Anda di halaman 1dari 15

Agroekosistem

ULUAN

1.1 Latar belakang


Tanah yang baik dan subur adalah tanah yang mampu menyediakan unsur hara secara
cukup dan seimbang untuk dapat diserap oleh tanaman. Hal ini dapat dilihat dari nilai
produktifitas lahan, salah satunya dengan menganalisa konsentrasi unsur hara yang
terkandung di dalam tanah tersebut. Unsur hara yang dibutuhkan dalam tanah dapat
dibedakan menjadi dua yaitu unsur hara makro N (Nitrogen), P (Fosfor), K (Kalium), Ca
(Kalsium), Mg (Magnesium), dan S (Belerang). Dan unsur hara mikro Fe (Besi), B
(Boron), Mn (Mangan), Cu (Tembaga), Zn (Seng), Mn (Molibdenum) , Cl (Klor).
Ketersediaan unsur hara di dalam tanah merupakan faktor utama dalam kehidupan
tanaman. Fungsi unsur hara tanaman tidak dapat digantikan oleh unsur yang lain.
Kegiatan metabolisme akan terganggu atau bahkan terhenti jika tidak terdapat unsur hara
sama sekali. Tanaman yang kekurangan unsur hara akan menimbulkan gejala pada organ
tertentuk yang spesifik. Gejala semacam ini akan hilang jika unsur hara tanaman
ditambahkan ke dalam tanah atau diberikan melewati daun.
1.2 Rumusan Masalah
1. Apa saja unsur hara yang terdapat dalam tanah ?
2. Bagaimana proses atau tahapan serapan unsur hara terhadap tanaman ?
3. Bagaimana peranan unsur hara dalam tanah ?
1.3 Tujuan Masalah
1. Untuk mengetahui unsur hara yang terdapat dalam tanah
2. Untuk mengetahui proses atau tahapan serapan unsur hara terhadap tanaman
3. Untuk mengetahui peranan unsur hara dalam tanah

BAB II
PEMBAHASAN

2.1. Unsur Hara Dalam Tanah

Agroekosistem
Unsur hara tanaman adalah unsur yang diserap oleh tumbuhan. Menurut Hanafiah
(2007: 252), unsur kimiawi yang dianggap esensial sebagai unsur hara tanaman adalah
jika memenuhi tiga kriteria sebagai berikut:
a.

Unsur ini harus terlibat langsung dalam penyediaan nutrisi yang dibutuhka

tanaman.
b. Unsur ini tersedia agar tanaman dapat melengkapi siklus hidupnya.
c. Jika tanaman mengalami defesiensi hanya dapat diperbaiki dengan unsur
tersebut.
Unsur hara makro esensial jika dibutuhkan dalam jumlah besar, biasanya
diatas 500 ppm dan yang dibutuhkan dalam jumlah sedikit, biasanya kurang dari
50 ppm disebut mikro esensial.

2.2 Macam-macam Unsur Hara Makro dan Kegunaannya dalam Tanah

2.2.1 Unsur Hara Makro


1. Nitrogen (N)
Ketersediaan nitrogen adalah salah satu unsur hara yang sangat penting dan dapat
disediakan melalui pemupukan. Tanaman menyerap unsur N dalam bentuk NO 3- ,
NH4+, dan urea. Dalam keadaan aerasi baik, senyawa-senyawa N akan diubah ke
dalam bentuk NO3- , Nitrogen yang tersedia bagi tanaman dapat mempengaruhi
pembentukan protein. Unsur N juga merupakan bagian integral dan strategis dari
klorofil.
Peranan Nitrogen secara fisiologi antara lain :
a. Mereduksi metabolik nitrat
Nitrogen yang tersedia didalam tanah dapat diserap akar tanaman dalam
bentuk ion-ion nitrat dan amonium. Kedua bentuk N diperoleh sebagai
hasil dekomposisi bahan organik, baik yang berasal dari tanaman atau
binatang. Nitrat yang diabsorbsi akar tanaman menuju keatas bagian
tanaman akibat proses transpirasi ke bagian daun. Asimilasi nitrat pada
tanaman tingkat terjadi pada bagian daun, walaupun asimilasi nitrat terjadi
juga pada bagian tanaman lain seperti pada akar dan batang tanaman.
Langkah pertama nitrat adalah direduksi menjadi amonia.
b. Asimilasi amonia
Ion aminium dan amonia bersama-sama masuk kedalam kelompok
amonia-nitrogen. Amonia nitrogen (lebih sederhana, amonia) dihasilkan
2

