)Mampu menyesuaikan diri dengan lingkungan(Keliat,dkk,2005).
Kesehatan jiwa memiliki banyak komponen atau ciri dan dipengaruhi berbagai
faktor.Menurut Johnson (1997) ada 7 ciri kesehatan jiwa adalah 1)Otonomi dan
kemandirian,2)Memaksimalkan potensi diri,3)Mentoleransi ketidakpastian hidup,4)mampu
mengelola stres kehidupan,5)menguasai lingkungan,6)Orientasi realitas,dan 7)harga diri
realitas(Videbeck,2008).
2.Masalah Psikososial.
Lingkup masalah kesehatan jiwa sangat luas dan kompleks serta saling berhubungan
dengan segala aspek kehidupan manusia.Mengacu pada Undang-Undang No.23 tahun 1992
tentang kesehatan dan Ilmu kedokteran jiwa bahwa masalah psikososial tergolong dalam masalah
kesehatan jiwa.
Masalah psikososial adalah setiap perubahan dalam kehidupan individu baik yang bersifat
psikologis atau sosial yang memberikan pengaruh timbal balik dan dianggap berpotensi cukup
besar sebagai faktor penyebab terjadinya gangguan jiwa atau gangguan kesehatan secara nyata
atau sebaliknya masalah kesehatan jiwa yang berdampak pada lingkungan sosial.Berdasarkan
definisi diatas terdapat ciri-ciri masalah psikososial,sebagai berikut :
Cemas,kawatir berlebihan,takut.
Mudah tersinggung.
Sulit berkonsentrasi.
Bersikap ragu-ragu dan merasa rendah diri.
Merasa kecewa.
Pemarah dan agresif
Reaksi fisik seperti jantung berdebar dan otot tegang.

h. Sakit kepala (Keliat,dkk,2005


Menurut Yosep (2007) masalah psikososial timbul sebagai akibat terjadinya perubahan
sosial seperti :
a. Psikotik gelandangan yang berkeliaran ditempat umum dan mengganggu ketertiban
b. Pemasungan pasien gangguan jiwa.
c. Masalah anak jalanan.
d. Masalah anak remaja (tawuran dan kenakalan).
e. Penyalahgunaan narkotika dan psikotropika.
f. Masalah seksual seperti penyimpangan,pelecehan.
g. Tindak kekerasan sosial seperti kemiskinan,penelantaran,korban kekerasan pada anak).
h.
Stres pasca trauma seperti kecemasan,gangguan emosional,berulangkali mengalami
trauma,bencana alam,kekerasan dan penganiayaan fisik,pemerkosaan dan terorisme.
i. Masalah pengungsi seperti cemas,depresi,stres pasca trauma.
j. Masalah lanjut usia yang terisoler : penelantaran,kekerasan fisik,gangguan psikologis dan
penyesuaian diri,perubahan minat,gangguan tidur,kecemasan, depresi dan pikun.
k. Masalah tenaga kerja :penurunan produktivitas,stres dan pemutusan hubungan kerja.
3.Gangguan Jiwa.
Dimasa lalu gangguan jiwa dipandang sebagai kerasukan setan atau hukuman karena
pelanggran sosial,agama atau norma sosial.Oleh sebab itu penderita dianiaya,dihukum,dijauhi
atau diejek masyarakat.Saat ini pandangan tentang gangguan jiwa berubah.American Psychiatric
Association (1994) mendefinisikan gangguan jiwa sebagai sindrom atau pola psikologis atau
pola prilaku yang penting secara klinis, yang terjadi pada individu dan sindrom itu dihubungkan
dengan adanya distress (mis,gejala nyeri,menyakitkan) atau disabilitas ( ketidakmampuan pada
salah sat bagian atau beberapa fungsi penting) atau disertai peningkatan resiko secara bermagna
untuk mati,sakit,ketidakmampuan,atau kehilangan kebebasan(Notosoedirdjo,Latipun,2007)
Videbeck (2008) menjelaskan kriteria umum untuk mendiagnosa gangguan jiwa meliputi :
1)Ketidakpuasan dengan karakteristik,kemampuan,dan prestasi diri,2)Hubungan yang tidak
efektif atau tidak memuaskan,3)Tidak puas hidup di dunia,4)Koping yang tidak efektif terhadap
peristiwa kehidupan dan 5)Tidak terjadi pertumbuhan personal.
Ada juga beberapa ciri gangguan jiwa yang dapat diidentifikasi pada seseorang menurut
Keliat,dkk (2005) adalah :1)Marah tanpa sebab,2)Mengurung diri,3)Tidak kenal orang
lain,4)Bicara kacau,5)Bicara sendiri dan 6)Tidak mampu merawat diri.
4.Pengertian Keperawatan Kesehatan Jiwa.
Banyak definisi yang dikemukakan para ahli keperawatan untuk menjelaskan tentang
keperawatan kesehatan jiwa.Center for Mental Health Services (CMHS) secara resmi mengakui
Keperawatan kesehatan jiwa adalah salah satu dari lima inti disiplin kesehatan jiwa.Perawat jiwa
menggunakan pengetahuan dari ilmu psikososial,biofisik,teori kepribadian dan perilaku manusia
untuk
mendapatkan
kerangka
berpikir
teoretis
yang
mendasari
praktek
keperawatan(Suart,2007).American Nurses Association (ANA) sependapat dengan CMHS,yang
menjelaskan bahwa keperawatan kesehatan jiwa merupakan area khusus dalam praktek
keperawatan yang menggunakan ilmu perilaku manusia sebagai dasar dan menggunakan diri
sendiri(ekspresi,gerak tubuh,bahasa,tatapan mata,sentuhan,nada suara) secara terapeutik sebagai
kiatnya dalam meningkatkan,mempertahankan,memulihkan kesehatan mental klien dan
masyarakat dimanapun berada.Caroline (1999) memperjelas bahwa keahlian keperawatan
kesehatan jiwa adalah merawat seseorang dengan penyimpangan mental dimana perawat harus
memiliki pengetahuan dan keterampilan (peka,mau mendengar,tidak menyalahkan dan

a.
b.
c.
d.
e.
f.
g.

