Anda di halaman 1dari 26

1

BAB I
PENDAHULUAN

Lingkungan

A. Latar Belakang
kerja merupakan tempat

yang

potensial

mempengaruhi kesehatan pekerja. Faktor faktor yang dapat


mempengaruhi kesehatan pekerja antara lain faktor fisik, faktor
kimia dan faktor biologis. Lingkungan kerja ataupun jenis pekerjaan
dapat menyebabkan penyakit akibat kerja (Malaka T, 1994).
Akan tetapi pekerja dengan lingkungan kerja seperti
pedagang ikan memiliki risiko lebih tinggi terkena infeksi kulit oleh
jamur. Hal ini dikarenakan sebagian besar jamur berkembang lebih
baik pada tingkat kelembaban yang tinggi.
Salah satu infeksi kulit pada sela jari kaki dan telapak kaki
yang disebabkan oleh adalah Tinea pedis atau Athletes foot
maupun ringworm of the foot (Makatutu HA, 1992).
Dermatofitosis juga dikenal sebagai kurap atau tinea yang
didapat meyerang kulit, rambut atau kuku. Biasanya dermatofitosis
diperoleh akibat adanya maserasi, trauma kecil dan kebersihan
yang buruk pada kulit. Penyakit ini bervariasi sesuai dengan
jaringan yang diinfeksi dan jamur yang menyebabkan infeksi jamur
tersebut (Bennet, J.E.,1998:1158-1159).
Tinea pedis ini disebabkan oleh Trichophyton rubrum yang
sering

memberikan

kelainan

menahun.

Tinea

pedis

sering

menyerang orang dewasa yang bekerja ditempat basah seperti

tukang cuci, petani, pedagang ikan atau orang yang setiap hari
harus memakai sepatu tertutup atau kaki dalam keadaan lembab
(Hafeez ZH, 2002).
Selain karena pemakaian sepatu tertutup untuk waktu yang
lama, bertambahnya kelembaban karena keringat, pecahnya kulit
karena mekanis, tingkat kebersihan seorang dan paparan terhadap
jamur merupakan fakor risiko yang menyebabkan terjadinya Tinea
pedis. Kondisi lingkungan yang lembab dan panas di sela sela jari
kaki karena pemakaian sepatu dan kaus kaki atau kaki yang selalu
basah juga akan merangsang tumbuhnya jamur (Soekandar TM,
2004).
Kejadian Tinea pedis di sela jari kaki banyak ditemukan pada
pria dibandingkan wanita. Angka kejadian Tinea pedis meningkat
seiring bertambahnya usia, karena semakin bertambahnya usia
seseorang maka akan menurunnya daya tahan tubuhnya (Courtney
MR, 2013).
Jamur penyebab Tinea pedis dapat ditemukan di banyak
lokasi, seperti di lantai, kamar ganti baju, kolam renang, kaos kaki
serta pakaian. Sekitar 70% dari populasi kemungkinan pernah
mengalami infeksi Tinea pedis (www.totalkesehatananda.com).
Keadaan sosial ekonomi serta kurangnya kebersihan
memegang peranan yang penting pada infeksi jamur, yaitu insiden
penyakit jamur lebih sering terjadi pada sosial ekonomi yang
rendah (Siregar, 2005).

Namun, prevalensi Tinea pedis pada pedagang ikan di pasar


Kramat Jati masih belum mendapat kepastian. Begitu pula dengan
faktor faktor yang mempengaruhi timbulnya Tinea pedis pada
pedagang ikan. Oleh karena itu peneliti tertarik untuk melakukan
penelitian terhadap Tinea pedis pada pedagang ikan di pasar
Kramat Jati.
B. Identifikasi Masalah
Berdasarkan hal tersebut diatas dapat diidentifikasi
1.

beberapa masalah antara lain :


Tinea pedis sering menyerang orang dewasa yang bekerja
ditempat basah (seperti tukang cuci, petani, pedagang ikan) atau
orang yang setiap hari harus memakai sepatu tertutup atau kaki

2.

dalam keadaan lembab.


Sebagian besar jamur berkembang lebih baik pada tingkat

3.

kelembaban yang tinggi.


Para pedagang ikan bekerja pada kondisi yang lembab dan basah

4.

sehingga dapat memicu timbulnya jamur.