Agroekosistem
didalam sel tanaman. Amonia dihasilkan melalui fotorespirasi dari siklus
oksidasi karbon atau dapat dihasilkan dari proses degradasi metabolik dari
cadangan protein selama perkecambahan biji pada tanaman tertentu.
Fungsi nitrogen bagi tanaman adalah sebagai berikut :
1. Untuk meningkatkan pertumbuhan tanaman.
2. Dapat menyehatkan pertumbuhan daun, daun tanaman lebar dengan warna
yang lebih hijau (pada daun muda berwarna kuning).
3. Meningkatkan kadar protein dalam tubuh tanaman.
4. Meningkatkan kualitas tanaman penghasil daun-daunan.
5. Meningkatkan berkembangbiaknya mikroorganisme di dalam tanah.
Nitrogen diserap oleh akar tanaman dalam bentuk NO3- (nitrat) dan NH4+
(amonium), akan tetapi nitrat ini segera tereduksi menjadi amonium. Kekurangan
unsur Nitrogen dapat terlihat dimulai dari daunnya, warnanya yang hijau
kekuningan selanjutnya berubah menjadi kuning lengkap. Jaringan daun mati
daun mati inilah yang menyebabkan daun selanjutnya menjadi kering dan
berwarna merah kecoklatan. Pada tanaman dewasa pertumbuhan yang terhambat
ini akan berpengaruh pada pembuahan, yang dalam hal ini perkembangan buah
tidak tidak sempurna, umumnya kecil-kecil dan cepat matang. Kandungan unsur
N yang rendah dapat menimbulkan daun penuh dengan serat, hal ini dikarenakan
menebalnya membran-sel daun sedangkan selnya sendiri berukuran kecil-kecil.

2. Fosfor (P)
Ketersediaan dan kecukupan unsur P menjadi penentu produktifitas tanaman.
Bersama-sama N dan K, P tergolong dalam unsur hara utama. Fosfor terdapat
dalam setiap tanaman, walaupun jumlahnya tidak sebanyak N dan K. Unsur ini
diserap tanaman bentuk ortofosfat primer H2PO4- . HPO4- . HPO24. Penyerapan
kedua macam bentuk ion ini oleh tanaman dipengaruhi oleh pH di sekitar
perakaran. Pada pH yang lebih rendah akan meningkatkan absorbsi ion-ion
3

