Anda di halaman 1dari 6

LAPORAN PRAKTIKUM

MIKROBIOLOGI DAN VIROLOGI


PEWARNAAN SEL BAKTERI

Nama

: I Gusti Ayu Nyoman Suastini

NIM

: 1208505061

Kelompok

: V

Golongan

Tanggal Praktikum

: 25 Maret 2014

Asisten

: Ni Wayan Desi Bintari

II

JURUSAN FARMASI
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS UDAYANA
2014

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Bakteri yang hidup hampir tidak berwarna dan tidak kontras dengan air,
dimana sel-sel bakteri tersebut disuspensikan. Pengamatan tanpa pewarnaan
menjadi lebih sukar dan tidak dapat digunakan untuk melihat bagian sel dengan
teliti. Mikroorganisme yang telah diwarnai lebih mudah dikenali daripada
mikroorganisme yang tidak diwarnai, dan bakteri terwarnai berbeda-beda
berdasarkan perbedaan struktural dinding selnya (Sachne dan McPherson, 2004).
Salah satu pewarnaan yang sering digunakan untuk mengidentifikasi
bakteri adalah pewarnaan gram. Bakteri yang tetap berwarna ungu dengan
pewarnaan oleh Kristal violet disebut bakteri gram positif, sedangkan yang warna
ungunya hilang jika dibilas dengan alkohol, tetapi tetap berwarna merah muda
karena menahan warna merah safranin disebut bakteri gram negatif (James, dkk.,
2002). Bakteri gram positif memiliki dinding sel yang lebih sederhana, dengan
jumlah peptidoglikan yang lebih banyak. Dinding sel bakteri gram negatif
memiliki peptidoglikan yang lebih sedikit dan secara structural lebih kompleks
(Campbell, dkk., 2003).
Bakteri yang sudah diberi warna dapat dilihat bentuknya dengan
mikroskop cahaya. Bentuk bakteri juga berguna untuk mengidentifikasi bakteri,
misalnya bentuk sferis (kokus), bentuk batang (basilus), dan bentuk koma
(vibrio). (James, dkk., 2002).
1.2 Tujuan
1. Untuk mengetahui tujuan dari pewarnaan sel bakteri.
2. Untuk mengetahui jenis-jenis pewarnaan bakteri dan prinsip pewarnaan gram
3. Untuk mengetahui perbedaan bakteri gram positif dan gram negatif dari
pewarnaannya.
4. Untuk mengetahui bentuk sel bakteri dan untuk mengetahui jenis kelompok
bakteri tersebut.
2

BAB II
MATERI DAN METODE
Pewarnaan bakteri dilakukan dengan menggunakan spesies bakteri Pseudomonas.
Dilakukan tiga cara pewarnaan yaitu, pewarnaan langsung, pewarnaan tidak langsung dan
pewarnaan gram. Pewarnaan langsung dilakukan dengan meneteskan air di tengah kaca objek
kemudian diambil sedikit biakan bakteri Pseudomonas menggunakan jarum ose yang telah
dipanaskan dan diangin-anginkan, dibuat apusan hingga diperoleh campuran tipis dan merata.
Selanjutnya difiksasi dan ditetesi pewarna metilen blue yang akan mewarnai sel dalam 60
detik. Dicuci dengan air mengalir dan dikeringkan. Pewarnaan tidak langsung, tinta cina
diteteskan pada pinggir ujung kaca objek, diambil sedikit biakan bakteri hasil isolasi
menggunakan jarum ose yang telah dipanaskan kemudian disuspensikan pada tinta cina.
Suspensi bakteri tersebut diratakan dengan kaca objek lain dan dibiarkan mengering.
Pewarnaan gram, dibuat apusan bakteri 1 tetes air pada permukaan kaca objek.
Kemudian difiksasi hingga air mengering, diwarnai dengan metilen blue selama 5 menit lalu
dicuci dengan air mengalir. Selanjutnya ditetesi dengan lugol dan dibiarkan selama 1 menit
yang bertujuan untuk menguatkan perlekatan pewarna dasar. Dicuci dengan larutan alkohol
95% sampai warnanya terhapus kemudian dicuci dengan air, diwarnai dengan safranin
selama 15 menit, dicuci kembali dengan air dan dikeringkan di atas nyala api bunsen.
Pengamatan dilakukan di bawah mikroskop dengan perbesaran 100 x menggunakan minyak
emersi untuk menaikkan indeks bias cahaya sehingga objek dapat terlihat dengan lebih jelas
dan kemudian hasil pengamatan digambar.

BAB III
HASIL DAN PEMBAHASAN
3.1 Hasil Pengamatan
(Terlampir)
3.2 Pembahasan
Pewarnaan bakteri pada praktikum ini menggunakan tiga metode, yaitu
pewarnaan langsung, pewarnaan tidak langsug dan pewarnaan gram. Terdapat enam
jenis spesies bakteri yang dilakukan pewarnaan, yaitu Klebsiella, E. coli, Bacillus,
Staphylococcus, Pseudomonas, Enterococcus. Pada pewarnaan langsung digunakan
larutan warna yaitu metilen blue. Berdasarkan hasil pengamatan pada keenam jenis
bakteri tersebut terdapat empat jenis bakteri yang berbentuk batang (basil) dan dua
lainnya berbentuk bulat (coccus). Metilen blue termasuk ke dalam pewarna basa,
bakteri dapat terwarnai dengan pewarna basa disebabkan sitoplasma bakteri kay akan
asam amino dan mengandung muatan negative seperti kelompok fosfat, sifat ini yang
bereaksi dengan zat warna bermuatan positif (Jawetz, et al., 1996).
Pewarnaan tidak langsung dilakukan dengan menggunakan tinta cina sebagai
zat warna. Bakteri merupakan organisme mikroseluler yang pada dinding selnya
mengandung ion negatif zatt warna sehingga pewarna ini tidak akan mewarnai sel
tetapi mewarnai lingkungan luarnya saja, dalam hal ini tinta cina merupakan zat
warna negatif (Entjang, 2003) sehingga bakteri yang teramati akan berwarna bening
atau transparan karena zat warna hanya akan mewarnai lingkungan disekitar bakteri.
Berdasarkan pengamatan pada praktikum ini, pada keenam jenis bakteri tampak
bagian dalam sel bening dan disekitarnya berwarna hitam akibat pewarnaan dengan
tinta cina.
Pewarnaan gram pada praktikum ini menggunakan pewarna dasar metilen
blue dan pewarna pembanding atau pewarna kontras safranin. Metilen blue akan
memberikan warna biru pada bakteri, sedangkan safranin akan memberikan warna
merah muda (James, dkk., 2002). Pada pewarnaan gram ini, dari keenam jenis bakteri
tampak menghasilkan warna merah. Pada bakteri Klebsiella tampak berbentuk basil
4