Para pedagangikan di pasar Kramat Jati mempunyai faktor resiko
terkena infeksi tinea pedis karena umumnya mereka kurang
memperhatikan kebersihan diri.
C. Pembatasan Masalah
Pada penelitian ini, penulis membatasi pada masalah hanya
pada indetifikasi Tinea pedis pada kaki pedagang ikan di pasar
Kramat Jati.
D. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas, maka penulis
merumuskan permasalahan sebagai berikut :
1. Apakah ditemukan infeksi Tinea pedis pada para pedagang ikan
di pasar Kramat Jati?

2. Spesies apakah yang menyebabkan dermatofitosis pada


pedagang ikan di pasar Kramat Jati?
E. Tujuan Penelitian
Berdasarkan hal diatas penelitian ini bertujuan :
1. Mengetahui adanya infeksi Tinea pedis pada kaki pedagang
ikan di pasar Kramat Jati.
2. Mengetahui spesies penyebab dermatofitois pada pedagang
ikan di pasar Kramat Jati.
F. Manfaat Penelitian
Dari hasil penelitian yang dilakukan penulis berharap bisa
memberikan manfaat bagi :
1. Masyarakat agar bisa

mengetahui,

bahaya

serta

cara

mencegah atau mengatasi infeksi dermatofitosis terutama tinea


pedis.
2. Sebagai sumbangan pemikiran untuk penelitian penelitian
selanjutnya terhadap infeksi tinea pedis pada sampel yang
berbeda.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Tinjauan Teoritis
1. Fungi/jamur
Fungi adalah kata jamak dari kata Fungus yang berasal dari
bahasa latin Funguor. Kata ini awalnya digunakan untuk jamur yang
berperan pada malam hari. Dalam penggunaannya kata ini meluas
penggunaannya meliputi thallus seperti tumbuhan tidak berklorofil
contohnya mold dan organisme yang sejenis jamur.
Jamur atau fungi merupakan anggota tanaman yang
berukuran kecil dan memakan bahan organik. Di dunia diperkirakan
terdapat 200.000 spesies jamur, tetapi fungi patogen dan oportunis
patogen sekitar 100-200 spesies. Fungi patogen dan oportunis
patogen

dapat

2005:1,5,11).

menyebabkan

penyakit

mikosis

(Subakir,

Jamur dapat tumbuh dengan baik pada suhu kamar 25300C, dengan kelembaban 60%. Walaupun demikian ada beberapa
jamur patogen yang dapat tumbuh pada 45-50 0C, oleh karena
sensitivitas jamur terhadap suhu dapat digunakan untuk identifikasi
spesies. Jamur menyukai kondisi asam dengan Ph 5,5 6,5/6,8
(Subakir, 2005:1,5,11).
Tergolong ke dalam kelompok fungi, jamur bisa terdiri atas
sel yang besarnya beberapa mikrometer atau dapat juga
membentuk tubuh buah yang besarnya mencapai satu meter. Sel
selnya tersusun berderet satu per satu dan membentuk hifa atau
benang benang (filamen). Alat perkembangbiakannya berupa
spora. Karena tak punya hijau daun, jamur menjadi makhluk
konsumen

dan

sangat

bergantung

pada

medium

yang

menyediakan karbohidrat, protein, vitamin dan persenyawaan kimia


lainnya. Semua itu didapatkan dengan cara menyerap unsur yang
dibutuhkan dari lingkungan hidupnya melalui sistem hifa (Bramono
K, 2004.)
Selain bisa melakukan fermentasi medium karbohidrat
menjadi gula, jamur pun juga sangat penting dalam kehidupan
manusia. Dengan jamur, sampah dan bangkai makhluk hidup
lainnya

bisa

terurai.