Agroekosistem
H2PO24 pH yang lebih tinggi ion-ion HPO 24- lebih banyak diserap tanaman
ketersediaan dalam jumlah cukup dari asam nukleat, phytin, dan fosfolipida pada
saat awal pertumbuhan tanaman penting pada fase primordia tanaman yang
selanjutnya untuk bagian reproduksi. Fosfat juga berguna pada saat awal
pemasakan tanaman. Pertumbuhan tanaman terhambat apabila P tersedia dalam
jumlah yang kecil. Unsur ini penting pada pembentukan biji, dan banyak
dijumpai pada biji dan buah-buahan. Fosfor yang tersedia dalam jumlah cukup
yang meningkatkan perkembangan perakaran. Fosfot yang larut dan diaplikasikan
bersama NH+4- N didalam akan merangsang perakaran yang diserap tanaman akan
meningkatkan dengan jelas bila NO- 3-N dipakai dan dibandingkan NH+4- N.
Didalam tanaman, P merupakan unsur yang mobil, dan bila terjadi kekurangan
unsur ini pada suatu tanaman, maka P pada jaringan tua akan ditranslokasikan ke
jaringan yang masih aktif apabila terjadi kekurangan unsur P, akan menghambat
pertumbuhan tanaman dan gejalanya sulit diketahui sebagaimana gejala yang
kelihatan pada tanaman yang kekurangan unsur N dan K.
Fosfor diambil tanaman dalam bentuk H2PO4-, dan HPO4. Secara umum, fungsi
dari fosfor (P) dalam tanaman dapat dinyatakan sebagai berikut :
1. Dapat mempercepat pertubuhan akar.
2. Dapat mempercepat serta memperkuat pertumbuhan tanaman muda
menjadi tanaman dewasa.
3. Dapat mempercepat pembungaan dan pemasakan buah, biji atau gabah.
4. Dapat meningkatkan produksi biji-bijian.
Fosfor didalam tanah dapat digolongkan dalam 2 bentuk, yaitu bentuk organis
dan bentuk anorganis. Di dalam tanah fungsi P terhadap tanaman adalah sebagai
zat pembangun dan terikat dalam senyawa-senyawa organis. Dan sebaliknya
hanya sebagian kecil saja yang terdapat dalam bentuk anorganis sebagai ion-ion
fosfat. Fungsi fosfat dalam tanaman adalah dapat mempercepat pertumbuhan akar
semai, mempercepat pertumbuhan tanaman, meningkatkan produk biji-bijian dan
dapat memperkuat tubuh tanaman padi-padian sehingga
tidak mudah rebah. Bagian-bagian tubuh tanaman yang bersangkutan dengan
pembiakan generatif, seperti daun-daun bunga, tangkai-tangkai sari, kepalakepala sari, butirbutir tepung sari, daun buah seta bakal biji ternyata mengandung
P. Jadi, unsur P banyak diperlukan untuk pembentukan bunga dan buah.
Defisiensi unsur hara ini akan menimbulkan hambatan pada pertumbuhan sistem
perakaran, daun, batang, seperti misalnya pada tanaman serelia (padi-padian,
4

Agroekosistem
rumput-rumputan penghasil biji yang dapat dimakan, jewawut, gandum, jagung),
daun-daunnya berwarna hijau tua/keabu-abuan, mengkilap, sering pula terdapat
pigmen merah pada daun bagian bawah, selanjutnya mati. Tangkai-tangkai daun
kelihatan lancip-lancip. Pembentukan buah jelek, merugikan hasil biji.
3.

Kalium (K)
Kalium diserap dalam bentuk K+ (terutama pada tanaman muda). Kalium
banyak terdapat pada sel-sel muda atau bagian tanaman yang banyak mengandung
protein, inti-inti sel tidak mengandung kalium. Zat kalium mempunyai sifat mudah
larut dan hanyut, selain itu mudah difiksasi dalam tanah. Zat Kalium yang tidak
diberika secara cukup, maka efisiensi N dan P akan rendah, dengan demikian maka
produksi yang tinggi tidak dapat diharapkan.
Ketersediaan kalium didalam tanah dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu :
1. Tipe koloid tanah
Tepe koloid 2:1 dapat mengfiksasi kalium dibandingkan tipe 1:1. Fiksasi
terjadi karena pengembangan dan pengerutan. Kolid mengembang dalam
keadaan basah dan kalium memasukki celah diantaranya kisinya. Keadaan
kering atau mengkerut kalium cepat terhimpit. Bahan organik tidak dapak
mengfiksasi kalium, walaupun mempunyai kapasitas besar dalam mengikat
ion.
2. Temperatur
Temperatur keadaan membeku dan mencairnya tanah lembab silih berganti
dapat membebaskan kalium dapat keadaan terfikasi menjadi tersedia bagi
tanaman, khususnya jenis ilit (pada kondisi basah ilit akan mengfiksasi
kalium)
3. Keadaan basah dan kering
Kandungan kalium tersedia meningkat bila keadaan tanah yang lembab
dikeringkan, khususnya pada tanah dengan kadar kalium rendah sampai
sedang.tanah dengan kandungan kalium tinggi keadaan sebaliknya yang
terjadi. Proses tersebut terjadi belum diketahui dengan jelas, sehingga
dalam analisis tanah selalu menggunakan keadaan kering udara,
memungkinkan kadar kalium dapat dipertukarkan relatif lebih tinggi.
4.