memberikan dorongan) untuk menemukan kebutuhan dasar klien yang terganggu seperti
kebutuhan fisik,aman dan nyaman,kebutuhan mencintai dan dicintai,harga diri dan aktualisasi
diri.Pasien atau klien yang dirawat berupa individu,keluarga,kelompok,organisasi dan
masyarakat(Sadock) dalam seluruh rentang kehidupan mulai sejak konsepsi sampai lanjut
usia(Otong,1995)
Berdasarkan beberapa definisi diatas dapat disimpulkan keperawatan kesehatan jiwa
adalah :
Merupakan salah satu bidang spesialisasi ilmu keperawatan jiwa dalam praktek keperawatan
Memiliki dasar keilmuan yang khas sebagai batang tubuh ilmunya yaitu ilmu
perilaku,psikososial,biofisik,teori kepribadian,komunikasi,pendidikan dll
Memiliki kiat khusus merawat klien yaitu menggunakan diri perawat yaitu gerak
tubuh,bahasa,ekspresi,sentuhan,tatapan mata dan nada suara.
Perawat harus menguasai berbagai ilmu pengetahuan dan keterampilan(peka,mau
mendengar,empati,tidak menyalahkan,memotivasi dll.
Klien yang dirawat berupa individu,keluarga,kelompok,organisasi dan masyarakat dengan
penyimpangan mental mulai masa konsepsi sampai lanjut usia dimanapun berada.
Tugas atau peran perawat adalah menemukan kebutuhan klien yang terganggu berupa kebutuhan
biopsikososiospiritual.
Bertujuan untuk meningkatkan,mempertahankan dan memulihkan kesehatan mental klien
Setiap perawat yang berminat dan melaksanakan praktek keperawatan kesehatan jiwa
disarankan menguasai berbagai ilmu pengetahuan dan keterampilan serta kiat khusus agar dapat
melaksanakan peran dan fungsi sebagai perawat yang bertanggung jawab untuk mencapai tujuan
keperawatan yang ditetapkan pada setiap klien yang dirawat.
4.Falsafah Keperawatan Kesehatan jiwa.
Menurut Dep.Kes (2000) Beberapa keyakinan yang mendasari praktek keperawatan
kesehatan jiwa,meliputi :
a. Individu memiliki harkat dan martabat yang perlu dihargai.
b. Tujuan individu adalah bertumbuh,berkembang,sehat,otonomi dan aktualisasi diri.
c. Individu berpotensi berubah.
d. Individu adalah makhluk holistik yang berinteraksi dan bereaksi dengan lingkungan sebagai
manusia utuh.
e. Setiap orang memiliki kebutuhan dasar yang sama.
f. Semua perilaku individu bermakna.
g. Perilaku individu meliputi persepsi,pikiran,perasaan dan tindakan.
h. Individu memiliki kapasitas koping yang bervariasi,dipengaruhi genetik,lingkungan,kondisi
stres dan sumber yang tersedia.
i. Sakit dapat menumbuhkembangkan psikologis seseorang.
j. Setiap orang berhak mendapat pelayanan kesehatan yang sama.
k. Kesehatan mental adalah komponen kritikal dan penting dalam pelayanan kesehatan.
l. Individu berhak berpartisipasi dalam pembuatan keputusan untuk kesehatannya.
m. Tujuan keperawatan adalah meningkatkan kesejahtraan,memaksimalkan fungsi dan
meningkatkan aktualisasi diri.
n. Hubungan interpersonal dapat menghasilkan perubahan dan pertumbuhan individu.
5.Maksud dan tujuan Keperawatan Kesehatan jiwa.
Adapun maksud dan tujuan keperawatan kesehatan jiwa adalah untuk menolong klien agar
kembali kemasyarakat sebagai individu yang mandiri dan berguna.Tujuan ini dapat dicapai

1.
2.
3.
4.
5.
6.

dengan proses komunikasi,diharapkan klien dapat menerima dirinya,dapat berhubungan


dengan orang lain atau lingkungannya serta mandiri.
6.Peran dan Fungsi Perawat dalam praktek keperawatan kesehatan jiwa.
Menurut Stuart dan Sundeen (1995) dalam memberikan asuhan dan pelayanan
keperawatan kesehatan jiwa,perawat dapat melakukan aktivitas pada tiga area utama yaitu
1)Memberikan asuhan keperawatan secara langsung,2) Aktivitas komunikasi dan 3)Aktivitas
dalam pengelolaan atau manajemen keperawatan.
Dalam hubungan perawat dengan klien,ada beberapa peran perawat dalam keperawatan
kesehatan jiwa,meliputi :
Kompetensi klinik.
Advokasi klien dan keluarga
Tanggung jawab keuangan
Kerja sama antar disiplin ilmu di bidang keperawatan
Tanggung gugat sosial
Parameter etik-legal.
Pada setiap tingkatan pelayanan kesehatan jiwa,perawat mempunyai peran tertentu :
a.Peran perawat dalam prevensi primer.
1). Memberikan penyuluhan tentang prinsip sehat jiwa.
2).Mengefektifkan perubahan dalam kondisi kehidupan,tingkat kemiskinan dan
pendidikan.
3).Memberikan pendidikan dalam kondisi normal,pertumbuhan dan perkembangan dan
Pendidikan seks.
4).Melakukan rujukan yang sesuai sebelum terjadi gangguan jiwa.
5).Membantu klien di rumah sakit umum untuk menghindari masalah psikiatri .
6).Bersama keluarga untuk memberikan dukungan pada anggotanya untuk meningkatkan
Fungsi kelompok.
7).Aktif dalam kegiatan masyarakat atau politik yang berkaitan dengan kesehatan jiwa.
b.Peran perawat dalam prevensi sekunder.
1).Melakukan skrining dan pelayanan evaluasi kesehatan jiwa.
2).Melaksanakan kunjungan rumah atau pelayanan penanganan di rumah.
3).Memberikan pelayanan kedaruratan psikiatri di rumah sakit umum.
4).Menciptakan lingkungan terapeutik.
5).Melakukan supervisi klien yang mendapatkan pengobatan.
6).Memberikan pelayanan pencegahan bunuh diri.
7).Memberi konsultasi.
8).Melaksanakan intervensi krisis.
9).Memberikan psikoterapi pada individu,keluarga dan kelompok pada semua usia.
10).Memberikan intervensi pada komunitas dan organisasi yan teridentifikasi masalah.
c.Peran perawat dalam prevensi tertier.
1).Melaksanakan latihan vokasional dan rehabilitasi.
2).Mengorganisasi pelayanan perawatan pasien yang sudah pulang dari rumah sakit jiwa
untuk
Memudahkan transisi dari rumah sakit ke komunitas.
3).Memberikan pilihan perawatan rawat siang pada klien.
7.Prinsip Keperawatan kesehatan jiwa.

a.
b.
c.
d.
e.
f.
g.
h.
i.
j.
k.