Namun,

seringkali

jamur

juga

dapat

menguraikan bahan yang diperlukan manusia sehingga bisa


mendatangkan kerugian. Pembusukkan pada

makanan

dan

pelapukan pada kayu cukup merepotkan manusia. Tak hanya itu,

jamur bisa beracun dan menyebabkan penyakit tertentu (Bramono


K, 2004.)
Jamur

sangat

erat

hubungannya

dengan

kehidupan

manusia. Sedemikian eratnya sehingga manusia tak terlepas dari


jamur. Jenis fungi fungian ini bisa hidup dan tumbuh dimana saja,
baik di udara, tanah, air, pakaian, bahkan di tubuh manusia itu
sendiri. Manusia salah satu tempat bagi jamur untuk tumbuh, di
samping bakteri dan virus. Jamur dapat menyebabkan berbagai
jenis infeksi kulit. Kelainan jamur yang sering ditemukan adalah
tinea atau ring worm. Infeksi tinea dapat mengenai kepala, badan,
lipat paha, kaki dan kuku (C, Smetzer & G, Bare, 2002.)
Jamur bisa menyebabkan penyakit yang cukup parah bagi
manusia. Penyakit tersebut antara lain mikosis yang menyerang
langsung pada kulit, mikotoksitosis akibat mengonsumsi toksin dari
jamur yang ada dalam produk makanan (Bramono K, 2004.)
2. Dermatofitosis
Dermatofitosis ialah mikosis superfisialis yang disebabkan
oleh jamur golongan dermatofita. Jamur ini mengeluarkan enzim
keratinase sehingga mampu mencerna keratin pada kuku, rambut
dan stratum korneum pada kulit (Mulyati, 2010).
Dermatofitosis sering disebut tinea,ringworm, kurap atau
Herpes sirsinata. Dermatofita terbagi dalam tiga genus, yaitu
trichopyton, mycrosporum, epidermophyton. Dari 41 spesies
dermatofita yang sudah dikenal hanya 23 spesies yang dapat

menyebabkan penyakit pada manusia dan binatang. Terdiri dari 15


spesies trichophyton, 7 spesies mycrosporum, dan satu spesies
epidermophyton (www.yupharin.com).
Setiap spesies dermatofita mempunyai afinitas terhadap
hospes tertentu, yaitu (Hainer. BL, 2003) :
a. Dermatofita yang zoofilik terutama menyerang binatang
dan kadang kadang menyerang manusia, misalnya
Microsporum canis pada anjing, kucing dan Trichopyton
verrucosum pada sapi.
b. Dermatofita yang geofilik adalah jamur yang hidup di
tanah dan dapat menimbulkan radang pada manusia,
misalnya Microsporum gypseum.
c. Dermatofita yang antrofilik menyerang manusia karena
memilih manusia sebagai hospes tetapnya.
Golongan dermatofitosis diklasifikasi berdasarkan lokasinya.
Disebut Tinea kapitis jika menyerang kulit kepala, rambut, alis dan
bulu mata. Tinea korporis jika menyerang badan dan anggota
badan, termasuk Tinea kruris yang khusus menyerang lipat paha,
daerah bawah perut dan sekitar anus. Tinea barbae menyerang
daerah dagu, jenggot dan jambang. Tinea manum menyerang
tangan dan telapak tangan. Tinea pedis menyerang sela sela kaki
dan telapak kaki. Dan Tinea unguinum menyerang kuku. Jamur ini
tumbuh pada kuku kaki dan menyebabkan kerusakan kuku.

Sebaliknya, kuku yang rusak akibat kurang perawatan pun lebih


mudah ditumbuhi oleh jamur. Gejalanya macam macam,
diantaranya : lempeng kuku rusak, kuku berubah warna menjadi
kehitaman atau suram, kuku berubah bentk, dll. Adanya cantengan
menunjukkan gejala tumbuhnya jamur kuku (Budimulya. U,
1987;77-89.)
Beberapa faktor pencetus infeksi jamur antara lain kondisi
lembab dan panas dari lingkungan, dari pakaian ketat, dan pakaian
tak menyerap keringat, keringat berlebihan karena berolahraga
atau karena kegemukan, friksi atau trauma minor (gesekan pada
paha orang gemuk), keseimbangan flora tubuh normal terganggu
(antara lain karena pemakaian antibiotic atau hormonal dalam
jangka panjang) (Bramono.K : 2004.)
Selain faktor faktor diatas, timbulnya kelainan pada kulit
tergantung pada beberapa faktor antara lain faktor virulensi dari
dermatofita (dimana virulensi bergantung pada afinitas jamur,
apakah antrofilik, zoofilik atau geofilik). Yang kedua adalah faktor
trauma (dimana kulit yang utuh tanpa lesi lesi kecil, lebih suah
untuk terserang jamur), faktor suhu dan kelembaban yang
berpengaruh terhadap infeksi jamur serta kebersihan memegang
peranan yang penting pada infeksi jamur dan yang terakhir adalah
uur dan jenis kelamin, dimana kejadian infeksi jamur di sela sela

10

jari banyak ditemukan pada wanita dibandingkan pada pria, hal ini
berhubungan dengan pekerjaan (Siregar, 2005.)