Konsekuensi selanjutnya mempengaruhi rekomendasi pemupukan


pH tanah

Agroekosistem
terdapat hubungan yang berlawanan antara kemasaman tanah dengan
jumlah kalium yang tersedia. Fiksasi kalium terjadi pada pH sehingga kaliu
yang tersedia rendah. Sebagai contoh pada tanah liat yang mengandung
kalsium hidrogen dan aluminim pada kompleks adsorbsinya.
5. Pelapukan
Pelapukan mineral akan membebaskan kalium dalam bentuk dapat
dipertukarkan. Semakin intensif pelapukan semakin banyak kalium yang
dibebaskan (tersedia)
Kalium berperan membantu :
1.
2.
3.
4.
5.

Pembentukan protein dan karbohidrat.


Mengeraskan jerami dan bagian kayu dari tanaman.
Meningkatkan resistensi tanaman terhadap penyakit.
Meningkatkan kualitas biji/buah.
Metabolime karbohidrat, yakni pembentukan, pemecahan dan translokasi

pati.
6. Mengaktifkan berbagai enzim
7. Mengatur pergerakan stomata dan hal yang berhubungan dengan air.
Defisiensi gejala yang terdapat pada daun, pada awalnya tampak agak
mengkerut dan kadang-kadang mengkilap, selanjutnya sejak ujungdan tepi daun
tampak menguning, warna seperti ini tampak pula diantara tulang-tulang daun, pada
akhirnya daun tampak bercak-bercak kotor, berwarna coklat, dan jatuh kemudian
mengering dan mati. Gejala yang terdapat pada batang yaitu batangnya lemah dan
pendek-pendek, sehingga tanaman tampak kerdil. Gejala yang tampak pada buah,
misalnya buah kelapa dan jeruk yaitu buahnya banyak yang berjatuhan sebelum
masak, sedang masak buahnya berlangsung lambat. Bagi tanaman yang berumbi yang
mengalami defisiensi K hasil umbinya sangat kurang dan kadar hidrat arangnya
demikian rendah.
4. kalsium (Ca)
Kalsium diserap dalam bentuk Ca ++, sebagian besar terdapat dalam daun
berbentuk kalsium pektat yaitu bagian lamella pada dinding sel. Selain itu terdapat
juga pada batang, berpengaruh baik dalam pertumbuhan ujung dan bulu-bulu akar.
Kalsium terdapat pada tanaman yang banyak mengandung protein.
Adapun fungsi kalsium (Ca) :
1. Kalsium dapat menetralkan asam-asam organik yang dihasilkan pada
metabolisme.
2. Kalsium penting bagi pertumbuhan akar.
6

Agroekosistem
3. Kalsium dapat menetralkan tanah asam, dapat menguraikan bahan organik,
tersedianya pH dalam tanah tergantung pada kalsium.
Defisiensi unsur Ca menyebabkan terhambatnya pertumbuhan sistem perakaran.
Gejala yang tampak pada daun, dimana daun-daun muda selain berkeriput mengalami
perubahan warna, pada ujung dan tepi-tepinya klorosis (berubah menjadi kuning) dan
warna ini menjalar diantara tulang-tulang daun, jaringan-jaringan daun pada beberapa
tempat mati. Kuncup-kuncup yang telah tumbuh mati. Defisiensi unsur Ca
menyebabkan pertumbuhan tanaman demikian lemah. Karena pengaruh terkumpulnya
zat-zat

lain

yang

banyak

pada

sebagian

dari

jaringan-jaringannya,

dan

menyebabkabkan distribusi zat-zat yang penting bagi pertumbuhan bagian yang lain
terhambat (tidak lancar).
5. Magnesium (Mg)
Magnesium diserap dalam bentuk Mg++, merupakan bagian dari klorofil. Mg
ini termasuk unsur yang tidak mobil dalam tanah. Kadar Mg di dalam bagianbagian
vegetatif dapat dikatakan rendah daripada kadar Ca, akan tetapi di dalam bagianbagian generatif malah sebaliknya. Mg banyak terdapat dalam buah dab juga dalam
tanah. Ada beberapa faktor seperti temperatur, kelembapan pH, dan beberapa faktor
lainnya dapat mempengaruhi tersedianya Magnesium di dalam tanah.
Defisiensi Mg menimbulkan gejala-gejala yang tampak pada bagian daun,
terutama daun-daun tua. Klorosis tampak diantara tulang-tulang daun, sedangkan
tulang-tulang daun itu sendiri tetap berwarna hijau. Bagian di antara tulang-tulang
daun itu secara teratur berubah menjadi kuning dengan bercak-bercak merah
kecoklatan. Daun-daun ini mudah terbakar oleh teriknya sinar matahari karena tidak
mempunyai lapisan lilin, karena itu banyak yang yang berubah warna menjadi coklat
tua/kehitaman dan mengkerut. Defiensi Mg menimbulkan pengaruh pertumbuhan biji.
6. Belerang (S)
Belereng diserap tanaman dalam bentuk ion SO 2