(batang) berwarna merah. Pada bakteri E. coli tampak berbentuk batang atau basil,
sedangkan pada Bacillus juga memiliki bentk yang sama dengan E. coli dan
Klebsiella. Bentuk yang berbeda tampak bakteri Staphylococcus dan Enterococcus
yang berbentuk bulat atau coccus yang juga tampak berwarna merah. Pada bakteri
Pseudomonas tampak berbentuk basil atau batang. Bentuk coccus merupakan bentuk
bakteri seperti bola-bola kecil. Bentuk coccus dapat berupa seperti rantai
bergandengan panjang ataupun bergandengan berdua (Adam, 1992). Dalam
praktikum ini, tampak bakteri Staphylococcus berbentuk bulat bergerombol seperti
anggur.
Berdasarkan hasil yang diperoleh, keenam jenis bakteri tersebut termasuk ke
dalam jenis bakteri gram negatif karena warna ungunya hilang jika dibilas dengan
alkohol, tetapi tetap berwarna merah muda karena menahan warna merah safranin.
Berdasarkan literatur, keenam jenis bakteri tersebut memang termasuk ke dalam jenis
bakteri gram negatif, dimana Pseudomonas sp, E. coli dan Klebsiella merupakan
infeksi basiler gram negatif yang paling sering terjadi (Behrman, dkk., 1996). Bakteri
jenis Bacillus merupakan kelompok bakteri gram positif (Yuwono, 2008), namun
dalam praktiku ini menunjukan hasil sebagai gram negatif yaitu merah. Hal tersebut
dapat terjadi mungkin dikarenakan sampel bakteri yang rusak, sehingga bukan lagi
bakteri Bacillus yang terindentifikasi melainkan bisa saja bakteri kontaminan yang
bersifat gram negatif. Sedangkan Enterococcus dan Staphylococcus termasuk ke
dalam kelompok bakteri gram negatif (Tjay dan Rahardja, 2007)

BAB IV
KESIMPULAN
4.1 Tujuan dari pewarnaan antara lain adalah untuk mempermudah pengamatan
bentuk sel mikroorganisme (khususnya bakteri). Teknik pewarnaan langsung
dengan langung mewarnai bagian bakteri tersebut sehingga bagian dalam dari sel
bakteri dapat dilihat, pewarnaan tidak langsung dengan mewarnai lingkungan
sekitar sel sehingga hanya dapat diamati bentuk selnya, serta pewarnaan gram
untuk menentukan gram dari suatu bakteri.
4.2 Bakteri gram positif memiliki ciri-ciri berwarna ungu karena mengikat pewarna
dasar dan tidak terhapus oleh alkohol serta tidak menyerap pewarna pembanding.
Serta bakteri gram negaif jika diwarnai memiliki ciri-ciri berwarna merah karena
tidak mengikat pewarna dasar dan terhapus oleh alkohol serta mengikat pewarna
pembanding.
4.3 Bentuk bakteri Bacillus berbentuk batang dan membentuk rantai, Staphylococcus
berbentuk bulat bergerombol seperti anggur, E.coli, Klebsiella dan Pseudomonas
berbentuk batang, sedangkan Enterococcus berbentuk bulat.

DAFTAR PUSTAKA
Adam, S. 1992. Dasar-Dasar Mikrobiologi dan Parasitologi untuk Perawat. Jakarta.
Penerbit Buku Kedokteran EGC
Behrman., Kliegman., A. Nelson. 1996. Ilmu Kesehatan Anak Nelson. Jakarta.
Penerbit Buku Kedokteran EGC
Campbell, N. A., J. B. Reec., L. G. Mitchell. 2003. Biologi. Edisi Kelima Jilid 2.
Jakarta: Erlangga
Etjang, I. 2003. Mikrobiologi dan Parasitologi untuk Akademi Keperawatan. Citra
Aditya Bakti. Bandung
James, J. C. Baker., H. Swain. 2002. Prinsip-Prinsip Sains Untuk Keperawatan.
Jakarta: Erlangga
Jawetz, E., J. L. Melnick., E. A. Adelberg. 1996. Mikrobiologi Kedokteran. Penerbit
Buku Kedokteran EGC. Jakarta
Sachner, R. A. dan McPherson, R.A 2004. Tinjauan Klinis Hasil Pemeriksaan
Laboratorium. Edisi II. Jakarta: EGC
Tjay, T. H. dan K. Rahardja. 2007. Obat-Obat Penting. Gramedia. Jakarta
Yuwono, T. 2008. Biologi Molekular. Erlangga. Jakarta
6