Beberapa macam infeksi jamur yang disebabkan oleh


golongan jamur dermatofita, berdasarkan lokasinya adalah sebagai
berikut (C, Smetzer & G, Bare, 2002) :
a) Tinea Pedis (penyakit jamur kaki : ringworm of the
foot, kutu air) merupakan jamur infeksi pada kaki.
Sering

dijumpai

pada

orang

yang

dalam

kesehariannya banyak bersepatu tertutup disertai


perawatan kaki yang buruk dan pekerja dengan
kaki yang selalu atau sering basah. Tine Pedis
biasanya menyerang sela sela kaki dan telapak
kaki.
b) Tinea Korporis (penyakit jamur badan)
Merupakan infeksi jamur pada bagian muka, leher,
batang tubuh dan ekstremitas (pada bagian yang
terinfeksi

tampak

lesi

berbentuk

cincin

atau

lingkaran yang khas). Panu atau Pitriasis versikolor


tergolong dermatomikosis yang non-dermatofitosis.
Jenis

jamur

dermatofita,

penyebabnya
melainkan

bukan
malassezia

termasuk
furfur.

Gambaran klinisnya tidak seperti tinea, berupa


cincin dengan daerah tenang di bagian sentral.
Wujud klinisnya berupa bercak bersisik halus yang

11

bewarna putih hingga kecoklatan. Letaknya bisa


dimana saja, bisa di badan, leher, lengan, lipat
paha, dan muka.
c) Tinea Kapitis (penyakit jamur kulit kepala)
Merupakan infeksi jamur yang menular
menyerang

batang

rambut

dan

dan

penyebab

kerontokan rambut yang sering dijumpai pada anak


anak. Secara klinis dapat ditemukan bercak
bundar bewarna merah dan bersisik. Rambut
menjadi rapuh dan patah di dekat permukaan kulit
kepala. Biasanya tinea kapitis menyerang kulit
kepala, rambut, alis dan bulu mata.
d) Tinea Kruris (penyakit jamur lipat paha)
Merupakan infeksi jamur lipat paha yang dapat
meluas ke paha bagian dalam dan daerah pantat.
Sering ditemukan pada pelari, orang orang yang
gemuk, dan orang yang suka mengenakan pakaian
yang ketat. Kadas atau kurap sering menyerang
kulit. Wujudnya di kulit berupa bercak berbentuk
bulat atau lonjong. Warnanya kemerahan, bersisik,
dan berbintil bintil. Daerah tengahnya biasanya
lebih tenang. Kadang kadang timbul lecet akibat
garukan kuku.
e) Tinea Unguium
Merupakan infeksi jamur yang kronis pada kuku jari
kaki atau kuku jari tangan. Biasanya Tinea unguium

12

disertai dengan infeksi jamur yang lama pada kaki.


Kuku menjadi tebal, rapuh, dan tidak mengkilat.
Tinea unguium adalah jamur dermatofitosis yang
paling sukar dan lama disembuhkan. Kuku menjadi
rusak dan rapuh. Bentuknya tak lagi normal, di
bagian bawah kuku akan menumpuk sisa jaringan
kuku yang rapuh.
f) Tinea barbae meyerang daerah dagu, jenggot dan
jambang.
g) Tinea manus menyerang tangan dan telapak
tangan.
3. Tinea Pedis
Tinea pedis atau ringworm of the foot adalah infeksi
dermatofita pada kaki, terutama sela jari dan telapak kaki. Tinea
pedis merupakan infeksi jamur yang paling sering terjadi,
penyebabnya yang paling sering adalah Trichopyton rubrum yang
memberikan kelainan menahun. Paling banyak ditemukan diantara
jari ke-4 dan ke-5, dan seringkali meluas ke bawah jari dan sela
jari jari lain. Oleh karena daerah ini lembab, maka sering terlihat
gejala berupa kulit putih dan rapuh. Jika bagian kulit yang mati
dibersihkan, maka akan terlihat kulit baru, yang pada umumnya
juga telah diserang jamur (Annonymous, 2006.)
Pada umumnya, jamur tumbuh pada kulit kaki karena faktor
kelembaban. Hal itu dapat disebabkan karena kaki yang sering
berkeringat, kaos kaki kurang dijaga kebersihannya atau sepatu
selalu tertutup. Jari jari kaki sangat rentan terinfeksi jamur tinea

13

pedis, terutama pada orang yang sering memakai sepatu tertutup


pada kesehariannya atau kaki yang selalu basah (Annonymous,
2006).
4. Faktor Presdiposisi
Faktor presdiposisi berupa kaki yang selalu basah, baik oleh
air maupun oleh keringat (sepatu tertutup dan memakai kaos kaki),
sering terjadi maserasi kulit (Azam JS, 2005).
Tinea pedis yang mempunyai nama lain Athletes foot,
ringworm of the foot atau kutu air (bukan kutu air melainkan
kapang jamur yang menyukai bagian kulit yang sering dibiarkan
basah dan lembab). Beberapa faktor penyebab tinea pedis adalah
pemakaian sepatu tertutup untuk waktu yang lama, bertambahnya
kelembaban karena keringat (Soekandar. TM, 2004.)
5. Gejala Klinis Tinea Pedis
Tinea pedis terdiri dari beberapa macam tipe klinisnya, dan
yang paling sering ditemukan adalah sebagai berikut (Courtney.
MR, 2005) :
a.