4-.

S diserap melalui daun

dalam jumlah kecil, tetapi pada dasarnya merupakan racun bagi tanaman. Unsur S
yang ditaburkan pada permukaan daun dapat diserap oleh daun dalam waktu singkat,
penetralisasi dari bahan yang sebenarnya tidak larut dalam air ini ke dalam daun
belum diketaahui.

Agroekosistem
Peranan fisiologi belerang menyerupai nitrogen, karena merupakan salah satu
unsur penting beberapa asam amino seperti metionin,sistein, dan sistin yang
merupakan komponen esensial protein tanaman maupun hewan.
Beberapa jenis tanaman mengandung sejumlah kecil senyawa belerang yang
mudah menguap (volatin). Dalam beberapa kelompok tanaman senyawa ini penting.
Contoh senyawa sulfoksida, merupakan senyawa yang menyebabkan bawang merah
(Allium cepa) mempunyai rasa pedas di mata dan bau pengar pada bawang putih
(Allium sativum). Minyak mustard yang terutama terdapat pada tanaman keluarga
Criciferae merupakan senyawa penting dalam bidang pertanian yang mengandung
unsur belerang.

2.3 Macam-macam Unsur Hara Mikro dan Kegunaannya dalam Tanah

Unsur hara mikro merupakan unsur yang diperlukan tanaman di dalam siklus
hidup, kebutuhannya hanya dalam jumlah kecil. Unsur hara ini sebagai komponen
pupuk kebutuhannya bersifat insidental. Beberapa unsur hara mikro berperan di dalam
aktivitas enzim. Anion dari boron (B) dan molibdenum (Mo) merupakan bahan
penyusun molekul enzim. Dalam jumlah sangat kecil, unsur mikro ini cukup
dibutuhkan sebagai penyusun enzim yang berfungsi sebagai katalisator. Lebih jeasnya
unsur hara mikro dan perannya dijelaskan sebagai berikut .
1. Besi (Fe)
Zat besi penting dalam pembentukan hijau daun (klorofil), pembentukan zat
karbohidrat, lemak, protein, dan enzim. Tersedianya zat besi dalam tanah secara
berlebihan, misalnya karena pemupukan dengan zat ini yang overdosis, dapat
membahayakan bagi tanaman yaitu keracunan. Sebagai pupuk zat besi ini dipakai
dalam bentuk larutan yang disemprotkan melalui daun atau dalam bentuk bubuk
yang diinjeksikan pada tanah. Gejala defisiensi Fe tampak pada daun muda, mulamula tidak secara bersamaan berwarna hijau muda pucat atau hijau kekuningan,
sedangkan tulang daun serta jaringannya tidak mati. Kemudian tulang daun terjadi
klorosis, yang tadinya hijau menjadi kuning dan adapula yang menjadi putih. Dan
jika terjadi pada musim kemarau, daun-daun muda banyak yang menjadi kering
dan berjatuhan.
2. Boron
8