Keperawatan kesehatan jiwa merupakan spesialisasi praktek keperawatan mempunyai


beberapa prinsip,adalah sebagai berikut :
Peran dan fungsi perawat jiwa adalah unik yaitu perawatan yang kompeten.
Hubungan yang terapeutik antara perawat dan klien adalah pengalaman belajar bersama untuk
memperbaiki emosi klien.
Memiliki
konseptual
model
keperawatan
kesehatan
jiwa
antara
lain
:Psikoanalisis(Freud,Erickson),Interpersonal(Sullivan,Peplau),Sosial(Caplan)Eksistensial
(Ellia,Rogers,Suportif terapi(Wermon)dan medikal(Meyer dan Kraeplin).
Model stres dan adaptasi memberikan asumsi bahwa lingkungan secara alami memberikan
berbagai strata sosial dimana dalam Keperawatan kesehatan jiwa melalui proses keperawatan
memberikan konsep yang jelas.
Perawat jiwa harus belajar struktur dan fungsi otak untuk memahami penyebab agar lebih efektif
dalam menentukan strategi intervensi pada gangguan jiwa.
Keadaan status mental klien dalam keperawatan kesehatan jiwa menggambarkan rentang
kehidupan psikologis melalui waktu.
Perawat harus peka terhadap sosial budaya klien yang bervariasi sebagai salah satu pengatahuan
dan keterampilan yang dibutuhkan dalam intervensi keperawatan jiwa.
Keadaan lingkungan memberi pengaruh langsung pelayanan keperawatan jiwa.
Aspek legal,etika dan profesional dalam praktek keperawatan kesehatan jiwa.
Penatalaksanaan proses keperawatan sesuai strandar perawatan.
Aktualisasi peran keperawatan kesehatan jiwa melalui penampilan standar profesional.
8.Sejarah Perkembangan kesehatan jiwa dan Keperawatan kesehatan jiwa.
Sejak zaman dahulu di Indonesia sudah dikenal adanya gangguan jiwa.Namun demikian
tidak diketahui secara pasti bagaimana mereka diperlakukan pada saat itu.Beberapa tindakan
terhadap pasien gangguan jiwa sekarang dianggap merupakan warisan nenek moyang kita,maka
dapat dibayangkan tindakan yang dimaksud adalah dipasung,dirantai atau diikat lalu ditempatkan
tersendiri di rumah atau hutan apabila gangguan jiwanya berat dan membahayakan.Bila pasien
tidak membahayakan maka dibiarkan berkeliaran di desa sambil mencari makan sendiri dan
menjadi bahan tontonan masyarakat.Ada juga yang diperlakukan sebagai orang sakti atau
perantara Roh dan manusia.
Jika belajar dari sejarah,usaha kesehatan jiwa dan perawatannya di Indonesia dibagi
menjadi dua yaitu zaman kolonial dan setelah kemerdekaan.
a.Zaman Kolonial.
Sebelum didirikan Rumah sakit jiwa di Indonesia pasien gangguan jiwa ditampung di
Rumah Sakit Sipil atau militer di Jakarta,Semarang dan Surabaya.Pasien yang ditampung adalah
mereka yang sakit jiwa berat saja.Perawatan yang dijalankan saat iu hanya bersifat penjagaan
saja.Tahun 1862 pemerintah Hindia Belanda melakukan sensus pasien gangguan jiwa diseluruh
Indonesia.Di Pulau Jawa dan Madura ditemukan pasien sekita 6oo orang,sedangkan didaerah
lain ditemukan sekitar 200 orang.Berdasarkan temuan tersebut pemerintah mendirikan Rumah
sakit jiwa bagi pasien gangguan jiwa.
Pada tanggal 1 Juli 1882 didirikan rumah sakit jiwa pertama di Indonesia, di Cilendek Bogor
Jawa Barat dengan kapasitas 400 tempat tidur.Rumah sakit jiwa yang kedua didirikan di
Lawang Jawa timur tanggal 23 Juni 1902.Rumah Sakit jiwa ini adalah terbesar di Asia tenggara
dengan kapasitas 3300 tempat tidur.Rumah sakit jiwa yang ke-3 didirikan di Magelang pada
tahun 1923,dengan kapasitas 1400 tempat tidur.Rumah sakit jiwa di Sabang tahun
1927.Menyusul
didirikannya
rumah
sakit
jiwa
lainnya
di
Grogol

Jakarta,Padang,Palembang,Banjarmasin dan manado,masing-masing memikili kapasitas yang


berbeda.
Pemerintah Hindia Belanda mengenal empat macam tempat perawatan pasien gangguan
jiwa :
1).Rumah Sakit Jiwa.
Rumah sakit jiwa diperuntukkan bagi pasien sakit jiwa yang membutuhkan perawatan
lama.Pasien demikian ditempatkan di RSJ Bogor,Magelang,Lawang dan Sabang.Perawatan
bersifat isolasi dan penjagaan (Custodial care).
2).Rumah Sakit Sementara.
Rumah Sakit ini merupakan tempat penampungan sementara bagi pasien Psikotik akut yang
dipulangkan setelah sembuh.Pasien dari RS ini yang masih butuh perawatan lama dikirim ke RSJ
Jakarta,semarang,Surabaya,Palembang,Padang,Manado atau Medan.
3).Rumah Perawatan.
Berfungsi sebagai Rumah sakit jiwa,dikepalai seorang perawat berijazah dibawah pengaasan
Dokter umum.
4).Koloni.
Merupakan tempat penampungan pasien yang sudah tenang dan mereka bekerja dilahan
pertanian.Mereka tinggal di rumah penduduk,tuan rumahnya diberikan biaya oleh
pemerintah.Pasien tetap diawasi oleh dokter atau perawat.Rumah semacam ini dibangun jauh
dari kota dan masyarakat umum.
Diketahui pendidikan perawat jiwa mulai dibuka pada bulan september 1940 di Bogor,berupa
kursus.Yang diterima adalah orang Belanda atau Indo-Belanda,yang sudah lulus MULO atau
setaraf Sekolah menengah pertama..Lulusannya mendapat sertifikat Diploma B.
b.Zaman setelah Kemerdekaan.
Perkembangan usaha kesehatan jiwa di Indonesia meningkat,ditandai terbentuknya jawatan
urusan penyakit jiwa pada bulan Oktober 1947.Usaha kesehatan jiwa tetap berjalan walaupun
lambat.Pada saat itu masih terjadi revolusi fisik,tetapi pembinaan dan penyelenggaraan kesehatan
jiwa tetap dilaksanakan.Pada tahun 1951 dibuka sekolah perawat jiwa untuk orang
Indonesia.Perawatan kesehatan jiwa mulai dikerjakan secara modern dan tidak lagi ditempatkan
secara tertutup.Pasien dirawat diruangan dan bebas berinteraksi dengan orang lain.Pasien
dihargai martabatnya sama dengan manusia lainnya.Jawatan urusan kesehatan jiwa bernaung
dibawah Departemen Kesehatan terus membenahi sistem pengelolaan dan pelayanan
kesehatan.Tahun 1966 dirubah menjadi Direktorat Kesehatan jiwa dan sampai sekarang dipimpin
oleh Kepala direktorat Kesehatan jiwa.Pada tahun yang sama ditetapkan Undang-Undang
kesehatan jiwa no.3 tahun 1966 oleh pemerintah,sehingga membuka peluang untuk
melaksanakan modernisasi semua sistem RSJ dan pelayanannya.
Direktorat Kesehatan jiwa bekerja sama dengan berbagai instansi pemerintah,fakultas
kedokteranbadan internasional,rapat kerja nasional dan daerah.Adanya sistem pelaporan
,tersusunnya Pedoman Penggolongan Diagnosis Gangguan Jiwa (PPDGJ) I tahun 1973 tetapi
baru diterbitkan pada tahun 1975.Pada tahun tersebut kesehatan jiwa diintegrasikan dengan
pelayanan di Puskesmas.
Kesehatan jiwa terus berkembang pesat pada abat ke-20 ini.Metode perawatan dan
pengobatan bersifat ilmiah.Pengobatan disesuaikan dengan perkembangan Iptek,menggunakan
obat-obatan psikofarmaka,terapi shock/ECT dan terapi lainnya.Demikian juga dengan Praktek
keperawatan menggunakan metode ilmiah proses keperawatan,komunikasi terapeutik dan terapi
modalitas keperawatan dengan kerangka ilmu pengetahuan yang mendasari praktek profesional.