Interdigitalis, bentuk ini adalah yang tersering terjadi pada pasien tinea
pedis. Di antara jari IV dan V terlihat fisura yang dilingkari sisik halus dan
tipis. Kelainan ini dapat meluas ke bawah jari (subdigital) dan juga ke sela
jari yang lain. Oleh karena daerah ini lembab, maka sering terdapat
maserasi. Aspek klinis maserasi berupa kulit putih dan rapuh. Bila bagian
kulit yang mati ini dibersihkan, maka akan terlihat kulit baru, yang pada
umumnya juga telah diserang oleh jamur. Jika perspirasi berlebihan
(memakai sepatu karet/boot, mobil yang terlalu panas) maka inflamasi

14

akut akan terjadi sehingga pasien terasa sangat gatal. Bentuk klinis ini
dapat berlangsung bertahun-tahun dengan menimbulkan sedikit keluhan
sama sekali. Kelainan ini dapat disertai infeksi sekunder oleh bakteri
sehingga terjadi selulitis, limfangitis dan limfadenitis.
b.

Moccasin foot (plantar), Tinea pedis tipe moccasin atau SquamousHyperkeratotic Type umumnya bersifat hiperkeratosis

yang bersisik dan

biasanya asimetris yang disebut foci. Seluruh kaki, dari telapak, tepi
sampai punggung kaki terlihat kulit menebal dan bersisik; eritema
biasanya ringan dan terutama terlihat pada bagian tepi lesi. Di bagian tepi
lesi dapat pula dilihat papul dan kadang-kadang vesikel. Tipe ini adalah
bentuk kronik tinea yang biasanya resisten terhadap pengobatan.
c.

Lesi Vesikobulosa, bentuk ini adalah subakut yang terlihat vesikel.


Kelainan ini dapat mulai pada daerah sela jari, kemudian meluas ke
punggung kaki atau telapak kaki. Setelah pecah, vesikel tersebut
meninggalkan sisik yang berbentuk lingkaran yang disebut koleret.
Keadaan tersebut menimbulkan gatal yang sangat hebat. Infeksi sekunder
dapat terjadi juga pada bentuk selulitis, limfangitis dan kadang-kadang
menyerupai erisipelas. Jamur juga didapati pada atap vesikel.
6.

Diagnosis Tinea Pedis


Diagnosis tinea pada umumnya dapat ditegakkan
berdasarkan

gejala

gejala

klinis

yang

khas

dan

pemeriksaan sediaan langsung dengan KOH 10% dan

15

biakan. Untuk mendiagnosis diperlukan skuama dari bagian


tepi lesi yang diambil dengan menggunakan scalpel.
Skuama tersebut ditaruh pada slide yang ditetesi oleh
larutan hidroksida. Diagnosis dibuat dengan memeriksa
skuama yang terinfeksi tersebut secara mikroskopis dan
mengisolasi mikroorganisme penyebab dalam media kultur
(www.Dermnet.org).
7.
Pemeriksaan
1) Anamnesis
Anamnesis terhadap pasien dilakukan untuk
mengetahui adanya keluhan pada penderita sehingga
dapat diketahui keluhan yang berkaitan dengan gejala
klinis Tinea

pedis.

Umumnya

anamnesia

yang

ditanyakan seputar keluhan terhadap adanya rasa


gatal, lamanya penderita bekerja sebagai pedagan
ikan, melihat langsung lesi dan gejala klinis yang ada
serta sifat bentuk lesi.
2) Pemeriksaan langsung dengan KOH
Untuk melihat apakah ada infeksi jamur, maka
perlu dibuat preparat langsung dari kerokan kulit.
Sediaan dituang larutan KOH 10% dengan maksud
untuk melarutkan atau
dengan

demikian

akan

melisiskan keratin kulit,


tinggal

kelompok

hifa.

Sesudah 15 menit atau sesudah dipanaskan di atas


api jangan sampai menguap lalu dilihat dibawah
mikroskop dengan pembesaran 10x10 dan 40x10.