Agroekosistem
Boron diserap tanaman dalam bentuk ion-ion B4O72-, H2BO3, HBO23- atau
BO33-. dibutuhkan dalam jumlah kecil. Beberapa tanaman misalnya jenis kacangkacangan cukup peka. Jumlah yang sesuai untuk tanaman alfalfa, cukup
merupakan racun bagi tanaman kacang. Boron tidak segera siap ditranslokasikan
dari jaringan meristematik yang tua kebagian lebih muda.
Gejala nampak pertama kali, bila tanaman kekurangan unsur boron adalah
berhentinnya pertumbuhan pucuk tanaman yang masih muda dan mati. Daun muda
menjadi bewarna hijau pucat mulai dari bagian bawah. Jaringan pada bagian
pangkal rusak, sehingga bila pertumbuhannya terus berlangsung, daun tersebut aka
layu atau mati. Daun tersebut akan mati dan pusat pertumbuhannya terhenti.
Berbagai akar tanaman dipengaruhi oleh kekurangan boron. Kerusakan di jaringan
internal akar memberikan warna gelap, dikenal dengan hati coklat atau hati
hitam. Gejala kekurangan boron hingga kini belum diketahui dengan jelas.
Peranan boron adalah sebagai berikut.
1. Translokasi gula ke membran
2. Mengatur kegiatan oksidasi oleh enzim polyphenolse
3. Memodifikasi keseimbangan di dalam metabolisme fosfat ester
4. Mempengaruhi penyebaran efek katalitik dari O-diphenol di dalam
metabolisme sel.
Boron

dapat

mempengaruhi

perkembangan

sel

melalui

pengaturan

pembentukan polisakarida. Kecepatan pembelahan sel dipengaruhi oleh kadar


boron pada tanaman. Berperan aktif di dalam sintesis pektin. Boron uga
menghambat pembentukan pati. Pemberian boron pada kacang-kacangan,
transpirasi menjadi berkurang. Reduksi transpirasi ini karena menurunnya
kecepatan penyerapan air oleh tanaman, morfologi tanaman abnormal, serta
meningkatnya onsentrasi gula dan konsentrasi koloid hidrofilik. Memperhatikan
peran boron yang sangat kompleks dalam meningkatkan aktivitas metabolisme,
maka masyarakat petani harus memahami secara benar implementasi penambahan
boron di dalam tanah.
3. Mangan (Mn)
Mangan diserap tanaman dalam bentuk Mn+. Mangan diperlukan oleh tanaman
untuk pembentukan zat protein dan vitamin terutama vitamin C. Mn juga penting
untuk mempertahankan kondisi hijau daun pada daun yang tua. Tersedianya Mn
bagi tanaman tergantung pada pH tanah, dimana pH rendah Mangan akan banyak
tersedia. Kelebihan Mn bisa dikurangi dengan cara menambah zat fosfor dan kapur.
9

Agroekosistem
defisiensi Mn gejalanya daun-daun muda di antara tulang-tulang daun secara
bersamaan terjadi klorosis, dari warna hijau menjadi kuning dan selanjutnya putih.
Mangan terdapat dalam tanah terbentuk senyawa oksida, karbohidrat dan
silikat dengan nama pyrolusite (MnO2), manganite (MnO(OH)), rhodochrosite
(MnCO3), dan rhodoinite (MnSiO3). Mn umumnya terdapat dalam batuan primer,
terutama dalam bahan feromagnesium. M dilepaskan dari batuan karena proses
pelapukan batuan. Hasil pelapukan batuan adalah mineral skunder, terutma
pyrolusite (MnO2) dan manganite (MnO(OH)), kadar Mn dalam tanah berkisar
300-2000 ppm. Bentuk Mn dapat berubah kation Mn 2+ atau mangan oksida baik
bervalensi dua maupun valensi empat. Penggenangan dan pengeringan, reduksi dan
oksidasi pada tanah berpengaruh terhadap valensi Mn dan skema perubahan
tersebut.