Peran dan fungsi perawat jiwa dituntut lebih aktif dan profesional untuk melaksanakan
pelayanan keperawatan kesehatan jiwa.Pada saat ini pelayanan keperawatan kesehatan jiwa
berorientasi pada pelayanan komunitas.Komitmen ini sesuai dengan hasil Konferensi Nasional I
Keperawatan jiwa pada bulan Oktober 2004,bahwa pelayanan keperawatan diarahkan pada
tindakan preventif dan promotif.Hal ini juga sejalan dengan paradigma sehat yang digariskan
WHO dan dijalankan departemen kesehatan RI,bahwa upaya proaktif perlu dilakukan untuk
mencegah terjadinya gangguan jiwa.Upaya proaktif ini melibatkan banyak profesi termasuk
psikiater dan perawat.Penanganan kesehatan jiwa bergeser pada upaya kuratif/perawatan rumah
sakit menjadi perawatan kesehatan jiwa masyarakat.Pusat kesehatan jiwa masyarakat akan
memberikan pelayanan dirumah berdasarkan wilayah kerjanya,diharapkan pasien dekat dengan
keluarganya sebagai sistem pendukung yang dapat membantu pasien mandiri dan boleh
berfungsi sebagai individu yang berguna.
Diposkan 11th February 2013 oleh yhodi potutu
0

Tambahkan komentar

sang baru telah tiba

ELECTROCONVULSIVE THERAPY
Electroconvulsive therapy (ECT) was first describle by cerletti and bini in 1938 as a
treatment for schizopernia.at that time it was believe that epileptics were rarely
schizoperniac and therefore hypothezised that convulsions would cure schizopernia.later
research did not support this hypothesis.further experience with ECT showed that it is
much more effective as a treatment for affective disturbance than it is for schizopernia
sometimes occur together.
Electroconvulsive therapy is treatment in which a grand mal seizure is
artificially in an anesthetized patient by passing an electrical current through electrodes
apilied to the patients head.traditionally the electrodes have been applied
bilaterally.alternative eletorde placements are now routinely used, including unilateral
and birontal.it has been reported that patients have fewer cognitive side effects with these
alternative placemants,including less disorientation and fewer disturbance of verbal and
nonverbal memory (lisanby et al,2000,weiner,2000).
However,unilateral ECT,under many conditions,may not be as reliably effective
as bilateral ECT (krystal et al,2000;McCall et al,200;sackeim et al,2000).bifrontal
placement combines the efficacy of bilateral with the cognitive profile of unilateral

(bailine et la,2000).further studies in this area are ongoing.figure 28-1 illustrates the
different electrode placements.
Current clinical wisdom notes that for ECT to be effective, a grand mal seizure
must occur.the electrical stimulus is generally adjusted to the minimum level of energy
that will produce a seizure.the number of treatment in a series varies according to the
patients therapeutic response. A usual course is 6 to 12 treatments given two to there
times a week. Patients with schizopernia may require more.
ECT is an effective treatment and is generally well-tolerated by patient(brodaty et
al,2003;UK ECT review group,2003) (see citing the evidence). In some cases,after a
successful initial treatment episode,continuation of outpatient ECT combined with
antidepressant medication may be recommended: weekly treatments for the first month
after remission,gradually tapering to monthly treatments (Gagne et al,2000;Sackeim et
al,2001).
INDICATION
The primary indication for ECT is major depression.ECTs response rate of 80%
or more for most patients is better than response rates associated with antidepressant
medications medications. It can be useful for people in most age-groups who cannot
tolerate or fail to respond to treatment with medication (Hermann et
al,1999;Rabheru,2001). Box 28-1 lists the primary and secondary eriteria for the use ECT
as determined by the American Psychiatric Association (APA) Task force on
Electroconvulsive Therapy 2000.

Retruns to baseline.if sleeping,the patient should remain undisturbed unless


additional nursing intervention is warranted.sleeping may help the patient retrun to
baseline values more quickly.
After assessing the return of the gag reflex,medications and breakfast may be
offered. When fully awake,the patient should be observed when getting out of bed for the
first time to ensure complete retrun of muscle functioning after administration of muscle
relaxants.thruoghout the posttreatment interval,the nurse provides support and
reassurance to the patient to eliminate distress that may result from posttreatment
amnesia.
Any confusion or disorientations is likely to be of short duration.the patient
may respond well to restricted environmental stimulation,and frequent nursing contacts
will serve to the patient that he or she has received BCT treatment and will provide

reorientation.memory loss affect primarily material that has been recently learned and
any information acquired during the time of the ECT treatments.
Memory loss is distressing for the patient,so the nursing should reiterate often
that most memory difficulty may last up to 6 months.however,some information cannot
be retrieved,including the experience of the treatment it shelf and events that occurred
just before the procedure such as IV placement.in addition,events that occurred during
treatment may be unclear. A summary of nursing terventions for patients receiving ECT is
presented.

Interdisciplinary collaboration
the nurse is part of an interdisciplinary treatment team that not only administers the
treatment but also collaborates to evaluate the effectiveness of ECT and recommend
changes in the patients treatment plan as appropriate.within the team,the nurse identifies
patterns of patient behavior and evaluates their implications as related to treatment.these
include behavior indicative of a positive treatment response,such as improvement in
activities of daily living,adaptive changes in social interactions with others,increases in
energy,appetite,and weight,or other positive changes in target symptoms.
The nurse also would report any adverse behaviors associated with
ECT,including prolonged periods of confusion or disorientation,recurrent nausea or
headaches,elevation in blood pressure that does not resolve within several hours after
treatment,or an increase in the intensity or occurrence of target symptoms.
With these clinical observation and judgment,the nurse becomes an active
participant in treatment planning. Together the team evaluated issues such as the length
of the ECT treatment course,the need for alternative management strategies and
adjustments in the frequency of treatments,considerations for maintenance
ECT,indication for additional consultations,and other possible modifications in the
treatment plan.

Nursing staff education


Despite recent increases in the use of ECT and is effectifeness in the treatment of certain
psychiatri illnesses,the procedure continues to elict emotional responses from the public
as well as the medical and nursing communities.some of these responses may be positive,
but many people react negatively to ECT based on outdated ideas and procedures (See
critical thinking about contemporary issues).

It is essential that,when a patient is referred for ECT,the patient and family


should be presented with information rearding treatment options in a balanced and
inbiased manner. If a nurse has ambivalent or negative feelings about ECT,these feelings
will probably be communicated to the patient and render the treatment course less
effective.to function as patient advocate,nurses need to examine their attitudes and have
as much information about the procedure as possible(wysoker,2003)
Educational efforts should be directed toward nurses who work on units where
ECT is implemented as a treatment strategy.programs should be developed that address
both cognitive and attitudinal content because the more knowledge and clinical
experience mental health professionals have with ECT,the more positive their attitude
will be toward it.
Such programs might be initiated by asking staff to discuss their beliefs and
feeling about ECT,including its potential electroconvulsive therapy(ECT) is still
controversial.the controversy is not about its efficacy or safety,because these have been
well established in numerous studies. Rather, it is about its presumed effect on the
brain,public fears of the procedure,beneficial effect.some people regard ECT as a
punishment,believing that it is inhumane.still others are concerned that permanent brain
damge could result.
The opposing view holds that it is more inhumane to allow a person to suffer
from a severe emotional disorder when ECT can provide prompt relief.they believe that
the stigmatization related to ECT does considerably more harm than the treatment itself.
Part of the stigma associated with ECT stems from the fact that mental illness is seen as
social deviance rather than a medical complication than most surgical and many
psychopharmacological treatments.
The third reason rests in the language used to describe the treatment.the fact
that it used to be called shock therapy conjures up the image of pain that further
stigmatizes this treatment option.
It is up to each professional to reach a personal resolution on this issue.this
decision should be based on objective data,observation of the treatment,and personal
experiences in working with patients who have not received ECT....Yodi_hamster99
Diposkan 16th February 2013 oleh yhodi potutu
0