16

Adanya elemen jamur tampak berupa enang


benang bersifat kontur ganda. Dengan preparat
langsung ini diagnosis dermatofitosis sudah dapat
ditegakkan (Siregar R.S., 1995:3-4).
3) Pemeriksaan Biakaan
Pembiakkan dilakukan dalam media sabouraud
dextrose agar dalam suhu kamar 25-300 C, kemudian
dalam satu minggu dapat dilihat apakah ada atau
tidaknya pertumbuhan jamur. Yang perlu diperhatikan
dalam makroskopik adanya koloni kapang seperti
kapas berupa benang benang halus, permukaan
tidak rata, menonjol di atas media. Sedangkan secara
mikroskopik tampak hifa sejati, yaitu berupa benang
benang yang bersifat kontur ganda, berinti dan
mempunyai sekat (Siregar R.S., 1995:4)
4) Pemeriksaan Slide Culture
Silde culture adalah teknik identifikasi spesies
jamur dengan menggunakan kaca objek sebagai
dasar biakannya. Kaca objek tersebut diberi potongan
media

perbenihan

Dekstrosa

(SDA),

misalnya
kemudian

agar

Sabouraud

koloni

jamur

diinokulasikan pada media tersebut. Jamur yang


tumbuh akan menempek pada permukaan kaca objek
dan kaca tutup sehingga sporulasi jamur akan
tersusun dengan baik sehingga penetapan spesies

17

akan mudah dilakukan dengan melihat spotulasi yang


8.

khas (Mulyati, 2010).


Pengobatan Tinea Pedis
Penyakit tinea pedis sering kambuh sehingga untuk
menghindari faktor risiko seperti kaos kaki yang digunakan,
hendaknya dapat menyerap keringat dan diganti setiap hari.
Hindari memakai sepatu tertutup, sepatu sempit dan sepatu
plastik (sepatu boot) terutama yang digunakan sepanjang
hari. Tidak bertelanjang kaki atau selalu memakai sandal
sehingga dapat menghindari kontak dengan jamur penyebab
Tinea pedis. Kaki dan sela jari kaki dijaga agar selalu kering,
terutama sesudah mandi dapat diberikan bedak dengan atau
tanpa jamur. Penggunaan bedak anti jamur dapat ditaburkan
dalam sepatu atau kaos kaki agar dapat mengurangi
pertumbuhan jamur (www.netdoctor.co.uk).
Selain itu tindakan non-farmakologi juga dapat
dilakukan yaitu dengan mencuci kaki setiap hari diikuti
dengan pengeringan yang baik di daerah sela jari. Obat
obat anti jamur dapat diberikan secara topikal (dioles), ada
pula yang tersedia dalam bentuk oral (obat minum). Jenis
obat luar (salep) seringkali digunakan jika lesi kulit tidak
terlalu luas. Salep harus diloleskan pada kulit yang telah
bersih, setelah mandi atau sebelum tidur selama dua
minggu, meskipun lesinya telah hilang. Menghentikan
pengobatan dengan salep dapat menimbulkan kekambuhan.

18

Karena jamur belum terbasmi dengan tuntas. Jika prosesnya


cukup luas, selain obat topikal perlu ditambahkan obat
minum, misalnya dengan pemberian oabt griseofulvin,
terbinafine,

dll

(Annonymous.

Galenium

Farmasi

Lab

www.yupharin.com).

B. Kerangka Berfikir

Pemakaian alas kaki :

Sumber infeksi Dermatofita :

1. Sepatu tertutup/boot
2. Memakai sandal

1. Tanah, air
2. Manusia yang terinfeksi
3. Binatang

Faktor presdisposisi
dermatofitosis :
1. Tempat yang lembab
2. Lingkungan yang basah
3. Kulit yang
mengelupas/maserasi

Pedagang yang
terdapat keluhan di
kulit

Pemerikaan lab :
-langsung KOH
-biakan

19

Tinea Pedis

Keterangan :
= Yang akan diteliti
BAB III
METODE PENELITIAN
A. Defnisi Operasional
1. Dermatofitosis adalah

penyakit

pada

jaringan

yang

mengandung zat tanduk, misalnya startum korneum pada


epidermis, rambut dan kuku yang disebabkan golongan jamur
dermatofita.
2. Tinea pedis adalah penyakit yang disebabkan oleh infeksi jamur
dermatofita yang lokasinya berada di daerah kaki dan sela
sela jari kaki.
3. Pedagang ikan adalah orang yang pekerjaannya menjual ikan di
pasar tradisional yang sebelumnya hasil dagangan ikan yang
dijual didapat dari nelayan atau pengepul ikan.
4. Hasil pemeriksaan laboratorium :
a. Langsung (KOH 10%) : bila positif ditemukan artospora
dan hifa semu

20

b. Biakan (SDA)

bila

positif

ditemukan

tumbuhnya koloni jamur kapang berupa kapas benang


benang halus.