Ketersediaan Mn dalam tanah asam relative tinggi dan tanaman dapat


menyerap Mn dalam jumlah besar, sebaliknya bila tanah bereaksi alkalis
ketersediaan Mn rendah. Pada tanaman naccinium myrtallus ditemukan
mempunyai kadar sampai 2000 ppm. Tanaman yang peka Mn adalah tanaman yang
menyerap Mn dalam jumlah yang relative rendah.
Tanah mineral umumnya kadar Mn cukup, sedangkan tanah organik dan tanah
kapur sering kekurangan Mn. Tanah podsolik kadar Mn sering rendah. Rendahnya
Mn ini sering disebabkan pencucian telah berlangsung lama. Tanah agak asam,
ketersediaan Mn dapat ditingkatkan dengan pengapuran.
Fungsi unsur Mn hampir menyerupai unsur Mg. Kedua unsur ini merupakan
jembatan dengan kompleks enzim (fosfokinase dan fosfor transferase) sebagai
fungsi Mn dapat diganti oleh fungsi Mg. Mn merupakan ribosom dan juga
mengaktifkan polimerase, sintesis protein, karbohidrat. Kadar protein tanaman
hampir relative hampir sama. Kadar N larut (misalnya nitrat, asam amino) pada
keadaan tanaman defisiensi Mn menunjukkan adanya kecenderungan lebih tinggi.
Pengaruh Mn cukup jelas terhadap pembentukan karbohidrat.

10

Agroekosistem
4. Tembaga
Unsur tembaga diserap oleh akar tanaman dalam bentuk Cu ++. Tembaga sangat
diperlukan dalam pembentukan enzim-enzim dan juga pembentukan hijau daun
(klorofil). Pada umumnya tanah jarang sekali kekurangan Cu, apabila terjadi maka
akan berpengaruh pada daun yaitu daun bercoreng-coreng (belang), ujung daun
memutih, dan juga pada pertumbuhan tanaman menjadi tidak normal (pelayuan
cepat disertai batang-batang tanaman melemah).
Fungsi Cu adalah mengaktifkan enzim sitokrom-oksidase, aksorbit-oksidase,
asam butirat-fenolase dan laktase. Cu juga berperan dalam metabolisme protein
dan karbohidrat. Tanaman yang kekurangan Cu, sintesis protein terganggu, maka
protein yang ada jadi larut. Cu merupakan kofaktor sintesis enzim dan juga
berpengaruh pada RNA dan DNA. Organ paling mudah tempat sintesis paling
aktif, kadar DNA rendah bila tanaman tersebut kahat Cu. Metabolisme karbohidrat
juga terganggu bila tanaman kekurangan Cu
Cu berperan juga terhadap fiksasi N secara simbotis. Kekurangan Cu
menyebabkan timbulnya Fe dalam buku-buku, terutama pada tanaman jagung dan
ruas-ruas menjadi lebih pendek. Gejala kekurangan Cu pada jagung warna daun
muda kuning dan kerdil. Ujung daun menjadi putih pucat dan daun menjadi sempit.
Apabila tanaman berkembang terus jaringan tanaman pada ujung daun dan
pinggiran daun mati.
5. Seng
Zn diserap tanaman dalam bentuk Zn++. Dalam keadaan yang sedikit Zn sudah
cukup untuk tanaman dan apabila kelebihan dapat menjadi racun bagi tanaman.
Kekurangan Zn terjadi pada tanah-tanah yang asam sampai sedikit netral.
Defisiensi Zn dapat menyebabkan pertumbuhan vegetatif terhambat selain juga
dapat menghambat pertumbuhan biji.
Ketersediaan Zn turun dengan naiknya

pH. Pengapuran yang berlebihan

sering menyebabkan faktor ketersediaan Zn menurun. Tanah yang mempunyai pH


tinggi sering menunjukkan ada gejala defisiensi Zn terutama pada tanah berkapur.
Fungsi Zn antara lain pengaktif enzim enolase, addolase, asam oksalat
dekarboksilase, lestimase, sistein desulfihidrase. Zn juga berperan dalam
menyusun pati.
11

Agroekosistem
Kekurangan Zn menyebabkan sintesis RNA terhambat. Gejala defisiensi yang
ditimbulkan unsur Zn adalah mula-mula terlihat pada daun terlihat lebih coklat,
sehingga duduk daun berdekatan ini disebut bentuk sapu atau reset, dan
pertumbuhan memanjang daun muda dimulai antara tulang daun menjadi klorosis
pada tanaman legum, gejala yang tampak adalah jaringan antara tulang daun
mengalami klorosis berwarna kekunig-kuningan dan tulang daun tetap hijau
(hampir sama dengan gejala Mn). Gejala berupah noda coklat sering terdapat pada
daun bagian bawah dan jaringan coklat mati. Kebanyakan tunas mati dan daun
gugur sebelum waktunya.