Tambahkan komentar
1.
Feb

11

KONSEP DASAR KESEHATAN JIWA


DAN KEPERAWATAN JIWA
1. Deskripsi
Kesehatan jiwa merupakan salah satu indikator untuk mengukur derajad kesehatan
masyarakat.Indikator kesehatan jiwa dimasa yang akan datang bukan lagi masalah klinis
seperti prevalensi gangguan jiwa,melainkan berorientasi pada konteks kehidupan
sosial.Oleh karena itu upaya menjamin kesehatan jiwa merupakan tanggung jawab
pemerintah,masyarakat dan melibatkan berbagai profesi termasuk keperawatan.Menurut
Danardi dari bagian psikiatri FKUI,fokus kesehatan jiwa adalah kondisi optimal yang
ideal dalam perilaku dan kemampuan fungsi sosial (Yosep,2007)
Dalam bab ini akan dibahas konsep dasar kesehatan jiwa dan keperawatan
kesehatan jiwa yang mencakup pengertian kesehatan jiwa, masalah pikososial dan
gagguan jiwa serta ciri-cirinya,pengertian,maksud dsn tujuan,falsafah,peran dan fungsi
perawat dalam keperawatan kesehatan jiwa,perkembangan keperawatan kesehatan
jiwa,model konseptual keperawatan kesehatan jiwa dan model stres adaptasi menurut
pandangan para ahli Keperawatan kesehatan jiwa.
2.Relevansi
Pada pembahasan ini peserta didik akan mempelajari konsep dasar kesehatan dan
keperawatan jiwa yang menjadi dasar pengetahuan untuk membahas topik berikutnya
pada mata kuliah keperawatan kesehatan jiwa I.Pembahasan ini ada hubungannya dengan
mata kuliah yang sudah dipelajari sebelumnya yaitu psikologi dan konsep dasar
keperawatan.Topik ini sangat berguna bagi peserta didik untuk memberikan pengetahuan
tentang karakteristik jiwa seseorang sehat atau terganggu,pengertian,sejarah
perkembangan,falsafah,peran dan fungsi perawat,prinsip serta model konseptual dan teori
keperawatan kesehatan jiwa.Konsep ini memberikan arah bagi perawat untuk
melaksanakan pelayanan kesehatan kepada masyarakat terutama dalam praktek
keperawatan kesehatan jiwa dalam upaya meningkatkan,mencegah,mengobati atau
memulihkan kesehatan jiwa seseorang sampai pada tahap optimal.Untuk memudahkan
proses pembelajaran ini peserta didik disarankan membaca rujukan yang berkaitan
dengan pokok bahasan yang dimaksud.

3. Tujuan instruksional khusus


Setelah mengikuti proses pembelajaran diharapkan peserta didik mampu :
a.

Menjelaskan pengertian kesehatan jiwa dan ciri-cirinya.

b. Menjelaskan pengertian masalah psikososial dan cirinya.


c.

Menjelaskan pengertian gangguan jiwa dan cirinya.

d. Menjelaskan pengertian Keperawatan Kesehatan jiwa


e. Menjelaskan falsafah keperawatan kesehatan jiwa.
f.

Menjelaskan maksud dan tujuan keperawatan kesehatan jiwa

g.

Menjelaskan peran dan fungsi keperawatan kesehatan jiwa.

h. Menjelaskan beberapa prinsip keperawatan kesehatan jiwa.


i.

Menguraikan sejarah perkembangan keperawatan kesehatan jiwa

j.

Mengidentifikasi model konseptual keperawatan kesehatan jiwa.


B. Konsep dasar kesehatan jiwa dan keperawatan kesehatan jiwa.
1. Kesehatan Jiwa.
Kesehatan jiwa seringkali sulit didefinisikan.Orang dianggap sehat jika mereka
mampu melaksanakan peran dimasyarakat dan perilaku mereka pantas serta
adaptif.Kebudayaan masyarakat sangat mempengaruhi nilai dan keyakinannya terhadap
definisi sehat.Untuk memperjelas definisi tentang kesehatan jiwa itu sendiri,dikutip
beberapa pandangan yang menerangkan tentang kesehatan jiwa.
Menurut UU Kesehatan jiwa No.3 tahun 1996,kesehatan jiwa adalah kondisi yang
memungkinkan perkembangan fisik,intelektual,emosional secara optimal dari seseorang
dan perkembangan ini berjalan selaras dengan orang lain.Videbeck (2008) menjelaskan
kesehatan jiwa adalah suatu kondisi sehat emosional,psikologis dan sosial yang terlihat
dari hubungan interpersonal yang memuaskan,perilaku dan koping yang efektif,konsep
diri yang positif dan kestabilan emosional.Kesehatan jiwa adalah suatu kondisi mental
sejahtra yang memungkinkan hidup harmonis dan produktif sebagai bagian yang utuh
dari kualitas hidup seseorang,dengan memperhatikan semua segi kehidupan manusia
dengan ciri menyadari sepenuhnya kemampuan dirinya,mampu menghadapi stres
kehidupan dengan wajar,mampu bekerja dengan produktif dan memenuhi kebutuhan
hidupnya,dapat berperan serta dalam lingkungan hidup,menerima dengan baik apa yang
ada pada dirinya dan merasa nyaman bersama dengan orang lain(Keliat,dkk,2005)

Yahoda menerangkan 6 ciri sehat jiwa adalah 1)Bersikap positif terhadap diri
sendiri,2)mampu tumbuh dan berkembang serta mencapai aktualisasi diri,3)mampu
mengatasi stres atau perubahan pada dirinya,4)bertanggung jawab terhadap keputusan
dan tindakan yang diambil,5)mempunyai persepsi yang realistik dan menghargai
perasaan
serta
sikap
orang
lain,6)Mampu
menyesuaikan
diri
dengan
lingkungan(Keliat,dkk,2005).
Kesehatan jiwa memiliki banyak komponen atau ciri dan dipengaruhi berbagai
faktor.Menurut Johnson (1997) ada 7 ciri kesehatan jiwa adalah 1)Otonomi dan
kemandirian,2)Memaksimalkan
potensi
diri,3)Mentoleransi
ketidakpastian
hidup,4)mampu mengelola stres kehidupan,5)menguasai lingkungan,6)Orientasi
realitas,dan 7)harga diri realitas(Videbeck,2008).
2.Masalah Psikososial.
Lingkup masalah kesehatan jiwa sangat luas dan kompleks serta saling
berhubungan dengan segala aspek kehidupan manusia.Mengacu pada Undang-Undang
No.23 tahun 1992 tentang kesehatan dan Ilmu kedokteran jiwa bahwa masalah
psikososial tergolong dalam masalah kesehatan jiwa.
Masalah psikososial adalah setiap perubahan dalam kehidupan individu baik yang
bersifat psikologis atau sosial yang memberikan pengaruh timbal balik dan dianggap
berpotensi cukup besar sebagai faktor penyebab terjadinya gangguan jiwa atau gangguan
kesehatan secara nyata atau sebaliknya masalah kesehatan jiwa yang berdampak pada
lingkungan
sosial.Berdasarkan
definisi
diatas
terdapat
ciri-ciri
masalah
psikososial,sebagai berikut :
a.