B. Tempat dan Waktu Penelitian


1. Tempat penelitian
Penelitian ini dilakukan di Pasar Kramat Jati, Jakarta Timur.
Pemeriksaan sampel dilakukan di Laboratorium Universitas MH.
Thamrin.
2. Waktu penelitian
Waktu penelitian dilakukan mulai dari bulan Mei 2015 sampai
Juni 2015.
C. Populasi dan Sampel
1. Populasi
Pedagang ikan di Pasar Kramat Jati, Jakarta Timur
2. Sampel penelitian
Sampel penelitian yang digunakan adalah kerokan kulit pada
pedagang ikan di Pasar Kramat Jati, Jakarta Timur
D. Teknik Pengumpulan Data
Cara pengambilan sampel pada penelitian ini dilakukan secara
bertahap dengan langkah langkah sebagai berikut :
1. Melakukan observasi ke tempat para pedagang ikan di daerah
pasar Kramat Jati.
2. Mengajukan permohonan ijin kepada pengelola pasar untuk
pengambilan sampel terhadap pedagang yang yang berdagang
di tempat tersebut.
3. Mengambil specimen berupa kerokan kulit dari pedagang ikan
yang mengalami gatal atau terdapat mesaseri.

21

4. Pengujian sampel yang dilakukan di Laboratorium MikologiMH.


Thamrin.
5. Rekapitulasi data yang didapat disajikan dalam bentuk tabel.
E. Instrumen
1. Alat alat :
a. Skalpel
b. Kaca objek dan kaca penutup steril
c. Cawan petri
d. Lampu spirtus
e. Kapas
f. Jarum inokulasi
g. Mikroskop
h. Inkubator
i. Pipet tetes
j. Autokalf
k. Wadah sampel
2. Bahan Pemeriksaan :
a. Kerokan Kulit pada sela sela jari kaki
3. Media :
a. Media SDA (Saboroud Dextrose Agar)

4. Reagen :
a. Alkohol 70%
b. KOH 10%
c. Aquadest
d. LPCB (Lacto Phenol Cotton Blue)
e. Cat Kuku
5. Cara kerja :
a. Persiapkan alat dan bahan
b. Melakukan sterilisasi pada alat alat yang akan digunakan
didalam otoklaf pada suhu 121 oC dengan tekanan 1 atm
selama 15 menit.
c. Pembuatan reagen atau media :
1. Media untuk kultur dan isolasi jamur :
Agar Saboraud Dekstrose (SDA)
Reagen Dekstrosa40 gram
Pepton...10 gram
Agar (bacto agr)20 gram
Akuades.1000 ml

22

Ph akhir : 5.6
Semua bahan dilarutkan didalam labu Erlenmeyer dan
dipanaskan hingga mendidih sampai serbuk media sampai
larut sempurna. Medium disterilisasi didalam didalam
autoklaf selama 15 menit pada suhu 121 oC, tekanan 1.5 atm
Komposisi dan cara membuat media SDA dapat dilihat pada
etiket yang terdapat didalam insert produk dari media
tersebut (Merek, BD, Oxoid dll). Ukuran bubuk SDA yang
dipakai 65 gr untuk membuat 1000 ml media.
Untuk membuat SDA (+) yaitu SDA yang mengandung
antibiotika (Kloramfenikol) dengan cara setelah media
dipanaskan sampai larut sempurna tambahkan kloramfenikol
0.5mg/ml

(500mg/1000ml),

baru

kemudian

disterilisasi

didalam otoklaf.
2. Lactophenol cotton blue (LPCB)
Kristal fenol.20 gr dilarutkan
Asam laktat.20 ml
Gliserol.40 ml
Akuades..20 ml
Semua bahan dicampurkan di atas uap air panas dengan
hati hati
lactophenol akan bewarna jernih.
Lactophenol cotton Blue (LPCB) tambahkan bubuk cotton
blue secukupnya sampai larutan bewarna biru. Apabila
bubuk ini tidak dapat diganti denan Tinta Parker warna biru