6. Molibdenum
Mo diserap akar tanaman dalam bentuk MoO4 (ion Molibdat). Mo dalam tanah
terdapat dalam bentuk MoS2. Tersedianya Mo bagi tanaman dipengaruhi oleh pH.
Dalam hal ini apabila pH rendah maka tersedianya Mo bagi tanaman akan kurang.
Mo diperlukan tanaman dalam jumlah yang sedikit. Defisiensi unsur ini
menimbulkan beberapa gejala pada tanaman, antara lain pertumbuhannya tidak
normal, terutama pada sayur-sayuran. Secara umum daun-daunnya mengalami
perubahan warna, kadang-kadang mengalami pengkerutan terlebih dahulu sebelum
mengering dan mati.
Fungsi Mo dalam tanaman mengaktifkan enzin nirogenase, nitrat reduktase
dan xantine oksidase. Gejala yang ditimbulkan karena kekurangan Mo hampir
menyerupai kekurangan N. Kekurangan Mo dapat meghambat pertumbuhan
tanaman, daun menjadi pucat dan mati serta pembentukan bunga terhambat. Gejala
defisiensi Mo dimulai dari daun telinga dan daun bawah. Daun menjadi layu atau
kering, pinggiran daun menggulung dan daun umumnya sempit. Tanaman
defisiensi berat, lamina hanya membentuk sedikit sehingga kelihatan tulang daun
lebih dominan. Hal ini terlihat dengan jelas pada tanaman bunga kol. Defisiensi
Mo juga menyebabkan pembentukan benang sari berkurang.
7. Klor (Cl)

12

Agroekosistem
Unsur ini diabsorbsi sebagai ion Cl- dan baru dikenal sebagai unsur esensial.
Brom atau boron pada konsentrasi lebih tinggi daripada klor dapat menggantikan
sebagaian dari fungsi Cl sebagaimana natrium (Na) menggantikan peranan kalium
(K). Tanaman yang tanggap terhadap unsur ini adalah tembakau, tomat, gandum,
selada, kol, wortel, bit gula, barley, jagung, kentang dan kapas.
Klor dalam jumlah berlebihan dapat merusak tanaman, daun menebal dan
menggulung. Kualitas kentang didalam penyimpanan dan tembakau yang diasap
menurun dengan kelebihan unsur ini. Gejala kekurangan unsur ini tidak jelas.
Tanaman menjadi layu, kholorotis dan nekrotis pada beberapa bagian, dan
memperlihatkan warna daun seperi perunggu. Kekurangan Cl mengakibatkan
pertumbuhan akar terhambat.

Dilihat dari fungsi utamanya bagi tanaman, unsur-unsur hara ini dapat
dikelompokkan menjadi:
a. Hara komponen : C, H, O, N, dan S yang peran utamanya sebagai komponen
utama dari bahan-bahan organik.
b. Hara energi : P, Mg dan B yang berperan dalam reaksi transfer energi dan
translokasi karbohidrat.
c. Hara keseimbangan ionik : K, Mg, Ca, dan Cl yang berfungsi tak spesifik, atau
sebagai komponen spesifik dari senyawa-senyawa organik, atau untuk
mempertahankan keseimbangan ionik.
d. Hara enzimatik : Cu, Fe, mn, Mo dan Zn yang berperan dalam transpor
elektron dan sebagai katalis reaksi-reaksi atau ativitas enzimatik (juga K, Ca,
Mg).
e. Hara fiksasi : Fe, Mo dan Co yang berperan dalam proses fiksasi N 2-bebas
pada tanaman legum.
f. Hara klorofil : N, Mg, Fe, Cu, dan Zn yang berperan sebagai penyusun atau
dalam sintesis khlorofil.
g. Hara produksi oksigen : Mn dan Cl yang berperan dalam sistem produksi O2.
h. Hara mekanikal : K, Ca, dan Mn yang berperan secara struktural atau fisik
tanaman

13

Agroekosistem

BAB III
PENUTUP

3.1 Simpulan
3.2 Saran

14

Agroekosistem

DAFTAR PUSTAKA

15