Cemas,kawatir berlebihan,takut.

b. Mudah tersinggung.
c.

Sulit berkonsentrasi.

d. Bersikap ragu-ragu dan merasa rendah diri.


e. Merasa kecewa.
f.

Pemarah dan agresif

g.

Reaksi fisik seperti jantung berdebar dan otot tegang.

h. Sakit kepala (Keliat,dkk,2005


Menurut Yosep (2007) masalah psikososial timbul sebagai akibat terjadinya
perubahan sosial seperti :

a.

Psikotik gelandangan yang berkeliaran ditempat umum dan mengganggu ketertiban

b. Pemasungan pasien gangguan jiwa.


c.

Masalah anak jalanan.

d. Masalah anak remaja (tawuran dan kenakalan).


e. Penyalahgunaan narkotika dan psikotropika.
f.

Masalah seksual seperti penyimpangan,pelecehan.

g.

Tindak kekerasan sosial seperti kemiskinan,penelantaran,korban kekerasan pada anak).

h.

Stres pasca trauma seperti kecemasan,gangguan emosional,berulangkali mengalami


trauma,bencana alam,kekerasan dan penganiayaan fisik,pemerkosaan dan terorisme.

i.

Masalah pengungsi seperti cemas,depresi,stres pasca trauma.

j.

Masalah lanjut usia yang terisoler : penelantaran,kekerasan fisik,gangguan psikologis


dan penyesuaian diri,perubahan minat,gangguan tidur,kecemasan, depresi dan pikun.

k.

Masalah tenaga kerja :penurunan produktivitas,stres dan pemutusan hubungan kerja.


3.Gangguan Jiwa.
Dimasa lalu gangguan jiwa dipandang sebagai kerasukan setan atau hukuman
karena pelanggran sosial,agama atau norma sosial.Oleh sebab itu penderita
dianiaya,dihukum,dijauhi atau diejek masyarakat.Saat ini pandangan tentang gangguan
jiwa berubah.American Psychiatric Association (1994) mendefinisikan gangguan jiwa
sebagai sindrom atau pola psikologis atau pola prilaku yang penting secara klinis, yang
terjadi pada individu dan sindrom itu dihubungkan dengan adanya distress (mis,gejala
nyeri,menyakitkan) atau disabilitas ( ketidakmampuan pada salah sat bagian atau
beberapa fungsi penting) atau disertai peningkatan resiko secara bermagna untuk
mati,sakit,ketidakmampuan,atau kehilangan kebebasan(Notosoedirdjo,Latipun,2007)
Videbeck (2008) menjelaskan kriteria umum untuk mendiagnosa gangguan jiwa
meliputi
:1)Ketidakpuasan
dengan
karakteristik,kemampuan,dan
prestasi
diri,2)Hubungan yang tidak efektif atau tidak memuaskan,3)Tidak puas hidup di
dunia,4)Koping yang tidak efektif terhadap peristiwa kehidupan dan 5)Tidak terjadi
pertumbuhan personal.
Ada juga beberapa ciri gangguan jiwa yang dapat diidentifikasi pada seseorang
menurut Keliat,dkk (2005) adalah :1)Marah tanpa sebab,2)Mengurung diri,3)Tidak kenal
orang lain,4)Bicara kacau,5)Bicara sendiri dan 6)Tidak mampu merawat diri.

4.Pengertian Keperawatan Kesehatan Jiwa.


Banyak definisi yang dikemukakan para ahli keperawatan untuk menjelaskan
tentang keperawatan kesehatan jiwa.Center for Mental Health Services (CMHS) secara
resmi mengakui Keperawatan kesehatan jiwa adalah salah satu dari lima inti disiplin
kesehatan
jiwa.Perawat
jiwa
menggunakan
pengetahuan
dari
ilmu
psikososial,biofisik,teori kepribadian dan perilaku manusia untuk mendapatkan kerangka
berpikir teoretis yang mendasari praktek keperawatan(Suart,2007).American Nurses
Association (ANA) sependapat dengan CMHS,yang menjelaskan bahwa keperawatan
kesehatan jiwa merupakan area khusus dalam praktek keperawatan yang menggunakan
ilmu perilaku manusia sebagai dasar dan menggunakan diri sendiri(ekspresi,gerak
tubuh,bahasa,tatapan mata,sentuhan,nada suara) secara terapeutik sebagai kiatnya dalam
meningkatkan,mempertahankan,memulihkan kesehatan mental klien dan masyarakat
dimanapun berada.Caroline (1999) memperjelas bahwa keahlian keperawatan kesehatan
jiwa adalah merawat seseorang dengan penyimpangan mental dimana perawat harus
memiliki pengetahuan dan keterampilan (peka,mau mendengar,tidak menyalahkan dan
memberikan dorongan) untuk menemukan kebutuhan dasar klien yang terganggu seperti
kebutuhan fisik,aman dan nyaman,kebutuhan mencintai dan dicintai,harga diri dan
aktualisasi
diri.Pasien
atau
klien
yang
dirawat
berupa
individu,keluarga,kelompok,organisasi dan masyarakat(Sadock) dalam seluruh rentang
kehidupan mulai sejak konsepsi sampai lanjut usia(Otong,1995)
Berdasarkan beberapa definisi diatas dapat disimpulkan keperawatan kesehatan jiwa
adalah :
a.

Merupakan salah satu bidang spesialisasi ilmu keperawatan jiwa dalam praktek
keperawatan

b.

Memiliki dasar keilmuan yang khas sebagai batang tubuh ilmunya yaitu ilmu
perilaku,psikososial,biofisik,teori kepribadian,komunikasi,pendidikan dll

c.

Memiliki kiat khusus merawat klien yaitu menggunakan diri perawat yaitu gerak
tubuh,bahasa,ekspresi,sentuhan,tatapan mata dan nada suara.

d.

Perawat harus menguasai berbagai ilmu pengetahuan dan keterampilan(peka,mau


mendengar,empati,tidak menyalahkan,memotivasi dll.

e.

Klien yang dirawat berupa individu,keluarga,kelompok,organisasi dan masyarakat


dengan penyimpangan mental mulai masa konsepsi sampai lanjut usia dimanapun berada.

f.

Tugas atau peran perawat adalah menemukan kebutuhan klien yang terganggu berupa
kebutuhan biopsikososiospiritual.

g.

Bertujuan untuk meningkatkan,mempertahankan dan memulihkan kesehatan mental


klien

Setiap perawat yang berminat dan melaksanakan praktek keperawatan kesehatan jiwa
disarankan menguasai berbagai ilmu pengetahuan dan keterampilan serta kiat khusus agar
dapat melaksanakan peran dan fungsi sebagai perawat yang bertanggung jawab untuk
mencapai tujuan keperawatan yang ditetapkan pada setiap klien yang dirawat.
4.Falsafah Keperawatan Kesehatan jiwa.
Menurut Dep.Kes (2000) Beberapa keyakinan yang mendasari praktek keperawatan
kesehatan jiwa,meliputi :
a.