23

sebanyak 2 3 tetes (sesuaikan dengan warna biru yang


diinginkan).
3. KOH 10 20%
Kristal Kalium Hidrosikda.10 20 gr
Akuades.. 100 ml
d. Cara pengambilan spesimen kerokan kulit:
4. Bersihkan kulit yang akan dikerok dengan kapas alcohol
70% untuk menghilangkan lemak, debu serta kotoran
lainnya.
5. Keroklah bagian yang aktif dengan scalpel dengan arah
dari bawah ke atas.
6. Diletakkan hasil kerokan kulit pada wadah yang telah
disediakan dan sudah disterilisasi sebelumnya.
Pemeriksaan Laboratorium
e. Pemeriksaan dengan KOH 10% :
1. Diteteskan 1-2 tetes larutan KOH 10% pada kaca
objek.
2. Diletakkan bahan yang akan diperiksa pada tetesan
tersebut degan menggunakan pinset yang sebelumnya
dibasahi dulu dengan larutan KOH tersebut. Kemudian
tutup dengan kaca penutup.
3. Biarkan 15 menit atau dihangatkan di atas nyala api
selama beberapa detik untuk mempercepat proses lisis.
4. Periksa sediaan dibawah mikroskop dengan
pembesaran 10x10 kemudian dengan pembesaran
10x40 untuk mencari adanya hifa dan atau artospora.
f. Pemeriksaan dengan biakan :
Pembiakkan dilakukan dalam media sabouraud dextrose
agar dalam suhu kamar 25-300 C, kemudian dalam satu
minggu dapat dilihat apakah ada atau tidaknya pertumbuhan

24

jamur. Yang perlu diperhatikan dalam makroskopik adanya


koloni kapang seperti kapas berupa benang benang halus,
permukaan tidak rata, menonjol di atas media. Sedangkan
secara mikroskopik tampak hifa sejati, yaitu berupa benang
benang yang bersifat kontur ganda, berinti dan mempunyai
sekat (Siregar R.S., 1995:4)
a. Pemeriksaan Teknik Slide Culture dilakukan apabila
pada
1.

pemeriksaan

langsung

dan

biakan

tidak

ditemukan koloni.
Menyiapkan Ruang biakan steril :
a) Cawan petri diisi dengan 3 buah kaca objek yang
disusun

bertumpuk

dan

kaca

objek

teratas

diletakkan berlawanan arah dengan kaca objek


yang berada di bawahnya (untuk memudahkan
pengambilan biakan).
b) Sebuah potongan agar diambil dengan skalpel dan
diletakkan di bagian tegah dari kaca objek tersebut.
Ruang biakan siap digunakan (Mulyati, 2010).

2.

Inokulasi jamur :
a) Siapkan koloni jamur yang akan diidentifikasi
b) Koloni jamur kapang diambil sedikit dengan jarum
nalden

kemudian

diletakkan

di

keempat

sisi

potongan agar yang terdapat di dalam ruang


biakan.

25

c) Permukaan

potongan

agar

kemudian

ditutup

dengan kaca tutup.


d) Bagian dasar ruang biakan diberi akuadest steril
secukupnya untuk melembabkan biakan. Air tidak
boleh membasahi biakan.
e) Inkubasi pada suhu kamar selama 2-7 hari sampai
terlihat adanya pertumbuhan jamur yang menempel
di permukaan kaca objek dan kaca tutup (Mulyati,
2010)
3. Pembuatan sediaan semi permanen :
a) Untuk membaca hasil biakan slide culture harus
dibuat sediaan semi permanen sehingga susunan
sporulasi akan terlihat dengan baik.
b) Angkat kaca tutup dan kaca objek yang sudah
ditumbuhi jamur dengan membuang potongan
agarnya.
c) Permukaan kaca objek dan kaca tutup yang telah
ditumbuhi jamur diberi 1-2 tetes alkohol 70%.
d) Tambahkan 1-2 tetes larutan lactophenol atau
LPCB sebelum alkohol tersebut mongering lalu
ditutup dengan kaca tutup secara hati hati
hangan sampai terbentuk gelembung udara.
e) Sediaan dapat diperiksa di bawah mikroskop
dengan pembesaran 10x10 dan 10x40 untuk
mengamati susunan sporulasi jamur yang terbentuk
dan tentukan spesies jamurnya.
f) Sediaan dibiarkan selama 1 minggu baru kemudian
ditutup bagian tepinya dengan cat kuku atau kutek

26

sehingga sediaan dapat disimpan dalam waktu


lama (Mulyati, 2010).
F. Teknik Analisa Data
Data data yang diperoleh dari peneitian dihitung persentase
bahan

pemeriksaan

yang

positif

teradap

seluruh

bahan

pemeriksaan. Adapun rumus perhitungannya adalah sebagai


berikut :

jumlah sampel
=

x 100%