Individu memiliki harkat dan martabat yang perlu dihargai.

b. Tujuan individu adalah bertumbuh,berkembang,sehat,otonomi dan aktualisasi diri.


c.

Individu berpotensi berubah.

d.

Individu adalah makhluk holistik yang berinteraksi dan bereaksi dengan lingkungan
sebagai manusia utuh.

e. Setiap orang memiliki kebutuhan dasar yang sama.


f.

Semua perilaku individu bermakna.

g.

Perilaku individu meliputi persepsi,pikiran,perasaan dan tindakan.

h.

Individu
memiliki
kapasitas
koping
yang
genetik,lingkungan,kondisi stres dan sumber yang tersedia.

bervariasi,dipengaruhi

i.

Sakit dapat menumbuhkembangkan psikologis seseorang.

j.

Setiap orang berhak mendapat pelayanan kesehatan yang sama.

k.

Kesehatan mental adalah komponen kritikal dan penting dalam pelayanan kesehatan.

l.

Individu berhak berpartisipasi dalam pembuatan keputusan untuk kesehatannya.

m. Tujuan keperawatan adalah meningkatkan kesejahtraan,memaksimalkan fungsi dan


meningkatkan aktualisasi diri.
n. Hubungan interpersonal dapat menghasilkan perubahan dan pertumbuhan individu.
5.Maksud dan tujuan Keperawatan Kesehatan jiwa.
Adapun maksud dan tujuan keperawatan kesehatan jiwa adalah untuk menolong klien
agar kembali kemasyarakat sebagai individu yang mandiri dan berguna.Tujuan ini dapat

dicapai dengan proses komunikasi,diharapkan klien dapat menerima dirinya,dapat


berhubungan dengan orang lain atau lingkungannya serta mandiri.
6.Peran dan Fungsi Perawat dalam praktek keperawatan kesehatan jiwa.
Menurut Stuart dan Sundeen (1995) dalam memberikan asuhan dan pelayanan
keperawatan kesehatan jiwa,perawat dapat melakukan aktivitas pada tiga area utama
yaitu 1)Memberikan asuhan keperawatan secara langsung,2) Aktivitas komunikasi dan
3)Aktivitas dalam pengelolaan atau manajemen keperawatan.
Dalam hubungan perawat dengan klien,ada beberapa peran perawat dalam
keperawatan kesehatan jiwa,meliputi :
1.

Kompetensi klinik.

2.

Advokasi klien dan keluarga

3.

Tanggung jawab keuangan

4.

Kerja sama antar disiplin ilmu di bidang keperawatan

5.

Tanggung gugat sosial

6.

Parameter etik-legal.
Pada setiap tingkatan pelayanan kesehatan jiwa,perawat mempunyai peran tertentu :
a.Peran perawat dalam prevensi primer.
1). Memberikan penyuluhan tentang prinsip sehat jiwa.
2).Mengefektifkan perubahan dalam kondisi kehidupan,tingkat kemiskinan dan
pendidikan.
3).Memberikan pendidikan dalam kondisi normal,pertumbuhan dan perkembangan
dan
Pendidikan seks.
4).Melakukan rujukan yang sesuai sebelum terjadi gangguan jiwa.
5).Membantu klien di rumah sakit umum untuk menghindari masalah psikiatri .
6).Bersama keluarga untuk memberikan dukungan pada anggotanya untuk
meningkatkan

Fungsi kelompok.
7).Aktif dalam kegiatan masyarakat atau politik yang berkaitan dengan kesehatan jiwa.
b.Peran perawat dalam prevensi sekunder.
1).Melakukan skrining dan pelayanan evaluasi kesehatan jiwa.
2).Melaksanakan kunjungan rumah atau pelayanan penanganan di rumah.
3).Memberikan pelayanan kedaruratan psikiatri di rumah sakit umum.
4).Menciptakan lingkungan terapeutik.
5).Melakukan supervisi klien yang mendapatkan pengobatan.
6).Memberikan pelayanan pencegahan bunuh diri.
7).Memberi konsultasi.
8).Melaksanakan intervensi krisis.
9).Memberikan psikoterapi pada individu,keluarga dan kelompok pada semua usia.
10).Memberikan intervensi pada komunitas dan organisasi yan teridentifikasi
masalah.
c.Peran perawat dalam prevensi tertier.
1).Melaksanakan latihan vokasional dan rehabilitasi.
2).Mengorganisasi pelayanan perawatan pasien yang sudah pulang dari rumah sakit
jiwa untuk
Memudahkan transisi dari rumah sakit ke komunitas.
3).Memberikan pilihan perawatan rawat siang pada klien.
7.Prinsip Keperawatan kesehatan jiwa.
Keperawatan kesehatan jiwa merupakan spesialisasi praktek keperawatan
mempunyai beberapa prinsip,adalah sebagai berikut :
a.

Peran dan fungsi perawat jiwa adalah unik yaitu perawatan yang kompeten.

b. Hubungan yang terapeutik antara perawat dan klien adalah pengalaman belajar bersama
untuk memperbaiki emosi klien.
c.

Memiliki konseptual model keperawatan kesehatan jiwa antara lain


:Psikoanalisis(Freud,Erickson),Interpersonal(Sullivan,Peplau),Sosial(Caplan)Eksistensial
(Ellia,Rogers,Suportif terapi(Wermon)dan medikal(Meyer dan Kraeplin).

d.

Model stres dan adaptasi memberikan asumsi bahwa lingkungan secara alami
memberikan berbagai strata sosial dimana dalam Keperawatan kesehatan jiwa melalui
proses keperawatan memberikan konsep yang jelas.

e. Perawat jiwa harus belajar struktur dan fungsi otak untuk memahami penyebab agar lebih
efektif dalam menentukan strategi intervensi pada gangguan jiwa.
f.

Keadaan status mental klien dalam keperawatan kesehatan jiwa menggambarkan rentang
kehidupan psikologis melalui waktu.

g.

Perawat harus peka terhadap sosial budaya klien yang bervariasi sebagai salah satu
pengatahuan dan keterampilan yang dibutuhkan dalam intervensi keperawatan jiwa.

h. Keadaan lingkungan memberi pengaruh langsung pelayanan keperawatan jiwa.


i.

Aspek legal,etika dan profesional dalam praktek keperawatan kesehatan jiwa.

j.

Penatalaksanaan proses keperawatan sesuai strandar perawatan.

k.

Aktualisasi peran keperawatan kesehatan jiwa melalui penampilan standar profesional.


8.Sejarah Perkembangan kesehatan jiwa dan Keperawatan kesehatan jiwa.
Sejak zaman dahulu di Indonesia sudah dikenal adanya gangguan jiwa.Namun
demikian tidak diketahui secara pasti bagaimana mereka diperlakukan pada saat
itu.Beberapa tindakan terhadap pasien gangguan jiwa sekarang dianggap merupakan
warisan nenek moyang kita,maka dapat dibayangkan tindakan yang dimaksud adalah
dipasung,dirantai atau diikat lalu ditempatkan tersendiri di rumah atau hutan apabila
gangguan jiwanya berat dan membahayakan.Bila pasien tidak membahayakan maka
dibiarkan berkeliaran di desa sambil mencari makan sendiri dan menjadi bahan tontonan
masyarakat.Ada juga yang diperlakukan sebagai orang sakti atau perantara Roh dan
manusia.
Jika belajar dari sejarah,usaha kesehatan jiwa dan perawatannya di Indonesia dibagi
menjadi dua yaitu zaman kolonial dan setelah kemerdekaan.
a.Zaman Kolonial.

Sebelum didirikan Rumah sakit jiwa di Indonesia pasien gangguan jiwa ditampung
di Rumah Sakit Sipil atau militer di Jakarta,Semarang dan Surabaya.Pasien yang
ditampung adalah mereka yang sakit jiwa berat saja.Perawatan yang dijalankan saat iu
hanya bersifat penjagaan saja.Tahun 1862 pemerintah Hindia Belanda melakukan sensus
pasien gangguan jiwa diseluruh Indonesia.Di Pulau Jawa dan Madura ditemukan pasien
sekita 6oo orang,sedangkan didaerah lain ditemukan sekitar 200 orang.Berdasarkan
temuan tersebut pemerintah mendirikan Rumah sakit jiwa bagi pasien gangguan jiwa.
Pada tanggal 1 Juli 1882 didirikan rumah sakit jiwa pertama di Indonesia, di
Cilendek Bogor Jawa Barat dengan kapasitas 400 tempat tidur.Rumah sakit jiwa yang
kedua didirikan di Lawang Jawa timur tanggal 23 Juni 1902.Rumah Sakit jiwa ini adalah
terbesar di Asia tenggara dengan kapasitas 3300 tempat tidur.Rumah sakit jiwa yang ke-3
didirikan di Magelang pada tahun 1923,dengan kapasitas 1400 tempat tidur.Rumah sakit
jiwa di Sabang tahun 1927.Menyusul didirikannya rumah sakit jiwa lainnya di Grogol
Jakarta,Padang,Palembang,Banjarmasin dan manado,masing-masing memikili kapasitas
yang berbeda.
Pemerintah Hindia Belanda mengenal empat macam tempat perawatan pasien
gangguan jiwa :
1).Rumah Sakit Jiwa.
Rumah sakit jiwa diperuntukkan bagi pasien sakit jiwa yang membutuhkan perawatan
lama.Pasien demikian ditempatkan di RSJ Bogor,Magelang,Lawang dan
Sabang.Perawatan bersifat isolasi dan penjagaan (Custodial care).
2).Rumah Sakit Sementara.
Rumah Sakit ini merupakan tempat penampungan sementara bagi pasien Psikotik
akut yang dipulangkan setelah sembuh.Pasien dari RS ini yang masih butuh perawatan
lama dikirim ke RSJ Jakarta,semarang,Surabaya,Palembang,Padang,Manado atau Medan.
3).Rumah Perawatan.
Berfungsi sebagai Rumah sakit jiwa,dikepalai seorang perawat berijazah dibawah
pengaasan Dokter umum.
4).Koloni.
Merupakan tempat penampungan pasien yang sudah tenang dan mereka bekerja
dilahan pertanian.Mereka tinggal di rumah penduduk,tuan rumahnya diberikan biaya oleh
pemerintah.Pasien tetap diawasi oleh dokter atau perawat.Rumah semacam ini dibangun
jauh dari kota dan masyarakat umum.
Diketahui pendidikan perawat jiwa mulai dibuka pada bulan september 1940 di
Bogor,berupa kursus.Yang diterima adalah orang Belanda atau Indo-Belanda,yang sudah

lulus MULO atau setaraf Sekolah menengah pertama..Lulusannya mendapat sertifikat


Diploma B.
b.Zaman setelah Kemerdekaan.
Perkembangan usaha kesehatan jiwa di Indonesia meningkat,ditandai terbentuknya
jawatan urusan penyakit jiwa pada bulan Oktober 1947.Usaha kesehatan jiwa tetap
berjalan walaupun lambat.Pada saat itu masih terjadi revolusi fisik,tetapi pembinaan dan
penyelenggaraan kesehatan jiwa tetap dilaksanakan.Pada tahun 1951 dibuka sekolah
perawat jiwa untuk orang Indonesia.Perawatan kesehatan jiwa mulai dikerjakan secara
modern dan tidak lagi ditempatkan secara tertutup.Pasien dirawat diruangan dan bebas
berinteraksi dengan orang lain.Pasien dihargai martabatnya sama dengan manusia
lainnya.Jawatan urusan kesehatan jiwa bernaung dibawah Departemen Kesehatan terus
membenahi sistem pengelolaan dan pelayanan kesehatan.Tahun 1966 dirubah menjadi
Direktorat Kesehatan jiwa dan sampai sekarang dipimpin oleh Kepala direktorat
Kesehatan jiwa.Pada tahun yang sama ditetapkan Undang-Undang kesehatan jiwa no.3
tahun 1966 oleh pemerintah,sehingga membuka peluang untuk melaksanakan
modernisasi semua sistem RSJ dan pelayanannya.
Direktorat Kesehatan jiwa bekerja sama dengan berbagai instansi pemerintah,fakultas
kedokteranbadan internasional,rapat kerja nasional dan daerah.Adanya sistem
pelaporan ,tersusunnya Pedoman Penggolongan Diagnosis Gangguan Jiwa (PPDGJ) I
tahun 1973 tetapi baru diterbitkan pada tahun 1975.Pada tahun tersebut kesehatan jiwa
diintegrasikan dengan pelayanan di Puskesmas.
Kesehatan jiwa terus berkembang pesat pada abat ke-20 ini.Metode perawatan dan
pengobatan bersifat ilmiah.Pengobatan disesuaikan dengan perkembangan
Iptek,menggunakan obat-obatan psikofarmaka,terapi shock/ECT dan terapi
lainnya.Demikian juga dengan Praktek keperawatan menggunakan metode ilmiah proses
keperawatan,komunikasi terapeutik dan terapi modalitas keperawatan dengan kerangka
ilmu pengetahuan yang mendasari praktek profesional.
Peran dan fungsi perawat jiwa dituntut lebih aktif dan profesional untuk
melaksanakan pelayanan keperawatan kesehatan jiwa.Pada saat ini pelayanan
keperawatan kesehatan jiwa berorientasi pada pelayanan komunitas.Komitmen ini sesuai
dengan hasil Konferensi Nasional I Keperawatan jiwa pada bulan Oktober 2004,bahwa
pelayanan keperawatan diarahkan pada tindakan preventif dan promotif.Hal ini juga
sejalan dengan paradigma sehat yang digariskan WHO dan dijalankan departemen
kesehatan RI,bahwa upaya proaktif perlu dilakukan untuk mencegah terjadinya gangguan
jiwa.Upaya proaktif ini melibatkan banyak profesi termasuk psikiater dan
perawat.Penanganan kesehatan jiwa bergeser pada upaya kuratif/perawatan rumah sakit
menjadi perawatan kesehatan jiwa masyarakat.Pusat kesehatan jiwa masyarakat akan
memberikan pelayanan dirumah berdasarkan wilayah kerjanya,diharapkan pasien dekat
dengan keluarganya sebagai sistem pendukung yang dapat membantu pasien mandiri dan
boleh berfungsi sebagai individu yang berguna.